Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di negara sedang berkembang maupun di negara maju, penyakit infeksi masih
merupakan masalah medis yang sangat penting oleh karena angka kematiannya masih
cukup tinggi.Diantara penyakit infeksi yang sangat berbahaya adalah infeksi Susunan
Saraf Pusat (SSP) termasuk ke dalamnya meningitis.Meningitis yang juga disebut
leptomeningitis atau arachnoiditis adalah suatu reaksi peradangan (inflamasi) pada
selaput otak (meningen) yang melapisi otak dan medulla spinalis, sehingga melibatkan
arachnoid, piameter dan cairan serebrospinal (CSS).
Bakteri penyebab meningitis bermacam-macam antara lain yaitu Neisseria
meningitidis, Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Listeria
monocytogenes, bakteri batang gram negatif (E.coli, Pseudomonas aeruginosa), dan lain-
lain. Penyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang
utama.Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi
susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis
merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka
kecacatan 30-50%.
Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian
penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus influenzae tipe B
ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis. Pada penelitian lanjutan, didapatkan
38% penyebab meningitispada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995
meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi,
dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis
yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 – 100 per
100.000 populasi pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per
tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%,
retardasi mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.

1
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Medical Bedah I.


2. Memahami Konsep Teoritis Penyakit leukemia.
3. Mengetahui Klasifikasi Penyakit leukemia.
4. Mengetahui Etiologi Penyakit Leukemia
5. Mengetahui Patofisiologi Penyakit Leukemia
6. Mengetahui Manifestasi Klinis dari Penyakit Leukemia
7. Mengetahui Penatalaksanaan Penyakit Leukimia
8. Mengetahui Terapi Diet Yang Diperlukan Untuk Pasien Leukemia.
9. Malakukan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Leukemia
10. Memahami Kesesuaian Antara Kasus Dan Teori

C. Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak,
khususnya kepada mahasiswa keperawatan untuk menambah pengetahuan dan wawasan
tentang penyakitMeningitis serta diharapkan dapat melakukan Asuhan Keperawatan pada
pasien dengan penyakit Meningitis.

2
BAB II
TEORITIS KASUS

A. Definisi Meningitis
Meningitis adalah radang pada meningen/membran (selaput) yang mengelilingi
otak dan medula spinalis (Muttqin,2010). Meningitis adalah radang selaput otak yang
dapat disebabkan oleh virus atau bakteri.
Meningitis adalah inflamasi lapisan si sekiling otak dan medula spinalis yang
disebabkan oleh bakteri atau virus.Meningitis diklasifikasikan sebagai meningitis septik
atau aseptik.Bentuk aseptik mungkin merupakan dampak primer atau sekunder dari
limfoma, leukimia, atau HIV.Bentuk septik disebabkan oleh bakteri seperti
Streptococcuspneumoniae dan Nesseria meningitides.

B. Klasifikasi Meningitis
Berdasarkan perubahan pada cairan otak:
1. Meningitis serosa
Radang selaput otak araknoid dan plamater (cairan otak jernih)
Penyebab : Mycobacterium tuberculosa (penyebab terseringnya), virus, toxoplasma
Gandhi, riketsia.
2. Meningitis purulenta
Radang bernanah pada araknoid dan plamater yang meliputi otak dan medulla
spinalis.
Penyebab : pneumokokus, meningokokus, streptokokus hemolitikus, stapilokokus
aureus, hemopilus influenza, Escherichia coli, peudmonas aeruginosa, Neisseria
meningitis.
Berdasarkan penyebabnya:
1. Meningitis Bakteria.
Salah satu infeksi yang menyerang susunan saraf pusat, mempunyai resiko tinggi
dalam menimbulkan kematian & kecacatan. (bersifat purulenta)
S. Pneumonie : mengaktifkan imunoglobulin A protease yang menonaktifkan antibodi
local
N. Meningitis : biasanya menginvasi dan membentuk koloni koloni di sel sel faring

3
2. Meningitis Tuberkulosi
Bukan karena terinfeksinta selaput otak, melainkan tuberkel pada permukaan otak,
peradangan ditemukan sebagian besar di otak, terutama pada batang otak tempat
terdapat eksudat dan tuberkel.
3. Meningitis Viral/ Aseptik
Terjadi sebagai akibat dari berbagai penyakit seperti campak, herpes simpleks, herpes
zooster, tidak terbentuk adanya eksudat di CSS, melainkan adanya inflamasi pada
korteks serebri, kerusakan jaringan otak tergantung dari jenis sel yang terkena.
4. Meningitis Jamur
Termasuk kejadian yang cukup langka, biasanya merupakan dampak dari penyebaran
jamur melalui darah ke sumsum tulang belakang.Meskipun siapapun dapat terkena
meningitis jamur, namun orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti
penderita HIV, kanker dan penyakit tertentu adalah yang paling berisiko.Penyebab
meningitis jamur yang paling sering pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh
yang lemah adalah Cryptococcus. Cryptococcus menjadi penyebab meningitis paling
umum pada orang dewasa di Afrika.

