Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis

dalam struktur pembangunan perekonomian nasional khususnya daerah-daerah.

Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan

strategis dalam perekonomian. Hal ini disebabkan sektor pertanian mempunyai

peranan yang penting sebagai berikut : (1) kontribusi yang dominan, kesempatan

kerja, dan berusaha, (2) keunggulan komparatif wilayah masih tetap bertumpu

kepada pengusahaan sumber daya alam sebagai Negara agraris; (3)

pengembangan agribisnis wilayah sejalan dengan upaya membangun ketahanan

pangan yang keragaman bahan pangan, budaya; (4) pembangunan pertanian

mampu memyelaraskan dimensi pertumbuhan, pemerataan, dan keberlanjutan

pembangunan dalam arti luas (Badan Pusat Data dan Sistem Informasi

Pertanian 2012).

Hortikultura merupakan salah satu sektor pertanian yang berperan penting

dalam kontribusinya untuk pendapatan nasional. Seperti yang ditunjukkan

kontribusi PDB atas harga yang berlaku tahun 2010 untuk subsektor hortikultura

pada tahun 2017 sebanyak 1,37% (135.647,00 Milyar) yang mana meningkat dari

tahun sebelumnya yaitu 2016 yang hanya sebanyak 1,38% (130.832,30 Milyar)

dengan laju pertumbuhan pada tahun 2017 sebanyak 3,68%. Peningkatan PDB

tersebut tercapai karena terjadi peningkatan produksi di berbagai sentra dan

kawasan, peningkatan luas area produksi dan areal panen (Direktorat Jendral

Hortikultura, Kementrian Pertanian, 2015).

1
Komoditas hortikultura yang mencakup tanaman buah-buahan, tanaman

sayur-sayuran, tanaman hias (florikultura), tanaman bahan obat (biofarmaka),

termasuk di dalamnya jamur, lumut, dan tanaman air, yang mempunyai fungsi

sayuran, bahan obat nabati, dan estetika dikenal sebagai tanaman hortikultura

(UU Hortikultura, 2010).

Tanaman sayuran adalah kelompok tanaman hortikultura yang banyak

ditanam dan dikembangkan di Indonesia. Salah satu tanaman sayuran yang

banyak dikonsumsi adalah kubis. Kubis juga merupakan salah satu sayuran yang

berhasil menembus pasar ekspor. Kubis (Brassica oleracea) termasuk salah satu

diantara 22 jenis sayuran komersial yang dihasilkan di Indonesia dan mendapat

prioritas pengembangan dalam setiap Repelita. Kubis (Brassica oleracea L)

merupakan salah satu tanaman budidaya yang banyak dikonsumsi masyarakat

sebagai sayuran yang baik untuk kesehatan karena mengandung mineral dan

vitamin yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Mineral yang terkandung dalam

kubis antara lain adalah kalsium, besi, fosfor, dan sulfur (Riana dan Lusi, 2012).

Perkembangan produksi tanaman Hortikultura di Indonesia dari Tahun

2014 – 2017 dapat dilihat pada Tabel 1.1.

2
Tabel 1.1. Perkembangan Jumlah Produksi (Ton) Tanaman Hortikultura
di Indonesia pada Tahun 2014 –2017 (ton)

No Komoditas Tahun
2014 2015 2016 2017
1 Bawang Daun 584.631 512.497 537.931 537.931
2 Bawang Merah 1.233.989 1.229.189 1.446.869 1.470.154
3 Bawang Putih 16.894 20.293 21.150 19.513
4 Bayam 134.166 150.093 160.267 148.303
5 Buncis 318.218 291.333 275.535 279.052
6 Cabe besar 1.074.611 1.045.200 1.045.601 1.206.276
7 Cabe Rawit 800.484 869.954 915.997 1.153.165
8 Cabai 1.875.095 1.915.154 1.961.598 2.359.441
9 Jamur 37.410 33.485 40.914 37.020
10 Kacang Merah 100.319 42.388 37.171 74.370
11 Kacang Panjang 450.727 395.524 388.071 381.196
12 Kangkung 319.618 305.080 297.130 276.982
13 Kembang Kol 136.514 118.394 142.851 152.872
14 Kentang 1.347.818 1.219.277 1.213.041 1.164.743
15 Ketimun 477.989 447.696 430.218 424.933
16 Kubis 1.435.840 1.443.227 1.513.326 1.442.631
17 Labu Siam 357.561 431.219 603.325 566.857
18 Lobak 31.865 21.47 19.483 22.424
19 Terung 557.053 514.332 509.749 535.436
20 Tomat 916.001 877.801 883.242 962.856
21 Petsai 602.478 600.200 601.204 627.611
22 Wortel 495.800 522.529 537.526 537.345
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, 2018

Tabel 1.1 Menunjukkan bahwa tanaman kubis merupakan salah satu

tanaman hortikultura yang menempati urutan kedua (2) setelah Cabai, sebagai

komoditi dengan produksi yang tinggi di Indonesia. Pada Tahun 2017, produksi

tanaman kubis mencapai 1.442.631 ton atau setara dengan 12,00% dari total

produksi tanaman hortikultura di Indonesia. Perkembangan produksi tanaman

kubis di Indonesia memberikan kontribusi yang cukup baik untuk produksi

tanaman hortikultura nasional. Berikut data luas panen, produksi, dan

produktivitas menurut provinsi di Indonesia.

3
Tabel 1.2. Luas Panen (Ha), Produksi (Ton), dan Produktivitas (Ton/Ha)
Kubis Menurut Provinsi di Indonesia, Tahun 2017

Luas Panen Produksi Produktivitas


No Propinsi
(ha) (ton) (ton/ha)
1 Sumatra Utara 7.872 180.371 22,91
2 Sumatra Barat 2.838 89.193,6 31,43
3 Jambi 1.141 25.518,2 22,36
4 Sumatra Selatan 504 4.542,1 9,01
5 Bengkulu 2.596 92.123,3 35,48
6 Lampung 516 10.229 19,82
7 Jawa Barat 12.867 291.540,8 22,65
8 Jawa Tengah 16.196 304.187 18,78
9 Jawa Timur 10.785 256.836 23,81
10 Bali 1.168 35.507 30,39
11 Nusa Tenggara Barat 530 6.497,3 12,25
12 Nusa Tenggara Timur 395 4.321,30 10,94
13 Sulawesi Utara 29.596 70.542,1 2,38
14 Sulawesi Tengah 594 13.691,81 23,05
15 Sulawesi Selatan 2.018 56.943,5 28,22
16 Sulawesi Tenggara 88 172,5 1,96
17 Maluku 120 391 3,26
18 Maluku Utara 14 23 1,00
Total 90.838 1.442.631 15,88
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, 2018

Tabel 1.2 menunjukan bahwa produksi kubis yang tertinggi adalah

Provinsi Jawa Tengah dengan produksi sebesar 304.187 ton atau sekitar 21,08%

dari total produksi kubis di Indonesia. Sedangkan untuk Propinsi Sumatera Utara

Sendiri berada di posisi keempat setelah Provinsi Jawa Timur, Jawa Barat, dan

Jawa Tengah, dengan luas panen sebesar 7.872 ha dan jumlah produksi sebesar

180.371 ton atau sekitar 12,51% dari total produksi kubis di Indonesia.

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi sentra kubis di Indonesia.

Produksi kubis di Sumatera Utara menyebar di beberapa kabupaten seperti

Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Humbang Hasundutan,

Kabupaten Dairi, dan Kabupaten Samosir. Kabupaten Karo salah satu kabupaten

yang memiliki banyak komoditas unggulan di sektor sayuran seperti tomat, cabai,

4
kentang, kubis, buncis, dan wortel. Kubis menjadi salah satu sayuran yang selalu

diproduksi oleh petani di Kabupaten Karo. Berikut data luas panen, produksi, dan

produktivitas kubis menurut kabupaten di Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 1.3. Luas Panen (Ha), Produksi (Ton), dan Produktivitas (Ton/Ha)
Kubis di Provinsi Sumatera Utara, Tahun 2017

Luas panen Produksi Produktivitas


No Kabupaten
(ha) (ton) (ton/ha)
1 Simalungun 3.044 69.748 22,91
2 Dairi 496 3.541,64 7,14
3 Karo 3.731 98.325,2 26,35
4 Humbang Hasundutan 463 5.940,1 12,83
5 Samosir 138 2.816 20,41
Total 7.872 180.371 22,91
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, 2018

Pada Tabel 1.3 diatas dapat diketahui bahwa daerah penghasil kubis di

Provinsi Sumatera Utara hanya terdapat di 5 kabupaten dari 33 kabupaten/kota.

Kabupaten Karo merupakan salah satu daerah penghasil kubis terbesar dengan

jumlah produksi sebesar 98.325,2 ton atau setara dengan 54,52%, disusul

Kabupaten Simalungun 38,67%, Humbang Hasundutan 3,29%, Dairi 1,96% dan

Samosir sebesar 1,56% dari total produksi kubis di Sumatera Utara.

Kabupaten Karo terdiri dari 17 kecamatan, yang tidak semuanya

mempunyai luasan panen untuk tanaman kubis. Beberapa kecamatan yang

memiliki luasan panen terbesar untuk kubis yaitu Kecamatan Tiga Panah,

Simpang Empat, Naman Teran, dan Merek.

5
Tabel 1.4. Luas Panen (Ha), Produksi (Ton), dan Produktivitas (Ton/Ha)
Kubis per Kecamatan di Kabupaten Karo, Tahun 2017

Luas Panen Produksi Produktivitas


No Kecamatan
(ha) (ton) (ton/ha)
1. Munte 9 142,9 15,87
2. Payung 40 531,3 13,28
3. Tiganderket 56 773 13,81
4. Simpang Empat 609 19.169 31,47
5. Naman Teran 524 13.078 24,95
6. Merdeka 274 7.548 27,54
7. Kabanjahe 268 10.720 40,00
8. Berastagi 261 8.886 34,04
9. Tigapanah 870 14.976,5 17,22
10. Dolat Rayat 155 3.875 25,00
11. Merek 493 14.079 28,56
12. Barusjahe 172 4.546 26,43
Total 3.731 98.325,2 26,35
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Karo, 2018

Kecamatan Merek merupakan kecamatan dengan luas panen kubis terbesar

keempat yakni 493 hektar atau 13,22% dari total luasan panen kubis di Kabupaten

Karo. Produktivitas tanaman kubis di Kecamatan Merek Kabupaten Karo

Sumatera Utara lebih tinggi jika dibandingkan dengan produktivitas rata-rata

tanaman kubis di Indonesia. Walaupun rata-rata produktivitas kubis di Kecamatan

Merek Kabupaten Karo lebih tinggi tetapi tidak semua daerah di Kabupaten Karo

memiliki produkstivitas tinggi terdapat beberapa daerah yang juga memiliki

produktivitas yang lebih kecil dari produktivitas kubis nasional.

