Anda di halaman 1dari 31

PRODUKSI

DISUSUN OLEH :

Kelompok VII

Dina Panjaitan (1701011348)

Farhan Julana (1701011522)

Hafni Hasibuan (1701011281)

Ita Suriani Br Harianja (1701011121)

Mei Pratiwi Sinurat (1701011285)

Natasya Aulia Fikri Faikah (1701011258)

Novalita (1701011322)

Nur Halimah Pohan (1701011412)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

FAKULTAS FARMASI DAN KESEHATAN UMUM

INSTITUT KESEHATAN HELVETIA

MEDAN
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Produksi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus dilakukan dengan cara
produksi yang baik memenuhi syarat-syarat yang berlaku sesuai dalam
Farmakope Indonesia atau buku standar yang lain. Maka industri farmasi dalam
pembuatan obat harus menerapkan acuan standar sebagai pedoman dalam
pembuatan obat yang baik sesuai dengan Keputusan Menkes No.
43/Menkes/SK/11/1988 tentang Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang
mengharuskan pembuatan obat yang baik untuk menjamin mutu obat yang
dihasilkan industri farmasi dalam seluruh aspek dan serangkaian kegiatan
produksi sehingga obat jadi yang dihasilkan memenuhi syarat mutu yang telah
ditentukan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Ketentuan yang terkait proses produksi yang sesuai CPOB meliputi
tahapan dari bahan awal, validasi proses, pencegahan dan pencemaran silang,
system penomoran bets/lot, Penimbangan dan penyerahan, pengembalian,
pengolahan, bahan dan produk kering, pencampuran dan granulasi, pencetak
tablet, penyalutan, pengisian kapsul keras, penandaan tablet salut dan kapsul,
cairan, krim dan salep (non-steril), bahan pengemas, kegiatan pengemasan, pra-
kodifikasi bahan pengemas, kesiapan jalur, praktik pengemasan, penyelesaian
kegiatan pengemasan, pengawasan selama proses, bahan dan produk yang ditolak,
dipulihkan dan dikembalikkan, karantina dan penyerahan produk jadi, catatan dan
pengendalian pengiriman obat, penyimpana bahan awal, bahan pengemas, produk
antara, produk ruahan dan produk jadi, penyimpana bahan awal dan bahan
pengemas, penyimpanan produk antara, produk ruahan dan produk jadi,
pengiriman dan pengankutan.
Berdasarkan dari latar belakang ini maka dibuatlah makalah ini untuk
memberikan pemahaman tentang aspek produksi yang perlu diperhatikan dalam
memproduksi suatu produk obat yang memenuhi persyaratan kualitas, yang mana
produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti proedur yang telah ditetapkan
dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa menghasilkan produk
yang memenuhi kriteria dan ketentuan izin pembuatan dan izin edar atau
registrasi.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka di peroleh rumusan masalah adalah sebagai
berikut :
1. Jelaskan prinsip dan hakikat produksi ?
2. Jelaskan aspek-aspek produksi ?
3. Jelaskan pedoman CPOB pada proses produksi ?
C. Tujuan
Tujuan dari makalh ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui prinsip dan hakikat produksi
2. Untuk mengetahui aspek-aspek produksi
3. Untuk mengetahui pedoman CPOB pada proses produksi
D. Manfaat
Manfaat dai makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Agar mengetahui prinsip dan hakikat produksi
2. Agar mengetahui aspek-aspek produksi
3. Agar mengetahui pedoman CPOB pada proses produksi
BAB II

PEMBAHASAN

A. Prinsip dan Hakikat Produksi


Pemastian mutu suatu obat tidak hanya mengandalkan pada pelaksanaan
pengujian tertentu saja, namun obat hendaklah dibuat dalam kondisi yang
dikendalikan dan dipantau secara cermat. Produksi sediaan farmasi dan alat
kesehatan harus dilakukan dengan cara produksi yang baik memenuhi syarat-
syarat yang berlaku sesuai dalam Farmakope Indonesia atau buku standar yang
lain. Maka industri farmasi dalam pembuatan obat harus menerapkan acuan
standar sebagai pedoman dalam pembuatan obat yang baik sesuai dengan
Keputusan Menkes No. 43/Menkes/SK/11/1988 tentang Cara Pembuatan Obat
yang Baik (CPOB) yang mengharuskan pembuatan obat yang baik untuk
menjamin mutu obat yang dihasilkan industri farmasi dalam seluruh aspek dan
serangkaian kegiatan produksi sehingga obat jadi yang dihasilkan memenuhi
syarat mutu yang telah ditentukan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) ditetapkan tidak lain
sebagai wujud implementasi kebijaksanaan pemerintah untuk mendorong industri
farmasi menghasilkan produk-produk yang berkualitas, berdaya saing tinggi di
pasaran serta mengurangi ketergantungan akan produk-produk impor. CPOB
meliputi semua proses produksi, mulai dari bahan awal, tempat, dan alat sampai
pelatihan dan kebersihan dari pekerja. Prosedur tertulis dari tiap proses produksi
adalah komponen penting yang dapat mempengaruhi kualitas akhir dari produk.
Pada prinsipnya produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti
prosedur yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin
senantiasa menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta
memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar (registrasi).
Prinsip utama produksi adalah:
a. Adanya keseragaman atau homogenitas dari bets ke bets.
b. Proses produksi dan pengemasan senantiasa menghasilkan produk yang
seidentik mungkin (dalam batas syarat mutu) baik bagi bets yang sudah
diproduksi maupun yang akan diproduksi

Sedangkan hakikat produksi adalah :


a. Mutu produk obat tidak ditentukan oleh hasil akhir analisa saja, tetapi
ditentukan oleh keseluruhan proses produksi (built in process).
b. Adanya prosedur baku (standar) untuk setiap langkah (tahapan) proses
produksi dengan persyaratan yang harus diikuti dengan konsisten.

B. Aspek Produksi

Aspek Produksi Secara Umum Meliputi:

 Produksi dilakukan dan diawasi oleh personil yang kompeten.


 Penanganan bahan dan produk jadi dilakukan sesuai prosedur atau instruksi
tertulis.
 Seluruh bahan yang diterima diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya
dengan pemesanannya.
 Kerusakan wadah dan masalah lain yang merugikan mutu bahan harus
diselidiki, dicatat dan dilaporkan kepada bagian pengawasan mutu.
 Bahan yang diterima dan produk jadi hendaklah dikarantina secaa fisik atau
administrative.
 Produk antara dan produk ruahan yang diterima hendaklah ditangani seperti
penerimaan bahan awal.
 Semua bahan dan produk jadi hendaklah disimpan secara teratur pada
kondisi yang disarankan dan diatur agar ada pemisahan antar bets dan
memudahkan rotasi stok.
 Pemeriksaan jumlah hasil nyata dan rekonsiliasinya dilakukan sedemikian
untuk memastikan tidak ada penyimpangan dari batas yang telah ditetapkan.
 Pengolahan produk yang berbeda hendaklah tidak dilakukan bersamaan atau
bergantian dalam ruang kerja yang sama kecuali tidak ada resiko terjadinya
campur baur ataupun kontaminasi silang.
 Tiap tahap pengolahan, produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap
pencemaran mikroba dan pencemaran lain.
 Bila bekerja dengan bahan atau produk kering hendaklah dilakukan tindakan
khusus untuk mencegah debu timbul serta penyebarannya.
 Selama pengolahan semua bahan, wadah produk ruahan, peralatan atau
mesin produksi dan ruang kerja hendaklah diberi label atau penandaan dari
produ atau bahan yang sedang diolah.
 Label pada wadah, alat atau ruangan hendaklah jelas, tidak berarti ganda dan
dengan format yang telah ditetapkan.
 pemeriksaan perlu dilakukan untuk memestikan pipa penyalur dan alat lain.
 penyimpangan terhadap instruksi atau prosedur sedapat mungkin
dihindarkan.
 akses kebangunan dan fasilitas produksi hendaklah dibatasi hanya untuk
personil yang berwenang.
 Pada umumnya pembuatan produk no-obat hendaklah dihindarkan dibuat di
area dan dengan peralatan yang khusus untuk produk obat.

