Anda di halaman 1dari 9

LEMBAR KERJA SISWA

(PROBLEM BASED LEARNING)

NAMA : ________________
NO. ABSEN : ________________
KELAS : ________________
KELOMPOK : ________________

Kompetensi Dasar :
3.11 Mengevaluasi pemahaman diri tentang bahaya penggunaan senyawa
psikotropika dan dampaknya terhadap kesehatan diri, lingkungan dan
masyarakat.
4.12 Melakukan kampanye anti-narkoba melalui berbagai bentuk media
komunikasi baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

A. Judul Permasalahan :
Meningkatnya jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia dari tahun
ke tahun, terutama di kalangan kaum remaja.

B. Tujuan :
1. Memberikan solusi yang tepat dan dapat digunakan untuk mencegah,
mengurangi dan menanggulangi tindakan penyalahgunaan narkoba di
Indonesia, terutama di kalangan kaum remaja;
2. Menjelaskan cara yang efektif untuk mencegah peredaran narkoba di
lingkungan masyarakat, serta cara menanggulangi tindakan
penyalahgunaan narkoba.
Kasus 1

Berdasarkan laporan Breslau dkk (2001), 1 dari 4 orang dewasa di Amerika Serikat
memiliki ketergantungan terhadap nikotin, walaupun belakangan ini popularitas merokok
di kalangan remaja Negeri Paman Sam terus melorot. Penduduk Indonesia sendiri
merupakan salah satu konsumen rokok terbesar di dunia, serta memiliki produksi rokok
yang tidak kalah besarnya pula. Fakta ini membuat berbagai perusahaan rokok asing,
seperti Philip Morris, berebut pangsa pasar di negeri ini. Dan akhirnya seiring impor
rokok dan investasi dari negara maju yang semakin masif, penyakit-penyakit terkait
dengan rokok juga diimpor.Penyakit kardiovaskular dan kanker (terutama kanker paru)
sekarang ini menduduki tangga teratas penyebab kematian di Indonesia, menggeser
berbagai penyakit infeksi. Ada beberapa tahapan yang dialami seorang perokok hingga
menjadi tahap ketergantungan. Tahap pertama adalah eksperimental atau coba-coba.
Mereka mulai menghirup rokok untuk mencari ketenangan, energi lebih dan pelarian dari
stress sehari-hari. Pada tahap ini seorang perokok merasa yakin masih dapat mengontrol
kebiasaannya untuk merokok.Pada tahap selanjutnya, yaitu penggunaan rutin, perokok
mulai dikendalikan oleh efek dahsyat nikotin. Pada tahap ini penyangkalan memainkan
peranan penting. Perokok akan menyangkal bahwa ia tidak dapat mengendalikan lagi
kebiasaannya merokok, menyangkal bahwa kebiasaannya itu dapat menimbulkan
berbagai penyakit fatal. Sebenarnya ia mengetahui bahaya-bahaya merokok, tetapi
kenikmatan semu tersebut telah terlanjur menutupi kecemasan dan akal sehatnya.
Dengan penyangkalan ini, maka tidak heran kampanye anti-rokok yang mengusung
berbagai bahaya merokok bagi kesehatan menjadi mentah.Tahapan terakhir adalah
ketergantungan, di mana rokok sudah menjadi sahabat setia perokok setiap waktu, dan
tanpanya, perokok akan mengeluh berbagai macam kesengsaraan dari mulut pahit hingga
demam. Dan selanjutnya, ia pun akan merokok lagi, bukan sekedar mencari kenikmatan
seperti tahapan awal melainkan untuk menghindarkan diri dari
kesakitan withdrawal.Menilik bahwa rokok berawal dari coba-coba, rasa ingin tahu
maupun rasa setia kawan, maka tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa pribadi
perokok adalah rentan juga terhadap narkoba lainnya.

