Anda di halaman 1dari 6

1.

Di ruang konsultasi yang tenang dan sejuk, tampak Perawat dan Klien
sedang duduk berhadapan. Berikut ini petikan komunikasi antara Perawat
– Klien dalam pelayanan keperawatan:
P : Selamat pagi (sambil berjabat tangan).............. bagaimana perasaan ibu
hari ini? Sambil memandang klien dan tersenyum.
K : Selamat pagi ...... perasaan saya sangat tidak nyaman, banyak hal tidak
mampu saya kerjakan karena saya harus sering kontrol ke rumah sakit
(pasien menunduk dan tampak sedih)
Manakah dari ilustrasi di atas yang termasuk dalam elemen admosfir dalam
komunikasi:
A. Duduk berhadapan Perawat klien
B. Ruang konsultasi yang tenang dan sejuk
C. Berjabatan tangan
D. Memandang klien dan tersenyum
E. Pernyataan pasien “perasaan saya sangat tidak nyaman”
2. Di siaran radio terdengar seorang perawat memberikan penyuluhan
tentang penyakit demam berdarah, cara pencegahan dan penanganan
di rumah sebelum di bawa ke rumah sakit. Berdasarkan levelnya, apakah
level komunikasi yang sedang dilakukan perawat tersebut?
A. Komunikasi interpersonal
B. Komunikasi Kelompok
C. Komunikasi publik
D. Komunikasi profesional
E. Komunikasi massa
1. Untuk meningkatkan kualitas personal, perawat secara terus menerus harus
melakukan eksplorasi diri terkait hal-hal yang baik / tidak baik, hal-hal yang disadari
/ tidak disadari dan upaya-upaya perbaikan, dsb. melalui perenungan diri. Apakah
level komunikasi yang digunakan perawat tersebut?
A. Komunikasi interpersonal
B. Komunikasi profesional
C. Komunikasi individu
D. Komunikasi intrapersonal
E. Komunikasi internal
2. Berikut ini adalah sifat atau perilaku yang menunjukkan perluasan kesadaran diri
perawat:
A. Sifat atau perilaku individu Tidak diketahui oleh diri sendiri, tetapi diketahui oleh
orang lain
B. Sifat atau perilaku individu diketahui oleh diri sendiri dan orang lain
C. Sifat atau perilaku individu Tidak diketahui oleh diri sendiri dan orang lain
D. Sifat atau perilaku individu diketahui oleh diri sendiri tetapi tidak diketahui
orang lain
E. Sifat atau perilaku individu dikenal dan diketahui oleh kelompok yang
Bersangkutan
1. Sikap komunikasi berikut ini sangat tepat dilakukan saat anak sedang
menangis atau sedih
A. Membiarkan anak menangis
B. Duduk dekat anak dan merangkul pundaknya
C. Menasehati agar tidak menangis
D. Melakukan konfrontasi terhadap sikap anak
E. Memberikan aktivitas pengalihan
2. Seorang anak laki-laki usia 8 tahun, marah pada ibunya karena
keinginannya beli mainan tidak dipenuhi. Anak merasa kesal dengan
melempar semua mainan yang dimilikinya dan tidak mau makan
Bagaimanakah sikap orang dewasa menghadapi anak tersebut?
A. Menasehati anak bahwa mainannya masih banyak
B. Meminta anak untuk tidak marah
C. Memarahi anak karena membuang mainannya
D. Memfasilitasi ungkapan marah anak dan mendampingi
E. Memenuhi keinginan untuk membeli mainan
3. Seorang anak perempuan usia 3 tahun sedang dirawat di rumah sakit
karena panas dan diare. Anak selalu menangis dan tidak mau diperiksa
atau dilakukan prosedur perawatan. Apakah teknik komunikasi yang
tepat digunakan pada anak tersebut?
A. Bercerita penyebab tidak mau diperiksa
B. Menggambar bersama anak
C. Bermain
D. Menggambar bersama keluarga
E. Menjelaskan tujuan tindakan
4. Seorang anak laki-laki usia 4 tahun merasa ketakutan jika perawat
datang untuk melakukan pemeriksaan rutin misalnya mengukur
tekanan darah dan observasi suhu tubuh. Bagaimanakah implementasi
komunikasi yang dilakukan perawat menghadapi anak tersebut?
