Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah kependudukan dewasa ini merupakan masalah penting yang

mendapat perhatian dan pembahasan yang serius dari peminat dan ahli

kependudukan, baik diseluruh dunia maupun diIndonesia. Pertambahan

penduduk yang cepat dan tidak seimbang dengan naiknya produksi akan

mengakibatkan terjadinya tekanan-tekanan yang berat pada sektor penyediaan

pangan, sandang, perumahan, lapangan kerja, fasilitas kesehatan, pendidikan,

pengangkutan, perhubungan dan sebagainya. Pertambahan penduduk yang

tidak terkendali, dapat membahayakan aspirasi penduduk untuk memperbaiki

tingkat hidupnya, lahir dan batin melalui usaha dan upaya pembangunan.

Peledakan penduduk pada akhirnya akan menyukarkan pula pemerataan

kemakmuran masyarakat itu sendiri. Ada baiknya kita kemukakan disini apa

yang dikemukakan oleh Widjojo (1970), apabila keluarga Berencana gagal,

maka sebagai akibatnya akan timbul malapetaka, karena hasil produksi akan

ditelan oleh pertambahan penduduk (Mochtar 1998).

Keluarga Berencana merupakan upaya peningkatan kepedulian dan peran serta

masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran,

pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk

mewujudkan keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera. Sedangkan Kesehatan

1
Reproduksi merupakan kesehatan secara fisik, mental, dan kesejahteraan

sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi

serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan

kecacatan. Dalam pengertian kesehatan reproduksi tersebut, terkandung di

dalamnya pengertian tentang hak-hak reproduksi, sebagai bagian dari hak

azasi manusia. Hak-hak reproduksi tersebut antara lain adalah hak untuk

mendapatkan informasi (Sarwono Prawirohardjo, 2002).

Visi paradigma baru program keluarga berencana nasional adalah untuk

mewujudkan keluarga berkualitas tahun 2015. keluarga yang berkualitas

adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak

yang ideal, berwawasan ke depan, tanggung jawab, harmonis dan bertaqwa

kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan misi dari keluarga berencana nasional pada

paradigma baru adalah menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak

reproduksi sebagai integral dalam meningkatkan kualitas keluarga. Keluarga

adalah salah satu dari lima matra kependudukan yang sangat mempengaruhi

terwujudny penduduk yang berkualitas (Sarwono Prawirohardjo, 2003).

Indonesia menduduki urutan ke 5 di dunia dalam jajaran negara berpenduduk

besar. Pertumbuhan karena perpindahan (emigrasi) diIndonesia dewasa ini

tidak begitu berarti karena kecil jumlahnya. Pada tahun 1980 setelah 11 tahun

dilaksanakannya program keluarga berencana diIndonesia dengan berhasil

angka pertumbuhan penduduk turun menjadi 2,32% , walaupun angka ini

2
relatif masih tinggi hal ini disebabkan karna tingkat kematian turun lebih

rendah.

Laju pertambahan penduduk di Indonesia dimasa ini sangat kurang. Hal ini

dapat dilihat dari laju pertumbuhan di Indonesia berdasarkan sensus tahun

2004 mencapai 1,26% sedangkan jumlah kelahiran pertahun 1000 penduduk

mencapai 20,02%. Adanya program KB diharapkan ada keikutsertaan dari

seluruh pihak dalam mewujudkan keberhasilan KB di Indonesia. Kontrasepsi

hormonal seperti suntik memiliki daya kerja yang lama, tidak membutuhkan

pemakaian setiap hari tetapi tetap efektif dan tingkat reversibilitasnya tinggi.

Namun setiap metode kontrasepsi tentu mempunyai efek samping tersendiri,

metode hormonal seperti suntik memiliki efek samping salah satunya adalah

perubahan berat badan.

Salah satu kontrasepsi yang populer di Indonesia adalah kontrasepsi suntik.

Kontrasepsi suntik yang digunakan adalah Noretisteron Enentat (NETEN),

Depo Medroksi Progesteron Acetat (DMPA) dan cyclofem. (sarwono

Prawirohardjo , 2006).

Kontrasepsi suntik memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelemahan dari

kontrasepsi suntik adalah terganggunya pola haid diantaranya adalah amenore,

dan muncul bercak (spotting), terlambatnya kembali kesuburan setelah

penghentian pemakaian. Bertambah berat 2kg dari berat badan pada

kunjungan pertama. Pertambahan berat badan disebabkan oleh retensi cairan,

3
bertambahnya lemak pada tubuh, dan meningkatkan selera makan ( Hartanto

2004).

Berdasarkan data dari Pemberdayaan Perempuan Dan KB Kota Batam Bulan

januari-april tahun 2010, menunjukan penggunaan suntik 5.2228 orang, Pil

4.2247 orang, Kondom 7806 orang, IUD 9652 orang, Implant 5150 orang,

MOP 159 orang, MOW 1415 orang. Total Keseluruhannya 118657 orang

(66.4%) Menggunakan KB dari 12 Puskesmas yangt ada di Kota Batam.

Data yang menggunakan KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Sei lekop

kecamatan Sagulung dari bulan Januari – April 2010 . Total keseluruhannya

1011 orang. KB suntik merupakan salah satu alat kontrasepsi suntik yang

aman, sederhana, efektif, dan dapat di pakai pada pasca persalinan, selain itu

merupakan gerakan KB Nasional.

