Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit epilepsi merupakan penyakit yang sudah lama dikenal oleh


masyarakat , hal ini dapat dilihat dari banyaknya istilah yang muncul di
masyarakat seperti sawan, ayan, celengan. Sebagian masyarakat masih menilai
bahwa penyakit epilepsy adalah penyakit karena gangguan makhluk halus,
merupakan penyakit karenagangguan makhluk halus, merupakan penyakit
keturunan, sehingga menjadi stigma bagi penderitanya.
Setiap orang punya resiko satu di dalam 50 untuk mendapat epilepsi.
Pengguna narkotik dan peminum alkohol punya resiko lebih tinggi. Pengguna
narkotik mungkin mendapat seizure pertama karena menggunakan narkotik, tapi
selanjutnya mungkin akan terus mendapat seizure walaupun sudah lepas dari
narkotik.Di Inggris, satu orang diantara 131 orang mengidap epilepsi.
Epilepsi dapat menyerang anak-anak, orang dewasa, para orang tua
bahkan bayi yang baru lahir. Angka kejadian epilepsi pada pria lebih tinggi
dibandingkan pada wanita, yaitu 1-3% penduduk akan menderita epilepsi seumur
hidup. Di Amerika Serikat, satu di antara 100 populasi (1%) penduduk terserang
epilepsi, dan kurang lebih 2,5 juta di antaranya telah menjalani pengobatan pada
lima tahun terakhir. Menurut World Health Organization (WHO) sekira 50 juta
penduduk di seluruh dunia mengidap epilepsi (2004 Epilepsy.com).

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Epilepsi ?
2. Bagaimana etiologi dari epilepsi?
3. Apa saja faktor Presipitasi dari epilepsi?
4. Bagaimana patofisiologi dari epilepsi?
5. Bagaiman pathway dari epilepsi?
6. Apa saja manifestasi Klinis dari epilepsi?
7. Apa saja klasifikasi kejang?
8. Apa saja pemeriksaan diagnostik dari epilepsi?
9. Bagaimana penatalaksanan dari epilepsi?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian epilepsi
2. Untuk mengetahui bagaimana etiologi dari epilepsi
3. Untuk Mengetahui apa saja faktor Presipitasi dari epilepsi
4. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi dari epilepsi
5. Untuk mengetahui bagaiman pathway dari epilepsi
6. Untuk mengetahui apa saja manifestasi Klinis dari epilepsi
7. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi kejang
8. Untuk mengetahui apa saja pemeriksaan diagnostik dari epilepsi
9. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanan dari epilepsi

2
BAB II

PEMBAHASAN

KONSEP DASAR PENYAKIT EPILEPSI


A. Pengertian Epilepsi
Epilepsi dalah gejala kompleks dari banyak gangguan fungsi otak berat
yang dikarakteristikan oleh kejang berulang. Keadaan ini dapat dihubungkan
dengan kehilangan kesadaran, gerakan berlebihan atau kehilangan tonus otot atau
gerakan dan gangguan prilaku, alam perasaan, sensasi, dan persepsi. Sehingga
epilepsy bukan suatu penyakit tetapi suatu gejalan. Penyebab pasti dari suatu
penyakit belum diketahui (idiopatik) dan masuh menjadi spekluasi.

Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karakteristik kejang


berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersifat
reversible. Bangkitnya kejang ini disebabkan karena adanya focus-fokus iritatif
pada neuron sehingga menimbulkan letupan muatan listrik spontan yang
berlebihan dari sebagian atau seluruh daerah yang ada dalam otak. Sekalipun
neuron yang bersifat iritatif pada otak disebit epileptogenik.

B. Etiologi
Penyebab epilepsy terbagi atas 2 kelompok :

1. Epilepsi idopatiok , yang penyebabnya tidak diketahui , terjadi pada 50%


epilepsy anak-anak. Kejang atau serangan mungkin timbul pada usia anak-
anak menjelang dewasa
2. Epilepsy simptomatik, yang penyebabnya sangat bervariasi. Misalnya pada
usia dibawah 6 bulan bisanya disebabkan karena kelainan intra-uterin
(kelainan migrasi dan deferensiasi sel saraf), trauma lahir kelainan
kongentital, gangguan metabolic (hipoglikemia, hipokalemia, hipotermia),
infeksi saraf pusat. Penyebab lain adalah karena kejang demam, trauma
kepala, infeksi otak karena pembedahan, cedera kepala, tumor kepala.

3
C. Patofisiologi

Adannya predisposisi yang memungkinkan gangguan pada system listrik


dari sel-sel saraf pusat pada suatu bagian otak akan menjadikan sel-sel tersebut
memberikan muatan listrik yang abnormal, berlebihan, secara berulang, dan tidak
terkontrol (disritmia). Aktivitas serangan epilepsy dapat terjadi sesudah suatu
gangguan pada otak dan sebagian ditentukan oleh derajat dan lokasi dari lesi. Lesi
pada mesensefalon, thalamus, dan korteks serebri kemungkinan besar bersifat
epileptogenik, sedangkan lesi pada serebelum dan batang otak biasanya tidak
menimbulkan serangan epilepsi.

Pada tingkat membrane sel, neuron epileptik ditandai oleh fenomena


biokimia tertentu. Beberapa diantaranya adalah ketidastabilan membrane sel saraf
sehingga membrane sel saraf lebih mudah diaktifkan. Neuron hipersensitif dengan
ambang yang menurun, sehingga sudah terangsang, dan terangsang secara
berlebihan.

Situasi ini akan menyebabkan kondisi yang tidak terkontrol, pelepasan


abnormal terjadi dengan cepat. Dan seseorang dikatakan menuju kearah epilepsy.
Gerakan-gerakan fisik yang tidak teratur disebut kejang.

Akibat adanya disritmia muatan listrik pada bagian otak tertentu ini
memberikan manifestasi pada serangan awal kejang sederhana sampai gerakan
konvulsif memanjang dengan penurunan kesadaran.

