Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


“Macam-Macam Sterilisasi”

DOSEN PEMBIMBING:
Ginanjar Putri Nastiti, S. Farm., M. Farm., Apt

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 1
Adinia Tiska Dwi Lestari 1702050070
Anas Mubarok 1702050071
Aisyah Hilali Restanti 1702050072
Ayu Puji Lestari 1702050073
Devi Endah Safitri 1702050074
Dewi Rohmah 1702050075

D3 FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan
Sterilisasi adalah keadaan suatu zat yang bebaa dari mikroba hidup, baik yang
patogen (menimbulkan penyakit) maupun apatogen atau non patogen (tidak menimbulkan
penyakit), baik dalam bentuk vegetatif(siap untuk berkembang biak) maupun dalam bentuk
spora (dalam keadaan statis tidak dapat berkembang biak, tetapi melindungi diri dengan
lapisan pelindung yang kuat).
Setrilisasi adalah suatu proses untuk membuat ruang atau benda menjadi steril.
Sanitasi adalah suatu proses untuk membuat lingkungan menjadi sehat. Adapun cara-cara
sterilisasi menurut FI IV ada 6 cara yaitu diantarnya : a) Sterilisasi uap adalah sterilisasi cara
ini menggunakan suatu siklus autoklaf yang di dalam farmakope ditetapkan bahwa untuk
media atau pereaksi adalah selama 15 menit pada suhu 121°C, kecuali dinyatakan lain, b)
Sterilisasi panas kering adalah sterilisasi yang menggunakan suatu siklus oven modern yang
dilengkapi dengan udara yang di panaskan dan disaring. Rentang suhu khas yang dapat
diterima di dalam bejana sterilisasi kosong adalah sekitar 15°C, jika alat sterilisasi beroperasi
pada suhu tidak kurang dari 250°C, c) Sterilisasi gas adalah gas etilen oksida yang di netralkan
dengan gas inert (CO2). Proses sterilisasinya berlangsung didalam bejana bertekanan yang
di desain seperti autoclaf dengan dimodifikasi tertentu. Salah satu keterbatasan utama
proses sterilisasi dengan gas etileb oksida adalah keterbatasanya kemampuan gas tersebut
untuk berdifusi sampai ke daerah yang paling dalam pada produk yang di sterilkan, d)
Sterilisasi dengan radiasi ion ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan adalah disintegrasi
radioaktof dari radioisotop (radiasi gamma) dan radiasi berjas elektron. Cara ini dilakukan
jika bahan yang di sterilkan tidak tahan terhadap sterilisasi panas dan terdapat kekhawatiran
mengenai keamanan etilen oksida. Keunggulan sterilisasi ini adalah reaktivitas kimia dan
residu yang rendah yang dapat diukur, dan vatiabel yang du kendalikan lebih sedikit, e)
Sterilisasi dengan penyaringan adalah sterilisasi untuk larutan yang labil terhadap panas
dilakukan dengab penyaringan menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba sehingga
mikroba yang di kandungnya dipisahkan secata fisika. Efektivitas penyaringan media atau
penyaringan substrat tergantung pada ukuran pori matriks, daya adsorpsi bakteri pada
matriks tersebut dan mekanisme pengayakan. Ukuran porositas minimal membran matriks
tersebut berkisar antara 0,2-0,45 um, tergantung pada bakteri apa yang hendak disaring, f)
Sterilisasi dengan cara aseptik adalah suatu proses untuk mencegah masuknya mikroba
hiduo ke dalam komponen steril atau komponen yang melewati proses antara sehingga
produk setengah jadi atau produk ruahannya bebas dari mikroba hidup.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian sterilisasi

2. Untuk mengetahui macam'' sterilisasi

3. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian dari berbagai macam sterilisasi

1.3 Manfaat
1. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian sterilisasi

2. Mahasiswa mampu mengetahui macam'' sterilisasi

3. Mahasiswa mampu mengetahui keuntungan dan kerugian dari berbagai macam


sterilisasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengerian
Sterilisasi adalah keadaan suatu zat yang bebas dari mikroba hidup, baik yang patogen
(menimbulkan penyakit) maupun apatogen atau nonpatogen (tidak menimbukan penyakit),
baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang biak) maupun dalam bentuk spora
(dalam keadaan statis tidak dapat berkembang biak, tetapi melindungi diri dengan lapisan
pelindung yang kuat) (Syamsuni, 2017).
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membuat ruang atau benda menjadi steril
(Syamsuni, 2017).

