Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakanh

Didalam tubuh manusia, 1/3-nya merupakan cairan. Darah adalah jaringan

cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sel darah

terdiri dari tiga jenis yaitu trombosit, leukosit dan eritrosit. Fungsi utama

eritrosit atau sel darah merah yang mengandung hemoglobin merupakan

komponen hematologi utama darit ransport oksigen.. Pengumpulan atau

pengambilan sampel darah yang baik merupakan langkah awal dalam

menjamin ketelitian dan kepercayaan terhadap hasil pemeriksaan laboratorium

(Nofiyanti, 2015).

Laju endap darah (LED) disebut juga erythrocyte sedimentation rate

(ESR) atau sedimentation rate (sed rate) atau bezinking-snelheid der

erythrocyten (BSE) adalah kecepatan pengendapan sel-sel eritrosit di dalam

tabung berisi darah yang telah diberi antikoagulan dalam waktu satu jam

(Nofiyanti, 2015).

Laju endap darah juga didefinisikan sebagai kecepatan pengendapan sel-

sel eritrosit dalam plasma. Hasil pemeriksaan LED digunakan sebagai

penanda non spesifik perjalanan penyakit, khususnya memantau proses

inflamasi dan aktivitas penyakit akut. Peningkatan nilai LED menunjukkan

suatu proses inflamasi dalam tubuh seseorang, baik inflamasi akut maupun

kronis, atau adanya kerusakan jaringan (Nofiyanti, 2015).

1
Hasil pemeriksaan LED walaupun tidak dapat digunakan sebagai

penunjang diagnosis etiologik, tetapi secara praktis masih rutin digunakan di

klinik, karena selain prosedurnya sederhana dan mudah, juga ekonomis,

praktis, dan dapat sebagai pemeriksaan point-of-care (dekat pasien), dan tetap

mempunyai arti klinis yang penting. Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED)

adalah pemeriksaan sederhana yang telah dilakukan. semenjak zaman Yunani

kuno. Pemeriksaan LED pertama kali ditemukan oleh seorang dokter Polandia

bernama Edmund Biernacki pada tahun 1897 (Liswanti, 2018).

Metode pemeriksaan LED pertama kali dikemukakan oleh Fahraeus dan

Westergren pada tahun 1921, yang secara cepat telah menyebar ke seluruh

penjuru dunia sebagai pemeriksaan skrining umum penyakit-penyakit akut dan

kronis. Metode Westergren adalah metode pengukuran LED paling

memuaskan yang hingga saat ini masih digunakan di klinik (Liswanti, 2018).

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari praktikum diatas yaitu bagaimana cara

memeriksa LED metode westergreen?

1.3 Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum diatas yaitu untuk mengetahui cara

memeriksa LED metode westergreen

1.4 Manfaat Praktikum

Adapun manfaat dari praktikum diatas yaitu agar mahasiswa dapat

mengetahui cara memeriksa LED metode westergreen

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Darah

Darah adalah suatu jaringan ikat khusus dengan materi ektrasel cair yang

disebut plasma. Sekitar lima liter didorong oleh kontraksi ritmis jantung pada

gerakan rata-rata orang dewasa dalam satu arah di dalam system sirkulasi

tertutup. Unsur berbentuk yang beredar dalam plasma adalah erittrosit (sel

darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Riswanto, 2013).

Terdapat dua kelas sel yang tersebar di seluruh plasma darah, yaitu sel

darah merah yang mengangkut oksigen, dan sel darah putih yang berfungsi

dalam pertahanan tubuh. Meskipun sel darah merah berukuran sangat kecil,

sel itu mengandung sekitar 250 juta molekul hemoglobin, sejenis protein

pengikat dan pembawa oksigen yang mengandung besi. Baru-baru ini para

penelitian telah menemukan bahwa hemoglobin juga berikatan dengan

molekul gas nitrat oksida (NO) selain dengan O2. (Riswanto, 2013).

