Anda di halaman 1dari 16

TUGAS IPS KELAS : 8.

1
BAB III
KEUNGGULAN DAN KETERBATASAN ANTAR RUANG
PENGARUHNYA TERHADAP KEGIATAN EKONOMI, SOSIAL,
BUDAYA DI INDONESIA DAN ASEAN

KELOMPOK 3
Ketua : LEILA FITRIA
Anggota : ABYAN DZAKI
AISYAH RACHMADINI
GHANI RAMANUJA
LAYDA DWI UTAMI
NADIA ZALFA ARIEF
RAMANDHA AHSARARETHA

MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 12 JAKARTA


1. xxxxxx

2. Program Redistribusi untuk Pemerataan Distribusi Pendapatan di


Indonesia.
Dalam rangka mewujudkan program redistribusi pendapatan di indonesia untuk
dapat memeratakan pembangunan, pemerintah melakukan beberapa strategi, antara lain
dengan merealisasikan beberapa program pemerintah. Program-program pemerintah
tersebut dapat diaplikasikan pada program-program berikut ini :

A. Program Pemberian Jaminan Akses Kebutuhan Dasar bagi Rakyat


Bawah
Langkah awal dalam upaya pemerataan pendapatan di masyarakat adalah
dengan memenuhi kebutuhan rakyat terlebih dahulu, kebutuhan tersebut adalah
mencakup kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan), akses kesehatan dan

pendidikan
 Strategi pemenuhan kebutuhan dasar rakyat yang dilakukan

pemerintah diantaranya adalah, Bantuan langsung Tunai (BLT) untuk memenuhi


kebutuhan sehari-hari rakyat, Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) atau disebut juga
Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan sosial (social security), Bantuan
Oprasional Sekolah (BOS) dan Beasiswa untuk memenuhi akses pendidikan bagi
mereka yang kurang mampu, Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) untuk
memenuhi kebutuhan akses kesehatan secara gratis.

a. Upaya Pemenuhan Kebutuhan Masyarakat

Praktik ini merupakan praktik dari teknik redistribusi “transfer barang


dan uang”.

 Pangan (barang)

Pemerintah dapat meningkatkan jumlah produksi bahan pangan,


dibarengi dengan perbaikan infrastruktur pertanian, pengembangan benih-
benih unggul, pengembangan teknologi pertanian, dan pemberian insentif
bagi petani misalnya melalui pemberian pupuk urea bersubsidi. Oleh karena
itu, harus ada kebijakan pemerintah untuk menekan biaya produksi dan
pemasaran produk pertanian, termasuk pengaturan tata niaga, agar daya saing
komoditas pertanian semakin kuat.

Selain itu pemerintah dapat memberikan Subsidi pangan dalam


bentuk barang diberikan pemerintah dalam bentuk penyediaan bahan pangan
dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat miskin, misalnya melalui
penyediaan beras murah untuk masyarakat miskin (Raskin) dan operasi pasar
murah minyak goreng.

 Uang

Sedangkan subsidi dalam bentuk uang dapat diberikan kepada


konsumen sebagai tambahan penghasilan, misalnya melalui pemberian
Bantuan Langsung Tunai (BLT) ataupun kepada produsen untuk dapat
menurunkan harga barang.

Memang masyarakat cukup terbantu dengan adanya BLT ini, karena


seiring terjadinya inflasi, jumlah kas yang diterima penduduk tersebut dapat
digunakan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari yang harganya kian naik.

Tetapi, seperti yang dijelaskan penulis di atas, transfer tunai seperti


ini kerap dengan penyimpangan dan ketidaktepatan sasaran.

