Anda di halaman 1dari 5

SKABIES

No.Dokumen : VII/092/01/2018
No. Revisi : 00
SOP
Tanggal Terbit : 12 Januari 2018
Halaman : 1/4

UPT Puskesmas Fahrudin, SKM, M.Kes


Mranti NIP.19640727 198703 1 017

1. Pengertian Skabies adalah penyakit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi kulit oleh
tungau Sarcoptes scabiei dan produknya.
2. Tujuan Sebagai pedoman petugas untuk melakukan penatalaksanaan scabies.

3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Mranti Nomor


tentang Pemberian layanan Klinis
4. Referensi 1. Djuanda, A. Hamzah, M. Aisah, S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, 5th Ed. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2007.
2. James, W.D. Berger, T.G. Elston, D.M. Andrew’s Diseases of the Skin:
Clinical Dermatology. 10th Ed. Saunders Elsevier. Canada. 2000.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Pedoman Pelayanan
Medik. 2011.
5. Langkah-langkah 1. Petugas melakukan anamnesis terhadap pasien
- Pruritus nokturna, yaitu gatal yang hebat terutama pada malam hari
atau saat penderita berkeringat.
- Lesi timbul di stratum korneum yang tipis, seperti di sela jari,
pergelangan tangan dan kaki, aksila, umbilikus, areola mammae dan
di bawah payudara (pada wanita) serta genital eksterna (pria).
Faktor Risiko:
- Masyarakat yang hidup dalam kelompok yang padat seperti tinggal di
asrama atau pesantren.
- Higiene yang buruk.
- Sosial ekonomi rendah, seperti di panti asuhan, dll.

2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang


 Lesi kulit berupa terowongan (kanalikuli) berwarna putih atau abu-
abu dengan panjang rata-rata 1 cm. Ujung terowongan terdapat papul,
vesikel, dan bila terjadi infeksi sekunder, maka akan terbentuk pustul,
ekskoriasi, dsb. Pada anak-anak, lesi lebih sering berupa vesikel
disertai infeksi sekunder akibat garukan sehingga lesi menjadi
bernanah.
 Pemeriksaan mikroskopis dari kerokan kulit untuk menemukan tungau

3. Petugas melakukan penegakkan diagnosis


SKABIES
No.Dokumen : VII/092/01/2018

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 12 Januari 2018
Halaman : 2/4

No ICD X : B86 Scabies


Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Terdapat
4 tanda cardinal untuk diagnosis skabies, yaitu:
 Pruritus nokturna
 Menyerang manusia secara berkelompok
 Adanya gambaran polimorfik pada daerah predileksi lesi di stratum
korneum yang tipis (sela jari, pergelangan volar tangan dan kaki, dsb)
 Ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskopis.
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda tersebut.
Diagnosis Banding
 Pioderma

 Impetigo

 Dermatitis

 Pedikulosis korporis

4. Petugas menentukan ada tidaknya komplikasi

Infeksi kulit sekunder terutama oleh S. aureus sering terjadi, terutama pada
anak. Komplikasi skabies dapat menurunkan kualitas hidup dan prestasi
belajar.

5. Petugas menyusun rencana penatalaksanaan


 Melakukan perbaikan higiene diri dan lingkungan, dengan:
a. Tidak menggunakan peralatan pribadi secara bersama-sama
dan alas tidur diganti bila ternyata pernah digunakan oleh
penderita skabies.
b. Menghindari kontak langsung dengan penderita skabies.
 Terapi tidak dapat dilakukan secara individual melainkan harus
serentak dan menyeluruh pada seluruh kelompok orang yang ada di
sekitar penderita skabies. Terapi diberikan dengan salah satu obat
topikal (skabisid) di bawah ini:
a. Salep 2-4 dioleskan di seluruh tubuh, selama 3 hari berturut-
turut, dipakai setiap habis mandi.
b. Krim permetrin 5%di seluruh tubuh. Setelah 10 jam, krim
permetrin dibersihkan dengan sabun.
 Terapi skabies ini tidak dianjurkan pada anak < 2 tahun.
SKABIES
No.Dokumen : VII/092/01/2018

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 12 Januari 2018
Halaman : 2/4

6. Petugas memberikan konseling dan edukasi:


Dibutuhkan pemahaman bersama agar upaya eradikasi skabies bisa
melibatkan semua pihak. Bila infeksi menyebar di kalangan santri di
sebuah pesantren, diperlukan keterbukaan dan kerjasama dari pengelola
pesantren.

7. Petugas menetapkan kriteria rujukan


Pasien skabies dirujuk apabila keluhan masih dirasakan setelah 1 bulan pasca
terapi.

8. Petugas menentukan prognosis


Prognosis umumnya bonam, namun tatalaksana harus dilakukan juga
terhadap lingkungannya.
2. Bagan Alir (jika
Anamnesa
dibutuhkan)

Hasil Pemeriksaan Fisik dan


penunjang sederhana

Penegakan Diagnostik

Komplikasi

Penatalaksanaan Komprehensif

Konseling & Edukasi

Kriteria rujukan

Prognosis

3. Hal-hal yang Petugas melakukan edukasi dan konseling tentang penyakit


Diperhatikan
SKABIES
No.Dokumen : VII/092/01/2018

SOP
No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 12 Januari 2018
Halaman : 2/4

4. Dokumen terkait Rekam medis

5. Unit terkait Poli Umum

6. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tanggal mulai


diberlakukan
Historis
Perubahan
1/1