Anda di halaman 1dari 8

GURU DALAM PERANANNYA TERHADAP MOTIVASI DAN

PRESTASI BELAJAR SISWA MENURUT TEORI HUMANISTIK

Pendahuluan

Dalam dunia pendidikan, guru dan peserta didik adalah komponen utama yang
menjadi pusat perhatian dalam melihat acuan tercapai tidaknya atau bahkan berhasil tidaknya
tujuan yang ingin dicapai pendidikan itu sendiri. Dalam hal ini, tujuan pendidikan nasional
kita menurut UU No. 20 tahun 2003 adalah berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa serta menjadi pribadi yang berkarakter maju
dan bertanggung jawab. Disini tertera jelas bahwa negara mengharapkan warganya (baik itu
guru dan murid secara langsung berhubungan dengan dunie pendidikan itu sendiri, maupun
masyarakat secara tidak langsung) . Dimana, ketika hal ini berhasil dicapai maka
terealisasikanlah maksud dan tujuan yang diharapkan oleh pendidikan (pendidikan nasional)
itu sendiri.

Dalam kaitannya, pendidikan dan pembelajaran adalah sebuah keharusan yang harus
dipenuhi guna meningkatkan taraf hidup dan dalam menyongsong masa depan yang lebih
baik. Pembelajaran itu sendiri dapat dipahami sebagai upaya yang disengaja dalam
memfasilitasi peserta didik sehingga mampu memperoleh tujuan dari yang dipelajari (Yaumi,
2003). Artinya pembelajaran ini merealisasikan kegiatan belajar dan tentunya juga kegiatan
pengajaran, yang biasa disebut dengan kegiatan belajar menagajar. Sebagai seorang terdidik,
tentunya belajar adalah suatu proses yang urgen dan mesti dilalui. Apalagi seorang pendidik
yang bertugas mendidik dan melakukan kegiatan pembelajaran terhadap peserta didik,
tentunya harus lebih teredukasi dengan baik dan maksimal sehingga ia mampu ikut andil dan
berperan aktif guna menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif guna melahirakan
pribadi yang terdidik.

Belajar merupakan proses dasar dari perkembangan hidup si anak didik yang
membuatnya melakukan perubahan-perubahan kualitatif, sehingga tingkah lakunya
berkembang. Semua aktifitas dan prestasinya adalah hasil dari belajar (Soemanto, 2006).
Adapun tujuan dari belajar adalah: (1) untuk mengadakan perubahan diri (tingkah laku). (2)
mengubah kebiasaan dan sesuatu menjadi lebih baik dan positif. (3) menambah pengetahuan
dan punya keterampilan (Syarifuddin, 2011).

Ada 3 prinsip utama dalam belajar yakni: (1) Classical Conditioning, teori tentang
proses belajar melalui pembiasaan (conditioning) dengan pemberian rangsangan (stimulus),
guna mendapatkan respon tanpa penguatan (reinforcement). (2) Conditioning Operant,
berupa adanya hukum efek menyeleksi, dari berbagai respon yang ada, hanya respon yang
diikuti oleh konsekuensi positif. (3) Cognitive Learning, adalah perubahan cara memproses
informasi sebagai hasil pengalaman atau latihan (Syarifuddin, 2011).

Prinsip ini diperlukan guru untuk dapat memiliki dan mengembangkan sikap dan
perilaku yang diperlukan guna menunjang peningkatan belajar peserta didik (Bahtiar, tt).
Karna berdasarka realitas yang ada saat ini, pendidikan cenderung bersifat pragmatisme,
dimana siswa dianggap sebagai sebuah wadah kosong yang tidak tau dan mengerti apa-apa
(bodoh) yang hanya bisa diisi oleh guru (disini siswa pasif dan tidak dipedulikan karna guru
dianggap sebagai media penyaluran ilmu semata dan siswa adalah wadah tampungan dari
penayaluran itu sendiri ). Untuk itu maka perlu kiranya mengembangkan proses pembelajaran
yang berorientasi pada peserta didik mulai dari pribadi, motivasi, prestasi, kognitif dan
potensi-potensi yang dimilikinya agar dapat dikembangkan secara optimal dan tepat (Yuli
FajarSusetyo, 2012).

