Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Lanjut Usia

1. Pengertian Lanjut Usia

Menurut WHO dan UU No. 13 tahun 1998, dalam Nugroho 2008, tentang

kesejatraan lanjut usia pada bab 1 ayat 2 menyebutkan bahwa umur 60 tahun

adalah umur permulaan menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan

proses menurunnya daya tahan tubuh dan menghadapi rangsangan dari dalam

dan luar tubuh yang berahir dengan kematian.

Lanjut usia adalah seorang yang berusia 60 tahun atau lebih yang secara

fisik terlihat berbeda dengan kelompok umur lainnya (Depkes RI, 2003).

Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam

kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses panjang hidup tidaka

hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan

kehidupan, (Nugroho 2008).

Sampai saat ini banyak sekali teori yang menerangkan “proses menua”

mulai dari teori generatif yang didasari oleh habisnya daya cadangan vital, teori

terjadinya atrofi yaitu: teori yang yang mengatakan bahwa proses menua adalah

proes evolusi dan teori imunologik yaitu: teori adanya produk sampah/ waste

product dari tubuh sendiri yang makin bertumpuk. Tetapi seperti diketahui,

lanjut usuan akan selalu bergandengan dengan perubahan fisiologis maupun

psikologis, yang penting diketahui bahwa aktifitas fisik dapat menghambat dam

9
memperlambat kemunduran fungsi alat tubuh yang disebabkan bertambahnya

umur (Nugroho, 2000).

2. Batasan Umur Lanjut Usia

Berikut ini adalah batasan umur lanjut usia yang mencakup batasan umur

lansia dari pendapat berbagai para ahli, menurut Efendi, & Makhudli 2009,

yang dikutip dari Nugroho (2008).

Menurut Undang-Undang nomor 13 Tahun1998 dalan Bab 1pasal 1 ayat 2

yang berbunyi “ Lanjut Usia adalah seorang yang mencapai usia 60 tahun ke

atas”.

1) Menurut World Health Organizatin (WHO)

a. Usia pertengahan (middle age) : 45-59 tahun

b. Lanjut usia (elderly) : 60-74 tahun

c. Lanjut usia tua (old) : 75- 90 tahun

d. Usia sanagt tua (very old) : di atas 90 tahaun

2) Menurut Hurloch 1979, dalam Nugroho 2008:25 perbedaan lanjut usia di

bagi 2 tahap:

a. Early old age (usia 60-70 tahun)

b. Advanced olg age (usia 70 tahun keatas)

3) Menurut Depkes RI 2011

a. Pra lansia kelompok usia 45-59 tahun

b. Lansia Antara 60-69 tahun

c. Lansia beresiko kelompok usia > 70 tahun

10
3. Karasteristik Proses Menua

Menurut Nugroho (2008), beberapa karasteristiktentang proses penuaan

yang terjadi pada manusia dan hewan adalah sebagai berikut:

a. Peningkatan kematian sejalan dengan peningkatan usia

b. Terjadi perubahan kimiawi dalam sel dan jaringan tubuh yang

mengakibatkan masa tubuh berkurang, peningkatan lemak serta

perubahan serat kolagen yang dikenal dengan cross lingking.

c. Terjadi perubahan yang progresif dan merusak.

d. Menurunnya kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan

dilingkungannya.

e. Meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit tertentu.

4. Tipe Lansia

Beberpa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup,

lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial dan ekonominya ( Nugroho, 2000

dalam Maryam dkk, 2008).

Tipe tersebut di jabarkan sebagai berikut:

a. Tipe arif bijaksana

Kaya dengan hikmah, pengalaman, penyesuaian diri dengan perubahan

zaman, mempynyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana,

dermawan, memenuhu undangan dan menjadi panutan.

11
b. Tipe mandiri

Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam

mencari pekerjaan, bergaul dengan teman dan mememnuhi undangan.

c. Tipe tidak puas

Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi

pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, mengkritik dan

banyak menuntut.

d. Tipe pasrah

Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan

melakukan pekerjaan apa saja.

e. Tipe bingung

Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal,

dan acuh tak acuh.

5. Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia

1) Perubahan Atau Kemunduran Biologi (Nugroho, 2008)

a. Kulit menjadi tipis, kering, keriput, dan tidak elastis lagi. Fungsi

kulit sebagai penyakit suhu tubuh lingkungan dan mencegah

kuman-kuman penyakit masuk.

b. Rambut mulai rontok berwarna putih, kering dan tidak mengkilat.

c. Gigi mulai habis

d. Penglihatan dan pendengaran berkurang

e. Mudah lelah, gerakan mulai lamban dan kurang lincah.

