Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

Pewarisan Sifat (genetika populasi )

“disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas individu pada mata kuliah
dasar genetika dasar”

Disusun oleh:

Rizky diaz pambudi (1803015044)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PRTANIAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

2019
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa sebab atas segala rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya, makalah mengenai “genetika populasi ” ini
dapat diselesaikan tepat waktu. Meskipun kami menyadari masih banyak terdapat
kesalahan didalamnya.
Kami sangat berharap dengan adanya makalah ini dapat memberikan
manfaat dan edukasi mengenai gulma. Selain itu makalah ini juga nantinya
diharapkan dapat memberikan edukasi mengenai biologi,ekologi,dan sejarah
genetika populasi. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pembuatan makalah
ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kemudian makalah kami ini
dapat kami perbaiki dan menjadi lebih baik lagi.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat
bermanfaat. Kami juga yakin bahwa makalah kami jauh dari kata sempurna dan
masih membutuhkan kritik serta saran dari pembaca, untuk menjadikan makalah ini
lebih baik ke depannya.

Samarinda, 9 oktober 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Populasi adalah suatu kelompok individu sejenis yang hidup pada suatu daerah
tertentu. Genetik populasi adalah cabang dari ilmu genetika yang mempelajari
gen-gen dalam populasi dan menguraikannya secara matematik akibat dari
keturunan pada tingkat populasi. Suatu populasi dikatakan seimbang apabila
frekuensi gen dan frekuensi genetik berada dalam keadaan tetap dari setiap
generasi (Suryo 1994: 344)
Pola pewarisan suatu sifat tidak selalu dapat dipelajari melalui percobaan
persilangan buatan. Pada tanaman keras atau hewan-hewan dengan daur hidup
panjang seperti gajah, misalnya, suatu persilangan baru akan memberikan hasil
yang dapat dianalisis setelah kurun waktu yang sangat lama. Demikian pula,
untuk mempelajari pola pewarisan sifat tertentu pada manusia jelas tidak mungkin
dilakukan percobaan persilangan. Pola pewarisan sifat pada organisme-organisme
semacam itu harus dianalisis menggunakan data hasil pengamatan langsung pada
populasi yang ada.

1.2.Tujuan
1. Mengetahui dan memahami definisi pola pewarisan sifat pada tingkat
populasi
2. mengetahui apa itu genetika populasi dan faktor-faktor apa saja
yang mempengaruhi genetika populasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PEMBAHASAN

Genetika populasi adalah bidang biologi yang mempelajari komposigenetik


populasi biologi, dan perubahan dalam komposisi genetik yang dihasilkan dari
pengaruh berbagai faktor, termasuk seleksi alam. Genetika populasi mengejar
tujuan mereka dengan mengembangkan model matematis abstrak dinamika
frekuensi gen, mencoba untuk mengambil kesimpulan dari model-model tentang
pola-pola kemungkinan variasi genetika populasi yang sebenarnya, dan menguji
kesimpulan terhadap data empiris.

Genetika populasi terikat erat dengan studi tentang evolusi dan seleksi alam,
dan sering dianggap sebagai landasan teori Darwinisme modern. Ini karena seleksi
alam merupakan salah satu faktor yang paling penting yang dapat mempengaruhi
komposisi genetik populasi. Seleksi alam terjadi ketika beberapa varian dalam
populasi-out mereproduksi varian lainnya, sebagai akibat karena lebih disesuaikan
dengan lingkungan, atau yang lebih cocok. Menganggap perbedaan kebugaran
setidaknya sebagian karena perbedaan genetik, ini akan menyebabkan make up
genetik populasi yang akan diubah dari waktu ke waktu.

populasi dalam arti genetika atau lazim disebut juga populasi Mendelian.
Populasi mendelian ialah sekelompok individu suatu spesies yang bereproduksi
secara seksual, hidup di tempat tertentu pada saat yang sama, dan di antara mereka
terjadi perkawinan (interbreeding) sehingga masing-masing akan memberikan
kontribusi genetik ke dalam lungkang gen (gene pool), yaitu sekumpulan informasi
genetik yang dibawa oleh semua individu di dalam populasi.

