Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MAKALAH

TOKSIKOLOGI KLINIK-II
(PEMERIKSAAN LABORATORIUM BAHAN TAMBAHAN PANGAN/BTP DAN
PARASETAMOL)

Disusun Oleh :

Ega Rezkina
Fikarwati
Rahayu
Riska Amelia.z
Sulis Maspupah

PRODI D-III ANALIS KESEHATAN


POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah. Tugas makalah
ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas Toksikologi Klinik-II.

Penulis menyadari bahwa dalam penuisan makalah ini masih terdapat banyak
kekeliruan. Untuk itu penulis membuka diri terhadap saran serta kritik yang sifatnya
kontruktif guna penyempurnaan makalah di hari esok.

Akhirnya, semoga makalah ini memberi manfaat bagi pembaca pada umumnya
dan terkhusus kepada penyusunannya sendiri.

Kendari, November 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
1.3. Tujuan ................................................................................................ 3
1.4. Manfaat .............................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1. definisi dari BTP dan Parasetamol ..................................................... 4
2.2 efek dari penggunaan BTP dan Parasetamol. .....................................
2.3. pemeriksaan laboratorium keracunan BTP dan Parasetamol ............ 8
2.4. kasus keracunan BTP dan Parasetamol .............................................. 11

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan ........................................................................................ 19
3.2. Saran .................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang
secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi
ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan
pangan. BTP ditambahkan untuk memperbaiki karakter pangan agar kualitasnya
meningkat. BTP pada umumnya merupakan bahan kimia yang telah diteliti dan
diuji lama sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang ada. Pemerintah telah
mengeluarkan aturan-aturan pemakaian BTP secara optimal.
Salah satu bahan tambahan yang dilarang penggunaannya tetapi masih sering
disalahgunakan untuk makanan adalah boraks. Boraks merupakan suatu senyawa
yang berbentuk kristal, warna putih, tidak berbau, larut dalam air dan stabil pada
suhu dan tekanan normal. Boraks biasanya digunakan untuk mematri logam,
sebagai bahan pembuatan gelas dan enamel, pengawet dan anti jamur kayu,
sebagai antiseptik, dan pembasmi kecoa (DinKes Jombang, 2005).
Di zaman sekarang ini semakin tidak menentunya cuaca atau iklim di Negara
Indonesia maupun di Negara-negara lain merupakan akibat dari tingkah laku dan
perbuatan manusia. Mulai dari penebangan hutan yang merajalela sampai pola
hidup yang tidak baik. Seiring dengan musim yang berjalan dengan tidak
menentu sehingga menyebabkan seseorang mudah sakit. Di era sekarang obat-
obatan banyak dijual bebas di apotek dan toko obat, sehingga banyak dari kita
sering menggunakan obat-obatan tanpa pengawasan dokter. Penggunaan obat
yang tidak sesuai dengan aturan atau petunjuk dokter sangat berbahaya bagi
tubuh akibat atau efeknya bisa langsung kelihatan dan bahkan mungkin baru
beberapa tahun ke depan.
Setiap orang tentunya pernah merasakan rasa nyeri. Mulai dari nyeri ringan
seperti sakit kepala, nyeri punggung, nyeri haid, reumatik dan lain-lain seperti
nyeri yang berat. Obat nyeri itu dinamakan obat analgesik. Analgesik yang sering
digunakan salah satunya adalah parasetamol. Selain sebagai analgesik,
parasetamol juga dapat digunakan untuk obat antipirek (demam). Parasetamol
banyak digunakan karena disamping harganya murah, parasetamol adalah anti
nyeri yang aman untuk swamedikasi (pengobatan mandiri).
Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara
bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit
menjelang menstruasi, dan diindikasikan juga untuk demam. Parasetamol itu
aman terhadap lambung juga merupakan analgesik pilihan untuk ibu hamil
maupun menyusui tap bukan berarti parasetamol tidak mempunyai efek samping.
Efek samping parasetamol berdampak ke liver atau hati.
Parasetamol bersifat toksik di hati jika digunakan dalam dosis besar.
Parasetamol (asetaminofen) merupakan senyawa organik yang banyak digunakan
dalam obat sakit kepala karena bersifat analgesik (menghilangkan sakit), sengal-
sengal, sakit ringan, dan demam. Parasetamol digunakan dalam sebagian besar
resep obat analgesik salesma dan flu. Untuk mengetahui lebh jelasnya tentang
parasetamol, kita akan membahas mengenai apa pengertian parasetamol, apa saja
kegunaan atau manfaat dari parasetamol serta dampak atau efek samping
parasetamol yang tidak sesuai dengan dosis.

