Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pengoperasian Inert Gas System


Sebelum kita melangkah lebih jauh dalam skripsi ini, penulis akan
mengupas lebih rinci dari judul yang telah dipilih. Hal ini sangat
diperlukan mengingat luasnya cakupan kegiatan pengoperasian dari
Inert Gas System (IGS) itu sendiri. Pemahaman terhadap arti dari judul
skripsi ini harus dapat dipahami betul, sehingga nantinya kita bisa
mengetahui intisari dari pokok bahasan yang terdapat didalamnya.
Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka pengkajian secara linguistik
sangatlah mutlak, hal ini didasarkan pada tata bahasa baku bahasa
Indonesia yang ada.
Menurut Kamus Besar Bahasa Inonesia (2002:852), penggunaan
adalah proses, cara perbuatan memkai sesuatu, pemakaian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Inonesia (2007:105), mencegah
adalah proses, cara, tindakan menahan agar sesuatu tidak terjadi.
Menurut Liquifield Gas Tanker Familiarization, Inert gas adalah gas
atau uap yang tidak menyebabkan kebakaran atau mendukung
kehidupan.
Menurut Tanker Familiarization Course (TFC) Modul III Gas Tanker
Familiarization (2000:17), Badan Diklat Perhubungan. Inert Gas adalah
gas yang mengandung kadar oksigen rendah yang digunakan untuk
mengatur atmosfir di dalam tangki muat, yaitu mencegah terbentuknya
campuran yang mudah terbakar.
Menurut Cargo Operation Manual, MT Bull Kangean. Inert Gas
adalah gas atau uap gas yang tidak akan mendukung pembakaran dan
tidak akan bereaksi dengan mudah.
Menurut International Chamber Of Shipping Oil Company
International Marine Forum (OCIMF) tentang inert flue gas safety guide
(2000:25). Inert Gas adalah gas seperti nitrogen atau karbondioksida

6
atau campuran gas seperti flue gas yang mengandung kadar oksigen
yang rendah untuk mendukung pembakaran hidrokarbon.

B. Pemasangan Inert Gas System


Menurut Batti (1983:16-17) petunjuk-petunjuk ini adalah
merupakan pelopor yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan atau
pemasangan pemakaian dari Inert Gas System (IGS) pada kapal-
kapal tanker antara lain :
1. Product tanker
2. Crude oil tanker
Yang termasuk kedalam kapal-kapal tanker baru, kapal tanker
baru yang dimaksud adalah :
1. building contract : Juni 1979
2. vell lying : Januari 1980
3. delivery : Juni 1982

C. Prinsip Inert Gas System


Ledakan tidak akan terjadi pada tangki muat kapal tanker yang
telah lembam atau inerted dengan baik, umpamanya pada waktu terjadi
tabrakan, sehingga terjadinya kerusakan akibat kebakaran dapat
dihindari seminimum mungkin. Menurut ISGOTT (International Safety
Guide Oil Tanker and Terminal) Gas tidak akan terbakar karena :
1. Hidrokarbon konsentrasinya terlalu rendah
2. Oksigen konsentrasinya terlalu rendah
Jadi prinsip dari inert gas system adalah untuk mempertahankan
kadar oksigen yang rendah dalam tangki sehingga tidak
memungkinkan timbulnya kebakaran. Purging pada tangki-tangki
muatan yang kosong dengan maksud menggantikan campuran
hidrokarbon gas dengan inert gas agar bisa mengurangi konsentrasi
atau kadar hidrokarbon dibawah garis yang disebut batas kritis (critical
dilution), kalau sampai ada udara segar menyelinap masuk kedalam

7
tangki tersebut maka kondisi atmosfir dalam tangki akan segera masuk
ke dalam kantong dimana campuran ini dapat terbakar atau meledak.

