Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring dengan laju pertumbuhan IPTEK dan pertambahan jumlah
penduduk, serta keseimbangan antara taraf hidup dan pengetahuan masyarakat
yang sudah meningkat, kesadaran masyarakat akan gaya hidup yang sehat juga
semakin tinggi pula. Salah satu aspek tersebut yaitu pemenuhan kebutuhan protein
sebagai kandungan gizi utama dalam masa pertumbuhan. Hal ini mangakibatkan
tingkat permintaan akan sumber protein juga meningkat. Sebagai alternatif untuk
menyelesaikan masalah tersebut yaitu dengan cara pembangunan pada sektor
peternakan sebagai sumber protein hewani.
Ternak sudah lazim dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani oleh
masyarakat, yang salah satunya yaitu ternak sapi. Ternak sapi merupakan ternak
ruminansia yang sangat berpotensi untuk dibudidayakan oleh karena ukuran tubuh
yang besar (volume karkas tinggi), mudah beradaptasi dengan lingkungan ekstrim,
dan dapat dimanfaatkan sebagai ternak pekerja. Kemampuan produktifitas ternak
sapi atau tingkat keberhasilan dalam peternakan sapi, bergantung pada 3 faktor,
yaitu breeding, feeding, management. Apabila ketiga faktor tersebut sudah baik
dan seimbang, maka suatu peternakan pada umumnya sudah dapat dikatakan
berhasil.
Dalam pemeliharaannya, yang bertujuan sebagai ternak potong, peternak
diharuskan untuk menerapkan sistem pemeliharaan yang intensif dimana hampir
semua aspek ternak bergantung pada peternak. Hal ini meminta peternak memiliki
keterampilan khusus untuk dapat menerapkan sistem yang intensif guna
mengotimalkan tingkat produktifitas ternak. Untuk memenuhi kebutuhan
keterampilan tenaga kerja pada bidang peternakan sapi potong, Politeknik
Pertanian Negeri Kupang membuka Pendidikan Di Luar Domisili yang
merupakan pendidikan vokasional dengan melatih mahasiswa-mahasiwa yang
ingin mendalami ilmu pada bidang tersebut. Untuk lebih efektif dalam
pembelajaran dan pengalaman kerja, Politeknik Pertanian Negeri Kupang
melaksanakan Praktik Kerja Lapang bagi mahasiswa semester IV pada perusahaan

1
atau peternakan sapi potong, dimana salah satunya yaitu UPT Produksi Politeknik
Pertanian Negeri Kupang, desa Oesao, Kabupaten Kupang.

1.2 Tujuan dan Kegunaan


Maksud dari pelaksanaan Praktik Kerja Lapang ini yaitu untuk menambah
wawasan mahasiswa tentang cara serta kendala yang dihadapi dalam budidaya
ternak sapi potong.
Tujuan dari pelaksanaan Praktik Kerja Lapang ini agar mahasiswa
memiliki pengalaman dalam beternak sapi potong dan dapat menerapkan teori
pembelajaran yang didapatkan pada saat perkuliahan.

1.3 Waktu dan Tempat


Praktik Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 12 maret 2016
bertempat pada UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang, desa Oesao,
Kabupaten Kupang. Praktik dimulai pada pukul 07.00 WITA s/d Selesai.

1.4 Metode Pelaksanaan


Metode yang diterapkan pada Praktik Kerja Lapang ini yaitu mahasiswa
terlibat langsung dalam kegiatan peternakan, wawancara langsung pada
staf/pekerja peternakan, dan studi literatur sebagai bahan perbandingan antara
teori perkuliahan dan praktikum.

2
BAB II
KEADAAN UMUM LOKASI

2.1 Sejarah Singkat Perusahaan


Politeknik Pertanian adalah Perguruan Tinggi berbentuk Politeknik yang
menyelenggarakan Pendidikan Profesi atau Pendidikan Kejuruan dalam lingkup
ilmu-ilmu pertanian. Pada tahun 1989, Politeknik Pertanian di lahirkan kembar
sebanyak 6 (enam) Politeknik Pertanian (Politani) yang dituangkan dalam
pengumuman Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) No.
1369/D/O/89. Politani tersebut ditempatkan di enam Propinsi yang berkedudukan
di kota Kupang, Jember, Bandar Lampung, Payakumbuh, Samarinda dan
Pangkajene Kepulauan. Istilah “dilahirkan” sengaja digunakan sebagai penekanan
bahwa Politani didirikan karena ide dari Pusat, bukan hasil pemikiran atau usulan
daerah karena adanya kebutuhan daerah. Ke-enam Politani tersebut dikelola oleh
Universitas Negeri setempat. Ide awal pendiriannya, masing-masing Politani
merupakan Centre of excellent untuk bidang tertentu. Oleh sebab itu, Politani
Kupang pada awal berdirinya di design untuk menjadi centre of excellent bidang
Peternakan dan Manejemen pertanian Lahan Kering, Politani Jember untuk
bidang Mekanisasi dan teknologi hasil Pertanian, Politani Bandar Lampung untuk
bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Politani Payakumbuh untuk bidang
Perkebunan, Politani Samarinda untuk bidang Kehutanan, dan Politani
Pangkajene dan Kepulauan untuk bidang Perikanan.
Dalam upaya pemantapan Institusi Perguruan Tinggi berbentuk Politeknik
di Indonesia, dan merujuk pada PP 30 Tahun 1990 pasal 6 (1) yaitu bahwa
Perguruan Tinggi dapat berbentuk Politeknik, maka Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi mengeluarkan kebijakan untuk melepaskan semua Politeknik
dari Universitas Induknya. Dengan Kebijakan tersebut, dari enam Politani yang
ada di Indonesia, 5 diantaranya telah mandiri menjadi Politeknik Pertanian negeri.
Salah satu Politani yang mandiri tersebut adalah Politeknik Pertanian Kupang.
Berdasarkan SK Mendikbud No. 252/O/1997, Politeknik Pertanian Undana
berubah nama menjadi Politeknik Pertanian Negeri Kupang (PPNK).