Status epileptikus menimbulkan kebutuhan metabolic besar dan dapat


memengaruhi pernafasan. Terdapat beberapa kejadian henti nafas pada puncak
setiap kejang yang menimbulkan kongesti vena dan hipoksia otak. Episode
berulang anoksia dan pembengkakan serebral dapat menimbulkan kerusakan otak
janin yang tak reversible dan fatal. Faktor-faktor yang mencetuskan status
epileptikus meliputi gejala putus obat antikonvulsan, demam, dan infeksi
penyerta.

4
D. Pathway

Faktor Predisposisi
 Pascatrauma kelahiran, asfiksia neonatorum, pascacedera kepala
 Riwayat bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsi
 Adanya riwayat penyakit infeksi pada anak-anak
 Riwayat demam tinggi, riwayat gangguan metabolisme dan nutrisi/gizi

Gangguan pada system listrik dari sel-sel saraf pusat pada suatu bagian otak

Sel – sel memberikan muatan listrik yang abnormal,


berlebihan secara berulang dan tidak terkontrol

Periode pelepasan impuls yang tidak diinginkan

Aktivitas kejang umum, lama akut tanpa perbaikan


kesadaran penuh diantara serangan

Status Epileptikus Kebutuhan metabolik besar

Gangguan pernafasan Hiposia Otak

Kerusakan Otak permanen Edema serebral

Kejang parsial Kejang Umum Gangguan prilaku alam perasan


Sensasi dan persepsi

Peka rangsang Respon pascakejang Respon psikologi


(Postikal) - ketakutan
- depresi
Resiko tinggi cedera -Menarik diri
Respon fisik
HDR
Defisit perawatan diri Ansietas

5
E. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi adalah faktor yang mempermudah terjadinya serangan, yaitu:
1. Faktor sensori : cahaya yang berkedip-kedip, bunyi-bunyi yang mengejutkan,
air panas
2. Faktor sistemis : demam, pemyakit infeksi, obat-obat tertentu misalnya
golongan fenotiazin, klorpropamid, hipoglikemi, kelelahan fisik.
3. Faktor mental : stress, gangguan emosi.

F. Manifestasi Klinik

a. Manifestasi klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau


gangguan penginderaan.
b. Kelainan gambaran EEG
c. Dapat mengalami Aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik (Aura
dapat berupa perasaan tidak enak, melihat sesuatu, mencium bau-bauan tak enak,
mendengar suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala dan sebagainya).

G. Klasifikasi Kejang
Terdapat dua golongan utama epilepsy serangan parsial atau fokal yang mulai pada
suatu tempat tertentu di otak (biasanya di daerah korteks serebri) dan serangan
umum yang agaknya mencakup seluruh korteks serebri dan diensefalon.

1. Kejang umum adalah kejang yang menunjukan sinkronisasi keterlambatan semua


bagian otak pada kedua hemisfer. Mungkin ada kekakuan pada seluruh tubuh
yang diikuti dengan kejang yang bergantian dengan relaksasi dan kontraksi otot
(kontraksi tonik-klonik umum). Epilepsy tonik klonik merupakan yang klasik.
Serangan epilepsy ini ditamdai oleh adanya aura, diikuti oleh hilannya kesadaran
dan kejang tonik-klonik. Aura merupakan suatu indikasi sensorik yang merupakan
awal datangnya serangan epilepsi. Aura ini dapat berupa suatu rangsangan
penglihatan, pendegaran atau penciuman yang hanya berlangsung selama
beberapa saat.

6
Serangan epilepsy dimulai dengan kehihialangan kesadaran dengan cepat. Klien
kehilangan kemampuannya untuk tetap mempertahankan tubuh dalam posisi yang
tgak, gerakan tonik kemudian klonik, inkontinensia urin dan feses, disertai
disfungsi otonom lainnya. Pada fase tonik, otot-otot berkontraksi dan posisi tubuh
dapat terganggu. Fase ini hanya berlangsung beberapa detik. Fase klonik berupa
kontraksi dan relaksasi kelompok otot-otot yang berlawanan, sehingga
menimbulkan gerakan yang tersentak-sentak.
Yang termasuk dalam kejang umum adalah petit mall (absen), grand mall (tonik-
klonik), mioklonik dan atonik
a. Petit mall (Absen)
Kejang petit mall biasanya muncul setelah usia 4 tahun. Pada kejang petit mall
pasien mengalami kehilangan kesadaran sasaat (bengong), tanpa disertai
gerakan motorik involunter yang aneh. Pasien terkadang berhenti bicara saat
melakukan percakapan atau diam saat bekerja dengan pikiran kosongdan
kemudian melanjutkan aktivitasnya kembali. Serangan ini terjadi secara tiba-
tiba tanpa didahulu oleh aura. Saat setelah mengalami kejang pasien
menyadari ia telah mengalami masalah. Biasanya terjadi pada anak-anakn dan
mungkin menghilang awaktu remaja atau berganti dengan serangan tonik-
klonik.
b. Grand mall (tonik-klonik)
Merupakan serangan kejang yang melibatkan ekstensi klonik-tonik bilateral
ekstremitas yang sinkron. Biasanya serangan ini ditandai adanya aura seperti
sensai penglihatan atau pendengaran yang diikuti kehilangan kesadaran secara
mendadak. Pada saat seranagn ditandai adanya kekakuan ekstremitas , lidak
dapat tergigit, mulut berbusa, inkontinensia urin dan alvi, kehilangan
kesadaran yang mendadak. Setelah serangan pasien mengalami nyeri otot,
lemah dan letih, mengantuk dan tidur dalam jangka waktu lama, pasien
biasanya lupa apa yang terjadi