C. Pedoman CPOB pada proses produksi


Pedoman CPOB pada proses produksi meliputi :
1. Bahan Awal
Pengadaan bahan awal hendaklah hanya dari pemasok yang telah disetujui
dan memenuhi spesifikasi yang relevan. Semua penerimaan, pengeluaran dan
jumlah bahan tersisa hendaklah dicatat. Catatan hendaklah berisi keterangan
mengenai pasokan, nomor bets/lot, tanggal penerimaan atau penyerahan, tanggal
pelulusan dan tanggal daluwarsa bila ada.
Sebelum diluluskan untuk digunakan, tiap bahan awal hendaklah memenuhi
spesifikasi dan diberi label dengan nama yang dinyatakan dalam spesifikasi.
Singkatan, kode ataupun nama yang tidak resmi hendaklah tidak dipakai
Tiap pengiriman atau bets bahan awal hendaklah diberi nomor rujukan yang
akan menunjukkan identitas pengiriman atau bets selama penyimpanan dan
pengolahan. Nomor tersebut hendaklah jelas tercantum pada label wadah untuk
memungkinkan akses ke catatan lengkap tentang pengiriman atau bets yang akan
diperiksa.
Apabila dalam satu pengiriman terdapat lebih dari satu bets maka untuk
tujuan pengambilan sampel, pengujian dan pelulusan, hendaklah dianggap
sebagai bets yang terpisah. Pada tiap penerimaan hendaklah dilakukan
pemeriksaan visual tentang kondisi umum, keutuhan wadah dan segelnya, ceceran
dan kemungkinan adanya kerusakan bahan, dan tentang kesesuaian catatan
pengiriman dengan label dari pemasok. Sampel diambil oleh personil dan dengan
metode yang telah disetujui oleh kepala bagian Pengawasan Mutu.
Wadah dari mana sampel bahan awal diambil hendaklah diberi identifikasi.
Sampel bahan awal hendaklah diuji pemenuhannya terhadap spesifikasi. Dalam
keadaan tertentu, pemenuhan sebagian atau keseluruhan terhadap spesifikasi
dapat ditunjukkan dengan sertifikat analisis yang diperkuat dengan pemastian
identitas yang dilakukansendiri.
Hendaklah diambil langkah yang menjamin bahwa semua wadah pada suatu
pengiriman berisi bahan awal yang benar, dan melakukan pengamanan terhadap
kemungkinan salah penandaan wadah oleh pemasok. Bahan awal yang diterima
hendaklah dikarantina sampai disetujui dan diluluskan untuk pemakaian oleh
kepala bagian Pengawasan Mutu.
Bahan awal di area penyimpanan hendaklah diberi label yang tepat. Label
hendaklah memuat keterangan paling sedikit sebagai berikut:
1. nama bahan dan bila perlu nomor kode bahan;
2. nomor bets/kontrol yang diberikan pada saat penerimaan bahan;
3. status bahan (misal: karantina, sedang diuji, diluluskan, ditolak);
4. tanggal daluwarsa atau tanggal uji ulang bila perlu;
5. jika digunakan sistem penyimpanan dengan komputerisasi yang divalidasi
lengkap, maka semua keterangan di atas tidak perlu dalam bentuk tulisan
yang terbaca pada label.
Label yang menunjukkan status bahan awal hendaklah ditempelkan oleh
personil yang ditunjuk oleh kepala bagian Pengawasan Mutu. Untuk mencegah
kekeliruan, label tersebut hendaklah berbeda dengan label yang digunakan oleh
pemasok misalnya dengan mencantumkan nama atau logo perusahaan. Bila status
bahan mengalami perubahan, maka label penunjuk status hendaklah juga diubah.
Persediaan bahan awal hendaklah diperiksa secara berkala untuk meyakinkan
bahwa wadah tertutup rapat dan diberi label dengan benar, dan dalam kondisi
yang baik. Terhadap bahan tersebut hendaklah dilakukan pengambilan sampel
dan pengujian ulang secara berkala sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.
Pelaksanaan pengambilan sampel ulang hendaklah diawali dengan penempelan
label uji ulang dan/atau dengan menggunakan sistem dokumentasi yang sama
efektifnya.
Bahan awal, terutama yang dapat mengalami kerusakan karena terpapar
pada panas, hendaklah disimpan di dalam ruangan yang suhu udaranya
dikendalikan dengan ketat; bahan yang peka terhadap kelembaban dan/atau
cahaya hendaklah disimpan dengan benar di dalam ruangan yang dikendalikan
kondisinya
Penyerahan bahan awal untuk produksi hendaklah dilakukan hanya oleh
personil yang berwenang sesuai dengan prosedur yang telah disetujui. Catatan
persediaan bahan hendaklah disimpan dengan baik agar rekonsiliasi persediaan
dapat dilakukan. Alat timbang hendaklah diverifikasi tiap hari sebelum dipakai
untuk membuktikan bahwa kapasitas, ketelitian dan ketepatannya memenuhi
persyaratan sesuai dengan jumlah bahan yang akan ditimbang. Semua bahan
awal yang ditolak hendaklah diberi penandaan yang menyolok, ditempatkan
terpisah dan dimusnahkan atau dikembalikan kepada pemasoknya.
2. Validasi Proses
Studi validasi hendaklah memperkuat pelaksanaan CPOB dan dilakukan
sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Hasil validasi dan kesimpulan
hendaklah dicatat.
Sebelum suatu Prosedur Pengolahan Induk diterapkan, hendaklah
diambil langkah untuk membuktikan prosedur tersebut cocok untuk
pelaksanaan produksi rutin, dan bahwa proses yang telah ditetapkan dengan
menggunakan bahan dan peralatan yang telah ditentukan, akan senantiasa
menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu.
Perubahan yang berarti dalam proses, peralatan atau bahan hendaklah
disertai dengan tindakan validasi ulang untuk menjamin bahwa perubahan
tersebut akan tetap menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu.
Hendaklah secara rutin dilakukan validasi dan/atau peninjauan ulang
secara kritis terhadap proses dan prosedur produksi untuk memastikan bahwa
proses dan prosedur tersebut tetap mampu memberikan hasil yang diinginkan.
3. Pencegahan pencemaran silang
Bahan awal atau produk oleh bahan atau produk lain harus terhindar dari
pencemaran. Pencemaran silang dapat terjadi karena tidak terkendalinya debu,
gas, uap, percikan atau organisme dari bahan atau produk yang sedang diproses,
dari sisa yang tertinggal pada alat dan pakaian kerja operator. Pencemaran ini
tergantung pada jenis pencemar dan produk yang tercemar. Pencemar yang
berbahaya adalah bahan yang dapat menimbulkan sensitasi kuat, preparat biologis
