Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Faktor-faktor yang harus diperhatikan serta dipertimbangan oleh konselor
selaku pelaksana utama dalam proses pengembangan layanan bimbingan dan
konseling adalah landasan yang digunakan pada pelaksanaan bimbingan dan
konseling bagi guru mata pelajaran. Landasan bisa diibaratkan sebagai tiang pada
sebuah bangunan. Jika tiang bangunan tersebut kuat maka bangunan itu akan
berdiri dengan kokoh dan bertahan lama, tetapi jika tiang tersebut kurang tidak
kuat maka bangunan tersebut akan mudah roboh.
Begitu pula dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila memiliki
landasan yang tidak kuat maka layanan bimbingan tersebut akan hancur dan tidak
berjalan dengan baik.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa saja landasan yang digunakan dalam bimbingan dan konseling?
2. Bagaimanakah implikasi landasan-landasan tersebut dalam bimbingan dan
konseling
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah supaya pembaca dapat mengetahui apa
landasan yang dapat digunakan oleh bseorang konseler terhadap kliennya dan juga
kita dapat mengetahui apa impplikasinya terhadap kehidupan kita.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Landasan Filosofis


Filosofis berasal dari bahasa yunani terdiri 2 kata, philos berarti cinta
dan shopos berarti kebijaksanaan. Jadi, filosofis berarti cinta dalam kebijaksanaan.
Menurut kamus webster new universal filsafat adalah ilmu yang mempelajari
kekuatan yang didasari proses berfikir dan bertingkah laku, teori tentang prinsip atau
hukum dasar yang mengatur alam semesta yang mendasari semua pengetahuan dan
kenyataan, termasuk studi tentang estetika, etika, logika, metafisika, dan lain
sebagainya. Dapat disimpulkan filsafat adalah pikiran yang luas dan lengkap tentang
sesuatu.
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan memiliki
fungsi sebagai berikut:
a. Manusia diharapkan dapat mengambil keputusan dari diri sendiri
b. Dalam berinteraksi seorang konselor harus mampu memahami kliennya baik
dalam dimensi fisik, psikologi dan spiritual

Telah banyak yang mencoba mendefenisikan hakikat manusia terutama para


penulis barat, antara lain dalam Patterson, 1966, Alblaster dan Lukes, 1971;
Thompson dan Rudolph, 1983. Mengemukakan bahwa :
a. Manusia merupakan makhluk yang mampu berpikir dan menggunakan ilmu
yang dimilikinya dalam peningkatan perkembangan diri. Dapat disimpulkan
bahwa manusia merupakan makhluk yang rasional.
b. Manusia adalah makhluk yang mampu mengatasi masalah-masalah yang
dihadapinya.
c. Melalui pendidikan, manusia akan berusaha terus-menerus dalam
mengembangkan dirinya sendiri.
d. Setiap manusia memiliki potensi baik dan buruk semenjak manusia itu
dilahirkan.
e. Manusia memiliki kebebasan menyangkut pilihan-pilihan dalam
kehidupannya masing-masing.

2
2.2 Landasan Religious

Ada 3 hal pokok yang dijadikan sebagai penerapan layanan bimbingan dan
konseling, yaitu:

a. Yakin dan percaya bahwa Manusia dan seluruh yang ada di alam adalah
ciptaan tuhan.
b. Memiliki sikap yang mampu memberi dorongan perkembangan dan
perikehidupan manusia sehingga berjalan kearah yang sesuai dengan
kaidah-kaidah agama.
c. Adanya upaya yang memungkinkan berkembang dan mampu
dimanfaatkan secara optimal yang sesuai serta meneguhkan kehidupan
beragama setiap individu.

Landasan religius berkenaan dengan:

1. Manusia Sebagai Makhluk Tuhan

Ketinggian derajat serta peranan manusia sebagai khalifah di muka bumi


merupakan suatu keyakinan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan tuhan. Wujud
ketakwaan manusia pada tuhannya harus seimbang, baik hubungan antara manusia
dengan tuhan maupun hubungan antar sesama manusia. Manusia memerlukan
pedoman dan aturan dasar untuk menyalurkan kemampuan nya sehingga sesuai
dengan kemanusiaan. Dengan pedoman dan aturan dasar itu manusia dapat
memperoleh jaminan dan dorongan sehingga kehidupannya terlaksana dengan baik.

