Anda di halaman 1dari 6

1.

Berdasarkan Kondisi Empiris dan Pragmatis


Berdasarkan kondisi empiris dan pragmatisnya, sastra Bali dapat diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu sebagai berikut.

a. Secara Struktural
Secara struktural sastra Bali merupakan himpunan dari karya-karya sastra yang berbahasa
Bali, baik bahasa Bali Tengahan maupun bahasa Bali Baru. Tinjauan ini didasarkan atas
konstruksi yang membentuk suatu bangun karya sastra Bali. Bahasa nerupakan aspek mendasar
dalam mengkonstruksi suatu karya sastra dan selanjutnya dapat memberikan ciri khas terhadap
karya sastra tersebut yang dapat membedakannya dengan karya sastra lain. Begitu juga halnya
dengan bahasa Bali.
Sebagai aspek mendasar dalam mengkonstruksi karya-karya sastra Bali, bahasa Bali
dapat menjadi suatu ciri khas bagi karya-karya sastra lainnya. Adapun contoh dari karya-karya
sastra Bali yang termasuk dalam kategori ini adalah gegendingan/dolanan, pupuh (geguritan),
pralambang (pribahasa), babad, satua, cerpen, novel, roman, drama dan puisi-puisi Bali
modern.

b. Secara Fungsional
Secara fungisonal, di samping merupakan karya-karya sastra yang berbahasa Bali, sastra
Bali juga meliputi karya-karya sastra (yang berbahasa Jawa Kuna (Kawi). Tinjauan ini
didasarkan atas penggunaan karya-karya sastra Jawa Kuna dalam aspek-aspek kehidupan
masyarakat Bali, terutama pada aspek relegi ataupun keagamaan. Sastra Jawa Kuna memiliki
kedudukan yang signifikan dalam aktivitas relegi atau keagamaan (Hindu) pada masyarakat Bali.
Bahkan, karya-karya sastra Jawa Kuna tersebut telah dianggap sebagai “milik” masyarakat Bali
karena adanya kedekatan maupun keakraban terhadap karya sastra tersebut.
Adapun contoh karya-karya sastra Jawa Kuna, sebagai karya sastra Bali secara fungsional
tersebut adalah kidung, wirama, palawakia, kanda-kanda dan parwa-parwa.

2. Berdasarkan Cara, Teknik, atau Tradisi Penyajian


Klasifikasi sastra Bali berdasarkan cara, teknik, atau tradisi penyajiannya dapat
dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu: sastra lisan dan sastra tulis.
a. Sastra Lisan (Sastra Gantian, Sastra Tutur)
Menurut Wayan Budha Gautama, sastra lisan juga disebut kesusastran pretakjana (2007:
31). Sastra Bali dalam bentuk lisan merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai teks-teks yang
disampaikan secara oralty, yaitu dari mulut ke mulut antara penutur dan pendengar. Proses
dalam penyampaian tersebut berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi dalam
berbagai versi maupun variasi.
Dalam perkembangannya, sastra (Bali) lisan tersebut telah banyak yang ditulis. Di
samping itu, karya-karya tersebut juga ditransformasikan ke dalam bentuk karya sastra tulis,
seperti ke dalam geguritan dan peparikan. Sastra Bali dalam formulasi ini juga dapat dikaji
melalui perspektif folklor, yaitu suatu ilmu tentang budaya, yang cenderung sebagai budaya
lisan, yang telah mengakar pada susatu masyarakat tertentu. Adapun yang termasuk ke dalam
sastra lisan ini adalah tembang ( puisi ) berupa gegendingan/dolanan dan gancaran (prosa)
berupa satua-satua Bali.
Contoh sastra lisan dalam bentuk tembang ( puisi ), yaitu gegendingan atau nyanyian
anak-anak (made cenik, goak maling taluh,dan lain-lain).

