Anda di halaman 1dari 5

Dan disinilah mereka berempat berada. Di salah satu mall di Kota ini.

Sia dan Bela tampak bergandengan


tangan didepan dengan wajah sumringah. Tidak jarang mereka tertawa lepas akibat candaan mereka.
“Mereka yang ngajakin, mereka yang ngelupain” cicit Arcel yang berjalan di belakang mereka bersama
Evans.
“Sebenernya Cel, kita itu cuman supir mereka. Selebihnya dunia milik mereka berdua” jawab Evans
dengan wajah datarnya. Arcel menghempaskan nafas kasar.
“Van, gua kesepian”ujar Arcel sambil menggandeng tangan Evans erat. Sontak hal itu menarik perhatian
sekitarnya. Kata-kata Arcel terlalu ambigu.
“Jijik gua. Sono lu jauh jauh dari gua”ujar Evans sambil berusaha mendorong kepala Arcel agar menjauh.
Dan akhirnya berhentilah mereka di toko baju yang sudah menjadi target Sia dan Bela. Mereka berdua
mencari baju couple an yang menjadi target mereka dari beberapa hari yang lalu.
“Nah ini dia. Wah bagus banget aslinya bajunya Bel” ujar Sia yang menjadi orang pertama yang
menemukan baju couple itu.
“Astaga iyaaa. Ihhh kok keren gini si. Langsung coba aja yuk”ajak Bela.
“Ayok lah”ujar Sia menyetujui ajakan Bela.
Akhirnya mereka masuk lah ke bilik ruang ganti.
“Eh anjir mereka kok nyobain baju di bilik yang sama si”protes Arcel.
“Biasalah cewek cel”jawab Evans ogah-ogahan.
“Tapi gua aja nggak pernah ngeliat Bela. Lahhh malah keduluan gua sama si Sia” protes Arcel lagi
“Ehh anjir. Otak lu mesum anjirr. Mereka cuman ganti baju bareng doang”jawab Evans sambil menoyor
kepala sahabat satunya ini.
“Ya tetep aja walaupun cuman ganti baju bareng, tetep aja mereka saling liat”ujar Arcel lagi. Evans hanya
bisa geleng-geleng kepala mendengar perkataan sahabatnya ini.
Sesaat kemudian Sia dan Bela keluar. Mereka berjalan sumringan.
“Mending bajunya warnanya sama atau beda warna?” Tanya Bela
“Hmmm”tampak Sia berfikir. “Beda ajalah. Lumayan kan nanti bisa saling tukeran” usul Sia. Belapun
mengangguk menyetujui saran Sia.
“Eh eh ini ada versi sweaternya. Cocok deh kayanya buat Evans sama Arcel. Biar kita berempat
couplean”usul Bela. Memang baju milik Sia dan Bela ini adalah kaos oversize yang terlihat bagus di
badan mereka. Sedangkan sweater ini lebih style cowok tapi dengan tulisan dna gambar yang sama
seperti kaos Sia dan Bela.
“Gih. Coba pake sana”Suruh Sia kepad Arcel dan Evans sambil menyodorkan sweater itu.
“Kuy van, satu ruang ganti” ajak Arcel pada Evans
“Sinting lu. Ogah gua” jawab Evans
“Kan cuman ganti baju bareng doang” rengek Arcel
“OGAH!”tegas Evans didepan muka Arcel kemudian pergi salah satu bilik ruang ganti. Terlihat Sia dan
Bela tertawa melihat kelakuan kedua sahabat mereka itu.
Sesaat kemudian Evans dan Arcel keluar dari bilik.
“Ini aja deh cukup kok. Bagus juga di badan gua”ujar Evans diikuti anggukan Arcel.
“Yaudah ayok kita kekasir”ajak Sia. Mereka pun berjalan menuju kasir.
“Mari para lelaki. Waktu dan tempat dipersilahkan” ujar Bela sambil menyodorkan tangan kanannya
menuju kasir sambil agak membungkuk, bermaksud menunjukkan letak kasir dengan cara yang sopan.
Evans dan Arcel yang merasa berjenis kelamin laki-lakipun berjalan mengantri di kasir. Sedangkan Bela
dan Sia cekikikan dibelakang mereka.
“Ternyata selain jadi supir, kita juga jadi ATM berjalan Van” ujar Arcel lesu
“Semuanya 999.990 rupiah” ujar Kasir. Kedua orang yang merasa berjenis kelamin laki-laki itupun
melongo. Kemudian saling tatap.
“Di dompet lu ada berapa?”Tanya Evans
“Ada enem ratus. Gua belum sempet ke ATM lagi” jawab Arcel. Evans kemudian mengambil uang enam
ratus di domper Evans.
