Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pasien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di rumah sakit
dalam keadaan sehat maupun sakit (Wijono, 1999). Pasien mempunyai 3
hak asasi dasar yaitu: mendapatkan pelayanan kesehatan (the right to
health care), atas keputusan pada dirinya sendiri (the right to self-
determination) dan hak untuk mendapatkan informasi (the right to
information) (Indradi, 2006).
Sudarwanto (2000) menyatakan ketika seseorang merasa dirinya
tidak mampu lagi menjalankan perannya sebagai makhluk sosial baik
secara fisik, mental, dan sosial, maka ia dikatakan mulai menjalankan
peran sakit. Ia menunjukkan perilaku yang khas sesuai dengan tingkat
pendidikan, pengalaman maupun lingkungan budayanya (Bachtiar, 2004).
Lawrence Green (1980) seperti dikutip Notoatmojo (2003)
menyatakan, terdapat 3 faktor yang mendasari perilaku pasien yaitu
presdiposing, enabling, dan reinforcing. Faktor predisposing meliputi
pengetahuan dan sikap pasien yang merupakan kognitif domain yang
mendasari terbentuknya perilaku baru. Hal lain dari faktor ini adalah
tradisi, kepercayaan, sistem nilai, tingkat pendidikan, dan tingkat sosial
ekonomi. Faktor enabling mencakup ketersediaan sarana dan prasarana
atau fasilitas kesehatan, berupa peraturan prosedur tetap dan kesempatan
pemberian informasi. Mulai dari meja kounter informasi dan dokter atau
tenaga kesehatan yang bertugas. Faktor reinforcing yang merupakan bukti
intern dalam penelitian meliputi dukungan dari tenaga kesehatan keluarga
dan rekan serta sikap pasien dengan berusaha mencari informasi tersebut.
Nyeri atau rasa sakit merupakan respon yang paling dipahami oleh
individu ketika mengalami cidera. Hal ini juga merupakan pengalaman
pribadi yang diekspresikan secara berbeda oleh masing-masing individu
dan nyeri termasuk sensasi ketidaknyaman yang bersifat individual. Rasa
sakit melekat pada sistem syaraf manusia dan merupakan pengalaman
individual yang berlangsung lama. The International Associaton for The
Study of Pain (2010) memberikan definisi yang paling banyak dijadikan
acuan yaitu berdasarkan faktor yang berkaitan dengan waktu dan
kesesuaian dengan penyakit. Nyeri merupakan sensasi yang rumit, unik,
dan universal. Dalam banyak literatur menyebutkan bahwa adanya definisi
nyeri yang berbeda-beda dan hal ini merefleksikan bahwa sifat nyeri yang
subjektif sehingga ada keragaman dalam cara memahami dan
mengkategorikan pengalaman manusia yang kompleks ini. Nyeri memiliki

1
konstruk multidimensional yaitu hubungan antara penyakit (sebagai
pengalaman biologis) dan rasa sakit (sebagai pengalaman
ketidaknyamanan dan disfungsi) sehingga sangat sulit untuk
menguraikannya dengan jelas (Ospina dan Harstall, 2002).
Keluhan adanya rasa nyeri atau sakit sering kali merupakan alasan
individu untuk mendapatkan perawatan medis.Berdasarkan American Pain
Society (APS) 50 juta warga Amerika lumpuh sebagian atau total karena
nyeri, 2 dan 45% dari warga Amerika membutuhkan perawatan nyeri yang
persisten seumur hidup mereka. Kira-kira 50-80% pasien di rumah sakit
mengalami nyeri disamping keluhan lain yang menyebabkan pasien masuk
rumah sakit (Ivan, 2013). Nyeri lebih merupakan pengalaman psikologis
dan bentuk dari distress manusia yang paling umum, menetap dan
seringkali berkontribusi terhadap penurunan kualitas hidup
(Hadjistravopoulos and Craigh, 2004).
Nyeri juga berfungsi sebagai salah satu mekanisme pertahanan
tubuh melalui peringatan ke otak mengenai adanya jaringan yang mungkin
sedang dalam keadaan bahaya. Nyeri sebenarnya merupakan salah satu
signal bagi individu mengenai adanya kerusakan dalam tubuh (Hadjam,
2011). Intensitas nyeri seringkali menunjukan tingkat kerusakan atau
cidera yang dialami individu.

