Anda di halaman 1dari 9

RELIABILITAS KONSISTENSI INTERNAL

TEKNIK BELAH DUA: SPEARMAN BROWN, FLANAGAN RULON


Prasetyo B. Widodo

Cara membagi tes menjadi dua (atau lebih) bagian:


1. Random adalah pembagian satu alat ukur menjadi dua bagian secara acak. Misalnya satu tes
yang terdiri dari 20 item. Soal nomor 1-20 dibagi secara acak, hasilnya bagian I (item 2, 5, 8,
10, 12, 14, 16, 17, 18, 20) dan bagian II (item 1, 3, 4, 6, 7, 9, 11, 13, 15, 16, 19).
2. Ganjil-genap adalah pembagian satu alat ukur menjadi dua bagian dimana soal-soal ganjil
dimasukkan dalam bagian I dan soal-soal genap dimasukkan dalam bagian II. Misalnya bagian I
ganjil (item 1, 3, 5, 7, 9, 11,......, 19) dan bagian II genap (item 2, 4, 6, 8, 10,......, 20).
3. Matching random subtest adalah pembagian satu alat ukur menjadi dua bagian yang
dipasangkan secara random berdasarkan :
a. Indeks daya beda atau validitas item. Nilai yang menunjukkan kemampuan suatu soal dalam
membedakan individu yang mempunyai kemampuan tinggi dan individu yang mempunyai
kemampuan rendah. Misalnya hasil tes intelegensi yang dikelompokkan berdasarkan skor
atau nilai masing-masing soal. A skornya 73, B skornya 42, dari nilai masing-masing soal
kemampuan tiap individu dapat dibedakan. → X
b. Taraf kesukaran soal. Setiap soal pasti mempunyai taraf kesukaran soal yang didapatkan
dengan membandingkan subjek yang menjawak benar dengan total subjek pada suatu soal.
→Y
Misalnya subjek yang menjawab benar sebanyak 50 orang dari total subjek 60 orang. Maka
taraf kesukaran soalnya 60/50 = 0,82. pada kurva X-Y, item yang berdekatan dipasangkan
lalu dipisahkan. Kelemahannya bisa jadi yang berdekatan banyak atau lebih dari dua soal,
atau karena adanya soal yang menyendiri (outlier).

Tambahan :
 Masing-masing bagian yang dipisahkan jumlah anggotanya harus sama.
 Jika soalnya ganjil, maka teknikitu tidak bisa dipakai.
 Apakah anggota setiap bagian pada setiap belahan itu sama bagiannya.
 Pemakaian teknik tergantung situasi, tapi yang sering dipakai adalah teknik ganjil-genap.

Teknik-teknik yang sering dipakai dalam estimasi konsistensi internal :


1. SB (Spearman-Brown), mendasarkan perhitungan pada korelasi.
rXX ’ = 2 rX1X2 rX1X2 = N *  X1X2 -  X1X2_________________________
1 + rX1X2 √{N* X12 – ( X1)2 }{N* X22 – ( X2)2 }

Misalnya ada satu tes terdiri dari enam soal dengan subjek sebanyak 5 orang
Soal- 1 2 3 4 5 6 Benar
Subjek
A 1 1 1 0 1 0 4
B 0 0 0 0 1 0 1
C 1 1 1 1 1 1 6
D 1 0 1 1 0 0 3
E 0 0 0 0 0 0 0

Memakai teknik KIRI KANAN

Subjek X1 X2 X12 X22 X1X2 Total T2


A 3 1 9 1 3 4 16
B 0 I 0 1 0 1 1
C 3 3 9 9 9 6 36
D 2 1 4 1 2 3 9
E 0 0 0 0 0 0 0
 8 6 22 12 14 14 62

rX1X2 = N *  X1X2 -  X1X2_________________________ rXX ’ = 2 rX1X2 √{N*X12


– ( X1)2 }{N* X22 – ( X2)2 } 1 + rX1X2
= 5 x 14 – 8 x 6___________ = 2 x 0,66
√{5x22 – (8)2}{5x12 – (6)2} 1 + 0,66
= 22______________ = 1,32
√(110 – 64)(60 - 36) 1,66
= 22____ = 0,79
√46x24
= 22___
√1104
= 22__ = 0,66
33,22
2. Flanagan
Menggunakan varians atau kuadrat dari deviasi standar (SD2) masing-masing belahannya. Ada
tiga macam varians :
a. Varians bagian I
b. Varians bagian II
c. Varians total

rXX ’ = 2 ( 1 – SD 1
2
+ SD22 )
SDt2
SD adalah perkembangan rumus angka kasar.
X=φ=X–X

