Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang


Hepatitis kronis merupakan masalah besar di dunia termasuk di Indonesia.
Bila seseorang terkena hepatitis kronis dapat berkembang progresif menjadi
sirosis hati dan akhirnya kanker hati pada 20-30% kasus. Tujuan pengobatan
hepatitis kronis adalah mengurangi peradangan hati dengan menghilangkan
atau menekan replikasi virus penyebab, sehingga kerusakan hati tidak
berlanjut. Sampai saat ini belum ada terapi yang optimal, maka para ahli
mencoba terapi alternatif seperti terapi herbal. Salah satu obat herbal yang
sering digunakan dalam mengobati gangguan hepar adalah temulawak. Bahan
aktif dari berbagai spesies curcuma tersebut adalah curcumin yang berperan
sebagai hepatoprotektif. Efek kurkumin sebagai antioksidan yang mampu
menangkap ion superoksida dan memutus rantai antar ion superoksida (O2-)
sehingga mencegah kerusakan sel hepar. Curcumin juga mampu
meningkatkan Gluthation S-Transferase (GST) dan mampu menghambat
beberapa faktor proinflamasi , ekspresi gen dan replikasi virus hepatitis B
melalui down-regulation dari PGC-1α, sehingga dapat disimpulkan bahwa
curcumin dapat dijadikan alternatif hepatoprotektor pada pasien hepatitis
kronis.
Hepatitis kronis merupakan masalah besar di dunia termasuk di Indonesia.
Bila seseorang terkena hepatitis kronis dapat berkembang progresif menjadi
sirosis hati dan akhirnya kanker hati pada 20-30% kasus. Virus hepatitis B
telah menginfeksi sejumlah 2 milyar orang di dunia dan sekitar 240 juta
merupakan pengidap virus hepatitis B kronis. Penduduk Indonesia yang telah
terinfeksi hepatitis B sekitar 23 juta orang.1 Menurut World Health
Organization (WHO) penduduk dunia yang terinfeksi virus hepatitis C sekitar
170 juta orang dan sekitar 90% berlanjut menjadi sirosis hati dan kanker hati.
Gangguan fungsi hati terpenting pada tahap prasirotik adalah peningkatan
enzim transaminase hati terutama ALT serum. Tingginya kadar ALT
menggambarkan berat ringannya proses nekroinflamasi.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi hepatitis?
2. Apakah terapi temulawak itu?
3. Apa saja manfaat temulawak sebagai hepatoprotektor ?
4. Bagaimana penatalaksanaan terapi temulawak?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi hepatitis
2. Untuk mengetahui terapi temulawak
3. Untuk mengetahui manfaat temulawak
4. Untuk mengetahui penetalaksanaan terapi temulawak

1.4 Manfaat
Berdasarkan tujuan di atas penulis dapat menyimpulkan manfaat sebagai
berikut :
1. Bagi institusi pendidikan, hasil makalah ini dapat dijadikan sebagai
bahan bacaan di bidang kesehatan sebagai bahan informasi.
2. Bagi pembaca dapat mengetahui dan memahami mengenai materi
tentang trend dan issue dan evidence based practice dalam
pelaksanaan gangguan system pencernaan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hepatitis

Hepatitis adalah penyakit peradangan hati yang dapat disebabkan oleh


berbagai kausa, termasuk infeksi virus atau pajana ke bahan – bahan toksik.
Pada hepatitis virus, Peradangan hati yang berkepanjangan atau berulang,
yang biasanya berkaitan dengan alkoholisme kronik, dapat menyebabkab
sirosis, suatu keadaan berupa penggantian hepatosit yang rusak secara
permanen oleh jaringan ikat. Jaringan hati memiliki kemampuan mengalami
regenerasi, dan dalam keadaan normal mengalami pertukaran sel yang
bertahap. Apabila sebagian jaringan hati rusak, jaringan yang rusak tersebut
dapat diganti melalui peningkatan kecepatan pembelahan sel – sel yang sehat.
Tampaknya terdapat suatu faktor dalam darah yang bertanggung jawab
mengatur proliferasi sel hati, walaupun sifat dan mekanisme factor pengatur
ini masih merupakan misteri. Namun, seberapa cepat hepatosit dapat diganti
memiliki batas. Selain hepatosit, di antara lempeng – lempeng hati juga
ditemukan beberapa fibroblast ( sel jaringan ikat ) yang membentuk jaringan
penunjang bagi hati. Bila hati berulang – ulang terpajan ke bahan – bahan
toksik, misalnya alcohol, sedemikian seringnya, sehingga hepatosit baru tidak
dapat beregenerasi cukup cepat untuk mengganti sel – sel yang rusak,
fibroblast yang kuat akan memanfaatkan situasi dan melakukan proliferasi
berlebihan. Tambahan jaringan ikat ini menyebabkan ruang untuk
pertumbuhan kembali hepatosit berkurang.(Brunner & Sudarth, 2001 : 1169)

Bila pasien hepatitis kronik tidak diterapi maka proses nekroinflamasi


terus berlangsung dan akhirnya terjadi fibrosis dan sirosis yang kemudian
dapat berlanjut menjadi kanker hati.
Tujuan pengobatan hepatitis kronis adalah mengurangi peradangan hati
dengan menghilangkan atau menekan replikasi virus penyebab, sehingga
kerusakan hati tidak berlanjut. Sampai saat ini belum ada terapi yang optimal
(biaya terapi mahal, efek samping yang serius dan tidak dapat mencegah

3
rekurensi penyakit) maka para ahli mencoba terapi alternatif seperti terapi
herbal.