C. Etiologi Meningitis
1. Bakteri
Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri yang
secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah :
a. Haemophillus influenza e. Staphylococcus aureus
b. Nesseria meningitides f. Escherichia coli
(meningococcal) g. Klebsiella
c. Diplococcus pneumoniae h. Proteus
(pneumococcal) i. Pseud
d. Streptococcus, grup A

2. Virus
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini
biasanya bersifat “self-limitting”, dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan
penyembuhan bersifat sempurna
3. Jamur
4. Protozoa

4
D. Patofisiologi Meningitis
Kuman-kuman masuk kedalam susunan saraf pusat secara hematogen atau
langsung menyebar dari kelainan di nasofaring, paru-paru
(pneumonia,bronkopneumonial), dan jantung (endokarditis).Selain itu per
kontinuitatum dari peradangan organ atau jaringan didekat selaput otak misalnya
abses otak,otitis media,mastoidisis dan thrombosis sinus kavernosus,invasi kuman-
kuman (meningokok,pnuomokok,hemifilus influenza,streptokok) kedalam ruang
subaraknoid menyebakan reaksi radang pada pia dan araknoid,CSS dan system
ventrikulus.

Mula - mula pembuluh darah meningeal yang kecil dan sedang mengalami
hipertermi:dalam waktu yang sangat singkat terjadi penyebaran sel-sel leukosit
polimorfonuklear ke dalam ruang subaraknoid,kemudian terbentuk eksudat.Dalam
beberapa hari terjadi pembentukan limfosit dan histiosit dan dalam minggu kedua sel
sel plasma.Eksudat yang terbentuk terdiri dari dua lapisan,bagian luar mengandung
leukosit polimorfonuklear dan fibrin sedangkan di lapisan dalam terdapat makrofag.

Proses radang selain pada arteri juga terjadi pada vena-vena di korteks dan
dapat menyebabkan thrombosis,infark otak,edema otak dan degenerasi neuron-
neuron.Dengan demikian meningitis bacterial dapat dianggap sebagai ensefalisis
superficial.Trombosit serta organisasi eksudat perineural yang fibrino-purulen
menyebabkan kelainan nervi krabiales (Nn.III,IV,VI,dan VIII).Organisasi diruang
subaraknoid superficial dapat menghambat aliran dan absorbs CSS,sehingga
mengakibatkan hidrosefalus komunikan.

E. Menifestasi Klinis Meningitis


Menurut,Manifestasi Klinis dari Meningitis berupa :
1. Sakit kepala dan demam sering kali menjadi gejalan awal; demam cenderung
tetap tinggi selama proses penyakit; sakit kepala biasanya tidak kunjung hilang
atau berdenyut dan sangat parah akibat iritasi meningeal.
2. Iritasi meningeal memunculkan sejumlah tanda lain yang dikenali dengan baik
sebagai tanda umum semua jenis meningitis :
a. Kaku kuduk adalah tanda awal

5
b. Tanda Kering positif : Ketika berbaring dengan paha difleksikan pada
abdomen, pasien tidak dapat mengekstensikan tungkai secara komplet.
c. Tanda Brudzinski positif : Memfleksikan leher pasien menyebabkan fleksi
lutut dan panggul; fleksi pasif pada ekstermitas bawah disatu sisi tubuh
menghasilkan pergerakan yang serupa dieksteermitas sisi yang lain.
d. Fotofobia (sensitivitas terhadap cahaya) biasa terjadi.
3. Ruam (N. Meningitidis): berkisar dari ruam petekie dengan lesi purpura sampai
area ekomosis yang luas.
4. Disorientasi dan gangguan memori; manifestasi perilaku juga sering terjadi saat
penyakit berlanjut, pasien dapat mengalami letargi, tidak responsif, dan koma.
5. Kejang dapat terjadi dan merupakan akibat dari area iritabilitas di otak; ICP
meningkat sekunder akibat perluasan pembengkakan di otak atau hidrosealus;
tanda awal peningkatan ICP mencakup penurunan tingkat kesadaran dan defisit
motorik fokal.
6. Infeksi fulminal akut terjadi pada sekitar 10% pasien meningitis meningokokal,
memunculkan tanda-tanda septikemia yang berlebihan: awitan demam tinggi, lesi
purpurik ekstensif (di wajah dan ekstermitas), syok dan tanda koagulasi
intravaskular diseminta (DIC) terjadi searah mendadak; kematian dapat terjadi
dalam beberapa jam setelah awitan infeksi.

F. Penatalaksanaan Meningitis
1. Terapi antibiotik diberikan secepatnya setelah didapatkan hasil kultur. Pada orang
dewasa, Benzyl penicillin G dengan dosis 1-2 juta unit diberikan secara intravena
setiap 2 jam.Pada anak dengan berat badan 10-20 kg. Diberikan 8 juta unit/hari,anak
dengan berat badan kurang dari 10 kg diberikan 4 juta unit/hari.
2. Ampicillin dapat ditambahkan dengan dosis 300-400 mg/KgBB/hari untuk dewasa
dan 100-200 mg/KgBB/ untuk anak-anak. Untuk pasien yang alergi terhadap
penicillin, dapat dibrikan sampai 5 hari bebas panas.
3. Terapi suportive seperti memelihara status hidrasi danoksigenasi harus diperhatikan
untuk keberhasilan terapi. Untuk DIC, beberapa penulis merekomendasikan
pemberian heparin 5000-10.000 unit diberikan dengan pemberian cepat secara
intravena dan dipertahankan pada dosis yang cukup untuk memperpanjang clotting
time danpartial thromboplastin time menjadi 2 atau 3 kali harga normal. Untuk
mengontrol kejang diberikan anticonvulsan.Pada udem cerebri dapat diberikan

6
osmotik diuretik atau corticosteroid, tetapi hanya bila didapatkan tanda awal dari
impending herniasi.

