Anda di halaman 1dari 20

TUGAS 2

MANAJEMEN KUALITAS AC 7176


PROJECT QUALITY PLAN

oleh:
AJI NUGROHO
NIM : 2016410024

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DR.SOETOMO
SURABAYA
2019
MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 2


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Project Quality Plan

1. Organization policy
2. Roles & responsibilities
3. Deliverables & milestones
4. Project management methods
5. Standards for monitoring & control purposes
6. Process reviews
7. Major check points
8. Inspection & acceptance criteria

1. Organization policy ( Kebijakan Organisasi )

adalah terdiri dari dua kata yakni kebijakan dan organisasi, dua kata tersebut memiliki arti
masing-masing .

Kebijakan

1. Kebijakan adalah jalan atau cara bagi lembaga yang berperan sebagai pemegang kewenangan
publik (dalam hal ini pemerintah) untuk mengatasi suatu permasalahan atau sekelompok
permasalahan yang saling berhubungan (Pal, 1992).

2. Kebijakan adalah cara atau jalan yang dipilih pemerintah untuk mendukung suatu aspek dari
ekonomi termasuk sasaran yang pemerintah cari untuk mencapainya dan pemilihan metoda
untuk mencapai tujuan dan sasaran itu (Elis, 1994).

3. Kebijakan adalah tindakan apapun yang dipilih pemerintah perlu untuk dilakukan (Dya, 1984).

4. Kebijakan adalah kegiatan yang dipilih secara sengaja oleh aktor tertentu atau sekelompok
actor dalam mengatasi suatu masalah. Kebijakan publik adalah kebijakan yang dibuat oleh
lembaga pemerintah dan pejabatnya (Anderson, 1984).

5. Kebijakan adalah cara dan tindakan pemerintah untuk mengatasi masalah pembangunan
tertentu atau untuk mencapai tujuan pembangunan tertentu dengan mengeluarkan keputusan,
strategi, perencanaan maupun implementasinya dilapangan dengan menggunakan instrument
tertentu’.

6. Widodo J. Pudjirahardjo mengatakan Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan


keputusan formal organisasi, yang bersifat mengikat, yang mengatur perilaku dengan tujuan
untuk menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat,

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 3


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Organisasi

1. PROF Dr. Sondang P. Siagian


Mendefinisikan “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang
bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah
ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan
dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.”

2. Drs. Malayu S.P Hasibuan


Mengatakan “organisasi ialah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari
sekelompok yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan
alat dan wadah saja.”
3. Prof. Dr. Mr Pradjudi Armosudiro
Mengatakan “organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara
sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk bersama-sama
mencapai tujuan tertentu.

4. James D Mooney
Berpendapat bahwa “Organization is the form of every human, association for the assignment of
common purpose” atau organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk pencapaian suatu tujuan
bersama.

5. Chester L Bernard (1938)


Mengatakan bahwa “Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih ( Define
organization as a system of cooperative of two or more persons) yang sama-sama memiliki visi
dan misi yang sama.

6. Paul Preston dan Thomas Zimmerer


Mengatakan bahwa “Organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-
kelompok, yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.” (Organization is a collection
people, arranged into groups, working together to achieve some common objectives).

7. Ralp Currier Davis (1951)


Organisasi adalah sesuatu kelompok orang-orang yang sedang bekerja ke arah tujuan bersama di
bawah kepemimpinan.

8. Daniel E. Griffths (1959)


Organisasi adalah seluruh orang-orang yang melaksanakan fungsi-fungsi yang berbeda tetapi
saling berhubungan dengan yang dikoordinasikan agar sebuah tugas dapat diselesaikan. Dengan
demikian diantara ketiga macam pandangan tentang pengertian organisasi, pandangan yang tepat
adalah yang menganggap organisasi sebagai suatu sistem kerjasama, sistem hubungan, sistem
sosial. Guna memudahkan penangkapan pengertian, dapatlah kiranya disusun suatu definisi
organisasi secara sederhana dan dapat diterapkan dalam praktek sebagai berikut :
“ Organisasi adalah suatu sistem yang saling mempengaruhi antar orang dalam kelompok yang
UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 4
MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu “.


Dari definisi sederhana ini dapat ditemukan adanya berbagai faktor yang dapat menimbulkan
organisasi, yaitu orang-orang, kerjasama, dan tujuan tertentu. Berbagai faktor tersebut tidak
dapat saling lepas berdiri sendiri, melainkan saling kait merupakan suatu kebulatan. Maka dalam
pengertian organisasi digunakan sebutan sistem yang berarti kebulatan dari berbagai faktor yang
terikat oleh berbagai asas tertentu.

Kebijakan Organisasi adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana
dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak Istilah ini dapat
diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan
berbeda dengan peraturan dan hukum. Jika hukum dapat memaksakan atau melarang
suatu perilaku (misalnya suatu hukum yang mengharuskan pembayaran pajak penghasilan),
kebijakan hanya menjadi pedoman tindakan yang paling mungkin memperoleh hasil yang
diinginkan.
Kebijakan atau kajian kebijakan dapat pula merujuk pada proses pembuatan keputusan-
keputusan penting organisasi, termasuk identifikasi berbagai alternatif seperti prioritas program
atau pengeluaran, dan pemilihannya berdasarkan dampaknya. Kebijakan juga dapat diartikan
sebagai mekanisme politis, manajemen, finansial, atau administratif untuk mencapai suatu tujuan
eksplisit.

2. Roles & responsibilities ( Peran dan Tanggung Jawab )

ialah yang dimaksud disini bahwa setiap pihak yang terkait dengan perkerjaan atau proyek ini,
harus memiliki kesadaran diri untuk menjalankan tugas tugas dengan tingkatan berbagai jabatan
apapun

Tugas Quality Control


Tugas quality control secara spesifik bervariasi, tergantung pada perusahaan mana mereka
bekerja. Tidak peduli pada jenis perusahaan apa dan sektor industri dimana mereka bekerja,
tujuan utama mereka adalah pengendalian kualitas, yaitu menguji produk sesuai standar
spesifikasi pabrik atau perusahaan.