2.2 Terapi temulawak

Salah satu obat herbal yang sering digunakan dalam mengobati gangguan
hepar adalah temulawak (Curcuma xanthorryza Roxb.). Temulawak
merupakan salah satu dari 9 tanaman obat unggulan Indonesia yang telah
sejak tahun 2003 mulai diteliti.7 Manfaat dari tanaman temulawak antara lain
sebagai antihepatitis, antioksidan, antiinflamasi, antikarsinogen, antimikroba,
antiviral, detoksifikasi, dan antihiperlipidemia

Genus Curcuma yang termasuk famili Zingiberaceae, Seperti kunyit


digunakan dalam pengobatan tradisional (Govindarajan, 1980). Hampir
semua orang Indonesia pernah mengkonsumsi tanaman ini, baik sebagai
pelengkap bumbu masakan, jamu, atau untuk menjaga kesehatan dan
kecantikan tubuh (Wasito, 2011). Kunyit mengandung senyawa yang
berkhasiat obat yang di sebut kurkuminoid. Kurkuminoid merupakan
polifenol yang berwarna kuning sedikit larut dalam air, pelarut asam dan larut
dalam pelarut dimetil sulfoksida (DMSO), aseton, dan etanol (Martins, 2013).
Eksistensi temulawak sebagai tumbuhan obat sudah dikenal di Indonesia,
terutama dikalangan masyarakat Jawa (Prana, 2008) temulawak digunakan
masyarakat sebagai obat untuk mengatasi berbagai penyakit yaitu sakit maag,
bau haid, sakit liever (kuning), hepatitis, penyakit kandung empedu, sakit
limpa, asma, alergi, eksim, meningkatkan nafsu makan anak anak, dan
meningkatkan stamina (Hariana, 2011).

2.3 Manfaat temulawak sebagai hepatoprotektor

Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai tanaman obat,


diantaranya memiliki efek farmakologis sebagai pelindung terhadap hati
(hepatoprotektor), meningkatkan nafsu makan, antiradang, memperlancar
pengeluaran empedu (kolagogum), dan mengatasi gangguan pencernaan
seperti diare, konstipasi, dan disentri. Komponen senyawa yang bertindak
sebagai antioksidan dari rimpang temulawak adalah flavonoid, fenol dan

4
kurkumin. Selain itu rimpang temulawak juga mengandung pati,
kurkuminoid, serat kasar, abu, protein, mineral, minyak atsiri yang terdiri dari
d-kamfer, siklo isoren, mirsen, tumerol, xanthorrhizol, zingiberen, zingeberol

Virus hepatitis B menginfeksi hati dan menggunakan sel hospes untuk


ekspresi gen dan perkembangbiakan. Oleh karena itu, sasaran faktor hospes
untuk ekspresi gen virus hepatitis B merupakan strategi dari antiviral.
Penelitian yang dilakukan oleh Rechtman (2010), menjelaskan bahwa
Curcumin mampu menghambat ekspresi gen dan replikasi virus hepatitis B
melalui downregulation dari PGC-1α. PGC-1α adalah protein penginduksi
lapar yang merangsang glukoneogenesis dan koaktifasi dari transkripsi virus
hepatitis B.

1) Kandungan curcuminoid dalam temulawak


Curcumin adalah komponen fitokimia yang ditemukan dalam
kunyit. Oleh karena warnanya, curcumin telah digunakan juga dalam
industri pakaian, makanan sebagai pengawet dan tambahan dalam bahan
pangan. Curcumin juga digunakan sebagai obat dan ramuan tradisional
untuk mengobati berbagai macam penyakit di beberapa negara.
Temulawak tidak hanya mengandung curcumin, namun juga
mengandung analog curcumin antara lain demetoxycurcumin,
bisdemetoxycurcumin serta banyak zat aktif lainnya. Rasio kandungan
curcuminoid dalam kunyit adalah curcumin I 75%, curcumin II
(demetoxycurcumin) 16%, dan curcumin III (bisdemethoxycurcumin)
8%.10
Penelitian terhadap penghambatan virus hepatitis B dilakukan pada
kultur sel HepG2215. Pengukuran terhadap Hepatitis B Surface Antigen
(HBsAg) dari medium sel HepG2215 merupakan penanda dari replikasi
virus hepatitis B. Sel diberi perlakuan dengan curcumin 100 µM, 150
µM, dan tidak diberi curcumin selama 3 hari, setelah itu ditunggu dua
hari dan dianalisis tingkat HBsAg dari tiap medium.

