Anda di halaman 1dari 209

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


DI LEMBAGA FARMASI
PUSAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT
PERIODE 5 AGUSTUS – 30 AGUSTUS 2019

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat


Memperoleh Gelar Apoteker (Apt)
Program Studi Profesi Apoteker

Disusun oleh:

CARINA DWI OCTARIANA , S.Farm 1843700345


CUT NURUL SABILA ,S.Farm 1843700380
ELVA SARASTARI SORUMBA,S.Farm 1843700360
EMMA TYANA, S.Farm 1843700120
MENTARI TAMPUBOLON ,S.Farm 1843700478
NOVELLIA NAPITUPULU, S.Farm 1843700408
SAMUEL KURNIAWAN SIMANJUNTAK, S.Farm 1843700407
WIELLEM HENDI S.Farm 1843700315

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER ANGKATAN XL


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA
2019
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
DI LEMBAGA FARMASI
PUSAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT
PERIODE 05 AGUSTUS – 30 AGUSTUS 2016

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat


Memperoleh Gelar Apoteker (Apt)
Program Studi Profesi Apoteker

Disusun oleh:

ELVA SARASTARI SORUMBA,S.Farm 1843700360


CUT NURUL SABILA ,S.Farm 1843700380
MENTARI TAMPUBOLON ,S.Farm 1843700478

Disetujui oleh:

Pembimbing Fakultas Pembimbing PKPA


Universitas 17 Agustus 1945 Lafi Puskesad

(Liandjani M.Farm.,Apt) (Dra. Emmy Winarni., Apt)

Mengetahui,
Koordinator PKPA
Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Rabima, M.Farm.,Apt

i
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
DI LEMBAGA FARMASI
PUSAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT
PERIODE 05 AGUSTUS – 30 AGUSTUS 2016

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat


Memperoleh Gelar Apoteker (Apt)
Program Studi Profesi Apoteker

Disusun oleh:

SAMUEL KURNIAWAN SIMANJUNTAK, S. 1843700407


WIELLEM HENDI 1843700315
CARINA DWI OCTARIANA , S.Farm 1843700345
NOVELLIA NAPITUPULU, S.Farm 1843700408

Disetujui oleh:

Pembimbing Fakultas Pembimbing PKPA


Universitas 17 Agustus 1945 Lafi Puskesad

(Guntoro Halim, M.Farm, Apt) (Dra. Emmy Winarni., Apt)

Mengetahui,
Koordinator PKPA
Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Rabima, M.Farm.,Apt

i
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
DI LEMBAGA FARMASI
PUSAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT
PERIODE 05 AGUSTUS – 30 AGUSTUS 2016

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat


Memperoleh Gelar Apoteker (Apt)
Program Studi Profesi Apoteker

Disusun oleh:

EMMA TYANA, S.Farm 1843700120

Disetujui oleh:

Pembimbing Fakultas Pembimbing PKPA


Universitas 17 Agustus 1945 Lafi Puskesad

Unsyura Dhipa Budaya, M. Farm.,Apt Dra. Emmy Winarni., Apt

Menyetahui,
Koordinator PKPA
Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Rabima, M.Farm.,Apt

i
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER ANGKATAN XL
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan bahwa :

1. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini adalah asli dan belum pernah
diajukan untuk mendapatkan gelar akademik Apoteker, baik di Universitas
17 Agustus 1945 Jakarta maupun di Universitas lain.
2. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini murni gagasan, rumusan dan
penilaian tim penyusun, tanpa bantuan pihak lain, kecuali tim pembimbing.
3. Dalam Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker tidak terdapat karya atau
pendapat yang telah ditulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam
naskah dengan disebutkan dan atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara
tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan
disebutkan nama pengarang serta dicantumkan dalam daftar pustaka.
4. Pernyataan ini kami buat dengan sesungguhnya, apa bila dikemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka tim
penyusunan bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar
serta sanksi lainnya sesuai peraturan perundang-undangan dan norma
akademik berlaku di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.

Jakarta, Agustus 2019


Yang membuat pernyataan

Penulis

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Praktek Kerja Profesi Apoteker di Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan
Darat (Lafi Puskesad) yang berlangsung pada tanggal 05 Agustus – 30 Agustus
2019.
Praktek Kerja Profesi Apoteker di Industri Farmasi bertujuan agar setiap
Apoteker mendapatkan pengetahuan dan gambaran yang jelas mengenai Industri
Farmasi yang merupakan salah satu tempat pengabdian Profesi Apoteker.
Kegiatan ini juga untuk membekali calon Apoteker agar memiliki wawasan,
pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan
kefarmasian di Industri Farmasi. Pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker
(PKPA) ini beserta penyusunan laporannya merupakan salah satu prasyarat bagi
mahasiswa Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus
1945 Jakarta untuk memperoleh gelar Apoteker.
Pada kesempatan ini, tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Kolonel Ckm Drs. Mas’ud, Apt, M. Si selaku Kepala Lembaga Farmasi
Pusat Kesehatan Angkatan Darat.
2. Letnan Kolonel Ckm Drs. Asran, Apt selaku Wakil Kepala dan
Pembimbing PKPA Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat.
3. Letnan Kolonel Ckm Dra. Emmy Winarni., Apt selaku Pembimbing PKPA
Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat.
4. Letnan Satu Ckm Ignasius Sembiring, S.Farm.,Aptselaku Koordinator
PKPA Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat.
5. Ibu Dr. Diana Laila Ramatillah, M. Farm., Apt selaku Dekan Fakultas
Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
6. Ibu Sylvia Rizky Prima,M. Farm., Apt selaku Ketua Program Studi Profesi
Apoteker Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
7. Ibu Rabima, M. Farm., Apt selaku Koordinator PKPA Universitas 17
Agustus 1945 Jakarta.

iii
8. Ibu Dr. Dra. Liandhajani, M.M, M.Farm., MH., Apt selaku dosen
pembimbing PKPA Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 yang
telah memberikan waktu untuk bimbingan dan motivasi yang berguna bagi
kami.
9. Bapak Drs. Guntoro Halim, M.Farm., MH., Apt selaku dosen pembimbing
PKPA Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 yang telah
memberikan waktu untuk bimbingan dan motivasi yang berguna bagi
kami.
10. Bapak Unsyura Dhipa Budaya, M. Farm.,Apt selaku dosen pembimbing
PKPA Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 yang telah
memberikan waktu untuk bimbingan dan motivasi yang berguna bagi
kami.
11. Kepada orang tua dan keluarga tercinta yang senantiasa memberikan
dorongan dan semangat kepada penulis.
12. Seluruh staf dan anggota Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan
Darat atasilmu dan bimbingan selama pelaksanaan Praktek Kerja Profesi
Apoteker.
13. Rekan-rekan PKPA di Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat
serta rekan-rekan mahasiswa/i Program Studi Profesi Apoteker Angkatan
XL di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
Akhir kata semoga laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Lembaga
Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat ini bermanfaat dalam menambah
wawasan bagi semua pembaca. Penulis menyadari laporan ini jauh dari
sempurna baik materi maupun penulisan. Oleh karena itu kritik dan saran yang
sifatnya membangun sangat Penulis harapkan.

Bandung, Agustus 2019

(Penulis)

iv
v
DATAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. iii


BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Tujuan Kegiatan ................................................................................ 2
1.3 Manfaat Kegiatan .............................................................................. 3
1.4 Waktu dan Tempat kegiatan .............................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 4
2.1 Industri Farmasi................................................................................. 4
2.1.1 Pengertian Industri Farmasi ....................................................... 4
2.1.2 Persyaratan Industri Farmasi ..................................................... 4
2.1.3 Izin Usaha Industri Farmasi ....................................................... 5
2.1.4 Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi ................................... 6
2.1.5 Pembinaan dan Pengawasan Industri Farmasi ........................... 7
2.2 Cara Pembuatan Obat yang Baik ...................................................... 8
2.2.1 Sistem Mutu Industri Farmasi.................................................... 9
2.2.2 Personalia ................................................................................. 12
2.2.3 Bangunan dan Fasilitas ............................................................ 17
2.2.4 Peralatan................................................................................... 25
2.2.5 Produksi ................................................................................... 30
2.2.6 Cara Penyimpanan Dan Pengiriman Obat Yang Baik ............. 47
2.2.7 Pengawasan Mutu .................................................................... 54
2.2.8 Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Audit ....................................... 56
2.2.9 Keluhan dan Penarikan Produk................................................ 57
2.2.10 Dokumentasi ............................................................................ 60
2.2.11 Kegiatan Alih Daya ................................................................. 65
2.2.12 Kualifikasi dan Validasi .......................................................... 67
2.3 Pengolahan Limbah Dalam Industri ................................................ 79
BAB III TINJAUAN KHUSUS.................................................................. 80
3.1 Sejarah Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat ......... 80
3.2 Visi dan Misi Lafi Puskesad............................................................ 81
3.2.1 Visi ........................................................................................... 81

vi
3.2.2 Misi .......................................................................................... 81
3.2.3 Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi Lafi Puskesad ............. 82
3.2.4 Struktur Organisasi Lafi Puskesad ........................................... 83
3.2.5 Kualifikasi Tenaga Kerja Lafi Puskesad ................................. 87
3.3 Kegiatan di Lafi Puskesad ............................................................... 88
3.3.1 Kegiatan Bagian Administrasi dan Logistik (Bag minlog) ..... 88
3.3.2 Kegiatan Instalasi Pengawasan Mutu (Instalwastu) ................ 89
3.3.3 Kegiatan Instalasi Penelitian dan Pengembangan ................... 92
3.3.4 Kegiatan Instalasi Produksi ..................................................... 93
3.3.5 Kegiatan Instalasi Penyimpanan ............................................ 106
3.3.6 Kegiatan Instalasi Pemeliharaan ............................................ 108
3.3.7 Dokumentasi .......................................................................... 122
3.4 Produk-Produk Lafi Puskesad ....................................................... 123
BAB IV PEMBAHASAN ......................................................................... 124
4.1 Definis Lafi Puskesad .................................................................... 124
4.2 Penerapan CPOB di Lafi Puskesad ............................................... 124
4.2.1 Manajemen Mutu ................................................................... 124
4.2.2 Personalia ............................................................................... 125
4.2.3 Bangunan dan Fasilitas .......................................................... 125
4.2.4 Peralatan................................................................................. 127
4.2.5 Sanitasi dan Higiene .............................................................. 128
4.2.6 Produksi ................................................................................. 129
4.2.7 Pengawasan Mutu .................................................................. 130
4.2.8 Inspeksi Diri dan Audit Mutu dan Persetujuan Pemasok ...... 130
4.2.9 Penanganan Keluhan terhadap Obat ...................................... 131
4.2.10 Dokumentasi .......................................................................... 131
4.2.11 Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak ..................... 132
4.2.12 Kualifikasi dan Validasi ........................................................ 132
4.3 Kegiatan PKPA ............................................................................. 133
4.3.1 Observasi Seksi Non Β-laktam .............................................. 133
4.3.2 Observasi Seksi β-laktam ...................................................... 141
4.3.3 Observasi Seksi Sefalosporin................................................. 142

vii
4.3.4 Observasi Seksi Kemas .......................................................... 143
4.3.4 Observasi Instalasi Penyimpanan .......................................... 145
4.3.5 Observasi Laboratorium Pengawasan Mutu .......................... 147
4.3.6 Observasi Sistem Pengolahan Air.......................................... 148
4.3.7 Observasi Sistem Tata Udara ................................................. 160
4.2.8 Observasi Sistem Udara Bertekanan...................................... 162
4.3.9 Observasi Sistem Pengolahan Limbah .................................. 164
BAB V PENUTUP..................................................................................... 169
5.1 Kesimpulan.................................................................................... 169
5.2 Saran .............................................................................................. 170
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 171

viii
DAFTAR TABEL

1. Data Personel Lafi Puskesad per Bulan Januari 2019 ....................................... 88


2. Standar Air Yang Digunakan Untuk Produksi. ............................................... 155
3. Fase Validasi Air ............................................................................................. 160

ix
DAFTAR GAMBAR

1. Tata Cara Pemberian Persetujuan Prinsip ........................................................... 5


2. Tata Cara Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi ............................................. 6
3. Jumlah Partikel Berdasarkan Kelas ................................................................... 21
4. Skema Dan Tahapan Proses Potable Water Plant ........................................... 151

x
DAFTAR LAMPIRAN

1. Struktur Organisasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat .................................... 173


2. Struktur Organisasi Lembaga Farmasi Puskesad ............................................ 174
3. Sistem Pengawasan Mutu Lafi Puskesad ........................................................ 175
4. Blanko Laporan Hasil Pengujian Laboratorium ............................................. 176
5. Blanko Catatan Pengujian Tablet dan Kapsul ................................................. 178
6. Blanko Laporan Hasil Pengujian Larutan/Sirup ............................................. 179
7. Alur Proses Produksi Tablet Secara Granulasi Basah..................................... 181
8. Alur Produksi Tablet Biasa/Salut dengan Metode Cetak Langsung ............... 182
9. Alur Proses Produksi Sirup ............................................................................. 183
10. Alur Produksi Kapsul .................................................................................... 184
11. Instalasi AHU Lafi Puskesad ........................................................................ 185
12.Blanko Bukti Penyerahan Bahan ................................................................... 186
13. Blanko Kartu Gudang ................................................................................... 187
14. Skema IPAL .................................................................................................. 188
15. Label Karantina, Diluluskan, dan Ditolak..................................................... 189
16. Alur Sistem Pengolahan Air ......................................................................... 190
17. Denah Bangunan Betalaktam Lafi Puskesad ................................................ 192
18. Denah Bangunan Sefalosporin Lafi Puskesad . Error! Bookmark not defined.
19. Layout Bangunan Produksi Non Betalaktam ................................................ 193
20. Alur Material Bahan Baku Obat dalam Proses Produksi .............................. 194
21. Daftar Produk Obat Lafi Puskesad ................................................................ 195

xi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) merupakan
salah satu bagian dari elemen militer bangsa. Aspek kesehatan dilingkungan
militer dapat mempengaruhi kinerja pertahanan serta perlawanan terhadap
berbagai bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, baik yang
berasal dari luar maupun dalam negeri. Dalam menjalankan tugasnya
sebagai benteng pertahanan Negara maka aspek kesehatan dari para anggota
militer TNI AD juga harus senantiasa diperhatikan.
Menurut Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan, definisi Kesehatan adalah keadaan sehat,
baik secara fisik, mental, spriritual maupun sosial yang memungkinkan
setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Industri merupakan salah satu sarana untuk mendukung upaya
peningkatan pelayanan kesehatan tersebut. Tuntunan konsumen dalam hal
kualitas suatu produk menjadi semakin kuat. Disamping itu, globalisasi juga
menimbulkan kecenderungan untuk menghasilkan produk yang memenuhi
persyaratan mutu yang berlaku secara internasional dan dapat diterima
diberbagai negara. Industri farmasi sebagai produsen perlu untuk
memperhatikan hal-hal tersebut.
Dalam rangka menjamin tersedianya sarana kesehatan yang baik bagi
prajurit TNI AD, pemerintah kemudian membentuk suatu lembaga yang
disebut sebagai Pusat Kesehatan Angkatan Darat (PUSKESAD) yang mana
salah satu bagiannya adalah Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan
Darat (Lafi Puskesad).
Lafi Puskesad merupakan industri farmasi milik negara yang
memproduksi obat-obatan yang bermutu dan diperuntukkan bagi seluruh
prajurit dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) TNI AD serta keluarga mereka di
seluruh Indonesia. Sejak tahun 2014, produksi obat Lafi Puskesad di
peruntukkan bagi pelayanan kesehatan (yankes) dan dukungan kesehatan
(dukkes) tertentu, yaitu untuk keperluan pendidikan, tugas operasi dan

1
latihan prajurit TNI AD. Lafi Puskesad sudah menerapkan prinsip-prinsip
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) guna menjamin obat yang
dihasilkan aman, berkhasiat, dan bermutu sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
Kedudukan seorang apoteker diatur dalam peraturan pemerintah yang
dituangkan dalam pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), yaitu
apoteker berperan sebagai penanggungjawab dalam proses produksi,
pemastian dan pengawasan mutu. Untuk menghasilkan sediaan obat jadi
yang tetap memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan sesuai dengan
tujuan penggunaannya, maka setiap industri farmasi wajib menerapkan
CPOB dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan produksi.
Dalam rangka menerapkan praktik kefarmasian, maka mahasiswa
calon apoteker perlu diberi pembekalan dalam bentuk Pratik Kerja Profesi
Apoteker (PKPA) di industri farmasi. Sebagai tenaga kesehatan profesional,
makan calon apoteker perlu memahami dan mengenal peran apoteker di
industri farmasi. Hal ini penting sebagai bekal bagi lulusan Program Studi
Profesi Apoteker (PSPA) apabila bekerja di suatu industri. Dengan
pertimbangan hal ini, Fakultas Farmasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
bekerja sama dengan Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat
Bandung mengadakan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PSPA).

1.2 Tujuan Kegiatan


Tujuan dari Praktek Kerja Prosfesi Apoteker di industri farmasi adalah
sebagai berikut :
1. Dapat mempelajari dan mendapatkan pengetahuan Cara Pembuatan
Obat yang Baik (CPOB), serta memperoleh gambaran nyata tentang
pekerjaan kefarmasian dalam bidang industri farmasi.
2. Mengetahui, memahami tugas dan taanggung jawab apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian di industri farmasi.
3. Membekali calon apoteker agar memperoleh wawasan, pengetahuan,
keterampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan pekerjaan
dalam industri farmasi.

2
4. Mempersiapkan mahasiswa menjadi apoteker yang handal, siap terjun
dalam dunia kerja sebagai tenaga farmasi yang profesional.
5. Mampu membandingkan teori dan praktek di lapangan.
1.3 Manfaat Kegiatan
1. Mengetahui, memahami, tugas, dan tanggung jawab apoteker dalam
menjalankan pekerjaan kefarmasian di industri farmasi.
2. Mendapatkan pengalaman praktis mengenai pekerjaan kefarmasian di
industri farmasi.
3. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi apoteker yang
profesional.

1.4 Waktu dan Tempat kegiatan


Praktek Kerja Profesi Apoteker dilaksanakan mulai dari tanggal 05
Agustus – 30 Agustus 2019 di Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan
Darat di Jalan Gudang Utara No. 26 Kelurahan Sumur Bandung Kota
Bandung. Praktik dijadwalkan dari hari Senin – Jumat pukul 07.00 – 15.30
WIB.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Industri Farmasi


2.1.1 Pengertian Industri Farmasi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang Industri farmasi,
bahwa industri farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari
Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau
bahan obat meliputi seluruh tahapan kegiatan dalam menghasilkan
obat mulai dari pengadaan bahan awal dan bahan pengemas, produksi,
pengemasan, pengawasan mutu, dan pemastian mutu sampai diperoleh
obat untuk didistribusikan.
2.1.2 Persyaratan Industri Farmasi
Pendirian industri farmasi wajib memperoleh izin industri
farmasi dari Direktur Jenderal. Direktur Jenderal yang dimaksud
adalah Direktur Jenderal pada kementerian kesehatan yang bertugas
dan bertanggung jawab dalam pembinaan kefarmasian dan alat
memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang
dibuktikan dengan sertifikat CPOB yang berlaku selama 5 tahun
sepanjang memenuhi persyaratan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang Industri farmasi ,
untuk memperoleh izin industri farmasi harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
a. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas.
b. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat.
c. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.
d. Memiliki secara tetap paling sedikit 3 (tiga) orang Apoteker
Warga Negara Indonesia masing-masing sebagai penanggung
jawab pemastian mutu, produksi, dan pengawasan mutu.

4
e. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsung atau
tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan
di bidang kefarmasian
(MENKES, 2010).
2.1.3 Izin Usaha Industri Farmasi
Berdasarkan Permenkes RI Nomor
1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang Industri Farmasi, untuk
memperoleh izin usaha industri farmasi diperlukan persetujuan
prinsip. Permohonan persetujuan prinsip diajukan secara tertulis
kepada Direktur Jenderal. Persetujuan prinsip diberikan oleh Direktur
Jenderal setelah pemohon memperoleh persetujuan Rencana Induk
Pembangunan (RIP) dari Kepala Badan. Dalam hal permohonan
persetujuan prinsip telah diberikan, pemohon dapat langsung
melakukan persiapan, pembangunan, pengadaan, pemasangan dan
instalasi peralatan, termasuk produksi percobaan dengan
memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. Persetujuan
prinsip ini berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diubah berdasarkan
permohonan dari pemohon izin industri farmasi yang bersangkutan.
Tata cara pemberian persetujuan prinsip dan izin usaha industri
farmasi mengikuti alur sebagai berikut:

Gambar 1. Tata Cara Pemberian Persetujuan Prinsip

Permohonan persetujuan prinsip yang diajukan kepada


Direktur Jenderal disertakan dengan tembusan kepada Kepala Badan
dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. (MENKES, 2010)

5
Gambar 2. Tata Cara Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi

Izin industri farmasi akan terus berlaku selama industri farmasi


tersebut masih berproduksi dan memenuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan. Jika terjadi perubahan alamat dan pindah lokasi,
perubahan penanggung jawab atau nama industri harus dilakukan
perubahan izin.
2.1.4 Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
245/MENKES/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi, bahwa Izin
Usaha Industri Farmasi dapat dicabut bila suatu Industri Farmasi
melakukan:
a. Melakukan pemindahtanganan hak milik Izin Usaha Industri
Farmasi dan perluasan tanpa memiliki izin.
b. Tidak menyampaikan informasi industri secara berturut-turut 3
(tiga) kali atau dengan sengaja menyampaikan informasi yang
tidak benar.
c. Melakukan pemindahan lokasi usaha industri tanpa persetujuan
tertulis terlebih dahulu dari Menteri.
d. Dengan sengaja memproduksi Obat Jadi atau Bahan Baku Obat
yang tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku
(Obat Palsu).

6
e. Tidak memenuhi ketentuan dalam Izin Usaha Industri Farmasi
yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.
245/MENKES/SK/V/1990.
Pencabutan izin tersebut dapat dilakukan setelah dikeluarkan :
a. Peringatan secara tertulis sebanyak tiga kali berturut–turut dengan
tenggang waktu masing-masing 2 (dua) bulan kepada perusahaan
Industri Farmasi tersebut.
b. Pembekuan izin usaha industri farmasi berlaku 6 bulan dimulai
sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan usaha
industri farmasi.
2.1.5 Pembinaan dan Pengawasan Industri Farmasi
Pembinaan terhadap pengembangan industri farmasi dilakukan
oleh Direktur Jenderal, sedangkan pengawasan dilakukan oleh Kepala
Badan. Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Permenkes RI Nomor
1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang Industri Farmasi dapat
dikenakan sanksi administratif pasal 26, berupa:
1. Peringatan secara tertulis.
2. Larangan mengedarkan untuk sementara waktu dan atau perintah
untuk penarikan kembali obat atau bahan obat dari peredaran bagi
obat atau bahan obat yang tidak memenuhi standar dan
persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatan, atau mutu.
3. Perintah pemusnahan obat atau bahan obat, jika terbukti tidak
memenuhi persyaratan keamanan, khasiat/kemanfaatan, atau
mutu.
4. Penghentian sementara kegiatan.
5. Pembekuan izin industri farmasi.
6. Pencabutan izin industri farmasi.

7
2.2 Cara Pembuatan Obat yang Baik
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) adalah cara pembuatan obat
yang bertujuan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai
dengan persyaratan dan tujuan penggunaan. CPOB bertujuan untuk menjamin
obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan
sesuai dengan tujuan penggunaannya, bila perlu dapat dilakukan penyesuaian
pedoman dengan syarat bahwa standar mutu obat yang telah ditentukan tetap
dicapai. (BPOM,2018)
CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu dari
sediaan obat. Pada pembuatan obat, pengendalian menyeluruh adalah sangat
esensial untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu
tinggi. Pembuatan secara sembarangan tidak dibenarkan bagi produk yang
digunakan untuk menyelamatkan jiwa, atau memulihkan atau memelihara
kesehatan. Tidaklah cukup bila produk jadi hanya sekedar lulus dari
serangkaian pengujian, tetapi yang lebih penting adalah bahwa mutu harus
dibentuk ke dalam produk tersebut. Pemastian mutu suatu obat tidak hanya
mengandalkan pada pelaksanaan pengujian tertentu saja, namun obat
hendaklah dibuat dalam kondisi yang dikendalikan dan dipantau secara
cermat. (BPOM,2018)
Industri Farmasi dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan
pembuatan obat dan/atau bahan obat wajib menerapkan Pedoman CPOB,
dimana industri farmasi yang telah menerapkan CPOB dibuktikan dengan
diperolehnya sertifikat CPOB. Sertifikat CPOB adalah dokumen sah yang
merupakan bukti bahwa Industri Farmasi telah memenuhi persyaratan CPOB
dalam membuat satu jenis bentuk sediaan obat yang diterbitkan oleh Kepada
Badan POM. (BPOM,2018)
Peraturan badan pengawas obat dan makanan No.13 Tahun 2018
Tentang Perubahan atas Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan
Makanan Nomor HK.03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012 Tentang Penerapan
Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik

8
2.2.1 Sistem Mutu Industri Farmasi
Pemegang Izin Industri Farmasi harus membuat obat sedemikian
rupa agar sesuai tujuan penggunaan, memenuhi persyaratan Izin Edar
atau Persetujuan Uji Klinik, jika diperlukan, dan tidak menimbulkan
risiko yang membahayakan pasien pengguna disebabkan karena
keamanan, mutu atau efektivitas yang tidak memadai. Industri farmasi
harus menetapkan manajemen puncak yang mengarahkan dan
mengendalikan perusahaan atau pabrik dengan kewenangan dan
tanggung jawab memobilisasi sumber daya dalam perusahaan atau
pabrik untuk mencapai kepatuhan terhadap regulasi.
Manajemen puncak bertanggung jawab untuk pencapaian
sasaran mutu, yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari
personel pada semua tingkat di berbagai departemen dalam
perusahaan, juga pemasok dan distributor. Untuk mencapai sasaran
mutu yang handal, diperlukan Sistem Mutu yang didesain secara
komprehensif dan diterapkan secara benar serta mencakup Cara
Pembuatan Obat yang Baik dan Manajemen Risiko Mutu.
Pelaksanaan sistem ini hendaklah didokumentasi lengkap dan
dimonitor dipantau efektivitasnya. Semua bagian Sistem Mutu
hendaklah didukung ketersediaan personel yang kompeten, bangunan
dan sarana serta peralatan yang cukup dan memadai. Tambahan
tanggung jawab legal diberikan kepada pemegang Izin Industri
Farmasi (IIF) dan kepada Pemastian Mutu.
Unsur dasar manajemen mutu adalah:
1. Suatu infrastruktur atau sistem mutu Industri Farmasi yang tepat
mencakup struktur organisasi, prosedur, proses dan sumber daya;
dan
2. Tindakan sistematis yang diperlukan untuk mendapatkan kepastian
dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, sehingga produk (atau
jasa pelayanan) yang dihasilkan akan selalu memenuhi persyaratan
yang telah ditetapkan. Keseluruhan tindakan tersebut disebut
Pemastian Mutu.

9
Semua bagian Sistem Mutu Industri Farmasi hendaklah
didukung dengan ketersediaan personel yang kompeten, bangunan dan
sarana serta peralatan yang cukup dan memadai. Kepala Bagian
Pemastian Mutu memiliki tambahan tanggung jawab secara hukum.
Manajemen Mutu adalah suatu konsep luas yang mencakup
semua aspek baik secara individual maupun secara kolektif, yang akan
memengaruhi mutu produk. Manajemen Mutu adalah totalitas semua
pengaturan yang dibuat, dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat
memiliki mutu yang sesuai tujuan penggunaan. Oleh karena itu
Manajemen Mutu mencakup juga Cara Pembuatan Obat yang Baik
(CPOB).
CPOB diterapkan di semua tahap siklus hidup dari pembuatan
obat untuk uji klinik, transfer teknologi, produksi komersial hingga
produk tidak diproduksi lagi. Namun, Sistem Mutu Industri Farmasi
dapat meluas ke tahap siklus hidup pengembangan produk seperti
diuraikan dalam (International Conference of Harmonization) ICH
Q10, yang memfasilitasi inovasi dan perbaikan berkesinambungan
serta memperkuat hubungan antara kegiatan pengembangan produk
dan kegiatan pembuatan produk.
Suatu Sistem Mutu Industri Farmasi yang tepat bagi pembuatan
obat hendaklah menjamin bahwa:
1. Realisasi produk diperoleh dengan mendesain, merencanakan,
mengimplementasikan, memelihara dan memperbaiki sistem
secara berkesinambungan sehingga secara konsisten
menghasilkan produk dengan atribut mutu yang tepat;
2. Pengetahuan mengenai produk dan proses dikelola pada seluruh
tahapan siklus hidup;
3. Desain dan pengembangan obat dilakukan dengan cara yang
memerhatikan ketentuan CPOB;
4. Kegiatan produksi dan pengawasan diuraikan secara jelas dan
mengacu pada ketentuan CPOB;
5. Tanggung jawab manajerial diuraikan secara jelas;

10
6. Pengaturan ditetapkan untuk pembuatan, pemasokan dan
penggunaan bahan awal dan pengemas yang benar; seleksi dan
pemantauan pemasok, dan untuk memverifikasi setiap pengiriman
bahan berasal dari pemasok yang disetujui;
7. Proses tersedia untuk memastikan manajemen kegiatan alih daya
(outsource);
8. Kondisi pengawasan ditetapkan dan dipelihara dengan
mengembangkan dan menggunakan sistem pemantauan dan
pengendalian yang efektif untuk kinerja proses dan mutu produk;
9. Hasil pemantauan produk dan proses diperhitungkan dalam
pelulusan bets, dalam investigasi penyimpangan, dan untuk
menghindarkan potensi penyimpangan di kemudian hari dengan
memperhitungkan tindakan pencegahannya;
10. Semua pengawasan yang diperlukan terhadap produk antara dan
pengawasan selama-proses serta validasi dilaksanakan;
11. Perbaikan berkelanjutan difasilitasi melalui penerapan
peningkatan mutu yang sesuai dengan kondisi terkini terhadap
pengetahuan tentang produk dan proses;
12. Pengaturan tersedia untuk evaluasi prospektif terhadap perubahan
yang direncanakan dan persetujuan terhadap perubahan sebelum
diimplementasikan dengan memerhatikan laporan dan, di mana
diperlukan, persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan;
13. Setelah pelaksanaan perubahan, evaluasi dilakukan untuk
mengonfirmasi pencapaian sasaran mutu dan bahwa tidak terjadi
dampak merugikan terhadap mutu produk;
14. Analisis akar penyebab masalah yang tepat hendaklah diterapkan
selama investigasi penyimpangan, dugaan kerusakan produk dan
masalah lain.
15. Penilaian produk mencakup kajian dan evaluasi terhadap
dokumen produksi yang relevan dan penilaian deviasi dari
prosedur yang ditetapkan;

11
16. Obat tidak boleh dijual atau didistribusikan sebelum Pemastian
Mutu meluluskan tiap bets produksi yang dibuat dan dikendalikan
sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Izin Edar dan
peraturan lain yang berkaitan dengan aspek produksi, pengawasan
dan pelulusan produk;
17. Pengaturan yang memadai untuk memastikan bahwa, sedapat
mungkin, produk disimpan, didistribusikan dan selanjutnya
ditangani agar mutu tetap dipertahankan selama masa
kedaluwarsa obat; dan
18. Tersedia proses inspeksi diri dan/atau audit mutu yang
mengevaluasi efektivitas dan penerapan Sistem Mutu Industri
Farmasi secara berkala.
Manajemen puncak memiliki tanggung jawab paling tinggi
untuk memastikan Sistem Mutu Industri Farmasi yang efektif tersedia,
mempunyai sumber daya yang memadai dan bahwa peran, tanggung
jawab, dan wewenang ditetapkan, dikomunikasikan dan
diimplementasikan di seluruh organisasi. Kepemimpinan dan
partisipasi aktif manajemen puncak dalam Sistem Mutu Industri
Farmasi sangat penting. Kepemimpinan ini hendaklah menjamin
dukungan dan komitmen personel di semua tingkat dan pabrik dalam
organisasi terhadap Sistem Mutu Industri Farmasi.
2.2.2 Personalia
Pembuatan obat yang benar mengandalkan sumber daya
manusia. Industri farmasi harus bertanggung jawab untuk
menyediakan personel yang terkualifikasi dalam jumlah yang
memadai untuk melaksanakan semua tugas. Tanggung jawab
individual secara jelas dipahami oleh masing-masing dan
didokumentasikan. Seluruh personel hendaklah memahami prinsip
CPOB yang menyangkut tugasnya serta memperoleh pelatihan awal
dan berkesinambungan, termasuk instruksi higiene yang berkaitan
dengan pekerjaannya.

12
Industri farmasi hendaklah memiliki personel dalam jumlah
yang memadai yang terkualifikasi dan berpengalaman praktis.
Manajemen puncak hendaklah menetapkan dan menyediakan sumber
daya yang memadai dan tepat (manusia, finansial, bahan, fasilitas dan
peralatan) untuk menerapkan dan mengawasi Sistem Mutu Industri
Farmasi dan meningkatkan efektivitas secara terus-menerus. Tiap
personel tidak boleh dibebani tanggung jawab yang berlebihan
sehingga menimbulkan risiko terhadap kualitas.
Industri farmasi harus memiliki struktur organisasi di mana
hubungan antara Kepala Produksi, Kepala Pengawasan Mutu dan
Kepala Pemastian Mutu. Personel Kunci harus memenuhi persyaratan
kualifikasi yang ditetapkan dalam regulasi nasional, dan hendaklah
selalu hadir untuk melaksanakan tanggung jawabnya sesuai dengan
Izin Industri Farmasi. Manajemen puncak memiliki tanggung jawab
tertinggi untuk memastikan efektivitas penerapan Sistem Mutu
Industri Farmasi untuk mencapai sasaran mutu, dan, peran, tanggung
jawab, dan wewenang tersebut ditetapkan, dikomunikasikan serta
diterapkan di seluruh organisasi. Manajemen puncak hendaklah
menetapkan kebijakan mutu yangmenguraikan keseluruhan maksud
dan tujuan perusahaan terkait mutudan hendaklah memastikan
kesesuaian dan efektivitas Sistem Mutu Industri Farmasi dan
pemenuhan CPOB melalui keikutsertaan dalam tinjauan manajemen.
Manajemen puncak hendaklah menunjuk Personel Kunci
termasuk Kepala Produksi, Kepala Pengawasan Mutu, dan Kepala
Pemastian Mutu. Posisi kunci tersebut dijabat oleh Apoteker
purnawaktu. Kepala Produksi, Kepala Pengawasan Mutu dan Kepala
Pemastian Mutu harus independen satu terhadap yang lain. Hendaklah
personel tersebut tidak mempunyai kepentingan lain yang dapat
menimbulkan konflik kepentingan pribadi atau finansial.
1. Tugas Kepala Pemastian Mutu dijelaskan dalam persyaratan
nasional sebagai berikut:

13
1) Memastikan penerapan (dan, bila diperlukan, membentuk)
sistem mutu;
2) Ikut serta dalam atau memprakarsai pembentukan manual
mutu perusahaan;
3) Memprakarsai dan mengawasi audit internal atau inspeksi
diri berkala;
4) Melakukan pengawasan terhadap fungsi bagian Pengawasan
Mutu;
5) Memprakarsai dan berpartisipasi dalam pelaksanaan audit
eksternal (audit terhadap pemasok);
6) Memprakarsai dan berpartisipasi dalam program validasi;
7) Memastikan pemenuhan persyaratan teknik dan/atau
peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM)
yang berkaitan dengan mutu produk jadi;
8) Mengevaluasi/ mengkaji catatan bets;
9) Meluluskan atau menolak produk jadi untuk penjualan
dengan mempertimbangkan semua faktor terkait;
10) Memastikan bahwa setiap bets produk jadi telah diproduksi
dan diperiksa sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara
tersebut dan sesuai dengan persyaratan Izin Edar; dan
11) Tanggung jawab Kepala Pemastian Mutu dapat
didelegasikan, tetapi hanya kepada personel yang berwenang.
2. Kepala Produksi memiliki tanggung jawab sebagai berikut:
1) Memastikan bahwa obat diproduksi dan disimpan sesuai
prosedur agar memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan;
2) Memberikan persetujuan terhadap prosedur yang terkait
dengan kegiatan produksi dan memastikan bahwa prosedur
diterapkan secara ketat;
3) Memastikan bahwa catatan produksi telah dievaluasi dan
ditandatangani oleh personel yang berwenang;
4) Memastikan pelaksanaan kualifikasi dan pemeliharaan
bangunan fasilitas serta peralatan di bagian produksi;

14
5) Memastikan bahwa validasi yang tepat telah dilaksanakan; dan
6) Memastikan bahwa pelatihan awal dan berkesinambungan bagi
personel di departemennya dilaksanakan dan diterapkan sesuai
kebutuhan.
3. Kepala Pengawasan Mutu memiliki tanggung jawab sebagai
berikut:
1) memberi persetujuan terhadap spesifikasi, instruksi
pengambilan sampel, metode pengujian dan prosedur
pengawasan mutu lain;
2) Memastikan bahwa seluruh pengujian yang diperlukan telah
dilaksanakan;
3) Memberi persetujuan dan memantau semua analisis
berdasarkan kontrak;
4) Memastikan pelaksanaan kualifikasi dan pemeliharaan
bangunanfasilitas serta peralatan di bagian produksi
pengawasan mutu;
5) Memastikan bahwa validasi yang tepat telah dilaksanakan;
6) Memastikan bahwa pelatihan awal dan berkesinambungan bagi
personel di departemennya dilaksanakan dan diterapkan sesuai
kebutuhan; dan
7) Menyetujui atau menolak bahan awal, bahan pengemas,
produk antara, produk ruahan dan produk jadi sesuai hasil
evaluasi.
Kepala Produksi, Pengawasan Mutu dan Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu) memiliki tanggung jawab bersama atau menerapkan
bersama, semua aspek yang berkaitan dengan mutu termasuk
khususnya desain, pelaksanaan, pemantauan dan pemeliharaan Sistem
Mutu Industri Farmasi yang efektif. Hal ini termasuk, sesuai dengan
peraturan Badan POM:
1. Otorisasi prosedur tertulis dan dokumen lain termasuk amandemen;
2. Pemantauan dan pengendalian lingkungan pembuatan;
3. Higiene pabrik;

15
4. Validasi proses;
5. Pelatihan;
6. Persetujuan dan pemantauan pemasok bahan;
7. Persetujuan dan pemantauan terhadap industri farmasi pembuat
obat kontrak dan penyedia kegiatan alih daya terkait CPOB lain;
8. Penetapan dan pemantauan kondisi penyimpanan bahan dan
produk;
9. Penyimpanan catatan;
10. Pemantauan terhadap kepatuhan persyaratan CPOB;
11. Inspeksi, investigasi dan pengambilan sampel untuk pemantauan
faktor yang mungkin berpengaruh terhadap mutu produk;
12. Ikut serta dalam pelaksanaan tinjauan manajemen terhadap
kinerja proses, mutu produk dan Sistem Mutu Industri Farmasi
dan mendorong perbaikan berkelanjutan; dan
13. Memastikan komunikasi yang tepat waktu dan efektif dan proses
eskalasi berjalan untuk mengangkat permasalahan mutu ke tingkat
manajemen yang tepat.
Program higiene yang rinci hendaklah disiapkan dan disesuaikan
dengan berbagai kebutuhan di pabrik. Program tersebut hendaklah
mencakup prosedur yang berkaitan dengan praktik kesehatan dan
higiene serta pakaian personel. Prosedur hendaklah dipahami dan
dipatuhi secara ketat oleh setiap personel yang bertugas di area
produksi dan pengawasan. Pelaksanaan program higiene hendaklah
didorong oleh manajemen dan dibahas secara luas selama sesi
pelatihan.
Konsultan hendaklah memiliki pendidikan, pelatihan, dan
pengalaman yang memadai, atau kombinasinya, untuk memberi saran
atas subjek yang mereka kuasai. Data yang mencakup nama, alamat,
kualifikasi, dan jenis layanan yang diberikan oleh konsultan
hendaklah dipelihara.

16
2.2.3 Bangunan dan Fasilitas
Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki
desain, konstruksi dan letak yang memadai, serta disesuaikan
kondisinya dandirawat dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan
operasi yang benar. Tata letak dan desain ruangan harus dibuat
sedemikian rupa untuk memperkecil resiko terjadi kekeliruan,
pencemaran silang dan kesalahan lain, serta memudahkan pembersihan
sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindarkan pencemaran
silang, penumpukan debu atau kotoran,dan dampak lain yang dapat
menurunkan mutu obat.
Letak bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk
menghindarkan pencemaran dari lingkungan sekelilingnya, seperti
pencemaran dari udara, tanah dan air serta dari kegiatan industri lain
yang berdekatan. Apabila letak bangunan tidak sesuai, hendaklah
diambil tindakan pencegahan yang efektif terhadap pencemaran
tersebut.
Bangunan dan fasilitas hendaklah didesain, dikonstruksi,
dilengkapi dan dirawat sedemikian agar memperoleh perlindungan
maksimal terhadap pengaruh cuaca, banjir, rembesan dari tanah serta
masuk dan bersarang serangga, burung, binatang pengerat, kutu atau
hewan lain. Hendaklah tersedia prosedur untuk pengendalian binatang
pengerat dan hama.Bangunan dan fasilitas hendaklah dirawat dengan
cermat, dibersihkan dan, bila perlu, didisinfeksi sesuai prosedur
tertulis rinci. Catatan pembersihan dan disinfeksi hendaklah disimpan.
Seluruh bangunan dan fasilitas termasuk area produksi,
laboratorium, area penyimpanan, koridor dan lingkungan sekeliling
bangunan hendaklah dirawat dalam kondisi bersih dan rapi. Kondisi
bangunan hendaklah ditinjau secara teratur dan diperbaiki di mana
perlu. Perbaikan serta perawatan bangunan dan fasilitas hendaklah
dilakukan hati-hati agar kegiatan tersebut tidak memengaruhi mutu
obat.