2.2 Alasan Suatu Obat dibuat steril


Obat dibuat steril karena berhubungan langsung dengan darah atau cairan tubuh dan
jatringan tubuh lain yang pertahanannya terhadap zat asing tidak selengkap pada saluran
cerna atau gastrointestinal, misalnya hati yang dapat berfungsi menetralisir atau
menawarkan racun. Diharapkan dengan kondisi steril dapat dihindari adanya infeksi
sekunder. Dalam hal ini tidak berlaku relatif steril atau setengah steril, hanya ada 2 pilihan
yaitu steril dan tidak steril (Syamsuni, 2017).
Sediaan farmasi yang perlu disterilkan adalah obat suntik, injeksi, tablet implan, tablet
hipodermik, dan sediaan untuk mata seperti tetes mata, cuci mata dan salep mata (Syamsuni,
2017).

2.3 Pemilihan Cara Sterilisasi


Pemilihan cara sterilisasi harus mempertimbangkan beberapa hal seperti berikut:
a) Stabilitas
sifat kimia, sifat fisika, khasiat, serat, dan struktur bahan obat tidak boleh mengalami
perubahan setelah proses sterilisasi.
b) Efektivitas
cara sterilisasi yang dipilih akan memberikan hasil maksimal dengan proses yang
sederhana, cepat, dan biaya murah (Syamsuni, 2017).
Agar efektif, sterilisasi butuh waktu, kontak, suhu dan dengan sterilisasi uap,
bertekanan tinggi. Efektivitas setiap metode sterilisasi juga bergantung pada empat faktor
lainnya sebagai berikut:
1) Jenis mikroorganisme yang ada. Sebagian mikroorganisme sangat sulit dibunuh,
sebagian lainnya dapat dengan mudah dibunuh.
2) Jumlah mikroorganisme yang ada. Lebih mudah mebunuh satu organisme daripada
yang banyak.
3) Jumlah dan jenis materi organik yang melindungi mikroorganisme tersebut. Darah
atau jaringan yang menempel pada alat-alat yang kurang bersih berfungsi sebagai
pelindung mikroorganisme selama proses sterilisasi.
4) Jumlah retakan dan celah pada peralatan sebagai tempat menempel mikroorganisme.
Mikroorganisme berkumpul dilindungi oleh goresan, retakan, dan celah, seperti
jepitan yang bergerigi tajam dari kuman jaringan.
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
c) Waktu
lamanya sterilisasi ditentukan oleh bentuk, jenis, dan sifat zat serat kecepatan tercapainya
suhu sterilisasi yang merata (Syamsuni, 2017).

