Anda di halaman 1dari 4

Somatoform

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang disertai
permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga telah
dijelaskan dokternya bahwa tidak ada kelainan yang mendasari keluhannya (Kapita Selekta, 2001).
Beberapa orang biasanya mengeluhkan masalah dalam bernafas atau menelan, atau ada yang “menekan
di dalam tenggorokan”. Masalah-masalah seperti ini dapat merefleksikan aktivitas yang berlebihan dari
cabang simpatis sistem saraf otonomik, yang dapat dihubungkan dengan kecemasan. Kadang kala,
sejumlah simtom muncul dalam bentuk yang lebih tidak biasa, seperti “kelumpuhan” pada tangan atau
kaki yang tidak konsisten dengan kerja sistem saraf. Dalam kasuskasus lain, juga dapat ditemukan
manifestasi di mana seseorang berfokus pada keyakinan bahwa mereka menderita penyakit yang serius,
namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan (Nevid, dkk, 2005).

Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian (histrionik), terutama pada
pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima bahwa keluhannya
memang penyakit fisik dan bahwa perlu adanya pemeriksaan fisik yang lebih lanjut (PPDGJ III, 1993).
Dalam kasus-kasus lain, orang berfokus pada keyakinan bahwa mereka menderita penyakit serius,
namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan.

Gambaran keluhan gejala somatoform :

Neuropsikiatri:

− “kedua bagian dari otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik” ;

− “ saya tidak dapat menyebutkan benda di sekitar rumah ketika ditanya”

Kardiopulmonal:

− “ jantung saya terasa berdebar debar…. Saya kira saya akan mati”
Gastrointestinal:

− “saya pernah dirawat karena sakit maag dan kandung empedu dan belum ada dokter yang dapat
menyembuhkannya”

Genitourinaria:

− “saya mengalami kesulitan dalam mengontrol BAK, sudah dilakukan pemeriksaan namun tidak di
temukan apa-apa”

Musculoskeletal

− “saya telah belajar untuk hidup dalam kelemahan dan kelelahan sepanjang waktu”

Sensoris:

− “ pandangan saya kabur seperti berkabut, tetapi dokter mengatakan kacamata tidak akan membantu”

Beberapa tipe utama dari gangguan somatoform adalah gangguan konversi, hipokondriasis, gangguan
dismorfik tubuh, dan gangguan somatisasi.

Referensi
1. Mansjoer Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FKUI.
2. Nevid, Jeffrey S, dkk. 2005. Psikologi Abnormal edisi kelimaJilid 1. Jakarta: Erlangga.
3. Departemen Kesehatan RI, 1998. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia (PPDGJ). Edisi III. Dirjen Pelayanan Medis RI. Jakarta

Gangguan Cemas

Definisi
Gangguan kecemasan adalah sekelompok kondisi yang memberi gambaran
penting tentang kecemasan yang berlebihan, disertai respons perilaku,
emosional, dan fisiologis. Individu yang mengalami gangguan kecemasan
dapat memperlihatkan perilaku yang tidak lazim seperti panik tanpa alasan,
takut yang tidak beralasan terhadap objek atau kondisi kehidupan,
melakukan tindakan berulang-ulang tanpa dapat dikendalikan, mengalami
kembali peristiwa yang traumatik, atau rasa khawatir yang tidak dapat
dijelaskan atau berlebihan. Pada kesempatan yang jarang terjadi, banyak orang
memperlihatkan salah satu dari perilaku yang tidak lazim tersebut
sebagai respons normal terhadap kecemasan. Perbedaan antara respons kecemasan
yang tidak lazim ini dengan gangguan kecemasan ialah bahwa
respons kecemasan cukup berat sehingga bisa mengganggu kinerja individu,
kehidupan keluarga, dan gangguan sosial.

Referensi
1. Amir N. Buku ajar psikiatri. Edisi ke-2. Jakarta: FKUI; 2013.

2. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis psikiatri: ilmu pengetahuan
perilaku psikiatri klinis. Edisi ke-7, Jilid 1. Jakarta:Binarupa Aksara;
2010

Gangguan panik

Tatalaksana
Penatalaksanaan

I. Non Psikofarmakologik

1) Terapi Kognitif Peri-laku.

2) Terapi Keluarga.

3) Psikoterapi Berorientasi Insight (Tilikan).

4) Psikoterapi Kombinasi.

II. Psikofarmakologik
Pemberian Psikofarmaka perlu dipertimbangkan bila telah terjadi Agorafobia, Depresi, ide atau
percobaan bunuh diri, dan gejala sudah cukup berat.

Pemakaian Trisiklik Anti-depresan (Imipramine, Clomi-pramine, Maprotiline, Amitri-ptiline) harus hati-


hati karena efek samping yang kurang menyenangkan seperti : mulut kering, konstipasi, somnolent,
disfungsi seksual, anxietas, hipotensi orthostatistik). Selec-tive Serotonin ReUptake Inhibitor (SSRI)
seperti: Pemakaian Paroxetine, Sertraline dan Fluoxetine cukup efektif untuk Gangguan Panik. Pemberian
golongan Benzodiazepine (Alprazolam, Clonazepam,Lorazepam) punya kemampuan spesifik sebagai anti
panik, tapi pemakaian jangka lama harus sangat hati-hati karena akan mudah menimbulkan toleransi
serta penurunan atau penghentian pengobatan bisa menimbulkan efek “ classical withdrawal” sepeti
terjadinya rebound fenomen dari gejala panik.

Meskipun Farmakoterapi cukup efektif mengatasi gejala-gejala awal Gangguan panik, kombinasi
Psikoterapi dan Farmakoterapi memberikan hasil yang lebih baik pada beberapa kasus.

Referensi

1. Sadock, BJ.; Sadock, VA :Panic Disorder and Agoraphobia in Synopsis of Psychiatry Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry, Xth ED, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia- USA,2007, p: 587-597.

2. Shelton,RC.:ANXIETY DISORDERS in CURRENT Diagnosis & Treatment Psychiatry .Second Edition;edited


by Michael H.Ebert,MD; Barry Nurombe,MD; Peter T loosen,MD,PhD;JamesF.Leckman,MD; The McGraw-
Hill Companies Inc., Singapore,2008, p: 351-378.

3. Taylor, CT; Pollack, MH; LeBeau, RT; and Simon,NM : Anxiety Disorder : Panic, Social Anxiey, and
Generalized Anxiety in Massachusetts General Hospital Comprehensive Clinical Psychiatry, Mosby Inc,
2008,p :429-433.

5. Han,J. Park, M; Hales, RE.: Anxiety Disorders in Lippincott’s Primary Care Psychiatry edited by: Robert
M.McCarron, Glen L.Xiong, James A.Bourgeois, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2009, p: 61-
79.