Anda di halaman 1dari 55

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AGREGAT REMAJA DALAM

KOMUNITAS

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas II

Disusun Oleh :

Maya Suryawanti - 1610711112

Dewi Astri Yulianti - 1610711118

Santi Sri Hartini - 1610711120

Naziah Prihandini - 1610711122

Rizky Arjuna Indra M - 1610711124

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAKARTA

2019-2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat kasih dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kami tentang
“Asuhan Keperawatan pada Agregat Remaja”. Kami menyelesaikan makalah ini
untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas II. Kami percaya di
balik semua jerih lelah kami, ada upah yang sepadan. Dan tentu saja, upah itu
adalah pengetahuan.
Kami juga ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah
membantu kami dalam pembuatan makalah ini dan berbagai sumber yang telah
kami pakai sebagai data dan juga informasi pada makalah ini. Dengan segala
kelebihan dan kekurangan dalam makalah ini kiranya pembaca dapat
memahaminya. Dan saran-dan kritik yang membangun sangat kami terima untuk
perbaikan kedepannya.
Dengan menyelesaikan makalah ini,kami mengharapkan banyak maanfaat
yang dapat dipetik dari makalah ini. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, Februari 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 3

1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................................... 3

1.4 Metode Penulisan .......................................................................................... 3

1.5 Sistematika Penulisan ................................................................................... 3

BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 4

2.1 Perkembangan Remaja ................................................................................ 4

2.1.1 Perkembangan Moral ............................................................................ 7

2.1.2 Perkembangan Spiritual ........................................................................ 8

2.1.3 Perkembangan Psikososial .................................................................... 8

2.2 Masalah Kesehatan Pada Remaja dan Peran Perawat Komunitas dalam
Mengatasi Masalah ............................................................................................. 11

2.2.1 Merokok ................................................................................................ 12

2.2.2 Kehamilan Remaja ................................................................................ 12

2.2.3 Penyakit Menular Seksual ..................................................................... 12

2.2.4 Penyalahgunaan Zat .............................................................................. 13

2.3 Tingkatan Pencegahan ................................................................................. 13

2.3.1 Pencegahan Primer................................................................................ 13

2.3.3 Pencegahan Sekunder ........................................................................... 14

2.3.3 Pencegahan Tersier ............................................................................... 14

2.4 Program Kesehatan Pada Agregat Remaja................................................14


2.5 ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN TEORI ......................... 19

BAB III TINJAUAN KASUS ............................................................................. 24

3.1 Kasus Pemicu ................................................................................................. 24

3.2 Asuhan Keperawatan ................................................................................... 25

3.2.2 Diagnosa dan Rencana Asuhan Keperawatan ...................................... 27

BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................... 44

BAB V PENUTUP ............................................................................................... 49

5.1 Kesimpulan .................................................................................................... 49

5.2 Saran ........................................................................................... 49

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 50


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Remaja
menurut WHO (2014), remaja adalah seseorang yang berusia 10 sampai 19 tahun.
Sedangkan menurut Menteri Kesehatan RI (2010), batas usia remaja adalah antara 10
sampai 19 tahun dan belum kawin. Seorang remaja akan diberikan tanggung jawab yang
lebih besar dari kedua orang tuanya agar semakin mempelajari dunia dewasa dan
perlahan meninggalkan jiwa kekanak-kanakannya. Remaja yang baik akan mulai
mengaktualkan dirinya di dunia sosial. Namun, tidak sedikit remaja melakukan hal-hal
ekstrem untuk menarik perhatian lingkungannya. Setiap tahapan pertumbuhan dan
perkembangan akan mengalami perkembangan moral, spiritual, dan psikososial, begitu
juga pada remaja.
Masa remaja merupakan masa di mana individu yang sedang mencari identitas
dirinya. Namun, jika remaja tidak dapat menyelesaikan tugas perkembangannya dengan
baik maka akan membuat remaja merasa kebingungan akan perannya. Saat masa inilah
remaja sangat rentan mengalami masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan
sosial dan kesehatan. Terdapat berbagai masalah kesehatan di usia remaja yang saat ini
marak terjadi di komunitas masyarakat (Wong, 2008), yaitu merokok, kehamilan remaja,
penularan penyakit menular seksual, dan penyalahgunaan zat. Hal-hal tersebut bisa
diatasi dengan melakukan berbagai macam pencegahan. Perawat berperan dalam
menanggulangi permasalahan-permasalahn tersebut sesuai tingkatan pencegahan baik
pencegahan primer, sekunder, dan tersier.
Masa remaja merupakan masa transisi antara masa anak-anak menuju masa
dewasa. Pada masa transisi, remaja mengalami proses pencarian identitas diri, melepas
ketergantungan dari orang tua, dan bersaha mencapai kemandirian sehingga dapat
diterima dan diakui sebagai orang dewasa (Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Pada
masa ini, terjadi perubahan biologis, kognitif, dan sosial- emosional (Santrock, 2007).
Perubahan-perubahan tersebut cenderung membuat remaja berusaha mengeksplor diri,
mengaktualisasikan peran, dan gaya hidup berisiko (Stanhope, & Lancaster, 2004).
Prevalensi merokok di Indonesia sangat tinggi di berbagai lapisan masyarakat,
terutama pada laki-laki mulai dari anak-anak, remaja, dewasa. Kecenderungan merokok
terus meningkat dari tahun ke tahun baik pada laki-laki dan perempuan, hal ini
mengkhawatirkan kita semua. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan
Riskesdas menunjukkan bahwa prevalensi merokok untuk semua kelompok umur
mengalami kelonjakan. Berdasarkan data Susenas tahun 1995, 2001, 2004 dan data
Riskesdas tahun 2007 dan 2010 prevalensi perokok 16 kali lebih tinggi pada laki-laki
(65,85%) dibandingkan perempuan (4,2%). Hampir 80% perokok mulai merokok pada
usianya belum mencapai 19 tahun. Umumnya orang mulai merokok sejak muda dan tidak
tahu resiko mengenai bahaya adiktif rokok. Keputusan konsumen untuk membeli rokok
tidak didasarkan pada informasi yang cukup tentang resiko produk yang dibeli, efek
ketagihan dan dampak pembelian yang di bebankan pada orang lain.
Trend usia merokok meningkat pada usia remaja, yaitu pada sekelompok umur 10-
14 tahun dan 15-19 tahun. Hasil Riskesdas pada tahun 2007,2010 dan 2013 menunjukkan
bahwa usia merokok pertama kali paling tinggi adalah pada kelompok umur 15-19 tahun.
Global Youth Tobacco Survey (GYTS) menyatakan Indonesia sebagai negara
dengan angka perokok remaja tertinggi di dunia. Selain itu, usia pertama kali mencoba
merokok berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin berdasarkan GYTS 2014,
dimana sebagian besar laki-laki pertama kali merokok pada umur 12-13 tahun, dan
sebagian besar perempuan pertama kali mencoba merokok pada umur ≤ 7 tahun dan 14-
15 tahun.
Berdasarkan data survey dari GYTS tahun 2014 dari total remaja yang di survey
ditemukan 19,4% remaja pengisap tembakau selama 30 hari terakhir. Pada remaja yang
disurvei tersebut didapatkan 35,3% remaja laki-laki dan 3,4% remaja perempuan.
Sementara itu dari total remaja yang disurvei didapatkan 18,3% remaja peghisap rokok
selama 30 hari terakhir, sebanyak 33,9% pada ramaja lakilaki dan 2,5% pada remaja
perempuan. Sedangkan dari total remaja yang di survey ditemukan 2,1% remaja
penghisap rokok elektrik selama 30 hari terakhir, dan hal ini terjadi pada 3% remaja laki-
laki dan 1,1% remaja perempuan. Kemudian didapatkan total remaja yang disurvei
sebanyak 32,1% pernah merokok walaupun 1-2 isapan, dan pada remaja tersebut
ditemukan 54,1% remaja lakilaki dan 9,1% remaja perempuan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan latar belakang, penulis dapat merumuskan beberapa
masalah yang meliputi:
1. Bagaimana tahap pertumbuhan dan perkembangan remaja?
2. Bagaimana karakteristik remaja?
3. Apa saja masalah kesehatan yang terjadi pada remaja?
4. Bagaimana peran perawat komunitas dalam menanggulangi masalah?
5. Bagaimana pengkajian yang dilakukan terkait kasus?
6. Bagaimana asuhan keperawatan komunitas terkait kasus?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan karakteristik remaja,
tahapan pertumbuhan dan perkembangan remaja, masalah yang sering dialami oleh
remaja serta peran perawat komunitas dalam menangani masalah, dan asuhan
keperawatan yang tepat pada setting agregat remaja.

1.4 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan makalah ini yaitu pada BAB I, penulis memaparkan tentang
latar belakang, rumusan masalah, tujuan, sistematika, dan metode penulisan. Pada BAB
II, penulis menjelaskan mengenai tinjauan pustaka mengenai karakteristik remaja,
masalah pada remaja, serta peran perawat komunitas. BAB III, penulis menjelaskan
analisis kasus dan asuhan keperawatan komunitas yang tepat dengan setting agregat
remaja. Bab IV berisi kesimpulan dan saran penulis.

1.5 Metode Penulisan


Penulisan makalah ini berbasis PBL (Problem Based Learning). Mahasiswa
masing-masing mencari sumber literatur melalui buku, jurnal, maupun sumber dari
internet sesuai dengan bahasan yang diterima.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Perkembangan Remaja