12
f. Kerampingan tubuh menghilang disana-sini terdapat timbunan

lemak terutama di bagian perut dan pinggul.

g. Jumlah sel berkurang mengalami atrofi sementara jumlah jaringan

ikat bertambah, volume otot secara keseluruhan menyusut,

fungsinya menurun dan kekuatannya berkurang.

h. Pembuluh darah penting khususnya yang terletak di jantung dan

otak mengalami kekakuan lapisan intim menjadi kasar akibat

merokok, hipertensi, diabetes mellitus, kadar kolesterol tinggi dan

lain-lain yang memudahkan timbulnya pengumpulan darah dan

thrombosis.

i. Tulang pada proses menua kadar kapur (kalsium), menurun

akibatnya tulang menjadi keropos dan mudah patah.

2) Perubahan Atau Kemunduran Kemampuan Kognitif

a. Mudah lupa karena ingatan tidak berfungsi dengan baik.

b. Ingatan kepada hal-hal dimasa muda lebih baik dari pada yang

terjadi pada masa tuanya yang pertama dilupakan adalah nama.

c. Orientasi umum dan persepsi terhadap waktu dan ruang atau tempat

juga mundur, erat hubungan dengan daya ingatan yang sudah

mundur dan juga pandangan yang sudah menyempit.

d. Meskipun telah mempunyai banyak pengalaman skor yang dicapai

dalam test-test intelegensi menjadi lebih rendah sehingga lansia

tidak mudah untuk menerima hal-hal yang baru.

13
3) Perubahan Mental (Nugroho, 2008)

a. Di bidang mental atau psikis pada lanjut usia, perubahan dapat

berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah curiga, bertambah

pelit bila memiliki sesuatu.

b. Yang perlu di mengerti adalah sikap umum yang ditemukan pada

hamper setiap lanjut usia, yakni keinginan berumur panjang,

tenangnya dapat mungkin dihemat.

c. Mengharapkan tetap diberi peranan dalam masyarakat.

d. Ingin mempertahankan hak dan hartanya, serta ingin tetap

berwibawah.

e. Jika meninggal pun, mereka ingin meninggal secara terhormat.

4) Perubahan psikologis (Nugroho, 2008)

Nilai seseorang diukur melalui produktivitasnya dan identitasnya

dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila mengalami pensiun

(purna tugas), seseorang akan mengalami antara lain:

a. Kelangan finansial (pendapatan berkurang)

b. Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan/ posisi yang cukup

tinggi, lengkap dengan fasilitas).

c. Kehilangan teman/kenalan atau relasi.

d. Kemampuan ekonomi kaibat pemberhentian dari jabatan. Biaya

hidup meningkat pada penghasilan yang sulit, biaya pengobatan

bertambah.

e. Adanya penyakit kronis atu ketidak mampuan.

14
f. Timbulnya kesepian akibat pengasingan dari lingkungan sosial.

g. Adanya gangguan panca-indra, timbul kebutaan dan ketulian.

h. Rangkaian kehilangan, yaitu kehilangan hubungan dengan teman

atau family.

i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik (perubahan terhadap

gambaran diri,perubahan konsep diri).

6. Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia

Masalah-masalah kesehatan atau penyakit fisik dan atau kesehatan jiwa

yang sering timbul pada proses menua (lansia), menurut (Setiadi dkk, 2009

dalam Adilah, 2014) gangguan fisik yang terjadi pada lansia diantaranya

gangguan kardiovaskular, gangguan sisten endokrin, gangguan fungsi

pendengaran, dan gangguan penglihatan. Masalah sosial yang dihadapi

lanjut usia dalah mendapatkan kekerasan berbentuk verbal (dibentak) dan

nonverbal (dicubit dan tidak diberi makan).

Selain itu juga mengalami masalah psikologis yang umum dialami

seprti takut mengalami kematian, frustasi, kesepian, dan harus menentukan

kondisi hidup yang sesuai dengan kondisi hidup yang sesuai dengan

perubahan status ekonomi dan kondisi fisik (Maryam, 2008 dalam Adilah,

2014). Sedangakan menurut Boedhi Darmodjo (dalam Meryam 2008

dikutip ulang oleh Adilah, 2014) menjadi tua bukanlah suatu penyakit atua

sakit, tetapi suatu proses perubahan dimana kepekaan bertambah atau batas

kempuan beradaptasi menjadi berkurang yang sering dikenal dengan geatric

giant.

