Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengujian tegangan tinggi diperlukan untuk membuktikan bahwa
isolasi peralatan memenuhi spesifikasi yang diberikan produsen peralatan
bersangkutan. Sementara itu, dari sisi produsen, pengujian tegangan tinggi
dilakukan untuk memeriksa hasil rancangan baru dan menentukan kekuatan
peralatan yang baru dirancang tersebut. Hasil pengujian ini digunakan
sebagai acuan dalam membuat rancangan yang lebih baik.
Kualitas sistem isolasi suatu peralatan sistem tenaga listrik
berpengaruh terhadap keandalan dan keamanan operasi sistem tenaga listrik
tersebut. Pengujian tinggi peralatan sistem tenaga listrik dilakukan untuk
memeriksa apakah kualitas sistem isolasi peralatannya memenuhi
spesifikasi yang telah ditetapkan untuk peralatan tersebut.
Penjelasan diatas menjadi alasan untuk menguji peralatan tenaga
listrik dengan tegangan tinggi. Maka dijelaskan jenis dan prosedur
pengujian tegangan tinggi yang dilakukan terhadap peralatan tenaga listrik:
mesin-mesin listrik (generator dan motor listrik), trafo daya, isolator, kabel,
pemutus daya, sakelar pemisah, bushing, dan arester.

B. Rumusan Masalah
a. Apa saja jenis-jenis pengujian peralatan tenaga listrik pada tegangan
tinggi?
b. Bagaimana penjelasan tentang jenis-jenis pengujian peralatan tenaga
listrik pada Tegangan Tinggi ?
c. Apa saja tujuan dari pengujian peralatan tenaga listrik pada tegangan
tinggi?
d. Bagaimana pengukuran dan metode yang digunakan pada pengujian
peralatan tenaga listrik pada tegangan tinggi?
C. Tujuan Penulisan
a. Mengetahui jenis-jenis pengujian peralatan tenaga listrik pada tegangan
tinggi.
b. Menganalisa dan memahami jenis-jenis pengujian peralatan tenaga
listrik pada tegangan tinggi.
c. Mengetahui tujuan dai pengujian peralatan tenaga listrik pada tegangan
tinggi.
d. Mengetahui metode pengukuran yang digunakan pada pengujian
peralatan tenaga listrik di tegangan tinggi.

1
D. Manfaat Penulisan
Bagi mahasiswa : sebagai materi pembelajaran dan mengetahui
tentang pengujian peralatan pada tegangan tinggi. meningkatkan
keingintahuan mahasiswa tentang materi pengujian peralatan tenaga listrik
pada teknik tegangan tinggi. Mengimplementasikan materi teknik tegangan
tinggi ke presentasi ataupun praktikum yang berkaitan dengan tegangan
tinggi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Jenis Pengujian Peralatan Tenaga Listrik


Tegangan pengujian yang dikenakan pada sesuatu peralatan tenaga listrik
adalah lebih tinggi daripada tegangan operasi normal, tetapi Listrik
penerapannya dalam waktu yang terbatas. Peralatan diperiks untuk mengetahui
apakah sistem isolasi peralatan mampu memikul tegangan pengujian tersebut.
Jika pengujian diperkirakan akan sampai merusak peralatan yang
diuji,pengujian ini dilakukan terhadap sampel. Dalam hal ini nilai tegangan
pengujian ditetapkan lebih rendah daripada tegangan pengujian yang dapat
merusak objek uji, dengan anggapan : meskipun peralatan diuji tegangan yang
lebiherima rendah,hasil pengujian dapat diterima sebagai acuan untuk
menyatakan bahwa tingkat isolasi peralata diyakini masih cukup baik. Jika
pengujian tembus listrik tetap diinginkan, tegangan pengujian dinaikkan
secukupnya sehingga tidak sampai merusak peralatan,sebab seandainya sistem
isolasi peralatan yang diuji kurang baik, pada tingkat tegangan pengujian itu
akan timbul arus bocor yang dapat dideteksi. Adanya arus bocor ini sudah dapat
dibuat sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa peralatan tidak baik.
Kesimpulan ini dapat diterima,karena arus bocor ada suatu peralatan
akhirnya akan menimbulkan peluahan, dan peluahan ini dapat merusak sistem
isolasi peralatan.
Menurut jenis tegangan yang diujikan pengujian tegangan tinggi terdiri atas
pengujian tegangan tinggi ac,tegangan tinggi dc,tegangan tinggi
impuls.menurut waktu pengujiannya pengujian tegangan tinggi ini terdiri atas
uji jenis dan uji rutin. Uji jenis dilakukan pada satu atau dua unit peralatan
rancangan baru. Sedang uji rutin dilakukan terhadap setiap unit peralatan
yang diproduksi dan juga tterhadap peralatan yang telah diterima
pemakai,baik sebelum terpasang maupun sesudah terpasang. Jenis-jenis
pengujian tergantung pada jenis peralatan yang akan diuji. Jenis pengujian
yag sering dilakukan adalah : (a) pngujian ketahanan tegangan tinggi ac pada
keadaan kering atau basah, (b) pengujian lompatan api(flshover) ,pada
keadaan kering atau basah,(c) pengujian ketahanan tegangan tinggi impuls

3
hubung-buka(e) pengukuran resistansi isolasi,(f)pengukuran tangen dan (g)
pengukuran peluahan parsial.

B. PENGUJIAN MESIN-MESIN LISTRIK


Jenis pengujian tegangan tinggi yang umum dilakukan terhadap mesin-
mesin listrik (generator dan motor) adalah pengujian ketahanan Tegangan
Tinggi AC, Pengujian ketahanan tegangan tinggi impuls petir dan
Pengukuran resistansi isolasi
a. Pengujian Ketahanan Tegangan Tinggi AC
terhadap mesin yang dirakit dilapangan atau mesin lama yang belitannya
baru digulung kembali. Pengujian ini dilaksanakan setelah pengujian
termal selesai. Durasi tegangan pengujian adalah 1 menit, sedang tingkat
tegangan pengujian adalah seperti yang ditunjukkan pada Table 9.1 dan
9.2. Frekuensi tegangan pengujian sama dengan frekuensi norminal mesin
yang diuji dan bentuk gelombangnya harus mendekati sinusodial murni.