Berdasarkan uraian diatas tingginya penggunaan alat kontrasepsi suntik dan

tingginya efek sampingnya dibanding penggunaan alat kontrasepsi yang

lainnya. Maka peneliti bermaksud untuk mengetahui Karakteristik pasangan

usia subur yang menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan di puskesmas sei

lekop kota batam.

1.2 Identifikasi Masalah


Pada dasarnya semua alat kontrasepsi tentu mempunyai efek samping

tersendiri, Tapi salah satu kontrasepsi yang populer di indonesia adalah

kontrasepsi suntik, akan tetapi banyak Ibu-ibu lebih memilih Pil dari pada

4
suntik, dengan alasan haid tidak lancar, bertambahnya berat badan, dan ada

juga yang bilang karena takut jarum suntik, padahal yang kita ketahui KB

suntik memiliki daya kerja yang efektif, yang hanya disuntik 1 bulan sekali

atau 3 bulan sekali, dibandingkan pil KB yang harus setiap hari diminum, dan

terkadang lupa sehingga bisa terjadi kehamilan, hal ini terjadi karna rendahnya

pengetahuan ibu terntang keuntungan yang didapat dari suntik KB, sehingga

perlu adanya penyuluhan dan untuk menyampaikan manfaat dari KB tersebut.

Maka dari itu saya berminat untuk meneliti di puskesmas sei panas karna

tingkat pengetahuan ibu tentang kontrasepsi suntik sangat kurang. dan

berdasarkan data yang menggunakan KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Sei

Lekop Kota Batam. dari bulan Januari – April 2010 yaitu 1011 orang.

1.3 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana

Karakteristik Pasangan Usia Subur Mengikuti Program KB Suntik 3

Bulan di Puskesmas Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota Batam Tahun 2010.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui karakterisik pasangan usia subur yang mengikuti

program KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Sei Lekop Kota Batam 2010.

1.4.2 Tujuan Khusus


a. Untuk Mengetahui Distribusi pasangan usia subur berdasarkan usia

yang mengikuti KB suntik 3 bulan.

5
b. Untuk mengetahui Distribusi pasangan usia subur berdasarkan

pendidikan yang mengikuti KB suntik 3 bulan.

c. Untuk Mengetahui Distribusi pasangan usia subur berdasarkan tingkat

ekonomi yang mengikuti KB suntik 3 bulan.

d. Untuk mengetahui Distribusi pasangan usia subur berdasarkan paritas

yang mengikuti KB sutik 3 bulan.

1.5 Manfaat penelitian


1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan

Dapat dijadikan sumber referensi, berkaitan dengan karakteristik pasangan

usia subur tentang alat kontrasepsi Suntik 3 bulan

1.5.2 Bagi Puskesmas

Agar dapat dijadikan sebagai masukan tentang karakteristik pasangan usia

subur yang mengikuti KB Suntik 3 bulan

1.5.3 Bagi Ibu –Ibu Yang Mengunakan KB

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan ibu tentang

karakteristik pasangan usia subur yang menggunakan KB suntik 3 bualan

1.5.4 Bagi Peneliti Selanjutnya

Untuk mendapatkan infomasi yang jelas mengenai karakteristik pasangan

usia subur yang mengikuti KB suntik 3 bulan di pukesmas sei lekop

sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan ilmu kebidanan

serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

2.1.1 Pasangan Usia Subur

Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan suami isteri yang isteri dan

suaminya berusia 15-49 tahun (Datastatistik-Indonesia, 2007).

2.1.2 Keluarga Berencana

Menurut WHO Expert Committee (1970), Keluarga Berencana adalah tindakan

yang membantu individu atau pasangan suami isteri untuk :

2 Mendapatkan objektif-objektif tertentu.

3 Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan.

4 Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan.

5 Mengatur interval di antara kehamilan.

6 Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami

isteri.

7 Menentukan jumlah anak dalam keluarga.

Secara garis besar definisi ini mencakup beberapa komponen dalam

pelayanan Kependudukan/KB yang dapat diberikan sebagai berikut:

7
a) Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE).

b) Konseling.

c) Pelayanan kontrasepsi (PK).

d) Pelayanan infertilitas.

e) Pendidikan seks (sex education).

f) Konsultasi pra-perkawinan dan konsultasi perkawinan.

g) Konsultasi genetik.

h) Test keganasan.

i) Adopsi. (Hanafi hartanto, 2003)

2.1.3 Sasaran Program Keluarga Berencana

Program Nasional KB diarahkan pada dua bentuk sasaran :

1.Sasaran langsung :

Yaitu Pasangan Usia Subur (PUS) (15-49 tahun), dengan jalan mereka secara

bertahap menjadi peserta KB yang aktif lestari, sehingga memberi efek

langsung penurunan fertilitas.

2.Sasaran tidak langsung :

Yaitu organisasi-organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakatan, instansi-

instansi pemerintah maupun swasta, tokoh-tokoh masyarakat (alim ulama,

wanita,dan pemuda), yang diharapkan dapat memberikan dukungannya dalam

pelembagaan NKKBS.

