Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Spiritual Care

2.1.1 Definisi Spiritual

Spiritual berasal dari kata spirit. Kata spirit adalah kata benda

bahasa latin spiritus yang berarti nafas (breath) dan kata kerja spirare

yang berarti bernafas. Dilihat dari asal katanya, dapat di simpulkan

bahwa untuk hidup adalah untuk bernafas dan memiliki nafas artinya

memiliki spirit. Jadi spiritual berarti mempunyai ikatan yang lebih

kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan

dengan hal yang bersifat fisik atau material. Spiritualitas merupakan

kebangkitan atau pencerahan diri untuk mencapai makna hidup dan

tujuan hidup. Spiritual merupakan bagian esensial dari keseluruhan

kesehatan dan kesejahteraan seseorang (Kamus Webster, 1963 dalam

Tamani, 2011).

Spiritualitas merupakan konsep yang luas, sangat subjektif dan

individualis, diartikan dengan cara yang berbeda pada setiap orang.

Spiritualitas adalah kepercayaan seseorang akan adanya Tuhan, dan

kepercayaan ini menjadi sumber kekuatan pada saat sakit sehingga

akan mempengaruhi keyakinannya tentang penyebab penyakit, proses

penyembuhan penyakit dan memilih orang yang akan merawatnya

(Blais et al, 2002; Hamid, 2008 dalam Vlasblom, 2012).


Dalam pengertian yang lebih luas, spiritual adalah suatu hal

yang berkaitan dengan spirit, sesuatu yang spiritual memiliki

kebenaran yang kekal yang berhubungan dengan tujuan hidup

manusia. Didalammnya mungkin terdapat kepercayaan terhadap hal-hl

supranatural seperti dalam agama (Tuhan Yang Maha Esa), tetapi

memiliki penekanan terhadap pengalaman pribadi. Spiritual dapat

merupakan ekspresi dari kehidupan yang dipersepsikan lebih tinggi,

lebih kompleks atau lebih terintegrasi dalam pandangan hidup

seseorang. Salah satu aspek dari menjadi spiritual adalah memiliki

arah tujuan, yang secara terus menerus meningkatkan kebijaksanaan

dan kekuatan berkehendak dari seseorang, mencapai hubungan yang

lebih dekat dengan ketuhanan dan alam semesta serta menghilangkan

ilus dari gagasan salah yang berasal dari alat indera, perasaan ataupun

pikiran. Aspek spiritual memiliki dua proses yaitu proses keatas yang

merupakan tumbuhnya kekuatan internal yang mengubah hubungan

seseorang dengan Tuhan, dan proses kebawah yang ditandai dengan

peningkatan realitas fisik seseorang akibat perubahan internal (Aman,

2013)

2.1.2 Definisi Spiritual Care

Spiritual Care merupakan aspek perawatan yang integral dan

fundamental dimana perawat menunjukkan kepedulian kepada pasien

(Chan, 2008 dalam Mc Sherry & Jamieson, 2010). Spiritual care

adalah kegiatan dalam keperawatan untuk membantu pasien yang


dilakukan melalui sikap dan tindakan praktek keperawatan

berdasarkan nilai-nilai keperawatan spiritual yaitu mengakui martabat

manusia, kebaikan, belas kasih, ketenangan dan kelemahlembutan

(Meehan, 2012)

Spiritual care berfokus pada menghormati pasien, interaksi yang

ramah dan simpatik, mendengarkan dengan penuh perhatian dan

memberikan kekuatan pada pasien dalam menghadapi penyakitnya

(Mahmoodishan, 2010). Spiritual care tidak mempromosikan agama

atau praktek untuk meyakinkan pasien tentang agamannya melainkan

memberi kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan nilai-nilai

dan kebutuhan mereka, dan memberdayakan mereka terkait dengan

penyakitnya ( Souza et al, 2007 dalam Sartori, 2010).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa spiritual care adalah

praktek dan prosedur keperawatan yang dilakukan perawat untuk

memenuhi kebutuhan spiritual pasien berdasarkan nilai-nilai

keperawatan spiritual yang berfokus pada menghormati pasien,

interaksi yang ramah dan simpatik, mendengarkan dengan penuh

perhatian, memberi kesempatan pada pasien untuk mengekspresikan

kebutuhan pasien, memberikan kekuatan pada pasien dan

memberdayakan mereka terkait dengan penyakitnya, dan tidak

mempromosikan agama atau praktek untuk meyakinkan pasien

tentang agamannya.
2.1.3 Faktor –Faktor yang mempengaruhi kebutuhan spiritual

Menurut Asmandi, 2008 faktor-faktor yang mempengaruhi

kebutuhan spiritual antara lain sebagai berikut:

1. Perkembangan

Usia perkembangan dapat menentukan proses pemenuhan

kebutuhan spiritual, karena setiap tahap perkembangan memiliki

cara meyakini kepercayaan terhadap Tuhan

2. Keluarga

Keluarga memiliki peran yang cukup strategis dalam

pemenuhan kebutuhan spiritual, karena keluarga memiliki ikatan

emosional yang kuat dan selalu berinteraksi dalam kehidupan

sehari-hari.

3. Ras/ suku

Ras/ suku memiliki keyakinan/ kepercayaan yang berbeda,

sehingga proses pemenuhan kebutuhan spiritual pun berbeda

sesuai dengan keyakinan yang dimiliki.

4. Agama yang dianut

Keyakinan terhadap agama tertentu yang dimiliki oleh

seseorang dapat menentukan arti kepentingan kebutuhan spiritual

5. Kegiatan keagamaan

Adanya kegiatan keagamaan dapat selalu mengingatkan

keberadaan dirinya dengan Tuhan dan selalu mendekatkan diri

kepada pencipta-Nya.
2.1.4 Kebutuhan Spiritual

Setiap manusia memiliki dimensi spiritual dan semua pasien

memiliki kebutuhan spiritual dan kebutuhan ini menonjol pada saat

keadaan stres emosional, sakit, atau bahkan menjelang kematian. Oleh

karena itu perawat harus sensitif akan kebutuhan spiritual pasien dan

berespon dengan tepat. Pemenuhan kebutuhan spiritual pasien dapat

meningkatkan perilaku koping dan memperluas sumber-sumber

kekuatan pada pasien (Kozier et al, 2004).

Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan

tujuan hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, adanya rasa

keterikatan, kebutuhan untuk memberi dan mendapat maaf (Hamid,

2008). Kebutuhan spiritual sebagai bagian penting dari kehidupan

manusia yang dapat membantu manusia untuk mengatasi kondisinya,

menemukan makna dan tujuan, serta harapan dalam hidup (Speck,

2005 dalam Sartori, 2010)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hodge et al (2011)

menemukan enam kebutuhan spiritual pasien yaitu :

1. Makna, tujuan dan harapan hidup

Kebutuhan untuk memahami peristiwa dalam kehidupan

secara keseluruhan. Pasien membutuhkan penjelasan tentang

penyakitnya, mengapa penyakit ada pada dirinya, dengan adanya

penjelasan diharapkan pasien tidak putus asa, berfikir positif,

mensyukuri berkat Tuhan, fokus pada hal-hal yang baik, membuat


hidup menjadi lebih berarti. Kebutuhan akan makna, tujuan, dan

harapan erat kaitannya dengan kebutuhan akan hubungan dengan

Tuhan.

2. Hubungan dengan Tuhan

Bagi pasien hubungan dengan Tuhan menjadi kebutuhan

yang sangat penting yang dapat membantu mereka menghadapi

masa-masa sulit, memberikan rasa yang utuh tentang makna dan

tujuan serta memberikan harapan untuk masa kini, masa depan,

dan masa akhirat. Perilaku yang ditunjukkan pasien adalah

memohon, komunikasi dengan Tuhan, menerima kehendak Tuhan,

menerima rencana Tuhan, percaya bahwa Tuhan yang

menyembuhkan penyakitnya, yakin akan kehadiran Tuhan pada

masa-masa perawatan penyakitnya dan pasien percaya Tuhan

yang memelihara dan mengawasi mereka.

3. Praktek spiritual

Pasien mempunyai keinginan untuk terlibat dalam kegiatan

ibadah secara rutin. Dengan kegiatan ibadah pasien berharap

dapat meningkatkan hubungan dengan Tuhan sehingga dapat

mengatasi segala cobaan yang mereka hadapi. Kegiatan yang

dilakukan oleh pasien adalah berdoa, membaca kitab suci,

pelayanan keagamaan, mendengar musik rohani dan membaca

buku yang bertema rohani.


4. Kewajiban agama

Hal ini berhubungan dengan tradisi agama pasien misalnya

adanya makanan yang halal dan tidak halal, kematian dan proses

penguburan yang harus dihormati.