3
Sebagai salah satu Pendidikan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan
fokasional / kejuruan, PPNK mempunyai Visi : sebagai Lembaga Pendidikan
Politeknik yang terkemuka dalam menyelenggarakann teknologi yang
mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan berbasis agribisnis
dengan tetap mengedepankan nilai moral, etika dan kelestarian sumberdaya
alam. Visi tersebut dijabarkan dalam Misi Politeknik Pertanian Negeri Kupang,
yaitu :
1. Menyelenggarakan Pendidikan Tinggi untuk menghasilkan Tenaga Kejuruan
yang mendukung pengembangan sistem Agribisnis dengan selalu
mengutamakan kepuasan konsumen dan berorientasi pada kebutuhan
masyarakat.
2. Membangun Pusat Pengembangan agribisnis yang mampu menjadi mitra kerja
terpercaya bagi masyarakat, untuk mendukung pengembangan industri yang
tangguh dalam sistem agribisnis.
3. Memberdayakan warga kampus menjadi Sumber Daya Manusia yang memiliki
kemampuan bekerja sama dalam kelompok untuk kepentingan masyarakat,
Pemerintah dan Industri.

Politeknik Pertanian Negeri Kupang terdiri dari tiga Jurusan dan 10


Program Studi, yaitu :
1. Jurusan Peternakan, dengan tiga Program Studi :
a. Program Studi Produksi Ternak (D-III)
b. Program Studi Kesehatan Hewan (D-III)
c. Program Studi Teknologi Pakan Ternak (D-IV)
2. Jurusan Manejemen pertanian Lahan Kering, dengan empat Program Studi :
a. Program Studi Manejemen Pertanian Lahan Kering (D-III)
b. Program Studi Manejemen Agribisnis (D-III)
c. Program Studi Manejemen Sumber Daya Hutan (D-III)
d. Program Studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering (D-IV).
3. Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura, dengan tiga Program Studi :
a. Program Studi Tanaman Pangan dan Hortikultura (D-III)

4
b. Program Studi Teknologi Pangan (D-III)
c. Program Studi Teknologi Industri Holtikultura (D-IV)

Hingga tahun 2013, Politeknik Pertanian Negeri Kupang telah


menghasilkan lulusan sebanyak 3.104 orang.

2.2 Organisasi Perusahaan


2.2.1 Struktur Organisasi

Gambar 1. Struktur Organisasi Politeknik Pertanian Negeri Kupang

2.2.2 Ketenagakerjaan
Ketenagakerjaan di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang
sudah terstruktur dan dibagi atas beberapa bidang, antara lain :
a) Kepala Staf UPT
b) Staf kandang
c) Staf pertanian dan perkebunan
d) Staf gudang peralatan
e) Staf keamanan
Dari tingkat pendidikan, staf yang bekerja di UPT Produksi Politeknik
Pertanian Negeri Kupang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda

5
dan sebagian besar bukan berpendidikan kejuruan sesuai dengan bidang
pekerjaannya. Akan tetapi, oleh karena pengalaman kerja yang cukup lama, para
staf memiliki keterampilan yang baik sesuai bidang kerjanya.
2.2.3 Jaminan Sosial
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja, pengelola
UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang memberi jaminan dalam
bentuk gaji setiap bulannya. Gaji yang diberikan berdasarkan tingkat pendidikan,
lama kerja, dan juga berdasarkan tingkat golongan Pegawai Negeri Sipil.

2.3 Lingkungan Perusahaan


2.3.1 Lingkungan Fisik
UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang memiliki luas lahan
sebesar 39 Ha² yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan perkebunan,
sebagian juga ada yang sengaja dihutankan dengan ditanami berbagai jenis pohon.
Terdapat juga embung desa yang berfungsi sebagai sarana pengairan bagi lahan
pertanian dan perkebunan. Untuk mempermudah dalam melaksanakan tugas,
dibangun mes tinggal di dalam lokasi UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri
Kupang beserta sarana rumah tangga seperti sumur bor untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.

2.3.2 Lingkungan Non Fisik


Lingkungan Non Fisik atau sosial masyarakat di UPT Produksi Politeknik
Pertanian Negeri Kupang sangat baik. Hal ini dikarenakan warga UPT memiliki
kesamaan latar belakang budaya dan ikatan kerja yang kekeluargaan. Sebagian
besar warga UPT adalah staf dan karyawan kampus Politeknik Pertanian Negeri
Kupang yang diberi tanggung jawab untuk mengolah lahan dan juga
memanfaatkan lahan kosong. Oleh karena itu, pelaksanaan Praktik Kerja Lapang
ini dapat diterima dan berjalan dengan baik.

6
BAB III
TATALAKSANA PERUSAHAAN

3.1 Populasi Ternak


Populasi ternak sapi yang ada di UPT Produksi Politeknik Pertanian
Negeri Kupang yaitu sebanyak 14 ekor. Sedikitnya populasi ternak sapi ini
dikarenakan kandang utama yang memiliki kapasitas tampung lebih banyak,
sedang dalam renovasi. Berikut tabel populasi ternak sapi di UPT Produksi
Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

Tabel 1. Populasi ternak sapi di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri


Kupang.
NO Fase Jumlah (ekor)

Jantan -
1 Pra Sapih
Betina 1

Jantan -
2 Starter
Betina -

Jantan -
3 Grower
Betina -

Jantan 2
4 Finiser
Betina 11

Jumlah 14

Sumber : Administrasi UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Jenis sapi yang dibudidayakan di UPT Produksi Politeknik Pertanian


Negeri Kupang yaitu bangsa sapi Bali. Sapi Bali adalah sapi yang paling banyak
dibudidayakan di Pulau Timor. Sapi ini merupakan tipe sapi potong asli Indonesia

7
yang memiliki karakteristik yang cukup baik untuk digemukan. Berikut deskripsi
tentang sapi Bali.
 Sapi Bali
Sapi Bali adalah sapi yang termasuk dalam Bos Sondaicus,
merupakan keturunan dari jenis banteng atau sapi liardan sapi ini adalah
ras sapi asli Indonesia. Pada umumnya berwarna merah bata pada untuk
ternak muda dan betina dewasa, sedangkan pada ternak jantan dewasa
akan berubah warna menjadi hitam. Sapi ini memiliki bentuk tubuh yang
padat dan kompak, tidak memiliki punuk, berbadan pendek, kaki berwarna
putih yang menyerupai kaki kerbau. Ciri khusus dari sapi Bali yaitu
terdapat warna putih pada bagian paha belakang. Bobot sapi bali dapat
mencapai 350-450 kg untuk ternak jantan dan 250 - 350 kg untuk ternak
betina.
Menurut Suprio Guntoro (2002), sapi bali mempunyai presentase
karkas lebih tinggi dibandingkan dengan jenis-jenis sapi tropis lainnya.
Sapi Ongole memiliki produksi karkas sekitar 45 %, sapi Madura 47,80 %,
dan sapi Bali bisa mencapai 56 %.

