Anda di halaman 1dari 16

KOMUNIKASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN, KLIEN

SEBAGAI PESERTA DIDIK DAN KEBUTUHAN PENDIDIKAN


KESEHATAN KLIEN (METODE, STRATEG, MEDIA DAN
EVALUASI BELAJAR)

Oleh
Linda Mustika : 19142010007
Nurussyamsi Walqamri : 19142010015
Sri Wahyuni : 19142010022

Dosen pembimbing
Ns. Edo Gusdiansyah, M.Kep

JURUSAN KEPERAWATAN
STIKES ALIFAH PADANG
2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

Diera globalisasi sekarang ini bidang kesehatan banyak mengalami


pemuktahiran dan pekembangan-perkembangan ilmu yang mencuri perhatian
masyarakat dunia. Seiring dengan itu banyak pula masalah-masalah yang tentunya
mampu membuat derajat kesehatan manusia menurun. Dengan adanya masalah-
masalah tersebut maka status kesehatan masyarakat juga mengalami degradasi,
maka pada masa sekarang status kesahatan menjadi suatu keharusan yang harus
dipertahankan bagi setiap orang. Satus kesehatan bisa didapat jika seorang
masyarakat/klien dapat dengan melalui suatu Pendidikan Kesehatan. Dimana
pendidikan kesehatan ini mencakup semua instasi kesehatan. Status kesehatan
dapat diketahui dengan mengetahui Kebutuhan Dasar Manusia. Dalam makalah
ini akan dibahas tentang klien sebagai sebagai peserta didik dan kebutuhan dasar
klien.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Klien
1. Menurut KBBI (2001) Klien adalah orang yang memperoleh bantuan,
orang yang membeli sesuatu atau memperoleh layanan.
2. Menurut fundamental keperawatan (Potter; Perry)
3. Klien ialah orang yang mencari pelayanan kesehatan dan anggota keluarga
atau orang yang berarti bagi orang yang mencari pelayanan kesehatan
tersebut.
4. Dalam keperawatan, yang menjadi klien bisa saja individunya itu sendiri
maupun keluarga atau kerabatnya. Jenis jenis klien yang disebutkan dalam
Neuman System Model juga bisa dalam bentuk individu maupun
kelompok. Klien sebagai individu yaitu seseorang yang mendapatkan
asuhan keperawatan. Klien sebagai keluarga ialah keluarga tersebut yang
diberikan asuhan keperawatan/apabila seorang anggota dari keluarga
tersebut mengalami suatu penyakit atau kelemahan pada tubuhnya yang
mengakibatkan ia tidak dapat memberikan keterangan secara jelas kepada
perawat maka ia dibantu oleh keluarganya. Sedangkan klien sebagaik
kelompok atau masyarakat ialah klien yang ruang lingkupnya lebih luas
daripada keluarga.

B. Pengertian Pendidikan Kesehatan


1. Dalam keperawatan, pendidikan kesehatan merupakan satu bentuk
intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien baik individu,
kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya
melalui kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai
perawat pendidik. Pelaksanaan pendidikan kesehatan dalam keperawatan
merupakan kegiatan pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai
berikut : pengkajian kebutuhan belajar klien, penegakan diagnose
keperawatan, perencanaan pendidikan kesehatan, implementasi pendidikan