Kecamatan Merek terdiri dari 19 desa, dimana Desa Merek merupakan

salah satu desa yang memiliki petani kubis yang telah menanam kubis dari musim

ke musim. Desa Merek juga memiliki potensi yang sangat baik dalam

membudidayakan kubis karena kondisi agroklimat daerah ini cocok untuk

ditanami berbagai tanaman sayuran, seperti kubis, kentang, cabai, bawang, dan

6
bunga kol. Kubis yang dipasarkan oleh petani-petani di daerah ini adalah kubis

segar, yaitu kubis yang dikonsumsi sebagai sayuran oleh konsumen.

Kubis segar merupakan produk pertanian yang tidak dapat disimpan dalam

waktu yang lama, berbeda dengan kentang yang cukup tahan lama. Hal ini

dikarenakan kubis segar bersifat mudah rusak (perishable), sehingga kubis harus

segera didistribusikan ke konsumen. Proses pendistribusian kubis ke konsumen

melalui proses pemasaran. Pemasaran kubis pada dasarnya merupakan

institusionalisasi pelayanan untuk menjembatani berpindahnya kubis dari sisi

produksi ke sisi konsumsi. Pemasaran kubis yang baik akan mengalirkan kubis

dari petani ke konsumen dan memberi indikasi tentang perubahan penawaran dan

permintaan kubis kepada petani.

Dalam proses pemasaran, semakin efisien kerja lembaga-lembaga

pemasaran, maka semakin menguntungkan bagi semua pihak. Bagi konsumen

efisien dapat berakibat harga lebih murah dengan tingkat pelayanan yang sama.

Sedangkan produsen dapat berakibat bertambahnya bagian keuntungan yang

diterima. Bagi lembaga pemasaran efisien memberikan kemungkinan untuk

menentukan biaya agar keuntungan lebih besar. Dalam kegiatan pemasaran

melibatkan satu atau beberapa lembaga pemasaran sebagai penyelenggara

pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen ke konsumen akhir dan

menjalankan fungsi–fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen

semaksimal mungkin. Untuk meningkatkan efisiensi pemasaran, lembaga –

lembaga melakukan koordinasi melaksanakan fungsi – fungsi pemasaran

7
Dengan demikian, penelitian mengenai efisiensi pemasaran komoditas

kubis ini penting, karena banyaknya lembaga pemasaran yang terlibat dapat

mempengaruhi besarnya biaya pemasaran. Besarnya biaya pemasaran akan

mengarah kepada semakin besarnya perbedaan harga antara petani produsen

dengan konsumen.

1.2. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana saluran pemasaran kubis yang di daerah penelitian lebih dari satu

saluran ?

2. Bagaimana perbedaan biaya pemasaran, share margin, dan price spread pada

masing-masing saluran pemasaran di daerah penelitian.

3. Bagaimana tingkat efisiensi pada masing-masing saluran pemasaran kubis di

daerah peneilitian ?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui saluran pemasaran kubis yang di daerah penelitian lebih

dari satu saluran.

2. Untuk mengetahui perbedaan biaya pemasaran, share margin, dan price

spread pada masing-masing saluran pemasaran di daerah penelitian.

3. Untuk mengetahui tingkat efisiensi pada masing-masing saluran pemasaran

kubis di daerah peneilitian.

1.4. Kegunaan Penelitian

1. Sebagai salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi di Fakultas

Pertanian Universitas Darma Agung, Medan.

8
2. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi pihak berwenang dalam

pengambilan kebijakan pembangunan pertanian khususnya dalam

meningkatkan pendapatan petani.

3. Sebagai bahan pertimbagan bagi pengambil keputusan untuk menentukan

kebijaksanaan dibidang pemasaran kubis.

4. Sebagai bahan informasi dan referensi bagi pihak yang membutuhkan.

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA
PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Tanaman Kubis

Kubis (Brassica oleracea) atau biasa disebut kol merupakan tanaman

sayuran yang termasuk dalam keluarga Brassica seperti brokoli, kembang kol, dan

kecambah brussels. Di Indonesia, kubis mudah ditemui di berbagai rumah makan

khususnya yang menyediakan menu pecel, atau disajikan sebagai lalapan. Namun,

sering juga kita lihat banyak orang yang tidak tertarik mengkonsumsi lalapan

yang mengandung kubis mentah. Hal ini patut disayangkan, karena sebenarnya

kubis mengandung berbagai zat yang berguna bagi kesehatan tubuh. Manfaat

positif dari tanaman sayur kubis, yakni: mencegah pertumbuhan kanker,

meningkatkan sistem imun, mengatasi radang lambung, mengurangi resiko

katarak, merawat kulit, dan mencegah sembelit. Kubis memiliki kandungan serat

yang tergolong tinggi yang berfungsi sebagai perangsang sistem pencernaan dan

mencegah terjadinya sembelit (Suara Merdeka, 2012).

Tanaman kubis banyak memerlukan perawatan yang khusus. Pemeliharaan

tanaman yang penting di samping membersihkan rumput pengganggu dan

memberi air bila kekeringan dan memberantas hama serta penyakit. Hama-hama

yang sangat berbahaya terhadap tanaman kubis ialah ulat kubis. Ada d ua jenis

ulat kubis yaitu Plutella xylostella dan Crocodolomia binotalis (Sunarjono,

2013).

Dalam taksonomi tumbuh-tumbuhan, kubis dapat diklasifikasikan sebagai

berikut:

10
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Capparales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica oleraceavar. capitata L

Kubis dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi.

Pertumbuhan optimum didapatkan pada tanah yang banyak mengandung humus,

gembur, porus, pH tanah antara 6-7.Kubis dapat ditanam sepanjang tahun dengan

pemeliharaan lebih intensif (Edi, 2010).

Sistem perakaran kubis bunga memiliki akar tunggang dan akar serabut.

Akar tunggang tumbuh ke pusat bumi (kearah dalam), sedangkan akar serabut

tumbuh ke arah samping (horizontal), menyebar, dan dangkal (20 cm-30 cm).

Dengan perakaran yang dangkal tersebut, tanaman akan dapat tumbuh dengan

baik apabila ditanam pada tanah yang gembur. Batang tanaman kubis bunga

tumbuh tegak dan pendek sekitar 30 cm. Batang tersebut berwarna hijau, tebal,

dan lunak namun cukup kuat dan batang tanaman ini tidak bercabang

2.1.2. Aspek Ekonomis

Kubis adalah sayuran yang digemari masyarakat karena dikenal

mempunyai kandungan gizi tinggi. Kubis merupakan salah satu jenis sayur yang

sangat berguna bagi tubuh yang mampu mengatasi beberapa penyakit antara lain

adalah memperkecil resiko terjadinya kanker, mengurangi resiko terkena katarak,

membantu melawan anemia, mengurangi resiko terkena spina bifida yaitu salah

11
satu jenis gangguan kelainan tulang. Kandungan gizi dari tanaman kubis dapat

dilihat pada tabel 1.

Tabel 2.1. Kandungan Gizi pada Kubis Segar Setiap 100 gram

No Gizi yang Terkandung Jumlah


1 Air 88 g
2 Protein 4g
3 Lemak 0,3 g
4 Karbohidrat 6g
5 Serat 1,5 g
6 Kalsium 150 g
7 Kalium 325 g
8 Karoten 800 g
9 Vitamin 100 g
Sumber : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Pemasaran

Pemasaran adalah suatu proses sosial dan menajerial di mana individu dan

kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan,

menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain (Abdullah dan

Tantri, 2012).

Menurut Tjiptono dan Chandra (2012), “Pemasaran berarti kegiatan

individu yang diarahkan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan melalui

barter.” Pemasaran berarti menentukan dan memenuhi kebutuhan manusia dan

sosial dengan maksud memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia, sehingga

dapat dikatakan bahwa keberhasilan pemasaran merupakan kunci kesuksesan dari

sebuah perusahaan. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

pemasaran merupakan suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang

digunakan untuk merencanakan, menentukan harga, mendistribusikan dan

12
mempromosikan suatu barang atau jasa yang bertujuan untuk memuaskan

kebutuhan pembeli.

Ditinjau dari aspek ekonomi kegiatan pemasaran pertanian dikatakan

sebagai kegiatan produktif sebab pemasaran pertanian dapat meningkatkan guna

waktu (time utility), guna tempat (place utility), guna bentuk (form utility) dan

guna pemilikan (possession utility). Komoditi pertanian yang sudah mengalami

peningkatan guna waktu, guna tempat dan guna bentuk baru dapat memenuhi

kebutuhan konsumen, apabila sudah terjadi pemindahan hak milik dari produsen

atau lembaga pemasaran kepada konsumen (Kotler dan Susanto, 2012).

2.2.2. Saluran dan Lembaga Pemasaran

Saluran pemasaran merupakan suatu jalur dari lembaga-lembaga penyalur

yang mempunyai kegiatan menyalurkan barang dari produsen ke konsumen.

Sedangkan lembaga tataniaga adalah badan atau usaha atau individu yang

menyelenggarakan tataniaga, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen ke

konsumen akhir.

Menurut Stanton (2012) “Saluran pemasaran dibedakan menjadi saluran

pemasaran untuk barang konsumsi, untuk barang industri dan untuk jasa”.

Selanjutnya Stanton (2012) mengatakan ketiga jenis barang tersebut diatas,

tentunya memerlukan saluran pemasaran yang berbeda karena memang pasar

yang dituju juga berbeda. Atas dasar jenis dan segmen produk yang dipasarkan,

jenis saluran distribusi dapat dibedakan atas :

1. Produsen-Konsumen

Saluran ini adalah bentuk saluran yang paling pendek dan sederhana karena

tanpa perantara. Produsen dapat manawarkan barang atau jasa kepada

13
konsumen langsung. Saluran ini disebut sebagai saluran tataniaga langsung.

Bentuk saluran ini tidak memerlukan tambahan biaya yang akan dipergunakan

untuk biaya pengangkutan atau perantara. Bentuk penjualan ini sangat

disenangi oleh konsumen, karena harga biasanya lebih murah.

2. Produsen-Pengecer-Konsumen

Dalam saluran ini, produsen menginginkan suatu lembaga lain, maksudnya

dalam hal ini adalah pengecer yang menyampaikan produknya ke konsumen,

dimana pengecer langsung membeli produk tanpa melalui pedagang besar dan

menjualnya kepada konsumen.

