Anda di halaman 1dari 22

THE USE OF FINANCIAL STATEMENT ANALYSIS IN RISK ANALYSIS”

MAKALAH KELOMPOK
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Analisi Laporan Keuangan

DISUSUN OLEH:
Anshori
Benediktus
Haizil Adam
Hendy Kurnia
Novia Kepriyani

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS RIAU
2019
BAB I
PENDAHULUAN

Risiko adalah suatu peristiwa atau kondisi yang tidak menentu.


Pentingnya dalam mengkaji suatu risiko dikarenakan sasaran dari
pelaksanaan manajeman risiko adalah untuk mengurangi risiko yang
berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat
yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis
ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi
dan politik. Apabila risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat
buruk (kerugian) yang tak diinginkan atau tidak terduga. Dengan kata lain
“kemungkinan” itu sudah menunjukkan ketidakpastian. Ketidakpastian itu
merupakan kondisi yang menyebabkan tumbuhnya risiko.
Identifikasi risiko operasional dalam perusahaan dilakukan dengan tujuan
untuk mengidentifikasikan seluruh jenis risiko yang berpotensi memengaruhi
kerugian perusahaan. Hal tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi
perusahaan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Analisis Risiko


2.1.1 Pengertian Analisis Risiko
Secara sederhana, analisis risiko atau risk analysis dapat diartikan
sebagai sebuah prosedur untuk mengenali satu ancaman dan kerentanan,
kemudian menganalisanya untuk memastikan hasil pembongkaran dan
menyoroti bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan dapat dihilangkan
atau dikurangi. Analisis risiko juga dipahami sebagai sebuah proses untuk
menentukan pengamanan macam apa yang cocok atau layak untuk sebuah
sistem atau lingkungan (ISO 1799, “An Introduction To Risk Analysis”, 2012).
Analisis risiko merupakan bagian dari manajemen risiko, yang terdiri
dari langkah-langkah sebagai berikut:
a. Identifikasi kemungkinan kondisi, peristiwa, atau situasi negative
eksternal dan internal.
b. Penentuan hubungan sebab-akibat antara peluang kejadian, skalanya
dan kemungkinan dampaknya.
c. Evaluasi sebagai dampak dibawah ini asumsi dan profitabilitas yang
berbeda.
d. Penerapan teknik kualitatif dan kuantitatif untuk mengurangi
ketidakpastian dari dampak dan biaya, kewajiban, atau kerugian.
2.2.2 Analisis Sumber Risiko

Dalam teori manajemen keuangan, ada trade-off antara risiko dan


return. Jika risiko suatu investasi lebih tinggi, return yang diharapkan juga
tinggi. Banyak para manajer mengetahui risiko untuk dipertimbangkan dalam
menilai dan mengambil keputusan investasi. Penilaian dan pemahaman
trade-off antara risiko dan return membentuk landasan untuk
memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham. Perusahaan seharusnya
mengenali apakah return yang diharapkan dapat dicapai atau tidak, yang
berarti perusahaan harus mengenali elemen risiko dalam proses pengambilan
keputusan. Risiko dapat didefinisikan sebagai variabilitas return dari apa yang
diharapkan (Brealey, Stewart, and Alan, 1995). Dengan kata lain risiko adalah
sebagai kemungkinan bahwa return sesungguhnya dari suatu investasi akan
lebih rendah dari return yang diharapkan. Return adalah keuntungan atau
aliran kas neto yang diperoleh dari suatu investasi. Dalam kegiatan bisnis,
perusahaan sering dihadapkan pada pengeluaran biaya yang bersifat tetap,
yang tentu saja mengandung risiko. Berkaitan dengan itu manajemen harus
tahu mengenai leverage. Leverage menunjukkan penggunaan biaya tetap
dalam usaha meningkatkan keuntungan.
Secara umum investor enggan terhadap risiko (averse risk) (Horne and
John,1992). Jika risiko lebih besar, investor mengharapkan return dari suatu
investasi yang lebih besar. Return yang tinggi tidak selalu disertai investasi
berisiko. Investasi yang berisiko tidak akan dilakukan oleh investor jika
investasi tersebut tidak memberi harapan tingkat return yang tinggi.
Sumber-sumber dan tipe-tipe risiko bisa dilihat pada bagan berikut ini:

Sumber Contoh resiko yang timbul

Internasional Ketidak stabilan pemerintah local


Ketidak stabilan kebijakan pemerintah setempat
Risiko perubahan kurs mata uang
Resesi dunia

Domestik Resesi
Inflasi atau deflasi
Perubahan tingkat bunga
Perubahan demografis
Perubahan kebijakan dalam negeri
Perubahan politik dalam negeri
Industri Perubahan teknologi
Persaingan
Perubahan kekuatan tawar menawar dalam industry
Peraturan pemerintah yang berkaitan dengan industry
Perusahaan Perubahan manajemen
Perubahan strategi
Risiko terkena bencana
Risiko terkena tuntutan hukum
Sebagai ilustrasi dapat dijelaskan beberapa jenis dan sumber risiko sebagai
berikut:

1. Risiko perubahan nilai tukar yang bersumber dari luar negeri

Perubahan nilai tukar dapat berupa apresiasi atau depresiasi. Apabila


mata uang domestik mengalami apresiasi terhadap mata uang asing
berarti nilai mata uang domestik menguat terhadap mata uang asing.
Demikian pula sebaliknya, apabila terjadi depresiasi. Secara umum,
apabila terjadi apresiasi mata uang domestik terhadap mata uang asing
maka akan menimbulkan dampak negatif terhadap kegiatan ekspor yang
dilakukan perusahaan. Sebaliknya, apabila terjadi depresiasi mata uang
domestik terhadap mata uang asing maka akan menimbulkan dampak
negatif terhadap kegiatan impor.

2. Risiko inflasi yang bersumber dari dalam negeri

Secara umum inflasi dapat mempengaruhi daya beli (purchasing power)


masyarakat. Semakin tinggi tingkat inflasi semakin rendah daya beli
masyarakat sehingga dengan demikian pendapatan riil masyarakat juga
menurun. Apabila daya beli menurun maka permintaan terhadap barang
dan jasa juga akan menurun sehingga pendapatan juga akan menurun.
Jadi hal ini menggambarkan risiko yang dihadapi oleh perusahaan.

3. Risiko teknologi yang bersumber dari industri

Teknologi dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan karena tingkat


penggunaan teknologi dapat mempengaruhi daya saing suatu
perusahaan. Di samping itu, penggunaan teknologi dapat mempengaruhi
produktivitas dan efisiensi suatu perusahaan. Jadi apabila suatu
perusahaan beroperasi pada penggunaan teknologi yang tidak memadai
maka memungkinkan tidak dapat bersaing serta tidak efisien.
4. Risiko atas keputusan-keputusan strategis

Keputusan-keputusan strategis yang diambil oleh manajemen suatu


perusahaan dapat mempengaruhi tingkat risiko suatu perusahaan. Artinya
bahwa apabila manajemen suatu perusahaan melakukan suatu kesalahan
dalam mengambil keputusan strategis maka memungkinkan perusahaan
akan menghadapi suatu risiko yang besar.

Meskipun risiko-risiko di atas secara langsung atau tidak langsung akan


mempengeruhi perusahaan, tetapi perusahaan harus memperhatikan risiko-
risiko yang mempunyai konsekuensi keuangan perusahaan.
Tabel dibawah ini menggambarkan kegiatan-kegiatan perusahaan dan
kaitannya dengan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-
kewajibannya dengan kas. Oleh karena itu analisis aliran kas sering dipakai
sebagai alat analisis untuk melihat kemampuan perusahaan sekaligus untuk
menganalisis risiko perusahaan. Perusahaan kadang-kadang mengalami
kebangkrutan (default) atau tidak bisa membayar kewajiban-kewajibannya
karena tidak mempunyai kas yang cukup, meskipun perusahaan tersebut
cukup menguntungkan. Laporan aliran kas akan melengkapi analisis risiko
disamping analisis rasio yang akan dibicarakan pada bab ini.