2.4 Metode Sterilisasi


Ada 3 metode sterilisasi yang dapat dilakukan yaitu:
1. Metode fisika
A. Dengan pemanasan
Kemampuan mematikan mikroorganisme dengan panas tergantung pada derjat
panas, lamanya pemaparan, dan kehadiran uap air. Dalam reng temperatur
sterilisasi, waktu yang dibutuhkan untuk mengahsilkan efek yang mematikan
berbanding terbalik dengan temperatur yang dibutuhkan. Contoh sterilisasi dalam
satu jam dengan panas kering pada tempertaur 170ᵒC dan 3 jam pada termperatu
140℃ (Tungadi Robert, 2017).
Metode sterilisasi panas dapat dibagi menjadi panas kering dan panas lembab:
a) Panas kering
Panas kering adalah sebuah cara yang praktis untuk sterilisasi atas jarum
dan instrumen lainnya. Dianjurkan memakai sebuah oven konveksi dengan ruang
baja antikarat terisolasi dan rak-rak perforasi untuk memungkinkan sirkulasi
udara panas, namun sterilisasi panas kering ini akan dapat tercapai dengan
sebuah oven sederhana, asalkan sebuah termometer digunakan untuk
memastikan suhu di dalam oven (Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Evektivitas
Sterilisasi panas kering ini tercapai dengan proses konduksi panas.
Pada awalnya, panas diabsorbsi oleh permukaan luar dari sebuah instrumen
dan kemudian dikirimkan ke lapisan berikutnya. Pada akhirnya, keseluruhan
objek mencapai suhu yang dibutuhkan untuk sterilisasi. Mikroorganisme
mati pada saat penghancuran protein secara lambat oleh panas kering.
Proses sterilisasi panas kering berlangsung lama daripada sterilisasi uap,
karena kelembaban dalam proses sterilisasi uap secara pasti mempercepat
penetrasi uap dan memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk
membunuh mikroorganisme (Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Kelebihan:
 Metode yang sangat efektif, seperti sterilisasi panas-kering dengan
konduksi menjangkau keseluruhan permukaan instrumen, bahkan
untuk instrumen yang tidak dapat dibongkar pasang
 Bersifat protektif atas benda tajam atau instrumen dengan sisi potong
(lebih sedikit masalah dengan penumpulan sisi potong tersebut)
 Tidak meninggalkan sisa kimia
 Mengurangi masalah “paket basah” di iklim lembab
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Kekurangan
 Instrumen plastik dan karet tidak dapat disterilkan dengan cara panas
kering karena suhu yang digunakan (160-170℃) terlalu tinggi untuk
materi ini
 Panas kering memenetrasi materi secara lambat dan tidak merata
 Membutuhkan oven dan sumber listrik secara terus menerus
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Alat yang digunakan
Sterilisasi cara ini menggunakan suatu siklus oven modern yang
dilengkapi dengan udara yang dipanaskan dan disaring (Syamsuni, 2017).

Contoh alat dan bahan Bahan yang akan di Gambar oven yang
yang akan disterilkan ke sterilkan ditata kedalam digunakan untuk
dalam oven oven sterilisasi panas kering