5. Hubungan interpersonal

Selain hubungan dengan Tuhan, pasien juga membutuhkan

hubungan dengan orang lain, termasuk hubungan dengan kaum

ulama. Kebutuhan ini meliputi : mengunjungi anggota keluarga,

menerima doa orang lain, meminta maaf, menerima dukungan,

dihargai dan dicintai orang lain.

6. Hubungan dengan perawat dan tenaga kesehatan lainnya

Pasien berharap memiliki interaksi dengan perawat dan

tenaga kesehatan lainnya. Pasien membutuhkan para tenaga

kesehatan memiliki ekspresi wajah yang ramah, kata-kata dan

bahasa tubuh yang baik, menghormati, empati, peduli,

memberikan informasi tentang penyakitnya secara lengkap dan

akurat, dan mendiskusikan tentang pilihan pengobatan.

2.1.5 Tahap Perkembangan tingkat spiritual sesuai usia

Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu memenuhi

semua kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien.

Berbagai cara dilakukan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien

mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritual sampai dengan

memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan keyakinannya.


Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan

terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam

kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional,

intelektual, sosial, dan spiritual. Dimensi-dimensi tersebut berada

dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan

interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat

mengganggu dimensi lainnya (Carson, 2002).

Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa

perkembangan bayi. Hamid (2000) menjelaskan bahwa perkembangan

spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual

selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti

spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari

terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi. Oleh

karena itu, perawat dapat menjalin kerjasama dengan orang tua bayi

tersebut untuk membantu pembentukan nilai-nilai spiritual pada bayi.

Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa

kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun). Anak sudah mengalami

peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar

membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran

kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini

memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat

dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal

dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari


kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan

berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam

kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima

pengalaman - pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual

(Hamid, 2000).

Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun)

berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super

ego. Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma,

dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga.

Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi

membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma

keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah

mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual.

Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai

berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan

mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masih kesulitan

membedakan Tuhan dan orang tuanya (Hamid, 2000).

Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami

peningkatan kualitas kognitif pada anak. Anak usia sekolah (6-12

tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat

menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna

spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan

dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan
apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang

anak terhadap dimensi spiritual mereka (Hamid, 2000).

Remaja (12-18 tahun). Pada tahap ini individu sudah mengerti

akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya

untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang.

Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja

menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak

atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika

menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap

ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada

keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya

lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan

memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling

sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak

untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan

remaja (Hamid, 2000).

Dewasa muda (18-25 tahun). Pada tahap ini individu menjalani

proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas

spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka

yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem

kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian

utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup


walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa

(Hamid, 2000).

Dewasa pertengahan (25-38 tahun). Dewasa pertenghan

merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar

mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan

keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai.

Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang

sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual (Hamid,

2000).

Dewasa akhir (38-65 tahun). Periode perkembangan spiritual

pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali

dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan

dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan

pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat (Hamid, 2000).

Lanjut usia (65 tahun sampai kematian). Pada tahap

perkembangan ini, pada masa ini walaupun membayangkan kematian

mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang menarik, karena

mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi kebahagian

dan rasa berguna bagi orang lain. Riset membuktikan orang yang

agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan kehidupan

lebih baik. Bagi lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan

hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan

dan rasa takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia
tidak takut mati dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan.

Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas pada proses

bukan pada kematian itu sendiri (Hamid, 2000).

2.1.6 Peran perawat dalam pemenuhan spiritual pasien

Dahulu spiritual care belum dianggap sebagai suatu dimensi

Nursing Therapeutic, tetapi dengan munculnya Holistic Nursing maka

Spiritual care menjadi aspek yang harus diperhatikan dan pengkajian

kebutuhan spiritual pasien berkembang dan dikenal sebagai aktivitas-

aktivitas legitimasi dalam domain keperawatan (O′Brien, 1999).

Perawat merupakan orang yang selalu hadir ketika seseorang sakit,

kelahiran, dan kematian. Pada peristiwa kehidupan tersebut kebutuhan

spiritual sering menonjol, dalam hal ini perawat berperan untuk

memberikan spiritual care (Cavendish, 2003).