3
kesehatan, evaluasi pendidikan kesehatan, dan dokumentasi pendidikan
kesehatan (Suliha, 2002).
2. Pendidikan kesehatan merupakan tindakan mandiri perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan untuk meningkatan derajat kesehatan
masyarakat melalui kegiatan pembelajaran sehingga dari yang tidak tahu
jadi tahu,yang tidak mau jadi mau dan yang tidak mampu menjadi mampu
untuk menjaga dan mempertahankan kesehatannya atau mencegah
terjadinya penyakit dan tingkat keparahan sakit pada dirinya dan proses
pemulihan kesehatan dari sakit untuk mencapai kesehatan yang optimal.
C. Tujuan Pendidikan Klien
Pada dasarnya pendidikan kesehatan ditujukan agar klien dapat
meningkatkan, memperbaiki dan mempertahankan status kesehatannya.
Pendidikan pasien/klien yang komprehensif terdiri dari tiga tujuan, yaitu:
1. Pencegahan penyakit, pemeliharaan serta peningkatan kesehatan
2. Perbaikan kesehatan
3. Koping terhadap gangguan fungsi
D. Standar Untuk Pendidikan Klien
Menurut The Joint Commisson on Accreditation of Healthcare
Organization (JCAHO) (1995) (dalam Potter dan Pery, 2005: 337), standar
untuk pendidikan klien/keluarga adalah sebagai berikut:
1. Klien/keluarga diberi pendidikan yang dapat meningkatkan pengetahuan,
keterampilan dan perilaku yang diperlukan untuk memberikan keuntungan
penuh dari intervensi kesehatan yang dilakukan oleh institusi.
2. Organisasi merencanakan dan mendorong pengawasan dan koordinasi
aktivitas dan sumber pendidikan klien/keluarga.
3. Klien/keluarga mengetahui kebutuhan belajar mereka, kemampuan, dan
kesiapan untuk belajar.
4. Proses pendidikan klien/keluarga bersifat interdisiplin sesuai dengan
rencana asuhan keperawatan.
5. Klien/keluarga mendapatkan pendidikan yang spesifik sesuai dengan hasil
pengkajian kemampuan dan kesiapannya. Pendidikan kesehatan meliputi

4
pemberian obat-obatan, penggunaan alat medis, pemahaman tentang
interaksi makanan/obat dan modifikasi makanan, rehabilitasi, serta
bagaimana melakukan pengobatan selanjutnya.
6. Informasi mengenai instruksi pulang yang diberikan pada klien/keluarga
diberikan institusi atau individu tertentu yang bertanggung jawab terhadap
kesinambungan perawatan klien.
Keberhasilan untuk mencapai stadar di atas tergantung pada
keikutsertaan seluruh tenaga kesehatan profesional.
E. Domain pengajaran
Domain merupakan suatu realisasi definisi dari bidang teknologi
pembelajaran. Domain mewujudkan apa yang dapat dilakukan oleh suatu
disiplin ilmu agar disiplin tersebut mampu memberikan sumbangan langsung
dalam bentuk rumusan praktik yang dilakukan oleh para praktisi. Domain juga
berfungsi sebagai panduan para praktisi dan tenaga ahli untuk bergerak dalam
bidang yang dimaksud. Selain itu, domain perlu dirumuskan berdasarkan
definisi yang sudah ada agar pembentukan profesi dan praktik menjadi lebih
mudah. Domain memberi penjelasan bagi para profesional dan praktisi
mengenai apa yang harus dan boleh dilakukan atau apa yang menjadi batasan
perilaku dan ruang lingkup pekerjaan dan layanan yang harus
diselesaikan. Konsep kognitif, afektif, dan psikomotorik dicetuskan oleh
Benyamin Bloom pada tahun 1956. Karena itulah konsep tersebut juga dikenal
dengan istilah Taksonomi Bloom.
1. Pembelajaran kognitif
Pembelajaran kognitif adalah pembelajaran yang mencakup
kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut
aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Keenam jenjang atau
aspek yang dimaksud adalah:
a. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali
(recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-
rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk

5
menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses
berfikir yang paling rendah.
b. Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami
sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain,
memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya
dari berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami
sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian
yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya
sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang
setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.
c. Penerapan (application)
Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau
menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode,
prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi
yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses
berfikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.
d. Analisis (analysis)
Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan
suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan
mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-
faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah
setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.
e. Sintesis (syntesis)
Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari
proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang
memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga
menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk
pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi
daripada jenjang analisis.