2.2 Definisi Laju Endap Darah ( LED )

Laju Endap Darah (LED) atau Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR)

merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah. Proses pemeriksaan

sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah kita

ke dalam tabung khusus selama satu jam. Makin banyak sel darah merah yang

mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya. Tinggi

ringannya nilai pada Laju Endap Darah (LED) memang sangat dipengaruhi

oleh keadaan tubuh kita, terutama saat terjadi radang. Namun ternyata orang

3
yang anemia, dalam kehamilan dan para lansiapun memiliki nilai Laju Endap

Darah (LED) yang tinggi. Jadi orang normal pun bisa memiliki Laju Endap

Darah (LED) tinggi, dan sebaliknya bila Laju Endap Darah (LED) normalpun

belum tentu tidak ada masalah. Jadi pemeriksaan Laju Endap Darah (LED)

masih termasuk pemeriksaan penunjang, yang mendukung pemeriksaan fisik

dan anamnesis dari sang dokter (Riswanto, 2013)

2.3 Standar Laju Endap Darah

Proses pengendapan darah terjadi dalam 3 tahap yaitu tahap pembentukan

rouleaux – sel darah merah berkumpul membentuk kolom, tahap pengendapan

dan tahap pemadatan. Di laboratorium cara untuk memeriksa Laju Endap

Darah (LED) yang sering dipakai adalah cara Wintrobe dan cara Westergren.

Pada cara Wintrobe nilai rujukan untuk wanita 0-20 mm/jam dan untuk pria 0-

10 mm/jam, sedang pada cara Westergren nilai rujukan untuk wanita 0-15

mm/jam dan untukpria 0-10 mm/jam (Kiswari, 2014).

2.4 Prinsip

Prinsip dasar pemeriksaan LED adalah pengendapan, yaitu proses

pengendapan partikel padat (eritrosit) ke dasar tabung dalam suatu cairan

darah (plasma). Darah yang telah dicampur dengan antikoagulan dimasukkan

dalam tabung tertentu, pada suhu ruang 18 - 25°C, tabung diletakkan pada

posisi vertikal (tegak lurus) pada raknya, maka eritrosit akan mengendap ke

dasar tabung secara perlahan-lahan dan terpisah dari plasma (Gandasoebrata,

2017).

4
Kecepatan pengendapan eritrosit diukur dalam tinggi kolom plasma dalam

satuan mm dalam waktu yang tertentu (jam). Satuan LED adalah mm/jam

(Gandasoebrata, 2017).

2.5 Tahapan Laju Endap Darah

Eritrosit normal mempunyai berat yang kecil dan mengendap perlahan.

Pengendapan eritrosit yang cepat disebabkan oleh perubahan eritrosit yang

menyebabkan terjadinya proses agregasi sehingga terbentuk rouleux (Kiswari

2014).

Menurut Kiswari (2014) proses pengendapan eritrosit tidak terjadi

sekaligus, tetapi terjadi dalam 3 tahap yaitu :

2.5.1 Fase pembentukan rouleaux

Tahap awal adalah fase pembentukan rouleaux dimana sel-sel

eritrosit tersusun bertumpuk-tumpuk yang berlangsung dalam waktu

10 menit pertama.

Rouleaux adalah eritrosit yang tersusun menyerupai susunan uang

koin, dimana bentuk ini disebabkan karena bentuk eritrosit yang unik

yaitu berbentuk diskoid. Terjadinya perubahan permukaan eritrosit

dari bentuk diskoid menjadi datar menyebabkan permukaan eritrosit

menjadi luas sehingga terjadi kontak dan perlekatan eritrosit satu sama

lain dan kemudian membentuk rouleaux.

2.5.2 Fase sedimentasi cepat

Tahap kedua adalah fase pengendapan rouleaux eritrosit dengan

kecepatan konstan yang berlangsung selama 40 menit. Disebut juga

5
fase pengendapan maksimal. Karena telah terjadi agregasi dan

pembentukan rouleaux, partikel-partikel eritrosit menjadi lebih besar

dengan permukaan yang lebih kecil sehingga lebih cepat pula

pengendapannya.