8
Untuk mencapai sukses yang diidamkan tersebut maka ditempuh strategi tiga

demensi yaitu:

1. Perluasan Jangkauan

Semua jajaran pembangunan diajak serta untuk ikut menangani program KB

dengan sebaik-baiknya. Juga sekaligus mengajak semua PUS yang potensial

untuk menjadi akseptor KB yang les tari. Istri pegawai negeri, ABRI dan

pemimpin masyarakat diajak menjadi pelopor yang dapat diandalkan agar

masyarakat mengikutinya dengan senang hati dan penuh kebanggaan.

2. Pembinaan

Organisasi yang sudah mulai ikut serta menangani program diajak serta

mendalami lebih terperinci apa yang terjadi, dan kepada mereka makin

diberi kepercayaan untuk ikut menangani program KB dalam lingkungannya

sendiri. Para akseptor mulai diajak untuk memilih metode KB yang lebih

dapat diandalkan dan tujuan KB makin diperluas untuk meningkatkan

kesejahteraan keluarga dengan mengikut-sertakan para akseptor itu sendiri

untuk menjadi sumber daya manusia, menjadi petugas sukarela, untuk

lingkungannya sendiri. Mulai dikenalkan program-program Pos KB,

Posyandu, kegiatan peningkatan pendapatan keluarga, pembinaan anak-

anak dan sebagainya.

9
3. Pelembagaan dan Pembudayaan

Dimulai dengan alih kelolah dan alih peran oleh masyarakat sendiri dan

akhirnya sampai kepada tahapan awal KB-Mandiri yaitu masyarakat akan

mencapai suatu tingkat kesadaran di mana ber-KB bukan hanya karena

ajakan atau suruhan semata melainkan atas dasar kesadaran dan keyakinan

sendiri. Dengan pengertian KB atas kesadaran dan keyakinan sendiri

tersebut kini tengah digalakkan KB-Mandiri.

Strategi ini dilengkapi dengan pendekatan Panca Karya yang mempertajam

sasaran dan memperjelas target, yaitu pasangan usia muda dengan paritas

rendah, PUS dengan jumlah anak yang cukup, generasi muda, remaja dan

anak-anak, pelembagaan fisik dengan pengelolaan yang profesional dan

pelembagaan non-fisik yang ikut menjamin ketenangan batin, pengetahuan

dan sikap yang mantap serta kesertaan yang dilandasi dengan kepuasaan

batiniah yang tidak tergoyahkan.

Dengan penajaman pendekatan yang bersifat kemasyarakatan dan wilayah

paripurna tersebut, maka program KB tidak menunggu sasarannya lagi,

tetapi bersifat aktif dan ofensif menolong yang lemah dan membantu

mereka yang siap untuk mengambil alih dan berperan dalam Gerakan KB

yang makin mandiri (Hanafi hartanto, 2003).

10
2.1.4 Pelayanan Keluarga Berencana Terpadu

Meliputi pelayanan tehnis dan pelayanan penyuluhan dari enam program

utama yaitu:

1. Pelayanan Gizi

Penimbangan balita, pemberian paket gizi, penyuluhan gizi.

2. Pelayanan KIA

Pemeriksaan kehamilan, bayi, penimbangan bayi, pemeriksaan ibu menyusui,


penyuluhan KIA, dan pemeriksaan anak balita.
3. Pelayanan KB

Pelayanan kontrasepsi, pemeriksaan ulang kontrasepsi, dan penyuluhan KB.


4. Pelayanan Imunisasi

Pemberian immunisasi pada ibu hamil, bayi dan penyuluhan immunisasi.


5. Pelayanan Diare

Pemberian Oralit, penyuluhan diare, pembuatan larutan GulaGaram.


6. Pelayanan Kesehatan Lingkungan:

Pengadaan jamban keluarga, sarana air bersih, sarana pembuangan air limbah,
dan penyuluhan kesehatan lingkungan (Hanafi hartanto, 2003).

2.2 Kontrasepsi

Kontrasepsi suntik 3 bulan adalah hormon yang diberikan setiap 3 bulan dengan

cara disuntikkan intra muskuler (di daerah bokong)

11
2.2.1 Mekanisme Kerja Kontrasepsi Suntik 3 bulan

1. Primer

Kadar FSH dan LH menurun dan tidak terjadi sentakan (LH surge). Respons

kelenjar hypophyse terhadap gonadotropin-releasing hormon eksogenous tidak

berubah, sehingga memberi kesan proses Terjadi di hipotalamus dari pada di

kelenjar hypophyse. Penggunaan kontrasepsi suntik tidak menyebabkan

keadaan hipo-estrogenik.

Pada pemakaian DMPA, endometrium menjadi dangkal dan atrofis dengan

kelenjar- kelenjar yang tidak aktif. Sering stroma menjadi oedematous. Dengan

pemakaian jangka lama endoetrium dapat menjadi sedemikian sedikitnya,

sehingga tidak didapatkan atau hanya didapatkan sedikit sekali jaringan bila

dilakukan biopsi.(Hartanto, 2004).

2. Sekunder

a. Lendir serviks menjadi kental dan sedikit , sehingga merupakan barier

terhadap spermatozoa.

b.Membuat endometrium menjadi kurang baik/layak untuk implantasinya

dari ovum yang telah dibuahi.

c. Mungkin mempengaruhi kecepatan transfor ovum didalam tuba falopii.

12
(Hartanto, 2004).

Depo provera disingkat DMPA berisi depot medoksiprogesteron asetat dan

diberikan dalam suntikan tunggal 150mg secara intramuscular setiap 12 minggu.