Deskripsi susunan genetik suatu populasi mendelian dapat diperoleh apabila


kita mengetahui macam genotipe yang ada dan juga banyaknya masing-masing
genotipe tersebut. Sebagai contoh, di dalam populasi tertentu terdapat tiga macam
genotipe, yaitu AA, Aa, dan aa. Maka, proporsi atau persentase genotipe AA, Aa,
dan aa akan menggambarkan susunan genetik populasi tempat mereka berada.
Adapun nilai proporsi atau persentase genotipe tersebut dikenal dengan istilah
frekuensi genotipe. Jadi, frekuensi genotipe dapat dikatakan sebagai proporsi atau
persentase genotipe tertentu di dalam suatu populasi.

Dengan perkataan lain, dapat juga didefinisikan bahwa frekuensi genotipe adalah
proporsi atau persentase individu di dalam suatu populasi yang tergolong ke dalam
genotipe tertentu. Pada contoh di atas jika banyaknya genotipe AA, Aa, dan aa
masing-masing 30, 50, dan 20 individu, maka frekuensi genotipe AA = 0,30 (30%),
Aa = 0,50 (50%), dan aa = 0,20 (20%).

Di samping dengan melihat macam dan jumlah genotipenya, susunan genetik suatu
populasi dapat juga dideskripsi atas dasar keberadaan gennya. Hal ini karena
populasi dalam arti genetika, seperti telah dikatakan di atas, bukan sekedar
kumpulan individu, melainkan kumpulan individu yang dapat melangsungkan
perkawinan sehingga terjadi transmisi gen dari generasi ke generasi. Dalam proses
transmisi ini, genotipe tetua (parental) akan dibongkar dan dirakit kembali menjadi
genotipe keturunannya melalui segregasi dan rekombinasi gen-gen yang dibawa
oleh tiap gamet yang terbentuk, sementara gen-gen itu sendiri akan mengalami
kesinambungan (kontinyuitas). Dengan demikian, deskripsi susunan genetik
populasi dilihat dari gen-gen yang terdapat di dalamnya sebenarnya justru lebih
bermakna bila dibandingkan dengan tinjauan dari genotipenya.

Susunan genetik suatu populasi ditinjau dari gen-gen yang ada dinyatakan sebagai
frekuensi gen, atau disebut juga frekuensi alel, yaitu proporsi atau persentase alel
tertentu pada suatu lokus.

Faktor- faktor yang mempengaruhi frekuensi gen dan keanekaragaman


(variabilitas) genetik

Estimasi frekuensi gen yang sebenarnya didalam suatu populasi sering memerlukan
penggunan berbagai pendekatan matematik. Namun pada pembahasan kita, untuk
sebagian besar akan kita pusatkan pada prinsip-prinsip dan konsep-konsep saja, dan
mengabaikan langkah-langkah sebenarnyaa dalam kalkulasi, yang dapat dicari
dalam buku-buku genetika yang terperinci. Kalkulasi ini memperhitungkan
sejumlah faktor yang diketahui mempengaruhi frekuensi gen dalam atau
variabbilitas genetik dari, populasi. Faktor-faktor itu diantaranya adalah mutasi,
reproduksi seksual dan rekombinasi, perkawinan keluarga, migrasi, arus genetik
secara acak (“rendom genetic drift”), seleksi, dan lingkungan.Mutasi Akhirmya ,
gen-gen terdapat dalam berbagai bentuk sebagai alela yang berlainan karena
mereka mengalami mutasi. Sebab itu, frekuensi alela-alela pada lokus didalam
suatu populasi di pengaruhi oleh sifat dapat bermutasi dari lokus itu. Mutasi maju
(“forward mutation”) mengurangi frekuensi gen-gen tipe liar; muatsi surut (“back
mutation”) meningkatkan frekuensi gen-gen tipe liar.Selain dari pada itu, gen-gen
dapat mengalami mutasi maju menjadi banyak bentuk yang berlainan, suatu
penomena yang telah kita teliti terdahulu sebagai alelisma jamak. Adanya banyak
alela yang berlainan bagi gen yang sama dikenal sebagai polimorfisma.Pada tahun-
tahun terakhir ini, genetika molekular telah meningkatkan pengetahuan kita
mengenai polimorfisma ekstensif melalui studi struktur molekular protein-protein
(hemoglobin, misalnya) dan deretan ADN.