1.2. Rumusan Masalah


- Apa definisi dari BTP dan Parasetamol?
- Bagaimana aturan pakai untuk BTP dan Parasetamol?
- Apa saja efek dari penggunaan BTP dan Parasetamol?
- Bagaimana pemeriksaan laboratorium keracunan BTP dan Parasetamol?
- Contoh kasus keracunan BTP dan Parasetamol?
1.3. Tujuan
- Untuk mengetahui definisi dari BTP dan Parasetamol
- Untuk mengetahui aturan pakai untuk BTP dan Parasetamol
- Untuk mengetahui efek dari penggunaan BTP dan Parasetamol
- Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan laboratorium pada keracunan
BTP dan Parasetamol
- Untuk mengetahui contoh lasus keracunan BTP dan Parasetamol

1.4. Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis
khususnya, maupun kepada para pembaca. Manfaat tersebut baik dari segi
pengetahuan maupun pemahaman mendalam mengenai penambahan bahan
tambahan pangan dan penggunaan obat bebas. Manfaat lainnya adalah, makalah
ini dapat menjadi acuan dalam penggunaan Bahan Tambahan Pangan dan obat-
obat bebas dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, diharapkan produsen dan
konsumen makanan bisa berhati-hati lagi dalam memilih makanan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi BTP dan Parasetamol


A. Definisi BTP (Bahan Tambahan Pangan)
Bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang
secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke
dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan. BTP
ditambahkan untuk memperbaiki karakter pangan agar kualitasnya meningkat.
Pemakaian BTP merupakan salah satu langkah teknologi yang diterapkan oleh
industri pangan berbagai skala. Sebagaimana langkah teknologi lain, maka resiko-
resiko kesalahan dan penyalahgunaan tidak dapat dikesampingkan. BTP pada
umumnya merupakan bahan kimia yang telah diteliti dan diuji lama sesuai dengan
kaidah – kaidah ilmiah yang ada. Pemerintah telah mengeluarkan aturan-aturan
pemakaian BTP secara optimal.
Menurut peraturan menteri kesehatan R.I No:329/Menkes/PER/X11/76, Yang
di mkasud dengan zat tambahan makanan adalah bahan yang di tambahkan dan
dicampurkan swaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu termasuk,
kedalamnya adalah pewarna, penyedap rasa, dan aroma, pemantap, antioksidan,
pengawet, pengemulsi., antigumpal, pemucat, dan pengental.
Kasus penyalahgunaan bahan tambahan pangan biasa terjadi adalah penggunaan
bahan tambahan yang dilarang untuk bahan pangan dan penggunaan bahan makanna
melebihi batas yang ditentukan, penyebab lain, produsen berusaha memenuhi
kebutuhan dan keuntungan yang besar dan pada besarnya konsumen ingin
mendapatkan bahan makanan dalam jumlah banyak dengan harga murah munculnya
bahan makanan digunakan untuk mempertahankan kondisi makanan agar menarik.
Dalam proses penanganan pangan perlu mempeerhatikan segi-segi lain seperti
kesehatan manusia sebagai komponen pangan itu sendiri. Dalam arti bahwa apabila
zat pewarna tersebut ternyata akan berdampak buruk pada kesehatan manusia maka
penggunaannya harus di pertimbangkan kembali, dihentikan atau diganti dengan
bahan pewarna lain yang lebih aman.
 Penggolongan Bahan tambahan Pangan (BTP)
BTP dikelompokkan berdasarkan tujuan penggunaan didalam pangan.
Penggelompokkan BTP yang diizinkan digunakan pada pangan menurut
peraturan menteri kesehatan RI No 722/Menkes/Per/1X/88 adalah sebagai berikut