DMPA saat ini tersedia dalam spuit yang sebelumnya telah diisi dan dianjurkan

untuk diberikan tidak lebih dari 12 minggu dan 5hari setelah suntikan terakhir

(Hartanto, 2004).

2.2.2 Keuntungan dan kerugian KB suntik 3 bulan

2.2.3 Keuntungan KB suntik 3 bulan

a.Mengurangi resiko terjadinya infeksi atau PID

b.Mengurangi ferekuensi kejang pada gangguan kejang

c.Tidak berintraksi dengan obt-obat lain yang dapat merugikan

keefektifitas kontrasepsi.

2.2.4 Kerugian KB suntik 3 bulan

a.Sangat tergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan(harus

kembali suntik)

b.Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntik berikutnya.

13
c. Pemasalahan berat badan merupakan efek samping tersering.

2.2.5 Efek Samping KB Suntik

1. Tingginya insiden gangguan menstruasi dengann amenore atau

perdarahan ireguler.

2. Gangguan haid, ini yang paling sering terjadi dan

yang paling mengganggu.

3..Berat badan yang bertambah umunya berat badan terlalu besar,bervariasi

antar kurang dari 1 kg sampai 5 kg dalam tahun pertama penyebab

pertambahan berat badan tidak jelas. tempatnya terjadi karena

bertambahnya lemak tubuh, dan bukan retensi cairan tubuh, hipotesa para

ahli: DMPA merangsang pusat pengendali nafsu makan dihipotalamus, yang

menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari

biasanya

4. Sakit kepala

Insidensi pada sakit kepala adalah 1-17% akseptor

5. Pada sistem kardiovaskulear efeknya sangat sedikit mungkin karena ada

sediki peninggian dari kadarinsulin dan penurunan HDL Kolestrol.(Hartanto,

2004).

2.3 Variabel Karakteristik

Karakteristik adalah sifat khas dan perwatakan tertentu. Karakteristik

mencakup hal-hal sebagai berikut : usia, pendidikan , ekonomi, gaya hidup

14
(pola makan, pola komunikasi, kebiasaan mandi), agama, ras dan lain-lain

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998).

2.3.1 Usia

Usia adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Depdiknas, 2002). Umur adalah

lama hidup seseorang sejak dilahirkan. Umur dapat dikelompokkan menjadi tiga

yaitu umur < 20 tahun, 20-35 tahun dan >35 tahun (Anonim, 2009 ).

2.3.2 Pendidikan

Pendidikan merupakan perubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok

orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan

pelatihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000) pendidikan mempunyai

pengaruh dalam hal pemilihan kontrasepsi.

Menurut indikator kesejahteraan rakyat (2007) "Pendidikan terdiri atas pendidikan

formal dan non formal, jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar (SD),

pendidikan menengah (SMP dan SMA), dan pendidikan tinggi (Akademi dan

Universitas), jenjang pendidikan non formal dan lain sebagainya.

Adapun tingkat pendidikan pasangan usia subur yang diteliti meliputi : Pendidikan

dasar (SD-SMP), Pendidikan menengah (SMA dan sederajat), Perguruan Tinggi.

15
2.3.3 Ekonomi

Ekonomi adalah sebuah kegiatan yang bisa menghasilkan uang. Ekonomi juga

cakupan urusan keuangan rumah tangga (Depdiknas, 2002). Ekonomi adalah ilmu

mengenai azas-azas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta

kekayaan, seperti hal keuangan, pendistribusian dan perdagangan (KBBI, 1990).

Penghasilan adalah seluruh penerimaan baik barang atau uang dari pihak lain atau

hasil sendiri dengan jumlah uang atau harga yang berlaku saat ini (KBBI, 1990).

Tingkat penghasilan atau pendapatan adalah gambaran yang lebih jelas tentang

posisi ekonomi keluarga dalam masyarakat yang merupakan jumlah seluruh

penghasilan dan kekayaan keluarga sehingga penghasilan dapat digolongkan

menjadi 3 golongan yaitu penghasilan tinggi, sedang, dan rendah. Sehubungan

dengan tingkat penghasilan. (Data Biro Pusat Statistik, 2007) mengelompokkan

sebagai berikut :

Tingkat penghasilan tinggi : Rp. >1.400.000

Tingkat penghasilan sedang : Rp. 750.000 – Rp. 1.400.000

Tingkat penghasilan rendah : < Rp. 750.000

2.3.4 Paritas

Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang wanita.

Berdasarkan pengertian tersebut maka paritas mempengaruhi pemilihan jenis alat

16
kontrasepsi. Paritas yang diteliti adalah paritas 1, paritas 2-3, paritas >3. hal ini

dikarenakan akseptor yang mempunyai anak lebih dari tiga cenderung mengalami

resiko tinggi persalinan. Apabila terjadi kehamilan tersebut digolongkan dalam

kehamilan resiko tinggi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990).

BAB III

17
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang hanya menggunakan satu
variabel saja yaitu Karakteristik Pasangan Usia Subur Yang Mengikuti KB
Suntik 3 Bulan.

Konsep yang ingin diamati atau di ukur melalui penelitian yang akan
dilakukan.