A. Memberi tahu bahwa pemeriksaan adalah penting
B. Memberi kesempatan anak untuk menyentuh alat pemeriksaan
yang akan digunakan
C. Bersikap mendesak orang tua supaya anak mau dilakukan tindakan
D. Melakukan konfrontasi langsung jika anak menolak maka tidak
akan sembuh
E. Meminta anak bercerita untuk menggali perasaan dan fikirannya
5. Orang dewasa sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman
sendiri yang mempengaruhi komunikasinya. Untuk memudahkan
tindakan keperawatan yang perawat lakukan, manakah sikap
psikologis perawat yang paling tepat?
A. Memberi motivasi klien untuk meningkatkan kesehatan
B. Menggunakan keyakinan perawat untuk merubah perilaku klien
C. Mengajari car-acara memelihara kesehatan
D. Menyelesaikan masalah berdasarkan sudut pandang perawat
E. Mengganti pengetahuan klien dengan yang baru
6. Penyampaian komunikasi yang tepat dilakukan pada orang dewasa /
lansia supaya tidak terjadi kesalahan dalam penerimaan informasi
adalah dengan teknik:
A. Penyampaian melalui media leaflet
B. Langsung menggunakan telepon
C. Langsung dengan tatap muka
D. Langsung melalui keluarga
E. Tidak langsung
7. Berikut di bawah ini manakah karakteristik fisik lansia yang dapat
mempengaruhi keberhasilan komunikasi?
A. Penurunan penglihatan
B. Keluhan pusing-pusing
C. Keluhan sulit tidur
D. Perasaan cemas
E. Penurunan pendengaran
1. Seorang lansia dirawat dengan keluhan mengalami kesulitan tidur dan mengatakan
bingung yang tidak tahu penyebabnya. Manakah berikut ini upaya yang harus
dilakukan perawat dalam aspek fisik untuk mengahatasi hambatan komuniasi
dengan lansia.
A. Meminta pasien untuk tenang
B. Menganjurkan klien untuk relaksasi
C. Menyediakan waktu untuk ngobrol dengan perawat
D. Menyediakan lingkungan tenang
E. Menjadi pendengar setia buat klien
2. Seorang lansia di rawat dengan dimensia. Selama interaksi dan berkomunikasi klien
selalu meminta pertanyaan dan penjelasanyang berikan perawat untuk diulang.
Klien tampak kurang fokus dan mudah beralih dan menyatakan tidak paham.
Apakah yang harus dilakukan perawat dalam berkomunikasi dengan klien supaya
tujuan dapat tercapai?
A. Duduk berhadapan
B. Mempertahankan kontak mata
C. Memberikan waktu ekstra untuk klien
D. Meminta keluarga menjelaskan kembali
Menciptakan suasana menyenangkan
Pada bidang garap ini kita akan mengetahui tahap awal bagaimana karakter individu
yang mengalami gangguan “Komunikasi”. Jika dilihat dari pendapat kebanyakan
orang, gangguan komunikasi ini diartikan sangatlah sempit. Mungkin kebanyakan
pikir orang, gangguan komunikasi sekedar gangguan pada bahasa ataupun bicara.
Namun, ketika saya mempelajari lebih dalam. Gangguan komunikasi individu ini
bukan semata hanya hal tersebut tetapi juga pada suara, irama kelancaran, serta
bagaimana individu tersebut menelan. Kesimpulannyakomunikasi tidak
hanya berisi bunyi-bunyi vocal yang bisa dipergunakan, akan tetapi termasuk juga
unsur-unsur suara, kecepatan hantaran kontak mata, ekspresi wajah dan gerakan
badan individu tersebut. Baik itu dilaksanakan secara interpersonal (dirinya dengan
orang lain) ataupun intrapersonal (pada diri sendiri).

Sebelum mengetahui adanya gangguan komunikasi pada individu kita harus lebih
dahulu mengetahui apakah tahap perkembangannya sesuai atau tidak. Nah, disini
saya akan berbagi ilmu tentang Tahapan Perkembangan Normal Anak yaitu pada
bahasa dan bicara menurut para ahli.