1. Pewarna, yaitu BTP yang dapat memperbaiki atau member warna pada
pangan.
2. Pemanis buatan yaitu BTP yaitu yang dapat meyebabkan rasa manis pada
pangan yang tidak atau hamper tidak mempunyai nilai gizi.
3. Pengawet, yaitu BTP yang dapat mencegah atau menghambat fermentasi,
pengasaman atau penguraian lain pada makanan yang disebabkan oleh
pertumbuhan mikroba.
4. Antioksidan, yaitu BTP yang dapat mencegah atau menghambat proses
oksidasi lemak sehingga mencegah terjadinya ketengikan.
5. Antikempal, yaitu BTP yang dapat mencegah mengempalnya pangan yang
berupa serbuk seperti tepung atau bubuk.

B. Definisi Sejarah dan Pengertian Paracetamol


 Sejarah Parasetamol

Pada tahun 1946, Lembaga Studi Analgetik dan obat-obatan sedative telah
memberi bantuan kepada Departemen Kesehatan New York untuk mengkaji masalah
yang berkaitan dengan agen analgetik. Bernard Brodie dan Julius Axelrod telah
ditugaskan untuk mengkaji mengapa agen bukan aspirin dikaitkan dengan adanya
methemoglobinemia, sejenis keadaan darah tidak berbahaya.(Yulida.A.N. 2009)
Di dalam tulisan mereka pada 1948, Brodie dan Axelrod mengaitkan
penggunaan asetanilida dengan methemoglobinemia, dan mendapati pengaruh
analgetik asetanilida adalah disebabkan metabolit Parasetamol aktif. Mereka
membela penggunaan Parasetamol karena memandang bahan kimia ini tidak
mengahasilkan racun asetanilida.(Yulida.A.N. 2009)
Derivat- asetanilida ini adalah metabolit dari fenasetin, yang dahulu banyak
digunakan sebagai analgetik, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari peredaran
karena efek sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen). Khasiatnya analgetik dan
antipiretik, tetapi tidak antiradang. Dewasa ini pada umumnya dianggap sebagai zat
antinyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi(pengobatan mandiri). Efek
analgetiknya diperkuat oleh kafein dengan kira-kira 50% dan kodein. Resorpsinya
dari usus cepat dan praktis tuntas, secara rectal lebih lambat. Efek samping tak jarang
terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah. (Yulida.A.N. 2009)
Overdosis bisa menimbulkan mual, muntah dan anoreksia.
Penanggulangannya dengan cuci lambung, juga perlu diberikan zat-zat penawar
(asam amino N-asetilsistein atau metionin) sedini mungkin, sebaiknya dalam 8-10
jam setelah intoksikasi. Wanita hamil dapat menggunakan Parasetamol dengan aman,
juga selama laktasi walaupun mencapai air susu ibu. Interaksi pada dosis tinggi
memperkuat efek antikoagulansia, dan pada dosis biasa tidak interaktif.(Tjay, 2002)

 Pengertian

Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik dengan


cara kerja menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP) .
Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam bentuk sediaan
tunggal sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain dalam
sediaan obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual bebas. (Lusiana Darsono 2002)
Parasetamol adalah paraaminofenol yang merupakan metabolit fenasetin dan
telah digunakan sejak tahun 1893 (Wilmana, 1995). Parasetamol (asetaminofen)
mempunyai daya kerja analgetik, antipiretik, tidak mempunyai daya kerja anti radang
dan tidak menyebabkan iritasi serta peradangan lambung (Sartono,1993).
Hal ini disebabkan Parasetamol bekerja pada tempat yang tidak terdapat
peroksid sedangkan pada tempat inflamasi terdapat lekosit yang melepaskan peroksid
sehingga efek anti inflamasinya tidak bermakna. Parasetamol berguna untuk nyeri
ringan sampai sedang, seperti nyeri kepala, mialgia, nyeri paska melahirkan dan
keadaan lain (Katzung, 2011)
Parasetamol, mempunyai daya kerja analgetik dan antipiretik sama dengan
asetosal, meskipun secara kimia tidak berkaitan. Tidak seperti Asetosal, Parasetamol
tidak mempunyai daya kerja antiradang, dan tidak menimbulkan iritasi dan
pendarahan lambung. Sebagai obat antipiretika, dapat digunakan baik Asetosal,
Salsilamid maupun Parasetamol.
Diantara ketiga obat tersebut, Parasetamol mempunyai efek samping yang
paling ringan dan aman untuk anak-anak. Untuk anak-anak di bawah umur dua tahun
sebaiknya digunakan Parasetamol, kecuali ada pertimbangan khusus lainnya dari
dokter. Dari penelitian pada anak-anak dapat diketahui bahawa kombinasi Asetosal
dengan Parasetamol bekerja lebih efektif terhadap demam daripada jika diberikan
sendiri-sendiri. (Sartono 1996)