7
c. Mioklonik
Serangan ini ditandai adanya kontraksi kelompok otot tertentu secara singkat
dan tiba-tiba. Biasanya tidak ada kehilangan kesadaran selama serangan.
d. Atonik
Dahulu disebut akinetik, pasien mengalami kehilangan tonus tubuh dan
kesadaran sangat singkat, sehingga pasien dapat jatuh secara tiba-tiba, lemas
pada lutut.
2. Kejang fokal atau parsial adalah kejang yang menunjukan gambaran klinis
tentang awitan fokal dari sebagian atau satu hemisfer cerebral,. Kejang parsial
dibagi atas kejang parsial sederhana dan kejang parsial kompleks.
a. Kejang parsial sederhana dahulu disebut epilepsy jakson, pasien sadar akan
apa yang terjadi tetapi ia tidak mampu mengendalikannya. Gejala kejang ini
bisa hanya sensori, motorik, automatik atau ketiganya tergantung dari area
yang terkena. Biasanya adanya gerakan klonik dari jari tangan kemudian jari
tangan kemudian menjalar kelengan bawah atau keseluruh tubuh, gerkan
kepala atau leher menengok ke satu sisi, adanya halusinasi
b. Kejang parsial kompleks
Pada kejang parsial kompleks didapat adanya gangguan kesadaran misalnya
adanya gangguan kognitif, afektif, psikosensori dan psikomotor. Dahulu
dikenal dengan kejang lobus temporal. Gejala kejang ini misalnya adanya
disfasia, de-javi (kenal dengan peristiwa-peristiwa yang sebelumnya belum
pernah dialaminya), jamais-vu (tidak kenal dengan peristiwa yang pernah
dialaminya), adanya halusinasi, otomatisme (gerakan mengunyah-ngunyah,
atau menelan)

8
H. Perawatan Pasien Pasca Kejang
Selama Kejang
1. Berikan privasi dan perlindungan pada pasien dari penonton yang ingin tahu.
(pasien yang mempunyai aura [Penanda ancaman kejang] memerlukan waktu
untuk mencari tempat yang aman dan pribadi)
2. Mengamankan pasien dilantai, jika memungkinkan
3. Melindungi kepala dengan bantalan untuk mencegah cedera (dari membentur
permukaan keras)
4. Lepaskan pakaian yang ketat
5. Singkirkan semua perabot yang dapat mencederai pasien selama kejang
6. Jika pasien di tempat tidur, singkirkan bantal dan tinggikan pagar tempat tidur
7. Jika aura mendahului kejang, masukan spatel lidah yang diberi bantalan diantara
gigi-gigi, untuk menghindari lidah atau pipi tergigit.
8. Jangan berusaha untuk membuka rahang yang terkatup pada keadan spasme
untuk memasukan sesuatu . gigi patah dan cedera pada bibir dan lidah dap[at
terjadi karena tindakan ini
9. Tidak ada upaya dibuat untuk merestrein pasien selama, kejang, karena
kontraksi otot kuat dan restrein dapat menimbulkan cedera.
10. Jika memungkinkan tempatkan pasien miring pada salah satu sisi dengan kepala
fleksi kedepan yang memungkinkan lidah jatuh dan memudahkan pengeluaran
saliva dan mucus. Jika disediakan pengisapan, gunakan jika perlu untuk
membersihkan secret
Setelah kejang
1. Pertahankan pasien pada salah satu sisi untuk mencegah aspirasi. Yakinkan
bahwa jalan nafas paten
2. Biasanya terdapat period ekonfusi setelah kejang grand mall
3. Periode apnea pendek dapat terjadi selama atau secara tiba-tiba setelah kejang
4. Pasien pada saat bangun harus diorientasi terhadap lingkungan
5. Jika pasien mengalami serangan berat setelah kejang (postikal), coba untuk
menangani situasi dengan pendekatan yang lembut dan member restrein yang
lembu

9
I. Pemeriksaan Diagnostik

a. Elektrolit : tidak seimbang dapat berpengaruh atau menjadi predisposisi pada


aktivitas kejang
b. Glukosa : Hopoglikemi dapat menjadi presipitasi (pencetus)kejang
c. Ureum/keratin: meningkat dapat meningkatkan risiko timbulnya aktivitas
kejang atau mungkin sebagai indikasi nefrotoksik yang berhubungan dengan
pengobatan
d. Sel Darah Merah (SDM): Anemia aplastik mungkin sebagai akibat dari terapi
obat
e. Kadar obat pada serum: Untuk menentukan batas obat antiepilepsi yang
terapeutik
f. CT Scan adalah untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal,
serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif serebral
g. Elektroensefalogram (EEG) adalah untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu
serangan
h. Magnetik resonance imaging (MRI) : Melokalisasi lesi-leso fokal
i. Kimia darah: hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.

J. Penatalaksanaan

2) Dilakukan secara manual, juga diarahkan untuk mencegah terjadinya kejang


3) Farmakoterapià anti kovulsion untuk mengontrol kejang
4) Pembedahan untuk pasien epilepsi akibat tumor otak, abses, kista atau adanya
anomali vaskuler
5) Jenis obat yang sering digunakan
a. Phenobarbital (luminal).
Paling sering dipergunakan, murah harganya, toksisitas rendah.
b. Primidone (mysolin)
Di hepar primidone di ubah menjadi phenobarbital dan
phenyletylmalonamid.
c. Difenilhidantoin (DPH, dilantin, phenytoin).

10
Dari kelompok senyawa hidantoin yang paling banyak dipakai ialah DPH.
Berhasiat terhadap epilepsi grand mal, fokal dan lobus temporalis. Tak
berhasiat terhadap petit mal. Efek samping yang dijumpai ialah
nistagmus,ataxia, hiperlasi gingiva dan gangguan darah.
d. Carbamazine (tegretol).
Mempunyai khasiat psikotropik yang mungkin disebabkan pengontrolan
bangkitan epilepsi itu sendiri atau mungkin juga carbamazine memang
mempunyai efek psikotropik. Sifat ini menguntungkan penderita epilepsi
lobus temporalis yang sering disertai gangguan tingkahlaku. Efek samping
yang mungkin terlihat ialah nistagmus, vertigo, disartri, ataxia, depresi
sumsum tulang dan gangguanfungsi hati.
e. Diazepam.
Biasanya dipergunakan pada kejang yang sedang berlangsung (status
konvulsi.).
Pemberian i.m. hasilnya kurang memuaskan karena penyerapannya
lambat. Sebaiknya diberikan i.v. atau intra rektal.
f. Nitrazepam (inogadon).
Terutama dipakai untuk spasme infantil dan bangkitan mioklonus.
g. Ethosuximide (zarontine).
Merupakan obat pilihan pertama untuk epilepsi petit mal
h. Na-valproat (dopakene)
Obat pilihan kedua pada petit mal. Pada epilepsi grand mal pun dapat
dipakai.
Obat ini dapat meninggikan kadar GABA di dalam otak. Efek samping
mual, muntah, anorexia
i. Acetazolamide (diamox).
Kadang-kadang dipakai sebagai obat tambahan dalam pengobatan epilepsi.
Zat ini menghambat enzim carbonic-anhidrase sehingga pH otak menurun,
influks Na berkurang akibatnya membran sel dalam keadaan
hiperpolarisasi.