Karakteristik Pasangan Usia Subur:

a) Usia

b) Pendidikan

c) Ekonomi

d) Paritas

Gambar 1 Bagan Kerangka Konsep

3.2 Defenisi Operasional


No Jenis Variabel Definisi Alat Ukur Cara Hasil Ukur Skala

18
Operasional Ukur Ukur

1 Karakteristik Kuisioner Check e. < 20 tahu Ordinal


Pasangan Lama hidup List f. 20 sampai 35
Usia Subur seseorang sejak tahun
a. Umur lahir. g. > 35 tahun

Interpal
b.Pendidikan
7. SD
8. SMP
9. SLTP
10. Perguruan
Tinggi
Jenjang Ordinal
pendidikan
c.Tingkat terakhir yang Kuisioner
Ekonomi ditempuh oleh >1.100.000
responden <1.100.00

Penghasilan
d. Paritas adalah seluruh Interpal
penerimaan
kerja baik barang Kuisioner a. Primipara :1
atau uang dari b. Multipara :
pihak lain atau 2-5
hasil sendiri c. Grandemulti
dengan jumlah
: >5
uang atau harga
yang berlaku
saat ini

Paritas adalah

19
banyaknya
kelahiran hidup
yang dimiliki oleh
seorang wanita Ordinal

Kuisioner

3.3 Rancangan penelitian


Penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif yaitu suatu metode
penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran

atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005)

3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.4.1 Lokasi
Lokasi penelitian dilaksanakan di Puskesmas Sei Lekop Kota Batam

3.4.2 Waktu Penelitian


Waktu penelitian dilaksanakan bulan Juni 2010.

3.5 Populasi dan Sample


3.5.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah Semua Ibu – Ibu yang mengikuti KB

suntik 3 bulan di Puskesmas Sei Lekop sebanyak 91 orang.

3.5.2 Sample

20
Pengambilan sampel dilakukan dengan Consecutive sampling cara ini diterapkan
dengan memilih sampel setelah sebelumnya menetapkan kriteria yang harus
dipenuhi. Sampel diambil dalam satu kurun waktu yang telah ditetapkan oleh
peneliti sampai jumlah sampel terpenuhi.

Adapun untuk mengetahui besar sampel yang akan diteliti yaitu dengan

n= N mempergunakan rumus :

Ket : N = Besar Populasi


1+N(d2)
n = Besar sampel yang akan diteliti

d = Tingkat kepercayaan / ketetapan yang

diinginkan, pada

penelitian ini besar nilai d=10%

1 = Konstanta

Perhitungan :

n = 1011

1+1011(0,12)

n = 1011

1+1011(0,01)

n = 1011

1+10,11

n = 1011

11,11

21
n = 90,99 (91) orang

setelah dilakukan perhitungan menurut rumus maka didapatkan besar sampel


adalah 91 orang.

3.6 Instrumen penelitian

Mengunakan alat ukur berupa koesioner yang berisi pertanyaan-partanyaan


untuk menjaring data pengetahuan responden tentang karakteristik pasangan
usia subur yang mengikuti KB suntik 3 bulan.disiapkan pertanyaan pilihan
ganda dengan menyilang salah satu jawaban yang benar. Jika jawaban
koesioner benar berikan tanda check list pada jawaban yang diangap benar.

3.7 Prosedur penelitian

Prosedur pengumpulan data yang di gunakan adalah :

1. Mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada instansi pendidikan


Progaram Studi D III Ilmu Kebidanan Universitas Batam.
2. Mengirimkan permohonan izin yang diperoleh ketempat penelitian.
3. Setelah mendapat izin dari Kepala Puskesmas Sei Lekop Kota Batam, peneliti
membagikan koesioner kepada responden.
4. Peneliti mengenalkan diri pada subjek penelitian.
5. Peneliti menjelaskan kepada responden tentang tujuan dari penelitian tersebut.
6. Responden diberikan tentang cara pengisian kuesioner dan bila ada hal-hal yang
belum jelas, maka respoden dapat bertanya kepada peneliti.
7. Kusioner yang telah diisi kemudian dikumpulkan dan diperiksa kelengkapanya
oleh peneliti, ada kuesioner yang belum lengkap langsung dilengkapi pada saat
itu.
8. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan koesioner
9. Bila telah selesai, peneliti mengakiri pertemuannya dengan responden

3.8 Metode Pengumpulan Data

22
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuisioner, kuisioner diartikan
sebagai daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik,sudah matang, dimana
responden tinggal memberikan jawaban atau dengan memberikan tanda-tanda
tertentu.

3.9 Pengolahan Data

Teknik pengolahan data dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan

mengunakan langka-langkah sebagai berikut:

3.9.1 Editing

Memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para pengumpul

data.

3.9.2 Coding

Mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden kedalam


kategori.Biasanya klasifikasi dilakukan dengan cara memberi tanda/kode
berbentuk angka pada masing-masing jawaban.

3.9.3 Tabulating

Untuk mempermuda analisa data, pengolahan data serta pengambilan


kesimpulan, data yang dimasukan kedalam bentuk table distribusi frekwensi.
Data yang dikumpulkan dianalisa secara deskriptif dengan melihat persentase

23
data yang terkumpul dan hasilnya disajikan dalam bentuk table distribusi
frekwensi.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum dan Lokasi Penelitian

4.1.1 Sejarah Puskesmas

24
Puskesmas Sei Lekkop terletak di wilayah Kelurahan Sei Lekop,Kecamatan

Sagulung, Kota Batam,yang mempunyai wilayah kerja satu kecamatan yaitu

Kecamatan Sagulung dengan 6 kelurahan yaitu : Sungai Lekop, Sagulung Kota, Sei

Pelunggut, Sei Langkai, Tembesi, dan Sei Binti. Luas wilayah Kerja Puskesmas Sei

Lekop adalah seluas 64 km2.