G. Terapi Diet Pasien Meningitis

1. Asam Lemak Omega-3

Menurut Maryland Medical Center, makanan yang tinggi akan kandungan


asam lemak omega-3 dapat membantu mengurangi peradangan yang disebabkan oleh
meningitis. Selain itu, juga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh.Asam lemak
omega-3 yang mengandung lemak tak jenuh ganda sangat penting untuk otak dan juga
berfungsi untuk mengurangi peradangan.Asam lemak omega-3 dapat ditemukan pada
beberapa jenis ikan seperti tuna, halibut dan salmon yang juga memiliki kandungan
asam lemak esensial.Untuk beberapa jenis makanan lainnya yang mengandung asam
lemak omega-3 dapat Anda temukan pada biji rami, kedelai, walnut, biji labu dan
minyak yang terbuat dari kacang-kacangan dan biji-bijian.

2. Probiotik

Yogurt yang mengandung probiotik dapat membantu mengurangi masalah pencernaan


yang kerap terjadi pada mereka yang memiliki meningitis.Probiotik dalam bentuk
suplemen atau makanan dengan bakteri sehat juga meningkatkan sistem kekebalan
tubuh, membantu melawan infeksi meningitis. Probiotik mengandung strain bakteri
alami sehat yang terdapat dalam perut Anda.Selain yogurt, makanan lain yang
mengandung probiotik terdapat pada susu dan keju. Tempe, produk kedelai yang
mengandung bakteri sehat, dan miso efektif lainnya juga merupakan sumber
probiotik.

3. Fitokimia

Estrogen tanaman, atau fitokimia seperti genistein, dapat menghambat


aktivitas kimia yang berhubungan dengan meningitis, menurut Life Extension
Foundation.Genistein adalah isoflavon dan fitoestrogen yang dapat mengurangi
keparahan gejala dan dapat memainkan peran dalam pencegahan meningitis.Genistein
dapat di temukan pada kedelai dan makanan yang dibuat dengan protein kedelai. Susu
kedelai, tahu, tempe dan miso adalah sumber genistein yang efektif.

7
4. VitaminC

Makanan yang tinggi akan kandungan vitamin C dapat melindungi Anda


terhadap komplikasi serius jika Anda terkena meningitis yang disebabkan karena
bakteri.Sifat antioksidan dan vitamin pada makanan yang kaya akan kandungan
vitamin C membantu melawan radikal bebas yang akan melemahkan sistem
kekebalan tubuh.Vitamin C juga dapat membatu kemampuan tubuh untuk melawan
infeksi dan mengobati meningitis karena bakteri. Sumber makanan yang efektif
mengandung vitamin C selain pada buah jeruk dapat juga Anda temukan pada tomat,
cantaloupe, paprika merah mentah, brokoli, strawberry dan kiwi.

5. Istirahat Secara Total


Istirahat total sangat di perlukan bagi penderita penyakit meningitis, terutama
istirahat dari aktivitas-aktivitas berat yang memerlukan banyak tenaga dan pikiran.
Istirahat yang terbaik bagi penyakit meningitis adalah dengan tidur sebanyak
mungkin.

6. Diet Makanan
Makanan yang di konsumsi oleh penderita penyakit meningitis, haruslah
berbeda dengan makanan yang di konsumsi oleh masyakat pada umumnya.Adapun
makanan yang di anjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita penyakit meningitis
antara lain seperti kacang - kacangan, buah, sayur dan sereal. Selain makanan jenis
tersebut, usahakan untuk mengurangi atau menghindari sebisa mungkin.

7. Mandi Air Hangat


Mandi dengan air hangat bertujuan agar meminimalisir sakit kepala yang
disebabkan oleh peradangan di selaput otak.Usahakan untuk mandi dengan air hangat
di atassuhu 35 derajat celcius setiap harinya.

H. Pemeriksaan Penunjang Meningitis


1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :

a. Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel


darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap
beberapa jenis bakteri.

8
b. Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah
putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya
negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.

2. Glukosa serum : meningkat ( meningitis )

3. LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )

4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri )

5. Elektrolit darah : Abnormal .

6. ESR/LED : meningkat pada meningitis

7. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat


infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi

8. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak


ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor

9. Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.

9
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN MENINGITIS

A. Kasus
Seorang pria berumur 21 tahun,datang ke RS dengan keluhan merasa kurang enak dan
sakit kepala,muntah,kaku kuduk,dan nyeri punggung.Pasien berfikir dirinya terkena “flu”
karena menderita pilek dan hidung tersumbat seminggu lalu.Hasil pengkajian pasien
tampak kemerahan dan kulitnya teraba panas serta kering.Hasil pemeriksaan
menunjukkan TD : 102/60 mmHg,nadi 96 RR 24x/menit dan suhu tubuh 38,3˚C .
Pada pemeriksaan,pasien mengalami kaku kuduk dan saat dilakukan refleksi pasif
pada leher,pinggul serta lutut john juga mengalami fleksi secara involunter dan dia
menjerit kesakitan.Pasien tidak dapat meluruskan lutut ketika lutut difleksikan ke atas
perut.ketika dilakukan pemeriksaan reaksi pupil,pasien memejamkan mata dengan kuat
dan mengeluh bahwa cahaya terang menyakitkan matanya.Pasien mudah marah dan
ingin dibiarkan sendiri.

B. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama : Bpk john
Umur : 21 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : garegeh
Agama : islam
Tanggal Masuk RS : 1 Desember 2019
Tanggal Pengkajian : 1 Desember 2019
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama Pasien
Pasien Mengeluh merasa kurang enak dan sakit kepala,muntah,kaku
kuduk,dan nyeri punggung.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien berfikir dirinya terkena “flu” karena menderita pilek dan hidung
tersumbat seminggu lalu.

10
3. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda Vital :
TD : 102/60 mmHg
Nadi : 96x/menit
RR : 24x/menit
Suhu : 38,3 ºC
b. Pemeriksaan Muskuloskeletal
Saat dilakukan refleksi pasif pada leher,pinggul serta lutut john juga
mengalami fleksi secara involunter dan dia menjerit kesakitan.Pasien tidak dapat
meluruskan lutut ketika lutut difleksikan ke atas perut.ketika dilakukan
pemeriksaan reaksi pupil.
C. Data focus
1. Data subjektif
a. Pasien mengeluh merasa kurang enak
b. Sakit kepala
c. Muntah
d. Kaku kuduk
e. Nyeri punggung
f. Pasien mengeluh flu
2. Data objektif
a. Pasien tampak kemerahan
b. kulit teraba panas serta kering
c. TD : 102/60 mmHg
d. Nadi 96x/menit
e. RR 24x/menit
f. Suhu tubuh 38,3˚C
g. Hasil pemeriksaan kaku kuduk (+)
h. Pasien tidak refleks terhadap cahaya
i. Mudah marah
j. ingin dibiarkan sendiri

11
D. Analisa Data

No Data Masalah Etiologi


1. DS : Resiko Infeksi Peningkatan
a. Pasien mengeluh flu paparan organisme
DO : patogen lingkungan
b. Pasien tampak kemerahan
c. Kulit teraba panas serta
kering
d. TD 102/60 mmHg,
e. Nadi 96x/menit
f. RR 24x/menit
g. suhu tubuh 38,3˚C.
h. hasil pemeriksaan kaku
kuduk (+)
i. Pasien tidak refleks terhadap
cahaya
2. DS : Resiko Perfusi
a. Pasien mengeluh merasa Serebral Tidak
kurang enak badan Efektif
b. Pasien mengeluh sakit kepala
c. Pasien mengeluh flu
DO :
a. TD 102/60 mmHg,
b. Nadi 96x/menit
c. RR 24x/menit
d. suhu tubuh 38,3˚C.
e. hasil pemeriksaan kaku
kuduk (+)
f.
3. DS : Nyeri akut Agen pencidera
a. pasien mengatakan sakit fisiologis
kepala,muntah,kaku
kuduk,dan nyeri punggung

Do :

12
a. P (penyebab)
b. Q (quality)
c. R (regio)
d. S (skala)
e. T (time)
4. DS : Nausea Tekanan
a. Pasien mengeluh muntah intrakranial
lebih dari 3x sehari
b. Pasien mengeluh flu selama
seminggu yang lalu
DO:
a. reaksi pupil,pasien
memejamkan mata dengan
kuat dan mengeluh bahwa
cahaya terang menyakitkan
matanya
b. TD : 102/60 mmHg,
c. nadi 96x/menit
d. RR 24x/menit
e. suhu tubuh 38,3˚C.
f. pasien refleks terhadap
cahaya
5. DS : Hipertermi Proses penyakit
a. pasien mengeluh merasa
kurang enak badan
b. pasien mengeluh sakit kepala
c. pasien mengeluhmuntah

DO :
a. TD 102/60 mmHg,
b. Nadi 96 x/menit
c. RR 24x/menit
d. suhu tubuh 38,3˚C
e. kulit terasa panas
f. kemerahan serta kering

6. DS : Defisit Kurang terpapar


a. Pasien berfikir dirinya Pengetahuan informasi penyakit

13
terkena “flu” karena
menderita pilek dan hidung
tersumbat seminggu lalu
DO :
a. Pasien mudah marah dan
ingin dibiarkan sendiri

E. DiagnosaKeperawatan.
1. Resiko Infeksi b/d peningkatan paparan organisme patogen lingkungan
2. Resiko Perfusi Serebral Tidak Efektif b/d
3. Nyeri akut b/d Agen pencidera fisiologis
4. Neusea b/d peningkatan tekanan intrakranial
5. Hipertermi b/d proses penyakit
6. Deficit Pengetahuan b/d kurang terpapar informasi penyakit

F. Intervensi keperawatan
NO RENCANA KEPERAWATAN
SDKI
SLKI SIKI
1. Resiko infeksi b/d Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Infeksi
peningkatan keperawatan selama 2x24 jam Observasi : monitor tanda
paparan organisme diharapkan resiko infeksi gejala infeksi lokal dan
patogen lingkungan pasien menurun dengan sistemik
criteria hasil : Terapeutik :
a. Kemerahan 1 a. Cuci tangan sebelum
(meningkat) menjadi dan sesudah kontak
3 (sedang) dengan pasien dan
b. Nyeri 1 (meningkat) lingkungan pasien
menjadi 4 (cukup b. Pertahankan teknik
menurun) aseptik pada pasien
c. Demam 1 (meningkat) beresiko tinggi
menjadi 4 (cukup Edukasi :
a. Jelaskan tanda dan
menurun)
gejala infeksi
b. Ajarkan cara mencuci
tangan dengan benar

