Anda di halaman 1dari 56

ACARA I.

TEKNIK PENGAMBILAN CONTOH TANAH DAN SAMPEL


TANAMAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rekomendasi pemupukan adalah suatu rancangan yang meliputi jenis dan
takaran pupuk untuk tanaman pada areal tertentu. Menurut Abdulrahman,
Suhartatik, Kasno dan Setyorini (2008) banyak manfaat dan dampak
penerapan pemupukan spesifik lokasi antara lain, pemberian pupuk yang tepat
takaran, tepat waktu dan jenis pupuk yang diperlukan sesuai maka pemupukan
akan lebih efisien, hasil tinggi dan pendapatan petani meningkat, pencemaran
lingkungan dapat dihindari, kesuburan tanah tetap terjaga dan produksi
tanaman lestari atau berkelanjutan, dan mengurangi biaya pembelian pupuk.
Dasar dalam menentukan kebutuhan pupuk adalah analisis kandungan hara
dalam tanah dan analisis kandungan hara dalam tanaman. Dari hasil kedua
analisis tersebut barulah kita dapat merekomendasikan pupuk dengan harapan
nantinya tanaman akan berproduksi maksimal.
Teknik pengambilan contoh tanah sangat menentukan ketelitian dan
ketepatan survei tanah, setiap kegiatan dalam mempelajari tanah dimulai di
lapang, dan hasil studi di laboratorium dan rumah kaca yang pada akhirnya
dikembalikan ke keadaan di lapang. Oleh karena itu pengambilan contoh tanah
merupakan bagian penting dari suatu proses pekerjaan yang dimulai dengan
mengumpulkan contoh yang diakhiri dengan interprestasi hasil analisa di
laboratorium baik untuk bidang pekerjaan klasifikasi dan pemetaan, bidang
kimia dan kesuburan maupun bidang fisika dan konservasi tanah.
Sering terjadi hasil yang diperoleh menjadi kurang bermanfaat karena
jeleknya teknik pengambilan contoh baik karena faktor kemalasan ataupun
karena kurang nya pengetahuan sepengambil contoh tanah, dalam hal ini perlu
diingaktakn kembali bahwa hasil analisis yang diperoleh dari laboratorium
sangat ditentukan oleh teknik pengambilan contoh, dan tidak akan lebih baik
dari contoh yang diambil tersebut, penelitian satuan peta, pengklasifikasian
dan penarikan batas-batas satuan peta biasanya didasarkan atas hasil
pengamatan lapang dan hasil analisis contoh tanah di laboratorium.

1
Dalam pengambilan sampel daun tanaman umur daun sangat penting
diperhatikan, karena perubahan fungsi daun sebagai sink dan source. Daun –
daun muda berfungsi sebagai sink, sehingga harus mengimpor hara – hara
mineral dan fotosintat dari organ lain, yang berfungsi sebagai source untuk
pertumbuhan dan perkembangan dalam jumlah yang banyak. Sebaliknya daun
– daun dewasa berfungsi sebagai source, sehingga dapat memenuhi kebutuhan
sendiri dan mengekspor hara – hara mineral dan fotosintat ke organ – organ
lain yang membutuhkan (sink).
B. Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui cara pengambilan contoh tanah dan
tanaman yang digunakan sebagai sampel untuk dianalisis di laboratorium.

2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanah Alluvial

Tanah alluvial atau tanah endapan, banyak terdapat di dataran rendah, di


sekitar muara sungai, rawa-rawa, lembah-lembah, maupun kanan-kiri aliran
sungai besar. Profilnya biasanya belum jelas. Pada umumnya banyak
mengandung pasir dan liat. Tidak banyak mengandung zat-zat unsur hara.
Kesuburannya sedang hingga tinggi. Diseluruh Indonesia tanah-tanah ini
merupakan tanah pertanian yang baik dan dimanfaatkan untuk tanaman pangan
musiman hingga tahunan (Rismunandar, 1993).

Tanah alluvial terdiri dari endapan-endapan tebaru atau baru dari bahan
alluvial yang disebabkan karena masih mudanya belum menunjukkan adanya
perubahan-perubahan atau belum mengalami perkembangan profil (Druif,
1969).

Tanah endapan Aluvial atau Coluvial mudah atau agak mudah dengan atau
tanpa perkembangan profil lemah. Sifat tanah Aluvial sangat beragam
tergantung sifat bahan asal yang diendapkan. Penyebarannya tidak dipengaruhi
ketinggian maupun iklim (Hardjowigeno, 1993).

Tanah Aluvial berkembang pada Aluvium dengan permulaan yang baru


mempunyai profil yang berkembang sangat lemah. Pada kebanyakan tanah
Aluvial perubahan warna dari horizon A ke C sulit dilihat atau tidak ada.
Sebagian besar tanah ini adalah tanah kebanyakan sifatnya diturunkan,
darimana bahan-bahan yang diangkut dan diendapkan. Teksturnya berkaitan
dengan laju air mendepositkan Aluvium. Oleh karenanya, tanah ini cenderung
bertekstur kasar, dekat aliran air dan bertekstur lebih halus di dekat pinggiran
luar paparan banjir. Secara mineralogi, tanah-tanah ini berkaitan dengan tanah
yang bertindak sebagai sumber untuk Aluvium. Endapan-endapan aluvial baik
yang diendapkan oleh sungai maupun diendapkan oleh laut, pada umumnya
mempunyai susunan mineral seperti daerah diatasnya darimana bahan-bahan
bersangkutan diangkut dan diendapkan (Foth, 1994).

3
Tanah alluvial hanya meliputi lahan yang sering atau baru saja mengalami
banjir atau endapan marine akibat adanya pasang surut air laut, sehingga dapat
dianggap masih muda dan belum ada perbedaan horizon. Endapan alluvial
yang sudah tua dan menampakkan akibat pengaruh iklim dan vegetasi tidak
termasuk Inceptisol, mungkin lebih berkembang. Suatu hal yang mencirikan
pada pembentukan Aluvial ialah bahwa sebagian terbesar bahan kasar akan
diendapkan tidak jauh dari sumbernya. Tekstur bahan yang diendapkan pada
waktu tempat yang sama akan lebih seragam, makin jauh dari sumbernya
makin halus butir yang diangkut. (Darmawijaya, 1990).

B. Teknik Pengambilan Contoh Tanah


Pengambilan contoh tanah merupakan tahapan terpenting di dalam
program uji tanah. Analisis kimia dari contoh tanah yang diambil diperlukan
untuk mengukur kadar hara, menetapkan status hara tanah dan dapat
digunakan sebagai petunjuk penggunaan pupuk dan kapur secara efisien,
rasional dan menguntungkan. Namun, hasil uji tanah tidak berarti apabila
contoh tanah yang diambil tidak mewakili areal yang dimintakan
rekomendasinya dan tidak dengan cara benar. Oleh karena itu pengambilan
Contoh tanah merupakan tahapan terpenting di dalam program uji tanah.
Contoh tanah dapat diambil setiap saat, tidak perlu menunggu saat
sebelum tanam namun tidak boleh dilakukan beberapa hari setelah
pemupukan. Keadaan tanah saat pengambilan contoh tanah pada lahan kering
sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (kelembaban tanah sedang yaitu
keadaan tanah kira-kira cukup untuk pengolahan tanah). Sedang pengambilan
pada lahan sawah sebaiknya diambil pada kondisi basah.
Secara umum, contoh diambil sekali dalam 4 tahun untuk sistem
pertanaman dilpangan. Untuk tanah yang digunakan secara intensif, contoh
tanah diambil paling sedikit sekali dalam 1 tahun. Pada tanah-tanah dengan
nilai uji tanah tinggi, contoh tanah disarankan diambil setiap 5 tahun sekali.
Contoh tanah merupakan sejumlah kecil tanah (biasanya 1 sampai 2 kg)
yang diharapkan merupakan wakil dari sebidang tanah sehingga dapat
memberikan gambaran tentang berbagai sifat dari komposisinya. Contoh tanah
dapat diambil dan digunakan untuk berbagai keperluan, dan dapat dipelajari
dengan berbagai cara termasuk sifat-sifat fisik, kimia, mineralogi, dan sifat-

4
sifat tanah lainnya. Dalam survei tanah, keperluan utama pengambilan contoh
tanah adalah untuk memberikan kemungkinan-kemungkinan pengertian yang
terbaik tentang tanah yang dapat mendukung terhadap pekerjaan klasifikasi,
pemetaan dan interprestasi, didalam pekerjaan survei tanah, pakar tanah
diharapkan dapat memikirkan dan merencanakan sebaik mungkin bentuk dan
jenis analisis tanah yang diperlukan yang dapat membantu dalam pekerjaan
klasifikasi dan pemetaan.
Ditinjau dari jenis pekerjaan laboratorium yang akan dilakukan, contoh
tanah yang dikumpulkan pada dasarnya dapat digolongkan kedalam tiga
kelompok, yaitu :
- Untuk mencirikan (characterization) jenis tanah
- Pengujian untuk menjawab pertanyaan atau permasalahan khusus
- Dan penelitian khusus tentang genesis prilaku (behavior) atau
hubungan-hubungan diantara berbagai tanah,

Sering terjadi hasil analisis yang diperuntukan bagi salah satu keperluan di
atas, dapat juga digunakan untuk keperluan lainnya. Akan tetapi perlu diingat,
bahwa teknik pengambilan contoh tanah untuk setiap penggunaan di atas
mempunyai persyaratan yang berbeda dalam jenis analisis, jumlah (number)
dan ukuran (size) dari contoh yang diperlukan.

C. Pengambilan Contoh Tanah Untuk Penelitian


Rancangan pengambilan contoh (sampling design) dari areal. Terdiri dari 2
unsur :
1. Populasi yang akan diambil contohnya, pada areal yang akan diteliti
2. Satuan pengambilan contoh (sampling units), bagian yang dipilih sebagai
wakil dari arealpendugaan
Satuan pengambilan contoh dapat berupa suatu areal kecil atau jalur atau
berupa titik (points). Ada 6 contoh rancangan/metode pengambilan contoh
(Smith dan Atkinson, 1975):
1. Simple random sampling
Dilakukan secara random dari populasi unit. Memilih titik dengan
menggunakan sistem koordinat secara random

2. Systematic sampling (secara sistematik)


Membagi populasi ke dalam unit sampling yang mempunyai luasan dan
bentuk yang sama.
3. Stratified random sampling (secara acara dalam stratifikasi)

5
Membagi populasi ke dalam sub populasi yang lebih homogen. Simple
random
sampling diambil dari tiap sub populasi. Keuntungan cara ini :
a. Masing-masing bagian dari sub populasi diamati akan terwakili.
b. Dapat menyempurnakan pendugaan populasi asalkan variabel yang
digunakan berhubungan dengan topik penelitian.
4. Hierarchical Random Sampling (secara acak dalam hirarki)
Disebut pengambilan contoh bertahap ganda. Areal dibagi dalam bentuk
persegi empat yang teratur atau serupa sebanyak 50 kemudian diambil 10.
Titik pengamatan secara acak pada segiempat yang telah dipilih.
5. Random traverse (Secara jalur acak)
Lokasi garis jalur dilakukan secara acak melintang pada areal.
6. Systematic traverse (secara jalur sistematik)
Lokasi garis jalur ditentukan secara acak, sedangkan jalur-jalur lainnya
ditentukan dengan mengikuti arah jalur pertama secaraberaturan.