Wilayah kerja Puskesmas Sei Lekop berbatasan dengan :

1. Bagian Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Sagulung

2. Bagian Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Bulang

3. Bagian Timur : Berbatasan dengan Kec.Sekupang

4. Bagian Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Sei.Beduk

4.1.2 Data Sarana

Sarana yang dimiliki oleh Puskesmas Sei Lekop Kecamatan Sagulung adalah:

a. Gedung Puskesmas : 1 buah

b. Posyandu : 32 buah

c. Mobil Ambulance : 1 buah

d. Kendaraan Roda 2 : 2 buah

4.1.3 Data Tenaga

25
Jumlah tenaga di Puskesmas Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota Batam adalah

sebagai berikut:

a. Dokter Umum : 3 buah

b. Apoteker : 2 orang

c . Bidan : 9 orang

d . Perawat : 6 orang

e. Asisten Apoteker : 2 orang

f. Analis : 2 orang

g. Petugas Gigi : 1 orang

h. Perawat Gigi : 2 orang

i. Petugas Sanitasi : 2 orang

4.1.4 Struktur Organisai

1. Struktur organisasi

Struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas

masing-masing puskesmas. Penyusunan struktur organisasi puskesmas

disatukan atau kota dilakukan dengan peraturan daerah. Sebagai acuan

26
dapat dipergunakan oleh pola struktur organisasi puskesmas sebagai

berikut :

a. Kepala Puskesmas
b. Unit tata usaha yang bertanggung jawab membantu kepala

puskesmas dalam pengolahan : Data dan informasi Perencanaan

dan penelitian
c. Unit pelaksanaan teknis fungsional puskesmas
d. Jaringan pelayanan kesehatan Puskesmas

2. Susunan organisasi puskesmas


a. Unsur Pemimpin : Kepala Puskesmas
b. Unsur pembantu puskesmas : Urusan Tata Usaha
c. Unsur Pelaksanaan : Unit I, Unit II, Unit III, Unit IV,

Unit V, Unit VI, Unit VII

4.1.5 Visi dan Misi Puskesmas

a. Visi puskesmas

Mewujudkan kecamatan sehat yaitu masyarakat yang hidup dalam

lingkungan dan perilaku sehat memiliki kemampuan untuk menjangkau

pelayanan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat

kesehatan yang setinggi – tingginya.

b. Misi Puskesmas

1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan dimana

pembangunan agar memperhatikan aspek kesehatan sehingga tidak

27
menimbulkan dampak yang berpengaruh tidak sehat terhadap

lingkungan dan kesehatan masyarakat.


2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan

keterjangkaun pelayanan kesehatan


4. Memelihara dan meninggikan kesehatan peoranagn dan

masyarakat beserta lingkungan.

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Karakteristik Pasangan Usia Subur Berdasarkan Usia

Berdasarkan Usia dari 91 Pasangan Usia Subur (PUS) yang mengikuti KB suntik

3 bulan di puskesmas sei lekop Kecamatan sagulung kota batam dapat

dikelompokkan pada tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2

Distribusi Responden Berdasarkan Usia diPuskesmas

Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota Batam

Tahun 2010

No Usia f %

1 < 20 tahun 2 2,19

2 20-35 tahun 68 74,7

3 > 35 tahun 21 23,0

Jumlah 91 100

28
Berdasarkan tabel diatas dari 91 Pasangan Usia Subur (PUS) yang mengikuti

KB suntik 3 bulan yang terbanyak adalah usia 20-35 tahun dengan jumlah 68

responden (74,7%) dan yang Sedang adalah usia > 35 tahun dengan jumlah

21 responden (23,0%) terkecil adalah usia < 20 tahu dengan jumlah 2

responden (2,19%).

4.2.3 Karakteristik Pasangan Usia Subur Berdasarkan Pendidikan

Berdasarkan pendidikan dari 91 Pasangan Usia Subur (PUS) yang mengikuti KB

Suntik 3 bulan di Puskesmas sei lekop Kecamatan Sagulung, dapat

dikelompokkan pada tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.3

Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan di Puskesmas

Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota Batam

Tahun 2010

No Pendidikan f %

1 Rendah (SD dan SMP) 60 66

2 Sedang (SMA) 30 33

29
3 Tinggi (PT) 1 1,1

Jumlah 91 100

Berdasarkan tabel diatas dari 91 Pasangan Usia Subur (PUS) yang mengikuti

KB Suntik 3 bulan yang terbanyak adalah berpendidikan rendah (SD dan SMP)

dengan jumlah 66 responden (66%) dan yang terkecil adalah pendidikan tinggi

(PT) dengan jumlah 1 responden (1,1%).

4.2.3 Karakteristik Pasngan Usia Subur Berdasarkan Tingkat Ekonomi

Berdasarkan tingkat Ekonomi dari 91 Pasangan Usia Subur (PUS) yang mengikuti

KB Suntik 3 bulan di Puskesmas Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota Batam

dapat dikelompokkan pada tabel 4.4 berikut ini.

