Anda di halaman 1dari 6

PERENCANAAN SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH DOMESTIK KECAMATAN

BEKASI SELATAN

Qurrotul Uyun 1), Eka Wardhani 2), Nico Halomoan 3)


1) 2) 3) Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut
Teknologi Nasional Bandung
Email : qurrotuluyun12gmail.com

Abstrak (11 pt)


Makalah diketik pada kertas ukuran A4 dengan font arial dengan ukuran 11 pt
(kecuali judul yaitu 12 pt), spasi tunggal, 1 kolom dan rata kiri - kanan. Batas
margin atas 2,5 cm, kiri 3 cm, bawah 2,5 cm dan margin kanan 2,5 cm. Judul
makalah (font 12 pt dan bold) dan nama penulis (tanpa gelar akademis) ditulis
rata tengah pada halaman pertama. Penulis utama ditulis pada urutan pertama
diikuti oleh penulis lainya. Makalah diawali dengan abstrak dengan font arial 11 pt
dan berisi maksimum 200 kata dengan bahasa Indonesia. Abstrak ditulis dalam
satu paragraph. Abstrak berisi ringkasan penelitian yang meilputi latar belakang,
tujuan, metode dan kesimpulan hasil penelitian.

Kata kunci: 3-5 kata, judul, artikel, simposium, nasional (11 pt)

1. Pendahuluan
Kecamatan Bekasi Selatan merupakan kecamatan di Kota Bekasi yang dijadikan
pusat aktivitas pemerintahan. Kecamatan Bekasi Selatan memiliki luas wilayah 1.606 Ha
dengan jumlah penduduk 229.809 Jiwa.
Letak geografis Kecamatan Bekasi Selatan menyebabkan pertumbuhan penduduk
meningkat setiap tahun. Meningkatnya pertumbuhan penduduk menyebabkan kebutuhan air
bersih sebagai penunjang kebutuhan sehari-hari meningkat. Akibatnya, timbulan air limbah
domestik pun menjadi meningkat dan risiko sanitasi menjadi tinggi.
Studi Environmental Health Risk Assesment (EHRA) (2015) menyatakan kondisi
sanitasi Kecamatan Bekasi Selatan rendah, karena 91,08 % penduduk dari 53.715 Rumah
Tangga (RT) masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABs) ke sungai. Badan
Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kota Bekasi (2017) menyatakan bahwa
Kali Bekasi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air berstatus sungai kelas IV,
dengan parameter COD dan BOD yang telah melebihi baku mutu
Berdasarkan permasalahan di atas maka perlu dilakukan pembangunan Sistem
Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD).

2. Studi Pustaka
Pertimbangan pemilihan jenis SPALD-T dilakukan berdasarkan pada Lampiran I
Peraturan Menteri PUPR Nomor 4 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Sistem
Pengelolaan Air Limbah Domestik, dengan syarat sebagai berikut:
1) Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk yang disyaratkan untuk SPALD-T yaitu lebih dari 150 jiwa/Ha.
2) Kedalaman Muka Air Tanah
Kedalaman muka air tanah yang disyaratkan untuk SPALD-T lebih kecil dari 2 meter
untuk menghindari pencemaran sepanjang jaringan atau jika air tanah sudah tercemar.
3) Permeabilitas Tanah
Permeabilitas akan berpengaruh terhadap SPALD-S yang menggunakan cubluk atau
tangki septik dengan bidang resapan. Persyaratan yang ditetapkan yaitu kurang dari
5x10-4 m/detik untuk SPALD-T dengan jenis tanah pasir halus sampai dengan pasir
lempung.
1
4) Kemampuan Pembiayaan
Pemerintah daerah dalam pembiayaan pengoperasian dan pemeliharaan SPALD-T akan
mempengaruhi pemilihan jenis SPALD.
5) Kemiringan Tanah
Kemiringan tanah disyaratkan sama dengan atau lebih dari 2% untuk mempermudah
pemasangan pipa pada SPALD-T, sedangkan shallow sewer dan small bore sewer dapat
digunakan pada berbagai kemiringan tanah.

Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) terbagi menjadi dua sistem pengelolaan, yaitu
Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat (SPALD-S) dan Sistem Pengelolaan Air Limbah
Domestik Terpusat (SPALD-T) seperti yang dapat dilihat dalam Gambar 1.