2. Sikap Keberagamaan

Di Negara barat, urusan agama dianggap sebagai urusan perseorangan yang


berarti bahwa Negara tidak bertanggung jawab dan tidak mengatur perkembangan
ataupun kehidupan beragama masyarakatnya. Berbeda dengan yang ada di Indonesia,

3
kehidupan beragama sangat berbeda. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama
memiliki tanggung jawab serta memperhatikan perkembangan dan keberadaan
kehidupan dalam beragama. Untuk itulah, di Indonesia sangat memerlukan sikap
keberagaman dan saling menghargai antar sesama manusia sebagai masyarakat
Indonesia. Sikap keberagaman tersebut akan menjadi tumpuan sehingga memperoleh
keseimbangan hidup dunia dan akhirat. Perkembangan ilmu dan teknologi diharapkan
mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga kesejahteraan dan kemuliaan
manusia sesuai dengan tuntunan agama.

3. Peranan Agama
Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak
dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak
mengambil keputusan sendiri sehingga agama dapat berperan positif dalam konseling
yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup ia memiliki fungsi :
a. Memelihara fitrah
b. Memelihara jiwa
c. Memelihara akal
d. Memelihara keturunan

2.3 Landasan Psikologis

Landasan psikologis dalam bimbingan dan konseling berarti memberikan


pemahaman mengenai tingkah laku setiap individu. Dalam bidang psikologi pada
bimbingan dan konseling diperlukan kajian sebagai berikut :

1. Motif dan motivasi

Motif merupakan dorongan yang mampu menggerakkan seseorang dalam


bertingkah laku. Sehingga setiap tingkah laku memiliki dasar pada motif tertentu
tanpa bersifat sembarangan, tetapi mengandung isi yang sesuai dengan motif yang
mendasarinya. Umumnya, para ahli menggolongkan motif dalam 2 penggolongan,

4
yaitu motif primer dan motif sekunder. Motif primer merupakan motif yang dibawa
sejak lahir, yaitu sejak awal keberadaan individu tersebut, sedangkan motif sekunder
adalah motif yang berkembang berkat adanya usaha belajar.

2. Pembawaan dasar dan lingkungan

Pembawaan dasar merupakan berbagai hal yang dibawa sejak lahir seperti warna
kulit, bentuk dan warna rambut, golongan darah, kecenderungan pertumbuhan fisik,
minat dan bakat, serta kecenderungan ciri-ciri kepribadian tertentu. Demikian pula
dengan lingkungan, ada lingkungan yang baik, ada yang sedang-sedang saja, dan ada
pula lingkungan berkekurangan. Pembawaan dan lingkungan masing-masing individu
tidaklah sama. Keadaan yang kurang menguntungkan apabila salah satu dari dua
faktor pembawaan dan lingkungan kurang baik.

3. Perkembangan individu
Konselor harus mampu memahami secara terpadu kondisi berbagai aspek
perkembangan individu pada saat pelayanan bimbingan dan konseling
yang diberikan agar dapat melihat arah perkembangan individu di masa
depan.
4. Belajar
Belajar merupakan upaya yang dilakukan agar mampu menguasai sesuatu
yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu.
5. Kepribadian

Abin syamsudin (2003) mengatakan bahwa dalam kepribadian setiap


orang terdapat beberapa aspek kepribadian, yaitu:

a. Karakter,
b. Temperamen,
c. Sikap,
d. Stabilitas emosi,
e. Responsbilitas,

5
f. Sosiabilitas,

2.4 Landasan Sosial Kultural (Budaya)

Landasan sosial kultural (budaya) adalah landasan yang mampu memberikan


pemahaman tentang dimensi sosial dan budaya yang merupakan faktor yang
berpengaruh terhadap individu. Sosial-budaya dari setiap individu berbeda-beda
sehingga dapat menimbulkan perbedaan terhadap perilaku dan kepribadian dari
individu yang bersangkutan. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi antara
konselor dan klien yang mempunyai sosial-budaya yang berbeda. Jika terdapat
kekurangan dalam pemahaman bahasa yang digunakan maka dapat menimbulkan
kesalah pahaman. Dengan demikian, perlu adanya antisipasi terhadap komunikasi
yang digunakan antara konselor dan klien agar terjalin keharmonisan. Selain itu, perlu
pula diterapkan landasan semangat Bhinneka Tunggal Ika sehingga layanan
bimbingan konseling memiliki nilai-nilai yang mampu mewujudkan kehidupan
harmonis dengan kesamaan diatas keragaman.