Remaja merupakan tahapan seseorang yang berada di antara fase anak dan
dewasa. Hal ini ditandai dengan perubahan fisik, perilaku, kognitif, biologis, dan
emosional. Seorang remaja akan diberikan tanggungjawab yang lebih besar dari kedua
orang tuanya agar semakin mempelajari dunia dewasa dan perlahan meninggalkan jiwa
kekanak-kanakannya. Remaja yang baik akan mulai mengaktualkan dirinya di dunia
sosial. Selain itu, remaja mulai mengenal dan memahami lawan jenisnya dan timbul rasa
ingin diperhatikan oleh lingkungan. Tidak sedikit remaja melakukan hal-hal ekstrim
untuk menarik perhatian lingkungannya.
Pada remaja, terjadi perubahan fisik dan kognitif yang sangat cepat. Arti kata
kognitif dalah penalaran, penilaian, penangkapan makna, imajinasi, persepsi. Pengertian
kognitif secara umun mencakup aktivitas menilai, menduga, memperkirakan,
membayangkan, menyangka, memperhatikan, melihat, mengamati. Menurut Piaget
(1952) dalam Djiwandono (2005) definisi kognitif adalah kemampuan berfikir individu
yang terdiri atas kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasikan,
menganalisa/mensintesis, mengevaluasi dan menciptakan. Pengertian kognitif atau teori
perkembangan kognitif Piaget menggambarkan tahapan anak dalam beradaptasi dan
mengintepretasikan berbagai objek, kejadian, dan realitas di sekitarnya yang terdiri atas
tahapan sensorik-motorik, pra operasional, operasional konkrit, dn operasional formal.
Tujuan aspek kognitif adalah meningkatkan kemampuan intelektual seseorang
mulai dari kemampuan sederhana seperti mengingat hingga kemampuan kompleks untuk
menggabungkan sejumlah prosedur, metode, gagasan, ide untuk memecahkan suatu
masalah. Enam aspek kognitif menurut Blomm yaitu: Pengetahuan (Knowledge),
Pemahaman (Comprehension), Penerapan (Application), Analisis (Analysis),
Penilainan/penghargaan/evaluasi dan Kreasi.(Kyle,2008)
Pemikiran remaja tentang suatu hal telah memiliki batasan-batasannya tersendiri.
Remaja menuangkan konsep yang didapat dalam dunia pendidikan formal dan
melakukannya pada pengalaman pribadinya. Mereka menilai, pengalaman dengan
masalah yang kompleks, tuntutan dari pengajaran formal, dan tukar menukar ide yang
berlawanan dengan kelompok remaja, diperlukan untuk perkembangan berpikir secara
operasional. Remaja yang sudah mengenal batasan-batasan pemikirnnya tersebut dan
mampu mengatasi kelemahannya dengan berpikir secara operasinal berarti sudah
mencapai tingkat berpikir orang dewasa.
Menurut Piaget dalam Djiwandono (2005), tahapan perkembangan kognitif pada
remaja adalah operasional formal. Remaja tidak serta-merta menerima informasi secara
pasif. Sebenarnya mereka mencari kebenaran informasi tersebut dengan berbagai
kemampuan mereka. Setelah itu mereka akan membuat konsep dari informasi tersebut
yang diyakini paling benar. Konsep tersebut akan selalu dipahami dan dijadikan
pedoman dalam mengembangan informasi lainnya. peran orangtua dalam hal ini adalah
menanamkan banyak informasi penting kepada anak sejak dini agar saat remaja mereka
sudah tidak kebingungan dalam mengembangkan kognitif mereka.(Nursalam, 2007)
Pembatasan usia bagi remaja memang tidak dapat dipastikan. Seorang dikataka
remaja saat sudah mulai timbul perubahan fisik menjadi pubertas. Namun pada teori
Piaget, perkembangan kognitif seorang remaja berkembang antara usia 14 tahun hingga
18 tahun. Secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang, semakin teratur dan
semakin abstrak pula cara berpikirnya. Dengan adanya teori ini, menunjukkan bahwa
pengajar di tingkat sekolah menengah pertama harus mampu memunculkan keabstrakan
yang dimiliki muridnya agar perkembangan kognitif dapat berkembang dengan baik
(Arvin,2000).
Pada awal tahap operasional formal, remaja berpikir sangat egois, idealis,
tertantang dengan berbagai hal baru dan khawatir jika tidak bisa melakukannya dan
merubahnya. Hal ini menyebabkan remaja lebih merasa hebat. Pada dasarnya remaja
harus memikirkan cara paling bijak dan benar, jika tidak maka remaja akan mudah
frustasi dan mencoba hal-hal yang tidak baik. Remaja yang mampu mengendalikan
pikirannya dengan baik memiliki banyak support sistem yang terus mengajarkan tentang
kebaikan. Support sistem tersebut berada pada orang tua, lingkungan,budaya, agama dan
komunitas yang diikutinya (Kyle, 2008).

Agregrat Remaja Sebagai Populasi Risiko (Population At Risk)


Perkembangan kehidupan merupakan proses seumur hidup. Masa remaja


merupakan bagian dari sikulus kehidupan dari manusia. Masa remaja sebagai periode
perkembangan manusia dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa remaja
merupakan bagian dari rangkaian kehidupan dan bukan merupakan suatu periode
tersendiri yang tidak berkaitan dengan periode-periode lainnya. Pada masa ini terjadi
perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional (Santrock, 2007). Masa
remaja secara umum dianggap dimulai dengan pubertas, proses yang mengarah pada
kematangan seksual atau fertilitas (kemampuan bereproduksi), dan masa konstruksi
sosial (Papalia, Old, & Feldman, 2011).
Batasan usia remaja hingga saat ini menjadi bervariasi dari masing-masing
referensi yang terkait lingkungan budaya dan sejarahnya. Remaja sebagai tahap
perkembangan yang dimulai pada pubertas dari umur 13-20 tahun (DeLaune & Ladner,
2011). Rentang usia remaja menurut Santrock (2007), sekitar dimulai dari 10-13 tahun
dan berakhir pada usia 18-22 tahun. Rentang usia tersebut dibagi menjadi 2 (dua)
kategori, yakni masa remaja awal (early adolescence) dan masa remaja akhir (late
adolescence). Masa remaja awal berlangsung di masa sekolah menengah pertama atau
sekolah menengah akhir dan perubahan pubertas terbesar terjadi di masa ini, adapun
masa remaja akhir terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari kehidupan.
Menurut Stanhope dan Lancaster (2004), periode remaja pada rentang umur 10
hingga 21 tahun yang dibagi menjadi 3 kategori, yakni remaja awal (early adolescence)
(10-13 tahun), remaja tengah (middle adolescence) (14-17 tahun), dan remaja akhir (late
adolescence) (18-21 tahun). Adapun remaja menurut WHO (2012a), yang telah diadopsi
pula oleh Kemenkes RI (2012), adalah berusia 10-19 tahun. Secara spesifik, WHO
(2012b), memberikan istilah young people (10-24 tahun) yang dibagi menjadi early
adolescent (remaja awal) yang berusia 10-14 tahun, late adolescent (remaja akhir) yang
berusia 15-19 tahun, dan young adulthood (dewasa muda) yang berusia 20-24 tahun.
Jadi, rentang usia remaja (adolescent) yang dijadikan acuan dalam penelitian ini merujuk
pada ketentuan WHO dengan rentang usia 10-19 tahun. Remaja pada sekolah menengah
ke atas berada pada rentang usia 15-19 tahun atau remaja akhir.
Remaja pada rentang usia tersebut, mengalami peningkatan hormon pertumbuhan
dan seksual yang cukup tinggi, memiliki kecenderungan eksplorasi perilaku seksual
terhadap pasangan, dan kondisi emosional yang belum stabil. Remaja (adolescent)
menjadi agregrat yang berisiko berperilaku seksual karena mempunyai karasteristik-
karasterik tertentu. Karasteristik agregrat remaja yang dapat dikatakan sebagai populasi
risiko (Population At Risk) dapat dilihat dari perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan
sosio-emosional yang dialami remaja (Santrock, 2007). Perubahan besar yang terjadi
pada remaja adalah segi fisik, kognitif, dan psikososial (Papalia, Old, & Feldman, 2011).
Jadi, berikut ini akan dijabarkan faktor-faktor yang menjadikan remaja sebagai kelompok
risiko diantaranya; perubahan biologis, kognitif, psikososial, gaya hidup remaja, kejadian
hidup remaja, dan kondisi lingkungan.

2.1.1 Perkembangan Moral


Perkembangan seorang individu dimulai pada masa anak-anak awal, namun
akan membentuk sebagai kepribadian pada masa remaja. Remaja menggunakan
pertimbangannya sendiri untuk menilai peraturan dan tidak lagi menggunakan
peraturan hanya untuk menghindari hukuman seperti pada masa anak-anak. Remaja
berbeda dengan anak pada tahap usia sebelumnya dalam hal penerimaan keputusan.
Anak pada tahap usia sebelum remaja hanya dapat menerima sudut pandang orang
dewasa, sedangkan seorang remaja harus mengganti seperangkat moral dan nilai
mereka sendiri untuk memperoleh otoritas dari orang dewasa. Saat prinsip yang
lama tidak lagi diikuti, tetapi nilai yang baru belum muncul, remaja akan mencari
peraturan moral yang sesuai dengan jati diri mereka dan mengatur tingkah laku
mereka, terutama dalam menghadapi tekanan yang kuat untuk melanggar keyakinan
yang lama. Keputusan mereka yang melibatkan dilema moral harus berdasarkan
pada prinsip-prinsip moral awal yang ditanamkan dalam diri mereka sebagai sumber
untuk mengevaluasi tuntutan situasi dan merencanakan serangkaian tindakan yang
konsisten dengan ide mereka.
Masa remaja akhir dicirikan dengan suatu pertanyaan serius mengenai nilai
moral yang telah ada dan keterkaitannya terhadap masyarakat dan individu. Remaja
dengan mudah dapat mengambil peran lain. Mereka memahami tugas dan kewajiban
berdasarkan hak timbal balik dengan orang lain, dan juga memahami konsep
keadilan yang tampak dalam penetapan hukuman terhadap kesalahan dan perbaikan
atau penggantian apa yang telah dirusak akibat tindakan yang salah. Namun
demikian, mereka mempertanyakan peraturan-peraturan moral yang telah ditetapkan
sebagai akibat dari observasi remaja bahwa suatu peraturan secara verbal berasal
dari orang dewasa tetapi mereka tidak mematuhi peraturan tersebut. Remaja
memahami bahwa peraturan sebenarnya merupakan suatu persetujuan bersama yang
dapat disesuaikan dengan situasi dan tidak bersifat absolut.
2.1.2 Perkembangan Spiritual
Menurut Fowler dalam Kozier (2009), remaja atau individu dewasa muda
mencapai tahap sintetik-konvensional perkembangan spiritual. Saat menghadapi
berbagai kelompok di masyarakat, remaja terpapar dengan berbagai jenis pendapat,
keyakinan, dan perilaku terkait masalah agama. Menurut Kozier (2009), remaja
dapat menyelesaikan perbedaan dengan cara memutuskan bahwa perbedaan adalah
hal yang salah atau mengelompokkan perbedaan. (misalnya seorang teman tidak
dapat pergi hangout pada setiap malam jumat karna menghadiri acara keagamaan,
namun teman tersebut dapat melakukan kegiatan bersama pada harilain). Remaja
sering percaya bahwa berbagai keyakinan dan praktik keagamaan lebih memiliki
kesamaan daripada perbedaan. Pada tahap ini, remaja berfokus pada persoalan
interpersonal, bukan konseptual.
Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal tetapi melakukan
ibadah secara individual dengan privasi dalam kamar mereka sendiri. Mereka
mungkin memerlukan eksplorasi terhadap konsep keberadaan Tuhan.
Membandingkan agama mereka dengan agama orang lain dapat menyebabkan
mereka mempertanyakan kepercayaaan mereka sendiri tetapi pada akhirnya akan
menghasilkan perumusan dan penguatan spiritualitas mereka.