Bahan yang karena karakteristik fisiknya tidak dapat disterilkan dengan


uap air di sterilisasi pada sebuah oven udara panas. Termasuk kelompok ini
adalah minyak-minyak tertentu, parafin, petrolatum, petrolatum cair,
gliserin, propilen glikol; serbuk stabil seperti talk, kaolin, dan ZnO, dan bahan
obat tertentu. Disamping itu, sterilisasi panas kering lebih efektif untuk alat-
alat gelas dan banyak peralatan bedah. Harus ditekankan bahwa minyak
tertentu, petrolatum, serbuk kering, dan bahan-bahan tertentu lainnya tidak
dapat di sterilkan pada autoklaf (Tungadi Robert, 2017).
 Standart sterilisasi panas kering:
 Rentang suhu khas yang dapat diterima di dalam bejana sterilisasi kosong
adalah sekitar 15℃, jika alat sterilisasi beroperasi pada suhu tidak kurang
dari 250℃ (Syamsuni, 2017).
Bahan yang tahan terhadap penghancuran pada temperatur diatas 140℃
(284ᵒF) secara normal dapat membunuh spora sebaik bentuk vegetatif
pada seluruh mikroorganisme (Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
170℃ (340ᵒF) selama 1 jam (total waktu perputaran meletakkan
instrumen di oven, panaskan hingga 170℃, selama 1 jam dan kemudian
dinginkan 2-2,5 jam) (Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
160℃ (320ᵒF) selama 2 jam (total waktu perputaran dari 3-3,5 jam)
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
Ingat:
 Waktu paparan hanya dimulai setelah sterilisator telah mencapai suhu
sasaran.
 Tidak boleh memberi kelebihan beban pada sterilisator. (sisakan
setidak-tidaknya 7,5 cm (3 inci) antara bahan-bahan dan dinding
sterilisator). Beban lebih akan mengubah konveksi panas dan
meningkatkan waktu yang dibutuhkan untuk sterilisasi.
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Ciri-Ciri Pemanasan Kering
 Yang dipanaskan adalah udara kering.
 Proses pembunuhan mikroba berdasarkan oksidasi O2 udara.
 Suhu yang digunakan lebih tinggi, kira-kira 150℃. 1 g udara pada suhu
100℃, jika didinginkan menjadi 99℃ hanya membebaskan 0,237 kalori.
 Waktu yang diperlukan lebih lama, antara 1 sampai 2 jam, kecuali
pemijaran
 Digunakan untuk sterilisasi bahan obat atau alat yang tahan pemanasan
tinggi
(Syamsuni, 2017).
 Contoh alat yang dapat disterilkan: Erlenmeyer, cawan petri, tabung reaksi.
b) Pemanasan lembab
Sterilisasi uap dilakukan dalam autoklaf dan menggunakan uap air dengan
tekanan. Cara ini diakui sebagai cara yang tepat pada hampir semua keadaan
dimana produk mampu diperlakukan seperti sterilisasi ini (Tungadi Robert,
2017).
Bagian besar produk farmasi tidak tahan panas dan tidak dapat dipanaskan
dengan aman pada temperatur yang dibutuhkan untuk sterilissasi panas kering
(lebih kurang 170℃ ). Bila ada kelembapan (uap air), bakteri terokagulasi dan
dirusak pada temperatur yang lebih rendah dari pada bila tidak ada kelembapan.
Kenyataannya, sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih mudah
dimatikan. Spora-spora yang kadar airnya relatif lebih rendah sukar dihancurkan.
Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah karena adanya
denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial organisme tersebut. Adanya
uap air yang panas dalam mikroba menimbulkan kerusakan pada temperatur
yang relatif rendah. Kematian pada pemanasan kering timbul karena sel mikroba
mengalami dehidrasi diikuti dengan pembakaran secara perlahan atau proses
oksidasi (Tungadi Robert, 2017).
 Alat yang digunakan
Sterilisasi cara ini menggunakan suatu siklus autoklaf (Abdul Bari Saifuddin
dkk, 2016).
Uap air di bawah tekanan
Penggunaan uap air di bawah tekanan adalah metode yang paling
efektif dan pada umumnya adalah sterilisasi yang memuaskan dan sesuai.
Waktu yang dibutuhkan untuk sterilisasi pada larutan menggunakan
autoklaf pada 121℃ adalah 12 menit ditambah waktu untuk larutan dalam
wadah untuk mencapai 121℃setelah termometer pensteril menunjukan
temperatur ini. Pada umumnya larutan 100 ml atau 200 ml dalam botol akan
membutuhkan paling kurang 5 menit, 500 ml membutuhkan antara 10-15
menit, dan 1000 ml membutuhkan antara 15 dan 20 menit untuk mencapai
temperatur 121℃ setelah termometer autoklaf menunjukkan temperatur
ini (Tungadi Robert, 2017).

Setelah peralatan yang akan Gambar autoklaf siap


Contoh alat yang
disterilkan dibungkus dengan digunakan untuk sterilisasi
disterilkan menggunakan kertas khusus, dimasukan ke panas lembab/ uap
autoklaf
dalam autoklaf