Quality control memiliki kewenangan untuk menerima atau menolak produk yang yang akan
dipasarkan. Ketika mereka menemukan cacat pada hasil proses produksi mereka berwenang dan
dapat mengirimkan produk yang cacat kembali untuk dilakukan perbaikan. Inti dari tugas mereka
adalah menguji, memeriksa, meneliti, menganalisi kualitas produk sehingga produk yang
dihasilkan sesuai dengan standar spesifikasi perusahaan dan layak dijual di pasaran.

Tanggung Jawab Quality Control


Berikut merupakan tanggung jawa seorang quality control secara umum di perusahaan.
• Memantau perkembangan semua produk yang diproduksi oleh perusahaan.
• Bertanggung jawab untuk memonitor, menganalisis, meneliti, menguji suatu produk.
• Melakukan verifikasi kualitas produk

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 5


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

• Quality Control bertanggung jawab melakukan monitoring setiap proses yang terlibat
dalam produksi produk.
• Memastikan kualitas barang produksi sesuai standar.
• Merekomendasikan pengolahan ulang produk-produk berkualitas rendah atau melakukan
perbaikan.
• Bertanggung jawab untuk dokumentasi inspeksi dan tes yang dilakukan pada produk dari
perusahaan.
• Membuat analisys catatan sejarah perangkat dan dokumentasi produk sebelumnya untuk
referensi di masa mendatang
• Memastikan kinerja sesuai work plan sheet atau WPS
• Memastikan barang hasil proses produksi di kros cek dengan baik
• Memastikan barang yang tidak lolos cek diketahui kesalahan dan cara menanggulangi nya
• Memastikan koordinasi dengan shift lain sudah terlaksana dengan baik
• Memastikan laporan kerja dibuat tepat waktu
• Memastikan target produksi tercapai dengan maksimal
• Menjaga nama baik perusahaan

3. Deliverables & milestones ( Hasil Kerja & Tonggak Pencapaian ) :

Deliverables

Hasil kerja (bahasa Inggris: deliverable) adalah objek berwujud atau tak berwujud yang
merupakan hasil pelaksanaan proyek, sebagai bagian dari suatu kewajiban atau obligasi. Istilah
yang biasa dikaitkan secara spesifik dengan objektif ini, dapat berupa suatu kata benda: suatu
barang, produk, atau artefak yang harus dibuat dan diberikan sebagai bagian kewajiban, atau
suatu kata keterangan: menjelaskan sesuatu yang harus diberikan sebagai bagian dari kewajiban.

Sesuatu yang dihasilkan dari eksekusi proyek dan diberikan kepada klien disebut dengan
deliverable. Objek yang dihasilkan bisa dalam bentuk nyata atau tidak nyata. Ada dua jenis dari
deliverable, yaitu project deliverable dan product deliverable. Project deliverable merupakan
sesuatu yang dihasilkan dalam proyek. Umumnya contoh project deliverable berupa dokumen-
dokumen yang dihasilkan di sepanjang proyek, seperti project plan, laporan (reports), dan
minutes. Product deliverable lebih menitikberatkan pada produk akhir yang dibuat dalam suatu
proyek, seperti hardware, software, apps, kontrak dan hasil assessment.

Deliverables adalah produk atau jasa yang dihasilkan dari suatu proyek kepada Customer.
Deliverable biasanya memiliki tenggat waktu (due date), jelas/ berwujud (tangible), terukur
(measurable) dan spesifik (specific).

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 6


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Milestones

Salah satu pendekatan yang dapat dipakai dalam mementukan bagian pekerjaan untuk kontrak
yang tidak sederhana adalah dengan menggunakan milestone. Milestone, menurut wikipedia,
adalah salah satu tools dalam menajemen proyek untuk menandai titik-titik tertentu sepanjang
waktu proyek. Milestone adalah akhir dari sebuah tahapan yang menandakan sebuah fase atau
paket kerja telah selesai.

1). Milestone adalah suatu bagian item pekerjaan yang dibuat untuk menggambarkan
suatu poin tertentu dalam jadwal proyek. Poin-poin pada item pekerjaan ini haruslah
yang dianggap menjadi bagian penting pada tiap fase pekerjaan sebelum melanjutkan
pekerjaan berikutnya atau berpengaruh atas kelangsungan pekerjaan berikutnya.

Contohnnya adalah pada suatu pekerjaan gedung yang dimulai dari kelompok
pekerjaan persiapan lahan, struktur bawah, struktur atas, finishing dan M/E, lalu site
development.

Jika milestone berfokus pada poin kemajuan sebuah proyek, kamu dapat melihat
bagaimana milestone berguna dalam penjadwalan. Sama seperti tugas memecah
proyek yang lebih besar menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola, milestone dapat
membagi percabangan proyek untuk membuatnya lebih sederhana dan efektif.

Sebagai praktik terbaik perencanaan proyek, letakkan milestone dalam jadwal untuk
mengelola ekspektasi si pengguna dengan lebih baik. Praktik ini akan membantu kamu
untuk menentukan pedoman untuk semua tahapan penyelesaian proyek,
mengidentifikasi milestone yang telah dicapai dan yang tertinggal dan mengelola ide
atau gagasan dari mereka yang terlibat dalam proyek.