yang mengandung mikroba hidup, hormone tertentu, bahan sitotoksik, dan bahan
lain yang berpotensi tinggi. Produk yang paling mudah mengalami pencemaran
adalah sediaan parenteral, sediaan yang diberikan dalam dosis besar dan/atau
sediaan yang diberikan dalam jangka waktu yang panjang. Setiap tahapan proses,
produk dan bahan sebaiknya dilindungi terhadap pencemaran mikroba dan
pencemaran lain.
Pencemaran silang dapat dihindari dengan tindakan teknis atau pengaluran
yang tepat, misalnya:
 Produksi dilakukan dalam gedung yang terpisah untuk produk seperti
penisilin, hormon seks, sitotoksik tertentu, vaksin hidup dan sediaan yang
mengandung bakteri hidup dan produk biologi lain serta produk darah.
 Menyediakan ruang penyangga udara dan penghisap udara.
 Mengurangi resiko pencemaran yang disebabkan oleh udara yang disirkulasi
ulang atau masuknya udara yang tidak diolah atau udara yag diolah secara
tidak memadai.
 Penggunaan pakaian pelindung yang sesuai dengan area dimana produk
beresiko tinggi terhadap pencemaran silang.
 Melakukan pembersihan dan dekontaminasi yang terbukti efektif, karena
pembersihan alat yang tidak efektif dapat menjadi sumber pencemaran silang.
 Penggunaan sistem self contained
 Pengujian residu dan menggunakan label status kebersihan pada alat
Pencegahan terhadap pencemaran silang dan efektivitasnya sebaiknya
dilakukan secara berkala sesuai dengan prosedur yang ditetapkan
4. Sistem Penomoran bets/lot
Batch/Bets adalah sejumlah produk obat yang mempunyai sifat dan mutu
yang seragam yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan atas suatu perintah
pembuatan tertentu. Esensi suatu batch adalah homogenitasnya. Nomor
Batch/Bets adalah penandaan yang terdiri dari angka atau huruf atau gabungan
keduanya, yang merupakan tanda pengenal suatu batch, yang memungkinkan
penelusuran kembali riwayat lengkap pembuatan batch tersebut, termasuk tahap-
tahap produksi, pengawasan dan distribusi. Beberapa berikut yang perlu
diperhatikan dalam sistem penomoran bets/lot.
a. Hendaklah tersedia sistem yang menjelaskan secara rinci penomoran bets/lot
dengan tujuan untuk memastikan bahwa tiap bets/lot produk antara, produk
ruahan atau produk jadi dapat diidentifikasi.
b. Sistem penomoran bets/lot yang digunakan pada tahap pengolahan dan tahap
pengemasan hendaklah saling berkaitan.
c. Sistem penomoran bets/lot hendaklah menjamin bahwa nomor bets/lot yang
sama tidak dipakai secara berulang.
d. Alokasi nomor bets/lot hendaklah segera dicatat dalam suatu buku log.
Catatan tersebut hendaklah mencakup tanggal pemberian nomor, identitas
produk dan ukuran bets/lot yang bersangkutan.
5. Penimbangan dan penyerahan
Penimbangan atau penghitungan dan penyerahan bahan awal, bahan
pengemas, produk antara dan produk ruahan dianggap sebagai bagian dari siklus
produksi dan memerlukan dokumentasi serta rekonsiliasi yang lengkap.
Pengendalian terhadap pengeluaran bahan dan produk tersebut untuk produksi,
dari gudang, area penyerahan, atau antar bagian produksi, adalah sangat penting.
Cara penanganan, penimbangan, penghitungan dan penyerahan bahan awal,
bahan pengemas, produk antara, dan produk ruahan hendaklah tercakup dalam
prosedur tertulis. Semua pengeluaran bahan awal, bahan pengemas, produk antara
dan produk ruahan termasuk bahan tambahan yang telah diserahkan sebelumnya
ke produksi, hendaklah didokumentasikan dengan benar.
Hanya bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk -33- ruahan
yang telah diluluskan oleh Pengawasan Mutu dan masih belum daluwarsa yang
boleh diserahkan. Untuk menghindarkan terjadinya kecampurbauran, pencemaran
silang, hilangnya identitas dan keraguan, maka hanya bahan awal, produk antara
dan produk ruahan yang terkait dari satu bets saja yang boleh ditempatkan dalam
area penyerahan. Setelah penimbangan, penyerahan dan penandaan, bahan awal,
produk antara dan produk ruahan hendaklah diangkut dan disimpan dengan cara
yang benar sehingga keutuhannya tetap terjaga sampai saat pengolahan
berikutnya.
Sebelum penimbangan dan penyerahan, tiap wadah bahan awal hendaklah
diperiksa kebenaran penandaan, termasuk label pelulusan dari Bagian
Pengawasan Mutu. Kapasitas, ketelitian dan ketepatan alat timbang dan alat ukur
yang dipakai hendaklah sesuai dengan jumlah bahan yang ditimbang atau ditakar.
Untuk tiap penimbangan atau pengukuran hendaklah dilakukanpembuktian
kebenaran identitas dan jumlah bahan yang ditimbang atau diukur oleh dua orang
personil yang independen, dan pembuktian tersebut dicatat.
Ruang timbang dan penyerahan hendaklah dijaga kebersihannya. Bahan
awal steril yang akan dipakai untuk produk steril hendaklah ditimbang dan
diserahkan di area steril (lihat Glosarium: Ruang Steril). Kegiatan penimbangan
dan penyerahan hendaklah dilakukan dengan memakai peralatan yang sesuai dan
bersih.
Bahan awal, produk antara dan produk ruahan yang diserahkan hendaklah
diperiksa ulang kebenarannya dan ditandatangani oleh supervisor produksi
sebelum dikirim ke area produksi. Sesudah ditimbang atau dihitung, bahan untuk
tiap bets hendaklah disimpan dalam satu kelompok dan diberi penandaan yang
jelas.
6. Pengembalian
Semua bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk ruahan yang
dikembalikan ke gudang penyimpanan hendaklah didokumentasikan dengan
benar dan direkonsiliasi. Bahan awal, bahan pengemas, produk antara dan produk
ruahan hendaklah tidak dikembalikan ke gudang penyimpanan kecuali memenuhi
spesifikasi yang telah ditetapkan.
7. Operasi Pengolahan–Produk Antara Dan Produk Ruahan
Semua bahan yang dipakai di dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum
dipakai. Kegiatan pembuatan produk yang berbeda tidak boleh dilakukan
bersamaan atau berurutan di dalam ruang yang sama kecuali tidak ada risiko
terjadinya kecampurbauran atau pencemaran silang.
