Anda di halaman 1dari 11

LABORATORIUM PENGUKURAN HF

NOMOR PERCOBAAN : 07

JUDUL PERCOBAAN : Pengukuran Radiation Patern pada Antena Dipole VHF

KELAS / GROUP : /

NAMA GROUP : 1
2.
---

TANGGAL PERCOBAAN :

TGL. PENYERAHAN LAPORAN :

NILAI :

DOSEN : Sukma W ST.

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2018

1
DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL PERCOBAAN . . . . . . . . 1

DAFTAR ISI . . . . . . . . . 2

1. TUJUAN PERCOBAAN . . . . . . . 3

2. DASAR TEORI PERCOBAAN . . . . . . . 3

3. PERALATAN YANG DIGUNAKAN dan GAMBAR RANGKAIAN . . 8

4. LANGKAH KERJA PERCOBAAN . . . . . . 8

5. DATA HASIL PERCOBAAN . . . . . . . 9

6. ANALISA dan PEMBAHASAN . . . . . .

KESIMPULAN

LAMPIRAN

2
PERCOBAAN # 7

PENGUKURAN RADIATION PATTERN PADA ANTENA DIPOLE VHF

1. TUJUAN PERCOBAAN

1. Dapat mengukur input level dan pemancar radio FM


2. Dapat menjelaskan radiation patern yang diukur
3. Dapat menjelaskan polarisasi yang ada pada pemancar radio FM

2. DASAR TEORI
Salah satu bagian penting dari suatu stasiun radio adalah antena, Antena adalah
sebatang logam yang berfungsi menerima getaran listrik dari transmitter dan
memancarkannya sebagai gelombang radio. Antena juga berfungsi sebagai menampung
gelombang radio dan meneruskan gelombang listrik ke receiver.Gelombang elektromagnet
yang melaju di udara atau di angkasa luar terdiri atas komponen gaya listrik dan komponen
gaya magnet yang tegak lurus satu sama lain
Gelombang radio yang memancar dikatakan terpolarisasi sesuai arah komponen
gaya listriknya. Untuk antenna dipole maka polarisasinya searah dengan panjang
bentangannya, bila antena tersebut dipasang horizontal, maka polarisasinya horizontal pula.
Agar dapatmenerima gelombang radio secara baik, maka antena harus mempunyai
polarisasi yang sama dengan polarisasi gelombang radio yang datang. Arah polarisasi ini
akan tetap sepanjang lintasan gelombang radio kecuali bila gelombang tersebut sudah
dipantulkan oleh ionosphere, maka polarisasinya bisa berubah. Untuk itu, maka antena
untuk keperluan komunikasi jarak jauh pada HF atau MF dapat dibuat vertikal atau
horizontal.
Radiation pattern atau pola radiasi adalah penggambaran pancaran energy suatu
antenna sebagai fungsi koordinat ruang. Antenna diletakkan pada titik asal dari koordinat
ruang. Pancaran energy yang dimaksud adalah intensitas medan listrik dan daya

3
Gambar 1. Sistem Koordinat untuk Analisis Sistem

Gambar 2. Alur Gelombang pada Antena

Berdasarkan pola radiasinya, antenna dikelompokan menjadi dua, yaitu


antennaterarah (directional antennas) dan antenna tidak terarah (unidirectional antennas).
Antenna terarah adalah antenna yang mampu memancarkan atau menerima
gelombangelektromagnetik pada arah tertentu saja. Antenna tidak terarah adalah antenna
yang mampumemancarkan atau menerima ke segala arah

Gambar 3. Penggambaran Lobes secara tiga dimensi

Lobes adalah variasi pola radiasi. Macamnya adalah mayor lobe, minor lobe, sidelobe
dan back lobe. Mayor lobe (main lobe) adalah bagian pola radiasi pada arah tertentuyang

4
memiliki nilai maksimum. Minor lobe adalah bagian pola radiasi selain mayor lobe,terdiri atas
side lobe dan back lobe. Minor lobe biasanya merupakan bagian pola radiasi yang tidak
diinginkan. Side lobe adalah bagian pola radiasi yang terletak disamping mayor lobe dan
merupakan bagian dari minor lobe yang terbesar. Back lobe adalah bagian pola radiasiyang
berlawanan arah dengan mayor lobe

Frekuensi gelombang ditentukan oleh osilasi atau siklus per detik. Satu siklus
adalah salah satu hertz (Hz), 1.000 siklus adalah 1 kilohertz (KHz), 1 juta siklus adalah
1 megahertz (MHz), dan 1 milyar siklus adalah 1 gigahertz (GHz). Sebuah stasiun
radio pada dial / saluran AM pada 980, misalnya, siaran tersebut menggunakan
sinyal yang berosilasi 980.000 kali per detik, atau memiliki frekuensi 980 KHz.