Menurut M.F BERRY & J. EISENSION tahap perkembangan bahasa dan bicara anak
yaitu:
1. Tahap Reflexive Vocalization.(0 – 1,5 Bl). Pada tahap ini
hanyalah aktifitas yang masih bersifat refleks. Tangisan, suara-suara
yang diproduksi benar-benar tidak disadari oleh anak, tanpa
kehendak, bukan berarti si anak meminta atau menuntut apapun,
bukan juga sedang menanggapi rangsangan apapun dari
sekelilingnya. Suara atau tangisan yang keluar benar-benar
merupakan refleks belaka. Tahap ini tangisan berkembang dari
tangisan yang sama disebabkan belum matangnya sistim
refleks/susunan saraf dan berlanjut menuju tangisan yang berbeda.
Kesan ini bunyi tangisan bayi tersebut mirip bunyi vokal, misalnya“
oooeee….oooaaa… untuk itulah maka dinamakan tahap reflexive
Vocalization. Tahapan yang wajar dilakukan anak ketika masih diusia
awal. Namun jika tahap ini belum terjadi kita sebagai orang sekitar
sangat perlu untuk kahwatir.
2. Tahap Babling (1,5 – 6 Bl). Tahap babling atau lebih popular
disebut “masa anak mengoceh”. Pada usia ini bayi senang
mengulang-ulang bunyi yang dibuatnya, ketika mendekati 5 sampai 6
bulan, bunyi yang dihasilkan mulai terdengar bervariasi, seperti
bunyi orang berkumur-kumur (gergels) dan terkadang terdengar
bermacam-macam bunyi mirip vokal (a,i,u,e,o). Pada minggu-minggu
selanjutnya terdengar bunyi-bunyi seperti konsonan /p/, /b/, /g/
dan konsonan nasal /n/. bunyi-bunyi ini tentunya dikombinasi
dengan bunyi-bunyi vokal, misalnya : bunyi pa-pa-pa….., atauba-ba-
ba …, ga-ga-ga dan en-en-en atau na-na-na.
3. Tahap Laling (6 – 9 bl). Tahap lalling ini disebut juga tahap
mengoceh atau tahap jargón. Ocehan yang diucapkan bayi sudah
dalam bentuk kombinasi konsonan yang juga terdapat pada tahap
babling, misalnya: ketika anak lapar dia akan bicara mam..mam.. atau
ketika dia ingin buang air kecil dia akan bicara pis..pis..Tahap ini
merupakan tahap latihan untuk beranjak kepengucapan bentuk kata,
dan bukan merupakan refleks lagi. KET : Ocehan pada tahap
babling dapat dikatakan ocehan dalam bentuk KV
(konsonanVokal), sedangkan pada tahap lalling menunjukan
kemampuan yang lebih tinggi pada koordinasi neuromoskuler
dari traktus vokalis, yaitu ocehan dalam bentuk suku kata KVK
(Konsonan Vokal Konsonan).
4. Tahap Echolalia (9 – 12 bl). Echologia ;echophrasia; echo
speech ; e mimic speech yang artinya adalah kecenderungan untuk
meniru dari suatu individu tanpa mengubah apa yang dikatakan
kepadanya. Tahap ini dalam pengulangan tidak lagi sekedar
mengulang-ulang apa yang dikatakan sendiri, namun juga mengulang
apa yang didengar dari lingkungannya. Dalam usaha meniru apa yang
di dengarnya di diiringi dengan penggunaan gesture atau isyarat
gerakan tangan. Perlu ditekankan bahwa pengulangan terhadap apa
yang didengar dari lingkungan belum diiringi dengan pemahaman
bahasa tentang makna yang terkandung dalam ucapannya.KET :
Anda perlu kahwatir ketika anak sudah usia 9-12 bulan tetapi
dia tidak ada respon ataupun pengulangan kata yang ia dengar
dari orang lain. Karena pada tahap ini seorang yang mengalami
gangguan pendengaran (hearing impairment) tidak akan
mengalami tahapan ini.
5. Tahapan True Speech (12 – 18 bl). True speech atau bicara
yang sudah benar (dalam arti pemahamannya, namun mungkin
artikulasinya belum). Tahap ini mengawali tahap perkembangan
bahasa yang benar. Anak akan menolak apabila ucapanya
dimaksudkan lain (beda) dengan apa yang dimaksud oleh
anak. Dapat ditegaskan lagi disini bahwa anak pada usia ini pola-
pola wicaranya sudah dapat dimengerti maksudnya meskipun
kejelasan artikulasinya belum memadai. Namun setiap ujaran sudah
mewakili pengertian tertentu. Anak pada usia ini sudah mampu
mengucapkan rangkaian kata dua sampai tiga kata.