“Eh anjir jangan semuanya. Sisain dua lembar” Sontak Arcel berusaha mengabil uang seratusan dua
lembar dari tangan Evans. Sontak Evans melotot melihat Arcel mengambil uang dua lembar itu. “Buat
gua beli buku paket, beli bensin, buat Bela beli es krim, buat Bela mkan, buat uang jaga-jaga. Ini”jelas
Arcel sambil mengangkat dua lembar uang itu. Evans hanya menghela nafas panjang
Evans mengambil uang enam ratus ribu di dompetnya itu dengan tak rela. Habis sudah persediaan uang
didompetnya Kemudian menghitungnya. Dan sekali lagi menghitungnya. Lagi lagi Evans hitung uang itu
pelan. Tetap saja hasilnya adalah 1.000.000 rupiah.
“Permisi mas”ujar kasir itu mengingatkan.
“Oh iya”ujar Evans menyodorkan uang tadi. “Coba di hitung ulang mba. Siapa tau uangnya lebih itu”
lanjut Evans
Kasir itu dengan sabar menghitung uang itu. Walaupun sebenarnya kasir itu sudah tau berapa banyak
uang itu karena dia ikut memperhatikan Evans yang menghitung uang itu tadi. Hasilnya uangnya tetaplah
1.000.000 rupiah.
“Uangnya satu juta rupiah ya” ujar kasir itu setelah menghitung ulang uangnya.
“Oh iya mas. Kembaliannya diambil aja”Ujar Evans terlihat songong. Lagi-lagi kasir itu dengan sabarnya
tersenyum dan mengangguk. Gimana kasirnya nggak gitu. Kembaliannya cuman 100 perak. Buat apa
coba. “Terimakasih sudah berbelanja di toko kami”ujar kasir itu.
Kok mereka yang belanja. Author yang malu ya - Author
Evans dan Arcel pun berjalan menuju Bela dan Sia. “Ogah gua jalan sama mereka lagi. Bangkrut gua
yang ada” cicit Evans pelan.
“Gimana? Uangnya cukup kan? Nggak kurang?” Tanya Bela memastikan
“Nggak lah. Seorang Evans Rhys Pratama lu tanyain. Sori ya uang gua masih banyak di ATM. Tadi aja
kembaliannya gua nggak ambil” ujarnya songong.
“Njirr songong banget sih” Jawab Sia. Sebenarnya Bela dan Sia berniat mengganti uang Evans dan Arcel.
Tapi melihat mereka dengan songong mengatakan itu, akhirnya Bela dan Sia mengurungkan niat mereka.
“Gua songong karena mampu”jawab Evans kepada Sia. “Udah ayok kita ke ATM dulu. Uang gua abis
nih” Lanjut Evans. Sontak perkataan itu memunculkan tatapan horror dari Bela dan Sia.

***
Setelah mereka mengantar Evans dan Arcel ke ATM, merekapun pergi ke toko es krim yang sedang viral.
Pesanan sudah ada ditangan mereka. Kali ini Sia yang mentraktir mereka. Katanya untuk salam
persahabatan mereka.
Sia tampak makan dengan asiknya tanpa memperdulikan sekitar, padahal mukanya kecemong gitu. Secara
tiba-tiba membersihkan es krim di hidung Sia dengan ibu jarinya. Kemudian Evans menghisap sisa es
krim itu di ibu jarinya.
“Cantik” ujar Evans kemudian. Sontak Sia dan Bela kaget. Degup jantung Sia tidak stabil. “Tolong kalo
mau ngelakuin sesuatu jangan tiba-tiba. Gua kaget anjir”batin Sia. Sejurus kemudian, Evans
menggenggam tangan Sia.
“Cantik. Kamu mau nggak jadi pacar aku?” Tanya Evans kepada Sia. Bela kaget. Ini tidak seharusnya
terjadi. Bagaimana kalo Evans hanya mempermainkan perasaan Sia seperti cewek-ceweknya yang lain.
Bela tidak ingin Sia terluka.
“Van. Ingin ngga bener. Tolong jangan sakitin Sia” ujar Bela kepada Evans
“Gua nggak lagi maen maen Bel. Gua serius sama Sia. Gua nggak akan nyakitin Sia” Jawab Evans
kepada Bela. “Setidaknya gua nggak akan sakitin Sia sampe enam bulan kedepan” Batin Evans. Bela
mencoba mempercayai perkataan Evans tadi.
“Jadi, Sia lu mau jadi pacar Evans?” Tanya Arcel
Sia berfikir. Apakah dia akan menerima Evans atau tidak. Dia tidak ingin terburu-buru mengambil
keputusan. Dilihatnya Arcel yang menunjukkan wajah memelas. Ia ingat, dia sudah berjanji pada Arcel
untuk membantunya menyelesaikan masalahnya ini. Dan ini adalah salah satu jalan yang bisa dia
gunakan. Sia tau kalau Evans menembaknya tanpa ada rasa cinta. Tapi cinta bisa tumbuh seiring waktu
bukan?