2.5.3 Fase sedimentasi lambat

Tahap ketiga adalah fase pengendapan eritrosit dengan kecepatan

melambat disertai proses pemadatan eritrosit. Terjadi pada 10 menit

terakhir.

Pengendapan eritrosit ini disebut sebagai laju endap darah.

Pembacaan hasil pemeriksaan laju endap darah adalah 1 jam setelah

tabung yang telah berisi sampel darah dan antikoagulan diletakkan

tegak lurus pada raknya. Hasil pembacaan dinyatakan dalam satuan

mm/jam.

2.6 Faktor Yang Mempengaruhi Laju Endap Darah (LED)

2.6.1 Faktor eritrosit

a. Jumlah eritrosit untuk darah yang kurang dari normal

b. Ukuran eritrosit yang lebih besar dari normal dan eritrosit yang

mudah beraglutinasi akan menyebabkan laju endap darah cepat.

2.6.2 Faktor Plasma

LED mencerminkan protein plasma yang akan meningkat ketika

seseorang mengalami infeksi akut atau kronis.

6
2.6.3 Faktor Teknik

Tabung tidak boleh miring, apabila terjadi kemiringan akan terjadi

kesalahan 30% dan tidak boleh banyak getaran.

2.6.4 Faktor suhu

Sebaiknya dikerjakan pada suhu 18°C-27°C. pada suhu rendah

viskositas meningkat dan laju endap darah menurun. suhu yang tinggi

akan mempercepat pengendapan dan sebaliknya suhu yang rendah

akan memperlambat. maka dari itu sangat perlu diperhatikan keadaan

suhu pada saat melakukan laju endap darah untuk medapatkan hasil

yang (Gandasoebrata, 2017).

2.7 Macam-macam metode pemeriksaan LED

Pengukuran LED dapat dilakukan dengan berbagai metode yang

masingmasing memiliki kelebihan, kekurangan, dan sensitivitas, serta nilai

rujukan tersendiri. Hal tersebut disebabkan prosedur dan alat-alat yang dipakai

berbeda. Metode-metode pengukuran LED yang ada antara lain Metode

Westergren, Wintrobe, Mikro sedimentasi Landau, dan metode pemeriksaan

LED otomatis (Riswanto, 2013).

2.7.1 Metode Westergreen

Untuk melakukan pemeriksaan LED cara Westergreen diperlukan

sampel darah citrat 4 : 1 (4 bagian darah vena + 1 bagian natrium sitrat

3,2 % ) atau darah EDTA yang diencerkan dengan NaCl 0.85 % 4 : 1 (4

bagian darah EDTA + 1 bagian NaCl 0.85%). Homogenisasi sampel

sebelum diperiksa. Sampel darah yang telah diencerkan tersebut

7
kemudian dimasukkan ke dalam tabung Westergreen sampai

tanda/skala 0. Tabung diletakkan pada rak dengan posisi tegak lurus,

jauhkan dari getaran maupun sinar matahari langsung. Biarkan tepat 1

jam dan catatlah berapa mm penurunan eritrosit.

2.7.2 Metode Wintrobe

Sampel yang digunakan berupa darah EDTA atau darah Amonium-

kalium oksalat. Homogenisasi sampel sebelum diperiksa. Sampel

dimasukkan ke dalam tabung Wintrobe menggunakan pipet Pasteur

sampai tanda 0. Letakkan tabung dengan posisi tegak lurus. Biarkan

tepat 1 jam dan catatlah berapa mm menurunnya eritrosit.

2.7.3 Metode pemeriksaan LED otomatis

Pada metode otomatis ini darah dimasukan ke dalam tabung khusus

dan dicampur secara hati-hati, sampel kemudian dimasukan ke dalam

alat dan didiamkan dalam waktu tertentu. Tabung dimiringkan 18°

sehingga menyebabkan proses pengendapan dipercepat. LED jam

pertama dibaca dalam waktu 25 menit, LED jam kedua dibaca dalam

waktu 45 menit. Sensor yang terdapat pada alat pemeriksaan LED

otomatis akan membaca tingkat pengendapan eritrosit kemudian data

dicetak dan divisualisasikan pada layar.

