Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

TAX HAVEN COUNTRY

OLEH:

Kelompok 1

AYU SAMSUDIN 02271611004

SILVIANA SADAR ALAM 02271611022

EKA ISLAMIYATI A. GANI 02271611029

NAILA HILMA WARDANITA 02271611074

WAODE GUSTIA ULFA 02271611086

MIFTHAHULRIZQA M.A. SALEH 02271611093

SRI DEWI USMAN 02271151179

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita haturkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kita berbagai macam nikmat, sehingga aktivitas hidup yang kita
jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik dikehidupan didunia ini, lebih-
lebih lagi kehidupan akhirat kelak, sehingga semua harapan yang ingin kita capai
menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.

Terimakasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada dosen


pembimbing serta teman-teman sekalian yang telah membantu, sehingga makalah
ini dapat terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.

Kami sangat menyadari, dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan serta masih banyak kekurangan-kekurangannya, baik dari segi tata
bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman
yang kadang kala hanya menuruti goisme pribadi, untuk itu besar harapan kami
jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan
makalah-makalah kami dilain waktu.

Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini adalah, mudah-
mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-
teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakannya lagi.

Ternate, 3 Desember 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................... 3
1.4 Manfaat Penulisan .................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 5
2.1 Pengertian Tax Haven Country ................................................................. 5
2.2 Ciri-ciri Tax Haven Country ..................................................................... 10
2.3 Faktor-faktor yang Menentukan Tax Haven Country ............................... 14
2.4 Penanganan Tax Haven Country .............................................................. 16
2.5 Potensi Masalah dan Alternatif Pemecahanya .......................................... 18
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 22
3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akhir-akhir ini fokus pengambil kebijakan dan pelaku pasar tertuju pada
Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang
merupakan organisasi internasional beranggotakan 30 negara maju yang bertugas
membantu negara anggotanya dalam menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan
tata pemerintahan dalam ekonomi global. Yang menjadi salah satu tantangan
OECD adalah masalah tax havens. Menurut Sekretaris Jenderal OECD Jose Angel
Gurria, jumlah uang yang disembunyikan oleh perseorangan dan korporasi di
negara atau wilayah tax havens untuk menghindari pajak atau menghindar dari
ketidakstabilan politik berkisar antara USD 5-7 triliun.

Banyaknya tax havens countries atau territories yang dapat mengganggu


negara lain. Tax havens country atau territory undang-undang dan kebijakannya
dapat dipergunakan untuk menghindari atau mengelabui ketentuan pajak dari
negara lain. Pada Desember 2008 The United States Government Accountability
Office menggunakan beberapa kriteria untuk menentukan Tax Havens, yaitu (1)
tidak ada pajak atau pajak hanya nominal saja, (2) tidak adanya pertukaran
informasi perpajakan dengan negara lain, (3) tidak ada transparansi dalam
pelaksanaan undang-undang dan peraturan pelaksanaannya, (4) tidak ada
kewajiban bagi badan usaha asing untuk berada secara fisik pada negara itu, (5)
mempromosikan negara atau wilayahnya sebagai offshore financial center.

Tax havens merupakan kenyataan yang sudah berlangsung berabad-abad.


Fenomena tax havens timbul sebagai reaksi manusia terhadap ketentuan pajak di
negara tempatnya tinggal yang lebih tinggi dibandingkan dengan tarif pajak di
negara tax havens. Oleh karena itu, mereka memindahkan uangnya ke negara tax
havens. Negara/wilayah tax havens banyak yang merupakan negara kecil yang

1
keadaan politik dan ekonominya stabil serta didukung oleh prasarana yang baik.
Misalnya Swiss, Singapura, dan Hong Kong. Negara tax havens ini yang kurang
transparan dan ketentuan rahasia banknya ketat sehingga mempersulit kerja sama
internasional dalam bentuk pertukaran informasi. Selain itu, unsur pajak juga
penting untuk mempertimbangkan apakah laba dari investasi akan ditanam
kembali atau direpatriasi.

Munculnya negara-negara Tax Haven ini memberi kelegaan bagi para


pengusaha karena pajak masih dianggap sebagai beban investasi bagi sebagian
besar kalangan pebisnis, walaupun pembayaran pajak merupakan salah satu
kewajiban yang harus dipenuhi oleh Wajib Pajak. Tax Haven Countries ini sedikit
banyak membantu mengurangi beban pajak yang dikenakan bagi setiap
penanaman modal asing di suatu negara. Selain kemudahan dibidang perpajakan,
Tax Haven Countries juga menawarkan kemudahan dibidang perbankan, salah
satunya adalah sistem kerahasiaan bank yang sangat ketat sehingga negara Tax
Haven ini sering disebut sebagai pusat finansial dunia.

