Anda di halaman 1dari 17

MENUNTUT ILMU DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Filsafat dan Ilmu Pendidikan yang diampu oleh:

Dr. Halfian Lubis, SH., M.Ag

oleh

oleh
Atma Faizahturrahmah 11170110000028
Afifah Hanifatus Sholiha 111701100000
Riziq Fauqi 11170110000

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Penulis panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT yang telah
memberikan Rahmat dan TaufikNya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah yang berjudul “menuntut ilmu dalam perspektif Islam”

Penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih


banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa,
susunan kalimat, tanda baca maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan
hati, penulis menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Jakarta, 06 Desember 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1

C. Tujuan Penulisan .................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Bagaimana pengertian ilmu dalam perspektif


Islam.................................................................................................2
B. Bagaimana menuntut ilmu dalam perspektif Islam ?.........................4
C. Bagaimana urgensi menuntut ilmu dalam kehidupan ?.................

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ..........................................................................................
B. Saran .....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Menuntut ilmu dalam perspektif Islam adalah sebuah keharusan bagi
setiap umat Islam. Sangat pentingnya Ilmu dalam Islam sehingga wahyu yang
pertama kali diterima oleh umat Islam melalui Rasul adalah perintah untuk
membaca. Membaca semua ilmu pengetahuan yang ada, tidak dibatasi pada
ilmu pengetahuan yang bertemakan Islam saja. Penuntut Ilmu dalam Islam
kedudukannya juga sangat di hormati. Hingga akhirnya melalui belajar dari
sebuah ilmu, manusia terkhususkan umat Islam akan menemukan tuhannya.
Sebagaimana dalam hadits dinyatakan bahwa tafakur dalam arti belajar
dalam waktu satu jam lebih baik daripada ibadah satu tahun. Hal tersebut juga
turut menggambarkan bagaimana kedudukan ilmu dalam Islam itu sendiri.
Maka sudah seharusnya sebagai umat Islam rasa semangat dan istiqomah
harus terus tertanamkan dalam menuntut Ilmu. Sehingga pada makalah ini
penulis beri judul “menuntut ilmu dalam perspektif Islam”.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana pengertian ilmu dalam perspektif Islam ?
2. Bagaimana menuntut ilmu dalam perspektif Islam ?
3. Bagaimana urgensi menuntut ilmu dalam kehidupan ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian ilmu dalam perspektif Islam
2. Untuk mengetahui menuntut ilmu dalam perspektif Islam
3. Untuk mengetahui urgensi menuntut ilmu dalam kehidupan

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Dalam Perspektif Islam


Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm (‘alima-ya’lamu-‘ilm), yang
berarti pengetahuan (al-ma’rifah), kemudian berkembang menjadi pengetahuan
tentang hakikat sesuatu yang dipahami secara mendalam. Dari asal kata ‘ilm ini
selanjutnya di-Indonesia-kan menjadi ‘ilmu’ atau ‘ilmu pengetahuan. Dalam
perspektif Islam, ilmu merupakan pengetahuan mendalam hasil usaha yang
sungguh-sungguh (ijtihad) dari para ilmuwan muslim (‘ulama/mujtahid) atas
persoalan-persoalan duniawi dan ukhrawi dengan bersumber kepada wahyu
Allah.1
Terkait dengan hal diatas, Abd. Rachman Assegaf berpendapat bahwa
ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, disistemasasi, dan
diinterpretasi.2 Setiap ilmu membatasi diri pada satu bidang kajian. Oleh sebab
itu, seseorang yang memperdalam ilmu-ilmu tertentu disebut sebagai spesialis.
Dari sudut pandang filsafat, ilmu lebih khusus dibandingkan dengan
pengetahuan.3
Menurut al-Raghip al-Ishfahani (443/ 1060).12 Dalam Mufradat Alfaz al-
Qur’annya, ilmu didefinisikan sebagai “Persepsi akan realitas sesuatu” (al-
ilmuidrak al-shay’ bihaqiqatihi)4 . Ini berarti bahwa hanya memahami kualitas
(misalnya bentuk, ukuran, berat, volume, warna, dan properti lainnya) dari suatu
hal bukan merupakan ilmu. Definisi ini didasari pandangan filosofis bahwa setiap
substansi terdiri dari esensi dan eksistensi. Esensi adalah sesuatu yang menjadikan

