Anda di halaman 1dari 33

HUBUNGAN ANTARA MIXED LAYER DEPTH (MLD) DENGAN HASIL

TANGKAPAN TUNA MADIDIHANG (Thunnus albacares) PADA


RUMPON DI TELUK BONE

SKRIPSI

MARLINUS UPA’ PATANDUNG


L 231 15 007

PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN


DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................iv
I. PENDAHULUAN....................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ....................................................................................................... 1


B. Tujuan dan Manfaat .............................................................................................. 2
C.Kerangka Pikir Penelitian ....................................................................................... 3

II. TUNJAUAN PUSTAKA ............................................................................................. 4

A. Mixed Layer Depth (MLD) ...................................................................................... 4


B. Arus ....................................................................................................................... 5
C.Habitat dan Penyebaran Tuna Madidihang ( Thunnus albacares) .......................... 6
D.Rumpon ................................................................................................................. 7
E. Sistem Informasi Geografis (SIG)........................................................................... 7

III. METODOLOGI PENELITIAN ............................................................................. 9

A. Waktu dan Tempat ................................................................................................. 9


B. Alat dan Kegunaan ................................................................................................ 9
C.Bahan .................................................................................................................. 10
D.Metode Pengambilan Data ................................................................................... 10
E. Analisis Data ........................................................................................................ 11

IV. HASIL .............................................................................................................. 13

A. Deskripsi Alat Tangkap ........................................................................................ 13


B. Deskripsi Rumpon ................................................................................................ 14
C.Distribusi Kedalaman MLD di Teluk Bone ............................................................ 14
D.Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang di Teluk
Bone pada Posisi Pemasangan Rumpon .............................................................17

V. PEMBAHASAN ....................................................................................................... 21

A. Distribusi Kedalaman MLD di Teluk Bone ............................................................ 21


B. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang di Teluk
Bone pada Posisi Pemasangan Rumpon .............................................................21

VI. SIMPULAN DAN SARAN................................................................................. 23

A. Simpulan .............................................................................................................. 23
B. Saran ................................................................................................................... 23

VII. DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 24

ii
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Alat dan kegunaan ............................................................................................ 9
2. Bahan penelitian ..............................................................................................10

iii
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
1. Peta lokasi penelitian ........................................................................................ 9
2. Kapal pole and line ..........................................................................................13
3. Konstruksi huhate yang terdiri dari mata pancing (a), joran (b), tali utama (c),
dan tali sekunder (d) ........................................................................................14
4. Peta distribusi kedalaman MLD pada September ............................................15
5. Peta distribusi kedalaman MLD pada Oktober .................................................16
6. Peta distribusi kedalaman MLD pada November .............................................16
7. Prediksi GAM yang menggambarkan hubungan kedalaman MLD dengan.......17
8. Peta Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna ...................18
9. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang ........19
10. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang ........20

iv
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teluk Bone merupakan wilayah perairan yang cukup potensil di perairan Timur
Indonesia, di mana di perairan ini nelayan melakukan penangkapan dengan berbagai
macam alat tangkap seperti bagan rambo (giant lift net), jaring kolor (purse seine),
jaring insang permukaan (drift gill net), huhate (pole and line), sero (guiding barrier)
untuk memanfaatkan sumberdaya ikan yang ada seperti ikan kembung (Rastrelliger
spp), ikan teri (Stelophorus sp), ikan tembang, ikan cakalang (Katsuwonus pelamis),
ikan tongkol (Auxis thazard), ikan malaja (Syganus caniculatus) dan sebagainya
(Mallawa dkk., 2010).
Pada umumnya, aktivitas penangkapan dengan menggunakan pole and line
yang dilakukan di Teluk Bone bertujuan untuk menangkap ikan cakalang dan ikan
tuna. Jenis tuna yang sering tertangkap oleh nelayan pole and line adalah tuna
madidihang (Thunnus albacares). Secara vertikal, penyebaran ikan tuna khususnya
madidihang sangat dipengaruhi oleh suhu dan kedalaman renang. Ikan tuna
madidihang kebanyakan tertangkap pada kedalaman 85,15 – 167,80 meter (Barata
dkk., 2011).
Nugraha dan Nugroho (2013) menyebutkan bahwa pada malam hari ikan tuna
akan menyebar pada lapisan permukaan dan termoklin, kemudian pada saat matahari
akan terbit kembali ke atas lapisan termoklin atau biasa disebut dengan lapisan MLD.
Mixed Layer Depth (MLD) merupakan lapisan yang tertercampur sempurnah oleh
pengaruh angin dan gelombang yang menimbulkan turbulensi yang dapat mengaduk
lapisan atas dari air laut.
Pencampuran massa air akibat pergerakan massa air vertikal menjadikan kondisi
lapisan yang homogen, dimana nilai suhu, salinitas dan densitas berada pada nilai
yang hampir sama di lapisan tertentu akan membentuk Mixed Layer Depth (MLD).
Berdasarkan hasil penelitian Ryandhini dkk. (2014) menunjukkan bahwa adanya
kecenderungan peningkatan kandungan klorofil-a pada lapisan kedalaman perairan
dimana MLD terjadi.
Variasi MLD telah terbukti memiliki efek penting pada produktivitas biologi di laut.
Struktur vertikal MLD penting bagi distribusi keseimbangan pengapungan telur dan
larva ikan pelagis yang dipengaruhi oleh turbulensi vertikal lapisan (Kara dkk., 2003).
Menurut Patterson et al. (2008) suhu hangat pada lapisan MLD diperlukan bagi
kelompok ikan tuna jenis bluefin untuk memijah, demikian halnya untuk persebaran

1
ikan tuna jenis yellowfin dan albacore memiliki kesamaan yaitu pada level lapisan
permukaan yang identik dengan MLD.
Penelitian tentang hubungan MLD dengan hasil tangkapan ikan tuna madidihang
(Thunnus albacares) masi jarang dilakukan, bahkan untuk penelitian tentang hubungan
MLD dan hasil tangkapan di daerah pemasangan rumpon belum pernah dilakukan. Hal
inilah yang mendasari sehingga penelitian dengan judul “Hubungan Antara Mixed
Layer Depth (MLD) dengan Hasil Tangkapan Ikan Tuna Madidihang (Thunnus
albacares), pada Rumpon di Teluk Bone” perlu dilakukan.

B. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu:


1. Untuk mengetahui distribusi kedalaman lapisan MLD di Perairan Teluk Bone
2. Untuk mengetahui hubungan antara MLD dengan hasil tangkapan Tuna
Madidihang (Thunnus albacares) pada rumpon di Teluk Bone .
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah
mengenai hubungan antara MLD dengan hasil tangkapan ikan tuna madidihang
(Thunnus albacares) di lokasi pemasangan rumpon di Perairan Teluk Bone sehingga
dapat dijadikan rujukan oleh nelayan mengenai daerah penangkapan ikan tuna
madididhang di Perairan Teluk Bone.

2
C. Kerangka Pikir Penelitian

Hasil tangkapan Tuna Madidihang yang melimpah di


daerah pemasangan rumpon

Permasalahan
Hubungan antara MLD dengan kelimpahan hasil tangkapan
di daerah pemasangan rumpon

Basis data
parameter
MLD dan
Data primer
hasil
1. Hasil
tangkapan
tangkapan
2. Posisi
penangkapan  ArcGis Data sekunder
10.2 yaitu MLD
 SeaDas
 Ms. Excel
 R studio

Analisi hubungan kedalaman MLD


dengan kelimpahan hasil tangkapan
di daerah pemasangan rumpon

Peta hubungan kedalaman MLD


dengan kelimpahan hasil tangkapan
di daerah pemasangan rumpon

3
II. TUNJAUAN PUSTAKA

A. Mixed Layer Depth (MLD)

Secara vertikal kolom perairan laut terbagi menjadi tiga lapisan (layer) yang
dilihat berdasarkan suhu dan salinitasnya. Ketiga lapisan tersebut adalah lapisan
homogen (homogeny layer), lapisan termoklin (thermocline layer) dan lapisan dalam
(deep layer). Lapisan homegen merupakan lapisan permukaan dengan ketebalan
berkisar antara 25 sampai 200 meter. Lapisan termoklin merupakan lapisan yang
berada di bawah lapisan homogen dan memiliki gradient perubahan suhu dan salinitas
yang drastis dengan kedalaman mencapai 300 meter. Lapisan terbawah di kolom
perairan adalah deep layer yang berada di bawah lapisan termoklin (Teliandi dkk.,
2013).
Lapisan homogen terkadang disebut juga dengan Mixed Layer Depth (MLD)
karena pada lapisan ini terdapat pencampuran antara interaksi laut dengan atmosfer.
Menurut Harsono (2012), lapisan tercampur (mixed layer) yang terdapat pada
permukaan ditandai dengan lapisan yang hampir homogen dengan variasi suhu,
salinitas dan densitas yang tidak mencolok (perubahannya sangat kecil).
Jenis ikan yang sering terdapat pada lapisan MLD adalah jenis ikan pelagis besar
seperti ikan tuna, struktur vertikal MLD berperan dalam keseimbangan pengapungan
telur dan larva dari ikan-ikan tersebut(Teliandi dkk., 2013; Kara et al., 2003; Barata
dkk., 2011).
Angin yang berhembus secara terus menerus di permukaan mengakibatkan
adanya gerakan air laut atau disebut arus permukaan. Menguatnya angin akan
memicu menguatnya dinamika perairan khususnya arus permukaan dan gelombang.
Menguatnya arus dan gelombang akan menyebabkan proses percampuran (mixing)
menjadi lebih dalam, yang berakibat semakin dalamnya lapisan yang tercampur (mixed
layer) dan semakin turunnya lapisan batas atas termoklin (Hutabarat dkk., 2018;
Kalangi dkk., 2013). Terjadinya proses kenaikan massa air dalam ke atas permukaan
atau yang sering disebut dengan upwelling akan mengakibatkan lapisan termoklin
semakin menebal sehingga lapisan tercampur pada permukaan akan semakin menipis
atau semakin dangkal (Hidayat dkk., 2013).
Distribusi kedalaman MLD secara horisontal pada Teluk Manado memiliki
perbedaan, dimana pada daerah lepas pantai lapisan permukaan ini sampai pada
kedalaman 50 m, sedangkan pada daerah dibagian pinggiran teluk, lapisan
permukaan mencapai kedalaman 100 m (Kalangi dkk., 2013).

4
B. Arus

Arus merupakan gerakan air yang sangat luas yang terjadi pada seluruh lautan
di dunia. Gerakan air atau arus di permukaan laut ini terutama disebabkan oleh adanya
angin yang bertiup diatasnya. Hubungan ini kenyataan tidaklah demikian
sederhananya. Alasanya adalah bahwa arus di permukaan dipengaruhi oleh paling
tidak tiga faktor lain selain dari angin. Ketiga faktor tersebut adalah bentuk topografi
dasar lautan dan pulau-pulau yang ada di sekitarnya, gaya coriolis dan arus ekman,
dan perbedaan tekanan air (Hutabarat & Evans, 1985).
Sirkulasi dari arus laut terbagi atas dua kategori yaitu sirkulasi di permukaan laut
(surface circulation) dan sirkulasi di dalam laut (intermediate or deep circulation). Arus
pada sirkulasi di permukaan laut didominasi oleh arus yang ditimbulkan oleh angin
sedangkan sirkulasi di dalam laut didominasi oleh arus termohalin. Arus termohalin
timbul sebagai akibat adanya perbedaan densitas karena berubahnya suhu dan
salinitas massa air laut. Perlu diingat bahwa arus termohalin dapat pula terjadi di
permukaan laut demikian juga dengan arus yang ditimbulkan oleh angin dapat terjadi
hingga dasar laut. Sirkulasi yang digerakan oleh angin terbatas pada gerakan
horisontal dari lapisan atas air laut. Berbeda dengan sirkulasi yang digerakan angin
secara horisontal, sirkulasi termohalin mempunyai komponen gerakan vertikal dan
merupakan agen dari pencampuran massa air di lapisan dalam (Nining, 2002).
Angin cenderung mendorong lapisan air di permukaan laut dalam arah
gerakan angin. Tetapi karena pengaruh rotasi bumi atau pengaruh gaya Coriolis,
arus tidak bergerak searah dengan arah angin tetapi dibelokan ke arah kanan
dari arah angin di belahan bumi utara dan arah kiri di belahan bumi selatan. Jadi
angin dari selatan (di belahan bumi utara) akan membangkitkan arus yang bergerak ke
arah timur laut. Arus yang dibangkitkan angin ini kecepatannya berkurang
dengan bertambahnya kedalaman dan arahnya berlawanan dengan arah arus
di permukaan (Azis, 2006).
Variabilitas kecepatan arus dipengaruhi oleh viriabilitas musim serta pasang
surut juga ikut mempengaruhi kecepatan arus dimana semakin tinggi nilai pasang surut
maka kecepatan arus akan semakin besar (Saputra dkk., 2017).
Penelitian yang dilakukan oleh Tanto dkk. (2017) di Teluk Benoa Bali
menunjukan kecepatan arus pada mulut lebih besar dibandingkan dengan bagian
dalam teluk. Hal ini disebabkan oleh kondisi bagian mulut teluk yang sempit. Arus
dengan kecepatan yang lemah, baik pada saat air sedang bergerak pasang maupun
surut, umunya terukur pada kawasan yang dekat dengan garis pantai. Hal ini
kemungkinan berkaitan dengan adanya gesekan dengan dasar perairan. Pada ruang-