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FREKUENSI GEN

1. Seleksi

Seleksi merupakan suatau proses yang melibatkan kekuatan – kekuatan untuk


menentukan ternaka mana yang boleh berkembang biak pada generasi selanjutnya.
Kekuaktan – kekuatan itu bisa di kontrol se0penuhnya oleh alam yang disebut
seleksi alam. Jika kekuatan itu di kontrol oleh manusia maka prosesnya disebut
seleksi buatan kedua macam seleksi itu akan merubah frekuensi gen yang sat relatif
terhadap alelnya. Laju perubahan frekuensi pada seleksi buatan jika dibandingkan
dengan seleksi alam.

Untuk mendemonstrasikan peran seleksi dalam mengubah frekuesni gen, diambil


suatu contoh populasi yang terdiri dari beberapa ribu sap yang bertanduk dan yang
tidak bertanduk. Jika diasunsikan bahwa frekuensi gen yang bertanduk dan yang
tidak bertandu pada populasi tersebut masing – masing 0,5 ( bila terjadi kawin acak)
maka sekitar 75% dari total sapi yang ada tidak bertanduk dan 25% bertanduk. Dari
75% sapi yang tidak bertanduk sebanyak 1/3 bergenotip hemozigot dan 2/3
bergenotip heterozigot.
2. Mutasi

Mutasi adalah suatu perubahan kimia gen yang berakibat berubahnya fungsi gen.
Jika gen mengalami mutasi dengan kecepatan tetap maka frekuensi gen akan sedikit
menurun, sedangkan frekuensi alel akan meningkat. Laju mutasi bervariasi dari
suatu kejadian mutasi ke kejadian mutasi lain. Namun, laju relatif rendah ( kira –
kira satu dalam satu juta pengandaan ge) sebagai gambaran, diambil contoh
frekuensi gen merah pada sapi angus, yaitu antara 0.05-0.08. jika terjadi kawin acak
maka akan dijumpai 25-64 ekor sapi merh dari setiap 10.000 kelahiran. Anak sapi
yang berwarna merah dan juga tetua yang heterozigot akan dikeluarkan dari
peternakan. Secara teoritis frekuensi gen merah akan menurun mendekati angkan
nol, namun kenyataan frekuensi gen merah tetap anata 0.05-0.08 dari suatu generasi
ke generasi berikutnya hal itu bisa dijalaskan dengan mengunakkan teori mutasi.
Diduga bahwa laju mutasi gen hitam menjadi gen merah sama dengan laju seleksi
terhadaap gen merah sehingga tercapai suatu keseimbangan.

3. Pencampuran populasi

Percampuran dua populasi yang frekuensi gennya berbeda dapat mengubah


frekuensi gen tertentu. Frekuenssi gen ini merupakan rataan dari frekuensi gen dari
dua populasi yang bercampur.

Jika seorang peternak memiliki 150 ekor sapi dengan frekuensi bertanduk dengan
= 0.95 ( bila terjadi kawin acak) maka sekitar 90% dari sapi – sapinya akan
bertanduk. Selanjutnya, jika diasumsikan bahwa ada enam pejatan baru yang
diamsukkan ke peternakan utnuk memperbaiki mutu geneteik terna – ternak yang
ada. Dari enam pejantan dimasukkan terdapat satu ekor yang bertanduk, dua ekor
yang tidak bertanduk heterozigot dan tiga ekor yang tidak bertanduk homozigot.
Frekuensi gen bertanduk pada kelompok pejantan = 1/6 = 0.033. dengan asumsi
bahwa tidak ada sapi lain yang masuk kedalam peternakan maka frekuensi gen
bertanduk pada populasi itu setelah terjadi kawin acak, selama satu generasi (
0.950 + 0.333) / 2 = 0.064

