Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronik progresif yang ditandai dengan
ketidakmampuan tubuh untuk melakukan metabolism karbohidrat, lemak dan
protein, mengarah pada hiperglikemia (kadar glukosa darah tinggi). Diabetes
Mellitus (DM) kadang dirujuk sebgai ‘gula tinggi’, baik oleh pasien maupun
penyedia layanan kesehatan.Pemikiran dari hubungan gula dengan DM adalah
sesuai karena lolosnya sejumlah besar urine yang mengandung gula ciri dari
DM yang tidak terkontrol. Walaupun hiperglikemia memainkan sebuah peran
penting dalam perkembangan komplikasi terkait DM, kadar yang tinggi dari
glukosa darah hanya satu komponen dari proses patologis dan manifestasi
klinis yang berhubungan dengan DM. Proses patologis dan factor resiko lain
adalah penting dan terkadang merupakan factor independen. Diabetes mellitus
dapat berhubungan dengan komplikasi serius, namum orang dengan DM dapat
mengambil cara – cara pencegahan untuk mengurangi kemungkinan kejadian
tersebut (Black, 2014, p. 631).
DM mungkin juga akibat dari gangguan – gangguan lain atau pengobatan.
Defek genetic pada sel beta dapat mengarah perkembangan DM. Beberapa
hormone epinefrin merupakan antagonis atau menghambat insulin. Jumlah
berlebihan dari hormone – hormone ini (seperti akromegali, sindrom cushing,
glukagonoma, dan feokromositoma) menyebabkan DM. selain itu obat-obatan
tertentu (glukokortikoid dan triazid) mungkin menyababkan DM (Black, 2014,
p. 632)

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud denga diabetes mellitus?
2. Apa saja klasifikasi penyakit diabetes mellitus?
3. Apa saja Etiologi penyakit diabetes mellitus?
4. Apa saja tanda dan gejala diabetes mellitus?
5. Bagaimana patofisiologi diabetes mellitus?
6. Apa saja farmakologi diabetes mellitus?

1
7. Bagaimana diet atau nutrisi pada pasien dengan diabetes mellitus?
8. Apa saja pemeriksaan penunjang pada diabetes mellitus?
9. Bagaimana asuhan keperawatan teori dengan diabetes mellitus?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi diabetes mellitus
2. Untuk mengetahui klasifikasi diabetes mellitus
3. Untuk mengetahui etiologi diabetes mellitus
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala diabetes mellitus
5. Untuk mengetahui patofisiologi diabetes mellitus
6. untuk mengetahui farmakologi diabetes mellitus
7. untuk mengetahui diet nutrisi pada penyakit diabetes mellitus
8. untuk mengetahui pemeriksaan penunjang diabetes mellitus
9. untuk mengetahui asuhan keperawatan dengan diabetes mellitus

1.4 Manfaat
1. Bagi penulis dapat meningkatkan keterampilan dalam menyelesaikan
makalah mengenai Diabetes Melitus
2. Bagi pembaca dapat mengetahui dan memahami mengenai konsep dan
Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus
.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep medis
2.1 Definisi
Diabetes berasal dari istilah yunani yaitu artinya pancuran atau
curahan,sedangkan melitus atau mellitus artinya gula atau madu.Dengan
demikian secara bahasa, diabete melitus adalah curahan cairan dari tubuh
yang banyak mengandung gula, yang dimaksud dalam hal ini adalah air
kencing. Dengan demikian,derfinisi diabetes melitus secara umum adalah
suatu keadaan yakni tubuh tidak dapat menghasilkan hormon insulin sesuai
kebutuhan atau tubuh tidak dapat memanfaatkan secara optimal insulin yang
dihasilkan. Dalam hal ini,terjadi lonjakan kadar gula dalam darah melebihi
normal.
Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kinerja insulin atau kedua-duanya (ADA, 2010).
Menurut WHO, Diabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu
penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang
ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan
metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat dari insufisiensi
fungsi insulin. Insufisiensi insulin dapat disebabkan oleh gangguan produksi
insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas atau disebabkan oleh
kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (Depkes, 2008).
Diabetes Mellitus (DM) adalah gangguan metabolik yang ditandai oleh
adanya hiperglikemia kronik disertai dengan gangguan besar atau lebih kecil
dalam metabolism karbohidrat, lipid dan protein.