3.2 Tata Laksana Rutin


3.2.1 Pemberian Pakan dan Air Minum
Pakan adalah salah satu faktor utama dalam pemeliharaan ternak sapi
potong dan merupakan syarat hidup ternak setelah udara. Meskipun harus ada
keseimbangan antara genetik, pemeliharaan, dan pakan, akan tetapi pertumbuhan
dan produktifitas ternak lebih dominan bergantung pada pakan dari pada faktor
genetika dan sistem pemeliharaan. Pakan juga merupakan aspek yang biaya
pengeluarannya lebih besar dibandingkan dengan aspek lainnya. Optimalnya
pertumbuhan ternak tentunya oleh karena pakan yang baik pula. Purnawan
Yulianto dan Cahyo Saparinto (2010) menyatakan bahwa kebutuhan pakan sapi
tergantung dari bobot, fase pertumbuhan atau reproduksi dan laju pertumbuhan
dalam takaran yang seimbang. Dengan demikian sebaiknya pemberian pakan pada
sapi disesuaikan dengan kebutuhan.

8
Pemberian pakan di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang
dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Pakan yang diberikan
berupa hijauan King Grass (Pennisetum Purpureophoides), rumput Setaria
Sphacelata, dan jerami jagung. Untuk hijauan King Grass dan rumput Setaria,
sebelum diberikan pada ternak untuk dikonsumsi, terlebih dahulu dicacah
menggunakan mesin Chopper hingga halus agar pada saat pemberian, ternak lebih
mudah menkonsumsi hijauan tersebut. Untuk jerami jagung, setelah proses
pemotongan, masih dijemur terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk
mengawetkan jerami sehingga dapat digunakan sebagai cadangan pakan ternak
pada saat kekurangan hijuan. Berikut kandungan-kandungan gizi yang terdapat
pada hijauan King Grass, Setaria, dan Jerami Jagung.
Tabel 2. Kandungan gizi hijauan Setaria, dan Jerami Jagung.
Bahan Komposisi Bahan Kering (%)

Pakan BK Abu PK LK SK BETN TDN Ca P

Rumput
15,9 12,0 10,3 29 33,7 41,1 52,0 0,36 0,19
Setaria

Jerami
21,0 10,2 9,9 1,8 27,4 50,7 60,0 1,24 0,23
Jagung

Sumber : Purnawan Yulianto dan Cahyo Saparinto, Pembesaran Sapi Potong secara Intensif
(2010).

Tabel 3. Kandungan gizi hijauan King Grass


Kandungan Gizi (%)
Bahan Pakan
BK PK SK TDNˡʾ DE²ʾ Ca P

Rumput Raja
22 9,20 31,00 55 2,420 0,80 0,50
(King Grass)

Sumber : Ristianto Utomo, Bahan Pakan Berserat Untuk Sapi, (2012.)

Jumlah pakan yang diberikan untuk masing-masing ternak di UPT


Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang tidak diukur sesuai kebutuhan per
bobot badan ternak, melainkan dengan cara menduga saja sehingga dapat
mengakibatkan kebutuhan pakan ternak kurang atau lebih. Sistem pemberian

9
pakan seperti ini tidak efektif dalam usaha meningkatkan bobot badan ternak sapi.
Menurut Suprio Guntoro (2002), hijauan dalam bentuk segar diperlukan minimal
10 % dari berat badan sapi. Jadi seekor sapi yang beratnya 300 kg memerlukan
hijauan segar minimal 30 kg/hari.
Untuk bahan pakan tambahan, UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri
Kupang tidak selalu memberikan konsentrat (pakan penguat). Hal ini dikarenakan
lahan UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang memiliki sumber air
sendiri, sehingga keadaan hijauan pakan ternak selalu segar dan terjamin
kualitasnya. Pemberian konsentrat biasanya dilakukan pada akhir musim kemarau
dimana sumber air sudah sedikit kering. Menurut Purnawan Yulianto dan Cahyo
Saparinto (2011), pada pemeliharaan sapi apa adanya, pemberian pakan hijauan
seperti rumput lapangan, rumput unggul, limbah pertanian, leguminosa, dan
hijauan lain dianggap sudah memenuhi kebutuhan pakan sapi. Padahal, untuk
penggemukan sapi dengan laju pertambahan bobot sekitar 1 kg/hari, pemberian
pakan hanya dengan hijauan tidak akan terpenuhi. Untuk memacu pertumbuhan
bobot badan yang tinggi, diperlukan pakan konsentrat sebagai pakan penguat.
Sebelum pemberian pakan, tempat pakan dan tempat air minum ternak
dicuci dan dibersihkan lalu tempat air minum diisi kembali dengan air yang baru.
Di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang, air minum ternak harus
selalu tersedia Ad Libitum agar ternak leluasa untuk minum saat haus dan juga air
minum ternak harus selalu digantikan dengan air yang baru setiap hari sebelum
pakan diberikan.