2.7.4 Metode westergren miring

Salah satu keuntungan Westergren miring adalah waktu pengukuran

lebih singkat dan prosedur pemeriksaan lebih praktis juga sederhana.

Memerlukan waktu lebih singkat yaitu 12 menit dan prosedur yang

8
sederhana untuk mendapatkan hasil pengukuran LED. LED jam

pertama dibaca dalam waktu 7 menit dan jam kedua dibaca dalam

waktu 12 menit. LED akan dipercepat dengan meletakkan tabung

miring 45° pada rak khusus sehingga menambah gaya gravitasi.

2.8 Interpretasi Hasil Pemeriksaan

Hasil pemeriksaan laju endap darah (LED) diukur dalam mm / jam, atau

milimeter per jam. Hasil yang abnormal tidak dapat menunjukkan diagnosis

penyakit tertentu. Namun hanya mengidentifikasi adanya peradangan dalam

tubuh. Hasil pemeriksaan ini juga tidak selalu dapat diandalkan atau

bermakna, karena banyak faktor, seperti usia atau penggunaan obat-obatan,

adapat mempengaruhi hasilnya. Oleh sebab itu perlu dipadukan dengan jenis

pemeriksaan lainnya, dan tentu saja dokter akan menyesuaikan hasil

pemeriksaan ini dengan gejala-gejala yang dialami pasien dan temuan-temuan

dari pemeriksaan fisik. Berikut nilai normal LED, tinggi, dan rendah beserta

kondisi-kondisi yang menyebabkannya (Hartono, 2012).

2.8.1 LED Normal

Laju endap darah dianggap normal sesuai dengan kelompok usia

dan jenis kelamin sebagai berikut:

a. Wanita di bawah 50 tahun: < 20 mm / jam.

b. Pria di bawah 50 tahun: < 15 mm / jam.

c. Wanita di atas 50 tahun: < 30 mm / jam.

d. Pria di atas 50 tahun: < 20 mm / jam.

e. Bayi yang baru lahir: < 2 mm / jam.

9
f. Anak-anak yang belum mencapai pubertas: 3 – 13 mm / jam.

2.8.2 LED Tinggi

Ada beberapa penyebab kenapa laju endap darah tinggi. Beberapa

kondisi umum yang terkait dengan tingginya LED termasuk:

a. Anemia

b. Penyakit ginjal

c. Limfoma

d. Multiple myeloma

e. Penuaan

f. Kehamilan

g. Arteritis temporalis

h. Penyakit tiroid

i. Macroglobulinemia waldenstrom

j. Arthritis

2.8.3 LED Rendah

Hasil tes LED rendah bisa disebabkan oleh: gagal jantung kongestif

hipofibrinogenemia leukositosis protein plasma rendah polisitemia

anemia sel sabit Beberapa penyakit atau kondisi yang menyebabkan

hasil pemeriksaan LED abnormal terkadang memerlukan perhatian

yang serius, tetapi banyak juga yang tidak perlu dikhawatirkan. Sangat

penting untuk tidak terlalu khawatir jika hasil pemeriksaan LED tidak

normal (Widodo, 2000).

10
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu

Pelaksanaan praktikum Hematologi tentang Pemeriksaan LED (Laju

Endap Darah) Metode Westergreen dilaksanakan pada hari Selasa, 08

Oktober 2019. Tempat pelaksanaan praktikum dilaksanakan di Laboratorium

Fitokimia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bina Mandiri

Gorontalo.

3.2 Alat dan Bahan

Pada Praktikum Hematologi adapaun alat yang digunakan yaitu syring 5

ml, kapas alkohol 70%, tali pembendung, tabung EDTA, dan Tabung

westergreen, rak tabung westergreen, timer sedangkan bahan yang digunakan

yaitu darah, dan larutan Na Citrat 3.8%.

3.3 Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja yang dilakukan adalah, sebagai berikut:

1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.