Subjek X1 X2 φ1 Φ2 φ12 φ22 φ1 + φ2 (φ1 + φ2)2


A 3 1 1,2 0 1,44 0 1,2 1,44
B 1 0 -0,8 -1 0,64 1 -1,8 3,24
C 3 3 1,2 2 1,44 4 3,2 10,24
D 2 1 0,2 0 0,04 0 0,2 0,04
E 0 0 -1,8 -1 3,24 1 -2,8 7,84
 9 5 6,80 6 22,8
X1 = X = 9 = 1,8 X2 =  X = 5 = 1
N 5 N 5

SD12 =  φ12 SD22 =  φ22 SDt2 =  (φ1 + φ2)2


N N N
= 6,8 =6 = 22,8
5 5 5
= 1,36 = 1,2 = 4,56

rXX ’ = 2 ( 1 – SD 1
2
+ SD22 )
SDt2

=2 ( 1 – 1,36 + 1,2 )
4,56
= 2 (1 – 0,5)
= 2 x 0,44
= 0,88 hasil ini ekuivalen dengan hasil perhitungan Spearman-Brown.

3. Rulon
Memakai perbedaan skor antara dua belahan, kemudian dicari variansnya (SDd2).
rXX ’ = 1 – SDd2 d = differences = X1 - X2
SDt2
 (deviasi dari d) = d - d
Subjek X1 X2 d d2
A 3 1 2 4
B 0 I 1 1
C 3 3 0 0
D 2 1 1 1
E 0 0 0 0
 8 6 4 6

Subjek X1 X2 d  2
A 3 1 2 1,2 1,44
B 1 0 1 0,2 0,04
C 3 3 0 -0,8 0,64
D 2 1 1 0,2 0,04
E 0 0 0 -0,8 0,64
 9 5 4 2,8

d =d SD2 =  2
N N
=4 = 2,8
5 5
= 0,8 = 0,56

rXX ’ = 1 – SDd2 Kelemahan :


SDt2 Tes selalu dibagi menjadi dua bagian, bagaimana jika ganjil.
= 1 – 0,56 Ada kemungkinan koefisien yang didapat berbeda-beda.
4,56
= 1 – 0,12
= 0,88

Soal- 1 2 3 4 5 6 Benar
Subjek
A 1 1 1 0 1 0 4
B 0 0 0 0 1 0 1
C 1 1 1 1 1 1 6
D 1 0 1 1 0 0 3
E 0 0 0 0 0 0 0

Subjek X1 X2 d X12 X22 X1X2 d2 Total T2


A 3 1 2 9 1 3 4 4 16
B 1 0 1 1 0 0 1 1 1
C 3 3 0 9 9 9 0 6 36
D 2 1 1 4 1 2 1 3 9
E 0 0 0 0 0 0 0 0 0
 9 5 4 23 11 14 6 14 62
CRONBACH ( )
 = ( K )( 1 – SDK2 )
K-1 SDt2
K = jumlah belahan ; X1 = 1, 2
X2 = 3, 4
X3 = 5, 6

S\i 1 2 3 4 5 6
1 1 1 1 0 1 0
2 0 0 0 0 1 0
3 1 1 1 1 1 1
4 1 0 1 1 0 0
5 0 0 0 0 0 0

No. \ X12 X22 X32 Xt2


X1 X2 X3 Xt
Item
A 2 1 1 4 4 1 1 16
B 0 0 1 1 0 0 1 1
C 2 2 2 6 4 4 4 36
D 1 2 0 3 1 4 0 9
E 0 0 0 0 0 0 0 0
 5 5 4 14 9 9 6 62

rXX ’ = ( K )( 1 – SDK2 )
K-1 SDt2
= ( 3 )( 1- 2,16 )
2 4,56
= (1,5)(1-0,47)
= 1,5 x 0,53
= 0,8
RELIABILITAS: KR 20, KR 21, ANAVA
Prasetyo B. Widodo

4. Kuder-Richardson
2
KR20 = rxx’ = ( n )(SD t -  pq )
n-1 SD2t
p = taraf kesukaran soal, yaitu jumlah subjek yang menjawab benar untuk satu soal
dibandingkan dengan total subjek
q=1–p

Subjek 1 2 3 4 5 6
A 1 1 1 0 1 0
B 0 0 0 0 1 0
C 1 1 1 1 1 1
D 1 0 1 1 0 0
E 0 0 0 0 0 0
Total 3 2 3 2 3 1
P 0,6 0,4 0,6 0,4 0,6 0,2
Q 0,4 0,6 0,4 0,6 0,4 0,8
pq 0,24 0,24 0,24 0,24 0,24 0,16