Jumlah contoh yang diambil merupakan pertimbangan penting


keterwakilan pupulasi.Ketepatan meningkat jika jumlah contoh diperbesar,
tetapi hubungi keduanya tidak linier, sehingga pengambilan contoh yang besar
tidak selamanya menambah ketepatan dibandingkan besarnya upaya berupa
dana dan daya yang digunakan

D. Tanaman Jeruk
Jeruk merupakan salah satu buah utama di Indonesia. Tanaman jeruk
merupakan jenis tanaman buah-buahan yang tidak berumpun dan dipanen
lebih dari satu kali. Spiegel-Roy dan Goldschmidt mengatakan bahwa China
dipercaya sebagai tempat pertama kali jeruk tumbuh. Tanaman jeruk yang
khas cocok untuk dikembangkan di daerah tropis dan sub tropis sehingga
mendorong usaha pengembangan tanaman ini dan juga areal tanamnya (AAK,
1994).
Menurut AAK (1994) klasifikasi botani tanaman jeruk adalah :
Divisi: Spermatophyta
Sub divisi: Angiospermae
Kelas: Dicotyledonae
Ordo: Rutales
Keluarga: Rutaceae
Genus: Citrus

6
Spesies: Citrus sp.
Jeruk dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0-400 mdpl. Keadaan
iklim yang baik bagi tanaman jeruk adalah pada kisaran suhu udara 25 °C - 30 °C
atau rata-rata 20 °C, curah hujan tidak lebih dari 100 mm/bulan atau 1200
mm/tahun, kelembaban udara 50 % - 85% dengan minimal 3 bulan kering. Jeruk
harus ditanam di tempat terbuka atau mendapat cukup sinar matahari, dan apabila
ditanam di dataran tinggi dapat menyebabkan kulit menjadi tebal dan rasa jeruk
menjadi pahit. Keadaan tanah yang baik untuk ditanami jeruk adalah tanah yang
gembur, memiliki kandungan bahan organik yang tinggi, memiliki aerasi dan
drainase yang baik, dengan nilai kemasaman (pH) 6-7.
Jeruk mempunyai pohon kecil, perdu atau semak besar, ketinggian 2-15 m,
dengan batang atau ranting berduri panjang tetapi tidak rapat. Daun hijau abadi
dengan tepi rata, tunggal, permukaan biasanya licin dan agak berminyak. Bunga
tunggal atau dalam kelompok, lima mahkota bunga (kadang-kadang empat)
berwarna putih atau kuning pucat, (stamen) banyak, seringkali sangat harum.
Buah bertipe "buah jeruk" (hesperidium), semacam buah buni, membulat atau
seperti tabung, ukuran bervariasi dengan diameter 2-30cm tergantung jenisnya;
kulit buah biasanya berdaging dengan minyak atsiri yang banyak. Hama yang
sering menyerang tanaman jeruk adalah kutu daun, ulat Pappilio memnon,
Philocnitis, sedangkan penyakit yang sering menyerang adalah embun tepung,
embun jelaga, virus keriting.

Banyak anggota jeruk yang dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan


pangan, wewangian, maupun industri. Buah jeruk adalah sumber vitamin C dan
wewangian/parfum penting. Daunnya juga digunakan sebagai rempah-rempah.
Buah dan daunnya dimanfaatkan orang sebagai penyedap atau komponen
kue/puding. Aroma yang khas berasal dari sejumlah flavonoid dan beberapa
terpenoid. "Daging buah" mengandung banyak asam sitrat (harafiah: "asam
jeruk") yang memberikan rasa masam yang tajam tetapi segar.
E. Teknik Pengambilan Contoh Tanaman
Analisis jaringan tanaman lebih praktis dilakukan untuk mengetahui status
hara pada tanaman, karena status hara pada jaringan tanaman juga merupakan
gambaran status hara dalam tanah. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa

7
konsentrasi suatu unsur hara di dalam tanaman merupakan hasil interaksi dari
semua faktor yang mempengaruhi penyerapan unsur tersebut dari dalam tanah
(Liferdi et al. 2008).). Jaringan tanaman yang biasa digunakan untuk analisis
hara adalah daun. Hal ini disebabkan karena daun merupakan bagian yang
paling aktif dari tanaman. Dari hasil analisis daun akan dapat diperoleh
petunjuk secara kuantitatif unsur hara yang diserap oleh tanaman baik yang
berasal dari tanah, air hujan dan pupuk yang ditambahkan. Hara yang ada pada
daun tidak hanya berperan dalam fotosintesis tetapi juga menggambarkan
status hara aktual dalam tanaman. Selain itu daun merupakan jaringan yang
selalu tersedia untuk di analisis. Menurut Leiwakabessy dan Sutandi (2004)
dalam Hermanto, dkk. 2011. , ada beberapa tujuan analisis jaringan daun
antara lain:
1. mendiagnosis atau memperkuat diagnosis gejala yang terlihat
2. mengidentifikasi gejala yang terselubung
3. mengetahui kekurangan hara sedini mungkin
4. sebagai alat bantu dalam menentukan rekomendasi pupuk.
Dalam pengambilan sampel daun tanaman umur daun sangat penting
diperhatikan, karena perubahan fungsi daun sebagai sink dan source. Daun –
daun muda berfungsi sebagai sink, sehingga harus mengimpor hara – hara
mineral dan fotosintat dari organ lain, yang berfungsi sebagai source untuk
pertumbuhan dan perkembangan dalam jumlah yang banyak. Sebaliknya daun
– daun dewasa berfungsi sebagai source, sehingga dapat memenuhi kebutuhan
sendiri dan mengekspor hara – hara mineral dan fotosintat ke organ – organ
lain yang membutuhkan (sink) (Liferdi et al. 2006 dalam Liferdi, 2009).
Kandungan hara didalam daun tanaman dipengaruhi oleh faktor – faktor
lingkungan, terutama iklim mikro dan faktor endogen tanaman (Goldschmedt
dan Golomb 1982 dalam Liferdi, 2009).

8
BAB III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Praktikum


Tempat pengambilan contoh tanah dan sampel daun jeruk dilaksanakan
pada tanggal 13 September 2019 di belakang Fakultas Pertanian Universitas
Tanjungpura Pontianak.
B. Alat dan Bahan
1. Parang
2. Cangkul
3. Bor mineral
4. Penggaris
5. Alat tulis
6. Kamera
7. Sampel tanah alluvial
8. Sampel daun jeruk
9. Nampan
10. Amplop
C. Prosedur Kerja
a. Pengambilan contoh tanah
1. Mentukan lokasi tempat yang rata untuk pengambilan sampel tanah.
2. Membersihkan lahan sekitaran tanah tanaman menggunakan parang dan
cangkul dari kotoram dan gulma.
3. Menyiapkan bor mineral tanah, cari lokasi yang sedikit rata dan tidak jauh
dari perakaran tanaman
4. Menancapkan bor tanah mineral dengan posisi tegak lurus. Kemudian
tekan dan putar searah jarum jam. Pengambilan pertama dengan
kedalaman 0-30 cm. Tarik bor dengan memutar berlawanan arah dari
sebelumnya.
5. Simpan sampel tanah pada tempat rata dan bersih. Banyak nya sampel
tanah yang diambil kurang lebih sebanyak 1-2 kg.
6. Kemudian pengambil sampel kedua untuk kedalaman 30-60 cm dengan
cara yang sama seperti sebelumnya.
7. Setelah itu simpan sampel tanah pada nampan sesuai kedalaman dan
diberi label.
8. Kemudian kompositkan tanah dan dikering anginkan.
9. Dokumentasikan setiap langkah pengerjaan
b. Pengambilan sampel tanaman
1. Menentukan pohon jeruk yang akan diambil daun nya sebagai sampel
tanaman.
2. Memilih daun yang sehat dan tidak terserang penyakit atau hama.

9
3. Mengambil sampel daun yang sudah dewasa pada cabang yang sudah
memiliki buah atau bakal buah.
4. Mengambil sampel daun minimal 25 lembar dan memiliki ukurang yang
hampir sama.
5. Sampel daun yang sudah di petik, dibersihkan dengan menggunakan
aquades dan dikeringkan menggunakan lap.
6. Kemudian masukan sampel tanaman kedalam amplop dan beri label.
7. Dokumentasikan setiap langkah pengerjaan.

10
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika
tiak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan
diteliti. Penelitian yang dilakukan atas keseluruhan elemen dinakaman sensus.
Idealnya, agar hasil penelitian lebih bisa dipercaya, seorang peneliti harus
melakukan sensus. Namun karena sesuatu hal peneliti tidak bisa meneliti
keseluruhan elemen tadi, maka yang bisa dilakukan adalah meneliti sebaguan
dari keseluruhan elemen atau unsur tadi. Syarat sampel yang baik adalah:
1. Akurasi atau ketetapan, yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan)
dalam sampel. Dengan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada
dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. Tolak ukur adanya bias atau
kekeliruan adalah populasi.
2. Presisi. Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi
estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita
dengan karakteristik populasi. Artinya makin kecil tingkat perbedaan di
antara rata-rata populasi dengan rata-rata sampel, maka makin tinggi tingat
presisi sampel tersebut.
B. Teknik Pengambilan Contoh Tanah Aluvial
Pengambilan contoh tanah merupakanbagian penting dari suatu proses
pekerjaan sebelum:
1. Analisis di lab
2. Interpretasi data (klasifikasi, pemetaan, kimia dan kesuburan, fisika dan
konservasi tanah)

Analisis kimia dari dari contoh tanah yang diambil diperlukan untuk
mengukur unsur hara, menetapkan status hara tanah dan dapat digunakan
sebagai petunjuk penggunaan pupuk dan kapur secara efeisen, rasional dan
menguntungkan. Namum, hasil uji tanah tidak berarti apabila contoh tanah
yang diambil tidak mewakili areal yang dimintankan rekomendasinya dan
tidak dengan cara benar. Hasil analisis yang didapat kurang bermanfaat dan
tidak sesuai dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah-satunya pada saat
teknik pengambilan sampel tanah di lapangan, baik berupa faktor dari dalam
diri sendiri yaitu faktor kemalasan dan kurangnya pengetahuan dalam teknik

11
pengambilan sampel tanah yang baik.

Pengambilan contoh tanah untuk kesuburandilakukan hanya pada lapisan


atas saja, yaitu pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm untuk mengetahui
konsentrasi terbanyak akar atau kedalaman pengolahan tanah dari sebagian
besar tanaman pertanian. Teknik pengambilan contoh tanah untuk jenis
analisis sifat kimia yaitu, tekstur, kimia dan biologi. Menggunakan
pengambilan contoh tanah terganggu. Contoh tanah, yang digunakan sejumlah
kecil tanah sebanyak 1-2 kg yang merupakan wakil dari sebidang tanah
sehingga dapat memberikan gambaran tentang berbagai sifat dan
komposisinya.

Sampel tanah dapat diambil setiap saat, tidak perlu menunggu saat
sebelum tanam naun tidak boleh dilakukan beberapa hari setelah pemupukan.
Keadaan tanah saat pengambilan sampel tanah pada lahan kering sebiknya
pada kondisi kapasitas lapang (kelembaban tanah sedang yaitu keadaan tanah
kira-kira cukup untuk pengolahan tanah). Sedang pada lahan sawah sebaiknya
diambil pada kondisi tanah basah.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan contoh tanah :

1. Jangan mengambil contoh tanah dari galengan, selokan, bibir teras, tanah
tererosi sekitar rumah da jalan, bekas pembakaran sampah/ sisa tanaman/
jerami, bekas penimbunan pupuk, kapur dan bahan organik, dan bekas
penggembalaan ternak.
2. Permukaan tanah yang akan diambil contohnya harus bersih dari rumput-
rumputan, sisa tanaman, bahan organik/ serasah, dan batu-batuan atau
kerikil.
3. Alat-alat yang digunakan bersih dari kotoran-kotorn dan tidak berkarat.
Kantong plasik yang digunakan sebaiknya masih baru, belum pernah
dipakai untuk keperluan lain.

C. Sampel Tanaman Jeruk


Sampel tanaman yang digunakan harus dapat mewakili kondisi pada
tanaman tersebut. Ketepatan pengambilan teknik sampel tanaman sangat
mempengaruhi hasil analisis yang akan dilakukan. Bagian tanaman yang baik

12
untuk menajdi sampel tanaman adalah merupakan perwakilan dari indeks
tanaman.
Indeks Tanaman adalah bagian tanaman yang dapat menjelaskan status
unsur hara dalam jaringan tanaman. Banyaknya sampel jaringan tanaman,
idealnya 10 – 15% populasi. Bila yang digunakan sebagai contoh adalah
daun, maka disebut “Indeks daun”.
Indeks daun pada tanaman jeruk adalah bagian daun dewasa pada cabang
dimana pada bagian ujungnya sudah terdapat putik atau buah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keseragaman contoh :
1. Umur tanaman
Pengambilan contoh tanaman untuk tujuan mengetahui status unsur hara
yang berkaitan dengan pertumbuan dan hasil, umumnya dilakukan pada
fase vegetative, sedangkan pengambilan contoh fase generatife (buah, biji,
umbi) biasanya ditujukan untuk mengetahui kualitas hasil. Fase
pertumbuha menjelang vegetatife maksimum merupakan saat tebaik dalam
pengambilan contoh, karena unsu hara yang berada dalam jaringan saat ini
dapat menunjukkan status unsur apakah tanaman kekurangan, kecukupan
atau kelebihan dalam mendukung pertumbuhan generative.
2. Umur bagian tanaman
Umur bagian tanaman juga menentukan variasi status unsur hara dalam
jaringan tanaman. Kadar unsur berbeda pda daun muda, dewasa atau tua.
Pada tanaman buah-buahan, umur fisiologi daun yang sama (misalnya
daun dewasa) pada cabang berbuah berbeda dengan cabang tidak berbuah.
Hal ini memerlukan indeks untuk ditetapkan sebagai standar.
3. Waktu/varietas tanaman contoh
Variasi waktu harian (pagi, siang, sore, malam) mempengaruhi aktivitas
metabolism tanaman. Karena dalam aktivitas ini melibatkan unsur hara,
maka status unsur hara tanaman dapat berubah-ubah untuk masing-masing
waktu. Pengambilan contoh tanamn sebaiknya dilakukan dalam kisaran
waktu yang tidak terlalu lama, sehingga analisis tidak menjadi bias.
4. Jumlah sampel daun pertanaman
Pada prinsipnya jumlah tanaman/pohon yang ditetapkan sebagai contoh
harus dapat mewakili populasi tanaman diarea observasi. Idealnya jumlah
contoh yang representative bekisaran antara 10-15% populasi.