Oleh karena itu Negara Tax Haven diibaratkan seperti celengan, dimana
orang memasukkan uang ke dalamnya maka amanlah selama-lamanya tanpa bisa
di utak-atik oleh siapapun. Dengan kemudahan tersebut dapat menarik nasabah
bank untuk menyimpan dananya di negara Tax Haven. Karena adanya
kemudahan, khususnya kemudahan di bidang perpajakan dan juga dibidang
kerahasiaan bank yang ketat. Negara Tax Haven juga memiliki efek samping yaitu
dapat menjadi surga bagi pelaku kejahatan Pencucian Uang diduinia ini, yakni
menjadi tempat transit atau tempat penyimpanan atau mencuci uang panas, seperti
uang yang berasal dari perdagangan obat bius atau hasil korupsi.

2
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, terkait dengan semakin maraknya kemunculan


Negara-negara Tax Haven yang notabene menimbulkan pro dan kontra terutama
dikalangan atas, maka beberapa permasalahan yang akan dirumuskan dalam
makalah ini antara lain:

1. Apa Pengertian dari Tax Haven Country?

2. Bagaimana Ciri-Ciri dari Negara Tax Haven Country?

3. Apa Faktor-Faktor yang Menentukan Negara Tax Haven Country?

4. Bagaimana Cara Penanganan Tax Haven Country?

5. Bagaimana Potensi Masalah dan Alternatif Pemecahanya?

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan dalam rangka penyusunan makalah ini mempunyai tujuan yang


hendak dicapai, sehingga penulisan makalah ini diharapkan akan lebih terarah
serta dapat mengenai sasarannya. Adapun tujuan utama dari Penulisan makalah
ini antara lain adalah sebagai sarana untuk melengkapi tugas.

Terkait dengan permasalahan yang hendak dibahas dalam penulisan ini,


maka tujuan yang lain yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah :

1. Untuk Mengetahui Apa Itu Tax Haven Country.

2. Untuk Mengetahui Ciri-Ciri Negara Tax Haven Country.

3. Untuk Mengetahui Faktor-Faktor yang Menentukan Negara Tax Haven

Country.

4. Untuk Mengetahui Penanganan Tax Haven Country.

5. Untuk Mengetahui Potensi Masalah dan Alternatif Pemecahanya.

3
1.4 Manfaat Penulisan

Sedangkan manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penulisan


makalah ini adalah sebagai berikut :

a. Secara Teoritis

Makalah ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perkembangan


ilmu pengetahuan secara umum dan ilmu hukum secara khususnya dan lebih
khususnya lagi mengenai perkembangan di bidang perpajakan.

b. Secara Praktis

Diharapkan makalah ini bermanfaat bagi kalangan praktisi dan birokrat


terutama dalam pemeriksaan pajak di Negara-negara Tax Haven agar terpenuhi
kewajiban pajak bagi setiap warga Negara.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tax Haven Country

Tax haven country adalah kebijakan pajak suatu negara yang dengan
sengaja memberikan fasilitas pajak, dan ketentuan pajak di negara tempatnya
tinggal yang lebih tinggi dibandingkan dengan tarif pajak di negara tax havens.
Oleh karena itu, mereka memindahkan uangnya ke negara tax havens.
Negara/wilayah tax havens banyak yang merupakan negara kecil yang keadaan
politik dan ekonominya stabil serta didukung oleh prasarana yang baik.

Definisi tax haven country bisa berbeda-beda di masing-masing negara


tergantung dari ketentuan masing-masing negara mendefinisikan tax haven
country. Jepang mengategorikan suatu negara merupakan tax haven country jika
beban pajak yang sesungguhnya dibayar kurang dari 25% dari penghasilan kena
pajak. Prancis mengategorikan suatu negara sebagai tax haven country jika pajak
terutang di negara tersebut jumlahnya kurang dari 66,67% dari pajak yang
terutang seandainya penghasilan tersebut dihitung berdasarkan ketentuan
perpajakan Prancis. Inggris mengklasifikasikan suatu negara sebagai tax haven
country jika pajak terutang di negara tersebut jumlahnya kurang dari 75% dari
pajak yang terutang seandainya penghasilan tersebut dihitung berdasarkan
ketentuan perpajakan Inggris.