5
2.4 Penatalaksanan terapi temulawak
Terapi temulawak yaitu dengan cara merebus temulawak
Berikut cara mengolahnya:
1) Siapkan 1 jari temulawak.
2) Cuci dan kupas temulawak hingga bersih.
3) Masukkan temulawak ke dalam panci, kemudian di rebus dengan 4
gelas air.
4) Tunggu hingga mendidih dan air rebusannya hanya tersisa
setengah.
5) Setelah mendidih, air rebusan tersebut dibiarkan sampai dingin dan
baru bisa dikonsumsi. Untuk mengkonsumsinya cukup 2 hari sekali
yaitu pagi dan malam hari masing – masing hanya 1 gelas.

6
BAB III

ANALISA JURNAL

1. Judul
Hepatoprotective Effect Of Curcumin In Chronic Hepatitis
2. Teori
Kurkumin merupakan senyawa kurkuminoid yang merupakan pigmen
warna kuning pada rimpang kunyit dan temulawak. Kurkumin dikenal
karena sifat antitumor, antioksidan dan memiliki banyak manfaat bagi
kesehatan. Senyawa kurkumin termasuk golongan fenolik.
3. Fakta
Obat herbal telah diterima secara luas di hampir seluruh negara di dunia.
Menurut WHO, negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin
menggunakan obat herbal sebagai pelengkap pengobatan primer yang
mereka terima. Bahkan di Afrika, sebanyak 80% dari populasi
menggunakan obat herbal untuk pengobatan primer.6 Salah satu obat
herbal yang sering digunakan dalam mengobati gangguan hepar adalah
temulawak (Curcuma xanthorryza Roxb.)
4. Opini
Para ahli mencoba terapi alternatif seperti terapi herbal. Salah satu obat
herbal yang sering digunakan dalam mengobati gangguan hepar adalah
temulawak.

7
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hepatitis kronis merupakan masalah besar di dunia termasuk di Indonesia.
Bila seseorang terkena hepatitis kronis dapat berkembang progresif menjadi
sirosis hati dan akhirnya kanker hati pada 20-30% kasus. Gangguan fungsi hati
terpenting pada tahap prasirotik adalah peningkatan enzim transaminase hati
terutama ALT serum.
Salah satu obat herbal yang sering digunakan dalam mengobati gangguan
hepar adalah temulawak (Curcuma xanthorryza Roxb.). Temulawak
merupakan salah satu dari 9 tanaman obat unggulan Indonesia yang telah sejak
tahun 2003 mulai diteliti.7 Manfaat dari tanaman temulawak antara lain
sebagai antihepatitis, antioksidan, antiinflamasi, antikarsinogen, antimikroba,
antiviral, detoksifikasi, dan antihiperlipidemia.
Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai tanaman obat, diantaranya
memiliki efek farmakologis sebagai pelindung terhadap hati (hepatoprotektor),
meningkatkan nafsu makan, antiradang, memperlancar pengeluaran empedu
(kolagogum), dan mengatasi gangguan pencernaan seperti diare, konstipasi,
dan disentri.
4.2 Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebaiknya pihak yang bersangkutan memberikan pengarahan yang lebih
mengenai trend dan issue dan evidence based practice dalam pelaksanaan
gangguan system pencernaan.
2. Bagi Mahasiswa
Mengenai makalah yang kami buat, bila ada kesalahan maupun ketidak
lengkapan materi trend dan issue dan evidence based practice dalam
pelaksanaan gangguan system pencernaan. Kami mohon maaf, kamipun
sadar bahwa makalah yang kami buat tidaklah sempurna. Oleh karena itu
kami mengharap kritik dan saran yang membangun.

8
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, suzanna C, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan
Suddart. Alih bahasa Agung Waluyo, Edisi 8, Jakarta;EGC

Kusuma, R.W. Aktivitas Antioksidan dan Antiinflamasi in vitro Serta Kandungan


Curcuminoid dari Temulawak dan Kunyit Asal Wonogiri. [skripsi]. Bogor:
Instititut Pertanian Bogor; 2012.

Wijayakusuma M. Penyembuhan dengan temulawak. Jakarta: Sarana Pustaka


Prima; 2007.

Rechtman MM, Bar-Yishay I, Fishman S, Adamovich Y, Shaul Y, Halpern Z,


Shlomai A. Curcumin inhibits hepatitis B via down-regulation of the metabolic
coactivator PGC-1α. FEBS letters. 2010. hlm. 2485-90.

Asghari, G., Mostajeran, A., Shebli, M., 2009, Curcuminoid and Essential Oil
Componets of Turmeric at Different Stages of Growth Cultivated in Iran,
Reseacrh in Pharm. Sci.