Tujuan Milestone

Milestone merupakan management tools yang sangat berguna dan dapat digunakan
untuk menandai yang telah dimulai atau selesai, terutama digunakan sebagai alat
perencanaan, penjadwalan, dan pelaporan. Terapkan dalam proyek kamu, definisikan
milestone dengan tepat, kendalikan proyek kamu sejauh mana target milestone sudah
tercapai. Milestone

Milestone digunakan dalam penjadwalan proyek dengan beberapa tujuan, yaitu :

1. Sebagai tanda dimulainya sebuah tahapan penting dalam pekerjaan


2. Sebagai pos sinyal berakhirnya sebuah tahapan penting dalam pekerjaan
3. Sebagai peringatan untuk deadline dalam pekerjaan
4. Sebagai tanda sebuah keputusan penting yang dibuat dalam pekerjaan

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 7


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Tahapan Milestone

Milestone adalah titik waktu tertentu dalam siklus pelaksanaan proyek yang digunakan
untuk mengukur kemajuan proyek menuju tahap penyelesaian proyek. Dalam manajemen
proyek, milestone digunakan sebagai pos sinyal/peringatan untuk: tahapan awal atau
akhir sebuah proyek, kebutuhan akan peninjauan, kebutuhan untuk pemeriksaan
anggaran, dan masih banyak lagi. Milestone memiliki tanggal yang tetap tetapi tidak ada
durasi. Jadi apa milestone itu dalam manajemen proyek? Sederhananya, itu milestone
adalah titik referensi yang menandai peristiwa besar atau titik keputusan bercabang dalam
suatu proyek.

Apa saja tahapan milestone dalam sebuah proyek? Dibawah ini contoh tahapan milestone
secara umum :

1. Contract award
2. Site Survey
3. P&ID (Piping and Instrumentation Diagram) approved
4. Discipline acceptance
5. Mechanical completion
6. Ready for start up
7. Initial facility handover
8. Final acceptance, etc.

Jarak sebuah tahapan milestone dengan milestone yang lain sebaiknya dipertimbangkan
dengan matang. Harus diperhatikan betul apakah poin pekerjaan selanjutnya tersebut
layak dijadikan sebuah tahapan milestone.
Dengan memahami milestone pada sebuah proyek, masing-masing team akan terbantu
dalam hal komunikasi antar team dalam pelaporannya. Milestone harus dimasukan ke
dalam laporan mingguan/bulanan termin proyek untuk dijadikan tolak ukur
perkembangan proyek. Jika ada kemungkinan ada perubahan tanggal milestone
sedangkan proyek sedang berjalan, harus disesuaikan dengan control change procedure
yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk mengubah jadwal yang sudah disetujui.

2). Sebuah milestone yang efektif, harus memenuhi kriteria:

Specific, dalam arti ruang lingkupnya jelas.


Measurable, dalam arti terukur, untuk menentukan apakah tahapan tersebut bisa dinyatakan
selesai atau tidak selesai.
Attainable, dalam arti dapat diselesaikan kurun waktu yang tersedia.
Relevant, dalam arti terkait dengan ruang lingkup pekerjaan.
Timely, dalam arti ditentukan tanggal awal dan tanggal akhir penyelesaian.
Open, dalam arti terbuka mudah dipahami oleh berbagai pihak.
Small, dalam arti tidak terlalu rumit.
Assignable, dalam arti dapat ditentukan dengan mudah pihak atau bagian yang bertanggungjawab
atas pencapaian milestone.

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 8


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Progressive, dalam arti pencapaian suatau milestone adalah awal dari pelaksanaan milestone
berikutnya.
Significant, dalam arti ruang lingkup milestone tidak terlalu kecil sehingga tidak terlalu banyak
milestone yang harus dibuat.

Dari beberapa definisi tersebut di atas, maka milestone dapat diartikan sebagai tahapan antara
sebelum terwujudkan keseluruhan output dari sebuah kontrak. Dalam istilah yang sudah ada,
milestone tidak lain adalah termjn atau tahapan pencapaian output. Pendekatan
milestone/termijn dapat dicontohkan sebagai berikut:

Pengadaan Barang, dapat terdiri dari milestone: penerimaan barang di gudang dan pengujian.
Pekerjaan Konstruksi bangunan gedung, dapat terdiri dari milestone Pekerjaan pemadatan tanah
(dari kelompok persiapan lahan), Pekerjaan cor pile cap (dari pekerjaan struktur bawah),
Pekerjaan cor lantai paling atas (dari kelompok pekerjaan struktur atas) dan seterusnya.
Pekerjaan Konstruksi wujud fisik lain, dapat terdiri dari milestone: design detail/engineering,
pekerjaan konstruksi fisik, pengujian dan sertifikasi.

Milestone sangat baik diterapkan dalam proyek besar yang memiliki aktivitas yang sangat banyak.
Milestone dapat membantu dalam pelaporan dimana perkembangan proyek bisa dipantau lebih
mudah dan tidak membingungkan karena banyaknya item pekerjaan yang harus direview. Lebih
dari itu, menerapkan tahapan milestone juga akan mengurangi potensi sengketa antara Pejabat
Pembuat Komitmen (PPK) dengan Penyedia. Karena dengan menerapkan milestone, maka hal
tersebut dapat memacu kinerja Penyedia dalam menyelesaikan tugasnya sesuai jangka waktu
yang ditentukan.

4. Project management methods ( Metode Manajemen Proyek ) :

Sering dikatakan bahwa menyusun konsep dan filosofi merupakan pekerjaan tersendiri,
sedangkan merumuskan konsep dan filosofi tersebut menjadi metode, teknik, dan prosedur
adalah pekerjaan yang lain. Kata-kata tersebut untuk menggambarkan bahwa menyusun suatu
konsep clan filosofi yang kelihatannya sudah cukup jelas arti dan tujuannya ternyata amat sulit
untuk menjabarkannya menjadi metode, teknik, clan prosedur yang pada proses berikutnya
dimaksudkan dapat merupakan petunjuk pelaksanaan di lapangan. Banyak contoh menunjukkan
suatu konsep telah diterima dan dianggap benar oleh banyak pihak tetapi hasil pelaksanaannya
jauh menyimpang dari harapan.

