Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dunia industri yang pesat, sistem-sistem baru dalam bidang

kelistrikan, khususnya sistem jaringan listrik, menawarkan banyak metode kontrol

yang efektif dan mudah untuk diimplementasikan. Perkembangan yang semakin

pesat ini, menuntut seorang mahasiswa khususnya mahasiswa Teknik Listrik

Politeknik Negeri Ujung Pandang untuk dapat lebih mengenal bidang tersebut.

Praktikum Bengkel Listrik Catu Daya merupakan suatu mata kuliah yang

wajib dilakukan oleh setiap mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Program Studi

Teknik Listrik Politeknik Negeri Ujung Pandang sebagai salah satu persyaratan

kelulusan pada semester V (lima).

Dalam pelajaran ilmu kelistrikan terdapat hubungan timbal balik antara teori

dan praktek. Hubungan timbal balik ini merupakan kaitan yang sangat erat, di-

mana pengetahuan yang kita dapatkan dalam teori haruslah kita praktikkan, kare-

na dengan dilakukannya sebuah praktik akan membantu kita untuk mengetahui

dan mengerti serta mampu melaksanakan pekerjaan dilapangan/industri dengan

baik dan benar.

Dalam praktik bengkel mahasiswa dihadapkan pada pekerjaan yang hampir

sama di industri dengan menerapkan materi yang didapatkan dalam perkuliahan

yang artinya terjadi proses timbal balik antara teori dengan praktik. Mahasisiwa

diharapkan dapat bekerja dengan terampil, disiplin, kreatif, dan tekun dalam me-

nyelesaikan pekerjaannya.

Page | 1
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian sub bab latar belakang maka dapat diperolah rumusan

masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana cara melakukan binding wire isolator?

2. Bagaimana cara pemasangan FCO?

3. Bagaimana cara mengukur tahanan pentanahan?

4. Bagaimana cara mengukur tahanan isolasi?

5. Bagaimana cara melakukan perawatan PHB-TR?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari praktik bengkel catu daya ini adalah

sebagai berikut :

1. Mengetahui cara melakukan binding wire isolator

2. Mengetahui cara memasang FCO

3. Mengetahui cara mengukur tahanan pentanahan

4. Mengetahui cara mengukur tahanan isolasi

5. Mengetahui cara melakukan perawatan PHB-TR

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari laporan praktikum ini adalah :

1. Peningkatan kemampuan dan pemahaman dalam mengoperasikan dan

memelihara komponen distribusi sesuai dengan fungsi dan kegunaannya.

2. Sebagai bahan referensi kepada pembaca

Page | 2
BAB II

TEORI DASAR

2.1. Sistem Distribusi Tenaga Listrik

Sistem Distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem dis-

tribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik besar

(Bulk Power Source) sampai ke konsumen. Jadi fungsi distribusi tenaga listrik

adalah:

 Pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat (pelanggan )

 Merupakan sub sistem tenaga listrik yang langsung berhubungan dengan

pelanggan, karena catu daya pada pusat-pusat beban (pelanggan) dilayani

langsung melalui jaringan distribusi.

Tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik besar dengan tegan-

gan dari 11 kV sampai 24 kV dinaikan tegangannya oleh gardu induk dengan

transformator penaik tegangan menjadi 70 kV ,154kV, 220kV atau 500kV

kemudian disalurkan melalui saluran transmisi. Tujuan menaikkan tegangan ialah

untuk memperkecil kerugian daya listrik pada saluran transmisi, dimana dalam hal

ini kerugian daya adalah sebanding dengan kuadrat arus yang mengalir (I2 R).

Dengan daya yang sama bila nilai tegangannya diperbesar, maka arus yang men-

galir semakin kecil sehingga kerugian daya juga akan kecil pula.

Dari saluran transmisi, tegangan diturunkan lagi menjadi 20 kV dengan

transformator penurun tegangan pada gardu induk distribusi, kemudian dengan

sistem tegangan tersebut penyaluran tenaga listrik dilakukan oleh saluran distri-

busi primer. Dari saluran distribusi primer inilah gardu-gardu distribusi mengam-

Page | 3
bil tegangan untuk diturunkan tegangannya dengan trafo distribusi menjadi sistem

tegangan rendah, yaitu 220/380 Volt. Selanjutnya disalurkan oleh saluran distri-

busi sekunder ke konsumen-konsumen. Dengan ini jelas bahwa sistem distribusi

merupakan bagian yang penting dalam sistem tenaga listrik secara keseluruhan.

Pada sistem penyaluran daya jarak jauh, selalu digunakan tegangan seting-

gi mungkin, dengan menggunakan trafo-trafo step-up. Nilai tegangan yang sangat

tinggi ini (HV,UHV,EHV) menimbulkan beberapa konsekuensi antara lain: ber-

bahaya bagi lingkungan dan mahalnya harga perlengkapan-perlengkapannya,

selain menjadi tidak cocok dengan nilai tegangan yang dibutuhkan pada sisi

beban. Maka, pada daerah-daerah pusat beban tegangan saluran yang tinggi ini

diturunkan kembali dengan menggunakan trafo-trafo step-down. Akibatnya, bila

ditinjau nilai tegangannya, maka mulai dari titik sumber hingga di titik beban, ter-

dapat bagian-bagian saluran yang memiliki nilai tegangan berbeda-beda. Adapun

diagram pengelompokan jaringan distribusi tenaga listrik dapat dilihat pada gam-

bar 2.1 berikut.

Page | 4
Gambar 2.1 Konfigurasi Sistem Tenaga Listrik.

Untuk kemudahan dan penyederhanaan, lalu diadakan pembagian serta

pembatasan-pembatasan seperti pada Gambar diatas:

Daerah I : Bagian pembangkitan (Generation)

Daerah II : Bagian penyaluran (Transmission), bertegangan tinggi

(HV,UHV,EHV)

Daerah III : Bagian Distribusi Primer, bertegangan menengah (6 atau 20kV).

Daerah IV : (Di dalam bangunan pada beban/konsumen), Instalasi, bertegan-

gan rendah.

Berdasarkan pembatasan-pembatasan tersebut, maka diketahui bahwa por-

si materi Sistem Distribusi adalah Daerah III dan IV, yang pada dasarnya dapat

diklasifikasikan menurut beberapa cara, bergantung dari segi apa klasifikasi itu

dibuat. Dengan demikian ruang lingkup Jaringan Distribusi adalah:

Page | 5
a. SUTM, terdiri dari : Tiang dan peralatan kelengkapannya, konduktor dan

peralatan perlengkapannya, serta peralatan pengaman dan pemutus.

b. SKTM, terdiri dari : Kabel tanah, indoor dan outdoor termination dan lain-lain.

c. Gardu trafo, terdiri dari : Transformator, tiang, pondasi tiang, rangka tempat

trafo, LV panel, pipa-pipa pelindung, Arrester, kabel-kabel, transformer band,

peralatan grounding,dan lain-lain.

d. SUTR dan SKTR, terdiri dari: sama dengan perlengkapan/material pada SUTM

dan SKTM.Yang membedakan hanya dimensinya.

Klasifikasi Saluran Distribusi Tenaga Listrik

Secara umum, saluran tenaga Listrik atau saluran distribusi dapat diklasifikasikan

sebagai berikut:

1. Menurut nilai tegangannya:

a. Saluran distribusi Primer, Terletak pada sisi primer trafo distribusi, yaitu antara

titik Sekunder trafo substation (Gardu Induk) dengan titik primer trafo distri-

busi. Saluran ini bertegangan menengah 20 kV. Jaringan listrik 70 kV atau 150

kV, jika langsung melayani pelanggan, bisa disebut jaringan distribusi.

b. Saluran Distribusi Sekunder, Terletak pada sisi sekunder trafo distribusi, yaitu

antara titik sekunder dengan titik cabang menuju beban (Lihat Gambar 2-2)

2. Menurut bentuk tegangannya:

a. Saluran Distribusi DC (Direct Current) menggunakan sistem tegangan searah.

b. Saluran Distribusi AC (Alternating Current) menggunakan sistem tegangan

bolak-balik.

Page | 6
3. Menurut jenis/tipe konduktornya:

a. Saluran udara, dipasang pada udara terbuka dengan bantuan penyangga (tiang)

dan perlengkapannya, dan dibedakan atas:

- Saluran kawat udara, bila konduktornya telanjang, tanpa isolasi pembungkus.

- Saluran kabel udara, bila konduktornya terbungkus isolasi.

b. Saluran Bawah Tanah, dipasang di dalam tanah, dengan menggunakan kabel

tanah (ground cable).

c. Saluran Bawah Laut, dipasang di dasar laut dengan menggunakan kabel laut

(submarine cable)

4. Menurut susunan (konfigurasi) salurannya:

a. Saluran Konfigurasi horizontal, bila saluran fasa terhadap fasa yang

lain/terhadap netral, atau saluran positif terhadap negatif (pada sistem DC)

membentuk garis horisontal. Adapun bentuk saluran konfigurasi horizontal

dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut.