14
c. Anjurkan
meningkatkan asupan
nutrisi
d. Anjurkan
meningkatkan asupan
cairan
2. Resiko Perfusi Setelah dilakukan tindakan Pemantauan Tekanan
Serebral Tidak
keperawatan selama 3x24 jam Intrakranial
Efektif b/d
diharapkan perfusi serebral Observasi :
pasien kembali efektif dengan a. Identifikasi penyebab
criteria hasil : peningkatan TIK
a. Kognitif 1 (menurun) b. Monitor perlambatan
menjadi 4 (cukup atau
meningkat) ketidaksemitresan
b. Sakit kepala 1 respon pupil
(meningkat) menjadi c. Monitor tekanan
3 (sedang) perfusi serebral
c. Demam 1 (meningkat) Teraupetik
a. Ambil sampel
menjadi 4 (cukup
drainase cairan
menurun) serebro spinal
b. Pertahankan sterilisasi
sistem pemantauan
c. Pertahankan posisi
kepala dan leher netral
d. Dokumentasi hasil
pemantauan
Edukasi :
Informasikan hasil
pemantauan
3. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri :
berhubungan perawatan selama 2x 24 jam Observasi
dengan agen diharapkan nyeri pada pasien a. Identifikasi
pecedera fisik menurun dengan criteria hasil lokasi,karakteristik,du
: rasi,frekuensi,kualitas,
a. Keluhan nyeri 1 intensitas nyeri
(meningkat) menjadi b. Identifikasi skala
3 (sedang) nyeri
b. Pupil dilatasi 1 c. Identifikasi respon

15
(meningkat) menjadi nyeri non verbal
3 (sedang) d. Identifikasi
c. Muntah 1 (meningkat) pengetahuan dan
menjadi 4 (cukup keyakinan tentang
menurun) nyeri
d. Proses berfikir 1 Teraupetik
(memburuk) menjadi a. Berikan terapi
3 (sedang) nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
b. Control lingkungan
yang memperberat
nyeri
Edukasi
a. Jelaskan
penyebab,oeriode dan
pemicu nyeri
b. Jelaskan strategi
meredkan nyeri
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
analgetik
4. Nausea Setelah dilakukan Manajemen muntah
berhubungan
keperawatan selama 2x24 jam Observasi
dengan
peningkatan diharapkan pasien rasa mual a. identifikasi
tekanan intracranial karakteristik muntah
muntah pasien menurun
b. periksa volume muntah
dengan criteria hasil: c. identifikasi factor
penyebab muntah
a. perasaan ingin
d. monitor keseimbangan
muntah:1 (meningkat) cairan dan elektrolit
Teraupetik
menjadi 5 (menurun)
a. control fakror
b. dilatasi pupil:1 lingkungan penyebab
muntah
(meningkat) menjadi
b. kurangi atau hilangkan
5 (menurun) keadaan penyebab
muntah
Edukasi
Anjurkan memperbanyak
istirahat
Kolaborasi

16
Kolaborasi pemberian
antiemetic

5. Hipertermi b/d Setelah dilakukan tindakan Manajement hipertermia :


proses penyakit
keperawatan selama 2x24 jam Observasi
diharapkan pasien tidak a. identifikasi penyebab
mengalami hipertermi dengan hipertermia
criteria hasil : b. monitor suhu tubuh
a. sakit kepala : 1 c. monitor komplikasi
(meningkat) menjadi akibat hipertermia
5 (menurun) Teraupetik
b. kulit merah :1 a. sediakan lingkungan
(meningkat) menjadi yang dingin
5 (menurun) b. berikan cairan oral
c. suhu tubuh : 1 c. lakukan pendinginan
(meningkat) menjadi eksternal
5 (menurun) Edukasi
d. suhu kulit :1 ajarkan tirah baring
(meningkat) menjadi
Kolaborasi
5 (menurun) kolaborasi pemberian
cairan dan elektrolit
intravena
6. Deficit Setelah dilakukan Edukasi kesehatan :
pengetahuan keperawatan selama 2 x 24 Observasi
berhubungan jam diharapkan klien mampu identifikasi kesiapan dan
dengan kurang dengan criteria hasil : kemampuan menerima
terpapar dengan a. Persepsi yang keliru informasi
informasi terhadap masalah:1 Teraupetik
(meningkat) menjadi
a. sediakan materi dan
5 (menurun)
media pendidikan
b. Perilaku sesuai
kesehatan
anjurang:1
b. jadwalkan pendidikan
(meningkat) menjadi
kesehatan
5 (menurun)
c. Berikan kesempatan
c. Pertanyaan tentang

17
masalah yang untuk bertanya
dihadapi : 1 Edukasi
jelaskan factor resiko yang
(meningkat) menjadi
dapat mempengaruhi
5 (menurun) kesehatan
d. Perilaku sesuai
dengan pengetahuan:1
(meningkat) menjadi
5 (menurun)