Balldacchino (2006) menyimpulkan bahwa perawat berperan

dalam proses keperawatan yaitu melakukan pengkajian, merumuskan

diagnosa keperawatan, menyusun rencana dan implementasi

keperawatan serta melakukan evaluasi kebutuhan spiritual pasien,

perawat juga berperan dalam komunikasi dengan pasien, tim

kesehatan lainnya dan organisasi klinis/pendidikan, serta menjaga

masalah etik dalam keperawatan. Peran perawat dalam proses

keperawatan terkait dengan spiritual caredijelaskan sebagai berikut :


2.2 Konsep Telenursing

2.2.1 Definisi Telenursing

Telenursing adalah pemberian pelayanan dan perawatan yang di

lakukan oleh perawat dengan menggunakan telekomunikasi, sehingga

dapat meningkatkan akses untuk pelaksanaan tindakan keperawatan

kepada pasien pada lokasi yang jauh atau terpencil. Telenursing

adalah model pelayanan keperawatan dengan menggunakan teknologi

informasi dalam memberikan pelayanannya dalam bagian pelayanan

kesehatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan

pasien, atau antara beberapa perawat. Model ini merupakan bagian

dari telehealth dan beberapa bagian terkait dengan aplikasi bidang

medis dan non medis seperti telediagnosa, telekonsultasi dan

telemonitoring (Viana, 2016)

Untuk mengirimkan data, suara ataupun sinyal video komunikas

dalam model ini menggunakan channel elektromagnetik seperti wire,

radio, optical. Metode ini dapat juga di definisikan sebagai

komunikasi jarak jauh yang dilakukan antara manusia dengan media

komputer yang menggunakan transmisi elektrik atau optik untuk

memberikan informasi dan pelayanan keperawatan (Viana, 2016)

2.2.2 Prinsip-Prinsip Telenursing

Prinsip dalam penggunaan telenursing adalah bahwa perawat

tidak merubah sifat dasar dari praktek pemberian asuhan keperawatan

kepada pasien, tetap dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan,


perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi tindakan serta tetap melakukan

pendokumentasian asuhan keperawatan. Selain itu perawat juga tetap

terlibat dalam pemberian informasi, pendidikan, arahan dan dukungan

secara pribadi dalam telenursing. Hubungan tersebut dapat tercipta

melalui penggunaan baik itu telepon, internet ataupun alat komunikasi

lainnya (Viana, 2016)

2.2.3 Manfaat Telenursing

Menurut Britton et all (1999) dalam Viana (2016), telenursing

memiliki beberapa manfaat, yaitu sebaga berikut:

1. Dari sisi biaya kesehatan model ini efektif dan efisien, dimana

pasien dan keluarga dapat mengurangi atau tidak perlu

mendatangi pelayanan kesehatan secara langsung seperti Rumah

Sakit, dokter praktek, nursing home, dll.

2. Dapat meningkatkan cakupan dan juga jangkauan pelayanan

keperawatan yang di berikan kepada pasien tanpa batas geografis

meskipun dengan Sumber Daya yang minimal

3. Waktu tinggal ataupun kebutuhan yang diperlukan pasien pada

saat di Rumah Sakit dapat menurun

4. Dapat meningkatkan pelayanan keperawatan pada pasien-pasien

yang mengalami penyakit kronis seperti pengkajian dan

monitoring yang harus dilakukan berulang kali, tanpa

memerlukan biaya tambahan yang cukup besar


5. Selain menurunkan total biaya perawatan, dapat juga

meningkatkan akses untuk mendapatkan pelayanan keperawatan

dengan mudah tanpa banyak memerlukan sumber

Selain manfaat diatas, telenursing juga dapat dimanfaatkan dalam

bidang pendidikan keperawatan (model distance learning) dan

perkembangan riset keperawatan berbasis informatika kesehatan.

Telenursing dapat digunakan juga di kampus sebagai media

pembelajaran seperti video conference, pembelajaran online,

multimedia distance learning, dll.