Tabel 4.4

Distribusi Responden Berdasarkan Ekonomi di Puskesmas

Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota Batam

Tahun 2010

No Tingkat Ekonomi f %

1 Tinggi (> Rp. 1.100.000) 31 34

2 Rendah (<Rp.1.100.000) 60 66

30
100
Jumlah 91

Berdasarkan table diatas dari 91 Pasangan Usia Subur (PUS) yang mengikuti KB

Suntik 3 Bulan yang terbanyak adalah dengan tingkat ekonomi rendah (< Rp.

1.100.000,-) dengan jumlah 60 responden (66%) dan yang terkecil adalah

dengan tingkat ekonomi tinggi (> Rp. 1.100.000,-) dengan jumlah 31 responden

(34%).

4.2.4 Karakteristik Pasangan Usia Subur Berdasarkan Paritas

Berdasarkan Paritas dari 91 Pasangan Usia Subur (PUS) yang mengikuti KB

Suntik 3 Bulan di Puskesmas Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota Batam dapat

dikelompokkan pada tablel 4.2.4 berikut ini.

Tabel 4.5

Distribusi Responden Berdasarkan Paritas di Puskesmas

Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota Batam

Tahun 2010

No Paritas f %

1 Primipara (1) 12 13,18

2 Multigravida (2-5) 63 69,23

31
3 Grande Multi (> 5) 16 17,58

Jumlah 91 100

Berdasarkan tablel diatas dari 91 Pasangan Usia Subur (PUS) yang mengikuti KB

Suntik 3 Bulan yang terbanyak adalah Multigravida dengan jumlah 63 responden

(69,23%) dan yang Sedang Grande Multi dengan jumlah 16 responden (17,58%)

terkecil adalah Primipara dengan jumlah 12 responden (13,18%).

4.3 Pembahasan

Hasil analisis penelitian tentang karakteristik Pasangan Usia Subur (PUS) yang

mengikuti KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota

Batam. Tahun 2010 diperoleh hasil bahwa:

4.3.1 Karakteristik Pasangan Usia Subur Berdasarkan Usia

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik usia dari PUS yang mengikuti

KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota Batam

terbanyak berusia < 20 tahun-35 dengan jumlah 68 orang (74,7%) tahun yang

merupakan usia dengan fertilitas yang tinggi yang merupakan sasaran langsung

dari program Keluarga Berencana Nasional (Hanafi hartanto, 2003).

32
Usia merupakan ciri dari kedewasaan fisik dan kematangan kepribadian yang erat

hubunganya dengan pengambil keputusan, mulai umur 21 tahun secara hokum

dikatakan mulai masa dewasa dan pada umur tiga puluh tahunan telah mampu

menyelesaikan masalah dengan cukup baik,jadi stabil dan tenang secara

emosional. Jad ibu yang lebih muda kemampuannya lebih baik dari pada yang

lebih tua.

Usia ibu mempunyai pengaruh terhadap kehamilan, diusia kurang dari 25 adalah

umur yang dianggap terlalu muda untuk hamil dan melahirkan karena

endometrium belum siap menerima hasil konsepsi dan bila hamil diatas 35 tahun

tidak aman organ reproduksi dan fungsi organ tubuh lainnya sudah mulai

menurun dan kesehatan ibu tidak sebaik dulu. (jame R. Scoot, 2002).

4.3.2 Karakteristik Pasangan Usia Subur Berdasarkan Pendidikan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik Pasangan Usia Subur (PUS)

yang mengikuti KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Sei Lekop Kecamatan Sagulung

Kota Batam berdasarkan pendidikan rendah yaitu sebanyak 60 orang (66%).

Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Notoamodjo (2003) yang menyatakan

bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam pembentukan

33
perilaku. Di samping itu pendidikan mempunyai kaitan bermakna dan positif

dengan norma besarnya keluarga dalam penerimaan KB atau negatif terhadap

jumlah anak yang dimiliki. Makin tinggi tingkat pendidikan ibu makin tinggi pula

perilaku penerimaannya terhadap KB sebaliknya atau makin tinggi tingkat

pendidikan ibu makin sedikit jumlah anak yang dimiliki dan sebaliknya

(http://www.litbangda-sulsel.go.id/ modules.php).

Pendidikan seseorang berbeda-beda akan juga mempengaruhi seseorang dalam

pengambilan keputusan, pada ibu yang berpendidikan tinggi lebih muda menerima

suatu ide baru dibandingkan ibu yang berpendidikan rendah sehingga informasi

lebih muda dapat diterima dan di laksanakan. Tingkat pendidikan yang diperoleh

seseorang dari bangku sekolah formal dapat mempengaruhi pengetahuan

seseorang.Makin tinggi pendidikan seseorang, makin tinggi pengetahuannyaa

tentang kesehatan.

Pendidikan yang rendah dapat menimbulkan kebodohan-kebodohan yang

merupakan salah satu faktor sosial budaya yang berperan pada tingginya angka

kematian maternal (Prawiharja,2005).

4.3.3 Karakteristik Pasangan Usia Subur Berdasarkan Tingkat Ekonomi

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik tingkat ekonomi PUS yang

mengikuti KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Sei Lekop Kecamatan Sagulung Kota

Batam terbanyak dengan tingkat ekonomi yang rendah Sebanyak 60 orang (66%).

