Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

SWAMEDIKASI TERAPAN
“Konstipasi”

DOSEN PEMBIMBING:
Sri Sahara Bintang M.KN., M. Farm., Apt

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
Adinia Tiska Dwi Lestari 1702050070
Anas Mubarok 1702050071
Aisyah Hilali Restanti 1702050072
Ayu Puji Lestari 1702050073
Devi Endah Safitri 1702050074
Dewi Rohmah 1702050075

D3 FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Konstipasi atau sembelit adalah terhambatnya defekasi (buang air besar) dari
kebiasaan normal. Dapat diartikan sebagai defekasi yang jarang, jumlah feses (kotoran)
kurang, atau fesesnya keras dan kering. Semua orang dapat mengalami konstipasi, terlebih
pada lanjut usia (lansia) akibat gerakan peristaltik (gerakan semacam memompa pada usus,
red) lebih lambat dan kemungkinan sebab lain. Kebanyakan terjadi jika makan kurang
berserat, kurang minum, dan kurang olahraga. Kondisi ini bertambah parah jika sudah lebih
dari tiga hari berturut-turut.
Kasus konstipasi umumnya diderita masyarakat umum sekitar 4-30 persen pada
kelompok usia 60 tahun ke atas. Ternyata, wanita lebih sering mengeluh konstipasi
disbanding pria dengan perbandingan 3:1 hingga 2:1. Insiden konstipasi meningkat seiring
bertambahnya umur, terutama usia 65 tahun ke atas. Pada suatu penelitian pada orang
berusia usia 65 tahun ke atas, terdapat penderita konstipasi sekitar 34 persen wanita dan
pria 26 persen.
Konstipasi bisa terjadi di mana saja, dapat terjadi saat bepergian, misalnya karena
jijik dengan WC-nya, bingung caranya buang air besar seperti sewaktu naik pesawat dan
kendaraan umum lainnya. Penyebab konstipasi bisa karena faktor sistemik, efek samping
obat, faktor neurogenik saraf sentral atau saraf perifer. Bisa juga karena faktor kelainan
organ di kolon seperti obstruksi organik atau fungsi otot kolon yang tidak normal atau
kelainan pada rektum, anak dan dasar pelvis dan dapat disebabkan faktor idiopatik kronik.
Mencegah konstipasi secara umum ternyata tidaklah sulit. Lagi-lagi, kuncinya
adalah mengonsumsi serat yang cukup. Serat yang paling mudah diperoleh adalah pada
buah dan sayur. Jika penderita konstipasi ini mengalami kesulitan mengunyah, misalnya
karena ompong, haluskan sayur atau buah tersebut dengan blender. Irritable bowel
syndrome merupakan suatu gangguan fungsional dari gatrointestinal yang ditandai oleh
rasa tidak nyaman atau nyeri pada perut dan perubahan kebiasaan defekasi tanpa penyebab
organik.Walaupun setelah dilakukan test darah, X- ray dan colonoscopy tidak akan
ditemukan kelainan yang dapat menjelaskan timbulnya gejala-gejala tersebut diatas.
Irritable Bowel Syndrom adalah suatu kondis ikronik dari saluran cerna bagian
bawah. Gejala IBS meliputinyeri abdomen, perut terasa meregang, kembung dan hal-hal
lain yang berhubungan dengan perubahan kebiasaan defekasi.Terdapat 3 sub kategoridari
IBS bila dilihat dari 3 gejala utama yaitu nyeri yang berhubungan diare, nyeri yang
berhubungan dengan konstipasi dan nyeri yang disertai diare dan konstipasi.

B. Tujuan
a) Untuk mengetahui apa itu konstipasi
b) Untuk mengetahui penyebab dan gejala konstipasi
c) Untuk mengetahui terapi konstipasi yang tepat

C. Manfaat
a) Mahasiswa mampu mengetahui apa itu konstipasi
b) Mahasiswa mampu mengetahui penyebab dan gejala konstipasi
c) Mahasiswa mampu memberikan terapi konstipasi yang tepat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Konstipasi
Sembelit atau konstipasi merupakan keadaan tertahannya feses (tinja) dalam
usus besar pada waktu cukup lama karena adanya kesulitan dalam pengeluaran. Hal
ini terjadi akibat tidak adanya gerakan peristaltik pada usus besar sehingga memicu
tidak teraturnya buang air besar dan timbul perasaan tidak nyaman pada perut
(Akmal, dkk, 2010).
Konstipasi merupakan keadaan individu yang mengalami atau berisiko tinggi
mengalami stasis usus besar sehingga menimbulkan eliminasi yang jarang atau keras,
serta tinja yang keluar jadi terlalu kering dan keras (Uliyah, 2008). Konstipasi adalah suatu
gejala bukan penyakit. Di masyarakat dikenal dengan istilah sembelit, merupakan suatu
keadaan sukar atau tidak dapat buang air besar, feses (tinja) yang keras, rasa buang air besar
tidak tuntas (ada rasa ingin buang airbesar tetapi tidak dapat mengeluarkannya), atau jarang
buang air besar. Seringkali orang berpikir bahwa mereka mengalami konstipasi apabila
mereka tidak buang air besar setiap hari yang disebut normal dapat bervariasi dari tiga kali
sehari hingga tiga kali seminggu (Herawati, 2012).