B. Rumusan Masalah
a. Apa itu pengertian peran dan prilaku pasien?
b. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku konsumen
(pasien) ?
c. Apa itu pengertian respon sakit atau nyeri pasien?
d. Apa saja respon tubuh terhadap nyeri?

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa peran dan prilaku pasien dan respon sakit atau
nyeri pasien.

2
BAB II
PEMBAHASAN

PERAN DAN PRILAKU PASIEN


A. Pengertian

Pada dasarnya perilaku konsumen merupakan tindakan atau perilaku,


termasuk di dalamnya aspek-aspek yang mempengaruhi tindakan itu, yang
berhubungan dengan usaha untuk mendapatkan produk (barang dan jasa) guna
memenuhi kebutuhannya. Tidak ada kesamaan definisi yang dikemukanan para
ahli, perbedaan itu disebabkan adanya perbedaan sudut pandang. Perilaku
manusia sangat komplek sehingga sangat sulit digambarkan dengan kata-kata.

Pengertian perilaku konsumen menurut Engel et al. (1994:3) adalah


tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan
menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses yang mendahului dan menyusul
dari tindakan ini.

Mowen (1990:5) mengatakan bahwa perilaku konsumen adalah studi unit-


unit dan proses pembuatan keputusan yang terlibat dalam menerima,
menggunakan dan penentuan barang, jasa, dan ide. Difinisi tersebut menggunakan
istilah unit-unit pembuat keputusan, karena keputusan bisa dibuat oleh individu
atau kelompok. Difinisi tersebut juga mengatakan bahwa konsumsi adalah proses
yang diawali dengan penerimaan, konsumsi, dan diakhiri dengan penentuan
(disposition). Tahap penerimaan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi
pilihan konsumen terhadap produk, tahap konsumsi menganalisa bagaimana
konsumen senyatanya menggunakan produk yang diperoleh. Tahap penentuan
menunjukkan apa yang dilakukan konsumen setelah selesai menggunakan produk
tersebut.

Secara umum, definisi dari perilaku konsumen adalah “interaksi dinamis


antara pengaruh dan kognisi, perilaku, dan kejadian disekitar kita, dimana terdapat
aspek pertukaran didalamnya” (Peter & Olson, 1999). Dari definisi umum
tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat tiga faktor penting didalam

3
definisi tersebut, yaitu perilaku konsumen adalah dinamis, melibatkan interaksi
antara pengaruh dan kognisi, perilaku dan kejadian sekitar, adanya aspek
pertukaran. Perilaku konsumen adalah dinamis artinya bahwa seorang individu
konsumen, suatu komunitas konsumen, atau masayarakat luas akan selalu berubah
dan bergerak sepanjang waktu. Hal ini berdampak tidak hanya pada studi perilaku
konsumen itu sendiri akan tetapi juga pada pengembangan strategi pemasaran.

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi
oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil
(Kusnanto, 2009).

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen


Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen, menurut
Simamora(2008)yaitu:
Faktorkebudayaan
Faktor kebudayaan merupakan faktor yang paling luas dan paling dalam
terhadap perilaku konsumen. Pemasar harus memahami peran yang
dimainkan oleh:
a. Kultur, adalah faktor paling pokok dari keinginan dan perilaku
seseorang. Makhluk yang lebih rendah umumnya dituntut oleh
naluri. Sedangkan manusia, perilakunya biasanya dipelajari dari
lingkungan sekitarnya. Sehingga nilai, persepsi, preferensi, dan
perilaku antara seorang yang tinggal pada daerah tertentu dapat
berbeda dengan orang lain yang berada di lingkungan yang lain
pula. Sehingga pemasar sangat berkepentingan untuk melihat
pergeseran kultur tersebut agar dapt menyediakan produk-produk
baru yang diinginkan konsumen.
b. Subkultur, tiap kultur mempunyai mempunyai subkultur yang
lebih kecil, atau kelompok orang dengan sistem nilai yang sama
berdasarkan pengalaman dari situasi hidup yang sama. Seperti
kelompok kebangsaan yang bertempat tinggal pada suatu daerah

