Anda di halaman 1dari 13

Nama : Ayu Andira

NIM : A 351 17 078

Kelas : B

1.Jelaskan system mitgasi bencana dan tanggap darurat di idonesia?

Jawab :

Kebijakan dan Strategi Mitigasi Bencan

1.Kebijakan

Berbagai kebijakan yang perlu ditempuh dalam mitigasi bencana antara lain:

1) Dalam setiap upaya mitigasi bencana perlu membangun persepsi yang sama bagi
semua pihak baik jajaran aparat pemerintah maupun segenap unsur masyarakat yang
ketentuan langkahnya diatur dalam pedoman umum, petunjuk pelaksanaan dan
prosedur tetap yang dikeluarkan oleh instansi yang bersangkutan sesuai dengan
bidang tugas unit masing-masing.

2) Pelaksanaan mitigasi bencana dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinir yang


melibatkan seluruh potensi pemerintah dan masyarakat.

3) Upaya preventif harus diutamakan agar kerusakan dan korban jiwa dapat
diminimalkan.

4) Penggalangan kekuatan melalui kerjasama dengan semua pihak, melalui


pemberdayaan masyarakat serta kampanye.

2. Strategi

Untuk melaksanakan kebijakan dikembangkan beberapa strategi sebagai berikut:

1) Pemetaan.
Langkah pertama dalam strategi mitigasi ialah melakukan pemetaan daerah rawan
bencana. Pada saat ini berbagai sektor telah mengembangkan peta rawan bencana.
Peta rawan bencana tersebut sangat berguna bagi pengambil keputusan terutama
dalam antisipasi kejadian bencana alam. Meskipun demikian sampai saat ini
penggunaan peta ini belum dioptimalkan. Hal ini disebabkan karena beberapa hal,
diantaranya adalah:

a. Belum seluruh wilayah di Indonesia telah dipetakan

b. Peta yang dihasilkan belum tersosialisasi dengan baik

c.Peta bencana belum terintegrasi

d.Peta bencana yang dibuat memakai peta dasar yang berbeda beda sehingga
menyulitkan dalam proses integrasinya.

2) Pemantauan.

Dengan mengetahui tingkat kerawanan secara dini, maka dapat dilakukan antisipasi
jika sewaktu-waktu terjadi bencana, sehingga akan dengan mudah melakukan
penyelamatan. Pemantauan di daerah vital dan strategis secara jasa dan ekonomi
dilakukan di beberapa kawasan rawan bencana.

3) Penyebaran informasi

Penyebaran informasi dilakukan antara lain dengan cara: memberikan poster dan
leaflet kepada Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi seluruh Indonesia yang
rawan bencana, tentang tata cara mengenali, mencegah dan penanganan bencana.
Memberikan informasi ke media cetak dan elektronik tentang kebencanaan adalah
salah satu cara penyebaran informasi dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan
terhadap bencana geologi di suatu kawasan tertentu. Koordinasi pemerintah daerah
dalam hal penyebaran informasi diperlukan mengingat Indonesia sangat luas.

4) Sosialisasi dan Penyuluhan


Sosialisasi dan penyuluhan tentang segala aspek kebencanaan kepada SATKOR-LAK
PB, SATLAK PB, dan masyarakat bertujuan meningkatkan kewaspadaan dan
kesiapan menghadapi bencana jika sewaktu-waktu terjadi. Hal penting yang perlu
diketahui masyarakat dan Pemerintah Daerah ialah mengenai hidup harmonis dengan
alam di daerah bencana, apa yang perlu ditakukan dan dihindarkan di daerah rawan
bencana, dan mengetahui cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana.

5) Pelatihan/Pendidikan

Pelatihan difokuskan kepada tata cara pengungsian dan penyelamatan jika terjadi
bencana. Tujuan latihan lebih ditekankan pada alur informasi dari petugas lapangan,
pejabat teknis, SATKORLAK PB, SATLAK PB dan masyarakat sampai ke tingkat
pengungsian dan penyelamatan korban bencana. Dengan pelatihan ini terbentuk
kesiagaan tinggi menghadapi bencana akan terbentuk.