Kondisi lingkungan di area pengolahan hendaklah dipantau dan dikendalikan
agar selalu berada pada tingkat yang dipersyaratkan untuk kegiatan pengolahan.
Sebelum kegiatan pengolahan dimulai hendaklah diambil langkah untuk
memastikan area pengolahan dan peralatan bersih dan bebas dari bahan awal,
produk atau dokumen yang tidak diperlukan untuk kegiatan pengolahan yang
akan dilakukan.
Semua peralatan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah diperiksa sebelum
digunakan. Peralatan hendaklah dinyatakan bersih secara tertulis sebelum
digunakan. Semua kegiatan pengolahan hendaklah dilaksanakan mengikuti
prosedur yang tertulis. Tiap penyimpangan hendaklah dipertanggungjawabkan
dan dilaporkan.
Wadah dan tutup yang dipakai untuk bahan yang akan diolah, produk antara
dan produk ruahan hendaklah bersih dan dibuat dari bahan yang tepat sifat dan
jenisnya untuk melindungi produk atau bahan terhadap pencemaran atau
kerusakan. Semua wadah dan peralatan yang berisi produk antara hendaklah
diberi label dengan benar yang menunjukkan tahap pengolahan. Sebelum label
ditempelkan, semua penandaan terdahulu hendaklah dihilangkan.
Semua produk antara dan ruahan hendaklah diberi label. Semua pengawasan
selama-proses yang dipersyaratkan hendaklah dicatat dengan akurat pada saat
pelaksanaannya. Hasil nyata tiap tahap pengolahan bets hendaklah dicatat dan
diperiksaserta dibandingkan dengan hasil teoritis.
Penyimpangan yang signifikan dari hasil standar hendaklah dicatat dan
diinvestigasi. Dalam semua tahap pengolahan perhatian utama hendaklah
diberikan kepada masalah pencemaran silang. Batas waktu dan kondisi
penyimpanan produk dalam-proses hendaklah ditetapkan. Untuk sistem
komputerisasi yang kritis hendaklah disiapkan sistem pengganti manakala terjadi
kegagalan.
8. Bahan Dan Produk Kering
Untuk mengatasi masalah pengendalian debu dan pencemaran-silang yang
terjadi pada saat penanganan bahan dan produk kering, perhatian khusus
hendaklah diberikan pada desain, pemeliharaan serta penggunaan sarana dan
peralatan. Apabila layak hendaklah dipakai sistem pembuatan tertutup atau
metode lain yang sesuai. Sistem penghisap udara yang efektif hendaklah dipasang
dengan letak lubang pembuangan sedemikian rupa untuk menghindarkan
pencemaran dari produk atau proses lain. Sistem penyaringan udara yang efektif
atau sistem lain yang sesuai hendaklah dipasang untuk menyaring debu.
Pemakaian alat penghisap debu pada pembuatan tablet dan kapsul sangat
dianjurkan.
Perhatian khusus hendaklah diberikan untuk melindungi produk terhadap
pencemaran serpihan logam atau gelas. Pemakaian peralatan gelas sedapat
mungkin dihindarkan. Ayakan, punch dan die hendaklah diperiksa terhadap
keausan atau kerusakan sebelum dan setelah pemakaian. Hendaklah dijaga agar
tablet atau kapsul tidak ada yang terselip atau tertinggal tanpa terdeteksi di
mesin, alat penghitung atau wadah produk ruahan.
 Pencampuran dan Granulasi
Mesin pencampur, pengayak dan pengaduk hendaklah dilengkapi
dengan sistem pengendali debu, kecuali digunakan sistem tertutup. Parameter
operasional yang kritis (misal: waktu, kecepatan dan suhu) untuk tiap proses
pencampuran, pengadukan dan pengeringan hendaklah tercantum dalam
dokumen produksi induk, dan dipantau selama proses berlangsung serta
dicatat dalam catatan bets.
Kantong filter yang dipasang pada mesin pengering fluid bed tidak
boleh dipakai untuk produk yang berbeda tanpa pencucian lebih dahulu.
Untuk produk yang berisiko tinggi atau yang dapat menimbulkan sensitisasi
hendaklah digunakan kantong filter khusus bagi masing-masing produk.
Udara yang masuk ke dalam alat pengering ini hendaklah disaring.
Hendaklah dilakukan tindakan pengamanan untuk mencegah pencemaran
silang oleh debu yang keluar dari alat pengering tersebut. Pembuatan dan
penggunaan larutan atau suspensi hendaklah dilaksanakan sedemikian rupa
sehingga risiko pencemaran atau
pertumbuhan mikroba dapat diperkecil.
 Pencetakan Tablet
Mesin pencetak tablet hendaklah dilengkapi dengan fasilitas
pengendali debu yang efektif dan ditempatkan sedemikian rupa untuk
menghindarkan kecampurbauran antar produk. Tiap mesin hendaklah
ditempatkan dalam ruangan terpisah. Kecuali mesin tersebut digunakan untuk
produk yang sama atau dilengkapi sistem pengendali udara yang tertutup
maka dapat ditempatkan dalam ruangan tanpa pemisah.
Untuk mencegah kecampurbauran perlu dilakukan pengendalian yang
memadai baik secara fisik, prosedural maupun penandaan. Hendaklah selalu
tersedia alat timbang yang akurat dan telah dikalibrasi untuk pemantauan
bobot tablet selama-proses.
Tablet yang diambil dari ruang pencetak tablet untuk keperluan
pengujian atau keperluan lain tidak boleh dikembalikan lagi ke dalam bets
yang bersangkutan. Tablet yang ditolak atau yang dising-kirkan hendaklah
ditempatkan dalam wadah yang ditandai dengan jelas mengenai status dan
jumlahnya dicatat pada Catatan Pengolahan Bets.
Tiap kali sebelum dipakai, punch dan die hendaklah diperiksa keausan
dan kesesuaiannya terhadap spesifikasi. Catatan pemakaian hendaklah
disimpan.
 Penyalutan
Udara yang dialirkan ke dalam panci penyalut untuk pengeringan
hendaklah disaring dan mempunyai mutu yang tepat. Larutan penyalut
hendaklah dibuat dan digunakan dengan cara sedemikian rupa untuk
mengurangi risiko pertumbuhan mikroba. Pembuatan dan pemakaian larutan
penyalut hendaklah didokumen tasikan.
 Pengisian Kapsul Keras
Cangkang kapsul hendaklah diperlakukan sebagai bahan awal. Cangkang
kapsul hendaklah disimpan dalam kondisi yang dapat mencegah kekeringan
dan kerapuhan atau efek lain yang disebabkan oleh kelembaban. Persyaratan-
persyaratan yang tertulis pada Butir 6.89 – 6.93 pada Pencetakan Tablet juga
berlaku untuk pengisian kapsul keras.
 Penandaan Tablet Salut dan Kapsul
Hendaklah diberikan perhatian khusus untuk menghindarkan