2.1.3 Perkembangan Psikososial


Masa remaja terdiri atas tiga subfase yang jelas, yaitu remaja awal atau
early adolescence (11-14 tahun), remaja pertengahan atau middle adolescence (15-
17 tahun), dan remaja akhir atau late adolescence (18-20 tahun) (Wong, 2001).
Remaja awal (early adolescence) biasanya masih terheran-heran dengan
perubahan fisik yang terjadi pada tubuhnya sendiri. Pada tahap remaja awal terdapat
tekanan untuk memiliki suatu kelompok dan memiliki hubungan persahabatan
dengan teman sesame jenis. Remaja menganggap memiliki sebuah kelompok adalah
hal yang penting karena mereka merasa menjadi bagian dari kelompok dan
kelompok dapat memberi mereka rasa status. Remaja akan mulai mencocokan cara
dan minat berpenampilan sesuai dengan kelompoknya dan cemas terhadap
penampilan fisiknya. Menjadi individu yang berbeda mengakibatkan remaja tidak
diterima oleh kelompoknya. Pada tahap remaja awal, remaja akan menyatakan
kebebasan dan merasa sebagai seorang individu, bukan hanya sebagai seorang
anggota keluarga. Proses perkembangan identitas pribadi ini memakan waktu dan
penuh dengan periode kebingungan, depresi, dan keputusasaan. Dampak negatif
proses perkembangan identitas tersebut adalah perilaku memberontak, kasar dan
melawan. Pada tahap ini, remaja mulai menentukan batasan ketergantungan dari
orang tua dan berusaha mandiri (Wong, 2001).
Remaja pertengahan (middle adolescence) biasanya merasa senang jika
banyak teman yang menyukainya. Remaja cenderung mencintai dirinya sendiri dan
menyukai teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Remaja
ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman-temannya daripada dengan
keluarga, mulai berpacaran, dan menolak campur tangan orang tua dalam
mengendalikannya. Remaja pada tahap ini terus-menerus bereksperimen untuk
mendapatkan diri yang dirasakan nyaman bagi mereka. Hal ini dapat dilihat dari cara
berpakaian dan penampilan seperti baju, gaya rambut, dan lain-lain yang berubah-
ubah. Hal yang postif dari remaja pertengahan adalah lebih tenang, sabar, toleransi,
dapat menerima pendapat orang lain walaupun berbeda dengan pendapatnya, lebih
bersosialisasi, tidak lagi pemalu, belajar berpikir independen dan membuat
keputusan sendiri, dan ingin tahu banyak hal. Pada tahap ini merupakan titik rendah
dalam hubungan orang tua-anak. Terdapat konflik besar mengenai kemandirian
remaja dengan orang tua (Wong, 2001).
Remaja akhir (late adolescence) merupakan masa konsolidasi menuju
periode dewasa dan ditandai dengan minat yang makin mantap terhadap fungsi-
fungsi intelek, terbentuk identitas sesksual yang tidak akan berubah lagi, egosentris
(terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan
Antara kepentingan diri sendiri. Remaja lebih mampu mengendalikan emosinya.
Mereka amou menghadapi masalah dengan tenang dan rasional, dan walaupun
masih mengalami periode depresi, perasaan mereka lebih kuat dan mulai
menunjukkan emosi yang lebih matang. Remaja akan belajar mengatasi stress yang
dihadapinya, dan biasanya lebih suka mengatasinya dengan pergi bersama teman
dibandingkan dengan keluarganya. Rasa takut dan stressor yang umum terjadi pada
remaja adalah hubungan dengan lawan jenis, kecenderungan atau perasaan
homoseksual, dan kemampuan untuk menerima peran orang dewasa (Muscari, 2001)
Remaja juga akan cenderung menggeluti masalah sosial politik bahakan agama.
Pada tahap ini remaja akan memiliki pasangan yang lebih serius dan banyak
mengahabiskan waktu dengan mereka. Jika terdapat kecemasan dan ketidakpaastian
masa depan, maka hal tersebut dapat merusak harga diri dan keyakinan diri remaja
tersebut. Pada tahap ini, pemisahan emosional dan fisik dari orang tua telah
dilakukan daan tercapainnya kemandirian remaja jika berasal dari keluarga dengan
konflik yang minimal (Wong, 2001).

Tugas Perkembangan pada Masa Remaja

1. Menerima citra tubuh
 Seringkali sulit bagi remaja untuk menerima keadaan fisiknya

bila sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep mereka tentang


penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki
konsep ini dan untuk mempelajari cara- cara memperbaiki penampilan diri sehingga

lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan (Hurlock, 1998). 


2. Menerima identitas seksual
 Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat

tidaklah mempunyai banyak kesulitan bagi anak laki-laki, mereka telah didorong dan
diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi berbeda bagi anak perempuan,
mereka didorong untuk memainkan peran sederajat sehingga usaha untuk
mempelajari peran feminim dewasa memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-

tahun (Hurlock, 1998). 


3. Mengembangkan sisitem nilai personal
 Remaja megembangkan sistem nilai yang

baru misalnya remaja mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus
mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana harus bergaul dengan

mereka (Hurlock, 1998). 


4. Membuat persiapan untuk hidup mandiri
 Bagi remaja yang sangat mendambakan

kemandirian, usaha untuk mandiri harus didukung oleh orang terdekat (Hurlock,

1998). 


5. Menjadi mandiri atau bebas dari orangtua
 Kemandirian emosi berbeda dengan

kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri, tetapi juga membutuhkan
rasa aman yang diperoleh dari orang tua atau orang dewasa lain. Hal ini menonjol
pada remaja yang statusnya dalam kelompok sebaya yang mempunyai hubungan
akrab dengan anggota kelompok dapat mengurangi ketergantungan remaja pada orang
tua

6. (Hurlock, 1998).
 f. Mengembangkan ketrampilan mengambil keputusan

7. Ketrampilan mengambil keputusan dipengaruhi oleh perkembangan ketrampilan


intelektual remaja itu sendiri, misal dalam mengambil keputusan untuk menikah di
usia remaja (Hurlock, 1998).

8. Mengembangkan identitas seseorang yang dewasa
 Remaja erat hubungannya

dengan masalah pengembangan nilai- nilai yang selaras dengan dunia orang dewasa
yang akan dimasuki, adalah tugas untuk mengembangkan perilaku sosial yang
bertanggung jawab (Hurlock, 1998).

2.2 Masalah Kesehatan Pada Remaja dan Peran Perawat Komunitas dalam Mengatasi
Masalah
Perubahan psikologis yang terjadi pada remaja meliputi intelektual, kehidupan
emosi, dan kehidupan sosial. WHO mendefinisikan remaja sebagai perkembangan dari
saat timbulnya tanda seks sekunder hingga tercapainya maturasi seksual dan reproduksi,
suatu proses pencapaian mental dan identitas dewasa, serta peralihan dari ketergantungan
sosioekonomi menjadi mandiri. Terdapat berbagai masalah kesehatan di usia remaja
yang saat ini marak terjadi di komunitas masyarakat (Wong, 2008).
2.2.1 Merokok
Bahaya merokok pada setiap tingkat usia tidak diragukan lagi; namun
demikian, pendekatan pencegahan terhadap remaja yang merokok sangat penting.
Merokok di kalangan remaja merupakan perilaku kompleks yang tidak dapat
dijelaskan oleh satu faktor penyebab. Dampak yang paling berbahaya dari merokok
adalah terjadinya adiksi seumur hidup. Sekitar 90% dari semua pengguna tembakau
mulai merokok ketika mereka masih anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun
(Office of Smoking and Health, 1996 dalam Wong, 2008). Selain itu, hasil riset
menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara penggunaan tembakau,
penggunaan alkohol dan obat-obatan lain, dan perilaku berisiko tinggi (Willard dan
Schoenborn, 1995 dalam Wong, 2008). Banyak penyebab yang membuat para
remaja mulai merokok, yaitu karena meniru sifat orang dewasa, tekanan dari sebaya,
dan meniru sifat orang yang terkenal yang biasanya merokok.
Program paling efektif yang dilakukan oleh perawat adalah program
komunitas luas yang melibatkan orangtua, teman sebaya, media cetak, dan
organisasi masyarakat. Dua area fokus program antirokok adalah program mengajak
teman sebaya untuk menekankan akibat-akibat dari merokok dan menggunakan
media, seperti film, untuk pencegahan merokok.
2.2.2 Kehamilan Remaja
Aktivitas seksual remaja dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan
yang serius. Remaja yang aktif secara seksual rentan mengalami hamil di luar nikah
dan tertular penyakit menular seksual. Pada tahun 1995 lebih dari satu dari lima
remaja putri yang aktif secara seksual mengalami kehamilan (Kaufmann dkk, 1998
dalam Wong, 2008). Remaja yang hamil dan bayinya berisiko tinggi mengalami
morbiditas, mortalitas, kemiskinan, dan residivisme. Selain itu, penelitian juga
memperlihatkan bahwa kehamilan di usia muda (usia kurang dari 20 tahun) sering
kali berkaitan dengan munculnya kanker rahim. Hal ini berkaitan erat dengan belum
sempurnanya perkembangan dinding uterus. Kehamilan yang tidak diinginkan dapat
disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain kurangnya pengetahuan mengenai
proses terjadinya kehamilan dan metode pencegahan kehamilan, akibat terjadinya
tindak pemerkosaan, dan kegagalan alat kontrasepsi. Perawat dapat menganjurkan
kepada orangtua untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku anak dengan
menanyakan aktivitas harian mereka

2.2.3 Penyakit Menular Seksual


Remaja yang aktif secara seksual berisiko tinggi tertular PMS. Secara
fisiologis, serviks remaja putri memiliki ektropion (eversi kanalis serviks uteri) yang
besar, terdiri atas sel-sel epitelial kolumnar yang jauh lebih rentan tertular PMS,
terutama HPV dan klamidia. Faktor perilaku juga berpengaruh dalam meningkatkan
risiko, faktor tersebut antara lain memulai hubungan seksual pada usia dini,
prevalensi yang tinggi di antara pasangan seksual, dan penggunaan pelindung atau
kontrasepsi yang tidak konsisten. Sebagai contoh, kebanyakan infeksi HIV yang
didiagnosis di masyarakat usia 20-an tahun ternyata diperoleh ketika remaja
(Centers for Disease Control and Prevention, 1996 dalam Wong, 2008).
Tanggung jawab keperawatan meliputi semua aspek pendidikan,
kerahasiaan, pencegahan, dan penanganan PMS. Pendidikan seks pada remaja harus
terdiri atas informasi tentang PMS, termasuk gejala, dan penanganannya. Usaha
pencegahan primer untuk mencegah PMS, yaitu mendorong untuk tidak melakukan
hubungan seksual, mendorong menggunakan kondom, dan vaksinasi hepatitis B.
Selain itu, terdapat pencegahan sekunder yang dapat dilakukan perawat, yaitu
dengan membantu mengidentifikasi kasus secara dini dan merujuk remaja untuk
menerima pengobatan. Perawat juga terlibat dalam pencegahan tersier dengan
menurunkan efek-efek medis dan psikologis akibat PMS, menghubungi kelompok
pendukung untuk remaja yang terinfeksi HIV, virus herpes simpleks, dan HPV, dan
dengan membantu remaja yang hamil dalam memperoleh skrining serta pengobatan
yang adekuat.
2.2.4 Penyalahgunaan Zat
Pemakaian zat, terutama obat-obatan oleh anak-anak dan remaja untuk
mengakibatkan perubahan status kesadaran diyakini dapat merefleksikan perubahan
yang terjadi dalam hidup mereka dan stres yang ditimbulkan oleh perubahan
tersebut. Secara tidak langsung, narkoba dan alkohol biasanya terkait erat dengan
pergaulan seksual bebas. Penyalahgunaan obat adalah pemakaian teratur obat-obatan
selain untuk tujuan pengobatan dan sampai tingkat penyalahgunaan yang
menyebabkan cedera fisik atau psikologik pada pengguna dan/atau merusak
masyarakat. Pada akhirnya, remaja dapat ketagihan terhadap narkotik dengan atau
tanpa kebergantungan secara fisik, dan seseorang mungkin secara fisik bergantung
pada narkotik tanpa merasa ketagihan. Beberapa jenis penyalahgunaan obat dapat
berupa alkohol, kokain, narkotik (meliputi opiat seperti heroin, morfin, fentanil,
hidromorfon, dan kodein), depresan dan stimulan sistem saraf pusat, dan obat-obatan
yang memengaruhi pikiran (halusinogen). Perawat sekolah dan perawat yang
bekerja di komunitas berperan penting dalam mengidentifikasi keluarga dengan
masalah penyalahgunaan zat. Identifikasi awal pada keluarga dengan masalah
penyalahgunaan zat adalah hal penting untuk mencegah penyalahgunaan zat pada
anak-anak dan remaja (Werner, Joffe, dan Graham, 1999 dalam Wong, 2008).

