Anda di halaman 1dari 6

Panduan Praktik Klinis

Divisi : Bedah Umum


RSUD. DR. H. MOH. ANWAR
2019
BPH (BENIGNA PROSTAT HYPERPLASIA)
 Pengertian (Definisi) Merupakan diagnosis secara histologi yang menunjukan terjadinya
proliferasi dari sel-sel pada prostat

 Anamnesis  Keluhan pada saluran kemih bagian bawah


- Frekuensi sering : BAK > 8x/24 jam
- Urgency : keinginan BAK yang mendesak
- Nokturia : terbangun malam hari untuk BAK (lebih dari 1x )
- Dysuria
- Menunggu lama saat BAK ( hesitansi )
- BAK terputus-putus ( intermitensi )
- Pancaran miksi melemah
- Harus mengedan saat BAK
- Retensi urin
- Inkontinensia urin karena overflow
- Miksi tidak puas
- Menetes setelah miksi
 Keluhan pada saluran kemih bagian atas
- Nyeri pinggang
- Benjolan di pinggang ( hidronefrosis )
- Demam ( infeksi, urosepsis )
 Pemeriksaan Fisik  Keadaan umum
 Vital sign
 tanda-tanda anemis, sepsis
 Vesika urinaria: apakah ada distensi buli
 Colok dubur : menilai tonus spinkter ani, mukosa, massa, prostat
 Kriteria Diagnosis  Anamnesis : berupa gejala iritatitf dan obstruktif
 Pemeriksaan fisik : Pemeriksaan colok dubur pada BPH
menunjukan konsistensi prostat kenyal, kedua lobus simetris,
tidak didapatkan nodul ( evaluasi besarnya prostat, konsistensi,
cekungan tengah, kesimetrisan, indurasi, krepitasi, dan ada
tidaknya nodul )

 Diagnosis Benign Prostatic Hyperplasia


 Diagnosis Banding  Pasien dengan keluhan obstruksi
o Striktur uretra
o Kontraktur leher vesika
o Batu buli-buli kecil
o Kanker prostat
o Kelemahan destrutor ( mis pada penderita asma kronik
yang menggunakan obat parasimpatolitik
 Pasien dengan keluhan iritatif
o Instabilitas destrutor
o Karsinoma in situ vesika
o Infeksi saluran kemih
o Prostatitis
o Batu ureter distal
o Batu vesika kecil
 Pemeriksaan Penunjang  Laboratorium : darah lengkap, faal ginjal, faal liver, serum
elektrolit, urin rutin, KGA
 Radiologis : USG Urologi (volume, kalsifikasi, massa, protrusi buli)
thorax photo
 EKG
 Terapi  Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas
hidup pasien. Terapi yang ditawarkan pada pasien tergantung
pada derajat keluhan, keadaan pasien, maupun kondisi obyektif
kesehatan pasien yang diakibatkan oleh penyakitnya
 Pilihan terapi antara lain :
- Tanpa terapi ( watchful waiting )
- Medikamentosa: (OBAT)
- Terapi intervensi (open prostatektomi supra pubic)
 PERAWATAN POST OP
Bila pasien datang dengan retensi urin, segera dilakukan
pemasangan kateter dialanjutkan dengan diagnostik .
 Edukasi  Kurangi intake cairan menjelang tidur atau waktu spesifik lain
yang dapat mengganggu ( minimal 1.5 liter )
 Kurangi kafein dan alcohol
 Teknik distraksi: latihan distraksi keinginan berkemih seperti
latihan nafas, penile squeezing, tekanan perineal, mental trik
untuk pengalihan gangguan iritatif
 Bladder retraining, menahan kencing untuk meningkatkan daya
tamping hingga mencapai 400ml dan waktu antar berkemih
 Meninjau pengobatan yang dapat mencetuskan gejala iritatif ( alfa
agonis pada penilpropalami, obat flu, dsb )
 Urethral stripping

 Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam/malam


Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
 Tingkat Evidens I/II/III/IV
 Tingkat Rekomendasi A/B/C
 Penelaah Kritis 1. ……………………………………………………………………………………
2. ……………………………………………………………………………………
3. ……………………………………………………………………………………
4. …………………………………………………………………………………
 Indikator Medis ………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………..
 Kepustakaan 1. Tanagho EA, McAnnich JW.2008. Smith’s General Urology.San
Fransisco: McGraw Hill. 17th ed.348-54
2. WB Saunders Staff, editors. Campbell’s Urology. 10th edition.
Philadelphia :WB. Saunders Company; 2012
Sumenep …../……/2019

Ketua Komite Medik Kepala SMF Bedah

Dr. Abd. Azis, Sp. Rad dr. Husnul Ghaib Sp. B


Panduan Praktik Klinis
Divisi : Bedah Umum
RSUD. DR. H. MOH. ANWAR
2019
Karsinoma Payudara
 Pengertian (Definisi) Karsinoma Payudara adalah suatu keganasan pada payudara yang berasal
dari parenkim, stroma, areola, dan papilla mammae
 Anamnesis  Benjolan pada mammae, umumnya tidak nyeri
 Ulcus dengan atau tanpa perdarahan
 Erosi putting susu
 Keluar cairan atau perdarahan dari putting susu
 Nyeri pada payudara
 Kelainan bentuk payudara
 Keluhan karena metastase (KGB axilla, paru, liver, tulang, otak)

 Pemeriksaan Fisik  Keadaan umum


 Vital sign
 Tanda-tanda anemis
 Terlihat :
- Payudara tidak simetris
- Eritema kulit
- Peau d’orange
- Nodul satelit
- ulcus
 Teraba massa dengan:
- Batas tidak jelas
- Bentuk tidak teratur
- Mobilitas terbatas
- Retraksi kulit atau papil
- Melekat dengan kulit, m. pectoralis, atau dinding thorax
- Pembesaran KGB axilla/infraklavikuka/ supraklavikula

 Kriteria Diagnosis  Triple diagnosis


 Klinis
 USG payudara/Mammografi
 FNAB

 Diagnosis Karsinoma Payudara


 Diagnosis Banding  Tumor jinak payudara
 Mastitis TB
 Pemeriksaan Penunjang  Laboratorium : darah lengkap, BUN, SK, OT/PT, KGA, Alb
 Radiologis : USG payudara dan abdomen, foto thoraks
 Sitologi : FNAB
 Terapi Kuratif
 Utama: operasi Modified Radical Mastectomy
 Ajuvan atau Neo ajuvan Kemoterapi CAF 600mg x BSA
sebanyak 6 Siklus
 Bantuan: roborantia
Paliatif
 Utama: bilateral ovariektomi untuk pra menopause, tamoksifen
untuk pasca menopause dengan hormone receptor positif dan
kemoterapi CAF bila hormone receptor negative
 Atasi Komplikasi: reposisi, fiksasi, imobilisasi, pada tempat
patah bila ada fraktur, aspirasi cairan paru atau pasang thorax
drain serta Bleomycin 30 mg + Terramycin 1000 mg intra pleura
bila ada efusi pleura,rehidrasi, kortikosteroid, anti nyeri sesuai
protap WHO, Perawatan borok bila ada ulcus
 Edukasi Follow up dikerjakan seumur hidup
 Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam/malam
Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
 Tingkat Evidens I/II/III/IV
 Tingkat Rekomendasi A/B/C
 Penelaah Kritis 1. ……………………………………………………………………………………
2. ……………………………………………………………………………………
3. ……………………………………………………………………………………
4. …………………………………………………………………………………
 Indikator Medis ………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………..
 Kepustakaan 1.