11
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Identitas
Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku
bangsa,alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal pengkajian
dan diagnosa medis.
b. Keluhan utama
Mengalami penurunan kesadaran secara tiba-tiba.
c. Riwayat penyakit sekarang
Kejang, terjadi aura, dan tidak sadarkan diri.
d. Riwayat penyakit dahulu
Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
 Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
 Ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
 Tumor Otak
 Kelainan pembuluh darah
 demam,
 stroke
 gangguan tidur
 penggunaan obat
 hiperventilasi
 stress emosional
e. Riwayat kehamilan dan kelahiran.
Dalam hal ini yang dikaji meliputi riwayat prenatal, natal dan post natal.
Dalam riwayat prenatal perlu diketahui penyakit apa saja yang pernah diderita
oleh ibu. Riwayat natal perlu diketahui apakah bayi lahir dalam usia kehamilan
aterm atau tidak karena mempengaruhi sistem kekebalan terhadap penyakit pada
anak. Trauma persalinan juga mempengaruhi timbulnya penyakit contohnya
aspirasi ketuban untuk anak. Riwayat post natal diperlukan untuk mengetahui
keadaan anak setelah

12
f. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang mengalami kejang

Obsevasi dan pengkajian selama dan setelah kejang akan membantu dalam
mengindentifikasi tipe kejang dan penatalaksanaannya.
1) Selama serangan :
 Apakah ada kehilangan kesadaran atau pingsan.
 Apakah ada kehilangan kesadaran sesaat atau lena.
 Apakah pasien menangis, hilang kesadaran, jatuh ke lantai.
 Apakah disertai komponen motorik seperti kejang tonik, kejang klonik,
kejang tonik-klonik, kejang mioklonik, kejang atonik.
 Apakah pasien menggigit lidah.
 Apakah mulut berbuih.
 Apakah ada inkontinen urin.
 Apakah bibir atau muka berubah warna.
 Apakah mata atau kepala menyimpang pada satu posisi.
 Berapa lama gerakan tersebut, apakah lokasi atau sifatnya berubah pada
satu sisi atau keduanya.
2) Sesudah serangan
 Apakah pasien : letargi , bingung, sakit kepala, otot-otot sakit, gangguan
bicara
 Apakah ada perubahan dalam gerakan.
 Sesudah serangan apakah pasien masih ingat apa yang terjadi sebelum,
selama dan sesudah serangan.
 Apakah terjadi perubahan tingkat kesadaran, pernapasan atau frekuensi
denyut jantung.
 Evaluasi kemungkinan terjadi cedera selama kejang.

13
3) Riwayat sebelum serangan
 Apakah ada gangguan tingkah laku, emosi.
 Apakah disertai aktivitas otonomik yaitu berkeringat, jantung berdebar.
 Apakah ada aura yang mendahului serangan, baik sensori, auditorik,
olfaktorik maupun visual.
4) Riwayat Penyakit
 Sejak kapan serangan terjadi.
 Pada usia berapa serangan pertama.
 Frekuensi serangan.
 Apakah ada keadaan yang mempresipitasi serangan, seperti demam,
kurang tidur, keadaan emosional.
 Apakah penderita pernah menderita sakit berat, khususnya yang disertai
dengan gangguan kesadaran, kejang-kejang.
 Apakah pernah menderita cedera otak, operasi otak
 Apakah makan obat-obat tertentu
 Apakah ada riwayat penyakit yang sama dalam keluarga

g. Pola Bio – Psiko – sosial - Spiritual


a. Aktivitas dan istirahat
Gejala Keletihan, kelemahan umum, keterbatasan dalam
beraktivitas yang ditimbulkan oleh diri sendiri atau orang
lain.
Tanda Perubahan tonus, kekuatan otot, gerakan involunter,
kontraksi otot atau sekelompok otot.
b. Sirkulasi.
Gejala iktal : hipertensi (tekanan darah tinggi), peningkatan nadi,
sianosis, tanda-tanda vital normal atau depresi dengan
penurunan nadi dan pernafasan.

14
c. Integritas ego.
Gejala Stressor eksternal atau internal yang berhubungan keadaan
dan atau penanganan peka rangsang, perasaan tidak ada
harapan dan tidak berdaya, perubahan dalam berhubungan.
Tanda Pelebaran rentang respon emosional.
d. Eliminasi.
Gejala Inkontinesia episodic
Tanda Iktal : peningkatan tekanan kandung kemih, dan tonus
sfingter, postiktal : otot relaksasi yang mengakibatkan
inkontinensia baik urine maupun fekal.

e. Makanan dan cairan.


Gejala Sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang
berhubungan dengan aktivitas kejang.
Tanda Kerusakan jaringan lunak/gigi (cedera selama kejang),
Hiperplasia gingival (efek samping pemakaian dilantin
jangka panjang)
f. Neurosensori
Gejala Riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pingsan,
pusing, riwayat trauma kepala, anoksia, infeksi cerebral,
adanya aura (rangsangan visual, audiovisiual,auditorius,
area halusinogenik). Postiktal : kelemahan, nyeri otot, area
parestese/ paralisis.
Tandai Karakteristik kejang :
Fase prodormal: adanya perubahan pada reaksi emosi atau
respons afektif yang tidak menentu yang mengarah pada
fase aura dalam beberapa kasus dan berakhir beberapa
menit sampi beberapa jam.