2.3 Tingkatan Pencegahan


Pelaksanaan kegiatan komunitas berfokus pada tiga tingkat pencegahan
(Anderson & McFarlene, 1985), yaitu:
2.3.1 Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah pencegahan sebelum sakit atau disfungsi dan
diaplikasikan ke populasi sehat pada umumnya, mencakup pada kegiatan kesehatan
secara umum dan perlindungan khusus terhadap suatu penyakit. Misalnya, kegiatan
penyuluhan gizi, imunisasi, stimulasi, dan bimbingan dini dalam kesehatan keluarga.
2.3.2 Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah kegiatan yang dilakukan pada saat terjadinya
perubahan derajat kesehatan masyarakat dan ditemukannya masalah kesehatan.
Pencegahan sekunder ini menekankan pada diagnosis dini dan intervensi yang tepat
untuk menghambat proses penyakit atau kelainan sehingga memperpendek waktu
sakit dan tingkat keparahan. Misalnya, mengkaji dan memberi intervensi segera
terhadap tumbuh kembang anak usia bayi sampai balita.
2.3.3 Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah kegiatan yang menekankan pada pengembalian
individu pada tingkat fungsinya secara optimal dari ketidakmampuan keluarga.
Pencegahan ini dimulai ketika terjadinya kecacatan atau ketidakmampuan yang
menetap bertujuan untuk mengembalikan ke fungsi semula dan menghambat proses
penyakit.

2.4 Program Kesehatan Pada Agregat Remaja


2.4.1 Pengertian PKPR
Pelayanan kesehatan yang ditujukan dan dapat dijangkau oleh remaja,
menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai remaja,
menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatannya, serta efektif
dan efisien dalam memenuhi kebutuhan tersebut.Singkatnya, PKPR adalah
pelayanan kesehatan kepada remaja yang mengakses semua golongan remaja, dapat
diterima, sesuai, komprehensif, efektif dan efisien.

2.4.2 Prevalensi PKPR


Indonesia telah mencapai tingkat yang sangat memprihatinkan dalam
konsumsi produk tembakau, terutama rokok, demikian pernyataan Menteri
Kesehatan RI, yang disampaikan oleh Dirjen Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit (P2P) Kemenkes RI, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM, pada acara
talkshow sebagai rangkaian puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau
Sedunia (HTTS) tahun 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (31/5).
HTTS 2016 diharapkan menjadi momentum masyarakat agar berani
bersuara lantang untuk menyuarakan kebenaran. Jangan biarkan masyarakat
membunuh dirinya dengan candu rokok yang mematikan.
Kebiasaan buruk merokok juga meningkat pada generasi muda. Data
Kemenkes menunjukkan bahwa prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang
merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada
tahun 2014. Dan yang lebih mengejutkan, lebih mengejutkan adalah usia
mulai merokok semakin muda (dini). Perokok pemula usia 10-14 tahun
meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu
dari 8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013.

2.4.3 Tujuan PKPR di Puskesmas


Tujuan Umum:
Optimalisasi pelayanan kesehatan remaja di Puskesmas.
Tujuan Khusus:
1. Meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan remaja yang berkualitas.
2. Meningkatkan pemanfaatan Puskesmas oleh remaja untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan.
3. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam pencegahan
masalah kesehatan khusus pada remaja.
4. Meningkatkan keterlibatan remaja dalam perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi pelayanan kesehatan remaja.

2.4.4 Ciri khas atau karakteristik PKPR


Berikut ini karakteristik PKPR merujuk WHO (2003) yang
menyebutkan agar Adolescent Friendly Health Services (AFHS) dapat terakses
kepada semua golongan remaja, layak, dapat diterima, komprehensif, efektif
dan efisien, memerlukan:
1. Kebijakan yang peduli remaja.
2. Prosedur pelayanan yang peduli remaja.
3. Petugas khusus yang peduli remaja.
4. Petugas pendukung yang peduli remaja.
5. Fasilitas kesehatan yang peduli remaja.
6. Partisipasi/keterlibatan remaja.
7. Keterlibatan masyarakat.
8. Berbasis masyarakat, menjangkau ke luar gedung, serta mengupayakan
pelayanan sebaya.
9. Pelayanan harus sesuai dan komprehensif.
10. Pelayanan yang efektif
11. Pelayanan yang efisien

.
2.4.5 Strategi pelaksanaan dan pengembangan PKPR di Puskesmas.
Mempertimbangkan berbagai keterbatasan Puskesmas dalam
menghadapi hambatan untuk dapat memenuhi elemen karakteristik tersebut
diatas, maka perlu digunakan strategi demi keberhasilan dalam pengembangan
PKPR di puskesmas, sebagai berikut:
1. Penggalangan kemitraan, dengan membangun kerjasama atau jejaring
kerja.
Penggalangan kemitraan didahului dengan advokasi kebijakan publik,
sehingga adanya PKPR di puskesmas dapat pula dipromosikan oleh pihak
lain, dan selanjutnya dikenal dan didukung oleh masyarakat. Selain itu,
kegiatan di luar gedung, yang menjadi bagian dari kegiatan PKPR, amat
memerlukan kemitraan dengan pihak di luar kesehatan. Kegiatan berupa
KIE, serta Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat/PKHS (life Skills
Education/LSE) seperti ceramah, diskusi, role play, seperti halnya
konseling, dapat dilakukan oleh petugas terlatih di luar sektor kesehatan
dan LSM.
2. Pemenuhan sarana dan prasarana dilaksanakan secara bertahap.
Strategi penahapan ini penting, memperhatikan urgensi
dilaksanakannya PKPR dan keterbatasan kemampuan pemerintah, hingga
PKPR dapat segera dilaksanakan, sambil dilakukan penyempurnaan dalam
memenuhi kelengkapan sarana dan prasarana.
3. Penyertaan remaja secara aktif.
Dalam semua aspek pelayanan mulai perencanaan, pelaksanaan
pelayanan dan evaluasi, remaja secara aktif diikut-sertakan. Dalam
menyertakan remaja dianjurkan dipilih kelompok remaja laki-laki dan
perempuan yang dapat “bersuara“ mewakili Puskesmas untuk informasi
penyediaan pelayanan kepada sebayanya dan sebaliknya mewakili
sebayanya meneruskan keinginan, kebutuhan, dan harapannya berkaitan
dengan penyediaan pelayanan. Selain itu dengan keterlibatan remaja ini,
informasi pelayanan dapat cepat meluas, menjangkau baik remaja laki-laki
maupun perempuan, serta memperkenalkan lebih awal konsep keadilan
dan kesetaraan gender.
4. Penentuan biaya pelayanan serendah mungkin.
Pada awal pelaksanaan diupayakan biaya pelayanan serendah
mungkin, bahkan kalau mungkin gratis.
5. Dilaksanakannya kegiatan minimal.
Pemberian KIE, pelaksanaan konseling serta pelayanan klinis medis
termasuk laboratorium dan rujukan, harus lengkap dilaksanaan secara
bersamaan dari sejak awal dilaksanakannya PKPR. Tanpa konseling,
pelayanan tidak akan disebut PKPR, melainkan pelayanan kesehatan
remaja seperti sebelum dikenalnya PKPR.
6. Ketepatan penentuan prioritas sasaran.
Keberhasilan pelayanan ditentukan antara lain oleh ketepatan
penetapan sasaran, sesuai dengan hasil kajian sederhana sebelum
pelayanan dimulai. Sasaran ini misalnya remaja sekolah, anak jalanan,
karang taruna, buruh pabrik, pekerja seks komersial remaja dan
sebagainya.
7. Ketepatan pengembangan jenis kegiatan.
Perluasan kegiatan minimal PKPR ditentukan sesuai dengan masalah
dan kebutuhan setempat serta sesuai dengan kemampuan Puskesmas,
misalnya pelaksanaan PKHS dengan pilihan kegiatan mengadakan FGD
(Focus Group Discussion/diskusi kelompok terarah diantara remaja
tentang seks pra-nikah didukung dengan penyebarluasan slogan dan
keterampilan “bagaimana bilang tidak” untuk seks- pranikah.
8. Pelembagaan monitoring dan evaluasi internal.
Monitoring dan evaluasi secara periodik yang dilakukan oleh tim
Jaminan Mutu Puskesmas merupakan bagian dari upaya peningkatan akses
dan kualitas PKPR.

