Anda di halaman 1dari 8

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Embriologi Ayam

Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur

sampai menetas. Dasarnya penetasan telur dapat dilakukan secara alami atau

buatan. Proses glukoneogenesis terjadi dalam masa embrio, yang penting

semasa embrio untuk menyediakan energi bagi morfogenesis sampai menetas.

Perkembangan embrio ayam dimulai dari fertilisasi, blastulasi, gastrulasi,

neurolasi dan organogenesis. Fertilisasi merupakan penggabungan sel kelamin

jantan dan sel kelamin betina membentuk zigot. Tahap selanjutnya adalah

pembelahan secara mitosis pada zigot. Blastula merupakan lanjutan dari

stadium pembelahan berupa massa blastomer membentuk dasar calon tubuh

ayam, pada tahap ini terbentuk blastoselom. Gastrula adalah proses kelanjutan

stadium blastula, tahap akhir proses gastrulasi ditandai dengan terbentuknya

gastroselum dan sumbu embrio sehingga embrio mulai tumbuh memanjang

Tubulasi merupakan kelanjutan dari proses stadium gastrula. Embrio pada

stadium ini disebut neurula karena pada tahap ini terjadi neurulasi yaitu

pembentukan bumbung neural. Organogensis merupakan tahap selanjutnya

yaitu perkembangan dari bentuk primitif embrio menjadi bentuk definitif yang

memiliki bentuk dan rupa yang spesifik dalam satu spesies (Kusumawati, dkk.,

2016).

Tiga enzim utama yang dapat diukur untuk mengevaluasi perkembangan

emrbio ayam seperti 5’nucleotidase (5’NT), choline esterase (ChE) dan


alkaline phosphatase (ALP). Abnormalitas perkembangan embrio ayam akan

terjadi apabila kadar ke tiga ensim tersebut menurun karena pemaparan

teratogen. Pengukuran kadar ChE lebih sering dilakukan untuk mengetahui

pengaruh pemaparan insektisida dibanding dua ensim yang lain. Sebagian

besar insektisida seperti karbofuran mempunyai mekanisme menghambat

aktivitas serine esterase (ensim golongan ester) terutama ChE (Luqman dkk,

2007).

B. Bagian-bagian Telur Ayam

Sebutir telur terdiri atas kulit telur, lapisan kulit telur (kutikula), membrane

kulit telur, putih telur (albumen), kuning telur (yolk), bakal anak ayam (germ

spot) dan kantung udara. Telur terdiri dari tiga komponen utama, yaitu bagian

kulit telur 8 - 11 persen, putih telur (albumen) 57 - 65 persen dan kuning telur

27 – 32 persen. Putih telur terdiri atas tiga lapisan yang berbeda, yaitu lapisan

tipis putih telur bagian dalam (30 %), lapisan tebal putih telur (50 %), dan

lapisan tipis putih telur luar (20 %). Pada telur segar, lapisan putih telur tebal

bagian ujungnya akan menempel pada kulit telur. Putih telur tebal dekat kuning

telur membentuk struktur seperti kabel yang disebut kalaza. Kalaza akan

membuat kuning telur tetap ditengahtengah telur. Kalaza juga dapat

memberikan petunjuk tentang kesegaran telur, dimana pada telur yang bermutu

tinggi penampakan kalaza lebih jelas (Koswara, 2009).

Kerabang telur merupakan lapisan luar telur yang melindungi telur dari

penurunan kualitas baik disebabkan oleh kontaminasi mikroba, kerusakan fisik,


maupun penguapan. Salah Satu yang mempengaruhi kualitas kerabang telur

adalah umur ayam, semakin meningkat umur ayam kualitas kerabang semakin

menurun, kerabang telur semakin tipis, warna kerabang semakin memudar, dan

berat telur semakin besar (Jazil dkk., 2012).

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Embrio Ayam

Bentuk telur dipengaruhi oleh indeks, besar/bobot telur, dan jumlah

albumen yang sekresikan. Oleh karena itu, terdapat beberapa bentuk telur.

Embrio tidak dapat berkembang dengan baik apabila telur sangat lonjong.

Awal proses pembentukannya, telur memiliki bentuk yang sempurna saat

berada pada bagian magnum dan akan beragam bentuknya saat berada di

istmus. semakin besar bobot telur maka daya tetasnya akan menurun, karena

embrio kesulitan mendapatkan suhu yang optimal untuk proses metabolisme

tubuhnya. Kebersihan telur dipengaruhi oleh intensitas pengumpulan telur,

semakin sering dikumpulkan maka persentase kebersihan telur akan semakin

tinggi pula. Kandang yang jarang dibersihkan akan menyebabkan

menumpuknya kotoran, sehingga telur yang diproduksi menjadi kotor.

Permukaan telur yang kotor akan menyebabkan turunnya nilai fertilitas dan

daya tetas, karena akan mengurangi penguapan cairan telur dan meningkatkan

terjadinya kontaminasi bakteri (Sari, 2013).