2. Mencampurkan darah dengan larutan pengenceran jika darah yang dipakai

adalah darah EDTA, dan jika menggunakan darah antikoagulan yaitu

natrium sitrat dengan perbandingan 4:1 (4 ml darah + 1 ml antikoagulan).

3. Mengisi pipet westergreen dengan darah sampai batas 0, pipet yang

digunakan hendaknya bersih dan kering.

11
4. Meletakkan pipet westergreen pada rak memperhatikan supaya posisinya

betul-betul tegak lurus pada suhu 18-25°C, jauhkan dari cahaya matahari

dan getaran.

5. Setelah tepat 1 jam, baca hasilnya dalam mm/jam.

12
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil

sebagai berikut :

No. Nama Jenis Kelamin Umur Nilai LED Keterangan

1. Nn. S.M Perempuan 19 Tahun 24 mm/jam LED Tinggi

4.2 Pembahasan

Laju endap darah (LED) atau laju sedimentasi eritrosit (erithrosyte

sedimentation rate/ESR) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit (dalam darah

yang telah diberi antikoagulan) jatuh ke dasar sebuah tabung vertical dalam

waktu tertentu dan dinyatakan dalam satuan mm/jam. LED memiliki tiga

pengggunaan utama yaitu alat bantu untuk mendeteksi proses peradangan,

pemantau aktivitas atau perjalanan penyakit, dan pemeriksaan penapis /

penyaring (screening) untuk peradangan dan neoplasma yang tersembunyi.

Pada praktikum pemeriksaan LED kali ini dilakukan dengan metode

westergreen.Pada metode westergreen ini digunakan perbandingan volume

darah yang telah dicampur antikoagulan yaitu natrium sitrat dengan

perbandingan 4:1 (4 mL darah + 1 mL anticoagulant). Pencampuran darah

dengan EDTA bertujuan menghindari lisisnya darah karena EDTA mencegah

pembekuan darah namun tidak memberikan pengaruh besar terhadap bentuk

dan jumlah eritrosit,leukosit serta mencegah menggumpalnya trombosit dalam

13
darah.NaCl tersebut digunakan untuk pengenceran tanpa mempengaruhi

komposisi darah. Kemudian campuran darah dan NaCl ini di pipet ke dalam

pipet westergreen dengan volume 200 ml dan di posisikan tegak lurus di rak

westergreen selama 60 menit.Pada saat inilah terjadi proses sedimentasi

eritrosit yang terbagi menjadi 3 tahap yaitu :

1. Tahap ke-1 penyusunan letak eritrosit (rouleaux formation) dimana

kecepatan sedimentasi masih lambat. Berlangsung selama ± 10 menit.

2. Tahap ke-2 kecepatan sedimentasi tinggi karena telah terbentuk rouleaux.

Berlangsung selama ± 40 menit.

3. Tahap ke-3 kecepatan sedimentasi berkurang dan mulai terjadi

pemantapan sedimentasi eritrosit. Berlangsung selama ± 10 menit.

Setelah 1 jam, barulah dibaca skala pipet westergreen tersebut dengan

melihat tinggi plasma yang terpisah dengan sel darah. Batas pembacaannya

yaitu mulai dari skala nol (atas) tingginya plasma hingga batas pertemuan sel

darah yang mengendap.( Riswanto,2013 )

Pada praktikum pemeriksaan nilai LED ini,didapatkan nilai LED dari

probandus atas nama S.M Sintia Ma’ruf dengan umur 19 tahun dan berjenis

kelamin perempuan sebesar 28 mm/jam.Hasil yang didapatkan ini sudah dapat

digolongkan sebagai nilai LED yang tinggi karena nilai LED probandus yang

berada di atas nilai normal untuk wanita yaitu 0-15 mm/jam.Setelah dianalisa

disertai informasi yang didapat dari probandus,ada kemungkinan naiknya nilai

LED probandus disebabkan oleh pengaruh fibrinogen,karena diketahui bahwa

probandus memiliki luka yang masih belum sembuh total di dekat

14
pengambilan darah untuk pemeriksaan LED.Di samping itu pula,menurut

informasi dari probandus,diketahui bahwa ia sempat menderita radang berupa

flu sebelum pemeriksaan LED dilakukan.Namun semua asumsi yang ada

belum dapat dijadikan sebagai hasil pasti sebab pemeriksaan LED yang relatif

tidak spesifik karena dipengaruhi oleh banyak faktor teknis dan faktor

fisiologis yang menyebabkan temuan tidak akurat.Adapun factor-faktor yang

dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan LED selain dua faktor sebelumnya

yaitu :