D. Komposisi Inert Gas


Pada umumnya inert gas menggunakan gas buang (flue gases)
dari boiler atau menggunakan IGG (Inert Gas Generator), karena
kadar oksigen dalam gas buang dari boiler cukup rendah. Jadi inert
gas system adalah suatu sistem dengan memasukkan gas inert atau
lembam yang biasanya dari gas buang ke dalam tangki muat untuk
mendesak udara terutama oksigen keluar dari tangki, sehingga
mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran atau ledakan dalam
tangki-tangki muat tersebut. Sebagai gambaran, menurut ISGOTT
7.1.3 komposisi dari inert gas adalah sebagai berikut:
Tabel 1: Komposisi inert gas
Nitrogen N2 83%
Carbon Dioxide CO2 12-14%
Oxygen O2 2-4%
Sulphur dioxide SO2 50ppm
Carbon monoxide CO Trace
Nitrogen oxide NOX Trace
Water vapour H2O Trace (high if not dried)
Ash and soot (C) Traces
Density 1.044

E. Komponen Utama Inert Gas System


Menurut Batti (1993:35-75) Komponen-komponen utama yang
dibutuhkan IGS adalah sebagai berikut :
1. Inert Gas Scrubber
Fungsi utama dari Inert Gas Scrubber adalah:
a. Mengeluarkan kotoran - kotoran seperti abu dan endapan
dari flue gas untuk dijadikan Inert Gas.
b. Tempat mendinginkan flue gas tersebut sampai kurang
lebih 50 C diatas suhu air laut.
c. mengeluarkan gas SO2 dengan air laut dimana paling

8
kurang 90% ini harus dikeluarkan.
Bentuknya seperti tabung segi empat dan dibuat dari “mild steel
Plate” dan harus sanggup untuk memproduksi Inert Gas untuk
kebutuhan tanki muatan serta slop tank. Bagian dalamnya biasa
dilapisi dengan anti karat seperti umpamanya dengan Highly Anti
Corrosive, TRP lining (3-ply epoxy and glass fibre cloth). Ini sangat
penting untuk mencegah terjadinya korosi karena air laut dan gas
H2SO4 tadi.
Gambar 1.1.a. Scrubber tower

Sumber: https://dimensipelaut.blogspot.com/2019/01/komponen-
inert-gas-genertor.html

2. Demister Separator
Fungsi utama adalah sebagai penyaring gas yang sudah dicuci dan
didinginkan di Scrubber masuk ke Demister dimana masih ada
sisa-sisa partikel dan liquid terutama air. Melalui Demister kurang
lebih 96% dari solids/partikel dan air dapat dikeluarkan, sehingga
Inert Gas yang akan dimasukkan kedalam tanki-tanki muatan
sudah cukup bersih dari kotoran-kotoran dan uap air.

3. Inert Gas Blower


Fungsi utama Inert Gas Blower adalah gas yang sudah dibersihkan

9
tadi dihisap dari Scubber melalui Demister kemudian dilairkan ke
tanki-tanki dengan Blower tersebut. Jadi Blower berfungsi sebagai
pompa pengantar dari Inert Gas kedalam tanki-tanki muat atau slop
tanks.
Gambar 1.1.c. Inert gas blower

Sumber: https://dimensipelaut.blogspot.com/2019/01/komponen-
inert-gas-genertor.html

4. Deck Water Seal


Deck Water Seal berfungsi sebagai alat unuk mencegah jangan
sampai terjadi aliran balik dari gas Hydrocarbon dari tanki muatan
kedalam kamar mesin atau daerah-daerah yang seharusnya bebas
gas dimana alat-alat Inert Gas dipasang. Jadi Deck Water Seal ini
dibuat sedemikian rupa sehingga Inert Gas bisa mengalir bebas ke
tanki dan mencegah jangan sampai terjadi back flow Hydrocarbon
dari tanki muat terutama jika pemakaian Inert Gas dihentikan
sementara karena suatu sebab atau kebutuhan operasi.
Gambar 1.1.d. Deck water seal