Program Bantuan langsung tunai (BLT) ternyata kurang efektif


sebagai upaya pemerataan pendapatan dan meredam kemiskinan seluruhnya.
Seperti kita lihat dari angka-angka press-release Badan Pusat

Statistik (2007), di mana tingkat kemiskinan akan menjadi 23.1 persen


tanpa program BLT, sementara realitanya adalah 17,75 persen, maka secara
kasar, efektivitas program BLT hanyalah 67 persen. Subjektif, memang jika
kita harus menilai apakah tingkat efektivitas ini baik atau buruk. Tapi yang
pasti, jika tujuannya efektif meredam semua dampak kemiskinan, program
BLT belum sepenuhnya berhasil.

Ada banyak alasan yang bisa menjadi penyebab tidak efektifnya


program BLT, salah satunya, adalah jumlah nominal BLT yang terlalu
seragam, khusus untuk daerah perkotaan, biaya listrik, angkutan dan minyak
tanah (barang-barang yang paling terkena dampak naiknya harga BBM)
mempunyai pengaruh yang cukup besar, sementara untuk daerah perdesaan
pengaruhnya relatif kecil (kurang dari 2 persen). Orang miskin perkotaan
lebih rentan daripada di pedesaan. Semestinya, nominal BLT-nya tidak
disamakan dengan di pedesaan, kemudian Yusuf (2006) menyimpulkan
bahwa”orang miskin di perkotaan under compensated sementara
dibeberapa kabupaten di pedesaan over compensated oleh BLT”.

Program BLT pada tahun 2009 hanya di berikan hanya bulan semester
pertama saja, dan diberikan kepada 18,5 juta rumah tangga msikin.
Sebenarnya pemerintah ingin tetap melanjutkan program itu tapi hal itu tidak
disetujui oleh DPR. Tapi kita juga harus Ingat bahwa BLT merupakan
program yang sifatnya adhoc, kondisional, dan temporer, maka dari itu
pemerintah berniat mengggantinya dengan kebijakan-kebijakan yang lebih
struktural seperti program padat karya atau pengembangan kecamatan atau
program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri.

Tapi BLT juga harus tetap di berikan, BLT ini cocok diberikan kepada
orang-orang yang secara fisik tidak lagi kuat bekerja, seperti manula atau
mereka yang mengalami cacat fisik sehingga tidak mampu mengikuti
program padatkarya.

b. Upaya Pemenuhan Akses Kesehatan

Berkaitan dengan pemenuhan akses kesehatan masyarakat pemerintah


menerapkan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang
merupakan program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat
miskin dan tidak mampu.

Sasaran jamkesmas meningkat dari tahun ke tahun. Yaitu, 36,1 juta orang
(2005), lalu menjadi 60 juta orang (2006) , dan 74,6 juta orang (2007), untuk
tahun 2008 dan 2009 sama dengan tahun 2007 yaitu 74,6 juta orang (hakim,
2009:2). Kegiatannya meliputi peningkatan akses masyarakat miskin terhadap
kesehatan melalui program Jaminan Pengamanan Sosial Bidang Kesehatan
(JPSBK) dalam bentuk asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin bagi 76,4 juta
penduduk miskin dan (2) Peningkatan Akses Terhadap Pelayanan Keluarga
Berencana.

c. Upaya Pemenuhan Akses Pendidikan

Pemerintah terus mengupayakan perluasan dan pemertaan kesempatan


bagi semua masyarakat untuk memperoleh pendidikan, dan meningkatkan
kemampuan akademik serta pendidikan yang bermutu tinggi. Salah satu sara
yang dapat ditempuh adalah dengan memberdayakan sekolah- sekolah baik
swasta maupun negeri dengan memberikan bantuan sarana dan prasarana
penunjang kegiatan belajar disemua jenjang pendidikan dari prasekolah sampai
perguruan tinggi. Dengan memberikan subsidi kepada sekolah, sehingga bisa
lebih mudah dijangkau oleh masyarakat, khususnya golongan miskin. Hal ini
dilakukan dengan pemberikan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan
pemberian beasiswa untuk penduduk miskin.