15
7. Kebutuhan Lansia

10 kebutahan orang lanjut usia, (dalam Darmojo, 2009) yaitu:

1) Makan makanan yang cukup dan sehat.

2) Pakaian dan kelengakapannnya

3) Perumahan/ tempat tinggal/ tempat berteduh

4) Perawatan dan pengawasan kesehatan

5) Bantuan teknis praktis sehari-hari/ bantuan hukum

6) Transportasi umum bagi lansia

7) Kunjungan/ teman bicara / informasi

8) Reaksi dan hiburan sehat lainnya

9) Rasa aman dan tentram bantuan alat-alat panca indera

10) Kesinambungan bantuan dana dan fasilitas

B. Konsep Kualitas Hidup Lansia

1. Definisi

Masing-masing individu mempunyai kualitas hidup yang berbeda-beda

tergantung cara pandang mereka menanggapai sesuatu. Kualitas hidup

menurut WHO adalah persepsi seorang dalam konteks budaya dan norma

yang sesuai dengan tempat hidup orang tersebut serta berkaitan dengan

tujuan, harapan, standart, dan kepedulian selama hidupnya.

Kualitas menurut Bowling dkk (2009), adalah dapat diartikan sebagai

subjektif tergantung pada persepsi individu mengenai kesejahteraanya dan

kualitas hidup dimasa tua merupakan kesehatan, merasa cukup secara

16
pribadi dan masih merasa berguna, partisipasi dalam kehidupan sosial, dan

baik dalam sosial ekonominya.

Kualitas lanjut usia merupakan suatu komponen yang kompleks

mencakup usia harapan hidup, kepuasa dalam kehidupan, kesehatan

psikologis dan mental, funsi kognitif , kesehatan dan fungsi fisik

pendapatan, kondisi, tempat tinggal, dukungan sosial dan jaringan sosial

(Sutikno.E, 2011).

Kualitas hidup menurut Nofitri adalah penilaian individu terhadap

posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai

dimana mereka hidup dalam kaitannya dengan tujuan individu, harapan,

standar, serta apa yang menjadi perhatian individu. Moons, Marquet, Budst,

dan De Geest (2004, dalam Nofitri 2009) menyebutkan hal-hal yang penting

dalam konseptualisasi kualitas hidup:

1. Kualitas hidup tidak boleh disamakan dengan status kesehatan ataupun

kemampuan fungsional .

2. Kualitas hidup lebih didasarakan oleh evaluasi subjektif daripada

parameter objektif.

3. Tidak terdapat perbedaan dengan jelas Antara indikator-indikator

kualitas dengan faktor-faktor yang menentukan kualitas hidup.

4. Kualitas hidup dapat berubah dengan seiring waktu, namun tidak banyak

5. Kualitas hidup dapat dipengaruhi secara positif maupun negatif.

17
Pengukuran kualitas hidup, (Nofitri 2009) menyebutkan ada tiga cara

dalam pengukuran kualitas hidup ini yaitu:

1. komponen objektif dari aspek kehidupan individu,

2. komponen subjektif yaitu penilaian dari individu tentng kehidupannya

sendiri

3. komponen kepentingan yaiti menyatakan keterkaitan hal-hal yang

penting baginya dalam mempengaruhi kualitas hidupnya dan juga

mengatakan bahwa kondisi kehidupan tertentu tidak menghasilakn

reaksi yang sama pada setiap individu.

Menjaga kualitas hidup yang baik pada lanjut usia sangat dianjurkan

dalam kehidupan sehari-hari. Hidup lanjut usia yang berkualitas

merupakan kondisifungsional yang optimal, sehingga mereka dapat

menikmati masa tuanya dengan bahagia dan dapat berguna. Ini seperti

yang dikemukakan oleh Sutikno.E, (2011) bahwa lanjut usia yang

berkualitas merupakan kondisi fungsional lanjut usia pada kondisi optimal,

sehingga mereka bisa menikmati masa tuanya dengan penuh makna,

membahagiakan dan berguna. Dalam kenyataannya, tidak semua individu

yang berusia lanjut memiliki kualitas hidup yang baik.