2.2 Klasifikasi

a. Type 1 (DM 1) adalah insufisiensi absolute insulin


Tipe 1 diabetes mellitus (diabetes anak-anak) ditandai dengan
kerusakan sel beta yang disebabkan oleh proses autoimun, biasanya
menyebabkan kekurangan insulin absolut. Tipe 1 biasanya ditandai dengan

3
adanya antibodi asam dekarboksilase, islet sel atau insulin anti-glutamat
yang mengidentifikasi proses autoimun yang menyebabkan kerusakan sel
beta. Akhirnya, semua pasien diabetes type1 akan membutuhkan terapi
insulin untuk menjaga normglycemia.
b. Type 2 (DM 2) resistensi insulin yang disertai defek sekresi insulin dengan
derajat bervariasi
Kebanyakan individu dengan diabetes tipe 2 menunjukkan intra-
abdomen (visceral) obesitas, yang berkaitan erat dengan adanya resistensi
insulin. Selain itu, hipertensi dan dislipidemia (trigliserida tinggi dan kadar
HDL-kolesterol rendah; postprandial hiperlipidemia) sering hadir dalam
individu-individu. Ini adalah bentuk paling umum dari diabetes mellitus
dan sangat berhubungan dengan riwayat keluarga diabetes, usia yang lebih
tua, obesitas dan kurang olahraga.
c. Gestational Diabetes Mellitus (GDM)
Diabetes gestasional adalah klasifikasi operasional (bukan kondisi
patofisiologis) mengidentifikasi wanita yang mengalami diabetes mellitus
selama kehamilan. Wanita yang mengembangkan tipe 1 diabetes mellitus
selama kehamilan dan wanita dengan tanpa gejala diabetes mellitus tipe 2
yang tidak terdiagnosis yang ditemukan selama kehamilan diklasifikasikan
dengan Gestational Diabetes Mellitus (GDM). Pada kebanyakan wanita
yang mengembangkan GDM; gangguan tersebut memiliki onset pada
trimester ketiga kehamilan. Awitan DM tipe 1 (bergantung insulin)
biasanya terjadi sebelum usia 30 tahun (meskipun dapat terjadi pada
semua usia) biasanya pasien DM tipe 1 bertubuh kurus dan memerlukan
pemberian insulin eksogen serta penataklasanaan diet untuk
mengendalikan gula darah .

2.3 Etiologi
a. Tipe 1Insulin-Dependent Diabetes Mellitus ( IDDM )
IDDM adalah penyakit hiperglikemia akibat ketidakabsolutan
insulin, pengidap penyakit itu harus mendapat insulin pengganti. IDDM
disebabkan oleh destruksi autoimun karena infeksi, biasanya virus dan

4
/atau respons autoimun secara genetik pada orang yang terkena. Faktor-
faktor resiko DM type 1 yaitu:
1. Faktor genetic
2. Faktor-faktor imunologi
3. Factor lingkungan:virus/toksin
4. Penurunan sel beta: proses radang, keganasan pankreas, pembedahan
5. Kehamilan
6. Infeksi lain yang tidak berhubungan langsung
b. Tipe II Non-insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM )
NIDDM disebabkan oleh kegagalan relatif sel beta dan resistansi
insulin. Resistansi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk
merangkum pengambilan glukosa oleh gangguan perifer dan untuk
menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu
mengimbangi resistansi insulin ini sepenuhnya. Faktor-faktor Risiko DM
Tipe II:
1. Usia ( resistansi insulin cenderung meningkat pada usia >65 tahun )
2. Obesitas
3. Riwayat keluarga
4. Gaya hidup
( Brunner dan Suddarth,2002 )
c. Diabetes Melitus Gestasional ( DMG )
Diabetes yang terjadi pada saat kehamilan ini adalah intoleransi
glukosa yang mulai timbul atau menular diketahui selama keadaan hamil.
Oleh karena terjadi peningkatan sekresi berbagai hormon disertai pengaruh
metabolik terhadap glukosa, maka kehamilan merupakan keadaan
peningkatan metabolik tubuh dan hal ini berdampak kurang baik bagi
janin.

2.4 Tanda dan Gejala


Manifestasi klinik yang sering di jumpai pada pasien diabetes militus yaitu :
1. Poliuria (Peningkatan pengeluaran urine)