B. Klasifikasi Konstipasi
Ada 2 jenis konstipasi berdasarkan lamanya keluhan yaitu konstipasi akut dan
konstipasi kronis. Disebut konstipasi akut bila keluhan berlangsung kurang dari 4
minggu. Sedangkan bila konstipasi telah berlangsung lebih dari 4 minggu disebut
konstipasi kronik. Penyebab konstipasi kronik biasanya lebih sulit disembuhkan
(Kasdu, 2005).

C. Patofisiologi Konstipasi
Pengeluaran feses merupakan akhir proses pencernaan. Sisa-sisa makanan yang tidak
dapat dicerna lagi oleh saluran pencernaan, akan masuk kedalam usus besar (kolon) sebagai
massa yang tidak mampat serta basah. Di sini, kelebihan air dalam sisa-sisa makanan tersebut
diserap oleh tubuh. Kemudian, massa tersebut bergerak ke rektum (dubur), yang dalam
keadaan normal mendorong terjadinya gerakan peristaltik usus besar. Pengeluaran feses
secara normal, terjadi sekali atau dua kali setiap 24 jam (Akmal, dkk, 2010).
Kebiasaan menahan tinja yang berulang akan meregangkan rektum dan kemudian
kolon signoid yang menampung tinja berikutnya. Statis tinja di kolon akan terus mengalami
reabsorbsi air dan elektrolit yang menyebabkan proses pengeringan tinja yang berlebihan,
membentuk skibala dan kegagalan untuk memulai reflek dari rektum, yang normalnya
memicu evakuasi. Pengosongan rektum melalui evakuasi spontan tergantung pada reflek
defekasi yang dicetuskan oleh reseptor otot-otot rektum. Seluruh proses akan berulang dengan
sendirinya, tinja yang keras dan besar menjadi lebih sulit dikeluarkan melalui kanal anus,
menimbulkan rasa sakit dan kemudian menimbulkan retensi tinja selanjutnya. Dalam proses
defekasi terjadi tekanan yang berlebihan dalam usus besar. Tekanan tinggi ini dapat memaksa
bagian dari dinding usus besar (kolon) keluar dari sekitar otot, membentuk kantong kecil yang
disebut divertikula. Hemoroid juga bisa sebagai akibat dari tekanan yang berlebihan saat
defekasi (Waldo Nelson dkk, 2000).
Terdapat pengaruh makanan yang dikonsumsi terhadap konstipasi, ketika serat cukup
dikonsumsi, kotoran/ fese akan menjadi besar dan lunak karena serat-serat tumbuhan dapat
menarik air, kemudian akan menstimulasi oto dan pencernaan dan akhirnya tekanan yang
digunakan untuk pengeluaran feses menjadi berkurang. Ketika serat yang dikonsumsi sedikit,
kotoran akan menjadi kecil dan keras (Endyarni Bernie dan Syarif Badriul, 2004).