Kegiatan perusahaan dan aliran kas yang dihasilkan atau dibutuhkan:

Kegiatan Kemampuan Kebutuhan Analisis yang


Perusahaan Perusahaan yang digunakan
menghasilkan menggunakan
kas kas
Operasi Profitabilitas Kebutuhan Likuiditas
Perusahaan modal kerja jangka
pendek
Investasi Penjualan aset Kebutuhan Likuiditas
perusahaan investasi pada jangka
aktiva baru panjang
Pendanaan Kapasitas Membayar Likuiditas
Meminjam hutang dengan jangka
bunga dan panjang
kewajiban
lainnya

Analisis risiko dibagi menjadi dua bagian:


a) Analisis risiko jangka pendek (short term liquidity risk): memfokuskan
pada kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya
(kurang dari satu tahun) Risiko likuiditas jangka pendek membutuhkan
suatu pemahaman tentang siklus operasi perusahaan. Rasio-rasio
keuangan yang dapat digunakan untuk menilai risiko likuiditas jangka
pendek adalah:

 Rasio lancar (current ratio)


Current ratio merupakan instrumen untuk mengukur tingkat
likuiditas suatu perusahaan. Semakin tinggi current ratio maka
semakin likuid suatu perusahaan dan semakin rendah risiko
perusahaan.
 Rasio cepat (quick ratio)
Quick ratio merupakan instrumen untuk mengukur tingkat likuiditas
suatu perusahaan. Semakin tinggi quick ratio maka semakin likuid
suatu perusahaan dan semakin rendah risiko perusahaan.
 Rasio arus kas operasi terhadap kewajiban lancar (operating cash
flow to current liabilities)
Rasio ini menunjukkan sejauhmana kas yang dihasilkan dari
operasi dapat menutupi kewajiban lancar perusahaan. Semakin
tinggi rasio ini maka semakin rendah risiko yang dihadapi
perusahaan.

b) Analisis risiko jangka panjang (long term liquidity risk): memfokuskan


pada kemampuan perusahaanmemenuhi kewajiban jangka panjangnya
(lebih dari satu tahun) Risiko solvabilitas jangka panjang digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran bunga
dan angsuran pinjaman atas utang jangka panjang dan untuk memenuhi
kewajiban yang segera jatuh tempo.
Rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan untuk menilai risiko
solvabilitas jangka penjang adalah:

 Rasio utang jangka panjang (long-term debt ratio)


Rasio ini menunjukkan seberapa besar total utang yang digunakan
oleh perusahaan untuk membiayai aktivanya. Semakin besar rasio
ini maka semakin besar pula risiko yang dihadapi perusahaan.
Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin
kecil pula risiko yang dihadapi perusahaan
 Rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar total utang yang dimiliki
oleh perusahaan jika dibandingkan dengan ekuitas. Semakin
besar rasio ini maka semakin besar pula risiko yang dihadapi
perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini
maka semakin kecil pula risiko yang dihadapi perusahaan.
 Rasio kewajiban terhadap aktiva (liabilities to assets ratio)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar utang yang digunakan
untuk membiayai aktiva perusahaan. Semakin besar rasio ini
maka semakin besar pula risiko yang dihadapi
perusahaan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini
maka semakin kecil pula risiko yang dihadapi perusahaan.
 Rasio cakupan bunga (interest coverage ratio)
Rasio ini menunjukkan sejauhmana kemampuan perusahaan
untuk dapat menutupi atau memenuhi kewajiban bunga atas
pinjamannya kepada kreditor. Semakin besar rasio ini maka
semakin kecil risiko yang dihadapi perusahaan. Demikian pula
sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin besar pula risiko
yang dihadapi perusahaan
 Rasio arus kas operasi terhadap total kewajiban (operating cash
flow to total liabilities ratio)
Rasio ini menunjukkan sejauhmana kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan arus kas dari kegiatan operasi untuk
menutupi atau memenuhi seluruh kewajibannya. Semakin besar
rasio ini maka semakin kecil risiko yang dihadapi oleh perusahaan.
Demikian pula sebaliknya, semakin kecil rasio ini maka semakin
besar risiko yang dihadapi oleh perusahaan.
 Rasio arus kas operasi terhadap pengeluaran modal
(operating cash flow to capital expenditure)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar penggunaan arus kas
operasi yang dihasilkan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan
pengeluaran modal. Semakin besar rasio ini maka semakin kecil
risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Demikian pula sebaliknya,
semakin kecil rasio ini maka semakin besar risiko yang dihadapi
oleh perusahaan.