5
2. Polidipsia (Peningkatan rasa haus) akibat volume urine yang sangat besar
dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi
intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel akan berdifusi
keluar sel mengikuti penurunan gradient konsentrasi ke plasma yang
hiperttonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran
ADH (antideuretic hormone) dan menimbulkan rasa haus.
3. Rasan lelah dan kelemahan otot akibat gangguan aliran darah pada pasien
diabetes lama, katabolisme protein diotot dan ketidakmampuan sebagian
besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai energy.
4. Polifagia (peningkatan rasa lapar)
5. Peningkatan angka infeksi akibat penurunan protein sebagai bahan
pembentukan antibody, peningkatan konsentrasi glukosa disekresi mucus,
gangguan fungsi imun, dan penurunan aliran darah pada penderita diabetes
kronik.
6. Kelainann kulit : Gatal,bisul-bisul
Kelainan kulit berupa gatal-gatal, biasanya terjadi didaerah ginjal. Lipatan
kulit seperti diketiak dan dibawah payudara. Biasanya akibat tumbuhnya
jamur.
7. Kesemutan rasa baat akibat terjadinya neuropati.
Pada penderita diabetes miletus regenerasi sel persarafan mengalami
gangguan akibat kekurangan bahan dasar utama yang berasal dari usur
protein. Akibatnya banak sel persarafan terutaama perifer mengalami
kerusakan.
8. Kelemahan tubuh
Kelemahan tubuh terjadi akibat penurunan produksi energy metabolic
yang dilakukan oleh sel melalui proses glikolisis tidak dapat berlangsung
secara optimal.
9. Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh
Proses penyembuhan luka membutuhkan bahan dasar utama dari protein
dan unsure makanan yang lain. Pada penderita diabetes miletus bahan
protein banyak di formulasikan untuk kebutuhan energy sel sehingga
bahan yang rusak mengalami gangguan. Selain itu luka yang sulit sembuh

6
juga dapat diakibatkan oleh perumbuhan mikroorganisme yang cepat pada
penderita diabetes miletus.
10. Pada laik-laki terkadang mengeluh impotensi
Ejakulasi dan dorongan seksualitas laki-laki banyak di pengaruhi oleh
peningkatan hormone toteron. Pada kondisi optimal (periodic hari ke3)
maka secara otomatis akan meningkatkan dorongan sesual. Penderita
diabetes miletus mengalami penurunan produksi hormone seksual akibat
kerusakan testoteron dan system berperanan. Mata kabur yang disebabkan
katarak atau gangguan refraksi akibat perubahan pada lensa oleh
hiperglikemia. Mungkin juga disebabkan kelainan pada corpus vitreum

2.5 Patofisiologi
Sebagian besar patologi diabetes militus dihubungkan dengan efek utama
kekurangan insulin yaitu:
a. Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, yang
mengakibatkan peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah smpai
tinggi 300-1200 mg/100 mili.
b. Peningkatan mobilisasi lemak dan daerah penyimpanan lemak sehingga
menyebabka kelainan mekanisme lemak maupun pengendapan lipid
pada dinding vaskuler.
c. Pengurangan protein dalam jaringan tubuh.
1. Hiperglikemia
Hiperglikemia didifinisikan sebahai kadar glukosa yang tinggi
pada rentang non puasa sekitar 140-160/100 mili darah. Dalam keadaan
insulin normal asupan glukosa atau produksi glukosa dalam tubuh akan di
fasilitasi (oleh insulin) untuk masuk kedalam sel tubuh. Glukosa itu
kemudian di olah untuk menjadi bahan emnergi.apabila bahan energi yang
di butuhkan oleh tubuh masih ada sisa akan di simpan sebagai glukogen
adalah sel-sel hati dan sel-sel otot (sebagai massa sel otot). Proses
glikogenisis (pembentukan glikogen dari unsur glukosa ini dapat
mencegah hiperglikemia). Pada penderita diabetes militus proses ini tidak

7
dapat berlangsung dengan baik sehingga glukosa banyak menumpuk di
darah (hiperglikemia) (long 1996:I 1)
Secara rinci terjadinya proses glikemia karna defisit insulin
tergambar pada perubahan metabolik sebagai berikut
1) Transport gula yang melintas membran sel-sel berkurang.
2) Glukogenesis (pembentukan glikogen dari glukosa) berkurang dan
tetap kelebihan glukosa dalam darah.
3) Glikolisis (pemecahan glukosa)meningkat sehingga cadanga glikogen
berkurang dan glukosa hati dicurahkan ke darah secara terus menerus
melebihi kebutuhan.
4) Glukogenesis (pembentukan glukosa dari unsur non karbohidrat)
meningkat dan lebih baanyak lagi glukosa hatiyang tercurah kedalam
darah hasil pemecahan asam amino dan lemak (kong,1999:I 1)
Hiperglikemia akan mengakibatkan pertumbuhan berbagai
mikrooorganisme dengan cepat separti jamur dan bakteri,karena
mikroorganisme tersebut sangat cociok dengan daerah yang kaya akan
glukosa. Setiap timbul peradangan maka akan terjadi mekanisme
peningkatan darah pada jaringan yang cidera. Kondisi itulah yang
membuat mikroorganisme mendapat peningkatan pasokan nutrisi. Kondisi
ini akan mengakibatkan pendetrita diabetes militus mudah mengalami
infeksi oleh bakteri dan jamur.
2. Hiperosmolarisasi
Hiperosmolarisasi adalah adanya kelebihan tekanan osmotik pada
plasma sel karna adanya peningkatan konsentrasi zat. Sedangkan tekanan
osmosis merupakan tekanan yang dihasilkan karena adanya penningkatan
konsentrasi larutan pada zat cair.
Pada penderita diabetes miletus terjadinya hiperosmolaritas karena
peningkatan konsentrasi glukosa dalam darah (yang notabene komposisi
terbanyaknya adalah zat cair). Peningkatan glukosa dalam darah akan
berakibat terjadinya kelebihan ambang pada ginjal untuk memfiltrasi dan
reabsorbsi glukosa (meningkat kurang lebih 225mg/menit). Kelebihan ini
kemudian menimbulkan efek pembuangan glukosa melalui urin

