Anda di halaman 1dari 3

Hasil wawancara kelompok 5

Pewawancara : M Qadri Kostolani


M Akbar Ramadhan
Elsa Raisa M P
Asma Karimatunnisa
Kamillia insani
Narasumber : Bu Tati
Lokasi : MI Sa’adatuddawam
Waktu : Senin, 01 Desember 2019 Pukul 11.00 WIB

(P) : Bagaimana cara untuk menentukan nilai KKM (menentukan nilai KKM di MI
Sa’adatuttawam)?

(N) : Nilai KKM pastinya ditentukan dari aspek peserta didik, karakteristik mata pelajaran dan
kondisi satuan pendidik. Aspek peserta didik yakni memperhatikan kemampuan peserta didik
dalam kesehariannya dikelas. Dari pengalaman Saya, misalkan didalam kelas terdapat 30 siswa,
dan dari tahun ketahun siswa yang mampu menuntaskan pelajaran dikelas hanya sekitar 10 siswa
dan tidak mungkin bagi guru untuk menaruh nilai KKM yang tinggi, jadi itulah pentingnya
menyesuaikan KKM dengan kemampuan siswa. Lalu karakteristik pelajaran yakni tingkat
kesulitan mata pelajaran tersebut, tetapi biasanya madrasah itu dalam menentukan KKM pelajaran
agama bisa mencapai nilai KKM 70, karena pelajaran agama diprioritaskan didalam sekolah
madrasah. Lalu satuan pendidik yakni akreditas sekolah dan kelayakan prasarana sekolah.

(P) : Siapa yang menentukkan KKM dan berapa kurun waktunya?

(N) : Yang menentukkan KKM yaitu guru setiap mata pelajaran, dibuat masing-masing
kemudian dimusyawarahkan dengan Kepala sekolah dan KKM berlaku tiap semesternya. Jadi
setiap semester kita akan membuat KKM sesuai dengan materi yang ada.

(P) : Bagaimana bentuk pelaksanaan remedial (di MI Sa’adatuttawam)?


(N) : Ketika terdapat siswa yang mendapat nilai dibawah KKM, maka dilaksanakanlah
remedial berupa tes ulang atau dengan pemberian tugas. Biasanya, remedial berupa tugas diberikan
oleh guru ketika sudah dilaksankan ujian ulang dan nilai siswa tetap sama atau tidak ada
peningkatan, maka remedial siswa dengan pemberian tugas oleh guru seperti tugas hafalan,
membuat kliping dan lain-lain terkait dengan mata pelajaran tersebut, bermaksud untuk
menumbuhkan rasa niat belajar siswa kemudian nilai yang diberikan siswa tersebut sesuai dengan
nilai KKM tidak boleh lebih apalagi kurang. Kecuali bagi siswa yang nilai tes ulangnya berhasil
memperoleh nilai diatas KKM, maka guru boleh memberikan nilai ujian akhirnya diatas KKM
dengan melihat standar lainnya.

(P) : Apakah ada pengayaan yang diberikan guru kepada siswa yang memperoleh nilai diatas
KKM?

(N) : Ada. Tapi, tidak di semua mata pelajaran karena untuk pengayaan biasanya kita
membutuhkan waktu lebih diluar jam mata pelajaran sekolah dan harus disesuaikan juga dengan
kegiatan siswa diluar jam sekolah. Contohnya, pada mata pelajaran Fiqih tidak ada pengayaan,
karena siswa diharapkan dengan seringnya membaca buku mata pelajaran fiqih di rumah dan
sering bertanya juga kepada guru dikelas, insya Allah mereka bisa lebih cepat paham. Kecuali,
seperti pada mata pelajaran Matematika yang dibutuhkan latihan-latihan dan konsentrasi lebih
maka guru biasanya ada pengayaan di mata pelajaran ini.

(P) : Bagaimana Penilaian akhir pada aspek psikomotor dan afektif siswa?

(N) : Untuk penilaian akhir aspek psikomotor dan afektif siswa untuk saat ini masih
digabungkan dengan aspek kognitif di rapor semester, sementara saat ini sudah banyak sekolah
yang nilai aspek psikomotor, afektif dan kognitifnya dipisah. Intinya 3 aspek ini satu sama lain
saling berkaitan. Ketika guru menilai kognitif siswa, aspek afektif dan psikomotornya juga ternilai.

(P) : Bagaimana cara menghitung penilaian akhir disekolah ini?

(N) : Kalau ibu menggunakan cara penggabungan, misal ulangan harian ada 3 kali lalu ditambah
lagi dengan nilai semesteran, berarti sudah dilaksanakan 4 kali ujian. Jadi, 3 nilai ulangan harian
ditambah nilai ulangan semester dibagi 4, hasilnya menjadi nilai akhir ujian semester. Belum lagi
nilai keseharian mulai dari praktek atau hafalan itu digabungkan lagi dengan nilai ujian semester.
Jadi, nilai ujian akhir (kognitif) ditambah dengan nilai sikap (afektif dan psikomotorik) hasilnya
itulah yang menjadi nilai akhir.