1
A.Qadri Azizy, Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman, (Jakarta: Direktorat
Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI, 2003), hlm. 13.
2
Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam; Paradigma Baru Pendidikan
Hadhari Berbasis Integratif-Interkonektif,( Jakarta: PT Grafindo Persada, 2011), hlm.266
3
Ibid, hlm.266
4
Al-Isfahani, Mufradat Alfaz al-Qur’an, ed. Safwan ‘A. Dawudi (Damascus: Dar
alQalam, 1412/1992), 580

2
sesuatu itu, sesuatu itu akan tetap dan sama sebelum, selama, maupun setelah
perubahan. Artinya, ilmu adalah semua yang berkenaan dengan realitas abadi itu.
Al-Sharif Al-Jurjani (w. 816/1413) dalam at-Ta’rifatnya mendefinisikan
ilmu sebagai sampainya pikiran pada makna dari suatu objek. Dari definisi al-
Jurjani selanjutnya dipadukan oleh Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas
dalam monografnya yang berjudul The Concept of Education in Islam. Menurut
al-Attas, definisi terbaik atas ilmu adalah ‘sampainya makna dalam jiwa serta
sampainya jiwa pada makna’( ‫اﻟﻌﻠﻢ ھﻮ ﺣﺼﻮل ﻣﻌﻨﻲ اﻟﺸﯿﺊ ﻓﻲ اﻟﻨﻔﺲ و ﺣﺼﻮل اﻟﻨﻔﺲ إﻟﻲ ﻣﻌﻨﻲ‬
‫ )اﻟﺸﯿﺊ‬Satu hal yang jelas dalam definisi ini; ilmu adalah tentang makna. Objek
apapun, fakta maupun suatu peristiwa dikatakan diketahui seseorang jika
bermakna baginya. Dengan demikian, dalam proses kognisi, pikiran tidak sekedar
penerima pasif, tetapi ia aktif dalam arti mempersiapkan diri untuk menerima apa
yang ia ingin terima (mengolah dan menyeleksi makna yang diterima secara
sadar).5
Dari pemaparan pengertian ilmu diatas, dapat dipahami bahwa untuk
mendefinisikan ilmu bukanlah suatu yang mudah. Definisi ilmu telah menjadi
banyak perdebatan antara ilmuwan muslim yang satu dengan yang lainnya, dan ini
juga menunjukan betapa mulia nya ilmu di dalam Islam.
Di dalam al-qur’an kedudukan ilmu sangat dihargai. Kata ilmu yang sudah
menjadi terserap menjadi bahasa Indonesia, merupakan bahasa al-Qur’an. Dan
banyak disebutkan di dalam al-Qur’an kata ilmu tersebut, yaitu sebanyak 105 kali
dalam al-Quran. Sedangkan kata jadiannya disebut sebanyak 744 kali. Kata jadian
yang dimaksud adalah; ‘alima (35 kali), ya’lamu (215 kali), i’lam (31 kali),
yu’lamu (1 kali), ‘alim (18 kali), ma’lum (13 kali), ‘alamin (73 kali), ‘alam (3
kali), ‘a’lam (49 kali), ‘alim atau ‘ulama’ (163 kali), ‘allam (4 kali), ‘allama (12
kali), yu’limu (16 kali), ‘ulima (3 kali), mu’allam (1 kali), dan ta’allama (2 kali).6

5
Irwan Malik Marpaung, Konsep Ilmu Dalam Islam, Jurnal at-Ta’dib Vol. 6, No.
2, Desember 2011, hlm.261
6
M. Dawam Rahardjo, “Ensiklopedi al-Qur’ān: Ilmu”, dalam Ulumul Qur’ān,
(Vol.1, No. 4, 1990), hlm. 58.

3
Di samping al-Qur’an, dalam Hadits Nabi banyak disebut tentang aktivitas
ilmiah, keutamaan penuntut ilmu/ilmuwan, dan etika dalam menuntut ilmu.
Misalnya, hadits-hadits yang berbunyi; “Menuntut ilmu merupakan kewajiban
setiap muslim dan muslimah” (HR. BukhariMuslim). “Barang siapa keluar rumah
dalam rangka menuntut ilmu, malaikat akan melindungi dengan kedua sayapnya”
(HR. Turmudzi).