15
Kejang umum:
Tonik-klonik (grand mal): kekakuan dan postur menjejang,
mengerang, penurunana kesadaran, pupil dilatasi,
inkontinensia urin/vekal, pernafasan stridor (ngorok), saliva
keluar secara berlebihan dan mungkin lidahnya tergigit.
Postiktal : pasien tertidur selama 30 menit samapai
beberapa jam, selanjutnya merasa lemah, kancau mental,
dan amnesia selama beberapa waktu dengan meraa mual
dan nyeri otot.
Absen (petit mal): periode gangguan kesadaran dan /atau
melamun (tak sadar lingkungan) yang diawali pandangan
mata menerawang sekitar 5-30 detik saja, yang dapat terjadi
100 kali setiap harinya, terjadinya kejang pada motorik
minor mungkin bersifat akinetik (hilang gerakan),
mioklonik (kontraksi otot secara berulang), atau atonik
(hilangnya tonus otot)
Postiktal : amnesia terhadap peristiwa kejang, tidak
bingung, dapat melakukan kembali aktivitas
Kejang parsial (Kompleks) :
Lobus psikomotor/temporal : pasien umumnya tetap sadar,
dengan reaksi seperti bermimpi, melaun, berjalan-jalan,
peka rangsang, halusinasi, bermusuhan atau takut. Dapat
menunjukan gejala motorik involunter (seperti merasa –
rasakan bibir) dan tingkah laku yang tampak bertujuan
tetapi tidak sesuai (involuunter/automatisme) dan termasuk
kerusakan penyesuaian, dan pada pekerjaan, kegiatan
bersifat anti parsial.
Postiktal : hilangnya memori terhadap peristiwa yang
terjadi, kekacauan mental ringan sampai sedang.

16
Kejang parsial (sederhana) :
Jacksonian/ motorik fokal : sering didahului oleh aura
berakhir 2-15 menit. Tidak ada penurunan kesadaran
(unilateral) atau penurunan kesadaran (bilateral), gerakan
bersifat konvulsif dan terjadi gangguan sementara pada
bagian tertentu yang dikendalikan oleh bagian otak yang
terkena (seperti lobus frontal [disfungsi motorik]; parietal
[terasa baal,kesemutan], lobus oksifital [cahaya terang,
sinar lampu], lobus posterotemporal [kesulitan dalam
berbicara]). Konvulsi (kejang) dapat menegenai seluruh
tubuh atau bagian tubuh yang mengalami gangguan yang
terus berkembang. Jika dilakukan restrein selama kejang
pasien mungkin akan melawan dan memperlihatkan
tingkahlaku yang tidak kooperatif.
Status Epileptikus:
Aktivitas kejang yang terjadi terus menerus dengan
spontan atau berhubungan dengan gejala putus
antikonvulsan tiba-tiba dan fenimena metabolik lain.
Catatan: jika hilangnya kejang menginkuti pola tertentu,
masalah dapat menghilang tidak terdekteksi selama periode
waktu tertentu, sehingga pasien tidak kehilangan
kesadarannya.

17
g. Nyeri dan kenyamanan
Gejalanya Sakit kepala, nyeri otot/punggung pada periode
postikatal. Nyeri abnormal paroksismal selama fase
iktal (mungkinterjadi selama kejang fikal/parsial
tanpa mengalami penurunan kesadaaran)
Tandai Sikap/tingkah laku yang hati-hati, perubahan pada
tonus otot. Tingkah laku distraksi/gelisah.
h. Pernafasan.
Gejala Fase iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan
menurun/cepat ; peningkatan sekresi mucus.
Fase postiktal :apnea.
i. Keamanan
Gejala Riwayat terjatuh/trauma, fraktur, adanya alergi.
Tandai Trauma pada jaringan lunak/ekimosis, penurunan
kekuatan/ tonus otot secara menyeluruh.
j. Interaksi sosial
Gejala Masalah dalam hubungan interpersonal dalam
keluarga atau lingkungan sosialnya.
Pembatasan/penghindaran terhadap kontak sosial.
k. Penyuluhan dan pembelajaran.
Gejala Adanya riwayat epilepsi pada keluarga, penggunaan
obat maupun ketergantungan obat termasuk alkohol.

18
B. Diagnosis Keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap trauma/penghentian pernafasan berhubungan dengan
kelemahan, kesulitan keseimbangan, keterbatasan kognitif/ perubahan kesadaran,
kehilangan koordinasi otot besar dan kecil, kesulitan emosional.
b. Bersihan jalan nafas/pola nafas tak efektif berhubungan dengan kerusakan
nuromuskuler, obstruksi trakeobronkial, kerusakan presepsi/kognitif
c. Bersihan jalan nafas/pola nafas tak efektif berhubungan dengan kerusakan
nuromuskuler, obstruksi trakeobronkial, kerusakan presepsi/kognitif

C. Rencana Keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap trauma/penghentian pernafasan berhubungan
dengan kelemahan, kesulitan keseimbangan, keterbatasan kognitif/
perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot besar dan kecil, kesulitan
emosional.
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi pasien:
- Mengungkapkan pemahaman faktor yang menunjang kemungkinan trauma
dan/atau penghentian pernapasan dan mengontrol langkah untuk
memperbaiki situasi.
- Mendemonstrasikan perilaku perubahan gaya hidup untuk mengurangi faktor
resiko dan melindungin diri dari cedera.
- Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan
- Mempertahankan aturan pengobatan untuk mengontrol atau menghilangkan
aktivitas kejang.
- Pemberi perawatan akan : mengidentifikasi tindakan untuk diambil bila
terjadi kejang
Mandiri
1) Gali bersama-sama pasien berbagai stimulasi yang dapat menjadi pencetus
kejang.
Rasionalnya yaitu alkohol, berbagai obat, dan stimulasi lain (kurang tidur,
lampu yang terang, menonton televisi terlalu lama), dapat meningkatkan
aktivitas otak yang selanjutnya meningkatkan resiko terjadinya kejang.