kecampurbauran selama proses penandaan tablet salut dan kapsul. Bilamana
dilakukan penandaan pada produk atau bets yang berbeda dalam saat yang
bersamaan hendaklah dilakukan pemisahan yang memadai. Tinta yang
digunakan untuk penandaan hendaklah yang memenuhi persyaratan untuk
bahan makanan. Hendaklah diberikan perhatian khusus untuk menghindarkan
kecampurbauran selama proses pemeriksaan, penyortiran dan pemolesan
kapsul dan tablet salut.
9. Produk Cair Krim dan Salep
 Cairan, Krimdan Salep (Non-steril)
a. Produk berupa cairan, krim dan salep hendaklah dibuat sedemikian rupa
agar produk terlindung dari pencemaran mikroba dan pencemaran lain.
Sistem pembuatan dan pemindahan secara tertutup sangat dianjurkan.
Daerah produksi dimana produk dan juga wadah-wadah bersih tanpa tutup
terpapar ke lingkungan hendaklah diventilasi secara efektif dengan
udarayang disaring.
b. Peralatan tanki, wadah, pipa dan pompa yang digunakan hendaklah
dirancang dan dipasang sedemikian rupa sehingga memudahkan
pembersihan dan sanitasi bila perlu. Dalam merancang peralatan
hendaklah diperhatikan agar tidak terdapat lekukan atau sambungan mati
(‘dead-legs’) atau bagian-bagian di mana kotoran dapat terkumpul
danmenumbuhkan mikroba.
c. Peralatan gelas sedapat mungkin dihindarkan penggunaannya. Baja tahan
karat berkualitas tinggi adalah bahan pilihan untuk bagian peralatan yang
bersentuhan denganproduk yang sedang diproses.
d. Kualitas kimiawi dan mikrobiologi air yang digunakan hendaklah
ditetapkan dan selalu dipantau. Air hendaklah memiliki bilangan kuman
dalam batas ambang yang dapat diterima. Sistem pengadaan air proses
yang disanitasi dengan bahan kimia hendaklah divalidasi untuk
memastikan bahan sanitasinya telah dibersihkan secara efektif.
e. Perhatian hendaklah diberikan pada sistempemindahan bahan melalui pipa
untuk memastikan bahan tersebutpindah ke tujuan yang tepat.
f. Apabilajaringan pipa digunakan untuk mengalirkan bahan baku atau
produk ruahan, hendaklah diusahakan agar sistem tersebut mudah
dibersihkan. Jaringan pipa hendaklah dirancang dan dipasang dengan tepat
sehinga mudah dibongkar dan dibersihkan.
g. Ketelitian suatu sistem pengukur hendaklah diverifikasi. Tongkat
pengukur hanyaboleh digunakan untuk wadah tertentu dan telah
dikalibrasi untuk wadah yang bersangkutan. Tongkat ini hendaklah dibuat
dari bahan yang tidak bereaksi dan tidak menyerap.
h. Perhatian hendaklah diberikan untuk mempertahankan homogenitas
campuran, suspensi dan produk lain selama pengisian. Proses
pencampuran dan pengisian hendaklahdivalidasi. Perhatian khusus
hendaklah diberikan pada awal, sesudah penghentian dan pada akhir
proses pengisian untuk memastikan produk selalu dalam keadaan
homogen.
i. Apabila produk ruahan tidak akan segera dikemas maka waktu paling
lama produk boleh disimpan dan kondisi penyimpanan produk hendaklah
ditetapkan dan diikuti.
 Produk Steril
a. Produk steril hendaklah dibuat dengan pengawasan khusus dan
memperhatikan hal-hal terinci dengan tujuan untuk menghilangkan
pencemaran mikroba dan partikel lain. Hal ini banyak tergantung pada
keterampilan, latihan dan sikap dari orang yang terjibat. Dibandingkan
dengan pembuatan obat jenis lain pembuatan obat steril memerlukan
perhatian yang lebih besar. Pengawasan dalam proses dalam pembuatan
produk steril merupakan hal yang sangat penting.
b. Menurut cara produksi, produk steril dapat digolongkan dalam dua
kategori utama yaitu yang harus diproses dengan cara aseptik pada semua
tahap, dan yang disterilkan dalam wadah akhir yang disebut juga
sterilisasi akhir. Bilamungkin, produk steril hendaklah disterilisasi akhir.
c. Semuaproduk steril hendaklah dibuat pada kondisi yang terkendali dan
dipantau dengan teliti. Pelaksanaan proses akhir atau pengujian akhir tidak
dapat dijadikan sebagai satu-satunya andalan untuk menjamin mutu
produk akhir dalam hal kandungan mikroba dan partikel.
d. Untuk mendapat keyakinan terhadap sterilisasi produk steril yang dibuat
secara aseptik tanpa sterilisasi akhir diperlukan tindakan khusus.
e. Untuk membuat produk steril diperlukan suatu ruangan terpisah yang
khusus dirancang. Memasuki ruangan ini hendaklah melalui suatu ruang
penyangga udara atau jalan terusan lain yang sesuai. Ruangan hendaklah
selalu bebas debu dan dialiri udara yang melewati saringan
bakteri.Tekanan udara dalam ruangan hendaklah lebih tinggi dari ruangan
di sebelah.Saringan yang digunakan ini hendaklah diperiksa pada waktu
pemasangan dan secara berkala.Semua permukaan dalam daerah
pengolahan hendaklah dirancang dengan tepat sehingga memudahkan
kebersihan dan pembasmihamaan. Penghitungan rutin mikroba dalam
ruangan hendaklah dilakukan sebelum dan selama proses pengolahan.
Hasil perhitungan hendaklah dibandingkan dengan standar yang telah
ditetapkan. Data perhitungan mikroba hendaklah didokumentasikan.
Pembuatan produk steril memerlukan tiga kualitas ruangan yang berbeda:
 Ruang ganti pakaian dimana di satu daerah pakaian kerja pabrik
ditanggalkan dan di daerah sebelahnya yang bersih pakaian pelindung
steril dikenakan.
 Ruang bersih yang digunakan untuk kegiatan bersih namun tidak harus
kegiatan steril. Ruang ini digunakan juga untuk persiapan komponeft
dan pembuatan larutan. Produk yang akan disterilisasi akhir dapat
diproses di ruang ini. Ruang ini, dalam pedoman disebut Ruang Kelas
HI, tidak boleh mengandung lebih dari 3.500.000 partikel berukuran
0,5 mikron atau lebih, 20.000 partikel berukuran 5 mikron atau lebih,
serta tidak lebih dari 500 mikroba viabel setiap meter kubik udara.
 Ruang steril digunakan untuk kegiatan steril. Petugas masuk ke ruang
ini melalui suatu ruang penyangga udara atau cara lain yang sesuai.
Ruang ini, dalam pedoman disebut Ruang Kelas II, tidak boleh
mengandung lebih dari dari 350.000 partikel berukuran 0,5 mikron
