Anda di halaman 1dari 4

Disusun oleh Fahrizal

Selasa, 14 November 2016

“Membaca Peta Politik FAI”

I. Pendahuluan

Pertama, etno-scape adalah orang modern yang terus menerus memperbaharui


kemodernannya dengan cara mendatangi etnis yang menurutnya terbelakang.
Seperti misalnya lawan mendoktrin lembaga yang dikira tidak diperhatikan
seperti HIMA KPI dan HIMA ASY bahkan HIMA Ekonomi Syariah,
kedua, ideo-scape, artinya ide yang dapat melewati batas trans-national. Sebagai
contoh, gejala terorisme yang ada di Timur Tengah dapat merembet ke Indonesia.
Seperti gagasan berpakaian syariah menurut pemahaman mereka, dan ini menjadi
doktrin untuk menyerang anggota dan kader PMII, ketiga, media-scape yang
mendorong dan mengkonstruksi pemikiran kita. Saat ini kita tidak dapat
membendung arus informasi yang semakin kuat pasca adanya teknologi, seperti
propaganda tak bersumber, yang membuat anggota atau kader PMII mudah
goyah akan keyakinannya.

II. Membaca Dinamika Perubahan Politik di FAI

Sejak Sahabat Usman Azis melakukan satu perubahan besar. Perubahan ini
menyangkut sejumlah hal: reformasi kelembagaan, dan transformasi masyarakat
FAI secara luas. Pertama, reformasi kelembagaan di tingkat bawah seperti komti
maupun HimaProdi yang berhasil direbut serta menggalang kekuatan untuk
menggusur pemerintahan BEM FAI yang otoritarian pada saat itu ke bentuk
pemerintahan yang agamis dan bermartabat serta mendahulukan musyawarah.

Lembaga-lembaga baru ini menjalankan fungsi-fungsi yang spesifik, secara umum


ditujukan untuk merespon tuntutan masyarakat FAI akan pengelolaan sistem
pemerintah yang dilandasi oleh prinsip-prinsip good govermance seperti
transparansi, akuntabilitas dan rule of law.

Dahulu kita membumihanguskan dominasi lawan yang otoritarian dengan


kemampuan dan ide-ide besar yang kita punya sehingga masyarakat FAI mulai
terbuka fikirannya atas situasi yang terjadi pada saat itu. Tapi kenyataannya hari ini
FAI adalah Fakultas yang akan diperebutkan oleh kalangan mahasiswa yang haus
akan kekuasaan, FAI dinilai sebagai ladang yang empuk berada pada ring 1
perkaderan bagi lawan, ditambah ketua organisasi sejenis (ekstra) sebagian besar
berada di FAI sehingga diperkirakan mereka akan lebih fokus mengawasi FAI.
Agenda besar sudah jelas terlihat, hari ini lawan sedang menggalang kekuatan untuk
menghancurkan dominasi PMII di FAI, dimulai dengan hilangnya beberapa kantong
kaderisasi di FAI, coba seksama kita cermati bagaimana militansi anggota atau kader
PMII di FAI mulai menurun, Hima Ekonomi Syariah direbut oleh koalisi HMI dan
KAMMI, mahasiwa netral mulai menarik dukungan dan simpatinya dari PMII, dilain
pihak Hima PAI mulai digerus akibat fokus PMII terlalu besar di BEM Fakultas,
Hima PGMI mulai terkoyak militansi karena hedonisme mulai menghampiri,
ditambah Hima ASY dan KPI yang jelas jauh dari jangkauan fokus PMII, ini
seharusnya menjadi catatan bersama untuk anggota dan kader PMII untuk selalu
evaluasi dan belajar dalam memahami situasi.
III. Membaca Kondisi PMII di FAI hari ini