13
ACARA II. PERSIAPAN CONTOH DI LABORATORIUM

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Rekomendasi pemupukan adalah suatu rancangan yang meliputi jenis dan


takaran pupuk untuk tanaman pada areal tertentu. Menurut Abdulrahman,
Suhartatik, Kasno dan Setyorini (2008) banyak manfaat dan dampak penerapan
pemupukan spesifik lokasi antara lain : (1) pemberian pupuk yang tepat takaran,
tepat waktu dan jenis pupuk yang diperlukan sesuai maka pemupukan akan lebih
efisien, hasil tinggi dan pendapatan petani meningkat, (2) pencemaran lingkungan
dapat dihindari, kesuburan tanah tetap terjaga dan produksi tanaman lestari atau
berkelanjutan, (3) mengurangi biaya pembelian pupuk.
Dasar dalam menentukan kebutuhan pupuk adalah analisis kandungan hara
dalam tanah dan analisis kandungan hara dalam tanaman. Dari hasil kedua analisis
tersebut barulah kita dapat merekomendasikan pupuk dengan harapan nantinya
tanaman akan berproduksi maksimal.
Tanah merupakan salah satu komponen lahan yang mempunyai
peranan penting terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi tanaman, karena
tanah selain berfungsi sebagai tempat/media tumbuh tanaman, menahan dan
menyediakan air bagi tanaman juga berperan dalam menyediakan unsur hara yang
diperlukan tanaman untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Pembentukan tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti, iklim, bahan
induk, topografi/relief, organisme dan waktu. Perbedaan pengaruh dari berbagai
faktor pembentuk tanah tersebut akan menghasilkan karakteristik tanah baik
karakteristik fisik, kimia maupun biologi yang pada akhirnya berpengaruh
terhadap kesuburan tanah bersangkutan. Untuk menentukan tingkat kesuburan
tanah pada suatu wilayah, maka perlu kiranya untuk dilakukan analisis tanah,
sehingga kita bisa menyesuaikan komoditas yang akan ditanam pada tanah
tersebut.
Analisis jaringan tanaman lebih praktis dilakukan untuk mengetahui status

14
hara pada tanaman, karena status hara pada jaringan tanaman juga merupakan
gambaran status hara dalam tanah. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa
konsentrasi suatu unsur hara di dalam tanaman merupakan hasil interaksi dari
semua faktor yang mempengaruhi penyerapan unsur tersebut dari dalam tanah
(Liferdi et al. 2008).). Jaringan tanaman yang biasa digunakan untuk analisis hara
adalah daun. Hal ini disebabkan karena daun merupakan bagian yang paling aktif
dari tanaman. Dari hasil analisis daun akan dapat diperoleh petunjuk secara
kuantitatif unsur hara yang diserap oleh tanaman baik yang berasal dari tanah, air
hujan dan pupuk yang ditambahkan. Hara yang ada pada daun tidak hanya
berperan dalam fotosintesis tetapi juga menggambarkan status hara aktual dalam
tanaman. Selain itu daun merupakan jaringan yang selalu tersedia untuk di
analisis. Menurut Leiwakabessy dan Sutandi (2004) dalam Hermanto, dkk. 2011. ,
ada beberapa tujuan analisis jaringan daun antara lain: (1) mendiagnosis atau
memperkuat diagnosis gejala yang terlihat, (2) mengidentifikasi gejala yang
terselubung, (3) mengetahui kekurangan hara sedini mungkin (4) sebagai alat
bantu dalam menentukan rekomendasi pupuk.
Dalam pengambilan sampel daun tanaman umur daun sangat penting
diperhatikan, karena perubahan fungsi daun sebagai sink dan source. Daun – daun
muda berfungsi sebagai sink, sehingga harus mengimpor hara – hara mineral dan
fotosintat dari organ lain, yang berfungsi sebagai source untuk pertumbuhan dan
perkembangan dalam jumlah yang banyak. Sebaliknya daun – daun dewasa
berfungsi sebagai source, sehingga dapat memenuhi kebutuhan sendiri dan
mengekspor hara – hara mineral dan fotosintat ke organ – organ lain yang
membutuhkan (sink) (Liferdi et al. 2006 dalam Liferdi, 2009).
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah cara analisis tanah dan tanaman
C. Tujuan dari praktikum ini adalah:
Untuk mengetahui cara analisis tanah dan jaringan tanaman jeruk

15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kadar Air
Kadar air tanah adalah konsentrasi air dalam tanah yang biasanya
dinyatakan dengan berat kering. Kadar air tanah dapat dinyatakan dalam persen
volume yaitu persentase volume air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai
keuntungan karena dapat memberikan gambaran tentang ketersediaan air bagi
tanaman pada volume tanah tertentu. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan
dengan sejumlah tanah basah dikering ovenkan dalam oven pada suhu 100 °C –
110 °C untuk waktu tertentu (Hakim, 1986).
Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang
terkandung dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-mula
menggantikan udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro.
Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada
tanah. Penentuan kandungan air dalam tanah dapat ditentukan dengan istilah nisbi,
seperti basah dan kering dan istilah jenuh atau tidak jenuh (Hakim, 1986).
Jumlah air yang ditahan oleh tanah dapat dinyatakan atas dasar berat atau isi. Air
tambahan berikutnya akan bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air
jenuh.Penggerakan air tidak hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal.
Tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan
daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat. Kondisi kelebihan air ataupun
kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Gaya gravitasi tidak
berpengaruh terhadap penggerakan horizontal (Hakim, 1986).

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Air Tanah


Kadar air dalam tanah tergantung pada banyaknya curah hujan, kemampuan tanah
menahan air, besarnya evapotranspirasi, kandungan bahan organik. Hal ini terkait
dengan pengaruh tekstur terhadap proporsi bahan koloidal, ruang pori dan luas
permukaan adsorptif, makin halus teksturnya akan makin banyak, sehingga makin
besar kapasitas menyimpan air (Hanafiah, 2014).

16
Faktor iklim dan tanaman juga menentukan kadar dan ketersediaan air
tanah. Faktor iklim yang berpengaruh meliputi: curah hujan, temperatur, dan
kecepatan angin. Faktor tanaman yang berpengaruh meliputi bentuk dan
kedalaman perakaran dalam tanah, toleransi terhadap kekeringan, serta tingkat
pertumbuhan. Iklim dalam hal ini cuaca dan penyebaran vegetasi juga
berpengaruh pada tingkat penyerapan air dalam tanah. Suhu dan perubahan udara
merupakan anomali cuaca yang berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan air
tanah dan dapat hilang melalui saluran evaporasi pada permukaan tanah
prinsipnya terkait dengan suplai evapotranpirasi (Hanafiah, 2014).
Selain sifat tanah, faktor tumbuhan dan iklim sangat mempengaruhi
jumlah air yang dapat diabsorsikan tumbuhan tanah, faktor-faktor tumbuhan
antara lain, bentuk perakaran, daya tahan terhadap kekeringan, tingkat dan stadia
pertumbuhan. Faktor iklim antara lain, temperatur, kelembaban dan kecepatan
angin. Diantara sifat-sifat tanah yang berpengaruh terhadap jumlah air tersedia
adalah daya hisap (matrik dan osmotik), kedalaman tanah dan pelapisan tanah.
Luas permukaan penyerapan juga lebih banyak sehingga semakin tinggi bahan
organik dalam tanah maka makin tinggi juga kadar dan ketersediaan air tanah.
Tanah di penjuru bumi ini memiliki karakteristik tanah yang berbeda sehingga
akan berpengaruh terhadap kandungan air tanah itu sendiri (Hakim, 1986).

C. Hubungan Kadar Air dengan Pertumbuhan Tanaman


Kadar air tanah merupakan salah satu bagian penyusun tanah. Air tanah hampir
seluruhnya berasal dari udara dan atau atmosfer terutama didaerah tropis air hujan
itu dapat mrembes ke dalam tanah yang disebut infiltrasi. Sedangkan sisanya
mengalir di permukaan tanah sebagai aliran permukaan tanah. Air infiltrasi tadi
bila dalam jumlah banyak dan terus merembes kedalam tanah secara vertikal dan
meninggalkan daerahnya perakaranya yang disebut perkolasi, yang akhirnya
sampai pada lapisan yang kedap air yang kemudian berkumpul disitu menjadi air
tanah atau sering disebut ground water (Hanafiah, 2014).
Banyaknya air yang tersedia bagi tanaman dicari dengan jalan penentuan
kandungan air pada tanaman lapang dikurangi dengan persentase keadaan tanah
padaa titik layu permanen. Dalam hal ini nilai-nilainya sangat ditentukan terutama

17
oleh tekstur tanah. Tekstur tanah yang lebih tinggi mempunyai tekstur yang halus,
sebaliknya tekstur yang rendah mempunyai tekstur yang kasar nilainya akan lebih
rendah lagi dibandingkan dengan hal yang tadi. Kapasitas kandungan air tanah
maksimum adalah jumlah air maksimal yang dapat ditampung oleh tanah setelah
hujan turun dengan sangat lebat atau besar. Semua pori-pori tanah baik makro
maupun mikro, dalam keadaan terisi oleh angin sehingga tanah menjadi jenuh
dengan air (Hanafiah, 2014).
Kekurangan air bagi tanaman menyebabkan proses aktivitas dan fisiologis
tanaman terhambat bahkan tidak akan berjalan, tanaman yang kekurangan air akan
menyebabkan tanaman layu dan akhirnya menyebabkan kematian. Jaringan-
jaringan tanaman tidak lagi berfungsi baik. Sedangkan kelebihan air pada tanaman
akan meyebabkan permukaan tanah tempat tanaman hidup akan lembab karena
kelebihan air, keadaan lembab tersebut memunculkan mikro organisme jamur
yang mengakibatkan tumbuhnya penyakit bagi tanaman (Sutanto 2005)

18
BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu Praktikum

1. Tempat pengambilan sampel daun jeruk dilaksanakan di belakang Fakultas


Pertanian Untan dan untuk analisi jaringan tanaman dilaksanakan di Lab Tanah
Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak.
2. Waktu Praktikum, Selasa 17 September 2019.

PENETAPAN KADAR AIR MUTLAK

B. Bahan dan Alat Praktikum

Bahan : Alat
a. Tanah a. Ayakan 0,05 dan ayakan 0,2
b. Daun b. Tumbukan mortal porselen
c. Kantong plastik bening
d. Blender
e. Spidol
Prosedur kerja :

1. Menghaluskan daun dan tanah


2. Untuk menghitung kadar air tanah, di perlukan tanah yang sudah halus
seberat 5,00 gr, tanah dari lulusan 2
3. Timbang
a. Berat cawan : 1,93 gr
Tanah kedalaman 30 = 5,01 gr
b. Berat cawan : 1,95 gr
Tanah kedalaman 30 = 5,00 gr

Berat setelah di oven :

0-30 = 6,84

30-60 = 6,75

KA =

KA = 0-30 =

19
= 2,40 %

KA =30-60 =

= 3,6 %

FK =

= 0-30 =

= 1,02 %

= 30-60 =

= 1,03 %

20
Cara kerja :

1. Tanah yang sudah di kering anginkan, di tumbuk menggunakan mortal sesuai


dengan kedalaman
2. Setelah halus, kemudian tanah di ayak masing-masing menggunakan saringan
0,05 dan 0,2. kemudian masukkan tanah
3. Beri label pada plastik menggunakan spidol.
4. Untuk daun, setelah kering di oven selama 3 jam dengan suhu 70º C. Di blender
hingga halus
5. Setelah halus, masukkan ke dalam plastik yang sudah diberi label.