2.4.6 Jenis kegiatan dalam PKPR


Kegiatan dalam PKPR sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya,
dilaksanakan di dalam gedung atau di luar gedung, untuk sasaran perorangan
atau kelompok, dilaksanakan oleh petugas Puskesmas atau petugas lain di
institusi atau masyarakat, berdasarkan kemitraan. Jenis kegiatan meliputi :
1. Pemberian Informasi dan edukasi.
a. Dilaksanakan di dalam gedung atau di luar gedung, secara perorangan
atau berkelompok.
b. Dapat dilaksanakan oleh guru, pendidik sebaya yang terlatih dari
sekolah atau dari lintas sektor terkait dengan menggunakan materi dari
(atau sepengetahuan) Puskesmas.
c. Menggunakan metoda ceramah tanya jawab, FGD (Focus Group
Discussion), diskusi interaktif, yang dilengkapi dengan alat bantu
media cetak atau media elektronik (radio, email, dan telepon/hotline,
SMS).
d. Menggunakan sarana KIE yang lengkap, dengan bahasa yang sesuai
dengan bahasa sasaran (remaja, orang tua, guru ) dan mudah
dimengerti. Khusus untuk remaja perlu diingat untuk bersikap tidak
menggurui serta perlu bersikap santai.
2. Pelayanan klinis medis termasuk pemeriksaan penunjang dan rujukannya.
Hal yang perlu diperhatikan dalam melayani remaja yang berkunjung ke
Puskesmas adalah:
a. Bagi klien yang menderita penyakit tertentu tetap dilayani dengan
mengacu pada prosedur tetap penanganan penyakit tersebut.
b. Petugas dari BP umum, BP Gigi, KIA dll dalam menghadapi klien
remaja yang datang, diharapkan dapat menggali masalah psikososial
atau yang berpotensi menjadi masalah khusus remaja, untuk kemudian
bila ada, menyalurkannya ke ruang konseling bila diperlukan.
c. Petugas yang menjaring remaja dari ruang lain tersebut dan juga
petugas penunjang seperti loket dan laboratorium seperti halnya
petugas khusus PKPS juga harus menjaga kerahasiaan klien remaja,
dan memenuhi kriteria peduli remaja.
d. Petugas PKPR harus menjaga kelangsungan pelayanan dan mencatat
hasil rujukan kasus per kasus.
3. Konseling
Konseling adalah hubungan yang saling membantu antara konselor dan
klien hingga tercapai komunikasi yang baik, dan pada saatnya konselor
dapat menawarkan dukungan, keahlian dan pengetahuan secara
berkesinambungan hingga klien dapat mengerti dan mengenali dirinya
sendiri serta permasalahan yang dihadapinya dengan lebih baik dan
selanjutnya menolong dirinya sendiri dengan bantuan beberapa aspek dari
kehidupannya. Tujuan konseling dalam PKPR adalah:
a. Membantu klien untuk dapat mengenali masalahnya dan membantunya
agar dapat mengambil keputusan dengan mantap tentang apa yang
harus dilakukannya untuk mengatasi masalah tersebut.
b. Memberikan pengetahuan, keterampilan, penggalian potensi dan
sumber daya secara berkesinambungan hingga dapat membantu klien
dalam mengatasi kecemasan, depresi atau masalah kesehatan mental
lain dan meningkatkan kewaspadaan terhadap isu masalah yang
mungkin terjadi pada dirinya.
4. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)
Dalam menangani kesehatan remaja perlu tetap diingat dengan optimisme
bahwa bila remaja dibekali dengan keterampilan hidup sehat maka remaja
akan sanggup menangkal pengaruh yang merugikan bagi kesehatannya.
PKHS merupakan adaptasi dari Life Skills Education(LSE). Life skilsl atau
keterampilan hidup adalah kemampuan psikososial seseorang untuk
memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah dalam kehidupan se-hari-
hari secara efektif. Keterampilan ini mempunyai peran penting dalam
promosi kesehatan dalam lingkup yang luas yaitu kesehatan fisik, mental
dan sosial.
5. Pelatihan pendidik sebaya dan konselor sebaya.
Pelatihan ini merupakan salah satu upaya nyata mengikut sertakan remaja
sebagai salah satu syarat keberhasilan PKPR. Dengan melatih remaja
menjadi kader kesehatan remaja yang lazim disebut pendidik sebaya,
beberapa keuntungan diperoleh yaitu pendidik sebaya ini akan berperan
sebagai agen pengubah sebayanya untuk berperilaku sehat, sebagai agen
promotor keberadaan PKPR, dan sebagai kelompok yang siap membantu
dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi PKPR. Pendidik sebaya
yang berminat, berbakat, dan sering menjadi tempat “curhat” bagi teman
yang membutuhkannya dapat diberikan pelatihan tambahan untuk
memperdalam keterampilan interpersonal relationship dan konseling,
sehingga dapat berperan sebagai konselor remaja.
6. Pelayanan rujukan.
Sesuai kebutuhan, Puskesmas sebagai bagian dari pelayanan klinis medis,
melaksanakan rujukan kasus ke pelayanan medis yang lebih tinggi.
Rujukan sosial juga diperlukan dalam PKPR, sebagai contoh penyaluran
kepada lembaga keterampilan kerja untuk remaja pasca penyalah-guna
napza, atau penyaluran kepada lembaga tertentu agar mendapatkan
program pendampingan dalam upaya rehabilitasi mental korban
perkosaan. Sedangkan rujukan pranata hukum kadang diperlukan untuk
memberi kekuatan hukum bagi kasus tertentu atau dukungan dalam
menindaklanjuti suatu kasus. Tentu saja kerjasama ini harus diawali
dengan komitmen antar institusi terkait, yang dibangun pada tahap awal
sebelum PKPR dimulai.

2.5 ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN TEORI


A. Konsep Asuhan Keperawatan Komunitas
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap dan
sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisa sehingga masalah
kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga atau
kelompok yang menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis, social
ekonomi, maupun spiritual dapat ditentukan. Dalam tahap pengkajian ada lima
kegiatan yaitu : pengumpulan data, pengolahan data, analisa data, perumusan
atau penentuan masalah kesehatan masyarakat dan prioritas masalah.
Prinsip pengkajian communnity as partner
 Menggunakan proses yang sistematis dan komprehensif
 Bekerja didalam kemitraan dengan komunitas
 Berfokus pada prevensi primer
 Promosi lingkungan sehat
 Target untuk semua yang mungkin merasakan manfaat
 Memberikan prioritas pada kebutuhan komunitas
 Meningkatkan alokasi sumber yang optimal
 Bekerjasama dengan berbagai pihak di komunitas
Kegiatan pengkajian yang dilakukan dalam pengumpulan data meliputi :
a) Data Inti, meliputi : riwayat atau sejarah perkembangan komunitas, data
demografi, vital statistic, status kesehatan komunitas
b) Data lingkungan fisik, meliputi : pemukiman, sanitasi, fasilitas, batas-batas
wilayah, dan kondisi geografis
c) Pelayanan kesehatan dan social, meliputi : pelayanan kesehatan, fasilitas social
(pasar, toko, dan swalayan)
d) Ekonomi, meliputi : jenis pekerjaan, jumlah penghasilan rata-rata tiap bulan,
jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan, jumlah pekerja dibawah umur, ibu
rumah tangga dan lanjut usia.
e) Keamanan dan transportasi
f) Politik dan keamanan, meliputi : system pengorganisasian, struktur organisasi,
kelompok organisasi dalam komunitas, peran serta kelompok organisasi dalam
kesehatan
g) Sistem komunikasi, meliputi : sarana untuk komunikasi, jenis alat komunikasi
yang digunakan dalam komunitas, cara penyebaran informasi
h) Pendidikan, meliputi : tingkat pendidikan komunitas, fasilitas pendidikan yang
tersedia, dan jenis bahasa yang digunakan
i) Rekreasi, meliputi : kebiasaan rekreasi dan fasilitas tempat rekreasi
2. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data dan menghubungkan
data dengan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga dapat diketahui tentang
kesenjangan atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Tujuan analisa data;
a) Menetapkan kebutuhan komunitas
b) Menetapkan kekuatan
c) Mengidentifikasi pola respon komunitas
d) Mengidentifikasi kecenderungan penggunaan pelayanan kesehatan.
3. Prioritas Masalah
Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat dan keperawatan
yang perlu pertimbangan berbagai faktor sebagai kriteria penapisan, diantaranya:
a) Sesuai dengan perawat komunitas
b) Jumlah yang berisiko
c) Besarnya resiko
d) Kemungkinan untuk pendidikan kesehatan
e) Minat masyarakat
f) Kemungkinan untuk diatasi
g) Sesuai dengan program pemerintah
h) Sumber daya tempat
i) Sumber daya waktu
j) Sumber daya dana
k) Sumber daya peralatan
l) Sumber daya orang
Masalah yang ditemukan dinilai dengan menggunakan skala pembobotan, yaitu
: 1 = sangat rendah, 2 = rendah, 3 = cukup, 4 = tinggi, 5 = sangat tinggi.
Kemudian masalah kesehatan diprioritaskan berdasarkan jumlah keseluruhan
scoring tertinggi.

4. Diagnosa Keperawatan
Untuk menentukan masalah kesehatan pada masyarakat dapatlah dirumuskan
diagnosa keperawatan komunitas yang terdiri dari :
a) Masalah (Problem)
Yaitu kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang terjadi.
b) Penyebab (Etiologi)
Yang meliputi perilaku individu, keluarga, kelompok dan masyarakat,
lingkungan fisik dan biologis, psikologis dan sosial serta interaksi perilaku
dengan lingkungan.
c) Tanda dan Gejala (Sign and Sympton)
Yaitu informasi yang perlu untuk merumuskan diagnosa serta serangkaian
petunjuk timbulnya masalah.
Diagnosa keperawatan NANDA untuk meningkatkan kesehatan yang bisa
ditegakkan pada adolesens, yaitu :
1. Risiko cedera yang berhubungan dengan:
a. Pilihan gaya hidup
b. Penggunaan alcohol, rokok dan obat
c. Partisipasi dalam kompetisi atletik, atau aktivitas rekreasi
d. Aktivitas seksual
2. Risiko infeksi yang berhubungan dengan:
a. Aktivitas seksual
b. Malnutrisi
c. Kerusakan imunitas
3. Perubahan pemeliharaan kesehatan yang berhubungan dengan:
a. Kurangnya nutrisi yang adekuat untuk mendukung pertumbuhan
b. Melewati waktu makan; ikut mode makanan
c. Makan makanan siap saji, menggunakan makanan yang mudah atau
mesin penjual makanan
d. Kemiskinan
e. Efek penggunaan alcohol atau obat
4. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan:
a. Tidak berpengalaman dengan peralatan rekreasional yang tidak dikenal
b. Kurang informasi tentang kurikulum sekolah
5. Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan:
a. Perasaan negative tentang tubuh
b. Perubahan maturasional yang berkaitan dengan laju pertumbuhan
adolesens
5. Intervensi (Perencanaan) Keperawatan
Perencanaan asuhan keperawatan komunitas disusun berdasarkan diagnosa
keperawatan komunitas yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhinya
kebutuhan pasien. Jadi perencanaan keperawatan meliputi: perumusan tujuan,
rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan dan kriteria hasil untuk
mencapai tujuan.

Masalah kesehatan adolesens


Intervensi promosi kesehatan
1) Cedera tidak disengaja
a) Anjurkan adolesens untuk mengikuti program pendidikan mengemudi dan
menggunakan sabuk keselamatan
b) Informasikan adolesens tentang risiko yang berkaitan dengan minum dan
berkendaraan; penggunaan obat
c) Tingkatkan penggunaan helm oleh adolesens yang menggunakan kendaraan
bermotor
d) Yakinkan adolesens mendapatkan orientasi yang tepat untuk penggunaan
semua alat olahraga
2) Penggunaan zat
Periksa penggunaan zat, seperti alcohol, rokok dan obat-obatan serta
informasikan risiko penggunaannya
3) Bunuh diri
a) Berikan informasi tentang bunuh diri
b) Ajarkan metode untuk bertemu dengan sebaya yang mencoba bunuh diri
4) Penyakit menular seksual
a) Berikan adolesens informasi mengenai penyakit, bentuk penularan, dan
gejala yang berhubungan
b) Dorong pantangan terhadap aktivitas seksual; atau bila aktif seksual,
tentang penggunaan kondom
c) Berikan informasi akurat tentang konsekuensi aktivitas seksual
6. Implementasi Keperawatan
Merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan komunitas yang
telah disusun. Prinsip dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, yaitu :
a) Berdasarkan respon masyarakat.
b) Disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia di masyarakat.
c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara diri sendiri serta
lingkungannya.
d) Bekerja sama dengan profesi lain.
e) Menekankan pada aspek peningkatan kesehatan masyarakat dan pencegahan
penyakit.
f) Memperhatikan perubahan lingkungan masyarakat.
g) Melibatkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan
implementasi keperawatan.
7. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan kerhasialn tindakan keperawatan.
Keberhasilan proses dapat dilihat dengan membandingkan antara proses dengan
pedoman atau rencana proses tersebut.
BAB III

TINJAUAN KASUS

Hasil pengkajian oleh perawat puskesmas di RW 08 Desa Sukamaju didapatkan data


47% remaja pernah mencoba merokok, rerata usia pertama merokok 10,3 tahun. Saat ini 32%
remaja masih merokok, jumlah rokok yang dihabiskan dalam sehari 1-5 batang. Alasan
remaja merokok 15% karena coba-coba, 42% karena ikut-ikutan teman, 43% agar terlihat
gaul. Masyarakat sekitar menyatakan banyak remaja yang nongkrong di warung-warung
sambil merokok. (DT) Sebagian besar remaja di Desa Sukamaju sudah lama tinggal di daerah
ini karena orang tua dan keluarga besarnya bertempat tinggal di sana. Sehingga komunitas
remaja sebagian besar dilahirkan disini dan bersekolah di Desa Sukamaju. Bahasa yang
digunakan adalah Bahasa Indonesia, mayoritas remaja cenderung menggunakan Bahasa gaul.
Adat/suku yang ada di desa sukamaju adalah adat sunda, jawa, betawi, padang dll dengan
mayoritas agama islam. Di lingkungan Desa Sukamaju termasuk kawasan rumah padat
penduduk, dan kumuh. Dalam menggulangi bahaya rokok bagi remaja salah satu solusi yang
dibuat oleh pemerintah adalah mengeluarkan peraturan yang tertuang dalam: PERATURAN
PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 1999 ( PP NO 36 Tahun
2000 ) TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN Pasal 2
Penyelenggaraan pengamanan rokok ayat 2 yg berbunyi melindungi penduduk usia produktif
dan remaja dari dorongan lingkungan untuk penggunaan rokok dan ketergantungan terhadap
rokok.Belum terdapatnya lokasi untuk wadah perkumpulan remaja seperti karang taruna di
Desa ini.