Metode dan teknik ini dipilih yang kegunaannya dianggap bersifat mendasar dan unik untuk
proses mengelola proyek, seperti “WORK BREAKDOWN STRUCTURE” untuk mengelola lingkup,
“ANALISIS JARINGAN KERJA” (CPM, PERT, dan PDM) untuk perencanaan proyek, IDENTIFIKASI
VARIANS, KONSEP NILAI HASIL, CS/CSC untuk pengendalian biaya dan jadwal, dan lain-lain.
Sedangkan untuk metode dan teknik yang penting untuk proyek-proyek tertentu tetapi
kegunaannya tumpang tindih dengan disiplin ilmu atau profesi lain, seperti disiplin ilmu ekonomi
dan produksi [analisis sensitivitas, program linear, “programming” lainnya, teori optimasi, konsep
statistik, “proses control chart”, pareto diagram, dan lain-lain].
UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 9
MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Pada aspek pengendalian, ini ditekankan pentingnya penggunaan metode dan teknik yang dapat
memantau atau mengukur kinerja (performance) suatu pekerjaan. Ini berarti harus ada
keterkaitan yang menyatu dalam menganalisis kemajuan pekerjaan dengan jumlah biaya yang
telah terpakai untuknya. Dengan mengetahui kinerja suatu pekerjaan pada setiap saat pelaporan,
akan dapat dibuat prakiraan atau proyeksi keperluan dana sampai akhir penyelesaian proyek.
Demikian pula dengan kemungkinan terjadinya keterlambatan, bilamana faktor yang
mempengaruhi atau menyebabkan kecenderungan di atas tidak berubah. Hal ini berarti pengelola
proyek jauh-jauh hari sebelumnya telah memperoleh tanda peringatan perlu tidaknya diadakan
perbaikan penyelenggaraan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.

5. Standards for monitoring & control purposes


( Standar untuk Pemantauan & Tujuan Kontrol ):

Standar adalah Spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode
yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait.
Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar di
bidang pertanian yang dilaksanakan secara tertib dan bekerja sama dengan semua pihak.

Standar dalam arti lain adalah Jaminan mutu

Sistem mutu adalah segala yang memuat informasi yang menyangkut proses pengumpulan,
proses pencatatan, proses pengolahan, proses penyimpanan dan proses dokumentasi tentang
mutu.

Tujuan dari sistem standarisasi mutu adalah:


Untuk mewujudkan jaminan mutu hasil pertanian yang dapat meningkatkan efisiensi nasional dan
menunjang program keterkaitan dengan sektor lain.

Validasi
Validasi adalah konfirmasi melalui pengujian dan pengadaan bukti objektif yang menunjukkan
bahwa persyaratan tertentu untuk suatu maksud khusus telah dipenuhi.
Repeatability
Repeatability adalah suatu keadaan dimana hasil uji yang diperoleh dengan menggunakan metode
yang sama pada laboratorium yang sama dikerjakan oleh operator yang sama serta peralatan
yang sama pada interval waktu yang singkat.
Precision (Ketelitian)
Accuration (Ketepatan)
Reproducibility
Reproducibility adalah kondisi dimana hasil uji yang diperoleh dengan metode yang sama pada
laboratorium yang berbeda dan operator yang berbeda serta peralatan yang berbeda (tidak ada
batasan waktu).

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 10


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Dalam penerapannya, standarisasi mencakup pemberlakuan standarisasi dalam 5 ruang lingkup


yaitu:
1. Pemberlakuan standar
2. Penerapan standar
3. Penerapan akreditasi
4. Penerapan sertifikasi
5. Pengawasan standarisasi.

Tujuan penerapan standar


1. Terwujudnya jaminan mutu komoditas dan produk, peningkatan produktifitas, daya guna, hasil
guna serta perlindungan konsumen dalam hal keamanan, keselamatan, kesehatan dll.
2. Untuk mewujudkan jaminan bagi pihak yang memerlukan sertifikasi.
3. Terwujudnya kepercayaan pelanggan dan pihak lain yang terkait, bahwa organisasi, individu,
komoditas yang diberikan selalu memenuhi persyaratan.
4. Terwujudnya citra Indonesia di mata Internasional dalam system perdagangan yang jujur dan
mendukung system jaminan mutu.
5. Terwujudnya kebenaran hasil pengakuan dan pengujian.

Review pengendalian mutu dan jaminan mutu


Pengendalian mutu (Quality control): (ISO 8402)
Daalah teknik operasional dan kegiatan yang digunakan untuk memenuhi keperluan dalam
pencapaian mutu.
Jaminan mutu (Quality Assurance): (ISO 8402)
Adalah semua rencana dan kegiatan sistematik yang diperlukan untuk memberikan tingkat
kepercayaan bahwa produk atau jasa yang diberikan akan memberikan kepuasan dalam upaya
pencapaian mutu.

GLP (good laboratory practice)


GLP mengarah pada pelaksanaan bekerja dilaboratorium secara baik seperti:
Manajemen sampel dan penanganannya
Pengendalian pereaksi/reagents
Kebersihan alat gelas laboratorium
Keamanan dan penggunaan alat pelindung (safety)
Perawatan alat (maintenance)
Pencatatan (records)
GMP (good measurement practice)
GMP merupakan teknik pengendalian pengukuran hasil analisa agar mendapatkan data yang baik,
tepat dan akurat, seperti:
Uji ulangan sample (duplo, triplo)
Uji kedapatan ulang (uji recovery)
Uji blanko
Uji referensi

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 11


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Penerapan system mutu secara efektif memerlukan system yang terstruktur terdokumetasi secara
baik dengan adanya system dokumentasi penerapan system manajemen mutu, berupa :
Panduan mutu / manual mutu / pedoman mutu
Panduan prosedur
Panduan intruksi kerja / intruksi
Formulir / rekaman

Persyaratan Dokumentasi
1. Persyaratan terdokumentasi dari kebijakan mutu dan tujuan mutu
2. Manual mutu
3. Prosedur terdokumentasi
4. Dokumen yang dibutuhkan oleh organisasi untuk menjamin efektifitas perencanaan,
pengoperasian dan pengendalian proses
5. Rekaman yang dibutuhkan oleh standar internasional

system standarisasi nasional (ssn)