18
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup lansia sebagai berikut:

1. Dukungan Keluarga

a. Pengertian

Dukungan Keluarga adalah sala satu faktor penguat yang sangat

mempengaruhi siakp dan perilaku seseorang (Natoatmodjo, 2010).

Dukungan keluarga adalah sikap, perilaku, dan penerimaan keluarga

terhadap salah satu anggota keluarganya. Anggota keluarga

berpandangan bahwa seseorang yang bersifat mendukung pasti siap

memberikan sebuah pertolongan dan bantuan jika diperlukan anggota

keluarganya (Friedman,2010).

Dukungan keluarga merupakan bagian dari dukangan sosial

yang berfunsi sebagai system pendukung anggota-anggotanya dan

ditujukan untuk meningkatkan keseehatan. Menurut (Friedman,

2010), dukungan keluarga merupakan sikap, tindakan dan

penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Anngota

keluarganya memendang bahwa orang yang selalu mendukung selalu

siap memberikan pertolongan dan bantuam jika diiperlukan

19
Adapun bentuk-bentuk dukungan keluarga Antara lain:

a) Dukungan emosional

Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk

istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhdapa

emosi. Meliputi ungkapan empati, dan kepedulian terhadap

anggota keluarganya (misalnya umpan balik, penegasan)

(Marilyn,2006).

b) Dukungan pengharagaan

Keluarga betindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik,

membimbing dan menangani pemecahan masalah dan sebagai

sumber validator identitas anggota (Marilyn, 2006)

c) Dukungan materi

Keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan kronkit

sebgai pertolongan langsung seperti dalam bentuk uang,

peralatan, waktu modifikasi lingkungan maupun menolong

dengan pekerjaan waktu mengalami stress (Marlyn,2006)

Sumber dukungan keluarga

Sumber dukungan keluarga mengacu kepada dukungan sosial

yang dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses/

disediakan untuk keluarga. Dukungan sosial keluarga dapat berupa

dukunagn sosial internal, seperti dukungan dari suami/istri atau

dukungan dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial

keluarga eksternal (Fridman, 2010).

20
b. Mamfaat Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga adalah sebuah proses yang terjadi pada masa

kehidupan, sifat dan dukungan sosial berbeda-beda dalam tahap-

tahap siklus kehidupan. Namun demikian dalam dalam semua tahap

siklus kehidupan, dukungan sosial kelarga mampu berfungsi dengan

berbagai kepandaian dan akal. Sebagai akibatnya, hal meningkatkan

kesehatan dan adaptasi keluarga

2. Interaksi sosial

a. Definisi

Interaksi sosial merupakan hubugan timbal balik, saling

mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan, serta tidak terlepas dari

suatu hubungan yang terjadi antara individu, sosial, dan kehidupan

sehari-hari. Kebutuhan untuk beriteraksi dengan orang lain akan

dimiliki oleh indivudi sampai akhir hayat.

Umumnya lansia mengalami penurunan yang melakukan

interaksi sosial. Semakin bertambah usia menyebabkan

menyebabkan penurunan interaksi sosial sehingga lansia akan

mengalami kesulitan bersosialisasi. Menurut Ramhi, (2008)

menyebutkan bahwa dengan interaksi sosial yang bagus

memungkinkan lansia untuk mendapatkan perasaan memiliki suatu

kelompok sehingga dapat berbagi cerita, berbagi minat, berbagi

perhatian, dan dapat melakukan aktifitas secara bersama-sama yang

kreatif dan inovatif.

21
Menurut Nugroho, (2008) ada dua syarat yang harus penuhi

bagi perilaku bagi perilaku yang menjurus pada pertukaran sosial; (1)

perilaku tersebut berorientasi pada tujuan yang hanya dicapai melalui

interaksi dengan orang lain. (2) perilaku harus bertujuan untuk

memperoleh sarana bagi pencapaian tujuan. Tujuan yang hendak

dicapai dapat berupa imblan intrinsik yaitu imbalan dari hubungan

itu sendiri atau dapat berupa imbalan ekstrinsik yang berfungsi

sebagai alat bagi suatu imbalan lain dan tidak merupakan imbalan

bagi hubungan itu sendiri.

Hubungan lanisa dengan keluarga sebagai peran sentral pada

seluruh tingkat kesehatan dan kesejateraan. Pengkajian pada sistem

sosial dapat menghasilkan informasi-informasi tentang jaringan

pendukung (Kushariyadi, 2012).