Sedangkan Sebuah stasiun radio dengan di bawah dial pada 710 maka siaran
tersebut menggunakan sinyal yang berosilasi 710.000 kali per detik, atau memiliki
frekuensi 710 KHz.

 Antena Dipole

Antena Dipole adalah yang paling disukai banyak Amatir Radio karena
beberapa kelebihannya, yaitu murah, effisien, mudah dibuat – cukup memakai
kawat tembaga atau sejenisnya, broad-band, dan lain sebagainya. Antena Dipole
sebenarnya merupakan sebuah antena yang dibuat dari kawat tembaga dan
dipotong sesuai ukuran agar beresonansi pada frekwensi kerja yang diinginkan.
Kawat yang dipakai sebaiknya minimal ukuran AWG ( American Wire Gauge ) #
12 atau diameter 2 mm. Lebih besar akan lebih baik secara mechanical strength.
Agar dapat beresonansi, maka panjang total sebuah Dipole ( L ) adalah 0,5 x K,
dimana adalah panjang gelombang diudara dan K adalah velocity factor pada
kawat tembaga. Untuk ukuran kawat tembaga yang relative kecil ( hanya ber-
diameter beberapa mm ) jika dibandingkan setengah panjang gelombang, maka
nilai K diambil sebesar 0,95 dan cukup memadai sebagai awal start. Sehingga
rumus untuk menghitung total panjang sebuah antena Dipole adalah sbb :
Dimana : f adalah frekwensi kerja yang diinginkan. adalah panjang gelombang
diudara L adalah panjang total antena Dipole K adalah velocity factor yang
diambil sebesar 0,95. Antena Dipole sebenarnya balance, sehingga sebaiknya
diumpan melalui sebuah BALUN ( singkatan dari BALance – UNbalance ) setelah
sebelumnya signal radio melalui kabel coaxial dari Transceiver. Bagaimana
membuat BALUN yang murah-meriah akan diulas Penulis pada terbitan
LEMLOKTA berikutnya. Dengan memakai BALUN, maka beberapa kelebihannya
adalah : a. Performance antena Dipole dapat ditingkatkan. b. Mengurangi TVI
( Interferensi ke Televisi ). c. Mengurangi unbalance current. d. Mengurangi
radiasi yang tidak diinginkan. Walaupun antena Dipole termasuk balance, jika
dipasang tanpa BALUN pun, antena Dipole tsb masih bisa bekerja cukup baik.
Antena Dipole mempunyai gain 0 dB. Mengenai gain antenna, penulis akan
mencoba menjelaskannya dilain kesempatan. Antena Dipole selain akan

5
beresonansi pada fundamental frekwensinya, antena tsb juga akan beresonansi
pada kelipatan ganjil frekwensinya. Artinya, antena Dipole yang dipotong untuk
bekerja pada 40 meter Band ( 7 MHz ) juga akan bisa dipakai untuk 15 meter
Band karena 21 MHz merupakan kelipatan 3 dari 7 MHz.

 Polarisasi Antena

Polarisasi antena adalah arah medan listrik yang diradiasikan oleh antena.
Jika arah tidak ditentukan maka polarisasi merupakan polarisasi pada arah gain
maksimum. Polarisasi dari energi yang teradiasi bervariasi dengan arah dari
tengah antena, sehingga bagian lain dari pola radiasi mempunyai polarisasi yang
berbeda.

Polarisasi dari gelombang yang teradiasi didefinisikan sebagai suatu keadaan


gelombang elektromagnet yang menggambarkan arah dan magnitudo vektor
medan elektrik yang bervariasi menurut waktu. Selain itu, polarisasi juga dapat
didefinisikan sebagai gelombang yang diradiasikan dan diterima oleh antena
pada suatu arah tertentu. Polarisasi dapat diklasifikasikan
sebagai linear (linier),circular (melingkar), atau elliptical (elips).

1. Polarisasi Linier
Polarisasi linier terjadi jika suatu gelombang yang berubah menurut waktu pada
suatu titik di ruang memiliki vektor medan elektrik (magnet) pada titik tersebut selalu
berorientasi pada garis lurus yang sama pada setiap waktu.