Sumenep …../……/2019

Ketua Komite Medik Kepala SMF Bedah

Dr. Abd. Azis, Sp. Rad dr. Husnul Ghaib Sp. B


Panduan Praktik Klinis
Divisi : Bedah Umum
RSUD. DR. H. MOH. ANWAR
2019
Appendisitis Akut
 Pengertian (Definisi) Inflamasi-infeksi pada appendix oleh karena obstruksi lumen yang diikuti
infeksi bakteri. Yang disebabkan oleh fecalit, tumor,cacing, atau parasit
lain.
 Anamnesis  Nyeri perut kanan bawah/Mc Burney diawali nyeri di ulu hati
 Mual, muntah
 Anoreksia
 Demam diatas 37,5 0 C
 Pemeriksaan Fisik  Keadaan umum
 Vital sign
 Nyeri tekan – Nyeri tekan lepas regio iliaka kanan (Mc Burney sign
– Blumberg sign)
 Tekanan pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada sisi kanan
(Rovsing sign)
 Uji psoas ( bila menempel di m.psoas mayor)
 Uji obturator (bila menempel di m.obturator internus)
 Defans muskular -/+, bising usus
 Rectal Toucher
 Kriteria Diagnosis  Simptom positif (nyeri perut kanan bawah, mual-muntah,
anoreksia)
 Sign positif :
- Demam di atas 37,5
- Mc burney sign positif
- Blumberg sign positif
- Rovsing sign positif
 Teraba Massa (+) dan nyeri tekan pada kasus perippendikuler
infiltrat (appendisitis infiltrat)
 Rectal Toucher nyeri jam 09.00-12.00
 Darah rutin (Leukositosis)
 USG abdomen (penebalan dinding appendiks)
 Appedicogram (dilakukan jika dari hasil USG appendiks tidak
tervisualisasi, positif jika non filling, partial filling, mouse tail cut
off)
 Tanda2 Peritonitis generalisata:
- Nyeri seluruh perut terus menerus disertai panas tinggi,
kadang sesak
- Abdomen distended, Difans muskular, bising usus
menurun, tonus spinter ani longgar dan nyeri di semua
arah pada pemeriksaan colok dubur.
- Leukositosis, kadang disertai peningkatan RFT, LFT
- Pada USG didapat cairan bebas intra abdomen
 Diagnosis Appendisitis Akut
 Diagnosis Banding  Divertikulitis, Obstruksi intestinal, Typhoid perforasi,
Gastroenteritis
 KET, Ruptur Kista Ovarii/Korpus luteum, Pelvic inflammatory
disease
 Batu ureter kanan

 Pemeriksaan Penunjang • Lab: Darah rutin, Urine rutin,


(LFT, RFT, elektrolit (pada kasus peritonitis))
• Radiologi:
– USG Abdomen (bila diperlukan)
– Appendicogram (jika perlu)
 Terapi  Appendiktomi
 Periappendikuler infiltrat : dirawat konservatif dengan
medikamentosa (antibiotik kombinasi yang aktif untuk kuman
aerob dan anaerob) bila sudah mencapai fase tenang: leukosit
dibawah 12.000, LED dibawah 30, dan massa mengecil ukuran <
± 3 cm atau menghilang selanjutnya dilakukan operasi
 Bila muncul tanda – tanda peritonitis generalisata dilakukan
laparotomi
 Edukasi Timing penentuan operasi (emergensi/urgen/elektif)

 Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam/malam


Ad sanationam : dubia ad bonam/malam
Ad fumgsionam : dubia ad bonam/malam
 Tingkat Evidens I/II/III/IV
 Tingkat Rekomendasi A/B/C
 Penelaah Kritis 1. ……………………………………………………………………………………
2. ……………………………………………………………………………………
3. ……………………………………………………………………………………
4. …………………………………………………………………………………
 Indikator Medis ………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………..
 Kepustakaan

Sumenep …../……/2019

Ketua Komite Medik Kepala SMF Bedah

Dr. Abd. Azis, Sp. Rad dr. Husnul Ghaib Sp. B