Dalam UU PPh terbaru, tax haven disebut-sebut sebagai alat menghindari


pajak yakni dalam pasal 18 (3c) UU PPh tahun 2008 sebagai berikut :

5
"Penjualan atau pengalihan saham perusahaan antara (conduit company atau
special purpose company) yang didirikan atau bertempat kedudukan di negara
yang memberikan perlindungan pajak (tax haven country) yang mempunyai
hubungan istimewa dengan badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia atau bentuk usaha tetap di Indonesia dapat ditetapkan sebagai penjualan
atau pengalihan saham badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di
Indonesia atau bentuk usaha tetap di Indonesia." Pengertian tax haven ini
sesungguhnya harus diterangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan seperti
diamanatkan dalam pasal 18 (3e) tapi sampai saat ini belum ada peraturan
tersebut.

Sejumlah negara di dunia memberikan tarif pajak rendah bahkan sampai


nol persen demi menarik perusahaan-perusahaan asing untuk menyimpan uangnya
di negara tersebut. Beberapa negara yang termasuk Tax Haven Countries antara
lain: Andorra, Antigua and Barbuda, the Bahamas, Cayman Islands, Costa Rica,
British Virgin Islands, Isle of Man, Guernsey, Samoa, Bermuda, Cyprus,
Gibraltar, Dominica, Belize, Hongkong, Singapura, dan Vanuatu.

Kebanyakan negara-negara tersebut merupakan negara kepulauan kecil


sehingga sering juga dijuluki sebagai offshore financial centres karena
kebaradaannya yang jauh di tengah lautan. Meskipun demikian, tidak sedikit pula
negara daratan yang dikategorikan negara tax haven seperti Swiss, Monaco,
Panama dan sebagainya.

The United States Government Accountability Office memberikan 5


karakteristik tax havens country, yaitu :

a. Tidak ada pajak atau pajak hanya nominal saja,

b. Tidak adanya pertukaran informasi perpajakan dengan negara lain,

6
c. Tidak ada transparansi dalam pelaksanaan undang-undang dan peraturan

pelaksanaannya,

d. Tidak ada kewajiban bagi badan usaha asing untuk berada secara fisik

pada negara itu,

e. Mempromosikan negara atau wilayahnya sebagai offshore financial center.

Sedangkan menurut OECD ada empat faktor utama yang digunakan untuk
menentukan apakah suatu negara merupakan tax haven. Yang pertama adalah
bahwa negara tidak mengenakan pajak atau hanya nominal saja. Kriteria tidak ada
pajak atau nominal saja tidak cukup sebagai satu-satunya kriteria dianggap
sebagai tax haven. OECD mengakui bahwa setiap negara memiliki hak untuk
menentukan apakah perlu memberlakukan pajak langsung (pajak penghasilan) dan
mengenakan pajak dengan tarif tertentu yang sesuai kepentingan negaranya.
Analisis faktor-faktor kunci lainnya yang dibutuhkan untuk suatu negara untuk
dianggap sebagai tax haven. Tiga faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah:

a. Tidak ada transparansi

b. Memiliki ketentuan dan praktek administrasi yang menghambat

pertukaran informasi dengan negara lain terkait dengan wajib pajak yang

mendapat keuntungan dari tidak adanya pengenaan pajak

c. Tidak ada kewajiban untuk adanya aktivitas secara substansial

Sebagai ganti dari penerimaan negara berupa pajak, yang menjadi sumber
penghasilan utama bagi tax haven country adalah biaya pendirian perusahaan,
iuran tahunan dan biaya untuk jasa-jasa tambahan lainnya (Pribadi, 2004).

7
Kriteria tax haven country yan diberikan dalam lampiran VIII PER-
39/PJ/2009, yaitu sebagai berikut :

a. Negara yang mengenakan tarif pajak rendah atau negara yang tidak

mengenakan PPh

b. Negara yang menerapkan kebijakan kerahasiaan bank dan tidak

melakukan pertukaran informasi.

1) Negara yang mengenakan tarif rendah adalah negara yang

mengenakan tarif pajak atas penghasilan lebih rendah 50% dari tarif

badan di Indonesia (untuk tahun 2009 lebih rendah dari 14% dan

untuk tahun 2010 lebih rendah dari 12,5%)

2) Negara yang menerapkan kebijakan kerahasiaan bank dan tidak

melakukan pertukaran informasi adalah negara atau jurisdiksi yang

berdasarkan perundang-undangannya melarang pemberian informasi

nasabahnya, termasuk untuk keperluan informasi yang berkaitan

dengan perpajakan.

Berikut ini beberapa kategori fasilitas perpajakan yang membuat negara-


negara tersebut dianggap sebagai tax haven country atau menyerupai tax haven
country :

a. Negara tidak mengenakan pajak sama sekali. Contohnya Bahama,

Bahrain, Bermuda, Cayman Island, Monaco, dan Nauru. Negara-negara ini

memberikan fasilitas tidak ada pajak atas penghasilan atau keuntungan

atau pendapatan, capital gain atau atas kekayaan.

