Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HEMOROID

INSTALASI BEDAH SENTRAL RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL

Disusun oleh:

HERI SUTANTO, S., Kep.

NIPP: 32-115-05-11-2009

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2009
TERMINOLOGI HEMOROID

Definisi
Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal. Hemoroid dibagi menjadi 2,
yaitu hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidalis superior
dan media dan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior. Sesuai istilah yang
digunakan, maka hemoroid eksterna timbul di sebelah luar otot sfingter ani, dan hemoroid interna
timbul di sebelah dalam sfingter.

Patofisiologi
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena
hemoroidalis. Beberapa faktor etiologi telah diajukan, termasuk konstipasi atau diare, sering mengejan,
kongesti pelvis pada kehamilan, pembesaran prostat, fibroma uteri, dan tumor rectum. Penyakit hati
kronik yang disertai hipertensi portal sering mengakibatkan hemoroid karena vena hemoroidalis
superior mengalirkan darah ke dalam sistem portal. Selain itu sistem portal tidak mempunyai katup
sehingga mudah terjadi aliran balik.

Tanda dan gejala


Hemoroid eksterna diklasifikasikan sebagai akut dan kronik. Bentuk akut berupa
pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma, bentuk ini
sering sangat nyeri dan gatal karena ujung–ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemoroid
eksterna kronik atau skin tag berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan
penyambung dan sedikit pembuluh darah.
Hemoroid interna diklasifikasikan sebagai derajat I, II dan III. Hemoroid interna derajat I (dini) tidak
menonjol melalui anus. Lesi biasanya terletak pada posterior kanan dan kiri dan anterior kanan
mengikuti penyebaran cabang – cabang vena hemoroidalis superior dan tampak sebagai pembengkakan
globular kemerahan. Hemoroid derajat II dapat mengalami prolapsus melalui anus setelah defekasi.
Hemoroid derajat III mengalami prolapsus secara permanen. Gejala – gejala hemoroid interna yang
paling sering adalah perdarahan tanpa nyeri, karena tidak ada serabut – serabut nyeri pada daerah ini.
Kebanyakan kasus adalah hemoroid campuran interna dan eksterna.

Kemungkinan komplikasi
Komplikasi hemoroid yang paling sering adalah perdarahan, trombosis, dan strangulasi.
Hemoroid yang mengalami strangulasi adalah hemoroid yang mengalami prolapsus di mana suplai
darah dihalangi oleh sfingter ani.

Pemeriksaan penunjang
Diagnosis hemoroid dibuat dengan inspeksi dan proktoskopi. Bila hemoroid dan perdarahan
terjadi pada penderita usia pertengahan dan usia lanjut, perlu bagi dokter untuk menyingkirkan adanya
kanker.
Penatalaksanaan
Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan hygiene personal yang baik
dan menghindari mengejan yang berlebihan selama defekasi. Diet tinggi serat yang mengandung buah–
buahan sekam mungkin satu – satunya tindakan yang diperlukan; bila tindakan ini gagal, laksatif yang
berfunsi mengabsorpsi air saat melewati usus dapat membantu. Rendam duduk dengan salep, dan
supositoria yang mengandung anestesi astringen (witch hazel) dan tirah baring adalah tindakan yang
memungkinakan pembesaran berkurang.
Terdapat berbabagai tipe tindakan non operatif untuk hemoroid. Fotokoagulasi inframerah,
diatermi bipolar, dan terapi laser adalah tehnik terbaru yang digunakan untuk melekatkan mukosa ke
otot yang mendasarinya. Injeksi larutan sklerosan juga efektif untuk hemoroid berukuran kecil dan
berdarah. Prosedur ini membantu mencegah prolaps.
Tindakan bedah konservatif hemoroid internal adalah prosedur ligasi pita karet. Hemoroid
dilihat melalui anosopy, dan bagian proksimal di atas garis mukokutan dipegang dengan alat. Pita karet
kecil kemudian diselipkan di atas hemoroid. Bagian distal jaringan pada pita karet menjadi nekrotik
setelah beberapa hari dan lepas. Terjadi fibrosis yang mengakibatkan mukosa anal bawah turun dan
melekat pada otot dasar. Mekipun tindakan ini memuaskan bagi beberapa pasien , namun pasien lain
merasakan tindakan ini menyebabkan nyeri dan mengakibatkan hemororid sekunder dan infeksi
perianal.
Hemoroidektomi kriosirurgi adalah metode untuk mengangkat hemoroid cara membekukan
jaringan hemoroid selama waktu tertentu sampai timbul nekrosis. Meskipun hal ini kurang
menimbulkan nyeri, prosedur ini tidak digunakan secara luas karena menybabkan keluarnya rabas yang
sangat berbau menyengat dan luka yang ditimbulkan lama sembuhnya.
Laser Nd : YAG telah digunakan dalam mengeksisi hemoroid, terutama hemoroid eksternal.
Tindakan ini cepat dan kurang menimbulkan nyeri. Hemoragi dan abses jarang menjadi komplikasi
pada pasca operasi.
Hemoroidektomi atau eksisi bedah, dapat dilakukan untuk mengangkat semua jaringan sisa
yang terlibat dalam proses ini. Selama pembedahan, sfingter rectal biasanya didilatasi secara digital
dan hemoroid diangkat dengan klem atau dengan ligasi dan kemudian dieksisi. Setelah prosedur
operatif selesai, selang kecil dimasukan melalui sfingter untuk memungkinkan keluarnya flatus dan
darah; pemberian Gelfoan atau kasa Oxygel dapat diberikan di atas luka anal.
ANALISIS KASUS

