Anda di halaman 1dari 3

Cairan sulkus gingiva (CSG) berasal dari serum darah yang terdapat dalam sulkus gingiva baik gingiva

dalam
keadaan sehat maupun meradang.
Pada CSG dari gingiva yang meradang jumlah polimorfonuklear leukosit, makrofag, limfosit, monosit, ion
elektrolit, protein plasma dan endotoksin bakteri bertambah banyak sedangkan jumlah urea menurun.
Defenisi
Carranza Jr menyatakan bahwa CSG adalah suatu produk filtrasi fisiologis dari pembuluh darah yang
termodifikasi. Menurut Goldberg dan Cimasoni CSG adalah eksudat peradangan. Alfano menyatakan bahwa
kedua teori tersebut benar. Hipotesa Alfano membuktikan bahwa CSG dapat berasal dari jaringan gingiva yang
sehat, melalui mekanisme perubahan tekanan osmosis scbab adanya makromolekul.

Komposisi
Lebih dari 40 senyawa di dalam CSG sudah dianalisis, namun sumbernya sulit dibedakan mungkin dari pejamu,
bakteri atau keduanya, misalnya kolagenase bisa berasal dari fibroblast atau polimorfonuklear neutrofil tetapi
juga disekresikan oleh bakteri
- Darah
Materi darah yang ada pada CSG adalah polimorfonuiclear leukosit, neutrofil, monosit, makrofag dan limfosit.
Polimorfonuklear leukosit bermigrasi secara teratur dan terus-menerus dari pembuluh darah ke dalam epitel
perlekatan, menembus ke sulkus gingiva dan keluar ke ruang mulut.
Polimorfonuklear leukosit merupakan sel paling aktif yang keluar dari pembuluh darah melalui epitel
perlekatan masuk ke dalam sulkus gingiva. Schluger serta Kowashi menemukan lebih dari 500 leukosit setiap
detik yang bermigrasi ke ruang mulut dari gingiva dengan kondisi normal, pada mulut yang mempunyai geligi
lengkap. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa kecepatan migrasi polimorfonuklear leukosit mempunyai
hubungan dengan keparahan gingivitis. Neutrofil bermigrasi melalui epitel perlekatan ke sulkus gingiva. Pada
sulkus, neutrofil membentuk rintangan diantara epitel dan plak yang mungkin mencegah invasi bakteri pada
epitel dan jaringan ikat dibawahnya. Oleh karena itu, neutrofil dapat memperkecil efek merusak dari plak
bakteri. Sekitar 92 % leukosit yang ditemukan di dalam sulkus gingiva sehat berupa neutrofil. Jumlahnya dapat
meningkat dari 7x10 menjadi 20x10 per ml selama perubahan dari sulkus yang sehat menjadi saku gusi. Bila
terjadi kerusakan, seluruh sel ini akan melepaskan enzim cytosolle (enzim didalam sitoplasma sel) dan
konsentrasinya menggamberkan jumlah sel yang mati ketika terjadi lesi. Dua dari enzim ini, aspartate amino
transferase dan laciate dehydrogenase, secara luas digunakan dalam ilmu kedokteran selama beberapa
dekade dalam membantu mendiagnosis kematian sel dan kerusakan jaringan.
Monosit menupakan sel imatur yang mempunyai sedikit kemampuan untuk malewan agen-agen yang
menyebabkan infeksi. Konsentrasi sel monosit ini di delam darah antara 5-10%, Sel monosit hanya berada di
dalam darah selama 24 jam saja, untuk selanjutnya bermigrasi ke berbagai jaringan, menetap disana dan
berubah menjadi makrofag. Makrofag mempunyai kemampuan menelan partikel yang lebih besar dan
seringkali lima kali atau lebih jumlah partikel yang dapat ditelan neutrofil.
Limfosit adalah leukosit kedua terbanyak di dalam darah sesudah leukosit neutrofil. Antara 25-35 % dari
jumlah seluruh leukosit darah adalah limfosit. Jumlah ini akan bertambah pada tahap kronis dari suatu
peradangan karena infeksi. Limfosit tidak dapat melakukan fagositosis, tapi bukan berati limfosit kurang
penting dalam pertahanan tubuh. Sel-sel limfosit ini mempunyai fungsi yang sangat penting dalam mekanisme
pertalanan terhadap benda asing. Limfosit adalah sel yang menghasilkan antibodi terhadap berbagai benda
atau senyawa asing.