Gambar struktur kimia parasetamol


2.2 Efek Samping Penggunaan BTP dan Paracetmol
 Efek Samping parasetamol

Reaksi alergi terhadap derivate para-aminofenol jarang terjadi.Manifestasinya


berupa eritem atau urtikaria dan gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada
mukosa.
Fenasetin dapat menyebabkan anemia hemolitik, terutama pada pemakaian
kronik. Anemia hemolitik dapat terjadi berdasarkan mekanisme autoimmune,
defisiensi enzim G6PD dan adanya metabolit yang abnormal.
Methemoglobinemia dan Sulfhemoglobinemia jarng menimbulkan masalah
pada dosis terapi, karena hanya kira-kira 1-3% Hb diubah menjadi met-Hb.
Methemoglobinemia baru merupakan masalah pada takar lajak.
Insidens nefropati analgesik berbanding lurus dengan penggunaan Fenasetin.
Tetapi karena Fenasetin jarang digunakan sebagai obat tunggal, hubungan sebab
akibat sukar disimpulkan. Eksperimen pada hewan coba menunjukkan bahwa
gangguan ginjal lebih mudah terjadi akibat Asetosal daripada Fenasetin. Penggunaan
semua jenis analgesik dosis besar secara menahun terutama dalam kombinasi dapat
menyebabkan nefropati analgetik.
 Efek samping BTP
1.merusak fungsi otak atau menurunkan fungsi nya
2.mebuat darah menjadi memiliki zat zat yang berbahaya
3.jantung sebagai penyaring akan tersumbat dan bahkan dapat menghentikan
darah mengalir dll
2.3 pemeriksaan laboratorium keracunan BTP dan Parasetamol
A.Pemeriksaan laboratorium BTP
A. Metode analisis

1. Identifikasi dan Penetapan Kadar Formalin dalam Sampel


Cara Kerja

1) Timbang lebih kurang 20 g sampel (mie basah atau tahu) yang telah dihaluskan,

tambahkan lebih kurang 100 ml aquades

2) Masukkan ke dalam labu destilasi, asamkan dengan asam fosfat, setelah asam

lebihkan 1 mL.

3) Hubungkan labu dengan alat destilasi, perlahan lahan deslitasi sampel dan

tampung destilat sampai didapat lebih kurang 10 mL

4) Masukkan 2 mL larutan asam kromatropat ke dalam tabung reaksi, tambahkan 1

mL destilat. Campurkan

5) Panaskan dalam penangas air mendidih selama 15 menit.

c) Pengamatan

Adanya formalin ditunjukkan oleh timbulnya warna ungu pada larutan

2. Identifikasi Senyawa Borax dalam Baso

Cara Kerja

1) Timbang 5 – 10 g sampel (baso) yang telah dihaluskan

2) Tambahkan suspensi kalsium oksida sampai alkalis, kemudian diuapkan sampai

kering sambil diaduk.