6
f. Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah
kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan
kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu
kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada
beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang
terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada.
2. Pembelajaran afektif
Pembelajaran afektif adalah pembelajaran yang berkaitan dengan
sikap dan nilai. Pembelajaran afektif mencakup watak perilaku seperti
perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Ranah afektif menjadi lebih rinci
lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
a. Receiving atau Attending (menerima atau memperhatikan)
Receiving atau attending (menerima ataa memperhatikan),
adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus)
dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi,
gejala dan lain-lain. Receiving atau attenting juga sering di beri
pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau
suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia
menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan
mereka mau menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-
identifikasikan diri dengan nilai itu.
b. Responding (menanggapi)
Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi
aktif”. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki
oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam
fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara.
Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang receiving.
c. Valuing (menilai atau menghargai)
Valuing (menilai/menghargai). Menilai atau menghargai
artinya mem-berikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap

7
suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak
dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan.
Valuing adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi
daripada receiving dan responding. Dalam kaitan dalam proses belajar
mengajar, peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang
diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep
atau fenomena, yaitu baik atau buruk.
d. Organization (mengatur atau mengorganisasikan)
Organization (mengatur atau mengorganisasikan), artinya
memper-temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang
universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau
mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu
sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan
nilai lain., pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya.
e. Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi
dengan suatu nilai atau kompleks nilai)
Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi
dengan suatu nilai atau komplek nilai), yakni keterpaduan semua
sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi
pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini proses internalisasi nilai
telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu
telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah
mempengaruhi emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif
tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana.
3. Pembelajaran psikomotor
Pembelajaran psikomotor merupakan pembelajaran yang berkaitan
dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang
menerima pengalaman belajar tertentu, berhubungan dengan aktivitas
fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan
sebagainya. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan
dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif

8
(yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan
berperilaku). Menurut simpson (dalam sagala, 2003), pembelajaran
psikomotor terbagi atas tujuan kategori yaitu:
1) Persepsi
Aspek ini mengacu pada alatuntuk memperoleh kesadaran akan
suatu objek atau gerakan dan mengalihkannya kedalam kegiatan atau
perbuatan. Aspek ini merupakan tindakan yang paling rendah dalam
pembelajaran psikomotor.
2) Kesiapan
Aspek ini mengacu pada kesiapan memberikan respons secara
mental, fisik, maupun perasaan untuk suatu kegiatan. Aspek yang
berada satu tingkat diatas persepsi ini mensyaratkan perencanaan yang
matang.
3) Respons terbimbing (guide respons)
Aspek ini mengacu pada pemberian respons perilaku, gerakan-
gerakan yang diperlihatkan dan didemonstrasikan sebelumnya.
Latihan-latihan ujian sebelum mengikuti ujian sesungguhnya
merupakan salah satu contoh dari respons terbimbing. Aspek ini
berada satu tingkat di atas kesiapan.
4) Mekanisme (mechanical respons)
Aspek ini mengacu pada keadaan di mana respons fisik yang
dipelajari telah menjadi kebiasaan. Peserta didik yang selalu
melakukan latihan secara rutin sehingga menjadikan latihan tersebut
sebagai bagian dari dirinya merupakan contoh dari aspek mekanisme.
Aspek ini berada satu tingkat di atas respons terbimbing.
5) Respons yang kompleks (complex response)
Aspek ini mengacu pada pemberian respons atau penampilan
perilaku atau gerakan yang cukup rumit dengan terampil dan efisien.
Peserta didik terampil mengerjakan latihan sebelum ujian merupakan
salah satu contoh respons yang kompleks. Aspek ini berada satu
tingkat di atas mekanisme.