2.2.4 Kelebihan dan Kekurangan Telenursing

1. Kelebihan Telenursing

Telenursing dapat diartikan sebagai pemakaian teknologi

informasi dibidang pelayanan keperawatan untuk memberikan

informasi dan pelayanan keperawatan jarak jauh, model pelayanan

ini memiliki kelebihan sebagai berikut:

a. Mengurangi waktu tunggu dan mengurangi kunjungan yang

tidak perlu

b. Mempersingkat hari rawat dan mengurangi biaya keperawatan

c. Membantu memenuhi kebutuhan kesehatan

d. Memudahkan akses petugas kesehatan yang berada didaerah

terisolasi
e. Berguna dalam kasus-kasus kronis atau kasus geriatrik yang

perlu perawatan di rumah dengan jarak yang jauh dari

pelayanana kesehatan

f. Mendorong tenaga kesehatan atau daerah-daerah yang kurang

mendapatkan pelayanan keperawatan untuk mengakses

penyedia layanan melalui mekanisme seperti konferensi video

dan internet (American Nurse Assosiation, 1999 dalam Viana,

2016)

g. Peningkatan jumlah cakupan pelayanan keperawatan dalam

jumlah yang lebih luas dan merata

h. Meningkatkan rasa aman (safety) perawat dan klien, karena

dengan diterapkannya telenursing semakin meningkatkan

kepuasan klien dan keluarga serta meningkatkan kepatuhan.

Telenursing telah menyediakan sarana bagi konsumen untuk

memanggil perawar agar agar mendapatkan sarana kesehatan.

Seorang perawat dengan pelatihan khusus dapat menawarkan

pendidikan dan dukungan, sehingga ini bermanfaat karena

klien mebutuhkan dukungan yang tidak mungkin didapatkan

dengan kontak langsung.

2. Kekurangan dan Hambatan Telenursing

Menurut Aamy Peck (2005) dalam Viana (2016) ada tiga

kategori dasar hambatan dalam telenursing, meliputi: perilaku,

legisatif, dan teknologi.


a. Hambatan perilaku, ada ketakutan bahwa perawat akan

mendelegasikan tugas ke mesin. Pada awalnya perawat akan

resisten terhadap telenursing akibat kurangnya penguasaan

terhadap teknologi informasi dan telekomunikasi. Namun

dengan adanya pelatihan dan support system, perawat bisa

merasakan manfaat telenursing untuk dirinya dan pasien.

b. Hambatan legislasi, telenursing muncul sebagai issue

kebijakan public secara mayor, belum adanya kepastian lisensi

tentang telenursing.

c. Hambatan teknologi, Elektonik Health Recrd (EHR) dan

standar data mendukung perkembangan telenursing. Tanpa

EHR telehealth tidak bisa bekerja. Ketersediaan system

penyimpanan data pasien kapanpun dan dimanapun provider

membutuhkan

Sedangkan kekurangan dari telenursing itu sendiri, yaitu:

a. Tidak adanya interaksi langsung antara perawat dengan klien

yang akan mengurangi kualitas pelayanan kesehatan.

Kekawatiran ini muncul karena anggapan bahwa kontak

langsung dengan pasien sangat penting terutama untuk

dukungan emosional dan sentuhan terapeutik

b. Kegagalan teknologi seperti gangguan koneksi internet atau

terputusnya hubungan komunikasi akibat gangguan cuaca dan


lain sebagainya sehingga mengganggu aktivitas pelayanan

yang sedang berjalan, selain itu juga meningkatkan resiko

terhadap keamanan dan kerahasisaan dokumen klien

2.4.5 Aplikasi Telenursing

Aplikasi telenursing dapat diterapkan di rumah, rumah sakit

melalui pusat telenursing dan melalui unit mobil. Telepon triase dan

home care berkembang sangat pesat dalam aplikasi telenursing. Di

dalam home care perawat menggunakan system memonitor parameter

fisiologi seperti tekanan darah, glukosa darah, respirasi dan berat

badan melalui internet. Melalui system interaktif video, pasien contact

on-call perawat setiap waktu untuk menyusun video konsultasi sesuai

dengan masalah, sebagai contoh bagaimana mengganti baju,

memberikan injeksi insulin atau diskusi tentang sesak nafas. Secara

khusus sangat membantu untuk anak kecil dan dewasa dengan

penyakit kronik dan kelemahan khususnya dengan penyakit

kardiopulmoner. Telenursing membantu pasien dan keluarga untuk

berpartisipasi aktif di dalam perawatan, khususnya dalam

management penyakit kronis. Hal ini juga mendorong perawat

menyiapkan informasi yang akurat dan memberikan dukungan secara

online. Kontinuitas perawatan dapat ditingkatkan dengan

menganjurkan sering kontak antara pemberi pelayanan kesehatan

maupun keperawatan dengan individu pasien dan keluarganya.

Telenursing dan home care


1. Di USA hampir 46% yang menggunakan kunjungan rumah

diganti menjadi telenursing

2. Di United Kingdom 15 % pasien home care melaporkan

memerlukan teknologi komunikasi.