G. Implementasi
NO SDKI IMPLEMENTASI EVALUASI
1. Resiko infeksi Pencegahan Infeksi S:
a. Memonitor tanda gejala a. Pasien
mengatakan masih
infeksi lokal dan sistemik sering mengalami
b. Mencuci tangan sebelum dan kaku kuduk
O:
sesudah kontak dengan a. Pasien tampak
pasien dan lingkungan pasien tidak mengalami
sakit kepala
c. Mempertahankan teknik A:
aseptik pada pasien beresiko a. Masalah belum
teratasi
tinggi
P:
d. Menganjurkan meningkatkan a. Lanjutkan
asupan nutrisi intervensi
(pencegahan
e. Menganjurkan meningkatkan infeksi)
asupan cairan
2. Resiko Perfusi Pemantauan Tekanan S:
Serebral Tidak Intrakranial a. Pasien
mengatakan tidak
Efektif a. Identifikasi penyebab sakit melihat
peningkatan TIK cahaya lagi
b. Monitor perlambatan atau O:
ketidaksemitresan respon a. Restraksi pupil
pupil pasien telah
c. Monitor tekanan perfusi kembali normal
serebral A:
a. Masalah teratasi
Teraupetik
a. Ambil sampel drainase P:

18
cairan serebro spinal a. Intervensi
b. Pertahankan sterilisasi dihentikan
sistem pemantauan
c. Pertahankan posisi kepala
dan leher netral
d. Dokumentasi hasil
pemantauan
Edukasi :
Informasikan hasil pemantauan
3 Nyeri akut Manajemen nyeri : S:
berhubungan dengan Observasi a. Pasien
mengatakan nyeri
agen pecedera fisik a. Identifikasi yang dirasakan
dibuktikan dengan lokasi,karakteristik,durasi, sudah berkurang
b. Pasien
frekuensi,kualitas,intensita mengatakan tidak
s nyeri mengalami sakit
kepala lagi
b. Identifikasi skala nyeri O:
c. Identifikasi respon nyeri a. Pasien tampak
tidak meringis
non verbal kesakitan lagi
d. Identifikasi pengetahuan b. Pasien tidak
mengalami kaku
dan keyakinan tentang kuduk lagi
nyeri A:
a. Masalah telah
Teraupetik
teratasi
a. Berikan terapi P :
nonfarmakologis untuk a. Intervensi
dihentikan
mengurangi rasa nyeri
b. Control lingkungan yang
memperberat nyeri

Edukasi
a. Jelaskan penyebab,oeriode
dan pemicu nyeri
b. Jelaskan strategi meredkan
nyeri
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
analgetik

4. Nausea berhubungan Manajemen muntah S:


dengan peningkatan a. Pasien
Observasi
tekanan intracranial mengatakan tidak

19
a. identifikasi karakteristik muntah lagi
muntah O:
a. Pasien tidak
b. periksa volume muntah mengalami
c. identifikasi factor muntah
A:
penyebab muntah a. Masalah teratasi
d. monitor keseimbangan P:
cairan dan elektrolit b. Intervensi
dihentikan
Teraupetik
a. control fakror lingkungan
penyebab muntah
b. kurangi atau hilangkan
keadaan penyebab muntah
Edukasi
a. Anjurkan memperbanyak
istirahat
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian antiemetik
5. Hipertermi Manajemen hipertermia S:
berhubungan dengan Observasi a. pasien tidak
mengalami kaku
proses penyakit a. identifikasi penyebab kuduk lagi
dibuktikan dengan hipertermia
O:
b. monitor suhu tubuh a. pasien tampak
c. monitor komplikasi akibat telah mampu
melakukan
hipertermia meluruskan lutut
Teraupetik tanpa mengeluh
kesakitan
a. sediakan lingkungan yang
dingin A:
b. berikan cairan oral a. masalah teratasi
P:
c. lakukan pendinginan
a. intervensi
eksternal dihentikan
Edukasi
a. ajarkan tirah baring

kolaborasi
a. kolaborasi pemberian
cairan dan elektrolit
intravena
6 Deficit pengetahuan Edukasi kesehatan : S:
a. Pasien

20
berhubungan dengan observasi mengatakan
penyakitnya bukan
kurang terpapar a. identifikasi kesiapan dan
lah flu biasa
dengan informasi kemampuan menerima
informasi O:
a. Pasien telah
Teraupetik mengetahui
penyakit nya
a. sediakan materi dan media A:
pendidikan kesehatan a. Masalah teratasi
b. jadwalkan pendidikan
P:
kesehatan a. Intervensi
c. Berikan kesempatan untuk dihentikan

bertanya
Edukasi
a. jelaskan factor resiko yang
dapat mempengaruhi
kesehatan

21
H. Mapping Kasus

Bakteri,virus,jamur dan protozoa

Masuk kenosofaring

Menyerang pembuluh darah

Perlekatan bakteri di sel epitel mukosa

Kolonisasi dan memperbanyak diri dalam aliran darah

bakterimia

Masuk kedalam cairan serebrospinal dan memperbanyak diri

Proses infeksi Reaksi local ke meningen

meningitis
Peningkatan
Trombus dan penurunan aliran
metabolisme
darah ke serebral

Pembentukan eksudat meningen


hipertermi Peradangan pada
selaput otak
Reabsorbsi CSS terganggu

Sakit kepala Penumpukan css di otak


sepsis
Nyeri akut Edema otak

Resiko
infeksi Peningkatan TIK

Menekan MO

NAUSEA

22
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengkajian
a. Kasus pasien meningitis di dapatkan bahwa pasien mengalami meningitis karena
adanya bakteri,virus atau jamur yang masuk ke nasofaring yang akan menyerang
pembuluh sehingga ia akan masuk kesebral melalui pembuluh darah yang akan
mengakibatkan troemboli ke css sehingga tik meningkat yang akan membuat reaksi
loakal pada meningen.
b. Pada kasus pasien meningitis didapatkan bahwa pasien mengalami kaku kuduk (+)
yang diakibatkan adanya perjalanan infeksi yang disebabkan oleh kerusakan
neurologis.
c. Pada kasus pasien mengalami nyeri karena adanya peradangan pada selaput otak yang
diakibatkan oleh adanya proses infeksi sehingga menfgakibatkan reaksi local
meningen.
d. Pada kasus pasiem mengalami muntah karena adanya thrombus dan penurunan aliran
darah ke selebral dan pembentukan eksudat meningen yang mengakibatkan rabsorbsi
css terganggu sehingga adanya penekanan mo.
e. Pada kasus ditemukan pasien mengalami hipertermi karena adanya proses infeksi
yang mengakibatkan peningkatan metabolisme.