4
mempunyai citarasa dan minat etnik yang khas. Demikian pula
halnya dengan kelompok keagamaan.
c. Kelas sosial, adalah susunan yang relatif permanen dan teratur
dalam suatu masyarakat yang anggotanya mempunyai nilai,minat,
dan perilaku yang sama. Kelas sosial ditentukan oleh faktor
tunggal seperti pendapatan tetapi diukur sebagai kombinasi
pekerjaan, pendapatan, kekayaan dan variabel lainnya. Kelas sosial
memperlihatkan preferensi produk dan merek yang berbeda.

Faktor sosial

Perilaku konsumen juga akan dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti:


kelompok kecil,keluarga, peran dan status sosial dari konsumen. Faktor-
faktor ini sangat mempengaruhi tanggapan konsumen, oleh karena itu
pemasar harus benar-benar memperhitungkannya untuk menyusun strategi
pemasaran.

a. Kelompok, perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak kelompok


kecil. Anggotanya disebut kelomok keanggotaaan. Ada yang
disebut dengan kelompok primer, di mana anggotanya berinteraksi
secara tidak formal seperti keluarga,teman dan sebagainya. Ada
pula yang disebut dengan kelompok sekunder, yaitu seseorang
berinteraksi secara formal tetapi tidak reguler. Kelompok rujukan
adalah kelompok yang merupakan titik perbandingan atau tatap
muka atau tak langsung dalam pembentukan sikap seseorang.
Orang sering dipengaruhi oleh kelompok rujukan dimana ia tidak
menjadi anggotanya.
b. Keluarga, anggota keluarga pembeli dapat memberikan pengaruh
yang kuat terhadap perilaku pembeli. Keluarga orientasi adalah
kelarga yang terdiri dari orangtua yang memberikan arah dalam hal
tuntutan agama, politik, ekonomi dan harga diri. Bahkan jika
pembeli sudah tidak berhubungan lagi dengan orang tua, pengaruh
terhadap perilaku tetap ada. Sedangkan pada keluarga prokreasi,

5
yaitu keluarga yang tediri atas suami-istri dan anak pengaruh
pembelian itu akan sangat terasa.
c. Peran dan status, posisi seorang dalam tiap kelompok dapat
ditentukan dari segi peran dan status. Tiap peran membawa status
yang mencerminkan penghargaan umum oleh masyarakat.

Faktor pribadi
Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi
seperti:

a. Usia dan tahap daur hidup, orang akan mengubah barang dan
jasa yang mereka beli sepanjang kehidupan mereka. Kebutuhan
dan selera seseorang akan berubah sesuai dengan usia. Pembelian
dibentuk oleh tahap daur hidup keluarga. Sehingga pemasar
hendaknya memperhatikan perubahan minat pembelian yang
terjadi yang berhubungan dengan daur hidup manusia.
b. Pekerjaan, pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa
yang dibelinya dengan jabatan yang mempunyai minat diatas rata-
rata terhadap produk mereka.
c. Keadaan ekonomi, keadaan ekonomi sangat mempengaruhi
pilihan produk. Pemasar yang produknya peka terhadap
pendapatan dapat dengan seksama memperhatikan kecenderungan
dalam pendapatan pribadi, tabungan dan tingkat bunga. Jadi
indikator-indikator ekonomi tersebut menunjukkan adanya resesi,
pemasar dapat mencari jalan untuk menetepkan posisi produknya.
d. Gaya hidup, orang yang berasal dari subkultur, kelas sosial dan
pekerjaan yang sama dapat mempunyai gaya hidup yang berbeda.
Gaya hidup seseorang menunjukkan pola kehidupan orang yang
bersangkutan yang tercermin dalm kegiatan, minat, dan
pendapatnya. Konsep gaya hidup apabila digunakan oleh pemasar
secara cermat, dapat membantu untuk memahami nilai-nilai
konsumen yang terus berubah dan bagimana nilai-nilai tersebut
mempengaruhi perilaku konsumen.