Gambar 2.2 Saluran Konfigurasi Horizontal

Page | 7
b. Saluran Konfigurasi Vertikal, bila saluran-saluran tersebut membentuk garis

vertical. Adapun bentuk saluran konfigurasi vertical dapat dilihat pada gambar

2.3 berikut.

Gambar 2.3 Saluran Konfigurasi Vertikal

c. Saluran konfigurasi Delta, bila kedudukan saluran satu sama lain membentuk

suatu segitiga (delta). Adapun bentuk saluran konfigurasi delta dapat dilihat

pada gambar 2.4 berikut.

Gambar 2.4 Saluran Konfigurasi Delta

5. Menurut Susunan Rangkaiannya

Dari uraian diatas telah disinggung bahwa sistem distribusi di bedakan menjadi

dua yaitu sistem distribusi primer dan sistem distribusi sekunder.

a. Jaringan Sistem Distribusi Primer

Page | 8
Sistem distribusi primer digunakan untuk menyalurkan tenaga listrik dari

gardu induk distribusi ke pusat-pusat beban. Sistem ini dapat menggunakan

saluran udara, kabel udara, maupun kabel tanah sesuai dengan tingkat

keandalan yang diinginkan dan kondisi serta situasi lingkungan. Saluran dis-

tribusi ini direntangkan sepanjang daerah yang akan disuplai tenaga listrik

sampai ke pusat beban.

Terdapat bermacam-macam bentuk rangkaian jaringan distribusi primer, yai-

tu:

- Jaringan Distribusi Radial, dengan model: Radial tipe pohon, Radial dengan

tie dan switch pemisah, Radial dengan pusat beban dan Radial dengan pem-

bagian phase area.

- Jaringan distribusi ring (loop), dengan model: Bentuk open loop dan bentuk

Close loop.

- Jaringan distribusi Jaring-jaring (NET)

- Jaringan distribusi spindle

- Saluran Radial Interkoneksi

b. Jaringan Sistem Distribusi Sekunder,

Sistem distribusi sekunder digunakan untuk menyalurkan tenaga listrik

dari gardu distribusi ke beban-beban yang ada di konsumen. Pada sistem dis-

tribusi sekunder bentuk saluran yang paling banyak digunakan ialah sistem

radial. Sistem ini dapat menggunakan kabel yang berisolasi maupun kon-

duktor tanpa isolasi. Sistem ini biasanya disebut sistem tegangan rendah yang

Page | 9
langsung akan dihubungkan kepada konsumen/pemakai tenaga listrik dengan

melalui peralatan-peralatan sbb:

- Papan pembagi pada trafo distribusi,

- Hantaran tegangan rendah (saluran distribusi sekunder).

- Saluran Layanan Pelanggan (SLP) (ke konsumen/pemakai)

-Alat Pembatas dan pengukur daya (kWh meter) serta fuse atau pengaman

pada pelanggan. Adapun diagram komponen sistem distribusi dapat dilihat

pada gambar 2.5 berikut.

Gambar 2.5. Komponen Sistem Distribusi

2.2. Jaringan Distribusi

Jaringan distribusi terdiri atas dua bagian, yang pertama adalah jaringan te-

gangan menengah/primer (JTM), yang menyalurkan daya listrik dari gardu induk

subtransmisi ke gardu distribusi, jaringan distribusi primer menggunakan tiga ka-

wat atau empat kawat untuk tiga fasa. Jaringan yang kedua adalah jaringan tegan-

gan rendah (JTR), yang menyalurkan daya listrik dari gardu distribusi ke kon-

sumen, dimana sebelumnya tegangan tersebut ditransformasikan oleh transforma-

tor distribusi dari 20 kV menjadi 380/220 Volt, jaringan ini dikenal pula dengan

jaringan distribusi sekunder. Adapun diagram jaringan distribusi dapat dilihat pa-

da gambar 2.6 berikut.

Page | 10
Jaringan distribusi sekunder terletak antara transformator distribusi dan

sambungan pelayanan (beban) menggunakan penghantar udara terbuka atau kabel

dengan sistem tiga fasa empat kawat (tiga kawat fasa dan satu kawat netral).

Dapat kita lihat gambar dibawah proses penyedian tenaga listrik bagi para kon-

sumen.

Gambar 2.6 Diagram Sistem Jaringan Distribusi Tenaga Listrik

2.2.1 Jaringan Sistem Distribusi Primer

Sistem distribusi primer digunakan untuk menyalurkan tenaga listrik dari

gardu induk distribusi ke pusat beban. Sistem ini dapat menggunakan saluran

udara, kabel udara, maupun kabel tanah sesuai dengan tingkat keandalan yang di-

inginkan dan kondisi serta situasi lingkungan. Saluran distribusi ini direntangkan

sepanjang daerah yang akan di suplai tenaga listrik sampai ke pusat beban. Ter-

dapat bermacam-macam bentuk rangkaian jaringan distribusi primer. Berikut ada-

lah gambar bagian-bagian distribusi primer secara umum. Adapun bagian system

distribusi dapat dilihat pada gambar 2.7 berikut.

Page | 11
Gambar 2.7 Bagian - Bagian Sistem Distribusi Primer

Bagian-bagian sistem distribusi primer terdiri dari :

1. Transformator daya, berfungsi untuk menurunkan tegangan dari tegangan ting-

gi ke tegangan menegah atau sebaliknya.

2. Pemutus tegangan, berfungsi sebagai pengaman yaitu pemutus daya

3. Penghantar, berfungsi sebagai penghubung daya

4. Busbar, berfungsi sebagai titik pertemuan / hubungan antara trafo daya dengan

peralatan lainnya

5. Gardu hubung, berfungsi menyalurkan daya ke gardu-gardu distribusi tanpa

mengubah tegangan.

6. Gardu distribusi, berfungsi untuk menurunkan tegangan menengah menjadi

tegangan rendah.

2.2.1.1. Komponen Utama Konstruksi SUTM

a. Penghantar

 Penghantar Telanjang (BC : Bare Conductor)

Konduktor dengan bahan utama tembaga(Cu) atau alluminium (Al) yang di

pilin bulat padat , sesuai SPLN 42 -10 : 1986 dan SPLN 74 : 1987.

Page | 12
Pilihan konduktor penghantar telanjang yang memenuhi pada dekade ini adalah

AAC atau AAAC. Sebagai akibat tingginya harga tembaga dunia, saat ini belum

memungkinkan penggunaan penghantar berbahan tembaga sebagai pilihan yang

baik.

 Penghantar Berisolasi Setengah AAAC-S (half insulated single core)

Konduktor dengan bahan utama aluminium ini diisolasi dengan material XLPE

(croslink polyetilene langsung), dengan batas tegangan 6 kV dan harus memenuhi

SPLN No 43-5-6 tahun 1995

 Penghantar Berisolasi Penuh (Three single core)

XLPE dan berselubung PVC berpenggantung penghantar baja dengan tegangan

Pengenal 12/20 (24) kV Penghantar jenis ini khusus digunakan untuk SKUTM

dan berisolasi penuh. SPLN 43-5-2:1995-Kabel

b. Isolator

Bahan yang digunakan untuk membuat isolator yang paling banyak digunakan

pada system distribusi antara lain :

 Isolator Gelas

Isolator gelas pada umumnya terbuat dari bahan campuran antara pasir silikat,

dolomit, dan phospat. Komposisi dari bahan-bahan tersebut dan cara

pengolahannya dapat menentukan sifat dari siolator gelas ini. Isolator gelas

memiliki sifat mengkondensir (mengembun) kelembaban udara, sehingga lebih

mudah debu melekat dipermukaan isolator tersebut. Makin tinggi tegangan

sistem makin mudah pula terjadi peristiwa kebocoran arus listrik (leakage current)

lewat isolator tersebut,yang berarti mengurangi fungsi isolasinya. Oleh karena itu

Page | 13
isolator gelas ini lebih banyak dijumpai pemakaiannya pada jaringan distribusi

sekunder. Kelemahan isolator gelas ini adalah memiliki kualitas tegangan

tembus yang rendah, dan kekuatannya berubah dengan cepat sesuai dengan

perubahan temperatur. Oleh sebab itu bila terjadi kenaikan dan penurunan

suhu secara tiba-tiba, maka isolator gelas ini akan mudah retak pada

permukaannya. Berarti isolator gelas ini bersifat mudah dipengaruhi oleh

perubahan suhu disekeli-lingnya. Tetapi bila isolator gelas ini mengandung

campuran dari bahan lain, maka suhunya akan turun. Selain dari pada itu,

isolator gelas ini harganya lebih murah bila dibandingkan dengan isolator

porselin.