B. Menuntut Ilmu Dalam Islam

Dalam menuntut ilmu tidak mengenal waktu dan juga tidak mengenal
gender. laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam
menuntut ilmu. Sehingga setiap manusia bisa mengembangkan potensi yang
diberikan oleh ALLAH SWT kepada kita sehingga potensi itu berkembang dan
sampai kepada kesempurnaan yang diharapkan. Karena itulah agama Islam
menganggap bahwa menuntut ilmu itu termasuk bagian dari ibadah.

Kewajiban menuntut ilmu telah dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh
Ibnu Majah sebagai berikut:

‫ﺣدثﻨا ھﺸام بن عمار ﺣدثﻨا ﺣﻔص بن سﻠﯿمان ﺣدثﻨا كثﯿر بن شﻨظﯿر عن‬
‫ قال رسﻮل هللا صﻠى هللا عﻠﯿه‬:‫ﻣحمد بن سﯿرين عن أنﺲ بن ﻣاﻟك قال‬
‫َﯿر أَھ ِﻠ ِه‬ ِ ‫ضةٌ عﻠى ُك ِّل ُﻣس ِﻠ ٍﻢ َو َو‬
ِ ‫اض ُع اﻟ ِﻌ ِﻠﻢ ِعﻨدَ غ‬ َ ‫وسﻠّﻢ‬
ُ َ‫طﻠ‬
َ ‫ب اﻟ ِﻌ ِﻠﻢ ﻓَ ِري‬
َ ‫َﻨازير اﻟ َجﻮھ ََر َواﻟﻠُّؤﻟُ َؤ واﻟذَّھ‬
‫َب‬ ِ ‫َك ُمقَﻠَّ ِد اﻟخ‬
Artinya: “Hasyim ibnu ammarmenceritakan kepada kami begitu jugaHafs bin
sulaiman begitu juga Kasir Bin Syindzir dari Muhammad bin Sirrin dari Anas bin
Malik bahwasanya ia berkata Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu wajib
bagi setiap muslim dan orang yang menyampaikan ilmu bukan kepada orang yang
layak menerimanya seperti orang yang mengalungkan permata, mutiara, dan emas
kepada babi-babi.” (Ibnu Majah, 1997:56)

4
Makna Ilmu dalam hadis tersebut adalah ilmu yang terkait dengan kewajiban
seorang hamba mengetahuinya seperti akidah, fiqh, bahasa Arab, dan lainnya.

Kemudian menuntut ilmu juga dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Alaq
ayat 1-5:

)3( ‫) ا ْق َرأْ َو َرب َُّك ْاْل َ ْك َر ُم‬2( ‫ق‬


ٍ َ‫عﻠ‬ َ ‫اْل ْن‬
َ ‫سانَ ِﻣ ْن‬ ِ ْ َ‫) َخﻠَق‬1( َ‫ا ْق َرأْ ِباس ِْﻢ َر ِبّ َك اﻟَّذِي َخﻠَق‬
)5( ‫سانَ َﻣا َﻟ ْﻢ يَ ْﻌ َﻠ ْﻢ‬
َ ‫اْل ْن‬ َ )4( ‫عﻠَّ َﻢ ِب ْاﻟقَﻠَ ِﻢ‬
ِ ْ ‫عﻠَّ َﻢ‬ َ ‫اﻟَّذِي‬

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia


telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Q.s Surat Al-Alaq:1-5)

Dalam ayat tersebut, menegaskan tentang keutamaan menuntut ilmu. Surat


Al-‘Alaq ini pada ayat pertama mengandung adalah perintah membaca yang
dapat mendatangkan ilmu. Kemudian Allah SWT menyebutkan makhluk-Nya
secara umum dan secara khusus dimana Allah SWT mengkhususkan manusia
diantara makhluk-makhluk-Nya untuk memperoleh kemuliaan ilmu.