1. Tuliskan rumusan masalah dari kasus diatas!


t
2. Bagaimana hipotesis sementara dari rumusan masalah yang telah dibuat?

3. Bagaimana cara menanggulangi hal tersebut?


LEMBAR KERJA SISWA

(PROBLEM BASED LEARNING)

NAMA : ________________
NO. ABSEN : ________________
KELAS : ________________
KELOMPOK : ________________

Kompetensi Dasar :
3.11 Mengevaluasi pemahaman diri tentang bahaya penggunaan senyawa
psikotropika dan dampaknya terhadap kesehatan diri, lingkungan dan
masyarakat.
4.12 Melakukan kampanye anti-narkoba melalui berbagai bentuk media
komunikasi baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

C. Judul Permasalahan :
Meningkatnya jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia dari tahun
ke tahun, terutama di kalangan kaum remaja.

D. Tujuan :
4. Memberikan solusi yang tepat dan dapat digunakan untuk mencegah,
mengurangi dan menanggulangi tindakan penyalahgunaan narkoba di
Indonesia, terutama di kalangan kaum remaja;
5. Menjelaskan cara yang efektif untuk mencegah peredaran narkoba di
lingkungan masyarakat, serta cara menanggulangi tindakan
penyalahgunaan narkoba.
Kasus 2

Kompas.com — Suasana hati atau emosi tertentu dapat mendorong seseorang untuk
menikmati minuman beralkohol. Namun, sebenarnya alkohol tidak berpengaruh terlalu
banyak untuk mengembalikan mood. Pada pria, emosi marah dapat mendorong mereka untuk
minum alkohol. Menurut penelitian yang dilakukan Valeri S Harder, pria yang merasa marah
cenderung untuk minum dibanding dengan yang amarahnya bisa dikendalikan. Harder pada
awalnya menduga seseorang akan merasa tidak terlalu marah atau sedih setelah minum, dan
merasa lebih bahagia setelah minum. Namun, ternyata hasil penelitian menunjukkan
sebaliknya. "Faktanya tidak demikian. Seseorang merasa kurang bahagia karena mereka
minum banyak alkohol," kata Harder yang menjadi asisten profesor bidang psikiatri di
University of Vermont ini. Baik pria ataupun wanita sama-sama merasa kurang bahagia
keesokan harinya setelah minum. Tetapi efek tersebut terasa lebih kuat pada wanita. Untuk
melacak kebiasaan dan pengaruhnya pada mood, Harder dan timnya menggunakan program
perekaman suara interaktif seperti pada call center di bank. Mereka melibatkan 246 partisipan
studi yang oleh dokter dianggap rentan mengalami kecanduan alkohol. Para responden
adalah mereka yang pernah mengikuti program untuk mengurangi kebiasaan minum. Mereka
kemudian ditelepon setiap hari selama enam bulan untuk melaporkan mood, level stres, dan
kebiasaan minum. Usia para responden antara 21-82 tahun. Stres diketahui bisa mengubah
mood seseorang dan kebiasaan minum mereka. Dalam studi sebelumnya bahkan
disimpulkan, stres yang tinggi bisa menjadi faktor yang mendorong seseorang untuk minum
keesokan harinya. Harder menjelaskan, orang-orang yang menganggap alkohol dapat
meningkatkan mood mereka harus memperhatikan perasaan apa yang akan mereka alami
keesokan harinya setelah minum. Karena itu, ketimbang menyakan berapa kali mereka sudah
minum dalam seminggu, dokter disarankan untuk menanyakan pada pasien mood mereka
sebelum dan setelah minum.