B. Diagnosa
Pada kasus Penyakit Meningitis ini terdapat 6 diagnosa keperawatan yaitu :
1. Resiko Infeksi
Merupakan diagnosa prioritas pertama di karenakan menurut buku NANDA
resiko infeksi merepuakan diagnosa prioritas dikarenakan dapat mengancam
nyawa.
2. Resiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Merupakan diagnosa prioritas kedua dikarenakan adanya peningkatan TIK
dan data objektif dan data subjektifnya sesuai dengan keadaan pasien sekarang
untuk menegakkan diagnosa ini.

23
3. Nyeri akut
Merupakan diagnosa prioritas ketiga dikarenakan data objektif dan data
sabjektif pasien banyak yang sesuai dengan diagnosa ini .
4. Nausea
Merupakan diagnose prioritas ke empat karena pada data yang diperoleh jika
mual dan muntah dibiarkan maka akan terjadi komplikasi yang mengakibatkan
pasien mengalami kekurangan cairan elektrolit
5. Hipertermi
Merupakan diagnosa prioritas ke lima dikarenakan suhu merupakan kebutuhan
fisiologis dan data objektif dan data subjektifnya sesuai dengan keadaan pasien
sekarang untuk menegakkan diagnosa ini.
6. Deficit pengetahuan
Merupakan diagnose terakhir di karenakan pengetahuan yang kurang jika di
biarkan akan membuat seseorang untuk beranggapan apa yang dia anggap itu
benar.

C. Intervensi
1. Diagnosa Resiko Infeksi
Intervensi Rasional
1. Pantau suhu, RR, nadi 1. Untuk mendeteksi
2. Anjurkan keluarga untuk kemungkinan infeksi dan
mencuci tangan sebelum menentukan intervensi
menyentuh pasien selanjutnya
3. Berikan periode istirahat tanpa 2. untuk meminimalkan pajanan
gangguan pada organisme infektif
4. Melakukan kolaborasi dalam 3. menambah energi untuk
pemberian obat sesuai penyembuhan dan regenerasi
ketentuan seluler
4. diberikan sebagai profilaktik
atau mengobati infeksi khusus

24
2. Diagnose Resiko perfusi serebral tidak efektif
Intervensi Rasional
1. Identifikasi penyebab 1. Mengetahui bagaimana
peningkatan TIK proses peningkatan TIK
2. Monitor perlambatan atau 2. Mengontrol respon pupil
ketidaksemitresan respon pasien
pupil 3. Untuk mengontrol keadaan
3. Monitor tekanan perfusi normal perfusi serebral
serebral pasien

3. Diagnose nyeri akut


Intervensi Rasional
1. Kaji dan catat keluhan nyeri 1. mengidentifikasi kebutuhan
termasuk lokasi,lamanya intervensi
intensitas skala nyeri (0-10) 2. untuk mengontrol kondisi
2. Monitor tanda tanda vital sehat pasien
3. Identifikasi respon nyeri non 3. untuk mengetahui respon
verbal pasien
4. Kolaborasi pemberian 4. memberikan penurunan
analgetik nyeri

4. Diagnose nausea
Intervensi Rasional
1. identifikasi karakteristik 1. mengetahui benrtuk dari
muntah muntah
2. periksa volume muntah 2. mengetahui jumlah dari
3. identifikasi factor penyebab muntah
muntah 3. untuk mengidentifikasi apa
4. monitor keseimbangan apa saja penyebab muntah
cairan dan elektrolit 4. untuk menghindari efek

25
muntah

5. Diagnose hipertermi
Intervensi Rasional

1. Berikan kompres hangat 1. Pengeluaran panas secara


2. Anjurkan klien untuk konduksi
menggunakan baju yang tipis. 2. Pengeluaran panas secara
3. Observasi Suhu tubuh klie evaporasi
4. Kolaborasi dengan dokter 3. Menentukan keberhasilan
berikan obat penurun tindakan
panas.obat sesuai ketentuan 4. Membantu menurunkan
suhu tubuh

6. Diagnose deficit pengetahuan


Intervensi Rasional
1. identifikasi kesiapan dan 1. Mengontrol kesiapan pasien
kemampuan menerima dalam menerima informasi
informasi 2. Untuk pasien lebih
2. sediakan materi dan media memahami tentang
pendidikan kesehatan pendidikan kesehatan
3. jadwalkan pendidikan 3. Mengontrol riwayat
kesehatan kesehatan pasien
4. Berikan kesempatan untuk 4. Agar pasien lebih dapat
bertanya memahami