3.2.2 Penyediaan Pakan


Sebagai usaha untuk menyediakan bahan pakan hijauan ternak yang selalu
segar, di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang setiap harinya
dilakukan kegiatan pemotongan hijauan King Grass dan rumput Setaria di dalam
dan sekitar areal perkebunan. Pemotongan dilakukan pada pagi dan sore hari
sebelum waktu pemberian pakan ternak. Pemotongan hijauan menggunakan
peralatan seadanya seperti sabit dan parang lalu diangkut menuju lokasi kandang
menggunakan kendaraan tiga roda untuk diolah atau dicacah sebelum diberikan

10
pada ternak. Untuk hijauan leguminosa, jarang diberikan atau hampir tidak pernah
karena jumlahnya terbatas dan juga persediaan hijauan King Grass dan rumput
Setaria yang cukup sehingga dalam penyediaan pakan ternak, lebih cenderung
memanfaatkan hijauan King Grass dan rumput Setaria.
Suprio Guntoro (2002) menyatakan bahwa hijauan yang diberikan
sebaiknya tidak hanya satu jenis saja (misalnya rumput Gajah saja atau rumput
Raja saja), melainkan terdiri atas beberapa jenis hijauan. Makin banyak jenis
hijauan yang diberikan pada sapi akan makin baik, karena unsur zat-zat makanan
akan makin lengkap
Agar ternak dapat lebih mudah pada saat mengkonsumsi hijauan, UPT
Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang, sebelum hijauan diberikan pada
ternak terlebih dahulu dicincang atau dicacah menggunakan mesin Chopper.
Menurut Suprio Guntoro (2002), sebelum diberikan,hijauan sebaiknya dicacah
atau dipotong-potong terlebih dahulu, makin lembut pemotongan akan semakin
baik.
Pencacahan hijauan ini juga dapat dikarenakan lambatnya pemanenan
hijauan yang mengakibatkan batang hijauan mengeras. Untuk mengatasi masalah
ini, dapat juga dilakukan pemotongan hijauan berdasarkan ketinggian dari tanah.
Untuk hijauan yang tua, pemotongan dilakukan ± 50 cm dari permukaan tanah
dan ± 10 untuk hijauan muda.

3.3 Manajemen Pemeliharaan


3.3.1 Penanganan Partus (Kelahiran)
Penanganan kelahiran adalah usaha untuk memperkecil tingkat kematian
anak sapi (pedet) dan menjaga kesehatan induk pasca partus. Pada saat partus,
apabila tanpa bantuan atau pengawasan peternak, seringkali terjadi kecelakaan
yang dapat mengakibatkan kematian pedet atau pedet dalam keadaan cacat. Anak
sapi setelah partus masih dalam keadaan lemah dan masih dalam tahap adaptasi
dengan lingkungan barunya sehingga perlu adanya pengawasan. Kondisi induk
pasca partus juga masih lemah dan perlu adanya penanganan untuk menjaga
stamina.

11
Penanganan partus di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang
dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut.
1) Mengamati gejala partus pada induk. Gejala partus yang muncul
seperti : induk gelisah, ambing membengkak, vulva berwarna merah,
mengalami pembengkakan, dan mengeluarkan cairan, penurunan nafsu
makan.
2) Membersihkan kandang yang akan digunakan sebagai kandang partus.
Lantai kandang dialasi dengan jerami agar pedet yang baru lahir tidak
mengalami benturan dengan lantai.
3) Pada saat partus, keadaan normalnya yaitu bagian tubuh pedet yang
keluar terlebih dahulu adalah kepala.
4) Saat partus selesai, pedet dibersihkan dari lendir di bagian saluran
pernafasan dan bagian tubuh lainnya. Lendir yang ada dalam saluran
pernafasan dapat mengakibatkan pedet sesak nafas.
5) Tali pusat pedet dipotong ±2,5 cm dari pangkal menggunakan gunting
bersih dan dibubuhi dengan betadine agar tidak terjadi infeksi.
6) Ambing induk dibersihkan untuk menjaga kualitas air susu pada saat
pedet menyusu. Melakukan injeksi intramuscular pada induk
menggunakan Biosolamine dengan dosis 5 - 10 ml sesuai keadaan
tubuh induk.
7) Pedet diusahakan untuk segera menyusu pada induknya agar mendapat
kolostrum yang berguna sebagai antibodi pedet.

3.3.2 Pemeliharaan Pedet


Pemeliharaan anak sapi di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri
Kupang dengan cara pedet dibiarkan selalu bersama induk agar dapat menyusu.
Sebelum terbiasa dengan pakan kasar, makanan utama pedet adalah air susu
induknya sehingga pedet harus selalu di dekat induk. Diusahakan agar pedet
terbiasa dengan pakan kasar yang biasa dikonsumsi induknya sehingga pada
waktu umur penyapihan, pedet tidak perlu beradaptasi dengan pakan
penggemukan. Bila pedet sudah dapat mengkonsumsi pakan kasar, maka setiap

12
waktu pemberian pakan pedet diberi hijauan dengan jumlah sedikit dan bertahap.
Umur penyapihan pedet di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang
berkisar pada umur 2,5 - 3,5 tahun dan disesuaikan dengan kondisi ternak, apakah
pedet sudah layak digemukan atau belum.
Menurut Rianto dan Pubowati (2013), anak sapi tidak boleh diberi rumput
dalam jumlah banyak sekaligus pada awal pasca sapih agar tidak terjadi gangguan
pencernaan. Jumlah rumput yang diberikan ditingkatkan secara bertahap.
3.3.3 Pemeliharaan Fase Starter
Fase starter adalah fase dimana pedet sudah disapih dan dipersiapkan
untuk menjadi bakalan. Pada fase ini, ternak akan dipindahkan ke kandang umum
bersama dengan ternak sapi lainnya dan sudah harus dibiasakan dengan pakan
kasar agar menghilangkan keinginan menyusu pada induknya. Umur fase starter
di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang yaitu 1,5 - 2,5 tahun
tergantung dari kondisi tubuh ternak. Pada kisaran umur tersebut, ternak
mengalami tingkat pertumbuhan yang baik. Menurut Suprio Guntoro (2002),
sebaiknya penggemukan sapi dimulai pada umur 2,5 - 3,5 tahun dan paling cepat
pada umur 2 tahun (beberapa bulan setelah sapi mulai pubertas).
Pemeliharaan ternak pada fase ini tergantung dari bobot awal ternak.
Pemberian pakan hijauan minimal 10 % bobot badan ternak per hari dan untuk
konsentrat diberikan 2 - 4 % bobot badan ternak. Jenis konsentrat yang diberikan
di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang yaitu dedak padi halus.
Pakan konsentrat juga tidak setiap hari diberikan, hanya apabila kondisi tubuh
ternak kurus dan pertambahan bobot badan lambat atau tidak sesuai target. Air
minum untuk ternak di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang selalu
tersedia sehingga ternak leluasa untuk minum. Kebersihan tubuh dan kandang
juga harus diperhatikan. Kebersihan kandang berkaitan dengan kesehatan ternak
dan ternak yang sakit dapat mengakibatkan produktifitas tidak optimal.
Menurut Suprio Guntoro (2002), untuk memperoleh angka produktifitas
yang optimal, disamping memperhatikan faktor teknis, faktor pemberian pakan
yang cukup dan bergizi serta faktor kesehatan sapi harus diperhatikan dengan

13
sungguh-sungguh selama periode pemeliharaan. Sedangkan lama pemeliharaan
untuk sapi Bali Kereman sangat tergantung dari berat awal sapi bakalan.