Tabel 9.1

Tegangan Pengujian ketahanan tegangan tinggi AC


Belitan jangkar mesin-mesin listrik baru

b. Pengujian Ketahanan Tegangan Tinggi Impuls


Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan isolasi mesin listrik
terhadap tegangan tinggi impuls, karena mesin-mesin listrik mungkin
juga mengalami tegangan-tegangan tinggi impuls. Isolasi mesin yang
perlu diuji adalah isolasi belitan dengan belitan dan isolasi belitan dengan
badan mesin. Ada beberapa metode pengujian yang digunakan, salah satu
diantaranya seperti ditunjukkan pada Gambar 9.2. Gambar ini
menujukkan pengujian sistem isolasi yang mengisolasi U dengan V dan
yang mengisolasi kedua belitan itu dengan badan mesin. Titik netral tiap-
tiap belitan diserikan dengan resistor(R) yang sama besar resistansinya.

4
Bila tegangan tinggi impuls dibangkitkan, tegangan ini akan merambat
pada kedua belitan dengan besar dan bentuk gelombang yang sama.
Kedua belitan impuls ini akan menimbulkan arus impuls yang sama pada
setiap segmen belitan sehingga arus yang mengalir pada kedua resistor R
akan sama dan menimbulkan jatuh tegangan yang sama (VBN=VCN).
Dengan demikian, tegangan yang diukur osiloskop (DO) sama sehingga
osiloskop tidak menampilkan adanya beda tegangan. Jika salah satu
belitan ada arus bocor,akibatnya arus yang mengalir pada tiap-tiap resistor
berbeda : VBN ≠ VCN atau VB ≠ VC. Beda tegangan ini akan ditampilkan
pada layar osiloskop, Dengan kata lain, jika osiloskop menampilkan
perbedaan tegangan, belitan mesin listrik dinyatakan gagal uji. Setelah

Gambar 9.2
(Pengujian ketahanan tegangan tinggi impuls mesin listrik)

Pengujian diatas selesai, pengujian dilanjutkan terhadap sistem isolasi


yang mengisolasi belitan U dengan W atau belitan V dengan W.
Menurut standar IEC 34-15, bentuk tegangan impuls yang
digunakan untuk pengujian adalah 1,2 ×50 µs, denga nilai puncak seperti
diberikan pada

5
Tabel 9.3
Tegangan pengujian impuls Mesin-mesin listrik

c. Pengukuran Resistansi Isolasi


Metode yang digunakan untuk mengukur resistansi isolasi adalah seperti
yang bagian metode pengujian tidak langsung. Isolasi mesin yang perlu
diuji adalah
1. Isolasi yang mengisolasi belitan stator dengan badan mesin.
2. Isolasi yang mengisolasi belitan rotor dengan badan mesin.
3. Isolasi yang mengisolasi antar belitan stator.
Sebagai contoh, pada gambar 9.3 ditunjukkan pengukuran resistansi
isolasi yang mengisolasi belitan stator dengan badan mesin. Agar distribusi
tegangan pada belitan merata, ujung dan pangkal dari semua belitan selalu
dihubung-singkatkan.
dijelaskan bahwa nilai resistansi suatu bahan isolasi yang diukur satu
menit sejak pengukuran dimulai (sakelar S2 Pindah ke posisi 2) berbeda
dengan nilai resistansi yang diukur 10 menit setelah pengukuran dimulai.
Menurut rekomendasi IEEE 43-2000, Pada temperatur belitan 40°C,
resistansi minimum isolasi mesin-messin listrik yang dibuat sebelum tahun
1970 adalah
R1menit = V+1 (megaohm)

6
Dengan V adalah tegangan nominal fasa-ke-fasa dalam kilovolt. Sedang
resistansi minimum isolator mesin-mesin listrik yang dibuat setelah tahun
1970 adalah R1menit=

Gambar 9.3
Pengukuran resistansi isolasi belitan suatu mesin listrik

100 megaohm. Direkomendasikan juga bahwa resistansi minimum mesin-


mesin listrik yang tegangan nominalnya dibawah 1kiloVolt adalah R1menit=
5 megaohm. Pengukuran juga dipengaruhi temperatur

C. PEGUJIAN TRAFO DAYA


Jenis pengujian yang dilakukan terhadap trafo daya lebih banyak daripada
jenis pengujian yang dilakukan terhadap mesin-mesin listrik karena trafo daya
adalah peralatan yang berhadapan langsung dengan tegangan-lebih petir. Jenis
pengujian yang umum dilakukan terhadap trafo daya adalah pengujian
ketahahanan tegangan tinggi ac,pengujian tegangan tinggi impuls petir dan
hubung-buka,pengukuran tg ,pengukuran resistansi isolasi,pengujian peluahan
parsial dan pengujian minyak trafo. Pengujian tegangan tertingginya ≥300 kV.
Ada kalanya dilakukan pengujian distribusi tegangan pada belitan trafo, tetapi
pengujian ini biasanya dilakukan terhadap model trafo.
a. Pengujian Ketahanan Tegangan Tinggi AC
Pengujian ini dilakukan untuk menguji ketahanan isolasi belitan trafo
memikul tegangan-tegangan lebih ac, sebab ketika trafo beroperasi,
adakalanya trafo tersebut mengalami tegangan-tegangan lebih ac. Dilihat
dari pembangkitan tegangannya, pengujian ketahanan tegangan tinggi ac
pada trafo dilakukan secara dua cara:
1. Pengujian dengan menggunakan satu set trafo uji pembangkit tegangan
tinggi ac.
Cara pengujian seperti ini disebut Pengujian ac terpisah.