8
b. Negara mengenakan pajak langsung, namun dengan tarif relatif rendah.

Contohnya British Virgin Island, Channel Island, Swiss, Hongkong

(sebelum bergabung dengan China 1999). Di negara ini pajak atas

penghasilan atau keuntungan atau pendapatan, capital gain atau atas

kekayaan tetap ada tapi tarif yang digunakan relatif sangat rendah.

c. Negara yang menerapkan teritorial dalam mengenakan pajak. Contohnya

Costa Rica, Liberia, Malaysia, Panama, Philipina. Negara-negara ini

mengenakan pajak atas penghasilan yang hanya berasal dari dalam negeri

(domestic source of income) dan membebaskan pajak penghasilan yang

berasal dari luar negeri.

d. Negara yg memiliki tax treaty dengan negara lain yg mengenakan tarif

pajak tinggi. Contohnya British Virgin Island (dengan USA). Cyprus

(dengan USA) dan Netherland Antilles (dengan USA. Negara ini

menjadikan negaranya sebagai alternatif utama tax haven.

e. Negara memberikan fasilitas tertentu untuk aktivitas khusus. Contohnya

Inggris, Denmark dan Belanda. Negara ini discbut juga sebagai secondary

fasilitas tertentu dan tidak seluruh kebijakan perpajakan berorientasi

kapada tax haven. Fasilitas ini umumnya menyangkut penarikan modal

dari luar negeri untuk ditanamkan di negara tersebut.

f. Negara yang menampung pencucian haram. Contoh Bahama, Panama,

Cook Island, Niue, Republik Dominika, Israel, Libanon, Rusia, Kepulauan

Marshall, Republik Nauru, Filipina, Liechstein, St Kitts Navis, Vincent

dan Grenadines. Negara-negara ini disebut sebagai surga uang haram

9
karena sebagai tempat menampung pencucian uang haram (money

laundring) hasil dari bisnis ilegal. Fasilitas yang disediakan menyangkut

tidak diusutnya asal muasal uang tersebut dan negara ini merupakan

bagian tahap layering dari proses praktik money laundring.

2.2 Ciri-ciri Tax Haven Country

a. Tidak memungut pajak sama sekali atau apabila memungut pajak, maka

tarifnya tarif terendah.

b. Memiliki peraturan yang ketat tentang rahasia bank atau rahasia bisnis,

dan tidak akan mengungkapkan kerahasiaan tersebut kepada siapapun atau

negara manapun, walaupun hal tersebut dimungkinkan pengungkapan nya

berdasarkan perjanjian internasional. Kegiatan perbankan dan atau

lembaga keuangan lainnya merupakan tulang punggung perekonomian

negara tax haven.

c. Tersedia fasilitas alat komunikasi yang modern yang memungkinkan

komunikasi keseluruh dunia tanpa ada hambatan apapun.

d. Adanya promodi dan kepercayaan bahwa Negara-negara tax haven

merupakan pusat keuangan yang baik dan terjamin.

10
Dan daftar negara tax haven country berdasarkan hasil pertemuan G-20
Pada tanggal 2 April 2009, negara-negara anggota OECD menetapkan daftar
negara yang dikategorikan sebagai tax haven country, yang terdiri dari :

1. Australia

2. Berbados

3. Canada

4. China

5. Ceko

6. Denmark

7. Finland

8. Argentina

9. France

10. Germany

11. Greece

12. Guernsey

13. Iceland

14. Ireland

15. Isle Of Man

16. Italy

17. Japan

18. Jersey

11
19. Korea

20. Malta

21. Mauritus

22. Mexico

23. Netherlands

Negara-negara Tax Haven sering juga disebut dengan istilah sebagai berikut :

1. Negara Pusat Keuangan (Financial Centre).

2. Negara Surga Perpajakan (Fiscal Paradise).

3. Negara Perlindungan Pajak Luar Negeri (Offshore Tax Haven).

Di Indonesia, sebelumnya melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor


650/KMK.04/1994 yang memuat daftar 32 negara untuk kepentingan penerapan
pasal 18 ayat (4) UU PPh (saat diperolehnya dividen tertentu), yang secara tersiat
sebagai tax haven country.

