Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa nifas atau post partum adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,
plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan
seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lenih 6 minggu (Walyani & Purwoastuti,
2015)
Laktasi adalah bagian dari proses reproduksi yang memberikan makanan bayi atau
Asi (air susu ibu) secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologic dan psikologik
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi (Nugroho, 2011).
Pada tahun 2017 cakupan pemberian ASI eksklusif di Afrika Tengah sebanyak
25%, Amerika Latin dan Karibia sebanyak 32%, Asia Timur sebanyak 30%, Asia Selatan
sebanyak 47%, dan negara berkembang sebanyak 46%. Secara keseluruhan, kurang dari
40 persen anak di bawah usia enam bulan diberi ASI Eksklusif (WHO, 2015). Hal tersebut
belum sesuai dengan target WHO yaitu meningkatkan pemberian ASI eksklusif dalam 6
bulan pertama sampai paling sedikit 50%. Ini merupakan target ke lima WHO di tahun
2025 (WHO, 2014).
Di Indonesia, bayi yang telah mendapatkan ASI eksklusif sampai usia enam bulan
adalah sebesar 29,5% (Profil Kesehatan Indonesia, 2017). Hal ini belum sesuai dengan
target Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 yaitu persentase bayi
usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif sebesar 50%. Menurut provinsi,
cakupan ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan paling rendah berada di Sumatera
Utara sebesar 12,4%, Gorontalo sebesar 12,5% dan paling tinggi di DI Yogyakarta sebesar
55,4%. Sementara kondisi Sumatera Barat didapatkan pemberian ASI Eksklusif sampai
usia 6 bulan sebesar 37,6%. Sementara di Jawa Timur, ibu yang memberi ASI sebesar
64.08% pada tahun 2012 dan di Kabupaten Kediri ibu yang memberikan ASI sebesar
65,25% (Seksi Gizi Dinas Kesehatan Proponsi Jawa Timur, 2013 & Data dan Informasi
Profil Kesehatan Indonesia, 2017)
Penurunan produksi ASI pada hari pertama setelah melahirkan dapat disebabkan
oleh kurangnya rangsangan hormone prolactin dan oksitosin yang sangat berperan dalam
kelancaran produksi ASI penelitian ini dilakukan oleh Blair (2003). Dan dalam penelitian
Chan, et al dalam nurliawati (2010) menyebutkan bahwa 44 ibu post partumsebanyak 77%
berhenti menyusui sebelum bayi berusia 3 bulan dengan alasan persepsi ASI yang kurang
banyak 44%, masalah payudara sebanyak 31% dan merasa kelelahan sebanyak 25%.
Penelitian lainya yag dilakukan oleh Collin dan scot yang dilakukan di Australia
menunjukan bahwa 556 orang ibu melahirkan sebanyak 29% sudah berhenti menyusui
bayinya pada minggu kedua dengan alasan bahwa ASInya kurang (Nurliawati 2010)
Apabila masalah tersebut tidak dapat diatasi, maka akan mengganggu
kesinambungan pelaksanaan pemberian ASI. Sehingga perlu adanya solusi untuk ibu yang
terlajur khawatir karena masalah pemberian ASI dini yang disebabkan ASI tidak keluar di
hari pertama. Salah satu cara untuk meningkatkan pengeluaran ASI adalah dengan Metode
“SPEOS” (Stimulasi Pijat Endorphin, Oksitosin, dan Sugestif) dan akupresure Terhadap
Pengeluaran ASI Pada Ibu Nifas (Novianti, 2009)
Menurut wiwin (2014), mengatakan metode SPEOS (Stimulasi Pijat Oksitosin,
Pijat Endorphin, dan Sugestif) yaitu melakukan stimulasi untuk merangsang pengeluaran
hormone oksitosin melalui pijat oksitosin, memberikan rasa nyaman dan menumbuhkan
keyakinan pada ibu bahwa ASI pasti keluar dan ibu bisa memberikan ASI secara eklusif
dengan pijat endoprin dan sugestif.
Dan juga dapat menggunakan teknik acupressure points for lactation yang
merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidak lancaran produksi ASI (Anamed,
2012). Tindakan tersebut dapat membantu memaksimalkan reseptor prolaktin dan
oksitosin serta meminimalkan efek samping dari tertundanya proses menyusui oleh bayi
(Evariny, 2008).
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah diuraikan, peneliti tertarik
untuk meneliti mengenai “Efektivitas pemberian Metode Speos dan Akupresure untuk
Laktasi pada Ibu Post Partum di Rumah Sakit Aura Syifa Kediri”.
B. Rumusan Masalah
Lebih efektif mana antara pemberian metode Speos dan Akupresure untuk laktasi pada ibu
post partum di Rumah sakit Aurasyifa ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui Efektivitas pemberian Metode SPEOS dan Akupresure untuk laktasi pada
ibu post partum di Rumah sakit Aurasyifa
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pemberian metode Speos untuk laktasi pada ibu post partum di
Rumah sakit Aurasyifa
b. Mengidentifikasi pemberian Akupresure untuk laktasi pada ibu post partum di
Rumah sakit Aurasyifa
c. Menganalisis Efektivitas pemberian Metode SPEOS untuk laktasi pada ibu post
partum di Rumah sakit Aurasyifa
d. Menganalisis Efektifitas pemberian Akupresure untuk laktasi pada ibu post partum
di Rumah sakit Aurasyifa
D. Manfaat
a. Teoritis
Bagi peneliti digunakan sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman dalam
mengetahui Efektivitas pemberian Metode SPEOS dan Akupresure untuk laktasi
pada ibu post partum di Rumah sakit Aurasyifauntuk kepentingan penyelesaian
tugas akhir skripsi.
b. Praktis
1. Bagi ilmu keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah literature
dalam bidang keperawatan maternitas. Serta sebagai referensi untuk penelitian
terkait pada penelitian selanjutnya.
2. Bagi tempat penelitian
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sarana untuk menyusun langkah-
langkah yang tepat dalam meningkatkan produksi asi pada ibu post partum di RS
aurasyifa