8
(glukosuria). Ekskresi molekul glukosa yang aktif secara osmosis
menyebabkan kehilangan sejumlah besar air (dieresis asmotik). Dan
berakibat peningkatan volume air (poliuria). Proses seperti ini
mengakibatkan dehidrasi dengan ekstra seluler dan juga di ruangan
intraseluler.
Glukosuria dapat mencapai 5-10% dan osmolaritas serum lebih dan
370-380 mosmols/di dalam keadaan tidak terdapatnya keton darah.
Kondisi ini dapat berakibat koma hiperglikemik hiperosmolar nonketotik
(K.HHN).
3. Starvasi seluler
Starvasi seluler merupakan kondisi kelaparan yang dialami oleh sel
karena glukosa sulit masuk padahal disekelilingi sel banyak sekali
glukosa. Kalau meminjam istilah peribahasa “kelaparan ditengah lumbung
padi.” Ada banyak bahan makanan tetapi tidak bisa dibawa untuk diolah.
Sulitnya glukosa masuk karena tidak ada yang memfasilitasi untuk masuk
sel yaitu insulin.
Dampak dari strarvasi seluler akan terjadi proses konpensasi
sellurer untuk tetap mempertahankan fungsi sel. Proses itu antara lain :
a. Defines insulin gagal untuk melakukan asupan glukosa bagi
jaringan-jaringan peripheral yang tergantung pada insulin (otot
rangka dan jaringan lemak). Jika tidak terdapat glukosa,sel-sel otot
metabolisme cadangan glikogen yang mereka miliki untuk
dibongkar menjadi glukosa dan energy mungkin juga akan
menggunakan asam lemak bebas (keton). Kondisi ini berdampak
pada penurunan massa otot,kelemahan otot dan rasa mudah lelah.
b. Starvasi selluler juga akan mengakibatkan peningkatan
metabolisme protein dan asam amino yang digunakan sebagai
substrat yang diperlukan untuk glukonegenesis dalam hati. Hasil
dari glukoneogenesis akan dijadikan untuk proses aktivitas sel
tubuh.
Protein dan asam amino yang melalui proses
glukoneogenesis akan dirubah menjadi CO2 dan H2O serta

9
glukosa. Perubahan ini berdampak juga pada penurunan sintesis
protein.
Proses glukoneogenesis yang menggunakan asam amino
menyebabkan penipisan simpanan protein tubuh karena unsur
nitrogen (sebagai unsur pemecahan protein) tidak digunakan
kembali untuk semua bagian tetapi diubah menjadi urea dalam
hepar dan diekskresikan dalam urine. Ekskresi nitrogen yang
banyak akan berakibat pada keseimbangan negative nitrogen.
Depresi protein akan berakibat tubuh menjadi kurus,penurunan
resistensi terhadap infeksi dan sulitnya pengembalian jaringan
yang rusak (sulit sembuh kalau ada cidera).
c. Starvasi sel juga berdampak peningkatan mobilisasi dan
metabolism lemak (lipolisis) asam lemak bebas,trigliserida dan
gliserol yang meningkatkan bersirkulasi dan menyediaka substart
bagi hati untuk proses ketogenesis yang digunakan sel untuk
melakukan aktivitas sel. Ketogenesis mengakibatkan peningkatan
kadar asam organic (keton), sementara keton menggunakan
cadangan alkali tubuh untuk buffer PH darah menurun. Pernafasan
kusmaull dirangsang untuk mengkompensasi keadaan asidosis
metabolic. Diuresis osmotik menjadi bertambah buruk dengan
adanya ketoanemis dan dari katabolisme protein yang
meningkatkan asupan protein ke ginjal sehingga tubuh banyak
kehilangan protein.
Adanya starvasi selluler akan meningkatkan mekanisme
penyesuaian tubuh untuk meningkatkan pemasukan dengan
munculnya rasa ingin makan terus (polifagi). Starvasi selluler juga
akan memunculkan gejala klinis kelemahan tubuh karena terjadi
penurunan produksi energy. Dan kerusakan berbagai organ
reproduksi yang salah satunya dapat timbul impotensi dan organ
tubuh yang lain seperti persarafan perifer dan mata (muncul rasa
baal dan mata kabur).