Tujuan SSN :
1. Meningkatkan efesiensi dan daya saing nasional
2. Menunjang dihasilkannya barang dan jasa berdaya saing tinggi
3. Melindungi kepentingan masyarakat sesuai dengan kepentingan intrn-nasional yang telah
disepakati
4. Memberdayakan sumber daya dalam negeri

pertimbangan / kebijakan standarisasi nasional


Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap standard an budaya mutu
Peningkatan perlindungan masyarakat dan lingkungan melalui penerapan standar jaminan mutu
dan penegakan hukum.
Penigkatan perumusan standar penyelarasan SNI dengan standar internasional
Peningkatan infrastruktur standarisasi
Peningkatan peran aktif dalam kerjasama standarisaisi nasional, regional, multilateral dan
internasional

Tegaknya standar harus didukung oleh stakeholder yaitu:


1. Pemerintah
2. Organisasi profesi
3. Produsen
4. Konsumen
5. Lembaga sertifikasi dan laboratorium.

Kegiatan sertifikasi
1. Sertifikasi sistem manjamen mutu
2. Sertifikasi produk
3. Sertifikasi Inspeksi tekhnis (pengemasan)

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 12


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

4. Sertifikasi pelatihan
5. Sertifikasi hasil uji
6. Sertifikasi sistem manajemen lingkungan
7. Sertifikasi personil

6. Process reviews ( Ulasan Proses ) :

Sistem Manajemen Mutu dan Prosesnya

Pasal 4.4 dari ISO 9001:2015 menerangkan mengenai Proses dalam system manajemen mutu. Ada
2 sub ayat, yaitu 4.4.1 dan 4.4.2.

Maksud dari sub ayat ini adalah untuk memastikan bahwa sistem suatu organisasi sesuai dengan
ISO 9001. Ini mencakup tidak hanya proses produksi dan penyediaan layanan, namun juga
penerapan sistem yang efektif, seperti audit internal, manajemen Review dan lain-lain (termasuk
proses yang dilakukan oleh penyedia eksternal).

Misalnya, jika organisasi menentukan kebutuhan akan proses pemantauan dan pengukuran
sumber daya, proses tersebut perlu memenuhi persyaratan ISO 9001: 2015, 7.1.5. Serta
kemungkinan kemungkinan timbulnya masalah dengan proses dan konsekuensi potensial dari
masalah tersebut.

Proses adalah seperangkat kegiatan yang saling terkait atau berinteraksi yang menggunakan
masukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Untuk ISO 9001: 2015, 4.4.1

organisasi harus menentukan input yang dibutuhkan dan keluaran yang diharapkan dari
prosesnya; Masukan yang dibutuhkan untuk proses harus dipertimbangkan dari sudut pandang
apa yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proses seperti yang direncanakan; Keluaran yang
diharapkan harus dipertimbangkan dari sudut pandang apa yang diharapkan oleh pelanggan atau
proses selanjutnya; Masukan dan keluaran dapat berwujud (misalnya bahan, komponen atau
peralatan) atau tidak berwujud (misalnya data, informasi atau pengetahuan);
Saat menentukan urutan dan interaksi proses ini, hubungan dengan input dan output dari proses
sebelumnya dan selanjutnya harus dipertimbangkan; Metode untuk memberikan rincian urutan
dan interaksi proses; Metode yang berbeda seperti mempertahankan atau mempertahankan
informasi terdokumentasi (misalnya peta proses atau diagram alir), atau pendekatan yang lebih
sederhana, seperti penjelasan lisan tentang urutan dan interaksi proses;
Untuk memastikan bahwa proses efektif (yaitu memberikan hasil yang disepakati), kriteria dan
metode pengendalian proses harus ditentukan dan diterapkan oleh organisasi; Kriteria untuk
pemantauan dan pengukuran bisa berupa parameter proses, atau spesifikasi untuk produk dan
layanan Tujuan kualitas organisasi (kriteria); Metode lain untuk indikator kinerja mencakup
laporan, grafik atau hasil audit;

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 13


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Organisasi harus menentukan sumber daya yang dibutuhkan untuk proses, seperti orang,
infrastruktur, lingkungan untuk pengoperasian proses, pengetahuan organisasi dan pemantauan
dan pengukuran sumber daya (lihat ISO 9001: 2015, 7.1); Pertimbangan mengenai ketersediaan
sumber daya harus mencakup kemampuan dan batasan sumber daya internal yang ada dan hal-
hal yang dapat diperoleh dari penyedia eksternal;
Organisasi harus menetapkan tanggung jawab dan wewenang untuk prosesnya dengan terlebih
dahulu menentukan aktivitas proses dan kemudian menentukan orang-orang yang akan
melakukan kegiatan tersebut; Tanggung jawab dan wewenang dapat ditetapkan dalam informasi
terdokumentasi, seperti bagan organisasi, prosedur terdokumentasi, kebijakan operasional dan
uraian tugas, atau dengan menggunakan pendekatan sederhana dari instruksi lisan;
Organisasi harus memastikan bahwa tindakan yang diperlukan untuk menangani risiko dan
peluang yang terkait dengan proses diimplementasikan (lihat ISO 9001: 2015, 6.1);

7. Major check points ( Cek Poin Utama ) :

Dalam rekayasa dan manufaktur, pengendalian mutu atau pengendalian kualitas melibatkan
pengembangan sistem untuk memastikan bahwa produk dan jasa dirancang dan diproduksi untuk
memenuhi atau melampaui persyaratan dari pelanggan maupun produsen sendiri. Sistem-sistem
ini sering dikembangkan bersama dengan disiplin bisnis atau rekayasa lainnya dengan
menggunakan pendekatan lintas fungsional. ISO 9001:2008 dan TQM (Total Quality Management)
adalah contoh standar dan pendekatan yang digunakan untuk pengendalian mutu.