 Standart sterilisasi panas lembab/ uap


 Didalam farmakope ditetapkan bawha untuk media atau pereaksi
adalah selama 15 menit pada suhu 121℃, kecuali dinyatakan lain.
 Suhu harus berada pada 121℃ (250ᵒF); tekanan harus berada pada 106
kPa (15 ibs/in2); 20 menit untuk alat yang tidak terbungkus, 30 menit
untuk alat yang terbungkus. Atau pada suhu yang lebih tinggi pada
132℃ (270ᵒF), tekanan harus berada pada 30 ibs/in2; 15 menit untuk
alat terbungkus.
Biarkan semua peralatan kering sebelum diambil dari sterilisator
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Kelebihan
 Metode sterilisasi yang paling sering dipakai dan efektif
 Waktu siklus sterilisasi lebih pendek daripada panas kering atau siklus
kimia
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Kekurangan
 Membutuhkan sumber panas yang terus menerus
 Membutuhkan peralatan (sterilisator kuat) yang harus dipelihara
dengan cermat agar tetap berfungsi dengan baik
 Membutuhkan ketaatan waktu, suhu dan tekanan secara ketat
 Sukar menghasilkan paket kering karena gangguan prosedur sering
terjadi (misalnya mengangkat bahan-bahan sebelum kering,
khususnya pada iklim yang lembab dan panas)
 Siklus sterilisasi yang berulang-ulang dapat menyebabkan bopeng
dan penumpukan sisi instrumen yang tajam (seperti gunting)
 Bahan-bahan plastik tidak tahan suhu tinggi
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Contoh alat yang dapat disterilakan: Gelas ukur, batang pengaduk, pipet
tetes
B. Tanpa pemanasan sterilisasi dengan radiasi
Sterilisasi dengan radiasi dimungkinkan menggunakan radiasi elektromagnetik
atau radiasi partikel. Radiasi elektromagnetik meliputi energi proton, sinar UV, sinar
ϒ, sinar X dan sinar kosmik.
a) Sterilisasi menggunakan sinar UV
biasanya digunakan untuk sterilisasi ruangan. Radiasi sinar UV dapat
membunuh bakteri dengan panjang gelombang 220-290 nm dan radiasi yang
paling efektif adalah 253,7 nm. Oleh karena itu sinar ultraviolet hanya dapat efektif
untuk mengendalikan bakteri dekat dengan permukaan yang terpapar langsung
oleh sinar ultraviolet atau bakteri dekat dengan permukaan medium yang
transparan (summerfelt, 2003).
Aksi letal, ketika sinar ultraviolet melewati bahan, energi dibebaskan
keelrktron orbital dalam atom konsiquen. Energi yang terserap ini menyebabkan
meningkatnya energi atom – atom dan mengubah reaktivitasnya. Bila
perangsangan dan perubahan aktivitas dari atom – atom utama terjadi dalam
molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamanya, maka organisme itu
mati atau tidak mampu bereproduksi. Pengaruh utama disebabkan asam nukleat
seluler yang terlihat mengeluarkan lapisan absorbsi kuat dalam rentang
gelombang ultraviolet yang panjang (Tungadi Robert, 2017).
 Alat yang digunakan untuk sterilisasi sinar UV