17
Tenaga listrik, lampu penerangan, suhu, kelembaban dan
ventilasi hendaklah tepat agar tidak mengakibatkan dampak yang
merugikan baiksecara langsung maupun tidak langsung terhadap
produk selama proses pembuatan dan penyimpanan, atau terhadap
ketepatan/ketelitian fungsi dari peralatan. Desain dan tata letak ruang
hendaklah memastikan :
1. Kompatibilitas dengan kegiatan produksi lain yang mungkin
dilakukan di dalam sarana yang sama atau sarana yang
berdampingan.
2. Pencegahan area produksi dimanfaatkan sebagai jalur lalu lintas
umum bagi personil dan bahan atau produk, atau sebagai tempat
penyimpanan bahan atau produk selain yang sedang diproses.
Tindakan pencegahan hendaklah diambil untuk mencegah
personil yang tidak berkepentingan masuk. Area produksi, area
penyimpanan dan area pengawasan mutu tidak boleh digunakan
sebagai jalur lalu lintas bagi personil yang tidak bekerja di area
tersebut. Area yang diatur dalam CPOB, meliputi:
1. Area Penimbangan
Penimbangan bahan awal dan perkiraan hasil nyata produk
dengan carapenimbangan hendaklah dilakukan di area
penimbangan terpisah yang didesain khusus untuk kegiatan
tersebut. Area ini dapat menjadi bagian dari area penyimpanan
atau area produksi.
2. Area Produksi
1) Kontaminasi silang hendaklah dicegah untuk semua produk
melalui desain dan pengoperasian fasilitas pembuatan yang
tepat. Tindakan pencegahan kontaminasi silang hendaklah
sepadan dengan risikonya. Prinsip Manajemen Risiko Mutu
hendaklah digunakan untuk menilai dan mengendalikan
risiko.
2) Fasilitas tersendiri dipersyaratkan untuk pembuatan obat yang
berisiko karena:

18
a. Risiko tidak dapat dikendalikan secara memadai melalui
pengoperasian dan/atau tindakan teknis;
b. Data ilmiah dari evaluasi toksikologi tidak mendukung
risiko yang dapat dikendalikan;
c. Batas residu relevan berdasarkan hasil evaluasi
toksikologi, tidak dapat ditentukan secara memuaskan
dengan metode analisis tervalidasi.
3) Tata letak ruang produksi sebaiknya dirancang sedemikian
rupa untuk:
a. Memungkinkan kegiatan produksi dilakukan di area
yang saling berhubungan antara satu ruangan dengan
ruangan lain mengikuti urutan tahap produksi dan
menurut kelas kebersihan yang dipersyaratkan.
b. Mencegah kesesakan dan ketidak-teraturan; dan
c. Memungkinkan komunikasi dan pengawasan yang
efektif terlaksana.
4) Luas area kerja dan area penyimpanan bahan atau produk
yang sedang dalam proses hendaklah memadai untuk
memungkinkan penempatan peralatan dan bahan secara
teratur dan sesuai dengan alur proses, sehingga dapat
memperkecil resiko terjadi kekeliruan antara produk obat atau
komponen obat yang berbeda, mencegah pencemaran silang
dan memperkecil resiko terlewat atau salah melaksanakan
tahapan proses produksi atau pengawasan.
5) Permukaan dinding, lantai dan langit-langit bagian dalam
ruangan dimana terdapat bahan baku dan bahan pengemas
primer, produk antara atau produk ruahan yang terpapar ke
lingkungan hendaklah halus, bebas retak dan sambungan
terbuka, tidak melepaskan partikulat, serta memungkinkan
pelaksanaan pembersihan (bila perlu disinfeksi) yang mudah
dan efektif.

19
6) Konstruksi lantai di area pengolahan hendaklah dibuat dari
bahan kedap air, permukaannya rata dan memungkinkan
pembersihan yang cepat dan efisien apabila terjadi tumpahan
bahan. Sudut antara dinding dan lantai di area pengolahan
hendaklah berbentuk lengkungan.
7) Pipa, fiting lampu, titik ventilasi dan instalasi sarana
penunjang lain hendaklah didesain dan dipasang sedemikian
rupa untuk menghindarkan pembentukan ceruk yang sulit
dibersihkan. Untuk kepentingan perawatan, sedapat mungkin
instalasi sarana penunjang seperti ini hendaklah dapat diakses
dari luar area pengolahan.
8) Pipa yang terpasang di dalam ruangan tidak boleh menempel
pada dinding tetapi digantungkan dengan menggunakan siku-
siku pada jarak cukup untuk memudahkan pembersihan
menyeluruh.
9) Pemasangan rangka atap, pipa dan saluran udara di dalam
ruangan hendaklah dihindarkan. Apabila tidak terhindarkan,
maka prosedur dan jadwal pembersihan instalasi tersebut
hendaklah dibuat dan diikuti.
10) Lubang udara masuk dan keluar serta pipa-pipa dan
salurannya hendaklah dipasang sedemikian rupa untuk
mencegah pencemaran terhadap produk.
11) Saluran pembuangan air hendaklah cukup besar, didesain dan
dilengkapi bak kontrol untuk mencegah alir balik. Sedapat
mungkin saluran terbuka dicegah tetapi bila perlu hendaklah
dangkal untuk memudahkan pembersihan dan disinfeksi.
12) Area produksi hendaklah diventilasi secara efektif dengan
menggunakan sistem pengendali udara termasuk filter udara
dengan tingkat efisiensi yang dapat mencegah pencemaran
dan pencemaran silang, pengendali suhu dan, bila perlu,
pengendali kelembaban udara sesuai kebutuhan produk yang
diproses dan kegiatan yang dilakukan didalam ruangan dan

20
dampaknya terhadap lingkungan luar pabrik. Area produksi
hendaklah dipantau secara teratur baik selama ada maupun
tidak ada kegiatan produksi untuk memastikan pemenuhan
terhadap spesifikasi yang dirancang sebelumnya.
3. Klasifikasi Kebersihan Ruang Pembuatan Obat
Tingkat kebersihan ruang/area untuk pembuatan obat
hendaklah diklasifikasikan sesuai dengan jumlah maksimum
partikulat udara yang diperbolehkan untuk tiap kelas kebersihan.

Gambar 3. Jumlah Partikel Berdasarkan Kelas

Catatan: Kelas A, B, C dan D adalah kelas kebersihan ruang untuk


pembuatan produk steril. Kelas E adalah kelas kebersihan ruang
untuk pembuatan produk nonsteril. Persyaratan lain untuk
pembuatan produk steril dirangkum pada Aneks 1 Pembuatan
Produk Steril
4. Area Penyimpanan
1) Area penyimpanan hendaklah memiliki kapasitas yang
memadai untuk menyimpan dengan rapi dan teratur berbagai
macam bahan dan produk seperti bahan awal dan bahan
pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi,
produk dalam status karantina, produk yang telah diluluskan,
produk yang ditolak, produk yang dikembalikan atau produk
yang ditarik dari peredaran.
2) Area penyimpanan hendaklah didesain atau disesuaikan untuk
menjamin kondisi penyimpanan yang baik; terutama area

21
tersebut hendaklah bersih, kering dan mendapat penerangan
yang cukup serta dipelihara dalam batas suhu yang ditetapkan.
3) Apabila kondisi penyimpanan khusus (misal suhu,
kelembaban) dibutuhkan, kondisi tersebut hendaklah disiapkan,
dikendalikan, dipantau dan dicatat di mana diperlukan.
4) Area penerimaan dan pengiriman barang hendaklah dapat
memberikan perlindungan bahan dan produk terhadap cuaca.
Area penerimaan hendaklah didesain dan dilengkapi dengan
peralatan yang sesuai untuk kebutuhan pembersihan wadah
barang bila perlu sebelum dipindahkan ke tempat
penyimpanan.
5) Apabila status karantina dipastikan dengan cara penyimpanan
diarea terpisah, maka area tersebut hendaklah diberi penandaan
yang jelas.
6) Hendaklah disediakan area terpisah dengan lingkungan yang
terkendali untuk pengambilan sampel bahan awal. Apabila
kegiatan tersebut dilakukan di area penyimpanan, maka
pengambilan sampel hendaklah dilakukan sedemikian rupa
untuk mencegah pencemaran atau pencemaran silang. Prosedur
pembersihan yang memadai bagi ruang pengambilan sampel
hendaklah tersedia.
7) Area terpisah dan terkunci hendaklah disediakan untuk
penyimpanan bahan dan produk yang ditolak, atau yang ditarik
kembali atau yang dikembalikan.
8) Bahan aktif berpotensi tinggi dan bahan radioaktif, narkotik,
obat berbahaya lain, dan zat atau bahan yang mengandung
resiko tinggi terhadap penyalahgunaan, kebakaran atau ledakan
hendaklah disimpan di area yang terjamin keamanannya. Obat
narkotik dan obat berbahaya lain hendaklah disimpan di tempat
terkunci.
9) Bahan pengemas cetakan merupakan bahan yang kritis karena
menyatakan kebenaran produk menurut penandaannya.

22
Perhatian khusus hendaklah diberikan dalam penyimpanan
bahan ini agar terjamin keamanannya. Bahan label hendaklah
disimpan di tempat terkunci.
5. Area Pengawasan Mutu
1) Laboratorium pengawasan mutu hendaklah terpisah dari area
produksi. Area pengujian biologi, mikrobiologi dan
radioisotop hendaklah dipisahkan satu dengan yang lain.
2) Laboratorium pengawasan mutu hendaklah didesain sesuai
dengan kegiatan yang dilakukan. Luas ruang hendaklah
memadai untuk mencegah pencampur bauran dan
pencemaran silang. Hendaklah disediakan tempat
penyimpanan dengan luas yang memadai untuk sampel, baku
pembanding (bila perlu dengan kondisi suhu terkendali),
pelarut, pereaksi dan catatan.
3) Suatu ruangan yang terpisah mungkin diperlukan untuk
memberi perlindungan instrumen terhadap gangguan listrik,
getaran, kelembaban yang berlebihan dan gangguan lain, atau
bila perlu untuk mengisolasi instrumen.
4) Desain laboratorium hendaklah memerhatikan kesesuaian
bahan konstruksi yang dipakai, ventilasi dan pencegahan
terhadap asap. Pasokan udara ke laboratorium hendaklah
dipisahkan dari pasokan ke area produksi. Hendaklah
dipasang unit pengendali udara yang terpisah untuk masing-
masing laboratorium biologi, mikrobiologi dan radioisoto.
6. Sarana Pendukung
1) Ruang istirahat dan kantin hendaklah dipisahkan dari area
produksi dan laboratorium pengawasan mutu.
2) Sarana untuk mengganti pakaian kerja, membersihkan diri dan
toilet hendaklah disediakan dalam jumlah yang cukup dan
mudah diakses. Toilet tidak boleh berhubungan langsung
dengan area produksi atau area penyimpanan. Ruang ganti

23
pakaian hendaklah berhubungan langsung dengan area
produksi namun letaknya terpisah.
3) Sedapat mungkin letak bengkel perbaikan dan perawatan
peralatan terpisah dari area produksi. Apabila suku cadang,
asesori mesin danperkakas bengkel disimpan di area produksi,
hendaklah disediakan ruangan atau lemari khusus untuk
penyimpanan alat tersebut.
4) Sarana pemeliharaan hewan hendaklah diisolasi dengan baik
terhadap area lain dan dilengkapi pintu masuk terpisah (akses
hewan) serta unit pengendali udara yang terpisah.
7. Pembersihan Dan Sanitasi Bangunan-Fasilitas
1) Bangunan yang digunakan untuk pembuatan obat hendaklah
didesain dan dikonstruksi dengan tepat untuk memudahkan
sanitasi yang baik. Hendaklah disediakan fasilitas yang
memadai untuk penyimpanan pakaian personel dan milik
pribadinya di tempat yang tepat. Penyiapan, penyimpanan dan
konsumsi makanan dan minuman hendaklah dibatasi di area
khusus, misalnya kantin. fasilitas ini hendaklah memenuhi
standar saniter.
2) Sampah tidak boleh dibiarkan menumpuk. Sampah hendaklah
dikumpulkan di dalam wadah yang sesuai untuk dipindahkan
ke tempat penampungan di luar bangunan dan dibuang secara
teratur dan berkala dengan mengindahkan persyaratan saniter.
Rodentisida, insektisida, agens fumigasi dan bahan sanitasi
tidak boleh mengkontaminasi peralatan, bahan awal, bahan
pengemas, bahan yang sedang diproses atau produk jadi.
3) Hendaklah ada prosedur tertulis untuk pemakaian rodentisida,
insektisida, fungisida, agens fumigasi, pembersih dan sanitasi
yang tepat. Prosedur tertulis tersebut hendaklah disusun dan
dipatuhi untuk mencegah kontaminasi terhadap peralatan,
bahan awal, wadah obat, tutup wadah, bahan pengemas dan
label atau produk jadi. Rodentisida, insektisida dan fungisida

24
tidak boleh digunakan kecuali yang sudah terdaftar dan
digunakan sesuai peraturan terkait.
4) Hendaklah ada prosedur tertulis yang menunjukkan
penanggung jawab untuk sanitasi serta menguraikan dengan
cukup rinci mengenai jadwal, metode, peralatan dan bahan
pembersih yang harus digunakan untuk pembersihan fasilitas
dan bangunan. Prosedur tertulis terkait hendaklah dipatuhi.
Prosedur sanitasi hendaklah berlaku untuk pekerjaan yang
dilaksanakan oleh kontraktor atau karyawan sementara
maupun karyawan purnawaktu selama pekerjaan operasional
biasa.
2.2.4 Peralatan
Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan
konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan
dikualifikasidengan tepat, agar mutu obat terjamin sesuai desain serta
seragam dari bets ke bets dan untuk memudahkan pembersihan serta
perawatan agar dapat mencegah kontaminasi silang, penumpukan
debu atau kotoran dan hal-hal yang umumnya berdampak buruk pada
mutu produk.
1. Desain dan Konstruksi
1) Peralatan manufaktur hendaklah didesain, ditempatkan dan
dirawat sesuai dengan tujuannya.Permukaan peralatan yang
bersentuhan dengan bahan awal, produk antara atau produk
jadi tidak boleh menimbulkan reaksi, adisi atau absorpsi yang
dapat mempengaruhi identitas, mutu atau kemurnian di luar
batas yang ditentukan.
2) Peralatan tidak boleh merusak produk akibat katup bocor,
tetesan pelumas dan hal sejenis atau karena perbaikan,
perawatan, modifikasi dan adaptasi yang tidak tepat.
3) Hendaklah tersedia alat timbang dan alat ukur dengan rentang
dan ketelitian yang tepat untuk proses produksi dan
pengawasan. Peralatan yang digunakan untuk menimbang,

25
mengukur, memeriksa dan mencatat hendaklah diperiksa
ketepatannya dan dikalibrasi sesuai program dan prosedur
yang ditetapkan. Hasil pemeriksaan dan kalibrasi hendaklah
dicatat dan disimpan dengan baik.
4) Bahan yang diperlukan untuk pengoperasian alat khusus,
misalnya pelumas atau pendingin tidak boleh bersentuhan
dengan bahan yang sedang diolah sehingga tidak
memengaruhi identitas, mutu atau kemurnian bahan awal,
produk antara ataupun produk jadi.
5) Peralatan manufaktur hendaklah didesain sedemikian rupa
agar mudah dibersihkan. Peralatan tersebut hendaklah
dibersihkan sesuai prosedur tertulis yang rinci serta disimpan
dalam keadaan bersih dan kering.
6) Peralatan pencucian dan pembersihan hendaklah dipilih dan
digunakan agar tidak menjadi sumber pencemaran.
7) Semua peralatan khusus untuk pengolahan bahan mudah
terbakar atau bahan kimia atau yang ditempatkan di area di
mana digunakan bahan mudah terbakar, hendaklah dilengkapi
dengan perlengkapan elektris yang kedap eksplosi serta
dibumikan dengan benar.
8) Filter cairan yang digunakan untuk proses produksi
hendaklah tidak melepaskan serat ke dalam produk. Filter
yang mengandung asbes tidak boleh digunakan walaupun
sesudahnya disaring kembali menggunakan filter khusus
yang tidak melepaskan serat.
9) Pipa air suling, air deionisasi dan bila perlu pipa air lain
untuk produksi hendaklah disanitasi sesuai prosedur tertulis.
Prosedur tersebut hendaklah berisi rincian batas cemaran
mikroba dan tindakan yang harus dilakukan.
2. Pemasangan dan Penempatan
1) Peralatan hendaklah ditempatkan sedemikian rupa untuk
memperkecil kemungkinan terjadinya pencemaran silang

26
antar bahan di area yang sama. Peralatan hendaklah
dipasang sedemikian rupa untuk menghindari resiko
kekeliruan atau pencemaran serta memastikan tidak terjadi
kekeliruan dan kecampurbauran produk.
2) Semua sabuk (belt) dan pulley mekanis terbuka hendaklah
dilengkapi dengan pengaman.
3) Air, uap dan udara bertekanan atau vakum serta saluran
lainhendaklah dipasang sedemikian rupa agar mudah
diakses pada tiap tahap proses. Pipa hendaklah diberi
penandaan yang jelas untuk menunjukkan isi dan arah
aliran.
4) Tiap peralatan utama hendaklah diberi tanda dengan nomor
identitas yang jelas. Nomor ini dicantumkan di dalam
semua perintah dan catatan bets untuk menunjukkan unit
atau peralatan yang digunakan pada pembuatan bets
tersebut kecuali bila peralatan tersebut hanya digunakan
untuk satu jenis produk saja.
5) Peralatan yang rusak, jika memungkinkan, hendaklah
dikeluarkan dari area produksi dan pengawasan mutu, atau
setidaknya, diberi penandaan yang jelas.
3. Pembersihan dan sanitasi peralatan
1) Setelah digunakan, peralatan hendaklah dibersihkan baik
bagian luar maupun bagian dalam sesuai dengan prosedur
yang telah ditetapkan, serta dijaga dan disimpan dalam
kondisi yang bersih. Tiap kali sebelum dipakai,
kebersihannya diperiksa untuk memastikan bahwa semua
produk atau bahan dari bets sebelumnya telah dihilangkan.
2) Metode pembersihan dengan cara vakum atau cara basah
lebih dianjurkan. Udara bertekanan dan sikat hendaklah
digunakan dengan hati-hati dan bila mungkin dihindarkan
karena menambah risiko kontaminasi produk.

27
3) Pembersihan dan penyimpanan peralatan yang dapat
dipindah-pindahkan dan penyimpanan bahan pembersih
hendaklah dilaksanakan dalam ruangan yang terpisah dari
ruangan pengolahan.
4) Prosedur tertulis yang cukup rinci untuk pembersihan dan
sanitasi peralatan serta wadah yang digunakan dalam
pembuatan obat hendaklah dibuat, divalidasi dan ditaati.
Prosedur ini hendaklah dirancang agar kontaminasi
peralatan oleh bahan pembersih atau sanitasi dapat dicegah.
Prosedur ini hendaklah meliputi penanggung jawab
pembersihan, jadwal, metode, peralatan dan bahan yang
dipakai dalam pembersihan serta metode pembongkaran
dan perakitan kembali peralatan yang mungkin diperlukan
untuk memastikan pembersihan yang benar terlaksana. Jika
perlu, prosedur juga meliputi sterilisasi peralatan,
penghilangan identitas bets sebelumnya serta perlindungan
peralatan yang telah bersih terhadap kontaminasi sebelum
digunakan.
5) Catatan mengenai pelaksanaan pembersihan, sanitasi,
sterilisasi dan pemeriksaan sebelum penggunaan peralatan
hendaklah disimpan secara benar.
6) Disinfektan dan deterjen hendaklah dipantau terhadap
kontaminasi mikroba; enceran disinfektan dan deterjen
hendaklah disimpan dalam wadah yang sebelumnya telah
dibersihkan dan hendaklah disimpan untuk jangka waktu
tertentu kecuali bila disterilkan
4. Pemeliharaan
1) Peralatan hendaklah dipelihara sesuai jadwal untuk
mencegah malfungsi atau kontaminasi yang dapat
memengaruhi identitas, mutu atau kemurnian produk.
2) Kegiatan perbaikan dan pemeliharaan tidak boleh
menimbulkan risiko terhadap mutu produk.

28
3) Bahan pendingin, pelumas dan bahan kimia lain seperti
cairan alat penguji suhu hendaklah dievaluasi dan disetujui
dengan proses formal.
4) Prosedur tertulis untuk pemeliharaan peralatan hendaklah
dibuat dan dipatuhi.
5) Pelaksanaan pemeliharaan dan pemakaian suatu peralatan
utama hendaklah dicatat dalam buku log alat yang
menunjukkan tanggal, waktu, produk, kekuatan dan nomor
setiap bets atau lot yang diolah dengan alat tersebut. Catatan
untuk peralatan yang digunakan khusus untuk satu produk
saja dapat ditulis dalam catatan bets.
6) Peralatan hendaklah diidentifikasi isi dan status
kebersihannya dengan cara yang baik.
7) Buku log untuk peralatan utama dan kritis hendaklah dibuat
untuk pencatatan validasi pembersihan dan pembersihan
yang telah dilakukan
8) Peralatan dan alat bantu hendaklah dibersihkan, disimpan,
dan bila perlu disanitasi dan disterilisasi untuk mencegah
kontaminasi atau sisa bahan dari proses sebelumnya yang
akan memengaruhi mutu produk termasuk produk antara di
luar spesifikasi resmi atau spesifikasi lain yang telah
ditentukan.
9) Bila peralatan digunakan untuk membuat produk secara
kontinu dan secara kampanye pada bets yang berurutan dari
produk dan produk antara yang sama, peralatan hendaklah
dibersihkan dalam tenggat waktu yang sesuai untuk
mencegah penumpukan dan sisa kontaminan (misal: hasil
urai atau tingkat mikroba yang melebihi batas).
10) Peralatan umum (tidak dikhususkan) hendaklah dibersihkan
setelah digunakan memproduksi produk yang berbeda untuk
mencegah kontaminasi-silang. termasuk tanggal dan
personel yang melakukan kegiatan tersebut.

29
2.2.5 Produksi
Kegiatan produksi hendaklah dilaksanakan mengikuti prosedur
yang telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang
menjamin senantiasa menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan
mutu serta memenuhi ketentuan izin pembuatan dan izin edar.
Produksi hendaklah dilakukan dan disupervisi oleh personel
yang kompeten. Seluruh penanganan bahan dan produk jadi, seperti
penerimaan dan karantina, pengambilan sampel, penyimpanan,
penandaan, penimbangan, pengolahan, pengemasan dan distribusi
hendaklah dilakukan sesuai prosedur atau instruksi tertulis dan bila
perlu dicatat. Seluruh bahan diselidiki, dicatat dan dilaporkan kepada
Bagian Pengawasan Mutu. Bahan yang diterima dan produk jadi
hendaklah dikarantina secara fisik atau administratif segera yang
diterima hendaklah diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya
dengan pesanan. Wadah hendaklah dibersihkan di mana perlu dan
diberi penandaan dengan data yang diperlukan. Kerusakan wadah
dan masalah lain yang dapat berdampak merugikan terhadap mutu
bahan hendaklah setelah diterima atau diolah, sampai dinyatakan
lulus untuk pemakaian atau distribusi.
Produk antara dan produk ruahan yang diterima hendaklah
ditangani seperti penerimaan bahan awal. Semua bahan dan produk
jadi hendaklah disimpan pada kondisi seperti yang ditetapkan pabrik
pembuat dan disimpan secara rapi dan teratur untuk memudahkan
segregasi antar bets dan rotasi stok. Pemeriksaan hasil nyata dan
rekonsiliasi jumlah hendaklah dilakukan sedemikian rupa untuk
memastikan tidak ada penyimpangan dari batas yang telah
ditetapkan. Pengolahan produk yang berbeda tidak boleh dilakukan
secara bersamaan atau berurutan dalam ruang kerja yang sama
kecuali tidak ada risiko terjadi kecampurbauran ataupun kontaminasi
silang. Produk dan bahan hendaklah dilindungi terhadap kontaminasi
mikroba atau kontaminasi lain pada tiap tahap pengolahan. Bila
bekerja dengan bahan atau produk kering, hendaklah dilakukan

30
tindakan khusus untuk mencegah debu timbul serta penyebarannya.
Hal ini terutama dilakukan pada penanganan bahan yang sangat
berbahaya, mencakup bahan yang sangat aktif atau menyebabkan
sensitisasi.
Selama pengolahan, semua bahan, wadah produk ruahan,
peralatan atau mesin produksi dan bila perlu ruang kerja yang
dipakai hendaklah diberi label atau penandaan dari produk atau
bahan yang sedang diolah, kekuatan (bila ada) dan nomor bets. Bila
perlu, penandaan ini hendaklah juga menyebutkan tahap proses
produksi. Label pada wadah, alat atau ruangan hendaklah jelas, tidak
berarti ganda dan dengan format yang telah ditetapkan. Label
berwarna sering kali sangat membantu untuk menandakan status
(misal: karantina,diluluskan, ditolak, bersih dan lain-lain).
Pemeriksaan hendaklah dilakukan untuk memastikan pipa penyalur
dan alat lain untuk transfer bahan dan produk dari satu ke tempat lain
telah terhubung dengan benar. Penyimpangan terhadap instruksi atau
prosedur hendaklah sedapat mungkin dihindarkan. Bila terjadi
penyimpangan maka hendaklah ada persetujuan tertulis dari kepala
bagian Manajemen Mutu (PemastianMutu) dan bila perlu melibatkan
bagian Pengawasan Mutu. Akses ke bangunan-fasilitas produksi
hendaklah dibatasi hanya untuk personel yang berwenang.
1. Bahan Awal
Seleksi, kualifikasi, persetujuan dan pemeliharaan
pemasok bahan awal, beserta pembelian dan penerimaannya,
hendaklah didokumentasikan sebagai bagian dari sistem mutu
industri farmasi. Bukti pendukung untuk setiap persetujuan
pemasok/bahan hendaklah disimpan. Personel yang terlibat
dalam kegiatan ini hendaklah memiliki pengetahuan terkini
tentang pemasok, rantai pasokan, dan risiko yang terkait. Jika
memungkinkan, bahan awal hendaklah dibeli langsung dari
pabrik pembuat.

31
Persyaratan mutu bahan awal yang ditetapkan oleh pabrik
pembuat hendaklah didiskusikan dan disepakati bersama
pemasok. Aspek produksi, pengujian dan pengawasan yang
tepat, termasuk persyaratan penanganan, pelabelan, persyaratan
pengemasan dan distribusi, serta prosedur keluhan, penarikan
dan penolakan hendaklah didokumentasikan dalam perjanjian
mutu atau spesifikasi yang resmi.
Semua penerimaan, pengeluaran dan jumlah bahan tersisa
hendaklah dicatat. Catatan hendaklah berisi keterangan
mengenai pasokan, nomor bets/lot, tanggal penerimaan atau
penyerahan, tanggal pelulusan dan tanggal kedaluwarsa bila ada.
Untuk persetujuan dan pemeliharaan pemasok bahan aktif
dan eksipien, diperlukan hal-hal berikut:
1) Bahan Aktif
Ketertelusuran rantai pasokan hendaklah
ditetapkan dan risiko terkait, mulai dari bahan awal untuk
pembuatan bahan aktif hingga produk jadi, hendaklah
dinilai secara resmi dan diverifikasi berkala. Tindakan
yang tepat hendaklah dilakukan untuk mengurangi risiko
terhadap mutu bahan aktif. Catatan rantai pasokan dan
ketertelusuran untuk setiap bahan aktif (termasuk bahan
awal untuk pembuatan bahan aktif) hendaklah tersedia dan
disimpan oleh pabrik pembuat obat.
Audit hendaklah dilakukan terhadap pabrik
pembuat dan distributor bahan aktif untuk memastikan
bahwa mereka memenuhi Pedoman Cara Pembuatan
Bahan Baku Aktif Obat yang Baik dan Cara Distribusi
Obat yang Baik. Pemegang izin pembuatan hendaklah
memverifikasi kepatuhan tersebut baik oleh dirinya sendiri
maupun melalui entitas yang bertindak atas namanya di
bawah suatu kontrak.

32
Audit hendaklah dilakukan dalam durasi waktu dan
ruang lingkup yang tepat untuk memastikan bahwa
penilaian CPOB yang lengkap dan jelas dilakukan;
pertimbangan hendaklah diberikan pada potensi
kontaminasi silang dari bahan lain di lokasi. Laporan
hendaklah sepenuhnya mencerminkan apa yang telah
dilakukan dan diamati saat audit dengan segala
ketidaksesuaian yang diidentifikasi dengan jelas. Tindakan
perbaikan dan pencegahan yang diperlukan hendaklah
dilaksanakan.
Audit lebih lanjut hendaklah dilakukan pada
interval yang ditentukan berdasarkan proses manajemen
risiko mutu untuk memastikan pemeliharaan standar dan
penggunaan berkelanjutan dari rantai pasokan yang
disetujui.
2) Eksipien
Eksipien dan pemasok eksipien hendaklah
dikendalikan secara tepat berdasarkan hasil penilaian
risiko mutu yang resmi. Penilaian risiko mutu dapat
mengacu pada Pedoman PIC/S mengenai pelaksanaan
penilaian risiko untuk pemastian penerapan Cara
Pembuatan yang Baik untuk eksipien produk obat untuk
penggunaan manusia atau pedoman internasional lain
terkait.
Sebelum diluluskan untuk digunakan, tiap bahan
awal hendaklah memenuhi spesifikasi dan diberi label
dengan nama yang dinyatakan dalam spesifikasi.
Singkatan, kode ataupun nama yang tidak resmi dipakai.
Tiap penerimaan atau bets bahan awal hendaklah diberi
nomor rujukan yang akan menunjukkan identitas
penerimaan atau bets selama penyimpanan dan
pengolahan. Nomor tersebut hendaklah jelas tercantum

33
pada label wadah untuk memungkinkan akses ke catatan
lengkap tentang penerimaan atau bets yang akan diperiksa.
Apabila dalam satu penerimaan terdapat lebih dari satu
bets maka untuk tujuan pengambilan sampel, pengujian
dan pelulusan, hendaklah dianggap sebagai bets yang
terpisah. Pada tiap penerimaan bahan awal, hendaklah
dilakukan pemeriksaan keutuhan wadah termasuk
terhadap segel penanda kerusakan dan kesesuaian antara
catatan pengiriman, pesanan pembelian, label pemasok
dan pabrik pembuat yang disetujui serta informasi
pemasok yang dikelola oleh pabrik pembuat produk obat.
Pemeriksaan pada setiap penerimaan hendaklah
didokumentasikan. Sampel bahan awal hendaklah diambil
oleh personel dengan metode yang disetujui oleh kepala
Pengawasan Mutu.
Sampel bahan awal hendaklah di uji pemenuhannya
terhadap spesifikasi.Dalam keadaan tertentu, pemenuhan
sebagian atau keseluruhan terhadap spesifikasi dapat
ditunjukkan dengan sertifikat analisis yang di perkuat
dengan pemastian identitas yang dilakukan sendiri.
Hendaklah diambil langkah yang menjamin bahwa semua
wadah padasuatu penerimaan berisi bahan awal yang
benar, dan melakukan pengamanan terhadap kemungkinan
salah penandaan wadah oleh pemasok. Bahan awal yang
diterima hendaklah dikarantina sampai disetujui dan
diluluskan untuk pemakaian oleh kepala bagian
Pengawasan Mutu.Bahan awal di area penyimpanan
hendaklah diberi label yang tepat.
Label hendaklah memuat keterangan paling sedikit
sebagai berikut:
a. Nama bahan dan bila perlu nomor kode bahan;

34
b. Nomor bets/kontrol yang diberikan pada saat
penerimaan bahan;
c. Status bahan (misal: karantina, sedang diuji, diluluskan,
ditolak); dan
d. Tanggal kedaluwarsa atau tanggal uji ulang bila perlu.
Label yang menunjukkan status bahan awal
hendaklah ditempelkan hanya oleh personel yang ditunjuk
oleh kepala bagian Pengawasan Mutu. Untuk mencegah
kekeliruan, label tersebut hendaklah berbeda dengan label
yang digunakan oleh pemasok (misal dengan
mencantumkan nama atau logo perusahaan). Bila status
bahan mengalami perubahan, maka label penunjuk status
hendaklah juga diubah. Stok bahan awal hendaklah
diperiksa secara berkala untuk meyakinkan bahwa wadah
tertutup rapat dan diberi label dengan benar, dan dalam
kondisi yang baik. Hanya bahan awal yang sudah
diluluskan oleh bagian Pengawasan Mutu dan masih
dalam masa simpan atau tanggal uji ulang yang boleh
digunakan. Uji ulang hendaklah dilakukan mengikuti
spesifikasi awal. Bahan awal, terutama yang dapat rusak
karena terpapar panas, hendaklah disimpan di dalam
ruangan yang suhu udaranya dikondisikan dengan ketat;
bahan yang peka terhadap kelembaban dan/atau cahaya
hendaklah disimpan di bawah kondisi yang dikendalikan
dengan tepat. Penyerahan bahan awal hendaklah
dilakukan hanya oleh personel yang berwenang sesuai
dengan prosedur yang telah disetujui. Catatan stok bahan
hendaklah disimpan dengan baik agar rekonsiliasi stok
dapat dilakukan.
Alasan untuk mengalih dayakan pengujian hendaklah
dijustifikasi dan di dokumentasikan. Persyaratan berikut
hendaklah dipenuhi:

35
a. Perhatian khusus hendaklah diberikan terhadap
pengendalian distribusi (transportasi, kegiatan
penjualan partai besar, penyimpanan dan pengiriman)
untuk memelihara karakteristik mutu bahan awal dan
untuk memastikan bahwa hasil pengujian tetap sesuai
untuk bahan yang dikirim;
b. Pabrik pembuat obat hendaklah melakukan audit, baik
dilakukan sendiri maupun oleh pihak ketiga, pada
interval yang tepat berdasarkan risiko lokasi
pelaksanaan pengujian bahan awal (termasuk
pengambilan sampel) untuk memastikan kepatuhan
terhadap CPOB dan spesifikasi serta metode
pengujian yang tertera pada dokumen registrasi;
c. Sertifikat analisis yang diberikan oleh pabrik
pembuat/pemasok bahan awal hendaklah
ditandatangani oleh orang yang ditunjuk terkualifikasi
dan memiliki pengalaman yang sesuai. Tanda tangan
tersebut memastikan bahwa setiap bets telah diperiksa
pemenuhannya terhadap spesifikasi produk yang
disepakati kecuali jika kepastian ini diberikan secara
terpisah. Tanda tangan elektronik yang tervalidasi
dapat diterima;
d. Pabrik pembuat produk obat hendaklah memiliki
pengalaman yang sesuai dalam menangani pabrik
pembuat bahan awal (termasuk pengalaman dalam
menangani pemasok). Pengalaman yang dimaksud
termasuk penilaian bets yang diterima sebelumnya
dan riwayat kepatuhan sebelum dilakukan
pengurangan pengujian inhouse. Setiap perubahan
signifikan dalam proses pembuatan atau pengujian
hendaklah dipertimbangkan;

36
e. Pabrik pembuat obat hendaklah juga melakukan (atau
melalui laboratorium kontrak yang disetujui) analisis
lengkap pada interval yang tepat berdasarkan risiko
dan membandingkan hasilnya dengan sertifikat
analisis bahan dari pabrik pembuat atau pemasok
untuk memeriksa keandalannya. Bila pada pengujian
ini teridentifikasi ketidaksesuaian hasil analisis,
hendaklah dilakukan investigasi dan diambil tindakan
yang tepat. Keberterimaan seluruh sertifikat analisis
dari pabrik pembuat atau pemasok bahan hendaklah
dihentikan sampai investigasi dan tindakan tersebut
telah dituntaskan.
Penimbangan bahan awal hendaklah dilakukan
oleh personel yang berwenang sesuai prosedur tertulis
untuk memastikan bahan yang benar yang ditimbang
atau diukur dengan akurat ke dalam wadah yang
bersih dan diberi label dengan benar. Setiap bahan
yang ditimbang atau diukur hendaklah diperiksa
secara independen dan hasil pemeriksaan dicatat.
Bahan yang ditimbang atau diukur untuk setiap bets
hendaklah dikumpulkan dan diberi label jelas. Alat
timbang hendaklah diverifikasi tiap hari sebelum
dipakai untuk membuktikan bahwa kapasitas,
ketelitian dan ketepatannya memenuhi persyaratan
sesuai dengan jumlah bahan yang akan ditimbang.
2. Validasi Proses
Studi validasi hendaklah memperkuat pelaksanaan CPOB
dan dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Hasil validasi dan kesimpulannya dicatat sebagai dokumentasi.
Apabila suatu formula pembuatan atau metode preparasi baru
diterapkan, hendaklah diambil langkah untuk membuktikan
prosedur tersebut cocok untuk pelaksanaan produksi yang rutin,

37
dan bahwa proses yang telah ditetapkan dengan menggunakan
bahan dan peralatan yang telah ditentukan, akan senantiasa
menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu.
Perubahan signifikan terhadap proses pembuatan termasuk
perubahan peralatan atau bahan yang dapat memenuhi mutu
produkhendaklah divalidasi. Hendaklah secara kritis dilakukan
revalidasi secara periodik untuk memastikan bahwa proses dan
prosedur tetap mampu mencapai hasil yang diinginkan.
3. Pencegahan Pencemaran Silang
Resiko pencemaran pasti bisa terjadi, bisa didapat dari
pencemaran bahan awal atau produk oleh bahan atau produk lain
dimana pencemaran ini harus dihindarkan. Pencemaran silang ini
diperoleh akibat tidak terkendalinya debu, gas, uap, percikan atau
organisme dari bahan atau produk yang sedang diproses, dari sisa-
sisa bahan yang tertinggal pada alat dan dari pakaian kerja
operator. Tingkat risiko pencemaran ini tergantung dari jenis
pencemar dan produk yang tercemar. Di antara pencemar yang
paling berbahaya adalah bahan yang dapat menimbulkan
sensitisasi kuat, preparat biologis yang mengandung mikroba
hidup, hormon tertentu, bahan sitotoksik, dan bahan lain
berpotensi tinggi. Produk yang paling terpengaruh oleh
pencemaran adalah sediaan parenteral, sediaan yang diberikan
dalam dosis besar dan/atau sediaan yang diberikan dalam jangka
waktu yang panjang. Dalam menghindarkan pencemaran silang
ini, dapat dilakukan :
1) Produksi di dalam gedung terpisah (diperlukan untuk
produk seperti penisilin, hormon seks, sitotoksik tertentu,
vaksin hidup, dan sediaan yang mengandung bakteri hidup
dan produk biologi lain, serta produk darah)
2) Tersedia ruang penyangga udara dan penghisap udara.

38
3) Memperkecil Resiko pencemaran yang disebabkan oleh
udara yang disirkulasi ulang atau masuknya udara yang
tidak diolah atau udara yang diolah secara tidak memadai.
4) Memakai pakaian pelindung yang sesuai di area dimana
produk tersebut beresiko tinggi terhadap pencemaran silang.
5) Melaksanakan prosedur pembersihan dan dekontaminasi
yang terbukti efektif.
6) Menggunakan sistem self-contained.
7) Pengujian residu dan menggunakan label status kebersihan
pada alat.
Tindakan pencegahan terhadap pencemaran silang dan
efektifitasnya hendaklah diperiksa secara berkala sesuai prosedur
yang ditetapkan.
4. Sistem Penomoran Bets/Lot
Sistem penomoran dijabarkan secara rinci dengan tujuan
untuk memastikan bahwa tiap bets/lot produk antara, produk
ruahan atau produk jadi dapat diidentifikasi. Sistem penomoran
bets/lot yang digunakan pada tahap pengolahan dan tahap
pengemasan hendaklah saling berkaitan. Sistem penomoran
hendaklah menjamin bahwa nomor tidak digunakan secara
berulang. Alokasi nomor bets/lot segera dicatat dalam suatu buku
log. Catatan tersebut mencakup tanggal pemberian nomor,
identitas produk dan ukuran bets/lot.
5. Penimbangan dan Penyerahan
Metode penanganan, penimbangan, perhitungan dan
penyerahan bahan awal, bahan pengemas, produk antara, dan
produk ruahan hendaklah tercakup dalam prosedur tertulis. Semua
pengeluaran bahan dan produk di dokumentasikan. Bahan awal,
bahan pengemas, produk antara, dan produk ruahan yang boleh
diserahkan apabila telah diluluskan oleh Pengawasan Mutu.
Untuk menghindarkan terjadinya kecampurbauran, pencemaran
silang, hilangnya identitas, maka bahan dan produk yang terkait

39
dari satu bets/lot saja yang boleh ditempatkan dalam area
penyerahan. Sebelum penimbangan dan penyerahan, tiap wadah
bahan awal diperiksa kebenaran dari penandaannya, termasuk
label pelulusan dari Pengawasan Mutu. Setelah penimbangan,
penyerahan, dan penandaan, bahan dan produk-produk tersebut
diangkut dan disimpan dengan benar sehingga terjamin
keutuhannya sampai pengolahan berikutnya.
6. Pengembalian
Semua bahan awal, bahan pengemas, produk antara, dan
produk ruahan yang dikembalikan ke gudang penyimpanan
hendaklah didokumentasikan dengan benar dan direkonsiliasi.
Semua bahan yang diperlukan untuk proses produksi tidak boleh
dikembalikan ke gudang, kecuali bila tidak memenuhi spesifikasi
yang ditetapkan.
7. Operasi Pengolahan Produk Antara dan Produk Ruahan
Semua bahan dan peralatan yang akan digunakan harus
diperiksa terlebih dahulu sebelum digunakan. Peralatan
hendaknya dinyatakan bersih secara tertulis sebelum digunakan.
Kondisi daerah pengolahan dipantau dan dikendalikan. Semua
kegiatan pengolahan harus mengikuti prosedur tertulis yang telah
ditentukan dan penyimpangan yang terjadi wajib di pertanggung
jawabkan dan dilaporkan. Wadah dan penutup untuk bahan dan
produk harus selalu bersih dan terbuat dari bahan yang tepat.
Semua wadah dan peralatan yang berisi bahan dan produk harus
diberi label yang tepat. Semua produk diberi label yang tepat yang
menunjukkan tahap pengolahan. Seluruh pengawasan dalam
proses harus dicatat dengan akurat. Hasil sesungguhnya dari tahap
pengolahan, harus dicatat dan disesuaikan dengan hasil teoritis.
8. Bahan dan Produk Kering
Masalah debu dan pencemaran silang adalah masalah yang
terjadi saat proses produksi terjadi. Sistem penghisap udara yang
efektif hendaklah dipasang dengan letak lubang pembuangan

40
sedemikian rupa untuk menghindarkan pencemaran dari produk
atau proses lain. Sistem penyaringan udara yang efektif atau
sistem lain yang sesuai hendaklah dipasang untuk menyaring
debu. Pemakaian alat penghisap debu pada pembuatan tablet dan
kapsul sangat dianjurkan.
9. Pencampuran dan Granulasi
Mesin pencampur, pengayak dan pengaduk dilengkapi
dengan sistem pengendalian debu. Parameter operasional yang
kritis, seperti waktu, suhu, kecepatan untuk tiap proses produksi,
harus tercantum dalam Dokumen Produksi Induk. Untuk bahan
yang berisiko tinggi atau yang dapat menimbulkan senstivitas
tinggi, digunakan kantong filter khusus bagi masing-masing
produk. Pada pembuatan dan penggunaan larutan atau suspensi
dicegah terjadinya pencemaran atau pertumbuhan mikroba.
10. Pencetakan Tablet
Mesin pencetak tablet dilengkapi dengan fasilitas
pengendali debu yang memadai, dilakukan pengendalian secara
fisik, prosedural dan penandaan untuk menghindari campur aduk
antar produk. Untuk pemantauan bobot tablet selama proses,
diperlukan alat timbang yang telah ditara. Tablet yang diambil
untuk diuji tidak boleh dikembalikan dan tablet yang ditolak atau
disingkirkan harus ditempatkan dalam wadah yang ditandai
dengan jelas serta dicatat pada Catatan Pengolahan Bets. Sebelum
digunakan, Punch and Dyes alat cetak harus diperiksa keausan
dan kesesuaiannya terhadap spesifikasi.
11. Penyalutan
Udara yang dialirkan ke dalam panci penyalut untuk
pengeringan, harus disaring sehingga memiliki mutu yang tepat.
Larutan penyalut digunakan dengan cara yang tepat untuk
mengurangi Resiko pertumbuhan mikroba.