Dalam konteks investasi terdapat beberapa jenis risiko yang perlu


dipertimbangkan oleh perusahaan yaitu antara lain:

1. Risiko tingkat suku bunga (interest rate risk)

2. Risiko pasar (market risk)

3. Risiko inflasi (inflation risk)

4. Risiko nilai tukar (exchange rate risk)

5. Risiko bisnis (business risk)

6. Risiko financial (financial risk)

7. Risiko likuiditas (liquidity risk)

Menurut Djohanputro (2008), Risiko dapat diklasifikasikan menjadi ke


dalam dua kategori, yaitu:

 Risiko Murni dan Spekulatif

Risiko Murni adalah risiko yang dapat mengakibatkan kerugian


dan tidak sedikitpun mengandung kemungkinan keuntungan.
Contoh dari risiko ini adalah setiap aset pada perusahaan memiliki
risiko pencurian dan tidak ada pencurian yang mengandung
keuntungkan.
Risiko Spekulatif adalah risiko yang mengakibatkan dua
kemungkinan, apakah risiko tersebut mengakibatkan keuntungan
atau kerugian. Misalnya, perusahaan yang menyimpan valuta
asing dapat memperoleh keuntungan saat nilai tukar valuta sing
tersebut menguat, akan tetapi saat mengalami penurunan nilai
tukar valas tersebut, perusahaan akan mengalami kerugian.

 Risiko Sistemik dan Spesifik

Risiko sistemik adalah risiko yang tidak dapat didiversifikasi. Ciri


dari risiko sistemik adalah tidak dapat dihilangkan atau dikurangi
dengan penggabungan dengan risiko lain.

Risiko spesifik adalah risiko yang dapat didiversifikasi, dapat


dihilangkan melalui proses penggabungan. Contoh dari risiko
spesifik adalah saat mendekati Lebaran pedagang menjual
ketupat, namun pada tahun baru tiba, para pedagang ketupat
tersebut berjualan terompet. Contoh tersebut menunjukkan pada
saat tahun baru tiba penjualan ketupat akan menurun sehingga
pedagang tersebut beralih menjual terompet.

2.2 Contoh Kasus Analisis Risiko

PT. Indofood Sukses Makmur Tbk. merupakan produsen berbagai


jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia.
Perusahaan ini didirikan pada tanggal 14 Agustus 1990 oleh Sudono
Salim dengan nama PT. Panganjaya Intikusuma yang pada tanggal 5
Februari 1994 menjadi Indofood Sukses Makmur. Perusahaan ini
mengekspor bahan makanannya hingga Australia, Asia, dan Eropa.

Dalam beberapa dekade ini Indofood telah bertransformasi menjadi


sebuah perusahaan total food solutions dengan kegiatan operasional yang
mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi
dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak
para pedagang eceran.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. merupakan salah satu
perusahaan mie instant dan makanan olahan terkemuka di Indonesia yang
menjadi salah satu cabang perusahaan yang dimiliki oleh Salim Group.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Indofood memperoleh
manfaat dari ketangguhan model bisnisnya yang terdiri dari empat kelompok
usaha strategis (grup) yang saling melengkapi sebagai berikut:
 Produk Konsumen Bermerek (CBP)
Kegiatan usahanya dilaksanakan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
(ICBP), yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tanggal
7 Oktober 2010. ICBP merupakan salah satu produsen makanan dalam
kemasan terkemuka di Indonesia yang memiliki berbagai jenis produk
makanan dalam kemasan.
 Bogasari
Memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta.
Kegiatan usaha Grup ini didukung oleh unit perkapalan dan kemasan.
 Agribisnis
Kegiatan usahanya terkonsentrasi pada Indofood Agri Resources Ltd.
(IndoAgri), yang tercatat di Bursa Efek Singapura, dan anak-anak
perusahaannya termasuk PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum),
yang tercatat di BEI. Kegiatan usaha utama Grup ini meliputi penelitian dan
pengembangan, pembibitan, pemuliaan dan pengolahan kelapa sawit hingga
produksi dan pemasaran minyak goreng, margarin dan shortening bermerek.
Di samping itu, kegiatan usaha grup ini juga mencakup pemuliaan dan
pengolahan karet dan tebu serta tanaman lainnya.
 Distribusi
Memiliki jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia. Grup ini
mendistribusikan hampir seluruh produk konsumen Indofood dan anak-
anak perusahannya, serta berbagai produk pihak ketiga.
PT Indofoot juga memiliki Visi dan Misi yakni :