Dalam menuntut ilmu ada tujuan-tujuan yang harus dicapai para peserta
didik dalam proses belajar dan dalam menuntut ilmu. Para pendidik-pendidik
memastikan bahwa tujuan-tujuan itu mulia dan halal dan sesuai dengan semangat,
ajaran, dan bimbingan agama. Muhammad Omar Al-Toumy Al-Syaibani
mengatakan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk mempertinggi
nilai-nilai akhlak hingga mencapai nilai akhlak al-karimah. Adapun beberapa
tujuannya antara lain:7

1. Membimbing manusia agar dapat menempatkan diri dan berperan sebagai


individu yang taat dalam menjalankan ajaran agama Allah
2. Menumbuhkan pola kepribadian manusia yang sempurna

7
Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam. (Jakarta:Bulan
Bintang, 1979). hal. 596

5
3. menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berbudi
luhur menurut ajaran Islam
4. Penguasaan ilmu terhadap agama Islam
5. Pembentuk kepribadian yang akhlakul karimah

Setiap tujuan pendidikan memilik tujuan tertinggi antara lain: perwujudan


kendiri, menjadi warga negara yang baik, persiapan untuk kehidupan dunia dan
akhirat. Para ahli pendidikan berbeda pendapat tentang tujuan pendidikan tetapi
yang paling dekat dengan jiwa islam sebagai tujuan terakhir yaitu “persiapan
untuk kehidupan dunia dan akhirat” . sebab dia sesuai dengan syariat islam.

Tujuan umum bagi pendidikan islam menurut Prof. Athiya El-Abrasyi


yaitu untuk pembentukan akhlak yang mulia, persiapan untuk kehidupan dunia
dan kehidupan akhirat, persiapan untuk mencari rizki, menumbuhkan scientific
spirit pada pelajar, menyiapkan siswa yang profesional.8

Tujuan khusus dalam pendidikan antara lain: memperkenalkan kepada


generasi muda akan akidah islam, menumbuhakn kesadaran pada diri pelajar
terhadap agama, menanamkan iman kepada Allah dan menumbuhkan rasa cinta
kepada Al-Qur’an

Pendidik-pendidik tersebut mendasarkan tujuan-tujuan yang halal dalam


menuntut ilmu itu pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis, diantaranya firman Allah
SWT:

َ ‫۞ َو َﻣا َكانَ ْاﻟ ُمؤْ ِﻣﻨُﻮنَ ِﻟ َﯿ ْﻨ ِﻔ ُروا َكاﻓَّةً ۚ ﻓَﻠَ ْﻮ ََل نَﻔَ َر ِﻣ ْن ُك ِّل ِﻓ ْرقَ ٍة ِﻣ ْﻨ ُه ْﻢ‬
‫طا ِئﻔَةٌ ِﻟ َﯿتَﻔَقَّ ُهﻮا‬
َ‫ِين َو ِﻟﯿُ ْﻨذ ُِروا قَ ْﻮ َﻣ ُه ْﻢ ِإذَا َر َجﻌُﻮا ِإﻟَ ْﯿ ِه ْﻢ ﻟَ َﻌﻠَّ ُه ْﻢ َي ْحذَ ُرون‬
ِ ّ‫ِﻓﻲ اﻟد‬
Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan
perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk

8
Muhammad Athiya El-Abrasyi. At-Tarbiyyah Al-Islamiyah Wal- Falasafatuha. (Darul Fikri Al-
‘Arabiy. hal. 81

6
memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (At-Taubah:122)

Adapun keutamaan dalam menuntut ilmu yang telah disebutkan dalam Al-
Qur’an maupun Hadis antara lain:9

1. Salah Satu Jalan Menuju Surga

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu
maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga,” (HR. Muslim)

2. Menuntun Kepada Akhlaq Yang Baik

“Dari Abdullah bin Mas’ud r.a Nabi Muhammad pernah bersabda


:”Janganlah ingin seperti orang lain, kecuali dua orang seperti ini. Pertama orang
yang diberi Allah kekayaan berlimpa dan ia membelanjakannya secara benar,
kedua orang yang diberi Allah Al-Hikmah dan ia berperilaku sesuai dengannya
dan mengajarkannya kepada orang lain (H.R Bukhari)

3. Tanda Seseorang Diberikan Petunjuk dan Hidayah

Ketika seorang hamba mendapatkan kemudahan untuk memahami serta


mempelajari ilmu syar’i. Itu berarti bahwa Allah telah menghendaki kebaikan
bagi hamba tersebut, serta membimbing hambanya menuju kepada perihal yang
diridhai-Nya. Dengan keberadaan ilmu tersebut kehidupannya menjadi berarti,
masa depannya cemerlang, selain itu juga kenikmatan yang tak pernah dirasakan
di dunia pun akan diraihnya.