41
12. Pengisian Kapsul Keras
Kapsul kosong/cangkang kapsul diperlakukan sebagai
bahan awal dan disimpan dalam kondisi yang baik dimana dapat
mencegah kekeringan dan kerapuhan atau efek lain yang
disebabkan oleh kelembaban.
13. Penandaan Tablet Salut dan Kapsul
Campur baur selama proses penandaan tablet salut dan
kapsul, proses pemeriksaan, penyortiran, dan pemolesan kapsul
dan tablet salut harus dihindari. Tinta yang digunakan untuk
penandaan harus tinta yang memenuhi persyaratan untuk bahan
makanan.
14. Produk Cair, Krim dan Salep
Produk cair, krim, dan salep mudah terkontaminasi,
sehingga prosesnya harus terlindung dari pencemaran. Untuk
melindungi produk dari kontaminasi disarankan memakai sistem
tertutup untuk pengolahan dan transfer dimana area produksi
diberi ventilasi yang efktif dengan udara yang disaring. Peralatan
yang digunakan dirancang dan dipasang secara tepat sehingga
mudah untuk melakukan pembersihan serta peralatan dari kaca
dihindarkan. Kualitas kimiawi dan mikrobiologi air harus
dipantau. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap proses
pencampuran dan proses akhir pengisian untuk memastikan
kualitas produk. Jika produk ruahan tidak segera dikemas maka
waktu paling lama produk boleh disimpan dan kondisi penyimpan
produk harus ditetapkan dan dipatuhi.
15. Bahan Pengemas
Pengadaan, penanganan dan pengawasan terhadap bahan
pengemas primer dan bahan pengemas cetak serta bahan cetak
lain perlu tindakan yang sama seperti pada bahan awal. Bahan
cetak disimpan dan diawasi dengan ketat, label lepas dan bahan
cetak lepas lain disimpan dan diangkut dalam wadah tertutup
untuk menghindarkan ketercampuran, serta bahan pengemas

42
diserahkan pada personel yang berwenang. Setiap penerimaan
bahan pengemas primer diberi nomor spesifik sebagai identitas.
Bahan-bahan pengemas yang tidak berlaku dimusnahkan dan
didokumentasikan.
16. Kegiatan Pengemasan
Proses pengisian dan penutupan langsung diberi label agar
terhindar dari kecampurbauran. Kegiatan pengemasan untuk
membagi dan mengemas produk ruahan menjadi produk jadi dan
dilaksanakan dibawah pengendalian yang ketat. Sebelum kegiatan
pengemasan, dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa
area kerja dan peralatan telah bersih. Semua penerimaan produk
ruahan, bahan pengemas dan bahan cetak lain diperiksa dan
diverifikasi kebenarannya terhadap Prosedur Pengemasan Induk.
Label, karton dan bahan pengemas serta bahan cetak lain
memerlukan prakodifikasi dengan nomor bets/lot, tanggal
kadaluarsa, dan informasi lainnya. Proses prakodifikasi bahan
pengemas dan bahan cetak lain dilakukan di area yang terpisah
dari kegiatan pengemasan lain serta dilakukan pemeriksaan
sebelum ditransfer ke area pengemasan.
Pemeriksaan kesiapan jalur segera sebelum menempatkan
bahan pengemas dan bahan cetak lain oleh personel dari bagian
pengemasan dilakukan untuk memastikan bahwa semua bahan
dan produk yang sudah dikemas dari kegiatan pengemasan
sebelumnya telah disingkirkan dari jalur pengemasan dan area
sekitarnya, memeriksa kebersihan jalur dan area sekitarnya, dan
memastikan kebersihan peralatan yang akan dipakai.
Wadah yang dipakai untuk menyimpan produk ruahan,
produk yang baru sebagian dikemas diberi label atau penandaan.
Wadah yang akan diisi hendaknya diserahkan pada jalur atau
tempat pengemasan yang bersih. Area pengemasan dibersihkan
secara teratur.Resiko kesalahan yang terjadi dalam pengemasan
dapat diperkecil dengan cara:

43
1) Menggunakan label
2) Pemberian penandaan bets pada jalur pemasangan label
3) Menggunakan alat pemindai dan penghitung label elektronis
4) Desain label dan bahan cetak lain sedemikian rupa
5) Pemeriksaan secara independen oleh Pengawasan
Mutuselama dan pada akhir proses pengemasan
Pengawasan pada jalur pengemasan selama proses
pengawasan meliputi:
1) Tampilan kemasan secara umum
2) Kelengkapan kemasan
3) Kebenaran produk dan bahan pengemas yang dipakai
4) Kebenaran prakodifikasi
5) Monitoring pada jalur pengemasan yang berfungsi dengan
benar
Pada tahap penyelesaian pengemasan, dilakukan
pemeriksaan secara cermat agar sesuai dengan Prosedur
Pengemasan Induk. Hanya produk yang berasal dari satu bets dari
satu kegiatan pengemasan saja yang boleh ditempatkan pada satu
palet.
17. Pengawasan Selama Proses (In Process Control)
Dalam rangka memastikan keseragaman bets dan keutuhan
obat, prosedur tertulis yang menjelaskan pengambilan sampel,
pengujian atau pemeriksaan yang harus dilakukan selama
prosesdari tiap bets produk harus dilaksanakan sesuai dengan
metode yang telah disetujui oleh Kepala Bagian Manajemen
Mutu. Selama proses pengolahan dan pengemasan, diambil
sampel pada awal, pertengahan, dan akhir proses serta hasil
pengujiannya dicatat dan menjadi bagian dari catatan bets.
Spesifikasi pengawasan selama proses hendaknya konsisten
dengan spesifikasi produk, yang asalnya dari hasil rata-rata proses
sebelumnya yang diterima dan bila mungkin dari hasil estimasi

44
variasi proses dan ditentukan dengan metode statistik yang sesuai
bila ada.
1) Bahan dan Produk yang Ditolak, Dipulihkan, dan
Dikembalikan
Bahan dan produk yang ditolak diberi penandaan jelas
dan disimpan terpisah di area terlarang (Restricted Area).
Bahan dan produk yang ditolak tersebut bisa dimusnahkan,
dikembalikan ke pemasok atau diolah ulang berdasarkan
keputusan Pengawasan Mutu.
2) Karantina dan Penyerahan Produk Jadi
Karantina produk jadi merupakan tahap akhir
pengendalian sebelum penyerahan ke gudang dan siap
untuk didistribusikan. Prosedur tertulis hendaklah
mencantumkan cara penyerahan produk jadi ke area
karantina, cara penyimpanan sambil menunggu pelulusan,
persyaratan yang diperlukan untuk mempermudah
pelulusan, dan cara pemindahan selanjutnya ke gudang
produk jadi. Area karantina merupakan area terbatas hanya
bagi personel yang diperlukan dan memiliki wewenang
pada area tersebut. Pelulusan akhir harus memenuhi sebagai
berikut:
a. Produk memenuhi persyaratan mutu dalam semua
spesifikasi pengolahan dan pengemasan.
b. Sampel pertinggal dari kemasan yang dipasarkan dalam
jumlah yang mencukupi untuk pengujian di masa akan
datang.
c. Rekonsiliasi bahan pengemas cetak dan bahan cetak
dapat diterima.
d. Pengemasan dan penandaan memenuhi semua
persyaratan sesuai hasil pemeriksaan oleh Pengawasan
Mutu.

45
e. Produk jadi yang diterima di area karantina sesuai
dengan jumlah yang tertera pada dokumen penyerahan
barang.
Setelah pelulusan suatu bets/lot maka produk tersebut
dipindahkan dari area karantina ke gudang produk jadi.
Sewaktu menerima produk jadi maka dilakukan pencatatan
pemasukan bets.
1) Penyimpanan Bahan Awal, Bahan Pengemas, Produk
Antara, Produk Ruahan dan Produk Jadi Bahan
dan produk hendaklah tidak diletakkan langsung di
lantai dan dengan jarak yang cukup terhadap
sekelilingnya, serta hendaklah disimpan dengan kondisi
lingkungan yang sesuai. Tiap bets bahan awal, bahan
pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk
jadi yang disimpan di area gudang hendaklah
mempunyai kartu stok, yang secara periodik
direkonsiliasi.
a. Penyimpanan bahan awal dan bahan pengemas.
Pemisahan secara fisik atau cara lain yang
tervalidasi (misalnya cara elektronik) hendaklah
disediakan untuk penyimpanan bahan atau produk
yang ditolak, kadaluarsa, ditarik dari peredaran
atau obat atau bahan kembalian. Semua bahan awal
dan bahan pengemas yang diserahkan ke area
penyimpanan hendaklah diperiksa kebenaran
identitas, kondisi wadah dan tanda pelulusan oleh
bagian Pengawasan Mutu. Stok tertua bahan awal
dan bahan pengemas dan yang mempunyai tanggal
kadaluarsa paling dekat hendaklah digunakan
terlebih dahulu sesuai dengan prinsip FIFO (First
In First Out) dan FEFO (First Expired FirstOut).

46
b. Penyimpanan produk antara, produk ruahan, dan
produk jadi.
Produk antara, produk ruahan, dan produk jadi
hendaklah dikarantina selama menunggu hasil uji
mutu dan penentuan status. Penyimpanan
hendaklah dilakukan dalam ruangan atau tempat
yang suhunya diatur. CPOB mempersyaratkan
klasifikasi ruangan berdasarkan suhu menjadi 5
jenis, yaitu:
Suhu ruangan : 16-30°C
Suhu ruangan yang dikendalikan : ≤ 25°C
Sejuk : 8-15°C
Dingin : 2-8°C
Beku : < 0°C
2) Catatan Pengendalian Pengiriman
Prosedur tertulis mengenai distribusi obat
hendaklah dibuat dan dipatuhi. Sistem distribusi
hendaknya menghasilkan catatan sehingga tiap bets/lot
obat dapat segera diketahui untuk mempermudah
penyelidikan atau penarikan jika diperlukan.
2.2.6 Cara Penyimpanan Dan Pengiriman Obat Yang Baik
Penyimpanan dan pengiriman adalah bagian yang penting
dalam kegiatan dan manajemen rantai pemasokan obat yang
terintegrasi. Dokumen ini menetapkan langkah-langkah yang tepat
untuk membantu pemenuhan tanggung jawab bagi semua yang
terlibat dalam kegiatan pengiriman dan penyimpanan produk.
Dokumen ini memberikan pedoman bagi penyimpanan dan
pengiriman produk jadi dari Industri Farmasi ke distributor. Aneks
ini harus mengacu kepada Bab – bab terkait di dalam Pedoman
CPOB
Jika gudang industri farmasi bertindak juga sebagai pusat
distribusi produk ke fasilitas distribusi, fasilitas pelayanan

47
kefarmasian dan fasilitas pelayanan kesehatan, hendaklah industri
farmasi juga menerapkan dan memenuhi pedoman Cara Distribusi
Obat yang Baik (CDOB).
Mutu obat dapat dipengaruhi oleh kekurangan pengendalian
yang diperlukan terhadap kegiatan selama proses penyimpanan dan
pengiriman. Lebih lanjut, belum ditekankan keperluan akan
pembuatan, pengembangan dan pemeliharaan prosedur
penyimpanan dan pengiriman obat, serta pengendalian kegiatan
proses distribusi. Tujuan pedoman ini adalah untuk membantu
dalam menjamin mutu dan integritas obat selama proses
penyimpanan dan pengiriman obat.Untuk menjaga mutu awal obat,
semua kegiatan dalam penyimpanan dan pengirimannya hendaklah
dilaksanakan sesuai prinsip CPOB dan CDOB.
1 Personalia
1) Semua personel yang terlibat dalam kegiatan penyimpanan
dan pengiriman hendaklah dilatih dalam semua persyaratan
dalam Aneks ini dan hendaklah mampu memenuhi
persyaratan tersebut.
2) Personel kunci yang terlibat dalam penyimpanan dan
pengiriman obat hendaklah memiliki kemampuan dan
pengalaman yang sesuai dengan tanggung jawab mereka
untuk memastikan bahwa obat disimpan dan dikirimkan
dengan tepat.
3) Prosedur dan kondisi kerja bagi karyawan, termasuk
karyawan kontrak dan karyawan temporer, serta personel
lain yang mempunyai akses pada obat harus dirancang dan
dijaga untuk membantu meminimalkan kemungkinan produk
jatuh ke pihak yang berwenang.
4) Kode praktik dan prosedur disiplin hendaklah diterapkan
untuk mencegah dan menangani situasi di mana personel
yang terlibat dalam penyimpanan dan pengiriman obat

48
diduga atau terbukti terlibat didalam penyalahgunaan
dan/atau pencurian.
1. Organisasi dan manajemen
1) Bagian gudang hendaklah termasuk dalam struktur
organisasi industri farmasi. Tanggung jawab, kewenangan
dan hubungan timbal-balik semua personel hendaklah
ditunjukkan dengan jelas.
2) Tiap personel tidak boleh dibebani tanggung jawab yang
berlebihan untuk menghindarkan risiko terhadap mutu
produk.
3) Hendaklah tersedia aturan untuk memastikan bahwa
manajemen dan personel tidak mempunyai konflik
kepentingan dalam aspek komersial, politik, keuangan dan
tekanan lain yang dapat memengaruhi mutu pelayanan
yang diberikan.
4) Tanggung jawab dan kewenangan tiap personel hendaklah
didefinisikan secara jelas dalam uraian tugas tertulis dan
dipahami oleh personel terkait.
5) Hendaklah tersedia prosedur keselamatan yang berkaitan
dengan semua aspek yang relevan, misal, keamanan
personel dan sarana, perlindungan lingkungan dan
integritas produk.
2. Manajemen mutu
1) Jika dilakukan transaksi secara elektronis, hendaklah
tersedia sistem yang memadai dan prosedur yang jelas
untuk menjamin ketertelusuran dan kepastian mutu obat.
2) Hendaklah tersedia prosedur pelulusan obat yang
disetujui untuk memastikan bahwa obat dijual dan
didistribusikan hanya kepada distributor dan/atau sarana
yang berwenang.
3) Hendaklah dibuat prosedur dan catatan tertulis untuk
memastikan ketertelusuran distribusi produk.

49
4) Prosedur tetap harus tersedia untuk semua pekerjaan
administratif dan teknis yang dilakukan
3. Bangunan-fasilitas penyimpanan
1) Area Penyimpanan
a. Obat hendaklah ditangani dan disimpan dengan cara
yang sesuai untuk mencegah kontaminasi,
kecampurbauran dan kontaminasi silang.
b. Area penyimpanan hendaklah diberikan pencahayaan
yang memadai sehingga semua kegiatan dapat
dilakukan secara akurat dan aman.
2) Rotasi dan Pengendalian Stok
a. Hendaklah dilakukan rekonsiliasi stok secara berkala
dengan membandingkan jumlah persediaan (stok)
sebenarnya dengan yang tercatat.
b. Semua perbedaan stok yang signifikan hendaklah
diinvestigasi untuk memastikan bahwa tidak ada
kecampur-bauran karena kelalaian, kesalahan
pengeluaran dan/atau penyalahgunaan obat.
4. Penerimaan
1) Hendaklah dilakukan pemeriksaan jumlah produk pada saat
penerimaan untuk memastikan jumlah yang diterima sesuai
dengan jumlah yang tercantum dalam catatan penyerahan
dari produksi.
2) Obat yang membutuhkan penyimpanan khusus (misal:
narkotik, psikotropik, prekursor dan produk dengan suhu
penyimpanan tertentu) hendaklah segera diidentifikasi dan
segera ditempatkan sesuai prosedur tertulis
5. Kondisi penyimpanan dan transportasi
1) Pemantauan Kondisi Penyimpanan dan Transportasi
a. Industri farmasi hendaklah menginformasikan semua
kondisi penyimpanan dan pengangkutan yang sesuai
kepada pihak yang bertanggung jawab atas transportasi

50
obat. Perusahaan yang mengangkut harus menjamin
kepatuhan terhadap ketentuan ini.
b. Obat hendaklah disimpan dan diangkut dengan
memenuhi prosedur sedemikian hingga kondisi suhu dan
kelembaban relatif yang tepat dipertahankan, misal
menggunakan cold chain untuk produk yang tidak tahan
panas. Penyimpanan dan pengangkutan produk yang
tidak tahan panas dapat mengacu pada dokumen WHO
Model Guidance for the Storage and Transport of Time
and Temperature–Sensitive Pharmaceutical Products
atau pedoman internasional lain yang setara.
2) Kendaraan dan Perlengkapan
a. Kendaraan dan perlengkapan yang digunakan untuk
mengangkut, menyimpan atau menangani obat
hendaklah sesuai dengan penggunaannya dan
diperlengkapi dengan tepat untuk mencegah pemaparan
produk terhadap kondisi yang dapat memengaruhi
stabilitas produk dan keutuhan kemasan, serta mencegah
semua jenis kontaminasi.
b. Rancangan dan penggunaan kendaraan dan perlengkapan
harus bertujuan untuk meminimalkan risiko kesalahan
dan memungkinkan pembersihan dan/atau pemeliharaan
yang efektif untuk menghindarkan kontaminasi,
penumpukan debu atau kotoran dan/atau efek merugikan
terhadap obat yang didistribusikan.
c. Alat untuk memantau kondisi di dalam kendaraan dan
wadah pengiriman, misal suhu dan kelembaban,
hendaklah dikalibrasi.
d. Kendaraan dan wadah pengiriman hendaklah mempunyai
kapasitas yang memadai untuk penempatan secara teratur
berbagai kategori obat selama transportasi.

51
e. Hendaklah tersedia tindakan pengamanan untuk
mencegah pihak yang tidak berwenang masuk dan/atau
merusak kendaraan dan/atau perlengkapan, serta
mencegah pencurian atau penggelapan.
3) Wadah Pengiriman dan Pelabelan
a. Seluruh obat hendaklah disimpan dan dikirimkan dalam
wadah pengiriman yang tidak mengakibatkan efek
merugikan terhadap mutu produk, dan memberikan
perlindungan yang memadai terhadap pengaruh
eksternal, termasuk kontaminasi.
b. Label wadah pengiriman tidak perlu mencantumkan
deskripsi lengkap mengenai identitas isinya (untuk
menghalangi pencurian), namunhendaklah tetap
mencantumkan informasi yang memadai mengenai
kondisi penanganan dan penyimpanan serta tindakan
yang diperlukan untuk menjamin penanganan yang tepat.
c. Jika pengiriman obat di luar pengendalian sistem
manajemen industri farmasi, hendaklah diberi label yang
mencantumkan nama dan alamat industri farmasi,
kondisi transportasi khusus dan ketentuan lain yang
dipersyaratkan termasuk simbol-simbol keamanan. Lihat
ketentuan CDOB.
d. Hendaklah tersedia prosedur tertulis untuk penanganan
wadah pengiriman yang rusak dan/atau pecah. Perhatian
khusus hendaklah diberikan terhadap wadah
penyimpanan yang berisi produk yang mempunyai
potensi bahaya.
4) Pengiriman
a. Pengiriman dan transportasi obat hendaklah dimulai
hanya setelah menerima pesanan resmi atau rencana
penggantian produk yang resmi dan didokumentasikan.

52
b. Hendaklah dibuat catatan pengiriman obat dan minimal
meliputi informasi
c. Catatan pengiriman hendaklah berisi informasi yang
cukup untuk menjamin ketertelusuran dan
mempermudah penarikan obat jika diperlukan
d. Cara transportasi, termasuk kendaraan yang digunakan,
hendaklah dipilih dengan hati-hati, dengan
mempertimbangkan semua kondisi, termasuk iklim dan
variasi cuaca.
e. Hendaklah dilakukan validasi pengiriman untuk
membuktikan bahwa seluruh kondisi penyimpanan
terpenuhi pada seluruh rantai distribusi.
f. Obat tidak boleh dipasok setelah tanggal kedaluwarsa,
atau mendekati tanggal kedaluwarsa.
g. Transportasi dan produk transit, apabila gudang industri
farmasi bertindak juga sebagai pusat pengiriman kepada
pelanggan, maka industri farmasi hendaklah juga
memenuhi ketentuan CDOB.
6. Keluhan
Semua keluhan dan informasi lain tentang kemungkinan
kerusakan dan kemungkinan pemalsuan obat hendaklah dikaji
dengan seksama sesuai dengan prosedur tertulis mengenai
tindakan yang perlu dilakukan, termasuk tindakan penarikan
obat jika diperlukan.
7. kegiatan kontrak
1) Tiap kegiatan yang terkait dengan penyimpanan dan
pengiriman obat yang didelegasikan kepada orang atau
sarana lain hendaklah dilaksanakan sesuai kontrak tertulis
yang disetujui oleh pemberi dan penerima kontrak
tersebut.

53
2) Kontrak tersebut hendaklah menegaskan tanggung jawab
masing-masing pihak, termasuk ketaatan terhadap prinsip-
prinsip CDOB.
3) Tiap penerima kontrak hendaklah memenuhi ketentuan
yang tercantum dalam Pedoman CDOB tersebut tersebut.
4) Dalam kondisi tertentu, subkontrak diperbolehkan jika ada
persetujuan tertulis dari pemberi kontrak.
5) Penerima kontrak hendaklah diaudit secara berkala.
2.2.7 Pengawasan Mutu
Pengawasan Mutu merupakan bagian yang esensial dari
cara pembuatan obatyang baik, untuk memberikan kepastian
bahwa produk secara konsisten mempunyai mutu yang sesuai
dengan tujuan pemakaiannya. Pengawasan Mutu mencakup
pengambilan sampel, spesifikasi, pengujian serta termasuk
pengaturan, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan
bahwa semua pengujian yang relevan telah dilakukan, dan bahan
tidak diluluskan untuk dipakai atau produk diluluskan untuk dijual,
sampai mutunya telah dibuktikan memenuhi persyaratan.
Tiap pemegang izin poduksi harus mempunyai bagian
pengawasan mutu. Bagian ini harus terpisah dari bagian lain serta
berada di bawah tanggung jawab dan wewenang personil yang
memiliki kualifikasi dan pengalaman yang sesuai. Selain itu,
sarana yang memadai haruslah tersedia untuk memastikan bahwa
segala kegiatan pengawasan mutu dilaksanakan dengan efektif.
Pengawasan Mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analisa
yang dilakukan di laboratorium, termasuk pengambilan sampel
serta pemeriksaan dan pengujian bahan awal, produk antara,
produk ruahan, dan produk jadi
Kegiatan pengambilan sampel hendaklah dilaksanakan dan
dicatat sesuai dengan prosedur tertulis yang telah disetujui yang
menguraikan:
1. Metode pengambilan sampel;

54
2. Peralatan yang digunakan;
3. Jumlah sampel yang harus diambil;
4. Instruksi untuk semua pembagian sampel yang diperlukan;
5. Tipe dan kondisi wadah sampel yang digunakan
6. Penandaan wadah yang disampling;
7. Semua tindakan khusus yang harus diperhatikan, terutama yang
8. Berkaitan dengan pengambilan sampel bahan steril atau
berbahaya;
9. Kondisi penyimpanan; dan
10. Prosedur pembersihan dan penyimpanan alat pengambil sampel.
Sampel hendaklah mewakili bets bahan atau produk yang
sampelnya diambil. Sampel lain dapat diambil untuk memantau
bagian proses berkondisi terkritis (misal, awal atau akhir suatu
proses). Rencana pengambilan sampel hendaklah dijustifikasi
dengan benar dan berdasarkan pendekatan manajemen risiko.
Protokol untuk program stabilitas pasca pemasaran dapat berbeda
dari protokol untuk studi stabilitas jangka panjang awal yang
diajukan dalam dokumen Izin Edar, apabila hal ini dijustifikasi dan
didokumentasi dalam protokol (misal, frekuensi pengujian).
Prinsip desain bracketing dan matrixing dapat diterapkan jika
dijustifikasi dalam protokol secara ilmiah. Dalam situasi tertentu,
bets-bets tambahan hendaklah dicakup dalam program stabilitas
pascapemasaran. Misal, suatu studi stabilitas pasca pemasaran
hendaklah dilaksanakan pada tiap perubahan yang signifikan atau
penyimpangan yang signifikan terhadap proses atau kemasan. Semua
bets hasil kegiatan pengerjaan ulang, pengolahan ulangatau
pemulihan hendaklah juga dipertimbangkan untuk dicakup. Hasil
studi stabilitas pascapemasaran hendaklah dapat diakses oleh
personel kunci dan, terutama, personel yang berwenang. Apabila
studi stabilitas on-going diselenggarakan pada lokasi di luar lokasi
pembuatan produk ruahan atau produk akhir, hendaklah tersedia
persetujuan tertulis antara kedua pihak.

55
Hasil studi stabilitas on-going hendaklah tersedia di Lokasi
pembuatan untuk diperiksa oleh Badan POM. HULS atau tren
atipikal yang signifikan hendaklah diselidiki. Semua hasil HULS
yang dikonfirmasi, atau tren negatif yang signifikan, bets produk
yang terpengaruh di pasaran hendaklah dilaporkan kepada Badan
POM. Dampak yang mungkin ada terhadap bets yang telah berada di
pasaran hendaklah dipertimbangkan sesuai Bab 9 Keluhan dan
Penarikan Produk, dan dikonsultasikan dengan Badan POM.

2.2.8 Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Audit & Persetujuan Pemasok
Tujuan Inspeksi Diri adalah untuk mengevaluasi apakah seluruh
aspek produksi dan pengendalian mutu selalu memenuhi standar
CPOB. Inspeksi Diri dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam
pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan yang
diperlukan. Pelaksanaannya harus mempunyai penilaian yang obyektif
dalam CPOB
1. Audit Mutu
Penyelenggaraan Audit Mutu berguna sebagai pelengkap
Inspeksi Diri. Audit Mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian
semua atau sebagian dari sistem manajemen mutu dengan tujuan
spesifik untuk meningkatkan mutu. Audit Mutu umumnya
dilaksanakan oleh spesialis dari luar atau independen atau tim
yangdibentuk khusus untuk hal ini oleh manajemen perusahaan.
Audit Mutu juga dapat diperluas terhadap pemasok dan penerima
kontrak.
2. Audit dan Persetujuan Pemasok
Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu)
bertanggung jawab bersama bagian lain yang terkait untuk
memberi persetujuan pemasok yang dapat diandalkan memasok
bahan awal dan bahan pengemas yang memenuhi spesifikasi yang
telah ditentukan. Dibuat daftar pemasok yang disetujui untuk
bahan awal dan bahan pengemas, daftar pemasok ditinjau ulang
secara berkala. Dan evaluasi dilakukan sebelum pemasok

56
disetujui dan dimasukkan kedalam daftar pemasok atau
spesifikasi. Evaluasi hendaklah mempertimbangkan riwayat
pemasok dan sifat bahan yang dipasok. Jika Audit diperlukan,
Audit tersebut hendaklah menetapkan kemampuan pemasok
dalam pemenuhan standar CPOB. Semua pemasok sebaiknya
dievaluasi secara teratur.

2.2.9 Keluhan dan Penarikan Produk


Untuk melindungi kesehatan masyarakat, suatu sistem dan
prosedur yang sesuai hendaklah tersedia untuk mencatat, menilai,
menginvestigasi dan meninjau keluhan termasuk potensi cacat mutu
dan, jika perlu, segera melakukan penarikan obat termasuk obat uji
klinik dari jalur distribusi secara efektif. Prinsip-prinsip Manajemen
Risiko Mutu hendaklah diterapkan pada investigasi, penilaian cacat
mutu dan proses pengambilan keputusan terkait dengant tindakan
penarikan produk, tindakan perbaikan dan pencegahan serta tindakan
pengurangan-risiko lain. Panduan yang berhubungan dengan prinsip-
prinsip ini dicantumkan dalam Bab 1 Sistem Mutu Industri Farmasi.
1. Personel dan Pengelolaan
Personel yang terlatih dan berpengalaman hendaklah
bertanggung jawab untuk mengelola investigasi keluhan dan cacat
mutu serta memutuskan langkah-langkah yang harus diambil untuk
mengelola setiap potensi resiko yang muncul akibat masalah
tersebut, termasuk penarikan. Personel tersebut hendaklah
independen dari bagian penjualan dan pemasaran, kecuali jika ada
justifikasi. Apabila personel tersebut bukan kepala bagian
Manajemen Mutu (Pemastian Mutu), hendaklah kepala bagian
ManajemenMutu (Pemastian Mutu) segera diberitahukan secara
formal setiap investigasi, setiap tindakan pengurangan - risiko dan
setiap pelaksanaan penarikan obat. Personel terlatih dan sumber
daya yang memadai hendaklah tersedia untuk penanganan,
penilaian, investigasi, peninjauan keluhan dan cacatmutu serta
penerapan tindakan pengurangan-risiko. Personel terlatih

57
dansumber daya yang memadai juga hendaklah tersedia untuk
berkomunikasi dengan otoritas pengawas obat.
2. Prosedur penanganan dan investigasi keluhan termasuk cacat mutu
yang mungkin terjadi
Hendaklah tersedia prosedur tertulis yang merinci tindakan
yang diambil setelah menerima keluhan. Semua keluhan hendaklah
didokumentasikan dan dinilai untuk menetapkan apakah terjadi
cacat mutu atau masalah lain. Perhatian khusus hendaklah
diberikan untuk menetapkan apakah keluhan atau cacat mutu yang
dicurigai berkaitan dengan pemalsuan.
Karena tidak semua keluhan yang diterima diakibatkan oleh
cacat mutu, keluhan yang tidak menunjukkan potensi cacat mutu
hendaklah didokumentasikan dengan tepat dan dikomunikasikan
kepada bagian atau personel yang relevan yang bertanggung jawab
atas investigasi dan pengelolaan keluhan terkait, misal dugaan efek
samping. Hendaklah tersedia prosedur untuk memfasilitasi
permintaan investigasi mutu dari suatu bets obat dalam rangka
investigasi dugaan efek samping yang dilaporkan.
Ketika investigasi cacat mutu dimulai, hendaklah tersedia
prosedur yang setidaknya mencakup hal-hal berikut:
1) Deskripsi cacat mutu yang dilaporkan.
2) Penentuan luas dari cacat mutu. Hendaklah dilakukan
pemeriksaan atau pengujian sampel pembanding dan/atau
sampel pertinggal, dan dalam kasus tertentu, peninjauan catatan
produksi bets, catatan sertifikasi bets dan catatan distribusi bets
(khususnya untuk produk yang tidak tahan panas) hendaklah
dilakukan.
3) Kebutuhan untuk meminta sampel atau produk cacat yang
dikembalikan dan bila sampel telah tersedia, kebutuhan untuk
melakukan evaluasi yang memadai.
4) Penilaian risiko yang ditimbulkan oleh cacat mutu, berdasarkan
tingkat keparahan dan luas dari cacat mutu.

58
5) Proses pengambilan keputusan yang akan digunakan terkait
dengan kemungkinan kebutuhan tindakan pengurangan-risiko
dalam jaringan distribusi, seperti penarikan bets/produk atau
tindakan lain.
6) Penilaian dampak dari tindakan penarikan obat terhadap
ketersediaannya di peredaran bagi pasien, dan kebutuhan untuk
melaporkan dampak penarikan obat kepada otoritas terkait.
7) Komunikasi internal dan eksternal yang perlu dilakukan
sehubungandengan cacat mutu dan investigasi.
8) Identifikasi potensi akar masalah dari cacat mutu.
9) Kebutuhan untuk melakukan identifikasi dan
mengimplementasikan Tindakan Korektif dan Pencegahan yang
tepat, dan penilaian terhadap efektivitasnya.
3. Investigasi dan Pengambilan Keputusan
Informasi yang dilaporkan terkait kemungkinan cacat mutu
hendaklah dicatat, termasuk semua data yang asli dan rinci.
Keabsahan dan luas dari cacat mutu yang dilaporkan hendaklah
didokumentasikan dan dinilai sesuai dengan prinsip Manajemen
Risiko Mutu untuk mendukung keputusan tingkat investigasi dan
tindakan yang diambil. Jika ditemukan atau dicurigai cacat mutu
pada suatu bets, maka hendaklah dipertimbangkan untuk
memeriksa bets atau mungkin produk lain untuk memastikan
apakah bets lain atau produk lain tersebut juga terkena dampak.
Terutama hendaklah diinvestigasi apabila bets lain mengandung
bagian atau komponen yang cacat.
4. Analisis akar masalah dan tindakan perbaikan dan pencegahan
Tingkat analisis akar masalah yang tepat hendaklah
diterapkan selama investigasi cacat mutu. Apabila akar masalah
cacat mutu yang sebenarnya tidak dapat ditentukan, pertimbangan
hendaklah diberikan untuk mengidentifikasi akar masalah yang
paling mungkin dan tindakan untuk mengatasinya. Bila faktor
kesalahan personel dicurigai atau diidentifikasi sebagai penyebab

59
cacat mutu, hendaklah dijustifikasi secara formal dan hati-hati
untuk memastikan bahwa kesalahan proses, prosedural, sistem atau
masalah lain tidak terabaikan.
Tindakan Korektif dan Tindakan Pencegahan yang tepat
hendaklah diidentifikasi dan diambil sebagai tindak lanjut terhadap
cacat mutu. Efektivitas tindakan tersebut hendaklah dipantau dan
dinilai. Catatan cacat mutu hendaklah ditinjau dan dilakukan
analisis tren secara berkala.
5. Penarikan Produk dan Kemungkinan Tindakan Pengurangan-
Risiko Lain
Hendaklah tersedia prosedur tertulis, yang jika perlu dikaji
dan dimutakhirkan secara berkala, untuk mengatur segala tindakan
penarikan kembali. Setelah produk diedarkan, pengembalian apa
pun dari jalur distribusisebagai akibat dari cacat mutu hendaklah
dianggap dan dikelola sebagaipenarikan. (Ketentuan ini tidak
berlaku untuk pengambilan ataupengembalian sampel produk dari
jalur distribusi untuk memfasilitasiinvestigasi terhadap
masalah/laporan cacat mutu).
2.2.10 Dokumentasi
Dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari
sistem pemastian mutu dan merupakan kunci untuk pemenuhan
persyaratan CPOB. Berbagai jenis dokumen dan media yang
digunakan hendaklah sepenuhnya ditetapkan dalam Sistem Mutu
Industri Farmasi. Dokumentasi dapat dibuat dalam berbagai bentuk,
termasuk media berbasis kertas, elektronik atau fotografi. Tujuan
utama sistem dokumentasi yang dimanfaatkan haruslah untuk
membangun, mengendalikan, memantau dan mencatat semua kegiatan
yang secara langsung atau tidak langsung berdampak pada semua
aspek kualitas obat.
Sistem Mutu Industri Farmasi hendaklah mencakup penjabaran
rinci yang memadai terhadap pemahaman umum mengenai
persyaratan, di samping memberikan pencatatan berbagai proses dan

60
evaluasi setiap pengamatan yang memadai, sehingga penerapan
persyaratan yang berkelanjutan dapat ditunjukkan. Acuan lebih lanjut
terkait penerapan Cara Dokumentasi yang Baik untuk menjamin
integritas dokumen dan catatan dapat mengacu pada Pedoman WHO
Guidanceon Good Data and Record Management Practices atau
pedoman internasional lain terkait. Dokumen Induk Industri Farmasi
(DIIF) : Dokumen yang menjelaskan tentang aktivitas terkait CPOB.
Jenis instruksi (petunjuk, atau persyaratan):
1. Spesifikasi: menguraikan secara rinci persyaratan yang harus
dipenuhiproduk atau bahan yang digunakan atau diperoleh selama
pembuatan. Dokumen ini merupakan dasar untuk mengevaluasi
mutu.Dokumen Produksi Induk, Formula Pembuatan, Prosedur
Pengolahan, Prosedur Pengemasan dan Instruksi Pengujian
/Metode Analisis: menyajikan rincian semua bahan awal, peralatan
dan sistem komputerisasi (jika ada) yang akan digunakan dan
menjelaskan semua prosedur pengolahan, pengemasan,
pengambilan sampel dan pengujian. Pengawasan selama-proses
dan process analytical technologies (PAT) yang akan digunakan
hendaklah ditentukan dimana diperlukan bersama kriteria
keberterimaannya.
2. Prosedur: (disebut juga Prosedur Tetap atau Protap), memberikan
petunjukcara pelaksanaan suatu kegiatan tertentu.
3. Protokol (kualifikasi, validasi, uji stabilitas, dll): Memberikan
instruksi untuk melakukan dan mencatat kegiatan tertentu.
4. Perjanjian Teknis: kesepakatan antara pemberi kontrak dan
penerima kontrak untuk kegiatan alih daya, Catatan/Laporan:
5. Catatan: menyajikan bukti dari berbagai tindakan yang dilakukan
untuk membuktikan pematuhan terhadap instruksi, misal kegiatan,
kejadian, investigasi, dalam hal bets yang dibuat, merupakan
riwayat setiap bets produk, termasuk distribusinya. Catatan
meliputi data mentah yang digunakan untuk menghasilkan catatan
lain. Untuk catatan elektronik yang mengatur pengguna hendaklah

61
ditentukan data mana yang akan digunakan sebagai data mentah.
Paling tidak, semua data yang menjadi dasar keputusan kualitas
hendaklah didefinisikan sebagai data mentah .
6. Sertifikat Analisis: berisi ringkasan hasil pengujian sampel produk
atau bahan termasuk evaluasi untuk memenuhi spesifikasi yang
dipersyaratkan.
7. Laporan: mendokumentasikan pelaksanaan kegiatan tertentu,
pelaksanaan proyek atau penyelidikan tertentu, dilengkapi hasil,
kesimpulan dan rekomendasi. Diperlukan persyaratan khusus untuk
catatan bets yang harus disimpan selama satu tahun setelah tanggal
kedaluwarsa bets atau lima tahun setelah diluluskan bets oleh
Pemastian Mutu, yang mana yang lebihlama. Catatan bets obat
untuk uji klinik harus disimpan paling sedikit lima tahun setelah uji
klinik selesai atau penghentian formal. Persyaratan lain untuk
penyimpanan dokumen dapat dijelaskan dalam peraturan
perundang-undangan terkait dengan jenis produk tertentu (misal
Advanced Therapy Medicinal Products) dan penentuan jangka
waktu penyimpanan yang lebih lama ditetapkan untuk dokumen
tertentu.
Untuk jenis dokumentasi lain, periode penyimpanan
tergantung pada kegiatan bisnis yang didukung oleh dokumen.
Dokumen kritis, termasuk data mentah (misal yang berhubungan
dengan validasi atau stabilitas), yang mendukung informasi dalam
persetujuan Izin Edar hendaklah disimpan selama Izin masih
berlaku. Mungkin pengabaian dokumendapat diterima (misal data
mentah yang mendukung laporan validasi atau laporan stabilitas)
apabila data telah diganti dengan kumpulan data baru. Justifikasi
ini hendaklah didokumentasikan dan mempertimbangkan
persyaratan penyimpanan catatan bets; misal,dalam kasus data
validasi proses, data mentah penyerta hendaklah disimpan dalam
jangka waktu minimal sepanjang catatan untuk semua bets yang
pelulusannya didukung oleh kegiatan validasi.