21
EKSTRAK DAUN JERUK

Bahan : Alat :
a. Aquades a. Labu ukur
b. Hcl 1 N 10 ml b. Hot plat
c. Larutan molidat dan panadat 5 ml c. Gelas ukur
d. Tanur daun jeruk d. Corong
e. Kertas saring
f. Gelas beker
g. Tabung reaksi
h. Pipet 1 ml dan 5 ml

Cara kerja :

1. Bilas kertas saring di atas labu ukur dengan aquades


2. Buang air saringan
3. Tanur daun jeruk di basahi aquades
4. Tambahkan Hcl 1 N 10 ml kedalam tanur
5. Di panaskan keatas hotplat sampai ada gelembung terus di angkat dan di tuangkan ke
dalam labu ukur dengan kertas saring
6. Tanur di bilas dengan aquades
7. Tambahkan aquades ke labu ukur sampai 100 ml
8. Pipet HCL 1 molar masukkan ke tabung reaksi
9. Pipet 5 ml larutan campuran molidat dan panadat masukkan ke tabung reaksi
10. Pipet 4 ml aquades masukkan ke tabung reaksi

KADAR AIR DAUN

Alat dan Bahan :


a. Cawan poslen
b. Daun yang sudah di haluskan
c. Timbangan analitik
d. Sendok

Cara kerja :

1. Siapkan alat dan bahan


2. Timbang halusan daun sebanyak 2 gr
3. Masukkan kedalam cawan poslen
4. Beri label menggunakan pensil
5. Cawan di masukkan kedalam oven dengan suhu 70º dengan waktu 3 jam

Hasil :

22
e. Berat Cawan = 33,26

Sampel = 2 gr

f. Berat sampel = cawan setelah oven = 35,17

KA =

KA =

= 6,5 %

FK=

= 1,06

BAB IV PEMBAHASAN

Analisis tanah
Berdasarkan hasil analisis tanah, menunjukkan bahwa tanah yang ada di sekitar area
Fakultas Pertanian di dominasi oleh liat. Tanah yang didominasi oleh liat umumnya sulit

23
menyerap air, teksturnya cenderung lengket saat basah, dan membentuk gumpalan keras saat
kering, sehingga kurang cocok untuk dijadikan lahan pertanian. Jika akan dijadikan lahan
pertanian, maka sesuaikan jenis tanaman yang akan di tanam, seperti tanaman tahunan. Selain
itu, harus ada penambahan unsur hara dan bahan organik untuk memperbaiki kesuburan tanah
karena umumnya tanah yang bertekstur liat ini miskin unsur hara.
Analisis tanaman
Analisis total dilakukan pada keseluruhan tanaman atau pada bagian-bagian tanaman.
Teknik-teknik analisis yang tepat digunakan pengukuran berbagai unsur setelah material
tanaman dikeringkan, dihaluskan, dan diabukan. Spektrograf dapat menentukan beberapa
unsur secara simultan dan “Atomic Absorption” menjadi semakin penting. Dengan
menggunakan metode kuantitatif seperti itu dapat dideteksi perbedaan-perbedaan yang lebih
kecil dibandingkan dengan uji jaringan tanaman. Unsur hara yang telah diasimilasikan dan
yang belum diasimilasikan dapat dideteksi.
Ada beberapa informasi yang menyatakan bahwa pada beberapa jenis tanaman
tertentu ternyata hubungan antara kadar kalium pada daun di bagian bawah dengan kadar
kalium dalam daun di bagian atas merupakan indikasi defisiensi atau kecukupan. Kalau kadar
kalium pada daun bagian bawah lebih rendah dari kadar kalium pada daun di bagian atas
maka tanaman defisiensi kalium. Akan tetapi kalau kadar kalium daun di bagian bawah sama
atau lebih besar maka tanaman tidak defisiensi kalium.
Analisisis kadar air mutlak
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa kadar air pada setiap lapisan tanah berbeda-
beda, pada kedalaman 0-30 kadar airnya 2,40 %, kedalaman 30-60 kadar airnya 3,6 %. Hal ini
dipengaruhi oleh besar kecilnya pemberian air pada permukaan tanah, karena pada saat
pengambilan sampel tanah saat itu adalah musim kemarau jadi otomatis pemberian air pada
tanah terhenti sehingga menyebabkan air akan turun pada lapisan bawah itulah sebabnya pada
lapisan satu lebih sedikit kadar airnya dibanding lapisan dibawahnya. Hal ini sesuai dengan
pendapat Buckman and Brady (1982) yang menyatakan bahwa jika pemberian air pada
permukaan tanah dihentikan, air akan turun ke bawah lebih cepat.
Seperti yang kita ketahui berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa kedalaman 0-
30 memiliki kandungan air 2,40 % hal ini disebabkan karena kandungan bahan organiknya
sangat rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Hanafiah (2014) yang mengemukakan bahwa
kadar air tanah dipengaruhi oleh kadar bahan organik, makin tinggi kadar bahan organik tanah
akan makin tinggi kadar airnya.

24
Jika diperhatikan pada hasil diatas dari kedalaman 0-30 sampai pada kedalaman 30-
60, dapat dilihat bahwa semakin kebawah kandungan kadar airnya semakin banyak. Hal ini
sesuai dengan pendapat Hanafiah (2014) yang mengemukakan bahwa makin dalam kedalaman
solum tanah maka kadar air juga semakin tinggi.
Jika kita perhatikan pada kedalaman 0-30 yang lebih sedikit memiliki kandungan air
maka dapat disimpulkan bahwa tanah pada kedalaman 0-30 selain memiliki sedikit bahan
organik kedalaman 0-30 juga memiliki tekstur kasar dan berpori sedikit. Hal ini sesuai dengan
Hardjowigeno (1987), yang menyatakan bahwa tanah–tanah bertekstur kasar dan berpori sedikit
mempunyai daya menahan air lebih kecil dari pada tanah bertekstur halus.
Berdasarkan hasil diatas dapat kita ketahui bahwa tanah yang diamati memiliki kadar
air yang sangat rendah yang artinya tanah tersebut juga memiliki sedikit bahan organik. Jadi
dapat disimpulkan bahwa tanah yang diamati tidak cocok untuk pertumbuhan tanaman karena
dapat menghambat pertumbuhan tanaman tersebut akibat dari kurangnya kadar air dan bahan
organik. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutanto (2005) yang mengemukakan bahwa
kekurangan air bagi tanaman menyebabkan proses aktivitas dan fisiologis tanaman terhambat
bahkan tidak akan berjalan, tanaman yang kekurangan air akan menyebabkan tanaman layu
dan akhirnya menyebabkan kematian. Jaringan-jaringan tanaman tidak lagi berfungsi baik.
Analisis kadar air daun
Analisis kadar air dengan metode oven perlakuan berbeda-beda untuk berbagai jenis
sampel. Pada praktikum kali ini sampel adalah daun jeruk. Bahan di haluskan terlebih dahulu
agar tidak menimbulkan komposisi yang berlebihan. Setelah dihaluskan, bahan dimasukkan
ke cawan yang telah diketahui beratnya. Cawan yang digunakan adalah cawan porselein.
Cawan porselen digunakan karena beratnya yang relatif konstan setelah pemanasan berulang-
ulang dan harganya yang murah.Cawan yang sudah dimasuki sampel kemudian dikeringkan
di dalam oven selama 3 jam dengan suhu 70ºC sampai diperoleh berat konstan yaitu
selisihnya berat dari hasil pemanasan dengan berat awal adalah minimal 0,02 g. Jika selisih
berat sampel tidak sampai 0,02 g maka pemanasan diulangi lagi. Setelah keluar dari oven,
selalu cawan berisi sampel dimasukkan kedalam desikator (penangas air) karena di dalam
desikator terdapat zat penyerapair. Alasan setelah dilakukan pengovenan sampel dimasukkan
ke desikator adalah karena bahan yang telah mengalami pengeringan bersifat lebih
higroskopis dari pada bahan asalnya. Analisis kadar air dengan metode oven didasarkan atas
berat yang hilang. Pada praktikum ini kadar air adalah 6,5 % dan Fk sebesar 1,06 %. Menurut
pustaka,ketelitian analisis kadar air dengan metode pengeringan dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya suhu pengeringan,suhu dan kelembaban ruang pengeringan, kecepatan

25
pergerakan udara di dalamruang pengeringan, kondisi vakum, kedalaman dan ukuran partikel
sampel,konstruksi oven serta posisi sampel dalam oven

26
ACARA III. ANALISIS N TANAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Nitrogen merupakan sumber utama gas bebas di udara yang menempati 78%
dari volume atmosfer. Dalam bentuk unsur lain tidak dapat digunakan oleh tanaman.
Nitrogen gas harus diubah menjadi bentuk nitrat atau amonium melalui proses-proses
tertentu agar dapat digunakan oleh tanaman.
Diantara berbagai macam unsur hara yang dibutuhkan tanaman nitrogen
merupakan salah satu diantara unsur hara makro tersebut yang sangat besar
peranannya bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Nitrogen memberikan
pengaruh besar terhadap perkembangan pertumbuhan. Diantara tiga unsur yang biasa
mengandung pupuk buatan yaitu kalium, fosfat, dan nitrogen, rupanya nitrogen
mempunyai efek paling menonjol.
Sebagian besar nitrogen dalam tanah didapatkan dalam bentuk
organik. Secara relatif hanya sebagian kecil dari nitrogen tanah terdapat dalam bentuk
amonium dan nitrat yang merupakan bentuk nitrogen yang tersedia bagi tanaman.
Dalam penetapan N total dengan metode Kjehdahl, nitrogen diubah dalam bentuk
amonium, pada destruksi dengan asam sulfat pekat yang mengandung katalis dan zat-
zat kimia lainnya yang dapat meningkatkan suhu pada waktu-waktu
destruksi. Kemudian amonium ditetapkan dari jumlah amoniak yang dibebaskan pada
penyulingan destrat. Bentuk-bentuk nitrogen anorganik yang dapat ditemukan dalam
tanah adalah bentuk amonium, nitrat dan nitrit.
Atmosfer terdiri dari 79 % nitrogen ( berdasarkan volume ) sebagai gas padat
N2 yang tidak bereaksi dengan unsur-unsur lainnya yang menghasilkan suatu bentuk
nitrogen yang dapat digunakan oleh sebagian besar tanaman. Peningkatan penyediaan
nitrogen tanah untuk tanaman terdiri terutama dari meningkatnya jumlah pengikatan
nitrogen secara biologis atau penambahan nitrogen pupuk.
Nitrogen bila ditinjau dari segi keberadaannya merupakan yang paling banyak
mendapat perhatian. Hal ini disebabkan jumlah nitrogen yang terdapat di dalam tanah
sedikit sedangkan yang diangkat tanaman berupa panen setiap musim cukup banyak.
Disamping itu, senyawa nitrogen anorganik sangat larut dan mudah hilang dalam air
drainase atau alang ke atmosfer. Selanjutnya efek nitrogen terhadap pertumbuhan
akan jelas dan cepat. Dengan demikian dari banyak segi jelas bahwa unsur nitrogen
ini merupakan unsur yang berdaya besar yang tidak saja unsur yang harus diawetkan
juga harus dikendalikan pemakaiannya.
Penetapan N-total tanaman dan beberapa bahan kompleks yang mengandung
N sangat sulit. Bahan-bahan yang membantu perubahan N menjadi NH4 adalah
garam-garam, biasanya K2SO4 yang bertujuan untuk meningkatkan suhu. Selain itu
beberapa katalisator seperti selenium, air raksa atau tembaga digunakan untuk
merangsang dan mempercepat oksidasi bahan organik.
Nitrogen dalam tanah berasal dari bahan organik tanah, bahan organik halus,
N tinggi, C/N rendah, bahan organik kasar, N rendah C/N tinggi. Bahan organik
merupakan sumber bahan N yang utama di dalam tanah. Selain N, bahan organik
mengandung unsur lain terutama C, P, S dan unsur mikro. Pengikatan oleh
mikrorganisme dan N udara.