7
2. Sumber tegangan ac dihubungkan ke belitan yang rendah tegangannya
sehingga timbul teganggan induksi ac pada belitan tegangan tingginya.
Selanjutnya pengujian ini disebut Pengujian ac induksi.
Dilihat dari durasi tegangan yang ditetapkan, pengujian ac induksi terdiri
atas pengujian ac durasi pendek dan pengujian ac durasi panjang.
Pengujian dilakukan terhadap sistem isolasi yang mengisolasi
belitan dengan tangki dan sistem isolasi yang mengisolasi belitan tegangan
tinggi dengan belitan tegangan rendah. Bentuk gelombang tegangan semua
pengujian tegangan tinggi ac ini harus mendekati bentuk sinusoidal dengan
frekuensi tidak langsung 80% daripada frekuensi nominal. Tingkat
tegangan pengujian ac terpisah untuk trafo dengan tegangan tertinggi Vm ≤
170 kiloVolt diberikan tabel 9.4 . sedang trafo dengan Vm ≥ Kv diberikan
pada Lampiran 3. Durasi tegangan pengujian pada kedua tabel ini adalah 1
menit.
Rangkaian Pengujian ac terpisah diberikan pada Gambar 9.4
prinsip pengujiannya sama dengan pengujian mesin-mesin listrik.
Perbedaannya hanya pada prosedur pencapaian tegangan pengujian.
Misalkan tegangan yang akan ditetapkan pada objek uji adalah Vp.
Pengujian dimulai dengan menaikkan tegangan di bawah 0,3 Vp. Kemudian
tegangan dinaikkan dengan cepat hingga mencapai nilai Vp. Satu menit
kemudian tegangan diturunkan dengan

Tabel 9.4

Tingkat tegangan Pengujian AC Terpisah Trafo Vm ≤ 170 kV

Cepat hingga kembali dibawah 0,3 Vp. Setelah itu hubungan dengan
sumber tegangan diputuskan (pemutus daya membuka). Pengujian

8
dinyatakan berhasil jika pemutus daya tidak membuka selama
berlangsungnya pengujian dengan tegangan penuh(Vp)
Jika pengujian ketahanan tegangan tinggi ac dilakukan dengan cara
pengujian ac induksi, profil tegangan pengujiannya adalah seperti
ditunjukkan pada gambar 9.5. nilai tegangan pada setiap langkah pengujian
diberikan pada Lampiran 4. Bersamaan dengan pengujian ini dilakukan
pengamatan terhadap peluahan parsial pada trafo yang diuji.

Trafo tiga fasa dengan isolasi belitan uniform, diuji dengan menghubungkan
belitan tegangan rendahnya dengan sumber tegangan tiga fasa simetris. Jika
trafo memiliki terminal netral, terminal ini dihubungkan ke sistim
pentahanan. Pengujian dilakukan antar belitan fasa sedangkan antara belitan
dengan tanah sudah termasuk pada pengujian ac terpisah. Hubungan belitan
pada pengujian trafo tiga fasa yang isolasi belitannya non-uniform
ditunjukkan pada Gambar 9.6.

Gambar 9.6
(Hubungan belitan pada pengujian tegangan ac dengan induksi).

Pengujian ac durasi pendek merupakan pengujian rutin bagi trafo yang


isolasi belitannya uniform dengan maksimumnya ≤ 72,5 kilovolt, juga bagi
trafo yang isolasi belitannya non-uniform dan tegangan maksimumnya 72,5
< Vm ≤ 170 kiloVolt.
Trafo objek uji dinyatakan lulus uji pengujian ac induksi jika :
1. Pemutus daya tidak membuka selama pengujian berlangsung
2. Pada saat tingkat tegangan sama dengan D,kuantitas peluhan
persialnya ≤ 300.
3. Peluhan persial tidak cenderung bertambah besar.
4. Pada saat tingkat tegangan sama dengan E,kualitas peluhan persial
≤ 100 pC

9
b. Pengujian Ketahanan Tegangan Tinggi Impuls
Pengujian ketahanan tinggi impuls terdiri atas pengujian tegangan
tinggi impuls petir penuh, pengujian tegangan tinggi impuls petir terpotong
dan pengujian tegangan tinggi impuls hubung-buka. Tegangan impuls petir
penuh yang diterapkan adalah (1,2±30%)(50±20%) µs, sedang besarannya
tergantung pada tegangan tinggi yang akan ditetapkan di trafo objek uji
(Vm). Pada Tabel 9.5 diberikan nilai tegangan pengujian impuls petir penuh
untuk foto dengan Vm ≤ 170 kiloVolt (IEC 60076-3). Sedang untuk trafo
dengan Vm > 170 kiloVolt. Sedang untuk trafo Vm > 170 kiloVolt. Tingkat
Tegangan Pengujian Impuls Petir Penuh Trafo Vmaks ≤ 170 kiloVolt

Pengujian Impuls petir terpotong perlu dilakukan karena adakalanya trafo


daya mengalami tegangan-lebih impuls terpotong. Hal ini terjadi jika
tegangan tinggi-lebih petir merambat menuju trafo dan dalam perjalanannya
terjadi lompatan api pada isolator transmisi atau pada bushing trafo.

Tegangan tinggi impuls petir terpotong dapat dibangkitkan dengan


memasang suatu elektroda batang-batang (EB) paralel dengan objek uji,
seperti ditunjukkan pada gambar 9.7. panjang sela elektroda dapat diatur
sesuai dengan waktu yang diinginkan . pada pengujian ini menggunakan
dua osiloskop , satu untuk merekam bentuk gelombang egangan pengujian
(DO1) dan satu lagi untuk merekam bentuk gelombang arus yang mengalir
dari titik netral ke tanah (DO2).