9
6) Penyesuaian pada gerakan atau adaptasi
Aspek ini mengacu pada kemampuan menyesuaikan respons
atau perilaku gerakan dengan situasi yang baru. Setelah menguasai
latihan dengan baik, bahkan mengerjakan soal yang sulit, seorang
peserta didik dapat menerapkan dan menggunakan kemampuannya
dalam ujian yang sebenarnya. Aspek ini berada satu tingkat di atas
respons yang kompleks.
7) Originalisasi
Aspek ini mengacu pada kemampuan menampilkan pola-pola
gerak gerik yang baru, dalam arti menciptakan perilaku dan gerakan
yang baru dilakukan atas prakarsa atau inisiatif sendiri. Setelah cukup
lama belajar, seorang peserta didik dapat menciptakan model latihan
yang berbeda dari teman-temannya. Aspek ini menduduki tingkat
paling tinggi dalam domain.

F. Prinsip pembelajaran dasar


Pembelajaran bergantung dari motivasi seseorang untuk belajar,
kemampuan belajar, serta lingkungan pembelajaran.
1. Motivasi untuk belajar
a. Perangkat perhatian
Perangkat perhatian yaitu status mental dari peserta didik untuk
fokus dan memahami materi. Ketidaknyamanan fisik, distraksi
lingkungan dan ansietas dapat mempengaruhi kemampuan seseorang
dalam belajar. Kondisi fisik seperti kelaparan, kelelahan dan nyeri
dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam berkonsentrasi,
sehingga sangat berpengaruh pada pembelajaran. Ansietas merupakan
perasaan tidak menentu, oleh karena itu ansietas bisa meningkatkan
atau bahkan menurunkan kemampuan seseorang di dalam memberikan
perhatian. Sedangkan distraksi lingkungan berpengaruh pada
kemampuan seseorang dalam memperhatikan pengajar dan aktivitas
dalam proses pembelajaran.

10
b. Motivasi
Motivasi merupakan dorongan yang membuat seseorang
mengambil atau melakukan suatu tindakan. Motivasi berasal dari motif
sosial, tugas dan fisik. Motivasi sosial dierlukan untuk berhubungan,
harga diri, atau penampilan sosial. Biasanya seorang individu mencari
oranglain dalam membandingkan kemampuan, pendapat, dan
emosinya. Motivasi fisik juga sering terjadi kepada klien, klien yang
mempunyai perubahan fungsi fisik biasanya termotivasi untuk
belajar. Tidak semua orang merasa perlu melakukan tindakan menjaga
dan mempertahankan kesehatan. Oleh karena itu, keyakinan bahwa
kesehatan adalah yang utama bisa dijadikan motivasi yang kuat untuk
seseorang dalam menjaga kesehatannya. Model keyakinan kesehatan
dapat digunakan oleh perawat di dalam melaksakan pendidikan
kesehatan kepada klien. Model ini dibuat untuk menjelaskan alasan
seseorang dalam mencoba tindakan kesehatan.
c. Adaptasi psikososial terhadap penyakit
Penurunan kesehatan tubuh sering kali sulit diterima oleh klien.
Secara psikologis proses berduka akan membuat klien membutuhkan
lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan implikasi emosi dan
fisik dari penyakit. Kesiapan seseorang untuk belajar bergantung pada
tingkat berduka. Ketika klientidak sanggup menerima realitas
penyakitnya, ia akan sulit atau bahkan tidak akan mau untuk diajak
belajar. Sehingga, pengajaran untuk klien harus dijadwalkan sesuai
dengan kesiapannya untuk belajar.
d. Partisipasi aktif
Keikutsertaan klien di dalam proses pengajaran dipengaruhi
oleh keinginan klien dalam mendapatkan pengetahuan. Dalam hal ini
klien tidak hanya terlihat sebagai seorang penerima pendidikan atau
asuhan kesehatan yang pasif, tetapi juga sebagai mitra aktif pemberian
asuhan.