3.3.4 Pemeliharaan Fase Grower


Fase Grower adalah fase dimana ternak sapi memasuki puncak
pertumbuhan. Umur ternak sapi fase Grower di UPT Produksi Politeknik
Pertanian Negeri Kupang yaitu berkisar 4,5 - 5 tahun. Pada periode ini, ternak sapi
digemukan secara intensif dimana pemberian pakan perlu ditingkatkan sesuai
pertambahan bobot badan ternak perhari. Jumlah pakan hijauan yang diberikan
setiap harinya sebanyak 10 % bobot badan dan untuk konsentrat diberikan sedikit
lebih banyak dari jumlah pemberian sebelum pertambahan bobot. Jumlah
pemberian konsentrat tidak berdasarkan tolak ukur tertentu, melainkan dengan
menduga saja sehingga dapat berakibat ternak kekurangan kebutuhan kandungan
nutrisi yang ada dalam konsentrat.
Rianto dan Purbowati (2013) menyatakan bahwa kebutuhan zat pakan sapi
tergantung pada berat, fase pertumbuhan atau reproduksi dan laju pertumbuhan.
Semua zat pakan dibutuhkan dalam proporsi yang seimbang satu sama lain. Oleh
karenanya, tidak ekonomis bila memberikan suatu zat pakan dalam jumlah yang
berlebihan dibanding dengan zat pakan lainnya.
Jenis konsentrat yang diberikan yaitu dedak padi halus tanpa campuran
bahan lainnya dan diberikan sebelum pemberian pakan hijauan. Kebersihan tubuh
ternak dan kandang berkaitan dengan kesehatan ternak sehingga kandang dan
tubuh ternak harus selalu terjaga. Air minum selau disediakan di dalam tempat air
minum agar ternak leluasa minum bila ternak sedang haus.

3.3.5 Pemeliharaan Fase Finisher


Fase Finisher di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang adalah
fase akhir dari periode penggemukan. Pada fase ini ternak akan diseleksi untuk
ditentukan apakah ternak tersebut akan dipasarkan atau dipelihara kembali untuk
dijadikan bibit. Lama periode pemeliharaan sampai fase Finisher tidak tetap
tergantung dari kondisi ternak. Untuk pemeliharaannya, masih lanjutan dari fase-

14
fase sebelumnya sampai ternak dipasarkan atau dijadikan bibit kembali. Ternak di
UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang akan dipasarkan apabila ada
permintaan konsumen. Hal ini dikarenakan peternakan UPT Produksi Politeknik
Pertanian Negeri Kupang adalah usaha peternakan sapi potong dalam skala kecil.
Dengan metode pemasaran seperti ini, keuntungan yang didapat akan lebih besar.
Hal ini berbeda dengan pendapat Rianto dan Purbowati (2013) yang menyatakan
bahwa jumlah keuntungan yang akan diperoleh dari penjualan sapi tergantung
pada pertambahan bobot badan yang dicapai dalam proses penggemukan, lama
penggemukan, dan harga daging.

3.3.6 Pengukuran Linear Tubuh Ternak


Pengukuran Linear Tubuh Ternak adalah pengukuran bagian tubuh ternak
untuk menduga bobot tubuh ternak dimana bobot tubuh ternak adalah salah satu
indikator penting untuk pemeliharaan yang akan dilakukan. Metode pendugaan
bobot badan adalah cara alternatif untuk mengetahui bobot badan ternak bila tidak
memiliki timbangan sendiri.
Menurut Rianto dan Purbowati (2013), selain dengan menimbangnya,
untuk mengetahui bobot badan sapi bisa dilakukan dengan menghitung bobot
badan berdasarkan ukuran-ukruan tubuh tertentu melalui beberapa rumus.
Dalam suatu pemeliharaan, bobot badan ternak dijadikan tolak ukur
pemberian pakan, dosis pemberian obat, dan mengetahui tingkat pertumbuhan
ternak. Indikator yang diukur adalah lingkar dada, panjang badan, dan tinggi
tubuh. Adapun hasil pengukuran yang didapat dari hasil pengukuran adalah
sebagai berikut :
 Panjang Badan = 96 cm
 Tinggi Badan = 105 cm
 Lingkar Dada = 144 cm
Pendugaan bobot badan di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri
Kupang dihitung menggunakan rumus Schoorl. Berikut hasil penghitungan dari
satu ekor sampel :

15
(𝐿𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟 𝐷𝑎𝑑𝑎 + 22)²
Bobot Badan =
100
(144+22)²
Bobot Badan =
100
(166) ²
=
100
27556
=
100
= 275,56 kg

3.3.7 Pemeliharaan Induk Bunting


Induk Bunting adalah ternak betina dewasa yang telah dikawinkan dan
mengalami pembuahan. Masa ini adalah masa antara masa kawin dan masa partus.
Pada masa ini ternak harus diperlakukan dengan baik agar induk tidak stres. Stres
dapat mempengaruhi induk sehingga induk kurang nafsu makan dan berakibat
pada penurunan bobot badan, sedangkan pada masa bunting induk harus mendapat
asupan gizi lebih untuk memenuhi kebutuhan nutrisi calon pedet dan untuk induk
itu sendiri. Jumlah pakan yang diberikan untuk induk bunting di UPT Produksi
Politeknik Pertanian Negeri Kupang lebih banyak dari jumlah pemberian pakan
sebelum ternak mengalami kebuntingan. Pemberian vitamin dan mineral secara
teratur untuk menjaga stamina dan kesehatan induk serta calon pedet. Air minum
untuk induk bunting harus selalu tersedia Ad Libitum dan tidak boleh kurang.
Untuk ternak induk bunting yang keadaan tubuhnya kurus, harus diberi pakan
tambahan seperti konsentrat atau hijauan leguminosa. Begitu pula dengan induk
yang terlalu gemuk, sebaiknya pemberian pakan sedikit dibatasi agar tidak terjadi
distokia pada saat partus. Menurut Parakkasi (1999), induk yang sangat kurus
harus mendapat cukup makanan untuk mengimbangi kehilangan bobot badan pada
waktu partus. Induk yang berkondisi cukup baik (gemuk), mungkin ransumnya
dapat dibatasi sedemikian rupa sehingga tidak usah terjadi pertambahan bobot
badan bahkan mungkin masih boleh kehilangan bobot badan sebelum partus.
Diusahakan agar ternak tidak mengalami benturan dengan benda keras
pada bagian perut atau perkelahian dengan ternak lainnya untuk menjaga

16
keselamatan calon pedet. Kemiringan lantai kandang harus diperhatikan agar
ternak tidak terpeleset dan mudah dalam membersihkan feses ternak.