6) Peringatan Dini

Peringatan dini dimaksudkan untuk memberitahukan tingkat kegiatan hasil


pengamatan secara kontinyu di suatu daerah rawan dengan tujuan agar persiapan
secara dini dapat dilakukan guna mengantisipasi jika sewaktu—waktu terjadi
bencana. Peringatan dini tersebut disosialisasikan kepada masyarakat melalui
pemerintah daerah dengan tujuan memberikan kesadaran masyarakat dalam
menghindarkan diri dari bencana. Peringatan dini dan hasil pemantauan daerah rawan
bencana berupa saran teknis dapat berupa antana lain pengalihan jalur jalan
(sementara atau seterusnya), pengungsian dan atau relokasi, dan saran penanganan
lainnya.

Manajemen Mitigasi Bencana

a) Penguatan institusi penanganan bencana.

b) Meningatkan kemampuan tanggap darurat.


c) Meningkatkan kepedulian dan kesiapan masyarakat pada masalah-masalah yang
berhubungan dengan risiko bencana.

d) Meningkatkan keamanan terhadap bencana pada sistem infrastruktur dan utilitas.

e) Meningkatkan keamanan tehadap bencana pada bangunan strategis dan penting.

f) Meningkatkan keamanan terhadap bencana daerah perumahan dan fasilitas umum.

g) Meningkatkan keamanan terhadap bencana pada bangunan industri.

h) Meningkatkan keamanan terhadap bencana pada bangunan sekolah dan anak-anak


sekolah.

i) Memperhatikan keamanan terhadap bencana dan kaidah-kaidah bangunan tahan


gempa dan tsunami serta banjir dalam proses pembuatan konstruksi baru.

j) Meningkatkan pengetahuan para ahli mengenai fenomena bencana, kerentanan


terhadap bencana dan teknik-teknik mitigasi.

k) Memasukkan prosedur kajian risiko bencana kedalam perencanaan tata ruang/ tata
guna lahan.

l) Meningkatkan kemampuan pemulihan masyarakat dalam jangka panjang setelah


terjadi bencana.

Kegiatan mitigasi

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan


mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor
alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis. Bencana dapat berupa kebakaran, tsunami, gempa bumi, letusan
gunung api, banjir, longsor, badai tropis, dan lainnya. Oleh karena itu peran mitigasi
bencana sangat diperlukan agar dapat mengurangi dampak dari bencana yang terjadi.
Adapun beberapa Kegiatan mitigasi bencana di antaranya:
1. pengenalan dan pemantauan risiko bencana;

2. perencanaan partisipatif penanggulangan bencana;

3. pengembangan budaya sadar bencana;

4. penerapan upaya fisik, nonfisik, dan pengaturan penanggulangan bencana;

5. identifikasi dan pengenalan terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana;

6. pemantauan terhadap pengelolaan sumber daya alam;

7. pemantauan terhadap penggunaan teknologi tinggi;

8. pengawasan terhadap pelaksanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup

9. kegiatan mitigasi bencana lainnya. Robot sebagai perangkat bantu manusia, dapat
dikembangkan untuk turut melakukan mitigasi bencana. Robot mitigasi bencana
bekerja untuk mengurangi risiko terjadinya bencana.

Contoh robot mitigasi bencana diantaranya:

a. robot pencegah kebakaran b. robot pendeteksi tsunami c. robot patroli/pemantau


rumah atau gedung d. robot pemantau gunung api e. robot penghijauan e. robot
pembersih sungai f. robot assistant untuk penyuluhan bencana g. robot mitigasi
bencana lainnya

Berdasarkan siklus waktunya, kegiatan penanganan bencana dapat dibagi 4 kategori:

1. kegiatan sebelum bencana terjadi (mitigasi) 2. kegiatan saat bencana terjadi


(perlindungan dan evakuasi) 3. kegiatan tepat setelah bencana terjadi (pencarian dan
penyelamatan) 4. kegiatan pasca bencana (pemulihan/penyembuhan dan
perbaikan/rehabilitasi) Bila dilihat dari defisini, mitigasi berarti kegiatan yang
dilakukan sebelum bencana terjadi, untuk mencegah atau mengurangi dampak risiko
bencana. Kegiatan yang bersifat preventif masuk kategori pertama (mitigasi).
Sementara kuratif (penyembuhan) masuk dalam kategori 4, kegiatan pasca bencana.
Untuk PRC2013, robot yang dikompetiskan dapat mencakup rasamitigasi yang
diperluas.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam Mitigasi Bencana

a) Bencana Banjir

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana banjir antara lain:

1) Pengawasan penggunaan lahan dan perencanaan lokasi untuk menempatkan


fasilitas vital yang rentan terhadap banjir pada daerah yang aman.

