Anda di halaman 1dari 4

KASUS GIZI KURANG PADA BALITA

Menurut WHO, sebanyak 54% penyebab kematian bayi dan balita disebabkan karena keadaan gizi
kurang pada anak dan balita. Berdasarkan hasil data Riskesdas kemenkes gizi kurang pada balita
mengalami peurunan. Pada tahun 2013 gizi kurang mencapai 19.6% dan pada tahun 2018 gizi kurang
mencapai 17.7%, angka ini masih tinggi 0.7% dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2019. Target RPJMN tahun 2019 17%. Akibat dari turunnya prevalensi gizi kurang
berbanding lurus dengan turunnya prevalensi stunting dari 37.2% turun menjadi 30.8%, dan prevalensi
kurus dari 12.1% turun menjadi 10.2%. Di tahun 2016 ,berdasarkan hasil Pemantauan status Gizi di
kabupaten/kota se-sulawesi selatan prevalensi balita Gizi kurang sebesar 20.2%. meskipun capaian kerja
ini belum mencapai target yang ditetapkan (18.1%) dan angka ini juga meningkat dari 2015 yaitu sebesar
17.1% sehingga masih perlu ditingkatkan upaya-upaya yang lebih optimal dalam meningkatkan status
gizi masyarakat khususnya pada kelompok balita. Program yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi
gizi kurang diantaranya: Pemberian Makanan Tambahan (PMT), pemberian kapsul vitamin A, pelayanan
posyandu setiap bulan, konseling keluarga Sadar Gizi, Namun belum mencapai target yang diharapkan
Pemerintah. Beberapa penyebab gizi kurang yaitu : keterbatasan penghasilan keluarga (factor ekonomi),
pengetahuan kesehatan tentang gizi makanan kurang, jarak kelahiran yang tidak terlaksana, tradisi
pantangan yang merugikan, kesukaan yang berlebihan akan makanan tertentu.

Analisa data
Data objektif :
 Menurut WHO sebanyak 54 % penyebab kematian bayi dan balita disebabkan karena gizi kurang.
 Hasil data Riskesdas tahun 2013 gizi kurang mencapai 19.6% dan tahun 2018 mencapai 17.7%
 Terjad penurunan prevenlensi tetapi belum memenuhi targer RPJMN yaitu 17%
 Prevalensi balita gizi kurang se-sulawesi selatan tahun 2015 sebesar 17.1% dan tahun 2016 sebesar
20.2%, angka ini belum mencapat target yang ditetapkan yaitu sebesar 18.1%
 Penyebab Gizi buruk yaitu : : keterbatasan penghasilan keluarga (factor ekonomi), pengetahuan
kesehatan tentang gizi makanan kurang, jarak kelahiran yang tidak terlaksana, tradisi pantangan
yang merugikan, kesukaan yang berlebihan akan makanan tertentu.
 Program yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi gizi kurang diantaranya: Pemberian Makanan
Tambahan (PMT), pemberian kapsul vitamin A, pelayanan posyandu setiap bulan, konseling keluarga
Sadar Gizi, Namun belum mencapai target yang diharapkan Pemerintah.
NO ANALISA DATA DIAGNOSA NOC NIC
1 Data objektif : Domain Domain 1 : promosi Domain VII : Kesehatan komunitas Pendidikan kesehatan (5510)
 Menurut WHO sebanyak 54 % kesehatan Kelas : BB-Status kesejahteraan 1. Menargetkan sasaran pada
penyebab kematian bayi dan balita Kelas 2 : Manajemen Kesehatan komunitas kelompok berisiko tinggi dan
disebabkan karena gizi kurang. rentang usia yang akan
 Hasil data Riskesdas tahun 2013 gizi Defesiensi kesehatan komunitas (2701) Peningkatan Status mendapat manfaat besar dari
kurang mencapai 19.6% dan tahun 00215 kesehatan Komunitas dipertahan pendidikan kesehatan
2018 mencapai 17.7% pada (1) buruk ditingkatkan ke (4) 2. Mempertimbangkan riwayat
 Terjadi penurunan prevenlensi tetapi sangat baik : kesehatan dalam konteks
belum memenuhi targer RPJMN yaitu Hasil : riwayat sosial budaya
17% 1. Peningkatan status kesehatan individu,keluarga,dan
 Prevalensi balita gizi kurang se- bayi dan anak masyarakat
sulawesi selatan tahun 2015 sebesar 2. Peningkatan partisipasi dalam 3. Menentukan pengetahuan
17.1% dan tahun 2016 sebesar 20.2%, pelayanan perawatan kesehatan kesehatan dan gaya perilaku
angka ini belum mencapat target yang preventif sehat asaat ini pada
ditetapkan yaitu sebesar 18.1% 3. Peningkatan tingkat partisipasi kelompok,keluarga, atau
 Penyebab Gizi buruk yaitu : dalam program kesehatan kelompok sasaran
keterbatasan penghasilan keluarga komunitas 4. Membantu
(factor ekonomi), pengetahuan 4. Peningkatan angka prevalensi individu,keluarga,dan
kesehatan tentang gizi makanan kesehatan meningkat masyarakat untuk memperjelas
kurang, jarak kelahiran yang tidak 5. Penurunan angka kematian bayi keyakinan dan nilai nilai
terlaksana, tradisi pantangan yang dan anak kesehatan
merugikan, kesukaan yang berlebihan
akan makanan tertentu. 5. Menghindari penggunaan tehnik
 Program yang dilakukan pemerintah dengan menakut nakuti sebagai
untuk mengatasi gizi kurang strategi untuk mencapai tujuan
diantaranya: Pemberian Makanan 6. Memberikan diskusi kelompok
Tambahan (PMT), pemberian kapsul dan bermain peran untuk
vitamin A, pelayanan posyandu setiap mempengaruhi keyakinan
bulan, konseling keluarga Sadar Gizi, terhadap kesehatan,sikaop dan
Namun belum mencapai target yang nilai nilai
diharapkan Pemerintah.