Dalam satu dekade terakhir kita menyadari bahwa organisasi pergerakan kita telah
berkembang sedemikian pesat baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
Terbukti bahwa PMII sudah berada dihampir semua jurusan di UIKA dengan
kuantitas kader yang sangat bervariasi. Di antara organisasi sejenis pun PMII
menjadi organisasi dengan jumlah anggota dan kadernya terbesar di UIKA. Era
reformasi khususnya di FAI telah membuka peluang pengembangan PMII secara
lebih massif. Hanya ada beberapa masalah yang terabaikan, ialah :

Masalah Pertama: Sumberdaya Anggota

Kaderisasi dijalankan setiap tahun dan menghasilkan anggota yang melimpah. Tapi
harus diakui, semua proses di dalamnya belum menjamin terciptanya anggota-
kader yang mumpuni dibidangnya dan berkarakter sebagai leader. Serta
kurangnya follow up sehingga anggota kader PMII tidak sadar bahwa dia telah
menjadi manusia PMII.

Masalah Kedua: Kehidupan Intelektual

Ada sejumlah hal yang kurang menggembirakan dalam dunia intelektual kita. Gairah
intelektual tak sebergairah masa lalu. Sebenarnya ini sangat ironis, karena banyak
informasi dan bacaan yang tersedia di internet. Bahan-bahan bacaan juga bisa
diakses lewat perpustakaan. Hanya saja ada gejala baru yang khas modern, yakni
menurunnya kegemaran membaca ide-de besar dan bergulat dengan gagasan-
gagasan besar. Sekarang ini iklim mahasiswa cenderung pragmatis, mereka
memilih terjun pada pengetahuan yang sempit dan terspesifikasi.

Masalah Ketiga : Kesiapan Menempati Sektor-Sektor Strategis

Diantara kegusaran yang kita alami sekarang ini adalah minimnya anggota-kader
PMII yang mempersiapkan diri untuk berkiprah di sektor-sektor penting seperti
ketua HimaProdi, Gubernur BEM Fakultas, DPM Fakultas bahkan tingkatan
Universitas sekalipun. Sebagian besar berkecimpung di dunia akademik di
kampus-kampus dengan berharap IP tinggi dan mendapat kerja tanpa bicara
pengalaman dan pengabdiannya.

Masalah Keempat: Mengabaikan perangkat nilai yang konstruktif dan sistemik


Sebagaimana setiap organisasi, sistem nilai adalah ruh pergerakan, adapun struktur
dan perangkat organisasi merupakan tubuhnya. Tanpa sistem nilai atau ideologi
ini mustahil organisasi tersebut bisa bergerak, struktur dan perangkat tersebut tak
mungkin pula ia merealisasikan tujuan hidup dan keberadaannya. Sistem nilai
PMII ini terumuskan dalam suatu doktrin normative bernama NDP atau Nilai-
Nilai Dasar Pergerakan, yang isinya merupakan sublimasi dari nilai-nilai
keaswajaan dan keindonesiaan. “Keaswajaan” sendiri bisa dikatakan satu
dimensi spiritualisme ideologis kaum pergerakan yang bersifat khas kaum ahlus-
sunnah wal-jamaah dimana segala aktivitas PMII pada dirinya sendiri adalah
suatu bentuk ibadah kepada Sang Penguasa Semesta Jagad Raya.

Masalah Kelima: Membangun Akumulasi Kesadaran dan Pengetahuan Bersama

Kesenjangan pengetahuan dan keterbatasan wawasan membuat diskusi untuk


membicarakan masalah-masalah substansial seolah bertele-tele dan dianggap
buang-buang waktu atau terlalu teoritis. Seringkali anggapan ini diperburuk oleh
egoisme sektoral, perbedaan otoritas, senioritas dan gengsi diri yang terlalu
berlebihan. Pada akhirnya faktor-faktor ini telah menghalangi kesediaan untuk
bekerjasama, saling mendengarkan, saling menghormati dan menghargai. Oleh
karena itu tidak mengherankan bila kesepakatan-kesepakatan atau keputusan-
keputusan penting yang bersifat substansial tidak mudah dicapai atau diambil
tanpa masukan-masukan serta pertimbangan kritis, konstruktif dan solutif.