Pengendalian mutu (Quality Control), atau QC untuk akronimnya, adalah suatu proses yang pada
intinya adalah menjadikan entitas sebagai peninjau kualitas dari semua faktor yang terlibat dalam
kegiatan produksi. Terdapat tiga aspek yang ditekankan pada pendekatan ini, yaitu:

1. Unsur-unsur seperti kontrol, manajemen pekerjaan, proses-proses yang terdefinisi dan telah
terkelola dengan baik, kriteria integritas dan kinerja, dan identifikasi catatan.
2. Kompetensi, seperti pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kualifikasi.
3. Elemen lunak, seperti kepegawaian, integritas, kepercayaan, budaya organisasi, motivasi,
semangat tim, dan hubungan yang berkualitas.
Lingkup kontrol termasuk pada inspeksi produk, di mana setiap produk diperiksa secara visual,
dan biasanya pemeriksaan tersebut menggunakan mikroskop stereo untuk mendapatkan detail
halus sebelum produk tersebut dijual ke pasar eksternal. Seseorang yang bertugas untuk
mengawasi (inspektur) akan diberikan daftar dan deskripsi kecacatan-kecacatan dari produk cacat
yang tidak dapat diterima (tidak dapat dirilis), contohnya seperti keretak atau kecacatan
permukaan. Kualitas dari output akan beresiko mengalami kecacatan jika salah satu dari tiga
aspek tersebut tidak tercukupi.
Penekanan QC terletak pada pengujian produk untuk mendapatkan produk yang cacat. Dalam
pemilihan produk yang akan diuji, biasanya dilakukan pemilihan produk secara acak
(menggunakan teknik sampling). Setelah menguji produk yang cacat, hal tersebut akan dilaporkan
kepada manajemen pembuat keputusan apakah produk dapat dirilis atau ditolak. Hal ini dilakukan
guna menjamin kualitas dan merupakan upaya untuk meningkatkan dan menstabilkan proses
UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 14
MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

produksi (dan proses-proses lainnya yang terkait) untuk menghindari, atau setidaknya
meminimalkan, isu-isu yang mengarah kepada kecacatan-kecacatan di tempat pertama, yaitu
pabrik. Untuk pekerjaan borongan, terutama pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh instansi
pemerintah, isu-isu pengendalian mutu adalah salah satu alasan utama yang menyebabkan tidak
diperbaharuinya kontrak kerja

8. Inspection & acceptance criteria ( Inspeksi dan Kriteria Penerimaan ) :

Pengertian Inspeksi (Inspection) dalam Pengendalian Kualitas – Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Inspeksi diartikan sebagai pemeriksaan seksama, pemeriksaan secara langsung
tentang peraturan, tugas dan lain sebagainya. Jika kata Inspection atau Inspeksi ini kita
aplikasikan ke dalam pengendalian kualitas maka dapat diartikan bahwa Inspeksi atau
Inspection adalah pemeriksaan secara seksama terhadap suatu produk yang dihasilkan
apakah sesuai dengan standar dan aturan yang telah ditetapkan padanya.
Dalam pengendalian kualitas (Quality Control), Inspeksi merupakan salah satu elemen yang
sangat penting. Inspection (Inspeksi) diperlukan untuk memastikan kualitas produk yang
dihasilkan sesuai dengan ketentuan dan standarnya sehingga kepuasan pelanggan dapat
terjaga dengan baik. Selain mengendalikan kualitas dan menjaga kepuasan pelanggan,
Inspeksi juga dapat mengurangi biaya-biaya manufakturing akibat buruknya kualitas
produksi seperti biaya pengembalian produk dari pelanggan, biaya pengerjaan ulang dalam
jumlah banyak dan biaya pembuangan bahan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
Dalam prakteknya pada Industri Manufakturing, Unit kerja yang berkaitan dengan Inspeksi
(Inspection) dan Pengujian (Test) ini bertanggung jawab untuk menilai kualitas bahan-bahan
baku yang dipasok oleh pemasok (supplier) dan produk jadi yang dihasilkan oleh perusahaan
manufakturing itu sendiri apakah telah sesuai dengan karakteristik dan standar yang
ditentukan.
Unit kerja yang bertanggung jawab untuk mendeteksi dan memilah komponen-komponen
yang dipasok oleh pemasok ataupun produk setengah jadi (Semi Products) dari unit kerja
lainnya apakah sudah sesuai dengan standar kualitas yang ditentukan biasanya disebut
dengan IQC (Incoming Quality Control). Sedangkan unit kerja yang bertanggung jawab untuk
inspeksi dan pengujian terhadap produk jadi (finished goods) yang di produksi oleh
perusahaan manufakturing ini biasanya disebut dengan OQC atau Outgoing Quality Control.
Inspeksi atau Inspection pada dasarnya hanya melakukan pengukuran terhadap tingkat
kesesuaian dengan standar dan karakteristik produk yang yang ditentukan dan memisahkan
produk-produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas dengan produk-produk yang
memenuhi standar kualitas yang ditentukan. Jadi pada dasarnya, Inspeksi tidak akan
melakukan penelitan mengapa produk tersebut tidak sesuai dengan standar atau mencari
penyebab ketidaksesuaian (non-conformance) tersebut. Untuk melakukan penelitian
terhadap penyebab ketidaksesuaian, ada pihak tertentu atau unit kerja lainnya yang
melakukannya.

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 15


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Inspeksi merupakan metode yang paling umum digunakan oleh perusahaan manufakturing
untuk mencapai keseragaman kualitas produk dan Standarisasi produk. Jika produk yang
dihasilkan tidak sesuai dengan ketentuan standar dan spesifikasi maka produk tersebut akan
ditolak dan pihak yang bertanggung jawab harus melakukan tindakan perbaikan (corrective
countermeasure) agar tidak terjadi lagi ketidaksesuaian standar di masa yang akan datang.
Tujuan Inspeksi (Inspection) dalam Pengendalian Kualitas
Tujuan dari Inspeksi dalam Quality Control (Pengendalian Kualitas) adalah sebagai berikut :