Gambar 9.7

Rangkaian pengujian ketahanan tegangan impuls petir suatu trafo daya

1. Trafo diuji dengan tegangan tinggi impuls penuh 0,75 VP


2. Trafo diuji dengan tegangan tinggi impuls petir penuh sebesar Vp
3. Trafo diuji dua kali dengan tegangan tinggi impuls petir penuh petir
terpotong 0,75 Vc
4. Trafo diuji dua kali dengan tegangan tinggi impuls petir terpotong
Vc
5. Trafo diuji dua kali dengan tegangan tinggi impuls petir penuh
sebesar VP

Pada setiap pengujian diatas,diambil foto atau cetakan bentuk gelombang


arus impuls yang ditampilkan di osiloskop. Jika bentuk gelombang dengan
tegangan 100% berbeda dengan bentuk gelombang arus pada pengujian
dengan tegangan 75% maka menunjukkan kebocoraan pada isolasi belitan

10
trafo yang diuji. Dengan kata lain brlitan trafo yang diuji tidak memenuhi
spesifikasi.

c. Pengukuran Tg
jika tg minyak isolasi suatu trafo semakin tinggi , temperatur trafo juga akan
semakin tinggi sehingga emperatur bahan isolasi padat yang terdapat pada
trafo tersebut semakin tinggi. Akibatnya,kualitas bahan isolasi padat
tersebut semakin buruk. Karena itu, pengukuran tg sistem isolasi trafo perlu
dilakukan secara rutin agar kenaikan tg apat diketahui lebih awal, perbaikan
sistem isolasi trafo dapat segera dilakukan. Dengan demikian, kerusakan
sistim isolasi yang fatal dapt dihindarkan.
Alat ukur tg adalah jembatan Schering . alat ukur ini membutuhkan dua
elektroda ukur untuk mengapit objek uji dan satu elektroda yang
dihubungkan dengan tabir pelindung(elektroda pelindung).
Pengukuran tg pada suatu nilai tegangan tertentu dilakukan dua kali.
Pengukuran tg pertama dilakukan persis ketika tegangan sudah mencapai
tegangan pengukuran yang telah ditetapkan, misalkan hasilnya tg 1. Dua
menit kemudian, dilakukan pengukuran yang kedua, misalkan hasil tg 2.
Selama pengukuran tg 1 dan tg 2, tegangan dijaga konstan. Hasil
pengukuran adalah nilai rata-rata pengukuran awal dari pengukuran akhir
yaitu
tgt = (tg1+tg2)/2
kemudian hasil pengukuran dinyatakan pada temperatur 20°C dengan
menggunakan rumus
𝑡𝑔1
tg20 = 𝐾𝑥
dengan
kx = faktor koreksi temperatur yang diambil dari gambar , dan
tgt = Faktor rugi-rugi pada temperature sembarang t.

Kondisi minyak trafo dapat ditentukan menurut norma yang diberikan.

d. Pengukuran Resistansi Isolasi


Resistansi isolasi trafo diukur dengan metode pengukuran tidak
langsung,bagian metode pengukuran tidak langsung rangkaian paralel.
Sama halnya dengan tg , terlebih dahulu ditentukan komponen kondusif
trafo yang menjadi elektroda ukur. Elektroda inilah yang dihubungkan
ke terminal nomor 2 dan 3 alat ukur.
Dalam hal ini elektroda ukurannya adalah belitan tegangan tinggi
dan badan mesin. Belitan tegangan tingigi dihubung-hubungkan dan
dihubungkan ke terminal 2, sedang Pengukuran resistansi isolasi trafo

11
Badan trafo dihubungkan ke terminal 3. Komponen konduktif trafo yang
lain, yaitu belitan tegangan rendah (KR) dihubung-singkatkan dan
dihubungkan ke tabir pelindung.
Resistansi diukur satu menit setelah sakelar S2 pindah ke terminal
ukur 2. Resistansi isolasi trafo yang baik adalah
𝑉
R1menit ≥ kr (𝑚𝑒𝑔𝑎𝑜ℎ𝑚)
√𝑆
Dengan V adalah tegangan nominal belitan yang diuji trafo tiga fasa
hubungan Y, V adalah tegangan fasa-ke-netral. V adalah tegangan fasa-
ke-fasa. Konstanta kr adalah faktor koreksi terhdap temperatur. Jika
pengukuran dilakukan pada temperatur 20°C, nilai kr = 30.
e. Pengukuran Tegangan Tembus Minyak Trafo
Pada suatu trafo daya, minyak isolasi adalah bahan isolasi yang terbesar
volumenya dibandingkan dengan bahan isolasi lainnya. Di samping
sebagai isolasi, minyak juga berperan sebagai media pendingin. Oleh
karena proses penuaan, pengotoran dan reaksi kimia yang terjadi pada
minyak, maka komposisi minyak dapat berubah sehingga kekuatan
dielektriknya juga berubah. Itu sebabnya perlu diadakan pengujian rutin
terhadap minya trafo,khususnya pengujian tegangan tembus.

D. PENGUJIAN ISOLATOR
pengujian tegangan tinggi isolator terdiri atas pengujian dan pengujian
rutin. pengujian jenis dilakukan untuk memeriksa kualitas isolator
rancangan baru dan dilakukan terhadap isolator contoh. sedang
pengujian rutin dilakukan untuk pemeriksaan kualitas individu isolator.
pengujian isolator ini meliputi :
(a) pengujian lompatan api kering dan basah,
(b) pengujian ketahanan tegangan tinggi ac,
(c) pengujian tegangan tembus ac
(d) pengujian lompatan api impuls
(e) pengujian tegangan tinggi impuls
(f) pengukuran distribusi tegangan pada isolator rantai
a. Pengujian Lompatan Api AC
Isolator ditempatkan sedemikian rupa sehingga mendekati pemasangan
dilapangan.
Pada setiap pengujian, diukur temperatur dan tekanan di ruang pengujian
untuk meyakinkan bahwa selama pengujian, kondisi udara tetap. Data
temperatur dan tekanan udara digunakan juga untuk menghitung faktor
koreksi kerapatan udara kd dan kelembaban kh . dari kelima hasil pengujian
ini dihitung nilai rata-rata tegangan lompat api, misalkan hail Vu
dikonversikan menjadi keadaan standar dengan menggunakan persamaan
Vus = (kh /kd)Vu