5
ruang yang dekat dengan garis pantai, pergerakan arus umumnya berada dalam pola
yang relatif acak. Berbeda halnya dengan pergerakan arus yang terjadi pada ruang di
tengah dari kawasan Teluk. Pada ruang-ruang di bagian tengah, arus tampak memiliki
pola tertentu dalam pergerakannya (Rampengan, 2009).
Penelitian yang dilakukan oleh Norman dkk. (2010) memperlihatkan polah
distribusi arus permukaan di Teluk Bone pada bulan Januari hingga April dominan dari
timur sedangakan pada bulan Mei sampai Desember dominan dari barat

C. Habitat dan Penyebaran Tuna Madidihang ( Thunnus albacares)

Secara horisontal, daerah penyebaran tuna di Indonesia meliputi perairan barat


dan selatan Sumatera, perairan Selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Laut Flores,
Teluk Bone, Laut Banda, Laut Sulawesi dan Perairan Utara Papua (Nugraha &
Triharyuni, 2009). Menurut Safruddin dkk. (2018) bahwa wilayah Perairan Teluk Bone
merupakan wilayah lintasan migrasi ikan pelagis besar seperti tuna (Thunnus sp.), hal
ini dibuktikan dengan hasil analisis data yang menunjukkan adanya hubungan yang
kuat antara dinamika kondisi oseanografi dengan fluktuasi hasil tangkapan ikan pelagis
besar diperairan Teluk Bone.
Secara vertikal, penyebaran tuna sangat dipengaruhi oleh suhu dan kedalaman
renang. Adanya kenaikan suhu rata-rata global pada permukaan bumi turut
mempengaruhi kenaikan suhu permukaan laut sehingga merubah sebaran tuna di
suatu perairan (Nugraha & Triharyuni, 2009). Thunnus albacares memiliki kedalaman
renang rata-rata yang lebih dangkal daripada Thunnus obesus. Mayoritas jalur ruaya
Thunnus albacares, mengarungi lapisan kolom perairan yang tidak lebih dari 100 m
dan relatif jarang menembus lapisan termoklin (Wijaya, 2013). Sedangkan menurut
Collette & Nauen (1983) bahwa tuna sirip kuning biasanya membentuk schooling
dibawah permukaan air pada kedalaman kurang dari 100 meter. Hal ini dibuktikan
dengan adanya korelasi erat antara kerentanan ikan tertangkap oleh purse seine,
kedalaman lapisan campuran (MLD), dan kekuatan gradien suhu dalam termoklin.
Pada fase larva dan juvenil ikan tuna madidihang suka bergerombol dengan ikan
cakalang untuk mencari makan (Katun & Mallawa, 2018). Ikan tuna madidihang
(Thunnus albacares) bersifat epipelagis dan oseanik yang menyukai perairan di atas
dan di bawah lapisan termoklin. Tetapi perubahan suhu yang tinggi dalam lapisan
termoklin dapat mengakibatkan madidihang meninggalkan lapisan tersebut. Ikan ini
menyebar pada lapisan air dengan suhu berkisar antara 18 – 30 0C, namun demikian
mampu menembus lapisan air yang lebih dingin (Wijopriono, 2000). Sedangakan

6
menurut Tangke dkk. (2015) ikan tuna madidihang (Thunnus albacares) adalah jenis
ikan pelagis yang hidup di permukaan laut sampai pada batas atas lapisan termoklin.
Menurut Teliandi dkk. (2013) hasil tangkapan ikan tuna berbanding lurus dengan
meningkatnya kedalaman MLD, namun berbanding terbalik dengan meningkatnya
suhu MLD yakni semakin tinggi suhu dari lapisan MLD maka hasil tangkapan tuna
akan semakin berkurang.

D. Rumpon

Rumpon adalah alat bantu yang dipasang di perairan sebagai


pengumpul ikan. Pada bagian bawah rumpon terdapat “gara-gara” dari daun
lontar (Borassus flabellifer) sebagai atraktor untuk memikat dan mengumpulkan ikan-
ikan kecil (Kefi dkk., 2013). Sedangkan menurut Tamarol & Wuaten (2013) rumpon
adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang di laut baik laut
dangkal maupun laut dalam untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul disekitar
alat ini, sehingga ikan mudah tertangkap.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Girard et al. (2004)
menunjukkan bahwa ikan tuna sirip kuning memiliki asosiasi dengan benda-benda
terapung, baik benda yang terapung secara alami maupun secara buatan seperti
rumpon.
Alat tangkap yang sering menggunakan rumpon dalam kegiatan
pengoperasianya adalah pole and line (Aswandi, 2018), Pancing ulur (Hikmah dkk.,
2016), purse seine (Telaumbanua dkk., 2004). Pelampung tanda yang digunakan pada
rumpon di Perairan Teluk Bone berukuran panjang 2 m dan lebar 1 m yang terbuat dari
bahan bambu dengan atraktor yang terbuat dari daun nipa dengan panjang atraktor
sekitar 30 m (Aswandi, 2018).

E. Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sistem informasi yang bersifat


terpadu, karena data yang dikelola adalah data spasial. Dalam SIG data grafis diatas
peta dapat disajikan dalam dua model data yaitu model data raster dan model data
vector (spaisal). Model data raster merupakan data yang dinyatakan dengan grid dan
cell (baris, kolom),sedangkan model data vector menyajikan data grafis (titik, garis,
poligon) dalam struktur formal vector atau dalam koordinat (x, y). struktur data vector
merupakan suatu cara untuk membandingkan informasi garis dan areal ke dalam
bentuk satuan-satuan data yang mempunyai besaran, arah, dan keterkaitan. Teknologi
penginderaan jauh (INDERAJA) dan sistem informasi geografis (SIG) dapat digunakan

7
untuk melacak Ikan pelagis besar seperti tuna (Thunnus sp) dan cakalang
(Katsuwonus pelamis) dengan mobilitasnya yang tinggi disuatu area (Zainuddin dkk.,
2014).