3) Pijarkan residu pada pemanasan yang rendah sampai bebas zat organik

4) Dinginkan, kemudian encerkan dengan 15 mL air


5) Asamkan dengan HCl

6) Teteskan larutan ke kertas kurkumin dan keringkan pada suhu kamar. Adanya

boraks ditunjukkan oleh timbulnya warna merah pada kertas kurkumin

7) Teteskan larutan NH4OH encer atau kenakan dengan uap NH4OH, warna kertas

kurkumin menjadi warna hijau biru gelap

3. Identifikasi Asam Salisilat dalam Saus Tomat

Cara Kerja

1) Masukkan 10 – 50 mL sampel (saus tomat) kedalam corong pisah, tambahkan 5


mL HCl (1:3), kemudian diekstraksi menggunakan 25 mL eter

2) Bila terbentuk emulsi tambahkan 10 –15 mL petroleum eter

3) Biarkan sampai kedua lapisan memisah

4) Tampung lapisan eter

5) Cuci lapisan eter dengan 2 x 5 mL air, pisahkan dari fase air.

6) Uapkan eter pada suhu kamar

7) Tambahkan 1 tetes larutan FeCl 3 6,5 % pada sisa eter (residu)

Pengamatan : Adanya asam salisilat ditunjukkan oleh timbulnya warna ungu

violet.

Penggolongan BTP yang diizinkan digunakan pada pangan menurut Peraturan


Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 adalah sebagai berikut :
1 Pewarna, yaitu BTP yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada pangan.
2 Pemanis buatan, yaitu BTP yang dapat menyebabkan rasa manis pada pangan, yang
tidak atau hampir tidak mempunyai nilai gizi.
3 Pengawet, yaitu BTP yang dapat mencegah atau menghambat fermentasi,
pengasaman atau peruaian lain pada pangan yang disebabkan oleh pertumbuhan
mikroba.
4 Atioksida, yaitu BTP yang dapat mencegah atau menghambat proses oksidasi
lemak sehingga mencegah terjadinya ketengikan.
5 Antikempal, yaitu BTP yang dapat mencegah mengempalnya (menggumpalnya)
pangan yang berupa serbuk seperti tepung atau bubuk.
6 Penyedapa rasa dan aroma, menguatkan rasa, yaitu BTP yang dapat memberikan,
menambah atau mempertegas rasa aroma.

7 Pengatur keasaman (pengasam, penetral dan pendapar) yaitu BTP yang dapat
mengasamkan, menetralkan dan mempertahankan derajat keasaman pangan.
8 Pemutih dan pematang tepung, yaitu BTP yang dapat mempercepat proses
pemutihan dan atau pematang tepung sehingga dapat memperbaiki mutu
pemanggangan.
9 Pengemulsi, pemantap dan pengental yaitu BTP yang dapat membantu
terbentuknya dan memantapkan sistem dipersi yang homogen pada pangan.
10 Pengeras, yaitu BTP yang dapat memperkeras atau mencegah melunaknya pangan.
11 Sekuestran, yaitu BTP yang dapat mengikat ion logam yang ada dalam pangan,
sehingga memantapkan warna, aroma dan tekstrur.

B.pemeriksaan laboratorium Paracetamol


Metode O-Cressol

Prinsip

Parasetamol dan metabolitnya dihidrolisa dalam suasana asam menjadi P


Aminophenol, dengan asam cresol membentuk senyawa berwarna biru terang
Pergunakan urin specimen pasien yang telah mengkonsumsi Parasetamol 1 gram
dalam waktu 24 jam.Apabila terbentuk Ungu, diduga specimen mengandung
Parasetamol, sehingga perlu pemeriksaan lebih lanjut (konfirmasi test) Apabila
terbentuk warna merah, diduga specimen mengandung Parasetamol, sehingga perlu
pemeriksaan lebih lanjut (konfirmasi test).