12
Jika tegangan lompatan api hasil pengujian sama dengan atau lebih besar
daripada spesifikasi yang diberikan pabrik (Vus ≥ Vs) maka isolator
dinyatakan lulus uji.
b. Pengujian Ketahanan Tegangan Tinggi AC
Pengujian ketahanan ac isolator hantaran udara
Diatur 1 menit. Kemudian tegangan isolator dinaikkan secara bebas sampai
mencapai 75% tegangan yang ditetapkan. Setelah itu tegangan dinaikkan
secara bertahap sampai 100% tegangan pengujian. Tahap kenaikan diatur
1kiloVolt /detik untuk tegangan pengujian ≤ 100 kiloVolt dan 1% tegangan
pengujian perdetik untuk tegangan pengujian > 100 kiloVolt.
Bila arus bocor pada isolator maka pemutus daya (CB) akan membuka
sebelum sirene berbunyi. Jika sirine berbunyi namun pemutus daya tidak
membuka, isolator yang diuji dinyatakan lulus uji. Sebelum tegangan
isolator mencapai tegangan pengujian, adakalanya terjadi peluahan pada
elektroda pengujian. Untuk mencegah peluahan ini, isolator dimasukkan ke
dalam minyak yang tegangan tembusnya di uji standar minimum
20kiloVolt.
c. Pengujian tegangan Tembus AC
Untuk melakukan pengujian tegangan tembus dipakai sampel
dielektrik cair minyak jarak dengan menggunakan tegangan tinggi ac
frekuensi jala-jala. Pengujian dilakukan dengan variasi jarak sela, posisi
serta diameter elektroda dengan menggunakan sepasang elektroda bola dan
setengah bola, sedangkan sebagai tambahan dipakai elektroda bola-bidang
khusus untuk pengujian medan tak seragam. Dari hasil pengujian diperoleh
bahwa seiring kenaikan jarak sela antar elektroda nilai tegangan tembus
menjadi semakin besar, demikian halnya dengan bertambahnya diameter
elektroda menghasilkan tegangan tembus yang semakin besar pula.
Sedangkan pada pengujian posisi elektroda tidak terdapat pengaruh yang
kentara pada tegangan tembusnya antara pengujian dengan posisi elektroda
horisontal maupun vertikal. Hasil akhirnya nilai tegangan tembus pada
kondisi standar sesuai IEC 156 sebesar 33,67 kV sehingga minyak jarak
layak dijadikan sebagai isolasi cair dilihat dari besar tegangan tembusnya
yang disesuaikan dengan standarisasi SPLN 49-1 tahun 1982 dan NESC
tahun 1990. Jika nilai rata-rata tegangan tembus sama dengan atau lebih
besar daripada spesifikasi tegangan tembus yang diberikan pabrik,isolator
yang diuji dinyatakan lulus uji.

13
d. Pengujian Lompatan Api Impuls
Dibangkitkan beberapa kali dan diamati beberapa kali terjadi
lompatan api. Data ini memberikan nilai probalitas terjadinya lompatan api
pada tgangan 0,4Vs,yaitu
Isolator diuji dengan tegangan impuls 0,8 Vs. Dengan cara yang sama
dihitung probalitas lompatan api pada pengujian dengan tegangan 0,8 Vs.
Tetapi pengujian harus dilakukan dengan tingkat tegangan yang lebih
banyak variasinya,sehingga diperoleh beberapa data probalitas tegangan
tembus. Hasil yang diperoleh kurva Gambar 9.15.
Cara lain untuk menentukan tegangan lompatan api impuls 50% adalah
dengan metode naik-dan-turun( up-and-down) .
e. Pengujian Ketahanan Tegangan Impuls
Tegangan impuls isolator yang diuji menurut standar atau spesifikasi yang
dibrerikan pabrik. Pabrik memberikan 2 nilai ,tegangan ketahanan impuls
positif dan tegangan ketahanan impuls negatif.selanjutnya diukur teperatur
dan tekanan diruang pengujian untuk memperoleh faktor koreksi kerapatan
udara kd dan kelembaban kh. Jika tidak terjadi lompatan api, isolator yang
diuji dinyatakan lulus uji. Bila terjadi satu kali lompatan api, pengujian
harus diulang dengan memberikan 10 kali lagi tegangan impuls petir sebesar
VP. Jika lompatan api tidak terjadi lagi , isolator yang diuji dinyatakan lulus
uji.
f. Pengukuran Distribusi Tegangan pada Isolator Rantai
Isolator piring dipakai pada isolator rantai, konstruksi dari isolator piring
dapat dilihat pada Isolator piring berupa dua konduktor yang dipisahkan
oleh suatu dielektrik atau susunan “konduktor-dielekt rik-konduktor“ .
merupakan suatu susunan kapasitor, ekivalensi dari isolator piring ini dapat
dilihat pada Semua isolator merupakan dua konduktor yang diantarai oleh
suatu dielektrik. ditunjukkan contoh suatu isolator, yaitu satu unit isolator
piring. Isolator tersebut membentuk suatu susunan “konduktor – dielektrik
– konduktor “, oleh karena itu isolator tersebut dapat dianggap sebagai suatu
kapasitor.