27
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu untuk mengetahui gambaran mengenai
tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman dan kesuburan dari tanah, maka
diperlukan adanya pengetahuan tentang senyawa nitrogen. Dengan itulah, penetapan
N-Total merupakan hal yang penting untuk mengetahui kandungan senyawa nitrogen
di dalam tanah.

B. Tujuan praktikum
Adapun tujuan daripraktikum ini adalah untuk mengetahui cara yang tepat
dalam penetapan N-Total tanah di laboratorium dan untuk mengetahui jumlah
nitrogen yang terkandung pada tanah yang telah di ambil.

28
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sumber nitrogen terbesar bagi tanaman berasal dari N atmosfer. Nitrogen organik
yang dibenamkan ke dalam tanah merupakan N organik tanah yang bentuk kimianya tidak
dapat diserap begitu saja oleh tanaman. Dalam bentuk NO3-, nitrogen mudah keluar dari
daerah perakaran. Ia mudah tercuci karena besar muatan listrik positif tanah biasanya sangat
kecil. Nitrogen dalam bentuk NO3- juga dapat tereduksi secara mikrobiologis menjadi NO,
N2O, atau N2 yang menguap.
Jumlah NH4+ dan NO3- di dalam tanah dapat bertambah akibat dari pemupukan N,
fiksasi N biologis, hujan, dan penambahan bahan organik. Sedangkan berkurangnya jumlah
NH4+ dan NO3- disebabkan oleh pencucian, pemanenan, denitrifikasi, dan juga votalisasi. Air
sangat berperan sekali dalam dinamika nitrogen tanah.
Penerapan jumlah protein dilakuakan dengan penentuan jumlah nitrogen yang
terkandung oleh suatu bahan N-total bahan diukur dengan menggunakan metode mikro-
Kjeldahl. Prinsip dari metode ini adalah oksidasi senyawa organik oleh asam sulfat untuk
membentuk CO2 dan dalam bentuk ammonia yaitu penentuan protein berdasarkan jumlah N.
Penentuan jumlah protein seharusnya hanya nitrogen yang berasal dari protein saja
yang ditentukan. Akan tetapi teknik ini sangat sulit sekali dilakukan mengingan kandungan
senyawa N lain selain protein dalam bahan juga terikut dalam analisis ini. Jumlah senyawa
ini biasanya sangat kecil yang meliputi urea, asam nukleat, ammonia, nitrat, nitrit, asam
amino, amida, purin dan pirimidin, oleh karena itu penentuan jumlah N total ini tetap
dilakukan untuk mewakili jumlah protein yang ada. Kadar protein yang ditentukan dengan
cara ini biasa disebut sebagai protein kasar atau crade protein. Analisa protein cara Kjeldahl
pada dasarnya dibagi menjadi tiga tahap yaitu proses destruksi, destilasi dan titrasi
(Sudarmadji, 1996)
Cara utama nitrogen masuk ke dalam tanah adalah akibat kegiatan jasad renik, baik
yang hidup bebas maupun yang bersimbiose dengan tanaman. Dalam hal yang terakhir
nitrogen yang diikat digunakan dalam sintesa amino dan protein oleh tanaman inang. Jika
tanaman atau jasad renik pengikat nitrogen bebas, maka bakteri pembusuk membebaskan
asam amino dari protein, bakteri amonifikasi membebaskan amonium dari grup amino, yang
kemudian dilarutkan dalam larutan tanah. Amonium diserap tanaman, atau diserap setelah
dikonversikan menjadi nitrat oleh bakteri nitrifikasi (Hakim, dkk., 1986).
Amonium dalam kadar yang tinggi dapat meracuni tanaman. Hal ini disebabkan oleh
adanya amoniak (NH3) yang terbentuk dari amonium. Bagi tanaman yang berwarna hijau
mengandung N protein terbanyak dan meliputi 70% - 80% dari total N tanaman. Nitrogen
asam nukleat terdapat sekitar 10% dan asam amino terlarut hanya sebanyak 5% dari total
dalam tanaman. Pada biji tanaman, protein umumnya dalam bentuk tersimpan (Rosmarkam
& Yuwono, 2002).
Adapun nilai dan kriteria N di dalam tanah yang berdasarkan Standar Internasional
(SI) dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Nilai dan Kriteria N dalam Tanah yang Berdasarkan Standar Internasional (SI)

29
Nilai N-Total Kriteria N-Total
< 0,1 Sangat rendah
0,1 – 0,21 Rendah
0,22 – 0,51 Sedang
0,52 – 0,75 Tinggi
> 0,75 Sangat tinggi
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan N adalah kegiatan jasad renik, baik
yang hidup bebas maupun yang bersimbiose dengan tanaman. Pertambahan lain dari nitrogen
tanah adalah akibat loncatan suatu listrik di udara. Nitrogen dapat masuk melalui air hujan
dalam bentuk nitrat. Jumlah ini sangat tergantung pada tempat dan iklim (Hakim, dkk., 1986).
Nitrogen dalam tanah berasal dari (1.) Bahan organik tanah (bahan organik halus, N
tinggi, C/N rendah; dan bahan organik, kasar, N rendah C/N tinggi. Bahan organik
merupakan sumber N yang utama di dalam tanah.); (2.) Pengikatan oleh mikroorganisme dan
N udara (Simbiose dengan tanaman legumenose, yaitu oleh bakteri bintil akar atau
Rhizobium; Bakteri yang hidup bebas (nonsimbiotik) yaitu Azotobacter (aerobik) dan
Clostridium (anaerobik)); (3.) Pupuk, misalnya ZA, Urea, dan lain-lain; dan (4.) Air hujan.
Fungsi N adalah memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman dan pembentukan
protein. Gejala-gejala kekurangan N adalah tanaman kerdil, pertumbuhan akar terbatas, dan
daun-daun kuning dan gugur.Gejala-gejala kebanyakan N adalah memperlambat kematangan
tanaman, batang-batang lemah mudah roboh, dan mengurangi daya tahan tanaman terhadap
penyakit. Nitrogen di dalam tanah terdapat dalam berbagai bentuk yaitu protein, senyawa-
senyawa amino, Amonium (NH4+), dan Nitrat (NO3-).
Nitrogen diserap tanaman sebagai NO3- dan NH4+, yang kemudian dimasukkan ke
dalam semua asam amino dan protein. Nitrogen merupakan unsur hara yang sangat banyak
sering membatasi hasil tanaman. Defisit protein yang cukup luas di daerah tropika
menandakan kandungan N tanamannya rendah.
Di lain pihak, pencucian unsur nitrogen pada usaha tani yang intensif telah
mengakibatkan air bumi tercemari. Nitrogen anorganik memang mudah berfluktuasi,
terutama di daerah dengan perubahan curah hujan yang sangat nyata. Kadar air tanah
merupakan faktor penting yang mempengaruhi dinamika nitrogen di dalam tanah.
Meneralisasi nitrogen terdiri dari:
1. Aminisasi (protein menjadi R-NH2)
2. Amonifikasi (R-NH2 menjadi NH4+)
3. Nitrifikasi (NH4+ menjadi NO3-)
(Pengelolaan Kesuburan Tanah, oleh Ir. Henry K. Indranada, 1994).
Hilangnya N dari tanah karena digunakan oleh tanaman atau mikroorganisme, N
dalam bentuk NH4+ dapat diikat oleh mineral liat jenis illit sehingga tidak dapat digunakan
oleh tanaman, N dalam bentuk NO3- mudah dicuci oleh air hujan, banyak hujan N rendah, dan
tanah pasir mudah merembeskan air sehingga N lebih rendah daripada tanah liat
(Hardjowigeno, 2003).

30
BAB III

METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 21 September 2019 pada di
Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Tanjungpura, Pontianak.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :

1. Spatula 6. Pipet volumetric


2. Timbangan analitik 7. Alat destitali
3. Labu didih
4. Pipet tetes
5. Buret
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu :

1. Sampel tanah 5. Penunjuk Conway


2. Catalys 6. NaOH
3. Asam sulfat 7. asam borat
4. Aquades 8. Vaselline
C. Cara Kerja :
1. Destruksi
a. Timbangan sampel tanah 0,25 gr masukkan ke dalam labu ukur
b. Tambahkan catalys seujung spatula
c. Berikan asam sulfat 10 ml dengan menggunakan pipet tetes
d. Selanjutnya proses destruksi dengan melakukan pelestarian, panaskan hingga
larutan menjadi bening
e. Encerkan kembali dengan aquades 50 ml
f. Kemudian hasil digunakan untuk destilasi dan titrasi
2. Destilasi
a. Susun labu didiah sebanyak 5 botol (masing-masing kelopmpok)
b. Masaukkan asam borat 10 ml dan penunjuk Conway sebanyak 5 tetes
c. Kemudian sampel dimasukkan dalam labu didih sebanyak 10 ml dan
tambahkan penunjuk Conway sebanyak 2 tetes serta aquades 10 ml
d. Labu didih di lab dan diberi Vaseline pada bagian mulut labu
e. Kemudian masukkan NaOH dalam labu didih dan goyang labu sampai cairan
yang berwarna merah menjadi biru kehijauan.
f. Kemudian dijepit dan panaskan pada alat destilasi sampai volumenya
mencapai 75-80
g. Kemudian saat dipanaskan air akan menguap naik ke atas selang dan turun ke
dalam Erlenmeyer yang sebelumnya selang tempat keluarnya uap air yang
menghasilkan cairan berwarna hijau pekat
h. Setelah selesai diperoleh maka alat detilasi dibersihkan.
3. Titrasi

31
a. Cairan yang didapat dari destilasi selanjutnya dititrasi dengan mengeluarkan
larutan H2SO4 dari buret kedalam labu Erlenmeyer dan kemudian digoyang
sampai cairan berwarna merah
b. Catat angka titer awal sebelum larutan dikeluarkan ke dalam labu Erlenmeyer,
setelah cairan berubah menjadi warna merah lihat kembali angka yang
terdapat dalam buret sebagai titer akhir.
c. Perhitungan menggunakan titer awal - titer akhir.

32
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil dalam tabel berikut.

Blanko Nilai titrasi


16,5 16
Cara perhitungan dengan rumus sebagai berikut
N (%) = (Vc - Vb) x N x 2,8 x fk
= (16,5 – 16) x 0,050 x 2,8 x 1,08
= 0,5 x 0,050 x 2,8 x 1,08
= 0,0721 %
B. Pembahasan

Dari hasil praktikum yang telah di lakukan dalam penetapan kandungan


senyawa nitrogen yang ada di dalam tanah maka di dapatlah hasilnya. Dimana setelah
melakukan rangkaian tahapan hingga akhirnya mendapatkan hasil yang berupa data.
Hasil yang di dapat bahwa kandungan nitrogen yang terkandung di dalam tanah yang
di analisis adalah sebesar 0,0721 %.
Sehingga dapat dikatategorikan kandungan nitrogen yang terkandung di dalam
tanah tersebut termasuk kedalam kriteria rendah. Hal ini telah dilihat di dalam tabel
kriteria penilaian kesuburan tanah sesuai dengan standar sistem internasional. Hal ini
disebabkan karena kandungan bahan organik yang terkandung di dalam tanah tersebut
rendah.
Di mana telah kita ketahui bahwa bahan organik adalah sumber bahan N yang
paling utama. Lopulisa (2004) yang menyatakan bahwa Nitrogen dalam tanah berasal
dari bahan organik tanah, bahan organik halus, N tinggi, C/N rendah, bahan organik
kasar, N rendah C/N tinggi. Bahan organik merupakan sumber bahan N yang utama di
dalam tanah. Selain N, bahan organik mengandung unsur lain terutama C, P, S dan
unsur mikro. Pengikatan oleh mikrorganisme dan N udara.
Karena kandungan senyawa nitrogen di dalam tanah tersebut rendah maka
pertumbuhan dari tanaman yang tumbuh di tanah tersebut akan terganggu bahkan
tanaman tersebut dapat mati di tanah tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Kemas (2005) yang menyatakan bahwa kekurangan N menyebabkan tanaman kerdil,
pertumbuhan akar terbatas, daun-daun kuning dan gugur.
Senyawa nitrogen yang terdapat di dalam tanah saling berhubungan satu sama
lain dengan kandungan bahan organik yang terkandung di dalam tanah tersebut. Telah
di jelaskan sebelumnya bahwa jika kandungan bahan organik yang terkandung
didalam tanah rendah maka jumlah senyawa nitrogen di dalam tanah tersebut juga
rendah bahkan tidak ada. Hal ini lah yang menjadi kekhawatiran
terhadap pertumbuhan tanaman yang ada. Karena pertumbuhan tanaman tersebut
dapat terganggu. Hal ini karena senyawa nitrogen sangat penting bagi pertumbuhan
tanaman.