Dilihatnya sekali lagi Arcel dihadapannya. Kemudian perlahan dia menggenggam erat tangan Evans, Sia
mengangguk pelan dan tersenyum
“Iya gue mau” jawab Sia akhirnya.
Evans tersenyum manis, tangannya terulur kerambut Sia. Perlahan Evans mengelus rambut Sia.
Sia kemudian mengambil tangan Evans yang sudah turun ke pipinya itu. Sia menggenggam hangat tangan
Evans. Lagi-lagi genggamannya itu benar benar hangat hingga tanpa sadar Evans merasa nyaman dengan
genggaman itu.
“Gue harap gue bisa bantu lo lupain perasaan lo sama Bela, Van” Batin Sia
“Tuhan ijinin gua egois sekali ini aja. Gua harap Evans bisa berpindah hati ke Sia. Semoga Evans juga
bisa menyentuh hati Sia. Persetan dengan taruhan yang kemaren kita buat” Batin Arcel
“Eh eh udah jam segini nih. Yuk balik. Mama gua nanti nyariin” Ujar Bela setelah ia lihat jam
ditangannya tadi.
“Eh iya. Udah jam segini aja ya. Yaudah yuk balik. Para gadis tidak boleh pulang malam” ujar Arcel
kemudian memegang tangan Bela.
“Inget ya kalian masih hutang PJ sama kita berdua” ujar Bela heboh.
“Elahhh baru aja gua tekor bayarin kalian tadi” Balas Evans
“Jangan pelit-pelit ngapa sama sahabat Van. Biar gua do’ain kalian berdua bahagia, langgeng selamanya”
Ujar Arcel. Evans yang mendengar ucapan Arcel menatap tajam kearah Arcel. Tapi Arcel hanya
menggedikkan bahu tak peduli.
“Iya bener tuh” Ujar Bela menyetujui ucapan pacarnya itu.
“Iya-iya besok gua traktir deh” Ujar Sia diiringi tawa khasnya. Tawa yang membuat orang lain bisa ikut
bahagia melihatnya. Termasuk Evans yang tanpa sadar ikut tersenyum.
***
Sekarang Evans dan Sia sudah sampai di depan gerbang rumah milik Sia. Sia pun melepas pelukannya di
pinggang Evans. Jangan tanya kenapa Sia memeluk Evans. Karena alasannya sama seperti baru saat
kedua kali Evans menggoncengnya. Evans tak akan mau menjalankan motornya kalo Sia belum memeluk
pinggangnya.
Sebenarnya mereka tidak secanggung orang yang baru berpacaran lainnya. Karena Sia ataupun Evans
menganggap mereka itu adalah sahabat seperti sebelumnya, bedanya hanya ada status diantara mereka.
“Makasi Van. Nggak mampir?” Ujar Sia setelah berhasil turun dari motor gedenya Evans.
“Nggak. Lain kali aja yak” Tolak Evans. Evans sudah memutuskan untuk memanggil Sia dengan sebutan
Yak. Ribet kalo manggil Sia, jadi dia menyingkat nama Sia menjadi Yak, itu pikirnya.
“Oh yaudah hati-hati” Ujar Sia basi-basi kepada Evans.
Evans mulai menyalakan motornya, memutarkan motornya dan hendak jalan. Tapi, sedetik kemudian
Evans urungkan. Evans melirik Sia yang masih setia menunggu Evans pergi.
“Besok aja” Tukas Evans singkat.
“Apanya?” Tanya Sia tak mengerti maksud Evans.
“Mampirnya. Besok pagi gua jemput” Jelas Evans.
“Ngapain? Besok libur Van” Sia sekedar mengingatkan. Siapa tau Evans lupa kalo besok adalah hari
minggu dan sekolah diliburkan.
“Kencan” Jawab Evans singkat dan langsung menancap gas motornya itu. Sia kaget. Apa Sia tak salah
dengar? Evans mengajaknya kencan. Baiklah ini adalah awal yang baik untuk mereka, pikir Sia.
Sedangkan dimotor, Evans kesal kenapa bisa dia begitu ceroboh. “Kenapa gua jadi maen lari aja si.
Kenapa gua jadi salah tingkah begini. Kalo Sia tau gimana? Mau di taruh di mana muka gua ini.
Astagaaa” Batin Evans. “Argghhhh” sebuah erangan lolos dari mulutnya. Jelas sekali tadi dia merasakan
panas dipipinya saat mengucapkan kata kencan.