 Isolator Porselin

Isolator porselin dibuat dari dari bahan campuran tanah porselin, kwarts, dan

veld spaat, yang bagian luarnya dilapisi dengan bahan glazuur agar bahan isolator

tersebut tidak berpori-pori. Dengan lapisan glazuur ini permukaan isolator

menjadi licin dan berkilat, sehingga tidak dapat mengisap air. Oleh sebab itu

isolator porselin ini dapat dipakai dalam ruangan yang lembab maupun di udara

terbuka. Isolator porselin memiliki sifat tidak menghantar (non conducting)

listrik yang tinggi, dan memiliki kekuatan mekanis yang besar. Ia dapat menahan

beban yang menekan serta tahan akan perubahan-perubahan suhu. Akan tetapi

isolator porselin ini tidak tahan akan kekuatan yang menumbuk atau memukul.

Ukuran isolator porselin ini tidak dapat dibuat lebih besar, karena pada saat

pembuatannya terjadi penyusutan bahan. Walaupun ada yang berukuran lebih

besar namun tidak seluruhnya dari bahan porselin, akan tetapi dibuat rongga

Page | 14
di dalamnya, yang kemudian akan di isi dengan bahan besi atau baja

tempaan sehingga kekuatan isolator porselin bertambah. Cara yang demikian ini

akan menghemat bahan yang digunakan. Karena kualitas isolator porselin ini

lebih tinggi dan tegangan tembusnya (voltage gradient) lebih besar maka banyak

disukai pemakaiannya untuk jaringan distribusi primer. Walaupun harganya

lebih mahal tetapi lebih memenuhi persyaratan yang diinginkan. Kadang-kadang

kita jumpai juga isolator porselin ini pada jaringan distribusi sekunder, tetapi

ukurannya lebih kecil.

Pada jaringan SUTM, Isolator pengaman penghantar bertegangan dengan

tiang penopang/travers dibedakan untuk jenis konstruksinya adalah :

Pin insulator Pin post insulator Line post

insulator

Gambar 2.8 Pin Insulator (Isolator Tumpu)

a. Pin insulator (Isolator Tumpu)

Insulator pin adalah alat yang mengisolasi kawat dari pendukung fisik seperti

pin (kayu atau logam paku berdiameter sekitar 3 cm dengan ulir sekrup) pada

telegraf atau tiang listrik. Ini adalah bentuk, lapisan tunggal yang terbentuk yang

terbuat dari bahan non-budidaya, biasanya porselen atau kaca. Hal ini dianggap

sebagai insulator overhead yang dikembangkan paling awal dan masih populer

Page | 15
digunakan dalam jaringan listrik hingga 33 KV. Insulator pin tunggal atau ganda

dapat digunakan pada satu dukungan fisik, namun jumlah isolator yang digunakan

tergantung pada tegangan aplikasi. Adapun bentuk fisik dari pin insulator (isolator

tumpu) dapat dilihat pada gambar 2.8 di atas.

b. Pin post insulator (Isolator Tarik)

Isolator Pin Post 20 KV "Long Shank" adalah isolator untuk tegangan

menengah 20 KV, type standard yang kebanyakan di gunakan di jaringan distri-

busi Indonesia. tipe ini memiliki stud bolt (Baut) yang panjang sekitar 15 cm (Ku-

rang Lebih). tipe isolator ini di gunakan untuk traves yang berbentuk "U". Adapun

bentuk fisik dari pin post insulator (isolator tarik) dapat dilihat pada gambar 2.9

berikut.

Piringan Long rod Keterangan

Material dasar

isolator long road

dapat berupa

keramik atau gelas

Gambar 2.9 Pin Post Insulator (Isolator Tarik)

c. Peralatan Hubung (Switching)

Pada percabangan atau pengalokasian seksi pada jaringan SUTM untuk

maksud kemudahan operasional harus dipasang Pemutus Beban (Load Break

Switch : LBS), selain LBS dapat juga dipasangkan Fused Cut-Out (FCO).

Page | 16
d. Tiang

 Tiang Kayu

Tiang kayu banyak digunakan sebagai penyangga jaringan karena kon-

struksinya yang sederhana dan biaya investasi lebih murah bila dibandingkan

dengan tiang jenis yang lain. Selain itu tiang kayu merupakan penyekat (isolator)

yang paling baik sebagai penompang saluran udara terhadap gangguan hubung

singkat, konstruksi yang sederhana dan bebas dari petir. Adapun bentuk tiang

kayu dapat dilihat pada gambar 2.10 berikut.

Gambar 2.10 Tiang Kayu

 Tiang Besi

Jenis tiang terbuat dari pipa besi yang disambungkan hingga diperoleh

kekuatan beban tertentu sesuai kebutuhan. Walaupun lebih mahal, pilihan tiang

besi untuk area/wilayah tertentu masih diijinkan karena bobotnya lebih ringan

dibandingkan dengan tiang beton. Pilihan utama juga dimungkinkan bilamana

total biaya material dan transportasi lebih murah dibandingkan dengan tiang beton

akibat diwilayah tersebut belum ada pabrik tiang beton. Adapun bentuk tiang besi

dapat dilihat pada gambar 2.11 berikut.

Page | 17
Gambar 2.11 Tiang Besi

 Tiang Beton

Untuk kekuatan sama, pilihan tiang jenis ini dianjurkan digunakan di seluruh

PLN karena lebih murah dibandingkan dengan jenis konstruksi tiang lainnya

termasuk terhadap kemungkinan penggunaan konstruksi rangkaian besi profil.

Adapun bentuk tiang beton dapat dilihat pada gambar 2.12 di atas.

Gambar 2.12 Tiang Beton

2.2.1.2. Proteksi Jaringan

Tujuan daripada suatu sistem proteksi pada Saluran Udara Tegangan

Menengah (SUTM) adalah mengurangi sejauh mungkin pengaruh gangguan pada

penyaluran tenaga listrik serta memberikan perlindungan yang maksimal bagi

operator, lingkungan dan peralatan dalam hal terjadinya gangguan yang menetap

(permanen).

Page | 18
Sistem proteksi pada SUTM memakai :

1. Relay hubung tanah dan relai hubung singkat fasa‐fasa untuk kemungkinan

gangguan penghantar dengan bumi dan antar penghantar.

2. Pemutus Balik Otomatis PBO (Automatic Recloser), Saklar Seksi Otomatis

SSO (Automatic Sectionaizer). PBO dipasang pada saluran utama, sementara

SSO dipasang pada saluran pencabangan, sedangkan di Gardu Induk dilengkapi

dengan auto reclosing relay.

3. Lightning Arrester (LA) sebagai pelindung kenaikan tegangan peralatan akibat

surja petir. Lightning Arrester dipasang pada tiang awal/tiang akhir, kabel Tee–

Off (TO) pada jaringan dan gardu transformator serta pada isolator tumpu.

4. Pembumian bagian konduktif terbuka dan bagian konduktif extra pada tiap‐

tiap 4 tiang atau pertimbangan lain dengan nilai pentanahan tidak melebihi 10

Ohm.

5. Kawat tanah (shield wire) untuk mengurangi gangguan akibat sambaran petir

langsung. Instalasi kawat tanah dapat dipasang pada SUTM di daerah padat pe-

tir yang terbuka.

6. Penggunaan Fused Cut–Out (FCO) pada jaringan pencabangan.

7. Penggunaan Sela Tanduk (Arcing Horn)

Pemasangan Pemutus Balik Otomatis (PBO), Saklar Seksi Otomatis (SSO),

Pengaman Lebur dan Pemutus Tenaga (PMT) pada SUTM di pengaruhi oleh nilai

tahanan pembumian sisi 20 kV transformator tenaga di Gardu Induk.

Page | 19
2.2.2. Sistem Distribusi Sekunder

Jaringan Distribusi Tegangan Rendah adalah bagian hilir dari suatu sistem

tenaga listrik. Melalui jaringan distribusi ini disalurkan tenaga listrik kepada para

pemanfaat / pelanggan listrik. Mengingat ruang lingkup konstruksi jaring distri-

busi ini langsung berhubungan dan berada pada lingkungan daerah berpenghuni,

maka selain harus memenuhi persyaratan kualitas teknis pelayanan juga harus

memenuhi persyaratan aman terhadap pengguna dan akrab terhadap lingkungan.