B. Program Kredit Lunak Dan Penjaminan Kredit Berbasis


Komunitas

Pada tanggal 5 November 2007 telah di resmikan program Kredit Usaha


Rakyat (KUR). Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah kredit/pembiayaan yang di
berikan oleh perbankan kepada UMKM yang feasible tapi belum bankable.
Maksudnya adalah usaha tersebut memiliki prospek bisnis yang baik dan memiliki
kemampuan untuk mengembalikan.

Dengan kebijakan KUR, UMKM akan terhindar dari kendala aturan-aturan


perbankan yang menyulitkan mereka untuk mendapatkan pinjaman modal dari
lembaga keuangan formal (LKF) karena dalam program KUR pemerintah telah
menitipkan uang (yang berasal dari APBN) sebesar Rp1,4 triliun pada lembaga
penjaminan. Kebijakan pengembangan dan pemberdayaan UMKM mencakup:

1. Peningkatan akses pada sumber pembiayaan.


2. Pengembangan kewirausahaan.
3. Peningkatan pasar produk UMKM
4. Reformasi regulasi UMKM

Upaya peningkatan akses pada sumber pembiayaan antra lain dilakukan


dengan memberikan penjaminan kredit bagi UMKM melalui KUR .UMKM dan
koperasi yang diharapkan dapat mengakses KUR adalah yang bergerak di sektor
usaha produktif antara lain: pertanian,perindustrian,kehutanan,dan jasa keuangan
simpan pinjam.

Untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada usaha mikro,maka penyaluran


KUR dapat juga dilakukan secara tidak langsung,maksudnya usaha mikro dapat
mengakses KUR melalui Lembaga Keuangan Mikro dan KSP/USP koperasi, atau
melalui kegiatan linkage program lainnya yang bekerjasama dengan bank
pelaksana.

Kebijakan ini diharapkan dapat membantu masyarakat golongan menengah


ke bawah sehingga dapat menjadi wirausaha yang mandiri serta membantu
mengurangi presentase penduduk miskin di Indonesia.

C. Pengembangan Usaha atau Industri Kecil


Pemerintah negara anggota ASEAN tanpa terkecuali Indonesia harus terus
berupaya untuk meningkatkan daya tarik subsektor industri kreatif agar menjadi
tempat yang menarik untuk berkarier dan berinvestasi terutama di kalangan
pengusaha muda. Selain faktor pasar internal yang memang harus terus diperbaiki
seperti pembangunan infrastruktur, pembangunan institusi terkait dan sumber daya
manusia, salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengambil manfaat dari
komunitas ekonomi ASEAN dan menarik perhatian kalangan pengusaha muda
adalah dengan melakukan kerjasama antar kota lintas negara ASEAN. Terdapat tiga
alasan utama mengapa kerjasama tersebut penting untuk dilakukan.

Alasan usaha kecil harus dikembangkan:

Pertama, negara-negara anggota ASEAN memiliki beberapa karakter usaha


kreatif yang hampir sama antara satu negara dengan negara yang lain. Singapura
dan Malaysia kaya akan industri film serta animasi, sementara Thailand lebih
menonjol pada aspek kerajinan, fasyen, dan kuliner[1]. Sedangkan Indonesia sendiri
saat ini sedang berusaha meningkatkan pertumbuhan lapangan pekerjaan di lima
sub sektor industri kreatif seperti film, musik, fesyen, kuliner, dan konten digital
karena memiliki potensi paling besar dibandingkan sub sektor yang lain.
Berdasarkan fakta yang ditemukan di tiga negara ASEAN tersebut, kita bisa lihat
adanya kesempatan besar bagi para pengusaha muda ASEAN untuk bisa saling
belajar satu sama lain dan berinovasi, apalagi ditambah dengan adanya karakter
usaha kreatif di tujuh anggota ASEAN yang lain.