Di Indonesia umumnya memasuki usia lanjut tidak perlu

dirisaukan. Mereka cukup aman karena anak atau saudara-saudara

yang masih merupakan jaminan yang baik bagi orang tuanya. Anak

berkewajiban menyantuni oaring tua yang sudah tidak dapat

mengurus dirinya sendiri. Nilai in masih berlaku, memang anak wajib

memberikan kasih sayangnya kepada orang rua sebagaimana mereka

dapatkan ketika mereka masih kecil. Para lansia mempunyai peranan

yang menonjol sebagai seorang yang dituakan bijak dan

berpengalaman, pembuat keputusan, dan kaya pengetahuan. Mereka

22
sering sebagai model generasi muda, walaupun sebetulnya banyak

diantara mereka tidak mempunyai pendidikan formal.

b. Perubahan sosial pada lansia

Perubahan sosial pada lansia menurut S. Tamher-Noorkasiani, (2012)

yaitu:

a. Seringkali kurang mampu mengambil tindakan

b. Lebih banyak mengurung diri

c. Tidak sabaran/pemarah

d. Kurang menyadari apa peran dan tanggung jawabnya kini.

e. Kurang mampu berfikir/berbicara.

f. Tidak ingin bergaul dengan tetangga, merasa tidak berdaya.

g. Merasa hilang perannya selaku kepala rumah tangga.

h. Muda tersinggung

3. Pola makan

a. Defenisi

Pola makan adalah suatu cara atau usaha untuk melakukan kegiatan

makan yang sehat. Kegiatan makan yang sehat meliputi pengaturan

jumlah kecukupan makanan, jenis makanan dan jadwal makanan.

Pemberian makanan pada Lansia menurut Nugroho, (2008) adalah

makanan yang hendak disajikan harus memenuhi kebutuhan gizi,

makanan yang disajikan diberikana pada waktu yang teratur dan dalam

porsi yang kecil saja, berikan makanan yang bertahap dan bervariasi,

sesuaikan makanan dengan diet yang dianjurkan oleh dokter dan berikan

23
makanan yang lunak untuk menghindari konstipasi serta memudahkan

mengunyah, seprti nasi tim, atau bubur.

b. Jenis Menu Makanan

Menu adalah susunan hidangan yang disiapkan atau disajikan pada

waktu makan. Menu seimbang bagi lansia adalah susunan yang

mengandung cukup semua unsur zat gizi dibutuhkan lansia. Pedoman

untuk makanan bagi lansia adalah makanan yang beraneka ragam dan

mengandung zat gizi yang cukup, makanan mudah dicerna dan dikunyah,

sumber protein yang berkualitas seperti susu,telur, daging, dan ikan.

Sebaiknya mengomsumsi sumber karbohidrat kompleks makanan sumber

lemak harus berasal dari lemak nabati, mengomsumsi makanan sumber

zat besi seperti bayam, kacang-kacangan dan sayuran hijau (Meryam,

2015).

Dalam menu seimbang bagi lansia juga harus membatasi makanan

yang diawetkan dan anjurkan pada lansia untuk minum air putih 6-8 gelas

sehari karena kenutuhan cairan meningkat dan untuk memperlancar

proses metabolisme serta makanan sehari disajikan dalam keadaan

hangat, segar, dan porsi kecil.

24
c. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan Pada Lansia

Lansia dengan berbagai kemunduran yang dialami, dapat

mempengaruhi derajat tersebut. Faktor yang mempengaruhi pola makan

lansia diantaranya:

1. Motivasi diri

Sunaryo, (2014) mengatakan motif atau motifasi diri merupakan

suatu pengertian yang mencakup penggerak, keinginan, pembangkit

tenaga alasan dan dorongan dari dalam diri manusia yang

menyebabkan ia berbuat sesuatu yang berkaitan dengan perilaku

kesehatan individu.

Sunaryo, (2014) juga mnegatakan motivasi menunjukkan pada

proses gerakan termasuk pada situasi yang mendorong sehingga

timbul dalam diri individu, tingkalaku yang ditimbulkan oleh situasi

tersebut dan tujuan akhir dari gerakan atau perbuatan.

Indivudu yang melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, atas

dasar motivasis masing-masing. Pada prinsipnya motivasi didasari

pada pemenuhan kebutuhan yang dibagi atas kebutuhan primer dan

kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer mempunyai aspek vital,

biologis dan psikologis, sedangkan kebutuhan sekunder mempunyai

aspek sosial, non vital, dan psikologis.