2) Penyesuaian desain bangunan di daerah banjir harus tahan terhadap banjir dan
dibuat bertingkat.

3) Pembangunan infrastruktur harus kedap air.

4) Pembangunan tembok penahan dan tanggul disepanjang sungai, tembok laut


sepanjang pantai yang rawan badai atau tsunami akan sangat membantu untuk
mengurangi bencana banjir.

5) Pembersihan sedimen.

6) Pembangunan pembuatan saluran drainase.

7) Peningkatan kewaspadaan di daerah dataran banjir.

8) Desain bangunan rumah tahan banjir (material tahan air, fondasi kuat)

9) Meningkatkan kewaspadaan terhadap penggundulan hutan.

10) Pelatihan tentang kewaspadaan banjir seperti cara penyimpanan/pergudangan


perbekalan, tempat istirahat/ tidur di tempat yang aman (daerah yang tinggi).

b) Bencana Tanah Longsor

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana tanah longsor antara lain:

1) Pembangunan permukiman dan fasilitas utama lainnya menghindari daerah rawan


bencana.
2) Menyarankan relokasi.

3) Menyarankan pembangunan pondasi tiang pancang untuk menghindari


bahaya liquefaction

4) Menyarankan pembangunan pondasi yang menyatu, untuk menghindari penurunan


yang tidak seragam (differential settlement).

5) Menyarankan pembangunan utilitas yang ada di dalam tanah harus bersifat


fleksibel.

6) Mengurangi tingkat keterjalan lereng.

c) Bencana Gunung Berapi

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana Gunung Api antara lain:

1) Perencanaan lokasi pemanfaatan lahan untuk aktivitas penting harus jauh atau di
luar dari kawasan rawan bencana.

2) Hindari tempat-tempat yang memiliki kecenderungan untuk dialiri lava dan atau
lahan

3) Perkenalkan struktur bangunan tahan api.

4) Penerapan desain bangunan yang tahan terhadap tambahan beban akibat abu
gunung api

5) Membuat barak pengungsian yang permanen, terutama di sekitar gunung api yang
sering meletus, misalnya G.Merapi (DIY, Jateng), G. Semeru (Jatim), G. Karangetang
(Sulawesi Utara) dsb.

6) Mensosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung api harus


mengetahui posisi tempat tinggalnya pada Peta kawasan Rawan Bencana Gunung api
(penyuluhan).
7) Mensosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung api
hendaknya paham cara menghindar dan tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi
letusan gunung api (penyuluhan)

8) Mensosialisasikan kepada masyarakat agar paham arti dari peringatan dini yang
diberikan oleh aparat/Pengamat Gunung api (penyuluhan).

9) Mensosialisasikan kepada masyarakat agar bersedia melakukan koordinasi dengan


aparat/Pengamat Gunung api.

d) Bencana Gempa Bumi

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana Gempa Bumi antara lain:

1) Memastikan bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa.

2) Memastikan perkuatan bangunan dengan mengikuti standard kualitas bangunan.

3) Pembangunan fasilitas umum dengan standard kualitas yang tinggi.

4) Memastikan kekuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada.

5) Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian


di daerah rawan bencana.

e) Bencana Tsunami

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencananya antara lain: 1) Peningkatan


kewaspadaan dan kesiapsiagaan tenhadap bahaya tsunami. 2) Pendidikan kepada
masyarakat tentang karakteristik dan pengenalan bahaya tsunami. 3) Pembangunan
tsunami Early Warning System. 4) Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis
pantai yang beresiko. 5) Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis
pantai meredam gaya air tsunami. 6) Pembangunan tempat-tempat evakuasi yang
aman di sekitar daerah pemukiman. Tempat/ bangunan ini harus cukup tinggi dan
mudah diakses untuk menghidari ketinggian tsunami.

f) Bencana Kebakaran
Secara lebih rinci upaya pengurangan bencananya antara lain: 1) Pembuatan dan
sosialisasi kebijakan Pencegahan dan Penanganan Kebakaran. 2) Peningkatan
penegakan hukum. 3) Pembentukan pasukan pemadaman kebakaran khususnya untuk
penanganan kebakaran secara dini. 4) Pembuatan waduk-waduk kecil, Bak
penampungan air dan Hydran untuk pemadaman api. 5) Melakukan pengawasan
pembakaran lahan untuk pembukaan lahan secara ketat. 6) Melakukan penanaman
kembali daerah yang telah terbakar dengan tanaman yang heterogen. 7)
Meningkatkan partisipasi aktif dalam pemadaman awal kebakaran di daerahnya.