D. Penyebab Konstipasi
Konstipasi pada umumnya terjadi akibat dari rendahnya konsumsi serat atau penggunaan obat
yang dapat menimbulkan konstipasi seperti opiat. Konstipasi kadang-kadang dapat juga
diakibatkan oleh faktor psikologis. Penyakit atau kondisi yang dapat menimbulkan konstipasi:
a) Gangguan saluran pencernaan seperti : Obstruksi gastroduodonal akibat ulser atau
kanker, Irritable bawel syndrome, Tumor
b) Gangguan metabolisme dan endokrin seperti : Diabetes mellitus, Hipotiroidism,
Hiperkalsemia
c) Kehamilan
d) Konstipasi neurogenic seperti :Central nervous system tumors, Stroke
E. Tanda dan Gejala Konstipasi
Menurut Akmal, dkk (2010), ada beberapa tanda dan gejala yang umum
ditemukan pada sebagian besar atau terkadang beberapa penderita sembelit sebagai
berikut:
a) Perut terasa begah, penuh dan kaku
b) Tubuh tidak fit, terasa tidak nyaman, lesu, cepat lelah sehingga malas
mengerjakan sesuatu bahkan terkadang sering mengantuk
c) Sering berdebar-debar sehingga memicu untuk cepat emosi, mengakibatkan
stress, rentan sakit kepala bahkan demam
d) Aktivitas sehari-hari terganggu karena menjadi kurang percaya diri, tidak
bersemangat, tubuh terasa terbebani, memicu penurunan kualitas, dan
produktivitas kerja
e) Feses lebih keras, panas, berwarna lebih gelap, dan lebih sedikit daripada
biasanya
f) Feses sulit dikeluarkan atau dibuang ketika air besar, pada saat bersamaan
tubuh berkeringat dingin, dan terkadang harus mengejan atupun menekannekan perut
terlebih dahulu supaya dapat mengeluarkan dan membuang feses
(bahkan sampai mengalami ambeien/wasir)
g) Bagian anus atau dubur terasa penuh, tidak plong, dan bagai terganjal sesuatu
disertai rasa sakit akibat bergesekan dengan feses yang kering dan keras atau
karena mengalami wasir sehingga pada saat duduk tersa tidak nyaman
h) Lebih sering bung angin yang berbau lebih busuk daripada biasanya
i) Usus kurang elastis ( biasanya karena mengalami kehamilan atau usia lanjut),
ada bunyi saat air diserap usus, terasa seperti ada yang mengganjal, dan
gerakannya lebih lambat daripada biasanya
j) Terjadi penurunan frekuensi buang air besar

Adapun untuk sembelit kronis ( obstipasi ), gejalanya tidak terlalu berbeda hanya sedikit lebih
parah, diantaranya:

a) Perut terlihat seperti sedang hamil dan terasa sangat mulas


b) Feses sangat keras dan berbentuk bulat-bulat kecil
c) Frekuensi buang air besar dapat mencapai berminggu-minggu
d) Tubuh sering terasa panas, lemas, dan berat
e) Sering kurang percaya diri dan terkadang ingin menyendiri

F. Terapi non farmakologi


Terapi utama yang dilakukan untuk penderita konstipasi adalah perubahan gaya hidup.
Karena pada umumnya konstipasi adalah kelainan saluran cerna bukan suatu penyakit. Terapi
non farmakologi yang dapat dilakukan adalah:
a) Diet tinggi serat (buah, sayuran dan sereal) sangat dianjurkan. Cara ini sebaiknya dicoba
sebelum pasien menggunakan laktasif. Serat mampu meningkatkan masa dan berat fases
serta mempersingkat waktu transit di usus. Untuk mendukung manfaat serat ini, diharapkan
pasien meminum air sekitar 8-10 gelas sehari.
b) Minum susu dapat meningkatkan pergerakan dari usus
c) Latihan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur untuk membantu mencegah konstipasi.
Olahraga yang dilakukan sesuai umur dan kemampuan pasien akan memperlancar sirkulasi
dan meningkatkan tonus otot usus
d) Latihan usus besar. Melatih usus besar adalah suatu bentuk latihan perilaku yang
disarankan pada pasien penderita konstipasi yang tidak jelas penyebabnya.
e) Pasien dianjurkan meluangkan waktu 5-10 menit setelah makan untuk melakukan gerakan
yang bermanfaat pada usus besar. Hal ini dapat bermanfaat untuk refleks gastrokolon untuk
buang air, sehingga pasien diharapkan akan tanggap terhadap tanda-tanda dan rangsangan
untuk buang air dan tidak menahan atau menunda dorongan untuk buang air besar.
G. Terapi farmakologi
Apabila modifikasi gaya hidup kurang berhasil maka perlu ditambahkan terapi
farmakologi golongan laktasif ada 4 tipe obat golongan laktasif yaitu :