Konfigurasi Saluran Udara Tegangan Rendah pada umumnya berbentuk radial.

a. Komponen utama konstruksi Jaringan Tegangan Rendah

Terdapat sejumlah komponen utama konstruksi pada Jaringan Tegangan

Rendah :

• Tiang Beton

• Penghantar Kabel Pilin Udara (NFA2Y)

• Penghantar Kabel Bawah Tanah (NYFGBY)

• Perlangkapan Hubung Bagi dengan Kendali

• Tension bracket

• Strain clamp

• Suspension bracket

• Suspension Clamp

• Stainless steel strip

• Stopping buckle

• Link

• Plastic strap

Page | 20
• Joint sleeve Press Type ( Al – Al ; Al – Cu )

• Connector press type

• Piercing Connector Type

• Elektroda Pembumian

• Penghantar Pembumian

• Pipa galvanis

• Turn buckle

• Guy-wire insulator

• Ground anchor set

• Steel wire

• Guy-Anchor

• Collar bracket

• Terminating thimble

• U – clamp

• Connector Block

b. Spesifikasi Teknis Material

1. Tiang

Untuk konstruksi jaringan SUTR yang berdiri sendiri dipakai tiang beton atau

tiang besi dengan panjang 9 meter. Tiang beton yang dipakai dari berbagai jenis

yang memiliki kekuatan beban kerja (working load) 200daN, 350daN dan 500daN

(dengan angka faktor keamanan tiang = 2 ) Pada titik yang memerlukan pembu-

mian dipakai tiang beton yang dilengkapi dengan terminal pembumian. Pada da-

Page | 21
sarnya pemilihan kemampuan mekanis tiang SUTR berlandaskan kepada empat

hal, yaitu :

1) Posisi fungsi tiang (tiang awal, tiang tengah, tiang sudut)

2) Ukuran penghantar

3) Jarak andongan (Sag)

4) Tiupan angin

Tiang Besi dipergunakan untuk konstruksi pada lingkungan dimana Tiang

Beton tidak mungkin dipasang. Penggunaan tiang beton H-type tidak direkomen-

dasikan karena tingkat kesulitan pemasangannya, dan lain-lain pertimbangan.

2. Penghantar

Penghantar yang dipergunakan adalah kabel pilin udara (NFA2Y) aluminium

twisted cable dengan inti aluminium sebagai inti penghantar Fasa dan almelec/

alumunium alloy sebagai netral. Penghantar Netral (N) dengan ukuran 3x35+N,

3x50+N, 3x70+N berfungsi sebagai pemikul beban mekanis kabel atau

messenger. Untuk kepentingan jaminan pelaksanaan handling transportasi,

panjang penghantar tiap haspel kurang lebih 1000 m.

3. Pole Bracket

Terdapat dua jenis komponen pole bracket :

a. Tension bracket, dipergunakan pada tiang ujung dan tiang sudut, Breaking ca-

pacity 1000 daN terbuat dari Alumunium Alloy

b. Suspension bracket dipergunakan pada tiang sudut dengan sudut lintasan sam-

pai dengan 300 derajat. Breaking capacity 700 daN terbuat dari alumunium Al-

Page | 22
loy.Ikatan pole bracket pada tiang memakai stainless steel strip atau baut galva-

nized M30 pada posisi tidak melebihi 15 cm dari ujung tiang.

4. Strain clamp

Strain Clamp atau clamp tarik dipakai pada Pole Bracket tipe Tension Bracket.

Bagian penghantar yang dijepit adalah penghantar netral.

5. Suspension Clamp

Fungsi Suspension Clamp adalah menggantung bagian penghantar netral pada

tiang dengan sudut lintasan jaringan sampai dengan 30 ͦ.

6. Stainless steel strip

Pengikat Pole Bracket pada tiang yang diikat mati dengan stopping buckle.

Dibutuhkan lebih kurang 120 cm untuk tiap tiang.

7. Plastic Strip (plastic tie)

Plastic strap digunakan untuk mengikat kabel pilin yang terurai agar terlihat rapi

dan kokoh.

8. Penghantar Pembumian dan Bimetal Joint

Untuk tiang yang tidak dilengkapai fasilitas pembumian. Penghantar yang diper-

lukan adalah Kawat Tembaga (BC). Sambungan penghantar BC dengan penghan-

tar netral jaringan tidak boleh langsung, tetapi harus menggunakan bimetal joint.

Sambungan ke penghantar netral yang memakai kabel alumunium, sambungan ke

penghantar pembumian menggunakan Bimetal Joint Al-Cu.

Page | 23
9. PHB-TR

Penempatan Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) dilakukan pada sisi luar

trotoar yang tidak menggangu pejalan kaki. PHB dilindungi dengan pipa

baja/patok pelindung kemungkinan tertabrak kendaraan bermotor. Panel PHB dan

lapisan luar (metal sheath) kabel dan penghantar metal dibumikan bersama.

Penghantar pembumian minimal dengan penampang 50 (lima puluh) mm² terbuat

dari tembaga dengan nilai tahanan pembumian tidak lebih dari 10 (sepuluh) Ohm.

Panel Perlengkapan Hubung Bagi tipe luar (IP 45) dipasang di atas pondasi

dengan tinggi sekurang-kurangnya 60 cm dari permukaan tanah atau jalan. Pada

bagian muka PHB dipasang sebanyak 3 (tiga) buah patok besi pelindung 4 inci

setinggi 50 cm dan berjarak 60 cm dari Pondasi Panel PHB.

Patok Pelindung dipasang 60 (enam puluh) cm dimuka panel PHB dan.

Saklar masuk dari sirkit masuk ke PHB sekurang-kurangnya dari jenis pemisah.

Perlindungan sirkit keluar sekurang – kurangnya memakai pengaman lebur jenis

NH. Jumlah sirkit keluar sebanyak – banyaknya 6 ( enam ) sirkit. Lubang masuk

kabel pada PHB dilindungi dengan cable gland. Terminasi kabel dari sirkit masuk

dan sirkit keluar harus memakai sepatu kabel dan diberi tanda Fasa sesuai

ketentuan. Jika sirkit memakai kabel jenis alumunium core, sepatu kabel yang

dipakai harus dari jenis bimetal lug ( Al-Cu).

Tinggi patok pelindung sekurang-kurangnya 50 cm dan ditanam sekurang-

kurangnya sedalam 50 cm. Jarak aman satu Panel PHB dengan lainnya dihitung

berdasarkan jatuh tegangan sambungan pelayanannya, namun sekurang-

kurangnya tidak melebihi 80 meter. Terdapat dua jenis PHB yang dipakai :

Page | 24
1) PHB utama, yang dipasok dari jalur SKTR utama

2) PHB cabang, yang dipasok dari PHB utama

PHB-TR harus dibumikan pada tiap-tiap jarak 200 meter. Bagian yang dibumikan

adalah titik netral PHB, selubung logam kabel dan Badan Panel (BKT).

2.3. Peralatan Sistem Distribusi

2.3.1. AAAC (ALL ALUMINIUM ALLOY CONDUCTOR)

Kabel ini terbuat dari aluminium-magnesium-silicon campuran logam,

keterhantaran elektris tinggi yang berisi magnesium silicide, untuk memberi sifat

yang lebih baik. Kabel ini biasanya dibuat dari paduan aluminium 6201. AAAC

mempunyai suatu anti karat dan kekuatan yang baik, sehingga daya hantarnya

lebih baik. Bentuk konduktor AAAC ditunjukkan pada gambar 2.13 berikut.

Gambar 2.13 Konduktor AAAC

2.3.2. Link

Link memiliki fungsi untuk memperkokoh suatu instalasi. Bentuk link di-

tunjukkan pada gambar 2.14 berikut.

Page | 25
Gambar 2.14 Link

2.3.3. Bimetal P.G Clamp

Untuk menghubungkan semua konduktor menurut DIN 48201 & konduktor

ACSR menurut DIN 48204 dengan tembaga tekan-off konduktor menurut DIN

48201. Bentuk bimetal clamp ditunjukkan pada gambar 2.15 berikut.

Gambar 2.15 Bimetal P.G Clamp

2.3.4. Stud Ring & Hook

Biasanya dipasang di ujung tali kawat, rantai, atau berfungsi mengatasi rig-

ging lainnya. Bentuk stud ring ditunjukkan pada gambar 2.16 berikut.

Page | 26
Gambar 2.16 Stud Ring & Hook

2.3.5. Dead End Clamp

Dead End Clamp berfungsi sebagai klem atau penghubung dengan dead

end. Bentuk dead end clamp ditunjukkan pada gambar 2.17 berikut.

Gambar 2.17 Dead End Clamp

2.3.6. Insulated Piercing Conector for LV ABC

Insulated Piercing Connector dapat ini tahan korosi shell, Anti-perubahan

iklim, bahan isolasi ultraviolet intensitas tinggi. Tusuk konstan pengencang mur

torsi diinstal lebih sederhana, aman, cepat. Bentuk Insulated Piercing Conector for

LV ABC ditunjukkan pada gambar 2.18 berikut.