4. Silang dalam (inbreeding ) dan sialng luar (outbreeding)


Silang dalam merupakan salah satu bentuk isolasi secara genetik. Jika suatu
populais terisolasi, silang dalam cenderung terjadi karena adanya keterbatasan
pilihan dalam proses perkawinan. Jika silang dalam terjadi anatara grup ternak yang
tidak terisolasi secara geografis maka pengaruhnya juga yang sama. Oleh sebab itu,
silang dalam merupakan suatu isolasi buatan. Sebenarnya silang dalam tidak
merubah frekuensi gen awal pada saat proses silang dalam dimulai. Jika terjadi
perubahan frekuensi gen maka perubahan itu disebabkan oleh adanya seleksi,
mutasi dan pengaruh sampel acak. Jika silang luar dilakukan pada suatu populasi
yang memilik rasio jenis kelamin yang sama dengan frekuensi gen pada suatu lokus
yang sama pada kedua jenis kelamin maka frekuensi gen tidak akan berubah akibat
pengaruh langsung silang luar.

5. Genetic drift

Genetic drift merupakan perubahan frekuensi gen yang mendadak. Perubahan


frekuensi gen yang mendadak biasanya terjadi pada kelompok kecil ternak yang di
pindahkan untuk tujuan pemulian ternak atau dibiakan. Jika kelompok ternak
diisolasi dari kelompok ternak asalnya maka frekuensi gen yang terbentuk pada
populasi baru dapat berubah. Perubahan frekuensi gen yang mendadak dapat pula
disebabkan oleh bencana alam, misal matinya sebagian besar ternak yang memiliki
gen tertentu.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Genetika populasi adalah bidang biologi yang mempelajari komposi

genetik populasi biologi, dan perubahan dalam komposisi genetik yang

dihasilkan dari pengaruh berbagai faktor, termasuk seleksi alam. Genetika

populasi mengejar tujuan mereka dengan mengembangkan model

matematis abstrak dinamika frekuensi gen, mencoba untuk mengambil

kesimpulan dari model-model tentang pola-pola kemungkinan

variasi genetika populasi yang sebenarnya, dan menguji kesimpulan

terhadap data empiris.

Faktor-fartor yang mempengaruhi frekuensi gen yaitu, (1) Seleksi

merupakan suatau proses yang melibatkan kekuatan – kekuatan untuk

menentukan ternaka mana yang boleh berkembang biak pada generasi

selanjutnya. (2) Mutasi adalah suatu perubahan kimia gen yang berakibat

berubahnya fungsi gen. (3) Percampuran dua populasi yang frekuensi

gennya berbeda dapat mengubah frekuensi gen tertentu. (4) Silang dalam

merupakan salah satu bentuk isolasi secara genetik. Jika suatu populais

terisolasi, silang dalam cenderung terjadi karena adanya keterbatasan

pilihan dalam proses perkawinan. (5) Genetic drift merupakan perubahan

frekuensi gen yang mendadak. Perubahan frekuensi gen yang mendadak

biasanya terjadi pada kelompok kecil ternak yang di pindahkan untuk tujuan

pemulian ternak atau dibiakan.


B. Saran
Adapun saran yang dapat saya sampaikan kiranya pembaca dari makalah ini
bisa membaca dengan baik serta dapat mengaplikasikan dalam dunia akademik
maupun dalam kehidupan seharihari.
DAFTAR PUSTAKA

Dahlan, R. 2012. Hukum Hardy-Weinberg dan genetika populasi. Diakses

9 oktober 2019

Marwanto, R. 2013. Genetika Populasi dan faktor-faktornya. Diakses 9

oktober 2019

Riyadi, A. 2012 Makalah Genetika Populasi. Diakses pada tanggal 9

oktober 2019

Anda mungkin juga menyukai