3. Produsen-Pedagang Besar-Konsumen

Jenis saluran ini dilaksanakan oleh produsen yang tidak ingin menjual secara

langsung tetapi tetap menginginkan suatu lembaga guna menyalurkan

produknya, sehingga dalam hal ini produsen menjual kepada pedagang besar

saja, kemudian pedagang besarlah yang menjual kembali kepada pengecer

hingga akhirnya sampai ditangan konsumen.

4. Produsen- Agen- Pedagang Besar- Pengecer- Konsumen

Jenis saluran ini yang sering dipakai para produsen dengan melibatkan agen

didalamnya. Disini agen fungsinya adalah sebagai penyalur yang kemudian

mengatur sistem penjualannya kepada saluran pedagang besar selanjutnya

sistem penjualan pedagang besar kepada pengecer dan kemudian sampai

ketangan konsumen. Saluran tataniaga ini sering dipergunakan untuk produk

yang tahan lama.

14
5. Produsen- Agen- Pengecer- Konsumen

Dalam saluran ini produsen memilih agen yang akan dipertemukan produsen

untuk menjalankan kegiatan penjualan kepada pengecer dan selanjutnya

pengecer menjual kepada konsumen.

Menurut Kotler dan Keller (2012), lembaga-lembaga pemasaran yang

terlibat dalam proses pemasaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Tengkulak, lembaga pemasaran yang secara langsung berhubungan dengan

petani.

2. Pedagang pengumpul, lembaga yang membeli komoditi dari tengkulak.

3. Pedagang besar, lembaga yang melakukan proses konsentrasi (pengumpulan)

komoditi dari pedagang-pedagang pengumpul, melakukan distribusi ke agen

penjualan atau pengecer.

4. Agen penjualan, lembaga yang membeli komoditi yang dimiliki pedagang

dalam jumlah banyak dengan harga yang relative murah dibanding pengecer.

5. Pengecer, lembaga yang berhadapan langsung dengan konsumen.

2.2.3. Fungsi-fungsi Pemasaran

Lembaga pemasaran pada akhirnya melakukan kegiatan fungsi pemasaran

yang meliputi kegiatan: pembelian, sorting atau grading (membedakan barang

berdasarkan ukuran atau kualitasnya), penyimpanan, pengangkutan, dan

processing (pengolahan). Masing-masing lembaga pemasaran, sesuai dengan

kemampuan yang dimiliki, akan melakukan fungsi pemasaran ini secara berbeda-

beda. Karena perbedaan kegiatan dan biaya yang dilakukan, maka tidak semua

kegiatan dalam fungsi pemasaran dilakukan oleh lembaga pemasaran, maka biaya

15
dan keuntungan pemasaran menjadi berbeda di tiap tingkat lembaga pemasaran

(Swastha, 2012).

Adapun fungsi pemasaran adalah sebagai berikut:

a. Perdagangan (Merchandizing), perencanaan yang berkenaan dengan pemasaran

barang/jasa yang tepat dalam jumlah yang tepat serta harga yang selaras,

termasuk di dalamnya faktor-faktor lain seperti bentuk, ukuran, kemasan, dan

sebagainya.

b. Pembelian (Buying), fungsi pembelian adalah peranan perusahaan dalam

pengadaan bahan sesuai dengan kebutuhan.

c. Penjualan (Selling), sebaiknya juga bersifat dinamis, apalagi yang dinamakan

“Personal selling” karena ia harus meyakinkan orang untuk membeli suatu

barang/jasa yang mempunyai arti komersial baginya.

d. Transportasi (Transportation), perencanaan, seleksi, dan pengarahan semua alat

pengangkutan untuk memindahkan barang dalam proses pemasaran.

e. Pergudangan (Storage), berarti menyimpan barang selama waktu barang

tersebut dihasilkan dan dijual. Kadang-kadang selama fase penyimpanan ini

perlu juga diadakan pengolahan lebih lanjut.

f. Standarisasi (Standardization), penetapan batas-batas elementer berupa

perincian-perincian yang harus dipenuhi oleh barang-barang buatan pabrik atau

kelas-kelas ke dalam barang pertanian, contohnya harus digolongkan.

g. Grading berarti memilih kesatuan dari suatu produk yang dimasukkan ke dalam

kelas dan derajat yang sudah ditetapkan dengan standarisasi.

16
h. Keuangan (Financing), merupakan suatu usaha mencari dan mengurus modal

uang dan kredit yang langsung bersangkutan dengan transaksi dalam

mengalirkan arus barang/ jasa dari produsen ke konsumen.

i. Komunikasi (Communication), dengan fungsi ini kita maksudkan segala

sesuatu yang dapat memperlancar hubungan di dalam suatu perusahaan, dan

pelaksanaan hubungan keluar (information research, advertising, publicity and

intelligence).

j. Resiko (Risk), adalah cara/ fungsi bagaimana kita menangani kemungkinan

resiko rugi karena rusaknya barang, susut hilang, atau turun harga.

(Pasaribu, 2012).

2.2.4. Marjin Pemasaran, Keuntungan dan Biaya Pemasaran

` Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan

pemasaran. Biaya pemasaran meliputi biaya angkut, biaya pengeringan,

penyusutan, retribusi dan lainnya. Besarnya biaya ini berbeda satu sama lain

disebabkan karena macam komoditi, lokasi pemasaran, macam lembaga

pemasaran dan efektivitas pemasaran yang dilakukan. Saluran pemasaran ditinjau

sebagai satu kelompok atau satu tim operasi, maka marjin dapat dinyatakan

sebagai suatu pembayaran yang diberikan kepada mereka atas jasa-jasanya. Jadi,

marjin merupakan suatu imbalan, atau harga atas suatu hasil kerja.Apabila ditinjau

sebagai pembayaran atas jasa-jasa, marjin menjadi suatu elemen yang penting

dalam strategi pemasaran. Konsep marjin sebagai suatu pembayaran pada

penyalur mempunyai dasar logis dalam konsep tentang nilai tambah. Marjin

didefinisikan sebagai perbedaan antara harga beli dengan harga jual (Swastha,

2012).

17
Selisih harga yang dipasarkan ke produsen dan harga yang diberikan oleh

konsumen dikurangi dengan biaya pemasaran disebut keuntungan pemasaran.

Masing-masing lembaga ingin mendapatkan keuntungan, maka harga yang

dibayarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran juga berbeda. Semakin maju

tingkat pengetahuan produsen, lembaga pemasaran dan konsumen terhadap

penguasaan informasi pasar, maka semakin merata distribusi marjin pemasaran

yang diterima. Jarak yang mengantarkan produksi pertanian dari produsen ke

konsumen menyebabkan terjadinya perbedaan besarnya keuntungan. Perbedaan

harga di masing-masing lembaga pemasaran sangat bervariasi tergantung besar

kecilnya keuntungan yang diambil oleh masing-masing lembaga pemasara

Marjin pemasaran merupakan selisih antara harga yang dibayarkan oleh

konsumen dengan harga yang diterima oleh petani. Komponen marjin pemasaran

terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran dalam

menjalankan fungsi-fungsi pemasaran dan keuntungan yang ingin diperoleh oleh

lembaga pemasaran, sehingga besarnya marjin pemasaran pada dasarnya

merupakan penjumlahan antara biaya-biaya dan keuntungan yang diterima

lembaga pemasaran (Manggopa, 2013).

Secara matematis formula umum margin pemasaran dirumuskan sebagai

berikut (Manggopa, 2013).

a. Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga antara harga yang dibayarkan

konsumen dengan harga yang diterima petani, secara sistematis dapat

dirumuskan sebagai berikut :

M = Pr – Pf

18
Keterangan :

M : Marjin

Pr : Harga di tingkat konsumen (Rp)

Pf : Harga di tingkat produsen (Rp)

Suatu sistem distribusi dikatakan efisien jika besarnya tingkat marjin

pemasaran bernilai kurang dari 50% dari tingkat harga yang dibayarkan

konsumen.

b. Marjin pemasaran terdiri dari komponen yang terdiri dari biaya-biaya yang

diperlukan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi

pemasaran dan keuntungan lembaga pemasaran. Secara sistematis marjin

pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut :

M = Bp + Kp

Keterangan :

M : Marjin (Rp/kg)

Bp : Biaya pemasaran (Rp/kg)

Kp : Keuntungan pemasaran (Rp/kg)

2.2.5. Efisiensi Pemasaran

Efisiensi pemasaran yang efisien adalah jika biaya pemasaran lebih rendah

dari pada nilai produk yang dipasarkan, maka semakin efisien melaksanakan

pemasaran. Pengukuran efisiensi pemasaran melalui dua pendekatan yaitu

pendekatan melalui teliti unsur pemasaran yang meliputi struktur pasar, tingkah

laku perusahaan/pedagang dalam memasarkan produk komoditi, kinerja

pasar (market performance) yang terkait dengan market structure

(Swastha, 2012).

19
Pengukuran efisiensi pemasaran pertanian dengan menggunakan

perbandingan output pemasaran dengan biaya pemasaran dan pada umumnya

dapat digunakan untuk memperbaiki efisiensi pemasaran dengan mengubah

keduanya. Upaya perbaikan efisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan

meningkatkan output pemasaran atau mengurangi biaya pemasaran.

Secara sederhana efisien dapat didekati dengan rasio output dan input.

Suatu proses pemasaran dikatakan efisien apabila :

1. Output tetap konstan dicapai dengan input yang lebih sedikit

2. Output meningkat sedangkan input yang digunakan tetap konstan

3. utput dan input sama-sama mengalami kenaikan, kenaikan output lebih cepat

daripada laju input.

4. Output dan input sama-sama mengalami penurunan, tetapi laju

penurunan output lebih lambat dari pada laju penurunan input (Swastha,

2012).

20
2.3. Kerangka Pemikiran

Dalam mekanisasi pemasaran kubis melibatkan beberapa pihak yang

meliputi produsen, pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer,

konsumen. Dalam hal ini produsen adalah petani kubis dan konsumen adalah

masyarakat yang mengkonsumsi kubis.

Tiap lembaga pemasaran melakukan fungsi-fungsi pemasaran. Fungsi-

fungsi pemasaran yang dilakukan antara lain fungsi penjualan, pembelian,

pengemasan, bongkar muat, transportasi, sortir, resiko, dan informasi pasar.