Page | 27
Gambar 2.18 Insulated Piercing Conector for LV ABC

2.3.7. Strain Clamp

Strain clamp berfungsi untuk mengklem kawat agar berada pada posisi

yang tepat. Bentuk strain clamp ditunjukkan pada gambar 2.19 berikut.

Gambar 2.19 Strain Clamp

2.3.8. Bi-Metal Cable Lugs

Bi-Metal Cable Lugs berfungsi untuk untuk koneksi transisi melingkar Cy-

cle kabel aluminium Hemi kabel Sektor Aluminium dan kabel power supply. Ben-

tuk bimetal cable lugs ditunjukkan pada gambar 2.20 berikut.

Page | 28
Gambar 2.20 Bi-Metal Cable Lugs

2.3.9. Suspension Clamp

Sebagai alat tarikan bracket kabel ataupun kabel, komponen ini berguna se-

bagai tumpuan kabel-kabel listrik pada instalasi jaringan listrik. Bahan utama dari

komponen ini adalah aluminium terbaik yang sangat pas dan sesuai untuk

menghantarkan dan meredam jaringan listrik. Bentuk suspension clamp ditunjuk-

kan pada gambar 2.21 berikut.

Gambar 2.21 Suspension Clamp

2.3.10. Stainless Steel Strap dan Stopping Buckle

Stainless Steel Strap ini bisa digunakan untuk kebutuhan bangunan juga,

termasuk pada tiang distribusi dalam hal pengait tension dan suspension bracket,

karena biasanya Stainless Steel Strap ini memang dibuat dan dirancang agar dapat

tahan dalam berbagai cuaca. Meskipun merupakan Stainless Steel Strap yang tipis

Page | 29
sekali pun karena memang dibuat dengan besi yang berkualitas maka Stainless

Steel Strap ini akan dapat diandalkan dalam waktu yang lama. Bentuk stainless

steel strap ditunjukkan pada gambar 2.22 berikut.

Gambar 2.22 Stainless Steel Strap

2.3.11. Stay Wire Clamp

Untuk mengklem kawat agar berada pada kedudukan tertentu. Bentuk stay wire

ditunjukkan pada gambar 2.23 berikut

Gambar 2.23 Stay Wire Clamp

2.3.12. Insulation Tester

Insulation Tester merupakan alat yang biasa digunakan untuk mengukur


nilai tahanan atau resistan (resistance) dari isolasi (insulation) yang membungkus
bahan penghantar yang digunakan pada kabel listrik. Kegunaan untuk mengukur
tegangan AC (Alternating Current) dan tegangantahanan/resistan (resistance) pada
pesawat televisi. PenerapanyaAlat diatas biasa di terapkan pada industri trafo,

Page | 30
pemasangan jaringan listrik, dan motor listrik. Bentuk insulation tester
ditunjukkan pada gambar 2.24 berikut.

Gambar 2.24 Insulation Tester


2.3.13. Eearth Tester

Earth Tester adalah alat untuk mengukur nilai resistansi dari grounding,
Besarnya tahanan tanah sangat penting untuk diketahui sebelum dilakukan
pentanahan dalam sistem pengaman dalam instalasi listrik.Untuk mengetahui
besar tahanan tanah pada suatu area digunakan alat ukur dengan penampil analog.
Hasil pengukuran secara analog sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil
pengukurannya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,maka dirancanglah suatu
alat ukur tahanan tanah digital yang memiliki kemudahan dalam pembacaan nilai
tahanan yang diukur. Alat ukur ini penampilnya menggunakan digital pada
segmen-segmen, sehingga dengan mudah menyimpan data-data yang terukur.
Perancangan alat ukur tahanan tanah digital ini menggunakan tiga batang
elektroda yang ditanahkan yaitu elektroda E (Earth), elektroda P (Potensial) dan
elektroda C (Curren). Tujuan penggunaan tiga batang elektroda tersebut adalah
untuk mengetahui sejauh mana tahanan dapat mengalirkan arus listrik. Alat ukur
tahanan tanah ini terdiri dari beberapa blok diagram rangkaian, antara lain
rangkaian osilator,rangkaian tegangan input, rangkaian arus input, mikrokontroler
dan rangkaian penampil. Bentuk Earth Tester ditunjukkan pada gambar 2.25
berikut.

Page | 31
Gambar 2.25 Earth Tester
2.3.14. Hot Stick

Hot stick merupakan suatu peralatan ketenagalistrikan, yang difungsikan


untuk menyediakan jarak kerja dan insulasi yang diperlukan untuk melakukan
pekerjaan rutin dalam sistem kelistrikanyang berada diatas tiang penegrjaan
khususnya tiang TM. Ujung universal aluminium standar pada bagian ujung
mempunyai berbagai macam sehingga stick dapat digunakan untuk melepaskan
switch, mengganti tabung potongan, melakukan pelepasan dan pemasangan pada
FCO. Bentuk Hot Stick ditunjukkan pada gambar 2.26 berikut.

Gambar 2.26 Hot Stick


2.3.15. Grounding Stick

Grounding Stick merupakan tongkat yang digunakan sebahgai untuk


pentanahan dengan tujusan membuang muatan sisa pada saluran (konduktor) pada
TM, perangkat ini dapat dengan aman melepaskan muatan pada saluran yang
sedang diuji atau dilakukan pemeliharaan yang dapat diterapkan hingga tegangan
120kV. Bentuk Grounding Stick ditunjukkan pada gambar 2.27 berikut.

Page | 32
Gambar 2.27 Grounding Stick
2.4. Pentanahan Peralatan Sistem Distribusi
2.4.1. Pentanahan Titik Netral
Pada saat sistem tenaga listrik masih dalam skala kecil, gangguan hubung
singkat ke tanah pada instalasi tenaga listrik tidak merupakan suatu masalah yang
besar. Hal ini dikarenakan bila terjadi gangguan hubung singkat fasa ke tanah arus
gangguan masih relatif kecil (lebih kecil dari 5 Amper), sehingga busur listrik
yang timbul pada kontak-kontak antara fasa yang terganggu dan tanah masih
dapat padam sendiri. Tetapi dengan semakin berkembangnya sistem tenaga listrik
baik dalam ukuran jarak (panjang) maupun tegangan, maka bila terjadi gangguan
fasa ke tanah arus gangguan yang timbul akan besar dan busur listrik tidak dapat
lagi padam dengan sendirinya. Timbulnya gejala-gejala “busur listrik ke tanah
(arching ground)” sangat berbahaya karena menimbulkan tegangan lebih transient
yang dapat merusak peralatan.
Apabila hal diatas dibiarkan, maka kontinuitas penyaluran tenaga listrik
akan terhenti, yang berarti dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar. Oleh
karena itu sistem-sistem tenaga listrik tidak lagi dibuat terapung (floating) yang
lajim disebut sistem delta, tetapi titik netralnya ditanahkan melalui tahanan,
reaktor dan ditanahkan langsung (solid grounding). Pentanahan itu umumnya dil-
akukan dengan menghubungkan netral transformator daya ke tanah, seperti dicon-
tohkan pada gambar 2.28 berikut.

Page | 33
Sistem tegangan primer Trafo
Sistem tegangan sekunder Trafo

TRAFO
TENAGA
RESISTOR

Gambar 2.28 Contoh Pentanahan Titik Netral Sistem.


Adapun tujuan pentanahan titik netral sistem adalah sebagai berikut :
1. Menghilangkan gejala-gejala busur api pada suatu sistem.
2. Membatasi tegangan-tegangan pada fasa yang tidak terganggu (pada fasa
yang sehat).
3. Meningkatkan keandalan (realibility) pelayanan dalam penyaluran tenaga
listrik.
4. Mengurangi/membatasi tegangan lebih transient yang disebabkan oleh penya-
laan bunga api yang berulang-ulang (restrike ground fault).
5. Memudahkan dalam menentukan sistem proteksi serta memudahkan dalam
menentukan lokasi gangguan.
Metoda-metoda pentanahan titik netral sistem tenaga listrik adalah sebagai
berikut:
 Pentanahan melalui tahanan (resistance grounding)
Pentanahan titik netral melalui tahanan (resistance grounding) dimaksud
adalah suatu sistem yang mempunyai titik netral dihubungkan dengan tanah me-
lalui tahanan (resistor), sebagai contoh terlihat pada gambar 2.28 di atas dan
rangkaian pengganti ditunjukkan pada gambar 2.29 berikut :

Page | 34
R

S
T
Grounding
Resistor

Gambar 2.29 Rangkaian Pengganti Pentanahan Titik Netral melalui Tahanan


(Resistor)
Besarnya tahanan pentanahan pada sistem tenaga listrik (contohnya di
PLN P3B Jawa Bali Region Jabar), adalah sebagai berikut :
 Sistem 70 kV sebesar 62 Ohm
 Sistem 20 kV sebesar 12 Ohm atau 42 Ohm.