8
III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan September sampai Desember 2018 di
perairan Teluk Bone dengan fishing base di Desa Murante Keccamatan Suli
Kabupatan Luwu. Pengolahan data citra satelit dilakukan di laboratorium Sistem
Informasi Perikanan Tangkap Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar.

Gambar 1. Peta lokasi penelitian

B. Alat dan Kegunaan

Adapun alat yang digunaan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 1 :

Tabel 1. Alat dan kegunaan


No Alat Kegunaan
1 GPS Untuk mengambil koordinat lokasi
penangkapan
2 Termometer digital Untuk mengukur suhu permukaan laut di
lokasi penangkapan
3 Kamera Untuk mendokumentasikan proses penelitian

4 Counter Untuk menghitung ikan hasil tangkapan

4 Kapal pole and line Sebagai alat trasportasi menuju fishing groun

5 1 unit leptop yang mendukung soft Untuk mengolah data penelitian


ware Ms. Excel, SEADAS dan
ARCGIS

9
C. Bahan

Bahan bahan yang dipakai dalam penelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 2:

Tabel 2. Bahan penelitian


No Bahan Sumber Keterangan
1 Data MLD orca.science.oregonstate.edu September–
Desember 2018
2 Data tuna Opservasi di lapangan September–
madidihang Desember 2018

D. Metode Pengambilan Data

Metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
survey. Penentuan posisi rumpon sebagai tempat pengambilan data dilakukan secara
acak. Artinya rumpon tempat nelayan menebar umpan dan melakukan pemancingan
disitulah daerah penelitian yang dimaksudkan. Berdasarkan sasaran penelitian yang
ingin dicapai, maka data yang digunakan dibedakan menjadi dua yaitu data primer dan
data sekunder. Data primer adalah data hasil pengamatan langsung di lapangan
dengan terlibat pada operasi penangkapan pole and line seperti data hasil tangkapan
dan data posisi penangkapan. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh
dari instansi terkait, seperti data citra satelit (MLD).
Untuk mendapatkan data yang digunakan dalam penelitian ini maka dilakukan
beberapa kegiatan yaitu:

1. Tahap Persiapan
Tahap ini meliputi studi pendahuluan yaitu studi literatur, penyiapan data
sekunder, observasi lapangan, konsultasi dengan beberapa pihak terutama dosen
pembimbing dan menyiapkan peralatan yang digunakan untuk kegiatan penelitian.

2. Tahap Pengambilan data


Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada minimal 30 titik
penangkapan di daerah pemasangan rumpon di Teluk Bone.
a. Data Primer diperoleh melalui observasi langsung dengan mengikuti operasi
penangkapan ikan menggunakan alat tangkap pole and line dengan target sampel
minimal 30 titik fishing ground meliputi :
1. Pengambilan data titik koordinat dilakukan pada daerah penangkapan
menggunakan alat GPS ( Global Positioning System ) .

10
2. Data hasil tangkapan diambil disetiap titik penangkapan dengan cara
menghitung setiap ikan yang naik pada setiap pemancingan dengan
menggunakan counter.
b. Data sekunder dalam penelitian ini terdiri dari data Mixed Layer Depth (MLD).
Data MLD diperoleh dengan cara mengunduh dari website
orca.science.oregonstate.edu, data yang diunduh dalam bentuk dara rerata
bulanan.

E. Analisis Data

1. Analisis Sistem Informasi Geografis (GIS)


Data Mixed Layer Depth (MLD), yang merupakan data rerata bulanan diolah
menggunakan perangkat lunak SEADAS, untuk diekstrak. Kemudian setelah diekstrak
maka data terseput diexport ke Ms. Excel untuk membaca titik koordinatnya, data ini
kemudian disimpan dalam format CSV (Comma Delimited) agar bisa diolah
menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10,2. Pada perangkat lunak ArcGIS 10,2 data
tersebut dibuat dalam bentuk tampilan surface sehingga membentuk contour dari
kedalaman MLD setiap bulanya.
Data hasil tangkapan tuna madidihang, berupa data posisi dan jumlah yang
tertangkap selama penelitian diolah menggunakan Ms. Excel kemudian disimpan
dengan format CSV (Comma Delimited) sehingga dapat digunakan di perangkat lunak
ARCGIS 10,2. Data hasil tangkapan dengan format CSV (Comma Delimited) kemudian
diolah menggunakan ARCGIS 10,2 sehingga menghasilkan peta sebaran hasil
tangkapan tuna madidihang.
Hasil visualisasi data kedalaman MLD kemudian dikorelasikan dengan data
sebaran hasil tangkapan tuna madidihang, sehingga menghasilkan plot overlay dari
data kedalaman MLD dengan sebaran tuna madidihang serta grafik korelasi antara
kedalaman MLD dengan grafik hasil tangkapan tuna madidihang.

2. Generalizet Additive Model (GAM)


Data MLD dan kedalaman yang telah didownload kemudian dilakukan pengujian
lanjutan dengan GAM. Model statistik yang digunakan adalah Generalizet Additive
Model (GAM) dengan R language program software (versi 3.3.2). GAM adalah model
non-linear, biasanya digunakan untuk memahami keterkaitan antara variabel yang
diamati melalui identifikasi kisaran nilai yang berpengaruh positif. Variabel respon µi
(jumla hasil tangkapan ikan tuna Madidihang dalam satuan ekor) dan variabel predictor
(MLD) yang dapat diformulasikan seperti berikut ini:
g (µi) = α0+s1 (MLD)+ε

11
dimana:
g = spline smooth function
µi = variabel respon
α0 = koefisien konstanta
sn = smoothing function dari variabel predictor, dan
ε = standard error
Sebelum dilakukan pemodelan GAM terlebih dahulu dilakukan explorasi dataset
yang bertujuan untuk mengidentifikasi data pencilan kolinearitas antar setiap variabel
penjelas. Pemodelan GAM dilakukan menggunakan mgcv package yang terdapat
dalam R language. Pemodelan GAM dilakukan dengan menggunakan distribusi
Gaussian dan fungsi identity link. Sebagai variabel respon adalah hasil tangkapan,
sedangkan sebagai variabel penjelasnya adalah MLD.

12
IV. HASIL

A. Deskripsi Alat Tangkap

Pada penelitian ini alat tangkap yang digunakan adalah pole and line, dimana
alat tangkap ini terdiri dari kapal dan pole and line.