4. Sebagai Pahala Yang Mengalir

Menuntut Ilmu yang baik, lalu mengajarkannya kepada generasi muda


atau kepada teman dan saudara yang lain. Hal itu akan menjadikan ilmu yang
kamu pelajari tersebut menjadi ladang amal jariyah.

5. Ahli Ilmu Lebih Utama Daripada Ahli Ibadah

9
Irwan Malik Marpaung. Konsep Ilmu Dalam Islam. Jurnal Ta’dib. Vol. 6 No.2
Desember 2011. Hal 12

7
Ilmu saja sebenarnya merupakan bagian dari sebuah ibadah, yaitu jika
ilmu yang kita miliki diajarkan kepada manusia lain akan bernilai jariyah. Selain
itu dengan Ilmu kita dapat lebih mengerti tentang ibadah yang kita lakukan
sehingga niat, maksud, dan tujuan dari kita ibadah lebih terarahkan.

6. Terhindar dari Fitnah dan Laknat Allah Azza Wa Jalla

Hal ini telah disebutkan dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh
sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam yang artinya: “Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala
isinya, kecuali zikir kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula
seorang yang alim atau yang belajar.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan
oleh syaikh Al-Albani dalam sahih al-jami’, no:1609)

Dalam menjelaskan makna dari hadits tersebut, syaikh Al-Munawi


berkata: “dunia terlaknat, disebabkan karena ia memperdaya jiwa-jiwa manusia
dengan keindahan dan kenikmatannya, yang memalingkannya dari beribadah
kepada Allah lalu mengikuti hawa nafsunya.” (Tuhfatul ahwadzi:6/504)

7. Yang Paling Takut Pada Allah Adalah Orang Yang Berilmu

Hal ini bisa direnungkan dalam ayat,

‫َّللاَ ِﻣ ْن ِع َبا ِد ِه ْاﻟﻌُﻠَ َما ُء‬


َّ ‫ِإنَّ َما َي ْخﺸَى‬

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah

ulama” (QS. Fathir: 28).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada


Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu).
Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu,
Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan
baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat
takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:
308).

8
Para ulama berkata,

‫ﻣن كان باهلل اعرف كان هلل اخﻮف‬

“Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah”.

Allah Tidak Memerintahkan Nabi-Nya Meminta Tambahan Apa Pun Selain Ilmu

Allah berfirman:

‫َوقُ ْل َربّ ِ ِز ْدنِﻲ ِع ْﻠ ًما‬

“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu“. (QS. Thaaha


[20] : 114). Ini dalil tegas diwajibkannya menuntut ilmu. Orang Yang
Dipahamkan Agama Adalah Orang Yang Dikehendaki Kebaikan

Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ِ ‫َّللاُ ِب ِه َخﯿ ًْرا يُﻔَ ِقّ ْههُ ﻓِى اﻟ ِد‬


‫ّين‬ َّ ‫َﻣ ْن ي ُِر ِد‬

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah

akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No.
1037).

Yang dimaksud faqih dalam hadits bukanlah hanya mengetahui hukum syar’i,
tetapi lebih dari itu. Dikatakan faqih jika seseorang memahami tauhid dan pokok
Islam, serta yang berkaitan dengan syari’at Allah. Demikian dikatakan oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi (hal. 21).

Dalam hadist ini dapat disimpulkan bahwa dengan Ilmu yang kita miliki
dan dengan bersemangatnya kita menuntut Ilmu. Insya Allah segala macam berita
dan wacana yang penuh fitnah di zaman yang sudah tua ini, kita akan bisa
memilah mana yang benar dan mana yang palsu.