10
2.6 Farmakologi
Penderita diabetes tipe 1 tidak dapat membuat insulin karena sel-sel beta
prankeas mereka merusak atau hancur. Oleh karena itu, membutuhkan
suntikan insulin untuk memungkinkan tubuh mereka untuk memproses
glukosa dan menghindari komplikasi dari hiperglikemia.
Penderita diabetes tipe 2 tidak merespons dengan baik atau resistan
terhadap insulin. Membutuhkan suntikan insulin untuk membantu memproses
gula sehingga mencegah komplikasi jangka panjang dari penyakit ini.
Penderita diabetes tipe 2 mungkin pertama diobati dengan obat oral, bersama
dengan diet dan olahraga. Oleh karena diabetes tipe 2 adalah kondisi
progresif, semakin lama seseorang memiliki itu, semakin besar kemungkinan
mereka akan membutuhkan insulin untuk menjaga kadar gula darah.
Berbagai jenis insulin yang digunakan untuk mengobati diabetes adalah
sebagai berikut;
1. Rapid-acting insulin
Ini mulai bekerja kira-kira 15 menit setelah injksi dan puncak pada
sekitar 1 jam tapi harus bekerja selama dua sampai empat jam. Obat ini
biasanya diberikan sebelum makan dan di samping insulin long-acting.
Contoh obat adalah sebagai berikut seperti
Insulin lispro (humalog) jenis ini hanya membutuhkan waktu sekitar 15-
30 menit untuk mencapai pembuluh darah dan mampu menurunkan kadar
gula darah dalam 30-60 menit, dan dpat menjaga gula darah dalam
normal selama 3-5 jam
2. Short-acting insulin
Ini di mulai bekerja kira-kira 30 menit setelah injeksi dan puncak pada
sekitar dua sampai tiga jam tapi akan terus bekerja selama tiga sampai
enam jam. Obat ini biasanya diberikan sebelum makan dan di samping
insulin long-acting. Salah satu contoh obat adalah
Regular atau novolin yang mampu mencapai pembuluh darah dalam
waktu 30-60menit, bekerja cepat dengan menghabiskan waktu 2-5 jam,
dan mempertahankan kadar gula darah hingga 5-8 jam
3. Intermediate-acting insulin

11
Dimulai bekerja sekitar dua sampai empat jam setelah injeksi dan puncak
kira-kira 4-12 jam kemudian dan terus bekerja selama 12-18 jam. Obat
ini biasanya diminum dua kali sehari dan disamping insulin rapid-acting
atau short-acting.
4. Long-acting insulin
Ini mulai bekerja beberapa jam setelah injeksi dan bekerja selama kurang
lebih 24 jam. Jika perlu, sering digunakan dalam kombinasi dengan
insulin rapid-acting atau short-acting. Salah satu contoh obatnya ialah
Lantus,tuojeo. Mampu mencapai pembuluh darah dalam 1-1,5 jam dan
mempertahankan kadar gula darah selama kurang lebih 20 jam

2.7 Diet dan Nutrisi


Makan makan yang beraneka ragam yang bisa menjamin terpenuhinya
kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.
1. Sumber Zat tenaga
Sumber zat tenaga antara lain beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar,
kentang, sagu, roti, dan mie. Makanan sumber zat tenaga sangat penting
menunjang aktivitas sehari-hari.
2. Sumber zat pembangunan
Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan nabati antara
lain kacang-kacangan, tempe, tahu, makan sumber zat pembangun sumber
dari hewani antara lain telur, ikan, ayam, daging, dan susu. Zat pembangun
berperan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan
seseorang
3. Sumber zat pengatur
Makan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan.
Makanan ini mangandung berbagai vitamin dan mineral yang sangat
berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.
4. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energy
Kebutuhan energy menyandang diabetes bergantung pada umur, jenis
kelamin, berat badan, tinggi badan, dan kegiatan fisik, keadaan penyakit
serta pengobatannya. Energi yang dibutuhkan menyatakan dengan satuan