1. Faktor sel darah merah

a. Pembentukan rouleaux

Makin besar rouleaux yang terbentuk, makin cepat pengendapannya sebab

makin besar pula tarikan gravitasinya.

b. Bentuk sel darah merah

Bentuk sel darah merah yang sferis atau seperti bulan sabit mempersulit

pembentukan rouleaux sehingga laju endap darah akan menurun. Penurunan

laju endap darah juga dapat disebabkan oleh permukaan sel relatif lebih luas

dibanding berat sel.

c. Aglutinasi sel darah merah

Aglutinasi sel darah merah oleh karena adanya perubahan permukaan sel

darah merah dapat menyebabkan LED meningkat.

d. Ukuran sel darah merah

Makrosit lebih cepat mengaendap sehingga LED meningkat.

15
e. Jumlah sel darah merah

Jumlah sel darah merah yang rendah (anemia) merupakan faktor penyebab

LED meningkat.

2. Faktor Komposis Plasma

Komposisi plasma merupakan faktor terpenting yang menentukan kecepatan

pengendapan. Protein plasma dan koloid mempengaruhi tingkat pembentukan

agregat dan rouleaux, yang akan mempengaruhi LED. Sejumlah studi

menyatakan bahwa peningkatan fraksi protein penting yaitu fibrinogen,alpha-2

globulin, dan alpha-1 globulin menimbulkan peningkatan LED.

Pembentukan rouleaux atau agregat dapat dipercepat oleh adanya peningkatan

kadar makromlekul dalam plasma, peningkatan perbandingan globulin

terhadap albumin dan peningkatan kadar fibrinogen. Peningkatan kadar

globulin atau globulin dan fibrinogen dapat mengurangi gaya saling tolak

menolak antara sel darah merah sehingga sel-sel tersebut lebih mudah

berdekatan satu dengan yang lain. Disamping itu, peningkatan viskositas

plasma dapat menetralkan gaya tarik kebawah sehingga LED lebih rendah.

Pada penyakit infeksi , kadar globulin dan fibrinogen meningkat sehingga

LED meningkat.

3. Faktor teknis

Laju endap darah menurun disebabkan oleh : diameter tabung LED lebih kecil,

darah tidak segera diperiksa lebih dari 2 jam, antikoagulan yang digunakan

berlebihan sehingga terjadi degenerasi sel darah merah dan mengkerut,

16
sebagian darah beku, darah disimpan sehingga bentuknya lebih sferis dan

lebih sulit membentuk rouleaux. (Solichul Hadi, 2001).

a. Kualitas dan panjang tabung

Nilai-nilai normal yang berbeda untuk beberapa metode disebabkan oleh

variasi-variasi mutu tabung dan tinggi kolom darah. Semakin tinggi kolom

darah, semakin cepat fase pengendapan pertama akibat tertundanya pengisian

sel-sel darah pada dasr tabung.

Pengendapan cepat terjadi pada tabung dengan ukuran besar. Kemudahan

pananganan dan rak yang nyaman membuat tabung Westergren sangat disukai

oleh para ahli teknologi. Untuk mengurangi volume darah yang diperlukan ,

diameter tabung harus lebih kecil dari pada diameter tabung standar.

b. Posisi Tabung

Pada semua metode penting untuk menjaga tabung tetap tegak lurus.