C. Urgensi Menuntut Ilmu Pengetahuan dalam Kehidupan

9
Manusia adalah makhluk homo sapiens yang dikaruniai potensi untuk
berfikir. Karena dengan berpikir ia akan mendapatkan inspirasi untuk melakukan
kreasi, dapat membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang bermanfaat
dan yang membahayakan sehingga dalam kehidupan Ia dapat saling tolong-
menolong di antara sesamanya dan bahkan dapat membina lingkungannya
sehingga keberadaannya dapat memberikan manfaat bagi sekitarnya.10

Untuk mendapatkan kehidupan dunia dan akhirat yang seimbang


diperlukan ilmu pengetahuan. Karena tanpa ilmu pengetahuan kehidupan manusia
akan menjadi sia-sia. Imam As-Syafi’i mengatakan:

Artinya: “Barang siapa menghendaki (kebaikan) dunia, maka hendaknya


ia menggunakan ilmu, dan barang siapa menghendaki kebaikan akhirat, maka
hendaknya menggunakan ilmu”.11

Betapa banyak orang yang hidup sia-sia karena ia tidak mempunyai ilmu
pengetahuan sehingga ia menghempaskan fitrah kemanusiaannya yang suci.
Fitrah tersebut ia nodai dengan menjerumuskan dirinya pada prilaku yang tak
terpuji, seperti mabuk, judi, mencuri, zina dan lain sebagainya.

Secara alamiah setiap manusia mempunyai kecendrungan untuk


mengetahui sesuatu. Rasa ingin mengetahui tersebut muncul sebagai akibat
adanya keinginan untuk mengoptimalkan potensi berpikirnya guna mendapatkan
ilmu pengetahuan. Menurut Ibnu Khaldun manusia berfikir karena mempunyai
doronngan alamiah, bahkan binatangpun mempunyai dorongan alamiah untuk
mendapatkan apa yang dituntut oleh alam yakni mempertahankan kehidupan dari
kepunahan.12 Sama halnya manusia, ia juga menggunakan potensi berfikirnya
untuk memenuhi tuntutan alam untuk membuktikan bahwa dirinya mempunyai

10
Abuddin Nata dan Fauzan, “Pendidikan Dalam Persepektif Hadits”, (Jakarta: UIN
Jakarta Press, 2005)., hal. 147
11
An-Nawawi, “Al-Majmu’ ‘ala Syarh Al-Muhadzab”, (Kairo: Maktabah Al-Muniriyah,
2007), hlm. 40-41.
12
Ibid., hal. 148

10
eksistensi sehingga ia terhindar dari kepunahan dan persaingan peradaban yang
tidak kenal belas kasihan.

Masyarakat harus disadarkan akan pentingnya peranan dan manfaat ilmu


pengetahuaan dalam keidupan. Dengan ilmu pengetahuan problem kehidupan
dapat diklasifikasi, diurai dan dicari solusinya. Maka dari itu transformasi ilmu
pengetahuan melalui pendidikan merupakan sebuah keniscayaan. Melalui
pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat,
diharapkan distribusi dan transformasi ilmu pengetahuan dapat dilaksakan.
Sehingga cita-cita untuk mmewujudkan komunitas yang damai di bawah naungan
Tuhan Yang Maha Ghofur dapat menjadi kenyataan.

Keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak, oleh karena itu peranan
yang dimainkan dalam menumbuhkan nilai-nilai yang baik sangat berpengaruh
terhadap perkembangan pendidikan berikutnya. Orang tua sebagai pendidik di
lingkungan keluarga hendaknya dalam mendidik lebih menggunakan pendidikan
yang persuasive, sehingga komunikasi di antara mereka mempunyai makna yang
lebih. Tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak meliputi pendidikan
budi pekerti, ibadah dan pendidikan fisik.13

Untuk itu keberhasilan kehidupan berbangsa dan bernegara sangat di


pengaruhi oleh seberapa besar keluarga dapat memberikan kontribusi bagi
pendidikan anggotanya. Karena apabila keluarga gagal dalam mendidik
anggotanya maka yang terjadi adalah penumpukan kaum muda yang terjangkit
oleh berbagai penyakit sosial yang pada gilirannya dapat mengahancurkan bangsa
itu sendiri.14

Maka dari itu agar keluarga dapat memainkan peranan dalam pendidikan,
hendaknya setiap orang yang akan memasuki jenjang kehidupan keluarga harus
dibekali dengan ilmu pengetahuan. Calon suami dan istri sebelum memasuki
bahtera kehidupan harus mendapatkan pendidikan yang memadai baik yang
diperoleh dari orang tuanya langsung atau dari para pendidik lainnya. Hal ini
13
Ibid., hal. 150
14
Ibid, hal. 151

11
dimaksudkan agar dalam menjalani bahtera kehidupan terutama dalam mendidik
anak dapat berkembang seoptimal mungkin.