11
2. Kemampuan untuk belajar
a. Kemampuan perkembangan
Perkembangan kognitif klien sangat berpengaruh terhadap
kemampuannya dalam belajar. Sebelum seseorang mempelajari
informasi baru, kedewasaan serta perkembangan kognitifnya mutlak
ada. Usia seseorang menunjukkan perkembangan kemampuannya
dalam proses belajar.
b. Kemampuan fisik
Selain kemampuan perkembangan, kemampuan seseorang di
dalam belajar juga bergantung dari tingkat perkembangan dan
kesehatan fisik secara umum. Kondisi seseorang yang menguras
tenaga juga bisa membuat kemampuan belajar seseorang menjadi
terganggu.
c. Lingkungan belajar
“Faktor dalam lingkungan fisik merupakan faktor dimana
pengajaran dilakukan sehingga membuat proses belajar tersebut
menjadi menyenangkan atau menjadi suatu pengalaman yang
menyulitkan. Perawat harus memilih lingkungan yang membantu klien
untuk memfokuskan diri pada tugas pembelajaran” (Potter dan Pery,
2005:346). Lingkungan ideal yang sesuai digunakan untuk
melangsungkan kegiatan belajar adalah ruangan dengan penerangan
yang cukup dan terdapat sirkulasi udara yang baik, suhu udara yang
nyaman, serta perabot yang layak. Suasana tenang juga dibutuhkan di
dalam melangsungkan kegiatan belajar.
G. Kebutuhan kesehatan klien
Kebutuahan kesehatan klien merupakan kebutuhan yang berpatokan
pada kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan manusia/klien merupakan unsur-
unsur yang dibutuhkan oleh manusia/klien dalam mempertahankan
keseimbangan fisiologis maupun psikologis, yang tentunya bertujuan
untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Walaupun setiap
orang mempunyai sifat tambahan, kebutuhan yang unik, setiap orang

12
mempunyai kebutuhan dasar manusia yang sama. Besarnya kebutuhan dasar
yang terpenuhi menentukan tingkat kesehatan dan posisi pada rentang sehat-
sakit. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow adalah sebuah teori yang
dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan antara kebutuhan dasar
manusia pada saat memberikan perawatan. Hierarki kebutuhan manusia
mengatur kebutuhan dasar dalam lima tingkatan prioritas yaitu:
1. Kebutuhan Fisiologis (Physiologic Needs)
Kebutuhan fisiologis memiliki prioritas tertinggi dalam hirarki
Maslow. Seorang yang beberapa kebutuhannya tidak terpenuhi secara
umum akan melakukan berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan
fisiologisnya terlebih dahulu. Manusia memiliki delapan macam
kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan akan oksigen dan pertukaran gas,
kebutuhan cairan dan elektrolit, kebutuhan nutrisi, kebutuhan eliminasi
urin dan fekal, kebutuhan istirahat dan tidur, kebutuhan tempat tinggal,
kebutuhan temperatur, serta kebutuhan seksual.
2. Kebutuhan Keselamatan dan Rasa Aman (Safety and Security Needs)
Kebutuhan keselamatan dan rasa aman yang dimaksud adalah
keselamatan dan rasa aman dari berbagai aspek, baik fisiologis maupun
psikologis yang mengancam diri.
3. Kebutuhan Rasa Cinta, Memiliki, dan Dimiliki (Love and Belonging
Needs)
Kebutuhan ini meliputi memberi dan menerima kasih sayang,
perasaan dimiliki dan hubungan yang berarti dengan orang lain,
kehangatan, persahabatan, serta mendapat tempat atau diakui dalam
keluarga, kelompok dan lingkungan sosialnya.
4. Kebutuhan Harga Diri (Self Esteen Need)
Kebutuhan ini meliputi perasaan tidak bergantung pada orang lain,
kompeten, serta penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Need for Self Actualization)
Kebutuhan ini meliputi kemampuan untuk dapat mengenal diri
dengan baik (mengenal dan memahami potensi diri), belajar memenuhi