Gambar 1. Polarisasi linier

2. Polarisasi Melingkar
Polarisasi melingkar terjadi jika suatu gelombang yang berubah menurut waktu
pada suatu titik memiliki vektor medan elektrik (magnet) pada titik tersebut berada

6
pada jalur lingkaran sebagai fungsi waktu. Kondisi yang harus dipenuhi untuk
mencapai jenis polarisasi ini adalah :
i. medan harus mempunyai 2 komponen yang saling tegak lurus linier
ii. kedua komponen tersebut harus mempunyai magnitudo yang sama
iii. kedua komponen tersebut harus memiliki perbedaan fasa waktu pada kelipatan
ganjil 900
Polarisasi melingkar bagi menjadi dua, yaitu Left Hand Circular
Polarization (LHCP) dan Right Hand Circular Polarization (RHCP). LHCP terjadi
ketika sebaliknya

Gambar 2. Polarisasi melingkar

3. Polarisasi Elips
Polarisasi elips terjadi ketika gelombang yang berubah menurut waktu memiliki
vektor medan (elektrik atau magnet) berada pada jalur kedudukan elips pada ruang.
Kondisi yang harus dipenuhi untuk mendapatkan polarisasi ini adalah :
a. Medan harus mempunyai dua komponen linier orthogonal
b. Kedua komponen tersebut harus beada pada magnitudo yang sama atau berbeda
c. Jika kedua komponen tersebut tidak berada pada magnitudo yang sama perbedaan
fasa waktu antara kedua komponen tersebut harus tidak bernilai 00 atau kelipatan
1800 (karena akan menjadi linier). Jika kedua komponen berada pada magnitudo yang
sama makan perbedaan fasa diantara kedua komponen tersebut harus tidak merupakan
kelipatan ganjil dari 900 (karena akan menjadi lingkaran).

Gambar 3. Polarisasi Eclips

7
3. PERALATAN YANG DIBUTUHKAN

Tabel 1. Alat yang dipergunakan

No. Alat dan Bahan Jumlah


1. Antena Dipole 1 set
2. Kabel Coaxial RG-8 1 buah
3. Tripod Antena + Tiang 1 set
4. Measusuring Receiver 1 set
5. Power Supply 5A 1 set
6. Kabel rol / Ekstensi 1 buah

GAMBAR RANGKAIAN

4. LANGKAH KERJA PERCOBAAN


1. mengatur antenna dipole pada posisi horizontal, denga posisi 0°. Antenna dipole
dalam keadaan pendek (dengan ujung antena dimasukkan).
2. Pada measuring receiver mengatur frekuensi sesuai dari stasiun radio I-Radio FM
yaitu 89,6 MHz
3. Mengukur input level setiap 10°, putar sapai 360° dan kemudian mencatat hasil
percobaan pada Tabel 1.
4. Masih pada frekuensi stasiun pemancar yang sama, kemudian mengatur antenna
dipole pada posisi vertical, dengan posisi 0°. Antenna dipole dalam keadaan
dipanjangkan (dengan ujung antenna ditarik penuh).
5. Mengukur input level setiap 10°, putar sapai 360° dan kemudian mencatat hasil
percobaan pada Tabel 2.
6. Mengatur antenna pada posisi posisi vertical, antenna dipole dalam keadaan
dipanjangkang, usahakan pada posisi 0°.
7. Mengatur ulang frekuensi di measuring receiver sesuai dengan frekuensi stasiun
radio RRI FM, YAITU 105,0 MHz.
8. Mengukur input level setiap 10°, putar sampai 360°
9. Mengulangi langkah 1 sampai 6, untuk frekuensi dari stasiun radio RRI FM. Kemudian
mncatat hasil percobaan pada Tabel 3.

8
5. DATA HASIL PERCOBAAN

Tabel 1. Pada stasiun Radio: 1-Radio FM

Frekuensi = 95.7 MHz


Antena Dipole Antena Dipole Antena Dipole posisi
Sudut (X°) pendek posisi panjang posisi Vertikal
Horizontal Horizontal
Input Level (dBm) Input Level (dBm) Input Level (dBm)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
280
290
300
310
320
330
340
350
360

9
Tabel 2 . Pada stasiun Radio: 1-Radio FM

Frekuensi = 107,9 MHz


Antena Dipole Antena Dipole Antena Dipole posisi
Sudut (X°) pendek posisi panjang posisi Vertikal
Horizontal Horizontal
Input Level (dBm) Input Level (dBm) Input Level (dBm)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
220
230
240
250
260
270
280
290
300
310
320
330
340
350
360

10
Gambarlah : Grafik dalam bentuk radar untuk hasil polaradiasi Frekuensi 95,7 MHz

Gambarlah : Grafik dalam bentuk radar untuk hasil polaradiasi Frekuensi 107,9 MHz

Gambarlah : Grafik dalam bentuk line chart hasil polaradiasi Frekuensi 107,9 MHz

Gambarlah : Grafik dalam bentuk line chart hasil polaradiasi Frekuensi 95,7 MH

6. ANALISA PERCOBAAN

KESIMPULAN

LAMPIRAN

11