Visi PT Indofood Tbk.:


“Menjadi Perusahaan Total Food Solutions.”
Misi PT Indofood Tbk.:
 Senantiasa meningkatkan kompetensi karyawan, proses produksi, dan
teknologi.
 Menyediakan produk yang berkualitas tinggi, inovatif dengan harga
terjangkau, yang merupakan pilihan pelanggan.
 Memastikan ketersediaan produk bagi pelanggan domestik maupun
internasional.
 Memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas hidup bangsa
Indonesia, khususnya dalam bidang nutrisi.
 Meningkatkan stakeholders’ value secara berkesinambungan.
Untuk mencapai visi dan misi tersebut, PT Indofood Sukses Makmur
Tbk. menggunakan strategi:
Menjalin kerjasama dengan pemasok bahan baku untuk meningkatkan
kualitas produk, dan meningkatkan distribusi produk-produk.

Risiko bisnis yang dihadapi oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk


dipengaruhi oleh beberapa faktor. Jenis risiko yang pertama adalah risiko
murni, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. mungkin saja menanggung risiko
tersebut apabila misalnya terjadi kebakaran atau pencurian asset seperti
pencurian persediaan. Sedangkan jenis risiko berikutnya adalah risiko
spekulatif. Risiko spekulatif ini dapat meliputi variabilitas dari biaya input,
harga jual, dan permintaan, kemudian dapat juga meliputi kemampuan
menjual produk baru dan mengembangkan produk yang sudah ada, dan
tingkat nilai tukar rupiah terhadap dolar. Risiko yang dihadapi perusahaan
diantaranya:
 Risiko keamanan pangan
Sebagai produsen makanan olahan dalam kemasan dan memiliki
konsumen dari segala usia, Perseroan menghadapi risiko yang berhubungan
dengan keamanan produk barang jadi yang dipasarkan.
Walaupun Perseroan telah memperhatikan faktor higienis makanan
dan memastikan bahwa bahan baku yang dipergunakan telah sesuai dengan
yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang dan memenuhi persyaratan
untuk memperoleh sertifikat halal, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa
produk makanan tersebut dapat tercemar ataupun terkena isu negatif lainnya.
Apabila terjadi, hal tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap
kegiatan usaha dan operasional Perseroan.
 Risiko fluktuasi harga bahan baku dan komoditas
Harga dan biaya produksi Perseroan dipengaruhi oleh harga bahan
baku di pasar internasional, terutama gandum yang digunakan untuk
memproduksi tepung terigu Grup Bogasari, dan bahan baku lainnya yang
diimpor seperti SMP dan resin (bahan baku untuk pembuatan kemasan).
Harga tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
· Tingkat produksi bahan baku dunia.
· Tingkat penawaran dan permintaan produk.
· Tingkat konsumsi dunia atas produk-produk; dan
· Perkembangan perekonomian dunia pada umumnya.
Fluktuasi harga bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai
tukar Rupiah terhadap mata uang asing dapat memberikan dampak negatif
terhadap kegiatan operasional dan kondisi keuangan Perseroan. Walaupun
Perseroan dapat menaikkan harga jual produknya akan tetapi Perseroan tidak
dapat secara langsung meningkatkan harga jual produk sedemikian rupa
sejalan dengan kenaikan harga bahan baku di pasar internasional dan
depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
 Risiko peningkatan kompetisi pada segmen usaha
Sebagian besar produk Perseroan menghadapi kompetisi baik dari
perusahaan lokal maupun internasional. Tidak dapat dipastikan bahwa
kompetitor tidak akan mengoptimalkan upayanya dalam berkompetisi untuk
meningkatkan pangsa pasarnya dan/atau tidak akan ada tambahan pesaing
domestik maupun asing yang memasuki pasar dimana Perseroan beroperasi.
Peningkatan kompetisi tersebut dapat mempengaruhi kemampuan Perseroan
untuk mempertahankan atau menaikkan pendapatannya.
 Risiko suksesi dan ketrampilan tenaga kerja
Kesuksesan Perseroan tidak luput dari faktor ketersediaan tenaga
kerja yang handal untuk terus dapat melakukan yang terbaik serta
mendukung budaya untuk terus berinovasi agar memperoleh hasil yang
unggul. Oleh karena itu Perseroan menyadari risiko kegagalan
pengembangan karyawan atau mempertahankan tenaga kerja bertalenta
dapat mempengaruhi kegiatan bisnis, daya saing, dan pertumbuhan
Perseroan secara nyata.
 Risiko bencana alam, iklim dan cuaca ekstrim
Secara geografis, fasilitas Perseroan berupa kantor, pabrik,
perkebunan dan gudang distribusi, hampir seluruhnya berlokasi di Indonesia
yang berlokasi di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
Letak Indonesia berada di zona pertemuan dari tiga lempengan bumi
utama yang berpotensi mengalami gempa bumi, tsunami, gelombang laut dan
letusan gunung berapi. Hal ini dapat terjadi di luar kendali Perseroan, dan
dapat membahayakan keselamatan karyawan, merusak fasilitas, dan
mengganggu jalur distribusi. Walaupun risiko ini tidak berdampak negatif
secara langsung terhadap kegiatan usaha Perseroan di masa lampau, tetapi
bencana tersebut dapat berdampak negatif terhadap keadaan ekonomi
Indonesia pada umumnya yang secara tidak langsung akan berdampak juga
terhadap Perseroan. Selain itu, beberapa kegiatan usaha dan hasil
operasional Perseroan juga tergantung pada iklim dan kondisi cuaca.
Risiko yang berhubungan dengan hal tersebut akhir-akhir ini meningkat
dengan adanya efek rumah kaca di atmosfer yang berdampak buruk terhadap
suhu global dan perubahan suhu secara ekstrim. Kondisi tersebut dapat
berdampak negatif terhadap produktivitas, kinerja dan prospek usaha
Perseroan.