Gambar 1. Diagram Alir Pemilihan Jenis


SPALD
(Sumber: Permen PUPR No 4 Tahun
2017)

3. Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Bekasi Selatan, dengan pemilihan sistem
penyaluran air limbah domestik berdasarkan pemilihan jenis SPALD ditetapkan dalam
Lampiran I Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia
(PermenPUPR RI) Nomor 4 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan SPALD, yaitu:
1. tingkat kepadatan penduduk lebih dari 150 jiwa/Ha,
2. kedalaman muka air tanah kurang dari 2 meter, permeabilitas tanah kurang dari 5 x 10-4
m/detik,
3. kemampuan pembiayaan oleh pemerintah daerah, dan
4. kemiringan tanah kurang dari 2%.

4. Hasil dan Pembahasan


1 Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk yang disyaratkan untuk SPALD-T yaitu lebih dari 150 jiwa/Ha, jika
tidak memenuhi maka digunakan SPALD-S. Daerah yang menjadi bahan tinjauan adalah
Kecamatan Tawang yang memiliki 5 kelurahan yaitu Kelurahan Jaka Mulya, Kelurahan Jaka
Setya, Kelurahan Pekayon Jaya, Kelurahan Marga Jaya, dan Kelurahan Kayuringin Jaya.
Kecamatan Bekasi Dalam Angka (2018) menginformasikan jumlah penduduk Kecamatan
Bekasi Selatan pada tahun 2017 adalah 229.809 jiwa dengan luas wilayah 1.496 Ha,
sehingga kepadatan penduduk Kecamatan Bekasi Selatan 154 Jiwa/Ha.

2
2 Kedalaman Air Tanah
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
04/PRT/M/2017 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik, nilai
MAT harus kurang dari 2 m. Kondisi kedalaman air tanah daerah perencanaan didapat
berdasarkan peta potensi air tanah daerah Jonggol-Bekasi dan sekitarnya. Kecamatan
Bekasi Selatan memiliki potensi air tanah yang tinggi dengan kedudukan akuifer 1-50 m di
bawah muka air tanah.

3 Permeabilitas Tanah
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
04/PRT/M/2017 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik, nilai
permeabilitas tanah kurang dari 5x10-4 m/det. Jenis tanah kecamatan Bekasi Selatan
sebagian besar aluvial serta tekstur tanah didominasi sedang halus berdasarkan peta
geologi lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu.
Jenis tanah aluvial dapat di padankan dengan padanan klasifikasi taksonomi tanah
berdasarkan sistem yang digunakan di Indonesia meliputi klasifikasi tanah sistem nasional,
FAO, dan soil taxonomy seperti yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Pendanaan Klasifikasi Taksonomi dan(


Penamaan Tanah
Sistem Sistem PPT, Bogor Sistem Sistem Taksonomi
Dual/Soepraptohardjo Modifikasi (1983) FAO/UNESCO Tanah (1975)
(1961) (1974)
Kambiosol Cambiosol Inceptisols
Aluvial Cambiosol Inceptisols
Brunizem Cambiosol Inceptisols
Aluvial Nitosol Nitosol Ultisol
- Phaeozem Alfiosol
- - Mollisols
Oksiosol Ferralsol Oxisols
(Sumber: Ilmu Tanah Pertanian, 1993 dalam Siregar, 2013)

Sistem nasional pada jenis alluvial, setara dengan cambiosol menurut FAO, dan
Inceptisol menurut soil taxonomy. Berdasarkan penelitian menganalisis perbedaan
pengukuran di lapangan dan di laboratorium Uhland dan O’neal (1951) dalam siregar (2013)
sistem taksonomi tanah digunakan untuk mengetahui nilai laju permeabilitas tanah di
laboratorium maupun lapangan seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai Permeabilitas Hasil Pengukuran (


Jenis Tanah Laju Permeabilitas Tanah (cm/jam) Kategori Keterangan
Laboratorium Lapangan
Andepts 1,34 1,26 Agak lambat
Inceptisol 3,20 2,23 Sedang
Ultisol 1,06 0,98 Agak lambat
(Sumber: Uhland dan O’neal, 1951dalam Siregar, 2013)

3
Hasil padanan yang digunakan adalah sistem taksonomi tanah (1975), sehingga
didapatkan tanah Kecamatan Bekasi Selatan berjenis Inceptisol dengan kategori sedang.
Nilai permeabilitas tanah inceptosols sebesar 3,2 cm/jam untuk pengukuran di lapangan,
dan 2,23 cm/jam untuk pengukuran di laboratorium. Dilakukan konversi pada satuan untuk
mendapatkan nilai permeabilitas yang diinginkan, sehingga didapatkan nilai permeabilitas
pada pengukuran laboratorium 8,89 x 10-6 m/detik dan pada pengukuran lapangan 6,19 x 10-
6
m/detik.