 Pentanahan melalui reaktor (reactor grounding)


 Pentanahan langsung (effective grounding)
 Pentanahan melalui reaktor yang impedansinya dapat berubah-ubah (resonant
grounding) atau pentanahan dengan kumparan Petersen (Petersen Coil).

2.4.2 Pentanahan Peralatan


Pentanahan peralatan adalah pentanahan bagian dari peralatan yang pada
kerja normal tidak dilalui arus. Bila terjadi hubung singkat suatu penghantar
dengan suatu peralatan, maka akan terjadi beda potensial (tegangan), yang dimak-
sud peralatan disini adalah bagian-bagian yang bersifat konduktif yang pada
keadaan normal tidak bertegangan seperti bodi trafo, bodi PMT, bodi PMS, bodi
motor listrik, dudukan Batere dan sebagainya. Bila seseorang berdiri ditanah dan
memegang peralatan yang bertegangan, maka akan ada arus yang mengalir me-
lalui tubuh orang tersebut yang dapat membahayakan. Untuk menghindari hal ini
maka peralatan tersebut perlu ditanahkan. Pentanahan yang demikian disebut Pen-
tanahan peralatan.
Tujuan pentanahan peralatan dapat dipormulasikan sebagai berikut :
1. Untuk mencegah terjadinya tegangan kejut listrik yang berbahaya bagi
manusia dalam daerah itu

Page | 35
2. Untuk memungkinkan timbulnya arus tertentu baik besarnya maupun
lamanya dalam keadaan gangguan tanah tanpa menimbulkan kebakaran atau
ledakan pada bangunan atau isinya.
3. Untuk memperbaiki penampilan (performance) dari sistem.
Sistem pentanahan peralatan pada jaringan distribusi meliputi pentanahan
JTM, pentanahan JTR, pentanahan body trafo dan pentanahan body PHB TR.

Page | 36
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Pemasangan Kawat Distribusi

Pemasangan kawat distribusi dilakukan dengan alasan perbaikan yang dapat

terjadi karena berbagai faktor baik dari dalam sistem distribusi listrik itu sendiri

yang dampaknya pada kerusakan kawat distribusi atau bisa saja terjadi dari faktor

eksternal sistem distribusi listrik, baik yang sering terjadi karena sambaran petir

atau faktor-faktor lain yang berdampak pada menurunnya kualitas kawat penghan-

tar pada sistem distribusi tenaga listrik. Pemasangan juga bisa saja karna alasan

maintenance yang mana umur kawat penghantar atau kualitas dan penghantar su-

dah memasuki pada masa harus di adakan pergantian, berikut adalah langkah-

langkah pemasangan kawat penghantar pada sistem pendistribusian tenaga listrik

di bengkel listrik Politeknik Negeri Ujung Pandang:

1. Yang paling pertama dan yang paling utama adalah memakai kelengkapan

kesehatan dan keselamatan kerja (K3) listrik pada pemasangan sistem distri-

busi listrik.

2. Memasang tangga untuk menggapai area kerja serta pastikan bahwa tangga

dalam posisi yang baik agar tidak terjadi kecelakaan kerja

3. Melepas strain clamp agar pemasangan pada sisi pertama dapat di pasang

dengan mudah

4. Melonggarkan baut strain clamp pada tempat kawat penghantar akan di

cengkram

Page | 37
5. Memasukkan kawat penghantar pada strain clamp di daerah baut yang sudah

di longgarkan sebelumnya

6. Kemudian mengencangkan kembali baut tersebut agar kawat penghantar

dapat tercengkram dengan strain clamp, pastikan agar baut terpasang dengan

baik

7. Kemudian memindahkan tangga pada sisi kedua pastikan kembali posisi

tangga dalam keadaan baik agar pekerjaan dapat dilakukan dengan efektif

serta efisien

8. Melonggarkan baut yang akan mencengkram kawat penghantar pada strain

clamp di sisi kedua

9. Posisi strain clamp pada sisi kedua dibuat terbalik jika dibandingkan pada sisi

pertama tadi

10. Kemudian memasukkan kawat peghantar pada strain clamp

11. Menarik kawat pengkantar sampai pada posisi di mana posisi porselin dalam

keadaan horizontal atau sampai kawat memiliki tegangan tarikan yang cukup

kuat

12. Lalu menahan tarikan tegangan kawat penghantar kemudian mengencangkan

kembali baut yang telah dilonggarkan tadi

13. Memastikan baut mencengkram kawat penghantar dengan baik agar antara

kawat penghantar dengan strain clamp dalam keadaan yang baik

Page | 38
3.2. Binding Wire Isolator Tumpu

Isolator Pin Post 20 KV "Long Shank" adalah isolator untuk tegangan

menengah 20 KV, type standard yang kebanyakan di gunakan di jaringan distri-

busi Indonesia. tipe ini memiliki stud bolt (Baut) yang panjang sekitar 15 cm (Ku-

rang Lebih). Tipe isolator ini digunakan untuk traves yang berbentuk "U".

Isolator Pin Post 20 KV " Short Shank" adalah isolator pin post yang di

gunakan untuk tegangan 20 KV, tetapi dengan Stud bolt (Baut) yang pendek,

mungkin sekitar 3-4 cm. type ini di gunakan untuk traves yang berbentuk segitiga.

di luar negeri banyak di gunakan di "Kanada". Kalau secara mekanis type "long

shank" jauh lebih baik dari tipe "Short Shank" karena dudukannya lebih kuat di

traves.

Berikut adalah langkah-langkah Binding Wire Isolator Tumpu pada sistem

pendistribusian tenaga listrik di bengkel listrik Politeknik Negeri Ujung Pandang:

a. Menyediakan alat bahan yang akan dipraktikkan

b. Melilitkan sebanyak 2 kali putaran pada leher isolator tumpu

c. Maka akan ada 2 ujung wire dimana masing-masing wire memiliki peran da-

lam melilit konduktor baik dari bagian kanan dan kiri isolator.

d. Melilit wire pada konduktor bagian isolator

Gambar 3.1 Pelilitan wire pada konduktor bagian isolator

Page | 39
e. Selanjutnya melilit konduktor bagian kiri isolator

Gambar 3.2 Pelilitan konduktor bagian kiri isolator

f. Melanjutkan lilitan wire dengan bertahap disetiap bagian

Gambar 3.3 Pelilitan wire dengan bertahap disetiap bagian

g. Menyilangkan kedua ujung wire pada kepala isolator tumpu

Gambar 3.4 Penyilangan kedua ujung wire pada kepala isolator tumpu

Page | 40
h. Mengikat dengan menggunakan tang pada kedua ujung wire di leher isolator

Gambar 3.5 Pengikatan dengan menggunakan tang pada kedua ujung wire

di leher isolator

3.3. Pemasangan FCO

Fuse cut out sendiri meupakan suatu alat pengaman yang melindungi jarin-

gan terhadap arus beban lebih (over load current) dan yang mengalir melebihi

dari batas maksimum. Konstruksi dari fuse cut out ini jauh lebih sederhana jika

dibandingkan dengan pemutus beban (circuit breaker) yang terdapat pada gardu

induk (sub-station). Akan tetapi fuse cut out ini memiliki kemampuan yang sama

dengan pemutus beban tadi. Fuse cut out ini hanya dapat memutuskan satu saluran

tiga fasa, maka dibutuhkan fuse cut out sebanyak tiga buah untuk saluran tiga

fasa. Selain itu Fuse cut out juga merupakan pengaman lebur yang ditempatkan

pada sisi TM yang gunanya untuk mengamankan jaringan TM dan peralatan

kearah GI terhadap hubungan singkat di trafo, atau sisi TM sebelum trafo tetapi

sesudah cut out. Untuk menentukan besarnya cut out yang harus dipasang, maka

harus diketahui arus nominal trafo pada sisi TM, sedangkan besarnya cut out ha-

rus lebih besar dari arus nominal trafo sisi TM

Page | 41
Prinsip Kerja

Pada sistem distribusi FCO yang digunakan mempunyai prinsip melebur,

apabila dilewati arus yang melebihi batas arus nominalnya. Biasanya FCO

dipasang setelah PTS maupun LBS untuk memproteksi feeder dari gangguan hub-

ung singkat dan dipasang seri dengan jaringan yang dilindunginya. FCO juga ser-

ing ditemukan pada setiap trafo.