Biasanya remaja berkumpul di depan warung warung untuk dijadikan lokasi


pertemuan dan merokok. Warga Desa Sukamaju yang ingin mendapatkan pelayanan
kesehatan harus menempuh jarak 3 km untuk mencapai puskesmas terdekat, di desa tersebut
terdapat posyandu dan aktif melaksanakan kegiatan 1 bulan sekali namun belum terdapat
posbindu. Masyarakat mengaku belum pernah mendapatkan penyuluhan atau pendidikan
kesehatan terutama masalah bahaya merokok. Orang tua dari kebanyakan remaja di Desa
sukamaju berpenghasilan rata rata menengah kebawah, ada juga sebagian yang tidak
memiliki pekerjaan. Kendaraan desa sukamaju seperti sepeda motor, mobil angkot, dan
terdapat siskamling pada malam hari. Para remaja banyak tidak mengikuti dan tidak berperan
serta dalam kelompok organisasi di komunitas mereka. Di desa sukamaju tidak terdapat
wadah perkumpulan seperti karang taruna Rata-rata pendidikan warga desa tergolong rendah
yaitu tamatan SMP bahkan ada yang tamatan SD. Masyarakat mengaku belum pernah
mendapatkan penyuluhan atau pendidikan kesehatan terutama masalah bahaya merokok.
biasanya remaja lebih memilih rekreasi dengan duduk di warung sambil merokok dengan
persentase 47%.

3.1 Asuhan Keperawatan


3.1.1 Pengkajian

Pengkajian Community As Patner CAP

Variabel Sub Variabel Hasil Pengkajian

Core Sejarah Sebagian besar remaja di Desa Sukamaju sudah lama


tinggal di daerah ini karena orang tua dan keluarga
besarnya bertempat tinggal di sana. Sehingga
komunitas remaja sebagian besar dilahirkan disini
dan bersekolah di Desa Sukamaju.

Demografi RW 08 Desa Sukamaju

Etnis adat sunda, jawa, betawi, padang dll

Nilai dan Agama Mayoritas Islam


Keyankinan

Subsystem Lingkungan Fisik Di lingkungan Desa Sukamaju termasuk kawasan


rumah padat penduduk dan kumuh.

Layanan Sarana kesehatan yang paling terdekat adalah


Kesehatan dan puskesmas
Sosial

Ekonomi Orang tua dari kebanyakan remaja di Desa sukamaju


berpenghasilan rata rata menengah kebawah, ada juga
sebagian yang tidak memiliki pekerjaan.

Transportasi dan Kendaraan desa sukamaju seperti sepeda motor,


Keamanan mobil angkot, dan terdapat siskamling pada malam
hari.

Politik dan Dalam menggulangi bahaya rokok bagi remaja salah


Pemerintahan satu solusi yang dibuat oleh pemerintah adalah
mengeluarkan peraturan yang tertuang dalam:
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 1999 ( PP NO 36
Tahun 2000 ) TENTANG PENGAMANAN ROKOK
BAGI KESEHATAN Pasal 2 Penyelenggaraan
pengamanan rokok ayat 2 yg berbunyi melindungi
penduduk usia produktif dan remaja dari dorongan
lingkungan untuk penggunaan rokok dan
ketergantungan terhadap rokok.

Komunikasi Warga Desa Sukamaju yang ingin mendapatkan


pelayanan kesehatan harus menempuh jarak 3 km
untuk mencapai puskesmas terdekat, di desa tersebut
terdapat posyandu dan aktif melaksanakan kegiatan 1
bulan sekali namun belum terdapat posbindu.
Masyarakat mengaku belum pernah mendapatkan
penyuluhan atau pendidikan kesehatan terutama
masalah bahaya merokok.

Pendidikan Rata-rata pendidikan warga desa tergolong rendah


yaitu tamatan SMP bahkan ada yang tamatan SD.
Masyarakat mengaku belum pernah mendapatkan
penyuluhan atau pendidikan kesehatan terutama
masalah bahaya merokok.

Rekreasi Di desa sukamaju tidak terdapat wadah perkumpulan


seperti karang taruna. Biasanya remaja lebih memilih
rekreasi dengan duduk di warung sambil merokok
dengan persentase 47%.

Persepsi Remaja Di desa sukamaju kebanyakan remaja berfikiran


abstrak dan cenderung mencoba hal-hal baru, dan
persepsi mereka adalah “gak merokok cupu” , “kalau
gak ngerokok gak punya teman” “coba – coba
ternyata enak”

3.1.2 Analisa Data

Analisa Masalah
NO Analisa Data Masalah Etiologi
1. DS: Perilaku kesehatan Perilaku remaja yang
cenderung beresiko cenderung merokok dari
- Saat ini 32% remaja masih merokok. (00188) mula usia 10,3tahun dan
- Alasan remaja merokok 15% karena menghabiskan rokok
coba-coba, 42% karena ikut-ikutan sehari sekitar 1-5
teman, 43% agar terlihat gaul. batang.

DO: Merokok

- 47% remaja pernah mencoba


merokok

- rerata usia pertama merokok 10,3


tahun.

2. DS: Defisiensi kesehatan Tidak adanya program


komunitas (00215) untuk menghilangkan
- Masyarakat mengaku belum pernah satu atau lebih masalah
mendapatkan penyuluhan atau kesehatan bagi suatu
pendidikan kesehatan terutama populasi dd belum
masalah bahaya merokok. pernah mendapatkan
DO: pendidikan kesehatan
terutama masalah
- Rata-rata pendidikan warga desa bahaya merokok.
tergolong rendah yaitu tamatan SMP
bahkan ada yang tamatan SD. Sumber daya kurang
memada
-
3. DS: Ketidakefektifan Tidak adanya wadah
pemeliharaan kegiatan remaja
- Masyarakat sekitar menyatakan kesehatann (00099) sehingga tidak ada
banyak remaja yang keinginan untuk
nongkrong di warung-warung perbaikan perilaku
sambil merokok dan Tidak sehat.
terdapat wadah kegiatan untuk
remaja

DO:

- Tidak ada karang taruna.

3.1.3 Diagnosa Keperawatan (NANDA, 2018, NIC, NOC)

NO Diagnosa Keperawatan
1. Perilaku kesehatan cenderung beresiko (00188)
2. Defisiensi Kesehatan Komunitas (00215)
3. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatann (00099)
PENAPISAN MASALAH
Dari hasil analisis data, didapatkan data yang kemudian dilakukan penapisan masalah untuk menentukan prioritas masalah,
adapun penapisan tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
Kriteria
No Diagnosa Keperawatan Jumlah Keterangan
A B C D E F G H I J K L
1 Perilaku kesehatan 5 5 5 5 4 3 3 2 3 3 2 3 44 Keterangan kriteria :
cenderung beresiko
A. Sesuai dengan peran perawat
(00188) akibat Perilaku
komunitas
remaja yang cenderung
merokok dari mula usia B. Resiko terjadi
10,3tahun dan C. Resiko parah
menghabiskan rokok
D. Potensi untuk pendidikan kesehatan
sehari sekitar 1-5
batang.dengan alasan E. Interest untuk komunitas
coba-coba, ikut -ikutan F. Kemungkinan diatasi
dan ingin terlihat gaul.
2 Defisiensi Kesehatan 5 5 5 5 4 2 3 2 3 3 2 3 42 G. Relevan dengan program
Komunitas (00215) Tidak
H. Tersedianya tempat
adanya program untuk
menghilangkan satu atau I. Tersedianya waktu
lebih masalah kesehatan J.Tersedianya dana
bagi suatu populasi dd
K. Tersedianya fasilitas
belum pernah
mendapatkan pendidikan L. Tersedianya sumberdaya
kesehatan terutama
masalah bahaya merokok.

3 Ketidakefektifan 4 4 4 4 3 2 2 2 3 3 2 3 36 Keterangan pembobotan :


pemeliharaan kesehatann
1.sangat rendah
(00099) akibat Tidak
adanya wadah kegiatan 2.rendah
remaja sehingga tidak ada 3.Cukup
keinginan untuk
4.Tinggi
perbaikan perilaku sehat.
5.Sangat tinggi
Diagnosa Keperawatan Pentingnya Perubahan Positif Penyelesaian Total Score
Penyelesaian Untuk Penyelesaian Di Untuk
Masalah Komunitas Peningkatan
Kualitas Hidup
0 : tidak ada
1: rendah 0 : tidak ada
1 : rendah
2: sedang 1 : rendah
2 : sedang
3: tinggi 2 : sedang
3 : tinggi
3 : tinggi
Perilaku kesehatan cenderung 3 3 3 9
beresiko (00188) akibat Perilaku
remaja yang cenderung merokok
dari mula usia 10,3tahun dan
menghabiskan rokok sehari
sekitar 1-5 batang.dengan alasan
coba-coba, ikut -ikutan dan ingin
terlihat gaul.
Defisiensi Kesehatan Komunitas 3 3 2 8
(00215) Tidak adanya program
untuk menghilangkan satu atau
lebih masalah kesehatan bagi
suatu populasi dd belum pernah
mendapatkan pendidikan
kesehatan terutama masalah
bahaya merokok.
Ketidakefektifan pemeliharaan 2 2 3 7
kesehatann (00099) akibat Tidak
adanya wadah kegiatan remaja
sehingga tidak ada keinginan
untuk perbaikan perilaku sehat.

E. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


Berdasarkan skoring diatas, maka prioritas diagnosa keperawatan komunitas di RW 08 Desa Suka Maju adalah sebagai berikut :
No
Diagnosa Keperawatan Jumlah
Prioritas
1 Perilaku kesehatan cenderung beresiko (00188) akibat Perilaku remaja yang cenderung merokok
dari mula usia 10,3tahun dan menghabiskan rokok sehari sekitar 1-5 batang.dengan alasan coba- 44
coba, ikut -ikutan dan ingin terlihat gaul.

2 Defisiensi Kesehatan Komunitas (00215) Tidak adanya program untuk menghilangkan satu atau
lebih masalah kesehatan bagi suatu populasi dd belum pernah mendapatkan pendidikan 42
kesehatan terutama masalah bahaya merokok.

3 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatann (00099) akibat Tidak adanya wadah kegiatan remaja
sehingga tidak ada keinginan untuk perbaikan perilaku sehat. 36
No
Diagnosa Keperawatan Jumlah
Prioritas
1 Perilaku kesehatan cenderung beresiko (00188) akibat Perilaku remaja yang cenderung merokok
dari mula usia 10,3tahun dan menghabiskan rokok sehari sekitar 1-5 batang.dengan alasan coba- 9
coba, ikut -ikutan dan ingin terlihat gaul.