4 Kemampuan Pembiayaan
Berdasarkan Permen PUPR 4/2017, untuk pembangunan jaringan perpipaan SPALD-T
harus memiliki kemampuan pembiayaan.
Kemampuan pendanaan pendanaan APBD untuk belanja sanitasi kota Bekasi pada
tahun 2014 berjumlah Rp.2.545.203.789.960,-. Berdasarkan Perhitungan Pertumbuhan
Pendanaan APBD Kota Bekasi, dinyatakan bahwa terdapat dana untuk belanja APBD murni
untuk sanitasi sejak tahun 2010.

5.1.1 Kemiringan Tanah


Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
04/PRT/M/2017 tentang Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik, nilai
kemiringan tanah lebih dari 2% sebagai syarat pembuatan SPALD-T skala perkotaan, jika
kurang dari sama dengan 2 % maka pembuatan SPALD-T dilakukan untuk skala
permukiman. Kecamatan Bekasi Selatan memiliki kemiringan 1-2% seperti yang dapat
dilihat pada Gambar 2.

4
Gambar 1. Peta Kemiringan Lereng Kota Bekasi
(Sumber: Masterplan Penyaluran Air Limbah
Domestik Kota Bekasi, 2015)

Gambar 1. Diagram Alir Pemilihan Jenis SPALD


(Sumber: Permen PUPR No 4 Tahun 2017)

Penentuan jenis SPALD Kecamatan Bekasi Selatan berdasarkan PerMenPUPR


No.04 Tahun 2017 pada parameter kepadatan penduduk, kedalaman muka air tanah,
permeabilitas tanah, kemampuan pembiayaan, dan kemiringan tanah dapat dilihat pada
Tabel 3.

Tabel 3. Penentuan Jenis(


SPALD Kecamatan Bekasi
Selatan
Indikator Kriteria Eksisting Keterangan Sumber
Kepadatan 150 jiwa/ha 154 Jiwa/Ha Memenuhi BPS, Kecamatan
Jumlah Bekasi Selatan
Penduduk Dalam Angka 2018

Muka Air < 2m 1-50m Memenuhi Peta potensi air


5
Tanah tanah daerah
Jonggol-Bekasi dan
sekitarnya, 1997

Permeabilitas 5x10-4 m/det  6,19 x 10-6 untuk Memenuhi Siregar, 1993


Air Tanah pengukuran
lapangan
 8,89 x 10-6 untuk
pengukuran lab
Kemampuan Mampu APBN dan APBD II Memenuhi RTRW Kota Bekasi,
Pembiayaan 2015

Kemiringan >2% 1-2 % Tidak Masterplan


Tanah Memenuhi Penyaluran Air
Limbah Kota Bekasi,
2015

(Sumber : Analisis, 2019)


5. Kesimpulan
Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa 4 parameter yang terdiri dari kepadatan
penduduk, kedalaman muka air tanah, permeabilitas tanah, dan kemampuan pembiayaan
Kecamatan Bekasi Selatan memenuhi syarat yang ditetapkan di untuk penentuan cakupan
pelayanan SPALD-T skala perkotaan, sedangkan pada parameter kemiringan tanah tidak
memenuhi. Sesuai dengan diargram alur pemilihan jenis SPALD PerMenPUPR No.04 Tahun
2017, Kecamatan Bekasi Selatan memenuhi persyaratan untuk pemilihan SPALD-T skala
permukiman.

Daftar pustaka
BPS Kecamatan Bekasi Selatan, 2018, Kecamatan Bekasi Selatan Dalam Angka Tahun
2018, BPS, Bekasi.

Environmental Health Risk Assesment (EHRA),2015, Laporan Studi EHRA Kota Bekasi
Tahun 2015, BAPPEDA Kota Bekasi, Bekasi.

Masterplan Air Limbah Kota Bekasi, 2015, Masterplan Air Limbah Kota Bekasi, BAPPEDA
Kota Bekasi, Bekasi.

Permen PUPR, 2017, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.
04/PRT/2017 Tentang Penyelenggaraan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik, Permen
PUPR, Jakarta.

Siregar, 2013, Kajian Permeabilitas Beberapa Jenis Tanah Di Lahan Percobaan Kwala
Bekala Usu Melalui Uji Laboratorium Dan Lapangan, USU, Medan.

2019. Peta Potensi Air Tanah, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Provinsi Jawa
Barat, Bandung.