atau lebih, 2000 partikel berukuran 5 mikron atau lebih, serta tidak
lebih dari 100 mikroba viabel setiap meter kubik udara. Setiap meter
kubik udara di bawah aliran udara laminer dalam ruang steril tidak
boleh mengandung lebih dari 3.500 partikel berukuran 0,5 mikron atau
lebih dan tidak boleh mengandung partikel berukuran 5 mikron atau
lebih serta kandungan mikroba viabel harus kurang dari satu. Dalam
pedoman.daerah di bawah aliran udara laminer disebut Ruang Kelas I.
 Penting diperhatikan bahwa kontaminasi mikroba di ruangan bersih
dan ruangan steril tidak melebihi nilai batas yang ditentukan. Daerah
ini hendaklah dipantau terhadap kontaminasi mikroba.
 Karena sifat alamiah produk, maka untuk melindungi produk
terhadappencemaran mikroba dianjurkan agar semua alat yang
berhubungan langsungdengan produk didisinfeksi lebih dahulu
sebelum dipakai, misal dengan etanol70%, isopropanol atau hidrogen
peroksida 3%.
 Sistem tertutup adalah suatu sistem di mana produk hampir tidak
terpapar kelingkungan selama proses dan sedikit sekali melibatkan
operator. Produk cairdisaring dan ditransfer ke holding tank melalui
pipa sebelum produk tersebutdiisikan ke dalam wadah akhirnya
10. Bahan pengemas
Pengadaan, penanganan dan pengawasan bahan pengemas primer dan bahan
pengemas cetak serta bahan cetak lain hendaklah diberi perhatian yang sama
seperti terhadap bahan awal. Perhatian khusus hendaklah diberikan kepada
bahan cetak. Bahan cetak tersebut hendaklah disimpan dengan kondisi keamanan
yang memadai dan orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Label lepas
dan bahan cetak lepas lain hendaklah disimpan dan diangkut dalam wadah
tertutup untuk menghindarkan campur baur. Bahan pengemas hendaklah
diserahkan kepada orang yang berhak sesuai prosedur yang disetujui.
Tiap penerimaan atau tiap bets bahan pengemas primer hendaklah diberi
nomor yang spesifik atau penandaan yang menunjukan identitasnya. Bahan
pengemas primer, bahan pengemas cetak atau bahan cetak lain yang tidak berlaku
lagi atau obsolete hendaklah dimusnahkan dan pemusnahanya dicatat. Untuk
menghindari campur baur, hanya satu jenis bahan pengemas cetak atau bahan
cetak tertentu saja yang diperbolehkan diletakkan di tempat pada saat yang sama.
Hendaklah ada sekat pemisah yang memadai antar tempat kodifikasi tersebut.
11. Kegiatan pengemasan
Kegiatan pengemasan berfungsi mengemas produk ruahan menjadi produk
jadi. Pengemasan hendaklah dilaksanakan di bawah pengendalian yang ketat
untuk menjaga identitas, keutuhan dan mutu produk akhir yang dikemas. Semua
kegiatan pengemasan hendaklah dilaksanakan sesuai dengan instruksi yang
diberikan dan menggunakan bahan pengemas yang tercantum dalam prosedur
pengemasan induk. Rincian pelaksanaan pengemasan hendaklah dicatat dalam
catatan pengemasan bets. Rincian pelaksanaan kegiatan hendaklah dicatat dalam
Catatan Pengemasan Bets.
Pemeriksaan kesiapan jalur sesuai dengan prosedur tertulis yang disetujui
oleh kepala bagian managemen mutu untuk:
a) Memastikan bahwa semua bahan dan produk yang sudah dikemas telah benar
disingkirkan dari jalur pengemasan sebelumnya dan area sekitarnya.
b) Memeriksa jalur dan area sekitarnya serta kebersihan peralatan yang akan
dipakai.
Penyelesaian kegiatan pengemasan diperiksa dengan cermat untuk
memastikan bahwa kemasan produk tersebut sepenuhnya sesuai dengan prosedur
pengemasan induk. Hanya produk yang berasal dari satu bets dari 1 kegiatan
pengemasan saja yang boleh ditempatkan pada 1 palet. Setelah proses
rekonsiliasi, kelebihan bahan pengemas dan produk ruahan yang akan
disingkirkan hendaklah diawasi dengan ketat agar hanya bahan dan produk yang
dinyatakan memenuhi syarat saja yang dapat dikembalikan ke gudang untuk
dimanfaatkan kembali. Setelah rekonsiliasi disetujui, produk jadi hendaklah
ditempatkan di area karantina produk jadi sambil menunggu pelulusan dari kepala
bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu).
12. Pengawasan Selama Proses
Untuk memastikan keseragaman bets dan keutuhan obat, prosedur tertulis
yang menjelaskan pengambilan sampel, pengujian atau pemeriksaan yang harus
dilakukan selama proses dari tiap bets produk hendaklah dilaksanakan sesuai
dengan metode yang telah disetujui oleh kepala bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu) dan hasilnya dicatat. Pengawasan tersebut dimaksudkan untuk
memantau hasil dan memvalidasi kinerja dari proses produksi yang mungkin
menjadi penyebab variasi karakteristik produk selama proses berjalan.
Prosedur tertulis untuk pengawasan selama-proses hendaklah dipatuhi.
Prosedur tersebut hendaklah menjelaskan titik pengambilan sampel, frekuensi
pengambilan sampel, jumlah sampel yang diambil, spesifikasi yang nharus
diperiksa dan batas penerimaan untuk tiap spesifikasi.
Di samping itu, pengawasan-selamaproses hendaklah mencakup, tapi tidak
terbatas pada prosedur umum sebagai berikut:
a. semua parameter produk, volume atau jumlah isi produk hendaklah diperiksa
pada saat awal dan selama proses pengolahan atau pengemasan; dan
b. kemasan akhir hendaklah diperiksa selama proses pengemasan dengan selang
waktu yang teratur untuk memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi dan
memastikan semua komponen sesuai dengan yang ditetapkan dalam Prosedur
Pengemasan Induk.
Selama proses pengolahan dan pengemasan bets hendaklah diambil sampel
pada awal, tengah dan akhir proses oleh personil yang ditunjuk. Hasil
pengujian/inspeksi selama proses hendaklah dicatat, dan dokumen tersebut
hendaklah menjadi bagian dari catatan bets. Spesifikasi pengawasan-selama-
proses hendaklah konsisten dengan spesifikasi produk. Spesifikasi tersebut
hendaklah berasal dari hasil rata-rata proses sebelumnya yang diterima dan bila
mungkin dari hasil estimasi variasi proses dan ditentukan dengan menggunakan
metode statistis yang cocok bila ada.