62
1. Dokumen Produksi Induk
Dokumen Produksi Induk yang disahkan secara formal
hendaklah mencakup nama, bentuk sediaan, kekuatan dan
deskripsi produk, nama penyusun dan bagiannya, nama
pemeriksa serta daftar distribusi dokumen dan berisi hal sebagai
berikut:
1) Informasi bersifat umum yang menguraikan jenis bahan
pengemas primer yang harus digunakan atau alternatifnya,
pernyataan mengenai stabilitas produk, tindakan
pengamanan selama penyimpanan dan tindakan
pengamanan lain yang harus dilakukan selama
pengolahandan pengemasan produk;
2) Komposisi atau formula produk untuk tiap satuan dosis dan
untuk satu sampel ukuran bets;
3) Daftar lengkap bahan awal, baik yang tidak akan berubah
maupun yang akan mengalami perubahan selama proses
4) Spesifikasi bahan awal
5) Daftar lengkap bahan pengemas
6) Spesifikasi bahan pengemas primer
7) Prosedur pengolahan dan pengemasan
8) Daftar peralatan yang dapat digunakan untuk pengolahan
danpengemasan
9) Pengawasan selama-proses pengolahan dan pengemasan
dan
10) Masa edar/simpan.
2. Formula pembuatan dan prosedur produksi
Formula Pembuatan hendaklah mencakup:
1) Nama produk dengan kode referen produk yang merujuk
pada spesifikasinya
2) Deskripsi bentuk sediaan, kekuatan produk dan ukuran bets

63
3) Daftar semua bahan awal yang digunakan, dengan
mendeskripsikan masing-masing jumlahnya termasuk
pencantuman bahan yang hilang selama proses
4) Pernyataan mengenai hasil akhir yang diharapkan dengan
batas penerimaan, dan bila perlu, hasil antara yang relevan.
3. Prosedur Pengolahan Induk hendaklah mencakup:
1) Pernyataan mengenai lokasi pengolahan dan peralatan utama
yang digunakan;
2) Metode atau rujukan metode yang digunakan untuk
mempersiapkan peralatan kritis (misal pembersihan,
perakitan, kalibrasi, sterilisasi);
3) Memeriksa bahwa peralatan dan tempat kerja bersih dari
produk,dokumen atau bahan sebelumnya yang tidak
diperlukan untuk proses yang direncanakan dan peralatan
bersih dan dapat digunakan
4) Instruksi rinci tahap proses [misal pemeriksaan bahan,
penanganan awal, urutan penambahan bahan, parameter
pengolahan kritis (waktu, suhu dll);
5) Instruksi untuk semua pengawasan selama-proses dengan
batas penerimaannya;
6) Bila perlu, syarat penyimpanan produk ruahan; termasuk
wadah, label dan kondisi penyimpanan khusus, di mana
perlu; dan
7) Semua tindakan khusus yang diperhatikan
4. Prosedur Pengemasan Induk
Prosedur Pengemasan Induk yang disetujui untuk setiap
produk, ukuran dan tipe kemasan yang disetujui hendaklah
tersedia yang mencakup, berikut ini:
1) Nama produk; termasuk nomor bets produk ruahan dan
produk jadi;
2) Deskripsi bentuk sediaan dan kekuatan, di mana perlu;

64
3) Ukuran kemasan yang dinyatakan dalam jumlah, berat atau
volume produk dalam wadah akhir;
4) Daftar lengkap semua bahan pengemas yang diperlukan,
termasuk jumlah, ukuran dan jenis bersama kode atau nomor
referen yang berkaitan dengan spesifikasi tiap bahan
pengemas;
5) Bila perlu, contoh atau reproduksi dari bahan pengemas cetak
yang relevan dan spesimen yang menunjukkan tempat untuk
mencetak nomor bets dan tanggal kedaluwarsa produk;
6) Memeriksa bahwa peralatan dan area kerja bersih dari
produk,dokumen atau bahan sebelumnya dalam rencana
pengemasan (kesiapan jalur), dan peralatan tersebut bersih
dan dapat digunakan;
7) Tindakan pencegahan khusus yang diperhatikan, termasuk
pemeriksaan secara cermat area dan peralatan untuk
memastikan kesiapan jalur sebelum kegiatan dimulai;
8) Deskripsi kegiatan pengemasan, termasuk kegiatan tambahan
yang signifikan serta peralatan yang harus digunakan; dan
9) Pengawasan selama-proses yang rinci termasuk pengambilan
sampel dan batas keberterimaan.
2.2.11 Kegiatan Alih Daya
Pembuatan dan Analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara
benar dan disetujui serta dikendalikan untuk menghindari
kesalahpahaman yang dapat menghasilkan produk atau pekerjaan
dengan mutu yang kurang memuaskan. Kontrak tertulis antara
pemberi kontrak dan penerima kontrak harus dibuat secara jelas untuk
menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing pihak.
Kontrak haruslah menyatakan secara jelas prosedur pelulusan
tiap bets suatu produk yang akan diedarkan. Pelulusan Bets tersebut
menjadi tanggung jawab penuh Kepala Bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu).Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus
dibuat secara benar, disetujui dan dikendalikan untuk menghindari

65
kesalah pahaman yang dapat menyebabkan produk atau pekerjaan
dengan mutu yang tidak memuaskan.
Kontrak tertulis hendaklah meliputi pembuatan dan/atau analisis
obat yang dikontrakkan dan semua pengatur teknis terkait. Pemberi
kontrak adalah Industri Farmasi yang melimpahkan pekerjaan
pembuatan obat berdasarkan kontrak. Pemberi kontrak bertanggung
jawab untuk menilai kompetensi penerima kontrak dalam
melaksanakan pekerjaan atau pengujian yang diperlukan dan
memastikan bahwa prinsip dan pedoman CPOB diikuti.
1. Pemberi kontrak
1) Bertanggung jawab untuk menilai kompetensi penerima
kontrak dalam melaksanakan pekerjaan atau pengujian yang
diperlukan dan memastikan bahwa prinsip dan pedoman
CPOB diikuti.
2) Memberikan informasi yang diperlukan kepada penerima
kontrak untuk melaksanakan pekerjaan kontrak secara benar
dan sesuai izin edar dan persyaratan legal lain.
3) Memastikan bahwa semua produk yang diproses dan bahan
yang dikirimkan oleh penerima kontrak memenuhi spesifikasi
yang telah diluluskan oleh bagian pemastian mutu.
2. Penerima kontrak
1) Pembuatan obat berdasarkan kontrak hanya dapat dilakukan
oleh Industri Farmasi yang memiliki sertifikat CPOB yang
diterbitkan oleh Otoritas Pengawasan Obat (OPO).
2) Memastikan bahwa semua produk dan bahan yang diterima
sesuai dengan tujuan penggunaannya.
3) Tidak mengalihkan pekerjaan atau pengujian apapun yang
dipercayakan kepadanya sesuai kontrak kepada pihak ketiga
tanpa terlebih dahulu dievaluasi dan disetujui oleh pemberi
kontrak.

66
4) Membatasi diri dari segala aktifitas yang dapat berpengaruh
buruk pada mutu produk yang dibuat dan/atau dianalisis untuk
pemberi kontrak.
2.2.12 Kualifikasi dan Validasi
CPOB mempersyaratkan industri farmasi mengendalikan aspek
kritis kegiatan yang dilakukan melalui kualifikasi dan validasi
sepanjang siklus hidup produk dan proses. Tiap perubahan yang
direncanakan terhadap fasilitas, peralatan, sarana penunjang, dan
proses, yang dapat memengaruhi mutu produk, hendaklah
didokumentasikan secara formal dan dampak pada status validasi atau
strategi pengendaliannya dinilai. Sistem komputerisasi yang digunakan
untuk pembuatan obat hendaklah juga divalidasi sesuai dengan
persyaratan Aneks 7 Sistem Komputerisasi. Konsep dan pedoman
yang relevan yang disajikan dalam (International Conference of
Harmonization) ICH Q8, Q9, Q10, dan Q11 hendaklah juga
diperhitungkan.
Pendekatan manajemen risiko mutu hendaklah diterapkan
sepanjang siklus hidup obat. Sebagai bagian dari sistem manajemen
risiko mutu, keputusan mengenai cakupan dan luas kualifikasi-validasi
fasilitas, peralatan, sarana penunjang, dan proses hendaklah didasarkan
pada penilaian risiko yang dijustifikasi dan didokumentasikan.
Validasi retrospektif tidak lagi dianggap sebagai pendekatan yang
dapat diterima. Data pendukung kualifikasi dan/atau studi validasi
yang diperoleh dari sumber di luar program industri dapat digunakan,
dengan syarat pendekatan ini telah dijustifikasi dan ada jaminan yang
memadai bahwa pengendalian telah dilakukan saat mengambil alih
data tersebut.
1. Pengorganisasian dan perencanaan kualifikasi dan validasi
1) Semua kegiatan kualifikasi dan validasi hendaklah
direncanakan dengan mempertimbangkan siklus hidup fasilitas,
peralatan, sarana penunjang, proses dan produk.

67
2) Kegiatan kualifikasi dan validasi hendaklah hanya dilakukan
oleh personel yang telah mendapat pelatihan dan mengikuti
prosedur yang telah disetujui.
3) Personel yang diberi tanggung jawab untuk kualifikasi/validasi
hendaklah melapor sebagaimana ditetapkan dalam Sistem Mutu
Industri Farmasi walaupun personel terkait mungkin bukan
bagian dari manajemen mutu atau pemastian mutu. Namun,
hendaklah tersedia fungsi pengawasan terhadap mutu yang
memadai di sepanjang siklus hidup validasi.
4) Elemen kunci program kualifikasi dan validasi hendaklah
ditetapkan secara jelas dan didokumentasikan dalam Rencana
Induk Validasi (RIV) atau dokumen lain yang setara.
2. Dokumentasi, termasuk riv
Cara dokumentasi yang baik penting untuk mendukung
pengelolaan pengetahuan (knowledge management) sepanjang
siklus hidup produk. Semua dokumen yang dihasilkan selama
kualifikasi dan validasi hendaklah disetujui dan disahkan oleh
personel yang diberi wewenang sebagaimana ditetapkan dalam
Sistem Mutu Industri Farmasi. Saling keterkaitan antardokumen
dalam proyek validasi yang kompleks hendaklah ditetapkan
dengan jelas. Protokol validasi hendaklah disiapkan dengan
menetapkan sistem, atribut dan parameter kritis, serta kriteria
keberterimaan. Jika sesuai, dokumen kualifikasi dapat digabungkan
bersama, misal Kualifikasi Instalasi (KI) dan Kualifikasi
Operasional (KO).
Bila protokol validasi dan dokumentasi lain disediakan oleh
pihak ketiga yang menyediakan jasa validasi, personel yang diberi
wewenang di lokasi pabrik terkait hendaklah memastikan
kesesuaian dan kepatuhan terhadap prosedur internal sebelum
disetujui. Protokol dari pemasok dapat dilengkapi dengan
dokumentasi/ protokol uji tambahan sebelum digunakan.

68
Setiap perubahan signifikan terhadap protokol yang disetujui
selama pelaksanaan validasi, misal kriteria keberterimaan,
parameter operasional, dan lain-lain, hendaklah didokumentasikan
sebagai penyimpangan dan dijustifikasi secara ilmiah.
3. Tahap kualifikasi untuk peralatan, fasilitas, sarana penunjang, dan
sistem.
Kegiatan kualifikasi hendaklah mempertimbangkan semua
tahap mulai dari pengembangan awal sesuai spesifikasi kebutuhan
pengguna sampai pada akhir penggunaan peralatan, fasilitas, sarana
penunjang, atau sistem. Tahap utama dan beberapa kriteria yang
disarankan (walaupun hal ini tergantung pada keadaan tiap proyek
dan mungkin bisa berbeda) dapat disertakan dalam setiap urutan
berikut:
1) Spesifikasi Kebutuhan Pengguna (SKP)
Spesifikasi peralatan, fasilitas, sarana penunjang atau
sistem hendaklah didefinisikan dalam SKP dan/atau spesifikasi
fungsional. Unsur-unsur penting mutu perlu mulai ditetapkan
pada tahap ini dan dilakukan mitigasi risiko CPOB sampai
tingkat keberterimaan. SKP hendaklah menjadi dasar acuan
selama siklus hidup validasi.
2) Kualifikasi Desain (KD)
Unsur berikut dalam kualifikasi peralatan, fasilitas, sarana
penunjang, atau sistem adalah KD di mana kepatuhan desain
pada CPOB hendaklah dibuktikan dan didokumentasikan.
Verifikasi terhadap persyaratan spesifikasi kebutuhan pengguna
hendaklah dilakukan selama kualifikasi desain. Factory
Acceptance Testing (FAT) /Site Acceptance Testing (SAT)
Bila perlu, evaluasi terhadap peralatan di lokasi pemasok
dilakukan sebelum pengiriman, terutama jika menyangkut
teknologi baru atau teknologi yang kompleks. Bila perlu,
sebelum pemasangan peralatan, hendaklah dilakukan konfirmasi

69
kesesuaian peralatan dengan SKP/spesifikasi fungsional di
lokasi pemasok.
Bila sesuai dan dapat dijustifikasi, pengkajian dokumentasi
dan beberapa pengujian dapat dilakukan saat FAT atau tahap
lain tanpa perlu mengulangi kembali di lokasi pabrik pada saat
KI/KO, jika dapat ditunjukkan bahwa fungsinya tidak
terpengaruh oleh transportasi dan pemasangan. FAT dapat
dilengkapi dengan pelaksanaan SAT setelah peralatan diterima
di lokasi pabrik.
3) Kualifikasi Instalasi (KI)
Kualifikasi Instalasi (KI) hendaklah dilakukan terhadap
peralatan, fasilitas, sarana penunjang atau sistem. KI hendaklah
mencakup, namun tidak terbatas pada hal-hal berikut:
a. Verifikasi kebenaran instalasi komponen, instrumentasi,
peralatan, pemipaan, dan peralatan penunjang sesuai dengan
gambar teknis dan spesifikasi;
b. Verifikasi kebenaran instalasi terhadap kriteria yang telah
ditentukan;
c. Pengumpulan dan pemeriksaan dokumen instruksi kerja dan
instruksi pengoperasian serta instruksi perawatan peralatan
dari pemasok;
d. Kalibrasi instrumen; dan
e. Verifikasi bahan konstruksi

4) Kualifikasi Operasional (KO)


KO umumnya dilakukan setelah KI, namun, bergantung
pada kompleksitas peralatan, bisa saja dilakukan sebagai
kombinasi Kualifikasi Instalasi/Operasional (KIO). KO
hendaklah mencakup, namun tidak terbatas pada hal-hal berikut:

f. Pengujian yang dikembangkan berdasar pemahaman proses,


sistem, dan peralatan untuk memastikan sistem beroperasi
sesuai desain; dan

70
g. Pengujian untuk mengonfirmasi batas operasi atas dan batas
operasi bawah, dan/atau kondisi "terburuk".
Penyelesaian ko yang berhasil hendaklah digunakan untuk
memfinalisasi prosedur operasional dan prosedur
pembersihan, pelatihan operator, dan persyaratan perawatan
preventif.
5) Kualifikasi Kinerja (KK)
KK umumnya dilakukan setelah KI dan KO berhasil.
Namun, mungkin dalam beberapa kasus, pelaksanaannya
bersamaan dengan KO atau Validasi Proses. KK hendaklah
mencakup, namun tidak terbatas pada hal-hal berikut:
a. Pengujian dengan menggunakan bahan yang dipakai di
produksi, bahan pengganti yang memenuhi spesifikasi, atau
produk simulasi yang terbukti mempunyai sifat yang setara
pada kondisi operasional normal dengan ukuran bets kondisi
terburuk. Hendaklah dilakukan justifikasi terhadap frekuensi
pengambilan sampel yang digunakan untuk mengonfirmasi
pengendalian proses; dan
b. Pengujian hendaklah mencakup rentang operasional proses
yang diinginkan, kecuali jika tersedia bukti terdokumentasi
dari tahap pengembangan yang telah mengonfirmasikan
rentang operasional.

6) Kualifikasi ulang

Hendaklah dilakukan evaluasi terhadap peralatan, fasilitas,


sarana penunjang, dan sistem secara berkala untuk memastikan
bahwa status kualifikasi tetap terkendali. Bila diperlukan
kualifikasi ulang dan dilakukan pada periode waktu tertentu,
periode hendaklah dijustifikasi dan kriteria untuk evaluasi
ditetapkan. Selanjutnya, kemungkinan perubahan kecil dari
waktu ke waktu hendaklah dinilai.

71
4. Validasi proses

Ketentuan dan prinsip yang diuraikan dalam Butir-butir ini


berlaku untuk pembuatan semua bentuk sediaan obat. Hal tersebut
mencakup validasi awal dari proses baru, validasi bila terjadi
perubahan proses, transfer lokasi pembuatan, dan verifikasi proses
on-going. Secara implisit tertuang dalam bab ini bahwa proses
pengembangan produk yang tangguh diperlukan agar validasi
proses berhasil.

Proses pembuatan dapat dikembangkan dengan menggunakan


pendekatan tradisional atau pendekatan verifikasi kontinu. Namun,
terlepas dari pendekatan apa pun yang digunakan, harus dibuktikan
ketangguhan proses dan memastikan mutu produk yang konsisten
sebelum produk diluluskan ke pasar. Bila memungkinkan, program
validasi prospektif hendaklah diterapkan pada proses pembuatan
yang menggunakan pendekatan tradisional sebelum mendapatkan
Izin Edar. Validasi retrospektif merupakan pendekatan yang tidak
lagi dapat diterima.

Validasi proses hendaklah menetapkan bahwa semua atribut


mutu dan parameter proses yang dianggap penting untuk
memastikan keadaan terkendali dan mutu produk yang memenuhi
persyaratan dapat dipenuhi secara konsisten oleh proses tersebut.
Dasar penetapan parameter proses dan atribut mutu yang kritis atau
tidak kritis hendaklah didokumentasikan dengan jelas, dengan
mempertimbangkan hasil penilaian risiko.Pada umumnya bets yang
diproduksi untuk validasi proses hendaklah berukuran sama dengan
bets yang dimaksudkan untuk skala komersial dan penggunaan
ukuran bets lain hendaklah dijustifikasi.

Peralatan, fasilitas, sarana penunjang, dan sistem yang


digunakan untuk validasi proses hendaklah sudah dikualifikasi.
Metode pengujian hendaklah divalidasi sesuai tujuan

72
penggunaannya. Pendekatan apa pun yang digunakan untuk semua
produk, pemahaman proses dari studi pengembangan atau sumber
lain hendaklah dapat diakses oleh bagian pembuatan, kecuali jika
ada justifikasi lain dan menjadi pedoman untuk aktivitas validasi.

Pada pelaksanaan bets validasi, personel dari bagian


produksi, pengembangan, atau penanggung jawab transfer dari
kedua pihak perlu dilibatkan. Semua bets hendaklah dibuat oleh
personel yang mendapat pelatihan sesuai persyaratan CPOB
menggunakan dokumen yang telah disetujui. Diharapkan personel
produksi terlibat dalam pembuatan bets validasi untuk
memudahkan pemahaman produk.

Pemasok bahan awal dan pengemas kritis hendaklah


dikualifikasi sebelum bets validasi mulai diproduksi. Jika tidak,
hendaklah dibuat justifikasi berbasis prinsip manajemen risiko
mutu yang didokumentasikan. Ketersediaan pengetahuan proses,
yang mendasari justifikasi designspace dan pengembangan model
matematis (jika digunakan), sangat penting untuk memastikan
strategi pengendalian proses. Jika bets validasi akan dipasarkan,
hendaklah ditetapkan lebih dulu prosedur pelulusan bets validasi.

Kondisi produksi hendaklah sepenuhnya memenuhi


persyaratan CPOB, kriteria keberterimaan validasi, dan kriteria
verifikasi proses kontinu (jika digunakan), serta sesuai dengan
dokumen Izin Edar atau dokumen uji klinik yang disetujui. Validasi
proses obat untuk uji klinik mengacu pada Aneks 6 Pembuatan
Obat Uji Klinik.

1) Validasi Konkuren
Dalam kondisi di luar kebiasaan, ketika ada rasio
manfaat-risiko yang besar bagi pasien, dimungkinkan untuk
tidak menyelesaikan program validasi sebelum produksi rutin
dilaksanakan, maka validasi konkuren dapat digunakan.

73
Namun, keputusan untuk melakukan validasi konkuren harus
dijustifikasi dan disetujui oleh Badan POM serta
didokumentasikan secara jelas dalam RIV dan disetujui oleh
Kepala Pemastian Mutu.
Jika pendekatan validasi konkuren telah diadopsi,
hendaklah tersedia data yang memadai untuk mendukung
kesimpulan bahwa tiap bets produk yang dihasilkan seragam
dan memenuhi kriteria keberterimaan. Hasil dan kesimpulan
hendaklah didokumentasikan secara formal dan tersedia bagi
Kepala Pemastian Mutu untuk pelulusan bets.
2) Validasi Proses Tradisional
Dalam pendekatan tradisional, sejumlah bets produk
diproduksi dalam kondisi rutin untuk memastikan
reprodusibillitas. Jumlah bets yang diproduksi dan jumlah
sampel yang diambil hendaklah didasarkan pada prinsip
manajemen risiko mutu, memungkinkan dibuat rentang variasi
normal dan tren serta menghasilkan cukup data untuk
dievaluasi.
Setiap industri farmasi harus menentukan dan memberi
justifikasi jumlah bets yang diperlukan untuk memberikan
tingkat kepastian yang tinggi bahwa proses mampu
menghasilkan produk yang bermutu secara konsisten.
Alternatif jumlah bets dapat dipertimbangkan dari
justifikasi apakah ada metode pembuatan standar yang telah
digunakan dan apakah produk atau proses yang mirip telah
digunakan sebelumnya di pabrik tersebut. Data pelaksanaan
validasi awal dengan tiga bets mungkin dapat ditambahkan
pada data yang diperoleh dari bets berikutnya sebagai bagian
dari pelaksanaan verifikasi on-going.
Protokol validasi proses hendaklah disiapkan dengan
menjelaskan parameter proses kritis/critical process parameter
(CPP), atribut mutu kritis/critical quality attribute (CQA) dan

74
kriteria keberterimaan terkait yang hendaklah berdasarkan
pada data pengembangan ataupemahaman proses yang
terdokumentasi. Protokol validasi proses hendaklah mencakup,
namun tidak terbatas pada hal-hal berikut:
a. Penjelasan singkat tentang proses dan mengacu
ProsedurPengolahan Induk masing-masing;
b. Fungsi dan tanggung jawab;
c. Ringkasan CQA untuk diinvestigasi;
d. Ringkasan CPP dan batasan yang terkait;
e. Ringkasan atribut dan parameter lain (tidak kritikal) yang
akan diinvestigasi atau dipantau selama kegiatan validasi,
dan alasan penyertaannya;
f. Daftar peralatan/fasilitas yang akan digunakan (termasuk
alat ukur/alat pantau/alat perekam) termasuk status
kalibrasi;
g. Daftar metode analisis dan validasi metode, yang sesuai;
h. Usulan parameter pengawasan selama-proses dengan
kriteria keberterimaan dan alasan pemilihan masing-masing
pengawasan selama-proses;
i. Pengujian tambahan yang akan dilakukan, dengan kriteria
keberterimaan;
j. Pola pengambilan sampel dan alasannya;
k. Metode mencatat dan mengevaluasi hasil; dan
l. Proses pelulusan bets dan sertifikasi bets (bila diperlukan).
a. Verifikasi Proses Kontinyu
Untuk produk yang dikembangkan berdasarkan
pendekatan quality by design (QbD), selama proses
pengembangan telah ditetapkan secarailmiah, strategi
pengendalian, yang memberikan tingkat kepastian
mutuproduk yang tinggi, maka verifikasi proses secara
kontinu dapatdilakukan sebagai alternatif untuk validasi
proses tradisional.

75
Metode untuk memverifikasi proses hendaklah
ditetapkan. Strategipengendalian proses berbasis sains
hendaklah tersedia bagi atributyang diperlukan untuk
bahan-bahan yang diterima, CQA, dan CPP untuk
mengonfirmasi realisasi produk. Hal ini hendaklah
jugamencakup evaluasi strategi pengendalian proses secara
reguler.Perangkat Process Analytical Technology (PAT) dan
pengendalian proses secara statistik multivariate dapat
digunakan.
Tiap industri farmasihendaklah menentukan dan
menjustifikasi jumlah bets yang diperlukan untuk
menunjukkan tingkat kepastian yang tinggi bahwa proses
mampu menghasilkan produk yang bermutu secara
konsisten.
b. Pendekatan Hibrida
Hibrida dari pendekatan tradisional dan verifikasi
proses kontinu dapat digunakan bilamana sudah diperoleh
pengetahuan dan pemahaman yang tinggi mengenai produk
dan proses yang diperoleh dari pengalaman pembuatan dan
data riwayat bets. Pendekatan ini juga dapat digunakan
untuk kegiatan validasi pascaperubahan atau selama
verifikasi proses on-going meskipun produk tersebut pada
awalnya divalidasi dengan menggunakan pendekatan
tradisional.
c. Verifikasi Proses On-going selama Siklus Hidup Produk
Industri Farmasi hendaklah memantau mutu produk
untuk memastikan bahwa keadaan terkendali dipertahankan
sepanjang siklus hidup produk dengan evaluasi tren proses
yang relevan. Luas dan frekuensi verifikasi proses on-going
hendaklah dikaji secara berkala. Persyaratan dapat
dimodifikasi pada tahapan mana pun di sepanjang siklus

76
hidup produk, dengan mempertimbangkan tingkat
pemahaman proses dan kinerja proses saat ini.
Verifikasi proses on-going hendaklah dilakukan
berdasarkan protokol yang disetujui atau dokumen lain yang
setara. Laporan hendaklah disiapkan untuk
mendokumentasikan hasil yang diperoleh. Hendaklah
digunakan perangkat statistik yang sesuai untuk mendukung
kesimpulan yang berkaitan dengan variabilitas dan
kapabilitas proses serta untuk memastikan keadaan
terkendali. Verifikasi proses on-going hendaklah digunakan
sepanjang siklus hidupproduk untuk mendukung status
validasi produk sebagaimana didokumentasikan dalam
Pengkajian Mutu Produk. Perubahan bertahap dari waktu ke
waktu hendaklah juga dipertimbangkan dan kebutuhan
untuk tindakan tambahan apa pun hendaklah dinilai,
misalpengambilan sampel yang diperbanyak.

3) Validasi pengemasan

Variasi pada parameter peralatan terutama selama proses


pengemasan primer dapat berdampak signifikan terhadap integritas
dan fungsi kemasan yang benar, misal strip, blister, sachet dan
bahan pengemas steril. Oleh karena itu peralatan pengemas primer
dan sekunder untuk produk jadi dan produk ruahan hendaklah
dikualifikasi.

Kualifikasi peralatan yang digunakan untuk pengemasan


primer hendaklah dilakukan pada rentang operasional minimum
dan maksimum yang ditentukan untuk parameter proses kritis
seperti suhu, kecepatan mesin, dan tekanan penyegelan, atau faktor
lain.

77
4) Validasi pembersihan

Validasi pembersihan hendaklah dilakukan untuk


mengonfirmasi efektivitas prosedur pembersihan peralatan yang
kontak dengan produk. Bahan simulasi dapat digunakan dengan
justifikasi ilmiah yang sesuai. Bila peralatan sejenis dikelompokkan
bersama, dibutuhkan justifikasi untuk menentukan peralatan yang
akan divalidasi.

Pemeriksaan kebersihan secara visual merupakan bagian


penting dari kriteria keberterimaan dalam validasi pembersihan.
Umumnya penggunaan kriteria ini secara berdiri sendiri tidak dapat
diterima. Pembersihan yang diulang dan uji ulang sampai diperoleh
hasil residu yang memenuhi syarat tidak dianggap sebagai
pendekatan yang dapat diterima.

Disadari bahwa penyelesaian program validasi pembersihan


memerlukan waktu; dan pelaksanaan validasi melalui verifikasi
pembersihan setelah setiap bets produksi mungkin diperlukan
untuk beberapa produk, misal obat untuk uji klinik. Hendaklah
tersedia cukup data hasil verifikasi untuk mendukung kesimpulan
bahwa peralatan tersebut bersih dan dapat digunakan lebih lanjut.

Pengaruh waktu antara pembuatan dan pembersihan dan


waktu antara pembersihan dan penggunaan hendaklah
diperhitungkan untuk menentukan “waktu tunggu kotor” (dirty
hold time) dan “waktu tunggu bersih” (clean hold time) untuk
proses pembersihan.

Jika pembuatan secara kampanye dilakukan, dampak


pembersihan ringan ini pada akhir kampanye hendaklah
dipertimbangkan dan durasi maksimum kampanye (dalam waktu
dan/atau jumlah bets) hendaklah menjadi dasar untuk pelaksanaan
validasi pembersihan.

78
2.3 Pengolahan Limbah Dalam Industri
Industri Farmasi dalam pembuatan produk-produk farmasi
menggunakan proses dan teknologi yang sangat kompleks. Ada beberapa
bagian yang banyak menghasilkan limbah dalam Industri Farmasi antara
lain adalah :
1. Penelitian dan pengembangan
2. Laboratorium sintesis kimia
3. Ekstraksi bahan alami
4. Fermentasi
5. Formulasi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.74 Tahun 2001
Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3) dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1 Mudah meledak (explosive);
2 Pengoksidasi (oxidizing);
3 Sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);
4 Sangat mudah menyala (highly flammable);
5 Mudah menyala (flammable);
6 Amat sangat beracun (extremely toxic);
7 Sangat beracun (highly toxic);
8 Beracun (moderately toxic);
9 Berbahaya (harmful);
10 Korosif (corrosive);
11 Bersifat iritasi (irritant);
12 Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment);
13 Karsinogenik (carcinogenic).

79
BAB III

TINJAUAN KHUSUS

3.1 Sejarah Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat


Lafi Pusat atau yang dahulu bernama Militaire Scheikundig
Laboratorium (MSL), merupakan lembaga yang didirikan oleh pemerintah
Belanda pada tahun 1818 di Jakarta. Lembaga tersebut berfungsi sebagai
tempat pemeriksaan obat-obatan yang dibutuhkan oleh tentara Belanda.
Pada tanggal 1 Juni 1950, lembaga ini diambil alih oleh pemerintah
Republik Indonesia dan dibagi menjadi dua bagian, yakni Laboratorium
Kimia Tentara (LKT) yang kemudian berkembang menjadi Laboratorium
Kimia Angkatan Darat (LKAD) dan Depot Obat Tentara Pusat (DOTP)
yang berkembang menjadi Depot Obat Angkatan Darat (DOAD).
Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Kesehatan Angkatan Darat
No.KPTS/61/10/IX/1960 tanggal 13 September 1960, terhitung mulai
tanggal 8 Juni 1960 LKAD dan DOAD disatukan menjadi Lembaga
Farmasi Angkatan Darat (Lafi AD). Pada tanggal 15 Oktober 1970, Lafi AD
dipisah kembali menjadi dua bagian, yaitu:
1. Lafi AD, yang selanjutnya menjadi Lembaga Farmasi Jawatan
Kesehatan Angkatan Darat (Lafi Jankesad).
2. DOAD, yang selanjutnya menjadi Depot Peralatan Kesehatan
(Dopalkes) dan kemudian menjadi Depot Pusat Perbekalan Kesehatan
Jawatan Kesehatan Angkatan Darat (Dopusbekkes Jankesad).
Pada tahun 1985, Lafi Jankesad dan Dopusbekkes Jankesad disatukan
kembali menjadi Lafi Puskesad dan pada tanggal 1 April 2005, Lafi
Puskesad dipisah kembali menjadi Lafi Puskesad dan Gudang Pusat
(Gupus) II. Pada awalnya, kegiatan produksi Lafi Puskesad dilakukan di
Jalan Gudang Utara No. 25 Bandung dengan luas tanah 6.562 m2 dan luas
bangunan 3.382 m2.
Berdasarkan hasil evaluasi Direktur Jenderal Balai Pengawasan Obat
dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, sarana fasilitas
produksi di tempat tersebut belum memenuhi persyaratan sesuai dengan

80
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 43/Menkes/SK/II/1988 tentang
Pedoman CPOB dan Surat Keputusan Dirjen POM No. 544/A/SK/XII/1989
tentang penerapan CPOB. Oleh sebab itu, pada tahun 1995 diajukanlah
Rencana Induk Pembangunan (RIP) Lafi Puskesad dengan lokasi di Jalan
Gudang Utara No. 26 Bandung dengan luas tanah 12.152 m2 dan luas
bangunan 6.087,25 m2.
Gedung baru Lafi Puskesad dirancang sesuai dengan persyaratan
CPOB. Pada tanggal 28 Februari 1996, RIP tersebut mendapat persetujuan
dari Dirjen POM Depkes RI dengan surat No. 02.01.2.4.96.665. Barulah
pada tahun 1997 dimulai pembangunan sarana fasilitas Lafi Puskesad sesuai
dengan RIP yang sudah disetujui tersebut. Pada tahun 2000, Lafi Puskesad
telah berhasil mendapatkan empat sertifikat CPOB untuk sediaan antibiotik
β-laktam, selanjutnya pada tahun 2001 diperoleh satu sertifikat CPOB untuk
sediaan serbuk injeksi steril antibiotik β-laktam dan turunannya, serta pada
tanggal 1 Juni 2006 diperoleh lima sertifikat CPOB untuk fasilitas non β-
laktam yaitu sediaan tablet biasa non-antibiotika, tablet salut non-
antibiotika, kapsul keras non-antibiotika, serbuk oral non-antibiotika dan
cairan obat oral non-antibiotika. Saat ini (2017) Lafi Puskesad memiliki
sertifikat CPOB untuk sediaan non β-laktam yaitu untuk sediaan tablet salut
dan tablet biasa, kapsul keras, dan serbuk oral, dan pada tanggal 31 Maret
2017, Lafi Puskesad mendapatkan sertifikat CPOB untuk sediaan β-laktam
yaitu untuk sediaan tablet dan kapsul.
3.2 Visi dan Misi Lafi Puskesad
Sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam menyediakan obat-
obatan bagi keperluan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI
AD), Lafi Puskesad memiliki visi dan misi sebagai berikut :
3.2.1 Visi
Menjadi salah satu lembaga produksi yang mampu memenuhi
kebutuhan obat bermutu bagi TNI.
3.2.2 Misi
1. Mampu memenuhi kebutuhan obat Dukkes dan Yankes TNI AD
2. Pusat litbang dan informasi obat TNI AD

81
3. Mampu menjadi mitra industri farmasi lain dalam memenuhi
kebutuhan obat nasional.
3.2.3 Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi Lafi Puskesad
Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi
Puskesad) merupakan badan pelaksana Pusat yang berkedudukan
langsung di bawah suatu Pusat Kesehatan Angkatan Darat
(Puskesad).Tugas pokok dari Lafi Puskesad yaitu membantu Pusat
Kesehatan Angkatan Darat (Puskesad) dalam menyelenggarakan
pembinaan dan melaksanakan produksi, penelitian dan pengembangan
obat dalam rangka mendukung tugas pokok pusat.
Dalam menyelenggarakan tugas pokok di atas, Lafi Puskesad
menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut:
1. Melaksanakan fungsi utama, meliputi:
a. Fungsi penelitian dan pengembangan, meliputi: segala usaha,
pekerjaan dan kegiatan di bidang penelitian dan
pengembangan produk, sistem metode dan personel dalam
rangka menyelenggarakan produksi obat.
b. Fungsi produksi, meliputi: segala usaha, pekerjaan dan
kegiatan di bidang produksi obat.
c. Fungsi pengawasan mutu, meliputi: segala usaha, pekerjaan,
dan kegiatan pemeriksaan fisika, kimia, mikrobiologi
terhadap bahan baku, bahan pendukung produksi,
pengawasan selama proses produk antara, produk ruahan dan
produk jadi.
d. Fungsi pemeliharaan, meliputi: segala usaha, pekerjaan dan
kegiatan di bidang pemeliharaan dan perbaikan peralatan
produksi, pengawasan mutu dan sistem penunjang.
e. Fungsi penyimpanan, meliputi: segala usaha, pekerjaan dan
kegiatan di bidang penerimaan, penyimpanan dan
pengeluaran bahan baku, bahan pendukung produksi,
peralatan dan obat jadi.

82
2. Melaksanakan Fungsi Organik Militer, meliputi: segala usaha,
pekerjaan, dan kegiatan di bidang intelejen, operasi, personal,
logistik, teritorial, perencanaan dan pengawasan serta
pemeriksaan dalam rangka mendukung tugas pokok Lafi
Puskesad.
3. Melaksanakan Fungsi Organik Pembinaan, meliputi: segala
usaha, pekerjaan, dan kegiatan di bidang latihan kesatuan dalam
rangka mendukung tugas pokok Lafi Puskesad.
3.2.4 Struktur Organisasi Lafi Puskesad
Berdasarkan Keputusan Kepala Staf Tentara Nasional
Indonesia Angkatan Darat No. PERKASAD/219/XII/2007 tanggal
10 Desember 2007 tentang Organisasi dan Tugas Lembaga Farmasi
Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Orgas Lafi Puskesad), struktur
organisasi Lafi Puskesad adalah sebagai berikut:
a. Eselon Pimpinan
1. Kepala Lembaga Farmasi (Ka Lafi Puskesad) dijabat oleh
seorang Perwira Menengah Angkatan Darat (Pamen AD)
berpangkat Kolonel Ckm. Dalam melaksanakan tugas dan
kewajibannya, Ka Lafi Puskesad bertanggung jawab kepada
Puskesad.
2. Wakil Kepala Lembaga Farmasi (Waka Lafi Puskesad)
dijabat oleh seorang Pamen AD berpangkat Letnan Kolonel
(Letkol) Ckm Waka Lafi Puskesad merupakan wakil dan
pembantu utama Ka Lafi Puskesad sehingga dalam
melaksanakan tugas dan kewajibannya bertanggung jawab
langsung kepada Ka Lafi Puskesad
b. Eselon Pembantu Pimpinan
1 Perwira Ahli Lembaga Farmasi, disingkat Pa Ahli Lafi.
Pa Ahli Lafi dijabat oleh 3 (tiga) orang Pamen AD
berpangkat Letnan Kolonel Ckm, dalam melaksanakan tugas
dan kewajibannya bertanggung jawab langsung kepada
Kalafi yang bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan

83
di bidang keahlian manajemen mutu, teknologi farmasi, dan
analisa Amdal dan dalam pelaksanaan tugas sehari-harinya
dikoordinasikan oleh Waka Lafi Puskesad. Pa ahli terdiri
dari:
a) Perwira Ahli Madya Manajemen Mutu, disingkat Paahli
Madya Jemen Mutu.
b) Perwira Ahli Madya Teknologi Farmasi, disingkat Paahli
Madya Tekfi.
c) Perwira Ahli Madya Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan, disingkat Paahli Madya Amdal.
2 Kepala Bagian Administrasi Logistik, disingkat
Kabagminlog.
Kabagminlog dijabat oleh Pamen AD berpangkat
Letnan Kolonel Ckm, dalam pelaksanaaan tugas
kewajibannya bertanggung jawab kepada Kalafi dan dalam
pelaksanaan tugas sehari-harinya dikoordinasikan oleh Waka
Lafi Puskesad. Kabagminlog merupakan pembantu Ka Lafi
Puskesad yang bertanggung jawab menyelenggarakan
kegiatan di bidang administrasi dan logistic yang dalam
melaksanakan tugasnya Kabagminlog dibantu oleh 2 (dua)
Kepala Seksi yang masing-masing dijabat oleh seorang
Pamen AD berpangkat Mayor Ckm, terdiri dari:
a) Kepala Seksi Perencanaan Program dan Anggaran,
disingkat Kasirenprogar.
b) Kepala Seksi Pengendalian Materil, disingkat Kasidalmat.
c. Eselon Pelayanan
Kepala Seksi Tata Usaha dan Urusan Dalam (Kasietuud)
dijabat oleh seorang Pamen AD berpangkat Mayor Ckm yang
dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Kalafi
dan dalam pelaksanaan tugas sehari-harinya dikoordinasikan
oleh Waka Lafi Puskesad. Kasituud merupakan unsur pelayanan
Lafi Puskesad yang bertanggung jawab menyelenggarakan

84
kegiatan di bidang pengamanan, administrasi personil, logistik,
tata usaha, dan urusan dalam.Kasietuud dibantu oleh tiga Kepala
Urusan yang masing-masing dijabat oleh dua orang Pama AD
berpangkat Kapten Ckm dan satu orang PNS golongan III serta
satu Perwira Urusan yang dijabat oleh Pama AD berpangkat
Letnan Ckm. Kepala Urusan tersebut yakni:
1. Kepala Urusan Administrasi Personel dan Logistik disingkat
Kaurminperslog.
2. Kepala Urusan Tata Usaha disingkat Kaurtu.
3. Kepala Urusan Dalam disingkat Kaurdal.
4. Perwira Urusan Pengamanan disingkat Paurpam.
d. Eselon Pelaksana
Eselon pelaksana dijabat oleh lima Kepala Instalasi
(Kainstal), yaitu:
1. Kepala Instalasi Penelitian dan Pengembangan
(Kainstallitbang), dijabat oleh seorang Pamen (Perwira
Menengah) AD berpangkat Letnan Kolonel Ckm, merupakan
unsur pelaksana Lafi Puskesad yang bertanggung jawab
menyelenggarakan kegiatan di bidang pengkajian, penelitian,
dan pengembangan yang dalam melaksanakan tugasnya
dibantu oleh dua Kepala Seksi (Kasi) yang masing-masing
dijabat oleh Pamen AD berpangkat Mayor Ckm, terdiri dari:
a) Kepala Seksi Penelitian dan Pengembangan Produksi
(Kasilitbangprod).
b) Kepala Seksi Penelitian dan Pengembangan Sistem
Metoda dan Personel (Kasilitbangsistodapers).
Kainstal litbang dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya
bertanggung jawab kepada Kalafi dan dalam pelaksanaan
tugas sehari-harinya dikoordinasikan oleh Waka Lafi
Puskesad.
2. Kepala Instalasi Produksi (Kainstalprod) dijabat oleh
seorang Pamen AD berpangkat Letnan Kolonel Ckm

85
berkualifikasi apoteker, merupakan unsur pelaksana Lafi
Puskesad yang bertanggung jawab menyelenggarakan
kegiatan di bidang produksi. Dalam pelaksanaan tugas dan
kewajibannya bertanggung jawab kepada Kalafi dan dibantu
oleh empat Kepala Seksi yang masing-masing dijabat oleh
Pamen AD berpangkat Mayor Ckm, terdiri dari:
a) Kepala Seksi Sediaan Non β-laktam (Kasidia Non β-
laktam).
b) Kepala Seksi Sediaan β-laktam (Kasidia β-laktam).
c) Kepala Seksi Sediaan Sefalosporin (Kasidia
Sefalosporin).
d) Kepala Seksi Kemas (Kasikemas).
3. Kepala Instalasi Pengawasan Mutu (Kainstalwastu) dijabat
oleh seorang Pamen AD berpangkat Letnan Kolonel Ckm
berkualifikasi apoteker, merupakan unsur pelaksana Lafi
Puskesad yang bertanggung jawab menyelenggarakan
kegiatan di bidang pengawasan dan peningkatan mutu.
Kainstalwastu dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh
dua Kepala Seksi yang masing-masing dijabat oleh Pamen
AD berpangkat Mayor Ckm, terdiri dari:
a) Kepala Seksi Pengujian Kimia, Fisika, dan Mikrobiologi
(Kasiuji Kifis dan Mikro).
b) Kepala Seksi Inspeksi (Kasiinspek).
Kainstalwastu dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya
bertanggung jawab kepada Kalafi Puskesad dan dalam
pelaksanaan tugas sehari-harinya dikoordinasikan oleh Waka
Lafi Puskesad.
4. Kepala Instalasi Pemeliharaan dan Sistem Penunjang
(Kainstalhar & Sisjang) dijabat oleh Pamen AD berpangkat
Mayor Ckm, merupakan unsur pelaksana Lafi Puskesad yang
bertanggung jawab menyelenggarakan kegiatan di bidang
pemeliharaan dan sistem penunjang. Kainstal HAR & Sisjang

86
dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh dua Kepala
Urusan yang masing-masing dijabat oleh Pama AD
berpangkat Kapten Ckm, terdiri dari:
a) Kepala Urusan Pemeliharaan (Kaurhar).
b) Kepala Urusan Sistem penunjang (Kaursisjang).
Kainstalhar & Sisjang dalam pelaksanaan tugas dan
kewajibannya bertanggung jawab kepada Kalafi Puskesad
dan dalam pelaksanaan tugas sehari-harinya dikoordinasikan
oleh Waka Lafi Puskesad.
5. Kepala Instalasi Penyimpanan (Kainstalsimpan) dijabat oleh
Pamen AD berpangkat Mayor Ckm, merupakan unsur
pelaksana Lafi Puskesad yang bertanggung jawab
menyelenggarakan kegiatan di bidang administrasi
penyimpanan dan pengeluaran materiil produksi.
Kainstalsimpan dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh
satu Kepala Urusan yang dijabat oleh Pama AD berpangkat
Kapten Ckm dan satu Perwira Urusan yang dijabat oleh Pama
AD berpangkat Letnan Ckm, terdiri dari:
a) Kepala Urusan Penyimpanan Material Produksi
(Kaursimpanmatprod)
b) Perwira Urusan Penyimpanan Obat Jadi (Paursimpan
Obat Jadi)
Kainstalsimpan dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya
bertanggung jawab kepada Kalafi dan dalam melaksanakan
tugas sehari-hari dikoordinasikan oleh Wakalafi.
3.2.5 Kualifikasi Tenaga Kerja Lafi Puskesad
Berdasarkan statusnya, personel Lafi Puskesad terdiri dari
militer dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Personel Lafi Puskesad
berdasarkan keahliannya terdiri dari Magister Farmasi, Magister
Manajemen, Apoteker, Sarjana Kimia, Asisten Apoteker, Analis,
Perawat Umum, SMU dan tenaga lainnya dengan jumlahnya dapat
dilihat pada Tabel 2.