10
Sumber: https://dimensipelaut.blogspot.com/2019/01/komponen-
inert-gas-genertor.html

5. Deck Mechanical Non Return Valve


Fungsi utama adalah sebagai pencegah kebocoran gas
Hydrocarbon sebagai akibat dari back flow dari tanki muatan, juga
untuk mencegah tekanan balik dari cargo.
Kedua valve tersebut dipasang didepan Deck Water Seal. Isolating
Valve dipasang paling depan dimuka dari Non Return Valve.
Maksudnya supaya pipa utama dari Inert Gas diatas deck dipisahkan
dari Non Return Device. Kedua valve ini harus tahan terhadap api
dan karat yang disebabkan oleh acid dari gas.
Sebagai penjagaan lebih lanjut guna menghindari arus balik dari
tanki muat untuk mencegah cairan yang masuk ke line induk gas
lembam jika tanki meluap, menurut peraturan SOLAS 1974
Amandemen 1981 Chapter II-2 Peraturan 62.10.8 mensyaratkan
sebuah katup searah mekanis atau setara yang dipasang didepan
Deck Water Seal dan secara otomatis harus bekerja setiap saat.
Katup ini harus dilengkapi dengan sebuah sarana positif untuk
penutup atau alternative lain. Sebuah katup Isolating valve terpisah
yang dipasang didepan katup searah dengan line induk deck gas
lembam dapat diisolasi dari alat-alat katup searah. Katup isolasi yang
terpisah mempunyai keuntungan yang mana memungkinkan

11
pekerjaan pemeliharaan dapat dilakukan.
Material yang dipakai untuk konstruksi peralatan searah haruslah
tahan terhadap api dan tahan terhadap serangan karat oleh asam
yang terbentuk oleh gas. Alternatif lain, baja carbon ringan yang
dilapisi oleh karet atau dilapisi dengan “glass fibre epoxy resine” atau
material lain yang setara boleh digunakan. Perhatian khusus harus
diberikan pada pipa inlet gas pada segel air, segel air deck harus
bisa memberikan tahana kepada aliran balik tidak kurang dari
tekanan yang ditetapkan pada alat pengaman vacuum/tekanan (P/V
Breaker) pada sistim distribusi gas yang hendaknya didesai
sedemikian rupa sehingga dapat mencegah aliarn balik gas dalam
suatu kondisi operasi yang diperkirakan. Air yang ada disegel deck
hendaknya dipelihara dengan mengatur aliran air bersih melalui
reservoir segel deck Gelas penglihat dan lobang pemeriksa harus
ada pada segel deck untuk memungkinkan pengmatan yang
memuaskan pada permukaan air selama operasi dan memberi
kemudahan pemeriksaan yang seksama, gelas tersebut hendaknya
diperkuat untuk menahan benturan. Suatu pembuangan air dari
peralatan searah hendaknya tergabung dengan segel air dan
hendaknya memenuhi secara umum.

Gambar 1.1.e. Deck water seal

12
Sumber: https://dimensipelaut.blogspot.com/2019/01/komponen-
inert-gas-genertor.html

6. Mast Riser
Fungsi utama dari Mast Riser adalah tempat memasang Safety
Valve dan juga berfungsi sebagai pembuang gas terutama pada saat
loading dan gas freeing yang biasanya disebut Inert Gas Vent Valve.
Valve ini harus dibuka kalau Inert Gas Plant tidak bekerja untuk
mencegah kemungkinan kebocoran gas yang disebabkan oleh
tekanan yang semakin tinggi dalam tanki melaui alat-alat non return
device.
Untuk Safety Valve digunakan Non Return Valve dan untuk
pembuang gas valve atau pressure vacuum valve digunakan globe
vacuum.

Gambar 1.1.f Mast riser

13
Sumber: https://dimensipelaut.blogspot.com/2019/01/komponen-
inert-gas-genertor.html

7. Pressure/Vacum Breaker (P/V Breaker)


Tekanan didalam Cargo Oil Tank dan saluran utama Inert Gas
berubah sesuai dengan perubahan suhu udara sekelilingnya
terhadap suhu air laut dan juga perubahan tekanan uap minyak.
Dalam hubungan ini P/V Breker disambungkan dengan saluran
utama Inert Gas di geladak sebagai pengamanan bilamana P/V
valve pada suatu saat tidak bekerja normal melayani perubahan
tekanan naik dan turun secara menyolok.
P/V Breaker terdiri dari dua buah silinder luar dan silinder dalam
serta cairan penyekat yaitu cairan anti beku,diisi sampai batas yang
ditentukan. Juga terdapat suatu alat penahan api (flame arrestor)
dipasang pada bagian atas silinder dalam. By Pass yang
menghubungkan antara bagian atas juaga dipasang pemisah kabut
air atau mist separator.