UV room sterililizer, Untuk UV Sterilizer Cabinet


sterilisasi ruangan.
Contoh: sterilisasi ruang
operasi

 Kelebihan
 Disenfeksi UV efektif menginaktifasi virus, spora dan kista
 Tidak ada efek residu yang berbahaya
 Ekonomis dan konsumsi energi yang rendah
 Disenfeksi penggunaannya yang rama
 Desinfeksi UV memiliki kontak yang lebih pendek dibandingkan dengan
desinfektan lainnya (sekitar 20- 30 detik dengan lampu bertekanan rendah)
 Desinfeksi UV membutuhkan peralatan yang sedikit dibanding dengan
peralatan lainnya
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Kekurangan
 Membutuhkan sumber listrik yang besar
 Kurang efektif di area dengan kelembaban relatif yang tinggi
 Lampu UV membutuhkan pembersihan secara berkala agar tetap efektif
 Paparan terhadap UV dapat membakar kulit dan mata
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Contoh alat yang dapat disterilkan: Sterilisai ruangan pada penggunaan aseptik.
b) Sinar peng ion
Sterilisasi radiasi ionisasi yaitu sterilisasi yang menggunakan radiasi sinar
pengion yang mempunyai energi cukup tinggi sehingga dapat melepaskan
elektron dari atom atau molekulnya (ionisasi) dan merubahnya menjadi partikel-
partikel bermuatan listrik.
Ada dua jenis radiasi pengion yang banyak digunakan untuk sterilisasi yaitu
sinar gamma yang dipancarkan dari radioisotop cobalt-60 atau cesium-137 dan
berkas elektron (elektron beam) yang merupakan elektron berenergi tinggi yang
dihasilkan dari akselerator elektron atau mesin berkas elektron.
Pada sterilisasi radiasi ionisasi, indikator biologi yang dapat digunakan untuk
memantau operasi secara rutin, kemungkinan tambahan, untuk menilai efektifitas
dari dosis dan energi radiasi, terutama pada kasus sterilisasi elektron dipercepat,
direkomendasikan penggunaan spora bacilus pumilus (misalnya ATCC 24.142,
NCTC 10327, NCIMB 10629 atau CIP 77.22). Jumlah spora hidup melebihi 1 x 10 7
per pembawa. Nilai D melebihi 1,9 kGy. Harus dilakukan verifikasi bahwa tidak ada
pertumbuhan mikroorganisme baku banding sesudah diekspose pada 25 kGy
(dosis minimal diabsorbsi) (Agoes Goeswin, 2013).
 Alat yang digunakan
Sinar gamma termasuk gelombang elektromagnetik yang diperoleh dari
perubahan zat radioaktif yang dipancarkan dari atom dengan kecepatan tinggi
karena adanya kelebihan energi. Radioaktivitasnya tidak terpengaruhi oleh
suhu, kelembaban, tekanan dan lain-lain tetapi terpengaruhi oleh keadaan inti
isotopnya (Soeminto 1985 dalam Darjanto, 1995).
Menurut Kume (2005), radiasi sinar gamma memiliki efektivitas yang berbeda
dalam mematikan mikroba seiring dengan besarnya dosis yang diberikan,
semakin besar dosis yang diberikan maka daya mematikan mikrobanya
semakin besar pula.
Radiasi sinar gamma atau elektron berenergi tinggi disebut juga radiasi
pengion karena energi radiasi yang terserap oleh benda akan berinteraksi
dengan benda tersebut dan menimbulkan efek biologi yang mengubah proses
kehidupan normal dari sel hidup. Pada mikroba dapat berpengaruh terhadap
DNA sehingga mikroba tidak dapat membelah diri akibat perubahan yang
ditimbulkan oleh pengion (Hilmy, 1980). Dosis efektif sinar gamma 2,5 Mrad
(Ratna, 1985).

 Keuntungan:
 Tidak menimbulkan kenaikan temperatur yang berarti
 Sterilisasi dilakukan pada suhu kamar
 Sterilisasi dapat dilakukan pada produk dalam kemasan akhir
 Proses mudah dikontrol (dosis)
 Tidak meninggalkan residu yang membahayakan
 Contoh bahan yang dapat disterilkan: Syringes, hidrogel, katup jantung
buatan, jarum suntik, obat mata, internal kateter.
2. Metode kimia
A. Metode gas
 Bahan yang digunakan
Etilen oksida atau propilen oksida, Etilen Oksida adalah suatu eter siklis
([CH2]2O) dari suatu gas pada suhu ruangan hanya saja etilen oksida sangat
mudah terbakar dan bila kontak dengan udara maka akan menjadi sangat
eksplosif. Bila dicampur dengan gas inert, seperti CO2 atau lebih hidro karbon
yang berfluorosensi dalam perbandingan tertentu, etilen oksida menjadi tidak
mudah terbakar dan aman. Sterilisasi dengan etilen oksida mencakup prosedur
yang diberlakukan secara cermat dengan menggunakan ruangan bertekanan.
Bahan yang disterilkan dimasukkan kedalam ruangan/ kamar dan dipaparkan
dengan kelambapan relatif 98% selama 60 menit atau lebih. Kondisi pemaparan
yang sangat penting digunakan dengan etilen oksida dengan memperlihatkan
bahwa pada konsentrasi yang lebih tinggi dan kontaminasi minimum efektif dari
450 mg/liter volume kamar mengurangi periode pemaparan (Tungadi Robert,
2017).