Contoh lisan dalam bentuk gancaran ( prosa ), diantaranya Satua Pan Balang Tamak,
Satua I Siap Selem, Satua I Bawang Teken I Kesuna, Satua Men Cubling, Satua Pan Angklung
Gadang, dan lain-lain.

b. Sastra Tulis (Sesuratan)


Sastra tulis (sesuratan) juga dikenal dengan nama “kesusastran sujana” oleh Wayan
Budha Gautama (2007: 32). Satra Bali dalam bentuk tulis merupakan formulasi dari sastra Bali
sebagai teks-teks yang tertuang dalam naskah-naskah tulisan tangan (manuskrips) maupun
cetakan, baik berupa lontar, tembaga, maupun kertas. Sastra tulis ini merupakan perkembangan
dari sastra lisan sebelumnya ketika masyarakat Bali telah mengenal aksara (huruf).
Sastra lisan lebih mementingkan makna yang terkandung di dalamnya daripada bentuk
yang tersaji, sedangkan sastra tulis, adanya bentuk yang tersaji secara tertulis tersebut merupakan
suatu rangkaian tanda yang dapat menjadi jembatan untuk menelusuri jejak-jejak makna yang
terkandung di dalamnya. Adapun yang termasuk dalam sastra tulis yaitu:
(1) Terikat, yaitu tembang ( puisi ); sekar rare (gegendingan/dolanan), sekar alit (pupuh), sekar
madya (kawitan/kidung), dan sekar agung (wirama) serta peparikan.
(2) Bebas, yaitu gancaran ( prosa ) dan babad.

3. Berdasarkan Bentuk/Struktur Penulisan


Berdasarkan bentuk/struktur penulisannya, sastra Bali dapat diklasifikasikan menjadi 3
(tiga) yaitu: puisi (tembang), prosa (gancaran), dan prosa liris (palawakia).

a. Puisi (Tembang)
Sastra Bali dalam bentuk puisi (paletan tembang) ini merupakan formulasi dari sastra
Bali sebagai suatu karangan dengan pola yang terikat. Seperti karakteristik puisi pada umumnya,
kesusastraan Bali dalam hal ini tampil dengan suatu pola yang terstruktur oleh konvensi-
konvensi tertentu yang mengikat dan memberikan karakter yang tertentu pula.
Contoh sastra Bali dalam bentuk puisi (tembang), yaitu gegendingan/dolanan, pupuh,
kidung, wirama, babad dalam bentuk geguritan/peparikan, dan puisi- puisi Bali Modern.

b. Prosa (Gancaran)
Sastra Bali dalam bentuk prosa (gancaran) merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai
suatu karangan (fiksi) dengan pola yang bebas. Dalam hal ini, sastra Bali tampil sebagai suatu
karangan yang tidak begitu terikat oleh bentuk yang mengemas seperti pada bentuk puisi di atas.
Walaupun demikian, adanya hal-hal mendasar dalam prosa (fiksi) merupakan suatu struktur atau
unsur yang signifikan dalam mengonstruksi karya-karya sastra prosa tersebut.
Contoh sastra Bali dalam bentuk prosa, yaitu babad, satua, cerpen, novel, dan drama.

c. Prosa Liris (Palawakia)


Sastra Bali dalam bentuk prosa liris prosa liris (palawakia) merupakan karangan bebas,
yang tidak terikat dengan aturan seperti prosodi dan metrum seperti pada puisi (tembang).
Palawakia merupakan karangan bebas yang dibaca dengan cara diiramakan/dilagukan.
Umumnya palawakia menggunakan bahasa Jawa Kuna/Tengahan.
Contoh sastra Bali dalam bentuk palawakia, yaitu Astadasa Parwa (dalam Kakawin
Mahabharata) seperti Adi Parwa sampai dengan Swarga Rohana Parwa, Sapta Kanda (dalam
Ramayana) seperti Bala Kanda sampai dengan Uttara Kanda, dan lain sebagainya.
4. Berdasarkan Struktur, Corak dan Waktu Pertumbuhkembangannya
Berdasarkan struktur corak dan waktu pertumbuhkembangannya, sastra Bali dapat
diklasifikasikan menjadi 2 (dua), yaitu: (1) sastra Bali purwa (klasik/lama/kuno), dan (2) sastra
Bali anyar (baru/modern).