1. Kapal Pole and Line


Kapal yang digunakan dalam mengoperasikan pole and line di perairan Teluk
Bone dengan fishing base di Desa Murante, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu
mempunyai ukuran rata-rata panjang 20,8 m, lebar 4,17 m, dan tinggi 1,66 m dengan
kapasitas 29 GT (gross tonnage). Kapal ini dilengkapi dengan satu mesin penggerak
merk Yanmar berkekuatan 115 PK (paarden kracht).

Gambar 2. Kapal pole and line

Pada bagian haluan dari kapal pole and line dilengkapi dengan flying deck
sebagai tempat bagi para ABK kapal untuk melakukan pemancingan. Selain itu bagian
haluan juga didesain miring, sehingga bagian haluan lebih tinggi dari bagian lambung
kapal. Hal ini bertujuan agar ikan yang berhasil diangkat keatas kapal dapat meluncur
kebagian lambung kapal dekat bak penampungan sehingga proses penanganan ikan
akan lebih mudah untuk dilakukan.

2. Pole and Line


Pole and line atau huhate adalah alat tangkap yang digunakan untuk
menangkap ikan cakalang (Catsuwonus pelamis) dan ikan tuna madidihang (Thunnus
albacares). Pole and line terdiri dari joran atau tangkai pancing dengan panjang 2 – 2,5
m, terbuat dari bambu yang cukup tua dan memliki tingkat elastisitas yang baik. Tali

13
pancing yang terdiri atas tiga bagian yaitu tali kepala yang menghubungkan joran dan
tali utama dengan panjang 5 – 10 cm, tali utama (main line) terbuat dari bahan sintetis
polyethilene dengan panjang berkisar 1,5 – 2,7 m, tali sekunder (tali pengikat) terbuat
dari bahan monofilamen (tasi) berwarna putih dengan panjang berkisar 15 - 20 cm.
Mata pancing (hook) yang digunakan adalah mata pancing yang tidak memiliki kait
balik, dengan nomor 2,5 – 2,8, pada bagian atas dilengkapi dengan besi yang
berbentuk silinder sebagai tempat mengikat tasi, serta dilengkapi dengan bulu ayam
atau rumbai-rumbai tali rafia sebagai pemikat ikan.

a b

K K
o o
n n
s s
t t
c r d r
u u
k
K k
K
s
o so
in in
s s
th th
Gambar 3. Konstruksi huhate yang terdiri dari mata pancing (a), joran (b), tali utama
ru ru
(c), dan tali sekunderh (d) h
u u
a
k a
k
ts ts
e
i e
i
B. Deskripsi Rumpon
y
h y
h
Daerah fishing ground
a penangkapan pole and line a dalam penelitian ini yaitu
u u
berada pada lokasi rumpon. hnRumpon merupakan alat bantu n penangkapan ikan paling
h
g
a g
a
evektif dalam mengumpulkan gerombolan ikan yang menjadi terget penangkapan pole
t t
t sehingga rumpon merupakan
and line di daerah Teluk Bone,
e t daerah tujuan utama dari
e
e e
nelayan pole and line untuk r melakukan aktifitas penangkapan. Rumpon yang
y yr
diguanakan adalah rumpona d yang terbuat dari bambu a ddan daun kelapa sebagai
in in
pelampung tanda. Atraktor ryang digunakan pada rumpon rg terbuat dari daun nipa
g
i sekitar 30 meter.
dengan panjang atraktor adalah i
t t
d
e d
e
C. Distribusi Kedalaman MLD ra di Teluk Bone ra
rd rd
i
1. Distribusi Kedalaman MLD Pada September i
r r
Kedalam MLD pada im September 2018 di perairan im Teluk Bone adalah berkisar
a a
antara 19,0497 – 105,1791. Kedalaman terjadinya MLD pada bagian utara perarairan
t
d t
d
a a
r r 14
ip ip
a a
n
m n
m
c
a c
a
Teluk Bone cenderung lebih dalam dibandingkan dengan bagian selatan. Adapun
distribusi kedalaman MLD dapat dilihat pada Gambar 4:

Gambar 4. Peta distribusi kedalaman MLD pada September

2. Distribusi Kedalaman MLD Pada Oktober


Kedalam MLD pada Oktober 2018 di perairan Teluk Bone adalah berkisar
antara 24,4837 – 111,3934. Pada bagian utara perarairan Teluk Bone kedalaman
terjadinya MLD cenderung lebih dalam dibandingkan dengan bagian selatan. Adapun
distribusi kedalaman MLD dapat dilihat pada Gambar 5:

15
Gambar 5. Peta distribusi kedalaman MLD pada Oktober

3. Distribusi Kedalaman MLD Pada November


Kedalam MLD pada November 2018 di perairan Teluk Bone adalah berkisar
antara 15,6042 – 109,3042. Kecenderungan kedalaman terjadinya MLD pada bagian
utara perarairan Teluk Bone lebih dalam dibandingkan dengan bagian selatan. Adapun
distribusi kedalaman MLD dapat dilihat pada Gambar 6:

Gambar 6. Peta distribusi kedalaman MLD pada November

16
D. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang di

Teluk Bone pada Posisi Pemasangan Rumpon

Hasil analisi Generalized Additive Model (GAM) menunjukkan bahwa


kedalaman MLD yang berpengaruh positif terhadap hasil tangkapan tuna madidihang
pada posisi pemasangan rumpon di Teluk Bone adalah kedalaman yang kurang dari
40 m.

Gambar 7. Prediksi GAM yang menggambarkan hubungan kedalaman MLD dengan


hasil tangkapan tuna madidihang di Teluk Bone pada posisi pemasangan
rumpon

Frekuensi penangkapan dalam hubungannya dengan MLD memperlihatkan


bahwa ikan tuna madidihang dominan tertangkap pada kedalaman 23,3743 – 33,7546.