Alat sterilisasi gas etilen


oksida

 Mekanisme aksi
Etilen oksida dianggap memiliki efek letal terhadap mikroorganisme
dengan mengalkilasi metabolit esensial terutama mempengaruhi proses
reproduktif. Alkilasi ini kemungkinan terjadi dengan menghilangkan H+ aktif
pada gugus sulhidril, amino, karboksil, atau hidroksil dari suatu radikal hidroksil
(Tungadi Robert, 2017).
 Keuntunngan
Biasanya penghilangan etilen oksida dari bahan-bahan dapat dilakukan
dengan mudah pada akhir siklus sterilisasi melalui efakuasi atau pemindahan
yang diikuti oleh aerasi dalam waktu yang singkat. Produk dapat disterilkan
setelah pengemasan untuk pengiriman karena gas dapat menembus segel plastik
tipis dan kertas karton (Tungadi Robert, 2017).
 kerugian
Iritasi jaringan dapat terjadi jika etilen oksida tidak dihilangkan sama
sekali. Kekhawatiran juga terjadi karena sifat karsinogenik dan mutagenik dari
etilen oksida. Gas ini beracun dan digolongkan sebagai mutagenik dan berpotensi
karsinogen pada manusia dan cara penghilangan dari materi harus dalam kondisi
pengontrolan khusus.
Gas ini lebih metal dibandingkan sterilisasi pemanasan dan dibutuhkkan
pertahanan lebih untuk mengontrolnya dibandingkan sterilisasi cara panas dan
radiasi (Tungadi Robert, 2017).
B. Metode bahan kimia
Apabila objek harus disterilisasi, sedangkan apabila menggunakan uap tekanan
tinggi atau sterilisasi panas-kering akan merusak objek tersebut atau apabila
peralatan tidak tersedia (atau operasional), maka objek itu dapat disterilakn secara
kimia (Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Bahan yang digunakan
Glutaraldehid dan formaldehid (Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).

Bahan kimia glutaraldehid

 Kelebihan
 Larutan glutaraldehid dan formaldehid tidak begitu mudah dinonaktifkan
oleh materi organik
 Kedua larutan ini dapat digunakan untuk instrumen yang tidak tahan
sterilisasi panas, seperti laparoskop
 Larutan formaldehid dapat digunakan hingga 14 hari (ganti apabila keruh).
Sebagian glutaraldehid dapat digunakan hingga 28 hari.
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Kekurangan
 Glutaraldehid dan formaldehid adalah kimiawi yang menyebabkan iritasi
kulit. Oleh karena itu, seluruh peralatan yang direndam dalam salah satu
larutan itu harus sepenuhnya dibilas dengan air steril setelah direndam.
 Karena glutaraldehid bekerja sangat baik pada suhu ruangan, sterilisasi kimia
tidak dijamin berfungsi baik pada lingkungan dingin (suhu kurang dari 20℃/
68ᵒF), bahkan dengan proses perendaman yang berkepanjangan.
 Glutaraldehid mahal harganya
 Uap dari formaldehid diklasifikasikan sebagai potensial karsinogen, dan pada
derajat yang lebih rendah glutaraldehid mengiritasi kulit, mata, dan saluran
pernapasan. Pakailah sarung tangan dan kaca mata, batasi waktu paparan,
dan gunakan kedua zat kimia hanya pada area berventilasi baik.
(Abdul Bari Saifuddin dkk, 2016).
 Contoh alat yang dapat disterilkan: Alat-alat yang tidak tahan pemanasan