87
Tabel 1. Data Personel Lafi Puskesad per Bulan Januari 2019

No Kualifikasi Militer PNS Jumlah


1 S3 Farmasi 1 0 1
S2 Farmasi, Manajemen, Kesehatan,
2 2 0 2
ADM
3 Apoteker 8 0 8
4 S1 Lain-lain 11 9 20
5 D3 Analis Medis, Kesehatan 2 2 4
6 D3 Keperawatan, Fis 4 0 3
7 D3 Farmasi, Komputer, Sos 0 4 4
8 Ass. Apoteker 2 4 6
9 SPK 1 0 1
10 SMAK Analis 3 2 27
11 SLTA (STM, SMA, SMK) 6 16 22
12 SLTA (SMA, MAN) 16 55 71
13 SLTP 0 3 3
14 SD 0 0 0
Jumlah 56 95 151

3.3 Kegiatan di Lafi Puskesad


3.3.1 Kegiatan Bagian Administrasi dan Logistik (Bag minlog)
Kegiatan Lafi Puskesad dalam melaksanakan tugas dan fungsi
produksi obat-obatan meliputi perencanaan dan pengadaan barang,
penyimpanan barang, proses produksi, pengawasan mutu, penelitian
dan pengembangan, pemeliharaan dan kegiatan administrasi.
Sejak tahun 2014, dengan berlakunya BPJS, perencanaan dan
pengadaan barang untuk produksi obat Lafi Puskesad dilakukan
berdasarkan data dari Sub Direktorat Pembinaan Pelayanan Kesehatan
(Subditbinyankes) yang disusun berdasarkan kalender latihan,
pendidikan, dan operasi satuan TNI AD. Sebelum berlakunya BPJS,
perencanaan pengadaan obat berdasarkan pola penyakit, populasi TNI
AD dari daerah dan laporan dari masing-masing Kesehatan Daerah
Militer (Kesdam), Satuan Kesehatan (Satkes) dan Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat (RSPAD). Rencana pengadaan obat kemudian dibuat
dengan melakukan penyesuaian antara daftar kebutuhan obat dengan
anggaran yang tersedia, selanjutnya dianalisis dan dievaluasi oleh
Subditbinmatkes yang dilakukan setahun sebelum pelaksanaan.

88
Pengadaan barang atau material dilaksanakan berdasarkan
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2012
Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang isinya
mengatur pengadaan barang atau material dan jasa.
Bagminlog bekerjasama dengan Instalasi Produksi dan Instalasi
Pengawasan Mutu membuat rencana kebutuhan bahan aktif, bahan
pembantu, bahan pengemas, dan reagensia. Perencanaan tersebut
disusun berdasarkan formula dan spesifikasi obat yang telah
ditentukan oleh Lafi Puskesad. Disamping itu, Bagminlog juga
bekerjasama dengan Instalsisjang dalam menyusun rencana dan
anggaran untuk pemeliharaan sarana operasional yang digunakan pada
setiap bagian Lafi Puskesad.
Pengadaan barang dilakukan oleh Puskesad melalui
pembentukan Unit Layanan Pengadaan (ULP), kemudian Puskesad
membentuk Panitia Penerima Hasil Pekerjaan yang bertugas
memeriksa dan menerima keadaan barang secara administrasi dan
fisik, sedangkan uji kimia dan uji mutu dilakukan oleh Instalwastu.
Selama proses pengujian oleh Instalwastu barang disimpan di gudang
karantina (gudang transit). Setelah barang lulus uji mutu, maka dibuat
Laporan Hasil Pengujian (LHP) dan Berita Acara (BA) penerimaan.
Bila barang yang dikirim tidak sesuai dengan spesifikasi yang diminta
atau tidak memenuhi syarat, maka barang akan dikembalikan untuk
diganti, kemudian barang yang lolos administrasi dan uji mutu
dipindahkan ke ruang (Gudang) sesuai jenisnya yang ada di Gudang
Pusat II yang disertai dengan surat Perintah Penerimaan Material
(PPNM).
3.3.2 Kegiatan Instalasi Pengawasan Mutu (Instalwastu)
Pengawasan mutu merupakan bagian integral dari suatu
produksi obat. Instalwastu bertanggungjawab terhadap setiap hal yang
menyangkut kualitas bahan baku obat, bahan pembantu, bahan
pengemas, produk antara, produk ruahan, dan obat jadi yang

89
dihasilkan sampai dengan pemantauan kualitas setelah didistribusikan
dengan standar waktu kadaluarsa.Selain itu, Instalwastu juga
bertanggungjawab terhadap kualitas lingkungan kerja yang meliputi
pengawasan kebersihan ruangan dan peralatan serta fasilitas
penunjang lainnya seperti pemeriksaan kebersihan ruangan produksi,
pemeriksaan mutu air dan pemeriksaan limbah. Tanggungjawab
tersebut diwujudkan dalam suatu sistem pengawasan mutu (Lampiran
3). Pelaksanaan kegiatan di Instalwastu ditunjang oleh fasilitas
instrumen HPLC (High Performance Liquid Chromatography),
spektrofotometer dengan sistem terkomputerisasi, Laminar Air Flow
(LAF), Read Biotic (pembaca hambatan bakteri), Climatic Chamber,
Dissolution Tester, serta berbagai fasilitas penunjang lainnya.
Dalam menjalankan tugasnya, Instalwastu didukung oleh
personil yang terdiri dari Apoteker dan analis yang sudah terlatih dan
berpengalaman dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan Instalwastu
tersebut dilaksanakan pada tahap persiapan, selama proses produksi
dan setelah proses produksi. Beberapa kegiatan Instalwastu
diantaranya:
1. Menyiapkan metoda pemeriksaan, pengujian dan validasi metoda
analisis yang sesuai dengan acuan standar resmi seperti
Farmakope Indonesia.
2. Menyiapkan prosedur pengambilan sampel untuk pemeriksaan
dan pengujian, dimana setiap sampel yang diambil dicatat dan
didokumentasikan.
3. Menyiapkan dan menyimpan baku pembanding kerja untuk
pengujian.
4. Menyimpan contoh pertinggal setiap bets produk jadi dan catatan
pengujian atau pemeriksaan.
5. Melaksanakan In Process Control (IPC) selama proses produksi
dan memberikan keputusan atas diluluskan atau tidaknya hasil
suatu tahap produksi sampai hasil produk akhir.

90
6. Melaksanakan pengujian terhadap hasil jadi suatu sediaan, hasil
yang diperoleh, dicatat pada catatan pengujian sediaan jadi.
7. Melaksanakan uji stabilitas dipercepat dan uji stabilitas jangka
panjang untuk menetapkan kondisi penyimpanan dan masa edar
suatu produk.
8. Membantu dalam pelaksanaan kualifikasi dan validasi instalasi
lain.
9. Memantau stabilitas produk-produk yang telah dikeluarkan atau
didistribusikan sampai beberapa waktu setelah batas daluarsa
terutama untuk sediaan antibiotika.
10. Hasil pengujian laboratorium yang dilaksanakan diringkas, dicatat
dan didokumentasikan dalam lembaran yang disebut Laporan
Hasil Pengujian (LHP).
Bangunan Instalwastu terdiri dari:
1. Laboratorium kimia
Ruang laboratorium kimia memiliki peralatan dan fasilitas
yang menunjang pemeriksaan mutu secara kimia, seperti lemari
asam dan climatic chamber.
2. Laboratorium mikrobiologi
Laboratorium mikrobiologi terdiri dari 2 laboratorium, yaitu
laboratorium untuk uji sterilitas dan laboratorium untuk uji
potensi atau uji lainnya. Laboratorium mikrobiologi dilengkapi
dengan ruangan steril dan Laminar Air Flow dan alat pembaca
daya hambat bakteri (Read Biotic) serta alat-alat penunjang
lainnya seperti inkubator untuk jamur dan bakteri, lemari
pendingin dan autoclave.
3. Ruang fisika
Peralatan yang terdapat di ruang fisika antara lain adalah
alat uji kekerasan tablet yang disertai dengan uji ketebalan dan
diameter tablet, alat uji keregasan tablet, alat uji kebocoran strip
dan alat uji waktu hancur tablet.
4. Ruang instrumen

91
Peralatan yang terdapat di ruang instrumen adalah
Spektrofotometer UV–Vis, alat uji disolusi dan HPLC (High
Performance Liquid Chromatography).
5. Ruang timbang
6. Ruang contoh pertinggal
Ruang ini sebagai tempat penyimpanan contoh pertinggal
bahan baku obat dan obat jadi dengan masa simpan minimal satu
tahun setelah masa kadaluarsa.
7. Gudang reagen
8. Perpustakaan
9. Ruang staf
3.3.3 Kegiatan Instalasi Penelitian dan Pengembangan (Installitbang)
Instalasi litbang berperan dalam melakukan penelitian terhadap
produk baru dan pengembangan produk lama untuk memperoleh dan
meningkatkan kualitas produk yang lebih baik. Pelaksanaan kegiatan
dimulai dengan pengajuan rencana penelitian dan pengembangan
produk Lafi Puskesad yang meliputi:
1. Membuat spesifikasi teknis bahan baku obat, bahan pembantu dan
bahan pengemas.
2. Mencari dan meneliti formula yang dapat dikembangkan sebagai
produk Lafi Puskesad.
3. Merevisi ulang suatu formula yang sudah ditetapkan bila suatu
saat terjadi perubahan alat, bahan baku dan komponen produksi
lainnya.
4. Mengadakan evaluasi terhadap keluhan yang terjadi dan obat
kembalian.
Penelitian dan pengembangan dimulai dari penelusuran pustaka,
pengadaan bahan, penelitian skala laboratorium dan skala produksi.
Terakhir dilakukan validasi proses produksi dan pengawasan mutu
bekerja sama dengan Instalprod dan Instalwastu.

92
3.3.4 Kegiatan Instalasi Produksi
Produksi obat-obatan dilaksanakan oleh Instalasi Produksi yang
meliputi perencanaan, pengaturan, pelaksanaan, dan pengendalian
produksi. Produk yang dihasilkan oleh Lafi Puskesad berupa produk
β-laktam dan non β-laktam. Obat-obatan yang diproduksi oleh Lafi
Puskesad tidak diregistrasi ke Badan POM, karena obat Lafiad hanya
digunakan untuk lingkungan prajurit, PNS TNI AD beserta
keluarganya. Namun demikian, proses produksi obat tersebut tetap
dilaksanakan sesuai dengan Pedoman CPOB terkini yang dikeluarkan
oleh BPOM.
Rencana produksi dibuat berdasarkan jumlah dan jenis obat
yang diminta, jenis peralatan yang dimiliki (kapasitas dan spesifikasi
mesin), jumlah sumber daya manusia, jam kerja dan waktu produksi
yang dibutuhkan, serta sistem pendukung dan ketersediaan bahan
baku obat. Ada tiga alur besar dalam proses produksi yang meliputi
alur proses, alur personel, dan alur material.
Alur proses meliputi kegiatan pengolahan dan pengemasan.
Pengolahan dan pengemasan yang dilakukan berdasarkan pada
Prosedur Pengolahan Induk dan Prosedur Pengemasan Induk.
Prosedur Pengolahan Induk menjelaskan secara terperinci pengolahan
suatu produk dalam bentuk sediaan, kekuatan, dan ukuran bets di
mana segala macam alat yang digunakan ditulis. Prosedur
Pengemasan Induk menjelaskan secara terperinci pengemasan suatu
produk. Seluruh proses pengolahan dan pengemasan yang sudah
dilaksanakan dicatat dan didokumentasikan dalam catatan pengolahan
bets dan catatan pengemasan bets. Batch Record ini disusun oleh
masing-masing Kasi produksi, diperiksa oleh Kainstalprod dan
Kainstalwastu, disetujui oleh Kapasitu, diterima oleh Kainstalsimpan,
diketahui oleh Kalafi Puskesad kemudian didistribusikan dan
didokumentasikan. Proses produksi dimulai dari penimbangan bahan
baku dan penyiapan bahan kemas yang akan digunakan dan
dikeluarkan dari Instalsimpan berdasarkan catatan pengolahan bets

93
dan catatan pengemasan bets untuk setiap produk. Barang yang telah
dikeluarkan dari Instalsimpan selanjutnya memasuki tahap pengolahan
pada masing-masing seksi produksi.
Alur personel dan alur barang memiliki alur yang berbeda. Alur
personel dimulai ketika personel hendak memasuki ruang produksi.
Personel harus melepas pakaiannya di loker kelas F dan menggantinya
dengan baju kelas F (jas lab). Personel melewati koridor kelas F dan
memasuki ruang kerja kelas F yang meliputi kegiatan pengemasan dan
pencucian. Jika personel ingin memasuki ruang produksi kelas E
untuk melakukan kegiatan pengolahan (penimbangan sampai
pengemasan primer), personel terlebih dahulu memasuki loker kelas E
untuk mengganti jas lab dengan baju kelas E (cover all). Kemudian
memasuki ruang interlock/air lock/ruang antara atau air shower dan
melewati koridor kelas E. Personel yang ingin memasuki ruang
produksi kelas B di mana merupakan tempat diletakkannya LAF
(Laminar Air Flow) yang merupakan ruang produksi kelas A, terlebih
dahulu melewati ruang kelas D dan C. Di antara dua ruang yang
mempunyai tingkat kebersihan yang berbeda terdapat ruang antara.
Alur material bahan awal dari Instalsimpan ke Instalprod untuk
diproses adalah sebagai berikut: bahan awal yang masih dikemas
dalam kemasan sekunder yang berada di Instalsimpan ruang kelas G,
dibawa oleh petugas Instalsimpan ke ruang antara/interlock yang
membatasi ruang kelas F dan E dimana ruang antara mengikuti ruang
tingkat kebersihan yang lebih tinggi yaitu ruang kelas E untuk dilepas
kemasan sekundernya dan dikeluarkan dari ruang antara oleh petugas
Instalsimpan yang berada di ruang kelas E, kemudian bagian luar dari
kemasan primernya dibersihkan oleh petugas Instalsimpan kelas E dan
barang masuk ke koridor kelas E dibawa ke ruang penimbangan di
kelas E, kemudian bahan awal memasuki unit proses pengolahan kelas
E (penimbangan sampai pengemasan primer) dan selama proses
produksi dilakukan IPC untuk produk antara, produk ruahan dan
produk jadi, sehingga dapat diputuskan apakah produk jadi itu ditolak

94
atau diluluskan. Jika lulus, maka Instalsimpan akan mengirimkan
produk jadi ke Gupus II untuk didistribusikan.
Berikut ini adalah uraian mengenai proses produksi pada
masing-masing seksi yang ada di Instalasi Produksi:
1. Seksi sediaan Non β-laktam
Kasi sediaan non β-laktam adalah seorang Apoteker. Seksi
ini melakukan kegiatan produksi tablet, kapsul, sirup, dan sediaan
cairan obat luar non β-laktam:
a. Sediaan Tablet
Ruang produksi tablet terdiri dari ruang timbang, ruang
mucilago, ruang campur, ruang granulator, ruang pengering,
ruang ayak, ruang cetak, ruang penyalutan, ruang stripping dan
ruang cuci alat. Ruangan-ruangan ini dilengkapi dengan lampu
penerangan yang memadai, HVAC dengan penghisap debu, dan
lapisan epoksi pada dinding dan lantai.
Peralatan yang digunakan untuk pembuatan tablet
diantaranya adalah timbangan elektrik, mesin pembuat mucilago
dengan energi panas dari uap, mesin pencampur basah (super
mixer), mesin pencampur kering, oven pengering/FBD,
granulator, mesin cetak tablet, mesin salut film, dan mesin strip
tablet. Tablet yang diproduksi oleh Lafi Puskesad adalah tablet
biasa, tablet kunyah, tablet salut film, dan tablet salut enterik
dengan ukuran diameter 6,5; 7,5; 10; 12; 13; 15 mm. Metoda
pembuatan tablet yang biasa digunakan adalah metoda cetak
langsung dan granulasi basah. Pembuatan tablet dengan metoda
cetak langsung dimulai dari proses penimbangan bahan baku,
selanjutnya mengikuti proses pencampuran massa cetak sampai
dengan proses penyetripan dan pengemasan tanpa melalui
proses granulasi. Metoda yang lebih sering digunakan adalah
metoda granulasi basah (lampiran 7) dengan tahap sebagai
berikut:
1) Proses penimbangan bahan baku

95
Proses penimbangan bahan baku dan bahan tambahan
lainnya dilakukan di ruang kelas E dan ditimbang oleh
personel Instalsimpan.
2) Proses pembuatan bahan pengikat (mucilago)
Dididihkan sejumlah tertentu aqua demineralisata di
dalam tangki pemanas double jacket. Setelah mendidih,
dimasukkan sejumlah nipagin, diaduk sampai larut. Lalu
dimasukkan gelatin, diaduk homogen. Kemudian dimasukkan
Amylum solani yang sebelumnya sudah dikembangkan dalam
aqua demineralisata sedikit demi sedikit. Selanjutnya
dilakukan pengadukan sampai terbentuk massa bening.
3) Proses pencampuran bahan berkhasiat dengan fase dalam
Bahan berkhasiat dicampurkan dengan fase dalam dan
diaduk sampai homogen. Saat mencampur dilihat sifat bahan
baku seperti higroskopis, kristal, volumines, dan lain-lain.
Serta pencampuran dilakukan sedikit demi sedikit. Parameter
yang harus diperhatikan pada tahap ini adalah jumlah,
kecepatan putaran mesin, dan lama mencampur agar
dihasilkan massa yang homogen.
4) Proses granulasi basah
Pada campuran bahan berkhasiat dengan fase dalam
kemudian ditambahkan sejumlah mucilago dan diaduk
hingga homogen sampai terbentuk massa yang dapat dikepal.
5) Proses pengeringan
Massa yang telah diperoleh kemudian dikeringkan dalam
oven dengan suhu dan waktu tertentu sampai terbentuk massa
setengah kering, tergantung jenis tablet yang dibuat.
Parameter yang harus diperhatikan pada tahap ini adalah suhu
dan lama waktu pengeringan.
6) Proses pengayakan
Massa setengah kering diayak dengan ayakan ukuran
mesh tertentu, tergantung dari jenis dan ukuran tablet.

96
7) Proses pengeringan
Massa yang telah diayak dikeringkan kembali di
oven/FBD dengan suhu dan waktu yang sama seperti
pengeringan sebelumnya sampai mencapai kadar air sekitar
2-5%, tergantung jenis tablet yang dibuat.
8) Proses pengayakan
Massa yang telah kering lalu diayak kembali dengan
ayakan ukuran mesh tertentu sampai diperoleh massa granul.
9) Pengawasan mutu
Terhadap granul yang telah dikeringkan dilakukan
pengujian mutu (IPC), yakni pemeriksaan susut pengeringan.
10) Proses pembuatan massa cetak
Granul yang telah lulus dalam uji mutu (IPC) kemudian
dibuat massa cetak dengan penambahan fasa luar seperti:
pelincir dan penghancur luar, kemudian diaduk hingga
homogen.
11) Pengawasan mutu
Massa cetak yang akan dicetak, sebelumnya dilakukan
pengujian mutu (IPC) terhadap homogenitas kadar zat
aktifnya.
12) Proses pencetakan tablet
Massa cetak yang telah lulus uji mutu kemudian dicetak
dengan mesin cetak tablet yang sebelumnya telah disesuaikan
dengan ukuran dan diameter tablet yang akan dibuat. Selama
proses pencetakan harus diperhatikan kekerasan, ketebalan,
dan keragaman bobot tablet, kemudian hasil cetak tersebut
dialirkan kedalam alat deduster untuk menghilangkan
debu/fines yang masih ada pada permukaan tablet. Parameter
yang harus diperhatikan pada tahap ini adalah tekanan,
kecepatan putaran.

97
13) Pengawasan mutu
Selama pencetakan, dilakukan IPC di ruang produksi
yang meliputi keragaman bobot, kekerasan tablet dan
ketebalan tablet sedangkan pengujian mutu oleh Instalwastu
meliputi uji waktu hancur, keregasan, diameter, tebal,
kekerasan, keragaman bobot tablet, kadar bahan aktif, dan uji
disolusi untuk tablet tertentu pada hasil pencetakan.
14) Proses penyalutan
Pada proses penyalutan, parameter yang harus
diperhatikan adalah suhu, frekuensi penyemprotan, lubang
penyemprotan, waktu penyemprotan, jarak penyemprotan,
dan kecepatan pemutaran mesin. Sedangkan untuk tablet
yang tidak disalut, langsung dikemas (stripping).
15) Pengawasan mutu
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap tablet salut adalah
penampilan, waktu hancur dan keragaman bobot.
16) Proses stripping
Tablet salut ataupun tablet biasa yang telah lulus uji
mutu, distrip dengan menggunakan bahan pengemas
Polycellonium sebagai kemasan primer, dengan suhu mesin ±
80°-100°C. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses
penyetripan yaitu sebelum digunakan seallingroller pada
mesin stripping harus dipanaskan terlebih dahulu. Suhu
mesin tidak boleh terlalu rendah karena akan menyebabkan
kemasan tidak dapat melekat satu sama lain dan juga tidak
boleh terlalu tinggi karena akan menyebabkan perlekatan
yang buruk atau pelelehan pada stripnya.
17) Pengawasan mutu
Pengujian mutu yang dilakukan terhadap hasil stripping
berupa pemeriksaan uji kebocoran strip. Tablet yang telah
distrip akan dikirim ke Seksi Kemas untuk dikemas, lalu obat
jadi dikirim ke Instalsimpan. Setiap produk antara / produk

98
ruah diberi label disimpan di karantina produk antara /
produk ruah sambil menunggu pelulusan dari Instalwastu.
Alur produksi tablet dengan metoda cetak langsung
adalah sebagai berikut:
1) Penimbangan bahan baku
Penimbangan bahan baku antara lain penimbangan
bahan aktif, bahan pengisi, bahan pelincir, dilakukan di
ruang kelas E dan dilaksanakan oleh personil dari
Instalsimpan.
2) Pengayakan
Beberapa bahan baku dilewatkan pada ayakan
dengan ukuran mesh tertentu. Dalam proses pencetakan
langsung sifat alir dan kompresibilitas bahan awal sangat
menentukan tablet yang dihasilkan.
3) Pencampuran
Bahan aktif dan bahan tambahan dicampur
homogen menggunakan mixer.
4) Pengawasan mutu (In Process Control)
Sebelum proses pencetakan, dilakukan
pemeriksaan homogenitas kadar zat aktif.
5) Pencetakan
Bahan campuran kemudian dicetak menjadi tablet.
6) Pengawasan mutu (In Process Control)
Sebelum dikemas primer, dilakukan pemeriksaan
keseragaman bobot, tebal, diameter, kekerasan,
kerapuhan, waktu hancur, kadar zat aktif dan uji disolusi
untuk tablet tertentu.
7) Penyetripan
Setelah tablet selesai dicetak atau disalut (untuk
tablet salut) maka dilakukan proses pengemasan primer
yakni penyetripan (stripping).
8) Pengawasan mutu (In Process Control)

99
Pada hasil penyetripan dilakukan uji mutu (IPC)
meliputi tes kebocoran strip. Tablet yang telah lulus uji
mutu siap dikemas sekunder (pengepakan) dan dikirim
ke Instalsimpan.
b. Sediaan Sirup
Di dalam ruang produksi sirup terdiri dari ruang
pencampuran, ruang pengisian, dan ruang pencucian alat.
Peralatan yang digunakan antara lain mixer, colloid mill, panci
double jacket, drum stainless, mesin pengisi sirup, penutup
botol, dan pemasangan etiket yang merupakan satu rangkaian
(In Line Process). Proses pembuatan sirup yakni:
1) Penimbangan bahan baku
Penimbangan bahan baku dilakukan di ruang kelas E dan
dikerjakan oleh personel Instalsimpan.
2) Pembuatan larutan gula pekat (syrupus simplex)
Pembuatan larutan gula dilakukan dalam panci double
jacket, dimana bahan baku dilarutkan dengan cara
dipanaskan menggunakan elemen listrik dengan gliserin.
3) Pencampuran
Zat aktif dan zat tambahan lain (zat pewarna dan pengawet)
yang telah ditimbang, masing-masing dilarutkan dalam
pelarut yang sesuai sampai larut sempurna, kemudian
dicampur dengan larutan gula pekat. Essence ditambahkan
di akhir pencampuran dan dalam keadaan dingin.
Selanjutnya ditambahkan air sampai tanda batas yang telah
ditentukan sesuai dengan volume yang diinginkan.
4) Pengawasan mutu
Pengujian mutu (IPC) dilakukan terhadap hasil
pencampuran yang terdiri dari uji homogenitas larutan,
kadar zat aktif, pH, dan berat jenis.
5) Pengisian, penutupan, dan labelling

100
Setelah lulus uji mutu maka dapat dilakukan pengisian,
penutupan dan pemberian etiket atau label. Proses tersebut
dilakukan dengan menggunakan mesin ban berjalan yang
bekerja secara semi otomatis. Pada proses ini dikontrol
setiap 15 menit terhadap keseragaman volume, hasil
penutupan, dan pemasangan label.
6) Pengawasan mutu
Terhadap produk yang telah dikemas tetap dilakukan
pemeriksaan mutu yang meliputi keseragaman isi atau
volume, kadar zat aktif, pH larutan, dan bobot jenis. Setelah
lulus uji mutu, dilakukan proses pengemasan untuk
kemudian obat jadi diserahkan ke Instalsimpan. Alur proses
produksi sirup basah dan cairan obat luar.
c. Sediaan Kapsul
Ruang produksi kapsul terdiri dari ruang pencampuran,
ruang pengisian dan polishing, serta ruang stripping. Peralatan
yang digunakan untuk pembuatan kapsul diantaranya adalah
mesin pencampur, mesin pengisi kapsul, mesin polishing, dan
mesin strip. Adapun alur proses produksi kapsul, yakni sebagai
berikut:
1) Penimbangan bahan baku
Penimbangan bahan baku dilakukan di ruang kelas
E dan ditimbang oleh personel Instalasi Simpan.
2) Pencampuran/granulasi
Semua bahan yang telah ditimbang kemudian
dicampur hingga homogen. Bahan yang diisikan ke dalam
cangkang kapsul ada yang harus digranulasi terlebih dahulu
untuk memperbaiki sifat alirnya sedangkan untuk bahan
yang tidak digranulasi dapat langsung diisikan ke dalam
cangkang kapsul.
3) Pengawasan mutu

101
Sebelum massa kapsul diisikan ke dalam cangkang
kapsul, harus dilakukan In Process Control (IPC) oleh
Instalwastu terlebih dahulu untuk diperiksa kadar zat
aktifnya.
4) Pengisian kapsul
Massa kapsul yang telah diluluskan oleh Instalwastu
diisikan ke dalam cangkang kapsul. Selama proses
pengisian, dilakukan pengawasan mutu (IPC) terhadap
keragaman bobot, kadar zat aktif, dan waktu hancur kapsul
dan uji disolusi untuk kapsul tertentu.
5) Polishing
Sebelum dilakukan stripping, kapsul harus melewati
proses polishing terlebih dahulu untuk menghilangkan debu
yang menempel pada bagian luar cangkang kapsul.
6) Penyetripan
Setelah proses polishing, kapsul siap distrip dengan
cara yang sama seperti pada proses stripping tablet.
7) Pengawasan mutu
Terhadap hasil penyetripan dilakukan pengujian
mutu (IPC), yakni uji kebocoran strip. Kapsul yang telah
lulus uji mutu siap dikemas dan obat jadi dikirim ke
Instalsimpan. Alur proses produksi kapsul.
d. Cairan Obat Luar
1) Penimbangan bahan baku
Penimbangan bahan baku dilakukan di ruang kelas
E dan dikerjakan oleh personel Instalsimpan.
2) Pembuatan larutan povidon iodine
Povidon iodine direndam dengan air dan dibiarkan
24 jam, kemudian diaduk sampai homogen.
3) Pencampuran
Zat tambahan lain yang telah ditimbang, masing-
masing dilarutkan dalam pelarut yang sesuai sampai larut

102
sempurna, kemudian dicampur dengan larutan povidon
iodine. Selanjutnya ditambahkan air sampai tanda batas
yang telah ditentukan sesuai volume yang diinginkan.
4) Pengawasan mutu
Pengujian mutu (IPC) dilakukan terhadap hasil
pencampuran yang terdiri dari kadar zat aktif, berat jenis,
dan pH.
5) Pengisian, penutupan, dan labelling
Setelah lulus uji mutu maka dapat dilakukan
pengisian, penutupan dan pemberian etiket atau label.
6) Pengawasan mutu
Terhadap produk yang telah dikemas tetap
dilakukan pemeriksaan mutu yang meliputi keseragaman isi
atau volume, kadar zat aktif, pH dan bobot jenis. Setelah
lulus uji mutu, dilakukan proses pengemasan kemudian obat
jadi diserahkan ke Instalsimpan.
2. Seksi Sediaan β-laktam
Seksi ini bertugas khusus memproduksi produk β-laktam.
Adapun yang perlu diperhatikan dalam proses produksi β-laktam
adalah:
a. Gedung
Gedung produksi β-laktam hendaklah terpisah dengan
gedung produksi non β-laktam untuk mencegah kontaminasi
silang (cross-contamination). Pada gedung produksi β-laktam di
Lafi Puskesad telah dilengkapi dengan sistem pengaturan udara
(Air Handling System), air washer, air shower, dan ruang
penyangga (air lock), serta lantai, dinding, dan langit-langit
telah dilapisi oleh bahan epoksi.
b. Ruangan
Ruangan untuk produksi sediaan β-laktam terdiri dari:
1) Ruang kelas E khusus, adalah ruangan untuk pengolahan
produk peroral.

103
2) Ruang kelas F, adalah ruangan untuk pengemasan sekunder.
3) Ruang kelas G, adalah ruangan untuk gudang Bahan Baku
Obat (BBO) dan bahan kemas.
c. Kelas Kebersihan
Perbedaan ruangan untuk produksi sediaan β-laktam dapat
dilihat pada Sistem pengaturan udara (Air Handling
System/AHS):
1) Spesifikasi ruang kelas E, penambahan udara segar (fresh
air) sebanyak 10 – 20% dengan efisiensi saringan udara
99,95%, suhu ruangan 20 – 27°C dan RH maksimum 70%.
2) Spesifikasi ruang kelas F, suhu ruang pengemasan sekunder
20–28°C.
3) Spesifikasi ruang kelas G, suhu ruang/suhu kamar.
d. Personel
Setiap personel yang akan bekerja di ruang β-laktam
diharuskan menggunakan pakaian khusus, lengkap dengan
perlengkapannya yang berupa masker, penutup kepala, sepatu,
dan sarung tangan sesuai dengan tempat atau ruangan dimana
personel melakukan tugasnya untuk mencegah kontaminasi
silang baik kontaminasi personel terhadap sediaan ataupun
sebaliknya. Setelah memasuki ruang pengolahan β-laktam
personel melewati air shower yang dimaksudkan untuk
menghindari adanya partikel-partikel β-laktam keluar dari ruang
produksi dan menghilangkan partikel-partikel pengotor yang
melekat pada pakaian. Setelah personel keluar dari ruang
pengolahan β-laktam, personel melewati air shower kembali
kemudian personel diharuskan untuk mandi.
3. Seksi Sediaan Sefalosporin
Seksi sediaan sefalosporin bertugas memproduksi sediaan
sefalosporin yang merupakan turunan β-laktam, dimana dalam hal
ini berupa sediaan injeksi sefalosporin generasi ke-3. Sampai saat
ini, Seksi sediaan sefalosporin baru melakukan media fill dan

104
belum berproduksi karena masih menunggu proses sertifikasi dari
Badan POM. Adapun hal yang perlu diperhatikan dalam produksi
sefalosporin adalah:
a. Ruangan untuk produksi sediaan injeksi sefalosporin terdiri
dari:
1) Ruang kelas A, merupakan ruang di dalam cubicle untuk
pengisian serbuk injeksi yang dilengkapi dengan Laminar
Air Flow (LAF) dan HEPA filter. Di ruang ini terdapat juga
ruang antara yang dilengkapi dengan airlock in dan air lock
out.
2) Ruang kelas B, merupakan latar belakang kelas A.
3) Ruang kelas C untuk mengganti pakaian.
4) Ruang kelas D, merupakan ruang pencucian vial/kemasan
primer, dan ruang penutupan vial.
5) Ruang kelas F, adalah ruangan untuk pengemasan sekunder.
6) Ruang kelas G, adalah ruangan untuk gudang Bahan Baku
Obat (BBO), bahan kemas dan obat jadi.
b. Sistem pengaturan udara (Air Handling System/AHS):
1) Untuk ruang kelas A adalah dengan sistem tertutup (closed
system).
2) Spesifikasi ruang kelas B hampir sama dengan kelas A,
namun ada penambahan udara segar (fresh air) sebanyak
10-20%. Hal ini dimaksudkan karena ruangan kelas B
merupakan ruang kerja personel sehingga membutuhkan
udara segar yang lebih banyak.
3) Ruang kelas D menggunakan fresh air.
Secara umum, udara kotor di dalam ruangan disedot
melalui grill outlet, kemudian disaring dengan beberapa
filter yakni pre-filter dan medium filter. Khusus untuk ruang
kelas B dan C ditambahkan HEPA filter pada langit-langit
ruangan. Udara segar (fresh air) yang berasal dari luar
ruangan pun mengalami proses yang sama. Sebelum masuk

105
ke dalam ruangan, udara segar yang telah disaring dan udara
yang berasal dari grill outlet yang juga telah disaring akan
dicampur dan melewati filter lagi sebelum akhirnya masuk
ke ruangan melewati grill inlet.
4. Seksi Kemas
Kasi Kemas dijabat oleh seorang Kepala Seksi yang bertanggung
jawab kepada Kainstalprod. Proses pengemasan dilakukan terhadap
produk ruahan tablet, kapsul, sirup dan cairan obat luar, sebagai
berikut:
a. Pengemasan tablet dilakukan setelah proses stripping. Tablet
yang sudah distrip kemudian dilakukan penyortiran lalu
dimasukkan ke dalam sak plastik dan dilengkapi dengan brosur
dan selanjutnya di seal. Tiap sak plastik berisi 25 strip dan tiap
strip berisi 10 tablet. Hasil seal kemudian dimasukkan ke dalam
dus dan dilengkapi dengan identitas produk. Isi tiap dus berbeda-
beda sesuai dengan ukuran diameter tablet yang dikemas. Untuk
diameter tablet 6,5 – 7,5 mm 1 dus berisi 50 sak, untuk diameter
tablet 10–13 mm 1 dus berisi 30 sak, untuk diameter 15 mm atau
kaplet 1 dus berisi 20 sak.
b. Pengemasan kapsul dilakukan setelah proses stripping dengan
cara yang sama seperti pada pengemasan tablet. Isi tiap dus
adalah 20 sak plastik, di mana tiap sak plastik berisi 25 strip dan
tiap strip berisi 10 kapsul.
c. Pengemasan sirup menggunakan dus dilengkapi dengan sendok
takar dan brosur, dimana tiap dus berisi 36 botol untuk botol
bervolume 60 ml, 25 botol untuk botol bervolume 100 ml.
d. Pengemasan cairan obat luar, pengemasan menggunakan dus,
dimana tiap dus berisi 36 botol untuk botol bervolume 60 ml, dan
10 botol untuk bervolume 1 L.
3.3.5 Kegiatan Instalasi Penyimpanan
Kegiatan Instalsimpan meliputi penerimaan, penyimpanan dan
pengeluaran atas perintah Kalafi serta menyelenggarakan dan

106
melaksanakan kegiatan pengamanan dan pemeliharaan material yang
berupa: bahan baku, bahan pendukung, peralatan untuk proses
produksi dan obat jadi.
Barang dari rekanan tidak langsung diterima oleh Instalsimpan
Lafi tetapi diterima oleh Gudang Pusat II sesuai aturan penerimaan
barang kemudian diperiksa secara administrasi dan fisika oleh tim
komisi dan uji mutu oleh Instalwastu. Selama pengujian, barang
disimpan di gudang karantina. Bila barang-barang tersebut telah
memenuhi syarat, maka barang tersebut akan dipindahkan ke gudang
bahan produksi, diantaranya gudang bahan baku, gudang bahan
pengemas dan gudang bahan pendukung. Tim komisi akan membuat
Berita Acara Penerimaan Barang (BAPB). Barang tersebut dapat
dikeluarkan ke instalansi penyimpanan setelah adanya Perintah
Pengeluaran Material (PPM) dari Dirkesad. Instalsimpan kemudian
akan melakukan pencatatan pada Kartu Kendali (Kardek) sesuai
jumlah barang yang masuk.
Barang-barang yang tersimpan di gudang Instalsimpan disusun
berdasarkan jenis dan sifat barang, barang yang kecil disimpan di atas
rak, barang dengan ukuran besar disimpan di atas pallet, barang yang
higroskopis dan termolabil disimpan di gudang sejuk. Untuk
pengeluaran barang disesuaikan dengan jadwal produksi dan
jumlahnya disesuaikan dengan catatan pengolahan bets, sedangkan
Sistem First in First Out (FIFO), First Expired First Out (FEFO),
tetap menjadi prioritas, namun demikian barang yang diterima oleh
Instalsimpan adalah barang yang langsung di pakai oleh Instalasi
Produksi. Material produksi tersebut oleh Instalasi Produksi diolah
dan dikemas menjadi produk jadi, kemudian seksi kemas
menyerahkan produk jadi tersebut kepada Instalsimpan, yang
selanjutnya diserahkan ke Gudang Pusat II.
Penyelenggaraan administrasi yang menyertai penerimaan dan
pengeluaran barang dari dan ke Instalsimpan Lafi terdiri dari:

107
1. Perintah Penerimaan Material (PPnM)
2. Perintah Pengeluaran Material (PPM)
3. Berita Acara Penerimaan Barang (BAPB)
4. Nota Pengeluaran Material (NPM)
5. Bukti Penyerahan (BP)
6. Surat Keluar Barang (SKB)
7. Kartu Gudang
8. Kartu Kendali
9. Buku Harian Penerimaan dan Pengeluaran Barang
10. Buku Besar Penerimaan dan Pengeluaran Barang
Instalsimpan mempunyai 3 gudang yang terpisah untuk
material Non β-laktam, β-laktam, dan Sefalosporin. Material Non β-
laktam disimpan di Instalsimpan yang memiliki ruang-ruang dengan
2 kelas yang berbeda tingkat kebersihannya yaitu kelas E dan G
(berhubungan langsung dengan udara luar). Kelas E terdiri dari
ruang timbang, ruang staging (digunakan untuk penyimpanan bahan
baku obat yang sudah ditimbang) dan ruang sampling. Kelas G
terdiri dari ruang administrasi, gudang bahan baku, gudang bahan
pendukung, gudang bahan kemas, gudang cairan, gudang sejuk
untuk menyimpan bahan baku obat dan bahan pendukung yang
memerlukan kondisi penyimpanan khusus dan gudang obat jadi.
Material untuk produksi β-laktam disimpan tersendiri di gedung
produksi β-laktam dan material untuk produksi sefalosporin
disimpan di gedung sefalosporin.
Peralatan yang digunakan di Instalsimpan, yaitu:
1. Timbangan dengan kapasitas 5kg dan 10kg
2. Timbangan digital berprinter dengan kapasitas 310g dan 60 kg
3. Alat pengusir serangga dan pengusir tikus
4. Alat pengambilan sampel
5. Rak, pallet.
3.3.6 Kegiatan Instalasi Pemeliharaan dan Sistem Penunjang (Instalhar &
Sisjang)

108
Instalasi pemeliharaan dan sistem penunjang merupakan
pelaksana fungsi pemeliharaan dan perbaikan terhadap alat produksi
dan alat laboratorium sehingga siap digunakan, penatalaksanaan
limbah industri, menyiapkan utillitas guna mendukung kegiatan
produksi dan merencanakan kebutuhan suku cadang untuk
mendukung kegiatan pemeliharaan dan perbaikan. Seluruh kegiatan
pemeliharaan dan perbaikan dilaporkan kepada Kalafi. Penanggung
jawab pengolahan fasilitas utility ini adalah Kepala Instalasi
Pemeliharaan dan Sistem Penunjang (Kainstalhar & Sisjang).
Fasilitas utility terdiri dari:
1. Listrik
Sumber listrik Lafi Puskesad berasal dari PLN dengan daya
sebesar 1000 kV. Pada saat ini belum digunakan generator
karena masih dalam tahap pengajuan.
2. Pengolahan Air
Sumber air bersih didapat dari suplai Perusahaan Daerah
Air Minum (PDAM) yang kemudian diolah menjadi air baku
farmasi melalui instalasi pengolahan air. Air baku farmasi
adalah air yang telah memenuhi syarat untuk digunakan sebagai
bahan baku air untuk produksi steril maupun nonsteril.
Pemilihan PDAM sebagai sumber air oleh Lafi Puskesad adalah
karena banyaknya kandungan logam pada air tanah.
a. Pengolahan Air Demineralisata
Sumber air bersih berasal dari Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) kemudian diolah menjadi air baku farmasi
melalui instalasi pengolahan air. Air yang berasal dari PDAM
terlebih dahulu ditampung pada tangki yang tertanam di
dalam tanah (ground tank) kemudian dialirkan melalui pipa
ke dalam suatu alat filtrasi. Air yang diolah menjadi air
demineralisata mengalami beberapa tahap:
1) Saringan Pasir (sand filter)

109
Menyaring secara fisik menggunakan pasir silika
dan berfungsi untuk mengikat partikel-partikel yang
terbawa oleh air selama pengolahan air di PDAM.
2) Saringan Karbon (carbon filter)
Saringan karbon berfungsi untuk menyerap bau,
rasa, warna, kontaminan organik dan unsur klor yang
ditambahkan pada pengolahan air di PDAM.
3) Resin Kation
Resin kation berfungsi untuk menghilangkan ion-
ion positif pada air dan kemudian akan digantikan dengan
ion hidrogen.
4) Resin Anion
Resin anion berfungsi untuk menghilangkan ion-ion
negatif dan ditukar dengan ion hidroksida, sehingga
menghasilkan air dengan kandungan Total Dissolved Solid
(TDS) kurang dari 8 ppm dan silika kurang dari 0,1 ppm.
Setelah mengalami beberapa tahap pemurnian, air
demineralisata ditampung dan dialirkan ke ruangan-
ruangan produksi dan laboratorium untuk digunakan.
a) Tanki penampung
b) Air demineralisata ditampung dalam tangki penampung
untuk dialirkan ke ruangan-ruangan produksi untuk
digunakan sesuai dengan keperluan.
b. HPW (High Purified Water)
Instalasi HPW merupakan kelanjutan dari instalasi air
demineralisata yang dihubungkan dengan alat reverse
osmosis sehingga dihasilkan HPW.
c. Mekanisme Kerja Pengolahan Purifed Water System
Purifed Water System merupakan sistem pengolahan air
yang dapat menghilangkan berbagai cemaran (ion, bahan
organik, partikel, mikroba dan gas) yang terdapat di dalam air
yang akan digunakan untuk produksi. Air (raw water)

110
pengolahan air dapat diperoleh dari air PDAM (city water),
Shallow well (sumur dangkal) dengan kedalaman 10-20 m,
atau berasal dari Deep well (sumur dalam) dengan kedalaman
80-150 m. Variasi mutu dari pasokan air mentah (raw water)
yang memenuhi syarat ditentukan dari target mutu air yang
akan dihasilkan. Demikian pula mutu air menentukan
peralatan yang diperlukan untuk pengolahan air tersebut.
Purified water system terdiri dari: Multimedia filter, Carbon
filter, Water softener, Heat Exchanger (HE), Micro filter,
Ultra filtration (R.O = Reverse Osmosis), dan Electro De-
Ionization (EDI).
1) Multimedia filter
Multimedia filter berfungsi untuk menghilangkan
lumpur, endapan dan partikel-partikel yang terdapat pada
raw water. Multimedia filter terdiri dari beberapa filter
dengan porositas 6-12 mm; 2,4 – 4,8 mm; 1,2-2,4 mm;
dan 0,6-1,2 mm. Filter-filter ini tersusun dalam satu
vessel (tabung) dengan bagian bawah tabung diberikan
gravel atau pasir sebagai alas vessel (sehingga sering
juga disebut dengan sand filter).
2) Active Carbon Filter
Carbon aktif adalah karbon yang telah diaktifkan
dengan menggunakan uap bertekanan tinggi atau karbon
dioksida (CO2) yang berasal dari bahan yang memiliki
daya adsorbsi yang sangat tinggi. Biasanya digunakan
dalam bentuk granular (butiran). Active carbon
berfungsi sebagai pre-treatment sebelum proses de-
ionisasi untuk menghilangkan chlorine, chloramine,
benzene, pestisida, bahan-bahan organik, warna, bau dan
rasa dalam air.
3) Water Softenerfilter

111
Water softenerfilter berisi resin anionik yang
berfungsi untuk menghilangkan dan/atau menurunkan
kesadahan air dengan cara mengikat ion Ca++ dan Mg++
yang menyebabkan tingginya tingkat kesadahan air
4) Reverse Osmosis
Reverse osmosis merupakan teknik pembuatan air
murni (purified water) yang dapat menurunkn hingga
95% Total Dissolve Solids (TDS) di dalam air. Reverse
osmosis terdiri dari lapisan filter yang sangat halus
(hingga 0,0001 mikron).
5) EDI (Elektonic De-Ionization)
EDI merupakan perkembangan dari Ion
Exchangesystem dimana sebagai pengikat ion (+) dan (-)
dipakai juga elektroda disamping resin. Elektroda ini
dihubungkan dengan arus listrik searah sehingga proses
pemurnian air dapat berlangsung terus menerus tanpa
perlu regenerasi. Setelah melewati EDI, selanjutnya
purified water yang dihasilkan ditampung dalam tanki
penampungan (storage tank) yang dilengkapi dengan
CIP (cleaning in place) dan looping system dan siap
didistribusikan ke ruang produksi.
d. Mekanisme Kerja Pengolahan Water For Injection (WFI)
Pengolahan air untuk injeksi (Water For Injection/WFI)
berasal dari purified water system, yang selanjutnya
dilakukan destilasi (penyulingan) dengan terlebih dahulu
melewati lampu UV untuk membunuh bakteri. Sesuai dengan
persyaratan CPOB yang terbaru, proses destilasi
menggunakan 6 (enam) kolom destilasi, artinya air yang
digunakan untuk produk-produk steril tersebut mengalami 6
kali proses destilasi. Dengan unit ini diperoleh air untuk
injeksi yang memenuhi persyaratan Water For Injection
(WFI). Selanjutnya, WFI yang dihasilkan kemudian disimpan

112
dalam storage tank pada suhu 70-80°C sebelum
didistribusikan untuk produksi produk steril.
3. Boiller (Steam)
Air baku untuk menghasilkan uap panas adalah aqua
demineralisata yang diberi tekanan melalui pompa air masuk ke
filter kemudian ditampung di dalam tangki stainless steel untuk
mensuplai steam. Air dipanaskan melalui boiler hingga menjadi
uap. Alat ini bekerja secara semi otomatis dengan alat-alat
pengaman yang lengkap. Udara panas yang dihasilkan dialirkan
melalui pipa ke ruang-ruang produksi yang membutuhkannya.
4. Udara Bertekanan
Udara bertekanan diperoleh dengan menggunakan alat
kompresor yang bekerja secara otomatis dengan alat pressure
switch. Kompresor juga dilengkapi dengan air dryer, main line
filter, mist separator dan micro mist separator. Instalasi
kompresor ini digunakan hanya pada peralatan yang
memerlukan udara bertekanan seperti mesin stripping (udara
bertekanan digunakan untuk menggerakkan pisau pemotong
strip).
5. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
Limbah dari industri farmasi harus diolah sedemikian rupa
sehingga memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan agar tidak
mencemari lingkungan di sekitar industri tersebut. Limbah Lafi
Puskesad berasal dari proses produksi dan proses pengujian
yang terbagi atas limbah padat dan limbah cair.
Pada produksi obat Non β-laktam, pengolahan limbah padat
dilakukan dengan menggunakan dust collector dimana limbah
berupa debu disedot dari ruang produksi dengan blower
kemudian dikumpulkan dalam kantong penampung dan dibakar.
Khusus untuk limbah dari proses penyalutan tablet, terlebih
dahulu diolah dengan air washer. Sedangkan limbah cair

113
produksi Non β-laktam langsung dialirkan ke Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Pada produksi β-laktam, pengolahan limbah terlebih dahulu
diolah melalui air washer, dimana limbah padat (debu-debu)
disedot oleh blower dari ruangan yang berdebu seperti ruang
strip, isi kapsul, cetak, coating, campur dan ruang isi sirup
kering, kemudian disemprot dengan air bertekanan 4 bar
sehingga debu akan jatuh di bak penampungan. Air dialirkan ke
bak destruksi yang dilengkapi dengan dozing pump dan pH
meter. Cairan ini didestruksi untuk memecah cincin β-laktam
dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 N yang diteteskan
secara otomatis sampai diperoleh pH 9, kemudian dinetralkan
dengan penambahan HCl. Sedangkan limbah cair produksi obat
Non β-laktam tidak mengalami proses destruksi. Selanjutnya,
limbah hasil produksi β-laktam dialirkan ke IPAL untuk
dilakukan pengolahan lebih lanjut.
Pengolahan limbah pada IPAL menggunakan prinsip fisika,
kimia dan mikrobiologi. Cara fisika dilakukan dengan cara
mengendapkan kotoran pada bak sedimentasi. Cara kimia
dilakukan dengan menambahkan koagulan PAC (Poly
Alumunium Chloride) dengan kekuatan 50 kg/1000 L pada bak
koagulan sehingga terbentuk agregat, kemudian ditambahkan
polimer elektrolit dan poli anionik dengan kekuatan 1 kg/1000L
pada bak flokulasi, yang akhirnya membentuk endapan. Cara
mikrobiologi dilakukan pada bak aerasi dengan cara
mengembangbiakkan bakteri aerob SGP 50 di dalamnya agar
dapat menghancurkan zat-zat organik. Untuk menjaga
pertumbuhan bakteri ditambahkan pupuk urea atau NPK sebagai
nutrisi untuk bakteri. Tahapan pengolahan air limbah di IPAL
meliputi beberapa tahap sebagai berikut:

114
a. Bak Sedimentasi Awal
Pada Bak Sedimentasi awal terjadi proses fisika
dimana terjadi pengendapan, khusus untuk limbah dari β-
laktam yang sudah didestruksi.
b. Bak Ekualisasi
Bak penampungan air limbah yang mengalir dari
bak sedimentasi awal, di bak ini mengalami proses fisika
atau pencampuran endapan air limbah. Bak equalisasi
dipasang dua alat:
1) Pump/pompa
Berfungsi untuk mengendalikan fluktuasi jumlah air
kotor yang tidak merata baik pada jam kerja ataupun di
luar jam kerja serta mengalirkan air limbah dari bak
ekualisasi ke bak aerasi secara otomatis.
2) Pengaduk
Fungsinya untuk mengaduk bahan-bahan organik
agar tidak mengendap.
c. Bak Aerasi (Aeration Tank)
Pada Bak Aerasi terjadi proses biologi. Bak ini
dilengkapi dengan dua alat yaitu:
1) Diffuser
Berfungsi untuk mengaduk air limbah supaya tidak
ada yang mengendap.
2) Aerator
Berfungsi untuk memasukkan oksigen ke dalam air
limbah dan juga ditanam bakteri aerob (jenis SGP-50)
yang berguna untuk dekomposisi limbah organik dengan
bantuan oksigen. Prosesnya 18-24 jam. Sebagai nutrisi
berupa pupuk NPK (urea).
d. Bak Clarifier (sedimentasi kedua)
Dasar bak ini bentuknya miring kesatu arah supaya
memungkinkan pengendapan lumpur yang terbawa atau

115
tersuspensi dalam air limbah. Air dari bak aerasi bila
diffuser tidak aktifakan mengalir ke dalam lubang kecil
dalam bentuk tersuspensi. Bila diffuser aktif, pengendapan
atau lumpur akan masuk kembali ke bak aerasi.
e. Bak Koagulasi
Pada bak ini terjadi proses kimia dimana terdapat
dua alat, yaitu:
1) Dozing pump
Berfungsi untuk menambahkan koagulan PAC (Poli
Ammonium Clorida) yang berfungsi untuk mengikat
protein rantai panjang yang masih ada dalam air limbah
dan membentuk agregat.
2) Pengaduk
f. Bak Flokulasi
Air limbah ditambah polianionik, kemudian terbentuk
endapan. Air yang bersih akan mengalir ke bak kontrol
melalui bidang miring sedangkan air yang belum bersih akan
mengalir ke bak sedimentasi tiga melalui pipa besar.
g. Bak Sedimentasi Ketiga
Bagian bawahnya berbentuk kerucut dan ditambah
saringan-saringan dari ijuk dan karung yang berfungsi
sebagai penyaring endapan kemudian cairan ini akan masuk
ke bak penampungan cairan lalu dipompa kembali ke bak
ekualisasi.
h. Bak Kontrol
Air yang terdapat dalam bak ini diperiksa kadar COD
(Chemical Oxygen Demand), BOD (Biological Oxygen
Demand) dan TDS (Total Dissolve Solid) dan pH. Jika
hasilnya memenuhi syarat, maka air dapat dibuang ke saluran
pembuangan air umum. Sebagai kontrol pada bak ini
dipelihara ikan bila ikannya matiberarti air belum bebasdari
pencemaran sehingga harusdiolah lagi.

116
6. Air Handling System (AHS)
Air Handling System (AHS) adalah sistem pengaturan udara
yang berfungsi mengkondisikan udara dalam ruangan produksi
yang dilengkapi dengan sarana pengatur suhu dan
kelembaban.Parameter ini dapat mempengaruhi kualitas produk
dari industri farmasi, selain itu juga terdapat parameter lainnya
antara lain air change (pertukaran udara), tekanan udara, suhu,
kelembaban dan cemaran partikel. Tujuan dari sistem ini adalah
untuk menyediakan aliran udara kering, bersih dan dingin yang
tepat untuk tiap-tiap ruangan produksi.
Pada AHU untuk kelas B, C dan D dilengkapi dengan
prefilter, medium filter dan HEPA filter, sedangkan udara yang
masuk ke ruang-ruang kelas B dan C disaring kembali dengan
HEPA filter. Ruang kelas A dilengkapi dengan LAF. Pada ruang
produksi tekanan udara ruangan akan lebih negatif dari tekanan
udara pada koridor.. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah
kontaminasi debu, karena aliran udara bergerak dari tekanan yang
tinggi ke yang lebih rendah. Pada ruang produksi β-laktam ,
tekanan udara di dalam ruang produksi juga lebih rendah daripada
koridor supaya tidak terjadi pencemaran partikel β-laktam ke
daerah koridor yang dilewati personil. Berikut pengendalian udara
saat keadaaan non oprasional di beberapa ruang produksi Lafi
Puskesad:
a. Pengendalian udara di ruang kelas D/E
Ukuran partikel : ≥ 0,5 μm maksimum 3.520.000/m3
Relative Humidity: 40 – 60 % (D) dan maks 70 % (E)
Filter: Primary filter (efisiensi 30 - 60 %)
Secondary filter (efisiensi 80 – 95 %)
Sirkulasi udara: < 20 kali per jam
Asal udara: recide/fresh air
b. Pengendalian udara di ruang kelas C
Ukuran partikel: ≥ 0,5 μm maksimum 352.000/m3

117
Relative Humidity: 45 – 55 %
Filter: Primary filter (efisiensi 30 - 60 %)
Secondary filter (efisiensi 80 – 95 %)
HEPA filter (efisiensi 99,95 %)
Sirkulasi udara: > 20 kali per jam
Asal udara: fresh air
c. Pengendalian udara di ruang kelas A/B
Ukuran partikel: ≥ 0,5 μm maksimum 3.520/m3
Relative Humidity: 45-55 %
Filter: Primary filter (efisiensi 30 - 60 %)
Secondary filter (efisiensi 80 – 95 %)
HEPA filter (efisiensi 99,995 %)
Sirkulasi udara: > 120 kali per jam dan bersifat Laminar
Asal udara: fresh air 10 % dan sirkulasi 90 %
Pengendalian udara di kelas B sama dengan pengendalian
di kelas A, namun tanpa Laminar Air Flow.
Pengumpul debu (dust collector) adalah suatu pembersih
yang bekerja dengan cara menghisap debu-debu yang terdapat
pada ruang-ruang produksi. Untuk wet dust collector (air washer)
dilakukan pencampuran aliran udara yang berdebu dengan air
(RotoKlon). Hasil olahan air washer tersebut selanjutnya dibawa
ke IPAL untuk diolah lebih lanjut, khusus untuk hasil olahan air
washer dari produksi β-laktam terlebih dahulu melewati
destruktor.
Cara Kerja AHS: Sistem tata udara secara umum dapat
dijelaskan secara singkat sebagai berikut: Suplai udara dalam
sistem tata udara berasal dari udara luar (udara terbuka) dikenal
istilah fresh air. Volume fresh air yang masuk ke sistem
ditentukan oleh volume damper yang telah terpasang. Udara
tersebut disaring pada saringan pertama / pre filter yang mampu
menangkap partikel yang berukuran ≥ 1 µm. Udara tersebut akan
disaring kembali untuk yang kedua kalinya oleh medium filter

118
yang mampu menangkap partikel yang berukuran ≥ 0.5 µm.
Selanjutnya oleh Cooling Coil udara tersebut diatur suhu dan
kelembabannya sesuai dengan yang dikehendaki.
Udara yang sudah terkondisi tersebut akan dihembuskan
oleh fan coil ke kelas C dan D. Fan Coil berfungsi sebagai
pengatur jumlah sirkulasi udara (air change) yang dalam kerjanya
dikombinasikan dengan sistem damper. Udara bersih yang
dihembuskan ke kelas D berasal dari fresh air yang diproses.
Suplai udara untuk ruang kelas A dan B merupakan udara recycle
yang bersirkulasi terus menerus melalui filter-filter yang
digunakan.
Untuk mencukupi suplai oksigen di kelas A dan B,
dimasukkan udara segar melalui damper yang dapat mencukupi
suplai oksigen ± 20%. Sistem ini dibuat dengan proses
pengolahan seperti aliran udara untuk kelas D kemudian langsung
disalurkan melewati HEPA filter ke kelas A dan B.
7. Air Handling Unit (AHU)
Sesuai dengan fungsinya, AHU merupakan seperangkat alat
yang dapat mengontrol suhu, kelembaban, tekanan udara, tingkat
kebersihan (jumlah partikel/mikroba), pola aliran udara, jumlah
pergantian udara dan sebagainya, di ruang produksi sesuai dengan
persyaratan ruangan yang telah ditentukan. Unit/sistem yang
mengatur tata udara ini disebut AHU (Air Handling Unit). Di
sebut “unit”, karena AHU terdiri dari beberapa alat yang masing-
masing memiliki fungsi yang berbeda.
Pada dasarnya AHU terdiri dari:
a. Cooling coil
Cooling coil (sering pula disebut dengan
istilah evaporator) berfungsi untuk mengontrol suhu
(temperature/t) dan kelembaban relatif (Relative
Humidity/RH) udara yang akan didistribusikan ke ruangan
produksi. Hal ini dimaksudkan agar dapat dihasilkan

119
output udara, sesuai dengan spesifikasi ruangan yang telah
ditetapkan. Proses pendinginan udara sendiri dilakukan
dengan mengalirkan udara yang berasal dari campuran udara
balik (return air) dan udara luar (fresh air) melalui kisi-kisi
(coil) evaporator yang bersuhu rendah. Proses tersebut
menyebabkan terjadinya kontak antara udara dan permukaan
kisi evaporator yang akan menghasilkan udara dengan suhu
yang lebih rendah. Proses ini juga akan menyebabkan kalor
yang berada dalam uap air yang yang terdapat di dalam udara
ikut berpindah ke kisi evaporator, sehingga uap air akan
mengalami kondensasi. Hal ini menyebabkan kelembaban
udara yang keluar dari evaporator juga akan
berkurang. Evaporator harus dirancang sedemikian rupa
sehingga kisi-kisinya memiliki luas permukaan kontak yang
luas, sehingga proses penyerapan panas dari udara di dalam
evaporator dapat berlangsung dengan efektif.
b. Static Pressure Fan (blower)
Blower adalah bagian dari AHU yang berfungsi untuk
menggerakkan udara di sepanjang sistem distribusi udara
yang terhubung dengannya. Blower yang digunakan dalam
AHU berupa blower radial yang memiliki kisi-kisi penggerak
udara yang terhubung dengan motor penggerak blower.
Motor ini berfungsi untuk mengubah energi listrik menjadi
energi gerak. Energi gerak inilah yang kemudian disalurkan
ke kisi-kisi penggerak udara hingga kemudian dapat
menggerakkan udara. Blower ini dapat di atur agar selalu
menghasilkan frekuensi perputaran yang tetap, hingga akan
selalu menghasilkan output udara dengan debit yang tetap.
Dengan adanyadebit udara yang tetap tersebut maka tekanan
dan pola aliraran udara yang masuk ke dalam ruang produksi
dapat dikontrol.

120
c. Filter
Filter merupakan bagian dari AHU yang berfungsi
untuk mengendalikan dan mengontrol jumlah partikel dan
mikroorganisme (partikel asing) yang mengkontaminasi
udara yang masuk ke dalam ruang produksi. Filter, biasanya
ditempatkan di dalam rumah filter(filter house) yang didesain
sedemikian rupa agar mudah untuk dibersihkan dan/atau
diganti. Hal penting yang harus diperhatikan dalam
pemasangan filter ini adalah penempatan posisi filter harus
diatur sedemikian rupa sehingga dapat “memaksa” seluruh
udara yang akan didistribusikan tersebut
melewati filter terlebih dahulu. Filteryang digunakan untuk
AHU dibagi menjadi beberapa jenis/tipe, tergantung
efisiensinya, yaitu (a) pre-filter (efisiensi penyaringan: 35%);
(b) medium filter (efisiensi penyaringan: 95%); dan (c) High
Efficiency Particulate Air (HEPA) filter (efisiensi
penyaringan: 99,997%). Hal penting yang perlu diperhatikan
dalam pemasangan filter ini adalah posisi
penempatan filter harus diatur berdasarkan jenis dan efisiensi
penyaringan filter yang akan menentukan kualitas udara yang
dihasilkan.
d. Ducting
Ducting adalah bagian dari AHU yang berfungsi
sebagai saluran tertutup tempat mengalirnya udara. Secara
umum, ductingmerupakan sebuah sistem saluran udara
tertutup yang menghubungkan blower dengan ruangan
produksi, yang terdiri dari saluran udara yang masuk (ducting
supply) dan saluran udara yang keluar dari ruangan produksi
dan masuk kembali ke AHU (ducting return). Ducting harus
didesain sedemikian rupa sehingga dapat mendistribusikan
udara ke seluruh ruangan produksi yang membutuhkan,
dengan hambatan udara yang sekecil mungkin.

121
Desainducting yang tidak tepat akan mengakibatkan
hambatan udara yang besar sehingga akan menyebabkan
inefisiensi energi yang cukup besar. Ducting juga harus
didesain agar memiliki insulator di sekeliling permukaannya,
yang berfungsi untuk menahan penetrasi panas dari udara
luar yang memiliki suhu yang lebih tinggi bila dibandingkan
dengan suhu di dalam ducting.
e. Dumper
Dumper adalah bagian dari ducting AHU yang
berfungsi untuk mengatur jumlah (debit) udara yang
dipindahkan ke dalam ruangan produksi. Besar
kecilnya debit udara yang dipindahkan dapat diatur sesuai
dengan pengaturan tertentu pada dumper. Hal ini amat
berguna terutama untuk mengatur besarnya debit udara yang
sesuai dengan ukuran ruangan yang akan menerima distribusi
udara tersebut.
3.3.7 Dokumentasi
Dokumentasi merupakan bagian dari sistem informasi
manajemen dari sebuah organisasi perusahaan. Dokumentasi di Lafi
Puskesad meliputi:
1. Dokumentasi seluruh pedoman yang berkenaan dengan aktivitas
Lafi Puskesad dengan pelaksanaan fungsinya sebagai lembaga
produksi obat yang dituangkan dalam Prosedur Tetap (protap)
yang meliputi bidang personalia, administrasi dan logistik,
operasional peralatan dan instalasi umum, sanitasi dan hygiene,
prosedur operasional dan perawatan alat, prosedur pembersihan
alat atau ruangan, kalibrasi dan validasi, spesifikasi bahan,
prosedur pengolahan dan pengujian, metoda dan instruksi serta
protap-protap lain yang diperlukan.
2. Dokumen seluruh proses pembuatan obat yang dituangkan dalam
dokumen produksi induk yang diturunkan antara lain menjadi
prosedur pengolahan induk dan prosedur pengemasan induk

122
yang kemudian diturunkan menjadi catatan pengolahan bets dan
catatan pengemasan bets meliputi spesifikasi, prosedur, metoda
dan instruksi, catatan dan laporan selama proses produksi
berlangsung mulai dari penimbangan sampai pengemasan yang
menggambarkan riwayat lengkap dari bets obat yang diproduksi.
3. Dokumentasi untuk setiap pengambilan sampel dan bahan uji,
baik bahan baku, bahan setengah jadi, produk ruahan maupun
obat jadi serta hasil pengujiannya.
4. Dokumen untuk setiap obat yang telah diluluskan oleh Instalasi
Pengawasan Mutu dan telah didistribusikan.
5. Dokumentasi juga dilakukan untuk segala aktivitas yang
berkenaan dengan perbaikan, pemantauan dan pengendalian,
misalnya lingkungan, perlengkapan, peralatan dan personalia.
6. Dokumentasi tentang spesifikasi, bahan awal, produk antara,
produk ruahan dan obat jadi.
Seluruh dokumen di atas dikelola dan disimpan oleh bagian-
bagian yang bersangkutan dengan aktivitas yang dilaksanakan, tetapi
Master Formula dan catatan pengolahan bets dan catatan pengemasan
bets yang sudah diisi disimpan di Pemastian Mutu.
3.4 Produk-Produk Lafi Puskesad
Jenis produk yang diproduksi oleh Lafi Puskesad berupa tablet, kaplet,
kapsul, sirup kering, cairan obat luar, cairan oral dan salep obat luar yang
kemudian digunakan untuk keperluan Tentara Nasional Indonesia Angkatan
Darat (TNI AD).

123
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Definis Lafi Puskesad


Lafi Puskesad merupakan suatu lembaga penunjang dalam pelaksanaan
tugas pokok Direktorat Kesehatan Angkatan Darat yaitu dalam penyediaan obat-
obatan untuk kepentingan TNI-AD serta keluarganya. Lafi Puskesad merupakan
lembaga pelaksana produksi obat-obatan yang dituntut untuk menghasilkan obat
yang bermutu tinggi, aman dan berkhasiat walaupun obat yang diproduksi dipakai
untuk lingkungan sendiri yaitu anggota prajurit dan PNS TNI-AD serta
keluarganya dan tidak dipasarkan. Selain itu, Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan
Angkatan Darat (Lafi Puskesad) merupakan suatu badan pelaksana pusat yang
berada dibawah Pusat Kesehatan Angkatan Darat yang bertugas untuk
menyelenggarakan dan melaksanakan fungsi teknik yang meliputi produksi obat,
pengawasan mutu, penelitian dan pengembangan, penyimpanan, administrasi
logistik, pemeliharaan alat produksi dan instrumen serta menyelenggarakan fungsi
organiknya yang berupa fungsi militer dan fungsi pembinaan. Fungsi organik
dilaksanakan dalam rangka mendukung tugas pokok Lafi Puskesad.
Usaha-usaha dalam pemenuhan persyaratan CPOB terus dikembangkan,
terbukti dengan telah diperolehnya tiga buah sertifikat CPOB untuk sediaan Non
β-laktam, tiga buah sertifikat CPOB untuk sediaan β-laktam dan sertifikat CPOB
untuk sediaan sefalosporin masi dalam proses sertifikasi. Pedoman CPOB
meliputi 12 aspek, antara lain manajemen mutu, personalia, bangunan dan
fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri
dan audit mutu, penanganan keluhan terhadap obat dan penarikan kembali obat
jadi serta obat kembalian, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak,
dokumentasi serta validasi dan kualifikasi. Pelaksanaan CPOB di Lafi Puskesad
tercakup dalam uraian berikut ini:
4.2 Penerapan CPOB di Lafi Puskesad
4.2.1 Manajemen Mutu
Lafi Puskesad belum memiliki pastitu atau QA yang
terstruktural, hanya sebatas organisasi operasional sehingga belum

124
bersifat independen. Manajemen mutu di Lafi Puskesad dilakukan
oleh pemastian mutu atau pastitu. Pastitu sudah berdiri sejak dua
januari 2013 dalam jangka waktu tersebut tugas-tugas yang sudah
dilakukan antara lain pelulusan produk, menyetujui protap dan
menyimpan dokumen-dokumen.
Tugas dan tanggung jawab di Lafi Puskesad sudah sesuai
dengan pedoman CPOB yaitu memastikan bahwa desain dan
pengembangan obat dilakukan dengan memperhatikan persyaratan
CPOB, seluruh langkah produksi dan penendalian diuraikan secara
jelas dan pengkajian terhadap semua dokumen yang terkait dengan
proses, penemasan dan pengujian bets dilakukan sebelum memberikan
pengesahan pelulusan untuk distribusi.

4.2.2 Personalia
Lafi Puskesad memiliki personil kunci seorang Apoteker yang
terkualifikasi dan bertanggungjawab, yaitu Kepala Bagian Pemastian
Mutu (QA), Kepala Instalasi Pengawasan Mutu (QC) dan Kepala
Instalasi Produksi. Personil yang terdapat dalam struktur organisasi
memiliki tugas dan tanggungjawab yang jelas, sehingga personil yang
bekerja dapat mengetahui tugas, wewenang dan tanggungjawab
masing – masing. Oleh karena itu setiap bagian instalasi dipimpin oleh
orang yang berbeda yang saling terkoordinassi antara satu dengan
yang lain. Lafi Puskesad mempunyai program pelatihan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan personil.

4.2.3 Bangunan dan Fasilitas


Bangunan produksi Lafi Puskesad terdiri dari bangunan
produksi β-laktam, non β-laktam, dan sefalosporin. Untuk bangunan
sediaan injeksi kering sefalosporin dilengkapi ruang kelas A dan saat
ini belum dilakukan produksi, masih dilakukan proses perbaikan
ruangan untuk memenuhi standard CPOB. Kondisi ruangan bangunan
produksi juga telah diatur dengan adanya system tata udara HVAC .
Bangunan dan fasilitas telah didesain sedemikian rupa untuk
memperkecil terjadinya kontaminasi silang dan untuk memudahkan
125
pembersihansalah satunya dengan penggunaan epoksi. Pada area
produksi yang dapat menimbulkan banyak debu telah dilakukan
penanganan berupa pemasangan dust collector.
Lafi Puskesad memproduksi dua jenis sediaan obat, yakni
sediaan golongan Betalaktam dan Non Betalaktam, untuk obat-obatan
golongan penisilin diproduksi pada bangunan yang terpisah yang
dilengkapi dengan peralatan pengendali udara khusus untuk produksi
tersebut sesuai dengan persyaratan CPOB. Instalasi-instalasi yang
terdapat di Lafi Puskesad yaitu:
a. Instalasi Produksi
Ruang-ruang untuk proses produksi non betalaktam telah
diklasifikasikan menjadi beberapa kelas sesuai dengan CPOB.
Produksi tablet dilakukan di ruang kelas E, terdiri dari ruang
penimbangan, ruang campur, ruang granulator, ruang
pengeringan, ruang karantina, ruang cetak tablet, ruang coating,
ruang stripping, ruang IPC dan ruang cuci alat. Produksi kapsul
dilakukan di ruang kelas E terdiri dari ruang pencampuran, ruang
pengisian, polishing, dan ruang strip. Sedangkan untuk
pengemasan skunder dilakukan di ruang kelas F. Produksi sirup
dilakukan diruang kelas E dengan in line system.
Ruang produksi untuk produk Betalaktam mempunyai
bangunan yang terpisah dari produk lainnya. Ruang kelas E terdiri
dari ruang timbang, ruang karantina, ruang stagging, ruang isi
kapsul, ruang stripping, ruang salut film, ruang cetak tablet, ruang
campur, ruang isi sirup kering, ruang botol bersih, ruang simpan
alat, dan ruang In Proses Control. Ruang loker kelas F terdiri dari
loker pria dan wanita, ruang pengemasan sekunder, ruang gudang
kemas, ruang karantina obat jadi, ruang gudang sejuk, ruang
gudang botol dan vial, ruang cuci botol, ruang simpan alat dan
ruang laundry.
Pada gedung produksi Betalaktam dan Non Betalaktam
permukaan lantai, dinding dan langit-langit dilapisi cat epoksi,

126
permukaannya rata, halus dan dihindari adanya celah, tidak
terdapat sambungan agar tidak terjadi pertumbuhan mikroba,
mudah dibersihkan, tahan terhadap bahan pembersih, tidak
melepas atau menahan partikel dan sudut-sudut antara dinding,
lantai dan langit-langit berbentuk lengkungan. Untuk
mengendalikan udara, di ruang produksi dilengkapi dengan sarana
pengatur suhu dan kelembaban. Penyaringan udara dilakukan
melalui filter udara yang dilengkapi dengan pre-filter, medium
filter dan hepa filter. Hepa filter mampu menyaring partikel
berukuran 0,3 μm dengan tingkat kemampuan 99,97%.
b. Instalasi Penyimpanan
Bangunan instalsi Penyimpanan di Lafi Puskesad dibagi
menjadi gudang cairan, gudang bahan baku obat (suhu sejuk dan
suhu ruangan, gudang obat jadi, gudang bahan pengemas, gudang
peralatan, ruang penimbangan, gudang penyaluran, ruang
sampling dan ruang administrasi.Fasilitas yang terdapat di
instalasi simpan berupa insect killer, pengusir tikus,
termohidrometer, pallet plastik, lemari psikotropik, rak obat dan
AC.
c. Instalasi Pengawasan Mutu
Bangunan instalasi pengawasan mutu telah memenuhi
persyaratan CPOB dengan adanya pembagian ruangan yang jelas
untuk setiap bagian di Instalasi Pengawasan Mutu, yaitu
laboratorium kimia, laboratorium fisika, laboratorium
mikrobiologi, ruang instrumen, ruang timbang, ruang
penyimpanan reagen, ruang pertinggal, ruang staf instalwastu,
ruang kaisnstalwastu dan pustaka.

4.2.4 Peralatan
Peralatan yang ada di Lafi Puskesad telah didesain dan
dikontruksi sesuai dengan tujuan penggunaannya. Bahan peralatan
yang digunakan harus inert dimana bahan tersebut tidak menimbulkan
reaksi, adisi atau pun absorbsi yang dapat mempengaruhi mutu obat.

127
Peralatan tersebut rutin dilakukan pemeliharaan oleh bagian Instalasi
Pemeliharaan tergantung dari kondisi alat. Perawatan peralatan
dilakukan sesuai prosedur tertulis dan sesuai jadwal untuk mencegah
kesalahan ataupun pencemaran yang dapat mempengaruhi mutu obat.
Setiap pelaksanan pemeliharaan dan pemakain alat dicatat dalam buku
harian (log book).

4.2.5 Sanitasi dan Higiene


a. Sanitasi Bangunan dan Fasilitas
b. Gedung produksi β-laktam dan Non β-laktam telah memiliki
sanitasi yang baik dan selalu dibersihkan secara berkala sesuai
dengan prosedur tetap pembersihan yang telah ditetapkan.
c. Sanitasi Alat dan Ruangan
Prosedur kerja disesuaikan protap untuk pembersihan
seperti membersihkan ruangan produksi serta membersihkan
mesin dan peralatan produksi lainnya. Pembersihan dilakukan
sebelum dan sesudah proses produksi. Alat dan ruangan yang
sudah dibersihkan tetapi tidak langsung digunakan memiliki
jangka waktu ± satu minggu untuk dapat digunakan kembali tanpa
perlu pembersihan ulang dengan catatan alat dan ruangan tersebut
tertera label bersih dari QC. Jika lebih dari satu minggu dilakukan
pembersihan ulang sesuai protap.Sanitasi untuk alat dan ruangan
mengunakan alkohol 70% sebagai desinfektan dan air.
d. Higiene Perorangan
Karyawan yang bekerja di bagian produksi harus sehat
jasmani dan rohani. Untuk itu dilakukan pembinaan kesehatan
jasmani dalam bentuk olahraga setiap minggunya dan
pemeriksaan rutin setiap enam bulan atau dua belas bulan sekali.
Karyawan yang sedang menderita flu, diare, sakit kulit dan
penyakit menular lain tidak boleh memasuki ruang produksi.
Setiap akan memasuki ruang produksi sebaiknya personel harus
mencuci tangan terlebih dahulu sesuai dengan protap higiene
karyawan. Karyawan sefalosporin yang memasuki ruang produksi

128
wajib mandi terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan dan
melalui air shower untuk membersihkan partikel – partikel yang
menempel di pakaian khususnya mencuci tangan dan higiene
tangan dengan menggunakan alkohol.
Pemastian kebersihan dari peralatan dan bangunan
dilakukan oleh bagian pengawasan mutu. Dalam setiap
produksi, karyawan menggunakan pakaian yang sesuai untuk
produksi yang dilengkapi dengan alat pelindung diri seperti
masker, penutup kepala, alas kaki, dan sarung tangan. Untuk
pakaian yang dipakai di ruang Non β-laktam karyawan telah
menggunakan pakaian yang sesuai. Demikian juga untuk di
ruangan β-laktam karyawan telah mengenakan pakaian beserta
alat pelindung diri sehingga dapat memenuhi persyaratan CPOB.

4.2.6 Produksi
Lafi Puskesad memproduksi sediaan obat berupa kaplet, tablet,
kapsul, dan sirup. Proses produksi sediaan β-laktam, non β-laktam dan
sefalosporin dilaksanakan pada bangunan yang terpisah dan lengkap
dengan fasilitas-fasilitas sesuai dengan kebutuhan seperti yang
dipersyaratkan oleh CPOB terkini. Penanganan bahan dan produk jadi,
seperti penerimaan dan karantina, pengambilan sampel, penyimpanan,
penandaan, pengolahan, pengemasan dan distribusi dilakukan sesuai
dengan prosedur. Pada setiap proses produksi dilakukan proses
pemeriksaan mutu obat oleh IPC dan QC.
Produksi obat di Lafi Puskesad tidak dilakukan secara terus-
menerus karena di Lafi Puskesad melakukan produksi obat
berdasarkan rencana produksi tahunan dan tidak bergantung pada
permintaan pasar. Selain itu, obat yang diproduksi Lafi Puskesad tidak
selalu sama dari tahun ke tahun karena produksi obat yang dilakukan
Lafi Puskesad tergantung perintah dari Puskesad yang berdasarkan
kebutuhan prajurit, PNS, TNI AD, beserta keluarganya.

129
4.2.7 Pengawasan Mutu
Instalasi Pengawasan Mutu (Instalwastu) di Lafi Puskesad
bertugas melakukan pengujian mutu terhadap obat hasil produksi Lafi
Puskesad. Pengawasan mutu bertujuan untuk memastikan obat yang
diproduksi memenuhi syarat selama proses pembuatan dan
menentukan masa edar produk jadi. Cakupan pengawasan mutu antara
lain pengambilan sampel, pengujian sampel, penentuan status lulus
atau tidak lulus berdasarkan hasil pengujian terhadap bahan awal,
produk antara, produk ruahan dan obat jadi. Instalwastu Lafi Puskesad
bertugas menyusun dan merevisi spesifikasi bahan baku, bahan kemas
dan obat jadi, In Process Control, penanganan sampel pertinggal dan
sampel pembanding, melakukan uji stabilitas, uji dalam rangka
validasi dan kualifikasi, inspeksi diri, evaluasi produk kembalian,
program pemantauan lingkungan produksi, inspeksi ke ruang
produksi, pelatihan personel wastu serta melakukan pemeliharaan alat,
bangunan dan fasilitas di Instalwastu.