No. Golongan Nama obat Dosis Keterangan


obat
1. Memperbesar Psyllium metil 4-6 gram/ hari. Obat golongan ini bekerjanya
dan selulosa Bervariasi relatif lambat 1-3 hari, tetapi hanya
melunakkan isphagula sesuai produk sedikit yang berpengaruh terhadap
masa feses/ aktifitas usus normal dibandingkan
pembentuk dengan laktasif lainnya. Bulking
massa bulk agens mengandung partikel yang
laxative. dapat menyerap air lebih banyak,
sehingga meningkatkan aktifitas
usus dalam membentuk feses.
2. Laktasif Laktulosa 15-30 ml oral Menyebabkan efek osmotik pada
osmotik Sorbitol 30-50 gram/ usus besar. Digunakan pada
hari konstipasi akut. Golongan osmotik
Garam 2-4 8% tidak diserap melainkan dapat
magnesium suspensi dlm meningkatkan sekresi air dalam
air / 5-10 gram usus. Sehingga cukup aman untuk
dengan segelas digunakan. Misalnya pada
air penderita gagal ginjal
Macrogol ½ -1 tube/ hari
Gliserin 3 gram/ hari
3. Laktasif Bisacodyl 10 mg rektal Obat golongan ini bekerja
memiliki onset kerja yang cepat
stimulan Senna ½- 2 tablet
dan hanya digunakan bila
Sodium 2-15 mg/ hari pengobatan yang lain gagal. Obat
ini bekerja pada ujung saraf
Picosulfat dinding usus, memicu kontraksi
PEG electrolyte 4 liter otot, dan menyebabkan peristaltik
usus.
solution
Fenoftalein 30-270 mg /
oral
4. Melunakkan Minyak mineral 15-30 ml oral Obat ini bekerja dengan
atau pelumas Docusate 50-360 mg/ menurunkan tegangan permukaan
feses hari feses, sehingga mempermudah
(lubricant penyerapan air.
laxatives)
(Djuanda dkk, 2009; Sukandar dkk, 2008)

Pembedahan hanya dilakukan bila dijumpai konstipasi kronis dan tidak dapat diatasi dengan cara-
cara pengobatan farmakologi serta non farmakologi. Prosedur pembedahan hanya dilakukan
apabila pasien mengalami konstipasi yang berat dan dengan masa transit yang lambat, dan tidak
diketahui penyebab pastinya dan tidak ada respon dengan pengobatan yang sebelumnya dilakukan.
Pada umumnya bila tidak dijumpai sumbatan karena masa, maka tidak dilakukan pemebedahan.

H. Kasus dan Penyelesaian


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Sembelit atau konstipasi merupakan keadaan tertahannya feses (tinja) dalam
usus besar pada waktu cukup lama karena adanya kesulitan dalam pengeluaran.
2. Ada 2 jenis konstipasi berdasarkan lamanya keluhan yaitu konstipasi akut dan
konstipasi kronis.
3. Konstipasi pada umumnya terjadi akibat dari rendahnya konsumsi serat atau
penggunaan obat yang dapat menimbulkan konstipasi seperti opiat. Konstipasi
kadang-kadang dapat juga diakibatkan oleh faktor psikologis
4. Terapi non farmakologi dalam penanganan konstipasi yaitu Diet tinggi serat,
Minum susu, olahraga, Latihan usus besar, Pasien dianjurkan meluangkan
waktu 5-10 menit setelah makan untuk melakukan gerakan yang bermanfaat
pada usus besar
5. Terapi farmakologi Memperbesar dan melunakkan masa feses/ pembentuk
massa bulk laxative (Psyllium metil selulosa isphagula), Laktasif osmotik
(Laktulosa, Sorbitol, Garam magnesium, Macrogol, Gliserin), Laktasif
stimulan (Bisacodyl, Senna, Sodium Picosulfat, PEG electrolyte solution,
Fenoftalein), Melunakkan atau pelumas feses/ lubricant laxatives (Minyak
mineral, Docusate)

B. Saran
1. Karena konstipasi ini disebabkan oleh kurangnya mengonsumsian serat maka
dianjurkan untuk diet makanan serat tinggi, seperti buah nanas, pepaya, apel,
alpukat, strawbery dan buah tinggi serat lainnya serta cukup dalam minum air.
2. Ketika sakit diare ringan jangan terlalu ketergantungan untuk mengonsumsi
obat anti diare karena efek samping ketergantungan obat tersebut adalah
memicu terjadinya konstipasi.
3. Jangan biasakan menunda BAB karena hal tersebut dapat mengakibatkan
konstipasi.
DAFTAR PUSTAKA

Akmal, muntaroh, dkk. 2010. Ensiklopedi Kesehatan untuk Umum. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
A.A & Uliyah, M. 2008. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Herawati. 2012. Analisis Kelayanan Kebutuhan Pelabuhan dan Keselamatan Pelayanan Pelabuhan
Bian Kabupaten Merauke. Jakarta: PT. Formasi Empat Pola Selaras.
Kasdu, Dini. 2005. Solusi Problem Persalinan. Jakarta: Puspa Swara.
Djuanda, Adhi, dkk. 2009. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: FKUI.
Sukandar, Elin Yulinah., dkk, 2008. Isofarmakoterapi. Jakarta: PT ISFI.
Nelson Waldo, Behrman Waldo, Kliegman Robert, Arvin Ann. 2000. Sistem Saluran pencernaan.
In: Wahab Samik. Ilmu Kesehatan Anak. 15 th ed. Jakarta: EGC.
Endyarni Bernie, Syarif Badriul. 2004. Konstipasi Fungksional. Sari Pediatri