Derajat kemiringan kecil menimbulkan efek percepatan laju endap darah . ini

disebabkan penempatan sel-sel pada satu sisi tabung sehingga mempermudah

plasma bergeser keluar. Apapun alasannya, kesalahan teknis yang lebih besar

terjadi melalui inklinasi tabung daripada dari faktor lain. Penggunaan rak

khusus yang menjaga tabung tetap vertikal sangat penting.

c. Antikoagulan yang dipakai

Antikoagulan yang mungkin mempengaruhi ukuran sel sehingga mengubah

laju endap darah, tetapi antikoagulan yang sering dipakai menghasilkan variasi

kecil jika konsentrasinya terkontrol dengan baik. Ditemukan perbedaan rata-

rata kecepatan antara darah yang mengandung potassium oxalate kering

17
standar dan darah yang sama yang mengandung campuran Heller dan Paul

Potassium dan Amonium Oxalate sebesar 2 mm per jam dengan metode

Westergren. Heparin menimbulkan penyusutan sel paling kecil, dan campuran

double oxalate adalah yang terbaik. Jumlah antikoagulan harus diukur dan

dikeringkan dengan hati-hati.

d. Pengaruh Suhu

Variasi-variasi kecil dalam suhu ruangan tidak berdampak besar terhadap

laju endap darah . meski demikian, ketika variasi harian atau musiman terjadi,

laju endap darah sangat terpengaruh. Terbukti bahwa jika darah berada dalam

temperatur refrigerator, laju endap darah menurun drastis. Kemungkinan

karena meningkatnya kekentalan plasma. Oleh karena itu, darah dari suhu

refrigerator harus dibiarkan dulu agar kembali pada suhu kamar sebelu

digunakan untuk uji .

e. Pengaruh Penundaan Uji

Kecepatan laju endap darah tidak beruabah selama satu jam atau dua jam

setelah darah diambil, tetapi penurunan besar ditemukan bila tes dilakukan

setelah tiga jam atau lebih.( Marufah,2010 )

Sehingga untuk mendapatkan hasil klinis yang lebih meyakinkan,perlu

dilakukan pemeriksaan lebih lanjut

18
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum diatas dapat disimpulkan bahwa tes laju

endap darah yaitu tes untuk mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan

untuk sel darah merah jatuh atau mengendap ke dasar tabung reaksi kaca.

Meski dapat membantu mendeteksi adanya peradangan atau infeksi, namun

tes ini harus dilakukan dengan jenis tes lain untuk mendiagnosa penyakit

tertentu. Tes laju endap darah digunakan untuk menilai kondisi peradangan

atau infeksi di tubuh. Prosedur ini dilakukan dengan pengambilan darah, yang

kemudian diperiksa untuk mengukur pengendapan sel darah merah sebagai

gambaran peradangan yang terjadi.

5.2 Saran

Adapun saran untuk praktikum selanjutnya yaitu pemeriksaan atau tes

laju endap darah menggunkan metode yang lain.

19
DAFTAR PUSTAKA

Nofiyanti, Indri. 2015 Perbedaan hasil pemeriksaan laju endap darah metode
manual dan automatic. Diss. Muhammadiyah University of Semarang,
2015.

Liswanti, Yane. 2018. Hasil pemeriksaan LED metode westergren antara


antikoagulan edta dan natrium sitrat 3, 8%. Jurnal Insan Cendekia.
Volume, 6(1).

Hartono, A.M. 2012. “Uji Validitas Pemeriksaan Laju Endap Darah Metode
Modifikasi Westergren dengan Sudut Kemiringan 450 terhadap Metode
Rujukan. ICSH 1993” (tesis). Bandung: Universitas Maranatha.

Gandasoebrata, R. 2017. Penuntun Laboratorium Klinik.. Edisi 13Jakarta:


Penerbit Dian Rakyat.

Kiswari, Rukman. 2014. Hematologi & Transfusi. Jakarta: Penerbit Erlangga

Riswanto, 2013. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Yogyakarta: Alfamedia


& Kanal Medika.

Widodo, Herdiman. 2000. Hematologi Klinik Pendekatan Berorientasi Masalah.


Editor Kartini Agnes dkk, Penerbit Hipokrates, Jakarta.

20