60.000 56.311
Persentase hasil tangkapan

50.000
40.000
30.000
20.000 15.534
3.883 4.854 6.796 2.913 9.709
10.000 0.000
0.000
Series1

MLD

Gambar 8. Hubungan antara frekuensi penangkapan ikan tuna madidihang dengan


MLD

17
1. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang pada
September
Penangkapan yang dilakukan pada September 2018 dikelompokkan menjadi
dua yaitu penangkapan yang dilakukan di rumpon bagian utara Teluk Bone dan
penangkapan di rumpon bagian selatan Teluk Bone. Kisaran kedalaman MLD pada
lokasi pemasangan rumpon di bagian utara perairan Teluk Bone dimana dilakukan
penangkapan adalah 69,4765 – 100,0619 meter dengan kisaran hasil tangkapan 4 –
12 ekor. Sedangkan Kisaran kedalaman MLD pada lokasi pemasangan rumpon di
bagian selatan perairan Teluk Bone dimana dilakukan penangkapan adalah 26,1518 –
30,3121 meter dengan kisaran hasil tangkapan 8 – 27 ekor. Jumlah Hasil tangkapan
pada bagian selatan Teluk Bone cenderung lebih banyak dibandingkan dengan hasil
tangkapan yang diperoleh di bagian utara Teluk Bone. Hubungan antara kedalaman
MLD dengan hasil tangkapan tuna madidihang dapat dilihat pada Gambar 9:

Gambar 9. Peta Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna


Madidihang pada September

2. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang pada


Oktober
Penangkapan yang dilakukan pada Oktober 2018 dikelompokkan menjadi dua
yaitu penangkapan yang dilakukan di rumpon bagian utara Teluk Bone dan
penangkapan di rumpon bagian selatan Teluk Bone. Kisaran kedalaman MLD pada
lokasi pemasangan rumpon di bagian utara perairan Teluk Bone dimana dilakukan
penangkapan adalah 55,4326 – 106,4175 meter dengan kisaran hasil tangkapan 2 – 8

18
ekor. Sedangkan Kisaran kedalaman MLD pada lokasi pemasangan rumpon di bagian
selatan perairan Teluk Bone dimana dilakukan penangkapan adalah 31,9706 – 34,8
meter dengan kisaran hasil tangkapan 8 – 27 ekor. Jumlah Hasil tangkapan pada
bagian selatan Teluk Bone cenderung lebih banyak dibandingkan dengan hasil
tangkapan yang diperoleh di bagian utara Teluk Bone. Hubungan antara kedalaman
MLD dengan hasil tangkapan tuna madidihang dapat dilihat pada Gambar 10:

Gambar 10. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang
pada Oktober

3. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang pada


November
Pada November 2018 penangkapan hanya dilakukan pada rumpon bagian
selatan. Hubungan antara kedalaman MLD dengan hasil tangkapan tuna madidihang
dapat dilihat pada Gambar 11:

19
Gambar 11. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang
pada November

20
V. PEMBAHASAN

A. Distribusi Kedalaman MLD di Teluk Bone

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tiga bulan penelitian yakni
September, Oktober dan November memberikan gambaran pola perubahan distribusi
kedalaman MLD pada Perairan Teluk Bone tidak terlalu berbeda. Kedalam maksimal
MLD terjadi pada bagian utara Perairan Teluk Bone yakni berkisar antara 105,1791 -
111,3934. Sedangakan pada bagian selatan dari Perairan Teluk Bone kedalaman MLD
cenderung lebih dangkal yakni berkisar 15,6042 – 47,7595. Hal ini terjadi karena arah
pergerakan arus sebagai pemicu tebentuknya MLD cenderung sama disetiap bulan
pada saat penelitian. Norman dkk. (2010) mengatakan bahwa pola distribusi arus
permukaan di Perairan Teluk Bone pada Mei sampai Desember dominan dari arah
barat. Angin yang berembus secara terus menerus di permukaan mengakibatkan
adanya gerakan air laut atau disebut arus.
Menguatnya angin akan memicu menguatnya dinamika perairan khususnya arus
dan gelombang. Menguatnya arus dan gelombang akan menyebabkan proses
percampuran (mixing) menjadi lebih dalam, yang berakibat semakin dalamnya lapisan
yang tercampur (mixed layer) dan semakin turunnya lapisan batas atas termoklin
(Hutabarat dkk., 2018). Sedangakan penelitaian yang dilakukan Teliandi dkk. (2013) di
Samudera Hindia bagian timur mengatakan bahwa kedalaman lapisan MLD
dipengaruhi oleh keadaan musiman, dimana kedalaman lapisan MLD pada musim
peralihan 2 memiliki nilai yang lebih dangkal dibandingkan dengan musim timur dan
semakin dangkal hingga musim barat.

B. Hubungan Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Madidihang di


Teluk Bone pada Posisi Pemasangan Rumpon

Dalam penelitian ini posisi rumpon yang diamati di Perairan Teluk Bone
dikelompokkan menjadi rumpon utara dan rumpon selatan. Posis rumpon pada bagian
utara Perairan Teluk Bone berada pada kedalaman MLD yang maksimal yakni berkisar
antara 105,1791 - 111,3934 sehingga jumlah hasil tangkapan ikan tuna madidihang
yang diperoleh cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil tangkapan ikan
tuna madidihang yang diperoleh di posisi rumpon selatan. Melimpahnya hasil
tangkapapan di rumpon selatan disebabkan oleh kedalam MLD yang cenderung lebih
rendah yaitu berkisar antara 15,6042 – 47,7595.
Hal tersebut didukung oleh prediksi GAM (General Additive Model) bahwa
kedalaman MLD diatas 40 meter tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap

21
jumlah hasil tangkapan, sedangkan untuk kedalaman MLD di bawah 40 meter
berpengaruh nyata terhadap jumlah hasil tangkapan. Sedangkan pada histogram
hubungan antara frekuensi hasil tangkapan dengan MLD memperlihatkan bahwa
56,311 % ikan tertangkap pada kedalaman kurang dari 40 m. Hal ini terjadi karena
posisi ikan tuna madidihang cenderung beradah di kedalam terjadinya MLD yang
artinya bahwa posisi tuna madidihang jauh dari permukaan. Sedangkan alat tangkap
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pole and line dimana proses
pengoperasian dari alat tangkap ini dilakukan di daerah permukaan laut. Sehingga
kecil kemungkinan untuk ikan tuna madidihang untuk melihat umpan hidup yang
ditebar oleh buoy-buoy. Nugraha dan Nugroho (2013) dalam Teliandi dkk. (2013)
menyebutkan bahwa pada malam hari ikan tuna akan menyebar pada lapisan
permukaan dan termoklin, kemudian pada saat matahari akan terbit kembali ke atas
lapisan termoklin atau biasa disebut dengan lapisan MLD. Menurut Block et al. (1997)
dalam Putra dkk. (2016) Ikan tuna sirip kuning di perairan tropis sering terlihat berada
pada lapisan permukaan mixed layer sampai dengan lapisan atas termoklin pada
temperatur 20-27 oC.

