Anda di halaman 1dari 3

Teori Pengembangan Kota

A. TEORI KONSENTRIS (THE CONSENTRIC THEORY)

Teori ini dikemukakan oleh E.W. Burgess (Yunus, 1999), atas dasar tudy kasusnya mengenai
morfologi kota Chicago, menurutnya sesuat kota yang besar mempunyai kecenderungan
berkembang ke arah luar di semua bagian-bagiannya. Masing-masing zona tumbuh sedikit demi
sedikit ke arah luar. Oleh karena semua bagian-bagiannya berkembang ke segala arah, maka pola
keruangan yang dihasilkan akan berbentuk seperti lingkaran yang berlapis-lapis, dengan daerah
pusat kegiatan sebagai intinya.

Secara berurutan, tata ruang kota yang ada pada suatu kota yang mengikuti suatu pola konsentris ini
adalah sebagai berikut:

a. Daerah Pusat atau Kawasan Pusat Bisnis (KPB).

Daerah pusat kegiatan ini sering disebut sebagai pusat kota. Dalam daerah ini terdapat bangunan-
bangunan utama untuk melakukan kegiatan baik sosial, ekonomi, poitik dan budaya. Contohnya :
Daerah pertokoan, perkantoran, gedung kesenian, bank dan lainnya.

b. Daerah Peralihan.

Daerah ini kebanyakan di huni oleh golongan penduduk kurang mampu dalam kehidupan sosial-
ekonominya. Penduduk ini sebagian besar terdiri dari pendatang-pendatang yang tidak stabil
(musiman), terutama ditinjau dari tempat tinggalnya. Di beberapa tempat pada daerah ini terdapat
kegiatan industri ringan, sebagai perluasan dari KPB.

c. Daerah Pabrik dan Perumahan Pekerja.

Daerah ini di huni oleh pekerja-pekerja pabrik yang ada di daerah ini. Kondisi perumahannya sedikit
lebih buruk daripada daerah peralihan, hal ini disebabkan karena kebanyakan pekerja-pekerja yang
tinggal di sini adalah dari golongan pekerja kelas rendah.

d. Daerah Perumahan yang Lebih Baik Kondisinya.

d. Daerah Perumahan yang Lebih Baik Kondisinya.

Daerah ini dihuni oleh penduduk yang lebih stabil keadaannya dibanding dengan penduduk yang
menghuni daerah yang disebut sebelumnya, baik ditinjau dari pemukimannya maupun dari
perekonomiannya.

e. Daerah Penglaju.

Daerah ini mempunyai tipe kehidupan yang dipengaruhi oleh pola hidup daerah pedesaan
disekitarnya. Sebagian menunjukkan ciri-ciri kehidupan perkotaan dan sebagian yang lain
menunjukkan ciri-ciri kehidupan pedesaan, Kebanyakan penduduknya mempunyai lapangan
pekerjaan nonagraris dan merupakan pekerja-pekerja penglaju yang bekerja di dalam kota, sebagian
penduduk yang lain adalah penduduk yang bekerja di bidang pertanian.

C. TEORI PERTUMBUHAN KOTA

Menurut Spiro Kostof (1991), Kota adalah Leburan Dari bangunan dan penduduk, sedangkan bentuk
kota pada awalnya adalah netral tetapi kemudian berubah sampai hal ini dipengaruhi dengan
budaya yang tertentu. Bentuk kota ada dua macam yaitu geometri dan organik.Terdapat dikotomi
bentuk perkotaan yang didasarkan pada bentuk geometri kota yaitu Planned dan Unplanned.
Bentuk Planned (terencana) dapat dijumpai pada kota-kota eropa abad pertengahan dengan
pengaturan kota yang selalu regular dan rancangan bentuk geometrik.

Bentuk Unplanned (tidak terencana) banyak terjadi pada kota-kota metropolitan, dimana satu
segmen kota berkembang secara sepontan dengan bermacam-macam kepentingan yang saling
mengisi, sehingga akhirnya kota akan memiliki bentuk semaunya yang kemudian disebut dengan
organik pattern, bentuk kota organik tersebut secara spontan, tidak terencana dan memiliki pola
yang tidak teratur dan non geometrik.

Elemen-elemen pembentuk kota pada kota organik, oleh kostol dianalogikan secara biologis seperti
organ tubuh manusia, yaitu :

1. Square, open space sebagai paru-paru.

2. Center, pusat kota sebagai jantung yang memompa darah (traffic).

3. Jaringan jalan sebagai saluran arteri darah dalam tubuh.

4. Kegiatan ekonomi kota sebagai sel yang berfikir.

5. Bank, pelabuhan, kawasan industri sebagai jaringan khusus dalam tubuh.

6. Unsur kapital (keuangan dan bangunan) sebagai energi yang mengalir ke seluruh sistem
perkotaan.

Dalam suatu kota organik, terjadi saling ketergantungan antara lingkungan fisik dan lingkungan
sosial. Contohnya : jalan-jalan dan lorong-lorong menjadi ruang komunal dan ruang publik yang tidak
teratur tetapi menunjukkan adanya kontak sosial dan saling menyesuaikan diri antara penduduk asli
dan pendatang, antara kepentingan individu dan kepentingan umum. Perubahan demi perubahan
fisik dan non fisik (sosial) terjadi secara sepontan. Apabila salah satu elemnya terganggu maka
seluruh lingkungan akan terganggu juga, sehingga akan mencari keseimbangan baru. Demikian ini
terjadi secara berulang-ulang.

Menurut Kevin Lynch (1981), definisi model organik atau kota biologis adalah kota yang terlihat
sebagai tempat tinggal yang hidup, memiliki ciri-ciri kehidupan yang membedakannya dari sekedar
mesin, mengatur diri sendiri dan dibatasi oleh ukuran dan batas yang optimal, struktur internal dan
perilaku yang khas, perubahannya tidak dapat dihindari untuk mempertahankan keseimbangan yang
ada, menurutnya bentuk fisik organik :

 Membentuk pola radial dengan unit terbatas.


 Memiliki focused centre.
 Memiliki lay out non geometrik atau cenderung romantis dengan pola yang membentuk
lengkung tak beraturan.
 Material alami.
 Kepadatan sedang sampai rendah.
 Dekat dengan alam

Di dalam model organik ini, organisasi ruang telah membentuk kesatuan yang terdiri dari unit-unit
yang memiliki fungsi masing-masing. Kota terbentuk organik mudah untuk mengalami penurunan
kualitas karena perkembangannya yang spontan, tidak terencana dan sepotong-sepotong.
Masyarakat penghuni kota ini bermacam-macam yang merupakan percampuran antara berbagai
macam manusia dalam suatu tempat yang memiliki keseimbangan. Masing-masing memiliki fungsi
yang berbeda, saling menyimpang tetapi juga saling mendukung satu sama lain. Kota organik
memiliki ciri khas pada kerjasama pemeliharan lingkungan sosial oleh masyarakat.