2 Data objektif : Domain 2 : Nutrisi Domain 2 : Kesehatan Fisiologi Manajemem Nutrisi ( 1100)
 Menurut WHO sebanyak 54 % Kelas 1 : makan Kelas : K-Pencernaan dan Nutrisi 1. Menentukan status gizi balita
penyebab kematian bayi dan balita Ketidakseimbangan Nutrisi kurang (1004) Status Nutris dipertahankan dan kemampuan untuk
disebabkan karena gizi kurang. dari kebutuhan tubuh (00002) pada (1) Sangat menyimpang dari memenuhi kebutuhan gizi
 Hasil data Riskesdas tahun 2013 gizi rentang normal ditingkatkan ke (5) 2. Mengidentifikasi adanya alergi
kurang mencapai 19.6% dan tahun tidak menyimpang dari rentang atau intoleransi makanan.
2018 mencapai 17.7% normal. 3. Menciptakan lingkungan yang
 Terjadi penurunan prevenlensi tetapi Hasil : optimal pada saat balita
belum memenuhi targer RPJMN yaitu 1. Asupan gizi dalam rentang mengkonsumsi makanan
17% normal 4. Menentukan jumlah kalori dan
 Prevalensi balita gizi kurang se- 2. Asupan makanan dalam jenis nutrisi yang dibutuhkan
sulawesi selatan tahun 2015 sebesar rentang normal untuk memenuhi kesehatan gizi
17.1% dan tahun 2016 sebesar 20.2%, 3. Rasio berat badan/tinggi balita
angka ini belum mencapat target yang badan dalam rentang 5. Menawarkan makanan ringan
ditetapkan yaitu sebesar 18.1% normal yang padat gizi pada balita
 Penyebab Gizi buruk yaitu : 6. Memonitor kecenderungan
keterbatasan penghasilan keluarga terjadiya penurunan dan
(factor ekonomi), pengetahuan kenaikan berat barat
kesehatan tentang gizi makanan 7. Mendorong untuk melakukan
kurang, jarak kelahiran yang tidak bagaimana cara menyiapkan
terlaksana, tradisi pantangan yang makanan yang sehat pada balita
merugikan, kesukaan yang berlebihan
akan makanan tertentu.
 Program yang dilakukan pemerintah
untuk mengatasi gizi kurang
diantaranya: Pemberian Makanan
Tambahan (PMT), pemberian kapsul
vitamin A, pelayanan posyandu setiap
bulan, konseling keluarga Sadar Gizi,
Namun belum mencapai target yang
diharapkan Pemerintah.