22
VI. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan


bahwa:
1. Distribusi kedalaman MLD di Perairan Teluk Bone tidak berbeda jauh disetiap
bulan pada waktu penelitian yakni kedalaman MLD pada bagian utara Perairan
Teluk Bone cenderung lebih dalam dibandingkan dengan bagian selatan Perairan
Teluk Bone.
2. Hubungan kedalaman MLD dengan hasil tangkapan di daerah rumpon adalah
berbanding terbalik yakni semakin dalam posisi terjadinya MLD maka akan
semakin kecil hasil tangkapan tuna madidihang yang diperoleh.

B. Saran

Perluh dilakukan penelitian lanjutan mengenai hasil tangkapan kaitanya


dengan kedalaman MLD dengan menggunakan alat tangkap lain di daerah
pemasangan rumpon pada Perairan Teluk Bone.

23
VII. DAFTAR PUSTAKA

Aswandi (2018) Pemetaan Daerah Penangkapan Ikan Tuna Madidihang (Thunnus


albacares) Berdasarkan Frekuensi dan Ukuran Hasil tangkapan Pole and Line di
Perairan Teluk Bone. Makassar.

Azis, M. F. (2006) ‘Gerak Air Laut’, Oseana, XXXI(4), pp. 9–21.

Barata, A., Novianto, D. and Bahtiar, A. (2011) ‘Sebaran Ikan Tuna Berdasarkan Suhu
dan Kedalaman di Samudera Hindia’, Ilmu Kelautan, 16(September), pp. 165–170.

Block, B. . et al. (1997) ‘Environmental preferences of yellowfin tuna ( Thunnus


albacares ) at the northern extent of its range’, Marine Biology, pp. 119–132.

Collette, B. B. and Nauen, C. E. (1983) Scombrids of the world. An annotated and


illustrated catalogue of tunas, mackerels, bonitos and related species known to date.
2nd edn. FAO Fisheries Synopsis: Rome (IT): Food and Agriculture Organization.

Girard, C., Benhamou, S. and Dagorn, L. (2004) ‘FAD : Fish Aggregating Device or
Fish Attracting Device ? A new analysis of yellowfin tuna movements around floating
objects’, Animal Behaviour, pp. 319–326. doi: 10.1016/j.anbehav.2003.07.007.

Hidayat, S., Purba, M. and Waworuntu, J. (2013) ‘Variabilitas Suhu di Perairan


Senunu, Sumbawa Barat’, Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 5(2), pp. 243–259.

Hikmah, N., Kurnia, M. and Amir, F. (2016) ‘Pemanfaatan Teknologi Alat Bantu
Rumpon Untuk Penangkapan Ikan di Perairan Kabupaten Jeneponto’, Jurnal IPTEKS
PSP, 3(January), pp. 455–468.

Hutabarat, M. F. et al. (2018) ‘Variabilitas Lapisan Termoklin Terhadap Kenaikan Mixed


Layer Depth (MLD) di Selat Makassar’, Perikanan dan Kelautan, IX(1), pp. 9–21.

Kalangi, P. N. et al. (2013) ‘Sebaran Suhu dan Salinitas di Teluk Manado’, Jurnal
Perikanan dan Kelautan Tropis, IX, pp. 71–75.

Kara, A. B., Rochford, P. A. and Hurlburt, H. E. (2003) ‘Mixed layer depth variability
over the global ocean’, Journal of Geophysical Research, 108(C3), p. 3079. Available
at: http://doi.wiley.com/10.1029/2000JC000736.

Kefi, O. S., Katindago, E. M. and Paransa, I. J. (2013) ‘Sukses pengoperasian pukat


cincin Sinar Lestari 04 dengan alat bantu rumpon yang beroperasi di Perairan Lolak
Provinsi Sulawesi Utara’, Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap, 1(3), pp. 69–75.

Mallawa, A., Syafruddin and Palo, M. (2010) ‘Aspek Perikanan dan Pola Distribusi Ikan
Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Teluk BoKatsuwonus pelamisne, Sulawesi
Selatan’, Torani (Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan), 20(1), pp. 17–24.

Norman, Y., Ihsan, N. and Arsyad, M. (2010) ‘Analisis distribusi arus permukaan laut di
teluk bone pada tahun 2006-2010’, Sains dan Pendidikan Fisika, 8(3), pp. 288–295.

Patterson, T. A. et al. (2008) ‘Movement and behaviour of large southern bluefin tuna (
Thunnus maccoyii ) in the Australian region determined using pop-up satellite archival
tags’, Fisheries Oceanographi, pp. 352–367. doi: 10.1111/j.1365-2419.2008.00483.x.

24
Putra, F. A., Hasan, Z. and Purba, N. P. (2016) ‘Kondisi Arus dan Suhu Permukaan
Laut pada Musim Barat dan Kitannya dengan Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus
albacares) di Perairan Selatan Jawa Barat’, Perikanan Kelautan, VII(1), pp. 156–163.

Rampengan, R. M. (2009) ‘Pengaruh Pasang Sururt pada Pergerakan Arus


Permukaan di Teluk Manado’, Perikanan dan Kelautan, V, pp. 15–19.

Ryandhini, N. A., Zainuri, M. and A Rita Tisiana, D. K. (2014) ‘Karakteristik Mixed Layer
Depth dan Pengaruhnya Terhadap Konsentrasi Klorofil-a’, LMU KELAUTAN Desember
2014 Vol 19(4):219-225, 19(4), pp. 219–225.

Safruddin et al. (2018) ‘Sutudi Kondisi Oseanografi pada Daerah Penangkapan Ikan
Pelagis besar dengan Menggunaan Pole and Line di Perairan teluk bone’, Prosiding
Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan V Universitas Hasanuddin, pp. 255–264.

Saputra, V. H., Rifai, A. and Kunarso (2017) ‘Variabilitas Musiman Pola Arus di
Perairan Surabaya Jawa Timur’, Jurnal Oseanografi, 6(3), pp. 439–448.

Tamarol, J. and Wuaten, J. F. (2013) ‘Daerah Penangkapan Ikan Tuna (Thunnus SP.)
di Sangihe, Sulawesi Utara’, Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis, IX, pp. 54–59.

Tangke, U. et al. (2015) ‘Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a Pengaruhnya
Terhadap Hasil Tangkapan Yellofin Tuna (Thunnus albcares) di Perairan laut
Halmahera Bagian Selatan’, Ipteks Psp, 2(3), pp. 248–260.

Tanto, T. Al et al. (2017) ‘Karakteristik Arus Laut Perairan Teluk Benoa - Bali’, Jurnal
Ilmiah Geomatiaka, 23, pp. 37–48.

Telaumbanua, S. J., Suardi, M. and Bukhari (2004) ‘Studi Pemanfaatan Teknologi


Rumpon dalam Pengoperasian Purse Seine di Perairan Sumatera Barat’, Mangrove
dan Pesisir, IV(3).