12
kalori. Susunan makanan yang baik untuk penyandang diabetes
mengandung jumlah kalori yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing
orang. Komposisi makan terserbut adalah sebagai berikut :
a. 10-15% Protein
b. 20-25% Lemak
c. 60-70% Karbohidrat
5. Makanlah makanan sumber karbohidrat sebagian dan kebutuhan energy
(pilihlah karbohidrat kompleks dan serat, serta batasi karbohidrat
sederhana)
6. Karbohidrat kompleks atau tepung-tepungan
Makanan sumber karbohidrat kompleks adalah padi-padian (beras, jagung,
gandum), umbi-umbian (singkong,ubi jalar, kentang), dan sagu.
7. Karbohidrat sederhana
Makanan sumber karbohidrat sederhana adalah gula, sirup, cakes, dan
selai. Karbohidrat sederhana juga terdapat pada buah, sayuran, dan susu.
Bagi penderita diabetes anjuran konsumsi tidak lebih dari 5% total kalori
(3-4 sendok) makan sehari.
8. Serat
Serat adalah bagian karbohidrat yang tidak dapat dicerna/ serat banyak
terdapat pada buah-buahan, sayuran, padi-padian, dan produksi sereal.
Makanan cukup serat member keuntungan padsa penderita diabetes,
dengan alasan sebagai berikut;
a. Perasaan kenyang dan puas yang membantu mengendalikan nafsu
makan dan penurunan berat badan.
b. Makanan tinggi serat biasanya rendah kalori.
c. Membantu buang air besar secara teratur.
d. Mempertlambat penyerapan glukosa darah sehingga mempunyai efek
pada penurunan glukosa darah.
e. Menurunkan kadar lemak darah,
9. Batasi konsumsi lemak, minyak, dan santan sampai seperempat kecukupan
energy

13
Penyandang diabetes mempunyai resiko tinggi untuk terkena penyakit
jantung dan pembuluh darah. Karena itu lemak dan kolesterol dalam
makanan perlu dibatasi. Untuk itu jangan terlalu bnayak makan makanan
gorengan. Apabila ingin, batasi tidak lebih dari satu lauk saja yang di
goreng pada setiap kali makan. Selebihnya dapat dimasak dengan cara lain
semisalnya seperti dipanggang, dikukus, direbus, dan dibakar. Kurangi
mengkonsumsi makanan tinggi kolesterol seperti otok, kuning telur, ginjal,
hati, daging berlemak, keju dan mentega.
10. Gunakan garam yang beryodium (gunakan garam secukupnya saja)
Penyandang diabetes yang mempunyai tekanan darah tinggi (hipertensi)
sehingga perlu berhati-hati pada asupan nutrisi. Anjuran asupan nutrisi
untuk penyandang diabetes sama sepeti untuk orang normal yaitu ±3.000
mg/hari yaitu kira-kira 6-7 gram satu sendok teh) yang digunakan.
11. Makanlah makanan sumber zat besi (Fe)
Untuk menghindsari anemia yang banyak diderita oleh semua orang
penyandang diabetes maka perlu mengkonsumsi cukup zat besi. Bahan
makanan sumber zat besi antara lain sayuran berwarna hijau dan kacang-
kacangan.
12. biarasan makan pagi
Pada penyandang diabetes terutama yang menggunakan obat penurun
glokosa darah ataupun suntikan insulin, tidak makan pagi akan sangat
beresiko. Oleh karena dapat menyebabkan hipoglikemia (penurunan kadar
gula darah).
13. hidrasi minuman beralkohol
Kebiasanan minum-minuman beralkohol dengan mengakibatknan
terhambatnya proses penyerapan zat gizi dan hilangnya zat gizi yang
penting bagi tubuh.

2.8 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan gula darah pada pasien diabetes mellitus antara lain;
a. Gula darah puasa (GDO) 70-110 mg/dl

14
Kreteria diagnostic untuk DM > 140 mg/dl paling sedikit dalam
dua kali pemeriksaan. Atau >140 mg/dl disertai gejala klasik.
b. Gula darah 2 jam post prondial <140 mg/dl digunakan untuk
skrining atau evaluasai pengobatan buakn didiagnostik
c. Gula darah sewaktu <140 mg/dl
Digunakan untuk skrining bukan diagnosa
2. Tes toleransi glukosa oral (TTGO)
GD<155 mg/dl 1/2 jam. 1 jam ½ jam > 200 mg/dl, 2 jam <140 mg/dl.
TTGO dilakukan hanya pada pasien yang telah bebas dan diet dan
beraktivitas fisik 3 hari sebelum tes tidak dianjurkan pada (hiperglikemi
yang sedang puasa. (2) orang yang mendapat thiazide, dilatin, propanolol,
lasik, thyroid, estrogen, pil KB, steroid. (3) pasien yang dirawat atau sakit
akut atau pasien inaktif.
3. Tes toleransi glukosa intravena (TTGI)
Dilakukan jika TTGI merupakan kontraindikasi atau terdapat kelainan
gastrointensinal yang mempengaruhi absobsi glukosa.
4. Tes toleransi kontison glukosa
Digunkan jika TTGO tidak bermakna, kortinos menyebabkan peningkatan
kadar gula darah abdormal dan menurunkan penggunaan gula darah perifer
pada orang yang berpredisposisi menjadi DM kadar glukosa darah 140
mg/dl pada akhir 2 jam dianggap sebagai hasil positif.
5. Glycosatet hemoglobin
Bangunan dalam memantau kadar glukosa darah rata-rata selama lebih
dari 3 bulan.
6. C-Pepticle 1-2 mg/dl (puasa) 4-6 kali meningkat setelah pemberian
glukosa.
Untuk mengukur proinsulin (produks samping yang tak aktif secara
biologis) dari pembentukan insulin dapat membantu mengetahui sekresi
insulin.
7. Insulin serum puaasa; 2-20 mu/ml post glukosa sampai 120 mu/ml, tidak
digunakan secara luas dalam klinik, dapat digunakan dalam diagnose
banding hipoglikemia atau dalam penelitian diabetes.