6
e. Kepribadian dan konsep diri, tiap orang mempunyai kepribadian
yang khas dan ini akan mempengaruhi perilaku pembeliannya.
Kepribadian mengacu pada karekteristik psikologi yang unik yang
menimbulkan tanggapan realtif konstan terhadap lingkungannya
sendiri. Kepribadian sangat bermanfaat untuk menganalisis
perilaku konsumen bagi beberapa pilihan produk atau merek.

Faktorpsikologis
Pada suatu saat tertentu seseorang mempunyai banyak kebutuhan baik
yang bersifat biologis. Kebutuhan ini timbul dari suatu keadaan fisiologis tertentu
seperti rasa lapar, haus, dan sebagainya. Sedangkan kebutuhan yang bersifat
psikologis adalah kebutuhan yang timbul dari keadaan fisiologi tertentu seperti
kebuthan untuk diakui,harga diri, atau kebutuhan untuk diterima oleh
lingkungannya.

Pihak pembelian seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologi yang utama,
yaitu:

1. Motivasi, kebanyakan dari kebutuhan yang ada tidak cukup kuat untuk
memotivasi seseorang untuk bertindak pada suatu saat tertentu. Suatu
kebutuhan akan berubah menjadi motif apabila kebutuhan itu telah
mencapai tingkat tertentu. Motif adalah suatu kebutuhan yang cukup
menekan seseorang untuk mengejar kepuasan.
Kebutuhan Konsumen Muncul Karena:

 Kebutuhan yang dirasakan konsumen (felt need) muncul dari diri


konsumen (fisiologis) misalnya rasa lapar dan haus
 Kebutuhan yang dimunculkan dari luar konsumen misalnya aroma
makanan yang merangsang, iklan dan pemasaran yang bisa
membangkitkan kebutuhan konsumen

7
Jenis Kebutuhan Konsumen

 Kebutuhan primer (primary needs) untuk mempertahankan hidupnya


seperti kebutuhan bioloigis dan fisiologis (innate needs) kebutuhan
air, makanan, udara, pakaian dan rumah.
 Kebutuhan sekunder disebut juga kebutuhan yang muncul sebagai
reaksi terhadap lingkungan dan budayanya. Kebutuhan ini bersifat
psikologis karena muncul dari sikap subjektif konsumen dan
lingkungannya misalnya citra diri (self esteem), harga diri (prestige),
kekuatan (power).
Kebutuhan yang muncul sebagai reaksi konsumen terhadap
lingkungan dan budayanya misalnya rumah adalah kebutuhan primer bagi
konsumen, karena adanya kebutuhan ingin sebagai orang sukses dan
mampu, sehingga ia memilih lokasi yang menggambarkan kelas sosial
atas.

Pemilihan bentuk dan lokasi akan menggambarkan kebutuhan


sekunder dari seorang konsumen. Kebutuhan yang dirasakan seringkali
dibedakan berdasarkan kepada manfaat yang diharapkan dari pembelian
dan penggunaan produk; pertama karena manfaat fungsional dan
karakteristik objektif dari produk tersebut misalnya obeng akan
memberikan manfaat fungsional untuk memudahkan dalam membuka dan
memasang kembali mur pada pada peralatan mesin. Seorang konsumen
yang membeli obeng memiliki tujuan karena ia tidak bisa membuka mur
dengan tangannya sendiri. Yang kedua adalah kebutuhan ekspresif atau
hedonic yaitu kebutuhan yang bersifat psikologis seperti rasa puas, gengsi,
emosi dan perasaan subjektif lainnya. Kebutuhan ini muncul seringkali
untuk memenuhi tuntutan sosial estetika. Misalnya seorang laki-laki
merasa perlu membeli dasi untuk digunakan di kantor.