a. Sastra Bali Purwa


Sastra Bali purwa (klasik/lama/kuno) merupakan formulasi dari sastra Bali sebagai sastra
yang bercorak dan bersifat tradisi atau warisan secara turun-temurun dari masa lampau. Sastra
Bali dalam hal ini juga disebut sebagai sastra Bali tradisional sebagai himpunan karya-karya
sastra yang dibangun atas struktur tradisional, baik dalam konvensi, tema, tokoh, maupun motif
cerita yang ditampilkan. Pada karya-karya sastra tersebut dapat dijumpai adanya nilai-nilai luhur
yang telah hidup dan dianut oleh masyarakat Bali sejak masa lampau sabagai nilai-nilai yang
adiluhung. Contoh sastra Bali purwa, yaitu tembang, gancaran, dan palawakia.

b. Sastra Bali Anyar


Sastra Bali anyar (baru/modern) merupakan formulasi dari sastra sebagai suatu pola atau
tipologi sastra yang muncul pada masa kolonial dengan adanya pengaruh dari sastra Indonesia
maupun Barat. Pada masa kolonial, sastra Barat, seperti novel, cerpen (short story), dan puisi-
puisi (poetry) Barat, mulai masuk ke Indonesia. Pola-pola sastra tersebut diterima dalam sastra
Indonesia melalui suatu adopsi dan adaptasi, sehingga lahirlah sastra Indonesia Modern.
Perkembangan sastra Indonesia yang demikian turut mempengaruhi perkembangan sastra
Bali, sehingga pola-pola sastra tersebut juga diinternalisasi ke dalam sastra Bali. Hal ini
ditunjukkan oleh lahirnya novel-novel, cerpen-cerpen (satua bawak), maupun puisi-puisi Bali
modern yang tentunya menggunakan bahasa Bali. Pola sastra tersebut merupakan contoh-contoh
dari sastra Bali anyar tersebut. Contoh sastra Bali anyar, yaitu puisi dan prosa.
1. Pendahuluan

Sejak kemerdekaan, bahasa dan sastra Indonesia memiliki peran yang dominan, akan tetapi
bahasa-bahasa daerah pun telah mempertegas keberadaannya dengan kesadaran dan dorongan
masyarakat lokal di Bali; beberapa karya sastra tersebut ditelurkan di sekolah-sekolah dan
universitas. Sastra Bali telah bertahan sejak zaman Jawa Kuno dan sejak tradisi menulis Jawa-
Bali yang dipengaruhi oleh nuansa Hindu juga oleh seni lukis, musik, tari, dan drama; selain itu,
bahasa Bali pun digunakan untuk menginterpretasikan situasi daerahnya dengan lebih populer.

Awal mula sastra Bali modern

Penyebutan “sastra Bali modern” untuk pertama kali sebagai pembeda dari sastra Jawa telah
muncul sejak abad ke 18 M. Pigeaud (II 1968: 5) menyebutkan:

Di Bali, orang-orang Jawa yang tengah mencari tempat perlindungan setelah adanya Islamisasi
di Jawa kemudian mengumpulkan manuskrip sama halnya ketika mereka berada di Jawa. Sastra
Jawa-Bali kemudian berkembang, dan berbarengan dengan kebangkitan kembali aksara Bali
setelah untuk beberapa abad dikuasai oleh aksara Jawa.