Gambar 9.9
(Isolator piring dan parameter listriknya)

14
Jika beberapa isolator piring dirangkai menjadi isolator rantai seperti pada
Gambar 2.2.a. , maka akan dijumpai tiga kelompok susunan “ konduktor-
dielektrik-konduktor “ , masing – masing dibentuk oleh :a.Jepitan loga m
iso lator-dielekt rik iso lator-jepitan logam dibawahnya.Susunan ini
membentuk kapasitansi sendiri isolator ( C1 ). b.Jepitan loga m iso lator-
udara-menara. Susunan ini membentuk kapasitansi jepitan logam isolator
dengan menara yang dibumikan (C2). Kapasitansi ini disebut kapasitansi
tegangan rendah.c.Jepitan loga m iso lator-udara-konduktor transmisi.
Susunan ini dibentuk oleh konduktor tegangan tinggi, maka disebut
kapasitansi tegangan tinggi (C3).
Oleh karena itu, isolator rantai dapat dianggap sebagai susunan dari
beberapa unit kapasitor yang terhubung seperti pada Gambar

a. Susunan konduktor-dielektrik-konduktor” b. Susunan kapasistansi pada


isolator rantai

dealnya kurva distribusi tegangan pada isolator rantai adalah linear, akan
tetapi hal ini sulit dicapai disebabkan adanya pengaruh kapasitansi sendiri
isolator (C1), kapasitansi tegangan rendah (C2) dan kapasitansi tegangan
tinggi (C3). Dan pada Gambar 2.3 diperlihatkan kurva distribusi tegangan
pada isolator rantai akibat pengaruh ketiga kapasitansi ini.

Untuk menghitung distribusi tegangan disepanjang isolator rantai perlu kita


pahamkan bahwa sebagaimana yang diperlihatkan pada Gambar 2.2.Setiap
pengaruh kapasitansi yang terdapat disepanjang isolator rantai tersebut
dianggap sebagai elemen kapasitansi, dan kapasitansi ini sangat
mempengaruhi distribusi tegangan pada isolator rantai.Perhitungan
distribusi tegangan pada isolator rantai dapat dilakukan dengan beberapa
cara :a.Distribusi tegangan pada isolator rantai dengan mengabaikan
kapasitansi jepitan logam isolator dengan menara (C2) dan kapasitansi
tegangan tinggi (C3). b.Distribusi tegangan dengan memperhitungan
kapasitans i C1 dan C2.

15
Distribusi tegangan dengan memperhitungkan kapasitansi C2 dan
C3. d.Distribusi tegangan pada isolator rantai dengan memperhitungkan
semua kapasitansi.Agar perhitungan distribusi tegangan pada isolator rantai
lebih mudah, maka kita membutuhkan beberapa asumsi, yaitu :a.Semua
piring isolator memiliki karakteristik yang sama. b.Jarak menara ke isolator
sama. c.Isolator adalah ideal, artinya tiap konduktor dapat dianggap sebagai
kapasitansi murni.

E. PENGUJIAN KABEL
Kabel merupakan komponen penyaluran energi listrik yang sangat
penting karena kerusakan pada kabel ini berdampak kepada kontinuitas
penyaluran energi. masalah yang paling sulit ialah jika kerusakan terjadi
pada kabel tanam. lokasi kerusakan kabel ini sulit dilacak dan memerlukan
waktu yang lama untuk memperbaikinya. karena itu, sifat dieletrik kabel
perlu dimonitor dengan melakukan pengujian tegangan tinggi . pengujian
tegangan tinggi erhadap kabel meliputi (1) pengujian ketahanan tegangan
tinggi ac, (2) pengukuran tg,(3) pengukuran peluahan persial,(4) pengujian
ketahanan tegangan tinggi impuls,(5) pengukuran resistansi isolasi. isolasi
yang diuji adalah isolasi yang terletak di antara tabir metal yang ditanahkan.
untuk uji jenis,panjang kabel objek uji 10-15 m sedang untuk uji rutin
sekurang-kurangnya 5 m. penting untuk diperhatikan bahwa dalam
pengujian ini, pada kedua ujung kabel dipasang perlengkapan terminal agar
diujung kabel itu tidak terjadi peluahan.

a. Pengujian Ketahanan tegangan Tinggi AC


Peralatan yang digunakan untuk membangkitkan tegangan tinggi bolak
balik adalah dengan menggunakan transformator,yang biasanya
digunakan adalah transformator penguji (Testing Transformator). Trafo
pengujian yang digunakan memiliki perbandingan jumlah lilitan lebih
besar dibandingkan dengan Trafo Daya ( Power Transformer ) dan
kapasitas kVA-nya kecil dibandingkan dengan kapasitas Trafo Daya.
Biasanya dipakai transformator satu fasa, karena pengujian dilakukan
fasa demi fasa.
b. Pengukuran tg
Pengukuran tg dilakukan pada jenis uji pemeliharaan. Alat ukur yang
digunakan adalah jembatan scheering. Untuk uji jenis ino, kabel yang
akan diuji dipotong sepanjang 5 meter. Pengukuran dilakukan pada
temperatur 5°C-10°C diatas temperatur kerja normal kabel.
Pada pengujian pemeliharaan tg sama seperti yang ditunjukkan kabel
XLPE (IEC 141),kondisi kabel dinyatakan masih baik jika selisih tg
yang diukur pada tegangan 2Vnominal dengan tg yang diukur pada
tegangan 0,5 Vnominal lebih kecil daripada 0,001.