g) Bencana Kekeringan

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencananya antara lain: 1) Perlu melakukan
pengelolaan air secara bijaksana, yaitu dengan mengganti penggunaan air tanah
dengan penggunaan air permukaan dengan cara pembuatan waduk, pembuatan
saluran distribusi yang efisien. 2) Konservasi tanah dan pengurangan tingkat erosi
dengan pembuatan check dam, reboisasi. 3) Pengalihan bahan bakar kayu bakar
menjadi bahan bakar minyak untuk menghindari penebangan hutan/tanaman. 4)
Pendidikan dan pelatihan. 5) Meningkatkan/memperbaiki daerah yang tandus dengan
melaksanakan pengelolaan Iahan, pengelolaan hutan, waduk peresapan dan irigasi.

h) Bencana Angin Siklon Tropis

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencananya antara lain: 1) Memastikan struktur
bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk mampu bertahan terhadap gaya angin.
2) Penerapan aturan standar bangunan yang memperhitungkan beban angin
khususnya di daerah yang rawan angin topan. 3) Penempatan lokasi pembangunan
fasilitas yang penting pada daerah yang terlindung dari serangan angin topan. 4)
Penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin

i) Bencana Wabah Penyakit

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencananya antara lain: 1) Menyiapkan


masyarakat secara luas termasuk aparat pemerintah khususnya di jajaran kesehatan
dan lintas sektor terkait untuk memahami risiko bila wabah terjadi serta bagaimana
cara-cara menghadapinya bila suatu wabah terjadi melalui kegiatan sosialisasi yang
berkesinambungan. 2) Menyiapkan produk hukum yang memadai untuk mendukung
upaya-upaya pencegahan, respon cepat serta penanganan bila wabah terjadi. 3)
Menyiapkan infrastruktur untuk upaya penanganan seperti sumberdaya manusia yang
profesional, sarana pelayanan kesehatan, sarana komunikasi, transportasi, logistik
serta pembiayaan operasional. 4) Upaya penguatan surveilans epidemiologi untuk
identifikasi faktor risiko dan menentukan strategi intervensi dan penanganan maupun
respon dini di semua jajaran.

j) Bencana Konflik

Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana akibat konflik antara lain: 1)
Mendorong peran serta seluruh lapisan masyarakat dalam rangka memelihara
stabilitas ketentraman dan ketertiban 2) Mendukung kelangsungan demokratisasi
politik dengan keberagaman aspirasi politik, serta di tanamkan moral dan etika
budaya politik berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 3) Mengembangkan supremasi
hukum dengan menegakkan hukum secara konsisten, berkeadilan dan kejujuran. 4)
Meningkatkan pemahaman dan penyadaran serta meningkatnya perlindungan
penghormatan, dan penegakkan HAM. 5) Meningkatkan kinerja aparatur negara
dalam rangka mewujudkan aparatur negara yang berfungsi melayani masyarakat,
profesional, berdayaguna, produktif, transparan, bebas dari KKN.

2. Jelaskan adaptasi kebencanaan dalam proses penaatan ruang ?

Jawab :