13. Bahan Dan Produk Yang Ditolak, Dipulihkan Dan Dikembalikan


Bahan dan produk yang ditolak hendaklah diberi penandaan yang jelas dan
disimpan terpisah di “area terlarang” (restricted area). Bahan atau produk
tersebut hendaklah dikembalikan kepada pemasoknya atau, bila dianggap perlu,
diolah ulang atau dimusnahkan. Langkah apa pun yang diambil hendaklah lebih
dulu disetujui oleh kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) dan dicatat.
Pengolahan ulang produk yang ditolak hendaklah merupakan suatu
kekecualian. Hal ini hanya diperbolehkan jika mutu produk akhirnya tidak
terpengaruh, bila spesifikasinya dipenuhi dan prosesnya dikerjakan sesuai dengan
prosedur yang telah ditetapkan dan disetujui setelah dilakukan evaluasi terhadap
risiko yang mungkin timbul. Catatan pengolahan ulang hendaklah disimpan.
Pemulihan semua atau sebagian dari bets sebelumnya, yang memenuhi
persyaratan mutu, dengan cara penggabungan ke dalam bets lain dari produk yang
sama pada suatu tahap pembuatan obat, hendaklah diotorisasi sebelumnya.
Pemulihan ini hendaklah dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan
setelah dilakukan evaluasi terhadap risiko yang mungkin terjadi, termasuk
kemungkinan pengaruh terhadap masa edar produk. Pemulihan ini hendaklah
dicatat.
Kebutuhan pengujian tambahan hendaklah dipertimbangkan oleh kepala
Pengawasan Mutu terhadap produk hasil pengolahan ulang atau bets yang
mendapat penambahan dari produk pulihan. Bets yang mengandung produk
pulihan hanya boleh diluluskan setelah semua bets asal produk pulihan yang
bersangkutan telah dinilai dan dinyatakan memenuhi spesifikasi yang ditetapkan
(CPOB, 2012).
 Produk Kembalian
Produk yang dikembalikan dari peredaran dan telah lepas dari
pengawasan industri pembuat hendaklah dimusnahkan. Produk tersebut dapat
dijual lagi, diberi label kembali atau dipulihkan ke bets berikut hanya bila
tanpa keraguan mutunya masih memuaskan setelah dilakukan evaluasi secara
kritis oleh kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) sesuai prosedur
tertulis. Evaluasi tersebut meliputi pertimbangan sifat produk, kondisi
penyimpanan khusus yang diperlukan, kondisi dan riwayat produk serta lama
produk dalam peredaran. Bilamana ada keraguan terhadap mutu, produk tidak
boleh dipertimbangkan untuk didistribusikan atau dipakai lagi, walaupun
pemrosesan ulang secara kimia untuk memperoleh kembali bahan aktif
dimungkinkan. Tiap tindakan yang diambil hendaklah dicatat dengan baik.
Industri hendaklah menyiapkan prosedur untuk penahanan,
penyelidikan dan pengujian produk kembalian serta pengambilan keputusan
apakah produk kembalian dapat diproses ulang atau harus dimusnahkan
setelah dilakukan evaluasi secara kritis. Berdasarkan hasil evaluasi, produk
kembalian dapat dikategorikan sebagai berikut:
a) produk kembalian yang masih memenuhi spesifikasi dan karena itu dapat
dikembalikan ke dalam persediaan;
b) produk kembalian yang dapat diproses ulang; dan
c) produk kembalian yang tidak memenuhi spesifikasi dan tidak dapat
diproses ulang.
Prosedur hendaklah mencakup:
a. Identifikasi dan catatan mutu produk kembalian;
b. penyimpanan produk kembalian dalam karantina;
c. penyelidikan, pengujian dan analisis produk kembalian oleh bagian
Pengawasan Mutu;
d. evaluasi yang kritis sebelum manajemen mengambil keputusan apakah
produk dapat diproses ulang atau tidak; dan
e. pengujian tambahan terhadap persyaratan dari produk hasil pengolahan
ulang.
Produk kembalian yang tidak dapat diolah ulang hendaklah dimusnahkan.
Prosedur pemusnahan bahan atau pemusnahan produk yang ditolak hendaklah
disiapkan. Prosedur ini hendaklah mencakup tindakan pencegahan terhadap
pencemaran lingkungan dan penyalahgunaan bahan atau produk oleh orang yang
tidak mempunyai wewenang (CPOB, 2012).
 Dokumentasi
Penanganan produk kembalian dan tindak lanjutnya hendaklah
didokumentasikan dan dilaporkan. Bila produk harus dimusnahkan, dokumentasi
hendaklah mencakup berita acara pemusnahan yang diberi tanggal dan
ditandatangani oleh personil yang melaksanakan dan personil yang menyaksikan
pemusnahan (CPOB,2012).
14. Karantina Dan Penyerahan Produk Jadi
Karantina produk jadi merupakan tahap akhir pengendalian sebelum
penyerahan ke gudang dan siap untuk didistribusikan. Sebelum diluluskan untuk
diserahkan ke gudang, pengawasan yang ketat hendaklah dilaksanakan untuk
memastikan produk dan catatan pengemasan bets memenuhi semua spesifikasi
yang ditentukan.
Prosedur tertulis hendaklah mencantumkan cara penyerahan produk jadi ke
area karantina, cara penyimpanan sambil menunggu pelulusan, persyaratan yang
diperlukan untuk memperoleh pelulusan, dan cara pemindahan selanjutnya ke
gudang produk jadi. Selama menunggu pelulusan dari bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu), seluruh bets/lot yang sudah dikemas hendaklah ditahan dalam
status karantina. Kecuali sampel untuk pengawasan mutu, tidak boleh ada
produk yang diambil dari suatu bets/lot selama produk tersebut masih ditahan di
area karantina.
Area karantina merupakan area terbatas hanya bagi personil yang benar-
benar diperlukan untuk bekerja atau diberi wewenang untuk masuk ke area
tersebut. Produk jadi yang memerlukan kondisi penyimpanan khusus hendaklah
diberi penandaan jelas yang menyatakan kondisi penyimpanan yang diperlukan,
dan produk tersebut hendaklah disimpan di area karantina dengan kondisi yang
sesuai.
Pelulusan akhir produk hendaklah didahului dengan penyelesaian yang
memuaskan dari paling tidak hal sebagai berikut:
a) produk memenuhi persyaratan mutu dalam semua spesifikasi pengolahan
dan pengemasan
b) sampel pertinggal dari kemasan yang dipasarkan dalam jumlah yang
mencukupi untuk pengujian di masa mendatang;
c) pengemasan dan penandaan memenuhi semua persyaratan sesuai hasil
pemeriksaan oleh bagian Pengawasan Mutu;
d) rekonsiliasi bahan pengemas cetak dan bahan cetak dapat diterima; dan
e) produk jadi yang diterima di area karantina sesuai dengan jumlah yang
tertera pada dokumen penyerahan barang.