Al-Mawardi menambahkan dengan mengatakan bahwa, ilmu amatlah luas,


jika di pelajari tidak akan pernah selesai, selama bumi masih berputar, selama
hayat di kandung badan selama itu pula manusia memerlukan ilmu pengetahuan
islam tidak hanya cukup pada perintah menuntut ilmu, tetapi menghendaki agar
seseorang itu terus menerus melakukan belajar, karena manusia hidup di dunia ini
perlu senantiasa menyesuaikan dengan alam dan perkembangan zaman. Jika
manusia berhenti belajar sementara zaman terus berkembang maka manusia akan
tertinggal oleh zaman sehingga tidak dapat hidup layak sesuai dengan tuntutan
zaman, terutama pada zaman sekarang ini, zaman yang di sebut dengan era
globalisasi, orang di tuntut untuk memiliki bekal yang cukup banyak, berupa ilmu
pengetahuan.15

BAB III

PENUTUP

15
Al-Ghazali, Ihya’ Ulum Al-Din, (Beirut, Darul Ma’rifah, 2005), hlm. 14.

12
A. Kesimpulan
1. Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm (‘alima-ya’lamu-‘ilm), yang
berarti pengetahuan (al-ma’rifah), kemudian berkembang menjadi
pengetahuan tentang hakikat sesuatu yang dipahami secara mendalam.
Dari asal kata ‘ilm ini selanjutnya di-Indonesia-kan menjadi ‘ilmu’
atau ‘ilmu pengetahuan. Dalam perspektif Islam, ilmu merupakan
pengetahuan mendalam hasil usaha yang sungguh-sungguh (ijtihad)
dari para ilmuwan muslim (‘ulama/mujtahid) atas persoalan-persoalan
duniawi dan ukhrawi dengan bersumber kepada wahyu Allah.
2. Dalam menuntut ilmu tidak mengenal waktu dan juga tidak mengenal
gender. laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama
dalam menuntut ilmu. Sehingga setiap manusia bisa mengembangkan
potensi yang diberikan oleh ALLAH SWT kepada kita sehingga
potensi itu berkembang dan sampai kepada kesempurnaan yang
diharapkan. Karena itulah agama Islam menganggap bahwa menuntut
ilmu itu termasuk bagian dari ibadah.
3. Untuk mendapatkan kehidupan dunia dan akhirat yang seimbang
diperlukan ilmu pengetahuan. Karena tanpa ilmu pengetahuan
kehidupan manusia akan menjadi sia-sia.

B. Saran
Demikianlah makalah ini disusun, dan diharapkan menjadi
tambahan pengetahuan bagi pembaca. Selamat membaca dan semoga
bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

13
Assegaf,Abd. Rachman. 2011. Filsafat Pendidikan Islam; Paradigma Baru
Pendidikan Hadhari Berbasis Integratif-Interkonektif. ( Jakarta: PT
Grafindo Persada)
Al-Isfahani. Mufradat Alfaz al-Qur’an. 1992. ed. Safwan ‘A. Dawudi (Damascus:
Dar alQalam)
Al-Syaibani, Omar Muhammad Al-Toumy. 1979. Falsafah Pendidikan Islam.
(Jakarta:Bulan Bintang)

An-Nawawi. 2007. Al-Majmu’ ‘ala Syarh Al-Muhadzab. (Kairo: Maktabah Al-


Muniriyah)

Azizy, A.Qadri. 2003. Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman. (Jakarta: Direktorat


Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI)
El-Abrasyi, Muhammad Athiya. At-Tarbiyyah Al-Islamiyah Wal- Falasafatuha.
(Darul Fikri Al-‘Arabiy)
Marpaung, Irwan Malik. 2011. Konsep Ilmu Dalam Islam, Jurnal at-Ta’dib Vol.
6, No. 2

Nata , Abuddin dan Fauzan. 2005. Pendidikan Dalam Persepektif Hadits.


(Jakarta: UIN Jakarta Press)

Rahardjo, M. Dawam . 1990. Ensiklopedi al-Qur’an: Ilmu”, dalam Ulumul


Qur’an, (Vol.1, No. 4, 1990)

14