- Elektrolit
Konsentrasi elektrolit yang telah diukur pada CSG lebih tinggi daripada konsentrasi elektrolit di plasma. Ini
mencakup sodium, potasium, kalsium dan magnesium. Level sodium peda CSG bervariasi, diantara 159-222
mEq/L (milligramekivalen/liter). 91 Konsentrasi ion-ion tersebut akan meningkat pada keadaan gingiva
meradang. Selain itu Bang berpendapat, ion Ca++ dalam konsentrasi tinggi dapat berperan dalam
pembentukan kalkulus subgingiva.
-Protein
Konsentrasi protein total dari CSG telah digunakan pada masa lalu sebagai alat untuk mengevaluasi inflamasi
gingiva dan aktivitas penyakit periodontal. Pada keadaan sehat, seharusnya tidak ada protein yang hadir pada
celah gusi, meskipun saliva masuk ke sulkus. Protein pada CSG mungkin berasal dari gingiva yang terinflamasi,
bekteri pada plak gigi atau pemecahan neutrofil. Pada penelitian CSG secara histokimia didapatkan adanya
konsentrasi protein plasma total yang sama dengan yang ada dalam serum. Protein plasma dalam CSG
merupakan molekul-molekul kecil yang secara terus-menerus menembus lamina propria dinding pembuluh
darah masuk ke sulkus gingiva. Batas rujukan protein plasma total yang diperiksa dalam serum adalah 62-80 .
Shapiro dkk mengatakan bahwa konsentrasi protein dapat merupakan indikator radang jaringan gingiva. Selain
IgG, IgA, IgM, beberapa komponen komplemen C3, C4, CS dan C3 proaktivator juga ditemukan didalam CSG.
Ditemukannya C3, C4, C5 dan C3 proaktivator menunjukkan bahwa di dalam sulkus gingiva terjadi aktivasi
komplemen melalui jalur klasik dan alternatif. IgG spesifik terhadap sejumlah mikroorganisme spesifik rongga
mulut juga terdapat di dalam CSG. Pelepasan enzim lisosom dalam level yang tinggi oleh neutrofil, enzim
proteolitik seperti kolagenase, atau enzim intersitoplasmatik seperti laktase dehidrogenase dan aspartate
amino transterase dapat membantu memonitor perkembangan penyakit periodontal. Enzim proteolitik dan
substrat spesifiknya memainkan peran yang penting dalam timbulnya penyakit periodontal. Kolagenase, hasil
akhir dari kerusakan jaringan, juga adalah petunjuk dari kerusakan jaringan periodontal. Penelitian
sebelumnya melaporkan aktivitas kolagenase pada CSG atau jaringan gingiva dari pasien dengan periodontitis
lebih tinggi daripada mereka yang schat dan peneliti mengatakan aktivitasnya meningkat dengan keparahan
periodontitis.
-Sistem Fibrinolisis
Sistem ini adalah suatu sistem penghancuran fibrin yang merupakan salah saru faktor perekat epitel ke
jaringan gigi. Sebagaimana ditulis oleh Cimasoni, 30 tahun yang lalu Gustafsson dan Nilsson mendeteksi
produk sistem fibrinolisis pada CSG.
Perdarahan gingiva adalah tanda khas dari inflamasi pada periodonitis, memberi kesan penyakit dari sistem
pembekuan darah pada lesi-lesi seperti itu Korelasi positif antara kehadiran Porphyromonas gingivalis pada
poket periodontal dan kecenderungan berdarah telah diperlihatkan. Penelitian oleh Lantz mengindikasikan
bahwa Porphyromonas gingivalis mampu mengikat dan menurunkan fibrinogen. Data ini menguatkan dan
memperluas penemuan dari laporan terbaru yang menunjukkan bahwa mikroorganisme oral ini mempunyai
aktivitas fibrinogenolitik dan fibrinolitik. Enzim fibrinolitik yang diproduksi dalam kuantitas yang besar oleh
Porphyromonas gingivalis adalah faktor penting dalam periodontitis.
-Endotoksin
Kehadiran endotoksin bakteri mempunyai korelasi positif dengan inflamasi gingiva. Molekul ini ditemukan
pada membran luar dinding sel bakteri gram negatif. Level endotoksin berhubungan dengan jumlah bakteri
gram negatif.