15
Kreteria diagnostik menurut WHO
Pada sedikitnya dua kali pemeriksaan didapatkan hasil sebagai berikut.
1. Glukosa plasma sewaktu > 200mg/dl ( 11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa > 140 mg/dl ( 7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasmadari sempel yang diambil dua jam kemudian sesudah
mengonsumsi 75 gram karbohidrat ( dua jam postprandial [pp]) lebih
dari 200 mg/dl

16
BAB III
TINJAUAN KASUS
1) Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1. Anamnesa
a. Identitas penderita
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal
masuk rumah sakit dan diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa raba yang
menurun, adanya luka yang tidak sembuh – sembuh dan berbau,
adanya nyeri pada luka.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya luka serta
upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit lain yang ada
kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas.
Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis,
tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa
digunakan oleh penderita.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota
keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang
dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi,
jantung.
f. Riwayat psikososial
Meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan emosi yang
dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan
keluarga terhadap penyakit penderita.
2. Pemeriksaan fisik

17
a. Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan,
berat badan dan tanda – tanda vital.
b. Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher,
telinga kadang-kadang berdenging,, lidah sering terasa tebal, ludah
menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan
berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata
keruh.
c. Sistem integument
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka,
kelembaban dan suhu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren,
kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.
d. Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM
mudah terjadi infeksi.
e. Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,
takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.
f. Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi,
dehidrase, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen,
obesitas.
g. Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat
berkemih.
h. Sistem musculoskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan,
cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.
i. Sistem neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi,
mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.

18
b. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
a. Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa
>120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.
b. Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan
dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui
perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ),
dan merah bata ( ++++ ).
c. Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang
sesuai.

c. Diagnosa keperawatan
1. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
2. Ketidak efektifan perfusi jaringan
3. Resiko ketidak stabilan gula darah
4. Kekuragan volume cairan
5. Intoleransi aktivitas
6. Gangguan pertukaran gas
7. Nyeri akut

d. Intervensi Keperawatan

1. Resiko ketidakstabilan gula darah b.d gula darah yang tidak terkontrol
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kadar
glukosa darah normal
Kriteria Hasil : kadar glukosa darah normal
Intervensi :
1. Manajemen hiperglikemia
1) Monitor kadar glukosa darah sesuai indikasi

19
2) Monitor tanda dan gejala hiperglikemi: poliuria, polidipsi, polifagi,
kelemahan, letargi, malaise, pandangan kabur, atau sakit kepala
3) Monitor ketonurin
2. Manajemen hipoglikemia
1) Identifikasi pasien yang beresiko mengalami hipoglikemia
2) Monitor tanda dan gejala hipoglikemi
3) Monitor kadar glukosa darah sesuai indikasi
1 Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
asupan diet kurang
Intervensi
1. Penahapan diet
1) berikan cairan dektrose, saline atau ringer laktat (RL) untuk membrikan
nutrisi yang adekuat pada 24 jam pertama dan sampai pasien bisa
mentoleransi diet cairan penuh
2) tingkatkan dengan pemberian diet cair selama 2 sampai 3 minggu
3) Instruksikan pasien untuk mambawa minuman bebas gula dan
meminumnya sesering mungkin.
2. Manajemen berat badan
1) Kaji motivasi pasien untuk mengubah pola makannya
2) Dorong pasien untuk mengkonsumsi air yang cukup tiap hari
3) Bantu pasien membuat perencanaan makan yang seimbang dan konsisten
dengan jumlah energi yang dibutuhkan setiap harinya.
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan asupan garam
tinggi
1. Monitor asam basa
1) Analisa kecendurungan serum Ph pada pasien yang berisiko diabetes
melitus
2) Catat apakah Ph arteri pada sisi alkaline atau asidosis (7.35 – 7.45)
3) Catat apakah nilai HCO3 menunjukkan asidosis respiatorik, alkalosis
respiratorik atau normal
2. Perawatan sirkulasi insufisiensi arteri

20
1) Inspeksi kulit untuk adanya luka pada arteri (arterial ulcers) atau
kerusakan jaringan
2) Melihara hidrasi yang memadai untuk menurunkan kekntalan darah
3) Lakukan perawatan luka dengan tepat