2. Persepsi, seseorang yang termotivasi akan siap bereaksi. Bagaimana orang


itu bertindak dipengaruhi oleh persepsi mengenai situasi. Dua orang dalam
kondisi motivasi yang sama dan tujuan situasi yang sama mungkin
bertindak secara berbeda karena perbedaan persepsi mereka terhadap

8
situasi itu. Persepsi sebagai proses di mana individu memilih, merumuskan
dan menafsirkan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran
yang berarti mengenai dunia.
3. Proses belajar (learning), proses belajar menjelaskan perubahan dalam
perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman dan kebanyakan perilaku
manusia adalah hasil proses belajar. Secara teori, pembelajaran seseorang
dihasilkan melalui dorongan, rangsangan, isyarat,tanggapan, dan
penguatan. Para pemasar dapat membangun permintaan akan produk
dengan menghubungkannya dengan dorongan yang kuat, dengan
menggunakan isyarat motivasi, dan dengan memberikan penguatan yang
posiitif.
4. Kepercayaan dan sikap, melalui tindakan dan proses belajar, orang akan
mendapatkan kepercayaan dan sikap yang kemudian mempengaruhi
perilaku pembeli. Kepercayaan adalah suatu pemikiran deskriptif yang
dimiliki seseorang tentang sesuatu. Sedangkan sikap adalah organisasi dan
motivasi, perasaan emosional,persepsi, dan proses kognitif kepada suatu
aspek.

RESPON SAKIT ATAU NYERI PASIEN

A. Pengertian
Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial,
atau yang digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut. Nyeri bersifat
subjektif dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti budaya,
pengalaman-pengalaman nyeri sebelumnya, mood, kepercayaan, dan
kemampuan untuk menyesuaikan diri.

B. Respon Tubuh Terhadap Nyeri


Nyeri sebagai suatu pengalaman sensoris dan emosional tentunya
akan menimbulkan respon terhadap tubuh. Respon tubuh terhadap nyeri

9
merupakan terjadinya reaksi endokrin berupa mobilisasi hormon-hormon
katabolik dan terjadinya reaksi imunologik, yang secara umum disebut
sebagai respon stres.
Rangsang nosiseptif menyebabkan respons hormonal bifasik,
artinya terjadi pelepasan hormon katabolik seperti katekolamin, kortisol,
angiotensin II, ADH, ACTH, GH dan Glukagon, sebaliknya terjadi
penekanan sekresi hormon anabolik seperti insulin. Hormon katabolik
akan menyebabkan hiperglikemia melalui mekanisme resistensi terhadap
insulin dan proses glukoneogenesis, selanjutnya terjadi katabolisme
protein dan lipolisis. Kejadian ini akan menimbulkan balans nitrogen
negatif. Aldosteron, kortisol, ADH menyebabkan terjadinya retensi NA
dan air. Katekolamin merangsang reseptor nyeri sehingga intensitas nyeri
bertambah sehingga terjadilah siklus vitrousus. Sirkulus vitiosus
merupakan proses penurunan tekanan O2 di arteri pulmonalis (PaO2) yang
disertai peningkatan tekanan CO2 di arteri pulmonalis (PCO2) dan
penurunan pH akan merangsang sentra pernafasan sehingga terjadi
hiperventilasi.10 Respon nyeri memberikan efek terhadap organ dan
aktifitas. Berikut beberapa efek nyeri terhadap oragan dan aktifitas:
a. Efek nyeri terhadap kardiovaskular
Pelepasan katekolamin, Aldosteron, Kortisol, ADH dan aktifasi
Angiostensin II akan mennimbulkan efek pada kardiovaskular.
Hormonhormon ini mempunyai efek langsung pada miokardium atau
pembuluh darah dan meningkatkan retensi Na dan air. Angiostensin II
menimbulkan vasikontriksi. Katekolamin menimbulkan takikardia,
meningkatkan otot jantung dan resistensi vaskular perifer, sehingga
terjadilah hipertensi. Takikardia serta disritmia dapat menimbulkan
iskemia miokard. Jika retensi Na dan air bertambah makan akan timbul
resiko gagal jantung.
b. Efek nyeri terhadap respirasi
Bertambahnya cairan ekstra seluler di paru-paru akan menimbulkan
kelainan ventilasi perfusi. Nyeri didaerah dada atau abdomen akan
menimbulkan peningkatan otot tonus di daerah tersebut sehingga muncul