1. Argentina

2. Bahama

3. Bahrain

4. Balize

5. Bermuda

6. British Isle

12
7. British Virgin Island

8. Cayman Island

9. Channel Island greensey

10. Channel Island jersey

11. Cook Island

12. El Salvador

13. Estonia

14. Hong Kong

15. Liechtenstein

16. Lithuania

17. Macau

18. Mauritius

19. Mexico

20. Nederland antiles

21. Nikaragua

22. Panama

23. Paraguay

24. Peru

25. Qatar

26. St.Lucia

13
27. Saudi Arabia

28. Uruguay

29. Venezuela

30. Vanuatu

31. Yunani

32. Zambia

2.3 Faktor-faktor yang Menentukan Tax Haven Country

Pada dasarnya tidak ada suatu negara tax haven di dunia yang sempurna,
setiap negara tax haven memiliki keunggulan masing-masing dan sebaliknya
memiliki kelemahan masing-masing, tergantung kepada apa yang ingin dicapai
oleh negara tax haven tersebut. Contohnya pada saat ini negara tax haven seperti
bahamas da caymans island sangat dikenal di dunia sebagai negara tax haven
utama, akibat uasnya publisitas namun tidaklah berarti bahwa akibat
kepopulerannya siapa pun akan tertarik untuk investasi di kedua negara tax haven
tersebut. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan yaitu, secara umum
ada 3 faktor dan dapat digunakan untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam
rangka menggunakan tax haven untuk efesiensi pembayaran pajak secara global
dan yang terpenting disini adalah bagaimana negara tax haven tersebut dapat
memenuhi keunggulan yang lebih dibandingkan dengan negara tax haven lainnya.

Menurut OECD ada empat faktor utama yang digunakan untuk


menentukan apakah suatu negara merupakan tax haven. Yang pertama adalah
bahwa negara tidak mengenakan pajak atau hanya nominal saja. Kriteria tidak ada
pajak atau nominal saja tidak cukup sebagai satu-satunya kriteria dianggap
sebagai tax haven. OECD mengakui bahwa setiap negara memiliki hak untuk
menentukan apakah perlu memberlakukan pajak langsung (pajak penghasilan) dan
mengenakan pajak dengan tarif tertentu yang sesuai kepentingan negaranya.

14
Analisis faktor-faktor kunci lainnya yang dibutuhkan untuk suatu negara untuk
dianggap sebagai tax haven. Tiga faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah :

a. Tidak ada transparansi.

b. Memiliki ketentuan dan praktek administrasi yang menghambat

pertukaran informasi dengan negara lain terkait dengan wajib pajak

yang mendapat keuntungan dari tidak adanya pengenaan pajak.

c. Tidak ada kewajiban untuk adanya aktivitas secara substansial sebagai

ganti dari penerimaan negara berupa pajak, yang menjadi sumber

penghasilan utama bagi tax haven country adalah biaya pendirian

perusahaan, iuran tahunan dan biaya untuk jasa-jasa tambahan lainnya.

Namun ada juga faktor internal yang merupakan faktor menjadi


pertimbangan dalam memilih negara tax haven :

1. Upah dan pendapatan perkapita.

2. Produk domestik bruto.

3. Perkembangan tingkat inflasi, devaluasi mata uang dan tingkat suku

bunga.

4. Tingkat penganggaran.

15
5. Besarnya utang luar negri dan neraca pembayaran.

6. Bentuk pemerintahannya dan sejarah kebangsaannya.

7. Besarnya penanaman modal asing.

2.4 Penanganan Tax Haven Country

Pada KTT G20 London pada tanggal 2 April 2009, negara-negara G20
sepakat untuk mengumumkan daftar hitam (black list) tax haven country, yang
diklasifikasikan dalam 4 kategori berdasarkan standar yang disepakati secara
internasional (internationally agreed tax standard). Daftar hitam tersebut pertama
kali diterbitkan oleh OECD, dan telah diperbaharui pada tanggal 2 April 2009
dalam rangka pertemuan G20 di London. Perubahan berikutnya dibuat 7 April
2009 untuk mengeluarkan beberapa negara yang masuk dalam kategori tidak
kooperatif.

Keempat kategori tersebut adalah :

1. Negara yang telah secara substansial menerapkan standar (Those that have

substantially implemented the standard) termasuk negara-negara seperti

Argentina, Australia, Brazil, Kanada, Cina, Republik Ceko, Prancis,

Jerman, Yunani, Guernsey, Hungaria, Irlandia, Italia, Jepang, Jersey, Isle

of Man, Meksiko, Belanda, Polandia, Portugal, Rusia, Slowakia, Afrika

Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, Turki, Uni Emirat Arab, Inggris,

dan Amerika Serikat).

16
2. Tax haven yang mempunyai komitmen, tetapi belum sepenuhnya

mengimplementasikan standar (Tax havens that have committed to-but not

yet fully implemented-the standard) termasuk Andorra, Bahama, Cayman

Island, Gilbraltar, Liechtenstein, dan Manako.