33
ACARA IV. ANALISA TANAH DAN JARINGAN

PENETAPAN SUSUNAN

K TANAH DAN KALIUM TANAMAN

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sifat kimia tanah berhubungan erat dengan kegiatan pemupukan, dengan
mengetahui sifat kimia tanah akan didapat gambaran jenis dan jumlah pupuk yang
dibutuhkan. Pengetahuan tentang sifat kimia tanah juga dapat membantu memberikan
gambaran reaksi pupuk setelah ditebarkan ke tanah. Sifat kimia tanah meliputi kadar
unsur hara tanah, reaksi tanah (pH),kapasitas tukar kation tanah (KTK), kejenuhan
basa (KB), dan kemasaman.
Dalam budidaya tanaman , peranan pupuk sangat berpengaruh terhadap
kualitas tanaman obat yang akan di panen. Efek farmakologis yang dikandung
pegagan menjadi hilang atau menjadi buruk akibat pemupukan yang salah.

Unsur hara makro terdiri dari : C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S. Unsur hara


mikro terdiri dari : Fe, Mn, B, Cu, Zn, Cl dan Mo. Unsur – unsur hara tersebut ada
yang berasal dari udara dan ada yang berasal dari tanah

Unsur K mengendalikan aktivitas lebih dari 50 macam enzim di dalam tubuh


tanaman akan mempengaruhi proses metabolisme tanaman sehingga dapat dipastikan
akan berpengaruh pada mutu tanaman dan hasil panen. Musyarofah (2006) dalam
penelitian membuktikan bahwa pemupukan NPK dapat meningkatkan kandungan
fitokimia. Pengaruh unsur hara terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman dapat
dijelaskan dengan membahas fungsi unsur hara di dalam metabolisme tanaman. Unsur
hara juga dapat memperbaiki atau menurunkan ketahanan tumbuhan terhadap hama
dan penyakit. Ketahanan alami meningkat melalui perubahan dalam hal anatomi
seperti penebalan dinding sel epidermis, terpacunya pembentukan lignin, perubahan
fisiologis dan komposisi biokimia, seperti terpacunya sintesis substansi penghambat
dan penolak gangguan.

B. Tujuan

34
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan K didalam tanah
dan jaringan tanaman jeruk.

35
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman dalam pertumbuhannya membutuhkan 16 unsur hara esensial. Yang


dimaksuddengan unsur hara esensial apabila :

a. bila unsur hara tersebut kurang didalam tanah, dapat menghambat dan mengganggu
pertumbuhan tanaman baik vegetatif maupun generatif,
b. kekurangan hara tersebut tidak dapat diganti oleh unsur lain dan
c. Unsur hara tersebut tidak dapat diganti oleh unsur lain dan
d. Unsur hara tersebut harus secara langsung terlibat dalam gizi makanan tanaman.

1. Koloid Tanah
Koloid tanah, adalah bahan mineral dan bahan organik tanah yang sangat
halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi persatuan berat
(massa) tanah. Liat yang bersifat koloid berukuran lebih kecil dari 0,001 mm ( = 1
mikron). Koloid tanah terdiri atas koloid liat atau mineral, dan koloid organik
(humus).
Koloid liat mempunyai sifat dan cirri-ciri sebagai berikut:
a. Mudah berbentuk Kristal
b. Mudah mengalami substitusi isomorfik;
c. Umumnya bermuatan negatif;
d. Sebagian kecil bermuatan positif;
e. Menjerap air;
f. Menjerap dan mempertukarkan kation;
g. Mempunyai permukaan yang luas; dan
h. Merupakan suatu garam yang bersifat masam.

Koloid organik (humus), tersusun dari C, H, dan O, bersifat amorf,


mempunyai Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang lebih tinggi dari mineral liat,dan
lebih mudah dihancurkan dibanding dengan liat.

2. Kapasitas Tukar Kation (KTK)


Kapasitas Tukar Kation (KTK) suatu tanah, adalah kemampuan koloid tanah
menjerap dan mempertukarkan kation, atau banyaknya kation (dalam miliequivalen)
yang dijerap oleh tanah per satuan berat tanah (biasanya per 100 gram tanah).
Kapasitas tukar kation dinyatakan dalam satuan kimia, yaitu miliequivalen per 100
gram (me/100 g) Kemampuan atau daya jerap unsur hara dari suatu koloid tanah
dapat ditentukan dengan mudah. Jumlah unsur hara yang terjerap dapat ditukar
dengan barium (Ba) atau ammonium (NH4+) yang tersuling, akan sama banyak
dengan

36
3. Kejenuhan basa
Kation-kation yang terdapat dalam komplek jerapan koloid tanah, dapat
dibedakan menjadi kation-kation basa dan kation-kation masam. Kation-kation basa
diantaranya adalah Ca2+, Mg2+, K+, dan Na+, sedang kation-kation masam adalah H+
dan Al3+.
Kation Al3+ dan H+merupakan kation lain yang dominan terjerap, sedangkation
lain kurang berarti. Oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa pada tanah yang ber-KB
40% tadi, 60% adalah Al3+dan H+ sehingga pH rendah.Kation-kation basa,
umumnya merupakan unsur hara yang diperlukantanaman. Basa-basa umumnya
mudah tercuci, sehingga tanah dengankejenuhan basa tinggi menunjukkan
bahwa tanah tersebut belum banyakmengalami pencucian dan merupakan tanah
subur.Kejenuhan basa berhubungan erat dengan pH tanah. Pada pH tanahrendah
umumnya mempunyai KB rendah, sedang tanah-tanah dengan pHtinggi
mempunyai KB yang tinggi pula. Tanah- tanah dengan KB rendah,berarti
kompleks jerapan lebih banyak diisi oleh kation-kation masam, yaituAl3+dan H+.
Apabila jumlah kation masam terlalu banyak, terutama Al3+,dapat merupakan
racun bagi tanaman. Keadaan seperti ini terdapat pulapada tanah-tanah
masam.KB suatu tanah juga sangat dipengaruhi oleh iklim (curah hujan). Padatanah
yang beriklim kering, KB lebih besar daripada tanah beriklim basah
Analisis jaringan tanaman lebih praktis dilakukan untuk mengetahui status
hara pada tanaman, karena status hara pada jaringan tanaman juga merupakan
gambaran status hara dalam tanah. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa
konsentrasi suatu unsur hara di dalam tanaman merupakan hasil interaksi dari semua
faktor yang mempengaruhi penyerapan unsur tersebut dari dalam tanah. Penelitian
untuk menyusun rekomendasi pemupukan pegagan berdasar status hara tanah dan
kebutuhan tanaman terhadap hara N, P dan K belum tersedia.

Menurut Sutandi (1996) metode pendekatan untuk menentukan rekomendasi


pemupukan dapat berupa metode uji tanah, analisis jaringan tanaman ataupun
percobaan pemupukan.Pemupukan yang rasional dan berimbang dapat tercapai
apabila memperhatikan status dan dinamika hara tersebut di dalam tanah dan
kebutuhan tanaman akan hara tersebut untuk mencapai produksi optimum.
Pendekatan ini dapat dilaksanakan dengan baik dan menguntungkan apabila
rekomendasi pemupukan didasarkan pada uji tanah dan tanaman. Nilai uji tanah dan

37
tanaman tidak akan berarti, apabila tidak ada hasil penelitian korelasi dan kalibrasi
(Nursyamsi et al. 2002). Dikemukakan oleh Leiwakabessy (1996) melalui
datapenelitian kalibrasi maka data analisis tanah dan jaringan tanaman dari
laboratorium serta produksi relatif tanaman dimanfaatkan dalam membuat
rekomendasi pemupukan rasional yang berimbang dengan takaran optimum untuk
menduga produksi tanaman. Menurut Dow dan Robert (1982), terdapat beberapa
pengertian batas kritis yakni:

1. kadar hara tanaman dimana masih kurang untuk mendukung tercapainya produksi
maksimum
2. kadar hara tanaman dimana cukup untuk mendukung tercapainya produksi
maksimum,
3. titik dimana kadar hara tanaman berada 10% lebih rendah dari pertumbuhan
maksimum,
4. kadar hara tanaman dimana pertumbuhan tanaman mulai berkurang, dan
5. jumlah terendah dari suatu unsur dalam tanaman untuk menmyertai produksi
tertinggi. Meskipun batasan-batasan tersebut tampak serupa tetapi tidak identik dan
dapat digunakan sebagai standar referensi untuk mendiagnosis kadar hara tanaman
sampel. Namun demikian standar batas kritis tersebut sebelumnya telah dibakukan
terlebih dahulu tentang sampel bagian jaringan dan umur tanamannya.

Rekomendasi pupuk yang tepat diharapkan dapat meningkatkan


pertumbuhan dan hasil secara maksimum. Penambahan pupuk hanya diberikan
sesuai dengan kebutuhan tanaman, atau diluar kemampuan tanah untuk
menyediakannya (Olson et al. 1985). Berdasarkan pemikiran tersebut, maka perlu
dilakukan penelitian status hara daun agar dapat disusun rekomendasi pemupukan
untuk tanaman pegagan.

38
BAB III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu penelitian


Praktikum dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan TanahFakultas Pertanian
Universitas Tanjungpura Pontianak pada tanggal 22 November 2019.
B. Alat dan Bahan
1. Flame Fotometer
2. Tabung reaksi
3. Sampel Tanah
4. Sampel Tanaman
C. Cara kerja
1. Siapkan sampel dan alat flamefotometer.
2. Masukan selang ke dalam sampel
3. Kemudian tunggu flamefotometer sampai menunjukkkan angka pada layar alat
tersebut tidak berubah (konstan)
4. Kemudian catat angka yang muncul dan didokumentasikan.

39
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel Hasil K-dd Tanah

PPM PPM ml
ABS KURVA KURVA bst Kation ekstrak w fp fk K dd
1 / 39 25/1000 1000/2,5 0.1 1
0.025641026 0.025 400 0.1 1
tebu 1 0.37 8.7100 9.1455 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.02 0.2392
tebu 2 0.42 9.9459 10.3814 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.02 0.2715
jeruk
1 0.32 7.4741 7.9096 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.02 0.2069
jeruk
2 0.44 10.4402 10.8757 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.02 0.2844
sawit
1 0.24 5.4967 5.9322 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.04 0.1582
sawit
2 0.18 4.0137 4.4492 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.04 0.1186
kakao
1 0.34 7.9685 8.4040 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.05 0.2263
kakao
2 0.37 8.7100 9.1455 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.05 0.2462
jagung
1 0.97 23.5405 23.9760 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.10 0.6762
jagung
2 0.96 23.2933 23.7288 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.10 0.6693

40
Tabel Hasil K-dd Tanaman

PPM PPM
ABS KURVA KURVA ml ekstrak w Fp fk K dd
100/1000 1000/2 1
0.1 500 1
tebu 3.83 94.2326 94.6681 0.1 500 1 1.02 4828.072
jeruk 3.64 89.5363 89.9718 0.1 500 1 1.06 4768.503
sawit 2.83 69.5151 69.9506 0.1 500 1 1.07 3742.355
kakao 3.37 82.8625 83.2980 0.1 500 1 1.06 4414.795
jagung 3.02 74.2114 74.6469 0.1 500 1 1.06 3956.285

B. Pembahasan
1. K-dd Tanah
Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan hasil analisis K-dd tanah
alluvial pada tanaman jeruk pada kedalaman tanah 0-30 cm sebesar 0.2069 dan
pada kedalaman 30-60 cm sebesar 0.2844. dari data tersebut dapat dilihat bahwa
kandungan K-dd tanah terbesar terdapat pada tanaman jagung sebesar 0.6762 (0-
30cm) dan 0.6693 (30-60 cm). Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain tempat lokasi pengambilan sampel tanah, reaksi tanah, atau pH, tekstur
tanah atau jumlah liat, jenis mineral liat, bahan organic, pengapuran dan
pemupukan.
2. K-dd Tanaman
Pada analisis K tanaman, hasil yang didapat pada tanaman jeruk sebesar
4768.503. dan tanaman yang mengandung K tertinggi terdapat pada tanaman tebu
sebesar 4828.072. tinggi rendah nya kandungan K pada tanaman dipengaruhi oleh
sampel tanaman yang digunakan. Unsur hara tanaman tergantung pada unsur hara
yang tersedia didalam tanah, baik dengan melakukan pemupukan, pengapuran
atau mengambil bagian tanaman sebagai alat ukur hara yang terkandung didalam
tanaman.