3.3.8 Pemeliharaan Induk Menyusu


Induk Menyusu adalah induk yang telah mengalami partus dan sedang
dalam keadaan laktasi atau sedang dalam keadaan memproduksi air susu. Oleh
karena itu, ternak induk pada masa ini harus selalu diperhatikan jumlah pakan
yang diberikan. Jumlah pakan hijauan yang diberikan pada induk menyusu di
UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang sama dengan jumlah pakan
hijauan yang diberikan pada induk bunting. Hanya saja untuk menjaga kondisi
tubuh induk agar tidak mudah kurus karena produksi air susu, konsentrat
diberikan pada pagi hari sebelum pemberian hijauan. Air minum harus selalu
tersedia agar ternak leluasa untuk minum. Untuk menjaga stamina dan kesehatan
setelah partus, induk disuntik menggunakan Biosolamine dengan dosis 5-10
ml/ekor. Kebersihan tubuh ternak dan kandang serta lingkungannya harus selalu
dijaga. Ambing induk harus selalu dibersihkan agar tidak mencemari air susu
yang diminum pedet, terutama pada awal pedet menyusu setelah partus. Setelah
partus, induk akan memproduksi air susu yang mengandung Kolostrum sehingga
diusahakan agar pedet selalu didekat induknya pada awal laktasi.
Kolostrum adalah kandungan dalam air susu awal laktasi yang
mengandung lebih banyak vitamin dan zat gizi lainnya dari pada susu biasa,
terutama kandungan immunoglobulin yang merupakan nutrisi zat antibodi untuk
pedet yang baru lahir. Berikut ini tabel perbandingan kandungan gizi yang ada
dalam kolostrum dan air susu biasa.

17
Tabel 4. Kandungan Nutrisi Kolostrum dan Susu
Zat Gizi Kolostrum Susu

Lemak (g/kg) 36 33

Protein (g/kg) 140 35

Immunoglobulin (g/kg) 60 1

Casein (g/kg) 52 26

Albumine (g/kg) 15 5

Lactose 30 46

Vitamin A (μ/g lemak) 42 – 48 8

Vitamin B12 (μ/kg) 10 – 50 5

Vitamin D (μ/g lemak) 23 – 45 15

Vitamin E (μ/g lemak) 100 – 150 20

Sumber : Edy Rianto dan Endang Pubowati, Panduan Lengkap Sapi Potong (2013)

3.3.9 Pemeliharaan Induk Kering Kandang


Induk Kering Kandang adalah induk laktasi yang anaknya sudah disapih
dan dipelihara bersama ternak induk kering lain untuk digemukan kembali sampai
masa kawin. Pada masa kering kandang, induk akan digemukan kembali karena
umumnya pada masa laktasi, tubuh induk kurus akibat proses sekresi air susu.
Pemberian pakan pada fase Kering Kandang tergantung dari kondisi induk itu
sendiri. Menurut Parakkasi (1999), untuk memudahkan pemberian makanan
maupun untuk meningkatkan keuntungan, maka pengusaha sebaiknya membagi
hewan-hewan mereka sesuai status fisiologi atau sesuai kebutuhan zat-zat
makanannya.
Induk yang reproduksinya sudah menurun, proses kering kandang hanya
untuk menggemukan dengan tujuan dipasarkan. Induk yang reproduksinya masih
produktif akan digemukan kembali hingga muncul gejala estrus dan dikawinkan.

18
Gejala estrus yang dapat diamati adalah sebagai berikut.
1) Ternak gelisah dan sering melengguh.
2) Kehilangan nafsu makan.
3) Vulva berwarna kemerahan dan berlendir.
4) Menggosokan badan pada ternak lain.
Rianto dan Purbowati (2013) menyatakan bahwa untuk efektifitas
perkawinan, induk sapi tidak bisa dikawinkan setiap saat. Induk baru bisa
dikawinkan ketika mengalami estrus. Pada sapi, siklus estrus akan terulang setiap
21 hari.

3.3.10 Pemeliharaan Pejantan


Pemeliharaan Pejantan di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri
Kupang dilaksanakan secara intensif dimana semua kebutuhan ternak disediakan
oleh peternak. Sistem perkandangan untuk ternak pejantan menggunakan kandang
kelompok. Pejantan dilepas di dalam kandang bersama ternak betina induk
dewasa. Menurut Suprio Guntoro (2002), salah satu keunggulan sapi bali dari
aspek reproduksi adalah tingkat fertilitasnya (kesuburan) yang tinggi (83%).
Ternak pejantan yang ada di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang
berjumlah 2 ekor. Salah satu ternak pejantan dilepas bersama 11 ekor ternak
betina dewasa secara bergantian. Hal ini bertujuan untuk mengatur tingkat libido
sehingga keinginan pejantan untuk mengawini ternak betina selalu ada. Ternak
yang akan digunakan sebagai pejantan harus berumur 2,5 tahun. Pada umur
tersebut ternak jantan sudah matang secara reproduksi dan fisik. Ternak pejantan
akan mengawini ternak betina pada saat ternak betina menunjukan gejala estrus.
Perkawinan akan berlangsung di dalam kandang tanpa pengaturan atau bantuan
manusia.
Menurut Rianto dan Purbowati (2013), agar hasil perkawinan bisa
maksimal, sebaiknya pejantan dikawinkan 2 – 3 kali dalam seminggu.
Pakan untuk ternak pejantan diberikan dengan jumlah sama dengan ternak
lainnya. Pemberian pakan seperti ini karena ternak dilepas dalam kandang
kelompok. Konsentrat tidak selalu diberikan setiap pemberian pakan, melainkan

19
pada saat kekurangan pakan hijauan. Air minum ternak selalu tersedia dalam
tempat air minum dan setiap hari harus diganti dengan air yang baru.
Menurut Suprio Guntoro (2002), di samping pemberian hijauan yang
berkualitas (minimal 10 % dari berat badannya), sapi jantan (pemacek) yang
sedang digunakan sebagai “pemacek” perlu diberi pakan tambahan (konsentrat)
seperti dedak padi atau bungkil kelapa.