3. Pusat-pusat keuangan yang telah berkomitmen tetapi belum sepenuhnya

mengimplementasikan standar (Financial centres that have committed to -

but not yet fully implemented-the standard) termasuk Chile, Costa Rika,

Malasia, Filipina, Singapura, Swiss, Uruguay dan tiga negara Uni Eropa-

Austria, Belgia dan Luxemburg).

4. Mereka yang belum berkomitmen pada standar (Those that have not

committed to the standard).

Negara-negara di tingkat bawah standar (Those that have not committed to


the standard) digolongkan sebagai negara-negara yang tidak kooperatif (non
cooperative tax haven). Uruguay awalnya diklasifikasikan sebagai yang tidak
kooperatif. Namun, setelah permohonan banding OECD menyatakan bahwa telah
memenuhi ketentuan transparansi dan bergerak ke atas dari daftar. Filiphina sudah
dilaporkan sudah mengambil langkah untuk menghapus dirinya dari daftar hitam
dan Malaysia begitu juga Malaysia dan Costa Rika. Pada tanggal 7 April 2009,
OECD, mengumumkan bahwa Costa Rika, Malaysia, Filipina dan Uruguay telah
dihapus dari daftar hitam setelah mereka telah membuat komitmen penuh untuk
bersedia saling bertukar informasi sesuai standar OECD.

17
Direktorat Jenderal Pajak cukup waspada dengan masalah tax haven
country ini. Sesuai dengan PER-39/PJ/2009 dalam penyampaian SPT PPh Badan
wajib pajak ada kewajiban menyampaikan lampiran khusus tambahan 3A-2, yaitu
pernyataan transaksi dengan pihak yang merupakan penduduk negara tax heaven
country. Namun sampai sekarang masih belum ada aturan yang tegas menyatakan
negara-negara mana yang termasuk dalam kategori tax haven country. Walaupun
sebelumnya pernah ada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 650/KMK.04/1994
yang memuat daftar 32 negara untuk kepentingan penerapan pasal 18 ayat (4) UU
PPh (saat diperolehnya dividen tertentu), yang secara tersirat sebagai tax haven
country, yaitu :
Direktorat jendral pajak cukup waspada dengan masalah tax haven country
ini. Sesuai dengan PER-39/PJ/2009 dalam penyampaian SPT PPh badan wajib
pajak ada kewajiban menyampaikan lampiran khusus tambahan 3A-2, yaitu
pernyataan transaksi dengan pihak yang merupakan penduduk negara tax haven
country.

Negara tax haven atau mendekati tax haven akan merugikan negara lain
yang tidak menerapkan kebijakan yang sama. Adanya tax haven country
merupakan cikal bakal terjadinya praktik-praktik yang tidak sehat di bidang
perpajakan internasional diantaranya transfer pricing dan treaty shopping.

2.5 Potensi Masalah dan Alternatif Pemecahanya

Ada beberapa cara bagi seseorang atau suatu perusahaan memelihara


keamanan, kenyamanan dan kekayaannya dengan memanfaatkan keberadaan tax
havens. Menurut buku Tolleys Tax Havens (2000) ada empat cara untuk
melakukannya :

18
Pertama, personal residency, yaitu dengan memindahkan domisili ke
negara tax havens. Sejak abad ke-20 banyak orang kaya yang berpindah dari
negara yang tinggi pajaknya ke negara yang pajaknya rendah karena di banyak
negara dasar pengenaan pajak adalah tempat tinggal wajib pajak. Para pengusaha
Indonesia pun ada yang memindahkan domisili perseorangan dan perusahaannya
ke Singapura atau negara lain.

Kedua, trading and other business activity, yaitu dengan mendirikan


perusahaan lokal atau special purpose vehicle company (SPV) di negara tersebut.
Keberadaan perusahaan lokal ini biasanya tidak ada secara fisik atau tidak
membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Perusahaan asing ini dapat memudahkan
terjadinya transfer pricing untuk menghindari pajak di dalam negeri.

Ketiga, asset holding, yaitu dengan menggunakan trust company untuk


mengelola kekayaannya di luar. Misalnya yang dilakukan oleh salah satu
tersangka kasus Bank Century.

Keempat, financial intermediary yaitu dana yang dihimpun di negara


rendah pajak kemudian disalurkan ke berbagai negara yang pajaknya lebih tinggi.
Hal ini berhasil dilakukan Cayman Island, wilayah kecil dengan penduduk tidak
lebih dari 60.000 orang, tetapi memiliki sekitar 350 offshore bank. Pada negara
atau wilayah tax havens tindak pidana perpajakan biasanya bukan merupakan
tindak pidana asal (predicate crime) dari tindak pidana pencucian uang seperti di
Malaysia, Singapura, dan Swiss.