3. Di USA merubah 50 % atau lebih dari kunjungan tradisional

menjadi telehome care visit, dan biaya dapat diturunkan 50 %

4. Studi di Eropa menyatakan lebih banyak pasien mengatakan

lebih menguntungkandengan servis telekomunikasiGambar

Gambar 2.1 Alur Telenursing

Di dalam pelaksanaan telenursing perlu menjaga privasi

pasien
Gambar 2.2 Tiga level keamanan untuk proteksi data pasien

2.2.6 Media Telenursing

1. Telepon (telepon seluler)

2. Personal Digital System (PDA)

3. Mesin faksimili (faks)

4. Internet

5. Video atau audio conferencing

6. Teleradiolog

7. Komputer sistem informasi

8. Teleborotic
2.2.7 Faktor – Faktor yang Harus Diperhatikan Dalam Telenursing

Menurut Viana (2016) untuk dapat di aplikasikan maka ada

beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, yaitu:

1. Faktor legalitas

Dapat didefinisikan sebagai otononi profesi keperawatan atau

institusi keperawatan yangmempunyai tanggung jawab dalam

pelaksanaan telenursing.

2. Faktor financial

Pelaksanaan telenursing membutuhkan biaya yang cukup

besar karena sarana dan prasarana sangat banyak. Perlu dukungan

dari pemerintah dan organisasi profesi dalam penyediaan aspek

financial dalam pelaksanaan telenursing

3. Faktor skill

Ada dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu pengetahuan

dan skill tentang telenursing. Perawat dan pasien perlu dilakukan

pelatihan tentang aplikasi telenursing. Terlaksananya telenursing

sangat tergantung dari aspek pengetahuan dan skill antara pasien

dan perawat. Pengetahuan tentang telenursing harus didasari oleh

pengetahuan tehnologi informasi.

4. Faktor motivasi

Motivasi perawat dan pasien menjadi prioritas utama dalam

pelaksanaan telenursing. Tanpa ada motivasi dari perawat dan

pasien, telenursing tidak akan bisa berjalan denganbaik.


Pelaksanaan telenursing di Indonesia masih belum berjalan

dengan baik disebabkan oleh karena keterbatasan sumberdaya

manusia, keterbatasan sarana dan prasarana serta kurangnya

dukungan pelaksanaan telenursing dari pemerintah. Untuk mensiasati

keterbatasan pelaksanaan telenursing bisa dimulai dengan peralatan

yang sederhana seperti pesawat telepon yang sudah banyak dimiliki

oleh masyarakat tetapi masih belum banyak dimanfaatkan untuk

kepentingan pelayanan kesehatan atau pelayanan keperawatan.

Telenursing menggunakan telepon ini dapat diaplikasikan di unit

gawat darurat dan home care (Viana, 2016)

2.2.8 Riset Telenursing

1. Penelitian dari Susan Kay Bohnenkamp, RN, MS, CCM dengan

judul Traditional Versus Telenursing Outpatient Management of

Patients With Cancer WithNew Ostomi.

Hasil:

Telenursing meningkatkan kepuasan pada pasien. Pasien percaya

bahwa telenursing membuat perawatan lebih accessible, dia suka

dengan telemedicine dari pada face to face, tetapi menganggap

face to face adalah yang terbaik.

2. Penelitian dari Anthony F. Jerant, MD dengan judul A

Randomized Trial of Telenursingto Reduce Hospitalization for


Heart Failure: Patient-Centered Outcomes and NursingIndicators.

Hasil:

Penelitian ini membandingkan 3 perawatan modalitas untuk

menurunkan menurunkan kekambuhan CHF selama 180 hari

follow up. Subyek menerima kunjungan dasar selama 60 hari dan

mendapat satu dari 3 terapi modalitas : (a) video-based

hometelecare; (b) telephone calls; and (c) usual care .

Kekambuhan pada CHF menurun lebih dari 80% dengan

telenursing dibandingan dengan perawatan biasa. Dari penelitian

ini juga menurunkan kunjungan emergensi pada CHF. Pada

perawatan diri kedua group tidak ada perbedaan secara signifikan

tentang kepatuhan, pengobatan, status kesehatandan kepuasan.

Telenursing dapat menurunkan hospitalisasi pada CHF dan

meningkatkan frekuensi komunikasi dengan pasien.