Identitas diri klien


1. Nama pasien : Tn Kasan
2. Umur : 76 tahun
3. Agama : Islam
4. Alamat : Bantul
5. Pekerjaan : Tani
6. Jenis kelamin : Laki-laki
7. Dx. Medis : Hemoroid
8. Tindakan : Hemoroidektomi

Riwayat kesehatan
1. Keluhan utama
Merasa terganggu saat berak, terasa seperti ada yang keluar saat jongkok.
2. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang ke ruang penerimaan pasien bedah di IBS dengan terpasang infus RL, puasa,
tidak ada riwayat alergi obat, tidak ada riwayat DM dan tidak memiliki ashma.
3. Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat sakit

Pengkajian pemenuhan KDM


1. Persepsi dan pemenuhan kesehatan: jika sakit baru ke pelayanan
2. Nutrisi: klien makan danminum terakhir 8 jam yang lalu (puasa) menjelang operasi
3. Eliminasi: terganggu saat berak dan terasa ada usus yang keluar
4. Aktifitas dan latihan: ADL mandiri
5. Tidur dan istirahat: tidur malam jam 23.00
6. Sensori, persepsi dan kognisi: normal
7. Konsep diri: sakit
8. Seksual dan reproduksi: khawatir terhadap sakitnya sehingga terganggu
9. Peran dan hubungan: komunikasi dengan keluarga dan tetangga baik
10. Manajemen koping dan stress: musyawarah keluarga
11. Nilai dan keyakinan: Religius islam

Pemeriksaan fisik
1. TTV TD:170/120 mmHg N: 84 x/menit RR:24 x/menit
2. Genitalia: penis normal, tak terdapat pembesaran penis dan epididimis, scrotum
normal, anus terlihat hitam, hemoroid terlihat, meskipun klien berubah posisi hemoroid tetap
muncul dan terlihat besar (grade 4), anus basah, terdapat bekas perdarahan hemoroid.
(hemoroid externa)

Pemeriksaan penunjang:
Laboratorium: Darah rutin dan kimia darah Hb, AL, Hitung jenis eosinofil, basofil, segmen,
limfosit, monosit, SGOT, SGPT, glukosa darah, N, K, Cl HbsAG.
Foto torax dan USG.
Terapi
1. Infus: Ringer Laktat 1000 ml20 tpm
2. Obat analgesik: Ketorolax 10 mg
3. Obat anestesi: Bupavikain spinal 0,5% 15 mg
4. Obat penenang: Midazolam
5. Anti muntah
ASUHAN KEPERAWATAN

PRE OPERASI
1. Menerima pasien dari bangsal melati, KU pasien baik, terpasang infus RL 20 tpm,
puasa, tidak memiliki riwayat DM, tidak ashma, dan tidak alergi obat serta memastikan pasien
telah tersiapkan tindakan bedah (pakaian, lepas perhiasan dll)
2. Informed consent tindakan pembedahan
3. Pengkajian hingga evaluasi pre operasi

Cemas b.d status kesehatan


NOC dan indikator NIC dan aktifitas Rasional

NOC: kontrol kecemasan dan NIC: Penurunan kecemasan 1. Mempermudah intervensi


coping, setelah dilakukan Aktifitas: 2. Mengurangi kecemasan
perawatan selama 10 menit cemas 1. Bina Hub. Saling
ps hilang atau berkurang dg:
3. Membantu ps dlam
percaya meningkatkan pengetahuan
Indikator: 2. Jelaskan semua
Ps mampu: tentang status kes dan
Prosedur meningkatkan kontrol
 Mengungkapkan cara 3. Hargai pengetahuan kecemasan
mengatasi cemas ps tentang 4. Merasa dihargai
 Mampu menggunakan penyakitnya
coping 5. Dukungan akan
4. Bantu ps untuk memberikan keyakinan
 Mengungkapkan siap di mengefektifkan thdp peryataan harapan
operasi sumber support untuk sembuh/masa depan
5. Berikan 6. Penggunaan Strategi
reinfocement untuk adaptasi secara bertahap
menggunakan (dari mekanisme pertahan,
Sumber Coping yang coping, sampai strategi
efektif penguasaan) membantu ps
cepat mengadaptasi
kecemsan