19
2) Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur yang terpasang
dengan posisi tempat tidur rendah.
Rasionalnya yaitu mengurangi trauma saat kejang (sering atau umum) terjadi
selama pasien berada ti tempat tidur
3) Evaluasi kebutuhan untuk/berikan perlindungan pada kepala.
Rasionalnya yaitu penggunaan penutup kepala (semacam helem) dapat
memberikan perlindungan tambahan terhadap seseorang yang mengalami
kejang terus menerus/kejang berat.
4) Gunakan thermometer dengan bahan metal atau dapatkan suhu melalui
lubang telinga jika perlu
Rasionalnya yaitu menurunkan resiko pasien menggigit dan menghancurkan
thermometer yang terbuat dari kaca atau kemungkinan mengalami trauma
jika tiba-tiba terjadi aktivitas kejang
5) Pertahankan tirah baring secara ketat jika pasien mengalami tanda-tanda
timbulnya face prodormal/aura. Jelaskan perlunya kegiatan ini.
Rasionalnya yaitu pasien mungkin merasa tidak dapat beristirahat/perlu untuk
bergerak atau melepaskan diri dari suatu keadaan selama fase aura namun
bergerak dengan memperdulikan diri dari keamanan lingkungan dan mudah
diobservasi. Pemahaman kepentingan untuk mempertimbangkan tentang
pentingnya kebutuhan keamanan diri sendiri dapat menambah keikut sertaan
atau kerja sama pasien.
6) Tinggallah bersama pasien dalam waktu beberapa lama selama atau setelah
kejang
Rasionalnya yaitu meningkatkan keamanan pasien
7) Masukan jalan nafas buatan yang terbuat dari plastik atau biarkan pasien
menggigit benda lunak antara gigi (jka rahang sedang relaksasi). Miringkan
kepala ke salah satu sisi / lakukan penghisapan pada jalan nafas sesuai
indiksai.

20
Rasionalnya menurunkan risiko terjadinya trma mulut tetapi tidak boleh
“dipaksa” atau dimasukkan ketika gigi-gigi sedang mengatup kuat karena
kerusakan pada gigi dan jaringan lunak dapat terjadi. Juga membantu
mempertahankan jalan napas. Catatan: spatel lidah dari kayu tidak boleh
digunakan karena mungkin bisa rusak atau terpelintir pada mulut pasien.
8) Atur kepala, tempatkan di atas daerah yang empuk (lunak) atau bantu
meletakkan pada lantai jika keluar dari tempat tidur. Jangan melakukan
rastrein.
Rasinalnya yaitu mengarahkan ekstremitas dengan hati-hati menurunkan
resiko trauma secara fisik ketika pasien kehiolangan control terhadap otot
volunteer. Catatan: jika dilakukan restrein pada pasien yang mengalami
kejang, gerakan kaku dapat meningkat dan pasien mengalami trauma oleh
diri sendiri atau orang lain.
9) Catat tipe dari aktivitas kejang pasien seperti lokasi, durasi, motorik,
penurunan kesadaran, inkontinensia dan lain-lain. Dan beberapa kali terjadi
frekuensi/kambuhannya
Rasionalnya yaitu membantu untuk melokalisasi daerah otak yang terkena.
10) Lakukan penilaian neurologis atau TTV setelah kejang/missal : tingkat
kesadaran, orientasi, tekanan darah (TD), nadi, pernafasan.
Rasinalnya yaitu mencatat keadaan posiktal dan waktu penyembuhan pada
keadaan normal.
11) Orientasikan kembali pasien terhadap aktivitas kejang yang dialaminya.
Rasionalnya yaitu pasien mungkin menjadi bingung, disorientasi, dan
mungkin juga mengalami amnesia setelah kejang dan memerlukan bantuan
untuk dapat mengontrol lagi dan menghilangkan ansietas.
12) Biarkan tingkah laku automatikposiktal tanpa menghalanginya selama
perlindungan terhadap lingkungan tetap diberikan
Rasionalnya yaitu mungkin tingkah laku ini memanjang yang berasal dari
motorik atau psikologik yang tampak tidak sesuai/tidak relevan terhadap
waktu atau tempat. Usahakan untuk mengendalikan atau mencegah kegiatan
yang mungkin mengakibatkan pasien menjadi agresif atau melawan.

21
13) Observasi munculnya tanda-tanda status epileptikus, seperti kejang, tonik-
klonik setelah jenis yang lain muncul dengan cepat dan cukup meyakinkan
Rasionalnya yaitu hal ini merupakan keadaan darurat yang mengancam hidup
yang dapat menyebabkan henti napasa, hipoksia berat, dan/atau kerusakan
pada otak dan sel saraf. Intervensi yang segera dibutuhkan untuk
mengendalikan aktivitas kejang. Catatan: meskipun kejang tidak ada
mungkin menjadi statis, biasanya hal seperti ini tidak membehayakan
(mengancam kehidupan).
14) Diskusikan adanya tanda-tanda serangan kejang (jika memungkinkan) dan
pola kejang yang bisa dialami. Ajarkan orang terdekat pasien untuk
mengenali tanda-tanda awal dari kejang tersebut dan bagaimana merawat
pasien selama dan setelah serangan kejang.
Rasionalnya yaitu memberikan kesempatan pasien untuk melindungi diri
sendiri dari trauma dan mengenali perubahan yang perlu disampaikan pada
dokter/pada intervensi selanjutnya. Mengetahui apa yang dilakukan ketika
kejang terjadi dapat mencegah trauma atau komplikasi dan menurunkan
perasaan tak berdaya dari orang terdekat.
Kolaborasi
1) Berikan obat sesuai indikasi :
Obat antiepilepsi meliputi fenitoin (Dilantin), Primidon(Mysoline),
karbamazepin(Tegretol), klonazepam(klonopin), asam valproat(Depakote).
Rasionalnya obat antiepilepsi meningkatkan ambang kejang dengan
menstabilkanmembran sel saraf.
2) Pantau kadar sel darah , elektrolit dan glikosa
Rasionalnya mengidentifikas faktor-faktor yang memperberat/menurunkan
ambang kejang