• Untuk mendeteksi dan menghilangkan bahan baku yang cacat sebelum masuk ke
proses produksi.
• Untuk mendeteksi produk cacat dan produk yang berkualitas rendah terkirim ke
pelanggan.
• Untuk memberikan pemberitahuan kepada Manajemen sebelum suatu masalah
kualitas menjadi serius sehingga manajemen dapat mengambil tindakan-tindakan
yang diperlukan.
• Untuk mencegah keterlambatan pengiriman yang dikarenakan masalah kualitas dan
mengurangi keluhan dari pelanggan.
• Untuk meningkatkan kualitas dan realibilitas produk.
• Manfaat Inspeksi (Inspection) dalam Pengendalian Kualitas
• Membedakan Lot produk yang baik dan Lot produk yang cacat.
• Membedakan unit produk yang baik dan unit produk yang cacat.
• Untuk mengetahui apakah terjadi perubahan pada proses.
• Untuk mengetahui apakah proses produksi berada atau mendekati batas spesifikasi.
• Untuk menilai kualitas produk.
• Untuk mengukur ketepatan alat ukur di produksi.
• Untuk mengukur kemampuan proses.
• Jenis-jenis Inspeksi dalam Pengendalian Kualitas
• Jenis-jenis Inspeksi (Inspection) dalam Pengendalian Kualitas
• Inspeksi atau Inspection dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah
Floor Inspection, Centralized Inspection, Combined Inspection, Functional
Inspection, First Piece Inspection, Pilot Piece Inspection dan Final Inspection. Berikut
ini adalah pembahasan singkatnya.
Floor Inspection adalah Inspeksi yang dilakukan dalam proses produksi. Dalam Floor
Inspection, Inspektor melakukan pemeriksaan terhadap Material atau produk setengah jadi
(Semi Goods) pada proses produksi baik yang dilakukan oleh Manusia maupun Mesin.
Inspektor akan melakukan pemeriksaan dari satu mesin/pekerja ke mesin/pekerja lainnya.
Metode pemeriksaan ini dapat mendeteksi permasalahan lebih awal sebelum produk
tersebut dihasilkan dalam jumlah banyak.

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 16


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Centralised Inspection adalah Inspeksi yang dilakukan pada lokasi tertentu atau
terpusat pada tempat yang ditentukan. Semua Peralatan dan Mesin Pengujian diletakan
pada tempat yang dikhususkan untuk pengujian. Semua sampel produk yang akan dilakukan
pengujian dibawa ke lokasi tersebut untuk dilakukan pengujiannya.
Combined Inspection adalah kombinasi dari Floor Inpection dan Centralised
Inspection.
Functional Inspection adalah Inspeksi terhadap Fungsional pada produk. Seperti
contoh pada pemeriksaan Fungsi sebuah Motor, Inspeksi Fungsional akan memeriksa
karakteristik kecepatan motor tersebut sesuai dengan yang ditentukan tanpa harus
mengetahui karakteristik masing-masing komponen pembentuk motor itu. Functional
Inspection pada umumnya dilakukan setelah sebuah produk sudah menjadi Produk Jadi
(Finished Goods).
First Piece Inspection adalah Inspeksi yang dilakukan terhadap unit pertama. Unit
pertama yang dimaksud ini bisa jadi adalah unit pertama pada pergantian shift kerja, unit
pertama pada pergantian LOT produk, unit pertama pada pergantian alat kerja ataupun unit
pertama pada pergantian parameter mesin.
Pilot Piece Inspection adalah inspeksi yang dilakukan terhadap produk baru ataupun
model-model baru.
Final Inspection adalah Inspeksi yang dilakukan pada Produk Jadi (Finished Goods).
Final Inspection ini memeriksa karakteristik produk secara menyeluruh baik Fungsional
maupun Kosmetiknya. Final Inspection ini dilakukan sebelum produk jadi tersebut
dikirimkan ke pelanggan.
Metode-metode Inspeksi (Inspection) dalam Pengendalian Kualitas
Terdapat dua metode dalam melakukan Inspeksi (Inspection) yaitu metode Inspeksi 100%
(100% Inspection) dan metode Inspeksi secara sampling (Sampling Inspection).
Metode Inspeksi 100% (100% Inspection) adalah Inspeksi yang dilakukan terhadap semua
jumlah produk yang dihasilkan oleh produksi dan teknik pengujian yang digunakan tidak
boleh bersifat destruktif (tidak merusak produk). Metode Inspeksi 100% memerlukan tenaga
kerja yang banyak dan biaya yang tinggi. Metode Inspeksi 100% ini biasanya diaplikasikan
pada produk-produk yang berharga tinggi.
Metode Inspeksi secara Sampling (Sampling Inspection) adalah Inspeksi yang dilakukan
terhadap jumlah sampel tertentu dari total jumlah produk yang diproduksi pada rentang
waktu tertentu. Sampel yang diambil pada umumnya adalah sampel acak (random sample)
yang mewakili keseluruhan populasi produk (umumnya berdasarkan model, tenaga kerja,
mesin ataupun rentang waktu tertentu). Jika dalam Inspeksinya terbukti mendeteksi adanya
produk cacat maka keseluruhan produk yang terkait akan ditolak (rejected) dan harus
dilakukan pengerjaan ulang atau disortir ulang. Pemeriksaan atau Inspeksi Sampling ini lebih
murah dan lebih cepat namun memiliki risiko terjadinya kesalahan sample (sampling error).
Kesalahan Sampling ini biasanya dapat diperkirakan.

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 17


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Dalam kasus pengujian yang bersifat destruktif yaitu pengujian yang dapat merusak produk
yang bersangkutan, Inspeksi sampling ini sangat dianjurkan.
Metode Inspeksi Sampling ini biasanya dilakukan pada produk-produk yang kurang presisi
dan tidak berharga mahal.

Kriteria Penerimaan

Kriteria penerimaan (acceptance criteria) adalah sebuah batas mengenai derajat ketidaksesuaian
yang diizinkan dalam bahan atau produk yang dinyatakan dalam syarat operasional yang definitif.
Dalam hal ini yang dimaksud ialah perihal apa saja yang terkait dengan kriteria penerimaan
dengan menggunakan sampel dari hasil produksi

Rencana Penerimaan Sampel

Rencana penerimaan sampel (Acceptance Sampling Plans) adalah prosedur yang


digunakan dalam mengambil keputusan terhadap produk-produk yang dihasilkan
perusahaan. Bukan merupakan alat pengendalian kualitas, namun alat untuk memeriksa
apakah produk yang dihasilkan tersebut telah memenuhi spesifikasi. Acceptance sampling
digunakan karena alasan : a) Dengan pengujian dapat merusak produk. b) Biaya inspeksi
yang tinggi. c) 100 % inspeksi memerlukan waktu yang lama, dll.