3.4 Manajemen Perkawinan


Manajemen perkawinan adalah kegiatan yang bertujuan untuk pengaturan
aspek-aspek reproduksi ternak. aspek-aspek yang diatur seperti sistem perkawinan
yang diterapkan, penggunaan bibit, pencegahan PMS ternak. Rianto dan
Purbowati (2013) menyatakan, keberhasilan usaha pembibitan sapi potong salah
satunya diukur dari berapa banyak jumlah anak yang dihasilkan. Peranan
manajemen perkawinan sangat penting, terutama dalam hal menunjang
keberhasilan perkawinan sehingga terjadi kebuntingan pada sapi yang telah
dikawinkan. Manajemen perkawinan di UPT Produksi Politeknik Pertanian
Negeri Kupang menggunakan sistem perkawinan kandang kelompok. Ternak
pejantan dilepas bersama beberapa ekor ternak betina dewasa yang sudah masuk
masa kawin. Deteksi kebuntingan pada ternak betina dilakukan 18 – 21 hari
setelah perkawinan. Tanda-tanda ternak betina mengalami kebuntingan yaitu pada
18 – 21 hari setelah perkawinan, ternak betina tidak memperlihatkan gejala estrus.
Menurut Rianto dan Purbowati (2013), dalam kandang ini pejantan mampu
mengawini 10 ekor induk. Sapi jantan dan betina dibiarkan berkumpul selama 2
bulan sehingga perkawinan akan terjadi pada sapi-sapi tersebut.

3.5 Manajemen Perkandangan


Kandang adalah salah satu faktor penting dalam usaha penggemukan sapi
potong, khususnya yang menerapkan sistem pemeliharaan intensif. Pemeliharaan
intensif sangat mengharuskan adanya kandang untuk ternak. Kandang berfungsi
sebagai tempat berlindung ternak dari faktor alam dan juga sebagai sarana untuk
mempermudah peternak dalam pemeliharaan. Menurut Suprio Guntoro (2002),

20
kandang merupakan salah satu unsur penting dalam membudidayakan ternak,
termasuk sapi Bali. Kandang bagi ternak berfungsi sebagai tempat berlindung dari
sengatan matahari, guyuran hujan, dan tiupan angin kencang sehingga dapat
mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan. Sapi yang dikandangkan juga akan
memudahkan peternak dalam melakukan pemeliharaan.
Jenis kandang yang digunakan di UPT Produksi Politeknik Pertanian
Negeri Kupang merupakan kandang kelompok dengan ukuran 18 m x 11 m x 6 m
= 1188 m². Kontruksi pagar kandang terbuat dari besi pada bagian bawah dan
kawat jaring pada bagian atas dengan lantai kandang langsung beralaskan tanah.
Atap kandang terbuat dari seng gelombang dengan ukuran 4 m x 4 m. Terdapat
tujuh unit tempat pakan dan dua unit tempat air minum yang terbuat dari fiber air
yang dipotong. Tempat pakan dan air minum langsung diletakan pada lantai
kandang sehingga mudah tumpah atau diinjak-injak ternak. Jarak kandang dari
perumahan sudah cukup ideal yaitu ± 20 meter. Lantai kandang yang langsung
beralaskan tanah seringkali becek pada musim hujan. Kemiringan lantai masih
kurang sehingga air hujan tidak dapat mengalir pada tempat pembuangan.
Seringkali terjadi penumpukan feses pada lantai kandang karena keadaan lantai
kandang yang becek sehingga susah untuk dibersihkan. Rianto dan Purbowati
(2013) menyatakan, lantai kandang biasanya terbuat dari lantai tanah, beton
semen, aspal, atau batu-batuan. Lantai kandang harus dibuat agak miiring, sekitar
5 - 10º sehingga air dapat terus mengalir/tidak mengumpul di satu tempat dan
mempermudah pembersihan.
Terdapat kandang jepit di dekat lokasi kandang dengan ukuran 2,5 m x 70
cm yang dimanfaatkan untuk mempermudah menangkap atau menenangkan
ternak pada saat penandaan, pengukuran bobot, pendugaan umur, penyuntikan
obat, dan kegiatan lainnya.

3.6 Manajemen Kesehatan


Manajemen kesehatan adalah usaha yang dilakukan untuk mengawasi
faktor-faktor yang berkaitan dengan kesehatan ternak. Manajemen kesehatan
sangat penting dalam suatu usaha peternakan karena kesehatan ternak sangat

21
berkaitan dengan produktifitas ternak. Kegagalan suatu peternakan pada
umumnya disebabkan oleh kesehatan ternak, sehingga pengawasan kesehatan
ternak harus selalu diperhatikan.

3.6.1 Sanitasi Kandang


Sanitasi kandang adalah usaha yang dilakukan untuk memutus rantai
penyebaran faktor-faktor yang dapat menimbulkan penyakit. Dalam manajemen
kesehatan, tindakan pencegahan selalu lebih baik dari pada pengobatan. Biaya
pengeluaran untuk pengobatan lebih besar dan beresiko dibandingkan biaya
pencegahan karena pengobatan tidak selalu menyembuhkan penyakit atau
memutus rantai penularan suatu penyakit. Menurut Rianto dan Purbowati (2013),
sanitasi (higiene atau kesehatan lingkungan) berarti ada hubungannya dengan
lingkungan. Jadi sanitasi berarti kesehatan yang lazim dikaitkan dengan
lingkungan kehidupan.
Dalam hal sanitasi, UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang
tidak melakukan kegiatan desinfeksi dan rendahnya frekuensi pembersihan
kandang. Satu-satunya alternatif yaitu dengan pengaturan tata letak pembuatan
kandang yang terbuka memungkinkan matahari pagi untuk masuk dalam kandang.
Keadaan seperti ini hanya untuk sementara dikarenakan kandang utama sedang
dalam proses renovasi, sehingga kandang yang dipergunakan untuk kegiatan
paraktikum adalah kandang sementara.