25
2. Perasaan Dan Emosi

Perasaan menurut Sunaryo, (2014) adalah gejala psikis yang

memiliki sifat khas subjektif yang berhubungan depresi dan dialami

sebgai rasa senang atau tidak senang, sedih, gembira, dalam berbagai

derajat dan tingkatnya. Perasaaan memiliki ciri-ciri yaitu selalu terkait

dengan gejala kejiwaan yang lain khususnya persepsi, bersifat

individual atau subjektif dan perasaan yang dialami individu sebagai

perasaan yang menyenangakan dapat dibagi tas rasa senang, bangga,

kasih sayang, enak, lezat, indah dan tenang, sementara perasaan tidak

menyenagkan terbagi atsa sedih, kecewa, sakit, gelisah, kacau dan

galau.

Emosi adalah manifestasi perasaan sfek keluar dan disertai

banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama.

Emosi juga dapat diaratikan sebagai suatu keadaan perasaan yang

telah melampaui batas sehingga tidak mengadakan hubungan dengan

sekitarnya mungkin terganggu. Emosi merupakan perasaan yang

mendasar, dapat mengarahkan perilaku individu, baik perilaku positif,

maupun perilaku negative.

3. Dukungan keluarga

Perubahan yang terjadi pada lansia erat kaitannya dengan

perilaku kesehatan individu yaitu adanaya interkasi sosial dalam

bentuk dukungan keluarga/ kelopmpok maupun dukungan secara

sosial.

26
Pada umunya lansia berkeinginan menikmati hari tuanya

dilingkungan keluarga, namun dalam keadaan dalam sebab tertentu

mereka tidak tinggal bersama keluargnya. Oleh karena itu lansia yang

berada dilingkungan keluarga atau tinggal bersama keluarga serta

mendapat dukungan dari keluarga akan membuat lansia lebih sejatera.

Friedman, 2010, menyatakan bahwa fungsi dasar keluarga antara lain

adalahfungsi efektif yaitu fungsi internal keluarga untuk pemenuhan

kebutuhan psikososial, saling mengasuh dan memberik an cinta kasih

serta saling menerima dan mendukung satu sama lain.

4. Aktifitas fisik

1. Defenisi

Aktivias adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot

rangka yang memerlukan pengeluaran energy. Aktivitas fisik yang tidak

ada (kurangnya aktivitas fisik) merupakan faktor resiko independen

untuk penyakit kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan

menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010).

Aktivitas fisik adalah setiap pergerkan tubuh akibat aktivitas otot-

otot skelet yang mengakibatkan pengeluaran energy. Setiap orang

memerlukan aktivitas fisik anatara individu dengan yang lain tergantung

gaya hidup perorangan dan faktor lainnya. Aktivitas fisik terdiri dari

aktivitas selama bekerja, tidur dan selama waktu senggang. Latihan fisik

yang terencana, terstruktur, dilakukan berulang-ulang termasuk

olahraga fisik merupakan bagiaan dari aktivitas fisik. Aktivitas sedang

27
yang dilakukan secara terus-menerus dapat mencegah resiko terjadinya

penyakit tidak menular seperti penyakit pembuluh darah, diabetes,

kanker, dan lainnya (Kristiani et., 2002).

2. Jeinis-jenis aktivitas fisik

a. Aktivitas ringan

Aktivitas ringan yaitu aktivitas yang hanya memerlukan sedikit

tenaga dan biasanya tidak memnyebabkan perubahan dalam

pernapasan atau ketahanan. Contoh: berjalan kaki, menyapu, dll.

b. Aktivitas sedang

Aktivitas sedang merupakan aktivitas yang membutuhkan tenaga

intens atau terus-menerus, gerkan otot yang berirama atau kelenturan,

contoh: berlari kecil , jalan cepat dll.

c. Aktivitas berat

Aktvitas berat biasanya berhubungan dengan olahraga dan

membutuhkan kekuatan, contoh: bermain sepak bola, aerobic,

outbond dll.

3. Manfaat aktivitas fisik

Memenurut centers for disease control (CDC) mamfaat aktivitas

fisik bagi kesehatan jauh lebih besar ketimbang resiko terjadinya cedera.

Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat mengurangi

resiko kematian dini akibat penyebab-penyebab utama kematian, seperti

penyakit jantung dan sebagian kanker. Semua orang dapat meraih

mamfaat kesehatan dari aktivitas fisik, tanpa mempedulikan umur,

28
kelompok etnis, bentuk atau ukuran tubuh. Manfaat aktivitas bagi

kesehatan termasuk:

a. Mengurangi resiko kematian dini

b. Mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung

c. Mengurangi resiko timbulnya penyakit diabetes

d. Mengurangi resiko penyakit tekanan dara tinggi

e. Membantu mengurangi tekanan darah pada orang hipertensi

f. Mengurangi resiko penyakit kanker usus besar

g. Mengurangi depresi dan kecemasan

h. Membantu mengendalikan berat badan

i. Membatu membagun dan memelihara tulang, otot, dan sendi yang

sehat

j. Membatu dewasa menjadi lebih kuat dan lebih mampu bergerak

leluasa tanpa terjatuh

k. Mendukung kesehatan psikologis

4. Jenis aktivitas fisik pada lansia

Aktivitas yang bermanfaat untuk kesehatan lansia sebainya

memenuhi kriteria FITT (frequency, intensity, time, type). Frekuensi

adalah seberapa jenis aktivitas dilakukan, beberapa hari dalam astu

minggu. Intensitas adalah seberapa keras sutu aktivitas dilakukan.

Biasnya diklasifikasikan menjadi intensitas rendah, sedang, dan tinggi.

Waktu mengacu pada durasi seberapa lama suatu aktivitas dalam suatu

29
pertemuan, sedangkan jenis aktivitas adalah jenis-jenis aktivitas yang

dilakukan.

Jenis-jenis aktivitas yang dilakukan menurut Kathy (2002), meliputi:

a. Latihan Aerobic

Lansia derekomendasikan melakukan aktivitas fisik setidaknya

selama 30 menit pada intensitas sedang hampir setiap hari dalam

seminggu. Berpartisipasi dalam aktivitas seprti berjalan, berkebun,

melakukan pekerjaan rumah, dan naik turun tangga dapat mencapai

tujuan yang diinginkan. Lansia dengan usia lebih dari 65 tahun

disarankan melakukan olahraga yang tidak erlalu membebani tulang

seperti berjalan, latihan dalam air, bersepeda, statis, dan dilakukan

dengan cara menyenangkan. Bagi lansia yang tidak terlatih harus

mulai dengan intensitas rendah dan peningkatan dilakukan secara

individual berdasarkan toleransi terhadap latiha fisik. Olahraga yang

bersifat aerobic adalah olahraga yang membuat jantung dan paru

bekerja keras untuk memenuhi meningkatnta kebutuhan oksigen,

misalnya berjalan, berenang, bersepeda, dan lain-lain.

b. Latihan Penguatan Otot

Bagi lansia disarankan untuk menambah penguatan latihan

penguatan otot disamping latiha aerobic. Kebugaran otot

memungkinkan melakukan kegatan sehari-hari secra mandiri.

Latihan fisik untuk penguatan otot adalah aktivitas yang memperkuat

dan menyokong otot dan jaringan ikat. Latiha dirancang supaya otot

30
mampu membentuk kekuatan unutk menggerakkan atau menahan

beban, misalya aktivitas yang melawan gravitasi seperti gerakan

berdiri dari kursi, ditahan beberpa detik, berulang-ulang untuk

melakukan aktivitas dengan tahanan tertentu misalnya latihan dengan

tali elastik. Latihan penguatan otot dilakukan setidaknya 2 hari dalam

seminggu dengan istrahat dintara sesi untuk masing-masing

kelompok otot. Intensitas untuk membentuk kekuatan otot

menggunakan tahanan atau beban dengan 10-12 repetisi untuk

masing-masing latihan. Intensitas latihan meningkat seirng dengan

meningkatnya kemampuan individu. Jumlah repetisi harus

ditingkatkan sebelum beban ditambah. Waktu yang dibutuhkan

adalah satu set latiah dengan 10-15 repetisi.

c. Latihan Fleksibilitas Dan Keseimbangan

Kisaran sendi (ROM) yang menandia pada semua bagian tubuh

yang sangat penting untuk mempertahankan fungsi musculoskeletal,

keseimbangan dan dan kelincahan pada lansia. Latihan fleksiblitas

dirancang dengan melibatkan setiap sendi-sendi utama (panggul,

punggung, bahu, lutut, dan leher). Latiha fleksibilitas adalah aktivitas

untuk membantu mempertahankan kisaran gerak sendi (ROM), yang

diperlukan untuk melakukan aktivitas fisik dan tugas sehari-hari

secara teratur. Latihan fleksibilitas disarankan dilakukan pada hari-

hari dilakukannya latihan aerobic dan penguatan otot atau 2-3 hari

per minggu.