Dalam kurun waktu tahun 2018, Indonesia telah ditimpa beberapa bencana
alam yang cukup besar dan menyita perhatian. Diantara bencana alam yang terjadi
adalah gempa tektonik yang menyebabkan tsunami di Palu dan terakhir adalah
tsunami di Selat Sunda yang diakibatkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak
Krakatau. Salah satu hal yang dibicarakan terkait dengan dua bencana alam tersebut
adalah berkaitan dengan tata ruang. Pada gempa di Palu, kejadian likuifaksi mendapat
sorotan karena lokasi tersebut pada masa lampau juga pernah mengalami kejadian
serupa. Orang Palu bahkan memiliki kosakata sendiri atas peristiwa terjadinya lumpur
yang menghisap tersebut yaitu “nalodo”. Berbeda dengan di Palu, bencana tsunami di
Selat Sunda diakibatkan oleh longsoran Gunung Anak Krakatau. Peristiwa ini
menimbulkan kekuatiran akan berulangnya kejadian yang sama, mengingat aktivitas
dan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau masih akan terus berlangsung entah
berakhir sampai kapan. Peristiwa pertama menimbulkan pertanyaan di masyarakat,
mengapa pemerintah memberikan ijin pemanfaatan ruang atas wilayah yang rentan
bencana? Pada peristiwa yang kedua, membawa pada pemikiran baru tentang
perlunya penataan ulang ruang wilayah pesisir yang berdekatan dan diperkirakan
nantinya akan terdampak dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kesadaran akan keterkaitan antara bencana alam dan penataan ruang telah
disadari oleh pembentuk Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang (UUTR). Dalam salah satu pertimbangannya disebutkan bahwa Negara
Kesatuan Republik Indonesia berada pada kawasan rawan bencana sehingga
diperlukan penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana sebagai upaya
meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kehidupan dan penghidupan. Dalam
Penjelasan Umum diuraikan bahwa selain letaknya yang strategis, Indonesia berada
pula pada kawasan rawan bencana, yang secara alamiah dapat mengancam
keselamatan bangsa. Dengan keberadaan tersebut, penyelenggaraan penataan ruang
wilayah nasional harus dilakukan secara komprehensif, holistik,
terkoordinasi,terpadu, efektif, dan efisien dengan memperhatikan faktor politik,
ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, dan kelestarian lingkungan hidup.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 tentang penyelenggaraan penataan
ruang (PPTR), dijelaskan lebih spesifik bahwa Indonesia terletak pada kawasan
pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik yang mengakibatkan rawan bencana geologi
sehingga menuntut prioritisasi pertimbangan aspek mitigasi bencana.

Pada Pasal 6 ayat (1) huruf a UUTR ditentukan bahwa Penataan ruang
diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang rentan terhadap bencana. Peninjauan terhadap penataan
ruang inipun dapat dilakukan lebih dari satu kali dalam kurun waktu 5 (lima) tahun
berdasarkan penetapan dari RTRW Nasional, Provinsi, Kabupaten dan juga Kota.
Untuk kota, ditambahkan dengan rencana penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan
sarana jaringan pejalan kaki, angkutan umum, kegiatan sektor informal, dan ruang
evakuasi bencana, yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi wilayah kota sebagai
pusat pelayanan sosial ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah. Menurut Pasal 82
PPTR, peninjauan atas tata ruang dilakukan lebih dari satu kali dalam kurun waktu
lima tahun dilakukan apabila terjadi perubahan lingkungan strategis salah satunya
yaitu jika terjadi bencana alam skala besar. Bencana alam skala besar adalah bencana
nasional sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan yang
ditetapkan berdasarkan besaran jumlah korban jiwa, kerugian harta benda, kerusakan
prasarana dan sarana, cakupan luas wilayah yang terkena bencana, dan dampak sosial
ekonomi yang ditimbulkan. Dalam hal prosedur penyusunan tata ruang, data
mengenai peta dan daerah-daerah yang rawan bencana turut diperhitungkan sebagai
dasar penyusunan penataan ruang wilayah nasional, provinsi, kabupaten dan kota.

Kawasan rawan bencana masuk dalam kategori kawasan lindung. Yang


termasuk dalam kawasan rawan bencana antara lain adalah kawasan rawan letusan
gunung berapi, kawasan rawan gempa bumi, Kawasan rawan tanah longsor, kawasan
rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir (Penjelasan Pasal 5 ayat (2)
huruf d UUTR). Kawasan lindung nasional adalah kawasan yang tidak diperkenankan
dan/atau dibatasi pemanfaatan ruangnya dengan fungsi utama untuk melindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya
buatan, warisan budaya dan sejarah, serta untuk mengurangi dampak dari bencana
alam (Penjelasan Pasal 20 ayat (1) huruf c UUTR). Kawasan lindung yang terkait
dengan pengurangan atas dampak bencana hanya ditentukan dalam kawasan lindung
nasional, kawasan lindung provinsi tidak termasuk lingkup untuk mengurangi
dampak bencana.

Dengan demikian sudah saatnya Pemerintah mengevaluasi kembali tata ruang


daerah-daerah di wilayah Indonesia yang rawan bencana dan melaksanakan
pengendalian dan pengawasan pelaksanaan tata ruang sesuai dengan UUTR secara
berkelanjutan. Kesadaran bahwa lokasi seperti di Palu yang sewaktu-waktu dapat
terjadi likuifaksi, juga pesisir Selat Sunda yang di tengah-tengahnya tumbuh Gunung
Anak Krakatau sementara kondisi eksisting merupakan salah satu daya tarik wisata,
perlu ditata ulang agar jumlah korban dan dampak bencana dapat diminimalisasi