21
BAB IV
PEMBAHASAN
1. Terapi Belimbing wuluh
Penderita diabetes mellitus memerlukan pengobatan sepanjang hidup
untuk mengurangi gejala, mencegah progresivitas penyakit, dan mencegah
agar tidak berkembang ke arah komplikasinya, sedangkan obat anti diabetes
yang dikonsumsi dapat menimbulkan efek samping dalam penggunaan
jangka panjang. Oleh karena itu diperlukan alternatif terapi dengan
menggunakan tanaman obat tradisional.
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) merupakan tanaman yang berasal
dari daerah Amerika dan beriklim tropis, dibudidayakan di sejumlah negara
seperti Malaysia, Argentina, Australia, Brazil, India, Filipina, Singapura,
Thailand, dan Venezuela.4Di Indonesia belimbing wuluh sudah mulai
dimanfaatkan salah satunya adalah daunnya. Daun belimbing wuluh memiliki
kandungan flavonoid, saponin, tanin, sulfur, asam format, peroksidase,
kalsium oksalat, dan kalium sitrat. Flavonoid merupakan senyawa fenol yang
dimiliki oleh banyak tanaman. Flavonoid memiliki beberapa aktivitas
farmakologikal yang berfungsi sebagai antioksidan dan antidiabetes.5,6Selain
itu,daun belimbing wuluh memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escerichia
coli dan Staphylococcus aureus
2. Terapi bawang putih
Obat-obatan tradisional saat ini banyak dikembangkan sebagai
antidiabetik, di antaranya bulbus bawang putih (Allium sativum Linn.). Unsur
kimia utama dalam bawang putih adalah alliin yang merupakan cysteine
sulfoxide dan peptida γ-glutamilcysteine. Bawang putih dalam bentuk serbuk
berisi 1% alliin (S-allyl cysteine sulfoxide). Salah satu bentuk aktif bawang
putih adalah allicin (diallyl tiosulfonate atau diallyl disulfide). Pada saat
bawang putih dipotong enzim alinase akan diaktivasi dan alliin berubah
menjadi allicin, selanjutnya allicin dimetabolisme menjadi vinyl-ditiines.
Dari beberapa kandungan yang terdapat pada bawang putih, alisin adalah
yang digunakan sebagai agen antidiabetes. Alisin adalah senyawa organik

22
alami yang ada pada tumbuhan secara umum. Alisin alami banyak memainkan
peran penting dalam pencegahan diabetes dan komplikasinya.

23
BAB V
PENUTUP
4.1 kesimpulan
Diabetes melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai
berbagai kelainan metabolic akibat gangguan hormonal yang menimbulkan
berbagai komplikasi kronik pada mata,ginjal,saraf,dan pembuluh darah.
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronik progresif yang ditandai dengan
ketidakmampuan tubuh untuk melakukan metabolism karbohidrat, lemak dan
protein, mengarah pada hiperglikemia (kadar glukosa darah tinggi).
DM mungkin juga akibat dari gangguan – gangguan lain atau pengobatan.
Defek genetic pada sel beta dapat mengarah perkembangan DM. Beberapa
hormone epinefrin merupakan antagonis atau menghambat insulin. Jumlah
berlebihan dari hormone – hormone ini (seperti akromegali, sindrom cushing,
glukagonoma, dan feokromositoma) menyebabkan DM. selain itu obat-obatan
tertentu (glukokortikoid dan triazid) mungkin menyababkan DM (Black,
2014, p. 632)

4.2 Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebaiknya pihak yang bersangkutan memberikan pengarahan yang
lebih mengenai konsep dan asuhan keperawatan diabetes mellitus.
2. Bagi Mahasiswa
Mengenai makalah yang kami buat, bila ada kesalahan maupun
ketidak lengkapan materi mengenai konsep dan asuhan rencana
keperawatan diabetes mellitus.. Kami mohon maaf, kamipun sadar bahwa
makalah yang kami buat tidaklah sempurna. Oleh karena itu kami
mengharap kritik dan saran yang membangun.

24
DAFTAR PUSTAKA

Tholib, Maghfuri Ali. 2016. Buku Pintar Perawatan Luka Diabetes Melitus.
Jogjakarsa Jakarta Selatan.
Sukarmin, Riyadi Sujono. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Gangguan Eksokrin dan Endokrin pada Pankreas
Carpenito, Lynda Juall. (1995). Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek
Klinik. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC: Jakarta
Marison Moya,(2004). Manajemen Luka. EGC: Jakarta
Soegondo S. Prinsip Pengobatan Diabetes, Insulin dan Obat Hipoglikemik Oral.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. hlm.111-30.25
Indah N Fajarini. Pengaruh infusa belimbing wuluh terhadap kadar
malondialdehid mencit model diabetik.Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas
Islam; 201225

25