Analisis Risiko Perusahaan


Tujuan dari analisis risiko adalah untuk membedakan risiko minor yang
dapat diterima dari resiko mayor, dan untuk menyediakan data untuk
membantu evaluasi dan penanganan risiko. Analisis risiko akan tergantung
dari informasi dan data yang tersedia.
Risiko yang dapat dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Resiko yang
di analisis secara kuantitatif adalah risiko keuangan dengan menggunakan
penghitungan rasio keuangan. Perhitungan rasio ini dilakukan dari data
laporan keuangan PT Indofood Sukses Makmur Tbk sejak tahun 2011 sampai
tahun 2013. Beberapa rasio yang sudah dianalisis adalah rasio likuiditas,
rasio leverage, dan rasio profitabilitas.
Dari hasil perhitungan rasio likuiditas, PT Indofood Sukses Makmur
Tbk memiliki rasio likuiditas yang baik yakni lebih dari 1, walaupun nilainya
fluktuatif. Rasio berikutnya adalah rasio profitabilitas. Dari hasil perhitungan
rasio profitabilitas didapatkan hasil Gross profit margin secara rata-rata selalu
mengalami peningkatan, begitu juga dengan Return On Aset (ROA)
mencerminkan tingkat pengembalian terhadap investasi aset perusahaan.
ROA secara rata-rata selalu meningkat yang dapat diartikan bahwa
pengembalian terhadap aset lancar perusahaan selalu meningkat
pula. Berkaitan dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang saat ini
sedang menjadi permasalahan, didapatkan dari hasil regresi bahwa volatilitas
kurs rupiah per dolar berpengaruh negatif terhadap return harian saham PT
Indofood Sukses Makmur Tbk.
Semakin besar ROA suatu perusahaan maka semakin baik pula
kinerja perusahaan tersebut. ROA berpengaruh negatif terhadap prediksi
kebangkrutan perusahaan yang berarti semakin tinggi rasio tinggi ROA
kemungkinan perusahaan bangkrut semakin kecil
ROA =
Tahun Perhitungan Hasil
(dalam %)
2011 8.795,9/78.092,8 0,11263394
32
2012 8.567,8/59.389,4 0,14426480
1
2013 8.360/53.716 0,15563333