Kedua, masing-masing negara bisa jadi semacam “lembaga pendidikan”


bagi negara lain. Dengan terbentuknya komunitas ekonomi ASEAN, salah satunya
berarti akan ada kemudahan lalu lintas human capital antarnegara anggota ASEAN.
Kemudahan ini bisa dimanfaatkan secara bersama-sama untuk membangun kualitas
sumber daya manusia yang kompetitif atau berdaya saing terutama dalam usaha
kreatif. Masing-masing negara penyelenggara bisa menyediakan sarana dan
prasarana berupa pusat pengembangan brand dan produk, kuliah dan pelatihan, riset
dan pengembangan, manajemen intellectual property sampai transfer teknologi.

Dari sudut pandang pengusaha muda yang baru terjun di dunia bisnis,
melalui program kerjasama ini, mereka akan mendapatkan informasi dan strategi
bisnis seperti melalui berbagai macam pendidikan dan pelatihan yang
diselenggarakan di kota penyelenggara anggota ASEAN. Selain itu, program
tersebut juga memberikan keuntungan akan kemudahan mendapatkan akses pasar
yang baru di luar negeri sampai kerjasama internasional berupa kemungkinan
melakukan kolaborasi dengan partner bisnis di luar negeri. Tentu saja praktek
tersebut dapat meningkatkan tingkat percaya diri mereka dalam mendirikan bisnis
baru.

Dari sudut pandang kota penyelenggara atau host city, mereka akan
mendapatkan ide atau pengetahuan baru yang mungkin tidak mereka ketahui
sebelumnya melalui berbagai kegiatan pengembangan pengetahuan dan strategi
bisnis. Cara pandang dalam hal bisnis terutama di usaha kreatif antara masyarakat
negara yang satu dengan negara yang lain kadang kala berbeda, hal inilah yang bisa
mendorong terciptanya inovasi.

Dalam jangka waktu lama, kerjasama antar kota di lintas negara ini akan
memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak berupa kesempatan terbentuknya
jaringan bisnis yang lebih luas dan kerjasama bisnis jangka panjang seperti joint-
ventures, sub-contracting activities maupun kerjasama contractor-supplier.

ASEAN harus sadar bahwa untuk melakukan ekspansi hasil bisnis kreatif di
luar kawasan, mereka harus bekerjasama meningkatkan daya saing produk untuk
bisa mengalahkan produk buatan dari negara lain.
“A Domestic market should be grown first before attacking foreign markets. In
order to survive, Southeast Asian tech startups have to think regionally first. They
have to treat their region the same way Chinese startups treat their entire country.”

Kebijakan tersebut juga menjadi harapan bagi para pemimpin ASEAN yang
memang menginginkan pasar dan basis produksi tunggal di ranah regional bisa
segera tercapai.

Ketiga, kerjasama antar kota dipilih karena kebijakan ini akan lebih
menyentuh masyarakat kecil dimana masyarakat kota langsung menjadi target
sasarannya. Segala macam informasi terkait dengan usaha kreatif ASEAN akan
lebih mudah diakses mengingat pemerintah pusat pasti akan memiliki keterbatasan
dalam menampung informasi dan melakukan sosialisasi di hampir semua daerah di
negaranya.

Keempat, proporsi penduduk global di wilayah kota atau urban akan


semakin dominan. Pada tahun 2050, UN Habitat mmproyeksikan bahwa 70%
populasi akan terkonsentrasi di wilayah urban. Kawasan Asia Tenggara tidak
terlepas dari perubahan struktur populasi penduduk tersebut. Asia Tenggara pada
tahun 2010 memiliki pertumbuhan penduduk di tingkat urban sebesar 48.2%, dan
diproyeksikan akan terus tumbuh sampai 73,3%.