_ _
p = 0,47 q = 0,53  pq = 1,36

rxx’ = ( n )(SD2t -  pq )
n-1 SD2t
= ( 6 )( 4,56 – 1,36 )
6.1 4,56
= (1,2)( 3,2 )
4,56
= 1,2 x 0,7
= 0,84

K = N = jumlah item
__
KR21  rXX ‘ = ( K )(1 – K.p.q)
K-1 SDt2
= ( 6 )(1 – 6 x 0,47 x 0,53 )
5 4,56
= (1,2)(1 – 1,49 )
4,56
= (1,2)(0,67)
= 0,81
KR20 > KR21  Artinya KR20 lebih reliabel.
ANAVA → C. Hoyt (1941)
Pola pikir :
1. Setiap soal mempunyai kontribusi terhadap tinggi-rendahnya koefisien reliabilitas.
2. Subjek pun mempunyai pengaruh terhadap koefisien reliabilitas.
3. Interaksi antara subjek dengan item akan memunculkan error.

SD2 = RK (rata-rata kuadrat)


RK = JK (jumlah kuadrat) / db (derajat kebebasan)
rXX ’ = 1 – SD2e = 1 – RKe
SD2s RKs

Tabel rangkuman ANAVA


Sumber JK Db RK RXX ’
 Soal / item 0,67 K–1 = 6–1 = 5 0,134 1 – RKe
 Subjek 3,77 N–1 = 5–1 = 4 0,94 RKs
 Interaksi subjek-item 3,03 N x K = 4 x 5 = 30 0,101 = 1 – 0,101
(= error) 0,94
= 1 – 0,1
= 0,9
Total 7,47

S\i 1 2 3 4 5 6 i2 (Xs)2
A 1 1 1 0 1 0 4 16
B 0 0 0 0 1 0 1 1
C 1 1 1 1 1 1 6 36
D 1 0 1 1 0 0 3 9
E 0 0 0 0 0 0 0 0
i2 3 2 3 2 3 1 14 62
(Xi)2 9 4 9 4 9 1 36

i2 = 12 + 22 + 32 + 42 + 52 + 62
i12 = 12 + 12 + 12 + 02 + 12 + 02 = 4

JKt =  i2 – ( Xt )2 Keterangan :


N N = Jumlah perkalian subjek (JKs) dan item (JKi)
 Xt =  ( Xi + Xs ) = 6 x 5 = 30
JKitem =  Xi2 - ( Xi )2 ( Xt )2 = suku korelasi (SK)
N N
JKSubjek =  Xs - ( Xs )2
2

JKItem , JKSubjek , JK interaksi subjek-item


JKt =  i2 – ( Xt )2
N
= 14 – ( 14 )2
30
= 14 – 196
30
= 7,47

JKitem =  i2 – SK
n
= 3 + 22 + 32 + 22 + 32 + 12 - 196
2

5 5 5 5 5 5 30
= ( 9 + 4 + 9 + 4 + 9 + 1 ) – ( 196 )
5 30
= ( 36 ) – ( 196 )
5 30
= 0,67
JKSubjek =  s2 – SK
K
= 42 + 12 + 62 + 32 + 02 – 196
6 6 6 6 6 30
= ( 16 + 1 + 36 + 9 ) – ( 196 )
6 30
= ( 62 ) - ( 196 )
6 30
= 3,8

JK interaksi atau eror


JKe = JKt - JKitem - JKitem
= 7,47 – 0,67 – 3,8
=3

db (derajat kebebasan)
dbitem = K–1 = 6–1 = 5
dbSubjek = n–1 = 5–1 = 4
dbEror = n x K = 5 x 6 = 30

RKitem = JKi / dbi = 0,67 / 5 = 0,134


RKSubjek = JKs / dbs = 3,8 / 4 = 0,94
RKe = JKe / dbe = 3 / 30 = 0,101

rXX ’ = 1 - RKe
RKS
= 1 – 0,101 / 0,94
= 0,89
RAGAM TELAAH

1. Analisis kualitatif (expert judgment)


 dari arah rumusan atau penulisannya, agar dapat memancing respon yang dikehendaki
 dari arah substansinya: yaitu dari arah teori yang mendasarinya serta kesesuaian isi
pernyataan dengan kisi – kisi
 dari arah pembahasan, yaitu kesesuaian bahasa yang digunakan dengan kaidah bahasa dan
subyek yang akan dikenai pengukuran.

2. Analisis validitas isi


- butuh subject matter expert (SME)
- aiken’s V  V = ∑s /( n(C-1) )
S = r – lo
r = nilai yang diberikan
lo = nilai terendah penilaian
C = nilai tertinggi penilaian
- CVR (content validity ratio)