Di Indonesia tindak pidana di bidang perpajakan merupakan salah satu


predicate crime dari tindak pidana pencucian uang. Biasanya pertukaran informasi
terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang berasal dari tindak pidana
perpajakan sangat sulit dilakukan.

19
Mengingat beberapa ciri negara tax havens sebagaimana disebutkan di atas,
negara tax havens biasanya juga dimanfaatkan oleh pelaku tindak pidana untuk
melakukan pencucian uang.

Indonesia tidak termasuk di dalam daftar OECD tersebut. Ada beberapa


hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, Indonesia bukanlah tax havens.
Sebaliknya Indonesia merupakan korban yang uangnya banyak dilarikan ke
negara tax havens. Misalnya berdasarkan penelitian dari perusahaan Merril Lynch
dan Capgemini beberapa tahun yang lalu dapat diketahui bahwa sepertiga dari
orang kaya (high networth individual) yang ada di Singapura berasal dari
Indonesia. Kekayaan yang ditanamkan di Singapura diperkirakan sekitar USD70
miliar. Untuk mengejar uang yang ditanam di luar negeri seperti di Singapura
bukanlah perkara mudah karena negara yang menerima penempatan dana tersebut
sering tidak kooperatif.

Di samping itu, Indonesia juga tidak memiliki offshore financial center


atau offshore bank karena dalam sistem perbankan di Indonesia tidak dikenal
adanya offshore bank. Offshore bank adalah bank yang hanya boleh menghimpun
dana dari luar negeri, kemudian menyalurkannya ke luar negeri saja atau di
wilayah tertentu diperbolehkan juga menyalurkan dananya ke dalam negeri tempat
bank itu berada. Di samping itu, tindak pidana perpajakan salah satu tindak pidana
asal dari tindak pidana pencucian uang. Inilah yang harus dicari solusinya agar
Indonesia tak selalu menjadi korban dari skema adanya tax havens dalam sistem
keuangan internasional.

20
Contoh Kasus:

“X Ltd. Yang didirikan dan berkedudukan di negara A, sebuah negara


yang memberikan perlindungan pajak (tax haven country), memiliki 95% saham
PT X yang didirikan dan bertempat kedudukan diindonesia. X Ltd. Ini adalah
suatu perusahaan antara (conduit company) yang didirikan dan dimiliki
sepebuhnya oleh Y Co., sebuah perusahaan di negara B, dengan tujuan sebagai
perusahaan antara dalam kepemilikannya atas mayoritas saham PT X.”

21
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tax Haven Country (Negara Surga Pajak) adalah merupakan suatu istilah
yang menyatakan bahwa sebuah negara atau teritori yang menjadi tempat
berlindung bagi para pembayar pajak sehingga para pembayar pajak ini dapat
menghindarkan pembayaran pajaknya. Ciri-Ciri tax haven country sebagai
berikut:

a. Tidak memungut pajak sama sekali atau apabila memungut pajak, maka

tarifnya tarif terendah.

b. Memiliki peraturan yang ketat tentang rahasia bank atau rahasia bisnis,

dan tidak akan mengungkapkan kerahasiaan tersebut kepada siapapun atau

negara manapun, walaupun hal tersebut dimungkinkan pengungkapan nya

berdasarkan perjanjian internasional. Kegiatan perbankan dan atau

lembaga keuangan lainnya merupakan tulang punggung perekonomian

negara tax haven.

c. Tersedia fasilitas alat komunikasi yang modern yang memungkinkan

komunikasi keseluruh dunia tanpa ada hambatan apapun.

d. Adanya promodi dan kepercayaan bahwa Negara-negara tax haven

merupakan pusat keuangan yang baik dan terjamin.

22
Tiga faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam tax haven country adalah :
a. Tidak ada transparansi.

b. Memiliki ketentuan dan praktek administrasi yang menghambat

pertukaran informasi dengan negara lain terkait dengan wajib pajak yang

mendapat keuntungan dari tidak adanya pengenaan pajak.

c. Tidak ada kewajiban untuk adanya aktivitas secara substansial sebagai

ganti dari penerimaan negara berupa pajak, yang menjadi sumber

penghasilan utama bagi tax haven country adalah biaya pendirian

perusahaan, iuran tahunan dan biaya untuk jasa-jasa tambahan lainnya.

Negara-negara Tax Haven sering juga disebut dengan istilah sebagai berikut :
1. Negara Pusat Keuangan (Financial Centre).