D. Pemerintah Bekerja Dengan Swasta Lokal dan Asing untuk


Menjalankan Program Corporate Social Responsibility (CSR)

Dengan adanya program pemerintah yang bekerja sama dengan swasta lokal
dan asing untuk menjalankan program CSR, diharapkan golongan masyarakat
bawah, buruh, dan usaha-usaha bisa mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam
kegiatan ekonomi yang produktif secara keseluruhan, bukan hanya segelintir
pengusaha yang mendapat perlakuan khusus (corner of previledge). Untuk
keperluan tersebut, pemerintah hendaknya melaksanakan prinsip tanggug jawab
sosial yang menjadi tumpuan dsn jaminan bahwa segenap lapisan masyarakat secara
keseluruhan bisa menikmati hasil-hasil pembangunan ekonomi yang telah
dilakukan.

Untuk itu, pemerintah harus mampu bekerja sama dengan swasta lokal dan
asing untuk menjalankan progam CSR. Bahkan kalau perlu, mewajibkan presentase
laba bersih tertentu perusahaan untuk kegiatan CSR melalui program bapak angkat
dalam kegiatan ekonomi. CSR selanjutnya dapat dijadikan sebagai salah satu
indikator tanggung jawab sosial untuk membantu mengembangkan dunia usaha
kecil, menengah dan koperasi. Program ini menjadikan CSR sebagai tanggung
jawab yang melekat pada setiap perusahaan untuk tetap mencipakan hubungan yang
serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya
masyarakat setempat.

a. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)


Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab
sosial perusahaan adalah suatu konsep atau tindakan yang dilakukan oleh
perusahaan sebagai rasa tanggung jawab perusahaan terhadap sosial maupun
lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada.

Corporate Social Responsibility (CSR) ialah sebuah pendekatan dimana


perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial di dalam operasi bisnis mereka
dan dalam interaksi mereka dengan para stakeholder berdasarkan prinsip
kemitraan dan kesukarelaan (Nuryana, 2005).

Menurut Kotler dan Nancy (2005) mengemukakan bahwa Corporate


Social Responsibility (CSR) didefinisikan sebagai komitmen perusahaan untuk
meningkatkan kesejahteraan komunitas melalui praktik bisnis yang baik dan
mengkontribusikan sebagian sumber daya perusahaan.
Sedangkan menurut World Business Council for Sustainable
Development mengemukakan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR)
merupakan komitmen berkesinambungan dari kalangan bisnis untuk berperilaku
etis dan memberi kontribusi bagi pembangunan ekonomi, seraya meningkatkan
kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya, serta komunitas lokal dan
masyarakat luas pada umumnya.

Upaya sungguh-sungguh dari entitas bisnis meminimumkan dampak


negatif dan memaksimumkan dampak positif operasinya terhadap seluruh
pemangku kepentingan dalam ranah ekonomi, sosial dan lingkungan untuk
mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Jadi, secara garis besar Corporate Social Responsibility (CSR) adalah


tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat di luar tanggung jawab
ekonomisnya, kegiatan-kegiatan yang dilakukan perusahaan demi tujuan sosial
dengan tidak memperhitungkan untung atau rugi ekonomisnya.

b. Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)


1) Manfaat CSR bagi Perusahaan:
 Mempertahankan dan mendongkrak reputasi dan image perusahaan.
 Layak mendapatkan social lisence to operate.
 Mereduksi resiko bisnis perusahaan.
 Melebarkan akses sumber.
 Membentangkan akses menuju market.
 Mereduksi biaya.
 Memperbaiki hubungan dengan stakeholder.

2) Manfaat CSR bagi Masyarakat


Kegiatan CSR perusahaan akan memberikan banyak manfaat bagi
masyarakat diantaranya sebagai berikut :
 Mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar
perusahaan.
 Membuka ruang kerja dan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat.
 Turut membantu program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan,
dengan menggunakan pekerja yang berasal dari sekitar perusahaan
mereka dapat menyumbangkan kenaikan angka angkatan kerja dengan
menciptakan lapangan kerja, menyediakan pelatihan, menyediakan
produk-produk yang disediakan oleh orang-orang kalangan bawah maka
secara langsung akan memberikan dampak kepada golongan bawah
tersebut.
 Meningkatkan standar pendidikan, dengan memberikan beasiswa kepada
yang benar-benar membutuhkan dan membantu dalam pembangunan
sarana dan prasarana pendidikan khusunya untuk pendidikan dasar.
 Penyelesaian masalah lingkunang
 Akan lebih menguatkan dan memberdayakan kehidupan masyarakat baik
secara ekonomi, kelembagaan sosial, dan memperkecil terjadinya konflik
sosial.