Kerajaan Gelgel dianggap sebagai pengganti Kerajaan Majapahit yang menjaga gaya bahasa,
sastra dan seni yang bernuansa Hindu-Jawa. Walau demikian, posisi tersebut kemudian
dihancurkan oleh penyerangan pasukan Karang-Asem pada 1686. Penerus Kerajaan Gelgel,
Klungkung, tidak mampu mencengkramkan kekuasaanya secara efektif di pulau tersebut: istana-
istana kecil telah dibangun dengan menjaga gaya kuno tapi sekarang lebih terbuka terhadap
pengaruh luar. Karang Asem mulai melakukan ekspedisi dan penaklukkan dan mencapai
puncaknya saat penaklukkan Lombok pada 1740, di mana sebuah kerajaan Bali pun melakukan
hal sama sampai dengan dijatuhkan oleh Belanda pada 1894.

Pusat pengembangan modern lainnya adalah Kerajaan Buleleng yang melakukan kegiatan
perniagaan dengan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai oleh orang-orang Islam di Pantai Utara
Jawa. Terlebih, pada 1697, Buleleng memiliki pengaruh di Blambangan, sebuah wilayah paling
timur pulai Jawa, dan pengaruh Bali terus berlanjut hingga kedatangan Belanda pada 1772.
Buleleng menjadi ibu kota ketika perdagangan dan kekuasaan politik Eropa pertama kali
dibangun di Bali. Selama pendudukan Inggris di Jawa; 1811-1815, Raffles berhubungan dengan
Raja Buleleng. Pada 1855, dua orang Belanda yaitu Rutger van Eck (1842-1901) dan H.N. van
der Tuuk (1824-1894) mempelajari bahasa dan sastra Bali. Pada 1928 di Singaraja, Kirtya
Liefrinck-Van der Tuuk dibangun dengan tujuan mengumpulkan dan menjaga manuskrip dan
cerita rakyat Bali.

Bahasa dan sastra Bali muncul dan digunakan untuk penulisan imaginatif pada masa Kerajaan
Karang Asem dan Kerajaan Buleleng. Meski demikian, tradisi kuno tetap dijaga. Ada juga
kemunculan perasaan lokalitas dan kadang sekuler yang tidak semuanya dibangun di atas
konvensi Hindu-Jawa tapi kadang juga dipengaruhi oleh hubungan dengan dunia luar.
Perkembangan tersebut dicontohkan di dalam karya sastra seperti pupuh, cerita rakyat, bahkan
sekarang sudah dalam bentuk gaya Barat. Sejak 1930-an, banyak penulis Bali telah menulis
dalam bahasa Indonesia modern (banyak dari karya mereka yang mengekspresikan etos dan
prinsip orang-orang Bali).

Periode modern bahasa dan sastra Bali dapat dibagi ke dalam empat periode yaitu:

(1) periode runtuhnya Kerajaan Gelgel, 1686, hingga ekspedisi Belanda ke Buleleng, 1849,
selama periode ini bahasa Bali untuk pertama kalinya digunakan pada karya sastra lokal baru;

(2) periode 1849 sampai dengan 1908: untuk periode ini, koleksi-koleksi dan publikasi oleh Van
Eck dan Van der Tuuk menunjukkan bukti yang subtantif untuk perkembangan aksara Bali
sampai dengan akhir abad ke-19 M;

(3) periode 1908 sampai dengan Indonesia merdeka pada 1945, ketika ibukota di Singaraja, di
mana pendidikan berkembang dan terakhir Gedong Kirtya yang memengaruhi kesusasteraan
Bali: selama periode ini penulis-penulis asal Bali awal menggunakan bahasa Indonesia sudah
mulai aktif sejak 1930-an;

(4) periode 1945 dan seterusnya, ketika ibukota dipindahkan ke Den Pasar, Universitas Udayana
dibangun, jurnalisme dan penyiaran menyediakan media saluran baru bagi para penulis, dan
penggunaan bahasa Indonesia menjadi resmi dan menyebar ke seantero Bali.