26
BAB V
JURNAL KOMPLEMENTER

5. Ringkasan Jurnal
Judul :
Potensi Ekstrak Daun Sage (Salvia officinalis.L) sebagai anti-Streptococcus
suis Penyebab Zoonotik Meningitis

Ringkasan :
Fenomena resistensi mikrobia terhadap suatu antibiotik atau beberapa jenis
antibiotika tertentu (multi- drugs resistance) sangat menyulitkan proses pengobatan,
salah satunya adalah Streptococcus suis (S. suis) yang diketahui penyebab meningitis
pada hewan maupun manusia. Saat ini dengan meningkatnya resistensi bakteri
terhadap berbagai macam antibiotik, maka dibutuhkan suatu usaha untuk mengkaji
tanaman obat yang berpotensi sebagai antibiotik yang tepat dan aman. Sage (Salvia
officinalis.L) dilaporkan memiliki efek antibakterial dan fungisidal. Asam phenolic
seperti salvin dan salvin monomethyl ether yang diisolasi dari sage diduga memiliki
aktivitas antimikrobial terhadap beberapa strain bakteri. Tujuan dari penelitian ini
adalah melakukan pembuktian terhadap kemampuan ekstrak daun sage sebagai
antibakteri terhadap S. suis penyebab streptococcal meningitis secara in- vitro.
Metode in-vitro yang digunakan dalam penelitian ini melalui dua tahap uji dilusi dan
uji difusi pada Mueller Hinton Agar (MHA). Isolat S. suis (kode 225) yang diujikan
secara in-vitro terhadap 8 tingkatan konsentrasi ekstrak daun sage, yaitu konsentrasi
1%, 3% 5%, 7%, 10%, 20%, 40%, dan 60%. Hasil dari uji tersebut diperoleh
minimum inhibitory concentrations (MICs) dan minimum sage diketahui berpotensi
menghambat pertumbuhan S. suis.

6. Analisa Pico
P ( Problem ) :
Meningitis merupakan masalah medis yang serius serta membutuhkan
pengenalan dan penanganan segera untuk mencegah kematian. Sampai saat ini
meningitis masih merupakan infeksi yang menakutkan, menyebabkan mortalitas dan
morbiditas yang tinggi terutama di negara berkembang (Rizka, 2012).

27
I ( Intervensi ) :
Metode in-vitro yang digunakan dalam penelitian ini melalui dua tahap uji
dilusi dan uji difusi pada Mueller Hinton Agar (MHA). Isolat S. suis (kode 225) yang
diujikan secara in-vitro terhadap 8 tingkatan konsentrasi ekstrak daun sage, yaitu
konsentrasi 1%, 3% 5%, 7%, 10%, 20%, 40%, dan 60%. Hasil dari uji tersebut
diperoleh minimum inhibitory concentrations (MICs) dan minimum sage diketahui
berpotensi menghambat pertumbuhan S. suis.

C ( Comparision ) :
Hasil uji aktifitas antibakteri secara invitro dengan metode difusi ini, di
lakukan untuk melihat MICs (minimum inhibitory concentrations) dan MBCs
(minimum bactericidal concentrations). Menjelaskan zona inhibisi yang
menunjukkan sifat sensitif untuk setiap pengenceran ekstrak sage (Merdana, 2010).

O ( outcome ) :
Aktifitas antibakterial dari ekstrak daun sage disebabkan adanya kandungan
beberapa senyawa aktif khususnya golongan polifenol dengan efek bervariasi dan
tergantung pada solven, metode ekstraksi serta konsentrasi ekstrak. Penggunaan
antibiotik alternatif dari daun sage diharapkan dapat membantu mengatasi infeksi oleh
S. suis sekaligus langkah awal untuk pengembangan antibiotika alternatif.

28
BAB VI
PENUTUP

A.Kesimpulan
Meningitis adalah radang pada meningen/membran (selaput) yang mengelilingi
otak dan medula spinalis.Klasifikasi meningitis dibedakan berdasarkan perubahan
cairan di otak dan penyebabnya.Etiologi dari meningitis berasal dari virus, bakteri, dan
jamur.Faktor risiko dari meningitis adalah usia, jenis kelamin, lingkungan, musim,
kehamilan, imunologi, lifestyle, trauma kepala, kelainan anatomis.
Patofisiologi dari meningitis pada umumnya sebagai akibat dari penyebaran
penyakit di organ atau jaringan tubuh yang lain..Menifestasi klinis dari meningitis
adalah sakit kepala, demam, perubahan pada tingkat kesadaran, iritasi meningen,
kejang, ruam, dan infeksi fulminating. Pemeriksaan penunjang dari meningitis selain
pemeriksaan laboratorium adalah pemriksaan pungsi lumbal.Penatalaksanaan
meningitis biasanya menggunakan antibiotic.Pencegahan meningitis ada tiga yaitu
pencegah primer, sekunder, dan tersier.
Komplikasi meningitis adalah hidrosefalus, herniasi otak, edema serebral dan
kebutaan.Diagnosa keperawatan untuk penyakit meningitis adalah resiko infeksi, resiko
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral, hipertermia berhubungan dengan penyakit,
nyeri akut berhubungan dengan agens cidera biologis (infeksi), mual berhubungan
dengan biofisik (meningitis), hambatan mobilitas ditempat tidur berhubungan dengan
nyeri dan gangguan neuromuscular, resiko dubitus
B.Saran
Dengan di susunnya makalah ini di harapkan dapat menjadi referensi dalam
memberikan Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Meningitis
.

29