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 (sistem Pendidikan Nasional), Pendidik adalah


tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru,dll.... dengan kekhususannya serta
berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Dengan tugas utama (menurut UU No.
14 Tahun 2007) sebagai tenaga profesional dan agen pembelajaran dalam melaksanakan
sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dalam peranannya,
guru bertindak sebagai: (1) Pendidik, tidak hanya sebagai mengajari ilmu, guru juga sebagai
pembentuk karakter kepribadian siswa. (2) penagajar, guru senantiasa berusaha untuk
meningkatkan pengetahuan, daya nalar, prestasi serta ketrampilan dan kemampuan peserta
didiknya (3) Pembimbing dan Pelatih, tidak hanya menyangkut fisik, guru juga
bertanggungjawab dalam hal emosional, sosial dan moral, serta kreatifitas dan spiritual anak
didiknya. (4) Inovator, Motivator, Kreatifator dan Pribadi Teladan, disini guru dituntun
untuk menjadi tokoh pembaharuan yang aktif dalam melahirkan, menerjemahkan serta
meniterpretasikan ide dan gagasan secara berkelanjutan dalam dunia pendidikan dan proses
pembelajaran serta dibarengi dengan sikap, watak dan pribadi yang terdidik.

Sedangkan Peserta didik itu sendiri menurut UU No. 20 Tahun 2003 adalah anggota
masyarakat yang berusaha mengembangkan diri melalui proses pembelajaran yang tersedia
pada jalur, jenjang, jenis pendidikan tertentu.

Teori Belajar Humanistik

Pendidikan humanistik pada hakikatnya mengacu pada kata sifat yang merupakan
sebuah pendekatan dalam pendidikan (Mulkhan, 2002). Sehingga menurut teori humanistik,
proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu
sendiri. Karena sifatnya yang abstrak dan lebih cenderung ke arah kajian filsafat serta teori
kepribadian dan psikoterapi, teori ini lebih menitikberatkan perhatiannya pada konsep dan
pengertian dan proses belajar yang paling ideal sehingga membentuk manusia yang dicita-
citakan. Dalam teori humanistik juga berasumsi bahwa teori belajar apapun dapat digunakan
dan dimanfaatkan, selama tujuananya untuk pencapaian aktualisasi diri, pemahaman diri serta
realisasi diri secara optimal (Assegaf, 2011).

Prinsip-prinsip teori belajar ini antar lain adalah:

1. Siswa memilih apa yang mereka ingin pelajari, karna siswa akan termotivasi untuk
mengkaji materi bahan ajar yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan dan
keinginannya.
2. tujuan pendidikan harus mendorong agar peserta didik punya keinginan dan
termotivasi serta merangsang diri untuk belajar.

3. keterlibatan secara langsung siswa dalam proses pembelajaran / aktif (bermakna,


lancar, komprehensif).

4. segala proses yang terjadi selama proses pembelajaran diperhatikan sedetail


mungkin (baik itu stimulus-respon, interaksi sosial dan pengaruhnya,sikap dan
karakter serta motivasi dan prestasi belajar).

Dalam pembelajarannya, teori humanistik beranggapan bahwa peserta didik adalah


individu yang bebas merdeka untuk menentukan arah hidup serta bertanggungjawab penuh.
Hal ini dapat dilakukan dengan pendekatan secara:

1. Dialogis : mengajak siswa untuk berpikir bersama secara kritis, terbuka dan kreatif.

2. Reflektif : disini siswa dituntut untuk mampu menjadikan pengalaman sebagai


konsep baru yang mampu direfleksikan atau diliat dan diimplementasikan pada diri
sendiri

3. Ekspresif : siswa mampu untuk memahami maksud dan mengungkapkan pendapat


dan gagasannya sendiri

Disini guru tidak hanya memberikan asupan materi yang dibutuhkan siswa secara
keseluruhan, namun juga berperan sebagai fasilitator dan partner bagi anak didiknya
(Arbayah, 2013).

Arbayah, dalam bukunya yang berjudul Model Pembelajaran Humanistik. Dinamika


ilmu, mengatakan bahwa proses belajar mengajar akan dianggap berhasil bilamana peserta
didik mampu mengaktualisasikan lingkungan dan dirinya sendiri, artinya tujuan
memanusiakan manusia dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Ada beberapa
pandangan para ahli teori humanistik terhadap pembelajaran:

1. Pandangan Kolb

Membagi tahap belajar menjadi 4, yaitu:

a) Tahap Penagalaman Konkret

Yaitu tahapan awal dimana seseorang mengalami sebuah kejadian merasakannya


mampu menceritakan kembali secara faktual namun belum mampu memahami dan
menjelaskan kenapa kejadian tersebut dapat terjadi.

b) Tahap Pengamatan Aktif dan Reflektif

Dimana seseorang melai berupaya untuk mencari jawaban dan memikirkannya (mulai
mengalami perkembangan)

c) Tahap Konseptualisasi
Mulai merambah upaya untuk membuat dan mengembangkan teori, abstraksi, konsep
dan hukum serta prosedur objek perhatiannya.

d) Tahap Eksperimentasi Aktif

Disini ia mulai mampu memahami dan mengaplikasikan konsep dan teori yang ada
kedalam situasi nyata.