3. Metode mekanik
A. Filtrasi
Filtrasi adalah pemindahan bahan-bahan partikulat dari suatu cairan pengalir.
Sterilisasi filtrasi adalah suatu proses pemindahan, tetapi tidak menghancurkan
mikroorganisme. Filtrasi, salah satu metode sterilisasi paling tua yang merupakan
metode pilihan untuk larutan yang tidak stabil pada proses sterilisasi. Mekanisme
sterilisasi dari filter berukuran dalam adalah adsorbsi acak atau penyerapan dalam
matriks filter. Kerugian dari filter ini adalah laju aliran yang lambat, sulit
membersihkan dan perpindahan media kedalam filtrat (Tungadi Robert, 2017).
Sterilisasi dengan filter bakteri digunakan untuk larutan farmasetik atau bahan
biologi yang tidak efektif dengan panas. Berbeda dengan metode filtrasi lain, filter
bakteri ditujukan untuk filter bebas bakteri, metode sterilisasi ini membutuhkan
penggunaan teknik aseptik yang benar sediaan obat yang di sterilkan dengan metode
ini harus yang mengandung bakteriostatik, kecuali untuk tujuan lain.
Mekanisme dari filtrasi bakteri adalah kompleks. Walaupun ukuran pori filter penting,
bukan satu-satunya kriteria untuk keefektifan filtrasi (Tungadi Robert, 2017).
 Alat yang digunakan:
Sterilisasi secara filtrasi menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil
(0,22 mikron atau 0,45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan
tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya
larutan enzim dan antibiotik (Machmud, 2008).

HEPA Filter, untuk sterilisasi Filtrasi cairan, misalnya


udara. menggunakan kertas
perkamen/ kertas saring
Contoh: sterilisasi udara
ruang operasi, laboratorium

 Contoh alat yang disterilkan: Filtrasi udara ruang operasi, filtrasi udara ruang
laboratorium, filtrasi cairan pada proses pembuatan infus salin menggunakan
kertas saring.
BAB III
KESIMPULAN

 Sterilisasi adalah keadaan suatu zat yang bebas dari mikroba hidup, baik yang patogen
(menimbulkan penyakit) maupun apatogen atau nonpatogen (tidak menimbukan penyakit),
baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang biak) maupun dalam bentuk spora
(dalam keadaan statis tidak dapat berkembang biak, tetapi melindungi diri dengan lapisan
pelindung yang kuat) (Syamsuni, 2017).
 Pemilihan cara sterilisasi harus mempertimbangkan
a) Stabilitas
b) Efektivitas
c) Waktu
 Metode sterilisasi ada 3 yaitu:
1. Metode fisika
 Dengan pemanasan
a) Panas kering (oven)
b) Pemanasan lembab (autoklaf)
 Tanpa pemanasan sterilisasi dengan radiasi
a) Sterilisasi menggunakan sinar UV
b) Sinar peng ion
2. Metode kimia
a) Metode gas (Etilen oksida atau propilen oksida)
b) Metode bahan kimia (Glutaraldehid dan formaldehid)
3. Metode mekanik
a) Filtrasi (saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikron)
DAFTAR PUSTAKA

Syamsuni, H.A. 2017. Ilmu Resep. Jakarta: EGC.


Abdul Bari Saifuddin dkk. 2016. Panduan Pencegahan Infeksi untuk Fasilitas Pelayanan
Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta: Tridasa Printer.
Robert Tungadi. 2017. Teknologi Sediaan Steril. Jakarta: CV. Sagung Seto.
Goeswin Agoes. 2013. Sediaan Farmasi Steril (SFI-4). Bandung: ITB.
Summerfelt ST. 2003. Ozonation and UV irradiation-an introduction and examples of current
applications. Aquacultural Engineering.
Machmud, M. 2008. Teknik Penyimpanan dan Pemeliharaan Mikroba. Balai Penelitian
Bioteknologi Tanaman Pangan. Bogor.
Darjanto, L. D. 1995. Pengaruh Laju Dosis dan Dosis Iradiasi Gamma Cobalt-60 terhadap Jumlah
Sel dan Harga D10 Salmonella spp pada Media NA dan BHI Agar [Skripsi]. Jurusan Biologi.
Bandung: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Padjajaran.
Hilmy, N. 1980. Penetapan Dosis Sterilisasi dan Pasteurisai Radiasi. Jakarta: Pusat Aplikasi
Isotop dan Radiasi.
Kume, T. 2005. Radiation Sterilization of Carrier. Tokyo: FNCA Biofertilizer Project Technical
meeting on Sterilization of Carrier by Irradiation.
Hadioetomo, Ratna Siri. 1985. Mikrobiologi dasar dalam praktek: teknik dan prosedur dasar
laboratorium. Jakarta: Gramedia.