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini tercantum pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pengamatan


No. Hasil Pengamatan Gambar Literatur Keterangan
1 2 3 4
1. Embrio ayam berumur 0 hari 1. Bakal
jantung
(Cor)
1 2. Bakal
Pembuluh
darah
2

(Patutungan, 2017)
2. Embrio ayam berumur 2 hari 1. Bakal
jantung
1 (Cor)
2. Bakal
Pembuluh
2 darah
3. Korion
3

(Patutungan, 2017)
Tabel 3. Lanjutan
1 2 3 4
3. Embrio ayam berumur 2 1. Bakal Ekor
1
minggu (Cauda)
2 2. Bakal Mata
3 (Oculus)
3. Bakal Kepala
4 (Caput)
5 4. Pembuluh
darah
6
5. Kuning telur
7 (Yolk)
(Patutungan, 2017)
6. Korion
7. Putih telur
(Albumin)

B. Pembahasan

Embriologi adalah studi mengenai embrio dengan penekanan kepada pola-pola

perkembangan embrio. Bentuk awal embrio pada hari pertama belum terlihat

jelas, sel benih berkembang menjadi bentuk seperti cincin dengan bagian

tepinya gelap, sedangkan bagian tengahnya agak terang. Bagian tengah ini

merupakan sel benih betina yang sudah dibuahi yang dinamakan zygot

blastoderm. Setelah lebih kurang 15 menit setelah pembuahan, mulailah terjadi

pembiakan sel-sel bagian awal perkembangan embrio. Jadi didalam tubuh

induk sudah terjadi perkembangan embrio. Bentuk awal embrio hari kedua

mulai terlihat jelas. Pada umur ini sudah terlihat primitive streake, suatu bentuk

memanjang dari pusat blastoderm yang kelak akan berkembang menjadi

embrio. Pada blastoderm terdapat garis-garis warna merah yang merupakan

petunjuk mulainya sistem sirkulasi darah. Pada jantung hari ketiga ini, sudah

mulai terbentuk dan berdenyut serta bentuk embrio sudah mulai tampak.

Dengan menggunakan alat khusus seperti mikroskop gelembung dapat dilihat


gelembung bening, kantung amnion, dan awal perkembangan alantois.

Gelembung-gelembung bening tersebut nantinya akan menjadi otak. Sementara

kantong amnion yang berisi cairan warna putih berfungsi melindungi embrio

dari goncangan dan membuat embrio bergerak bebas. Umur emapat hari, mata

sudah mulai kelihatan. Mata tersebut tampak sebagai bintik gelap yang terletak

disebelah kanan jantung. Selain itu jantung sudah membesar. Dengan

menggunakan mikroskop, dapat dilihat otaknya. Otak ini terbagi menjadi tiga

bagian, yaitu otak depan, otak tengah dan otak belakang.

Berdasarkan data pengamatan didapatkan hasil bahwa perkembangan

embrio ayam berlangsung selama 21 hari. Hari pertama yang merupakan fase

awal dari perkembangan embrio, embrio belum terlihat jelas, hanya ada sedikit

bagian yang lebih terang di bagian atas yolk . Hari kedua pengeraman embrio

sudah mulai terlihat jelas dan sudah nampak adanya bakal pembuluh darah,

bakal jantung dan korion. Hari keempat belas pengeraman merupakan fase

perkembangan embrio, dimana mulai terbentuk bakal ekor (Cauda), bakal mata

(Oculus), bakal kepala (Caput), pembuluh darah mulai terlihat serta jantung

sudah tebentuk.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, didapatkan perbedaan data

pengamatan dengan literatur, yaitu pada hari pertama dari pengamatan keping

germinal tidak terlihat jelas sedangkan pada literatur, keeping germinalnya

terlihat jelas. Hari kedua juga mengalami perbedaan, pada data pengamatan,

bakal organ yang akan terbentuk tidak terlihat jelas sedangkan pada literatur,

bakal organ yang akan terbentuk terlihat sangat jelas. Embrio ayam yang
berumur empat belas hari organ-organnya mulai terbentuk dan pembuluh

darahnya jelas terlihat.


DAFTAR PUSTAKA

Jazil, N., Hintono, A., dan Mulyani, S., 2012, Penurunan Kualitas Telur Ayam
Ras dengan Intensitas Warna Coklat Kerabang Berbeda Selama
Penyimpanan, Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 2(1) :43

Koswara, S., 2009, Teknologi Pengolahan Telur (Teori dan Praktek), eBook
Pangan.com :3

Kusumawati, A., Febriany, R., Hananti, S., Dewi, M. S., dan Istiyawati, N.,
Perkembangan Embrio dan Penentuan Jenis Kelamin DOC (Day-Old
Chicken) Ayam Jawa Super, Jurnal Sain Veteriner, 34(1) :30

Luqman, E., M., Soenardirahardjo, B., P., dan Mahaputra, L., Peranan Choline
Esterase (ChE) p ada Pembentukan Vesikel Otak Embrio Ayam yang
Terpapar Insektisida Karbofuran, Media Kedokteran Hewan, 23(3) :146
Sari, D., M., Perkembangan Embrio dan Daya Tetas serta Viabilitas Anak Ayam
Arab dari Umur Induk yang Berbeda, Skripsi, :8