Keunggulan dan Kelemahan Penerimaan Sampel


Beberapa keunggulan dan kelemahan dalam penerimaan sampel. Keunggulan al :biaya
lebih murah, meminimalkan kerusakan, mengurangi kesalahan dalam inspeksi, dapat
memotivasi pemasok bila ada penolakan bahan baku. Sedang kelemahannya al : adanya
resiko penerimaan produk cacat atau penolakan produk baik, membutuhkan perencanaan
dan pendokumentasian prosedur pengambilan sampel., Tidak adanya jaminan mengenai
sejumlah produk tertentu yang akan memenuhi spesifikasi., Sedikitnya informasi mengenai
produk.

Jenis Penerimaan Sampel


Ada dua jenis pengujian dalam penerimaan sampel : 1). Pengujian sebelum pengiriman
produk akhir ke konsumen. Pengujian dilakukan oleh produsen disebut the producer test
the lot for outgoing. 2). Pengujian setelah pengiriman produk akhir ke konsumen. Pengujian
dilakukan oleh konsumen disebut the consumer test the lot for incoming quality.

Penggunaan Penerimaan Sampel


Penerimaan sampel dapat dilakukan untuk data atribut data variable. Acceptance
Sampling untuk data atribut dilakukan apabila inspeksi mengklasifikasikan sebagai produk
baik dan produk cacat tanpa ada pengklasifikasian tingkat kesalahan/cacat produk.
Penerimaan sampel untuk data variabel, karakteristik kualitas ditunjukkan dalam setiap
sample, sehingga dilakukan pula perhitungan rata-tata sampel dan penyimpangan atau
deviasi standar. Teknik pengambilan sampel dalam penerimaan sampel yaitu 1) Sampel
tunggal, 2) sampel ganda dan 3) sampel banyak. Sedangkan syarat pengambilan produk
sebagai sampel adalah produk harus homogen, produk yang diambil sebagai sample harus
sebanyak mungkin, sampel yang diambil harus dilakukan secara acak.

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 18


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Untuk pengambilan sampel prosedur yang dilakukan :

1. Sejumlah produk yang sama N unit


2. Ambil sample secara acak sebanyak n unit
3. Apabila ditemukan kesalahan d sebanyak maksimum c unit, maka sample diterima.
4. Apabila ditemukan kesalahan d melebihi c unit, maka sample ditolak, yang berarti
seluruh produk yang homogen yang dihasilkan tersebut juga ditolak.

Indeks Kualitas Dalam penerimaan sampel

• AQL (Acceptance Quality Level atau tingkat kualitas yang dapat diterima menurut
produsen)

Merupakan proporsi maksimum dari cacat atau kesalahan yang diperbolehkan.


Produsen selalu menghendaki probabilitas penerimaan pada tingkat yang cukup tinggi
(biasanya 0,99 atau 0,95). Sehingga produsen menginginkan semua produk yang baik dapat
diterima atau meminimalkan risiko produsen.

Risiko produsen (α) adalah risiko yg diterima karena menolak produk baik dalam
inspeksinya.
Dengan kata lain produsen menginginkan probabilitas penerimaan(Pa) dekat dengan 1
(satu). Probabilitas kesalahan tipe I =α = 1 – Pa. Hal sebaliknya adalah resiko Konsumen.

• LQL (Limiting Quality Level atau tingkat kualitas menurut konsumen)

Merupakan kualitas ketidakpuasan atau tingkat penolakan.


Probabilitas penerimaan LQL harus rendah, probabilitas tersebut disebut risiko konsumen
(β) atau kesalahan tipe II, yaitu risiko yang dialami konsumen karena menerima produk yang
cacat atau tidak sesuai.
LQL sering disebut dg LTPD (Lot Tolerance Percent Defective).

• IQL (Indifference Quality Level )

Tingkat kualitas diantara AQL dan LQL atau tingkat kualitas pada probabilitas 0.5 untuk
rencana sampel tertentu.

• AOQL (Average Outgoing Quality Level)

Perkiraan hubungan yang berada diantara bagian kesalahan pada produk sebelum inspeksi
(incoming quality) atau p dari bagian sisa kesalahan setelah inspeksi (outgoing quality) atau
AOQ = p x Pa.
Apabila incoming quality baik, maka outgoing quality juga harus baik, namun bila incoming
quality buruk, maka outgoing quality akan tetap baik. Dengan kata lain incoming quality baik
atau buruk, outgoing quality akan cenderung baik.

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 19


MANAJEMEN KUALITAS AC 7176

Sumber Referensi:

http://aulia-ngeblog.blogspot.com/2010/02/definisi-organisasi-dan-metode.html

http://hmti.wordpress.com/2008/02/22/definisi-dan-pengertian-organisasi/

http://dhie91boy.blogspot.com/2010/06/sisitem-standarisasi-mutu.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Pengendalian_mutu

https://jojonomic.com/blog/quality-control/

https://wqa-apac.com/sistem-manajemen-mutu-dan-prosesnya/

https://haidibarasa.wordpress.com/2015/08/11/pengertian-milestone-dan-contoh-desainnya/

https://www.pengadaan.web.id/2018/10/pengertian-milestone-dalam-manajemen-proyek.html

https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/milestone-adalah-pengertian-tujuan-tahapan-dan-
kriteria-milestone-yang-efektif-70

https://kumparan.com/kumparanmom/apa-itu-milestones

https://sites.google.com/site/kelolakualitas/Pengendalian-Kualitas-Statistik/Rencana-Sampel-
Penerimaan

https://fadlysutrisno.wordpress.com/2010/07/20/manajemen-proyek/

https://sites.google.com/site/operasiproduksi/manajemen-kualitas

https://jurnalmanajemen.com/manajemen-mutu/

UNIVERSITAS DR. SOETOMO | TEKNIK SIPIL | 2016410024 | AJI NUGROHO 20