Penggunaan FCO ini merupakan bagian yang terlemah di dalam jaringan

sistem distribusi karena FCO boleh dikatakan hanya berupa sehelai kawat yang

memiliki penampang yang disesuaikan dengan besarnya arus maksimum yang

diperkenankan mengalir di dalam kawat tersebut. Pemilihan kawat yang

digunakan pada fuse cut out ini didasarkan pada faktor lumer yang rendah dan

harus memiliki daya hantar (conductivity) yang tinggi. Faktor lumer ini diten-

tukan oleh temperatur bahan tersebut. Biasanya bahan-bahan yang digunakan un-

tuk FCO adalah kawat perak, kawat tembaga, kawat seng, kawat timbel atau ka-

wat paduan dari bahan – bahan tersebut. Pada umumnya diantara kawat di atas,

yang sering digunakan adalah kawat logam perak, hal ini karena logam perak

memiliki Resistansi Spesifik (µΩ/cm) yang paling rendah dan Titik Lebur (oC)

yang rendah. Kawat ini dipasangkan di dalam tabung porselin yang diisi dengan

pasir putih sebagai pemadam busur api, dan menghubungkan kawat tersebut pada

kawat fasa, sehingga arus mengalir melaluinya.

Page | 42
Tabel 3.1 Tabel Titik Lebur dan Resistansi Spesifik Jenis Logam

Penghantar Pada FCO

No Jenis Logam Titik Lebur Resistansi Spesifik

(oC) (µΩ/cm)

1 Tembaga 1090 1,7

2 Aluminium 665 2,8

3 Perak 980 1,6

4 Timah 240 11,2

5 Seng 419 6,0

Jika arus beban lebih melampaui batas yang diperkenankan, maka kawat pe-

rak di dalam tabung porselin akan putus dan arus yang membahayakan dapat di-

hentikan. Pada waktu kawat putus terjadi busur api, yang segera dipadamkan oleh

pasir yang berada di dalam tabung porselin Karena udara yang berada di dalam

porselin itu kecil maka kemungkinan timbulnya ledakan akan berkurang karena

diredam oleh pasir putih. Panas yang ditimbulkan sebagian besar akan diserap

oleh pasir putih tersebut. Apabila kawat perak menjadi lumer karena tenaga arus

yang melebihi maksimum, maka waktu itu kawat akan hancur. Karena adanya ga-

ya hentakan, maka tabung porselin akan terlempar keluar dari kontaknya.

Dengan terlepasnya tabung porselin ini yang berfungsi sebagai saklar pem-

isah, maka terhidarlah peralatan jaringan distribusi dari gangguan arus beban lebih

atau arus hubung singkat.

Page | 43
Umur dari fuse cut out ini tergantung pada arus yang melaluinya. Bila arus

yang melalui FCO tersebut melebihi batas maksimum, maka umur fuse cut out

lebih pendek. Oleh karena itu pemasangan FCO pada jaringan distribusi hen-

daknya yang memiliki kemampuan lebih besar dari kualitas tegangan jaringan,

lebih kurang tiga sampai lima kali arus nominal yang diperkenankan. Fuse cut out

ini biasanya ditempatkan sebagai pengaman tansformator distribusi dan pengaman

pada cabang – cabang saluran feeder yang menuju ke jaringan distribusi sekunder.

Adapun konstruksi fuse cut out ditunjukkan pada gambar 3.6 berikut.

Gambar 3.6 Konstruksi Fuse Cut Out

Keterangan:

1. Isolator porselin

2. Kontak tembaga (disepuh perak)

3. Alat pemadam/pemutus busur

4. Tutup yang dapat dilepas (dari kuningan)

5. Mata kait (dari perak)

6. Tabung pelebur (dari resin)

7. Penggantung (dari kuningan)

Page | 44
8. Klem pemegang (dari baja)

9. Klem terminal (dari kuningan)

3.4. Pengukuran Tahanan Pentanahan

Sistem pentanahan adalah sistem hubungan penghantar yang menghub-

ungkan sistem, badan peralatan dan instalasi dengan tanah sehingga dapat

mengamankan manusia dari sengatan listrik, dan mengamankan komponen-

komponen instalasi dari bahaya gangguan listrik. Oleh karena itu, sistem pentana-

han menjadi bagian pengaman dari sistem tenaga listrik.

Gambar 3.7 Rangkaian Percobaan Pengujian Tahanan Pentanahan

 Cara mengukur grounding dengan earth tester :

a. Menyaiapkan peralatan yang akan digunakan, seperti alat ukur, kabel, dan

konduktor/stik besi.

b. Mengkalibrasi jarum pada alat ukur harus dalam posisi nol.

c. Memastikan baterai dari earth tester terdapat pada keadaan “Battery Good”

d. Memasang kabel pada alat ukur. Earth Tester mempunyai tiga kabel dian-

taranya adalah kebel merah, kuning dan hijau.

e. Langkah berikutnya menghubungkan kabel hijau ke grounding “Arrester”

yang sudah terpasang ke tanah.

Page | 45
f. Selanjutnya menancapkan stik besi ketanah untuk mengukur resistansi pen-

tanahan Arrester dengan dua posisi. Yakni, posisi sejajar dan segaris masing

masing pada jarak 20 meter dan 10 meter. Hubungkan kabel merah serta

kuning ke stik besi dengan masing-masing jarak pemasangan kabel merah

pada posisi 20 meter dan kabel kuning pada posisi 10 meter. Untuk pen-

gukuran dengan jarak 10 meter, kabel merah dipasangkan pada stik besi

dengan jarak 10 meter dan kabel kuning pada jarak 5 meter.

g. Jika semua kabel telah terpasang, melakukan pengukuran dengan menekan

tombol “Test” pada alat ukur. Kemudian mencatat hasil pengukuran yang

dilakukan.

h. Melakukan pengukuran dengan posisi sejajar dan posisi segitiga untuk se-

tiap konduktor pentanahan yang akan diukur.

i. Mengulangi prosedur di atas untuk melakukan pengukuran resistansi pen-

tanahan yang dilakukan pada Grounding Body Trafo, dan Grounding pada

tanah yang lembab.

Berikut data hasil percobaan yang diperoleh:

Tabel 3.2 Hasil Pengukuran Tahanan Pentanahan JTM

Posisi Segitiga Posisi Sejajar


No Jarak Elektroda (m)
(Ω) (Ω)
1 20 16 17
2 15 16 16
3 10 16 20
4 7,5 16 17
5 5 16 16
6 2,5 16 17

Page | 46
Nilai pentahanan yang baik menurut PUIL 2011 yaitu maksimal 5 Ω. Ber-

dasarkan hasil percobaan dapat dilihat bahwa nilai dari pentanahan sangat jauh

dari nilai standar. Tahanan dari tanah tidak cukup baik sehingga memungkinkan

terjadinya kecelakaan kerja yang dapat membahayakan lingkungan sekitar.

Nilai tahanan yang lebih dikarenakan beberapa faktor seperti kandungan

mineral dan air dalam tanah serta tingkat keasaman tanah. Apabila nilai pentana-

han melebihi standar maka dapat dilakukan penambahan grounding road atau

pemberian karbon. Semakin banyak grounding road yang dipasang maka nilai

tahanan pentanahan akan semakin bagus.

3.5. Pengukuran Tahanan Isolasi

Pengukuran tahanan isolasi digunakan untuk memeriksa status isolasi

rangkaian dan perlengkapan listrik, sebagai dasar pengendalian keselamatan.

Variasi tegangan tidak akan berpengaruh banyak terhadap harga pembacaan,

karena hasilnya tidak ditentukan dari sumber tegangan arus searah. Menurut

standar VDE (catalogue 228/4) minimum besarnya tahanan isolasi kumparan trafo

pada suhu operasi dihitung 1 kilo Volt = 1 MΩ (Mega Ohm), dengan 1 kV =

besarnya tegangan fasa terhadap tanah dan kebocoran arus yang diizinkan setiap

kV = 1 mA. Sumber tegangan arus searah adalah sumber tegangan tinggi yang

dihasilkan dari pembangkit.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam melakukan pengukuran ta-

hanan isolasi yaitu sebagai berikut:

1. Memastikan peralatan tidak bertegangan atau beroperasi.

Page | 47
2. Memeriksa tegangan kerja dari peralatan yang diukur (dalam hal ini trans-

formator distribusi).

3. Menyetel nilai tegangan injeksi.

4. Memasang klem alat test pada titik yang akan diukur, sesuai rangkaian perco-

baan.

5. Menginjeksi tegangan ke titik ukur.

6. Mencatat hasil pengukuran pada modul pengisian.

7. Meng-offkan peralatan test.

8. Membuang tegangan sisa pada clamp peralatan test dengan menempalkannya

pada titik ground.

9. Merapikan peralatan dan alat test.

Berikut data hasil percobaan yang diperoleh:

 Primer Trafo

Tabel 3.3 Hasil Pengukuran Sisi Primer Trafo

No Terminal Nilai Tahanan Ket.