Gambar 1.1.g P/V Breaker

14
Sumber: https://dimensipelaut.blogspot.com/2019/01/komponen-
inert-gas-genertor.html

8. Control System
Fungsi utama adalah untuk mengontrol bekerjanya alat-alat Inert
Gas dengan baik dan normal juga untuk memberikan tanda alarm
kalau terjadi hal-hal yang tidak normal seperti :
a. temperature terlalu tinggi
b. tekanan inert gas rendah
c. aliran air laut ke Scrubber atau Deck Water Seal tekanannya
terlau rendah, konsentrasi O2 dalam Inert Gas terlalu tinggi.
d. Aliran dalam Scrubber permukaannya terlalu tinggi.
Gambar 1.1.g Control system

Sumber: https://dimensipelaut.blogspot.com/2019/01/komponen-
inert-gas-genertor.html

15
9. Oxygen Analyzer
Fungsinya untuk secara tetap mengontrol kualitas dari Inert Gas
dan mempertahankan konsentrasi oksigen (O 2) dalam gas tersebut
dibawah batas yang telah ditentukan. Jadi normalnya Oxygen
Analyzer ini dipasang tetap guna mengontrol bertambahnya
kandungan O2 yang dikehendaki. Demikian juga Oxygen Analyzer
untuk tanki-tanki muatan bisa dipindahkan (portable) harus ada
untuk memonitor konsentrasi oksigen (O 2) dalam Cargo Oil Tank
setiap saat.
Gambar 1.1.h Oxygen analyzer

Sumber: https://dimensipelaut.blogspot.com/2019/01/komponen-
inert-gas-genertor.html

10. Pressure Gauge


Alat ini mempunyai skala penunjukan dari 100 mm H2O sampai
dengan 2000 mm H2O. Bentuknya lingkaran dengan diameter 10 cm
dan jarum penunjuknya berputar pada poros titik tengah lingkaran,
ditempatkan di cargo control room dan di kamar pompa muatan yang
diukur oleh alat ini adalah tekanan gas di saluran utama Inert Gas
diatas deck. Sedangkan saluran utama ini selalu dihubungkan
dengan atmosfir didalam Cargo Oil Tank dan Branch valve (katup
cabang). Dengan demikian tekanan yang ditunjukkan juga
merupakan besaran tekanan dalam Cargo Oil Tank.

16
Tekanan kerja atau working pressure untuk alat keselamatan pada
Inert Gas System adalah sebagai berikut :
1600 mmWG P/V Breaker Blows Out
1500 mmWG High Level Alarm
1400 mmWG P/V Valve Lift on Mast Riser
1000 mmWG Normal Working Pressure
200 mmWG Low Pressure Alarm
100 mmWG Low/Low Pressure Alarm
-350 mmWG P/V Valve on Mast Riser Breaks Vacuum
-700 mmWG P/V Breaker Breaks Vacuum

F. Proses Terjadinya Inert Gas


Menurut Badan Diklat Perhubungan (2000:19) menunjukkan
bagaimana minyak bahan bakar dan udara dikombinasikan melalui
proses pembakaran didalam inert gas generator. Nitrogen (N2) unsur
yang terbesar dari udara tidaklah diambil bagian (O 2) dalam reaksi ini,
sebab itu tidak banyak berubah. Sedangkan oksigen dikombinasikan
dengan semua unsur dari fuel sehingga menghasilkan uap, api,
karbondioksida dan sulfuroksida. Sebagian dari oksigen tidak diambil
dalam reaksi ini, pembakaran dapat dikatakan baik apabila gas
memberikan komposisi yang terlukis pada gambar flue gas, untuk
selanjutnya flue gas tersebut diturunkan suhunya dibersihkan didalam
Scrubber sehingga terjadilah flue gas.