Dinding sel bakteri gram jenis tertentu memproduksi enzim cysteine desulfhydrase yang membentuk H2S
dalam CSG. Diantara bakteri gram negatif, Porphyromonasgingivalis, Prevotella intermedia, Fusobacterium
nucleatum dan Treponema denticola adalah penghasil H2S terbesar. H2S ini merupakan suatu metabolit toksik
dan sebagai suatu substansi yang dapat menimbulkan bau mulut (halitosis) yang tidak menyenangkan. H2S
ditemukan dalam saku gusi oleh Rizzo, Horowitz dan Folke Horowitz dan Folke menemukan H,S pada 89%
poket periodontal dengan kedalaman 4 mm atau lebih, dan hanya 6% pada celah yang sehat dengan
kedalaman 2 mm atau kurang Solis-Gaffar dkk menemukan korelasi yang kuat antara volume CSG dan produksi
H2S. Hasil penelitian mereka menyatakan bahwa H2S pada CSG meningkat dengan keparahan dari inflamasi
gingiva.
-Sel Epitel Deskuamasi
Sel epitel deskuamasi yaitu sel-sel epitel perlekatan terluar yang terletak dekat dasar sulkus gingiva dan
menyusun pertahanan lokal (host). Sel-sel ini secara terus-menerus dilepaskan ke sulkus gingiva dan diganti
dengan sel yang bergeralka ke koronal dari area dasar epitel. Sel-sel ini berisi lisosom primer dan skunder dan
memiliki kapasitas fagosit. Kecepatan perpindahan sel epitel juga diarahkan dalam transisi pertahanan di
dalam rongga mulut.
- Urea
Klaven, Tylman dan Malone menemukan urea di dalam CSG. Tidak adapun yang melaporkan fungsi urea di
CSG, tetapi jumlah urea di CSG akan menurun jika terjadi peradangan lokal. Urea hadir dalam air liur dan CSG
3-10 mM pada individu yang sehat. Urea mungkin sumber nitrogen yang paling berharga pada rongga mulut.
MEKANISME PEMBENTUKAN CSG
Komponen seluler dan humoral dari darah dapat melewati epitel perlekatan yang terletak pada celah gusi
dalam bentuk CSG. Cairan sulkus gingiva mengalir yang secara terus-menerus melalui epitel dan masuk ke
sulkus gingiva dengan aliran yang sangat lambat, 0.24-1.56 mikroliter/menit pada daerah yang tidak
mengalami inflamasi. Aliran cairan ini akan meningkat bila terjadi gingivitis atau periodontitis.
Beberapa peneliti percaya bahwa aliran cairan ini bersifat sekunder pada peradangan yang disebabkan oleh
pengumpulan nikroba didaerah perlekatan dento-gingiva. Yang lainnya berpendapat bahwa aliran merupakan
proses fisiologis yang terus menerus. Hipotesa Alfano membuktikan bahwa CSG dapat berasal dari jaringan
gingiva yang sehat, melalui mekanisme perubahan tekanan osmosis sebab adanya makromolekul. Pendapat
yang banyak dianut saat ini adalah pada keadaan normal CSG yang mengandung leukosit ini akan melewati
epitel perlekatan menuju ke permukaan gigi. Cairan mengalir dari kapiler menuju ke jaringan subepitel, terus
ke epitel perlekatan. Dari sini cairan disekresikan dalam bentuk CSG bercampur dengan air liur di dalam rongga
mulut. Beberapa ahli berpendapat bahwa cairan ini berasal dari mikrosirkulasi jaringan gingiva. Kehadiran plak
didalam sulkus gingiva dan difusi dari molekul besar ke arah membran dasar cenderung menimbulkan
pembentukan tekanan osmosis sepanjang cairan berjalan dan muncul sebagai transudat/eksudat pada celah
gusi.
FUNGSI
Cairan sulkus gingiva dapat digunakan sebagai indikator untuk menilai keadsan jaringan periodontal secara
objektif. Beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan yang berarti antara volume CSG dan beratnya
radang periodontal dihubungkan dengan periodontitis atau gingivitis. Pada keadaan gingiva meradang, aliran
CSG akan bertambah besar karena adanya pertambahan permeabilitas pembuluh vaskular.
Cairan sulkus gingiva berperan dalam pencegahan terhadap terjadinya karies pada permukaan enamel dan
sementum yang halus sebab selain bersifat alkali yang dapat menunjang netralisasi asam yang dapat
ditemukan dalam proses karies di area gingival margin, CSG juga mempunyai aksi mekanis terhadap bakteri
dan benda- benda asing lainnya. Ini disebabkan oleh adanya aliran CSG yang terus-menerus. Bila bakteri atau
benda asing tertentu masuk ke sulkus gingiva segera akan lenyap dari sulkus karena disemburkan keluar oleh
aliran CSG

15 Nov 2019