22
b. Bersihan jalan nafas/pola nafas tak efektif berhubungan dengan kerusakan
nuromuskuler, obstruksi trakeobronkial, kerusakan presepsi/kognitif
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi
- Mempertahankan pola pernapasan efektif dengan jalan napas paten/aspirasi
dicegah
Mandiri
1) Anjurkan pasien untuk mengosongkan mulut dari benda/zat tertentu /gigi
palsu atau alat yang lain jika fase aura terjadi dan untuk menghindari rahang
mengatup jika kejang terjadi tanpa ditandai gejala awal.
Rasionalnya menurunkan resiko aspirasi atau masuknya benda asing ke
faring.
2) Letakkan pasien dalam posisi miring, permukaan datar, miringkan kepala
selama serangan kejang terjadi.
Rasionalnya yaitu meningkatkan aliran drainase secret, mencegah lidah jatuh,
dan menyumbat jalan nafas.
3) Tanggalkan pakaian pada daerah leher/dada dan abdomen
Rasionalnya untuk memfasilitasi usaha bernapas atau ekspansi dada
4) Masukkan spatel lidah/jalan napas buatan atau gulungan benda lunak sesuai
dengan indikasi.
Rasionalnya yaitu untuk mencegah tergigitnya lidah dan
membantumelakukan peghisapan lender, dan membantu membuka jalan
nafas.
5) Lakukan penghisapan sesuai indikasi
Rasionalnya yaitu menurunkan resiko aspirasi atau asfiksia.

23
Kolaborasi
1) Berikan tambahan oksigen/ventilasi manual sesuai kebutuhan pada fase
posiktal
Rasionalnya dapat menurunkan hipoksia serebralsebagai akibata dari
sirkulasi yang menurun
2) Siapkan untuk/bantu melakukan intubasi, jika ada indikasi
Rasionalnya muncul apnea yang berkepanjangan pada fase posiktal
membutuhkan dukungan ventilator mekanik

c. Gangguan harga diri/identitas pribadi berhubungan dengan persepsi


tidak terkontrol, ditandai dengan stigma berkenaan dengan kondisi,
persepsi tentang tidak terkontrol
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi:
- Mengidentifikasikan perasaan dan metode untuk koping dengan persepsi
negative pada diri sendiri
- Mengungkapkan peningkatan rasa harga diri dalam hubungannya dengan
diagnosis
- Mengungkapkan persepsi realistis dan penerimaan diri dalam perubahan
peran atau gaya hidup
Mandiri
1) Diskusikan perasaan pasien mengenai diagnostik, persepsi diri terhadap
penanganan yang dilakukan. Anjurkan untuk mengungkapkan/
mengekspresikan perasannya.
Rasionalnya yaitu reaksi yang ada bervariasi diantara individu dan
pengetahuan / pengalaman awal dengan keadaan penyakitnya akan
mempengaruhi penerimaan terhadap aturan pengobatan.
2) Identifikasi/antisipasi kemungkinan reaksi orang lain pada keadaan
penyakitnya. Anjurkan pasien untuk tidak merahasiakan masalahnya.
Rasionalnya yaitu memberikan kesempatan untuk berespon pada proses
pemecahan masalah dan memberikan kontrol terhadap situasi.

24
3) Gali bersama pasien mengenai keberhasilan yang telah diperoleh, atau
yang akan dicapai selanjutnya dan kekuatan yang dimilikinya.
Rasionalnya yaitu memfokuskan pada aspek positif dapat membantu untuk
menghilangkan perasaan dari kegagalan atau kesadaran terhadap diri
sendiri dan pasien menerima penanganan terhadapnya.
4) Hindari pemberian perlindungan yang amat berlebihan pada pasien,
anjurkan aktivitas dengan memberikan pengawasan atau dengan
memantau jika ada indikasi
Rasionalnya yaitu partisipasi dalam sebanyak mungkin pengalaman dapat
mengurangi depresi tentang keterbatasan.
5) Tentukan sikap/kecakapan orang terdekat. Bantu ia menyadari perasaan
tersebut adalah normal, sedangkan merasa bersalah dan menyalahkan diri
sendiri tidak ada manfaatnya.
Rasionalnya yaitu pandangan yang negative dari orang terdekat dapat
berpengaruh terhadap perasaan kemampuan/harga diri pasien dan
mengurangi dukungan yang diterima dari orang terdekat tersebut yang
mempunyai resiko membatsi penanganan yang optimal.
6) Tekankan pentingnya staf/orang terekat untuk tetap dalam keadaan tenang
selama kejang.
Rasionalnya ansietas dari pemberian asuhan adalah menjalar dn bila
sampai pada pasien dapat meningkatkan persepsi negative terhadap
keadaan lingkungan lingkungan/diri sendiri
Kolaborasi
1) Rujuk pasien/orang terdekat pada kelompok penyokong seperti yayasan
epilepsy dsb.
Rasionalnya yaitu memberikan kesempatan untuk mendapatkan informasi,
dukungan dan ide-ide untuk mengatasi masalah dari orang lain yang telah
mempunyai pengalaman yang sama.