16
c. Pengukuran peluahan parsial
Perlu dilakukan pengukuran peluahan parsial pada kabel, khususnya
kabel tegangan tinggi. Pengukuran perluahan parsial dilakukan dengan
metode jembatan setimbang. Ada dua jenis rangkaian pengukuran
peluahan parsial pada kabel,yaitu: terminal kabel terbuka dan terminal
kabel hubung singkat. Rangkaian pengukuran kabel terbuka dan ermina
kabel terhubung singkat. Rangkaian pengukuran pengukuran peluahan
parsial dengan terminal kabel terbuka .
Pada pengukuran ini,jika terjadi peluahan pada ujung kabel, timbul
tegangan transien yang merambat pada dua arah. Satu tegangan transien
merambat dalam dua arah. Satu tegangan transien merambat menuju alat
ukur (ujung kabel U1) dan satu lagi merambat menuju ujung kabel yang
lain (U2).

d. Pengujian ketahanan tegangan impuls


merupakan pengujian yang dilakukan untuk tujuan mengetahui
ketahanan isolasi suatu peralatan tenaga terhadap tegangan impuls. Hal
ini dikarenakan bahwa peralatan-peralatan tenaga dalam
penggunaannya di lapangan dapat dimungkinkan mengalami tegangan
lebih impuls akibat surja hubung maupun surja petir
e. Pengukuran resistansi isolasi
Pengukuran ini bertujuan untuk menilai resistansi isolasi antara inti
kabel dengan tabirnya. Jika objek uji adalah kabel tanpa tabir, selubung
luar kabel dibuka,kemudian kabel direndam dalam air sekurang-
kurangnya 1 jam sebelum pengukuran dimulai. Temperatur kabel
mencapai (20 ± 1)°C. Alat ukur yang digunakan adalah megaohmmeter
500 volt dc.
F. PENGUJIAN ARESTER
Arester adalah alat pelindung peralata sistem terhadap bahaya tegangan-
lebih ptir. Pengujian terhadap arester harus dilakukan dengan teliti dan
sesuai dengan standar pengujian. Alat ini bersifat isolator pada tegangan
kerja sistem tetapi akan terhubung singkat bila diterpa tegangan-lebih
impuls. Pengujian tegangan tinggi yang dilakukan terhadap arester
meliputi: (a) pengujian lompatan api ac, (b) pengujian lompatan api
impuls 100%, dan (c) pengujian lompatan api muka gelombang.
a. Pengujian Lompatan Api AC
Pengujian ini adalah pengujian rutin yang dilaksanakan dengan trafo uji,
pada suasana kering dan basah. Suatu resistor dipasang seri dengan
arester , untuk membatasi arus ketika terjadi lompatan api. Arester
dibebani dengan tegangan AC frekuensi sistem acara bertahap sampai
terjadi lompatan Api. Lalu dicatat besar tegangan yang menimbulkan
lompatan api tersebut. Pengujian ini dilakukan 5 kali dan dihitung harga

17
rata-rata tegangan lompatan api dari kelima pengujian tersebut. Arester
dinyatakan lulus uji jika harga rata-rata tegangan lompatan api hasil
pengujian ≥ 1,5 kali tegangan nominal.
b. Pengujian Lompatan Impuls 100%
Pengujian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa arester akan bekerja
setiap kali dikenai tegangan impuls petir. Arester diuji dengan tegangan
impuls petir sesuai dengan spesifikasinya, 10 kali dengan polaritas
positif dengan 10 kali polaritas negatif. Jika pada setiap pengujian ini
terjadi lompatan api, arester dinyatakan lulus uji.
c. Pengujian lompatan Api Muka Gelombang
Pengujian ini dilakukan untuk membuktikan bahwa arester akan bekerja
dalam waktu yang lebih kecil daripada waktu muka gelombang. (Tf)
setiap kali arester dikenai tegangan yang lebih tinggi daripada tegangan
gagal sela. Pengujian dilakukan dengan menerapkan lima kali tegangan
impuls dengan kenaikan tegangan pada muka gelombangnya 100
kiloVolt/µs per 12 kiloVolt tegangan nominal arester,masing-masing
untuk polaritas positif dan negatif. Tegangan impuls diukur denga
osiloskop . Bila terjadi lompatan api, tegangan impuls yang direkam
berupa impuls terpotong disebut tegangan lompatan api muka
gelombang. Nilai rata-rata tegangan lompatan api dari kelima pengujian
harus lebih kecil atau sama dengan spesifikasi tegangan gagal sela
arester. Uji jenis terhadap suatu bushing adalah (a) Pengujian ketahanan
tegangan tinggi ac pada kondisi udara kering dan basah,(b) pengujian
ketahanan tegangan tinggi petir impuls pada kondisi udara dan (c)
pengujian ketahanan tegangan tinggi impuls (hubung-buka) pada
kondisi udara basah.sedangkan uji rutin pada bushing yaitu pengukuran
tg dan kapasitansi,pengujian ketahanan tegangan tegangan tinggi ac
kondisi udara kering,pengujian ketahanan tegangan tinggi impuls petir
pada kondisi udara kering dan pengukuran peluahan parsial.
d. Pengujian ketahanan Tegangan Tinggi AC
pengujian tahanan tegangan tinggi ac pada kindisi udara kering
dilakukan terhadap semua bushing pasangan dalam,sedang untuk
bushing pasangan luar diuji pada kondisi udara basahdurasi tegangan
pengujian adalah satu menit dan tidak bergantung kepada frekuensi.
Rangkaian dan prosedur pengujiannya sama dengan rangkaian
pengujian ketahanan tegangan tinggi ac isolator.
Bushing dinyatakan lulus uji jika tidak terjadi lompatan api atau
tidak terjadi kerusakan(Puncture) pada bushing. Kerusakan isolasi suatu
bushing akan menguhubung singkatkan dua atau lebih elektroda perata
(layer) yang terdapat didalam bushing tersebut sehingga kapasistansi
bushing semakin besar.