Setiap pedagang (middleman) melakukan fungsi-fungsi pemasaran tersebut maka

akan dikeluarkan biaya yang disebut dengan biaya pemasaran. Disamping itu

pedagang juga memperoleh balas jasa yang disebut dengan keuntungan.

Biaya pemasaran akan menetukan harga yang diterima oleh setiap

lembaga. Biaya pemasaran diukur dengan sebaran harga (price spread) dan

persentase margin (share margin ). Besarnya biaya pemasaran dibandingkan

dengan nilai produk yang dipasarkan akan menunjukkan tingkat efesiensi

pemasaran kubis.

21
Petani Kubis

Usahatani Kubis

Pemasaran Kubis

Lembaga Pemasaran Saluran Pemasaran Fungsi Pemasaran

Biaya Pemasaran

Efisiensi
Keuntungan Pemasaran
Pemasaran

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

Keterangan :

Menyatakan hubungan

22
2.4. Hipotesis Penelitian

a. Terdapat dua saluran pemasaran kubis di daerah penelitian.

b. Biaya pemasaran, price spread dan share margin di setiap saluran pemasaran

di daerah penelitian besar.

c. Pemasaran kubis di daerah penelitian efisien.

23
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi, Waktu, dan Ruang Lingkup Penelitian

a. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Merek, Kecamatan Merek, Kabupaten

Karo. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) dengan

pertimbangan bahwa Kecamatan ini sebagian besar penduduknya adalah petani

kubis dan merupakan sentra produksi kubis di Kabupaten Karo. Penelitian

dilaksanakan mulai bulan April 2019 - Juli 2019.

b. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian meliputi saluran, fungsi dan efisiensi pemasaran

kubis di Desa Merek, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

3.2. Metode Penentuan Sampel

a. Produsen

Metode penentuan sampel petani kubis di Desa Merek dengan metode

Simple Random Sampling, dengan jumlah populasi petani kubis sebanyak 127

KK. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 33 petani yang dianggap dapat

mewakili populasi. Penentuan besar sampel yang hanya 33 petani bertujuan untuk

mempermudah dan mempercepat waktu penelitian (Sugiyono, 2013). Agar

sampel yang diambil dalam penelitian ini dapat mewakili populasi maka

ditentukan jumlah sampel yang dihitung dengan menggunakan rumus Slovin

sebagai berikut :

24
N
n=
1 + N (e)2

127
n=
1 + 127 (15%)2
127
n=
1 + 127 (0,15)2

127
n=
1 + 127 (0,0225)

127
n=
3,60

n = 32,9

n = 33 Sampel

Keterangan :

n = Besarnya sampel

N = Besarnya populasi sampel

e = Margin error (15%)

b. Pedagang

Penentuan responden pedagang ditentukan dengan menggunakan metode

bola salju (snow ball sampling) yaitu mengikuti alur pemasaran kubis yang

berlangsung. Lembaga pemasaran yang dipilih berdasarkan alur pemasaran kubis

dari petani ke lembaga pemasaran yang terdiri atas pedagang pengumpul

sebanyak dua orang, pedagang besar sebanyak dua orang dan pedagang pengecer

sebanyak dua orang. Penelitian ini dilakukan langsung dilapangan dengan

mengamati proses transaksi yang terjadi ditingkat petani dengan pedagang yang

terlibat dalam penjualan kubis. Metode ini digunakan untuk mendapatkan

25
informasi mengenai kegiatan pemasaran berdasarkan pada jumlah pedagang yang

terlibat dalam alur pemasaran kubis.

Tabel 3.1. Jumlah Populasi, Sampel Petani dan Pedagang di Daerah


Penelitian, Tahun 2019

NO Kriteria Populasi Sampel


1. Petani 127 33
2. Pedagang Pengumpul 2 2
3. Pedagang Besar 2 2
4. Pedagang Pengecer 2 2
Total 133 39

3.3. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan

data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dari petani

hingga pedagang dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan terlebih

dahulu. Data sekunder diperoleh dari instansi atau lembaga terkait seperti, Kantor

Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Kantor Camat, dan Kantor Kepala Desa

daerah penelitian serta literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.4. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari lapangan terlebih dahulu ditabulasi secara

sederhana dan selanjutnya dianalisis dengan metode analisis yang sesuai.

Untuk menjawab hipotesis 1 digunakan analisis deskriptif (dengan cara

menggambarkan dan menjelaskan), yaitu dengan menganalisis :

a. Mata rantai dan volume pemasaran kubis yang terdapat di daerah penelitian

Untuk menjawab hipotesis 2 digunakan tabulasi sederhana dengan

menghitung volume produksi, biaya pemasaran, price spread, share margin yang

diterima dari petani (produsen) dan masing-masing lembaga pemasaran pada

setiap saluran pemasaran.

26
Untuk menghitung margin pemasaran digunakan rumus sebagai berikut :

Mji = Psi - Pbi

Mji = Bti - µi

µi = Mji - Bti

Maka akan diperoleh margin pemasaran total adalah :

Mj = Margin pada lembaga pemasaran ke-i

Psi = Harga penjualan pada lembaga pemasaran ke-i

Pbi = Harga beli lembaga pemasaran ke-i

Bti = Biaya pemasaran lembaga pemasaran ke-i

µi = Keuntungan lembaga pemasaran ke-i

Mj = Margin pemasaran total ke-i = 1,2,3...n

Untuk menghitung share margin, digunakan rumus :

Pp
SM = X 100
Pk

Dimana :

Sm = Share margin dihitung dalam persen

Pp = Harga yang diterima petani atau pedagang

Pk = Harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir (Manggopa, 2013)

Untuk menjawab hipotesis 3 dianalisis dengan cara tabulasi sederhana,

dengan rumus :

Biaya pemasaran
Ep Nilai produksi yang dipasarkan 𝑥100%

Dengan kriteria bila :

Ep < 50% dikatakan efisien

Ep > 50% dikatakan tidak efisien (Manggopa, 2013)

27
3.5. Batasan Operasional

1. Pemasaran kubis adalah mengalirnya barang produksi khusus kubis di

produsen ke konsumen yang dapat terjadi oleh karena adanya lembaga

pemasaran.

2. Petani sampel (produsen) adalah petani yang membudidayakan kubis.

3. Konsumen adalah orang yang membeli kubis untuk dikonsumsi sesuai

dengan tingkat kebutuhan.

4. Harga kubis yang diterima petani produsen dan pedagang adalah harga kubis

pada saat terjadi jual beli yang ditentukan dalam keadaan pasar pada saat

terjadi transaksi dan dinyatakan dalam rupiah per kilogram (Rp/Kg).

5. Lembaga pemasaran adalah badan-badan atau lembaga-lembaga yang

berusaha dalam bidang pemasaran, menggerakkan barang dari produsen ke

konsumen melalui proses jual beli.

6. Saluran pemasaran kubis adalah rangkaian lembaga-lembaga pemasaran yang

dilalui dalam distribusi kubis dari produsen ke konsumen.

7. Pedagang adalah orang yang membeli kubis dari petani yang berada di lahan

dan siap panen.

8. Pedagang pengumpul adalah pedagang yang membeli kubis dari petani serta

mengumpulkannya kemudian dijual ke pedagang besar.

9. Pedagang pengecer adalah pedagang yang membeli kubis dari lembaga

pemasaran sebelumnya kemudian menjualnya langsung kepada konsumen.

10. Keuntungan pemasaran adalah selisih harga jual dengan harga beli dan biaya

pemasaran yang diterima oleh suatu lembaga pemasaran kubis dalam rupiah

per kilogram (Rp/Kg).

28
11. Marjin pemasaran kubis adalah selisih harga tingkat produsen dan tingkat

konsumen akhir (Rp/Kg).

12. Farmer’s share adalah perbandingan antara harga yang diterima produsen

dengan harga yang diterima konsumen yang dinyatakan dalam persen (%).

13. Efisiensi pemasaran adalah efisiensi ekonomi yang diukur dari besarnya

marjin pemasaran dan bagian yang diterima petani (Farmer’s share)

dinyatakan dalam persentase (%).

14. Jumlah lembaga pemasaran yang dilalui adalah jumlah lembaga pemasaran

yang terlibat dalam pemasaran kubis seperti pengumpul dan pedagang

pengecer.

29
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Deskriptif Daerah Penelitian

Desa merek merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Merek,

Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Jarak Desa Merek ke Ibu Kota

Kecamatan sejauh kurang lebih 11Km, sedangkan jarak Desa Merek ke Ibu Kota

Kabupaten sejauh 13 Km. Adapaun batas-batas wilayah Desa Merek sebagai

berikut:

Sebelah Utara : Desa Garingging

Sebelah Selatan : Desa Situnggaling

Sebelah Timur : Desa Tongging

Sebelah Barat : Desa Pancur Batu

Untuk sampai ke Desa Merek dapat menggunakan roda 2 (dua) dan roda 4

(empat). Angkutan yang digunakan di Desa Merek adalah angkutan umum seperti

angkot, becak dan kendaraan pribadi.

Masyarakat yang tinggl di desa ini pada umumnya bekerja sebgai petani.

Seiring maraknya perkembangan zaman banyak orang-orang membangun rumah

sebagai tempat tinggal dimana yang tinggl disana bukan lagi Suku Karo akan

tetapi sudah bercampur dengan suku lain, yang diakibatkan oleh perkawinan

antara dua suku dan adanya pendatang dari luar desa dan menetap di Desa Merek.

Dengan bertambahnya jumlah penduduk maka daerah pemukiman semakin

banyak. Seiring berjalanya waktu dan perkembangan zaman banyak dari warga

dari desa ini yang merantau dan mengejar pendidikan diluar Desa Merek sehingga

kurangnya tenaga kerja pertanian di desa tersebut. Disebabkan karena kurangnya

tenaga kerja dilahan pertanian penduduk Desa Merek maka tenaga kerja mulai

30
diambil dari luar daerah.

4.2. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan/tanah dapat memberikan gambaran bagaimana tingkat

kemampuan suatu masyarakat memanfaatkan alam demi ksejahteraannya.

Luas wilayah Desa Merek menurut fungsinya dibagi menjadi areal

persawahan, lahan kering, halaman pekarangan dan lain-lain. Berikut ini dapat

menggambarkan penggunaan lahan/tanah di Desa Merek.

Tabel 4.1. Distribusi Penggunaan Lahan (Ha, %) di Desa Merek, Tahun 2018

No Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)


1 Lahan Pertanian 60 60
2 Pemukiman 10 10
3 Pekarangan 2,8 2,8
4 Perkebunan 5 5
5 Lahan Lainnya 22,2 22,2
Total 100 100,00
Sumber: Kantro Kepala Desa Merek, 2019

Dari tabel 4.1 meunjukan bahwa Desa Merek mempunyai luas wilayah

sebesar 100 Ha dengan berbagai tingkat penggunaan tanah. Sebagian penggunaan

tanah diperuntukan untuk lahan pertanian yaitu seluas 60 Ha (60%) dari seluruh

luah tanah di Desa Merek.