31
5. Kemandirian Lansia

1. Definisi

Kemandirian didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk

mememnuhi kebutuhan hidup dengan tidak tergantung pada orang

lain. Selain itu kemandirian diartikan sebagai suatu keadaan dimana

seseorang berupaya untuk mememnuhi segala segala tuntunan hidup

dengan penuh tanggung jawab terhadapa apa yang dilakukan.

Mandiri adalah kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung pada

orang lain, tidak berpengaruh pada orang lain dan bebas mengatur diri

sendiri aktivitas seseorang, baik individu, mauoun erbagai kelompok

dari berbagai kesehatan atau penyakit (Cici, 2012). Semi mandiri

adalah tingkat kempuan seseorang untuk melakukan kegiatan pada

batas tertentu (pada kondisi tertentu seorang membutukan bantuan

orang lain) sedangkan ketergantungan merupaka ketidakmampuan

seseorang untuk melakukan jenis aktivitas secara individu, pasien

sangat tergantung pada orang lain.

Kemandirian berarti tanpa pengawasan, pengawasan atau

bantuan pribadi aktif (Kushariyadi, 2012)

Mandiri dapat dilihat dari berbagai macam sudut antara lain:

a. Mandiri dalam arti ekonomik, merupakan kemandirian dari segi

ekonomi, dimana lansia memiliki ketergantungan keuangan pada

orang lain, sekaligus memiliki pendapatan yang dapat menjamin

hidupnya.

32
b. Mandiri ditinjau dari kemampuan melakukan kegiatan sehari-hari

meliputi: lansia mandiri sepenuhnya, mandiri dengan bantuan

langsung keluarganya, dengan bantuan tidak langsung, lansia

dengan bantuan badan sosial, lansia di panti wredha, lansia yang

di rawat di rimah sakit, dan lansia dengan gangguan mental

(Depkes RI, II).

c. Mandiri berdasarkan aspek kepribadian, yaitu kemampuan

mengatasi masalah, penuh ketekunan, memperoleh kepuasan dari

usaha serta keinginan mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang

lain. Individu mandiri adalah individu yang memiliki keteguhan

hati hati tentang dirinya dan siapa yang bertanggung jawab atas

perilakuya sendiri. Dalam hal ini, keingian lansia untuk bebas

mandiri untuk tetap bertempat tinggal di rumah sendiri daripada

mengikuti anaknya dapat menjadi suatu gambaran dari makna

mandiri yang disebut oleh Lindgren.,

2. Kriteria Lansia Yang Mandiri

Kemandirian lansia dapat dilihat dari kualitas kesehatan mental.

Ditinjau dari kualitas kesehatan mental, dapat dikemukakan hasil

kelompok ahli dari (WHO 2000) yang dikutip oleh (Nugroho, 2008)

menyatakan mental yang sehat mempunyai ciri-ciri Antara lain:

a. Dapat menyesuaikan diri dengan secara konstruktif dengan

kenyataan atau realitas, walaupin realitas tadi buruk.

b. Memperoleh kepuasan dari perjuangan.

33
c. Merasa lebih puas untuk memberi dari pada menerima.

d. Secara relatif bebas dari tasa tegang dan cemas.

e. Berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan

saling memuaskan.

f. Menerima kekecewaan untuk dipakai debagai pelajaran untuk hari

depan.

g. Menjuruskan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan

kontruktif.

h. Mempunyai daya kasih sayang yang besar.

34
D. KERANGKA TEORI

Lansia

Proses menua

Perubahan yang
terjadi pada
lansia

Perubahan atau
kemunduran biologi
a.Faktor internal
1. Dukungan keluarga
Perubahan atau
2. Kemandirian lansia
kemunduran kognitif

b. Faktor eksternal
1. Interaksi sosial
Perubahan mental
2. Aktivitas fisik
3. Pola makan

Perubahan
psikologis

Bagan 2.1
Kerangka teori
Sumber: Nugroho( 2008 ); Friedman,(2010); S. Tamher-Noorkasiani,
(2012); Kushariyadi, (2012)

35
36