Setelah pelulusan suatu bets/lot oleh bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu),
produk tersebut hendaklah dipindahkan dari area karantina ke gudang produk
jadi. Sewaktu menerima produk jadi, personil gudang hendaklah mencatat
pemasukan bets tersebut ke dalam kartu stok yang bersangkutan (CPOB,2012).
15. Catatan Pengendalian Pengiriman Obat
Sistem distribusi hendaklah didesain sedemikian rupa untuk memastikan
produk yang pertama masuk didistribusikan lebih dahulu. Sistem distribusi
hendaklah menghasilkan catatan sedemikian rupa sehingga distribusi tiap bets/lot
obat dapat segera diketahui untukmempermudah penyelidikan atau penarikan
kembali jika diperlukan.
Prosedur tertulis mengenai distribusi obat hendaklah dibuat dan dipatuhi.
Penyimpangan terhadap konsep first-in first-out (FIFO) atau first-expire first-
out (FEFO) hendaklah hanya diperbolehkan untuk jangka waktu yang pendek
dan hanya atas persetujuan manajemen yang bertanggung jawab.
16. Penyimpanan Bahan Awal, Bahan Pengemas, Produk Antara, Produk
Ruahan Dan Produk Jadi
Semua bahan dan produk hendaklah disimpan secara rapi dan teratur untuk
mencegah risiko kecampurbauran atau pencemaran serta memudahkan
pemeriksaan dan pemeliharaan. Bahan dan produk hendaklah diletakkan tidak
langsung di lantai dan dengan jarak yang cukup terhadap sekelilingnya. Bahan
dan produk hendaklah disimpan dengan kondisi lingkungan yang sesuai.
Penyimpanan yang memerlukan kondisi khusus hendaklah disediakan.
Kondisi penyimpanan obat dan bahan hendaklah sesuai dengan yang tertera
pada penandaan berdasarkan hasil uji stabilitas. Data pemantauan suhu
hendaklah tersedia untuk dievaluasi. Alat yang dipakai untuk pemantauan
hendaklah diperiksa pada selang waktu yang telah ditentukan dan hasil
pemeriksaan hendaklah dicatat dan disimpan. Semua catatan pemantauan
hendaklah disimpan untuk jangka waktu paling tidak sama dengan umur bahan
atau produk yang bersangkutan ditambah 1 tahun, atau sesuai dengan peraturan
pemerintah. Pemetaan suhu hendaklah dapat menunjukkan suhu sesuai batas
spesifikasi di semua area fasilitas penyimpanan. Disarankan agar alat pemantau
suhu diletakkan di area yang paling sering menunjukkan fluktuasi suhu.
Penyimpanan di luar gedung diperbolehkan untuk bahan yang dikemas
dalam wadah yang kedap (misalnya drum logam) dan mutunya tidak terpengaruh
oleh suhu atau kondisi lain. Kegiatan pergudangan hendaklah terpisah dari
kegiatan lain. Semua penyerahan ke area penyimpanan, termasuk bahan
kembalian, hendaklah didokumentasikan dengan baik.
Tiap bets bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan
produk jadi yang disimpan di area gudang hendaklah mempunyai kartu stok.
Kartu stok tersebut hendaklah secara periodik direkonsiliasi dan bila ditemukan
perbedaan hendaklah dicatat dan diberikan alasanbila jumlah yang disetujui
untuk pemakaian berbeda dari jumlah padasaat penerimaan atau pengiriman. Hal
ini hendaklah didokumentasikan dengan penjelasan tertulis.
 Penyimpanan Bahan Awal dan Bahan Pengemas
Pemisahan secara fisik atau cara lain yang tervalidasi (misalnya cara
elektronis) hendaklah disediakan untuk penyimpanan bahan atau produk yang
ditolak, daluwarsa, ditarik dari peredaran atau obat atau bahan kembalian.
Bahan atau produk, dan area penyimpanan tersebut hendaklah diberi identitas
yang tepat.
Semua bahan awal dan bahan pengemas yang diserahkan ke area
penyimpanan hendaklah diperiksa kebenaran identitas, kondisi wadah dan
tanda pelulusan oleh bagian Pengawasan Mutu. Bila identitas atau kondisi
wadah bahan awal atau bahan pengemas diragukan atau tidak sesuai dengan
persyaratan identitas atau kondisinya, wadah tersebut hendaklah dikirim ke
area karantina. Selanjutnya pihak Pengawasan Mutu hendaklah menentukan
status bahan tersebut.
Bahan awal dan bahan pengemas yang ditolak hendaklah tidak disimpan
bersama-sama dengan bahan yang sudah diluluskan, tapidalam area khusus
yang diperuntukkan bagi bahan yang ditolak.
Bahan cetak hendaklah disimpan di “area penyimpanan terlarang”
(restricted storage area) dan penyerahan di bawah pengawasan yang ketat.
Stok tertua bahan awal dan bahan pengemas dan yang mempunyai tanggal
daluwarsa paling dekat hendaklah digunakan terlebih dahulu prinsip FIFO dan
FEFO).
Bahan awal dan bahan pengemas hendaklah diuji ulang terhadap
identitas, kekuatan, mutu dan kemurnian, sesuai kebutuhan, misal:setelah
disimpan lama, atau terpapar ke udara, panas atau kondisi lain yang mungkin
berdampak buruk terhadap mutu.
 Penyimpanan Produk Antara, Produk Ruahan dan Produk jadi
Produk antara dan produk ruahan hendaklah disimpan pada kondisi
yang tepat. Tiap penerimaan hendaklah diperiksa untuk memastikan bahwa
bahan yang diterima sesuai dengan dokumen pengiriman. Tiap wadah produk
antara, produk ruahan dan produk jadi yang diserahkan ke area penyimpanan
hendaklah diperiksa kesesuaian identitas dan kondisi wadah.
Bila identitas atau kondisi wadah produk antara, produk ruahan dan
produk jadi diragukan atau tidak sesuai dengan persyaratan identitas atau
kondisinya, wadah tersebut hendaklah dikirim ke area karantina. Selanjutnya
pihak Pengawasan Mutu hendaklah menentukan status produk tersebut.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut
1. prinsip dan hakikat produksi
Prinsip utama produksi adalah:
a. Adanya keseragaman atau homogenitas dari bets ke bets.
b. Proses produksi dan pengemasan senantiasa menghasilkan produk yang
seidentik mungkin (dalam batas syarat mutu) baik bagi bets yang sudah
diproduksi maupun yang akan diproduksi

Sedangkan hakikat produksi adalah :


a. Mutu produk obat tidak ditentukan oleh hasil akhir analisa saja, tetapi
ditentukan oleh keseluruhan proses produksi (built in process).
b. Adanya prosedur baku (standar) untuk setiap langkah (tahapan) proses
produksi dengan persyaratan yang harus diikuti dengan konsisten.

2. Aspek Produksi Secara Umum Meliputi:


a. Produksi dilakukan dan diawasi oleh personil yang kompeten.
b. Penanganan bahan dan produk jadi dilakukan sesuai prosedur atau
instruksi tertulis.
c. Seluruh bahan yang diterima diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya
dengan pemesanannya.
d. Kerusakan wadah dan masalah lain yang merugikan mutu bahan harus
diselidiki, dicatat dan dilaporkan kepada bagian pengawasan mutu.
e. Bahan yang diterima dan produk jadi hendaklah dikarantina secaa fisik
atau administrative.
f. Produk antara dan produk ruahan yang diterima hendaklah ditangani
seperti penerimaan bahan awal.
g. Semua bahan dan produk jadi hendaklah disimpan secara teratur pada
kondisi yang disarankan dan diatur agar ada pemisahan antar bets dan
memudahkan rotasi stok.
h. Pemeriksaan jumlah hasil nyata dan rekonsiliasinya dilakukan sedemikian
untuk memastikan tidak ada penyimpangan dari batas yang telah
ditetapkan.
i. Pengolahan produk yang berbeda hendaklah tidak dilakukan bersamaan
atau bergantian dalam ruang kerja yang sama kecuali tidak ada resiko
terjadinya campur baur ataupun kontaminasi silang.
j. Tiap tahap pengolahan, produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap
pencemaran mikroba dan pencemaran lain.
k. Bila bekerja dengan bahan atau produk kering hendaklah dilakukan
tindakan khusus untuk mencegah debu timbul serta penyebarannya.
l. Selama pengolahan semua bahan, wadah produk ruahan, peralatan atau
mesin produksi dan ruang kerja hendaklah diberi label atau penandaan
dari produ atau bahan yang sedang diolah.
m. Label pada wadah, alat atau ruangan hendaklah jelas, tidak berarti ganda
dan dengan format yang telah ditetapkan.
n. pemeriksaan perlu dilakukan untuk memestikan pipa penyalur dan alat
lain.
o. penyimpangan terhadap instruksi atau prosedur sedapat mungkin
dihindarkan.
p. akses kebangunan dan fasilitas produksi hendaklah dibatasi hanya untuk
personil yang berwenang.
q. Pada umumnya pembuatan produk no-obat hendaklah dihindarkan dibuat
di area dan dengan peralatan yang khusus untuk produk obat.

3. Pedoman CPOB pada proses produksi meliputi : bahan awal, validasi proses,
pencegahan pencemaran silang, sistem penomoran bets/lot, penimbangan dan
penyerahan, pengembalian, operasi pengolahan–produk antara dan produk
ruahan, bahan dan produk kering, produk cair krim dan salep, bahan
pengemas, kegiatan pengemasan, pengawasan selama proses, bahan dan
produk yang ditolak, dipulihkan dan dikembalikan, karantina dan penyerahan
produk jadi, catatan pengendalian pengiriman obat dan penyimpanan bahan
awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi

B. Saran
Kritik dan saran yang membenagun sangat dibutuhkan oleh penulis untuk
perbaikan makalah-makalah selanjutnya.