Teliandi, D. et al. (2013) ‘Hubungan variabilitas mixed layer depth k riteria ∆ T = 0 , 5 o


C dengan sebaran tuna di Samudera Hindia bagian timur’, 2(3), pp. 162–171.

Wijaya, G. S. J. (2013) Struktur Genetik dan Filogenetik Ikan Tuna (Thunnus spp.) di
TPI Tanjung Luar, Lombok Berdasarkan DNA Mitokondria. Institut Pertanian Bogor.

Wijopriono (2000) ‘Beberapa Aspek Biologi, Potensi, dan Penyebaran Tuna dan
Cakalang di Perairan Barat Sumatera’, pp. 191–194.

Zainuddin, M., Safruddin and Rani, C. (2014) ‘Prediksi Daerah Potensial Penangkapan
Ikan Pelagis Besar Di Perairan Kabupaten Mamuju’, Jurnal IPTEKS PSP, 1(2), pp.
185–195.

25
LAMPIRAN

26
Lampiran 1. Data MLD yang diekstrak dengan hasil tangkapan ikan tuna madidihang
(Thunnus albacares) pada posisi pemasangan rumpon di perairan Teluk
Bone

Longitude Latitude MLD Hasil Tangkapan


No
(o ) (o ) (m) (Ekor)
1 120.7658 -4.1190 26.1518 18
2 120.7003 -4.1419 26.1780 25
3 120.7019 -4.1441 26.1780 27
4 120.7017 -4.1429 26.1780 22
5 120.7105 -4.1428 26.2093 20
6 120.7111 -4.1439 26.2093 18
7 120.7105 -4.1446 26.2093 19
8 120.7535 -4.1116 26.6939 18
9 120.7658 -4.0894 26.7958 17
10 120.7732 -4.0845 27.1272 16
11 120.7166 -4.1017 27.1962 17
12 120.7215 -4.0919 27.6072 16
13 120.7723 -4.0597 27.7281 18
14 120.7166 -4.0870 28.0674 11
15 120.7978 -3.8630 29.9495 12
16 120.7796 -3.8836 30.2856 10
17 120.7867 -3.8425 30.3121 11
18 120.7853 -3.8418 30.3121 14
19 120.7859 -3.8427 30.3121 8
20 120.7287 -3.3359 69.4765 8
21 120.7183 -3.3592 71.7009 7
22 120.7158 -3.3721 72.4532 7
23 120.7106 -3.3721 72.4532 5
24 120.7209 -3.3101 74.1951 5
25 120.7183 -3.3282 76.3344 6
26 120.7106 -3.3540 82.4112 7
27 120.6929 -3.3451 89.9892 9
28 120.6932 -3.3453 89.9892 7
29 120.6932 -3.3457 89.9892 9
30 120.6934 -3.3451 89.9892 5
31 120.6934 -3.3454 89.9892 6
32 120.6935 -3.3457 89.9892 12
33 120.6936 -3.3454 89.9892 11
34 120.6936 -3.3458 89.9892 5
35 120.6924 -3.3379 92.7916 5
36 120.6926 -3.3363 92.7916 4
37 120.6920 -3.3371 100.0619 4
38 120.8975 -3.9671 31.9706 12
39 120.9033 -3.8743 32.4302 12
40 120.8337 -4.0426 32.7117 11

27
41 120.7872 -4.0193 32.9282 11
42 120.8569 -3.9033 33.5073 8
43 120.7292 -3.9845 33.5721 10
44 120.8511 -3.8859 33.7479 11
45 120.7640 -3.9671 33.8353 10
46 120.8162 -4.0019 33.8458 9
47 120.8337 -3.8685 34.8094 9
48 120.7988 -3.8453 34.8835 10
49 120.8000 -3.3200 55.4326 8
50 120.7775 -3.2975 57.0946 8
51 120.7478 -3.2700 58.8229 8
52 120.7154 -3.4158 59.8915 8
53 120.7284 -3.3963 60.2214 8
54 120.6830 -3.2667 70.2627 7
55 120.7478 -3.3380 70.8391 5
56 120.7252 -3.3510 81.9299 5
57 120.6955 -3.3369 99.3509 2
58 120.6946 -3.3365 99.3509 4
59 120.6949 -3.3367 99.3509 9
60 120.6929 -3.3358 99.3509 7
61 120.6938 -3.3358 99.3509 5
62 120.6939 -3.3367 99.3509 6
63 120.6937 -3.3374 99.3509 3
64 120.6928 -3.3362 99.3509 4
65 120.6866 -3.3326 106.4175 6
66 120.6873 -3.3329 106.4175 2
67 120.6878 -3.3338 106.4175 7
68 120.6883 -3.3334 106.4175 8
69 120.6886 -3.3339 106.4175 7
70 120.6888 -3.3348 106.4175 9
71 120.6889 -3.3344 106.4175 5
72 120.8306 -3.8586 27.0061 11
73 120.8333 -3.8581 27.0061 11
74 120.8333 -3.8583 27.0061 11
75 120.8556 -3.8561 26.9228 11
76 121.0333 -3.8567 26.4188 11
77 120.8306 -3.8589 27.0061 13
78 120.8583 -3.8558 26.9228 13
79 120.8639 -3.8564 26.8434 13
80 120.8361 -3.8578 26.9932 14
81 120.8639 -3.8567 26.8434 14
82 120.9889 -3.8542 26.7941 14
83 120.8278 -3.8583 27.0061 15
84 120.8583 -3.8547 26.9228 16

28
85 120.8611 -3.8567 26.8434 16
86 121.1167 -3.8675 23.7474 16
87 120.8361 -3.8581 26.9932 17
88 120.8333 -3.8586 27.0061 18
89 120.8639 -3.8547 26.8434 18
90 120.8694 -3.8547 26.8434 18
91 121.1306 -3.8675 23.3743 18
92 120.8333 -3.8578 27.0061 22
93 121.1167 -3.8669 23.7474 22
94 120.8611 -3.8561 26.8434 23
95 120.8306 -3.8575 27.0061 25
96 120.8333 -3.8575 27.0061 25
97 120.8611 -3.8564 26.8434 25
98 120.8639 -3.8550 26.8434 25
99 121.1139 -3.8675 23.7474 25
100 121.1222 -3.8672 23.7474 26
101 121.1139 -3.8669 23.7474 28
102 121.1250 -3.8675 23.3743 28
103 121.1278 -3.8675 23.3743 28

29