4.3. Keadaan Penduduk

Kepadatan penduduk di Desa Merek ini sangat terlihat jarang, dimana

jarak antara rumah masih dbatasi dengan pekarangan (halaman) yang luas dengan

tanaman yang masih dapat ditanam disekitar halaman. Kondisi bangunan di Desa

Merek adalah permanen dan semi permanen.

Rumah permanen umumnya di Desa Merek ini masih bisa dihitung, sebab

yang punya dan menempati rumah permanen ini juga adalah orang-orang yang

sudah lama tinggal di Desa Merek dan mempunyai lahan pertanian milik sendiri

31
serta memiliki ekonomi dan mempunyai penghasilan yang baik. Sedangkan rumah

semi permanen umumnya berukuran 3 x 4 meter, dan 5 x 4. Rumah ini jenisnya

berbentuk setengah batu, berdindingkan papan dan berlantaikan semen dan atap

rumah terbuat dari seng dan rumah sudah ada yang di cat maupun belum dicat

dimana ada rumah yang sudah memiliki lantai keramik maupun menggunakan

semen biasa sebagai lantai rumah mereka

Penduduk yang tinggal di Desa Merek terdiri dari warga pribumi. Warga

pribumi yang tinggal di desa ini adalah seluruhnya warga negara Indonesia

pribumi. Berikut tabel jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur.

Tabel 4.2. Distribusi Penduduk (Jiwa, %) Berdasarkan Kelompok Umur di


Desa Merek, Tahun 2018

No Kelompok Jumlah Persentase (%)


Umur (Jiwa)
1 00-05 186 8
2 6-15 331 14,24
3 16-25 290 12,47
4 26-35 406 17,46
5 36-45 521 22,41
6 46-55 409 17,59
7 > 55 182 7,83
Total 2.325 100,00
Sumber: Kantor Kepala Desa Merek, 2019

Penduduk Desa Merek berjumlah 2.325 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak

terdapat pada kelompok umur 36-45 tahun yakni 521 jiwa dengan prsentase

sebesar 22,21% dan yang terendah adalah kelompok umur > 55 tahun sebanyak

1182 jiwa dengan persentase sebesar 7,83%.

32
Tabel 4.3. Distribusi Penduduk (Jiwa, %) Menurut Tingkat Pendidikan di
Desa Merek, Tahun 2018

No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase


(jiwa) (%)
1 Belum Sekolah 472 20,31
2 Tamat Tingkat SD 785 33,76
3 Tamat Tingkat SMP 591 25,42
4 Tamat Tingkat SMA/SMK 382 16,43
5 Tamat Perguruan Tinggi 95 4,08
Total 2.325 100,00
Sumber: Kantor Kepala Desa Merek, 2019

Menurut tipologi desa bahwa 30-60% penduduk berpendidikan SD keatas

dikatakan pendidikanya sedang. Jadi bila dilihat dari gambaran pendidikan di

Desa Merek dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan penduduk tergolong

sedang yaitu tamat SD sebanyak 785 orang (33,76%), meskipun penduduk

tergolong sedang bila dilakukan penyuluhan dengan baik dapat meningkatkan

pengetahuan dan wawasan petani yang berguna dalam mengelolah uashataninya.

Tabel 4.4. Distribusi Penduduk (Jiwa, %) Menurut Mata Pencaharian di


Desa Merek, Tahun 2018

N0 Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) Presentase (%)


1 Bertani 978 42,06
2 Pedagang 92 3,96
3 Pegawai Negeri 35 1,51
4 Buruh Tani 845 36,34
5 Tukang 15 0,65
4 Belum Bekerja 360 15,48
Total 2.325 100,00
Sumber: Kantor Kepala Desa Merek, 2019

Berdasarkan pada tabel dapat dilihat bahwa mayoritas mata pencaharian

penduduk adalah bertani yaitu 978 jiwa dengan persentase 42,06% dan buruh tani

845 jiwa dengan persentase 36,34%. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk di

Desa Merek rata-rata bekerja sebagai petani dan hanya sebagian kecil yang

berprofesi pegawai negeri dan yang belum bekerja.

33
4.4. Sarana dan Prasaran

Sarana dan prasarana merupakan infrastruktur yang sangat penting dalam

kehidupan bermasyarakat. Sarana dan prasarana menunjang kegiatan ekonomi

masyarakat agar terlaksana dengan baik. Perkembangan suatu daerah sangat

membutuhkan suatu alat yang dapat mempercepat akses masuknya arus informasi

bagi perkembangan daerah tersebut. Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa

Merek dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.5. Sarana dan Prasarana (Unit) di Desa Merek, Tahun 2018

No Jenis Sarana dan Prasarana Unit


1 Gereja 3
2 Mesjid 1
3 Sekolah 3
4 Paud 1
5 Posyandu 1
6 Puskesmas 1
7 Kantor Kepala Desa 1
Jumlah 11
Sumber: Kantor Kepala Desa Merek, 2019

Pada tabel 4.5 menunjukan ketersediaan sarana dan prasarana di Desa

Merek cukup baik dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang

kesehatan, dan keagamaan. Namun pada bidang tertentu seperti pendidikan perlu

dilakukan penambahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

4.5. Karakteristik Petani Sampel

Karakteristik seseorang sangat berpengaruh terhadap tindakan, pola pikir,

serta wawasan yang dimilikinya. Karakteristik petani sampel di daerah penelitian

meliputi karakteristik sosia dan ekonomi. Karakteristik sosial ekonomi petani

sampel dalam penelitian ini terdiri dari atas umur, tingkat pendidikan, pengalaman

bertani, jumlah tanggungan, dan luas lahan. Berikut tabel 4.5. menjelaskan tentang

karakteristik petani sampel.

34
Tabel 4.6. Karakteristik Petani Sampel di Desa Merek, Tahun 2019

No Karakteristik Rentang Rataan


1 Umur 32 - 69 47,42
2 Tingkat Pendidikan 6 - 12 10,09
3 Jumlah Tanggungan 1-6 3,06
4 Pengalaman Bertani 5 - 35 20,54
5 Luas Lahan 0,20 - 1,00 0,52
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran 1)

a. Umur

Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa umur petani sampel

rata-rata 47,42 tahun dengan range berkisar 32-69 tahun. Menurut Kartasapoetra

(2004) umur produktif petani berada pada kisaran 25–55 tahun. Usia seseorang

berkaitan dengan kemampuan bekerja secara fisik. Semakin tua usianya, secara

fisik tenaganya semakin lemah, dengan demikian akan kurang mampu melakukan

pekerjaan yang produktif. Sebaliknya usia yang muda dianggap masih mampu

melakukan pekerjaan berat sehingga hasil kerjanya cenderung akan lebih

produktif.

b. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan responden diukur berdasarkan jenjang pendidikan

tertinggi yang pernah dicapai responen. Pendidikan rata-rata responden adalah

10,09 tahun dengan range 6 sampai dengan 12 tahun. Dilihat dari tingkat

pendidikan rata-rata responden sudah tamat SD dan sebagian tamat SMP.

Menurut Andrew (20013) bahwa tingkat pendidikan petani minimal petani dalam

mengelolah usahataninya yaitu SMP (9 tahun), karena merupakan suatu proses

jangka panjang yang menggunakan prosedur sistematis.

35
c. Jumlah Tanggungan

Jumlah tanggungan responden sebanyak 3,06 jiwa dengan range 1–6

orang. Semakin tinggi jumlah tanggungan keluarga petani maka akan semakin

tinggi tingkat usaha petani dalam pengelolaan usahatani, sehingga akan

meningkatkan produktivitas usahatani dan pendapatan petani. Jumlah tanggungan

yang ada pada kelurga petani berada pada tingkat rata-rata yang rendah, menurut

Andi (2018) bahwa minimal banyaknya jumlah tanggungan petani yaitu 4 orang,

karena jumlah tanggungan yang banyak akan berpengaruh terhadap jumlah

pengeluaran dalam rumah tangga yang mengalami peningkatan.

d. Pengalaman Bertani

Salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan

pengelolaan usahatani adalah pengalaman bertani. Semakin tinggi tingkat

pengalaman bertani maka kemungkinan besar petani dapat mengelola

usahataninya dengan baik ataupun secara optimal. Hasil pengamatan dilapangan

bahwa rata-rata pengalaman petani berada pada tingkat 20,54 tahun. Menurut

Soekartawi (2006) mengatakan bahwa pengalaman bertani minimal 5-10 tahun,

karena pengalaman berusahatani yang cukup lama akan menjadikan petani lebih

berhati-hati dalam proses pengambilan keputusan.

e. Luas Lahan

Luas lahan yang dimiliki oleh petani responden cukup beragam tergantung

dari kemampuan petani tersebut. Luas lahan dapat menentukan keuntungan dan

efisiensi produksi sehingga dapat mempengaruhi pendapatan. Sebagian besar

petani memiliki luas areal usahatani 0,20 sampai 1,00 hektar, dengan rata-rata

sebesar 0,52 ha. Menurut Adhitama (2009) mengemukakan bahwa luas lahan

36
garapan minimal 0,5 - 1 ha, dimana luas lahan yang luas akan berpengaruh

terhadap produksi dan pendapatan petani.

4.6. Karakteristik Pedagang Sampel

Penentuan pedagang sampel dilakukan dengan cara menanyakan kepada

petani sampel kepada siapa mereka menjual hasil usahataninya yaitu kubis.

Adapaun karakteristik pedagang sampel di daerah penelitian dapat dilihat pada

tebel berikut:

Tabel 4.7. Karakteristik Pedagang Sampel di Desa Merek, Tahun 2019

No Karakteristik Rentang Rataan


1 Umur 31 - 43 36,17
2 Pendidikan 9 - 12 11,50
3 Pengalaman Berdagang 5 - 25 12,00
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran, 2, 3, 4)

Aspek umur merupakan salah satu hal yang penting untuk diketahui untuk

mengenali karakteristik dari pedagang responden karena umur berhubungan

dengan pengalaman pedagang yang melakukan jual beli tanaman kubis.