25
2) Diskusikan rujukan kepada psikoterapi dengan pasien atau orang
terdekat.n diri sendiri.
Rasionalnya konseling dapat membantu mengatasi perasaan terhadap
kesadar.

d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi dan aturan


pengobatan berhubungan dengan kurang pemajanan, kesalahan
interpretasi informasi, kurang mengingat keterbatasan kognitif,
kegagalan untuk berubah.
Hasil yang diharapkan/kriteria evaluasi:
- Mengungkapkan pemahaman tentang gangguan dan berbagai
rangsangan yang dapat meningkatkan/berpotensial pada aktivitas kejang
- Memulai perubahan perilaku/gaya hidup sesuai indikasi
- Mentaati aturan obat yang diresepkan
Mandiri
1) Jelaskan kembali mengenai patofisiologi atau prognosis penyakit,
pengobatan, serta penenganan dalam jangka waktu panjang sesuai
prosedur.
Rasionalnya yaitu memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi
kesalahan persepsi dan keadaan penyakit yang diderita.
2) Berikan petunjuk yang jelas pada pasien untuk minum obat bersama
dengan waktu makan jika memungkinkan
Rasionalnya yaitu dapat menurunkan iritasi lambung, mual/muntah.
3) Diskusikan mengenai efek samping secara khusus seperti mengantuk,
hiperaktif, gangguan tidur, hipertrofi pada gusi, gangguan penglihatan,
mual/muntah, timbul ruam pada kulit, sinkop atapsia, kelahiran yang
terganggu dan anemia aplastik.
Rasionalnya yaitu dapat mengindikasikan kebutuhan akan perubahan
dalam dosis/obat pilihan yang lain.

26
4) Berikan informasi tentang interaksi obat yang potensial dan pentingnya
untuk memberitahu pemberi perawatan yang lain dari pemberian obat
tersebut.
Rasionalnya yaitu pengetahuan mengenai penggunaan obat antikonvulsan
menurunkan resiko obat yang diresepkan yang dapat berinteraksi yang
selanjutnya mengubah ambang kejang.
5) Anjurkan pasien untuk menggunakan semacam gelang
identifikasi/semacam petunjuk yang memberitahukan bahwa anda adalah
penderita epilepsy
Rasionalnya yaitu mempercepat penanganan dan menentukan diagnosa
dalam keadaan darurat.
6) Tekankan perlunya untuk melakukan evaluasi yang teratur atau
melakukan pemerikasaan laboratorium yang teratur sesuai dengan
indikasinya, seperti darah lengkap harus diperikasa minimal dua kali
dalam satu tahun dan munculnya sakit tenggorokan atau demam.
Rasionalnya yaitu kebutuhan teraupetik dapat berbah dan/atau efek
samping obat yang serius (seperti agranulasitosis atau toksisitas) dapat
terjadi.
7) Bicarakan kembali efek dari perubahan hormonal
Rasionalnya yaitu gangguan kadar hormonal yang terjadi selama
menstruasi dan kehamilan dapat meningkatkan resiko kejang
8) Diskusikan manfaat dari kesehatan umum yang baik, seperti diet yang
adekuat, istirahat yang cukup, serta latihan olah raga yang sedang dan
teratur, serta hindari makanan adan minuman yang mengandung zat yang
berbahaya.
Rasionalnya yaitu aktivitas yang sedang dan teratur dapat membentu
menurunkan atau mengendalikan faktor-faktor predisposisi yang
meningkatkan perasaan sehat dan kemampuan koping yang baik dan juga
meningkatkan harga diri.

27
9) Tinjau kembali pentingnya kebersihan mulut dan perawatan gigi yang
teratur
Rasionalnya yaitu menurunkan resiko infeksi mulut dan hyperplasia dari
gusi.
10) Identifikasi perlunya/meningkatkan penerimaan terhadap keterbatasan
yang dimiliki. Diskusikan tindakan keamanan yang diperhatikan saat
mengemudi, menggunakan alat mekanik, panjat tebing, berenang,
kesenangan (hobi dan sejenisnya)
Rasionalnya yaitu menurunkan resiko trauma oleh diri sendiri atau orang
lain terutama jika kejang terjadi tanpa diawali oleh yanda-tanda
peringatan tertentu.
11) Diskusikan adanya hukum local/pembatasan berkenaan pada seseorang
dengan epilepsy/penyakit kejang. Anjutkan untuk menyadarinya tetapi
tidap perlu untuk menerima sepenuhnya kebijaksanaan tersebut.
Rasionalnya yaitu meskipun hukum atau hak asasi penderita epilepsy
telah membaik selama dasawarsa terakhir, pembatasan masih ada apada
beberapa tempat berkenaan dengan surat ijin mengemudi (SIM),
pembedaan dalam bekerja, dan membutuhkan pelaporan pada instansi
pemerintah yang ditunjuk.

D. Implementasi
Merupakan komponen dari proses keperawatan (Potter & Perry, 2005) adalah
kategori dari perilaku keperawatan di mana tindakan yang di perlukan untuk
mencapai tujuan dan hasil yang di perkirakan dari asuhan keperawatan di lakukan
dan di selesaikan. Sudut pandang teori, implementasi dari rencana asuhan
keperawatan mengikuti komponen perencanaan dari proses keperawatan. Namun
demikian, di banyak lingkungan perawatan kesehatan, implementasi mungkin
dimulai secara langsung setelah pengkajian. Sebagai contoh, implementasi segera
diperlukan ketika perawat mengidentifikasi kebutuhan klien yang mendesak,

28
dalam situasi seperti henti jantung, kematian mendadak dari orang yang dicintai,
atau kehilangan rumah akibat kebakaran.

E. Evaluasi
Evaluasi merupakan proses keperawatan mengukur respon klien terhadap
tindakan keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan (Potter & Perry,
2005). Evaluasi terjadi kapan saja perawat berhubungan dengan klien. Perawat
mengevaluasi apakah perilaku atau respon klien mencerminkan suatu kemunduran
atau kemajuan dalam diagnose keperawatan atau pemeliharaan status yang sehat.
Selama evaluasi, perawat memutuskan apakah langkah proses keperawatan
sebelumnya telah efektif dengan menelaah respon klien dan membandingkannya
dengan perilaku yang disebutkan dalam hasil yang diharapkan.

29
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala
yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas
muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversible dengan
berbagai etiologi. Serangan ialah suatu gejala yang timbulnya tiba-tiba dan
menghilang secara tiba-tiba pula.

B. Saran
Kejang adalah suatu gerakan tidak terkontrol oleh tubuh. Kita tidak dapat
memprediksikan kapan kejang itu akan timbul sehingga keluarga harus diberikan
pendidikan kesehatan tentang bagaimana cara penanggulangan kejang.

30