4.2.8 Inspeksi Diri dan Audit Mutu dan Persetujuan Pemasok


Inspeksi diri bertujuan untuk mendeteksi adanya kesalahan dan
kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan CPOB. Inspeksi diri
dilakukan terhadap personil, bangunan dan fasilitas, penyimpanan
bahan baku dan obat jadi, peralatan, produksi, pengawasan mutu,
dokumentasi dan pemeliharaan gedung. Inspeksi diri di Lafi Puskesad
telah dilakukan minimal setahun sekali, tindakan perbaikan juga telah
dilaksanakan berdasarkan hasil inspeksi.
Tim inspeksi diri merupakan personel yang ditunjuk lansung
oleh Kalafi dan berjumlah tiga oran atau lebih. Tim inspeksi
independen atau tidak berkaitan dengan instalasi yang diinspeksi,
yang bertujuan untuk mendapatkan hasil penilaian inspeksi yang
objektif. Sedangkan audit mutu biasanya dilakukan oleh BPOM dan
juga dilakukan oleh pihak luar yang melakukan Toll In manufacturing
di Lafi Puskesad.

130
4.2.9 Penanganan Keluhan terhadap Obat dan Penarikan Kembali Obat Jadi
serta Obat Kembalian
Keluhan atau complain terhadap produk Lafi Puskesad langsung
disampaikan kepada Puskesad dan kemudian Puskesad memberikan
perintah kepada Kalafi. Kalafi memerintahkan Instalwastu untuk
melakukan pemerikasaan terhadap contoh pertinggal pada nomor bets
yang sama. Jika contoh pertinggal tersebut mengalami cacat, maka
Kalafi akan melaporkan kepada Puskesad. Tetapi jika pengujian pada
sampel pertinggal menunjukkan bahwa kualitas obat masih baik dan
sesuai dengan persyaratan, kemungkinan terjadi masalah pada saat
distribusi obat, sehingga Kalafi menyarankan kepada Puskesad untuk
memperbaiki pendistribusian.

4.2.10 Dokumentasi
Sistem dokumentasi di Lafi Puskesad sudah cukup baik walau
menggunakan sistem penyimpanan manual. Penyimpanan dokumen
yang dilakukan manual memiliki kelebihan yaitu memudahkan dalam
pengisian data, namun kekurangan pada sistem ini yaitu dapat
mengakibatkan keterlambatan penyampaian informasi pada pihak-
pihak yang terkait pada seluruh proses yang ada di Lafi Puskesad.
Penyampaian informasi secara menyeluruh dan cepat akan lebih
efektif jika penyimpanan dokumen dikelola dengan sistem
komputerisasi.
Beberapa dokumen produksi yang ada di lafi Puskesad, meliputi:
1. Dokumen Produksi Induk yang berisi formula dari suatu produk
dalam bentuk sediaan dan kekuatan tertentu.
2. Batch record terdiri dari Catatan Pengolahan Bets dan Catatan
Pengemasan Bets
3. Prosedur Pengolahan Induk dan Prosedur Pengemasan Induk
yang berkaitan dengan pelaksanaan produksi dari suatu bets
produk.
Beberapa dokumen di instalasi pemeliharaan dan sistem
penunjang, diantaranya:

131
1. Dokumen kualifikasi desain sistem tata udara
2. Dokumen kualifikasi instalasi sistem tata udara
3. Dokumen kualifikasi operasional sistem tata udara
Beberapa dokumen di instalasi penyimpanan, diantaranya:
1. Surat kirim barang
2. Buku pengeluaran
3. Buku penerimaan harian
4. Kartu pertanggung jawaban
5. Nota pengeluaran materil
6. Bukti penyerahan
7. Perintah pengeluaran materil

4.2.11 Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak


Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak pada dasarnya
terbagi menjadi dua (maklon) yaitu toll out dan toll in. Toll out adalah
manufacturing Lafi Puskesad yang dilakukan di industri farmasi lain,
sedangkan Toll in adalah manufacturing produk industri farmasi lain
yang dilakukan di Lafi Puskesad. Pembuatan dan analisis berdasarkan
kontrak yang dilakukan di Lafi Puskesad adalah berupa kerja samatoll
in dari industri farmasi lain terutama untuk produk-produk β-laktam.
Untuk dapat melakukan maklon, keduabelah pihak industri terkait
harus memiliki sertifikat CPOB untuk sediaan yang sama, sedangkan
nomor registrasi hanya harus dimiliki oleh industri yang melakukan
tool out. Maklon bisa dilakukan mulai dari proses awal sampai akhir
produksi atau hanya pada tahap-tahap tertentu dalam proses produksi,
tergantung perjanjian dari keduabelah pihak. Misalnya pemberi
kontrak menginginkan produksi hanya dilakukan sampai produk
ruahan, maka dalam tahap pengemasan dilakukan kembali oleh
industri pemberi kontrak.

4.2.12 Kualifikasi dan Validasi


Validasi dan Kualifikasi di Lafi Puskesad telah dilakukan
dengan baik terhadap prosedur produksi dan metode analisis. Validasi
dilakukan untuk membuktikan bahwa proses atau metode dapat
132
memberikan hasil yang konsisten dengan spesifikasi yang telah
ditetapkan. Di Instalwastu validasi yang dilakukan yaitu validasi
metode analisis, sedangkan kualifikasi merupakan bagian dari validasi
yang dilakukan khusus untuk mesin, peralatan produksi maupun
sarana penunjang. Validasi yang dilakukan yaitu, validasi proses
misalnya dengan media fill di ruang produksi sefalosporin, validasi
pembersihan dilakukan dengan cara swab dan bilasan air, serta
validasi metode analisis.
Kualifikasi di Lafi Puskesad sudah dilakukan sesuai dengan
CPOB meliputi kualifikasi desain, kualifikasi instalasi, kualifikasi
operasional dan kualifikasi kinerja terhadap mesin dan peralatan.
Proses kualifikasi dilakukan pada saat adanya mesin atau peralatan
baru dan jika terjadi penurunan kinerja dari mesin dan peralatan.
Validasi dan kualifikasi dilaksanakan menurut prosedur tetap (protap)
dan hasilnya didokumentasikan. Kualifikasi yang sudah dilakukan
adalah kualifikasi sistem tata udara (HVAC), kualifikasi udara
bertekanan, dan yang sedang berjalan saat ini kualifikasi sistem
pengolahan air.

4.3 Kegiatan PKPA


Dalam melaksanakan PKPA selama satu bulan di Lafi Puskesad,
berbagai kegiatan yang berhubungan dengan industri farmasi telah
dilakukan. Kegiatan-kegiatan tersebut akan dijelaskan seperti yang
tercantum dibawah ini:

4.3.1 Observasi Seksi Non Β-laktam


1. Sediaan Tablet
Ruang produksi tablet terdiri dari ruang timbang, ruang
mucilago, ruang campur, ruang granulator, ruang pengering,
ruang ayak, ruang cetak, ruang penyalutan, ruang stripping, dan
ruang cuci alat. Ruangan-ruangan ini dilengkapi dengan lampu
penerangan yang memadai, HVAC dengan penghisap debu, dan
lapisan epoksi pada dinding dan lantai. Peralatan yang digunakan
untuk pembuatan tablet diantaranya adalah timbangan digital,
133
mesin pembuat mucilago dengan energi panas dari uap, mesin
pencampur basah (super mixer), mesin pencampur kering
(planetary mixer), oven pengering/FBD, granulator, mesin cetak
tablet, mesin salut film, dan mesin strip tablet. Tablet yang
diproduksi oleh Lafi Puskesad adalah tablet biasa, tablet kunyah,
dan tablet salut film, tablet salut enterik dengan ukuran diameter
6,5; 7,5; 10; 12; 13; 15 mm. Metode pembuatan tablet yang biasa
digunakan adalah metode cetak langsung dan granulasi basah,
tetapi yang lebih sering digunakan adalah metode granulasi basah
dengan tahap sebagai berikut:
a. Proses penimbangan bahan baku
Proses penimbangan bahan baku dan bahan tambahan
lainnya dilakukan di ruang kelas E dan ditimbang oleh
personel Instalsimpan minimal 2 (dua) orang, dimana 1 orang
menimbang dan 1 orang menyaksiksan.
b. Proses pembuatan bahan pengikat (mucilago)
Didihkan sejumlah tertentu aqua demineralisata di
dalam tangki pemanas double jacket. Setelah mendidih,
masukkan sejumlah nipagin, aduk homogen. Lalu masukkan
gelatin, aduk homogen. Kemudian masukkan Amylum solani
yang sebelumnya sudah dikembangkan dalam aqua
demineralisata sedikit demi sedikit. Selanjutnya dilakukan
pengadukan sampai terbentuk massa bening.
c. Proses pencampuran bahan berkhasiat dengan fase dalam
Bahan berkhasiat dicampurkan dengan fase dalam dan
diaduk sampai homogen. Saat mencampur lihat sifat bahan
baku seperti higroskopis, kristal, volumines, dan lain-lain,
dicampur sedikit demi sedikit. Parameter yang harus
diperhatikan pada tahap ini adalah jumlah putaran mesin, dan
lama mencampur agar dihasilkan massa yang homogen.

134
d. Proses granulasi basah
Pada campuran bahan berkhasiat dengan fase dalam
kemudian ditambahkan sejumlah mucilago sebagai bahan
pengikat dan diaduk hingga homogen sampai terbentuk
massa yang dapat dikepal dan tidak menempel pada alat.
e. Proses pengeringan
Massa yang telah diperoleh kemudian dikeringkan dalam
oven dengan suhu ± 30-40oC selama 15 jam sampai terbentuk
massa setengah kering. Parameter yang harus diperhatikan
pada tahap ini adalah suhu dan waktu pengeringan.
f. Proses pengayakan
Massa setengah kering diayak dengan ayakan ukuran
mesh tertentu, tergantung dari jenis dan ukuran tablet.
g. Proses pengeringan
Massa yang telah diayak dikeringkan kembali di
oven/FBD dengan suhu dan waktu yang sama seperti
pengeringan sebelumnya sampai mencapai kadar air sekitar
2-5%, tergantung jenis tablet yang dibuat.
h. Proses pengayakan
Massa yang telah kering lalu diayak kembali dengan
ayakan ukuran mesh tertentu sampai diperoleh massa granul.
i. Pengawasan mutu
Terhadap granul yang telah dikeringkan dilakukan
pengujian mutu (IPC), yakni kadar air dan pemeriksaan susut
pengeringan.
j. Proses pembuatan massa cetak
Granul yang telah lulus dalam uji mutu (IPC) kemudian
dibuat massa cetak dengan penambahan pelincir (untuk
mengurangi gesekan antar zat), pelicin (untuk mengurangi
gesekan antara zat dengan alat/mesin cetak) dan penghancur
luar, lalu diaduk hingga homogen.
k. Pengawasan mutu

135
Massa cetak yang akan dicetak, sebelumnya dilakukan
pengujian mutu (IPC) terhadap homogenitas kadar zat
aktifnya.
l. Proses pencetakan tablet
Massa cetak yang telah lulus uji mutu kemudian dicetak
dengan mesin cetak tablet yang sebelumnya telah disesuaikan
dengan ukuran dan diameter tablet yang akan dibuat. Selama
proses pencetakan harus diperhatikan kekerasan, ketebalan,
dan keragaman bobot tablet, kemudian hasil cetak tersebut
dialirkan ke dalam alat deduster untuk menghilangkan
debu/fines yang masih ada pada permukaan tablet. Parameter
yang harus diperhatikan pada tahap ini adalah kecepatan
putaran dan tekanan.
m. Pengawasan mutu
Selama pencetakan, dilakukan IPC di ruang produksi
terhadap sisi kanan dan kiri mesin cetak yang meliputi
keragaman bobot, kekerasan tablet dan ketebalan tablet
sedangkan pengujian mutu oleh Instalwastu meliputi uji
waktu hancur, keregasan, diameter, tebal, kekerasan,
keragaman bobot tablet, kadar bahan aktif, dan uji disolusi
untuk tablet tertentu pada hasil pencetakan. Sampling IPC
tablet dilakukan setiap 15 menit sekali.
n. Proses penyalutan
Pada proses penyalutan, parameter yang harus
diperhatikan adalah suhu, ketebalan, tekanan spray gun,
frekuensi penyemprotan, lubang penyemprotan, waktu
penyemprotan, jarak penyemprotan, keseragaman warna dan
kecepatan pemutaran panci. Sedangkan untuk tablet yang
tidak disalut, langsung dikemas (stripping).

136
o. Pengawasan mutu
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap tablet salut
adalah penampilan, waktu hancur, ketebalan dan keragaman
bobot.
p. Proses stripping
Tablet salut ataupun tablet biasa yang telah lulus uji
mutu, distrip dengan menggunakan bahan pengemas
Polycellonium sebagai kemasan primer, dengan suhu mesin ±
80°-100° C. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses
penyetripan yaitu sebelum digunakan sealing roller pada
mesin stripping harus dipanaskan terlebih dahulu. Suhu
mesin tidak boleh terlalu rendah karena akan menyebabkan
kemasan tidak dapat melekat satu sama lain dan juga tidak
boleh terlalu tinggi karena akan menyebabkan perlekatan
yang buruk atau pelelehan pada stripnya. Selain suhu yang
digunakan, hal yang perlu diperhatikan adalah kecepatan.
q. Pengawasan mutu
Pengujian mutu yang dilakukan di ruang produksi
terhadap hasil stripping meliputi uji kebocoran strip secara
visual, penandaan ED (Expired Date) dan nomor bets setiap
30 menit sekali. Tablet yang telah distrip akan dikirim ke
Seksi Kemas untuk dikemas sekunder, lalu obat jadi dikirim
ke Instalsimpan. Pembuatan tablet dengan metoda cetak
langsung dimulai dari prosespenimbangan bahan baku,
selanjutnya mengikuti proses pencampuran massa cetak
sampai dengan proses penyetripan dan pengemasan tanpa
melalui proses granulasi.
2. Sediaan sirup
Di dalam ruang produksi sirup terdiri dari ruang
pencampuran, ruang pengisian, dan ruang pencucian alat.
Peralatan yang digunakan antara lain mixer, colloid mill, panci
double jacket, drum stainless, mesin pengisi sirup, penutup botol,

137
dan pemasangan etiket yang merupakan satu rangkaian (In Line
Process). Proses pembuatan sirup yakni:
a. Penimbangan bahan baku
Proses penimbangan bahan baku dan bahan tambahan
lainnya dilakukan di ruang kelas E dan ditimbang oleh
personel Instalsimpan minimal 2 (dua) orang, dimana 1 orang
menimbang dan 1 orang menyaksiksan.
b. Pembuatan larutan gula pekat (syrupus simplex)
Pembuatan larutan gula dilakukan dalam panci double
jacket, di mana bahan baku dilarutkan dengan cara
dipanaskan menggunakan pemanas dengan pemanas cair
gliserin.
c. Pencampuran
Zat aktif dan zat tambahan lain (zat pewarna dan
pengawet) yang telah ditimbang, masing-masing dilarutkan
dalam pelarut yang sesuai sampai larut sempurna, kemudian
dicampur dengan larutan gula pekat. Essence ditambahkan di
akhir pencampuran dan dalam keadaan dingin. Selanjutnya
ditambahkan air sampai tanda batas yang telah ditentukan
sesuai dengan volume yang diinginkan.
d. Pengawasan mutu
Pengujian mutu dilakukan terhadap hasil pencampuran
yang terdiri dari uji homogenitas larutan, kadar zat aktif, pH,
dan berat jenis.
e. Pengisian, penutupan, dan labeling
Setelah lulus uji mutu maka dapat dilakukan pengisian,
penutupan dan pemberian etiket atau label. Proses tersebut
dilakukan dengan menggunakan mesin ban berjalan yang
bekerja secara semi otomatis. Pada proses ini dikontrol setiap
15 menit terhadap keseragaman volume, hasil penutupan, dan
pemasangan label.
f. Pengawasan mutu

138
Terhadap produk yang telah dikemas tetap dilakukan
pemeriksaan mutu yang meliputi keseragaman isi atau
volume, kadar zat aktif, pH larutan, dan bobot jenis. Setelah
lulus uji mutu, dilakukan proses pengemasan untuk kemudian
obat jadi diserahkan ke Instalsimpan. Alur proses produksi
sirup basah dan cairan obat luar dapat dilihat pada Lampiran
9.
3. Sediaan Kapsul
Ruang produksi kapsul terdiri dari ruang pencampuran,
ruang pengisian dan polishing, serta ruang stripping. Peralatan
yang digunakan untuk pembuatan kapsul diantaranya adalah
mesin pencampur, mesin pengisi kapsul, mesin polishing, dan
mesin strip. Adapun alur proses produksi kapsul, yakni sebagai
berikut:
a. Penimbangan bahan baku
Proses penimbangan bahan baku dan bahan tambahan
lainnya dilakukan di ruang kelas E dan ditimbang oleh
personel Instalsimpanminimal 2 (dua) orang, dimana 1 orang
menimbang dan 1 orang menyaksikan.
b. Pencampuran/granulasi
Semua bahan yang telah ditimbang kemudian dicampur
hingga homogen.Bahan yang diisikan ke dalam cangkang
kapsul ada yang harus digranulasi terlebih dahulu untuk
memperbaiki sifat alirnya sedangkan untuk bahan yang tidak
digranulasi dapat langsung diisikan ke dalam cangkang
kapsul.
c. Pengawasan mutu
Sebelum massa kapsul diisikan ke dalam cangkang
kapsul, harus dilakukan In Process Control (IPC) oleh
Instalwastu terlebih dahulu untuk diperiksa kadar zat
aktifnya.
d. Pengisian kapsul

139
Massa kapsul yang telah diluluskan oleh Instalwastu
diisikan ke dalam cangkang kapsul. Selama proses pengisian,
dilakukan pengawasan mutu terhadap keragaman bobot,
kadar zat aktif, dan waktu hancur kapsul dan uji disolusi
untuk kapsul tertentu.
e. Polishing
Sebelum dilakukan stripping, kapsul harus melewati
proses polishing terlebih dahulu untuk menghilangkan debu
yang menempel pada bagian luar cangkang kapsul.
f. Penyetripan
Setelah proses polishing, kapsul siap distrip dengan
cara yang sama seperti pada proses stripping tablet.
g. Pengawasan mutu
Pengujian mutu yang dilakukan di ruang produksi
terhadap hasil stripping meliputi uji kebocoran strip secara
visual, penandaan ED dan nomor bets setiap 30 menit
sekali.Kapsul yang telah lulus uji mutu siap dikemas dan obat
jadi dikirim ke Instalsimpan. Alur proses produksi kapsul
dapat dilihat pada.
4. Cairan obat luar
a. Penimbangan bahan baku
Proses penimbangan bahan baku dan bahan tambahan
lainnya dilakukan di ruang kelas E dan ditimbang oleh
personel Instalsimpan minimal 2 (dua) orang, dimana 1 orang
menimbang dan 1 orang menyaksiksan.
b. Pembuatan larutan povidon iodine
Povidon iodine direndam dengan air dan dibiarkan 24
jam, kemudian diaduk sampai homogen.
c. Pencampuran zat tambahan lain yang telah ditimbang,
masing-masing dilarutkan dalam pelarut yang sesuai sampai
larut sempurna, kemudian dicampur dengan larutan povidon
iodine. Selanjutnya ditambahkan air sampai tanda batas yang

140
telah ditentukan sesuai volume yang diinginkan.
d. Pengujian mutu dilakukan terhadap hasil pencampuran yang
terdiri dari kadar zat aktif, berat jenis, dan pH.
e. Pengisian, penutupan, dan labelling. Setelah lulus uji mutu
maka dapat dilakukan pengisian, penutupan dan pemberian
etiket atau label.
f. Pengawasan mutu
Produk yang telah dikemas dilakukan pemeriksaan
mutu yang meliputi keseragaman isi atau volume, kadar zat
aktif, pH dan bobot jenis. Produk yang telah memenuhi
persyaratan kualifikasi diloloskan oleh pengawasan mutu dan
dilakukan proses pengemasan, selanjutnya produk jadi
diserahkan ke Instal simpan.
4.3.2 Observasi Seksi β-laktam
Seksi ini bertugas khusus memproduksi produk β-laktam.
Adapun yang perlu diperhatikan dalam proses produksi β-laktam
adalah:
1. Gedung
Gedung produksi β-laktam hendaklah terpisah dengan
gedung produksi non β-laktam untuk mencegah hipersensitifitas
dan kontaminasi silang (cross contamination). Pada gedung
produksi β-laktam di Lafi Puskesad telah dilengkapi dengan
sistem pengaturan udara (Air Handling System), air washer, air
shower, dan ruang penyangga (air lock), serta lantai, dinding, dan
langit-langit telah dilapisi oleh bahan epoksi.
2. Ruangan
Ruangan untuk produksi sediaan β-laktam berdasarkan terdiri
dari:
a. Ruang kelas E khusus, adalah ruangan untuk pengolahan
produk peroral.
b. Ruang kelas F, adalah ruangan untuk pengemasan sekunder.
c. Ruang kelas G, adalah ruangan untuk gudang Bahan Baku

141
Obat (BBO) dan bahan kemas.
3. Personel
Setiap personel yang akan bekerja di ruang β-laktam
diharuskan menggunakan pakaian khusus, lengkap dengan
perlengkapannya yang berupa masker, penutup kepala, sepatu,
dan sarung tangan sesuai dengan tempat atau ruangan dimana
personel melakukan tugasnya untuk mencegah reaksi hipersensitif
dan kontaminasi silang baik kontaminasi personel terhadap
sediaan ataupun sebaliknya.
4.3.3 Observasi Seksi Sefalosporin
Seksi sefalosforin bertugas memproduksi sediaan sefalosforin
yang merupakan turunan β-laktam. Namun sampai saat ini, Seksi
Sefalosforin belum berproduksi karena masih menunggu proses
sertifikasi dari Badan POM.
1. Ruangan untuk produksi sediaan injeksi sefalosforin terdiri dari:
a. Ruangan kelas A, merupakan ruang di dalam cubicle untuk
pengisian serbuk injeksi yang dilengkapi dengan laminar air
flow (LAF) dan HEPA filter. Di ruang ini terdapat juga ruang
antara yang dilengkapi dengan air lock in dan air lock out.
b. Ruang kelas B, merupakan latar belakang kelas A.
c. Ruang kelas C, merupakan ruangan bersih untuk melakukan
tahap pembuatan produk steril dengan tingkat resiko lebih
rendah.
d. Ruang kelas antara untuk mengganti pakaian.
e. Ruang kelas D, merupakan ruang pencucian vial/kemasan
primer, dan ruang penutupan vial.
f. Ruang kelas F, merupakan ruangan untuk pengemasan
sekunder.
g. Ruang kelas G, adalah ruangan untuk gudang bahan baku
obat, bahan kemas dan obat jadi.
h. Sistem pengaturan udara (Air Handling System).

142
i. Untuk ruang kelas A adalah dengan sistem tertutup (closed
system)
j. Spesifikasi ruang kelas B hampir sama dengan kelas A,
namun ada penambahan udara segar (fresh air). Hal ini
dimaksudkan karena ruang kelas B merupakan ruang kerja
personil sehingga membutuhkan udara segar yang lebih
banyak.
k. Ruang kelas C dan D menggunakan fresh air
2. Secara umum, udara kotor didalam ruangan disedot melalui grill
outlet kemudian disaring dengan beberapa filter yakni pre filter
dan medium filter. Khusus untuk ruang kelas B ditambah HEPA
filter. Udara segar (air fresh) yang beraal dari luar ruangan
mengalami proses yang sama. Sebelum masuk ke dalam ruangan,
udara segar yang telah disaring dan udara yang berasal dari grill
outlet yang juga telah disaring akan dicampur dan melewari filter
lagi sebelum akhirnya masuk ke ruangan melewati grill inlet.
3. Produksi yang direncanakan
Sediaan sefalosporin yang akan diproduksi Lafi Puskesad
adalah sediaan serbuk steril injeksi sefalosporin generasi ketiga
(cefotaxime dan ceftriaxon).

4.3.4 Observasi Seksi Kemas


Kepala Seksi kemas bertanggung jawab kepada Kepala Instalasi
Produksi. Pengemasan dilakukan pada produk ruahan tablet, kapsul,
sirup dan salep. Pengemasan tablet dan kapsul dilakukan setelah
proses stripping, menggunakan bahan pengemasan polycellonium.
Tablet yang sudah di-strip, dipilih yang telah lulus uji IPC kemudian
dimasukkan ke dalam sak plastik dilengkapi dengan brosur lalu
disegel, setiap sak plastik berisi 25 strip, tiap-tiap strip berisi 10 tablet.
Hasil segel kemudian dimasukkan ke dalam dus yang dilengkapi
dengan slip pak dimana setiap dus isinya berbeda sesuai dengan
ukuran diameter tablet.

143
a. Tablet diameter 6,5 dan 7,5 mm = setiap dus berisi 50 sak plastik
b. Tablet diameter 10-13 mm = setiap dus berisi 30 sak plastik
c. Untuk kaplet dan kapsul = setiap dus berisi 20 sak plastik
Untuk sediaan kapsul, setelah kapsul di-strip, dipilih yang telah
lulus uji IPC kemudian dimasukkan ke dalam sak plastik dilengkapi
dengan brosur lalu disegel. Hasil segel kemudian dimasukkan ke
dalam dus yang dilengkapi dengan slip pak dimana tiap dus berisi 20
sak plastik.
a. Setiap sak plastik berisi 25 strip = setiap strip berisi 10 kapsul
Untuk sirup dipak ke dalam dus, dilengkapi dengan
sendoktakar, brosur dan slip pak. Untuk produk ruahan β-laktam,
pengemasan dilakukan di ruang kemas β-laktam.
b. Tiap dus berisi 25 botol = Untuk sirup 100cc
c. Tiap dus berisi 36 botol = Untuk sirup 60cc
Kegiatan pengemasan sekunder tablet dilakukan di ruang kemas
sekunder. Pengemasan sekunder dilakukan secara manual. Proses
pengemasan diawali dengan melipat box sebagai kemasan sekunder.
Selanjutnya obat jadi diambil sesuai dengan jumlah strip tiap kemasan
dan di cek ulang berupa kerusakan kemasan. Obat jadi yang sudah di
cek kemudian dimasukkan kedalam box kemasan sekunder dan
disertai dengan brosur.
Langkah selanjutnya adalah monitoring berat dengan cara
menimbang satu persatu box-box yang sudah berisi obat jadi. Dengan
monitoring berat ini dapat diketahui apakah isi box berlebih atau
kurang. Setelah dipastikan isi box sesuai maka selanjutnya dilakukan
proses sealing dan pengemasan dalam kardus ukuran besar.
Bila pengemasan selesai, dilakukan pemeriksaan QC oleh
Instalwastu. Setelah diperiksa oleh Instalwastu, hasil pengemasan
diberi label “Diluluskan” kemudian seksi kemas membuat laporan
administrasi yang terdiri dari laporan bulanan untuk dilaporkan ke
Kalafi dan bukti penyerahan obat dari Kainstalprod ke
Kainstalsimpan, selanjutnya obat jadi dikirim ke Instalsimpan.

144
4.3.4 Observasi Instalasi Penyimpanan
Kegiatan Instalasi penyimpanan di Lafi Puskesad meliputi
penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran atas perintah Kalafi serta
memelihara dan melaksanakan kegiatan pengamanan dan
pendistribusian.
Barang datang tidak langsung diterima oleh Instalasi
penyimpanan Lafi tetapi diterima oleh Gudang Pusat II sesuai aturan
penerimaan barang kemudian diperiksa barang yang datang dari
tender secara administrasi dan fisik oleh tim PPHP (Panitia
Pemeriksaan Hasil Pngadaan) yang dibentuk oleh Kapuskesad dan uji
mutu oleh Instalwastu. Selama pengujian, barang disimpan di gudang
karantina. Bila barang barang tersebut telah memenuhi syarat maka
barang tersebut akan langsung dipindahkan di gudang bahan produksi,
diantaranya gudang bahan baku, gudang bahan pengemas dan gudang
bahan pendukung. Tim PPHP dan Instalwastu akan mengeluarkan
Berita Acara Penerimaan Barang (BAPB) yang disampaikan ke
Kapuskesad. Kapuskesad akan mengeluarkan Perintah Pengeluaran
Material (PPM) yang ditujukan pada Gupus 2 dengan tembusan Instal
simpan, kemudian LAFI akan membentuk tim komisi intern yang
bertugas menerima serta memeriksa jumlah dan keadaan barang dari
Gupus 2. Pengiriman barang dari Gupus 2 ke LAFI disertai dengan
SKB (Surat Kirim Barang). Instalasi penyimpanan kemudian akan
melakukan pencatatan pada kartu kendali untuk pengawasan sesuai
jumlah barang yang masuk.
Barang barang yang tersimpan di gudang Instalsimpan disusun
berdasarkan jenis dan sifat barang, barang yang kecil disimpan di atas
rak, barang dengan ukuran besar disimpan di atas pallet, barang yang
higroskopis dan termolabil disimpan di gudang sejuk. Untuk
pengeluaran barang disesuaikan dengan jadwal produksi dan
jumlahnya disesuaikan dengan catatan pengolahan bets. Saat
melakukan proses produksi Kalafi mengeluarkan NPM (Nota
Pengeluaran Materil) dari Instalsimpan membuat bukti penyerahan

145
dan kemudian masuk ke ruang staging untuk dilakukan proses
produksi, setelah obat jadi akan dibawa ke Instalsimpan untuk
administrasi dan ada berita acara jumlah obat jadi kemudian obat jadi
akan di serahkan ke Gupus, kemudian dari Gupus akan
didistribusikan.
Penyelenggarakan administrasi yang menyertai penerimaan dan
pengeluaran barang dari dan ke instalasi penyimpanan lafi terdiri dari:
1. Perintah penerimaan material
2. Perintah pengeluaran material
3. Nota pengeluaran material
4. Berita acara penerimaan barang
5. Bukti penyerahan
6. Surat kirim barang
7. Kartu gudang
8. Kartu kendali
9. Buku harian penerimaan dan pengeluaran barang
10. Buku besar penerimaan dan pengeluaran barang
Instalsimpan mempunyai 2 gudang yang terpisah untuk material
Non β-laktam dan β-laktam. Material Non β-laktam disimpan di
Instalsimpan yang memiliki ruang-ruang dengan 2 kelas yang berbeda
tingkat kebersihannya yaitu kelas F dan G. Kelas E terdiri dari ruang
timbang dan ruang staging (penyimpanan bahan baku yang sudah
ditimbang) dan ruang sampling.
Kelas G terdiri dari ruangan administrasi, gudang bahan baku,
bahan kemas, gudang cairan, gudang sejuk untuk menyimpan obat
jadi dan bahan baku obat yang memerlukan kondisi penyimpanan
pada suhu 15-25º C. Material untuk produksi β-laktam disimpan
tersendiri digedung produksi β-laktam. Peralatan yang digunakan di
Instalasi Penyimpanan yaitu:
1. Timbangan dengan kapasitas 1 kg, 10 kg, dan 30 kg.
2. Timbangan digital berprinter dengan kapasitas maksimal 60 kg.
3. Alat pemadam kebakaran

146
4. Alat pengambil sampel
5. Alat pengusir serangga
6. Alat pengusir tikus

4.3.5 Observasi Laboratorium Pengawasan Mutu


Pengawasan mutu merupakan bagian integral dari suatu
produksi obat. Secara umum, tugas dan tanggung jawab instalwastu
ada 5, yaitu Sampling, Testing, Spesifikasi, Inspeksi, dan Monitoring
yang dapat dijabarkan menjadi:
a. Bertanggung jawab dalam pengawasan mutu obat bekerja sama
dengan QA dalam menghasilkan produk akhir (finished good)
yang memenuhi persyaratan.
b. Menyiapkan dan mengawasi pelaksanaan prosedur pengawasan
mutu dan IPC (in process control) mandiri terkait CPOB.
c. Bertanggung jawab dalam pelulusan bahan awal, bahan
pengemas, hingga produk setengah jadi.
d. Memastikan bahwa bahan awal untuk produksi obat telah
memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan, meliputi: identitas,
kekuatan, dan kualitasnya.
e. Memastikan bahwa pengemas dalam proses telah sesuai
spesifikasi.
f. Memastikan bahwa suatu batch obat tetap memenuhi persyaratan
mutu selama waktu edar yang telah ditetapkan (stability control).
Pelaksanaan kegiatan di Instalwastu ditunjang dengan adanya
HPLC, spektrofotometer, Laminar Air Flow di laboratorium
mikrobiologi, Read Biotic untuk pembacaan daya hambat antibiotik
terhadap bakteri, Climatic Chamber, alat disolusi, Particle Counter
serta berbagai fasilitas penunjang lainnya.
Lafi Puskesad memiliki Instalwastu yang sesuai dengan standar
CPOB. Bangunan dari Instalwastu di Lafi Puskesad terdiri dari:

147
1. Laboratorium Kimia
Ruang laboratorium kimia memiliki peralatan dan fasilitas
yang menunjang pemeriksaan mutu secara kimia seperti lemari
asam dan Climatic Chamber.
2. Laboratorium Mikrobiologi
Laboratorium mikrobiologi dilengkapi dengan Laminar Air
Flow dan alat pembaca daya hambat antibiotik terhadap bakteri
(Read Biotic) serta alat-alat penunjang lainnya seperti inkubator
untuk jamur dan bakteri, lemari pendingin dan autoklaf.
3. Laboratorium Fisika
Peralatan yang terdapat di ruang fisika antara lain adalah
alat uji kekerasan tablet yang disertai dengan uji ketebalan dan
diameter tablet, alat uji keregasan tablet, alat uji kebocoran strip
dan alat uji waktu hancur tablet.
4. Ruang Instrumen
Peralatan yang ada di ruang instrument adalah
Spektrofotometer UV-Vis, HPLC dan alat uji disolusi.
5. Ruang Contoh Pertinggal
Ruang ini sebagai tempat penyimpanan contoh pertinggal
obat jadi dengan masa simpan satu tahun setelah masa kadaluarsa.
6. Ruang Timbang
7. Gudang Reagen
8. Perpustakaan
9. Ruang Staff
4.3.6 Observasi Sistem Pengolahan Air
Air yang digunakan di industri farmasi perlu diolah (treatment)
untuk mendapatkan air yang sesuai dengan spesifikasi dan kualitas air.
Ada empat kualifikasi air yang digunakan di industri farmasi Lafi
Puskesad, yaitu :
a. Air Pasokan (Feed Water) atau Raw Water
Air pasokan berasal dari air baku seperti sumur, sungai atau
air PDAM. Mutu air pasokan hendaklah dipantau secara rutin. Air

148
yang digunakan oleh Lafi Puskesad berasal dari PDAM karena air
tersebut telah mengalami pengolahan terlebih dahulu, tetapi
dalam pengolahannya PDAM menggunakan klor sehingga tidak
stabil. Air tanah tidak digunakan karena mengandung mineral-
mineral yang harus diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan
kandungan mineralnya. Pengujian tambahan hendaklah
dipertimbangkan jika ada perubahan sumber air baku, teknik
pengolahan atau konfigurasi sistem.
Jika mutu air baku berubah secara bermakna dari
persyaratan Pemerintah setempat antara lain pemerian, pH,
kesadahan, kadar besi, silika, mikroba; pemakaian air sebagai
APF atau air pasokan ke tahapan lanjut pengolahan air, hendaklah
dikaji dan hasil kajian tersebut didokumentasikan.
Bila air pasokan berasal dari sistem "in-house" misal air
yang diperoleh dari air sumur, pengolahan air baku, langkah
pengolahan yang digunakan dan sistem konfigurasi hendaklah
didokumentasikan. Perubahan sistem atau pengoperasiannya tidak
boleh dilakukan sampai pengkajian selesai dilaksanakan dan
perubahan disetujui bagian Pemastian Mutu.
Bila air pasokan disimpan dan didistribusikan oleh
pengguna, sistem penyimpanan tidakboleh menyebabkan terjadi
penurunan mutu air sebelum penggunaan. Pada penyimpanan
seperti itu, pengujian hendaklah dilakukan secara rutin sesuai
metode yang ditentukan Jika air disimpan, desain sistem dan
pengoperasian hendaklah memastikan pemakaian atau resirkulasi
air yang disimpan mencukupi untuk mencegah stagnansi.
Sistem air pasokan biasanya dianggap sebagai sistem yang
berdampak tidak langsung dan tidak perlu dikualifikasi tetapi
hendaklah dilakukan pemantauan pemenuhan spesifikasi secara
berkala. Air pasokan yang dibeli dalam bentuk ruahan dan
dikirimkan ke pengguna dengan menggunakan kendaraan tangki
(tanker) menimbulkan masalah dan risiko tambahan, yang tidak

149
terjadi pada air pasokan yang disalurkan melalui pipa. Kegiatan
penilaian pemasok dan sertifikasi oleh bagian Pemastian Mutu,
termasuk konfirmasi penerimaan kendaraan pengirim, hendaklah
diperlakukan dengan cara yang sama seperti untuk bahan awal
lain.
Peralatan dan sistem yang digunakan untuk menghasilkan
pasokan air, hendaklah dapat dikosongkan dan disanitasi. Tangki
penampungan hendaklah ditutup dengan penutup berventilasi
yang sesuai, yang memungkinkan dilakukan inspeksi visual,
dapat dikosongkan dan disanitasi.Pipa distribusi hendaklah dapat
dikosongkan, dibilas dan disanitasi.
Perhatian khusus hendaklah dilakukan untuk
mengendalikan kontaminasi mikroba pada filter karbon dan water
softener. Bila mikroba telah menginfeksi sistem, kontaminasi
dengan cepat akan membentuk biofilm dan menyebar ke seluruh
sistem. Teknik pengendalian kontaminasi seperti back-flushing,
sanitasi kimia atau panas dan regenerasi yang lebih sering
hendaklah dipertimbangkan.sebagai tambahan untuk menghambat
pertumbuhan mikroba, aliran air terus-menerus hendaklah
dipertahankan pada seluruh komponen pengolahan air.
b. Potable Water (PW)
Proses pengolahan potable water ini sebagian besar
dilakukan secara fisika dan sebagian kecil secara kimia. Air baku
yang digunakan bersumber dari air PDAM. Dalam industri
farmasi, penggunaan potable water meliputi berbagai aspek
dalam suatu pabrik seperti diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sebagai kebutuhan rumah tangga perusahaan.
2. Sebagai air pendingin pada cooling tower.
Air yang dipakai dalam cooling tower harus memiliki
kadar kesadahan, silika dan minyak yang kecil. Hal tersebut
dikarenakan dalam proses pendinginan terjadi penyerapan
panas pada air sehingga temperatur air meningkat. Bila saat

150
itu kadar kesadahan, silika dan minyak dalam air tinggi maka
akan terbentuk kerak dan endapan minyak sehingga dapat
mengurangi cooling capacity pada sistem. Selain itu kadar
besi dalam air harus memiliki kadar yang rendah agar
meminimalisir kemungkinan timbulnya korosi.
3. Sebagai air baku pada Purified Water Plant.
Digunakannya potable water pada pembuatan purified
water karena potable water memiliki kadar suspensi dan zat
pengotor yang lebih sedikit dibandingkan air baku sebelum
dilakukan pengolahan sehingga meringankan kerja alat pada
proses pembuatan purified water.Proses pengolahan pada
potable water plant meliputi proses secara fisika dan kimia.