Berdasarkan usianya, pedagang yang menjadi responden di dalam penelitian ini

umumnya sudah berusia lebih dari 20 tahun. Pedagang dengan umur terkecil

berusia 31 tahun dan pedagang dengan umur terbesar adalah 43 tahun dengan

rata-rata umur sebesar 36,17 tahun. Menurut hasil penelitian Suma (2008) bahwa

usia produktif pedagang berkisar antara 29 - 55 tahun, maka dapat disimpulkan

bahwa usia pedangan kubis didaerah penelitian berada pada usia produktif.

Salah satu aspek yang memberikan gambaran mengenai karakteristik

pedagang responden yaitu pendidikan. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi

proses pengambilan keputusan dan mempengaruhi bagaimana pedagang

menjalankan kegiatan bisnisnya melalui perolehan informasi serta penerapan ilmu

37
kedalam bisnis yang dijalankan. Sejalan dengan hasil penelitian Ma'arif (2013)

bahwa tingkat pendidikan pedagang minimal SMA (12 tahun) karena jika

rendahnya tingkat pendidikan dibahwa 12 tahun atau setara dengan SMA maka

akan menyebabkan lambatnya informasi bagaimana cara mengelola pasar yang

baik. Berdasarkan tabel diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat

pendidikan pedagang berada pada tingkat pendidikan SMA yang terdiri dari 5

orang atau 86,96 persen dari total 6 responden pedagang. Kemudian diikuti oleh

tingkat SMP yang terdiri dari 1 orang atau 13,04 persen.

Karakteristik pedagang responden juga perlu dilihat dari pengalaman yang

dimiliki pedagang dalam melakukan jual beli kubis. Menurut hasil penelitian

Ma'arif (2013) bahwa pengalaman pedagang minimal 5 tahun, karna makin lama

pengalaman yang dimiliki oleh pedagang akan mempengaruhi kemampuan

pedagang dalam melihat pergerakan harga kubis yang terjadi di pasar.

Pengalaman terpendek yang dimiliki oleh pedagang responden yaitu 5 tahun

sedangkan untuk pengalaman terlama yang dimiliki oleh responden pedagang

yaitu 25 tahun. Dari 6 pedagang responden, 3 pedagang atau 27,78 persen

pedagang responden memiliki pengalaman berdagang yang kurang dari 10 tahun

dan 3 orang atau 72,22 persen dari total responden pedagang memiliki

pengalaman yang lebih dari 10 tahun.

38
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Saluran Pemasaran Kubis

Dalam melakukan analisis pemsaran suatu komoditas, analisis terhadap

lembaga pemsaran dan saluran pemsaran dari komoditas tersebut penting untuk

dikaji dalam memahami sistem pemsaran yang terjadi dalam penyaluran

komoditas dari produsen sampai kepada konsumen. Saluran pemsaran sendiri

dapat diartikan sebagai serangkaian lembaga yang melakukan fungsi yang

digunakan untuk menyalurkan produk dan status kepemilikian dari produsen

(petani) sampai kepada konsumen. Saluran pemsaran merupakan variabel yang

dapat digunakan untuk menentukan efisiensi sebuah saluran pemsaran. Tingkat

efisiensi dari sebuah sistem pemsaran juga dapat dilihat dari saluran pemsaran

yang terbentuk dimana semakin pendek sistem pemsaran yang terbentuk untuk

menyampaikan produk dari produsen sampai kepada konsumen, maka semakin

efisien sistem pemsaran tersebut.

Saluran tataniaga kubis yang terjadi di Desa Merek yang dimulai dari

petani hingga konsumen akhir terdiri dari beberapa lembaga pemasaran seperti

pedagang pengumpul kebun, pedagang besar atau yang biasa disebut masyarakat

setempat sebagai bandar, dan pedagang pengecer. Sistem pemsaran kubis yang

terjadi di Desa Merek sampai kepada konsumen akhir, terdiri dari beberapa

saluran pemasaran yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan,

terdapat tiga saluran yang terjadi dalam pemasaran kubis di Desa Merek sampai

kepada konsumen akhir yaitu :

39
a. Saluran pemasaran I : Petani - Pedagang Pengumpul - Pedagang Besar -

Pedagang Pengecer - Konsumen Akhir.

b. Saluran pemasaran II : Petani - Pedagang Besar - Pedagang Pengecer -

Konsumen Akhir.

c. Saluran Pemasaran III : Petani - Pedagang Pengecer - Konsumen Akhir

Secara grafis, alur tataniaga kubis yang berlangsung dari Desa Merek

dapat dilihat pada Gambar 2.

Saluran I (63,63%)
Petani

Saluran II (21,21%)
Pedagang
Pengumpul

Saluran III
Pedagang (15,15%)
(63,63%) Besar

(34,36%) (21,21%)

Pedagang
Pengecer

(0,33%) (0,18%) (0,26%)


Konsumen

Gambar 5.2. Skema Saluran Pemasaran Kubis di Desa Merek

Keterangan :

Saluran Pemasaran I

Saluran Pemasaran II

Saluran Pemasaran III

40
5.1.1. Lembaga Pemasaran dan Saluran Pemsaran I

Sistem pemasaran kubis di Desa Merek, Kecamatan Mere, Kabupaten

Karo terdiri dari tiga saluran. Pada Saluran pemasaran I, perpindahan komoditas

kubis melibakan petani – pedagang pengumpul kebun – pedagang besar –

pedagang pengecer – konsumen akhir. Berdasarkan penelitian yang dilakukan,

didapat bahwa dari 33 petani yang dijadikan responden di dalam penelitian,

terdapat 25 petani atau sebesar 63,63 persen yang menjual hasil panen kubisnya

kepada pedagang pengumpul kebun. Banyaknya panen kubis yang melewati

saluran ini adalah sebesar 145.500 kg atau 67,21% dari keseluruhan kubis yang

didistribusikan. Kebanyakan petani yang menjual panennya kepada pedagang

pengumpul kebun merupakan petani yang sudah memiliki langganan pembeli

pedagang pengumpul kebun sehingga ketika petani dalam masa panen, pedagang

pengumpul kebun langsung mendatangi dan mengangkut hasil panen untuk

kemudian didistribusikan kembali. Alasan petani memilih untuk menjual hasil

panennya kepada pedagang pengumpul kebun adalah karena petani tidak perlu

mengeluarkan biaya transportasi. Biaya transportasi dalam hal ini ditanggung oleh

pedagang pengumpul kebun dengan secara langsung mendatangi dan mengangkut

panen dari petani yang ada di kebun untuk kemudian di salurkan kembali. Selain

tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi, petani juga tidak perlu mengeluarkan

biaya untuk menyewa tenaga kerja untuk melakukan pemanenan dan

pengangkutan sehingga biaya yang ditanggung oleh petani menjadi lebih kecil. Di

samping itu petani juga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk karung untuk

menyimpan panen kubis yang kemudian akan didistribusikan kembali oleh

pedagang pengumpul kebun. Konsekuensi dari banyaknya biaya yang tidak perlu

41
ditanggung oleh petani adalah harga yang diterima petani untuk panen kubisnya

menjadi relatif lebih rendah dibandingkan harga yang diterima petani di saluran

lainnya. Namun kebanyakan petani cenderung memilih untuk menjual hasil

panenya kepada pedagang pengumpul kebun adalah karena terbatasnya modal

yang dimiliki oleh petani untuk menanggung biaya-biaya tersebut serta adanya

keperluan petani untuk memenuhi keperluan rumah tangganya.

5.1.2. Lembaga Pemasaran dan Saluran Pemasaran Kubis II

Saluran pemasaran kubis II yang terjadi di Desa Merek, Kecamatan

Merek, Kabupaten Karo, adalah saluran pemasaran yang terdiri dari petani –

pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen akhir. Perbedaan saluran ini

dengan saluran pemasaran kubis I adalah saluran pemasaran kubis II tidak

melibatkan pedagang pengumpul kebun di dalam saluran pemasaran. Hal ini

mengakibatkan tidak adanya perantara yang mendistribusikan panen kubis dari

petani kepada pedagang besar sehingga petani harus mendistribusikan panennya

sendiri kepada pedagang besar. Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapat

bahwa dari 33 petani yang menjadi responden, 7 orang atau 21,21 persen dari total

responden petani memilih untuk menjual hasil kubisnya langsung kepada

pedagang besar. Banyaknya kubis yang melewati saluran ini adalah sebesar

40.500 Kg atau 18,71 persen dari total kubis yang disalurkan.

Petani yang memilih untuk menjual panen kubisnya kepada pedagang

besar adalah petani yang sudah memiliki langganan pedagang besar, namun petani

dapat menjual panen kubisnya kepada pihak lain apabila harga yang ditawarkan

tidak sesuai dengan keinginan petani. Alasan petani memilih untuk menjual

panennya kepada pedagang besar tanpa harus melalui pedagang pengumpul kebun

42
yaitu harga yang lebih tinggi dibanding apabila petani menjual panennya kepada

pedagang pengumpul kebun.

5.1.3. Lembaga Pemasaran dan Saluran Pemasaran III

Saluran pemasaran III diatas kubis dari Desa Merek kepada konsumen

akhir merupakan saluran pemasaran terpendek yang hanya terdiri dari petani -

pedagang pengecer – konsumen akhir. Dari 33 responden petani yang diteliti,

hanya terdapat 5 orang atau 15,15 persen yang menggunakan saluran ini untuk

mendistribusikan kubis kepada pedagang pengecer. Banyaknya kubis yang

melewati saluran ini adalah 35.000 Kg atau 16,16 persen dari total keseluruhan

kubis yang disalurkan.

Petani memilih saluran ini dikaranekan harga yang diterima petani menjadi

lebih tinggi dibandingkan dengan saluran yang lainnya. Harga yang lebih tinggi

mengakibatkan penerimaan yang diterima oleh petani menjadi lebih tinggi.

Tujuan penjualan petani adalah pedagang pengecer yang terdapat di pasar. Selain

tempatnya yang relatif dekat dengan lokasi petani, jarak yang relatif dekat ini

dapat mengurangi biaya transportasi yang harus dikeluarkan oleh pedagang

pengecer. Pada saluran ini, petani tidak hanya menjual kubis tapi juga menjual

beberapa sayuran lain seperti, brokoli, wortel, daun bawang, dan tomat.

Pembayaran yang diterima oleh petani terjadi secara tunai namun terkadang

pembayaran dilakukan setelah pengiriman yang selanjutnya. Hal ini dikarenakan

oleh sudah terciptanya saling percaya diantara kedua pihak.