Penulis : Lusia Kus Anna

1. Tuliskan rumusan masalah dari kasus diatas!


2. Bagaimana hipotesis sementara dari rumusan masalah yang telah dibuat?

3. Bagaimana cara menanggulangi hal tersebut?


LEMBAR KERJA SISWA

(PROBLEM BASED LEARNING)

NAMA : ________________
NO. ABSEN : ________________
KELAS : ________________
KELOMPOK : ________________

Kompetensi Dasar :
3.11 Mengevaluasi pemahaman diri tentang bahaya penggunaan senyawa
psikotropika dan dampaknya terhadap kesehatan diri, lingkungan dan
masyarakat.
4.12 Melakukan kampanye anti-narkoba melalui berbagai bentuk media
komunikasi baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

E. Judul Permasalahan :
Meningkatnya jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia dari tahun
ke tahun, terutama di kalangan kaum remaja.

F. Tujuan :
6. Memberikan solusi yang tepat dan dapat digunakan untuk mencegah,
mengurangi dan menanggulangi tindakan penyalahgunaan narkoba di
Indonesia, terutama di kalangan kaum remaja;
7. Menjelaskan cara yang efektif untuk mencegah peredaran narkoba di
lingkungan masyarakat, serta cara menanggulangi tindakan
penyalahgunaan narkoba.
Kasus 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendekatan pemidanaan dalam


mengatasi permasalahan narkoba dinilai lebih 'mematikan' bagi pengguna
narkotika dibandingkan narkoba itu sendiri. Berdasarkan kajian yang
dilakukan Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia (PKNI) menunjukkan
banyak pengguna narkotika yang sebelumnya memiliki pekerjaan baik
harus kehilangan pekerjaan karena dipenjara.

Permasalahan penggunaan narkotika sejatinya merupakan permasalahan


kesehatan, namun kebijakan narkotika di Indonesia yang diatur dalam UU
No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika lebih mengarah pada pendekatan
pemidanaan. "Jaminan pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi
penyalahguna dan pecandu narkotika hanya menjadi isapan jempol semata,"
ujar koordinator PKNI Totok Yulianto, Jumat (24/6).

PKNI melihat terdapat beberapa permasalahan dalam kebijakan narkotika


dalam UU Narkotika. Pertama, kebijakan narkotika tidak bisa memisahkan
antara pengguna dan pelaku perdagangan gelap narkotika. Kesemuanya
disatukan dengan konsep peredaran gelap narkotika yang diartikan sebagai
orang yang melakukan tindak pidana yang ditentukan dalam UU Narkotika.
Termasuk penyalahguna, orang tua yang tidak melapor anaknya memiliki
kecanduan narkotika, aparat penegak hukum serta pejabat negara yang tidak
melaksanakan kewajiban dalam UU Narkotika.

Kedua, kata Totok, UU Narkotika banyak memberikan aturan pidana yang


bersifat elastis, tidak jelas dan selalu dipergunakan oleh oknum aparat
penegak hukum untuk merekayasa dan memeras pengguna narkotika.
Menurut Totok, umumnya seorang yang tekena kasus narkotika ditekankan
pada barang bukti narkotika.

Penegak hukum tidak meilihat tujuan dari penguasaan, pemilikan atau


penyimpanan narkotika tersebut apakah untuk digunakan, dijual, dikirim,
1. Tuliskan rumusan masalah dari kasus diatas!
dan lainnya. "Celah ini kemudian dipergunakan oleh oknun aparat penegak
hukum untuk memeras dan mengeksploitasi pengguna dan kelurganya,"
ujarnya.

Ketiga, UU Narkotika secara sengaja mengaburkan bahwa pengguna


narkotika adalah korban permasalahan perdagangan gelap narkotika dan
pendekatan perang terhadap narkoba. Konsepsi korban penyalahguna
narkotika dalam UU Narkotika sebagai orang yang dipaksa menggunakan
narkotika, merupakan konsep yang tidak jelas. Totok menyebut konsep
seperti ini menimbulkan semakin hilangnya hak pengguna untuk
mendapatkan jaminan rehabilitasi.
2. Bagaimana hipotesis sementara dari rumusan masalah yang telah dibuat?

3. Bagaimana cara menanggulangi hal tersebut?