2. Pandangan Honey dan Mumford

Menggolongkan tipe orang yang belajar ke dalam 4 macam:

a) Aktivis

Mereka yang melibatkan diri dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan dengan
tujuan untuk memperoleh pengalaman baru. Mereka ini cocok dengan metode Problem
solving dan Brainstorming namun tidak cocok dengan kegiatan yang lama implementasinya.

b) Reflektor

Dalam melakukan tindakan, mereka ini cenderung berhati-hati dan penuh dengan
berbagai hal yang mesti dipertimbangkan terlebih dahulu sehingga cenderung bersifat
konservatif.

c) Teoris

Cenderung berpikir kritis, suka menganalisis, berfikir rasional dan tidak menyukai
pendapat yang sifatnya subjektif. Dalam bertindak mereka biasanya penuh pertimbanga,
skeptis dan tidak suka terhadap hal-hal yang berbau spekulatif sehingga punya pendirian yang
teguh dan tegas.

d) Pragmatis

Kelompok ini cenderung bersifat praktis, tidak suka bertele-tele dengan konsep dan
teori yang ada. Menurut mereka sesuatu itu bermanfaat jika dapat dipraktekkan dan
diaplikasikan untuk kemaslahatan bersama.

3. Pandangan Habermas

Menurut ahli yang satu ini, belajar dapat terjadi jika adanya interaksi antara individu
dengan lingkungannya baik lingkungan alam maupun sosial. Ada 3 tipe belajar menurut
Habermas, yaitu:

a) Belajar Teknis

Bagaimana seseorang dapat menjalin interaksi dengan lingkungannya melalui


kemampuan dan ketrampilan yang relevan dan sesuai kebutuhan agar dapat berjalan dengan
tepat.

b) Belajar Praktis
Interaksi yang benar antara individu dengan lingkungan alamnya hanya akan tampak
dari kaitan atau relevansinya terhadap kepentingan manusia dan lingkungan sosialnya.

c) Belajar Emansipatoris

belajar ini menekankan adanya upaya seseorang dalam mencapai pemahaman dan
kesadaran yang tinggi dalam lingkungan sosialnya terhadap adanya transformasi kultural.

4. Pandangan Bloom dan Krathwohl

Mereka lebih menekankan perhatiannya pada apa saja yang mesti dikuasai oleh
individu setelah melalui proses belajar. Teori ini juga dikenal dengan sebutan Taksonomi
Bloom, yaitu:

a) Domain Kognitif

meliputi: Pengetahuan, Pemahaman, Aplikasi, Analisis, Sintesis, Evaluasi

b) Domain Psikomotorik

meliputi: Peniruan, Penggunaan, Ketepatan, Perangkaian, Naturalisasi

c) Domain Afektif

Pengenalan, Merespon, Penghargaan, Pengorganisasian, Pengamalan

Beberapa model pembelajaran humanistik:

1) Humanizing of The Classroom

Bertumpu pada: menyadari diri, mengenali konsep dan identitas diri serta
menyatupadukan kesadaran hati dan pikiran.

2) Active Learning

Strategi belajar yang lebih mengedepankan keikutsertaan anak didik dalam


mengakses, menganalisis, memahami dan mengembangkan berbagai akses informasi yang
didapati sehingga meningkatkan kompetensi mereka.

3) Quantum Learning

Dimana jika anak didik mampu menggunakan potensi nalar dan emosinya secara
tepat, ia akan mampu untuk melakukan loncatan prestasi yang lebih bagus.

4) The Accelerated Learning

Pembelajaran secara cepat, menyenangkan dan memuaskan karna guru mampu


mengelola kelas secara Somatic, Auditory, Visual, dan Intellectual (SAVI) (Arbayah, 2013).

Prestasi dan Motiavasi belajar


Prestasi belajar merupakan proses kegiatan belajar, yang berarti sejauh mana
seseorang ia mampu memahami dan menguasai bahan ajar yang telah diberikan. Karna
prestasi adalah sebuah ketrampilan, kemampuan dan sikap dalam menyelesaikan sesuatu
berarti ia mesti berusaha keras untuk mencapainya.

Salah satu faktor yang mendorong tercapainya sebua prestasi adalah adanya motivasi
belajar yang besar pada diri si peserta didik. Motivasi itu sendiri menurut KBBI merupakan
dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidaknya serta pemicu untuk
tergerak melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.Motivasi disini lebih mengacu
kedalam kontek pembelajaran tentang minat dan semangat belajar peserta didik dalm melalui
proses pembelajaran guna tercapainya tujuan untuk aktualisasi diri dan menjadi pribadi yang
lebih tau dan berkarakter.