2. Negara Surga Perpajakan (Fiscal Paradise).

3. Negara Perlindungan Pajak Luar Negeri (Offshore Tax Haven).

Ada beberapa cara bagi seseorang atau suatu perusahaan memelihara


keamanan, kenyamanan dan kekayaannya dengan memanfaatkan keberadaan tax
havens. Menurut buku Tolleys Tax Havens (2000) ada empat cara untuk
melakukannya :
1. personal residency, yaitu dengan memindahkan domisili ke negara tax

havens. Sejak abad ke-20 banyak orang kaya yang berpindah dari negara

yang tinggi pajaknya ke negara yang pajaknya rendah karena di banyak

negara dasar pengenaan pajak adalah tempat tinggal wajib pajak. Para

pengusaha Indonesia pun ada yang memindahkan domisili perseorangan

dan perusahaannya ke Singapura atau negara lain.

23
2. trading and other business activity, yaitu dengan mendirikan perusahaan

lokal atau special purpose vehicle company (SPV) di negara tersebut.

Keberadaan perusahaan lokal ini biasanya tidak ada secara fisik atau tidak

membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Perusahaan asing ini dapat

memudahkan terjadinya transfer pricing untuk menghindari pajak di dalam

negeri.

3. asset holding, yaitu dengan menggunakan trust company untuk mengelola

kekayaannya di luar. Misalnya yang dilakukan oleh salah satu tersangka

kasus Bank Century.

4. financial intermediary yaitu dana yang dihimpun di negara rendah pajak

kemudian disalurkan ke berbagai negara yang pajaknya lebih tinggi. Hal

ini berhasil dilakukan Cayman Island, wilayah kecil dengan penduduk

tidak lebih dari 60.000 orang, tetapi memiliki sekitar 350 offshore bank.

Pada negara atau wilayah tax havens tindak pidana perpajakan biasanya

bukan merupakan tindak pidana asal (predicate crime) dari tindak pidana

pencucian uang seperti di Malaysia, Singapura, dan Swiss.

Di Indonesia tindak pidana di bidang perpajakan merupakan salah satu


predicate crime dari tindak pidana pencucian uang. Biasanya pertukaran informasi
terkait dengan tindak pidana pencucian uang yang berasal dari tindak pidana
perpajakan sangat sulit dilakukan. Mengingat beberapa ciri negara tax havens
sebagaimana disebutkan di atas, negara tax havens biasanya juga dimanfaatkan
oleh pelaku tindak pidana untuk melakukan pencucian uang.

24
Indonesia tidak termasuk di dalam daftar OECD tersebut. Ada beberapa
hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, Indonesia bukanlah tax havens.
Sebaliknya Indonesia merupakan korban yang uangnya banyak dilarikan ke
negara tax havens. Misalnya berdasarkan penelitian dari perusahaan Merril Lynch
dan Capgemini beberapa tahun yang lalu dapat diketahui bahwa sepertiga dari
orang kaya (high networth individual) yang ada di Singapura berasal dari
Indonesia. Kekayaan yang ditanamkan di Singapura diperkirakan sekitar USD70
miliar. Untuk mengejar uang yang ditanam di luar negeri seperti di Singapura
bukanlah perkara mudah karena negara yang menerima penempatan dana tersebut
sering tidak kooperatif.
Di samping itu, Indonesia juga tidak memiliki offshore financial center
atau offshore bank karena dalam sistem perbankan di Indonesia tidak dikenal
adanya offshore bank. Offshore bank adalah bank yang hanya boleh menghimpun
dana dari luar negeri, kemudian menyalurkannya ke luar negeri saja atau di
wilayah tertentu diperbolehkan juga menyalurkan dananya ke dalam negeri tempat
bank itu berada. Di samping itu, tindak pidana perpajakan salah satu tindak pidana
asal dari tindak pidana pencucian uang. Inilah yang harus dicari solusinya agar
Indonesia tak selalu menjadi korban dari skema adanya tax havens dalam sistem
keuangan internasional.

25
DAFTAR PUSTAKA

Prof.Dr.Gunadi, M.Sc.,Ak.2014:Pajak Internasional.Jakarta.FEB UI.

Mohammad Zain.2007:Manajemen Perpajakan.Jakarta.Salemba Empat.

Anang Mury Kurniawan. 2015. Pajak Internasional Edisi Kedua. Jakarta: Ghalia

Indonesia.

Bayu Rahmat Rahayu.2009. http://www.kompasiana.com/finedu/mengharapkan-


tax-heaven-tidak-ada-adalah-sebuah-mimpi_54ff385fa33311124550fded.

Syafrianto.2009:Daftar Tax Haven Country.


http://syafrianto.blogspot.co.id/2009/04/daftar-tax-heaven-country-
berdasarkan.html.

http://edwardconsulting.blogspot.co.id/2013/02/oecd-dan-tax-havens-
country.html.