2.5 Landasan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (IPTEK)

Bimbingan konseling disusun dengan menggunakan metode pengamatan,


wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, inventori atau analisis laboratoris yang
terdapat pada bentuk laporan penelitian serta tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Layanan
bimbingan konseling menekankan logika, pemikiran, pertimbangan, dan pengolahan
lingkungan secara ilmiah. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi,
khususnya teknologi informasi berbasis komputer, sejak tahun 1980-an peranan
komputer dikembangkan dalam bimbingan konseling dalam bentuk “ cyber
counselling “. Yang merupakan komputer interaksi antara konselor dengan klien
dilakukan secara visual melalui internet. Penggunaan teknologi modern bagi guru BK
maupun guru mata pelajaran sangat disarankan agar dapat dikuasai dengan baik
sebagai media layanan bimbingan dan konseling.

6
2.6 Landasan Pedagogis

Landasan pedagogis berarti bimbingan dan konseling yang identik dengan


pendidikan. Artinya, ketika seseorang melakukan bimbingan dan konseling berarti ia
sedang mendidik dan begitu pula sebaliknya. Prayitno (2003) mengatakan bahwa
pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling diperlukan landasan pedagogis yang
ditinjau dari 3 segi, yaitu :

1. Pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan sebagai


salah satu bentuk kegitan pendidikan
2. Pendidikan sebagai proses bimbingan konseling
3. Pendidikan sebagai tujuan layanan bimbingan konseling

Pengembangan individu pada pendidikan formal, non formal, dan informal akan
berkembang optimal jika seluruh rangkaian kegiatan pendidikan yaitu
penyelenggaraan pendidikan, pengajaran dan bimbingan berjalan dengan optimal.

2.7 Landasan Yuridis Formal

Landasan yuridis formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan


perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan
konseling, yang bersumber dari undang-undang dasar, undang-undang, peraturan
pemerintah, keputusan menteri serta berbagai aturan pedoman lainnya. Dengan
demikian, pentinglah pelaksanaan bimbingan konseling di dunia pendidikan baik
pendidikan formal, non formal dan informal sesuai dengan berbagai landasan hukum
tertulis pelaksanaan bimbingan dan konseling.

7
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Bimbingan dan konseling harus dibangun dengan landasan yang kokoh. Landasan
bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan agar terciptanya layanan
yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Ada beberapa landasan bimbingan
konseling, yaitu landasan filosofis, landasan religious, landasan psikologis, landasan
sosial budaya, landasan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta landasan pedagogis.

Landasan filosofis berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia, landasan


psikologis berhubungan dengan memahami perilaku individu yang menjadi sasaran
layanan bimbingan dan konseling, landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek
sosial budaya yang berpengaruh terhadap perilaku individu yang harus
dipertimbangkan keragamannya, dan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi
berkaitan dengan layanan bimbingan konseling sebagai kegiatan ilmiah yang
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, dalam konteks
Indonesia perlu memperhatikan pula landasan pedagogis, landasan religious dan
landasan yuridis-formal.

3.2 Saran

Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada
banyak sumber yang dapat dipertanggung jawabkan. Maka dari itu penulis
mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di
atas.

8
DAFTAR PUSTAKA

Makmum, abin syamsuddin. (2003). Karakteristik perilaku dan kepribadian pada


masa remaja. http://wordpress.com. Diakses pada tanggal 05 September
2019.

Prayitno. (2003). Layanan bimbingan dan konseling kelompok (dasar dan profil).
Ghalia Indonesia: Padang.

Prayitno dan Erman Amti.2015. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Cet.3


Jakarta: Rineka Cipta.

Sutirna. 2013. Bimbingan dan konseling: pendidikan formal, non-formal dan


informal. Andi offset: Yogyakarta.