5.1.4. Fungsi Pemasaran Kubis

Fungsi-fungsi pemasaran adalah saluran proses penyampaian barang-

barang dan jasa-jasa dari sektor produsen ke sektor konsumen dimana setiap

43
fungsi diperankan oleh masing-masing lembaga pemasaran. Setiap fungsi yang

ada dianalisa untuk mengetahui pentingnya serta peran fungsi tersebut did alam

proses penyampaian barang dan jasa dari sektor produksi sampai ke tangan

konsumen akhir (Sihombing, 2010).

Adapun fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing-masing

lembaga pemasaran kubis di Desa Merek dapat dilihat pada Tabel 5.1, 5.2, dan 5,3

berikut:

Tabel 5.1. Fungsi-Fungsi Pemasaran yang Dijalankan Lembaga Pemasaran


Kubis pada Saluran Pemasaran I di Desa Merek, Kecamatan
Merek, Kabupaten Karo, Tahun 2019

No. Fungsi Pemasaran Petani Pedagang Pedagang Pedagang


Pengumpul Besar Pengecer
Fungsi Pertukaran:
1.  Pembelian - √ √ √
 Penjualan √ √ √ √
Fungsi Fisik :
 Pengemasan - √ √ √
2.  Bongkar Muat - - √ -
 Transportasi - √ √ √
Fungsi Fasilitas :
3.  Sortasi - √ √ √
 Resiko - √ √ √
 Informasi Pasar √ √ √ √
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran 5, 6, 7, 8, 9 dan 10)

Keterangan:

√ : Melakukan fungsi pemasaran

- : Tidak melakukan fungsi pemasaran

Berdasarkan table 5.1 diatas bahwa petani melakukan fungsi penjualan dan

informasi pasar. Sedangkan pedagang pengumpul dalam penelitian ini melakukan

fungsi pembelian, penjualan, pengemasan, bongkar muat, transportasi, sortasi,

resiko, dan informasi pasar. Sedangkan, pedagang besar dalam penelitian ini

melakukan fungsi pembelian, penjualan, pengemasan, bongkar muat, transportasi,

44
sortasi, resiko, dan informasi pasar. Dan pedagang pengecer juga melakukan

pembelian, penjualan, transportasi, sortasi, resiko, dan informasi pasar.

Tabel 5.2. Fungsi-Fungsi Pemasaran yang Dijalankan Lembaga Pemasaran


Kubis pada Saluran Pemasaran II di Desa Merek, Kecamatan
Merek, Kabupaten Karo, Tahun 2019

No. Fungsi Pemasaran Petani Pedagang Pedagang


Besar Pengecer
Fungsi Pertukaran:
1.  Pembelian - √ √
 Penjualan √ √ √
Fungsi Fisik :
 Pengemasan √ - √
2.  Bongkar Muat - √ -
 Transportasi √ √ √
Fungsi Fasilitas :
3.  Sortasi - √ √
 Resiko - √ √
 Informasi Pasar √ √ √
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran 5, 6, 7, 8, 9 dan 10)

Keterangan:

√ : Melakukan fungsi pemasaran

- : Tidak melakukan fungsi pemasaran

Dari tabel 5.2 diatas dapat diketahui bahwa setiap lembaga pemasaran

memerankan fungsi pemsaran yang berbeda-beda. Pada saluran pemasaran II

memerankan fungsi pemasarana paling sedikit 4 fungsi. Namun tidak ada lembaga

pemasaran yang melakukan keseluruhan fungsi pemasaran.

Fungsi jual dan beli dilakukan oleh seluruh lembaga pemasaran mulai dari

pedagang besar sampai pedagang pengecer.

Fungsi pengemasan tidak dilakukan pedagang besar karena petani

langsung menjual hasil usahataninya ke pedagang besar yang akan dijual kembali

ke pedagang pengecer.

Sedangkan, pedagang besar dalam penelitian ini juga melakukan fungsi

45
transportasi, sortasi, resiko, dan informasi pasar. Dan pedagang pengecer juga

melakukan fungsi transportasi, sortasi, resiko, dan informasi pasar

Tabel 5.3. Fungsi-Fungsi Pemasaran yang Dijalankan Lembaga Pemasaran


Kubis pada Saluran Pemasaran III di Desa Merek, Kecamatan
Merek, Kabupaten Karo, Tahun 2019

No. Fungsi Pemasaran Petani Pedagang Pengecer


Fungsi Pertukaran:
1.  Pembelian - √
 Penjualan √ √
Fungsi Fisik :
 Pengemasan √ √
2.  Bongkar Muat - √
 Transportasi √ √
Fungsi Fasilitas :
3.  Sortasi - √
 Resiko - √
 Informasi Pasar √ √
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran 5, 6, 7, 8, 9 dan 10)

Keterangan:

√ : Melakukan fungsi pemasaran

- : Tidak melakukan fungsi pemasaran

Pada tabel 5.3 diatas dapat diketahui petani melakukan fungsi penjualan,

pengemasan, transportasi, dan informasi pasar. Sedangkan pedagang pengecer

melakukan keseluruhan fungsi yaitu fungsi pembelian, penjualan, pengemasan,

bongkar muat, transportasi, sortasi resiko dan informasi pasar. Dari uraian diatas

yaitu pada tabel 5.1, 5.2 dan dan 5.3, dapat disimpulkan bahwa setiap lembaga

melakukan minimal 4 fungsi pemasaran yaitu jual, pengemasan, transportasi dan

informasi pasar.

5.2. Analisis Margin Pemasaran, Price Spread, dan Share Margin pada
Setiap Saluran I, II, dan III di Daerah Penelitian

Adapun margin pemasaran, price spread dan share margin lembaga

pemasaran pada saluran I, II, III dapat dilihat pada Tabel 5.2, 5.3 dan 5.4 berikut:

46
Tabel 5.4. Komponen Biaya (Rp), Price Spread (Rp/Kg), Share Margin (%),
Kubis per Kg Melalui Saluran I di Desa Merek, Kecamatan
Merek, Kabupaten Karo, Tahun 2019

No Komponen Biaya Price Spread Share Margin


(Rp/Kg) (%)
1 Petani
 Harga Jual 2.000 34,71
2 Pedagang Pengumpul
a. Harga Beli Kubis 2.000 34,71
b. Biaya Pemasaran
 Tenaga Kerja 122,80 2,13
 Penyusutan 27,35 0,47
 Pengemasan 44,32 0,77
 Bongkar Muat 6,88 0,12
 Transportasi 136,65 2,37
c. Total 338 5,86
d. Profit Pedagang Pengumpul 252 4,37
e. Marjin Pemasaran 590 10,24
f. Li/Ci 0,74 0,01
3 Pedagang Besar
a. Harga Beli Kubis 2.590 44,94
b. Biaya Pemasaran
 Tenaga Kerja 124,77 2,16
 Penyusutan 156,05 2,71
 Pengemasan 29,98 0,52
 Bongkar Muat 41,54 0,72
 Transportas 14,22 0,25
 Listrik 2,06 0,03
c. Total 368,62 6,39
d. Profit Pedagang Besar 908,38 15,76
e. Marjin Pemasaran 1.227 21,29
f. Li/Ci 2,46 0,04
4 Pedagang Pengecer
a. Harga Beli Kubis 3.817 66,24
b. Biaya Pemasaran
 Tenaga Kerja 96,67 1,67
 Penyusutan 42,68 0,74
 Pengemasan 46,67 0,81
 Bongkar Muat 16,67 0,28
 Transportas 166,67 2,89
 Listrik 6,56 0,11
c. Total 375,92 6,52
d. Profit Pedagang Pengecer 1.569,57 27,24
e. Marjin Pemasaran 1.945,49 33,76
f. Li/Ci 4,17 0,07
Total Li/Ci 7,37 0,13
Total Margin 3.762,49 65,29
Harga Beli Konsumen 5.762 100,00
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran 5, 6, dan 7)

Pada Tabel 5.4 saluran pemasaran kubis I, petani tidak mengeluarkan

47
biaya pemasaran dimana biaya pemasaran yang harusnya ditanggung oleh petani

menjadi ditanggung oleh pedagang pengumpul. Jumlah biaya yang dikeluarkan

oleh pedagang pengumpul yaitu Rp 338/Kg. Lembaga lain yang terdapat pada

saluran I yaitu pedagang besar dan pedagang pengecer dengan masing-masing

biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 368,62/Kg dan Rp 375,92/Kg. Keuntungan

terbesar diterima oleh pedagang pengecer yaitu Rp 1.569,57/Kg kubis. Hal ini

dikarenakan oleh letak pedagang pengecer yang jauh dan besarnya biaya yang

harus ditanggung oleh pedagang pengecer. Pedagang pengumpul memiliki

keuntungan terkecil yaitu sebesar Rp 252/Kg. Hal ini dikarenakan jarak pedagang

pengumpul dengan petani yang dekat dan jarak pedagang pengumpul dengan

pedagang besar yang dekat sehingga pedagang pengumpul hanya dapat

mengambil selisih keuntungan yang sedikit dari hasil penjualannya. Pedagang

besar pada saluran I menerima keuntungan yang cukup besar yaitu Rp 908,38/Kg

kubis. Hal ini dikarenakan jarak pedagang besar yang jauh dengan pedagang

pengecer dan besarnya biaya yang harus ditanggung oleh pedagang besar terutama

oleh karena biaya transportasi.

48
Tabel 5.5. Komponen Biaya (Rp), Price Spread (Rp/Kg), Share Margin (%),
Kubis per Kg Melalui Saluran II di Desa Merek, Kecamatan
Merek, Kabupaten Karo, Tahun 2019

No Komponen Biaya Price Spread Share Margin


(Rp/Kg) (%)
1 Petani
 Harga Jual 2.500 42,37
2 Pedagang Besar
a. Harga Beli Kubis 2.500 42,37
b. Biaya Pemasaran
 Tenaga Kerja 117,05 1,98
 Penyusutan 30,00 0,51
 Pengemasan 37,25 0,63
 Bongkar Muat 15,16 0,25
 Transportas 143,18 2,43
c. Total 342,64 5,81
d. Profit Pedagang Besar 867,36 14,70
e. Marjin Pemasaran 1.210 20,51
f. Li/Ci 2,53 0,04
3 Pedagang Pengecer
a. Harga Beli Kubis 3.710 62,88
b. Biaya Pemasaran
 Tenaga Kerja 111,86 1,89
 Penyusutan 46,75 0,79
 Pengemasan 58,27 0,98
 Bongkar Muat 22,44 0,38
 Transportas 167,95 2,85
 Listrik 6,35 0,11
c. Total 413,62 7,01
d. Profit Pedagang Pengecer 1.776,38 30,11
e. Marjin Pemasaran 2.190 37,12
f. Li/Ci 4,29 0,07
Total Li/Ci 6,82 0,12
Total Margin 3.400 57,63
Harga Beli Konsumen 5.900 100,00
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran 8 dan 9)
Pada Tabel 5.5 saluran pemasaran kubis II, lembaga yang terlibat yaitu

petani, pedagang besar dan pedagang pengecer. Pada saluran ini petani

mengambil alih peran pedagang pengumpul kebun untuk menyalurkan kubis

kepada pedagang besar sehingga harga per kg kubis sebesar Rp.2.500. Biaya yang

ditanggung oleh pedagang besar yaitu sebesar Rp 342,64/Kg dan biaya yang

ditanggung oleh pedagang pengecer sebesar Rp 413,62/Kg dimana biaya ini

terdiri dari biaya tenaga kerja pemanenan, biaya penyusutan, biaya pengemasan,

49
biaya bongkar muat, biaya transpotasi dan biaya listrik. Keuntungan yang diterima

oleh pedagang besar yaitu Rp 867,36/Kg dan keuntungan yang diterima oleh

pedagang pengecer yaitu Rp 1.776,38/Kg yang memperlihatkan bahwa

keuntungan yang diterima oleh pedagang pengecer menjadi lebih tinggi

sedangkan keuntungan yang diterima oleh pedagang besar menjadi lebih kecil

apabila dibandingkan dengan saluran I.