2 Defisiensi Kesehatan Komunitas (00215) Tidak adanya program untuk menghilangkan satu atau
lebih masalah kesehatan bagi suatu populasi dd belum pernah mendapatkan pendidikan 8
kesehatan terutama masalah bahaya merokok.

3 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatann (00099) akibat Tidak adanya wadah kegiatan remaja
sehingga tidak ada keinginan untuk perbaikan perilaku sehat. 7
Intervensi Keperawatan Komunitas (NANDA 2018,NIC,NOC)

Data Diagnosis NOC NIC


Keperawatan

Kode Diagnosis Kode Hasil Kode Hasil

Data pendukung masalah kesehatan komunitas : Perilaku beresiko pada remaja; Merokok

Hasil pengkajian oleh 00188 Perilaku Prevensi Primer Prevensi primer


perawat puskesmas di RW kesehatan
1805 Pengetahuan; perilaku sehat . 6610 Identifikasi risiko Pendidikan
08 Desa Sukamaju cenderung
1832 Pengetahuan; promosi kesehatan. 5510 kesehatan Perlindungan
didapatkan data 47% remaja beresiko 1855 8880 lindungan
pernah mencoba merokok, (00188) 1600 Pengetahuan; gaya hidup sehat . berisiko
 Pengembangan
rerata usia pertama merokok 1602 8700 program Pendidikan kesehatan
Kepatuhan perilaku
1603 5510 Fasilitasi belajar Mendengarkan
10,3 tahun. Saat ini 32%
1606 Perilaku promosi kesehatan . 5520 secara aktif
remaja masih merokok, 1704 4920 Peningkatan/penambahan peran
Pencarian perilaku sehat .
jumlah rokok yang 5370
dihabiskan dalam sehari 1-5 Partisipasi dalam pengambilan
keputusan
batang. Alasan remaja
merokok 15% karena coba- perawatan kesehatan. Health beliefs;
perceived threat
coba, 42% karena ikut-
ikutan teman, 43% agar
terlihat gaul. Masyarakat Prevensi Sekunder Prevensi Sekunder
sekitar menyatakan banyak Kontrol resiko
 Konsultasi

1902 8100
remaja yang nongkrong di
2005 Status kesehatan pelajar 4310 Terapi aktifitas
warung-warung sambil
2700 Kompetensi komunitas 4340 Latihan asertifness
merokok.
1700 Health beliefs
 4350 Manajemen perilaku
1705 4360 Modifikasi perilaku
Health orientation
4362 Modifikasi perilaku; kemampuan
sosial
4400
4430 Terapi musik


5330 Terapi bermain Mood


management
5480
Klarifikasi nilai
5450
Terapi kelompok
5430
Dukungan kelompok

Prevensi Tersier Prevensi tertier


2012 Status kenyamanan; sosialkultur 5020 Mediasi konflik
2000 5900
Kualitas hidup
 Distraksi
2005
2001 Status kesehatan pelajar
Kesehatan spiritual

Tidak adanya program 00215 Defisiensi Prevensi Primer Primer


untuk menghilangkan satu Kesehatan Primer Community Health
atau lebih masalah Komunitas
Community Health Status Development
kesehatan bagi suatu (00215)
populasi dd belum pernah indikator 1 2 3 4 5 1. Identifikasi masalah
mendapatkan pendidikan kekuatan dan prioritas
kesehatan terutama masalah Status kesehatan dengan
bahaya merokok. kesehatan bayi bekerjasama antar
dan anak anggota komunitas

Status 2. Dampingi anggota

kesehatan komunitas dalam

remaja meningkatkan
kewaspadaan terhadap
Status masalah kesehatan
kesehatan 3. Gunakan dialog untuk
dewasa menetapkan masalah
kesehatan dan rencana
Status
pengembangan aktivitas
kesehatan
lansia 4. Meningkatkan jaringan
support dalam komunitas
Tingkat
mengenai kesehatan
merokok
5. Jaga komunikasi terbuka
dengan anggota
kemonitas

Sekunder Health Screening

Community Health Screening 1. Tentukan target populasi


Effectiveness untuk health screening
2. Promosikan health
indikator 1 2 3 4 5
screening service untuk
Identifikasi meningkatkan
prevalensi kewaspadaan masyarakat
resiko tinggi di 3. Sediakan akses yang
populasi mudah untuk screening
service (waktu dan
tempat)
4. Beritahu rasional dan
tujuan dari health
screening dan self-
Memilih monitoring
screening yang 5. Lakukan pengkajian fisik
tepat untuk 6. Konsultasikan apabla
deteksi awal ditemukan hasil abnormal
pada screening untuk
Edukasi
pemeriksaan selanjutnya
komunitas
tentang
pentingnya
screening

Koordinasi
dengan nakes
untuk
menyediakan
screening

Identifikasi
dampak budaya
terhadap
screening
Tersier Tersier

Community Risk control : Communicable Disease


Communicable disease Management

indikator 1 2 3 4 5 1. Monitor populasi dengan


kelompok resiko untuk
Mendukung
pemenuhan pencegahan
kebijakan
dan pengobatan
pengontrolan
2. Monitor insiden
penyakit
persebaran terjangkitnya
menular
penyakit menular
Monitor tingkat 3. Monitor sanitasi
morbiditas 4. Monitor faktor
penyakit lingkungan yang
menular mempengaruhi transmisi
dari penyakit menular
Monitor tingkat
5. Promosi akses yang
mortalitas
adekuat untuk pendidikan
penyakit
kesehatan berhubungan
dengan pencegahan dan
menular pengobatan dari penyakit
menular serta mencegah
Monitor
kekambuhan
komplikasi dari
6. Meningkatkan sistem
penyakit
pertahanan terhadap
menular
penyakit menular
Tidak adanya wadah 00099 Ketidakefektifan Prevensi Primer Prevensi Primer
kegiatan remaja sehingga pemeliharaan 1823
Pengetahuan; promosi kesehatan 5510 Pendidikan kesehatan
tidak ada keinginan untuk kesehatann 1805 Pengetahuan; perilakusehat
5520 Memfasilitasi pembelajaran
perbaikan perilaku sehat. (00099) Pengetahuan; gaya hidup sehat.
1855 Pengajaran kelompok Pengajaran
5604
5618 prosedur/ tindakan
Prevensi Sekunder Prevensi Sekunder
1600 Kepatuhan perilaku.
 4350 Manajemen perilaku
1602
Perilaku promosi kesehatan. 4360 Modifikasi perilaku
1603 Pencarian perilaku sehat Partisipasi
dalam pengambilan 7320 Manajemen kasus
1606
keputusan perawatan kesehatan. 7400 Panduan system kesehatan
1608
Kontrol gejala.
 7620 Pengontrolan berkala
1902 7890 Transportasi; antar fasilitas
1908 Kontrol resiko
 6520 kesehatan .
 Skrining kesehatan.

1934 Deteksi factor resiko.

2000 Keamanan dan kesehatan serta


perawatan lingkungan.

2700
2701 Kualitas hidup

2807 Kompetensi komunitas
2808 Status kesehatan komunitas
2802 Efektifitas skrining kesehatan
komunitas


Efektifitas program komunitas


Kontrol resiko komunitas; penyakit
Prevensi Tersier Prevensi Tersier
221108
Penggunaan sumber yang ada di 8500 Pengembangan kesehatan
masyarakat
komunitas 8700
8750 Pengembangan program
Pemasaran sosial di masyarakat
PLANNING OF ACTION (POA)

Masalah Kegiatan Sasaran Waktu Tempat Dana Penanggung


Keperawatan Jawab
Perilaku 1. Memberikan Remaja dan Sabtu , 10 maret Lingkungan RW 08 Desa Masyarakat Santi
kesehatan Warga RW 08 2019 Sukamaju
cenderung pendidikan Desa Sukamaju Pukul 08.00
beresiko (00188) kesehatan tentang Jumat, 21 maret Posyandu RW 08 Desa
20179 sukamaju
definisi merokok Pukul 09.00
Selasa, 11 april
2. Memberikan 2019
pendidikan Pukul 10.00
Rabu, 19 April
kesehatan tentang 2019
bahaya merokok Pukul 10.00
bagi
kesehatan/merokok
di dalam rumah

3. Memberikan
pendidikan
kesehatan tentang
cuci tangan 6
langkah
1. Kemitraan
Defisiensi (bekerja sama Remaja dan Jumat, 7 april
Kesehatan dengan Warga RW 08 2019 Lingkungan RW 08 Desa Masyarakat Rizky
Komunitas masyarakat Desa Sukamaju Pukul 08.00 Sukamaju
(00215) dalam
menentukan Jumat, 14 april Posyandu RW 08 Desa
masalah 2019 sukamaju
tentang Pukul 10.30
kesehatan saat Kamis, 20 april
group 2019
discussion) Pukul 19.30
2. Pemberdayaan
(memberdayak
an masyarakat
dengan
meningkatkan
pengetahuan
mengenai
status
kesehatan,
bagaimana
bahaya
merokok pada
remaja)

Ketidakefektifan Promosi kesehatan Remaja dan Senin, 21 april Lingkungan RW 08 Desa Masyarakat Dewi
pemeliharaan Warga RW 08 2019 Sukamaju
kesehatann GERAK Desa Sukamaju Pukul 09.00
(00099) Posyandu RW 08 Desa
Metode KIE sukamaju
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas mengenai kesenjangan yang terjadi antara
teori dan kasus yang ada pada klien, faktor pendukung dan penghambat dalam
melakukan asuhan keperawatan pada Remaja dengan Intensitas Remaja yang
merokok di Desa Sukamaju selama 2 bulan pada tanggal 25 Desember 2018- 25
Februari 2019 meliputi pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan
keperawatan, peaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan.

4.1 Pengkajian Keperawatan


Pengkajian adalah tahap awal pada proses keperawatan secara
menyeluruh, pada tahap ini penulis akan membandingkan Pengkajian, analisa
data, prioritas masalah, diagnosis keperawatan, intervensi keperawatan,
implementasi keperwatan, dan evaluasi keperawatan.
Pada teori menyebutkan bahwa awal tahap operasional formal, remaja
berpikir sangat egois, idealis, tertantang dengan berbagai hal baru dan
khawatir jika tidak bisa melakukannya dan merubahnya. Hal ini
menyebabkan remaja lebih merasa hebat. Pada dasarnya remaja harus
memikirkan cara paling bijak dan benar, jika tidak maka remaja akan mudah
frustasi dan mencoba hal-hal yang tidak baik. Remaja yang mampu
mengendalikan pikirannya dengan baik memiliki banyak support sistem yang
terus mengajarkan tentang kebaikan. Support sistem tersebut berada pada
orang tua, lingkungan,budaya, agama dan komunitas yang diikutinya

Sedangkan pada kasus Remaja yang merokok di Desa Sukamaju ini


bahwa Remaja kurang umumnya belum mengetahui pentingnya tentang
bahaya merokok. Karena, kekumuhan dan banyak warga yang merokok,
angka kematian di Desa Sukamaju lebih tinggi daripada angka kelahiran.
Ditambah pelayanan kesehatan di Desa Sukamaju jauh dengan jarak tempuh
5 km untuk mencapai Puskesmas terdekat. Rata-rata pendidikan warga desa
tergolong rendah yaitu tamatan SMP bahkan ada yang tamatan SD.
Masyarakat mengaku belum pernah mendapatkan penyuluhan atau
pendidikan kesehatan terutama masalah bahaya merokok.
Faktor penghambat yang ditemukan pada pengkajian adalah perbedaan
yang ada antara teori dan kasus yang ditemukan.Karena di dalam kasus
menyatakan bahwa tidak mengetahui pentingnya bahaya merokok. Faktor
pendukung yang penulis dapatkan pada tahap pengkajian yaitu support
system sangat dibutuhkan oleh remaja.