2.4 Kasus keracunan BTP dan Paracetamol


A.kasus keracunan BTP (8 Siswa SD di Bekasi Keracunan Jajanan Sekolah)
Sebanyak delapan siswa SDN Pengasinan II, Kecamatan Rawa Lumbu, Kota Bekasi
keracunan jajanan sekolah, Selasa (4/12/2018). Guru SDN Pengasinan II, Tiur Basani
Sihotang, membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan, kedelapan siswa kelas V
itu mual-mual usai mengonsumsi jajanan sekolah saat jam istirahat. "Mereka sakit
perut, mual-mual dan muntah-muntah. Mereka bilang beli jajanan yang sama di jam
istirahat, habis minum mereka langsung mual-mual itu," kata Tiur di SDN
Pengasinan II, Bekasi, Rabu(5/12/2018).
Tiur mengatakan, kedelapan siswa SD tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit
Hosana Medica, Kota Bekasi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. "Dibawa
ke UKS (usaha kesehatan sekolah) terus ke puskesmas baru ke rumah sakit. Efek
yang lain mungkin juga, tetapi semua itu dalam satu kelas," ujat Tiur Sementara itu,
Samuel Stefen, kuasa hukum SDN Pengasinan II, mengatakan bahwa pihaknya sudah
melaporkan kasus tersebut ke Polsek Bekasi Timur. Kasus ini tengah ditangani pihak
kepolisian. "Sudah buat laporan, dan saat ini informasinya pedagang dan sales pop ice
yang menyediakan minuman itu telah diperiksa," ujar Samuel.

B.Kasus keracunan paracetamol ( Meninggal gara-gara overdosis


paracetamol)
Cynthia Shearer (68 tahun) dirawat karena mengalami patah tulang pinggul. Ia
harus berbaring di rumah sakit dan dokter meyakinkan akan melakukan apa saja
untuk meringankan rasa sakitnya.

Keluarga berharap operasi ringan bisa membuatnya segera pulang ke rumah. Tapi
Cynthia tidak pernah pulang lagi. Setelah 20 hari di rumah sakit, nenek ini pun harus
meninggal dunia di usia 68 tahun.

Bukan karena tulang pinggul yang patah atau operasi yang gagal, Cynthia meninggal
karena diberikan lebih dari 85 persen dosis aman parasetamol selama 48 jam pertama
di rumah sakit.

Overdosis obat penghilang rasa sakit itu menyebabkannya mengalami kegagalan


multi organ. Dengan berat badan hanya 34,9 kg, Cynthia seharusnya hanya diberikan
parasetamol dosis anak. Perlu diketahui bahwa dosis intravena harus didasarkan pada
berat badan pasien, bukan usia.

"Ini karena kurangnya kesadaran dari dokter junior, perawat, dokter senior dan
apoteker, termasuk apoteker kepala," jelas Koroner John Ellery, seperti
dilansir Mirror.co.uk, Senin (19/3/2012).

Penyelidikan menemukan bahwa kurangnya kesadaran tentang pedoman mengenai


obat yang paling banyak digunakan di antara dokter senior dan apoteker di Royal
Shrewsbury Hospital.

"Hal ini sangat signifikan mengingat staf tersebut mungkin akan melatih di tempat
lain, sehingga merupakan keprihatinan bila pengetahuan mereka juga sama-sama
kurang," jelas Ellery.
Yang lebih memprihatinkan, Cynthia bukanlah kematian pertama yang disebabkan
oleh overdosis parasetamol.

Pada tahun 2008, Danielle Welch (19 tahun) meninggal di Glasgow’s Southern
General Hospital. Remaja dengan tinggi 122 cm dan berat 34,9 kg diperiksa oleh 23
dokter berbeda dan menerima 20 dosis parasetamol untuk dewasa, dua kali jumlah
yang aman untuk tubuhnya.

"Parasetamol bekerja dengan mengurangi produksi bahan kimia yang disebut


prostaglandin. Tubuh melepaskan zat kimia dalam menanggapi penyakit dan cedera
dan mereka dapat menyebabkan rasa sakit dan demam," jelas Helen Darracott,
apoteker terlatih dan direktur Proprietary Association of Great Britain.

Parasetamol sebenarnya aman bila digunakan dengan benar, bahkan dipercaya sangat
aman untuk digunakan oleh ibu hamil. Tapi ketika overdosis terjadi, maka akan
menyebabkan kerusakan hati dan organ lainnya.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang
secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan
kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan, antara lain bahan
pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental.

Parasetamol dikenal sebagai obat penurun demam dan pereda nyeri seperti
sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot. Namun penggunaannya
harus memperhatikan dosis yang diresepkan.
DAFTAR PUSTAKA

https://health.detik.com/true-story/d-1870782/meninggal-gara-gara-overdosis-
parasetamol

https://www.academia.edu/30400845/Bahan_Tambahan_Makanan.docx