ROE adalah perbandingan antara laba bersih perusahaan dengan


modal sendiri suatu perusahaan. ROE merupakan indikator yang penting bagi
pemegang saham untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
memperoleh laba bersih yang berkaitan dengan dividen. Jika rasio ini
meningkat maka laba bersih dari perusahaan yang bersangkutan akan
meningkat pula, peningkatan tersebut juga mempengaruhi harga
saham. ROE berpengaruh negatif terhadap kemungkinan perusahaan
bangkrut, artinya semakin kecil ROE maka probabilitas perusahaan bangkrut
semakin besar
ROE = X 100%
Tahun Perhitungan Hasil (dalam %)

2011 8.795,9/39.719,7 0,221449306


2012 8.567,8/25.249,2 0,339329562
2013 8.260/22.114,7 0,373507214

Operating Income Return on Investment menunjukkan kefektifan


manajemen dalam menghasilkan laba operasional atas aset-aset
perusahaan, yang diukur dengan membandingkan laba operasional terhadap
total aset. Dengan kata lain OIROI mengambarkan kemampuan perusahaan
untuk menjaga biaya operasional rendah. OIROI mengukur seberapa efisien
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari total aset yang dimiliki
yang digunakan dalam menghasilkan keuntungan teresebut. Semakin besar
OIROI maka semakin efektif suatu perusahaan dalam mengelola total aktiva
yang dimiliki untuk menghasilkan laba.
OIROI =
Tahun Perhitungan Hasil (dalam %)