4.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan terdapat kesenjangan yang ada pada teori dan
kasus. Tidak terdapat adanya diagnosa yang sama dari teori dan kasus.
Pada teori terdapat Diagnosa keperawatan NANDA untuk meningkatkan
kesehatan, diantaranya Risiko cedera yang berhubungan dengan b.d
Penggunaan alcohol, rokok dan obat, Kurang pengetahuan yang b.d Kurang
informasi tentang kurikulum sekolah, dan Gangguan citra tubuh yang b.d
Perasaan negative tentang tubuh.
Sedangkan pada kasus terdapat diagnosa Perilaku kesehatan cenderung
beresiko, Defisiensi Kesehatan Komunitas, Ketidakefektifan
pemeliharaan kesehatan.
Dalam merumuskan dan mengambil diagnosa penulis mendapatkan faktor
penghambat yaitu karena dalam menyusun dan menentukan diagnosa perlu
analisa yang tinggi dan pengalaman yang lebih karena penulis masih pemula
dan masih belajar, sedangkan faktor pendukung yang penulis dapat adalah
data-data mengenai tanda-gejala yang ada sudah sesuai dengan hasil
wawancara keluarga dan tepat untuk menegakkan diagnosa tersebut, dan
penulis sudah menulis dan menentukkan diagnosa sesuai referensi dan
mengikuti bimbingan dengan pembimbing. Solusinya adalah perawat dapat
lebih banyak belajar dan menambah pengalaman lagi agar dapat menentukan
diagnosa, serta membina hubungan saling percaya agar pasien dapat trust
dengan perawat.
4.3 Perencanaan Keperawatan
Pada tahap perencanaan ini, penulis membuat perencanaan sesuai dengan
teori dan telah di moodifikasi sesuai kebutuhan klien. Penulis
memprioritaskan diagnosa keperawatan yaitu Perilaku kesehatan cenderung
beresiko. Perencanaan antara teori dan kasus mengalami kesenjangan.
Tujuan dan tindakan keperawatan pada teori yaitu terpenuhinya kebutuhan
klien, menyediakan criteria hasil (outcomes) sebagai pengulangan dan
evaluasi keperawatan, sedangkan pada kasus tujuannya yaitu setelah
dilakukan asuhan keperawatan selama 2 bulan diharapkan masyarakat daerah
setempat terutama remaja mengetahui bahaya akibat dari merokok.
Perencanaan diagnose pertama: Tahap Primer Identifikasi risiko

Pendidikan kesehatan, Perlindungan lingkngan berisiko,
 Pengembangan

program Pendidikan kesehatan, dan Fasilitasi belajar dengan Mendengarkan


secara aktif dalam peningkatan/penambahan peran .

Kemudian pada prevensi sekunder dapat dilakukan Konsultasi, Terapi

aktifitas, Latihan asertifness, Manajemen perilaku, Modifika si perilaku

;kemampuan sosial, Terapi music, Terapi bermain Mood management ,

Klarifikasi nilai, Terapi kelompok, dan Dukungan Kelompok


Pada Tahap tersier bisa dilakukan Mediasi Konflik dan distraksi.
Pada perencanaan kedua yaitu defisiensi kesehatan komunitas dengan
cara: Identifikasi masalah kekuatan dan prioritas kesehatan dengan
bekerjasama antar anggota komunitas, Dampingi anggota komunitas dalam
meningkatkan kewaspadaan terhadap masalah kesehatan, Gunakan dialog
untuk menetapkan masalah kesehatan dan rencana pengembangan aktivitas,
Meningkatkan jaringan support dalam komunitas mengenai kesehatan, Jaga
komunikasi terbuka dengan anggota komunitas.
Kemudian setelah dilakukan skrining pada prevensi sekunder bisa
dilanjutkan dengan cara, Tentukan target populasi untuk health screening,
Promosikan health screening service untuk meningkatkan kewaspadaan
masyarakat, Sediakan akses yang mudah untuk screening service (waktu dan
tempat), Beritahu rasional dan tujuan dari health screening dan self-
monitoring, Lakukan pengkajian fisik, dan Konsultasikan apabla ditemukan
hasil abnormal pada screening untuk pemeriksaan selanjutnya.
Lalu pada prevensi tersier lakukan, Monitor populasi dengan kelompok
resiko untuk pemenuhan pencegahan dan pengobatan, Monitor insiden
persebaran terjangkitnya penyakit menular, Monitor sanitasi, Monitor faktor
lingkungan yang mempengaruhi transmisi dari penyakit menular, Promosi
akses yang adekuat untuk pendidikan kesehatan berhubungan dengan
pencegahan dan pengobatan dari penyakit menular serta mencegah
kekambuhan, dan Meningkatkan sistem pertahanan terhadap penyakit
menular.

4.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi merupakan suatu perwujudan dari perencanaan yang sudah
disusun pada tahap perencaan sebelumya (Nanda 2018).
Berdasarkan hal tersebut penulis dalam mengelola pasien dalam
implementasi dengan masing-masing diagnosa. Pada tahap ini merupakan
tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan komunitas yang telah disusun.
Prinsip dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, yaitu :
a) Berdasarkan respon masyarakat.
b) Disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia di masyarakat.
c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara diri sendiri
serta lingkungannya.
d) Bekerja sama dengan profesi lain.
e) Menekankan pada aspek peningkatan kesehatan masyarakat dan
pencegahan penyakit.
f) Memperhatikan perubahan lingkungan masyarakat.
g) Melibatkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan
implementasi keperawatan.
Pada kasus, Implementasi dilaksanakan melalui Plan Of Action (POA)
sudah sesuai dengan prinsip dalam pelaksanaan Implementasi Keperawatan
berdasarkan point point diatas.
4.5 Evaluasi Keperawatan
Setelah penulisan melakukan asuhan keperawatan komunitas antara teori
dan kasus, penulis menggunakan metode SOAP dalam mengevaluasi dari
proses keperawatan komunitas dan hasil respon klien terhadap tindakan
pelaksaan keperawatan. Penulis memproritaskan diagnosa keperawatan yang
sesuai antara teori dengan kasus.
Diagnosa keperawatan utama yaitu Perilaku kesehatan cenderung
beresiko, Tujuan tercapai masalah teratasi, Desa Sukamaju telah mengetahui
resiko yang ditimbulkan akibat dari bahaya merokok pada remaja.
Untuk diagnosa keperawatan Defisiensi Kesehatan Komunitas Tujuan
tercapai masalah teratasi di tandai dengan keluarga paham tentang kesehatan
pada usia remaja, keluarga mengetahui pentingnya support system yang
sangat dibutuhkan oleh remaja.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Remaja merupakan tahapan seseorang yang berada di antara fase anak dan
dewasa. Hal ini ditandai dengan perubahan fisik, perilaku, kognitif, biologis, dan
emosional. Seorang remaja akan diberikan tanggungjawab yang lebih besar dari
kedua orang tuanya agar semakin mempelajari dunia dewasa dan perlahan
meninggalkan jiwa kekanak-kanakannya. Remaja yang baik akan mulai
mengaktualkan dirinya di dunia sosial. Selain itu, remaja mulai mengenal dan
memahami lawan jenisnya dan timbul rasa ingin diperhatikan oleh lingkungan. Tidak
sedikit remaja melakukan hal-hal ekstrim untuk menarik perhatian lingkungannya.

Dakam melakukan pengkajian menggunakan model CAP atau Community as


Partner dengan mengkaji mulai core, sub sistem dan persepsi mengenai masalah atau
kasus pada agregat remaja.

Pada teori terdapat Diagnosa keperawatan NANDA untuk meningkatkan


kesehatan, diantaranya Risiko cedera yang berhubungan dengan b.d Penggunaan
alcohol, rokok dan obat, Kurang pengetahuan yang b.d Kurang informasi tentang
kurikulum sekolah, dan Gangguan citra tubuh yang b.d Perasaan negative tentang
tubuh. Sedangkan pada kasus terdapat diagnosa Perilaku kesehatan cenderung
beresiko, Defisiensi Kesehatan Komunitas, Ketidakefektifan pemeliharaan
kesehatan.

5.2 Saran
Masih terdapat banyak kekurangan di dalam makalah yang kami buat ini,
makalah ini kami susun sebagai refrensi mengenai Asuhan Keperawatan Pada
Agregat Remaja Dalam Keperawatan Komunitas. Alangkah lebih baik untuk para
pembaca mencari dan mentelaah lebih banyak lagi dari sumber-sumber terpercaya,
para ahli yang bersangkutan serta buku-buku ataupun jurnal mengenai Asuhan
Keperawatan Pada Agregat Remaja Dalam Keperawatan Komunitas untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Allender, Judith A., & Spardley, Barbara W. (2004). Communiti health nursing: Promoting
and protecting the public’s health 6th ed. Lippincott: Philadelphia.
Allender, J.A., Rector, C., & Warner, K.D. (2010). Community Health Nursing; Promoting
& Protecting The Public’s Health. (7th ed). Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.
Anderson, E., & McFarlane, J. (2011). Community as partner: Theory and practice in
nursing (6th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer Health / Lippincott Williams &
Wilkins.
Bulechek, Gloria. M, et al. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC). Sixth
Edition. United States of America: Elsevier.
Maurer, F.A., & Smith, C.M. (2005). Community/public health nursing practice: health for
families and populations. (3th ed). St. Louis: Elsevier Saunders.
Moorhead, Sue. et al. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC). Fifth Edition.
United States of America: Elsevier.
NANDA. (2018). Nursing Diagnosis. EGC: Jakarta
Santrock, J.W. (2007). Adolesence (Remaja). (Edisi ke-11). Terjemahan oleh Soedjarwo.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Stanhope, M. & Lancaster, J. (2004). Community & public health nursing. (6th ed).
St Louis: Mosby.
Wong, D. L., Marilyn H., David W., Marilyn L. W., & Patricia S. (2008). Buku Ajar
Keperawatan Pediatrik Vol.1. Jakarta: EGC.
Northouse, Peter Guy dan Northouse, Laurel Lindhout. 1985. Health Communication. A
Handbook for Health Professionals. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, New
Jersey

Heriandi. 2004. Laporan Tugas Khusus Telaah Kemitraan Program Akademi Fantasi
Indosiar (AFI), Program Pasca Sarjana, Kesehatan Masyarakat, FKM UI.

Pratomo, Hadi. 2004. Laporan Akhir Pengembangan Jejaring Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja (PKPR) dan Rujukannya di Tingkat Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah
dan Jawa
Timur, Laporan Konsultan Proyek SMPFA), Depkes RI.
InfoDATIN. Perilaku Merokok Masyarakat Indonesia Berdasarkan Rsikesdas 2007 dan 2013.
ISSN 2442-7659. www.depkes.go.id/ /infodatin/infodatin-hari-tanpa-tembakau-sedunia.pdf
info datin merokok

Anda mungkin juga menyukai