G. Metode Memasukkan Inert Gas Dalam Tanki Muat


Menurut Badan Diklat Perhubungan (2000:21) ada 3 macam
jalan yang dilakukan dalam penggantian atmosfir (gas) dalam tanki,
yaitu :
1. Inerting : Kadar O2 dalam tanki dikurangi dengan jalan memasukan
gas lembam kedalam tanki

17
2. Purging : Mengurangi kadar gas hidrokarbon dalam tangki dengan
memasukkan lagi inert gas (untuk mendesak keluar gas
hidrokarbon).
3. Gas freeing : Dengan mengeluarkan campuran-campuran gas
tersebut di atas (inert gas + sisa hidrokarbon) dengan memasukkan
udara segar.
Untuk penggantian atmosfir dalam tanki ada 2 cara yang bisa
dilakukan selama ini, yaitu :
1. Proses pencampuran (Dilution process)
Yang perlu diperhatikan dalam proses ini adalah inert gas
yang dimasukkan dalam tangki harus dengan kecepatan tinggi
sehingga dapat mencapai dasar tangki untuk mendesak keluar gas
hidrokarbon. Dengan cara ini akan terjadi campuran gas yang
akhirnya campuran-campuran gas tersebut terdesak keluar dengan
masuknya inert gas lebih banyak. Jadi perlu diperhatikan mengenai
kesanggupan dari inert gas yang diperlukan.
2. Proses pergantian (Displacement)
Inert gas yang dimasukkan kedalam tangki muat, dimasukkan
secara vertikal sehingga gas yang lebih berat dalam tangki muat
akan terdesak ke dasar taki kemudian secara teratur keluar dari
pipa (purging pipe), sampai tangki muat terisi semua dengan inert
gas. Cara ini memerlukan kecepatan inert gas yang masuk dalam
tangki relatif lebih rendah, Sebab itu perlu diyakini bahwa instalasi
yang digunakan dapat mengatur pergantian gas secara
displacement pada seluruh bagian dari tangki muat.
Dua proses ini mempunyai pengaruh yang nyata pada metode
pemantauan atmosfir tangki dan interpretasi dari hasilnya. Yang
terlihat pada instrument pengambilan contoh gas yang tepat, teori
dilusi menganggap gas yang masuk bercampur dengan gas asli
membentuk campuran homogen dalam seluruh bagian tangki.

18
Hasilnya adalah bahwa konsentrasi gas asli menurun secara
eksponensial.

H. Kontrol Atmosfir Dalam Tanki Muat.


Menurut Badan Diklat Perhubungan (2000:25) Tanker yang
dilengkapi dengan Inert Gas System, tanki muat harus tetap dalam
keadaan Inerted selama beroperasi dimana :
1. Tanki muat dan slop tank apakah berisi muatan, air ballast atau
sisa-sisa muat. Kadar oksigen harus selalu dipertahankan
dibawah 8% dari volume dengan tekanan yang selalu positif
dalam tanki.
2. Atmosfir dalam tanki akan berubah dari Inert Condition ke gas
free condition tanpa melalui daerah Flammable condition. Jadi
dalam pelaksaannya sebelum tanki tersebut disirkulasi dengan
udara segar untuk gas free harus dimasukkan (purge) dengan
Inert Gas sampai kadar Hydrocarbon dalam tanki berada dibawah
Critical Dilution Line.
3. Jika tanki dalam keadaan gas free sebelum dimuati muatan, harus
diisi Inert Gas lebih dulu. Jadi untuk mempertahankan tanki muat
dalam kondisi Non Flammable maka Inert Gas Plant diperlukan.

19
I. Kerangka Pikir
Sebagaimana prinsip dari Inert Gas System adalah untuk
menurunkan dan mempertahankan kadar oksigen yang rendah
dalam tanki sehingga tidak memungkinkan timbulnya kebakaran.

MT BULL KANGEAN
inert gas system

Pengaruh inert gas


system dalam
mencegah kebakaran

Pengoperasian Cara menurunkan


sesuai prosedur kadar oksigen di
dalam tangki muatan

Kapal terhindar dari


bahaya kebakaran

20