POTABLE WATER PLANT


Kaporit
P-11

P-8 P-7
Well Water

E-4 E-8
P-12
Storage Tank
P-3 Potable Water
E-7
P-2 Dosing
P-5 P-4
Sand Catridge Carbon Zeolite P-14
City Water Pump
Filter filter Filter Filter
V-1
E-2 P-9 P-19 P-20 P-10 P-18

E-5 E-11 E-6 E-12


E-9

Storage Tank

E-1

Gambar 4. Skema Dan Tahapan Proses Potable Water Plant

Keterangan :
a) Storage Tank
Tahap ini dilakukan agar selama proses pengolahan
potable water dapat dikendalikan alirannya
b) Sand Filter
Filter ini terdiri dari pasir silika. Dapat menyaring
suspensi berukuran partikel 250-500 nm. Contohnya
adalah pasir dan endapan kasar yang tersuspensi.
c) Catridge Filter

151
Terbuat dari kain yang mempunyai pori-pori
berukuran 10 µm. Dapat menyaring suspensi berukuran
partikel 100-250 nm. Contohnya adalah endapan-
endapan halus.
d) Carbon Filter
Filter ini terdiri dari karbon aktif. Dapat menyaring
koloid yg berukuran 1-100 nm dan juga dapat menyerap
minyak, bau, warna dan zat-zat organik lainnya.
Memiliki kapasitas perubahan kation yaitu dapat
menyerap sebagian kation seperti besi dan mangan.
e) Zeolite Filter
Filter ini terdiri dari zeolite yang memiliki
kapasitas perubahan kation lebih baik daripada karbon
aktif. Dapat menyerap logam berat, bau, kopi, darah, cat,
sampah radioaktif, arsenik dan bahan-bahan beracun lain
yang dapat ditemukan dalam air. Dapat membuat air
yang berada dalam kondisi pH asam menjadi lebih netral
berdasarkan kapasitas perubahan kationnya yang besar.
Zeolite dapat berfungsi juga sebagai perisai penyaringan
fisik untuk bakteri pathogen.
f) Chlorinasi
Chlorinasi adalah proses penambahan senyawa
yang mengandung Chlor dengan tujuan sebagai zat
desinfektan. Ditambahkan ke dalam air hingga kadar
Chlor 10-30 ppm.
c. Purified Water/ Aquademineralisata
Dalam proses pembuatan obat diperlukan air yang higienis,
steril, dan murni sehingga proses dan penetapan standar kualitas
air dilakukan secara ketat dan serius karena menyangkut
kesehatan manusia. Penggunaan purified water pada industri
farmasi adalah sebagai berikut.
1. Sebagai pencuci alat proses produksi

152
Alat proses yang telah dipakai harus dibersihkan dari
sisa-sisa produk dan disterilkan. Jadi, alat proses dicuci
dengan menggunakan cairan pembersih, dibilas dengan
potable water, lalu alat proses dibilas dengan purified water
beberapa kali hingga bersih. Kebersihannya pun selalu
dikontrol dengan melakukan uji konduktivitas dan pH pada
air bilasan terakhir. Dengan kemurnian yang tinggi dan
temperatur lebih dari 70°C diharapkan purified water dapat
membersihkan alat proses dari sisa residu dan mikroba yang
dapat mengurangi kualitas produk.
2. Sebagai bahan baku untuk produk
Air diperlukan dalam pembuatan obat yang berbentuk
padatan maupun cairan sebagai pelarut sehingga kualitas
purified water harus selalu dijaga.
3. Sebagai air umpan ketel pada boiler
Air umpan ketel harus terhindar dari zat-zat yang dapat
menyebabkan korosi, foaming dan kerak. Zat-zat penyebab
korosi yang harus dihilangkan dari dalam air diantaranya
adalah besi, karbonat, dan ammonia. Zat yang dapat
menimbulkan foaming biasanya berasal dari minyak. Zat
yang dapat menyebabkan kerak yaitu silika, magnesium,
kalsium, dan garam-garam karbonat.
Proses pengolahan pada purified water plant sebagian
besar dilakukan pengolahan secara kimia karena sumber
airnya yaitu potable water yang sebelumnya sudah dilakukan
proses pengolahan secara fisik, sehingga hanya kandungan
mineral dan ion saja yang harus dihilangkan agar air menjadi
murni.
Metode untuk memproduksi Air Murni tidak ditetapkan
di farmakope.Tiap teknik pemurnian yang sesuai dan
terkualifikasi atau tahapan teknik, dapat digunakan untuk
membuat Air Murni. Secara umum digunakan proses

153
penukaran ion, ultrafiltrasi dan/ atau proses RO. Teknik
destilasi dapat juga digunakan.
d. Air dengan Tingkat Pemurnian yang Tinggi/ ATPT (Highly
purified Water/ HPW)
Air dengan Tingkat Pemurnian yang Tinggi (ATPT)
hendaklah dibuat dari Air Murni. ATPT hendaklah memenuhi
standar kualitas air untuk lnjeksi termasuk persyaratan endotoksin,
tetapi metode pengolahannya dianggap tidak sehandal
distilasi.ATPT dapat diproses melalui kombinasi metode seperti
Reverse Osmosis (RO), ultrafiltrasi dan deionisasi.
e. Air untuk lnjeksi/ Water For Injection (WFI)
Farmakope menentukan atau membatasi tahap akhir
pemurnian air yang diizinkan dalam produksi air untuk lnjeksi.
Destilasi adalah teknik yang dipilih; karena dipertimbangkan
sebagai teknik yang lebih handal, berdasarkan perubahan fase, dan
dalam beberapa hal digunakan suhu tinggi pada peralatan proses,
tergantung pada peralatan yang dipilih.
Hal-hal berikut hendaklah dipertimbangkan ketika merancang
sebuah sistem pemurnian air:
1. Mutu air pasokan
2. Spesifikasi mutu air yang dipersyaratkan;
3. Untuk menghindari siklus start/stop terlalu sering dilakukan,
ukuran generator untuk memasok air ke SPA hendaklah cukup
sehingga jumlah air pasokan optimal atau cukup untuk
pengolahan yang terus menerus;
4. Blow-down dan dump function serta
5. Ventilasi pendinginan untuk mencegah masuknya kontaminan.

154
Highly purified
Purified Water Water for injection
Peraturan water
terbaru CPOB Europhean Europhean pharm, Europhean pharm,
pharm, USP USP USP
Conductivity at 1,3 𝜇S/cm 1,3 𝜇S/cm 1,3 𝜇S/cm
250C
Heavy metals - 0,1 ppm 0,1 ppm
Nitrat - 0,2 ppm 0,1 ppm
Total Organic
<500 pb <500 pb <500 pb
Carbon
Microbial limit <100 cfu/mL <100 cfu/mL <100 cfu/mL
Endotoksin - <0,25 Eu/mL <0,25 Eu/mL
Tabel 2. Standar Air Yang Digunakan Untuk Produksi.

1. Kualifikasi
Sistem APF, Air Murni, ATPT dan Air untuk lnjeksi
berdampak langsung terhadap mutu, sehingga parameter mutu
kritis sistem tersebut hendaklah dikualifikasi. Kualifikasi
hendaklah mengikuti kaidah validasi yang mencakup Kualifikasi
Desain (KD), kualilfikasi Instalasi (KI), Kualifikasi Operasional
(KO) dan Kualifikasi Kinerja (KK) sesuai dengan Pedoman CPOB.
Petunjuk Teknis ini tidak menetapkan persyaratan standar
unluk tahap validasi KD, Kl dan KO, tetapi hanya fokus pada
pendekatan KK yang hendaklah dilaksanakan pada sistem
pemurnian APF untuk menunjukkan kinerja yang konsisten dan
handal. Pendekatan tiga fase hendaklah digunakan untuk
memenuhi tujuan pembuktian kehandalan dan ketahanan sisiem
dalam kinerja jangka panjang.
Pendekatan tiga fase hendaklah digunakan untuk memenuhi
tujuan pembuktian kehandalan dan ketahanan sistem dalam kinerja
langka panjang:
a. Fase 1
Jangka waktu pengujian 2 – 4 minggu hendaklah dilaksanakan
untuk memantau sistem secara intensif. Selama jangka waktu
pengujian ini sistem hendaklah beroperasi terusmenerus tanpa
kegagalan atau penyimpangan kinerja.

155
Kegiatan-kegiatan berikut ini hendaklah dicakup dalam
pendekatan pengujian:
1) Uji kimia dan mikrobiologi dilakukan sesuai rencana yang
telah ditetapkan;
2) Pengambilan sampel dilakukan tiap hari dari:
a) air pasokan untuk verifikasi mutu;
b) tiap tahap proses pemurnian:
c) tiap titik penggunaan dan titik sampel lain yang telah
ditetapkan;
3) Penetapan rentang operasional yang sesuai;
4) Penetapan prosedur pengoperasian, pembersihan, sanitasi
dan pemeliharaan;
5) Mendemonstrasikan produksi dan distribusi air yang
memenuhi kualitas dan kuantitas yang dipersyaratkan;
6) Penggunaan dan penyempurnaan Prosedur Tetap (Protap)
untuk pelaksanaan/pemeliharaan, sanitasi dan pemecahan
masalah;
7) Penetapan batas waspada dan batas bertindak; dan
8) Pengembangan dan penyempurnaan prosedur penanganan
kegagalan sistem.
b. Fase 2
Jangka waktu pengujian 2-4 minggu berikutnya
hendaklah dilaksanakan untukmelakukan pemantauan lebih
lanjut yang intensif, bersamaan dengan penyempurnaan semua
Protap setelah fase 1 selesai. Pola pengambilan sampel secara
umum hendaklah sama seperti fase 1. Pada fase ini,air dapat
digunakan untuk tujuan pembuatan obat.Pendekatan ini
hendaklah juga mendemonstrasikan:
1) Parameter operasional yang konsisten dalam rentang yang
telah ditetapkan; dan

156
2) Produksi dan distribusi air dengan kuantitas dan kualitas
yang dibutuhkan secara konsisten jika sistem dioperasikan
sesuai protap.
c. Fase 3
Fase 3 berlangsung selama 12 bulan setelah fase 2
memenuhi syarat. Air dapat digunakan untuk tujuan
pembuatan obat selama fase ini, yang memiliki tujuan
sebagai berikut:
1) Mendemonstrasikan kinerja yang handal padajangka
panjang; dan
2) Memastikan bahwa variasi pergantian musim dievaluasi.
Lokasi dan frekuensi pengambilan sampel serta pengujian
hendaklah dikurangi ke pola rutin (reguler/kegiatan
produksi sehari-hari) berdasarkan prosedur yang
ditetapkan dan hasil pemantauan yang diperoleh dari fase
1 dan fase 2.
2. Pemantauan Sistem Secara Berkesinambungan
Setelah fase 3 program kualifikasi sistem pengolahan APF
selesai, pengkajian sistem hendaklah dilaksanakan. Setelah
pengkajian ini, hendaklah dilakukan pemantauan rutin
berdasarkan hasil dari fase 3. Pemantauan hendaklah mencakup
kombinasi instrumen pemantau online terhadap parameter seperti
aliran, tekanan, suhu, konduktivitas, dan IOC, serta pengujian
sampel offline (di laboratorium) untuk parameter fisika, kimia
dan mikrobiologi.
Sampel Offline untuk pengujian di laboratorium hendaklah
diambil dari titik penggunaan dan titik sampel yang spesifik.
Sampel dari tempat penggunaan hendaklah diambil dengan cara
yang sama ketika air dialirkan untuk penggunaan. Pengujian
hendaklah dilakukan untuk memastikan pemenuhan spesifikasi
farmakope, dan mencakup minimal penentuan konduktivitas, pH,
logam berat, nitrat, IOC, Angka Lempeng Total (ALT), bakteri

157
patogen spesifik dan terhadap air untuk lnjeksi perlu pengujian
endotoksin.
Analisis tren terhadap hasil pemantauan hendaklah
dilakukan (kecenderungan/trending dalam batas 2 sigma).Batas
waspada dan bertindak hendaklah ditetapkan berdasarkan laporan
data historis.Tren yang sering melampaui batas waspada
hendaklah memicu investigasi secara mendalam akar
permasalahan, dilanjutkan dengan tindakan korektif yang tepat.
Pemeliharaan Sistem Air/Sistem APF hendaklah dirawat
sesuai dengan program perawatan terkendali dan dokumentasikan
yang mencakup:
a. Frekuensi perawatan yang ditentukan untuk tiap bagian
sistem;
b. Program kalibrasi;
c. Protap untuk pekerjaan yang spesifik; .
d. Pengendalian suku cadang yang disetujui;
e. Penerbitan rencana perawatan dan instruksi yang jelas;
f. Pengkajian dan persetujuan penggunaan sistem setelah
pekerjaan perawatan selesai;
g. Pencatatan dan pengkajian masalah dan kesalahan selama
perawatan.Pengkajian Sistem
Sistem APF (Air Murni, ATPT dan Air untuk lnjeksi)
hendaklah dikaji secara berkala pada interval waktu yang
ditentukan.Tim evaluasi terdiri dari bagian Teknik, bagian
Pemastian Mutu, bagian Produksi dan bagian Perawatan.
Pengkajian hendaklah mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut:
a. Perubahan yang terjadi sejak pengkajian terakhir;
b. Kinerja sistem;
c. Kehandalan;
d. Tren mutu,
e. Peyimpangan;

158
f. lnvestigasi;
g. Hasil uji di luar spesikasi (HULS) pemantauan;
h. Perubahan instalasi;
i. Pemutakhiran dokumentasi instalasi;
j. Buku log;
k. Status terakhir daftar protap.
Sistem baru, atau sistem yang menunjukkan ketidakstabilan
atau ketidakhandalan,hendaklah juga dikaji mengenai hal-hal
berikut:
a. Kebutuhan investigasi;
b. CAPA
c. Kualifikasi (KD, FAT, Kl, SA I, KO, KK) atau dokumen
verifikasi setara dan fase pemantauan sistem.
Sistem APF (Air Murni, ATPT dan air untuk injeksi) adalah
sistem yang cenderung menjadi subyek inspeksi Badan POM dari
waktu ke waktu. Pengguna hendaklah melaksanakan inspeksi diri
terhadap SPA yang sudah berjalan.
Daftar berikut dapat dijadikan acuan dalam inspeksi atau
audit terhadap system pengolahan APF:
a. Gambar SPA terakhir yang menunjukan semua peralatan
dalam sistem dengan penandaan fungsi alat mulai dari awal
inlet sampai titik pengguna lengkap dengan titik pengambilan
sampel;
b. Gambar pemipaan yang disetujui (misal, ortografis dan/ atau
isometris);
c. Pola pengambilan sampel dan pemantauan dilengkapi gambar
semua titik sampel;
d. Program pelatihan untuk pengambilan dan pengujian sampel;
e. Penetapan batas waspada dan batas bertindak untuk
pemantauan;
f. Pemantauan hasil dan evaluasi tren;
g. Pemeriksaan terhadap kajian sistem tahunan yang terakhir;

159
h. Pengkajian perubahan terhadap sistem sejak inspeksi terakhir
dan pemeriksaan apakah pengendalian perubahan telah
diimplementasikan;
i. Pengkajian terhadap penyimpangan yang tercatat dan
investigasinya;
j. lnspeksi umum terhadap status dan kondisi sistem;
k. Pengkajian catatan perawatan, kegagalan dan perbaikan; dan
l. Pemeriksaan kalibrasi dan standardisasi instrumen kritis.

Tabel 3. Fase Validasi Air

Fase
Durasi Frekuensi Parameter
validasi
-Pemeriksaan Kimia
-Conductivity
Kualifikasi
Setiap hari di tiap -TOC
kinerja fase 14 hari
titik sampling -pH
ke-1
-Pemeriksaan
mikrobiologi
-Pemeriksaan Kimia
-Conductivity
Kualifikasi
Setiap hari di tiap -TOC
kinerja fase 14 hari
titik sampling -pH
ke-2
-Pemeriksaan
Mikrobiologi
-Pemeriksaan Kimia
-Conductivity
Kualifikasi
1 Setiap 1 minggu -TOC
kinerja fase
tahun kerja -pH
ke-3
-Pemeriksaan
Mikrobiologi

4.3.7 Observasi Sistem Tata Udara


Lafi AD menerapkan 3 sistem HVAC yang berbeda di tiga
gedung produksi; beta laktam, non beta laktam dan sefalosporin.
Pemisahan sistem HVAC ini bertujuan untuk mencegah terjadinya
kontaminasi silang antar produk.
1. Beta laktam

160
Merupakan ruangan kelas E sehingga untuk sistem tata
udaranya harus dikondisikan sebagai berikut:
a. Tekanan di koridor ruang produksi dibuat lebih besar daripada
tekanan di dalam ruangan produksi (penimbangan, mixing,
filling, cetak, stripping, ruang karantina dan IPC). Perbedaan
tekanan yang digunakan antara koridor dan ruang produksi
adalah 5 – 10 Pa. Perbedaan tekanan ini bertujuan agar partikel
beta laktam dari ruangan produksi tidak mengkontaminasi
ruangan produksi lainnya, personil dan lingkungan di
sekitarnya.
b. Suhu pada ruang penyimpanan bahan baku (zat aktif) berkisar
antara 8 – 15 C (udara sejuk) dan suhu pada ruang
penyimpanan bahan tambahan.
c. Sistemnya telah dilengkapi dengan system pengaturan udara
(air handling system, air washer, air shower dan airlock/ruang
penyangga) .
d. Jumlah pertukaran udara yang terjadi pada ruang produksi beta
laktam adalah 20 x /menit.
e. Filter udara yang digunakan adalah pre filter (G4), medium
filter (F8) dan hepa filter (H13).
2. Non beta laktam
a. Tekanan di koridor ruang produksi dibuat lebih besar daripada
tekanan di dalam ruangan produksi (penimbangan, mixing,
filling, cetak, stripping, ruang karantina dan IPC). Perbedaan
tekanan yang digunakan antara koridor dan ruang produksi
adalah 5 – 10 Pa. Perbedaan tekanan ini bertujuan agar aliran
udara dari ruangan produksi tidak mengkontaminasi ruangan
produksi lainnya atau lingkungan di sekitarnya.
b. Suhu pada ruang penyimpanan bahan baku (zat aktif) dan ruang
penyimpanan bahan tambahan berkisar antara 8 – 15ºC (udara
sejuk).

161
c. Filter udara yang digunakan adalah pre filter (G4), medium
filter (F8) dan hepa filter (H13).
d. Jumlah pertukaran udara yang terjadi pada ruang produksi beta
lactam adalah 20 x/menit
3. Sefalosporin
a. Tekanan di koridor ruang produksi dibuat lebih rendah
daripada tekanan di dalam ruangan produksi (penimbangan,
mixing, filling, cetak, stripping, ruang karantina dan IPC).
Perbedaan tekanan yang digunakan antara koridor dan ruang
produksi adalah 5 – 10 Pa. Perbedaan tekanan ini bertujuan
agar aliran udara di dalam ruang produksi selalu terjaga bersih
(steril) dan tidak terkontaminasi oleh lingkungan.
b. Suhu pada ruang penyimpanan bahan baku (zat aktif) dan ruang
penyimpanan bahan tambahan berkisar antara 8⁰ – 15⁰ C
(udara sejuk).
c. Terdapat 6 kelas ruangan berbeda pada bangunan sefalosporin
dimana untuk pengaturan system tata udaranya, kelas A
menggunakan hepa filter dan laminar air flow untuk menjaga
jumlah partikel agar tercipta suatu kondisi steril; ruang kelas B
juga menggunakan hepa filter tetapi tidak ada laminar air flow;
sementara kelas C dan D hanya menggunakan pre filter dan
medium filter.
d. Aliran udara mengalir dari kelas A ke ruangan kelas B dan
berikutnya ke ruangan kelas C dan D. jika ada ruang kelas E
dan F maka udara dari D akan mengalir ke E dan F. Prinsipnya
aliran udara mengalir dari ruangan yang kelasnya lebih tinggi.
Dengan demikian dapat dikatakan juga bahwa tekanan pada
ruang kelas A lebih tinggi.
4.2.8 Observasi Sistem Udara Bertekanan
Lafi AD menggunakan sistem udara bertekanan sebagai salah
satu sarana untuk menunjang proses produksi. Udara bertekanan yang
dihasilkan harus bersih dan terjaga dari kontaminasi karena akan

162
bersentuhan langsung dengan produk. Udara diambil dari udara luar
dan diberi kompresi, kemudian difilter dan didistribusikan. Untuk
menghindari adanya kontaminasi saat pendistribusian, maka bahan
pipa, tangki dan katup yang digunakan terbuat stainless steel kelas SS
316 dan hanya menggunakan satu jalur distribusi utama yang
bertujuan untuk mencegah terjadinya penurunan tekanan yang tiba-
tiba.
Sistem udara bertekanan yang digunakan di Lafi Puskesad
terdiri atas tiga komponen utama yaitu: kompresor, pengering udara
dan penyaring udara. Kompresor yang digunakan adalah kompresor
bebas minyak (Oil Free Scroll Air Compressor Ingersoll Rand® AS
2-11 kw); yang bermaksud bebas oli di area kompresi tetapi
kompresornya sendiri tetap memerlukan oli untuk melumaskan area
gear yang dipisahkan dengan segel. Sementara untuk tipe alat
pengering udara yang digunakan adalah Refrigerated Air Dryer dan
unit alat penyaring udaranya adalah pre filter (posisi: setelah udara
keluar dari kompresor dan dari air receiver), oil removal, active
carbon filter (setelah udara keluar dari air dryer) dan final filter (pada
masing-masing ruangan, kecuali pada bangunan beta lactam, hanya
ada satu buah yang posisinya sebelum didistribusikan ke ruangan-
ruangan).
Jumlah ruangan yang menggunakan sistem udara bertekanan di
Lafi AD adalah 23 ruangan; dengan rincian 7 ruangan beta lactam
(ruang mixing, ruang cetak kaplet, ruang cuci alat, ruang isi kapsul,
ruang strip, ruang isi serbuk, dan ruang cuci botol); 11 ruangan di
fasilitas non beta produksi padat (ruang isi kapsul 1 dan 2, ruang strip
1, 2, 3 dan 4, ruang salut 2, ruang cuci alat dan ruang campur); 5
ruangan pada fasilitas non beta produksi cair (ruang isi cairan luar,
ruang isi cairan oral, ruang campur tetes telinga, ruang cuci alat 1 dan
2, ruang cuci botol, dan ruang pengemasan). Contoh pemanfaatan
sistem udara bertekanan yang terdapat di Lafi AD adalah untuk
menggerakan piston mesin strip dalam proses pengepresan dan

163
pemotongan strip; untuk pengoperasian mesin kapsul yang dimulai
dari proses pembukaan kapsul, pengisian kapsul dan penutupan
kapsul; pada mesin pengisian sirup kering dan pada alat Fluid Bed
Dryer (FBD) untuk menggerakan granul basah.
Untuk pemeliharaan unit air dryer dilakukan secara berkala
yaitu mingguan, bulanan dan tahunan. Pemeriksaan mingguan yang
dilakukan adalah pengecekan suara getaran, sensor temperature dan
cooling fan. Pemeriksaan bulanan yang dilakukan adalah pemeriksaan
dan pembersihan filter udara, pemeriksaan baut yang longgar dan
dipadatkan. Sementara untuk pemeriksaan tahunan yang dilakukan
adalah penggantian filter udara, pemeriksaan cooling fan serta
penggantian selang yang bocor. Selain tindakan pemeliharaan yang
dipantau, tindakan pemeriksaan kinerja sistem juga dipantau melalui
pemeriksaan mikroba pada masing-masing ruangan yang
menggunakan sistem udara betekanan tersebut; jumlah partikel udara
yang dihitung dengan alat particle counter; dan Dew Point untuk
mengecek jumlah kandungan minyak pada udara.
4.3.9 Observasi Sistem Pengolahan Limbah
Pada bagian produksi obat non betalaktam, proses pengolahan
limbah padat dimulai saat penyedotan debu oleh dust collector dengan
bantuan blower kemudian dikumpulkan dalam kantong penampung
dan dibakar. Untuk limbah padat yang dihasilkan dari proses
penyalutan tablet, limbah terlebih dahulu diolah dengan sistem air
washer agar berubah bentuk menjadi limbah cair yang kemudian akan
dikumpulkan bersama limbah cair lainnya pada bak sedimentasi.
Sedangkan limbah cair non betalaktam langsung dialirkan ke bak
sedimentasi di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tanpa
mengalami proses destruksi larutan NaoH 0,1 N.
Pada produksi betalaktam, pengolahan limbah diolah dengan
sistem air washer (limbah padat atau debu disedot oleh blower
kemudian dikumpulkan dalam kantong penampung, seterusnya limbah
dapat di dekstrusi). Cairan ini didestruksi untuk memecah cincin

164
betalaktam dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 N yang diteteskan
secara otomatis sampai diperoleh pH 9, lalu kembali dinetralkan
dengan pemberian HCl. Limbah hasil destruksi ini dialirkan ke bak
sedimentasi IPAL untuk dilakukan pengolahan lebih lanjut.
Pengolahan limbah dilakukan dengan secara fisika,
mikrobiologi, dan kimia. Pengolahan secara fisika dilakukan dengan
cara mengendapkan kotoran pada bak sedimentasi. Cara kimia
dilakukan dengan menambahkan koagulan Poly Alumunium Chloride
(PAC) pada bak koagulan dan flokulan polimer anionik pada bak
flokulasi. Cara mikrobiologi dilakukan dengan memanfaatkan bakteri
aerob yang terdapat pada bak aerasi untuk menghancurkan zat – zat
organik yang terdapat pada limbah. Untuk menjaga pertumbuhan
bakteri ditambahkan pupuk urea atau NPK sebagai nutrisi untuk
bakteri serta aerator yang memompa oksigen. Proses ini dilaksanakan
selama 18-24 jam sesuai kebutuhan.
Tahapan pengolahan air limbah di IPAL Lafi Puskesad
meliputi beberapa tahap sebagai berikut:
1. Bak Sedimentasi Awal
Air limbah yang masuk dari produksi β -laktam (dari bak
destruksi) maupun Non β-laktam, dan laboratorium pengawasan
mutu akan ditampung dalam bak penampung, kemudiannya
kotorannya diendapkan dalam bak penampung/sedimentasi awal.
Dari bak ini air mengalir ke bak pengendapan/sedimentasi
pertama.
2. Bak Sedimentasi Pertama
Pada tahap ini terjadi pengendapan kembali, didalam bak ini
terdapat sekat-sekat yang menghambat laju aliran air sehingga
reaksi pengendapan berlangsung lama dan kotoran dapat terhenti
oleh sekat-sekat tersebut. Air limbah dari bak ini mengalir ke bak
ekualisasi.
3. Bak Ekualisasi

165
Bak ini dilengkapi dengan pompa untuk mengendalikan
fluktuasi jumlah air kotor yang tidak merata, yaitu pada jam kerja
dan di luar jam kerja. Bak ini juga disertai dengan pengaduk
untuk mengaduk bahan-bahan agar tidak mengendap.
4. Bak Aerasi (Aeration Tank)
Air limbah masuk ke dalam bak ini dengan menggunakan
pompa secara kontinyu. Di dalam bak ini terdapat bakteri aerob
yang berguna untuk menghancurkan zat-zat organik. Bak ini
dilengkapi dengan aerator untuk memasukkan oksigen ke dalam
air limbah. Selain itu di dalam bak ini terdapat pengaduk yang
berfungsi untuk mengaduk air limbah sehingga bakteri menyebar
merata dan menjaga agar keseluruhan air limbah mengalami
kontak langsung dengan bakteri. Untuk menjaga pertumbuhan
bakteri ditambahkan pupuk urea/NPK sebagai nutrisi untuk
bakteri dan penjernih air limbah. Pada bak ini terdapat 2 alat
defuser yang berfungsi untuk mengurangi pengendapan. Defuser
pertama berfungsi untuk mengalirkan air limbah ke bak
selanjutnya (bak Clarifier) disebut diffuser tidak aktif, sedangkan
diffuser aktif berfungsi untuk menarik kembali endapan lumpur
dari bak Clarifier. Ciri-ciri air limbah yang bersih di bak aerasi
yaitu berwarna coklat jernih.
5. Bak Sedimentasi Kedua/Bak Clarifier
Air limbah dari bak aerasi mengalir ke dalam bak clarifier.
Dalam bak ini hanya terjadi proses pengendapan. Bak berbentuk
kerucut di bagian bawah untuk menampung endapan.
6. Bak Koagulasi
Air dari bak clarifier masuk ke dalam bak koagulasi. Di
dalam bak ini ditambahkan koagulan PAC (Poly Aluminium
Chloride) dengan menggunakan dozing pump yang disertai
dengan pengaduk baling-baling. Konsentrasi PAC yang
diteteskan dalam larutan yaitu 50 kg PAC dalam 1000 L air. Bak

166
koagulasi berfungsi sebagai bak penampung koagulan dan terjadi
proses kimia.
7. Bak Flokulasi
Dari bak koagulasi air dialirkan ke bak flokulasi yang
berfungsi untuk mengendapkan endapan yang masih terbawa. Di
dalam bak ini ditambahkan polimer anionik sebagai flokulan
dengan konsentrasi 0,5 kg polianionik dalam 1000 L air. Pada bak
flokulasi, air yang sudah jernih mengalir ke bak kontrol melalui
bidang yang miring ke satu arah untuk menahan endapan dan
partikel-partikel lain yang masih terdapat dalam air limbah dari
bak flokulasi. Melalui bidang miring ini, air jernih pada bak
flokulasi mengalir ke bak kontrol, sedangkan endapan yang masih
terbawa akan mengendap dan masuk ke bak sedimentasi ketiga
yang merupakan bak pengendapan akhir.
8. Bak Bidang Miring
Bak bidang miring merupakan bagian dari bak flokulasi.
Bak bidang miring ini menahan endapan dan partikel-partikel lain
yang masih terdapat dalam air limbah dari bak flokulasi. Melalui
bidang miring ini, air jernih pada bak flokulasi mengalir ke bak
kontrol, sedangkan endapan yang masih terbawa akan mengendap
dan masuk ke bak sedimentasi ketiga (bak pengendapan akhir).
9. Bak Sedimentasi Ketiga (bak pengendapan akhir)
Dari bak flokulasi, air yang masih mengandung endapan
dialirkan ke dalam bak sedimentasi ketiga yang berbentuk kerucut
di bagian bawah bak. Pada bak ini diberi karung dan serabut yang
berfungsi sebagai penyaring untuk menampung endapan,
sedangkan air yang lebih jernih masuk ke dalam bak penampung
cairan.
10. Bak Penampung Cairan
Dari bak ini air yang kemungkinan masih mengandung
endapan dialirkan ke bak sedimentasi pertama untuk dilakukan

167
pengolahan kembali sampai limbah tersebut benar-benar bersih
dari senyawa kimia yang berbahaya.
11. Bak Kontrol
Air yang sudah jernih dialirkan ke bak kontrol yang berisi
ikan sebagai kontrol biologi. Kemudian dilakukan pemeriksaan
kadar COD (Chemical Oxygen Demand), BOD (Biological
Oxygen Demand), TDS (Total Dissolve Solid), dan pH (6-9) dari
air yang terdapat dalam bak kontrol ini, jika hasilnya memenuhi
persyaratan maka air dapat dibuang ke saluran umum
menggunakan klep agar air dari saluran umum tidak masuk.

168
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil PKPA (PKPA) di Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan
Angkatan Darat (Lafi Puskesad) pada periode 05 Agustus 2019 sampai
dengan 30 Agustus 2019 didapat kesimpulan sebagai berikut:
1. Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi PUSKESAD)
merupakan industri farmasi milik pemerintah yang berkedudukan
langsung di bawah Pusat Kesehatan Angkatan Darat dengan tugas
litbang dan produksi obat-obat untuk kebutuhan dukkes (dukungan
kesehatan) dan yankes (layanan kesehatan) tertentu.
2. Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Lafi PUSKESAD)
sudah menerapkan aspek-aspek yang dipersyaratkan oleh CPOB
diseluruh proses produksinya. LAFI terus melakukan upaya
pembangunan bangunan baru, memperbarui dan melengkapi peralatan,
validasi metode dan prosedur pengawasan mutu serta dilengkapi dengan
dokumentasi yang baik dan benar, untuk memenuhi kebutuhan obat
personel Angkatan Darat.
3. Apoteker memiliki peran dan tanggung jawab yang besar di Lafi
PUSKESAD. Hal ini ditunjukkan dengan keberadaan seorang Apoteker
sebagai Penanggung Jawab pada Bagian Produksi (β-laktam, non β-
laktam dan Sefalosporin), Pengawasan Mutu (Quality Control) dan
Pemastian Mutu (Quality Assurance). Hal ini telah sesuai dengan
Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian.
4. Pengelolaan industri farmasi di LAFI PUSKESAD belum sepenuhnya
memenuhi persyaratan CPOB dimana hanya 2 yang masih memenuhi
persyaratan produksi sesuai CPOB, 2 sertifikat itu adalah Produk
Penisilin Betalaktam Tablet/Kaplet dan Kapsul lunak. Sedangkan yang
masih di Resertifikasi adalah produksi Non betalaktam (Tablet salut
antibiotik dan non antibiotik), Produk kapsul keras Non betalaktam ,

169
produk tablet/kaplet antibiotik nonbetalaktam, produk cair (Sirup kering
antibiotik betalaktam).
5. Sarana penunjang seperti sistem tata udara (HVAC), udara bertekanan,
pengelolaan air limbah, serta sistem pengolahan air (purified water)
memegang peranan penting dalam pelaksanaan Cara Pembuatan Obat
yang Baik di industri farmasi.

5.2 Saran
1. Menambah jumlah personil di industri farmasi di Lafi AD sehingga
kinerja dari personal bisa lebih optimal karena beberapa personel masih
ada yang memiliki tanggungjawab ganda.
2. Industri farmasi di Lafi AD segera melakukan renovasi terhadap
bangunan yang ada di Lafi AD untuk memenuhi standart CPOB tentang
kriteria bangunan ruang produksi Sefalosporin.
3. Perlu menjalankan sistem komputerisasi secara menyeluruh, sehingga
pemantauan, pencarian data, dan penelusuran informasi menjadi lebih
mudah.

170
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2012. Pedoman


Penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: Badan POM.
Lembaga Farmasi Puskesad, 2011. Company profile [Slide]. Bandung: Lafi
Puskesad.
Pusat Kesehatan Angkatan Darat, 2007. Peraturan Kasad/219/XII/2007 tentang
Organisasi dan Tugas Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan TNI AD. Jakarta:
Dirkesad.
Pemerintah Republik Indonesia, 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1799
Tahun 2010 Tentang Industri Farmasi. Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia, 1999. Peraturan Pemerintah RI Nomor 18 Tahun
1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. 2009. Peraturan Pemerintah No.51 Tahun2009
tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia, 2010. Prosedur Tetap (Protap) tahun 2010
tentang Tugas dan Tanggung Jawab Pengelolahan Air Limbah Lafi
Puskesad.Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia, Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor
660.31/SK/694-BKPMD/82 tentang Tata Cara Pengendalian dan Kriteria
Pencemaran Lingkungan Akibat Industri.Jakarta.
Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 6 Tahun
1999 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri di Jawa Barat.
Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.245/MenKes/SK/V/1990 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

171
LAMPIRAN

172
Lampiran 1 Struktur Organisasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat

173
Lampiran 2. Struktur Organisasi Lembaga Farmasi Puskesad

174
Lampiran 3. Sistem Pengawasan Mutu Lafi Puskesad

Pembelian / Rekanan Bahan Baku dan Bahan


Pembantu

Pemeriksaan Kualitas Oleh Pemeriksaan Jumlah


Instalasi.Wastu Gudang Karantina
dan Spesifikasi

Gudang bahan baku sesuai


unit
Gudang Instalsimpan

Penimbangan

Pemeriksaan Batch
Record Pengecekan Peralatan
Ruangan dan Jenis
Pemeriksaan produk ½ jadi Jumlah Bahan Baku,IPC
oleh Instalasi. Wastu Proses Produksi

Pemeriksaan produk ruahan Produk Ruahan Pengecekan Prosedur Kerja


oleh Instalasi. Wastu

Pengepakan Pengecekan Alat. Ruang,


Produk Ruah, Label, Wadah
Pemeriksaan produk obat Ins simpan
jadi oleh Instalasi. Wastu (Gudang karantina)
Pemeriksaan Batch
Uji Stabilitas oleh Gudang Pusat II
Instalasi.Wastu
Distribusi

Pengepakan

Pengguna/User
Cek Ulang

Gudang Daerah

175
Lampiran 4. Blanko Laporan Hasil Pengujian Laboratorium
LEMBAGA FARMASI

PUSAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT

INSTALASI PENGAWASAN MUTU

LAPORAN HASIL PENGUJIAN

NOMOR : / /201

1. NAMA CONTOH 7. RUMUS KIMIA :

2. NAMA PABRIK: 8. DITERIMA TANGGAL :

3. NAMA PENYALUR : 9. MULAI DIUJI TANGGAL :

4. JUMLAH : 10. SELESAI DIUJI TANGGAL :

5. KEMASAN :

6. TGL DALUAWARSA :

11. PERMINTAAN DARI 12. MAKSUD PENGUJIAN :

Panitia Penerimaan Matkes/Matum Quality Control

No.....

Tanggal ....-....-201, TA 201. Contoh

:..No..

176
13. HASIL PENGUJIAN

a. Pemerian

b. Identifikasi

c. Kemurnian

d. Kelarutan

e. Keasaman/Kebasaan

f. Suhu Lebur : (Syarat : - )

g. Rotasi Jenis : (Syarat : - )

h. Indeks Bias : (Syarat : - )

i. Bobot Jenis : (Syarat : - )

j. Susut Pengeringan : % (Syarat : - )

k. Kadar Abu : % (Syarat : - )

l. Kadar : % (Syarat : - )

14. PEMERIKSAAN LAIN :

15. PUSTAKA : Farmakope Indonesia Ed. IV Th. 1995/Prosedur Tetap

17. KESIMPULAN :
16. CATATAN :
18. PEMERIKSA :

177
Lampiran 5. Blanko Catatan Pengujian Tablet dan Kapsul

178
Lampiran 6. Blanko Laporan Hasil Pengujian Larutan/Sirup
LEMBAGA FARMASI

PUSAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT

INSTALASI PENGAWASAN MUTU

LAPORAN HASIL PENGUJIAN

NOMOR : / P /201

1. NAMA OBAT JADI : 8. KOMPOSISI : Tiap 5 ml

2. NAMA PABRIK : Sirop/tiap ml Larutan mengandung :

3. NO. BATCH :

4. - JUMLAH : 9. DITERIMA TANGGAL :

Botol - - 201

- SELESAI KEMAS TGL : - - 10. MULAI DIUJI TANGGAL :

201 - - 201

5. KEMASAN : 11. SELESAI DIUJI TANGGAL :

6. TGL DALUAWARSA : - - 201

7. TANGGAL PEMBUATAN : - -

2011

Pem.

Lab. :

12. PERMINTAAN DARI : Ins. 13. MAKSUD PENGUJIAN :

Produksi Quality Control

No. /Sie / / 201 , Tgl. - -

201

179
14. HASIL PENGUJIAN

a. Pemerian :

b. Identifikasi :

c. pH Larutan :

d. Bobot jenis : g/ml (Syarat : - g/ml)

e. Volume rata-rata tiap Botol : ml

f. Kadar :

(Syarat : %- %)

g. Hasil Jadi :

15. PUSTAKA : Farmakope Indonesia Ed. IV Th. 1995/Prosedur Tetap

16. CATATAN : 17. KESIMPULAN :

18. PEMERIKSA :

180
Lampiran 7. Alur Proses Produksi Tablet Secara Granulasi Basah

Penimbangan

Pencampuran

Granulisasi

Pengeringan

Pengayakan

Pencampuran
QC
Pencetakan
QC
Produk Jadi

Strip & kemas

Intalsimpan

181
Lampiran 8. Alur Produksi Tablet Biasa/Salut dengan Metode Cetak Langsung

Penimbangan Dilakukan oleh


petugas Instalsimpan

Pencampuran
Wastu

Pencetakan

Tablet non Wastu/IPC


coating Penyalutan

Stripping

Wastu/IPC

produk jadi

Wastu/IPC

Pengemasan Sekunder

Wastu

Instal SIMPAN

182
Lampiran 9. Alur Proses Produksi Sirup

Gudang bahan baku


Gudang pengemas

Penimbangan
Pencucian botol

Pencampuran
Pengeringan

wastu

Pengisian &Penutupan

wastu

Labeling &Kemas Instalsimpan

183
Lampiran 10. Alur Produksi Kapsul

QC

QC

184
Lampiran 11. Instalasi AHU Lafi Puskesad

185
Lampiran 12.Blanko Bukti Penyerahan Bahan

PUSAT KESEHATAN ANGKATAN DARAT

Bentuk 02

LEMBAGA FARMASI Lembar ke

BUKTI PENYERAHAN

No : BP/INT- / / INS SIMPAN

Dari :

Kepada :

Nama Barang Surat perintah

No (menurut nama PUSKESAD Banyaknya Keterangan

benda resmi Nomor Tanggal

Yang menerima, Yang menyerahkan,


KA INSTALASI PRODUKSI KA INS SIMPAN

( ) ( )

MENGETAHUI,
KEPALA LEMBAGA FARMASI

(___________________________)

186
Lampiran 13. Blanko Kartu Gudang

KARTU GUDANG
GOLONGAN BEK KES ……………..

Nama barang: …………… Satuan Barang: ………...


No. Tanggal PERUBAHAN Sisa

Dari/ kepada Terima Keluar

1 2 3 4 5 6

187
Lampiran 14. Skema IPAL

AWAL

BAK
SEDIMENTASI I

Limbah
Beta
laktam

188
Lampiran 15. Label Karantina, Diluluskan, dan Ditolak

189
Lampiran 16. Alur Sistem Pengolahan Air

190
Lampiran 17. Denah Bangunan Sefalosporin Lafi Puskesad

191
Lampiran 18. Denah Bangunan Betalaktam Lafi Puskesad

192
Lampiran 17. Layout Bangunan Produksi Non Betalaktam

193
Lampiran 18. Alur Material Bahan Baku Obat dalam Proses Produksi

BBO dalam Ruang antara/ interlock


Kemasan sekunder

Instalsimpan Lepas kemasan sekunder

Dikeluarkan dari ruang antara


oleh petugas Instalsimpan kelas E

BBO dalam Kemasan primer


Dibersihkan oleh petugas
Instalsimpan kelas E

Barang masuk ke
koridor kelas E

Unit proses pengolahan


kelas E

Penimbangan - pengemasan primer

Produk jadi In Process Control

Produk antara, produk ruahan


Reject/release
Final inspection

Instalsimpan Gupus II

Distribusi

194
Lampiran 19. Daftar Produk Obat Lafi Puskesad

No. Nama produk Kandungan Jenis sediaan


1 Buscopiad Antalgin, Hyosin Butil Bromida Tablet
2 Clofenac Natrium diklofenak Tablet salut
3 Floxad Ciprofloksasin Kaplet
4 Imodiad Loperamid Tablet
Difenhidramin, Dekstrometorfan,
5 Lafidril-DMP Fenilefrin, Amonium Chloride, Na.sitrat, Sirup
alkohol
6 Lafihistamin Mebhidrolin Tablet
7 Lafinazole Miconazole Nitrat Salep
Larutan
8 Lafiodine Povidon Iodin 10%
antiseptic
9 Lafitens Captopril Tablet
10 Metron Metronidazol Tablet
11 Neodiare Attapulgit Tablet
12 Neolafimag Sanalmin, Simetikon Tablet kunyah
Parasetamol, Klorfeniramin Maleat,
13 Neostopflu Tablet
Fenilpropanolamin
Antalgin, Klordiazepoksid, Tiamin
14 Neuralgad Mononitrat, Piridoksin HCl, Tablet
Sianokobalamin, Kofein
15 Neurobiad Vitamin B1, vitamin B6, vitamin B12 Tablet
16 Ponstad Asam Mefenamat Kaplet, Kapsul
Fe gluconas, Mn Sulfat, Cu sulfat, Asam
17 Sangobiad Kapsul
Folat, Sianokobalamin, vitamin C
18 Solvonad Bromheksin HCl Tablet
19 Sultrim Trimetoprim, Sulfametoksazol Tablet, Sirup
20 Thiamfi Tiamfenikol base Kapsul
Ekstrak ginseng, Vit A, Vit B1, Vit B2,
Vit B6, Nikotamida, Asam askorbat,
21 Yudhavit Kalsium pentotenat, Tembaga sulfat, Fe Kaplet
gluconas, Mg sulfat, Mn sulfat, Zinc
Sulfat

195