10
risiko hipoventilasi, kesulitan bernafass dalam mengeluarkan sputum,
sehingga penderita mudah hipoksia dan atelektasis.
c. Efek nyeri terhadap sistem oragan lain
Peningkatan aktifitas simpatis akibat nyeri menimbulkan inhibisi fungsi
saluran cerna. Gangguan pasase usus sering terjadi pada penderita nyeri.
Terhadap fungsi immunologik, nyeri akan menimbulkan limfopenia, dan
leukositosis sehingga menyebabkan resistensi terhadap kuman patogen
menurun.
d. Efek nyeri terhadap psikologi
Pasien yang menderita nyeri akut yang berat akan mengalami gangguan
kecemasan, rasa takut dan gangguan tidur. Hal ini disebabkan karena
ketidaknyamanan pasien dengan kondisinya, dimana pasien menderita
dengan rasa nyeri yang dialaminya kemudian pasien juga tidak dapat
beraktivitas. Bertambahnya durasi dan intensitas nyeri, pasien dapat
mengalami gangguan depresi, kemudian pasien akan frustasi dan mudah
marah terhadap orang sekitar dan dirinya sendiri. Kondisi pasien seperti
cemas dan rasa takut akan membuat pelepasan kortisol dan katekolamin,
dimana hal tersebut akan merugikan pasien karena dapat berdampak pada
sistem organ lainnya, gangguan sistem organ yang terjadi kemudian akan
membuat kondisi pasien bertambah buruk dan psikologi pasien akan
bertambah parah.
e. Efek nyeri terhadap mutu kehidupan
Nyeri menyebabkan pasien sangat menderita, tidak mampu bergerak,
susah tidur, tidak enak makan, cemas, gelisah, putus asa tidak mampu
bernafas dan batuk dengan tidak baik. Keadaan seperti ini sangat
mengganggu kehidupan pernderita sehari-hari. Mutu kehidupannya sangat
rendah, bahkan sampai tidak mampu untuk hidup mandiri layaknya orang
sehat. Penatalaksanaan nyeri pada hakikatnya tidak tertuju pada
mengurangi rasa nyeri melainkan untuk menjangkau peningkatan mutu
kehidupan pasien, sehingga dapat kembali menikmati kehidupannya.
Sementara kualitas hidup pasien menurun karena pasien tidak bisa
beristirahat dan beraktivitas.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perilaku konsumen pelayanan kesehatan rumah sakit adalah semua
kegiatan, tindakan serta proses psikologis pada saat sebelum membeli,
ketika membeli/ menggunakan hingga kegiatan mengevaluasi jasa
pelayanan kesehatan rumah sakit.
Pengambilan keputusan konsumen untuk memilih/ membeli/
menggunakan produk atau jasa adalah bagian inti dari perilaku konsumen.
Demikian halnya dengan konsumen dalam pelayanan kesehatan rumah
sakit.
Lawrence Green (1980) seperti dikutip Notoatmojo (2003)
menyatakan, terdapat 3 faktor yang mendasari perilaku pasien yaitu
presdiposing, enabling, dan reinforcing.
Nyeri atau rasa sakit merupakan respon yang paling dipahami oleh
individu ketika mengalami cidera. Hal ini juga merupakan pengalaman
pribadi yang diekspresikan secara berbeda oleh masing-masing individu
dan nyeri termasuk sensasi ketidaknyaman yang bersifat individual. Rasa
sakit melekat pada sistem syaraf manusia dan merupakan pengalaman
individual yang berlangsung lama.

12
DAFTAR PUSTAKA

.http://himamika09.blogspot.com/2009/03/konsep-perilaku-
konsumen.html.Diakses tanggal 2 Oktober 2009.

Hamidah. Perilaku Konsumen Dan Tindakan Pemasaran. library.usu.ac.id.


Diakses 2 Oktober 2009.

Engel, James F, BlackWell Roger D, Miniard Paul W..1994.Perilaku


Konsumen.Jakarta.Binarupa Aksara.

https://endripku.wordpress.com/2017/11/08/respon-sakit-nyeri.

13