Motivasi ini pada dasarnya muncul dari diri anak didik dan juga dapat berasal dari
peran yang dimainkan oleh lingkungannya seperti halnya seseorang baik itu orang tua, teman,
dan guru. Disini guru punya pengaruh besar dalam menciptakan motivasi belajar siswa. Guru
sebagai sosok arsitektur yang dapat menumbuhkan dan membentuk jiwa dan watak dari
peserta didik. Meskipun datangnya teknologi yang canggih, peran besar guru belum dapat
digantikan karna ia mampu menjadi pemicu dan pemberi motivasi dan pesan moral yang
sangat berpengaruh terhadap peserta didik dalam membangun semangat belajar. Karna pada
dasarnya peserta didik tidak hanya membutuhkan seorang pemgajar, namun juga butuh
kepada sosok pendidik yang mampu memberinya didikan dan dorongan moral yang baik.

Aplikasi Teori Humanistik

Teori ini pada dasarnya sukar untuk diterapkan dalam konteks yang lebih praktis,
namun karena sifatnya yang ideal maka teori ini mampu memberi arah terhadap semua
komponen pembelajaran dalam mencapai tujuannya. Semua komponen ini diarahkan pada
terbentuknya manusia yang ideal, manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri. Teori ini
mampu membantu siswa dalam memahami arah belajar yang lebih luas karena kesamaan
konsep dan tujuan yang ingin dicapai.

Teori ini juga punya sumbangsih yang besar dalam membantu pendidik dan guru
dalam memahami kejiwaan manusia. Hal ini dapat membantu mereka dalam menyusun
perumusan tujuan, penentuan materi dan strategi pembelajaran serta pengembangan alat
evaluasi. Meskipun sudah dilakukan penyeleksian dan pemilihan terhadap komponen-
komponen diatas, hal ini hanya akan berguna bagi guru namun tidak bagi siswa (Rogers
dalam Snelbecker, 1974). Karena menurut teori ini, agar belajar bermakna, diperlukan
inisiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sehingga ia akan mengalami belajar eksperiensial
(Experienntial Learning).

Adapun langkah-langkah pembelajaran yang dapat dilakukan menurut Suciati dan


Prasetya Irawan (2001) adalah:

1. Menentukan tujuan pembelajaran


2. Menentukan materi ajar

3. mengidentisifikasi kemampuan awal siswa (entry behavior)

4. mengidentisifikasi topik-topik dan memfasilitasi siswa agar dapat berperan aktif

5. membimbing siswa secara aktif dalam memahami pengalamannya

6.membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep dan gagasan baru ke situasi


nyata dan mengevaluasinya

Kesimpulan

Pendidikan saat ini cenderung bersifat pragmatism, yang mana siswa dianggap
sebagai sebuah gelas yang kosong yang hanya bisa diisi tanpa peduli terhadap potensi yang
dimilikinya. Hal ini bisa memasung potensi yang tertanam dala diri siswa. Pembelajaran
humanistik memandang siswa sebagai subjek yang bebas untuk menentukan arah hidupnya.
Siswa diarahkan untuk dapat bertanggungjawab penuh atas hidupnya sendiri dan juga atas
hidup orang lain. Dalam pembelajaran humanistik seorang guru tidak bertindak sebagai guru
yang hanya memberikan asupan materi yang dibutuhkan siswa secara keseluruhan, namun
guru hanya berperan sebagai fasilitator dan partner dialog.

Menurut teori belajar humanistik tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia,
yang mana proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan
dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu
mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Jika teori tersebut telah diimplementasikan,
maka siswa diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajarnya diiringi dengan adanya
motivasi belajar yang tinggi. Prestasi belajar merupakan buah dari proses belajar. Maka,
dengan meningkatnya prestasi belajar sebuah proses belajar dapat dikatakan berhasil yang
kemudian disertai dengan perubahan dalam diri siswa.
Daftar Pustaka

Arbayah. (2013). Model Pembelajaran Humanistik. Dinamika Ilmu Vol 13. No. 2,

Desember, 205.

Assegaf, R. (2011). Filsafat Pendidikan Islam, Paradigma Baru Pendidikan Hadhari

Berbasis Integratif-Interkonektif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Bahtiar, A. R. (tt). Prinsip-prinsip dan Model Pembelajaran Pendidikan Agama


Islam. Jurnal Tarbawi Volume 1 No 2, 149.

Mulkhan, A. M. (2002). Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis

Pendidikan Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Syarifuddin, A. (2011). Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Belajar dan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. TA’DIB, Vol. XVI, No. 01, Edisi

Juni, 115.

Yaumi, M. (2013). Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana prenada

media group.

Yuli Fajar Susetyo, A. K. (2012). Orientasi Tujuan, Atribusi Penyebab, dan

Belajar Berdasar Regulasi Diri. JURNAL PSIKOLOGI VOLUME 39, NO. 1,

JUNI, 96.