1 R-N 82,1 GΩ Layak
2 S-N 81,2 GΩ Layak
3 T-N 64,5 GΩ Layak
4 R-S < 0,005 kΩ Tidak Layak
5 R-T < 0,005 kΩ Tidak Layak
6 S-T < 0,005 kΩ Tidak Layak
7 R-G 3,64 GΩ Layak
8 S-G 4,17 GΩ Layak
9 T-G 4,69 GΩ Layak

Page | 48
 Sekunder Trafo

Tabel 3.4 Hasil Pengukuran Sisi Sekunder Trafo

No Terminal Nilai Tahanan (GΩ) Ket.


1 u-N 127 Layak
2 v-N 75,1 Layak
3 w-N 75,2 Layak
4 u–v 57,9 Layak
5 v–w 100 Layak
6 v–w 77,3 Layak
7 u-G 4,01 Layak
8 v-G 4,44 Layak
9 w-G 4,69 Layak

Dari data hasil percobaan maka tahanan isolasi yang dapat dikatakan baik ji-

ka bisa mencapai nilai minimum dari resistan isolasinya, yaitu:

 Nilai minimum tahanan isolasi sisi sekunder

1000 Ohm x 380 Volt = 0,38 MΩ

 Nilai minimum tahanan isolasi sisi primer

1000 Ohm x 20.000 Volt = 20 MΩ

Maka dari data percobaan tahanan isolasi yang dapat dikatakan baik yaitu

pada Primer-Primer, Primer-Ground, Sekunder-Sekunder, Sekunder-

Ground, Primer-Netral, dan Sekunder-Netral karena tahanan isolasi yang

terukur dapat mencapai nilai minimum resistan isolasinya. Untuk kumparan

sekunder dengan netral menunjukkan nilai yang sangat baik karena nilai tahanan

isolasinya sangat tinggi melebihi standar yang sangat sedikit peluang untuk ter-

jadinya kegagalan isolasi. Sedangkan untuk tahanan isolasi yang jauh dari standar

Page | 49
kemungkinan disebabkan karena faktor usia pemakaian, faktor suhu dan faktor

kelembaban.

3.6. Pemeliharaan Jaringan

Pemeliharaan merupakan suatu pekerjaan yang dimaksudkan untuk

mendapatkan jaminan bahwa suatu sistem atau peralatan akan berfungsi secara

optimal, umur teknisnya meningkat dan aman baik bagi personil maupun bagi

masyarakat umum. Kegiatan pokok pemeliharaan rutin ini ditentukan berdasarkan

periode atau waktu pemeliharaan yaitu bulanan, triwulan, semesteran atau ta-

hunan.

Faktor yang menyebabkan diharuskannya dilakukan pemeliharaan jaringan

distribusi yakni karena pada umumnya jaringan distribusi berada pada salu-

ran bebas, jadi tentunya tidak akan terlepas dari faktor-faktor alam yang bisa

menyebabkan gangguan bahkan kerusakan pada jaringan distribusi. Con-

tohnya adanya petir yang mengenai saluran, binatang seperti ular dan tum-

buhan yang daunnya merambat masing-masing dapat menimbulkan hub-

ungan antar fasa pada jaringan, dll

Prosedur pemadaman PHB – TR sebelum pemeliharaan

a) Petugas pelaksana melapor ke petugas piket, bahwa akan dilakukan

pemadaman PHB – TR yang akan dipelihara.

b) Kurangi beban dengan cara melepas seluruh beban setiap jurusan.

c) Buka saklar utama (helfboom Saklar)

d) Buka FCO dengan menggunakan stick 20 KV

Page | 50
e) Tanamkan (Grounding) semua kabel jurusan dengan menggunakan

Grounding TR.

Pelaksanaan Pemeliharaan PHB – TR

a) Bersihkan rel, dudukan fuse holder, pisau saklar utama (helfboom saklar),

sepatu kabel dari kotoran / korosi, dan bersihkan ruangan dalam Panel Hubung

Bagi (PHB)

b) Periksa kekencangan mur dan baut pada saklar utama, sepatu kabel, rel, fuse

holder, kondisi isolasi dan sistem petanahan.

c) Lakukan pergantian komponen PHB – TR bila ada yang rusak

d) Ukur dan catat nilai tahanan isolasi antara rel dan atau rel terhadap body dan

tahanan pentanahan, dan catat dalam formulir berita acara (BA).

Prosedur pengoperasian kembali PHB – TR sesudah pemeliharaan

a) Lepaskan pentanahan pada seluruh kabel jurusan (kabel yang di grounding)

b) Pelaksana melapor kepada petugas piket bahwa pekerjaan pemeliharaan telah

selesai.

c) Masukan Fuse Cut Out (FCO)

d) Masukan saklar utama tanpa beban

e) Ukur tegangan fasa - fasa dan fasa – netral

f) Lakukan pengecekan Rating NH fuse

g) Masukan NH Fuse secara bertahap perjurusan

h) Lakukan pengukuran beban

i) Tutup kunci pintu panel PHB – TR

Page | 51
j) Pelaksana melapor kepada petugas piket bahwa pekerjaan pemeliharaan telah

selesai.

Prosedur pelepasan muatan JTM sebelum pemeliharaan

a) Petugas menyiapkan ground stick untuk pelepasan muatan

b) Sebelum ground stick dihubungkan ke kawat jaringan, terlebih dahulu el-

ektroda pembumian yang terhubung ke ground stick di bumikan

c) Selanjutnya melepaskan muatan JTM dengan menghubungkan ground stick

dengan kawat jaringan.

d) Proses pelepasan muatan dilakukan kurang lebih selama 1 menit.

3.7 Pemasangan NH-Fuse

Pada praktikum ini dilakukan pergantian NH Fuse lama dengan memasang

NH Fuse baru :

a. Pertama, menyiapkan alat dan bahan kerja.

b. Selanjutnya, memasang dudukan NH Fuse dengan cara melakukan

pengeboran pada besi terminal dudukan NH Fuse.

c. Setelah melakukan pengeboran, selanjutnya dilakukan pemasangan dudukan

NH Fuse dengan mengencangkan baut sampai rapat agar dudukan NH Fuse

tidak mudah terlepas.

d. Setelah dudukan NH Fuse terpasang dengan benar, selanjutnya memasang

NH Fuse dengan menggunakan NH Fuse Puller.

e. Pemasangan NH Fuse dilakukan dengan cara memasang dari bawah

kemudian dirapatkan bagian atas.

Page | 52
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

1. Fuse cut Out /FCO merupakan alat yang berfungsi untuk mengamankan

jaringan dari arus beban lebih yang dapat terjadi.

2. Besarnya FCO yang dipasang harus disesuaikan dengan jumlah nominal

arus pada tegangan menengahnya.

3. Pengukuran insulation tester dilakukan untuk mengetahui kualitas tahanan

isolasi

4. Pemasangan kawat distribusi dilakukan jika adanya factor yang mengharus-

kan kegiatan ini dilakukan seperti dalam hal pebaikan maupun perawatan.

4.2. Saran

1. Diharapkan untuk menambah jumlah peralatan safety yang akan digunakan

terkhusus pada alat safety belt nya.

2. Diharapkan melengkapi pedoman pengerjaan job pada jobsheet.

3. Kurang lengkapnya peralatan kerja yang akan digunakan terkhusus pada job

pemasangan kawat distribusi.

DAFTAR PUSTAKA

Page | 53
Kadir, Abdul. 2000. Distribusi dan UtilisasiTenagaListrik. Jakarta : UI-Press

...................., 1997. Jaringan Distribusi TM-TR. Jakarta. JasaPendidikan Dan


Pelatihan PT PLN (Persero).

...................., 2000. Peraturan Umum Instalasi Listrik. Jakarta. Yayasan PUIL


Indonesia

...................., 1997. Praktek Operasi Distribusi TR. Jakarta. JasaPendidikan Dan


Pelatihan PT PLN (Persero).

PT PLN (Persero). 2010. Buku 3 Standar Konstruksi Jaringan Tegangan Rendah


Tenaga Listrik. Jakarta.

PT PLN (Persero). 2010. Buku 4 Standar Konstruksi Gardu Distribusi Dan Gar-
du Hubung Tenaga Listrik. Jakarta.

PT PLN (Persero). 2010. Buku 5 Standar Konstruksi Jaringan Tegangan Menen-


gah Tenaga Listrik. Jakarta.

Page | 54
LAMPIRAN

Lampiran 1. Sisi Primer Trafo Distribusi

Lampiran 2. Name plate Trafo Distribusi

Page | 55
Lampiran 3. Fuse Cut Out

Lampiran 4. Proses Pengukuran Tahanan Isolasi

Page | 56
Lampiran 5. Proses Pemasangan

Lampiran 6. Proses Pemasangan Isolator

Page | 57