3.6.2 Pencegahan dan Pengobatan Penyakit


Jenis penyakit yang sering didapati di UPT Produksi Politeknik Pertanian
Negeri Kupang adalah sebagai berikut.
1) Cacingan (Cacing Pita)
Penyakit cacingan diakibatkan oleh cacing parasit Tenia Saginata.
Penyakit cacingan pada ternak sapi ini menyerang sistem pencernaan
dimana siklus hidup cacing pita ada dalam dinding usus. Parasit dapat
masuk pada saluran pencernaan ternak melalui pakan yang
kebersihannya tidak terjaga. Penyakit ini juga dapat menular pada

22
manusia. Gejala yang dapat dilihat bila ternak terserang parasit ini
yaitu :
 Nafsu makan ternak tinggi tapi tidak menunjukan pertumbuhan
yang ideal.
 Bulu kasar dan kusam.
 Pada saat membuang kotoran, feses cair dan tidak jarang diikuti
dengan bercak darah.
 Penurunan bobot badan.
Pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menjaga kebersihan
pakan yang akan diberikan pada ternak untuk dikonsumsi. Kebersihan
tubuh ternak, lingkungan kandang, tempat pakan dan air minum harus
selalu diperhatikan.
Pengobatan yang dapat dilakukan bila ternak terjangkit penyakit ini
yaitu dengan pemberian hijauan lamtoro secara rutin atau dengan
pemberian obat cacing secara oral menggunakan avermectin dengan
dosis 1 bolus/ekor. Obat cacing diberikan 12 jam sebelum ternak diberi
pakan.

3.7 Pengolahan Lahan HMT


Sebagai usaha untuk menyediakan pakan ternak secara kontinu
(berkelanjutan), UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang melakukan
kegiatan pengolahan lahan HMT. Kegiatan yang dilakukan dalam pengolahan
lahan HMT adalah sebagai berikut.
3.7.1 Pembersihan Lahan
Pembersihan Lahan adalah kegiatan persiapan sebelum melakukan
kegiatan penanaman hijauan. Lahan di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri
Kupang sebagian besar ditumbuhi oleh rumput liar dan gulma sehingga perlunya
persiapan lahan sebelum tanam. Menurut Rianto dan Purbowati (2013),
pengolahan tanah bertujuan untuk mempersiapkan media tumbuh yang optimum
bagi tanaman. Pertumbuhan awal tanaman sangat peka terhadap pengaruh luar,
terutama keadaan air dan suhu.

23
Langkah-langkah yang dilakukan dalam kegiatan pembersihan lahan
adalah sebagai berikut.
1) Menyiapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan.
2) Untuk rumput berbatang keras, dibersihkan menggunakan parang, sabit
dan mesin potong lalu dikumpulkan untuk dibakar.

3.7.2 Penanaman Rumput King Grass, Lamtoro dan Turi.


Penanaman hijauan pada lahan kosong di UPT Produksi Politeknik
Pertanian Negeri Kupang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan sehari-hari
dan juga sebagai pakan cadangan, sehingga bahan pakan tersedia secara
berkelanjutan. Penanaman hijauan dilakukan pada lahan kosong yang telah
dibersihkan seluas 40 m x 40 m. Adapun prosedur penanaman hijauan King
Grass, Lamtoro, dan Turi di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang
adlah sebagai berikut.
1) Menyiapkan tali yang akan digunakan sebagai patok larikan tanam
sepanjang 40 meter.
2) Menyiapkan bibit yang akan ditanam pada lahan.
3) Mengukur jarak penanaman antara tiap-tiap lubang tanam dengan jarak 1
meter untuk King Gras. Untuk Turi dan Lamtoro, jarak penanamannya ½
meter. Ukuran jarak perlarikan 1,5 m.
4) Penanaman ketiga jenis hijauan dalam satu lahan dengan pengaturan
tanam untuk King Grass satu larikan penuh. Empat larikan berikutnya
ditanami Lamtoro dan Turi.
5) Untuk penanaman Lamtoro dan Turi dalam satu larikan dengan
perbandingan 4 Lamtoro : 1 Turi.
6) Hijauan King Grass ditanam 2 stek perlubang, untuk Turi dan Lamtoro
sebanyak 2 biji perlubang.
Utomo (2012), menyatakan bahwa daun lamtoro mengandung protein
tinggi sehingga baik untuk pakan. Bunga lamtoro berbentuk bola warna putih.
Lamtoro hidup baik pada daerah dengan ketinggian 762 meter di atas permukaan
laut dengan curah hujan 1.651-2540 mm per tahun.

24
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan bab-bab sebelumnya dapat disimpulkan,
peternakan sapi di UPT Produksi Politeknik Pertanian Negeri Kupang
menerapkan manajemen pemeliharaan ternak sapi secara intensif dimana semua
aspek pemeliharaan ternak sudah disediakan oleh peternak. Dalam aspek
pemberian pakan, meskipun konsentrat tidak diberikan secara teratur, hijauan
selalu diberikan dalam keadaan yang masih segar dan kebutuhan pakan hijauan
selalu terpenuhi. Kurangnya kebersihan kandang dikarenakan lantai kandang yang
beralaskan tanah dan kemiringan lantai kandang yang kurang, sehingga lantai
kandang becek pada saat hujan.

4.2 Saran
Saran yang dapat diberikan penulis tentang aspek pemberian pakan
konsentrat. Pemberian pakan konsentrat berfungsi untuk melengkapi nutrisi yang
tidak ada dalam pakan hijauan guna mengoptimalkan pertumbuhan sehingga
pertambahan bobot badan lebih signifikan. Pentingnya mengatur kemiringan
lantai kandang, khususnya lantai kandang tanah. Bila air limbah dan feses ternak
tidak dapat mengalir menuju tempat pembuangan, maka akan menggenangi lantai
kandang.

25
Pemotongan batang jagung kering Pemotongan Hijauan Ternak

Pemberan Pakan Hijaua pada

26