c. Prinsip-Prinsip Yang Harus Dipegang Dalam Melaksanakan CSR


Prinsip pertama adalah kesinambungan atau sustainability. Ini bukan
berarti perusahaan akan terus-menerus memberikan bantuan kepada masyarakat.
Tetapi, program yang dirancang harus memiliki dampak yang berkelanjutan.
CSR berbeda dengan donasi bencana alam yang bersifat tidak terduga dan tidak
dapat di prediksi. Itu menjadi aktivitas kedermawanan dan bagus.
Prinsip kedua, CSR merupakan program jangka panjang. Perusahaan
mesti menyadari bahwa sebuah bisnis bisa tumbuh karena dukungan atmosfer
sosial dari lingkungan di sekitarnya. Karena itu, CSR yang dilakukan adalah
wujud pemeliharaan relasi yang baik dengan masyarakat. Ia bukanlah aktivitas
sesaat untuk mendongkrak popularitas atau mengejar profit.

Prinsip ketiga, CSR akan berdampak positif kepada masyarakat, baik


secara ekonomi, lingkungan, maupun sosial. Perusahaan yang melakukan CSR
mesti peduli dan mempertimbangkan sampai kedampaknya.

Prinsip keempat, dana yang diambil untuk CSR tidak dimasukkan ke


dalam cost structure perusahaan sebagaimana budjet untuk marketing yang pada
akhirnya akan ditransformasikan ke harga jual produk. CSR yang benar tidak
membebani konsumen.

Contoh Kasus
Kebobrokan Freeport – Pencemaran Lingkungan & Pelanggaran HAM
Perusahaan Emas Terbesar di Indonesia

PT Freeport Indonesia, perusahaan yang pernah terdaftar sebagai salah


satu perusahaan multinasional terburuk tahun 1996, adalah potret nyata sektor
pertambangan Indonesia. Keuntungan ekonomi yang dibayangkan tidak seperti
yang dijanjikan, sebaliknya kondisi lingkungan dan masyarakat di sekitar lokasi
pertambangan terus memburuk dan menuai protes akibat berbagai pelanggaran
hukum dan HAM dampak lingkungan serta pemiskinan rakyat sekitar tambang.