Namun, keberadaan Kalium juga dipengaruhi oleh banyak hal yang membuat unsur
tersebut kurang untuk tanaman, misalnya karna pencucian atau pelindian dan terikat oleh
unsur lain yang menyebabkan tanah masam tau tidak dapat diserap oleh akar tanaman
(Altieri 2010).(Brady, 1984).Hakim (2006), menyatakan bahwa ketersediaan Kalium
merupakan Kalium yang dapat dipertukarkan dan dapat diserap tanaman yang tergantung

41
penambahan dari luar, fiksasi oleh tanahnya sendiri dan adanya penambahan dari
kaliumnya sendiri.

42
ACARA V. ANALISIS P-Bray Dan P-Total
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Unsur fosfor (P) sifatnya mobil dalam tanaman, mudah dipindahkan dari bagian
daun yang tuda ke titik tumbuh. Gejala kekahatan: tanaman kerdil, pertumbuhan akar
buruk, kedewasaan terlambat, warna daun hijau kelam, muncul warna keunguan
misalnya pada jagung. Jika P berlebihan meskipun tidak secara langsung meracuni
tanaman, akan menyebabkan merangsang pertumbuhan organisme perairan,
mempercepat eutrofikasi, P tanah yang berlebih meningkatkan pengangkutan P dalam
sedimen, air limpasan.

Salah satu unsur hara yang berperan penting dalam pertumbuhan tanaman tebu
adalah unsur hara P. Unsur hara P merupakan salah satu unsur hara makro yang
bersifat esensial, yang artinya selain di butuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang
banyak, juga tidak dapat di gantikan fungsinya dengan unsur hara yang lain. Unsur
hara P sendiri berperan penting terhadap penambahan tinggi dan besar pada tanaman
jeruk.
Gejala defisiensi hara P pada tanaman jerk dapat mengahambat pertumbuhan
tanaman tebu, yang mengakibatkan batang tanaman tebu menjadi kecil dan kurang
berkembang. Peran hara P sangat menonjol pada fase inisiasi perkecambahan sampai
dengan fase kemasakan.
Unsur hara P sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman jeruk pada
fase pemasakan ataupun fase penimbunan karbohidrat, sehingga defisiensi unsuh hara
P ini sangat tidak menguntungkan bagi tanaman. Terutama pada fase pemasakan.
Untuk mengetahui tingkat kecukupan unsur hara P pada tanaman jeruk perlu di
lakukan analisis sehingga, gejala defisiensi hara yang kadang tidak terlihat, dapat
segera di atasi.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikmu ini untuk mengetahui kandungan unsur hara P yang
terdapat pada tanah dan tanaman.

43
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Unsur hara P merupakan salah satu nutrisi utama yang sangat penting dalam
pertumbuhan tanaman. Fosfor tidak terdapat secara bebas di alam. Fosfor ditemukan
sebagai fosfat dalam beberapa mineral, tanaman dan merupakan unsur pokok dari
protoplasma. Fosfor terdapat dalam air sebagai ortofosfat. Sumber fosfor alami dalam
air berasal dari pelepasan mineral-mineral dan biji-bijian (Sutedjo, 2008).

Ketersediaan fosfor didalam tanah ditentukan oleh banyak faktor, tetapi yang
paling penting adalah pH tanah. Pada tanah ber-pH rendah, fosfor akan bereaksi
dengan ion besi dan aluminium. Reaksi ini membentuk besi fosfat atau aluminium
fosfat yang sukar larut dalam air sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Pada
tanah ber pH tinggi, fosfor akan bereaksi dengan ion kalsium. Reaksi ini membentuk
ion kalsium fosfat yang sifatnya sukar larut dan tidak dapat digunakan oleh tanaman.
Dengan demikian, tanpa memperhatikan pH tanah, 13 pemupukan fosfat tidak akan
berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman (Sutedjo, 2008).

Fosfor (P) adalah salah satu jenis unsur hara yang diperlukan oleh tanaman dalam
jumlah yang relatif besar dan juga termasuk dalam hara makro. namun jumlah P ini di
dalam tanaman diketahui lebih kecil di bandingan unsur N dan K, namun peran P ini
snagat penting bagi tanaman karena kunci dari kehidpan tanaman tersebut. unsur P
yang berada di dalam tanah didapat dari berbagai sumber baik dari bahan organik,
pupuk buatan, seperti kompos serta mineral tanah. Bentuk Dan Fungsi Fosfat Di
Dalam Jaringan Tanaman :
1. P dibutuhkan tanaman dalam jumlah relatif besar, sedikit lebih kecil dibawah
N dan K, setara dengan S, Ca dan Mg
2. Fosfat: unsur P sangat reaktif, di alam ditemukan dalam bentuk gugus fosfat
3. ATP : transfer energy
4. NADP : fotosintesis
5. Asam nukleat: bahan DNA, RNA
6. Lemak fosfat (phospholipids): membran sel dan organ dalam sel
Penentuan serapan P oleh tanaman selama ini di lakukan melalui suatu
perhitungan yang memerlukan penentuan bobot kering tanaman dan kandungan P-
total tanaman terlebih dahulu. Penentuan P-total tanaman di lakukan di laboratorium
dengan metode bray. Nilai serapan P yang di peroleh hanya menggambarakan

44
keseluruhan P yang di serap tanaman. Pada teknik isotop penetuan serapan P dapat di
32
lakukan secara langsung melalui pencacahan isotop P dalam jaringan tanaman,
sehingga dapat memperpendek langkah-langkah analisa. Selai itu dengan
menggunakan metode perhitungan Nilai-A (A-Value) dapat di hitung serapan P
berasal dari masing-masing sumber P yang di berikan ke dalam tanah (Suyono dan
Citraresmini, 2010)
Menurut Hanifah (2010), ketersediaan P di pengaruhi oleh beberapa faktor yang
meliputi komposisi pelikat tanah, pH tanah, kandungan liat dan kandungan bahan
organik. Bahan organik memiliki peran penting dalam meningkatkan ketersediaan
unsur P. Defiseinsi unsur hara P pada tebu dapat menghambat pemanjangan dan
pembesaran batang, hingga pembentukan tunas yang tidak maksimal (Moore dan
Botha, 2013).

45
BAB III

METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktikum dilaksanakan pada tanggal 24 September 2019 di laboratorium Kimia
dan Kesuburan Tanah Fakuktas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak.
B. Alat dan Bahan

a. P Bray

Adapun alat dan bahan yang di gunakan dalam penetapan P Tanah adalah
sebagai berikut :

Alat Bahan
Corong Tanah lolos ayakan 0,2 mm
Botol Larutan pereaksi A (PA)
Gelas Ukur Pereaksi B
Tabung reaksi Pereaksi C
Timbangan analitik
Rak Tabung reaksi
Kertas Saring
Pipet
Spektrofotometer
Shaker

46
b. P Total

Alat Bahan
Corong Daun tebu yang telah di
tanur
Botol Aquadest
Gelas Ukur HCl
Tabung reaksi 5 ml molidat panodat
Pemanas HCl 1 Molar
Cawan
Kertas Saring
Pipet
Spektrofotometer

C. Cara Kerja

a. P Bray

1) Timbang tanah sebanayak 0,50 gram sebanyak 2 ualangan kemudian masukan


kedalam botol.

2) Ambahkan larutan pereaksi a (Larutan PA) sebanyak 15 ml

3) Kocok larutan menggunakan shaker, selama 5 menit.

4) Saring larutan yang telh di kocok dedalam tabung rekasi menggunakan corong
dan kertas saring.

5) Ambil sebanyak 5 ml menggunakan pipet dan pindahkan ke tabung reaksi


lainnya.

6) Masukan PB sebanyak 5 ml dan PC sebanyak 5 tetes.

7) Kocok menggunakan Shaker

47
8) Hitung P bray menggunakan alat spektrofotometer.

b. P Total

1) Sampel tebu yang telah di tanur di basahi dengan aquadest

2) Basahi kertas penyaring dengan aquadest.

3) Masukan HCl sebanyak 10 ml kedalam labu ukur.

4) Masukan HCl kedalam cawan porselin yang berisi sampel daun yang di tanur,
yang sebelumnya telah di basahi dengan aquadest.

5) Kemudian di panaskan , usahakan jangan sampai mendidih

6) Setelah itu di saring dan masukan kedalam labu ukur.

7) Tunggu kertas saring hingga kering kemudian bilas lagi dengan aquadest.

8) Tambahkan aquadest dalam labu ukur sampai 10 ml.

9) Masukan 1 ml, larutan ekstrak daun di tambah denga HCl 1N pada tabung
reasksi.

10) Kemudian tambahkan campuran dari molidat panodat 5 ml di tambah aquadest


4 ml.

11) Hitung P dengan alat spektrofotometer.

48
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. P-bray

mml
ekstak fp 142/190 fk P
PPM PPM
ABS KURVA KURVA 15/1000 1000/1,5
0.015 666.6667 1 0.747368
jeruk 1 0.051 1.6042 3.1875 0.015 666.6667 1 0.747368 1.02 24.2988
jeruk 2 0.070 2.7917 4.3750 0.015 666.6667 1 0.747368 1.02 33.3513
2. P total

mml ekstak fp fk P
PPM PPM
ABS KURVA KURVA 50/1000 100/1000 31/95 1
jeruk 1 0.285 37.3365 36.7439 0.05 0.1 0.326316 1 1.06 0.0635
jeruk 2 0.282 35.5586 34.9660 0.05 0.1 0.326316 1 1.06 0.0605

B. Pembahasan
1. P-bray
Unsur fosfat (P) merupakan unsur esensial kedua setalah N yang
berperan dalam fotosintesis dan perkembangan akar. Ketersediaan P dalam
tanah yang jarang melebihi 0,01% dari total P. Sebagian besar bentuk P terikat
oleh koloid tanah sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Tanah dengan
kandungan organik rendah dalam variasi 20-80%, bahkan di bawah 20%, P
tidak dapat di manfaatkan secara efektif oleh tanaman, karena P dalam tanah
dalam bentuk terikat.

49
Hara P dalam tanaman berfungsi sebagai penyedia dan penyimpan
energi tanaman untuk proses metabolisme dan katabolisme. Metabolisme
karbohidrat pada daun dan pemindahan sukrosa dipengaruhi oleh P anorganik
walaupun secara tidak langsung. Proses penyusun sukrosa dan heksosa
memerlukan fosfat energi tinggi, oleh karena itu P anorganik di perlukan
dalam sel-sel daun dalam penyusun karbohidrat.
Penetapan jumlah P tersedia dalam tanah harus menggunakan metode
yang tepat. Permasalahan P dalam tanah cukup kompleks, salah satunya
adalah sumbernya terbatas an di pengaruhi oleh pH tanah sehingga
ketersediaannya bagi tanaman sangat kecil. Ada beberapa metode penentuan P
tersedia dalam tanah, yaitu Troug, Bray I, Bray II, North Caroline, dan olsen.
Setiap metode mempunyai sifat sendiri dalam mengekstrak P. Metode yang
paling baik adalah metode yang ekstraknya benar mampu mengekstrak P-
tersedia di dalam tanah ataupun mendekati P yang terserap oleh tanaman.
Rumus :
Perhitungan kadar P2O5 tersedia (ppm)
= Ppm kurva x 10 x fp x 142/190 x fk
Dari hasil praktikum yang kami lakukan hasil kandungan p tersedia
dalam tanah pada sampel 1 sebesar 24.2988 ppm dan pada sampel 2 sebesar
33.3513 ppm. dari hasil ini dapat diketahui bahwa kandungan P-tersedia dalam
sampel tanah termasuk dalam kriteria tinggi yang berarti sampel tanah
tersebut memenuhi persyaratan tanah yang baik dan dapat digunakan untuk
bercocok tanam karena fosfor berfungsi untuk meningkatkan kesuburan tanah
secara fisika, kimia dan biologi.
2. P total

P total merupakan jumlah unsur hara P yang telah di serap oleh


tanaman. P total merupakan P yang terdapat pada jaringan daun. Untuk
mengetahui seberapa besar P yang telah di serap oleh tanaman tebu dari tanah,
maka di perlukan analisis pada bagian daun yang sedang mengalami masa
perkembangan. Hal ini dikarenakan P yang terdapat di dalam jaringan daun
yang mengalami perkembangan berada dalam kondisi yang optimal.
Sedangkan pada daun yang sudah tua unsur hara P sudah tidak begitu banyak
tersedia, hal ini di karenakan unsur hara di suplai ke daun yang lebih muda
untuk proses pertumbuhan dan perkembangan.