34
Tingkat ekonomi yang rendah menjadi salah satu penyebab rendah keikutsertaan

dalam program KB karena PUS lebih terfokus untuk memenuhi kebutuhan pokok

hidupnya dibandingkan dengan kebutuhan lain.

Tingkat ekonomi yang rendah mencerminkan tingkat pendapatan yang rendah pula.

PUS dengan pendapatan yang lebih terkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan

hidupnya dan menghindari tindakan yang mereka anggap akan lebih menambah

beban pengeluaran rumah tangga mereka (http://sia.fkm-

undip.or.id/data/index.php

4.3.4 Karakteristik Pasangan Usia Subur Berdasarkan Paritas

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik paritas Pasangan Usia Subur

(PUS) yang mengikuti KB Suntik 3 Bulan di Puskesmas Sei Lekop Kecamatan

Sagulung Kota Batam terbanyak adalah ibu Multigravida sebanyak 63 Orang

( 69,23% ).

Frekwensi abortus akan semakin meningkat dengan semakin bertambanya paritas,

frekunsi abortus berkisar 10 -15 % dan lebih sering terjadi pada multigravida

( Derek L. Jones, 2002).

35
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasrkan hasil penelitian dan pengolahan data yang dilakukan oleh

peneliti, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik pasangan usia

subur yang mengikuti KB suntik 3 bulan di puskesmas sei lekop dapat

disimpulkan sebagai berikut :

36
5.1.1 karakteristik pasangan usia subur yang mengikuti KB suntik3 bulan

berdasarkan usia yaitu < 20 tahun sebanyak 2 orang (2,19%) 20 - 35 tahun

sebanyak 68 orang (74,7%) dan > 35 tahun sebanyak 21 orang (23,0%).

5.1.2 Karakteristik pasangan usia subur yang mengikuti KB suntik 3 bulan

berdasarkan pendidikan yaitu SD dan SMP sebanyak 60 orang (66%) SMA

sebanyak 30 orang (33%) dan Perguruan Tinggi sebanyak 1 orang (1,1%).

5.1.3 Karakteristik pasangan usia subur yang mengikuti KB suntik 3 bulan

berdasarkan penghasilan yaitu >Rp 1.100.000 sebanyak 31 orang (34%)

dan <Rp 1.100.000 sebanyak 60 orang (66%).

5.1.4 Karakteristik pasangan usia subur yang mengikuti KB suntik 3 bulan

berdasarkan paritas yaitu 1 sebanyak 12 orang (13,18%), 2-5 orang

sebanyak 63 orang (69,23%) dan > 5 sebanyak 16 orang (17,58%).

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Institusi Dispuskesmas sei lekop

Diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk dapat mengembangkan

penelitiannya misalnya dengan menggunakan sampel yang lebih luas

agar diperoleh hasil yang maksimal bagaimana karakteristik pasangan

usia subur yang menggunakan KB suntik 3 bulan

37
5.2.2 Bagi Instansi Terkait

Diharapkan untuk dapat memberikan informasi tentang pasangan usia

subur yang menggunakan KB suntik 3 bulan.

5.2.3 Bagi pasangan usia subur

Diharapkan agar lebih aktif dalam mencari infomasi seputar tentang

kesehatan tentang penggunaan alat-alat kontrasepsi seperti di

internet,majalah,untuk lebih mengetahui secara jelas KB suntik 3 bulan

38
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasrkan hasil penelitian dan pengolahan data yang dilakukan

oleh peneliti, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik

pasangan usia subur yang mengikuti KB suntik 3 bulan di

puskesmas sei lekop dapat disimpulkan sebagai berikut :

5.1.1 Berdasarkan usia yaitu < 20 tahun sebanyak 2 orang

(2,19%) 20 - 35 tahun sebanyak 68 orang (74,7%) dan > 35

tahun sebanyak 21 orang (23,0%).

5.1.2 Berdasarkan pendidikan yaitu SD dan SMP sebanyak 60

orang (66%) SMA sebanyak 30 orang (33%) dan

Perguruan Tinggi sebanyak 1 orang (1,1%).

5.1.3 Berdasarkan penghasilan yaitu >Rp 1.100.000 sebanyak 31

orang (34%) dan <Rp 1.100.000 sebanyak 60 orang (66%).

5.1.4 Berdasarkan paritas yaitu 1 sebanyak 12 orang (13,18%), 2-5

orang sebanyak 63 orang (69,23%) dan > 5 sebanyak 16

orang (17,58%).

39
5.2 Saran

5.2.1 Bagi Institusi Dispuskesmas sei lekop

Diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk dapat

mengembangkan penelitiannya misalnya dengan menggunakan

sampel yang lebih luas agar diperoleh hasil yang maksimal

bagaimana karakteristik pasangan usia subur yang menggunakan

KB suntik 3 bulan

5.2.2 Bagi Instansi Terkait

Diharapkan untuk dapat memberikan informasi tentang pasangan

usia subur yang menggunakan KB suntik 3 bulan.

5.2.3 bagi pasangan usia subur

Diharapkan agar lebih aktif dalam mencari infomasi seputar

tentang kesehatan tentang penggunaan alat-alat kontrasepsi seperti

di internet,majalah,untuk lebih mengetahui secara jelas KB suntik

3 bulan

40

Anda mungkin juga menyukai