3. Penelitian dari Hartford Kanthleen dengan judul Telenursing and

patient’s Recovery from Bypass

Hasil:

Aplikasi teknologi telekomunikasi dalam memberikan pelayanan

keperawatan membuat pasien mampu untuk belajar bagaimana

merawat dirinya sendiri, dan ini juga membantu perawat untuk

melakukan pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan secara

efektif. Selain itu juga memperpendek lama perawatan


2.3 Konsep Mekanisme Koping

2.3.1 Definisi Mekanisme Koping

Mekanisme koping adalah setiap upaya yang arahkan pada

pelaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung

dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri

(Susilo, 2009 dalam Setyaningsih, 2012).

Mekanisme koping adalah mekanisme yang digunakan individu

untuk menghadapi perubahan yang diterima. Apabila mekanisme

koping berhasil, maka individu tersebut dapat beradaptasi terhadap

perubahan tersebut. Mekanisme koping dapat dipelajari sejak awal

timbulnya stressor dan individu menyadari dampak dari stressor

tersebut. Kemampuan koping dari individu tergantung dari

temperamen, persepsi, dan kognisi serta latar belakang budaya atau

norma dimana dia dibesarkan (Nursalam, 2009 dalam Setyaningsih,

2012).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa mekanisme

koping adalah reaksi individu ketika menghadapi suatu tekanan atau

stress dan bagaimana individu tersebut menanggulangi stress yang

dihadapi.

2.3.2 Tipe-Tipe Mekanisme Koping

Mekanisme koping dibagi menjadi dua macam (Stuart & Sudeen,

2013) yaitu:
1. Perilaku berorientasi pada tugas

Perilaku berorientasi pada tugas mencakup penggunaan

kemampuan kognitif untuk mengurangi stress, memecahkan

masalah, menyelesaikan konflik dan memenuhi kebutuhan.

Perilaku berorientasi pada tugas memberdayakan seseorang untuk

secara realistic menghadapi tuntutan stressor. Tiga tipe umum

perilaku berorientasi pada tugas, yaitu:

a. Perilaku menyerang

Perilaku menyerang merupakan cara seseorang untuk

mencoba menghilangkan atau mengatasi hambatan dalam

rangka memenuhi kebutuhan. Banyak cara dapat dilakukan

untuk menyerang masalahdan reaksi ini bersifat destruktif atau

konstruktif. Pola destruktif biasanya disertai dengan perasaan

kemarahan dan permusuhan yang sangat besar. Perasaan ini

dapat dinyatakan dengan perilaku negatif atau agresif yang

melanggar hak-hak, milik dan kesejahteraan orang lain. Pola

konstruktif mencerminkan pendekatan masalah. Mereka secara

nyata berperilaku asertif yang menghormati hak-hak orang lain.

b. Perilaku menarik diri

Perilaku menarik diri dapat dinyatakan secara fisik atau

psikologis. Secara fisik, menarik diri melibatkan penghindaran

diri dari sumber ancaman. Reaksi ini dapat berlaku untuk

stressor biologis, seperti kamar penuh asap rokok, paparan


radiasi atau kontak dengan penyakit menular. Seseorang dapat

menarik diri secara psikologis, seperti dengan mengakui

kekalahan, menjadi apatis atau menurunnya aspirasi dan

partisipasi, dapat pula seperti reaksi menyerang, reaksi

penghindaran yang bersifat konstruktif atau destruktif.

c. Kompromi

Kompromi melibatkan perubahan cara berfikir seseorang

yang biasa tentang hal-hal tertentu, mengganti tujuan atau

mengorbankan aspek kebutuhan pribadi.

2. Mekanisme ego

Mekanisme pertahanan ego adalah reaksi individu untuk

memperlunak kegagalan, menghilangkan kecemasan, mengurangi

perasaan yang menyakitkan karena pengalaman yang tidak enak

dan juga untuk mempertahankan perasaan layak serta harga diri

(Maramis, 2007 dalam Nofiana, 2017). Ada banyak mekanisme

pertahanan ego, seperti berikut ini:

a. Kompensasi adalah proses dimana seseorang menggunakan

kelemahan yang dirasakan dengan penekanan yang kuat atas

diri yang dianggap lebih menyenangkan

b. Pengingkaran adalah menghindari realitas yang tidak

menyenangkan dengan mengabaikan atau menolak untuk

mengikutinya. Ini merupakan mekanisme yang paling


sederhana dan paling primitif dari semua mekanisme

pertahanan ego.