13
kebutuhan sendiri – sendiri, tidak emosional, mempunyai dedikasi yang
tinggi, kreatif, serta mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan
sebagainya.
Menurut teori Maslow seseorang yang seluruh kebutuhannya
terpenuhi merupakan orang yang sehat, dan sesorang dengan satu atau
lebih kebutuhan yang tidak terpenuhi merupakan orang yang berisiko
untuk sakit atau mungkin tidak sehat pada satu atau lebih dimensi
manusia.
H. Penggabungan Proses Keperawatan dan Proses Pengajaran
Berikut ini adalah tabel perbandingan antara proses keperawatan dan
pengajaran menurut Potter dan Pery (2005:349)
Langkah Dasar Proses Keperawatan Proses Pengajaran
Pengkajian Kumpulkan data mengenai Kumpulkan data mengenai kebutuhan
kebutuhan fisik psikologis, sosial, belajar klien, motivasi, kemamuan
kultural, perkembangan dan untuk belajar serta sarana pengajaran
spiritual pasien itu sendiri, dari klien, keluarga, lingkungan
keluarga, tes diagnostik, catatan belajar, catatan medis, riwayat
medis, riwayat keperawatan dan keperawatan, dan literatur.
literatur.
Diagnosa Identifikasidiagnosa keperawatan Identifikasi kebutuhan pengajaran
keperawatan yang tepat. klien mengaccu pada tiga domain
pengajaran.
Perencanaan Kembangkan rencana asuhan Tetapkan tujuan pengajaran.
secara individual. Tetapkan Rumuskan dalam terminologi tingkah
prioritas diagnosa berdasarkan laku. Identifikasi prioritas yang
kebutuhan segera klien. berhubungan dengan kebutuhan
Rundingkan rencana asuhan belajar. Rundingkan dengan klien
dengan klien. tentang rencana pengajaran.
Identifikasi metode pengajaran yang
digunakan.
Implementasi Lakukan terapi asuhan Implementasikan metode pengajaran.
keperawatan. Libatkan klien Secara aktif libatkan klien dalam
sebagai peserta aktif dalam aktivitas pengajaran. Libatkan
asuhan keperawatan. Libatkan partisipasi keluarga sesuai kebutuhan.
keluarga dalam asuhan sesuai
kebutuhan.
Evaluasi Identifikasi keberhasilan dalam Nilai hasil proses belajar mengajar.
memenuhi hasil yang diharapkan Ukur kemampuan klien untuk
serta keberhasilan asuhan mencapai tujuan pengajaran. Ulangi
keperawatan. pengajaran bila dibutuhkan.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sekarang ini didalam praktik perawatan kesehatan untuk seorang
pasien, lebih ditekankan pada pendidikan kesehatan yang berkualitas.
Pendidikan untuk klien merupakan sesuatu yang sangat penting bagi seorang
perawat. Selain untuk kepentingan perawat, pendidikan kesehatan ini juga
memiliki peran penting pula bagi diri si pasien itu sendiri, sebab pasien
mempunyai hak untuk mendapatkan informasi mengenai diagnosis, prognosis,
pengobatan serta akibat dari pengobatan terhadap dirinya.

B. Saran
Sebagai seorang perawat kita haruslah memahami betul tentang
keadaan klien yang ingin mengetahui tentang dunia kesehatan. Jadi jadilah
perawat yang bisa memberi informasi dunia kesehatan kepada
klien/masyarakat.

15
DAFTAR PUSTAKA

Agus Sujanto,Drs. ( 1984 ) ; Psikologi Perkembangan, PT. Aksara Baru, Jakarta.

Aswan Zain, Drs ; Syaiful Bahri Djamarah, Drs ( 2002 ) ; Strategi Belajar
Mengajar, Rinka Cipta, Jakarta.

Lumbantobing, Prof. Dr. S.M. ( 1997 ) ; Anak dengan Mental


terbelakang, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

16