Deficite knowledge b.d Kurang paparan sumber informasi


NOC dan indikator NIC dan aktifitas Rasional

NOC: Pengetahuan tentang NIC: Pengetahuan penyakit


penyakit, setelah diberikan Aktifitas:
penjelasan selama 10 menit 1. Jelaskan tentang proses 1. Meningkatan pengetahuan
ps mengerti proses penyakit dan mengurangi cemas
penyakitnya dan Program 2. Jelaskan tentang program 2. Mempermudah intervensi
prwtn: pengobatan 3. Mencegah keparahan
Indikator: 3. Jelaskan tindakan untuk penyakit
Ps mampu: mencegah komplikasi 4. Mereview
Menjelaskan kembali 4. Tanyakan kembali
tentang proses penyakit, pengetahuan ps tentang
mengenal kebutuhan penyakit, prosedur
perawatan dan pengobatan prwtn dan pengobatan
tanpa cemas

INTRA OPERASI

1. Menyiapkan alat dan intrumen: Kassa, pean, kocker, pincet anatomis, pincet cirurgis,
gunting, towel klem, scapel, allis klem, mosquito klem, ordinari needle, atraumatic needle,
bengkok, kom, baju steril, sarung tangan steril, duk steril, mess, alkohol, iodine.
2. Mencuci tangan bedah
3. Transportasi dan posisioning klien di meja operasi
4. Mengukur vital sign, memberikan obat anestesi, memberikan O2, infus RL sesuai
kebutuhan cairan intra operasi, toileting area bedah, pembedahan

Resiko kecelakaan b.d efek pembedahan


NOC dan indikator NIC dan aktifitas Rasional

NOC: Pasien aman selama NIC: Lakukan tindakan


dilakukan tindakan pembedahan sesuai prosedur yang
pembedahan 30 benar 1. Pasien dalam kondisi
menit aman dan terbebas
dari kecelakaan intra
Indikataor: Aktifitas: operasi.
 Tidak ada kassa dan
jarum tertinggal 1. Mendampingi klien
 Tidak ada instrumen 2. Posisikan pasien dengan
tertinggal benar
3. Monitor penggunaan
kassa, jarum dan
instrumen

PASCA OPERASI

1. Memonitor Vital sign


2. Transportasi keruang pemulihan
3. Pasang pengaman tempat tidur
4. Memberikan oksigen (jika KU klien tampak buruk)

Risiko infeksi bd tindakan invasif, insisi post pembedahan


NOC dan indikator NIC dan aktifitas Rasional

NOC: Kontrol infeksi dan NIC: Perawatan luka 1. Penanda proses infeksi
kontrol resiko, setelah
diberikan perawatan Aktifitas: 2. Menghindari infeksi
selama 10 menit tidak 1.Amati luka dari tanda-tanda
terjadi infeksi sekunder infeksi 3. Mencegah infeksi
dg: 2.Lakukan perawatan luka
dengan tehnik aseptic dan 4. Mempercepat penyembuhan
Indikator: gunakan kassa steril untuk
 Bebas dari tanda-tanda merawat dan menutup luka
infeksi 3.Kelola pasien post operasi
sesuai program

EVALUASI
Pengkajian nyeri, manajemen nyeri teratasi, tujuan tercapai.
Post anestesi klien bernapas spontan, tujuan tercapai.
Pasien siap dipindahkan ke bangsal perawatan.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa: Waluyo Agung.,
Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC, Jakarta.

Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, alih bahasa: Tim PSIK
UNPAD Edisi-6, EGC, Jakarta

Doenges,M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1993, Rencana Asuhan Keperawatan untuk
perencanaan dan pendukomentasian perawatan Pasien, Edisi-3, Alih bahasa; Kariasa,I.M.,
Sumarwati,N.M., EGC, Jakarta

NANDA, 2001-2002, Nursing Diagnosis: Definitions and classification, Philadelphia, USA

University IOWA., NIC and NOC Project., 1991, Nursing outcome Classifications, Philadelphia, USA

Penyebab, Gejala & Pengobatan Penyakit Wasir/Ambeien/Hemoroid - Gangguan Anus Pada Manusia
http://organisasi.org/penyebab-gejala-pengobatan-penyakit-wasir-ambeien-hemoroid-gangguan-anus-
pada-manusia diakses pada 9 Nopember 2009 pukul 19.43 WIB