50
Rumus : a
Perhitungan kadar P (%)
= Ppm kurva x 0,005 x 31/95 x fk

Dari hasil perhitungan didapatkan hasil kandungan p total pada


jaringan tanaman jeruk yang di uji pada 2 sampel yaitu sampel 1 sebesar
0.0635 % dan sampel 2 sebesar 0.0605 %. Dari hasil yang didapat terlihat p %
yang didapat sangat rendah. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketersediaan
Fosfor : 1. Status fosfor tanah yang mendapat fosfor lebih dari fosfor yang
diambil tanaman akan memberikan status fosfor lebih tinggi, mempertahankan
fosfor dalam status optimum adalah sangat penting. 2. Tanaman, beberapa
tanaman mempunyai sistem perakaran serabut dan beberapa tunjang.
Perbedaan ini berperan dalam kemampuan tanaman dalam mengambil dan
selanjutnya dapat menentukan metode pemberian fosfor. 3. Kemasaman,
kelarutan berbagai senyawa fosfor dapat dipengaruhi oleh kemasaman (pH)
tanah. Fosfat yang berasosiasi Fe, Al dan Mn mempunyai kelarutan dalam air
rendah, logam tersebut sangat dominan ditanah masam. 4. Lengas,
peningkatan lengas tanah pada kondisi optimum akan meningkatakan fosfor
tersedia bagi tanaman, tanah dengan banyak lengas akan mengurangi O2,
sehingga dapat mengurangi pertumbuhan dan aktifitas akar. 5. Temperature
sangat penting dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman, akan tetapi
kurang penting dengan ketersediaan fosfor, temperature sangat tinggi atau
rendah dapat membatasi sarapan fosfor oleh tanaman. 6. Aerasi, Oksigen
(O2)dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman dan absorpsi hara, juga sangat
penting untuk pelapukan bahan organik fosfor oleh mikroba. 7. Pemadatan
dapat mengurangi aerasi dan ruang pori dalam zone perakaran. Hal ini akan
mengurangi serapan fosfor dan pertumbuhan tanaman. Pemadatan juga
menyebabkan volume akar untuk melakukan penetrasi. Juga membatasi untuk
mengambil fosfor tanah, ini sesuai dengan jarak pergerakan fosfor sangat
pendek. 8. Hara lain, Penggunaan hara lain dapat menigkatkan serapan fosfor,
penambahan kalsium (pengapuran pada tanah asam) dan pemberian sulfur
pada tanah alkalin dapat meningkatkan ketersediaan fosfor. Sebaliknya
pemupukan nitrogen dapat meningkatkan serapan fosfor. 9. Jumlah liat,
Tekstur makin halus retensi fosfor makin besar dan kuat. Tanah dengan kadar
liat yang tinggi akan dapat memfiksasi fosfor lebih tinggi dibandingkan
51
dengan kadar liat yang rendah. 10.Tipe liat, Tanah dengan liat kaolinit (pada
tanah dengan curah hujan dan temperature tinggi) dapat menahan atau
memfiksasi lebih tinggi. Pada tanah ini fosfor yang diberikan cepat diubah
menjadi fosfor tidak larut.
Untuk melakukan penganalisisan di lakukan dengan pengektrakan
daun tanaman jeruk yang di ambil pada bagian daun mulai dewasa sampai
daun dewasa. Dilakukan pengektrakan agar mudah untuk penganalisisan
jumlah P total yang telah di serap oleh tanaman tebu sendiri. Analisis daun
telah di jadikan acuan dalam mendiagnosis masalah hara dan sebagai dasar
rekomendasi pemupukan pada tanaman, sehingga pada tanaman tebu daun
yang tepat untuk di lakukan analisis adalah daun yang berusia 3 bulan setelah
tanam, 6 bulan setelah tanam, dan 9 bulan setalah tanam. Perbedaan umur
daun akan mempengaruhi kandungan hara yang ada di dalamnya. Semakin tua
usia daun makan unsur hara yang terdapat di dalamnya semakin menurun,
tidak terkecuali unsur hara P.
Unsur hara P pada tanaman jeruk merupakan unsur hara yang penting
karena berperan penting dalam proses metabolisme dan katabolisme. Fosfor
yang diserap tanaman tidak direduksi, melainkan berada didalam senyawa
organik dan anorganik dalam bentuk teroksidasi. Peranan P pada tanaman
penting untuk pertumbuhaan sel, pembentukan akar halus dan rambut akar,
memperkuat tegakan batang agar tanamaan tidak mudaah rebah, pembentukan
bunga, buah dan biji serta memperkuat daya tahan terhadap penyakit
(Premono, 2002).

52
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang di laksanakan didapatkan analisis


kandungan unsur P tersedia di tanah dengan metode bray dengan 2 uji sampel,
masing- masing sampel 1 sebesar 24.2988 ppm dan pada sampel 2 sebesar
33.3513 ppm. Menunjukan bahwa kandungan p yang ada di tanah dalam
kategori tinggi yang berarti sampel tanah tersebut memenuhi persyaratan tanah
yang baik dan dapat digunakan untuk bercocok tanam karena fosfor berfungsi
untuk meningkatkan kesuburan tanah secara fisika, kimia dan biologi.
Sedangkan hasil dari p total pada jaringan tanaman jeruk yang diuji dalam 2
sampel yang masing-masing hasilnya sampel 1 sebesar 0.0635 % dan sampel 2
sebesar 0.0605 %.termasuk dalam kategori rendah. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Ketersediaan Fosfor : 1. Status fosfor tanah 2. Tanaman, 3.
Kemasaman, 4. Lengas, 5. Temperature, 6. Aerasi, 7. Pemadatan, 8. Hara lain,
9. Jumlah liat, 10.Tipe liat. Unsur hara P pada tanaman tebu merupakan unsur
hara yang penting karena berperan penting dalam proses metabolisme dan
katabolisme. Fosfor yang diserap tanaman tidak direduksi, melainkan berada
didalam senyawa organik dan anorganik dalam bentuk teroksidasi.
Permasalahan P dalam tanah cukup kompleks, salah satunya adalah sumbernya
terbatas an di pengaruhi oleh pH tanah sehingga ketersediaannya bagi tanaman
sangat kecil.

53
Lampiran
Tabel 1. Standar P bray
standard p bray i
Conc. Abs
mg/l ppm kurva ppm kurva
0 0.000 -1.5833 0.0000
2 0.077 3.2292 4.8125
4 0.111 5.3542 6.9375
6 0.114 5.5417 7.1250
8 0.151 7.8542 9.4375
10 0.179 9.6042 11.1875
SLOPE 0.0160
INTERCEPT 0.0253
Tabel 2. Hasil perhitungan P bray
mml ekstak fp 142/190 f P
ABS PPM KURVA PPM KURVA 15/1000 1000/1,5
0.015 666.6667 1 0.747368
tebu 1 0.029 0.2292 1.8125 0.015 666.6667 1 0.747368 1.02 13.8170
tebu 2 0.063 2.3542 3.9375 0.015 666.6667 1 0.747368 1.02 30.0162
jeruk 1 0.051 1.6042 3.1875 0.015 666.6667 1 0.747368 1.02 24.2988
jeruk 2 0.070 2.7917 4.3750 0.015 666.6667 1 0.747368 1.02 33.3513
sawit 1 0.187 10.1042 11.6875 0.015 666.6667 1 0.747368 1.04 90.8426
sawit 2 0.183 9.8542 11.4375 0.015 666.6667 1 0.747368 1.04 88.8995
kakao 1 0.030 0.2917 1.8750 0.015 666.6667 1 0.747368 1.05 14.7138
kakao 2 0.031 0.3542 1.9375 0.015 666.6667 1 0.747368 1.05 15.2043
jagung 1 0.968 58.9167 60.5000 0.015 666.6667 1 0.747368 1.10 497.3737
jagung 2 1.069 65.2292 66.8125 0.015 666.6667 1 0.747368 1.10 549.2691

Tabel 3. Standar P total


standard p
bray i
Conc. Abs
mg/l ppm kurva ppm kurva
0 0.223 0.593 0.000
10 0.227 2.963 2.371
25 0.257 20.742 20.150
50 0.301 46.819 46.226
100 0.426 120.899 120.307
250 0.632 242.984 242.391
SLOPE 0.0017
INTERCEPT 0.2220

54
Tabel 4. Hasil perhitungan p total tanaman
mml
ekstak fp f P
Sampel ABS PPM KURVA PPM KURVA 50/1000 100/1000 31/95 1
tebu 1 0.273 30.2248 29.6322 0.05 0.1 0.326316 1 1.02 0.0493
tebu 2 0.278 33.1880 32.5954 0.05 0.1 0.326316 1 1.02 0.0542
jeruk 1 0.285 37.3365 36.7439 0.05 0.1 0.326316 1 1.06 0.0635
jeruk 2 0.282 35.5586 34.9660 0.05 0.1 0.326316 1 1.06 0.0605
sawit 1 0.268 27.2615 26.6690 0.05 0.1 0.326316 1 1.07 0.0466
sawit 2 0.270 28.4468 27.8542 0.05 0.1 0.326316 1 1.07 0.0486
kakao 1 0.277 32.5953 32.0027 0.05 0.1 0.326316 1 1.06 0.0553
kakao 2 0.269 27.8542 27.2616 0.05 0.1 0.326316 1 1.06 0.0471
jagung 1 0.352 77.0436 76.4510 0.05 0.1 0.326316 1 1.06 0.1322
jagung 2 0.350 75.8583 75.2657 0.05 0.1 0.326316 1 1.06 0.1302

Tabel 5. Standar K-dd


CONSENTRASI ABSORBAN ppm Kurva ppm Kurva
0 0.00 -0.4355 0.0000
5 0.22 5.0024 5.4379
10 0.44 10.4402 10.8757
15 0.64 15.3837 15.8192
20 0.83 20.0800 20.5155
25 1.01 24.5292 24.9647
SLOPE 0.0405
INTERCEPT 0.0176

Tabel 6. Hasil perhitungan k tanah


PPM PPM
sampel ABS KURVA KURVA bst Kation ml ekstrak w fp f K dd
1 / 39 25/1000 1000/2,5 0.1 1
0.025641026 0.025 400 0.1 1
tebu 1 0.37 8.7100 9.1455 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.02 0.2392
tebu 2 0.42 9.9459 10.3814 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.02 0.2715
jeruk 1 0.32 7.4741 7.9096 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.02 0.2069
jeruk 2 0.44 10.4402 10.8757 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.02 0.2844
sawit 1 0.24 5.4967 5.9322 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.04 0.1582
sawit 2 0.18 4.0137 4.4492 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.04 0.1186
kakao 1 0.34 7.9685 8.4040 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.05 0.2263
kakao 2 0.37 8.7100 9.1455 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.05 0.2462
jagung 1 0.97 23.5405 23.9760 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.10 0.6762
jagung 2 0.96 23.2933 23.7288 0.025641026 0.025 400 0.1 1 1.10 0.6693

Tabel 7. Hasil perhitungan k tanaman


Sampel ABS PPM KURVA PPM KURVA ml ekstrak w fp f K dd

55
100/1000 1000/2 1
0.1 500 1
tebu 3.83 94.2326 94.6681 0.1 500 1 1.02 4828.072
jeruk 3.64 89.5363 89.9718 0.1 500 1 1.06 4768.503
sawit 2.83 69.5151 69.9506 0.1 500 1 1.07 3742.355
kakao 3.37 82.8625 83.2980 0.1 500 1 1.06 4414.795
jagung 3.02 74.2114 74.6469 0.1 500 1 1.06 3956.285

Tabel 8. Hasil perhitungan N total


Sampel Vc Vb N f N(%)
TEBU 16 15.3 0.05 2.8 1.02 0.09996
JERUK 16.5 16 0.05 2.8 1.03 0.0721
SAWIT 16.9 16.5 0.05 2.8 1.08 0.06048
KAKAO 17.5 16.9 0.05 2.8 1.11 0.09324
JAGUNG 18.6 17.5 0.05 2.8 1.1 0.1694

56