Tabel 5.6. Komponen Biaya (Rp), Price Spread (Rp/Kg), Share Margin (%),
Kubis per Kg Melalui Saluran III di Desa Merek, Kecamatan
Merek, Kabupaten Karo, Tahun 2019

No Komponen Biaya Price Spread Share Margin


(Rp/Kg) (%)
1 Petani
 Harga Jual 3.500 58,33
3 Pedagang Pengecer
1. Harga Beli Kubis 3.500 58,33
2. Biaya Pemasaran
 Tenaga Kerja 100 1,67
 Penyusutan 35,00 0,58
 Pengemasan 55,00 0,92
 Bongkar Muat 16,67 0,27
 Transportas 150 2,50
 Listrik 5,00 0,08
3. Total 361,67 6,03
4. Profit Pedagang Pengecer 2.138,33 35,68
5. Marjin Pemasaran 2.500 41,67
6. Li/Ci 5,91 0,09
Harga Beli Konsumen 6.000 100,00
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran 10)

Pada Tabel 5.6 saluran pemasaran kubis III merupakan saluran yang hanya

melibatkan dua lembaga pemasaran yaitu petani dan pedagang pengecer yang

terdapat di daerah penelitian. Petani mengambil peran dari pedagang pengumpul

dan pedagang besar uuntuk menyalurkan panen kubisnya kepada pedagang

pengecer. Harga jual kubis dari petani sebesar Rp.3.500/Kg, maka besarnya biaya

yang harus ditanggung oleh pedagang pengecer pada saluran III yaitu Rp

361,67/Kg kubis dengan keuntungan sebesar Rp 2.138,33/ kg. Keuntungan yang

50
diterima oleh pedagang pengecer diakibatkan oleh letak petani yang tidak jauh

dari pedaggang pengecer, sehingga biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh

pedagang pengecer menjadi lebih kecil yang berdampak pada besarnya

keuntungan yang diterima ole pedagang pengecer. Selain melalui margin

pemasaran, efisiensi sebuah sistem pemasaran juga dapat dilihat melalui farmer’s

share yang dapat diartikan sebagai bagian harga yang diterima oleh petani.

Dengan mengetahui farmer’s share maka kita dapat mengetahui seberapa besar

bagian harga yang diterima petani dibandingkan harga kubis yang diterima

konsumen akhir.

5.2.1. Share Margin

Salah satu indikator yang dapat diigunakan untuk mengukur keragaan

pasar dari sebuah sistem pemasaran yaitu share margin. Share margin dapat

diartikan sebagai persentase harga yang diterima oleh petani sebagai imbalan dari

kegiatan usahatani yang dilakukannya dalam menghasilkan suatu komoditas

dibandingkan dengan harga yang diterima oleh konsumen akhir. Share margin

memiliki hubungan negatif dengan margin pemasaran dimana semakin tinggi

margin pemasaran maka bagian yang diterima oleh petani menjadi semakin kecil

dan sebaliknya.

Tabel 5.7. Share Margin pada Saluran Pemasaran Kubis di Desa Merek,
Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Tahun 2019

Saluran Harga di Tingkat


Harga di Tingkat Share Margin
Pemasaran Petani (Rp/Kg)
Konsumen Akhir (%)
(Rp/Kg)
Saluran I 2.000 5.762 34,71
Saluran II 2.500 5.900 42,37
Saluran III 3.500 6.000 58,33
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran 7, 8, 9)

Pada Tabel 5.7 bagian harga terbesar yang diterima oleh petani terdapat

51
pada saluran tataniaga kubis III. Besarnya bagian harga yang diterima oleh petani

pada saluran ini adalah sebesar 58,33%. Hal ini dikarenakan pada saluran ini

petani mengambil alih peran dari pedagang pengumpul dan pedagang besar

sehingga membuat biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh petani menjadi

lebih besar dimana hal ini berdampak pada peningkatan harga jual yang diterima

oleh petani. Pada saluran I bagian harga yang diterima oleh petani sebesar 34,71%

yang merupakan bagian terkecil. Hal ini menunjukkan bahwa saluran ini kurang

menguntungkan apabila dibandingkan saluran III. Kecilnya bagian harga yang

diterima pada saluran ini juga disebabkan oleh besarnya margin pemasaran dan

banyaknya saluran pemasaran yang terlibat pada saluran ini sehingga mengurangi

bagian yang dapat diterima oleh petani. Pada saluran II, bagian harga yang

diterima oleh petani sebesar 42,37%. Hal ini dikarenakan petani yang mengambil

alih peran pedagang pengumpul sehinggan bagian harga yang diterima oleh petani

menjadi lebih tinggi.

5.3. Analisis Efisiensi Pemasaran Kubis

Tujuan akhir yang ingin dicapai dalam proses pemasaran adalah efesiensi

pemasaran yang dapat memberikan kepuasan kepada seluruh pelaku yang terlibat

dalam pemasaran. Ukuran dari efesiensi adalah kepuasan dari konsumen atau

petani, maupun lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat didalam kegiatan

mengalirkan produk dari petani sampai ke konsumen akhir. Nilai efesiensi

pemasaran pada saluran pemasaran kubis di daerah penelitian dapat dilihat pada

Tabel 5.7.

52
Berdasarkan uraian-uraian biaya pemasaran dan margin pemasaran pada

setiap saluran pemasaran kubis diatas, maka dapat dihitung besarnya efesiensi

pemasaran kubis dari setiap saluran pemasaran yang ada sebagai berikut :

1. Saluran pemasaran kubis yang pertama

338 + 368,62 + 375,92


Ep = x 100%
5.762

Ep = 18,78%

2. Saluran pemasaran stroberi yang kedua

342,64 + 413,62
Ep = x 100%
5.900

Ep = 12,82%

3. Saluran pemasaran stroberi yang ketiga

361,67
Ep = x 100%
6.000

Ep = 6,03%

Pada ketiga penjelasan saluran pemasaran diatas, maka salauran

pemasaran kubis di daerah penelitian tergolong Efesien karena Ep = < 50%.

Berdasarkan hasil perhitungan efesiensi pemasaran setiap saluran yang ada

dibuat rekapitulasi Efisiensi pemasaran kubis pada setiap saluran sebagai berikut :

Tabel 5.8. Nilai Efisiensi Pemasaran pada Saluran Pemasaran Kubis di Desa
Merek, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Tahun 2019

Uraian Biaya Harga Jual Efesiensi Pemasaran


(Rp/Kg) (Rp/Kg) (%)
Saluran Pemasaran1 1.082,54 5.762 18,78
Saluran Pemasaran 2 756,26 5.900 12,82
Saluran Pemasaran 3 361,67 6.000 6,03
Sumber: Diolah Dari Data Primer (Lampiran 5, 6, 7, 8, 9 dan 10)

53
Dari Tabel 5.8 terlihat bahwa nilai efesiensi pemasaran untuk saluran

pemasaran 3 sebesar 6,03 % terlihat lebih kecil dari pada nilai efesiensi pemasaran

pada saluran pemasaran I dan II sebesar 18,78 % dan 12,82 %. Hal ini berarti

bahwa saluran pemasaran III lebih efesien dari pada saluran pemasaran I dan II.

Pada saluran pemasaran II marjin pemasaranya adalah Rp.2.500, sedangkan

saluran pemasaran I melibatkan 3 lembaga pemasaran dengan total marjin

pemasaran sebesar Rp.3.762,49,- dan saluran pemasaran II melibatkan 2 lembaga

pemasaran dengan margin pemasaran sebesar Rp.3.400,-. Hal ini menurut

Soekartawi (2003) bahwa saluran pemasaran pendek lebih efesien dari pada

saluran pemasaran yang panjang.

54
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Terdapat 3 saluran pemasaran kubis di daerah penelitian yaitu saluran I

(petani-pedagang pengumpul-pedagang besar-pengecer-konsumen), saluran II

(petani-pedagang besar-pengecer-konsumen), dan saluran III (petani-

pengecer-konsumen), maka hipotesis pertama ditolak.

2. Biaya pemasaran kubis dari petani sampai ke konsumen terbesar terdapat

pada saluaran I, dibandingkan dengan biaya pemasaran pada saluran II dan

biaya pemasaran pada saluran III.

3. Saluran pemasaran yang lebih efisien terdapat pada saluran pemasaran I.

6.2. Saran

1. Pemerintah sebaiknya mulai memperhatikan kesejahteraan petani dengan

melakukan intervensi kebijakan yang berpihak kepada petani terutama

dalam hal harga dan pasar pada tanaman hortikultura dalam hal ini kubis

yang sudah menjadi permasalahan umum pada petani.

2. Petani sebaiknya mulai melakukan fungsi sortasi/grading atas kubis yang

diproduksi di Desa Merek. Hal ini penting untuk dilakukan karena aktivitas

sortasi/grading dapat meningkatkan keuntungan yang selama ini tidak

diperoleh petani. Dengan menerapkan fungsi pemasaran ini diharapkan

petani memperoleh harga berdasarkan grade kubis yang dihasilkan.

3. Tiap lembaga pemasaran yang terkait dalam penyaluran kubis dihimbau

untuk membentuk saluran pemasaran yang pendek untuk mengurangi biaya

yang dikeluarkan dalam menyalurkan kubis.

55