2011 6.718/78.092,8 0,086025856

2012 6.877/59.389,4 0,115795074

2013 6.847,4/53.716 0,127474123

Respon Terhadap Risiko


Perseroan menyadari bahwa penerapan sistem manajemen risiko yang
memadai sangat penting untuk menghadapi beragamnya risiko kegiatan
usaha yang dihadapi sejalan dengan semakin berkembangnya usaha
Perseroan. Untuk itu, Perseroan menjalankan pengelolaan terhadap risiko
dengan menerapkan sistem ERM yang telah dijalankan secara konsisten dan
berkesinambungan di seluruh organisasi, termasuk anak perusahaan.
Perseroan mengelola ERM berdasarkan kerangka dasar COSO (Committee
of Sponsoring Organization of Treadway Commission) dan ISO 31000, yang
disesuaikan dengan kegiatan usaha dan budaya Perseroan.
Direksi bertanggung jawab dan memegang peranan penting dalam
suksesnya penanganan manajemen risiko dan pengendalian internal yang
efektif. Untuk itu, Perseroan membentuk tim manajemen risiko yang
didedikasikan untuk menjalankan proses ERM dan implementasinya. Setiap
manajemen anak perusahaan, berperan penting atas proses ERM, yaitu
melakukan identifikasi risiko, menganalisa kemungkinan exposure,
menetapkan langkah-langkah perbaikan dan pengendalian internal, dan
memberikan laporan ERM kepada manajemen terkait.
Komite Audit sebagai kepanjangan tangan dari Dewan Komisaris,
melakukan pengawasan terhadap program dan implementasi manajemen
risiko. Laporan konsolidasi ERM disampaikan setiap semester kepada Direksi
dan Komite Audit. Audit Internal melakukan penelaahan yang independen
melalui audit yang dilakukan secara rutin untuk memberikan keyakinan yang
memadai bahwa risiko yang signifikan dan kelemahan pengendalian internal
teridentifikasi dan tindakan perbaikan dijalankan. Laporan penelahaan
tersebut disajikan dalam laporan audit internal yang disampaikan secara rutin
kepada Direksi dan Komite Audit. Beberapa risiko-risiko utama yang dapat
berpotensi memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap operasional
Perseroan, dan langkah langkah Perseroan dalam mengurangi risiko tersebut
adalah sebagai berikut:
 Risiko keamanan pangan
Untuk mengurangi risiko ini, Perseroan melakukan proses kontrol yang
berkesinambungan, dimulai dari penggunaan bahan baku yang berkualitas,
pemilihan pemasok, proses penerimaan bahan baku dan proses produksi dan
distribusi yang sesuai dengan standard operating procedures.
Perseroan senantiasa menerapkan Good Manufacturing
Practices untuk memastikan produk dibuat dengan proses yang higienis dan
menghasilkan kualitas yang baik. Sebagian besar fasilitas produksi Perseroan
telah memperoleh sertifikasi ISO 9001 dan ISO 22000, dan/atau sertifikasi
HACCP (Hazard Analysis & Critical Control Points), serta beberapa fasilitas
produksi lainnya telah memperoleh sertifikasi ISO 14000. Di samping itu,
seluruh produk Perseroan telah mendapatkan sertifikat halal dari MUI.
Sebagian besar produk Perseroan juga telah memperoleh berbagai sertifikasi
lainnya, seperti sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan
oleh lembaga pemerintahan yang berwenang. Untuk menanggapi keluhan
dan mendapatkan masukan yang berharga dari konsumen, Perseroan
menyediakan Layanan Konsumen Indofood.
 Risiko fluktuasi harga bahan baku dan komoditas
Fluktuasi harga bahan baku di pasar internasional dan depresiasi nilai
tukar Rupiah terhadap mata uang asing dapat memberikan dampak negatif
terhadap kegiatan operasional dan kondisi keuangan Perseroan. Walaupun
Perseroan dapat menaikkan harga jual produknya akan tetapi Perseroan tidak
dapat secara langsung meningkatkan harga jual produk sedemikian rupa
sejalan dengan kenaikan harga bahan baku di pasar internasional dan
depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing.
Untuk memitigasi risiko tersebut, Perseroan melakukan kegiatan-
kegiatan strategis dengan membentuk pola hubungan kerja sama dan
kemitraan dengan petani dan pemasok, melakukan simulasi harga bahan
baku terhadap harga jual, melakukan kontrak kerja sama dengan beberapa
perusahaan dalam dan luar negeri, dan menggunakan bahan baku substitusi
tanpa mengurangi kualitas akhir dari produk barang jadi yang dipasarkan
kepada konsumen. Ketangguhan model bisnis Perseroan yang terdiri dari
kegiatan usaha komoditas dan non-komoditas juga memberikan manfaat
dalam mengurangi risiko tersebut dan dapat meredam dampak gejolak harga
komoditas yang pada akhirnya tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
pendapatan dan keuntungan Perseroan.
 Risiko peningkatan kompetisi pada segmen usaha
Untuk melanjutkan sukses dan mengurangi risiko tersebut, Perseroan
senantiasa mengikuti dinamika perkembangan pasar, meluncurkan produk
yang sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen, melakukan inovasi
secara berkelanjutan untuk menghasilkan produk unggulan baru,
mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk, melakukan kegiatan
pemasaran yang tepat sasaran dan menerapkan program-program efisiensi
biaya guna meningkatkan daya saing. Dalam iklim bisnis yang kompetitif ini,
Perseroan tetap menjalankan usahanya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangan yang berlaku.
 Risiko suksesi dan ketrampilan tenaga kerja
Untuk mengurangi risiko ini, Perseroan melakukan kegiatan
pengembangan karyawan berkelanjutan serta program pelatihan profesional
baik internal atau eksternal. Dengan program tersebut, Perseroan dapat
mempertahankan tenaga kerja bertalenta yang sudah ada dan menarik
tenaga kerja bertalenta yang baru, demi meneruskan kelangsungan
operasional dan daya saing Perseroan di era globalisasi ini.
 Risiko bencana alam, iklim dan cuaca ekstrim
Untuk menangani risiko tersebut, Perseroan melakukan kajian
terhadap perlindungan bencana alam seperti kecukupan perlindungan
asuransi dan implementasi sistem penanggulangan krisis. Perseroan juga
melakukan kegiatan tanggung jawab sosial terkait dengan kejadian bencana
alam sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.
BAB III
Kesimpulan

Analisis risiko atau risk analysis dapat diartikan sebagai sebuah


prosedur untuk mengenali satu ancaman dan kerentanan, kemudian
menganalisanya untuk memastikan hasil pembongkaran dan menyoroti
bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan dapat dihilangkan atau
dikurangi. Analisis risiko bersama-sama dengan analisis profitabilitas
digunakan untuk mengevaluasi daya tarik suatu perusahaan. Ada beberapa
sumber resiko : internasional, nasional ,industry dan perusahaan itu sendiri.
Sumber-sumber resiko tersebut secara langsung atau tidak langsung akan
mempengaruhi perusahaan. Rekening off balance sheet kelihatannya tidak
mempunyai pengaruh terhadap neraca karena tidak tercantum di neraca,
meskipun sebenarnya mempunyai pengaruh.penyesuaiaan bias dilakukan
dengan memasukkan item-item off balance sheet kedalam analisis.