18
e. Pengujian Ketahanan Tegangan Tinggi Impuls
Pengujian ketahanan Tegangan tinggi impuls petir dilakukan
terhadap semua jenis bushing pada dua keadaan, yaitu pada keadaan
bushing terpasang sebagaimana di lapangan pada keadaan dicelup
diminyak. Waktu muka dan waktu ekor tegangan pengujian adalah
1,2/50µs.
Proses pengujian pada uji jenis berbeda dengan uji rutin. Pada uji jenis
mula-mula bushing diuji 15 kali denga tegangan impuls penuh polaritas
positif diikuti dengan 15 kali tegangan impuls penuh polaritas negatif.
Untuk bushing dengan Vm ≥ 123 kiloVolt dengan prosedur:
1. Bushing diuji 15 kali dengan tegangan impuls
2. Satu kali tegangan impuls penuh polaritas positif disusul,
3. 5 kali tegangan impuls terpotong polaritas negatif, dan terakhir
4. 14 kali tegangan impuls penuh polaritas negatif.
f. Pengujian ketahanan Tegangan Tinggi Impuls Hubung-Buka
Pengujian ini biasanya terhadap bushing Vm ≥ 300 kiloVolt. Pengujian
ketahanan teganan tinggi impuls hubug buka pada kondisi udara kering
dilakukan terhadap semua bushing pasangan dalam, sedang untuk
bushing pasangan diluar diuji pada kondisi basah. Jika suatu bushing
telah diuji pada kondisi udara basah,pengujian pada kondisi udara
kering tidak dilakukan lagi.
Parameter waktu tegangan pengujian adalah 250/2500µs dengan
besaran puncak seperti yang diberikan pada tabel 9.11. mula-mula
bushing diuji 15 kali dengan tegangan tinggi impuls hubung-buka
polarits positif disusul dengan 15 kali tegangan tinggi impuls hubung-
buka negatif.
g. Pengukuran tg
Pengukuran tg merupakan pengujian rutin. Alat ukur yang digunakan
adalah jembatan schreing. Tg diukur dengan bushing tetap terpasang
dalam peralatan atau dicelupkan dalam minyak. Konduktornya
dihubungkan dengan terminal tegangan tinggi trafo uji sedang tengki
atau badannya dihubungkan ke terminal detektor jembatan schering.
Pengukuran tidak dilakukan pada tegangan yang melebihi tegangan
ketahanan ac kering. Kapasistansi dan tg diukur pada setiap tingkat
tegangan.
h. Pengukuran peluahan persial
Pengukuran ini merupakan pengujian rutin yang bertujuan untuk
menemukan adanya pemburukan ata kegagalan isolasi karena terjadinya
peluahan parsial dalam isolator bushing. Pengukuran ini dilakukan
setelah pengujian ketahanan tegangan tinggi ac kering selesai. Alat
ukurny adalah detektor peluahan parsial.

19
Pengukuran dilakukan untuk berbagai tegangan sehingga diperoleh
kurva yang menyatakan hubungan besaran peluahan dengan tegangan.
Pengujian diperpanjang selama satu jam. Bila pada akhir pengujian
diperoleh kuantitas peluahan parsial turun dibawah ambang batas,maka
bushing dinyatakan lulus uji.
i. Pengujian Peluahan Terlihat
Pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan apakah bushing
menimbulkan interferensi ketika radio bekerja. Peluahan yang dapat
terlihat mata adalah peluahan yang terjadi pada cincin perata(grading
ring) dan tanduk pelindung (arcing horn). Alat penguji sama dengan alat
penguji ketahanan tegangan tinggi ac hanya dilakukan diruang gelap.

G. PENGUJIAN PEMUTUS DAYA DAN PEMISAH


Pengujian yang dilakukan untuk pemutus daya dan pemisah meliputi
pengujian ketahanan tegangan tinggi ac,pengujian tegangan tinggi
impuls petir,dan pengujian tegangan tinggi hubung-buka. Pengujian
dilakukan terhadap semua isolasi ,baik pada keadaan kontak tertutup
maupun pada keadaan kontaak terbuka. Tegangan pengujian pada
keadaan kontak membuka 15% lebih tinggi daripada keadaan kontak
tertutup. Pada pengujian ini mungkin terjadi lompatan api ke tanah.
Prosedur pengujian terhadap kedua peralaan ini dilakukan seperti halnya
pada pengujian isolator. Sebagai tambahan dilakukan pengujian
tegangan tinggi impuls hubung-buka untuk memeriksa unjuk rasa kerja
peralatan pada kondisi operasi hubung-buka rangkaian sistem.

20
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

peralatan tenaga listrik adalah lebih tinggi daripada tegangan operasi


normal, tetapi Listrik penerapannya dalam waktu yang terbatas. Peralatan
diperiks untuk mengetahui apakah sistem isolasi peralatan mampu memikul
tegangan pengujian tersebut.
Jika pengujian diperkirakan akan sampai merusak peralatan yang
diuji,pengujian ini dilakukan terhadap sampel. Dalam hal ini nilai tegangan
pengujian ditetapkan lebih rendah daripada tegangan pengujian yang dapat
merusak objek uji, dengan anggapan : meskipun peralatan diuji tegangan yang
lebiherima rendah,hasil pengujian dapat diterima sebagai acuan untuk
menyatakan bahwa tingkat isolasi peralata diyakini masih cukup baik. Jika
pengujian tembus listrik tetap diinginkan, tegangan pengujian dinaikkan
secukupnya sehingga tidak sampai merusak peralatan,sebab seandainya sistem
isolasi peralatan yang diuji kurang baik, pada tingkat tegangan pengujian itu
akan timbul arus bocor yang dapat dideteksi. Adanya arus bocor ini sudah dapat
dibuat sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa peralatan tidak baik.
Kesimpulan ini dapat diterima,karena arus bocor ada suatu peralatan
akhirnya akan menimbulkan peluahan, dan peluahan ini dapat merusak sistem
isolasi peralatan.

21
Daftar Pustaka

Tobing, B.L., Dasar-Dasar Teknik Pengujian Tegangan Tinggi, Edisi Kedua,


Jakarta: Erlangga, 2012.

Abduh, Syamsir., Dasar Pembangkitan dan Pengukuran Teknik Tegangan Tinggi,


Penerbit Salemba Teknika, Jakarta, 2001.

Arismunandar, A., Teknik Tegangan Tinggi Suplemen, Ghalia, 1982.

22