c. Pengalihan adalah pengalihan emosi yang seharusnya

diarahkan kepada objek atau orang tertentu ke objek atau

orang yang kurang berbahaya

d. Disosiasi adalah pemisahan dari proses kelompok jiwa atau

perilaku dari sisa kesadaran atau identitas orang tersebut

e. Identifikasi adalah proses dimana orang-orang mencoba

untuk menjadi seperti seseorang yang mereka kagumi dengan

mengambil pikiran, tingkah laku atau selera orang itu

f. Intelektualitas adalag penalaran yang berlebihan atau logika

yang digunakan untuk menghindari pengalaman peran yang

menggangu

g. Introyeksi adalah mengidentifikasi dengan kuat dimana

seseorang menggabungkan kualitas atau nilai-nilai orang lain

atau kelompok lain kedalam struktur egonya sendiri. ini

adalah salah satu mekanisme paling dini pada anak sehingga

penting dalam pembentukan hati nurani

h. Isolasi adalah memisahkan komponen emosional dari pikiran,

yang mungkin bersifat sementara atau jangka panjang

i. Proyeksi adalah menghubungkan pikiran atau impuls deorang

lain. Melalui proses ini seseorang dapat menghubungkan


keinginan tak tertahankan, perasaan emosional atau motivasi

kepada orang lain

j. Reaks formasi adalah pengembangan pola sikap dan perilaku

yang berlawanan dengan apa yang benar-benar dirasakan atau

ingin dlakukan

k. Rasionalisasi adalah menawarkan penjelasan yang dapat

diterima secara sosial atau tampaknya logis untuk

membenarkan atau memnuatnya adapat diterima walaupun

impuls, perasaan, perilaku dan motif tidak dapat diterima

l. Regresi adalah kemunduran karakteristik perilaku pada

tingkat perkembangan awal

m. Represi adalah penekanan secara tidak sadar hal-hal yang

menyakitkan atau konflik pikiran, impuls atau memori dan

kesadaran. Mekanisme pertahanan ini adalah pertahanan ego

utama dan mekanisme lainnya cenderung memperkuatnya

n. Sublimasi adalah penerimaan tujuan penganti yang disetujui

secara sosial untuk dorongan penyaluran ekspresi normal

yang dihambat

o. Supresi adalah suatu proses yang hampir sama dengan represi

yang disadari. Hal ini merupakan penekanan yang disengaja

terhadap hal-hal yang disadari. Kadang-kadang, hal itu dapat

menyebabkan represi
p. Undoing adalah tindakan atau komunikasi yang sebagian

meniadakan kejadian sebelumnya, mekanisme pertahanan

primitif.

2.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mekanisme Koping

Menurut Nazila (2004) dalam Ismawati (2009) dan Setyaningsih

(2012), mekanisme koping dipengaruhi oleh:

3. Faktor internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri

meliputi umur, kepribadan, intelegensi, pendidikan, nilai

kepercayaan, budaya, emosi, dan kognitif.

4. Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri

meliputi dukungan sosial, lingkungan, keadaan keuangan dan

penyakit.

2.3.4 Karakteristik Mekanisme Koping

Menurut Stuart dan Sudeen (2000) dalam Nofiana (2017), rentang

respon mekanisme koping dapat digambarkan sebagai berikut:

Adaptif Maladaptif

Jadi karakteristik mekanisme koping adalah sbb:

1. Adaptif

Menurut Friedman dalam Capernito (2000) Nofianti (2017),

adaptif jika memenuhi kriteria sebagai berikut:


a. Dapat menceritakan secara verbal perasaannya

b. Mengembangkan tujuan realitas

c. Dapat mengidentifikasi sumber koping

d. Dapat menimbulkan mekanisme koping yang efektif

e. Mengidentifikasi alternatif strategi

f. Memilih strategi yang tepat

g. Menerima dukungan

2. Maladaptif jika memenuhi kriteria:

a. Merasa tidak mampu menyelesaikan masalah secara efektif

b. Perasaan lemas, takut, marah, iritable, tegang, gangguan

fisiologis adanya stress kehidupan

c. Tidak mampu memnuhi kebutuhan dasar

2.3.5 Fungsi Mekanisme Koping

Fungsi mekanisme koping adalah untuk mempertahankan atau

memulihkan keseimbangan antara tuntutan-tuntutan dengan sumber-

sumber yang tersedia (Setyaningsih, 2012):