Laporan WALHI Tentang Dampak pencemaran Lingkungan Hidup


Operasi Freeport-Rio Tinto di Papua Laporan yang berjudul Dampak
Lingkungan Hidup Operasi Pertambangan Tembaga dan Emas Freeport-Rio
Tinto di Papua adalah laporan yang menyajikan gambaran tentang keberadaan
Freeport yang independen mengenai dampak lingkungan akibat tambang
Freeport diantara:
1. Pelanggaran hukum: Temuan kunci pada laporan ini adalah Freeport-Rio
Tinto telah gagal mematuhi permintaan pemerintah untuk memperbaiki
praktik pengelolaan limbah berbahaya terlepas rentang tahun yang
panjang di mana sejumlah temuan menunjukkan perusahaan telah
melanggar peraturanlingkungan.
2. Pemerintah secara resmi menyatakan bahwa Freeport-Rio Tinto: • Telah
lalai dalam pengelolaan limbah batuan, bertanggung jawab atas longsor
berulang pada limbah batuan Danau Wanagon yang berujung pada
kecelakaan fatal dan keluarnya limbah beracun yang tak terkendali
(2000).
3. Pelanggaran dan pencemaran lingkungan. Tembaga yang dihamburkan
dan pencemaran Air Asam Batuan (Acid Rock Drainage, ARD) dalam
bentuk buangan (leachate) dan tailing.
4. Teknologi yang tak layak. Erosi dari limbah batuan mencemari perairan
di gunung dan gundukan limbah batuan yang tidak stabil telah
menyebabkan sejumlah kecelakaan.
5. Tingkat racun tailing dan dampak terhadap perairan. Sebagian besar
kehidupan air tawar telah hancur akibat pencemaran dan perusakan
habitat sepanjang daerah aliran sungai yang dimasuki tailing.
6. Logam berat pada tanaman dan satwa liar. Dibandingkan dengan tanah
alami hutan, tailing Freeport mengandung tingkat racun logam selenium
(Se), timbal (Pb), arsenik (As), seng (Zn), mangan (Mn) dan tembaga
(Cu) yang secara signifikan lebih tinggi.
7. Perusakan habitat muara. Tailing sungai Freeport-Rio Tinto akan
merusak hutan bakau seluas 21 sampai 63 km2 akibat sedimentasi.
8. Kontaminasi pada rantai makanan di muara. Logam dari tailing
menyebabkan kontaminasi pada rantai makanan di Muara Ajkwa. Daerah
yang dimasuki tailing Freeport menunjukkan kandungan logam
berbahaya yang secara signifikan lebih tinggi dibanding dengan muara-
muara terdekat yang tak terkena dampak dan dijadikan acuan.
9. Gangguan ekologi. Freeport sempat menyatakan bahwa “Muara di hilir
daerah pengendapan tailing kami adalah ekosistem yang berfungsi dan
beraneka ragam dengan ikan dan udang yang melimpah.”
10. Dampak pada Taman Nasional Lorenz. Taman Nasional Lorenz yang
terdaftar sebagai Warisan Dunia wilayahnya mengelilingi daerah konsesi
Freeport.
11. Transparansi. Freeport-Rio Tinto beroperasi tanpa tranparansi atau
pemantauan peraturan yang layak

Pada tanggal 15 September 2011, 8.000 dari 22.000 pekerja Freeport


Indonesia melakukan aksi mogok menuntut kenaikan upah dari US $3,5/jam
sampai US $7,5/jam. Inilah pemogokan kerja terlama dan paling banyak
melibatkan karyawan sejak Freeport mulai beroperasi di Indonesia pada tahun
1967. Dua tahun sekitar bulan Juli 2009 – November 2011, setidaknya 11
karyawan Freeport dan sub-kontraktor ditembak mati secara misterius oleh para
penembak gelap. PT Freeport McMoRan telah mengeluarkan dana sebesar Rp
711 milyar untuk “uang keamanan” yang diberikan kepada para aparat
pemerintah.

Analisis Kasus:
Menurut pendapat kelompok kami, bahwa kegiatan pertambangan PT
Freeport sangatlah merugikan lingkungan sekitar perusahaan dikarenakan
banyak kandungan hasil limbah yang tidak diolah dengan baik oleh
perusahaan. Perusahaan semata-mata hanya mementingkan keuntungan tanpa
melihat dampak dari limbah dan aktivitas kegiatan perusahaan. Apalagi
perusahaan ini telah berdiri lama di Indonesia, harusnya ada upaya pemerintah
sendiri untuk mempererat hukum bagi perusahaan ini sehingga kekayaan tanah
papua tidak begitu saja diambil oleh orang asing.

Selain itu ada pelanggaran etika deontology yaitu perusahaan tidak


membayar kewajibannya dengan baik sehingga adanya karyawan yang
melakukan kegiatan mogok kerja. Selain itu kesejahteraan karyawan maupun
masyarakat sekitar yang terkena dampaknya pun tidak dipikirkan oleh
perusahaan. Perusahaan melakukan pelanggaran lain yaitu pelanggaran etika
teleology yaitu egoisme etis dimana perusahaan hanya mementingkan para
pemilik dan petinggi perusahaan tanpa memikirkan kehidupan masyarakat
sekitar perusahaan.